| |
| Lesbian story - Hot Weekend Bersama Sandra Posted: 30 Jul 2008 09:39 AM CDT Sandra tampak pasrah saja, apalagi ketika saya raih puting susunya yang berwarna merah muda dan mancung, minta dihisap. Saya ciumi lehernya dan mulai memainkan puting susunya. Saya cubit sedikit putingnya bersamaan dan Sandra mulai mengerang, kemudian saya mulai pelintir putingnya ke arah yang belawanan dengan lembut..lidah saya mulai turun ke pundaknya. Tangan Sandra mulai mecari letak vagina saya yang menempel pada pantatnya yang semok sementara saya terus meremas susunya yang empuk dan memlintir puting susunya dari belakang.Dengan satu gerakan, kami sekarang berhadap-hadapan. Seperti tak mau kalah, Sandra langsung menyambar bibir saya, mencari lidah saya dan kami saling mengulum dengan liar. Saya hisap lidahnya dan Sandra menjilati bibir bawah saya dengan buas. Tiba-tiba ciumannya berpindah ke leher saya, dan cep! Ia langsing mengulum puting kanan saya, dan tangan satunya memuntir puting kiri saya. Dada saya berdenyut. Baru kali ini saya diciumi wanita, sensasinya aneh tetapi saya sudah tak mau kehilangan moment lagi. Walaupun masih dalam keadaan duduk, tubuh Sandra saya telikung dengan kaki. Saya usap rambutnya yang panjang dan coklat itu, sambil saya tarik kepala saya kebelakang. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Perjalanan rafting kali ini betul betul melelahkan. 4 jam berada di atas perahu karet dan menelusuri sungai yang menggelegak sangat menyenangkan. Sandra dan saya memang berencana untuk bermalam di Pelabuhan Ratu setelah seharian bermain air. Seusai makan siang dan membersihkan diri di base terakhir, kami beranjak pergi. Sandra, teman saya dari Perancis, tak habis-habis memuji keindahan alam yang kami lewati. 15 menit saya tancap gas jeep kesayangan saya, akhirnya tiba jualah kami ke hotel tepi pantai yang telah kami book dari Jakarta. Ternyata kamar yang kami pesan adalah family room, yang terdiri dari 2 queen bed size. Saya langsung terlelap ketika kepala saya menyentuh bantal yang empuk dilapisi dengan sarung bantal yang bersih dan harum, sementara Sandra masih duduk di teras, mengagumi keindahan pantai laut selatan yang berdebur tiada henti. Jam 6 sore saya terbangun karena suara gemericik dari kamar mandi. Ah, ya! Makan malam! Saya harus mandi sekarang. "Sandraa, kita makan nggak malam ini??" Dia menjawab dari dalam , "Iyaa, ini saya mandi, sebentar lagi saya siap!!". Dengan malas-malasan saya bangun. Tak lama Sandra keluar dari kamar mandi dengan sarung Bali kebanggannya terlilit di tubuhnya yang sintal. "Hey cepat mandi, saya lapar!". "Iyaa.. ini saya mau mandi!" seraya mengambil alat-alat mandi saya dan beringsut ke arah shower. Setelah menikmati shower hangat sekitar 15 menit, saya kenakan kembali t-shirt saat saya keluar dari kamar mandi. Saya tercengang dengan pemandangan yang ada dihadapan saya sekarang. Sandra, bertelanjang bulat diatas queen size bednya, sedang menggosokkan minyak olive pada tubuhnya. Saat itu dia sedang mengoleskan pada bagian buah dadanya yang lebih besar dari milik saya. Sesungguhnya ini bukan hal yang pertama kali terjadi karna kami sering melakukan perjalanan bersama, tetapi kali ini mata saya tak dapat berpaling karna posisinya begitu frontal dengan pintu kamar mandi. Tiba-tiba dada saya bergemuruh, tetapi saya diam saja, mengambil baju dalam dan jeans untuk dikenakan nanti. Dengan tenang dan agak gemetar, saya lepaskan t-shirt saya, memunggungi Sandra dan juga melumuri badan saya dengan body lotion. "Kinan, kamu nggak pernah cukur ya?" tanyannya tiba-tiba. Saya menoleh, "Cukur?, tentu aja! Ini liat!" kata saya sambil mengangkat tangan, memamerkan ketiak saya yang bebas bulu. "Bukan, maksud saya pubic hair!", balasnya tertawa. Saya tertegun "Oh, itu.. hm.. saya malas, habis gatal sih. Memang kamu cukur?" kata saya sambil kembali memunggunginya. "Ya, tiap hari.. nggak plontos sih, biar rapi aja. Kalau begini nggak gatal. Kamu coba deh.. pasti pacar kamu senang". "Malas ah, kalau tiap hari". Tiba-tiba Sandra berguling ke tempat tidur saya dan berlutut di hadapan saya sehingga mata kami sejajar "Ini lihat! Apa menurut kamu nggak bagus?". Saya betul-betul kaget, tidak menyangka bahwa dia betul-betul minta perhatian. Pelan-pelan mata saya menelusuri tubuhnya dan terhenti di bagian pubic. Tak tercukur plontos memang, tetapi ada sisa segaris rambut yang menyebul di bawah perutnya. "Ayo kenapa nggak coba? Anderan pasti tergila-gila", katanya merayu. "Aduh, Sandra, saya ngeri main silet di daerah itu.. ntar kalau saya berdarah gimana??". "Mau saya tunjukan caranya biar nggak luka? Ayo, sini!!" katanya bersemangat. Diletakkannya selembar handuk di tepi ranjang, dan dikeluarkannya alat- cukurnya yang masih baru dari beauty case birunya. Dibimbingnya saya duduk di bibir ranjang. "Celanamu dibuka doong, bagaimana aku mulainya?" katanya membuyarkan saya yang lagi terbengong-bengong. Pelan-pelan saya buka g-string saya. Kami berdua betul-betul telanjang sekarang. Saya masih juga terpana akan semangat Sandra untuk mencukur pubic saya. "Nah, kamu sekarang tiduran, tapi kakinya tetap menggantung ya." Ada perasaan aneh yang menyelimuti dada saya, tetapi saya masih diam saja mengikuti perintahnya. "Kakimu dibuka dong". Saya buka kaki saya sedikit. Dia jongkok didepan memek saya. Tanpa berkata-kata, dia buka kaki saya lebih lebar lagi. Saya yakin dia melihat seluruh vagina saya. Perasaan aneh menggelora di sekujur tubuh saya. Saya belum pernah mengalami hal semacam ini dengan wanita. Dengan Andrean, biasanya saya tidak merasa aneh ketika ia mulai menjilati memek saya. Saya merasa ada angin hangat pada selangkangan saya. "Apa? dia menghirup aroma vagina saya?" teriak saya dalam hati. Persis seperti ketika Andrean mulai mengerjai memek saya dengan lidahnya. Tetapi Sandra tidak menjilati vagina saya, ia mengoleskan sabun cair yang telah bercampur dengan sedikit air pada alur pubic saya dengan jari-jarinya yang lembut. Vagina saya seketika berdenyut, darah saya mengalir dengan cepat. "Tidak, saya tidak sedang bercinta" jerit saya dalam hati sambil menutup mata, pasrah pada mata silet ditangan Sandra. Jari-jari kiri Sandra memegangi pangkal paha, untuk menahan agar kaki saya tidak menutup tiba-tiba. Jari-jari itu ada disebelah dalam paha saya, bergerak hati-hati, bahkan seperti mengusap. "Tahan ya, saya mulai nih" katanya dengan konsentrasi. Sreet.. sreett.. mata silet itu mulai mencukur pubic saya bagian luar. Tungkai kaki kiri saya dinaikkan ke ranjang dengan hati-hati. Lagi-lagi saya menarik napas panjang.. rasanya geli bercampur ngeri merasakan mata pisau silet itu menari-nari di daerah sensifif saya. "Sandra, stop.. aduuh", jerit saya. "ha? Kenapa?".. saya bangun dan meringis "Geli, tau..", Sandra tertawa, "Iya, tau. Tahan sedikit! Ayo, mulai lagi. Coba rileks, sweety..". Saya menjatuhkan lagi badan saya ke ranjang menarik napas dan menutup mata lagi. Kali ini saya berharap mudah-mudahan proses ini cepat berlalu, karna sejujurnya, sebetulnya saya HORNY!! Saya buka kaki saya lagi. Kali ini Sandra memegang selangkangan saya agar bisa melihat jelas alur pubic saya bagian dalam. "Yang lebar dong.." rayunya. Saya lebarkan lagi kaki saya. Kali ini kedua tungkai kaki saya tertekuk di atas ranjang. Tak tahan, saya raih bantal untuk saya peluk dan berharap dapat meredam gelora tubuh saya. Sreet.. hati-hati Sandra mencukur pubic saya bagian dalam. "Hati-hati.." kata saya lirih. "Hmm.. " katanya dari balik bantal saya, sembari sesekali mencuci mata pisau dengan air hangat yang ia sediakan. Saya gigit bibir saya kuat-kuat. Vagina saya mulai berdenyut lagi.. rasanya hangat disitu. Saya yakin Sandra melihat selangkangan saya mulai basah, bukan karena air sabun, tetapi basah alami. "Udah beluum?" Tanya saya ngeri.. "Sebentar lagi,.. sabar.." katanya. Mata silet itu terasa menari semakin dekat dengan mulut vagina saya. Perasaan saya bertambah campur aduk. Menit-menit berlalu bagaikan bertahun-tahun. Akhirnya Sandra berucap "Hua.. selesai".. saya legaa sekali, dan segera menutup kaki saya lagi "Eit, tunggu, belum dibersihkan", katanya. Pelan-pelan, dengan handuk hangat dia menyeka paha bagian dalam saya, membersihkan dari sisa-sisa rambut yang dibabat-nya tadi. Mulai dari atas, kemudian selangkangan saya, kemudian pelan-pelan di bagian vagina saya. "Ehm.. biar saya saja.. thank's" kata saya jengah. Dan saya melanjutkan pembersihan itu sendiri. Rasanya aneh sekarang, karena pubic saya jadi sedikit. Dingin! Sandra memandang hasil karyanya dengan bangga, " Gimana? Bagus kan?" katanya sambil menyambar cermin kecil dari dalam tasnya. "Ini, coba kita lihat". Diberikannya cermin itu kepada saya. Otomatis, saya buka lagi kaki saya dan memperhatikan pussy saya yang sekarang plontos "Wah..Thank's! jadi kelihatan ya!" kata saya. Sandra tersenyum, sambil tetap melihat hasil karyanya. "Oh, Kinan, lihat, masih ada yang tertinggal!" katanya sambil menunjuk ke arah selangkangan saya. "Oya?", Sandra lagi lagi berlutut di muka pussy saya. Kali ini dengan kedua ibu jarinya dia pegang selangkangan saya yang masih terbuka. "Kinan.." katanya lirih.."Ini adalah pussy terindah yang pernah saya lihat", matanya tak lepas dari selangkangan saya, pelan-pelan dilelusnya pussy saya dengan kedua ibu jarinya. Dada saya terbakar. "Sandra, saya bisa horny kalau kamu perlakukan saya begitu.." Sandra seakan tak perduli, dia tetap mengelus pussy saya perlahan-lahan "Wangi sekali.." Saya tak tahan lagi.. saya tarik Sandra ke ranjang, saya sambar lehernya dan mulai menciuminya dari belakang. Sandra tampak pasrah saja, apalagi ketika saya raih puting susunya yang berwarna merah muda dan mancung, minta dihisap. Saya ciumi lehernya dan mulai memainkan puting susunya. Saya cubit sedikit putingnya bersamaan dan Sandra mulai mengerang, kemudian saya mulai pelintir putingnya ke arah yang belawanan dengan lembut..lidah saya mulai turun ke pundaknya. Tangan Sandra mulai mecari letak vagina saya yang menempel pada pantatnya yang semok sementara saya terus meremas susunya yang empuk dan memlintir puting susunya dari belakang.Dengan satu gerakan, kami sekarang berhadap-hadapan. Seperti tak mau kalah, Sandra langsung menyambar bibir saya, mencari lidah saya dan kami saling mengulum dengan liar. Saya hisap lidahnya dan Sandra menjilati bibir bawah saya dengan buas. Tiba-tiba ciumannya berpindah ke leher saya, dan cep! Ia langsing mengulum puting kanan saya, dan tangan satunya memuntir puting kiri saya. Dada saya berdenyut. Baru kali ini saya diciumi wanita, sensasinya aneh tetapi saya sudah tak mau kehilangan moment lagi. Walaupun masih dalam keadaan duduk, tubuh Sandra saya telikung dengan kaki. Saya usap rambutnya yang panjang dan coklat itu, sambil saya tarik kepala saya kebelakang. "Ohh.. Sandra.. terus Sandra.. sshh..".. sekarang, gantian puting kiri saya dikulumnya, lidahnya menari-nari dan sesekali dihisapnya dengan kuat. Tak tahan melihat susunya yang mencuat di bawah, perlahan saya remas dengan tangan kiri saya. Kemudian perlahan lidahnya turun ke arah perut, Lidahnya berputar, memainkan lubang pusar saya. Geli dan amat sensasional sekali rasanya. Sebelum saya betul-betul menikmati tarian lidahnya di pusar saya itu, ia sudah berpindah lebih rendah lagi ke arah cukuran hasil karyanya kebanggannya. Dibukanya kaki saya dengan kedua tangannya, kali ini bukan ibu jarinya yang mengelus pussy saya tetapi lidahnya yang dengan gerakan berputar pelan-pelan menjelajahi pussy saya. Lembut sekali. Saya mendesah karena sensasi yang ditimbulkannya. "Auhh.. oo.. yaa.."lidahnya naik turun pada permukaan vagina saya dan akhirnya clitoris saya dijilatnya berputar pelan-pelan. Saya rasakan nafasnya yang menderu dan hangat. Darah saya mendesir cepat. Saya amat menikmati sensasi ini dan Sandra tetap berimprovisasi dengan arah jilatannya yang berbeda-beda, membuat kepala saya hampir pecah. Kemudian dilepaskan bibirnya, digantikan dengan ibu jarinya dengan lincah menggosok dan memainkan clitoris saya dengan gerakan memutar. Pelan-pelan, dimasukkannya jarinya kedalam vagina saya, kali ini ia mulai lagi menjilati clitoris saya lebih keras. "Aaagghh,.. iya, begitu honey.!!" saya gelagapan karena kenikmatan yang tiba-tiba menyergap tubuh saya ini. Saya remas sendiri susu saya dan tarik-tarik sendiri puting keduanya. Kali ini Sandra masukkan 2 jarinya dan digerakkan keluar-masuk dengan lembut, dan lidahnya tak henti menjilat dan mengulum clitoris saya. Saya belum pernah merasakan kenikmatan secepat ini sebelumnya. Sandra menghisap-hisap klitoris saya dengan keras. Tiba-tiba saya ingin pipis yang tertahankan dan badan saya ingin meledak, "Aohh, aahh,.. Sandra, saya coming Sandra.. saya coming!!" Sandra seakan tak perduli dengan rintihan saya, ia bahkan menaikkan tempo jarinya yang keluar masuk vagina saya dan jilatan-jilatannya yang makin keras pada kitoris saya. "Aggh.. agh.. Aaahh.." saya menggelinjang begitu hebat, pantat saya naik- turun dengan gerakan tak beraturan, rasanya seperti pipis pertanda cairan vagina saya meyemprot keluar banyak sekali. Dan badan saya tetap menggelinjang lama sekali. Saya betul-betul orgasme hebat!! Sandra makin semangat menjilati vagina saya yang basah sampai licin tandas. Kemudian ciumannya melambat dan kemudian berhenti, Dipeluknya perut saya. "Wah, Kinan, kamu liar sekali ya!" katanya nyengir. Saya hanya bisa tersenyum, kemudian menutup mata karena masih ingin menikmasti sisa sensasi yang barusan Sandra berikan pada tubuh saya. Sandra meninggalkan saya masuk kamar mandi. Sekembalinya, ia robohkan badannya di sebelah saya. Saya raih dan peluk dia. "Honey, kamu curang banget. Kamu nggak ngasih kesempatan buat saya cium kamu". Dia menarik badannya sambil terkikik "Oh, ternyata kamu juga enjoy ya? Tentu, nanti kamu bisa cium saya juga, sweety". kali ini ia memeluk badan saya "Kamu cantik, sweety, saya betul-betul suka sama kamu. Kamu begitu natural" katanya sambil mencium kening saya. Saya beringsut ke tubuhnya agar kita bisa berdekapan. "Thank, s. kamu juga cantik, tau?". Kami bersitirahat sekitar 10 menit sambil saling mengelus dan berdekapan. Kami sengaja menyetel MTV dengan volume rendah. Suara deburan ombak tidak membuat kami ingin menikmati malam itu diluar seperti yang direncanakan. Bahkan lapar pun saya tidak ingat. Saya begitu larut dengan orgasme hebat yang barusan saya alami. Gantian saya yang beranjak ke kamar mandi karena tak tahan ingin pipis. Seselesainya saya dari kamar mandi, dengan berlilitkan handuk, saya nyalakan beberapa lilin untuk diletakkan di teras dan di dalam kamar, agar tak terlalu menarik perhatian tamu-tamu lain. Kami tak begitu menyukai sinar bohlam atau neon, apalagi ketika berada dekat alam seperti ini. Di kamar, Sandra sedang mengutak-atik handy cam-nya, yang sesiang tadi jarang ia gunakan karena takut tercebur ke sungai. Ia tiba-tiba menatap saya, "Kinan, saya ada ide! Kita rekam yuk, buat koleksi pribadi, pasti cool!!". Tadinya saya tak setuju dengan ide gila itu. Tapi, ah, kapan lagi? Toh bulan depan ia akan kembali selamanya ke Paris. Mungkin ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Dipasangnya kamera itu di atas meja, menghadap ke salah satu queen size bed yang dipantulkan cermin rias, sehingga pada hasilnya nanti kami bisa melihat dari beberapa sisi. Saya akhirnya menurut saya dengan ide sinting itu, karna saya tahu Sandra bisa dipercaya untuk menjaga rahasia. Sandra mengeluarkan tas warna jingga dari traveling bag-nya. Wah apa lagi ini? Saya terhenyak karena ternyata tas itu berisi sex toys dengan berbagai macam bentuk. Sandra terkikik lagi . "Hey jangan bengong, the show must go on!" Kemudian ia menyuruh saya duduk di ranjang menghadap meja rias. Tombol handy-cam telah ia tekan ke posisi 'on'. Sekarang ia duduk di meja rias, menghadap saya sambil tersenyum-senyum. "Watch this out, baby". Mengikuti irama musik dari MTV, Sandra menari-nari dihadapan saya, tangannya meliuk-liuk seperti penari ular, kemudian dia mulai memegang dan meraba-raba tubuhnya sendiri. kakinya dibuka sedikit. Wajahnya agak diangkat dan matanya menatap saya jahil, betul-betul menantang! Diremasnya payudaranya sendiri, kemudian ia tarik-tarik dan pelintir putingnya yang telah berwarna kemerahan dan mengeras itu dengan tatapan menggoda kepada saya. Saya betul-betul gemas melihat tingkahnya. Saya hampir beranjak untuk menyerangnya. Tapi ia hentikan, "Ssstt,.. stay there, baby..you can attack me later". Tangan kirinya tetap menarik-narik puting susunya dan tangan kanannya mulai mengusap tungkai kakinya yang mulus panjang, dari betis, ke paha.. nah, sekarang, kakinya betul-betul dibuka. Sejajar mata saya tampak selangkangannya yang plantos, rapi tercukur dan berwarna merah muda merekah. Ia mulai memamerkan bagian dalam vaginanya. Pantatnya sedikit diangkat, dengan menggunakan jari telunjuk dan tengah, ia buka vaginanya. Saya menelan air liur saya berkali-kali karna betul-betul ingin menjilat bagian itu. Dengan tetap menarik puting dan pantat terangkat, ia sekarang mulai menggosok-gosok selangkangannya sendiri di hadapan saya. Saya mulai merintih, "Sandra, let me help you.." Sandra tersenyum makin jahil. "Nanti, sayang.. kamu tonton aku dulu ya.." Kemudian tanpa menutup kakinya ia kembali meremas kedua susunya dan menarik-narik lagi putingnya. Saya betul-betul horny melihat gayanya yang erotis seperti di film-film biru yang sering saya sewa. Sekaligus, saya bisa melihat gerakan punggungnya yang indah dari pantulan cermin rias yang ia punggungi. Kaki kananya ia tekuk keatas dan punggungnya ia sandarkan pada cermin, sekarang saya betul-betul bisa melihat seluruh bentuk pussy Sandra yang merekah. Tangan kirinya sekarang ganti menggosok pink pussynya pelan-pelan. Kali ini ia meraih penis karet yang terdekat, dijililati dan dihisap-hisapnya penis karet itu, persis seperti memperlakukan penis lelaki. Dibukanya lagi vaginanya yang sudah tampak basah, siap untuk melahap penis karet yang mirip betul dengan aslinya. Dimasukkannya penis karet yang telah basah oleh air liurnya dengan pelan. Pantat Sandra mulai bergerak naik turun, dan ia mulai merintih, "aahh..", dan tak sadar, saya mulai juga meremas payudara saya sendiri. Penis karet itu dilahap pelan-pelan, kemudian pada saat ¾ panjangnya masuk, Sandra mulai menggerakkannya keluar-masuk, kemudain dikombinasikan gerakan memutar. Mata Sandra mengatup, dan mulutnya terbuka. Ia tak berkata apa-apa, hanya desahan lirih yang keluar. Tangan kirinya mulai menggosok clitorisnya yang sekarang tampak bengkak dan merah, dengan lembut. Saya menikmati pemandangan langka ini. Begitu erotis.. begitu indah, begitu menggemaskan! Biasanya saya sendirilah yang mengerjakan, tapi tak pernah sambil ditonton orang! Rupanya ia mulai tak tahan. Penis karetnya mulai keluar masuk dengan cepat, sambil bergerak memutar, klitorisnya ia gosok lebih keras. Pantatnya terangkat naik turun dan pinggulnya bergoyang-goyang tak terkontrol. "Agh, Kinan.. Saya.. saya..aaghh, aagghh, aaggah, ahh!!", kepalanya tertarik kebelakang, matanya menutup lebih rapat, seketika badannya menggelinjang dengan hebat, Ia tetap mainkan penis karet itu dalam tubuhnya, sampai akirnya ia hampir ambruk merosot. Saya terkesiap dan segera menghampiri Sandra untuk menahan berat tubuhnya. Ia masih menggelinjng ketika saya dekap, "Kinaann, cium sayaa,.. cium sayaa.. " pintanya, setengah memerintah. Saya ciumi bibirnya yang ranum itu dengan nafsu, saya hisap lidahnya kuat-kuat. Akhrnya ia berteriak lagi "Oooaaghh..", ah, pertanda orgasme panjang itu telah selesai. "Fantastik, sayang..! Kamu cantik, sayang.. kamu cantik.." saya katakan padanya sambil saya cium lehernya. Sekarang ganti ia yang ambruk di ranjang. Sandra terkulai lemas dalam pelukan saya. Tubuhnya kadang masih tergetar. Saya usap-usap rambutnya. "Ssst.. " Sandra jatuh tertidur, begitu pula saya. Oh.. betapa indahnya! Sebelum jatuh lelap, tak lupa saya tekan tombol 'off' pada handy cam Sandra. Sampai saat tengah malam, saya terbangun karena lapar. Dengan gerakan sepelan mungkin saya kenakan t-shirt saya dan menyelimuti tubuh Sandra. Saya telepon room service untuk memesan makanan. Tak lama, room service mengetuk pintu kamar kami, membawa 2 piring besar nasi goreng. Sandra terbangun karna aroma nasi goreng yang menggugah. "Hello honey.. laper kan?" goda saya. "Mmm, kamu tau aja", katanya. Lagi-lagi hanya dengan sarung bali yang ia lilitkan ditubuhnya, kami makan diteras ditemani bunyi debur ombak. "Wah, pesta ikan bakar kita gagal nih", kata saya tanpa menyesal. "Minggu depan, Kinan, saya janji!" jawabnya serius, tetapi setelah ia melihat sorot mata saya, kami tertawa tergelak-gelak. Kami berdua tak bisa melanjutkan tidur, ngobrol terus hingga subuh menjelang. Kami masuk kamar, dan segera naik lagi ke ranjang. Kami saling menatap, dan tanpa komando, kami melucuti lagi segala bentuk pakaian yang menempel pada tubuh kami. Kami tak berkata-kata, sandra menekan lagi tobol 'on' pada handycam-nya dan kami langsung berpelukan. Sandra mulai menciumi bibir saya lagi. Aneh, padahal sudah 3 jam kami ngobrol seperti biasa, kini kami bisa tiba-tiba bermesraan lagi. Kami berciuman layaknya kekasih, bibir dengan bibir. Aksi bibir ini dilanjutkan dengan saling mengulum dan mencari lidah masing-masing untuk dihisap. Sandra meraih minyak olive yang terletak di samping ranjang, di tuangnya kedua belah tangannya tanpa melepaskan ciuman mautnya. Diraihnya buah dada saya. Diusapkan dan digosoknya perlahan. Puting saya kembali menegang. Diremasnya susu saya lembut, kemudian dipilinnya kedua puting saya berlawanan arah. Saya mulai merintih.. saya tuang juga minyak olive dan saya perlakukan pula susu Sandra sama seperti ia lakukan terhadap saya. Saya cubit dan tarik-tarik putingnya dan membuat dia menarik kepala saya dan mengarahkan bibir saya ke arah putingnya. Ah! minta dihisap dia! Saya jilati susunya yang montok itu dan saya hisap-hisap puting kanannya. Mata Sandra tertutup dan tangannya tetap memilin susu saya. "ouhh, yaa, Kinan.. jangan berhenti.. terus, sweety..", saya ganti menjilati puting kirinya dan saya mulai hisap-hisap putingnya dengan kuat. Sekarang kedua putingnya tampak merah dan merekah, saya tambahkan minyak olive dan saya puntir-puntir lagi. Rupanya ia sudah sangat horny, direbahkannya saya di ranjang, dengan tetap memelintir puting saya, ia mulai lagi menciumi perut saya, terus.. ke arah selangkangan saya. Ia mulai menciumi paha saya. "Ahh..", dengan gerakan cepat, Sandra naik ke ranjang, kali ini rupanya ia ingin menikmati posisi 69. Di depan wajah saya, pussy Sandra yang merekah merah muda sudah menunggu. Ia masih dalam posisi menungging, karna ingin menjilati pussy saya. Ha! Kali ini dengan leluasa saya bisa mengeksplore-nya. Saya remas pinggulnya, bergerak ke arah buah pantat, saya hanya menciumi pangkal kakinya. Rupanya Sandra marah "Jangan begitu, Sweety, ayo, jilat saya dong!" pintanya. Saya ciumi pussy Sandra pelan-pelan, sementara di bawah sana, Sandra sudah membuka dan menekuk kaki saya.Ia juga mulai menciumi vagina saya. Saya buka lebar-lebar vagina Sandra, sehingga saya bisa leluasa menjilatinya. Saya jilat dari arah depan ke belakang perlahan, saya kulum pelan- pelan labia mayor-nya bergantian kiri dan kanan, sampai saya temui clitorisnya. Clit-nya yang sebesar biji walnut yang sudah sedari tadi dipamerkan, saya hisap pelan. Sandra mengeluh lirih. Saya tetap menjilati vagina Sandra yang hangat, sesekali saya gosok clit-nya dengan jari saya. Tak sengaja, saya jilat anus Sandra yang membuatnya mendesah panjang. Oh, ternyata dia suka! Tanpa rasa jijik bahkan merasa lebih semangat, saya jilati lubang anusnya, sambil tetap saya gosok clitorisnya. Gerakan ini membuat jilatan Sandra dibawah sana terhenti. Dengan hat-hati, saya masukkan lidah saya ke dalam anusnya. Pinggul Sandra mulai bergoyang. Saya lepaskan lagi agar Sandra penasaran. "aduk enakk. lagi, sayang.. apa itu?" katanya, "Ssst, nikmatin aja.. sweety" kata saya. Sandra mulai lagi mengulum labia mayor saya, clitoris saya dihisap-hisap dengan kuat, sesekali digosoknya dengan dua jarinya lebih buas dari sebelumnya, sementara saya tetap memasuk-keluarkan lidah saya pada lubang vaginanya, dan dengan bantuan minyak olive, lubang anus Sandra tetap saya usap usap. Saya amat menikamati posisi ini yang membuat badan saya melayang begitu ringan.. Kedua buah pantat saya diremas Sandra dengan keras, rupanya ia mulai tahu bahwa itulah salah satu titik g-spot saya, yang bisa membuat saya lebih horny. Saya amat menikamti jilatannya yang dahsyat yang bembuat pantat saya bergerak naik turun. Diraihnya penis karet yang lebih besar dari tas warna jingganya. "Kamu juga mau, kan, Kinan? Katanya. Saya hanya bisa menjawab "hmm..". Pussy saya sudah basah dan hangat. Kepala penis karet itu dicelupkannya ke liang vagina saya sedikit, ditariknya keluar, lalu celupan berikutnya juga sedikit, diam beberapa saat ditarik lagi keluar. Ini membuat saya gila. Dijilatnya lagi vagina saya, kemudain dicelupkan lagi sedikit penis karet itu. Saya tak tahan dipermainkan seperti itu "Ah, Sandra, ayo, masukkin donng, ini bikin saya gila..!!" pinta saya, Sandra tak menyahut, dan tetap dengan aksinya yang membuat kaki saya maikin lebar dan siap memangsa penis karet jahanam itu. Saya tak bisa berbat apa-apa, tubuh saya dihimpitnya lebih keras. Namun tiba-tiba, bless.. penis karet itu menghujam liang vagina saya dalam dalam. Saya tak bisa konsentrasi lagi menjilati Sandra, saya ingin menikmati sensasi ini. "Aaahh.. " .nafas saya memburu. Penis karet itu perlahan tapi pasti bergerak maju mundur merajam vagina saya, kadang bergerak memutar dan mebuat saya menjerit lirih. Klitoris saya tetap digosok lembut, sesekali dijilat oleh Sandra. Saya merasa seperti melayang, di langit ketujuh.. begitu nikmat! Kamudian kedua kaki saya yang sedari tadi terbuka, disilangkan oleh Sandra, sehingga penis karet itu sekarang rasanya lebih besar menghujam tubuh saya. Kemudian, ternyata Sandra mulai menekan tombol 'on' pada penis karent itu yang membuatnya bergetar dalam tubuh saya. Saya mulai tak tak tahan, setelah 2 menit bertahan menyilangkan kaki, saya buka lebar-lebar kaki saya, tubuh saya bergerak mengikuti arah gerakan penis karet tadi, dengan harmonis. Oh, Sandra mengerti sekali besar tekanan yang saya perlukan dari penis karet ini. Pantat saya naik turun berirama. Rupanya Sandra membalas perlakuan saya tadi. Diberinya anus saya sedikit minyak olive, kemudian diusapnya bagian itu sebentar, dan cep!, jari kirinya masuk ke dalam anus saya. 2 lubang saya betul betul dikerjai Sandra, dan rasanya sungguh seperti diawang-awang. Saya tak ingin berhenti, "Jangan brenti, sayang.. ohh.. oh,..sshh". Dan tibalah saatnya dimana saya ingin pipis dengan dahsyat, betul-betul meledak, tubuh saya beguncang dengan hebat. melepaskan orgasme, menggelinjang, dan berteriak, "Sandraa.. oahh.. oahh.. aawwhh.." saya seperti melayang lamaa sekali, saya tak ingat-apa-apa dan kemudian seperti jatuh lagi ke bumi, lemas seperti kertas. Sandra tak menghentikan aksinya sampai saya betul-betul memohon untuk berhenti. Saya terkulai lemas tetapi saya masih ingin menjilati red-pussynya. Setelah 5 menit saya berbaring tak begerak, kali ini posisi kami berpindah, saya ada diatas tubuh Sandra yang berkeringat, saya mulai lagi menjilati pussynya yang merah merekah. Clitorisnya saya gosok, dan ia mulai merintih, "Doggy me Kinan.. doggy me". Ia bergerak, dan siap dengan posisi nungging. Saya pegang buah pantatnya, saya jilati lubang anusnya turun ke pussy, begitu terus sampai pussynya betul-betul bengkak dan basah. Saya sambar penis karet miliknya yang ia gunakan pertama kali. Tanpa menunggu lebih lama, saya masukkan pelan-pelan penis itu, bless.. karena saya tahu Sandra sudah tak sabar lagi. Saya remas susunya yang mancung dari belakang, dan penis itu saya gerakkan keluar masuk liang vaginanya. Rupanya Sandra amat menikmati doggy style ini. Tangannya ia sandarkan ke dinding. Saya berharap dinding itu tidak roboh menopang gerakan-gerakan Sandra yang dahsyat. Sandra tampak amat seksi dilihat dari belakang, terutama karena pantatnya yang sekarang begitu menjulang bergoyang-goyang dan lekukan punggungnya yang mulus sesekali tergetar. Saya ciumi bauh pantatnya dengan gemas, saya gigit-gigit sesekali, sambil terus saya pelintir putingnya. Kaki Sandra semakin lebar terbuka, dan pantatnya bergerak sirkular, harmonis dengan gerakan keluar-masuk penis karet. Sandra tak henti melenguh. Kali ini, saya ambil sex toy lain dari tas jingganya yang berbentuk seperti kepala penis, lebih kecil dan memiliki ujung seperti cincin yang saya masukkan kedalam jari saya. Dengan begitu, kepala penis itu saya gerakkan dengan satu jari saja. Saya jilati lagi anus Sandra sedikit, dan segera saya masukkan kepala penis kecil it ke lubang anusnya, pelan pelan. Sandra seperti kesurupan. "Ggrraahh..argghh.. arrgghh.." geramnya. Tubuhnya yang sintal semakin liar bergoyang-goyang, menikamti gerakan 2 penis buatan sekaligus dalam tubuhnya. Jati-jarinya kini mencengkram tepi ranjang sampai buku-buku jarinya memutih. Saya betul-betul sibuk memainkan instrumen sex milik Sandra sampai akhirnya kaki Sandra menekuk sekaligus melebar, punggungnya melengkung sehingga kepalanya tertarik jauh ke belakang, "kinan, .. kinann.. kinann, KINAANN", tubuhnya bergetar hebat, pantatnya naik turun seperti kuda yang siap menendang dengan kaki belakang. Saya teruskan gerakan kedua penis karet itu lebih cepat dengan tekanan yang lebih keras. "AAGGHH.. AAGGHH..". Sandra jatuh terlentang di ranjang, saya lepaskan kedua alat tadi dari tubuhnya dan saya tangkap lagi pussynya dengan mulut saya. Saya pegangi kedua kakinya dan saya jilati dengan buas red-pussynya sampai Sandra berteriak lagi, "KINAANN, AAGGHH..". Tubuhnya bergetar dan melonjak lagi dengan dahsyat.. "Ampunn, Kinan, ampuunn, berhentii, pleasee..ahh.. aa.." sampai getaran badannya terhenti. "Kinan, saya multi orgasme tadi.." katanya dengan mata terkatup. "Iya, sayang, saya tahu..". Sandra dan saya menyimpan masing-masing copy dari rekaman week-end panas itu. Kami saling menyayangi, tetapi kami juga setia pada pacar-pacar kami. Sekarang Sandra telah kembali ke negerinya dan kami masih tetap kontak sampai saat ini. Saya sering berfantasi melakukan sex dengan wanita lain, tapi sampai saat ini saya belum menemukan yang sehebat Sandra. |
| Gay Story - Kisah Asmara Orang Gay Posted: 30 Jul 2008 09:29 AM CDT Abi kemudian menghentikan permainannya, dan kini Abi tidur terlentang di sampingku sambil menyuruhku untuk menindih tubuhnya. Sekarang posisinya, aku yang meninidih tubuh Abi. "Masukkan.. ya.." pinta Abi sambil memegang penisku dan mulai di arahkan ke lubang pantatnya dengan posisi kakinya terbuka lebar. "Oke.. kalau itu yang kamu inginkan," sambil mendesah kujawab permintaan Abi, sebelum aku mulai menyerang terlebih dahulu Abi mengolesi penisku dengan air liurnya, aku pun mulai menurunkan pantatku untuk mulai penyerangan tapi begitu bagian kepala penisku mulai masuk. "Aduuh.. jangan teruskan.." Abi menjerit sambil tangannya meremas pantatku agar aku tidak meneruskan seranganku dan tanpa kulepas bagian kepala penisku yang sudah masuk, aku merunduk mencium dan melumat bibir Abi dan Abi membalasnya sambil merangkulkan kedua tangannya ke leherku sambil memejamkan mata dan begitu Abi terbuai dengan permainan bibirku, aku pun perlahan-lahan mulai menurunkan pantatku untuk meneruskan seranganku tanpa melepaskan lumatan bibir, sulit memang tapi akhirnya aku berhasil memasukkan seluruh penisku ke organ vital Abi, dan Abi pun mengeluarkan rintihan manja. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us "Hari ini kita akan mencatat resensi buku puisi," kata guru bahasa siang itu. "Aduh saya lupa bawa bolpoint, nih!" ucapku pada Abi, teman sebelahku. "Nih.. pake punya saya aja!" Abi menawarkan padaku. "Terus kamu sendiri pake apa?" aku balik tanya. "Udah.. tenang saja!" Abi menjawab sambil tersenyum, senyuman biasa tapi dibalik senyuman itu ada sesuatu yang membuat Abi nampak menarik. Seperti biasa, aku makan siang sendiri sebab kalau siang begini orang tuaku sedang bekerja dan kebetulan kakakku lagi ada pentas musik ke luar kota, tinggal aku sendiri saja siang itu di rumah. Setelah kutanggalkan pakaian sekolahku, kini hanya celana pendek dan t-shirt tanpa lengan yang membungkus 178 cm tinggi tubuhku. Selesai makan siang, aku beristirahat sambil mendengarkan musik dari tape yang melantunkan lagu manis berirama R&B dan vokal yang bagus dari tenggorokannya Whitney Houston yang melantunkan "Saving All My Love For You" "Tok.. tok.. tok," suara pintu yang diketuk dari luar. "Siapa.. ya?" dengan malas saya beranjak ke pintu. "Hai.. siang," jawaban itu keluar setelah pintu kubuka, dan Abi dengan senyuman manisnya berdiri di hadapanku. Dan aku membalasnya sambil mempersilakan masuk. Abi sudah biasa ke tempatku, entah itu main, ngobrol atau lainnya. Abi anaknya baik, tidak begitu cakep, perawakannya pun biasa saja bila dibandingkan dengan postur tubuhku yang tinggi 178 cm dan berat 75 kg serta wajah yang gimana.. ya? Abi sering memuji kalau aku sebenarnya tampan. Ah, tapi itu hanya Abi saja yang memuji tapi menurutku Abi lah yang kalau dipandang terus kayaknya ada sesuatu yang menarik atau semacam kharisma, apalagi kalau Abi tersenyum dengan memperlihatkan susunan giginya yang rapi, putih hal seperti ini yang sering membuatku memikirkan Abi. "Eh.. nih aku bawa film bagus," Abi menawarkan VCD kepadaku. "Flim apaan sih," sambil aku perhatikan sampul VCD, yang ternyata itu adalah Blue Flim, dan aku tersenyum sambil mengajak Abi ke kamarku untuk memutar flim itu, kebetulan di kamarku ada VCD-Player dan Abi mengikutiku masuk ke kamar. Setelah beberapa saat melihat adegan demi adegan berlangsung dengan panasnya sampai-sampai membangkitkan nafsu birahi yang semestinya enak dinikmati pada malam hari. Aku melirik Abi yang duduk di sampingku dan secara bersaman Abi juga melirikku, dan pada saat pandangan kita beradu, aku merasakan ada suatu sentuhan di atas kulit pahaku yang ternyata itu adalah tangan lembut Abi yang terus memancing birahiku, sedang nafsu birahiku sudah terbakar sejak Abi masuk ke kamarku. "Kamu tampan sekali," Abi membisikkan kata itu di telingaku dan aku hanya bisa diam sambil memejamkan mata dan setelah itu Abi terus menciumku dari telinga, pipi terus menyatukan bibirnya dengan bibirku. Aku pun membalasnya dengan melumat bibir Abi yang lembut, sementara bagian bibir kami saling memberikan kenikmatan. Tangan Abi mulai bergerilya menyentuh setiap bagian tubuhku hingga tangan Abi kini sudah berada di balik celanaku dan mulai meremas-remas batang penisku yang sudah mulai tegang sehingga hanya rintihan-rintihan birahi yang keluar dari mulutku, yang membuat Abi semakin terbakar nafsu. Hingga tanpa sadar Abi sudah mulai melepaskan pakaianku, dan kini aku terlentang di atas kasur tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhku dan Abi kini mulai menanggalkan pakaiannya hingga aku dengan jelas melihat seluruh tubuh Abi yang ternyata berpostur bagus dengan warna kulit coklat khas Indonesia. Kini posisi Abi menindih tubuhku dan Abi mulai menyerangku dengan melumat bibirku dan aku pun membalasnya dengan melumat bibir Abi. Abi mulai menurunkan kepalanya dan dengan menggoyangkan lidahnya Abi menjilati seluruh tubuhku, mulai dari bibir, leher, dada, perut sampai akhirnya lidah Abi menyentuh lubang kencing tepat di ujung penisku. Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara tersebut sambil tubuhku meliuk-liuk bagai ular begitu kurasakan kenikmatan yang di berikan Abi. Belum habis rasa itu, kini Abi memberikan rasa lain yaitu bagian kepala sampai batang penisku mulai dimasukkan ke dalam mulut Abi hingga goyangan kepala Abi turun naik dalam melakukan oral sex. "Akh.. akh.. ah.." hanya itu suara yang bisa kukeluarkan sambil mataku terpejam menikmati permainan oral sex yang disuguhkan Abi. Abi kemudian menghentikan permainannya, dan kini Abi tidur terlentang di sampingku sambil menyuruhku untuk menindih tubuhnya. Sekarang posisinya, aku yang meninidih tubuh Abi. "Masukkan.. ya.." pinta Abi sambil memegang penisku dan mulai di arahkan ke lubang pantatnya dengan posisi kakinya terbuka lebar. "Oke.. kalau itu yang kamu inginkan," sambil mendesah kujawab permintaan Abi, sebelum aku mulai menyerang terlebih dahulu Abi mengolesi penisku dengan air liurnya, aku pun mulai menurunkan pantatku untuk mulai penyerangan tapi begitu bagian kepala penisku mulai masuk. "Aduuh.. jangan teruskan.." Abi menjerit sambil tangannya meremas pantatku agar aku tidak meneruskan seranganku dan tanpa kulepas bagian kepala penisku yang sudah masuk, aku merunduk mencium dan melumat bibir Abi dan Abi membalasnya sambil merangkulkan kedua tangannya ke leherku sambil memejamkan mata dan begitu Abi terbuai dengan permainan bibirku, aku pun perlahan-lahan mulai menurunkan pantatku untuk meneruskan seranganku tanpa melepaskan lumatan bibir, sulit memang tapi akhirnya aku berhasil memasukkan seluruh penisku ke organ vital Abi, dan Abi pun mengeluarkan rintihan manja. Dan kini aku mulai mendayung sebuah perahu birahi menuju pantai kenikmatan bersama Abi yang sesekali merintih melantunkan irama birahi. Keringatku pun mulai menghujani tubuh Abi yang berada di bawah tubuhku. Nampaknya jauh sudah kami berlayar di lautan kenikmatan hingga seluruh sendi-sendi dan pembuluh darahku mulai menyatukan protein-protein dan mengirimkannya melalui urat-urat untuk segera dikeluarkan melalui penisku dan pada saat aku berada diujung kenikmatan, seluruh otot-ototku menegang dan aku mulai menghimpit tubuh Abi. Kudekap tubuh Abi kuat-kuat sambil berbisik ke telinga Abi, "Akh.. Bi.. aku mau.." belum habis kata itu kuucapkan, aku langsung melumat bibir Abi sambil menghimpit tubuhnya, dan begitu cairan spermaku membasahi sanubari Abi, aku pun mengatur nafasku setelah mengarungi samudera birahi yang membuat nafasku terengah-engah. "Puas..?" bisik Abi. "Hmm.. yah,"sambil senyum kubalas Abi. "Aku mohon jangan di copot dulu," pinta Abi. "Yah.." aku membiarkan penisku yang masih dalam keadaan tegang, tertanam di organ vital Abi, dan kini Abi melakukan onani, dengan posisi masih di bawahku. Aku pun membantu Abi mencapai klimaks dengan cara melumat dan sekekali kugigit puting susu Abi hingga Abi mendesah-desah nikmat hingga akhirnya Abi mulai menegang, mengerang karena Abi mulai mencapai klimaks. Dengan jelas aku melihat bagaimana mimik muka Abi pada saat mengerang menahan kenikmatan yang teramat sangat. Abi begitu manis, jantan, tampan dan kharismanya keluar berbarengan dengan sperma yang ia curahkan hingga membasahi bagian perutnya. Begitu Abi selesai organisme, kucium dan kubisikkan, "Bi.. aku sayang kamu.." dengan lembut kuucapkan itu dan Abi tersenyum sambil merangkul leherku menurunkannya dan mencium bibirku dengan lembut, sementara lagu Whitney Houston terus bergema melantunkan lagu, "I Still Believe You And Me" dan sayup-sayup masuk ke kamarku membuai kami yang masih berpelukan tanpa ditutupi sehelai benang pun. Ditengah-tengah alunan musik itu Abi berbisik, "Iqi.. jangan pernah tinggalkan aku ya?!" lirih ucapan itu keluar dari mulut Abi yang ditempelkan di kuping kananku, dengan mendekap Abi ke dalam pelukanku yang paling dalam dan dengan memberikan rasa kasih sayang tinggi itulah jawaban yang kuberikan. Dan mulai saat itu resmilah hubungan kami sebagai sepasang merpati yang saling memberikan kasih dan sayang, serta cinta yang sejati sehingga hari-hari yang kami jalani berdua selalu penuh dengan warna-warna syahdu yang membiaskan lukisan cinta diatas kanvas asmara yang kami lukis di dalam hati kami berdua. Hingga detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, bulan, tahun dan terus berjalan sesuai dengan hitungannya sehingga membuat kami tersadar bahwa setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Saat-saat berpisah memang sakit tapi itulah kenyataannya. Abi memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita yang dicintainya, sedangkan aku menyimpan duka dan lara sehingga kuputuskan untuk pergi dari kota kelahiranku dengan membawa kisah romansa asmara merah jambu yang kami ukir pada saat masa-masa romatis hingga kini kuputuskan untuk menetap di kota Yogyakarta sambil berharap datangnya seorang gembala cinta yang menawarkan cintanya padaku walaupun hal itu belum juga datang hingga sekarang, tapi kenangan manis bersama Abi selalu menghiasi bingkai lamunanku. "Ah.. Abi andai sekarang kau ada di sini.." "Heey.. mikirin apa sih?" tiba-tiba tepukan teguran dari belakangku yang membuyarkan lamunanku. "Oh.. nggak mikir apa-apa!" spontan kujawab pertanyaan itu sambil membalikkan tubuhku, yang ternyata itu teguran dari Tony teman sekerjaku. Aku lalu tersenyum kepada Tony dan Tony pun sepertinya ngerti apa yang kupikirkan. Kemudian dengan menyisakan senyuman yang kuberikan pada Tony, aku beranjak pergi untuk melanjutkan pekerjaanku. "Selamat malam, Bapak mau pesan apa?" dengan ramah aku memberikan pelayanan, untuk memperlihatkan keprofesionalanku sebagai seorang waitter di salah satu cafe di kota Yogyakarta. |
| Posted: 30 Jul 2008 09:24 AM CDT "Arrrggghh!! Yuli! Oh Yuli..." Aku mulai mengerang agak keras karena merasakan lidah halus Yuli bergerak-gerak di dalam mulutnya yang hangat sementara kepala Yuli terus bergerak naik turun bertambah cepat. "Ouugggghh!!!" Kali ini aku tidak dapat menahan hasrat yang meluap-luap di dalam diriku. Kutarik turun gaun sackdress yang dipakainya sehingga terlihat punggung putih mulus berbulu halus sedikit tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam lebat. Yuli tidak memakai bra. Kemudian kuteruskan lagi menarik turun sampai terlihat celana dalam putih tipis berenda yang membalut pantat putih kemerah-merahan yang ranum. Lalu kujulurkan tanganku yang panjang mencoba meraih liang kewanitaan yang tersembunyi di bawah pantat ranum putih miliknya. Dan tersentuh olehku daging halus sedikit berbulu yang telah basah oleh cairan lubrikasi tanda siap untuk bercinta! Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Hi, nama saya Andreas, teman biasa memanggil saya "Andrew". Saya seorang expat (bule) yang telah lama tinggal di Jakarta, dan saya ingin bertanya kepada anda: Pernahkah anda memiliki fantasi seksual terhadap seorang wanita? Wanita itu dapat menjadi siapa saja! Bisa jadi guru anda di sekolah dulu, dosen di universitas, teman kerja, bos atau bawahan bahkan mungkin pembantu di rumah anda! Yang jelas wanita itu pasti memiliki sesuatu yang membuat nafas anda sesak setiap kali mengingatnya. Well, saya punya! dan percaya atau tidak, saya adalah salah satu lelaki beruntung diantara jutaan lelaki yang lain, mengapa? Karena anda akan menemukan bahwa segala impian dan fantasi seksual saya akan menjadi kenyataan. Dari dulu saya memang selalu menyukai wanita Asia, mungkin salah satu alasan mengapa saya mau ditugaskan oleh kantor saya di Jakarta, tempat yang tadinya saya tidak pernah tahu eksistensinya, tempat yang tadinya saya tidak tahu akan ada wanita seperti Yuli. Hmmmh, Yuli oh Yuli.. Dia memang tidak memiliki buah dada sebesar Pamela Anderson, tapi buah dadanya yang sedikit lebih besar dari kepalan tanganku selalu terbayang di dalam blouse kerjanya ditutupi bra hitam tepat di bawah leher panjang dan bahu indah warna kuning langsat khas wanita Asia. Yuli memang tidak memiliki postur tubuh seindah Cindy Crawford, tetapi pinggangnya yang kecil selalu menemani pinggul indah bak apel dan hmmm.. pantatnya yang ranum selalu terbayang! Tak ketinggalan kaki kecilnya yang panjang bak peragawati menopang pahanya yang putih bersih ditutupi rok mininya yang sexy! Takkan habis hasratku menginginkan dirinya! Terbayang selalu diriku di atas tubuhnya yang ramping putih meremas buah dadanya! Menarik turun rok mininya! Dan memasukan alat kejantananku kedalam kemaluannya! Memompanya dengan cepat! Dan lebih cepat! Dan... "Andrew?" "Oh.. Hi! Yul.." dengan gelagapan aku menjawab sapaan Yuli yang entah telah berapa lama berada di hadapanku yang sedang melamun sambil minum sendirian di Hard Rock Cafe ini. He he, malunya aku! "Andrew, kamu lagi ngapain di sini?" Sekali lagi dia menyapaku. "Yul! Ngga sangka ketemu kamu di sini", jawabku cepat menutupi kagetku. Yuli menjawab dengan senyuman sambil berkata: "Aku sih emang sering ke sini! Seneng deh bisa ketemu kamu, hihi.. kamu sendirian kan? Aku join kamu yah? yah?" Sebelum sempat aku menjawab, Yuli telah menarik bangku dan duduk di sampingku, dan kuberpikir "Ya Tuhan betapa anehnya ini..." Lalu selanjutnya kita berdua telah asyik berbicara ngalor-ngidul. Tak kusangka Yuli ternyata kuat minum. Pembicaraan kami diwarnai oleh pesanan baru yang selalu datang mengganti gelas cocktailnya yang mulai kosong. Sementara konsentrasiku untuk minum telah luluh-lantak dihancurkan sepasang bahu indah ditemani leher panjang di atas belahan dada putih milik Yuli, sang fantasi seksualku yang tiba-tiba datang menghampiri! Yuli malam ini memang lebih sexy dari biasanya ditutupi gaun sackdressnya yang berwarna merah menyala. Dan kuberpikir lagi, "Oh Tuhan mimpi apa aku semalam?" Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 3 pagi. Dari cara Yuli berbicara dan raut mukanya, kutahu bergelas-gelas cocktail yang Dia minum telah memberikan hasil sesuai yang diinginkannya. Yuli mabok. Tidak ada hal lain yang dapat kulakukan selain meminta kunci mobilnya dan memaksa untuk mengantarnya sampai di rumah. Yuli tidak melawan dan dengan pasrah masuk ke dalam mobil di kursi penumpang depan. Kumulai menyupirkan mobilnya sampai tiba-tiba Yuli berkata, "Drew! Aku nggak bisa pulang lagi mabok kaya beginih.. Ke rumah kamu aja yahhh... aku tidur rumah kamu dulu boleh kan Drew?" Aku berpikir "Terima kasih Tuhanku!" Setibanya di apartemenku, kubimbing dia ke kamar tidurku, Yuli langsung duduk di tempat tidur. Tersenyum aku sambil mencopot sepatunya, kuberpikir "Ya Tuhan betapa indah dan sexynya sepasang kaki putih laksana kapas ini.. dan hmmmh..." Tiba-tiba terdengar bisikan yang berkata, "Jangan Andrew! Dia mabok! Kamu nggak boleh mempergunakan kesempatan! Itu tidak gentleman!" Lalu, "Man! lihat betapa sexynya pundak si Yuli, lehernya.. pahanya... Ohhhh" Dan, "Andrew! Kamu bukan orang seperti itu!" Lalu, "Ingat Andrew! Kapan lagi kamu punya kesempatan seperti ini, jangan bodoh!" "Sial!!" dalam hatiku. Ada seorang wanita cantik dan sexy, idamanku, fantasy seksualku, duduk di tempat tidurku dan aku malah bingung harus gimana. "Sial! Sial! Sial!" Ketika aku sedang sibuk sendiri dengan pikiranku, tiba-tiba, "Andrewhhh... sini Andrew.. Hhhh" rintih Yuli. Tanpa berpikir dua kali aku mendekat seperti anak buah dipanggil majikan dan berkata, "I.. Iya Yul.. Ada yang kamu mau? Air putih mungkin?" "Aku mau kamuhh, Andrew sayanghh.." Yuli menjawab. "Deg!" tak kuasa kutahan degup jantungku yang semakin menderu-deru. Belum sempat kuberpikir lebih lanjut, kulihat jari-jari mungil Yuli telah berada di ikat pinggangku bersamaan dengan tangan putih berbulu halusnya. "Aku ingin kamu Andrew.. " Sekali lagi Yuli membuka bibirnya yang basah dan ranum memerah, "Iya Andrewhh.. malam ini!" Yuli meneruskan desahannya. "Tapi.. Yul.." belum sempat kuhabis berucap, tiba-tiba jari-jari mungil tadi dengan perlahan membuka ikat pinggangku dan dengan bantuan lengan yang indah berbulu halus tadi menarik turun celana blue jeansku dengan mudah tanpa perlawanan dariku. "Ohhh Yuli... Aku tak tahu ini benar dilakukan atau..." jawabku. "Ssst.. Aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya dengan orang putih sepertimu Andrew.. " Yuli memotong, dan mulai menarik turun celana dalamku. "Hmmmh, memang Punyanya bule sepertimu lebih besar dari pada orang kita." Yuli dengan genit memandangi alat kemaluanku yang memang sudah mulai mengeras. "Yul.." Aku yang merasa harus mengatakan sesuatu. Kembali dipotong olehnya sambil berkata, "Kamu harus tau kehebatan cewek Indonesia Drewhh.. mmmhhh," sambil berkata demikian Yuli mendekatkan wajah cantiknya ke jantananku dan sambil mengedip-ngedipkan bulu matanya yang panjang dan lentik . Yuli mulai mengecupnya, "Mmmuuah.. cup.. cup.." Bibirnya yang merah ranum mulai menjelajahi kepala kejantananku yang mulai mengeras dan terus mengeras. "Aku belum pernah dengan barang segede gini.. hihi," godanya genit dan kali ini menjulurkan lidahnya ke batang kemaluanku dari bawah kembali ke atas menyentuh kepala kejantananku lagi. "Mmmmhhh," godanya lagi. "Shhh.. hhhh," aku cuma bisa mendesis, tak terbayang betapa terangsangnya aku oleh kejadian ini! Dan, "Emmmhh," Yuli memasukkan setengah alat kejantananku kedalam mulutnya yang mungil, dan kepalanya mulai bergerak naik turun secara perlahan. "Ughhooooghhh.. Yuli! yeah!" Aku merintih menahan rasa nikmat dari mulut Yuli yang basah dan hangat. Yuli sejenak menarik keluar kejantananku dari mulutnya dan berkata, "Emmm.. Enak nggak sayang?" Lalu kembali melumat dan menghisap kejantananku kali ini dengan ritme yang lebih cepat, "Mmm.. mmm..mmm.." "Arrrggghh!! Yuli! Oh Yuli..." Aku mulai mengerang agak keras karena merasakan lidah halus Yuli bergerak-gerak di dalam mulutnya yang hangat sementara kepala Yuli terus bergerak naik turun bertambah cepat. "Ouugggghh!!!" Kali ini aku tidak dapat menahan hasrat yang meluap-luap di dalam diriku. Kutarik turun gaun sackdress yang dipakainya sehingga terlihat punggung putih mulus berbulu halus sedikit tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam lebat. Yuli tidak memakai bra. Kemudian kuteruskan lagi menarik turun sampai terlihat celana dalam putih tipis berenda yang membalut pantat putih kemerah-merahan yang ranum. Lalu kujulurkan tanganku yang panjang mencoba meraih liang kewanitaan yang tersembunyi di bawah pantat ranum putih miliknya. Dan tersentuh olehku daging halus sedikit berbulu yang telah basah oleh cairan lubrikasi tanda siap untuk bercinta! "Ohhhh Yuli.. hhh kamu sudah basah," ku bertutur terbata-bata. "Hmmm... hmmm..." Kata-kataku dijawab Yuli dengan hisapan yang lebih cepat dan liar terasa cepat melumat seluruh batang kejantananku. "Ghhhhaahh.. Yuli!!!" Aku kembali mengerang dan mulai menggerak-gerakkan jari-jariku di bagian apa saja dari liang kemaluannya yang dapat kuraih! Trus dan trus kujulurkan jariku sampai menyentuh klitorisnya. "Mmmhhh!" Kali ini terasa reaksi dari Yuli karena Ia mengerang keras sambil membalas dengan mempercepat hisapan dan lumatannya ke batang kejantananku. "Urrrghhh!! hmmm," aku tidak mau kalah dan kembali membalas dengan menggetarkan secara cepat sekali jariku di atas klitorisnya! "Uooohhhh... ohhhh," tak tahan Yuli mengeluarkan kejantananku dari dalam mulutnya, merintih dan mulai menggenggam batang kejantananku dan mengocok cepat naik turun. "Uhh.. mmmhh.. ohh.. yeahhhh!!" Berdua kami mengerang, merintih, menikmati sentuhan masing-masing sampai akhirnya Yuli tiba-tiba mendekatkan mukanya kepadaku. Yuli mulai menciumi dan melumat bibirku dengan bibirnya yang merah basah. Kubalas ciumannya sambil kupeluk dan kuelus punggung mulus dan rambutnya yang tergerai di belakang. "Hmmmhh.." Sambil berciuman, Yuli merentangkan kedua kaki mulus jenjangnya dan naik keatas ku. "Sekarang Andrewwhh.. hhh.. hh.. ambillah aku sekaranghhh..." Yuli berkata dengan nafas memburu sambil menatap lekat wajahku dengan paras cantiknya. Dengan penuh nafsu kutarik turun celana dalamnya dan kupegang batang kejantananku dengan tangan kanan, juga selangkangan Yuli dengan tangan kiri. Lalu mulai memasukkan dengan perlahan kepala kejantananku kedalam liang kemaluannya yang merah menyala basah ditumbuhi rambut-rambut hitam halus indah di atasnya. "Hoohhh... ssshhh," Yuli mendongak ke atas sambil memejamkan matanya dan mendesis merasakan kenikmatan penetrasi kepala kejantananku di lubang kemaluannya yang lalu kusambut dengan memasukkan batang kejantananku lebih dalam lagi. "Bles!" "Uhhhhh.. yeah!! Andrewhhh!" "Ohhh Yulihhh..." sambil kuangkat badan Yuli sedikit dan kulepas lagi sehingga naik turun di atas badanku. "Ouurgghh.. ahhhhhh..." Kali ini Yuli mengerang semakin keras dengan raut wajah sedikit meringis sambil berkata lagi, "Terus Andrewhhh.. gerakin lagi lebih cepat shhhh... mmmhhh... yeahh.." Terus terang tidak mudah bagiku untuk bergerak cepat memompa Yuli naik turun di dalam jepitan kewanitaannya yang sempit dan hangat seolah ingin menyedot seluruh kejantananku masuk ke dalam. "Ohh.. mmmm... mmmhhh.. shhh.. yeahh.." Yuli tanpa henti-hentinya merintih, mengerang dan menggeram mesra seiring kunaikkannya kecepatan tubuhnya yang mulai basah berkeringat naik turun di atasku sambil kubenamkan terus lebih dalam kejantananku ke dalam liang kemaluannya yang semakin hangat terasa meremas-remas dan memijat-mijat kejantananku. "Ohh Yuli .. ohhh kamu suka sayanghh?" Aku bertanya di sela-sela rintihan, buruan nafas dan erangan kita berdua. "Hhhhh.. Cepat lagi sayanghh... mmmhhh. cepat lagihh!" Rintih Yuli semakin bersemangat dan mulai menggerak-gerakan pinggul mulus sexynya dengan gerakan erotis kekiri dan kekanan yang membuat liang kemaluannya semakin sempit hangat membara, menyedot dan memuntahkan kuat kejantananku keluar masuk semakin cepat dan keras. "Arrrgghhh!! Yeahhh!" Geramku sambil membalas dengan menggenjotkan pantatku ke atas untuk membantu kejantananku menghunjam dan menusuk lebih dalam lagi. "Uhh.. ahhh. ahh.. ahh.. ohhh... uuhhh.. uhh.. uhh..urrgghhhaaa!" Jerit Yuli menyambut genjotan hebat yang kuberikan kepadanya tanpa henti sehingga terlihat wajah cantik Yuli memejamkan kedua matanya lalu meringis hebat sambil menggigit bibir bawah yang merah basah. "Mmmhhh!!" dan membuka mulutnya lagi "Uuuhhh!!" Terasa seluruh tubuhnya menggelinjang, bergetar hebat menuju puncak kenikmatan dan orgasme berulangkali yang kuberikan kepadanya tanpa ampun. Terasa sakit genggaman jari-jemarinya yang mungil sedikit mencakar dan menggengam keras di kedua pundakku diikuti dengan seluruh tubuhnya menegang dengan seketika. Akhirnya, "Serr!" Terasa cairan hangat mengguyur batang kejantananku yang sedang memompa keras di dalam liang kemaluannya. Yah! Puncak orgasme. Yuli telah mencapainya. "Uuuooohhh.. hoh.. hhh.. hhh.. hoh... hohh.. hhh," terengah-engah nafas Yuli memburu. Seluruh tubuhnya yang putih indah telah habis basah kuyup oleh keringatnya, tidak ketinggalan rambutnya yang juga tidak kalah basah. Terasa tegang tubuhnya berkurang. Genggamannya melemas, dan tubuhnya jatuh lemah lunglai di atas tubuhku yang juga telah basah kuyup diguyur keringat. "Hhh..hhh..hh.. mmmhhh kamu emang hebat Andrew.. aku belum pernah merasa sepuas ini oleh lelaki sebelumnya..." Tutur Yuli. |
| Posted: 30 Jul 2008 09:21 AM CDT Indah terus mengeluh dan keenakan membuatku semakin terangsang untuk menikmati tubuhnya, kupindahkan bibir turun kebawah, ku jilati lehernya yang putih mulus, ku kecup berulang-ulang hingga dia kegelian, turun terus kebawah kudapati putingnya, lalu kuhisap lembut, keras dan lembut lagi. "aahh.. ouuhh teruss say.. enak sayy". Tampak putingnya sudah semakin memerah, kujilati dan ku hisap bergantian puting kanan lalu kekiri, seperti bayi yang kehausan, dia semakin menggelinjang liar tubuhnya, dan berteriak-teriak, tanganku juga turut aktif, ku raba perutnya halus ketekan sedikit demi sedikit antara pusar dan memeknya, keras teraba dan tumbuh bulu-bulu halus disekitar itu. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us saya adalah seorang pegawai di salah satu perusahaan swasta di Jakarta, usia 32 tahun, tinggi saya 170 cm berat 60 kg, postur yang ideal dan seimbang katanya, nggak gendut, nggak kurus, cukuplah, agak putih bersih dan sehat, serta perkenalan saya dengan Indah yang begitu cantik, memukau dan seksi. Terima kasih buat kepada teman-teman atas emailnya, serta dengan maksud sekaligus menjawab dan merespose email teman-teman yang begitu banyak dan mengharapkan diteruskannya cerita saya ini, terutama bagaimana permainan sex kami, sehingga Indah dapat merasakan multi orgasme. Maka untuk menyambung cerita lanjutannya, terpaksa saya mengutip ulang sedikit cerita saya sebelumnya seperti dalam judul diatas, dengan penambahan cerita yang lebih terfokus. ***** Setelah Indah duduk dan istirahat kamipun membuka percakapan, Indah begitu ramah dan pintar mengolah kata-kata sehingga suasana dan obrolan menjadi sempurna, dan akrap, inilah yang menjadi bagian terpenting bagi kami dalam mengolah permainan sex yang sempurna untuk menciptakan multi orgasme, karena percakapan dan pengenalan satu sama lain dapat memberikan dorongan terciptanya sex yang baik. Kekecewaan dia dengan suaminya yang kurang bisa memberikan kehangatan sangat dipengaruhi persoalan kurangnya komunikasi, tidak adanya keterbukaan, dan kelelahan suami dapat saja menyebabkan tidak harmonisnya hubungan sex yang seimbang, karena di lain pihak istri menjadi haus akan sentuhan dan kehangatan laki-laki, siapapun dia orangnya, yang penting bisa memberikan kehangatan. Percakapan terus berlanjut, yang akhirnya aku arahkan pada situasi untuk menciptakan suasana yang tenang, dan romantis, ku nyalakan radio dengan lagu-lagu yang lembut, yang bisa memberikan suasana damai, dan menyejukkan hati, dengan maksud untuk menghilangkan beban pikiran yang mungkin berada pada kami berdua. Akhirnya rangsangan-rangsanganpun aku mulai dan Indah terlihat mendongak menahan birahi yang sudah semakin tinggi, terlihat bibirnya merekah basah, aku nggak tahan dan spontan kucium dan kulumat bibirnya, ternyata dibalas dengan buas oleh Indah, bibir kami menyatu dan lidah kami saling mengulum, tangan kami bergerilnya mencari titik-titik rangsang, ciumanpun berlangsung cukup lama, kemudian tanganku berusaha untuk membuka pakaian yang dikenakannya, bibirku beralih ke telinga Indah, dia pun berteriak. "aahh.. say geli.., geli say" Tapi itu tidak kuhiraukan terus aku hisap-hisap lembut telinganya, kemudian bergeser ke belakang telinganya yang ternyata merupakan salah satu titik kelemahan Indah, dia begitu terangsang. "Heemm say.. oaauu, geli, enak truss akkhh.., oouu.. geli say aaooww" Dia trus merintih geli, enak katanya, bajunya terbuka langsung kulempar ketepi. "Wooww kamu benar-benar cantik, Say" Putih mulus dengan payudara yang menantang yang tertutup BH hitam, kuraba kaitan BH-nya, kulepas dan wow putih mulus dengan dua bukit payudaranya yang menantang, ku sentuh putingnya yang sudah mengeras dan memerah. "aahh.. aakhh" Dia begitu semakin terangsang akibat telinga dan putingnya ku mainkan badannya liar mengelinjang keenakan. "oouuhh say, teruss, enaak say". Indah terus mengeluh dan keenakan membuatku semakin terangsang untuk menikmati tubuhnya, kupindahkan bibir turun kebawah, ku jilati lehernya yang putih mulus, ku kecup berulang-ulang hingga dia kegelian, turun terus kebawah kudapati putingnya, lalu kuhisap lembut, keras dan lembut lagi. "aahh.. ouuhh teruss say.. enak sayy". Tampak putingnya sudah semakin memerah, kujilati dan ku hisap bergantian puting kanan lalu kekiri, seperti bayi yang kehausan, dia semakin menggelinjang liar tubuhnya, dan berteriak-teriak, tanganku juga turut aktif, ku raba perutnya halus ketekan sedikit demi sedikit antara pusar dan memeknya, keras teraba dan tumbuh bulu-bulu halus disekitar itu. Kubuka celananya dan kuploroti, tangan Indah turut membatu hingga aku tidak mengalami kesulitan untuk menelanjanginya. Lagi-lagi pemandangan yang sempurna, kulihat gundukan kecil menantang disela-selah selangkangannya, ditutupi CD warna hitam, ku raba, ku jamah dan ku usap selangkangannya, pahanya halus mulus, dia semakin liar dan segera kubuka CD hitamnya kuraba dan ternyata sudah basah, dia begitu terangsang dan sangat menikmatinya, lama kumainkan itilnya, dengan jariku dia berteriak keras, "Akkhh.. sayy enakk sayy" suaranya bergetar diiringi liarnya liuk-liuk tubuhnya, jariku liar keluar masuk kedalam memeknya kutekan lembut. "Aoo.. enak.. ahh sayy, teruuss, aakkh", dia nggak tahan. Lama kumainkan jariku didalam dan menekan halus itilnya, dia trus mengeliat liar tubuhnya, kulepas bibirku dalam putingnya langsung ku papah dia menuju kasur dan merebahkan indah duduk di tepi kasur, sambil berjongkok ku hisap itilnya, lidahku bermain di rongga memeknya dia melengguh panjang "Akkhh.. say.. enak, say aku mau pipis nih akhh" "Keluarkan", jawabku karena kutau itu adalah orgasme yang akan terjadi. "Akkhh.. keluar sayy.. akk, enakk, ngilu.. akh.. ngelayang saayy aku ngelayang.. akkhh" Tidak habis-habisnya dia berteriak, badannya bergetar, kubiarkan dia mengekpresikanya, lidahku trus bermain halus menghisap lembut itilnya, akhirnya dia lemas dan berbaring merebahkan badannya di kasur, tubuhnya masih mengejang, namun lidahku masih truss bergerilya didalam memeknya, menghisap lembut itilnya, membantu dia mengekpresikan gairahnya, agar lepas dan melayang. Tiba-tiba Indah bangkit langsung memeluk dan menciumku. "Thanks honey", kamu pintar sekali. "Yup say, gimana enak?" "Woow fantastik sekali, melayang, terbang nih rasanya, aku kalah 1:0 nih sama kamu". Sambil bicara Indah langsung meraih selangkanganku dan menangkap senjata andalanku, dia memohon. "Beri saya ini Hon?". Tanpa menunggu jawaban, dia langsung membuka celana panjang dan CD saya, langsung senjata andalanku keluar dengan berdiri tegak, menantang. Indah langsung terbelalak matanya melihat benda dihadapannya, dia pegang erat seolah tidak rela burung itu terbang meninggalkannya. "Fantastik honey, bener kamu bilang, panjang betul, hampir menyentuh puser kamu nih" "He he he", aku pun tertawa. "18 cm Hon.., centi demi centi hingga ujung memek kamu akan tersentuh senjataku ini". Tanpa menunggu waktu lagi dia langsung mengelus meremas halus, dan mengocoknya senjataku. "Ackkh.. enak honey.., trus say.. akkh", aku melenguh keenakan. Sambil tanganku bermain di payudaranya, kuremas halus dan kusentuh putingnya lembut. Indah pun terbangkit lagi gairahnya, kemudian diarahkan senjataku ke mulutnya, hanya bisa masuk setengah dari senjataku dimulutnya, dihisap lembut, maju mundur berirama, senjataku masuk dalam mulutnya. "Enak honey akkhh" Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara, ternyata Indah terlalu pintar dalam memainkan senjata ku. "Akkhh enak.. geli say.. trus say", aku memohon. Lama dia memainkan senjataku, akhirnya dia terangsang berat, akibat suara-suara yang keluar dari mulutku, dan sentuhan-sentuhan tanganku pada titik-titik rangsangannya, di payudara, telinga, lehernya, dan remasan-remasan rambut yang ku sentuh halus. Kemudian dia bangkit dan melepaskan senjataku dalam mulutnya, diapun merengek dan meminta untuk segera memasukkan senjataku ke dalam memeknya yang sudah gatal ingin segera diteMbak, akupun mengiyakan dan langsung naik menuju tempat tidur dengan posisi duduk dengan kaki kulipat, Indah mengikuti langkahku dan berdiri di atas tempat tidur kemudian melebarkan kakinya didepanku, memeknya persis di hadapan mukaku, dia ingin membungkuk turun, langsung ku cegah, tanganku meraih pahanya, kesentuh halus memeknya dengan bulu-bulu halus menantang. "Akkhh.. Hon, gatal nih cepet donk masukkan" Aku tak menghiraukan permohonannya langsung kuarahkan mulutku ke memeknya, kuhisap lagi lembut itilnya dia bergetar dan "Ahhkk gatall.. akkh trus.. Hon, enaakk" Bicaranya bergetar, pantatnya bergoyang bagai Inul menari, tangannya menjaMbak rambutku, bertubi-tubi. "Hemm.. hemm", terdengar lagi suara dalam mulut indah, dia kegelian dan merintih, lama lidahku bermain di memeknya, hisap, gigit, jilat lidahku bermain. Pada satu ketika Indah berteriak, "Please honey.. nowww..!, masukin sekarang sayy" dia terus berteriak meminta untuk segera dicoblos, namun aku trus saja mengigit lembut, menjilat, dan menghisap itilnya. "Kamu jahat Ed..!" teriaknya lagi, sambil diikuti dengan melelehnya air dari dalam memeknya, ternyata Indah mengalami lagi orgasme yang kedua. Pada saat orgasme, kaki Indah lemas, lunglai, kemudian sambil menjaMbak rambutku badannya turun, dengan selangkangan yang terbuka dan memeknya yang menganga langsung ku sambut memeknya dengan senjataku. "aaooww" teriak halus indah, karena senjataku langsung masuk ke dalam memeknya. Dalam situasi orgasme, kemudian ku bantu dia dengan memasukkan senjataku perlahan-lahan, centi demi centi senjataku masuk kedalam memeknya yang sudah basah kuyup, dan kurasakan hangat tersentuh dalam senjataku yang panjang ini, Indah pun berteriak-teriak keenakan. "Hemm.. ackk.. enak Hon.., akkh". Dia terus berteriak seperti itu, nikmat rasanya. 5 centi, 10 centi dan akhirnya masuk seluruhnya senjataku ditelan memeknya. Dan indaHPun berteriak, "Ahh Honey masuk semua nih, akk enak.. enak, enak", seperti anak kecil yang terlalu gembira mendapatkan permen kesukaanya. Sambil bergetar, badannya turun naik berirama menikmati senjataku. "Achh.. achh" mulut Indah nggak bisa diam dia terus berteriak keenakan. "Achh.. enak, enak, aku baru ngerasain ini Hon, enaakk.., enak bener kontol kamu, enak.. aduh tembus nih, enakk" Aku pun mengikuti ekspresinya, kubantu dia dengan bisikan suara-suara yang mengairahkan. "Hemm.. trus honey.. rasakan kenikmatan ini, lakukan kemauanmu, truss.., terserah kamu". Akhirnya pantatnya naik turun lebih cepat dengan bantuan tanganku menopang dipahanya, tak lama kemudian, dia berteriak lebih keras, sambil badannya bergetar hebat, tanda dia telah mencapai klimaks lagi, tubuhku dipeluk erat, genjotannya mulai bergerak perlahan. "Ackkhh.. Ed keluar lagi.., akkhh.. enak". Ternyata sentuhan yang diterima memeknya dari senjataku membuat dia begitu menikmatinya centi demi centi sangat dia rasakan. Sejenak terpikir olehku aku begitu heran kenapa aku belum juga keluar ejakulasi, ternyata inilah yang membuat aku bisa bertahan, rasa ingin memuaskan pasangan membuatku begitu perkasa di hadapannya. Akhirnya kami istirahat sebentar untuk memulihkan stamina Indah, aku khawatir dia terlalu lelah setelah menikmati 3 kali orgasme. |
| Posted: 13 Jul 2008 03:28 AM CDT Kira-kira 15 menit saya menikmati kemaluannya mas Agus, tiba-tiba mas Agus menyuruh saya untuk berdiri. Dia memelorotkan celana dan CD-nya sendiri sampai bawah dan menyuruh saya berbalik. Sekarang saya membelakangi mas Agus. Mas Agus jongkok dan menjilati kemaluan saya. Saya langsung merasakan kenikmatan yang hebat sekali. Hanya sebentar dia melakukan itu. Selanjutnya dia berdiri lagi dan memasukkan batang kejantanannya ke liang senggama saya. Kami berdua melakukan senggama sambil berdiri. Saya melakukannya sambil pegangan di gerobak nasi gorengnya. Saya sudah benar-benar merasa keenakan. "Uuuh... akkhh... akkh... akhhh..." saya menjerit-jerit kegilaan, untung tidak ada yang mendengar. "Mas, kalo udah mau keluar, bilang ya..." pinta saya. "Udah mau keluar nih..." jawabnya. Langsung saja saya melepaskan batang kejantanannya dari liang vagina saya dan jongkok di hadapan kemaluannya yang mengacung tegak. Tetapi setelah saya tunggu beberapa detik, ternyata air maninya tidak keluar-keluar. Terpaksa saya kocok dan hisap lagi batang kejantanannya, saya jilati, dan saya gigit-gigit kecil. Setelah itu tibalah saatnya saya menerima upah yang dari tadi saya sudah tunggu-tunggu, yaitu air maninya yang memang lezat. "Crot.. crot.. crot..." semuanya saya minum seperti orang yang kehausan. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Hallo, nama saya Lilian. Saya mau bercerita tentang pengalaman saya beberapa waktu yang lalu. Saya adalah wanita yang memiliki hyperseksual yang dalam hal ini kecanduan akan kebiasaan sepongan (melakukan oral seks terhadap kemaluan pria). Sudah lama sekali saya waktu pertama kali menghisap kemaluan pria. Waktu itu umur saya 16 tahun. Dan setelah kejadian itu, saya sudah mendapatkan 2 kejantanan pria lagi untuk saya sepong. Saya benar-benar tidak puas dengan tidak terpenuhinya keinginan saya untuk menghisap kemaluan pria. Masalahnya saya sering dipingit orang tua, apalagi ditambah dengan lingkungan sekolah saya yang merupakan sekolahan khusus cewek. Jadi saya sering sakaw (menagih) kemaluan pria. Suatu malam, saya sudah benar-benar tidak tahan lagi. Buku dan VCD porno pun tidak bisa memuaskan saya. Bahkan waktu saya melakukan masturbasi pun saya tetap merasa kurang puas. Saya yang sehabis masturbasi, membuka jendela kamar saya yang berada di lantai 2 rumah saya. Waktu itu jam 23:30. Saya melihat jalanan di depan rumah sudah sepi sekali. Tiba-tiba ide gila saya mulai lagi. Saya dengan nekat, diam-diam keluar rumah sambil bertelanjang tanpa sepengetahuan siapa pun yang ada di rumah karena semua sudah pada tidur. Saya sampai nekat melompat pagar dengan harapan ada cowok atau pria yang melihat dan memperkosa saya. Apapun asal saya bisa menghisap kemaluannya. Di komplek saya memang sepi sekali pada jam-jam segitu. Saya sedikit menyesal juga, kenapa saya tidak keluar agak lebih sore. Agak dingin juga malam itu atau mungkin juga karena saya tidak memakai selembar pakaian pun. Di ujung jalan, saya melihat masih ada mas Agus, tukang nasi goreng langganan saya yang masih berjualan. Langsung saya sapa dia. "Mas Agus, nasi gorengnya dong..." pinta saya. "Lho, mbak Lili..? Ngapain malam-malam begini masih di luar? Ngga pake apa-apa lagi..." sahutnya sambil terheran-heran melihat saya yang tanpa sehelai benang pun di tubuh. "Abis panas sih, Mas. Kok tumben masih jualan..?" Mas Agus tidak menjawab. Tetapi saya tahu matanya tidak bisa lepas dari payudaraku yang putih polos ini. "Ngeliatin apa mas..?" kutanya. "Ah ngga..." katanya gugup. Lalu mas Agus menyiapkan penggorengannya untuk memasak nasi goreng pesananku. Saya lihat ke arah celananya, saya tahu batang kemaluannya sudah berubah jadi bertambah besar dan tegang. Karena saya sudah tidak tahan lagi untuk segera menghisap kemaluannya, saya nekat juga. Saya jongkok sambil membuka ritsletingnya dan mengeluarkan batang kejantanannya dari dalam CD-nya. Tidak pakai basa-basi, saya masukkan alat vitalnya mas Agus ke dalam mulut saya. Saya jilat-jilat sebentar lalu saya hisap dengan bibir. Saya yakin mas Agus merasakan senang yang tiada tara, seperti mendapatkan rejeki nomplok. Tidak hanya itu, saya juga menjilati dua telor mas Agus. Memang agak bau sih, tetapi saya benar-benar menikmati kejantanan mas Agus yang sekarang dia mulai bersuara, "Mmmh... mmmh... uhhh..." Kira-kira 15 menit saya menikmati kemaluannya mas Agus, tiba-tiba mas Agus menyuruh saya untuk berdiri. Dia memelorotkan celana dan CD-nya sendiri sampai bawah dan menyuruh saya berbalik. Sekarang saya membelakangi mas Agus. Mas Agus jongkok dan menjilati kemaluan saya. Saya langsung merasakan kenikmatan yang hebat sekali. Hanya sebentar dia melakukan itu. Selanjutnya dia berdiri lagi dan memasukkan batang kejantanannya ke liang senggama saya. Kami berdua melakukan senggama sambil berdiri. Saya melakukannya sambil pegangan di gerobak nasi gorengnya. Saya sudah benar-benar merasa keenakan. "Uuuh... akkhh... akkh... akhhh..." saya menjerit-jerit kegilaan, untung tidak ada yang mendengar. "Mas, kalo udah mau keluar, bilang ya..." pinta saya. "Udah mau keluar nih..." jawabnya. Langsung saja saya melepaskan batang kejantanannya dari liang vagina saya dan jongkok di hadapan kemaluannya yang mengacung tegak. Tetapi setelah saya tunggu beberapa detik, ternyata air maninya tidak keluar-keluar. Terpaksa saya kocok dan hisap lagi batang kejantanannya, saya jilati, dan saya gigit-gigit kecil. Setelah itu tibalah saatnya saya menerima upah yang dari tadi saya sudah tunggu-tunggu, yaitu air maninya yang memang lezat. "Crot.. crot.. crot..." semuanya saya minum seperti orang yang kehausan. Langsung saja saya telan dan saya bersihkan kejantanannya dari air mani yang tersisa. Bertepatan dengan itu, 2 laki-laki lewat di depan kami. Ternyata mereka adalah bapak-bapak yang tinggal di komplek ini yang sedang meronda. "Lho, mas Agus lagi ngapain..?" kata seorang bapak di situ. "Ah ngga pak... mmm... ini mbak Lily..." jawab mas Agus malu-malu. "Ini Om, saya habis 'gituan' sama mas Agus..." saya jawab begitu nekat dengan harapan 2 bapak ini juga mau memperkosa saya seperti yang telah saya lakukan dengan si penjuali nasi goreng. Mereka keheranan setengah mati mendengar pengakuan saya itu. "Adik ini tinggal dimana?" tanya salah satu dari mereka. "Di sana, di blok F." jawab saya. "Ayo pulang sudah malam..!" Dan saya pun diseret pulang. Saya takut setengah mati karena jika sampai saya dibawa pulang, pasti ketahuan sama orang tua dan saya bakal digantung hidup-hidup. Di tengah jalan, saya beranikan diri berkata pada mereka, "Om, mau nyusu ngga..?" "Jangan main-main kamu..." "Ayolah Om.... saya tau kok, Om mau juga kan ngewe sama saya..?" Mendengar itu, si Om langsung terangsang berat. Saya langsung mengambil kesempatan meraba-raba batang kejantanannya yang tegang. "Ayo dong Om... saya pengen banget lho..." saya bilang lagi untuk menegasakan maksud saya. Bapak yang satunya lagi langsung setuju dan berkata, "Ya udah, kita bawa ke pos ronda aja pak Karim..." dan pak Karim pun setuju. Setibanya di sana, ternyata masih ada 3 orang lagi yang menunggu di sana, termasuk bang Parli, hansip di komplek saya. Saya kegirangan sekali, bayangkan saya akan mendapatkan 6 batang kejantanan dalam semalam. Gila... beruntung sekali saya malam itu. Setelah kami berenam ngobrol-ngobrol sebentar tentang kejadian antara saya dan mas Agus, saya langsung memberanikan diri menawarkan kesempatan emas ini ke mereka, "Saya sebenernya pengen banget ngerasain barangnya bapak-bapak ini..." Mereka langsung terlihat bernafsu dan terangsang mendengar perkataan saya, dan saya jeas mengetahuinya. Saya suruh mereka berlima melepas celana dan CD mereka sendiri dan duduk di bangku pos hansip itu. Mereka berbaris seperti menunggu dokter saja. Batang kemaluan mereka besar-besar juga. Saya langsung memulai dengan batang kejantanan yang paling kanan, yaitu senjata keperkasaannya bang Parli. Saya hisap, saya gigit-gigit kecil, saya kocok di dalam mulut saya, dan saya jilati keseluruhan batangnya dan termasuk juga telurnya. Begitu juga pada batang keperkasaan yang kedua, ketiga, keempat, dan yang terakhir miliknya pak Karim. Setelah selesai, saya masih belum puas kalau belum meminum air mani mereka. Lalu saya duduki batang kejantananmya bang Parli sampai masuk ke liang senggama saya. Saya kocok-kocok di dalam vagina saya. Sementara itu, pak Karim dan satu bapak lainnya menjilati dan menghisap puting susu saya, sedangkan yang dua bapak lainnya menunggu giliran. 10 menit setelah itu, saya sudah setengah tidak sadar, siapa yang menggenjot lubang senggama saya, siapa saja yang menghisap buah dada saya, batang kejantanan siapa saja yang sedang saya sepong, seberapa keras jeritan saya dan berapa kali saya sudah keluar karena orgasme. Ada pula saatnya ketika satu senjata kejantanan masuk ke lubang vagina saya, sedangkan satu senjata lagi masuk ke lubang anus saya sambil saya menghisap 3 batang kemaluan secara bergantian. Pokoknya saya sudah tidak sadar lagi. Karena merasakan kenikmatan yang benar-benar tiada tara. Untungnya mereka tidak mengeluarkan air maninya di dalam lubang kewanitaan saya, kalau tidak bisa hamil nanti saya... berabe dong..! Lagipula saya berniat meminum semua air mani mereka. Akhirnya saat yang saya tunggu-tunggu, yaitu saatnya saya berjongkok di depan mereka dan mereka mengelilingi wajah saya sambil mengocok-ngocokkan barang mereka masing-masing. Sesekali saya masih juga menghisap dan menyedot kelima batang kejantanan itu dengan lembut. Akhirnya, "Crot... crot... crot... crot.... crot..." saya malam itu seperti mandi air mani. Saya merasa puas sekali. Waktu pulang, saya diantarkan bang Parli, si hansip. Ketika sudah sampai di depan rumah saya, sekali lagi bang parli membuka ritsletingnya dan menyodokkan batang kejantanannya ke dalam lubang senggama saya. Saya melakukannya sambil nungging berpegangan ke pagar depan rumah saya. Selama 10 menit saya dan bang parli melakukan senggama di depan pagar rumah saya. Air maninya sekarang terpaksa dikeluarkan di punggung saya. Saya tidak menyesal karena air maninya kali ini tidak terlalu banyak. Saya melompat pagar lagi, dan masuk ke kamar diam-diam. Sampai di kamar sudah jam 3 lebih. Badan saya seluruhnya malam itu bau sperma. Saya langsung tidur tanpa mandi dahulu karena besoknya saya harus ke sekolah. Saya yakin mereka semua akan tutup mulut sebab takut dengan istri mereka masing-masing. |
| Posted: 13 Jul 2008 03:00 AM CDT Aku berdiri mendekati Neneng dan kupeluk dia serta kubuka pengait behanya, payudaranya yang montok dan kenyal itu tergantung bebas menampakkan garis merah bekas terjepit beha yang kekecilan itu, tetapi payudaranya sungguh kenyal dan gempal sama sekali tidak turun dengan putingnya yang mendongak ke atas. Ketika kurogoh celana dalamnya kurasakan bulu vaginanya cukup rimbun sementara ketika jariku menyentuh clitorisnya, Neneng seperti terlonjak dan merapatkan badannya ke dadaku, kurasakan vagina Neneng kering sekali sama sekali tak berair. Kukecup puting susu Neneng sambil kedua tanganku menurunkan celana dalamnya itu. Ketika kutarik Neneng ke tempat tidur, Neneng meronta katanya, "Pak saya takut hamil!" Kujawab enteng, jangan kuatir, kalau hamil tanggung jawab Bapak!". Mendengar hal ini barulah dia mau kubaringkan di atas tempat tidurku, sambil menutupi matanya dengan tangan. Kupuaskan mataku memandang kemolekan gadis desa ini, aku langsung menyerbu vaginanya yang ditutupi bulu yang cukup rimbun itu, kuciumi dan kugigit pelahan bukit cembung yang penuh bulu itu, Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Pagi itu, setelah bermain golf di Ciracas, badanku terasa gerah dan lelah sekali karena, aku menyelesaikan delapan belas hole, biasanya aku hanya sanggup bermain sembilan hole, tetapi karena Ryan memaksaku untuk meneruskan permainan, maka aku jadi kelelahan seperti sekarang ini. Kupanggil Marni pembantuku yang sudah biasa memijatku, aku benar-benar merasa lelah karena semalamnya aku sempat dua kali "bertempur" dengan kenalanku di Mandarin, pasti nikmat rasanya dipijat dan selanjutnya berendam di air panas, langsung aku membuka pakaianku hingga hanya tinggal celana dalam dan langsung berbaring di atas tempat tidurku. Namun agak lama juga Marni tak muncul di kamarku memenuhi panggilanku melalui interkom tadi, biasanya Marni sangat senang bila aku suruh memijat karena disamping persenan dariku besar, dia juga sering kupijat balik yang membuat dia juga dapat merasakan kenikmatan yang satu itu. Ketika kudengar langkah memasuki kamarku, aku langsung berkata, "Kok lama sih Mar, apa masih sibuk ya, ayo pijat yang nikmat!". Tiba-tiba kudengar suara perempuan lain, "Maaf Pak, Mbak Marni masih belum kembali, apa bisa saya saja yang memijat?". Aku meloncat duduk dan menoleh ke arahnya, ternyata di depanku berdiri pembantu lain yang belum pernah kukenal. Kuperhatikan pembantu baru ini dengan seksama, wajahnya manis khas gadis desa, dengan bibir tipis yang merangsang sekali. Ia tersenyum gugup ketika melihat aku memperhatikannya dari atas ke bawah itu. Aku tak peduli, mataku jalang menatap belahan dasternya yang agak rendah sehingga menampakkan sebagian payudaranya yang montok itu. Dengan pelan kutanyai siapa namanya dan kapan mulai bekerja. Ternyata dia adalah famili Marni dari Kerawang namanya Neneng dan dia ke Jakarta karena ingin bekerja seperti Marni. Aku hanya mengangguk-angguk saja, ketika kutanya apakah dia bisa memijat seperti Marni, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Kuperintahkan dia untuk menutup pintu kamar, sebenarnya tidak perlu pintu kamar itu ditutup karena pasti tak ada seorangpun di rumah, isteriku juga sedang pergi entah ke mana dan pasti malam hari baru pulang, tujuanku hanyalah menguji Neneng, apakah dia takut dengan aku atau benar-benar berani. Kuambil cream untuk menggosok tubuhku dan kuberikan pada Neneng sambil berkata "Coba gosok dulu badanku dengan minyak ini, baru nanti dipijat ya!". Aku membuka celana dalamku dan langsung telungkup di tempat tidur, sengaja pada waktu berjalan aku menghadap Neneng sehingga Neneng dapat juga melihat penisku, ternyata dia diam saja. Ketika aku sudah berbaring, dia langsung membubuhkan lotion itu di punggungku dan menggosokannya ke punggungku. Sambil memejamkan mata menikmati elusan tangan Neneng yang halus, aku mengingatkan dia agar menggosoknya rata ke seluruh badanku. Sambil berbaring aku minta Neneng menceriterakan tentang dirinya. Ternyata Neneng seorang janda yang belum mempunyai anak, suaminya lari dengan perempuan lain yang kaya raya dan meninggalkan dia. Karena itu dia lebih suka ke Jakarta karena malu. Aku berkata kepadanya, "Jangan kuatir, kalau begitu kapan-kapan kamu mesti kembali ke desamu dengan banyak uang supaya bekas suamimu tahu kalau kamu sekarang sudah kaya dan bisa membeli laki-laki untuk jadi suamimu!". Neneng tertawa mendengar perkataanku itu. Ketika itu Neneng sudah mulai menggosok bagian pantatku dengan lotion, tangannya dengan lembut meratakan lotion tersebut ke seluruh pantatku bahkan juga di sela-sela pantatku diberinya lotion itu sehingga kadang-kadang tangannya menyenggol ujung pelirku. Aku jadi tegang dengan gosokan Neneng ini, tetapi aku diam saja namun akibatnya posisiku jadi tidak enak, karena posisiku yang tengkurap membuat penisku yang berdiri tegak itu jadi tertekan dan sakit sekali. Aku jadi gelisah karena penisku rasanya mengganjal. Neneng yang melihat aku gelisah itu bertanya apakah gosokannya kurang betul. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala. Ketika aku bertanya lagi apakah isteri baru suaminya itu cantik, Neneng hanya menjawab dengan tertawa katanya, "Cantik atau tidak yang penting uangnya banyak, kan suami saya bisa numpang nikmat!", Ketika Neneng sudah menggosok badanku sampai ke kaki, dia bertanya, "Apa sekarang mulai dipijat pak?". Aku langsung berbalik telentang sambil berkata, "Sekarang yang bagian depan juga diberi minyak ya!". Aku sengaja memejamkan mata sehingga aku tak tahu bagaimana sikap Neneng melihat bagian depan tubuhku yang telanjang itu, apalagi penisku sudah berdiri penuh mendongak ke atas dengan ujungnya yang seperti jamur raksasa itu. Neneng tidak banyak berbicara, tetapi ia mulai menggosok bagian dadaku dengan lotion yang harum itu, ketika aku membuka mata, kulihat buah dadanya yang montok tepat berada di depan mataku, bahkan karena potongan dusternya rendah, aku bisa melihat celah buah dadanya yang terjepit diantara beha yang dipakainya. Ketika gosokan Neneng sampai di selangkanganku, Neneng membubuhi sekitar bulu penisku dengan lotion tersebut, begitu juga dengan buah pelirku yang dengan lembut diberinya lotion tersebut. Saat itu Neneng berkata "maaf pak, apakah burungnya juga digosok?". Aku tak menyahut tetapi aku hanya mengangguk saja. Tanpa ragu Neneng membubuhi ujung penisku dengan lotion tersebut, terasa dingin, kemudian Neneng mulai meratakannya ke seluruh batang penisku dengan lembut sekali, bahkan dia menarik kulit penisku sehingga lekukan di antara kepala dan batang kenikmatanku juga diberinya minyak. Ketika itulah aku membuka mataku dan memandang Neneng, ketika dilihatnya aku memandangnya, Neneng tersenyum dan tertunduk sementara tangannya terus mengurut penisku itu. Aku sudah tak kuat lagi menahan keinginanku, kutahan tangannya dan kusuruh Neneng untuk membuka pakaiannya. Neneng yang sudah janda rupanya langsung paham dengan keinginanku, wajahnya memerah, tetapi ia langsung bangkit dan membuka dusternya. Aku duduk di tepi tempat tidur memperhatikan badan Neneng yang hanya dilapisi beha mini dan celana dalam mini yang kurasa pasti pemberian isteriku. Buah dadanya membusung keluar karena beha yang diberikan isteriku nampaknya kekecilan sehingga tak dapat menampung payudaranya yang montok itu. Aku berdiri mendekati Neneng dan kupeluk dia serta kubuka pengait behanya, payudaranya yang montok dan kenyal itu tergantung bebas menampakkan garis merah bekas terjepit beha yang kekecilan itu, tetapi payudaranya sungguh kenyal dan gempal sama sekali tidak turun dengan putingnya yang mendongak ke atas. Ketika kurogoh celana dalamnya kurasakan bulu vaginanya cukup rimbun sementara ketika jariku menyentuh clitorisnya, Neneng seperti terlonjak dan merapatkan badannya ke dadaku, kurasakan vagina Neneng kering sekali sama sekali tak berair. Kukecup puting susu Neneng sambil kedua tanganku menurunkan celana dalamnya itu. Ketika kutarik Neneng ke tempat tidur, Neneng meronta katanya, "Pak saya takut hamil!" Kujawab enteng, jangan kuatir, kalau hamil tanggung jawab Bapak!". Mendengar hal ini barulah dia mau kubaringkan di atas tempat tidurku, sambil menutupi matanya dengan tangan. Kupuaskan mataku memandang kemolekan gadis desa ini, aku langsung menyerbu vaginanya yang ditutupi bulu yang cukup rimbun itu, kuciumi dan kugigit pelahan bukit cembung yang penuh bulu itu, Neneng merintih pelan, apalagi ketika tanganku mulai mengembara menyentuh puting susunya. Neneng hanya menggigit bibir sementara tangannya tetap menutupi wajahnya, mungkin dia masih malu. Ketika aku berhasil menemukan clitorisnya, aku langsung menjilatinya begitu juga dengan bibir vaginanya kujadikan sasaran jilatan. Mungkin karena merasa geli yang tak tertahankan, tangan Neneng mendorong pundakku agar aku tak meneruskan gerakanku itu, begitu juga dengan pahanya yang terus akan dirapatkan, tetapi semua ikhtiar Neneng tak berhasil karena tanganku menahan agar kedua pahanya itu tak merapat. Akibatnya Neneng hanya bisa menggerak gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan menahan geli. Tetapi lama-kelamaan justru aku yang jadi tak tahan dengan semua ini, kuhentikan jilatanku dan segera kutindih Neneng sambil mengarahkan penisku ke liang vaginanya. Melihat aku kesulitan memasukkan ujung penisku, Neneng dengan malu-malu menuntun penisku ke arah liangnya dan menepatkannya di ujung bibir vaginanya. Ketika itu dia berbisik, "Sudah pas pak". Aku langsung mendorong pantatku agar supaya penisku bisa masuk yang disambut juga oleh Neneng dengan sedikit mengangkat pahanya sehingga.., sleep.., bles.., penisku terbenam seluruhnya di liang vagina Neneng yang seret itu, belum sempat aku menggerakkan penisku, Neneng sudah mulai memutar mutar pantatnya sehingga ujung penisku rasanya seperti dilumat oleh liang vagina Neneng itu. Aku mendengus keenakan, bibirku mencari puting susu Neneng dan mulai mengulumnya. Sambil mendesah desah Neneng berkata, "Ayo pak, digoyang, biar sama sama nikmat nya!". Aku terkejut melihat keberanian Neneng menyuruh aku bekerja sama dalam permainan ini. Tetapi justru ini membuat aku makin terangsang, meskipun profesinya hanya pembantu, tetapi cara main Neneng benar benar memuaskan. Vaginanya tak henti henti meremas penisku membuat aku jadi ngilu, aku sudah paham bahwa orang desa secara naluri sudah mempunyai kemampuan seks yang hebat, jadi untuk aku kemampuan Neneng benar benar sulit dicari bandingannya. Ketika kurasakan air maniku hampir memancar, aku berbisik pada Neneng agar berhenti menggoyang pantatnya supaya aku dapat lebih merasakan kenikmatan ini. Tetapi Neneng justru makin cepat menggoyangkan pantatnya serta meremas-remas penisku sehingga tanpa dapat ditahan lagi air maniku memancar dengan derasnya memenuhi vagina Neneng. Saat itu juga Neneng mencengkeram punggungku keras keras dan kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan erat sekali, matanya terbeliak sambil mendesis. Rupanya aku dan Neneng mencapai puncaknya pada saat yang bersamaan. Setelah beberapa menit diam, kurasakan Neneng pelan pelan mulai meremas-remas punggungku sambil menempelkan pipinya ke pipiku. Dengan tersipu-sipu dia bercerita kalau dia senang bisa mendapat rejeki ditiduri olehku, karena sejak di desa dulu dia memang nafsunya besar, sehingga suaminya sampai kerepotan melayani nafsunya yang luar biasa itu. Sekarang ini dia benar-benar baru merasakan puas yang sebenarnya setelah main denganku. Aku terhanyut oleh caranya yang mesra itu, namun aku tak ingin main lagi saat itu karena aku tadinya benar-benar hanya mau pijat dan melemaskan ototku, kalau sampai harus seperti ini, semuanya hanya gara-gara ada vagina baru di rumah yang tentunya tak dapat aku biarkan. Setelah kuberi dia uang 200 ribu, kusuruh Neneng keluar, Neneng sangat terkejut melihat jumlah uang yang kuberikan, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih dan keluar dari kamarku. Sekeluarnya Neneng, aku kembali berbaring telanjang bulat diatas ranjangku sambil memejamkan mata, badanku terasa enteng karena terlalu banyak seks. |
| Posted: 13 Jul 2008 02:54 AM CDT Karena tidak tertahankan, aku membalikkan badanku dan langsung memeluk Gadis, napasnya yang tercekat dan kata – kata yang tak mampu keluar dari mulutnya karena aku mencium gadis begitu buasnya, tak lama berselang gadispun akhirnya membalas ciumanku dengan mesra, dan posisi diapun diatas menghimpitku. Tak terasa dadanya mulai mengeras semakin menyentuh dada dan kelaki lakianku, tangankupun merayap menyusup kebalik dasternya untuk menyentuh buah dadanya yang semakin kencang. "Agrhhhh….." terpekik pelan dan mencoba menghindar dari sentuhan tanganku namun tak kuasa karena kami sudah semakin menikmati pemanasan awal ini. Akupun coba membuka kaitan branya dengan satu tangan dan berhasil, diapun melotot tanpa mampu menolak karena sejurus kemudian mulutku sudah menciumi wangi payudaranya yang montok itu, "ampun sudah punya satu anak, tapi masih kencang juga dadanya" "Ah ugh sssh…." Semakin meracau mulutnya karena sentuhan bibirku di payudaranya semakin membangkitkan hasrat Gadis, akupun menukar posisinya dibawah dan aku menindih…. Perlahan lahan aku mengambil kesempatan untuk melepas celana boxerku dan lansung membuka paha gadis. Sengaja kusentuhkan "adikku" ke permukaan celana dalamnya yang tipis, aku berharap menambah sensasi untuknya, tanpa terburu buru membuka celana dalamnya, takut dia kaget dan membuyarkan konsentrasinya, pinggulku sengaja kugoyangkan agar, "adikku" menyentuh lembut permukaan vagina Gadis, tak berapa lama, terasa di ujung "kepala jamurku" Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Yah nama itu sekarang tinggal jadi kenanganku yang indah entah kapan kita bisa ketemu lagi semenjak kepindahannya April ini ke luar kota nunjauh di sana. Kami kenal di FS, dan mulai sering berkirim pesan di fasilitas FS tersebut, mulai dari status ku yang complicate dan diapun ternyata janda beranak satu ditinggal oleh laki laki yang lari kepelukan wanita kaya, kejadian itu sudah 6 thn berlalu semenjak ia hamil 2 bulan, dan semenjak itu dia tidak punya laki2 yang dekat dihatinya, kecuali dengan perkenalan kita Gadis merasa klob dan senang berbagi melalui FS ini. Setelah sebulan berkenalan, kamipun bersepakat untuk ketemu di sebuah pertokoan di jakarta selatan, diapun memperkenalkan putrinya berumur 6 tahun, dan pertemuan pertemuan selanjutnya hanya melalui sms dan telepon karena posisi kita berjauhan, aku di Cilegon dan dia di Cireundeu. Selama kurang lebih 3 bulan masa perkenalan kita, banyak cerita, keluh kesah, dan segala permasalahannya yang sering diceritakan kepadaku, dan akupun memberikan masukan yang sangat membantu dan memberikan awan cerah menurutnya Dan suatu ketika; "a… pernah berpikiran untuk memaduku, menjadikanku istri kedua? Aku siap a, aku rela, aku ikhlas, aku tentram di samping aa" itu kata - kata yang menyambarku di sebuah pembicaraan via tlp di suatu siang…. Dengan alasan tidak bisa dibicarakan di telpon, kitapun sepakat untuk bertemu di Bandung, dan kebetulan aku ada meeting di Bandung, diapun ada urusan ijazah di bandung. Semenjak pembicaraan itu, saat tlp – tlp selanjutnya aku selalu menggodanya untuk menggiring pikirannya tentang rencana kepergian kita ke Bandung; "kalo kita nginep berdua di Bandung trus terjadi hal – hal yang diinginkan, gak apa apa ya, kan Gadis tau, aku udah –puasa- cukup lama" ucapku, "wah jangan aa, tolong jaga aku, jangan goda aku, aku gak kuat aa, udah sekian lama gak di sentuh laki laki, please…" pintanya memelas, "kita liat nanti ya" jawabku lagi. Kemudian minggu depannya kamipun bertemu di sebuah mall di pusat jakarta, membeli perbekalan untuk di perjalanan dan langsung cabut ke Bandung. Diperjalanan menuju bandung aku bahagia sekali karena Gadis begitu memanjakan aku dengan melayani kebutuhanku, mulai dari mengambilkan kemilan, menghidupkan korek untuk rokokku, sampai memijit tanganku yang pegal, semua dilakukan dengan mesra yang menyentuh hasrat ku untuk menciumnya, tapi sekali lagi aku takut untuk bertindak yang bukan – bukan, karena aku sangat menghormati dan menyayangi dia, hanya tinggal angan - angun ku yang tiba tiba ngeres karena sentuhannya. Tapi aku Heran, setiap kali mencuri pandang melihat wajah Gadis, ada kemuraman, kekurangan sesuatu atau entah apa lah dibalik senyum tawa canda disepanjang diperjalanan. Sesampainya di Bandung, kamipun mencari penginapan yang tenang, "2 bad yang misah ya aa', "kenapa?", "aku takut terjadi…." Iya aku usahakan. Di resepsionis aku minta 1 bad besar (he he he he) "kok bad besar a. aku dimana?" tanya Gadis ketika sampai dikamar, "udah bareng aja, kalo engga' aku di bawah deh" sergahku menghilangkan kecurigaannya.. Beberapa menit kemudian aku mandi dan keluar langsung menggunakan pakaian lengkap, takut dia curiga. Dan ketika dia mandipun begitu, hanya saja pada saat setelah mandi tiba – tiba dia menyeruak dari balik pintu, "a, tolong tasku di meja" ketika aku ambilkan, terlihat siluet tubuhnya dibalik pintu yang terpantul dari kaca di dalam kamar mandinya, aku terperanjat dan berfikir; "ampun sexy sekali gadis, walaupun dilihat dari bayangan kaca". Setelah selesai berbenah, aku coba sibukkan kegiatan ku dengan penyiapan laporan untuk meeting besok, sedangkan Gadis mengunjungi teman2nya untuk say hallo. Sayangnya selama aku bekerja, tapi tak satupun laporan yang aku hasilkan, sedari tadi pikiranku melayang ke siluet kaca tadi, dan itupula yang membuat "adikku" bangun dan meronta ronta. Berkali kali aku coba hilangkan pikiran ku tentang hal itu, tapi hilang sudah akal sehatku. Tiba – tiba pintu kamar diketuk, "a, aku pulang" pintu pun aku buka dan langsung ku peluk dia…. "ada apa a, kok gini…", "gak apa apa" jawabku, "kangen aja." Setelah beristirahat dengan alasan capek ngerjain laporan untuk besok, "aku pijitin ya a" dan langsung tangannya menyentuh bahuku, rasa tentram dan hangat menjalar di tubuhku, aku bingung, kenapa perasaan santai ini tidak membuat "adikku" tenang, malah makin meronta kuat. "dis, ganti baju dulu gih, kan abis jalan, kotor" kataku, sejurus kemudian ia sudah melangkah ke kamar mandi dengan pakaian tidur di tangan, "jangan ganti di kamar mandi, basah nanti celana jeansnya, aku balik kanan deh, gadis ganti di kamar aja" kataku tenang sambil membalikkan badan menghilangkan keraguan hati gadis. Sejurus kemudian dia sudah ada di sampingku dengan daster leher rendah dan lengkap dengan bra dan CD. "ughhhhh…." Kataku sambil menikmati sentuhan lembut gadis, dan tak sengaja dadanya yang cukup besar menyentuh punggungku. Karena tidak tertahankan, aku membalikkan badanku dan langsung memeluk Gadis, napasnya yang tercekat dan kata – kata yang tak mampu keluar dari mulutnya karena aku mencium gadis begitu buasnya, tak lama berselang gadispun akhirnya membalas ciumanku dengan mesra, dan posisi diapun diatas menghimpitku. Tak terasa dadanya mulai mengeras semakin menyentuh dada dan kelaki lakianku, tangankupun merayap menyusup kebalik dasternya untuk menyentuh buah dadanya yang semakin kencang. "Agrhhhh….." terpekik pelan dan mencoba menghindar dari sentuhan tanganku namun tak kuasa karena kami sudah semakin menikmati pemanasan awal ini. Akupun coba membuka kaitan branya dengan satu tangan dan berhasil, diapun melotot tanpa mampu menolak karena sejurus kemudian mulutku sudah menciumi wangi payudaranya yang montok itu, "ampun sudah punya satu anak, tapi masih kencang juga dadanya" "Ah ugh sssh…." Semakin meracau mulutnya karena sentuhan bibirku di payudaranya semakin membangkitkan hasrat Gadis, akupun menukar posisinya dibawah dan aku menindih…. Perlahan lahan aku mengambil kesempatan untuk melepas celana boxerku dan lansung membuka paha gadis. Sengaja kusentuhkan "adikku" ke permukaan celana dalamnya yang tipis, aku berharap menambah sensasi untuknya, tanpa terburu buru membuka celana dalamnya, takut dia kaget dan membuyarkan konsentrasinya, pinggulku sengaja kugoyangkan agar, "adikku" menyentuh lembut permukaan vagina Gadis, tak berapa lama, terasa di ujung "kepala jamurku" ada sesuatu yang basah dan aku tau gadis makin terangsang dan mulai mengeluarkan pelicin dan secara tidak langsung menyatakan "siap", aku pelan pelan turun sambil menciumi perut dan paha bagian dalamnya, gadispun makin mendesis dan menyentuh lembut kepalaku mengisyaratkan untuk cepat menyentuh bibir vaginanya yang makin basah. Ketika sampai di antara dua pahanya, akupun berusaha semakin memperlebar bukaan pahanya agar aku leluasa untuk meciumi vaginanya yang harum khas, "ternyata dia tetap menjaga kewanitaanya dengan baik" pikirku. Setelah kujilati dengan mesra, semakin lama semakin banyak ' lendirnya keluar, makin bersemangat aku, dan gadispun mulai membanting banting badannya karena tidak tahan menerima penjelajahan lidahku di sekitar liang vaginanya dan ketika klitorisnya kusentuh; "ughhhh asssshhh ampun a" jeritnya, sambil menekan kepalaku untuk semakin terbanam diantara selangkangannya, "ooohhh a, aku gak tahaaaaan a, ampun a, jangan siksa aku please……" "agrhhhhh a, ampuuuun, please jangan siksa aku…." Gadispun mengejang untuk beberapa menit, selagi dia semakin mengejang, akupun semakin kuat menciumi dan menjelajahi klitorisnya karena aku tau, Gadis hampir orgasme…. Satu hentakan kuat keatas, tiba – tiba punggungku perih karena kuku Gadis menancap dipunggungku dan badannyapun mengejang kuat, dan diapun melemas tak berdaya. Raut wajah mukanya pasrah dengan apa yang sedang aku lakukan, napasnyapun tersengal sengal menahan birahi yang sedang bergejolak bersamaan dengan orgasme yang sedang Gadis alami. Disela sela kepasrahannya;" a, makasih, belum pernah aku merasakan ini….." sambil mengucurkan air mata kebahagiaan dan kepuasan yang terpancar di wajah gadis. Pelan pelan aku merangkak di sampingnya sambil menahan hasratku, aku sempat berfikir, kalo aku langsung hajar, pasti kaget, aku tidak ingin dia jadi berfikiran macem macem. Pelan pelan walaupun dengan menahan gejolak "adik" yang tidak mau kompromi, ku peluk mesra Gadis, dan Gadis pun bersandar di dadaku. Sambil beristirahat kucoba sentuh dadanya yang masih mengencang padat, "aa belum keluar ya, Gadis harus gimana ya…" kataku, "santai aja, yang penting Gadis nyaman…", "tapi please jangan dimasukin ya…." Aku mulai bergerilya lagi dengan mencium bibirnya yang tipis dan turun kelehernya yang tak luput kuciumi. "Ssshhhh…." Desahnya, akupun turun ke dadanya yang mulai mengencang kembali, tak berapa lama aku coba sentuh liang kemaluannya, ternyata sudah basah lagi dengan lendirnya yang wangi, sambil menciumi dadanya aku telentangkan gadis dan kubuka belahan kakinya sehingga posisi misionaris aku dapatkan, ketika "adik" menyentuh pelan vaginanya, "ssshhhh…." Kembali terdengar dan pelukannya semakin erat, aku coba menggoyangkan pantatku agar "adiku" menyentuh lembut liang vagina Gadis, "ssshhhh…. a, enak a, aku gak tahan a, jangan siksa lagi aku dengan rasa ini, please….." pelan pelan kepala jamurku ku masukkan kedalam liang vagina Gadis, matanyapun merem melek, tangannya menahan badanku tanda supaya tidak memasukkan punyaku keliang gadis;"…perih a' pelan ya….. sakit….. ughhhhh, a…. Aku pun terpaksa menahan setengah, agar masuknya tidak terlalu terburu buru dan membuat gadis sakit. Akupun memaju mundurkan untuk beberapa menit agar vagina Gadis merasa terbiasa lagi, akupun menikmati "kepala adikku" di peluk erat, dan semakin membuatku harus menahan libido yang sudah di ubun ubun ini supaya tidak meledak. Setelah beberapa menit, gadis mulai merasa nyaman dan menikmati masuk keluarnya goyanganku, akupun menambah kedalaman "adikku" agar berenang di dalam vagina Gadis, diapun melotot tanda kaget,"a pelan ya, besar sekali, aku kepenuhan rasanya…."katanya. akupun harus bersabar kembali menarik ulur "adikku" kira kira tiga perempatnya, setelah sekian menit, diapun mulai mengencangkan badannya dan "aghhhh a…. aku gak kuat, aku pengen keluar a…." please jangan buat aku gak tahan….. rintihnya sambil semakin mengencangkan pagutan tangannya dibadanku, dan diapun menggelinjang gak tertahankan, tiba tiba kakinya di silangkan kepunggungku, dan serta merta terbenam lah seluruh "adikku" di dalam vagina Gadis; "aghhhh a, ampun aku gak tahan…. Saat itupun aku merasakan kembali orgasmenya untuk yang kesekian kalinya dan aku pun mempercepat goyanganku diatas, Gadispun terbanting banting badannya menahan kenikmatan ini, "adikku"pun terasa sekali dipijit pijit oleh liang vagina Gadis, setelah beberapa menit, Gadispun akhirnya tak berdaya, hanya racauan mulutnya tanda kenikmatan saja yang ada, akupun semakin bersemangat memompa. Tiba tiba "ada remasan yang kuat lagi di liang vagina Gadis yang kurasakan ketika ku lihat keselangkangan Gadis, tarikan pinggangku membuat bibir vagina gadis tertarik dan menimbulkan sensasi yang membuatku tidak dapat menahan air maniku yang mulai ingin muncrat, nadiku terasa berdenyut kencang membuat Gadis terpacu lagi untuk orgasme, diapun makin meracau sampai pada menit berikutnya kakinya kembali merangkul pinggangku, dan "…a, aku keluar lagi, teruuuus a, terusss… aghhhhh bersamaan dengan itu muncrat pula air maniku, untuk beberapa kali semprotan yang kerasa dan langsung membasahi liang kewanitaan Gadis, akupun merasa seluruh tenaga dan otot ku dihisap kedalam vagina Gadis, dan setelah itu aku biarkan "adikku" terbenam tenang dalam vagina Gadis dan kitapun berpelukan, "ssshhh…." Racauan Gadis karena merasakan denyutan nadi "adik" ku di dalam Vaginanya. Untuk sekian lama masih kudiamkan "adik"ku terbenam di vagina yang masih hangat, terasa olehku lelehan air mani bercampur lendir kenikmatan Gadis yang keluar dari liang vagina Gadis. "a…. kenapa kita begini ya, Gadis malu" ucapnya, dan tidak lama kemudian kamipun tertidur pulas. Ketika menjelang subuh, dinginnya udara Bandung merayapi tubuh kami yang tanpa selimut, akupun bergeser untuk memeluk Gadis, sekecap ia bangun untuk merapatkan tubuhnya dipelukanku, tanpa sengaja, "adik"ku bangun karena tersentuh belayain lembut sentuhan tangan Gadis, "uuughhh…." Lirihku, dan seakan iapun mengerti dan semakin menyentuh lembut "adik"ku, entah berapa lama, tiba – tiba ia melepaskan sentuhannya karena terkesiap dengan kembali bangunnya "adik"ku, "a… kok jadi besar lagi?", "Gadis sih, jadi bangun deh" ucapku. "a… nanti lagi ya, agak perih nih, maaf udah lama tidak terbiasa lagi", iya, santai aja, kapan kapan juga boleh" jawabku dengan merajuk, iapun tersenyum sambil mencubit mesra dadaku. Kucium mesra keningnya, dan akupun mencium bibir hangatnya dan terus menjajah ke sekitar leher, "aku sayang Gadis" ucapku sambil mencium kuping dan sekitarnya, "sshhh…" kembali dia mendesah. Ciuman ini kulanjutkan turun ke dadanya yang montok dan berkonsentrasi disekitar putting susunya yang berwarna Pink, lagi – lagi "sshhh…. Keluar dari bibirnya yang mungil karena menahan sensasi dan rangsangan yang menjalar ditubuhnya karena kuciumi putting susunya, kumainkan dengan ujung lidahku, dengan meracaunya Gadis yang semakin keras suaranya, menandakan dia mulai terangsang hebat, dengan tidak malu – malu lagi, dia mulai menyentuh lembut "adik"ku dan kali ini sampai pada buah zakarku, "uuuughhh….." desahku, begitu lembut tangannya sehingga makin mendidihkan gejolak nafsuku yang sudah tidak tertahankan, akupun langsung bergeser kembali keselangkangan Gadis untuk menciumi dan menjelajahi bibir vagina yang mulai mengeluarkan lendir kenikmatan yang semakin banyak, ketika aku mulai menyentuh klitorisnya dengan hidungku dan liang Vaginanya kujelajahi dengan ujung lidahku, "agrrhhhhh, ampun a… Gadis gak kuat, please….. jangan lama lama a… Diapun semakin menjepitkan pahanya dan tangannya semakin menekan kepalaku, "…. Sshhh…. Ughhhh…. Aaaaa, aku keluar….." bersamaan dengan itu vagina Gadis banjir dengan lendir kenikmatan yang keluar bersamaan dengan orgasmenya, akupun menjilati dan menelan seluruh lendir itu. Setelah kejangannya mereda, pahanya mulai mengendur, kesempatan ini aku gunakan untuk menempelkan "adik"ku ke bibir vaginanya, aku takut kalo aku paksa masuk, Gadis akan menjadi kesakitan, "…. A, pelan ya" pintanya memelas, akupun kembali menyentuhkan "adik"ku ke Vaginanya. Ketika rautnya sudah tenang, aku perlahan lahan memasukkan setengah "adik"ku keliang vaginanya yang basah kembali dan menggoyangkan pinggulku, "ughhh…. Ssshhh… kembali Gadis meracau nikmat, semakin lama racauannya semakin keras dan badannya mulai mengejang, "….uuugghhhh, aghhhh, ampun a…." Gadis memekik, karena tiba – tiba dengan satu hentakan keras, aku masukkan seluruh batang "adik"ku kedalam Vaginanya, iapun berpegangan dibadanku kuat sekali sambil menahan tekanan – tekanan yang semakin kuat kulancarkan, dalam sekian lama penetrasiku, entah berapa kali Gadis orgasme, lemas, tak berdaya menahan kebuasanku karena sejak dari sore aku tahan. Setelah bosan posisi misionaris, "kenapa berhenti a, aku tanggung" pinta Gadis, kita coba dari belakang yuk, diapun pasrah merubah posisi membelakangiku dan langsung kembali kuhujamkan "adik"ku, "ughhh… agrhhhh, oohhhh, a, aku gak tahan, sambil memutar mutar pinggulnya menahan nikmat, membuat "adik"ku menggelembung membesar, rasa ingin memuntahkan "lahar" panas yang siap meledak, "…. Ugh dis, aku keluar ya….. oghhh, "bareng a….. ughhhhh pada saat kedutan di liang vaginanya makin keras menjepit, "crot, crot, crot …"entah berapa kali, muntah lah lahar panas itu menyemprot liang kenikmatan Gadis, "uuuugggghhhh aaaaaa…. Aku…" pekik nya, gadis pun mengejang kuat dan makin menjepit "adik"ku dan tak sempat ia ucapkan, untuk kesekian kalinya Gadis orgasme…. Kami pun ambruk kelelahan dengan posisi tertelungkup….. Pagi hari kami sama – sama mandi dan saling membersihkan sisa sisa tadi malam, setelah itu, tanpa ku minta, ia dengan sigapnya menyiapkan pakaian kerjaku yang ada di tas, merapikan seluruh barang barang bawaan ku, dalam sekejap semua sudah rapi dan kitapun siap berangkat. Tampak tabir keceriaan yang terpancarkan dari muka Gadis, senyum yang mengembang, ahhh ini kah namanya kebahagian, hadiah dari hubungan kasih sayang yang kami wujudkan tadi malam…? Setelah sekian lama aku dan dia belum pernah lagi menikmati indahnya sentuhan dalam sebuah aktifitas yang membawa perasaan kita melayang jauh…. Entah lah…. |
| Posted: 06 Jul 2008 10:21 AM CDT Toni sendiri menjadi semakin menjadi, di ambilnya tangan Novi dan dituntunnya tangan lembut tersebut ke arah penisnya. Karena mulai dikuasai oleh gairah yg memuncak, tak sadar Novi menuruti pemuda itu, dielusnya penis Toni yg masih terbungkus celana jins. Tak sadar pula ia mulai membuka resleting celana tersebut dan menyelusupkan jemarinya ke dalam celana dalam Toni. Tubuh nya terus terasa kejang akibat gerakan jari Toni di dalam vaginanya, gerakan Jemari toni pun semakin cepat, tak sabar, ia menuntun tangan gadis itu untuk menyentuh penisnya. "Pegang seperti ini Nov," Katanya sambil membimbing tangan gadis itu untuk menggenggam penisnya.. "Ya Seperti itu. Arghhh..." Toni berkata sambil merasakan nikmat ketika Novi mulai menggenggam penisnya. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Malam semakin larut, dingin, karena langit terus mencurahkan air matanya sejak sore tadi, ditambah lagi ruangan itu ac menyala sedari pagi. Novi melirik jam di ujung kanan tampilan monitornya, sudah jam 3 dinihari. Novi mulai merasakan kantuk menyerangnya, matanya mulai berat, tapi mengingat kewajibannya, dia tetap berusaha untuk menahan rasa kantuk itu. Sudah beberapa hari ini dia bekerja di sebuah warnet milik sepupunya yang buka selama 24 jam. Dan malangnya, Novi harus menjaga warnet itu saat malam hari. awalnya ia enggan, tapi setelah diyakinkan oleh sepupunya bahwa warnet itu aman di malam hari, maka akhirnya Novi terpaksa menurutinya. Mau gimana lagi, Anto -sepupunya itu- itu bekerja malam hari disebuah pabrik di daerah bekasi, dan baru bisa menggantikannya menjaga net itu sepulang kerja sampai tengah hari, sedangkan Dimas yg biasa shift malam di net itu sedang pulang ke kampung halamannya. Malam itu cuma ada seorang pemuda yang sedang main di warnet itu, usianya kira2 sebaya dengan calon suaminya di kampung. Sejak sore pemuda itu sudah datang dan memang sejak awal Novi bekerja di net tersebut, pemuda itu memang selalu datang sore hari dan baru pulang saat azan subuh berkumandang. Dia sempat berpikir tentang apa kerja pemuda tersebut, karena dalam benaknya, tidak mungkin pemuda itu bekerja di siang hari karena malam harinya dia selalu bergadang di net ini. Tapi dia sadar, inilah kota besar, pemudanya tidak seperti di kampungnya yang biasa berada di masjid saat malam tiba. Dia merasa beruntung karena calon suaminya adalah seorang aktifis dakwah, sama seperti dirinya. "Mbak, teh botol 1 ya?" Suara itu mengagetkannya. "Oh, iya Mas, silahkan." Jawabnya "Loh kuncinya mana Mba?" "Oh, iya, ini Mas" Jawab Novi sambil menyerahkan kunci yang lupa diberikannya. di Net tersebut, Lemari Es tempat penyimpanan minuman memang sengaja dikunci karena seringnya para user yg tidak bertanggung jawab mengambil minuman tanpa membayar saat sang operator sedang lengah. Pikiran Novi kembali menerawang kepada sosok calon suaminya. Lelaki yg sebenarnya sudah lama dia kenal, tapi baru bisa dia dengar suaranya saat proses lamaran tepat 1 minggu sebelum Novi berangkat ke Jakarta untuk bekerja pada sepupunya pemilik warnet ini. Dia sengaja bekerja di jakarta menjelang pernikahannya, Untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan, pikirnya. Ya, dalam pikirannya,bisa saja mereka terjerumus di dalam dosa.. Wong yang mereka yg baru pacaran saja bisa melakukan hal2 nekad, apalagi dirinya yg sudah bertunangan. Walaupun dia yakin dia dan calon suaminya tak mungkin melakukan hal2 yg dilarang agama meskipun mereka sudah resmi bertunangan dan pelaksanaan akad nikahnya sendiri tinggal 2 minggu lagi. Intinya, 2 minggu itu masih mungkin terjadi hal2 yg tidak diinginkan olehnya. "Tuh kan, bengong lagi, lagi mikirin apa seh, Mba?? tiba2 pemuda itu sudah berada di sampingnya lagi, dan lebih membuatnya kaget lagi. "Eh, engga Mas, ada apa? Ada yg bisa saya bantu?" jawabnya tergagap "Itu mba, tolong Share-in file yg ada di foldernya Dimas dong. Penting nih." "Oh iya, sebentar ya" Novi pun meraih Mouse dan mencari folder yg dimaksud, tapi entah karena apa, pemuda tersebut tiba2 berkata "eh, maaf Mba, biar saya aja deh yg cari, gak enak sama mba, mba kesana aja dulu sebentar." Novi jd bingung, dia pun melangkah sedikit menjauh, dalam hatinya, mungkin itu file rahasia yg tidak boleh dilihat oleh siapapun, kecuali oleh Dimas. Setelah beberapa saat, pemuda itu berdiri dan kembali mempersilahkan Novi duduk di bangku operator tersebut. "Udah Mba, Makasih ya."ucapnya sambil berlalu meninggalkan NOvi. Novi kembali menatap jam di pojok kanan bawah monitor, hampir 1/2 4. berarti, 1 jam lagi sepupunya pulang, dan dia bisa istirahat setelah sholat subuh di rumah pamannya yg kira2 berjarak 100 meter dari net itu. tiba2 dia teringat sesuatu, tadi sore, sebelum berangkat Anto sempat memintanya untuk memindahkan file2nya ke folder baru. Setelah membuat folder baru,dia mulai mencari file2 milik Anto yg ternyata bertebaran dimana-mana,tak terasa, saat azan subuh pekerjaan itu baru selesai, benar2 si Anto itu, brantakan sekali sih orangnya.. PIkirnya dalam hati. Tak lama, Anto masuk ke net, dia masih keliatan segar meskipun baru pulang kerja. "Gimana Nov? Rame Gak?? " Tanyanya "Cuma ada 1 orang, itu yg biasa main dari sore sampai pagi." "Oh si Toni ya?" Biasa dia mah. Ya udah km sana istirahat." "Iya, aku pulang dulu ya.. Novi pun mulai beranjak meninggalkan warnet menuju rumah sodaranya tersebut, keluarga saudaranya tersebut pasti belum pada bangun, yah mau gimana lg, dia hanya menumpang di rumah tersebut, mau bicara apa pun terasa tidak enak, untung saja dia diberi pegangan kunci cadangan, jd dia tak perlu membangunkan orang2 yg masih terlelap dalam tidurnya tersebut. Esoknya HUjan kembali turun sejak sore, dan kini ditambah dengan suara petir yg sesekali menggelagar di atas sana. Lagi-lagi, sama seperti kemarin, cuma ada si pemuda yg bernama Toni di net itu. Waktu menunjukkan pukul 1 dinihari ketika tiba2 saja listrik padam. "Yah Mba, gimana neh??" Kata Toni setengah berteriak. Novi tidak menjawab apa2, dia sibuk mencari lilin untuk menerangi ruangan itu. "Payah deh, lagi seru2nya pake mati lampu segala lagi," kata Toni yg sudah berdiri tak jauh dari Novi. "Ada lilin, MBa?? "Ada ini baru ketemu, ini saya lg cari koreknya" "OH, ini aja, saya ada korek kok." sigap tangan Toni menyalakan korek dan mengarahkan apinya ke sumbu lilin yg disodorkan NOvi. Lalu lilin itu ditempatkan tak jauh dari meja server. Lumayan menerangi ruangan tersebut. Toni meraih bangku yg ada disamping, lalu duduk disamping Novi. Novi sempat merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut, sebagai seorang akhwat - wanita yg aktif dalam kajian dan kegiatan dakwah - suasana seperti itu jelas sangat tidak berkenan dalam hatinya. Berdua2an dengan seorang pria yg tidak dikenalnya, dalam keadaan gelap dengan penerangan bermodalkan secercah cahaya lilin, wew, jelas sangat tidak nyaman baginya. Tak sekalipun ia pernah mengalami saat2 seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksa, tak enak rasanya mengusir langganan yang setiap malam selalu datang ke warnet itu seperti Toni. Mereka diam, tak ada hal yang bisa dibahas sebagai bahan pembicaraan. setengah jam berlalu dalam keheningan, dan listrik belum juga menyala. Kehiningan berlalu saat Toni meminta kunci kulkas. "Haus nih mba, aku ambil minum ya." untung saja Novi sudah hapal tempat kunci itu biasa diletakkan, tak lama, kunci itu sudah berada di tangan Toni. Toni bergegas mengambil minuman dan membuka tutup botolnya. NOvi terperangah ketika Toni memberikannya sebotol teh bot**l kepadanya. "Biar gak ngantuk,"Kata Toni singkat "Oh, iya makasih mas, ntar biar saya bayar sendiri ya" "Ah, jangan, biar saya aja. kan aku yg ambilin" "Yah, terserahlah," Akhirnya NOvi mengalah karena merasa tak enak hati. dia tak langsung meminumnya karena TOni lebih dulu bertanya padanya. "Katanya sebentar lagi mau nikah ya Mba? "Iya Mas, kok tau? Dari Anto ya? "Iya, tadi sore dia cerita. Tapi kok 2 minggu lagi nikah, mba malah ke jakarta n kerja disini? "Ribet Mas ngejelasinnya. Intinya sih, saya mau nahan diri, itu aja." "Nahan diri? Nahan diri dari apaan? Tanya Toni "Dari nafsu, saya ngga mau melakukan hal2 yg mengundang saya pada maksiat bersama tunangan saya." Jawab Novi "OH gitu toh, ic ic" Tony manggut2 seolah mengerti, padahal dia kurang paham apa yg dimaksud oleh NOvi. "Di minum mba minumannya" kata Tony mempersilahkan Novi untuk meminum minuman yg telah dibelikannya. merasa tak enak, Novi pun meminum teh pemberian Toni tersebut. Toni sendiri menatap sambil menyunggingkan senyum. Tak lama setelah meminum minuman tersebut, kantuk yg sangat hebat tiba menyerang novi, kepalanya juga terasa sangat berat. Sempat di lihatnya jam yang baru menunjukkan pukul 2, setelah ia merasakan matanya tak sanggup lagi menahan rasa kantuk yg mendadak tiba tersebut. NOvi terbangun saat dia merasakan ada sesuatu yg meraba payudaranya. dia seperti tersengat oleh listrik ribuan kilowatt saat dia melihat jubah yg ia kenakan telah terbuka kancing di bagian depannya, dan dia lebih terkaget2 lagi saat menyadari Toni sedang meraba payudaranya. Bra yg dikenakannya sdh tidak menutupi 2 bukit indah yg menjulang tersebut. "Ngapain kamu, tolong hentikan, jgn macam2 kamu." katanya sambil berusaha menepis tangan Toni yg sedang menggerayangi payudaranya. Tapi tangannya terasa sangat lemah, ia seperti tidak punya tenaga untuk mengangkat tangannya sekalipun. Toni hanya diam, dia tak menjawab apa2. cuma Tangannya yg terus bergerak, meremas, dan sesekali menyentuh dengan lembut puting payudara Novi dengan jarinya. Tak cuma itu, Toni pun mulai menciumi bukit indah itu, lidahnya mengulum dan menggigit kecil puting susu Novi yang masih berwarna pink tersebut. Toni tahu betul, puting susu seperti yang ada dihadapannya pasti belum pernah terjamah oleh lidah, bahkan oleh tangan lelaki lain. Toni tak menghiraukan gadis yang terus berusaha meronta dengan tenaga nya yg lemah itu. Bahkan, tangannya pun mulai bergerak kebawah, menyelusup masuk ke dalam celana dalam Novi setelah ia membuka kancing rok yg dikenakan Novi. Novi sedikit histeris ketika vaginanya disentuh oleh jemari toni, tapi suaranya jelas tak kan terdengar oleh siapa2, selain di luar sedang hujan, tak ada bangunan yg ada di dekat warnet itu, satu2nya bangunan terdekat adalah rumah Anto, tempat Novi menumpang, itu pun jaraknya lumayan jauh. Toni mengusap gundukan bukit yg sedikit berbulu itu, disentuh nya dengan lembut bibir vagina tersebut sampai akhirnya Toni tak sabar dan segera melepaskan rok dan celana dalam yang membungkus bagian bawah tubuh Novi. Novi terus berusaha berontak dengan tenaga lemahnya, rupanya, minuman yg diminumnya dicampur oleh obat bius oleh Toni, entah kapan Toni memasukkan obat bius tersebut. Usaha berontak Novi jelas tidak berarti apa2 bagi Toni, yang ada Toni malah semakin liar menciumi payudaranya.. jarinya pun mulai berusaha untuk memasuki liang vagina Novi. Novi menggigit bibirnya ketika dia merasakan jari tengah Toni perlahan mulai masuk ke dalam vaginanya.. Perih.. dan dia pun merasakan ada sesuatu yang mengalir dari dalam vaginanya.. "Oh, kamu masih perawan ya Nov??" tanya Toni setelah ia melihat apa yg membasahi jarinya.. bukannya Iba dan menghentikan perbuatannya Toni kembali memasukkan jarinya. dan mulai menggerakkannya keluar masuk secara perlahan-lahan, dia melakukannya dengan lembut sambil bibir dan lidah nya tak berhenti bermain di payudara gadis tersebut. "argh .... tolong hentikan Ton." kata Novi terbata-bata. Nafasnya mulai memburu, tak dapat diingkari, meski perih, meski kehormatannya sedang direnggut oleh Toni, ada perasaan aneh yg menyelusup ke dalam sanubarinya. Perasaan itu semakin menjadi2 saat jemari Toni semakin bergerak cepat di dalam vaginanya yg terasa semakin licin oleh Toni. entah karena sebab apa, Novi mulai menghentikan usahanya untuk berontak, sebaliknya,dia malah menekan kepala Toni dengan sisa tenaganya... tentu saja hal tersebut semakin membuat Toni terbenam dalam bukit payudaranya, ciuman dan kuluman Toni pun semakin menggila, Toni terus menjilati puting yang indah tersebut. "Arghhhhh..... Ton....ARghhhh" "Tolong hentikan Toooonnn..." "Memek km rapat bgt Nov, aku suka, aku juga suka sama puting susu km.." Jawab Toni sambil tangannya terus mengocok vagina Novi. Tubuh Novi seakan mengejang, dirasakannya gerakan Toni menimbulkan perasaan yang sangat berbeda olehnya.. Rasa sakit yg tadi menderanya seakan telah hilang, digantikan oleh suatu rasa yg belum pernah ia rasakan sama sekali sebelumnya. "Argh argh ......" Nafas Novi semakin memburu, dia sudah tak dapat lagi berkata apa2... "ssssssshhhh .... arghhhh." Novi mulai mendesis, gairah mulai merasuki perasaannya. Toni sendiri menjadi semakin menjadi, di ambilnya tangan Novi dan dituntunnya tangan lembut tersebut ke arah penisnya. Karena mulai dikuasai oleh gairah yg memuncak, tak sadar Novi menuruti pemuda itu, dielusnya penis Toni yg masih terbungkus celana jins. Tak sadar pula ia mulai membuka resleting celana tersebut dan menyelusupkan jemarinya ke dalam celana dalam Toni. Tubuh nya terus terasa kejang akibat gerakan jari Toni di dalam vaginanya, gerakan Jemari toni pun semakin cepat, tak sabar, ia menuntun tangan gadis itu untuk menyentuh penisnya. "Pegang seperti ini Nov," Katanya sambil membimbing tangan gadis itu untuk menggenggam penisnya.. "Ya Seperti itu. Arghhh..." Toni berkata sambil merasakan nikmat ketika Novi mulai menggenggam penisnya. Novi benar2 telah bergerak berdasarkan instingnya, perlahan dia mulai menggerakkan genggamannya, dia gerakkan penis Toni, diputarnya dengan bergairah. "Arghhh Ton,,, Ton.." Novi meracau dengan desahan nafasnya yg semakin tak beraturan.. dia benar2 merasakan kenikmatan dari gerakan jari Toni yg keluar masuk vaginanya yg semakin basah. sesekali Toni menciumi payudara gadis itu. Mereka terus bercumbu di tengah temaram lilin, suara rintik hujan semakin membuat Toni bergairah mencumbui gadis berjilbab yang akan menikah itu. Setelah beberapa saat, Toni melepaskan jarinya, dia juga melepaskan genggaman tangan Novi dari penisnya. Novi menatap penis Toni yg berjongkok di depannya.. Baru sekali ini ia melihat penis lelaki dewasa langsung di hadapannya. Toni yg melihat gadis itu menatap penisnya, mulai meraih kembali tangan gadis itu. Novi kembali meraih penis Toni yg sudah mulai mengeras. "Coba dicium Nov, pasti km suka" katanya pelan, stengah berbisik. Novi menatap penis itu. Ragu karena dia memang belum pernah melakukannya. Di dorong oleh gairahnya, dia mulai mencium penis itu, dikecupnya penis Toni. Toni tak diam, dielus nya kepala Novi yg masih terbungkus jilbab besarnya. Mullutnya mulai mendesis ketika Novi mulai mengulum penisnya yg terasa semakin mengeras. akhirnya, ia tak bisa menahan gairahnya... Toni akhirnya merebahkan tubuh Novi di lantai, lalu ia merebahkan tubuhnya ke arah yg berlawanan, ia membentuk posisi 69 yg biasa di lihat di video porno yg sering dilihatnya. Novi kembali menjamah penis yg sekarang ada di depan bibirnya tersebut, Toni pun mulai memasukkan kembali jemarinya ke dalam vagina Novi. Dia jg menciumi vagina tersebut, memainkan lidahnya di klitoris gadis itu sambil jarinya tak berhenti bergerak keluar masuk vagina yg semakin basah itu. "arrrrghhh... nikmat bgt Nov, arghhh ... Toni semakin bersemangat menjilati vagina Novi, jarinya semakin cepat bergerak. "Arghh Ton... " Novi terus mendesis di sela kulumannya pada penis Toni. Mereka terus saling menghisap dan mempermainkan kelamin pasangannya beberapa saat. Tak sanggup menahan perasaan yg semakin membuncah, Toni kembali merubah posisinya. kini dia berjongkok di depan paha Novi yg masih berbaring. perlahan dia mengarahkan penisnya ke arah vagina Novi. "Mauu aphaa km Tonn?" Tanya Novi terbata Toni tak menjawab, dia membuka paha gadis tersebut, dan mulai mendekatkan penisnya... Novi tak bisa mengelak,dia justru membuka pahanya lebih lebar... dan dia sedikit histeris ketika penis toni yg membesar itu mulai perlahan-lahan memasuki liang vaginanya. "argghhhh .... pelan2 Ton, perih." "Iya Nov, tahan ya..." jawab Toni penuh perhatian.. dia terus berusaha memasukkan penis nya ke dalam vagina Novi. arghhh ... ssssshhhhh ... memekk kamu rapat bgt Nov... aku suka ... pelan tapi pasti akhirnya penis toni berhasil masuk ke dalam vagina Novi. "arghhh... Ton ..." Novi mendesis menahan rasa nikmat yg tiada taranya itu. Tubuhnya bagai terbang ke awang2. perlahan toni menggerakkan pinggulnya, menggerakkan penisnya maju mundur di dalam vagina yg semakin terasa becek itu.. semakin lama gerakannya semakin cepat.. membuat Novi semakin merasa terbang.. Novi pun akhirnya tak bisa diam, gairah menuntutnya untuk menggerakkan pinggulnya. Mengimbangi gerakan Toni yg terus menghajar vagina Mereka saling mendesis merasakan kenikmatan,,, "arghhh... enak Nov, nikmat bgt" "Ton .... aku gak tahan" ceracau Novi sambil menggerakkan pinggulnya semakin cepat. dia benar2 telah kehilangan akalnya, dia hanya merasakan kenikmatan yg tiada tara saat itu... Novi terus bergerak, tanganya mulai menekan pantat Toni, ia ingin penis pemuda itu masuk semakin ke dalam liang vaginanya. "argghhh Tonnnnnn.... trusssss" sampai akhirnya, Novi benar2 merasakan tubuhnya kejang, dia merasa ada yg meledak dalam tubuhnya. dia berusaha menahan gerak tubuh Toni,, tapi pemuda itu tidak berhennti dan malah semakin mempercepat gerakannya... "Tonnnn.... argghhhhhh aku ....... "iya Novv.... argggghhh sabar, aku sudah mau,,,,, "arghhhh....." akhirnya Toni merasakan ledakan itu, dia hempaskan tubuhnya ke atas tubuh gadis dibawahnya. Novi memeluk pemuda itu erat. membiarkan penis yg masih berdenyut itu tetap berada dalam liang vaginanya... akhwat itu sadar, ia telah khilangan keperawanan dan kehormatannya yg telah ia jaga selama ini. hujan masih rintik2 diluar sana.. gerimis pun hadir di mata akhwat itu... penyesalan atas apa yg telah ia lakukan beberapa menit lalu |
| Posted: 06 Jul 2008 10:16 AM CDT Kemudian tangan Udin membuka tali pengikat BH itu dari belakang dan terlihatlah sepasang gunung kembar mulus yang putingnya telah memerah karena remasan tangan Udin. Dengan mulutnya, Udin menjilat dan mengigit puting susu itu sementara tangan Udin berusaha membuka CD Yeni dan mengorek isi goa terlarang itu. Udinpun telah telanjang bulat lalu ia meminta Yeni untuk mengulum batang kemaluannya, Yeni menolak karena batang kejantanan Udin panjang, besar dan baunya membuat Yeni jijik. Dengan paksa Udin memasukan batang kejantanannya ke mulut Yeni dengan terpaksa batang kejantanan itu masuk dan Yeni menjilatnya sambil memainkan lidah di ujung meriam Udin. Udinpun tidak ketinggalan dengan caranya ia memainkan lidahnya di liang kewanitaan Yeni, lebih-lebih saat ia menemukan daging kecil di belahan liang kewanitaan itu dan dijilatinya dengan telaten sampai akhirnaya setelah berualng-ulang Yeni klimaks dan menyemburkan air maninya ke mulut Udin. Saat lebih kurang 20 menit Udinpun memuncratkan maninya ke mulut Yeni dan sempat tertelan oleh Yeni. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Yeni ditugaskan sebagai pimpinan unit sebuah bank BUMD di sebuah kabupaten. untuk itu maka ia harus berpisah dengan suaminya yang bekerja sebagai dosen dan pengusaha di kota. Yeni menyewa sebuah kamar paviliun yang dihuni oleh seorang wanita tua yang anak-anaknya pada ke kota semua. Pada hari pertama ia bertugas, banyak sekali kesan yang dapat di terimanya dari para bawahannya di kantor. Yeni pulang pergi ke kantor selalu menumpang bendi (delman) yang dimiliki oleh tetangganya yang bernama Udin, kebetulan Udin telah kenal baik dengan Mak Minah pemilik rumah yang ditempati Yeni. Udin seorang duda yang berumur kurang lebih 45 tahun, cerai dan tidak memiliki anak. Jarak rumah Udin dan Yeni memang jauh sebab di desa itu antara rumah dibatasi oleh kebun kelapa. Karena terlalu sering mengantar jemput Yeni, maka secara lambat laun ada perasaan suka Udin terhadap Yeni namun segala keinginan itu di buang jauh-jauh oleh Udin karena ia tahu Yeni telah mempunyai suami dan setiap minggu suami Yeni selalu datang, tingkah suami istri itu selalu membuat Udin tidak enak hati, namun ia harus pasrah bagaimanapun sebagai suami istri layaklah mereka berkumpul dan bermesraan untuk mengisi saat kebersamaan. Udin setiap hari selalu melihat sosok keelokan tubuh Yeni tapi bagaimana caranya menaklukannya, sedang birahinya selalu minta dituntaskan saat bersama Yeni diatas bendinya. Kemudian timbullah pikiran licik Udin dengan meminta pertolongan seorang dukun, ia berkeinginan agar Yeni mau dengannya. Atas bantuan dukun itu, Udin merasa puas dan mulailah ia mencoba pelet pemberian dukunnya. Siang saat Yeni menumpang bendi, Udin melihat paha Yeni yang putih mulus itu, kejadian itu membuat birahi Udin naik dan kejantanannya berdiri saat itu ia mengenakan celana katun yang longgar sehingga kejantanannya yang menonjol terlihat oleh Yeni, Udin malu dan berusaha membuang muka, sedang Yeni merasa tidak enak hati dan menutupkan pahanya, wajahnya bersemu merah ia merasakan bahwa batang kemaluan Udin itu memang besar dan panjang tidak seperti milik suaminya. Ia tahu pasti kalau bercinta dengan Udin akan dapat memberikan anak baginya serta kepuasan yang jauh berbeda saat bercinta dengan suaminya, memang saat akhir-akhir ini frekwensi hubungan seks dengan suaminya agak berkurang dan suaminya cepat selesai, telah 2 tahun menikah belum ada tanda-tanda ia hamil ini semakin membuat ia uring-uringan dan kepuasan yang dia harapkan dari suaminya tidak dapat Yeni nikmati. Sedang kalau ia melihat sosok Udin tidaklah sebanding dengannya karena status sosial dan intelektualnya jauh dibawah suaminya ditambah face-nya yang tidak masuk katagorinya di tambah lagi kehidupan Udin yang bergelimang dengan kuda kadang membuatnya jijik, namun semua itu dibiarkannya karena Yeni butuh bantuan Udin mengantar jemput, ditambah Udin memang baik terhadapnya. Kalau dilihat sosok Yeni, ia seorang wanita karier berusia 27 tahun dan ia telah bekerja di bank itu kurang lebih 4 tahun, ia menikah dengan Beni, belun dikaruniai anak, tingginya 161 cm, rambut sebahu dicat agak pirang, kulit putih bersih dan memiliki dada 34B sehingga membuat para lelaki ingin dekat dengannya dan menjamah payudaranya yang montok dan seksi. Dengan berbekal pelet yang diberikan gurunya, Udin mendatangi rumah Yeni. Malam itu gerimis dan Udin mengetuk pintu rumah Yeni. Kebetulan yang membukakan pintu adalah Yeni yang saat itu sedang membaca majalah. "Eee.. Bang Udin tumben ada apa Bang?" tanya Yeni. "Ooo.. saya ingin nonton acara bola sebab saya tidak punya televisi apa boleh Bu Yeni?" jawab Udin. "Ooo.. boleh.. masuklah.. Bang.. langsung aja ke ruang tengah, televisi disitu.." Yeni menerangkan sambil ia menutup pintu. Diluar hujan mulai lebat. "Sebentar ya Bang?" Yeni ke belakang, membuatkan minum untuk Udin. Udin duduk diruangan itu sambil melihat televisi. Tidak berapa lama Yeni keluar membawa nampan berisi segelas air dan makanan kecil, sambil jongkok ia menyilakan Udin minum. Saat itu Udin sempat terlihat belahan dada Yeni yang mulus sehingga Udin berdesir dadanya karena kemulusan kulit dada Yeni. Sambil minum Udin menanyakan, "Mak Minah mana Bu, kok sepi aja?" "Ooo Mak Minah sudah tidur," jawab Yeni. "Bagaimana kabarnya Bang?" Yeni membuka pembicaraan. "Baik-baik saja," jawab Udin sambil melafalkan mantera peletnya. Sambil menonton Udin berulang-ulang mencoba manteranya, saat itu Yeni sedang asyik membaca majalah. Merasa manteranya telah mengenai sasaran, Udin berusaha mengajak Yeni bicara tentang rumah tangga Yeni dan suaminya, diselingi ngomong jorok untuk membuat Yeni terangsang. Bu, sudah berapa lama Ibu kawin dan kenapa belum hamil?" tanya Udin. "Lho malu saya Bang, soalnya suami saya sibuk dan saya juga sibuk bekerja bagaimana kami mau berhubungan dan suami saya selalu egois dalam bercinta." jawab Yeni menjelaskan. "Oh begitu? bagaimana kalau suami ibu jarang datang dan ibu butuh keintiman?" tanya Udin. "Jangan ngomong itu dong Bang, saya malu masa rahasia kamar mau saya omongin ama Abang?" jawab Yeni. "Bu Yeni, saya tau Ibu pasti kesepian dan butuh kehangatan lebih-lebih saat hujan dan dingin saat ini apa Ibu nggak mau mencobanya?" Udin berkata dengan nada terangsang. "Haa.. dengan siapa?" jawab Yeni, "Sedang Beni suamiku di kota," timpalnya. "Dengan saya.." jawab Udin. "Haa gila! masa saya selingkuh?" Yeni menerangkan sambil mengeser duduknya. Udin merasa yakin Yeni tidak menolak jika ia memegang tangannya. "Jangan lah Bang, nanti dilihat Mak Minah." Yeni mengeser duduknya. "Oooh.. Mak Minah udah tidur tapi..?" jawab Udin memegang tangan Yeni dan mencoba memeluk tubuh mulus itu. Sambil mencoba melepaskan diri dari Udin Yeni beranjak ke kamar, ia memang berusaha menolak namun pengaruh dari pelet Udin tadi telah mengundang birahinya. Ia biarkan Udin ikut ke kamarnya. Saat berada di kamar, Yeni hanya duduk di pingir ranjangnya dan Udin berusaha membangkitkan nafsu Yeni dengan meraba dada dan menciumi bibir Yeni dengan rakus sebagaimana ia telah lama tidak merasakan kehangatan tubuh wanita. Udin berusaha meremas dada Yeni dan membuka blous tidur itu dengan tergesa-gesa, ia tidak sabar ingin menuntaskan birahinya selama ini. Sementara mulutnya tidak puas-puasnya terus menjelajahi leher jenjang Yeni turun ke dada yang masih ditutupi BH pink itu. Sementara Yeni hanya pasrah terhadap perbuatan Udin, ia hanya menikmati saat birahinya ingin dituntaskan. Kemudian tangan Udin membuka tali pengikat BH itu dari belakang dan terlihatlah sepasang gunung kembar mulus yang putingnya telah memerah karena remasan tangan Udin. Dengan mulutnya, Udin menjilat dan mengigit puting susu itu sementara tangan Udin berusaha membuka CD Yeni dan mengorek isi goa terlarang itu. Udinpun telah telanjang bulat lalu ia meminta Yeni untuk mengulum batang kemaluannya, Yeni menolak karena batang kejantanan Udin panjang, besar dan baunya membuat Yeni jijik. Dengan paksa Udin memasukan batang kejantanannya ke mulut Yeni dengan terpaksa batang kejantanan itu masuk dan Yeni menjilatnya sambil memainkan lidah di ujung meriam Udin. Udinpun tidak ketinggalan dengan caranya ia memainkan lidahnya di liang kewanitaan Yeni, lebih-lebih saat ia menemukan daging kecil di belahan liang kewanitaan itu dan dijilatinya dengan telaten sampai akhirnaya setelah berualng-ulang Yeni klimaks dan menyemburkan air maninya ke mulut Udin. Saat lebih kurang 20 menit Udinpun memuncratkan maninya ke mulut Yeni dan sempat tertelan oleh Yeni. Kemudian Udin mengganti posisi berhadap-hadapan, Yeni ditelentangkannya di ranjang dan di pinggulnya diletakkan bantal lalu ia buka paha Yeni dengan menekuk tungkai Yeni ke bahunya. Sambil tangannya merangsang Yeni kedua kalinya Udinpun meremas payudara Yeni dan mengorek isi liang kewanitaan Yeni yang telah memerah itu, lalu Yeni kembali dapat dinaikkan nafsunya sehingga mudah untuk melakukan penetrasi. Bagi Udin inilah saat-saat yang di tunggu-tunggunya, paha yang telah terbuka itu ia masukkan batang kejantanannya dengan hati-hati takut akan menyakiti liang kewanitaan Yeni yang kecil itu. Berulang kali ia gagal dan setelah sedikit dipaksakan akhirnya batang kejantanannya dapat masuk dengan pelan dan ini sempat membuat Yeni kesakitan. "Ouu.. jangan keras-keras Bang, ntar berdarah," kata Yeni. "Sebentar ya.. Yen sedikit lagi," kata Udin sambil mendorong masuk batang kejantanannya ke dalam liang kewanitaan sempit itu. Dengan kesakitan Yeni hanya membiarkan aksi Udin itu dan mulutnya telah disumbat oleh bibir Udin supaya Yeni tidak kesakitan. "Ooouu.. ahh.. ahh.. aahh.." hanya itu yang terdengar dari mulut Yeni dan itu berlangsung lebih kurang 17 menit dan akhirnya Udin menyemburkan air kenikmatannya dalam liang kewanitaan Yeni sebanyak-banyaknya dan ia lalu rebah di samping Yeni hingga pagi. Permainan mesum itu berlangsung tiga kali dan membuat Yeni serasa dilolosi tulang benulang hingga ia merasa harus libur ke kantor karena ia tidak kuat dan energinya terkuras oleh Udin malam itu. Sejak kejadian itu hampir setiap kesempatan mereka selalu melakukan hubungan gelap itu, karena Yeni telah berada dibawah pengaruh pelet Udin dan saat suaminya datang Yeni pandai mengatur jadwal kencannya sehingga tidak membuat curiga suami dan masyarakat di desa itu, mereka kadang-kadang melakukan hubungan seks di gubuk Udin yang memang agak jauh dari rumah penduduk lainnya. Yenipun rajin menggunakan pil KB karena ia juga takut hamil karena hubungan gelapnya itu dan suatu hari ia terlupa dan ia positif hamil, ia amat gusar dan karena pintarnya Yeni memasang jadwal dengan suaminya maka suaminya amat suka cita dan padahal Udin tahu benih itu adalah anaknya karena hampir tiap ada kesempatan ia melakukanya dengan Yeni sedang dengan suaminya Yeni hanya sekali 20 hari dan tidak rutin. Akhirnya anak Yeni lahir di kota karena saat akhir kehamilannya, Yeni pindah ke kota sesuai permintaan suaminya, tidak ada kemiripan anaknya denagn Beni yang ada hanya mirip Udin. Sejak Yeni berada di kota, secara sembunyi-sembunyi Udin menyempatkan diri untuk berkencan dengan Yeni karena Yeni sudah tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh pelet Udin. |
| Posted: 06 Jul 2008 10:13 AM CDT Batang penisku juga sudah terasa kesemutan, mau menumpahkan muatannya. Tapi aku tahan dulu. Kuangkat kedua kakinya di belakang lututnya dengan kedua tangan, sehingga seperti digendong. Tapi batang penisku masih menancap di lubang vaginanya. Lalu aku jalan menuju tembok dan aku rapatkan badannya ke tembok dengan tetap kugendong. Bagiku tidak ada masalah mengangkatnya. Tidak percuma aku hobby olah raga. Lalu aku mulai menggoyang pinggangku maju mundur, goyang kiri, goyang kanan. Matanya sebentar-sebentar terpejam, sebentar kemudian terbuka lebar. Sisa air yang dia keluarkan tadi menimbulkan irama yang teratur seirama dengan goyangan pantatku. Tidak lama dia keluarkan lagi muatan dari dalam vaginanya. Suara erangannya lebih seru dari yang pertama. Leherku dipeluknya kencang, didekap ke dadanya, disela-sela bukit. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Kejadian ini kira-kira seminggu yang lalu. Aku bekerja di bagian EDP sebuah perusahaan swasta di daerah Kuningan, Jakarta. Untuk sambilan aku juga punya usaha kursus private komputer. Siang itu Ibu Vivi, salah satu klien telepon. Katanya dia belum tahu juga cara mengirim e-mail. Maklum baru sekali aku mengajarinya. Dari pembicaraan disetujui untuk ketemu jam 7 malam. Karena dia sampai rumah jam 6 sore. Dia kerja jadi interpreter bahasa Jepang. Jam 18.45 aku sudah sampai di Lobby Apartemen-nya di bilangan Benhil. Tidak lama dia nongol di Lobby dengan masih memakai pakaian kerjanya, dan segera mengajak saya naik ke Apartemennya. Tanpa ganti baju, dia langsung ke meja komputernya dan menghidupkannya. Tidak lama masalahnya beres, e-mailnya bisa terkirim semua. Dia cuma lupa tidak clik "send & receive". Kemudian dia minta diajari browsing memakai Explorer. Berhubung dia jarang memakai komputer, maka dia terlihat kaku cara memegang mouse-nya. Entah apa sebabnya aku bermaksud memberinya contoh, eh tangan dia masih memegang mouse. Yah tangannya keremas oleh tanganku yang kekar dan keras. Aduh.., halus juga tangan Ibu Vivi. aku buru-buru menarik tanganku, tidak enak takut dikatakan kurang ajar. Suaminya adalah teman bosku. Kalau dilaporkan bisa-bisa aku dipecat. Dia melepaskan mouse, dan gantian aku yang memegang mouse-nya sambil memberitahu dia tentang perbedaan bentuk kursor. Aku belum menyuruhnya mencoba, eh.. tangannya langsung memegang mouse yang masih aku pegang. Yah tahu sendiri kan tanganku yang dia pegang. Aku ingin melepaskan tapi sayang karena halus sekali telapaknya. Dan bau parfumnya juga lembut, membuatku betah di dekatnya. Aku biarkan saja. Aku pikir dia akan melepaskan tanganku, eh.. ternyata tidak lepas juga tanganku dari genggamannya. Malah tanganku dielus-elus dengan lembut. Maklum tanganku bulunya juga lumayan lebat. Aku beranikan diri untuk menegurnya, "Ibu.., sebentar lagi Bapak pulang..". Belum sempat berkata banyak, jari telunjuk tangan satunya diletakkan di depan bibir sambil, "psst..", dan kata dia, "Hari ini dia ke bini tuanya..". Aduh rejeki nomplok nih, kataku dalam hati. Tapi aku pura-pura tidak berminat. Meski dalam hati sudah suka sekali. Tanganku yang masih memegang mouse masih di elus. Kebetulan aku duduk di sebelah kanannya, jadi tangan kiriku bebas. Dan lagi kursinya tidak memakai tangan-tangan. Makin nikmat saja. Tangan kirinya mengelus tangan kiriku dan diangkatnya, dan ditaruh di atas pahanya yang putih dan mulus. Meski dia tidak memakai rok mini, tapi karena duduk, ketarik juga ke atas. Roknya yang biru tua menambah kontrasnya warna. Setelah meletakkan tanganku, tangan Ibu Vivi bergerak lagi ke tengkukku, dan dielusnya. Wow.., kini makin panas badanku. Secara refleks tanganku juga membalas aksinya, dan kuelus pahanya pelan-pelan. Makin lama makin ke atas menuju pangkalnya. Roknya pun makin tersibak ke atas terdorong tanganku. Makin ke atas makin mulus. Kuusap pangkal pahanya dan matanya mulai nanar. Ibu Vivi sebenarnya biasa saja, tidak terlalu istimewa. Tingginya juga tidak sampai 160 cm. Kalau berdiri dia tidak lebih tinggi dari pundakku. Cuma body-nya sungguh menggiurkan dan kulitnya juga putih mulus. Maklum dia masih keturunan Chinesse. Kasihan dia, cuma jadi istri muda. Jadi jatah batinnya tidak terima full. Padahal usianya belum sampai 30 th, hampir sebaya aku. Kini tanganku sudah hilang di dalam rok kerjanya, mengusap-usap pangkal pahanya. Kemudian dia berdiri di depanku yang masih duduk. Lalu kancing bajunya dibuka semua. Tapi bajunya tidak dilepas. Dia tarik tanganku, dipindahkannya ke pinggangnya. Kaus dalamnya kuangkat, dan perutnya yang putih bersih pun terpampang di depanku. Kuciumi perutnya dan sekeliling pusarnya kujilati. Dia menggelinjang kegelian. Kedua tangannya mengacak-acak rambutku dan kadang kala dijambaknya. Baju dan kaus dalamnya sudah lepas dari roknya. Kaus dalamnya kuangkat lebih ke atas, dan tampak BH-nya menyangga bukit yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Pokoknya bentuknya bagus dan ukurannya pas. Dan tentu saja halus. Kebetulan kancing BH-nya di depan, jadi tanpa usaha lebih keras aku sudah bisa melepas BH-nya. Bukit kembarnya tersaji jelas di depanku. Sedikit kendor, tapi masih oke. Aku sambut salah satu putingnya yang berwarna coklat muda dengan bibir dan lidah. Sementara tangan kananku melintir putingnya yang satu lagi. Seperti mencari gelombang radio. Betul juga.., tidak beberapa lama terdengar desis seperti gelombang FM stereo. Tanganku yang satu lagi menyusup ke dalam roknya dan meremas-remas pantatnya yang juga sudah agak turun. Maklum lah sudah hampir 30 th umurnya. Tangan Ibu Vivi (Oh ya aku tetap panggil dia Ibu karena dia customerku) yang satu lagi sudah pindah aktivitasnya ke selangkanganku. Penisku yang sudah tegang tampak jelas menonjol dari balik celanaku. Itu yang menjadi sasaran akTVitasnya. Bahkan zipperku sudah dia turunkan, jadi tampak jelas ujung moncong meriamku dari balik celana dalamku. Karena dielus terus penisku bertambah panjang sampai ukuran maksimalnya. Kira-kira 2 centimeter di bawah pusar. Tangannya pun sudah masuk ke dalam CD-ku dan mulai mengocok-ngocoknya. Akhirnya ujung penisku keluar dengan sendirinya dari balik CD-ku. Akupun tidak mau kalah, tanganku yang di pantatnya, aku pindah aktivitasnya ke sela-sela pahanya. Dari CD-nya sudah terasa kalau vaginanya sudah basah. Aku tarik sedikit CD-nya ke bawah, dan dengan sedikit digeser ke samping, aku sudah bisa memegang belahannya. Lalu kuusap-usap dengan jari tengah. Sementara desis FM stereonya makin keras terdengar, "Ssst.., uuhh.., uhh.., sst". Dengan dibantu jari telunjuk, aku pegang clitorisnya yang kebetulan agak panjang dan kupilin nakal. Gerakan badan Ibu Vivi makin keras dan kepalanya sering ditarik ke belakang. Badannya bergetar. Suaranya makin seru, untung di apartemen, jadi tdak terlalu gaduh karena jauh dari tetangga. "Yan.., lepasin celanaku.., aku sudah nggak tahan", bisik Ibu Vivi. Dengan patuh aku penuhi permintaannya. Sementara tangannya sibuk melepas sabukku dan memelorotkan celanaku serta CD-ku sekaligus hingga lutut. Dia agak terkejut melihat penisku. "Kamu punya ukuran boleh juga.., dari pertama kamu ke sini sudah kuperhatikan, makanya aku pingin", katanya setengah sadar setengah terdengar. Sementara CD-nya sudah tergeletak di lantai. Aku masih duduk di kursi tanpa sandaran tangan. Kuangkat roknya dan aku cium pahanya. Bahkan aku sempat kasih tanda merah di kedua pangkal pahanya. Dia sudah tidak sabar lagi, tanpa memberiku kesempatan untuk melepaskan celana secara sempurna, dia sudah memegang ujung penisku dan dibimbingnya menuju lubangnya yang basah dan hangat. Serta berbulu sedikit pada bagian atasnya saja. Pelahan tapi pasti Ibu Vivi menurunkan pantatnya, "Bless". Matanya terbelalak merasakan batang penisku menyusup dengan hangat ke lubang vaginanya. Rupanya basahnya sudah sempurna hingga tanpa kesulitan sudah ¾ batang penisku masuk ke vaginanya. Tapi berhenti sampai di situ saja, tidak di terusin lagi. "yan.., batang penismu panjang betul", katanya sambil mulai menaik-turunkan pantatnya. Sementara aku menenangikan pikiran, ambil napas, dan kosentrasi ke tempat lain. Biar customerku puas duluan. Aku coba memperhatikan TV yang sedang menyiarkan sinetron. Jadi konsentrasiku tidak tertuju pada penisku yang sedang dikerjai habis-habisan oleh Ibu Vivi. Naik turun, digoyang ke kiri dan ke kanan, diputar. Entah diapain lagi. Eh.., bener tidak lama badannya terasa bergetar lalu melenguh seperti sapi.., uhh.., yang lebih keras dari sebelumnya dan tiba-tiba memelukku kencang sekali dan jarinya meremas punggungku. Untung aku masih memakai baju. Kalau tidak, bisa-bisa kuku Ibu Vivi menancap di punggungku. Keringatnya menetes ke baju kerjanya yang belum sempat dilepas, terlihat makin cantik dengan tetesan keringat di rambut dan keningnya. Sementara biji pelirku juga terasa basah oleh cairan dari vaginanya. "Ugghh.., gila, nikmat sekali", katanya. "Ibu terusin aja", aku nimpali. "Ah.., panggil Vivi aja, entar aku lemas banget", jawabnya. Batang penisku juga sudah terasa kesemutan, mau menumpahkan muatannya. Tapi aku tahan dulu. Kuangkat kedua kakinya di belakang lututnya dengan kedua tangan, sehingga seperti digendong. Tapi batang penisku masih menancap di lubang vaginanya. Lalu aku jalan menuju tembok dan aku rapatkan badannya ke tembok dengan tetap kugendong. Bagiku tidak ada masalah mengangkatnya. Tidak percuma aku hobby olah raga. Lalu aku mulai menggoyang pinggangku maju mundur, goyang kiri, goyang kanan. Matanya sebentar-sebentar terpejam, sebentar kemudian terbuka lebar. Sisa air yang dia keluarkan tadi menimbulkan irama yang teratur seirama dengan goyangan pantatku. Tidak lama dia keluarkan lagi muatan dari dalam vaginanya. Suara erangannya lebih seru dari yang pertama. Leherku dipeluknya kencang, didekap ke dadanya, disela-sela bukit. "Yan, kamu sudah nyampe belum?", tanyanya setelah berhasil mengatur nafasnya. "Hampir Bu". "Turunin aku dulu", tanpa mengiyakan, aku turunkan tubuhnya lalu melangkah ke meja tamu mengambil tisue. Dia memasukkan tangannya ke dalam roknya dan dia mengelap vaginanya yang basah kuyup. Sementara batang penisku berdenyut-denyut semakin keras pertanda muatannya minta dibongkar. Dengan tidak sabar aku ikuti Ibu Vivi ke ruang tamu, dan dari belakang aku peluk dia. Lalu aku minta dia menunduk dengan kaki mengangkang. Lalu aku naikkan rok kerjanya hingga pantatnya yang putih kemerahan dan vaginanya yang putih kemerahan dengan bulu yang tipis tampak menantang untuk dijamah. Dengan bepegangan pada sandaran tangan kursi tamu. Dia menikmati lagi sentuhanku. Kali ini yang bekerja lidahku. Aku jilat sedikit clitorisnya dan di jilati agar basah lagi. Tidak sampai dua menit sudah tampak ada cairan bening lagi di vaginanya. Maklum lampunya tidak dimatikan dan terang lagi. Jadi detailnya kelihatan jelas. Aku akhiri kegiatan jilat menjilat, karena muatanku sudah meronta minta dikeluarin. Lalu aku masukkan lagi dari belakang penisku ke vaginanya. Dia mendesis lagi demikian juga aku. Hangat dan lembab. Lalu aku mulai goyang kiri kanan, kadang-kadang aku putar. Sementara aku makin berat menahan muatanku, aku tanya dia, "Bu boleh keluari di dalam..". "Boleh, emang sudah hampir..". "Ya". "Kita sama-sama ya". Aku goyang terus sampai aku merasa sangat nikmat karena muatanku sudah sampai di dekat pintu. Lalu kupeleuk dia dari belakang sambil aku remes dadanya. Dan, "cret.., cret.., cret", air maniku muncrat di dalam lubang vaginanya. Dan Ibu Vivi pun merintih lalu mencengkeram tangan-tangan kursi dengan erat serta badannya bergetar dan menegang. Rupanya dia klimaks juga. Dengan penisku dan vaginanya masih bersatu aku tetap memeluknya dari belakang. "Thanks Yan.., kamu sangat hebat. Kamu telah memberiku kenikmatan seks yang tiada". Cuma kujawab, "Ibu juga hebat". Tiba-tiba aku merasa ada cairan hangat meleleh dari vaginanya, dan jatuh ke lantai. Rupanya air maniku dan air kenikmatannya bercampur jadi satu dan jatuh. Lalu aku cabut penisku yang sudah lemas dan "pluk" suaranya seperti botol sampanye dibuka. Dengan rok kerja yang masih terangkat dan dipeganginya, dia berbalik ke arahku dengan memperlihatkan bulu kemaluannya yang tipis dan tersenyum. Tidak lama dari vaginanya jatuh lagi campuran maniku dan air kenikmatannya di lantai dan kali ini lebih banyak. Ada juga yang meleleh di pahanya yang mulus. Rupanya dia menikmati betul air maniku. saat aku mau membersihkan dengan tisue, eh dia melarangnya. "Biarin aja, aku ingin menikmatinya" . Wah, erotis juga nih orang. Rupanyanya dia belum pernah merasakan klimaks sebelumnya. Hal itu aku tahu saat dia mengantarkanku turun ke lobby. Katanya, suaminya paling lama tahan cuma 3 menit. Dia kawin karena suka sama duitnya. Maklum teman bosku bisnisnya lumayan maju, eksportir hasil bumi yang tidak terkena dampak turunnya nilai rupiah terhadap dollar. Di lift sekali lagi di bilang thank you, dan dia berharap komputernya sering rusak. Sejak saat itu terjalinlah cinta kasih yang dilampiaskan secara sembunyi-sembunyi antara aku dengan Ibu Vivi. |
| Posted: 06 Jul 2008 10:06 AM CDT Tanganku menelusup ke balik kaos Mayang, menjalar menuju gundukan payudara yang tidak terlalu besar namun padat. Rangsangan2 yang kuberikan akhirnya mampu meredam perlawanan Mayang. Secara perlahan dia merebahkan tubuhnya, aku mengikuti dan langsung menindih tubuhnya. "Yudha... jangan terlalu jauh ya..." Bisik Mayang di sela2 nafasnya yang memburu. Aku tidak menjawab permintaannya, dari atas tubuhnya, aku mulai melepaskan kancing baju Mayang satu persatu. Mayang berusaha berontak ketika aku melepaskan bajunya, namun aku berhasil membuka baju tersebut, bahkan sekalian merenggut bra nya hingga payudaranya terbuka dengan lebar. Puting payudaranya menyembul keras, payudara ini pasti pernah dijamah seseorang, mungkin Surya, fikirku. Tapi aku tidak peduli, payudara ini tetap menawan. Erangan halus keluar dari mulut Mayang ketika mulutku mengulum dan mempermainkan putingnya. Aku membiarkan dia mengerang selama beberapa lama, semakin liar lidahku bergerak, semakin kuat erangan Mayang. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Namanya Mayang (nama Aslinya sengaja aku simpan).. 19 tahun... Sejak awal ketemu dia, aku sudah tertarik dengan gaya lugu-nya -- namun aku sendiri tidak menyangka bisa mendapatkan tubuhnya dengan mudah. Semuanya berawal dari ajakan temanku untuk ikut liburan selama beberapa hari ke Kota Kuningan. Awalnya aku ragu, namun akhirnya aku memutuskan untuk ikut. Hari pertama, Adhi mengajakku untuk nongkrong di Toserba Yogya, di sana dia menemui beberapa teman lamanya, sekalian cuci mata karena area toserba Yogya juga merupakan salah satu pusat tongkrongan anak muda di Kuningan. Saat sedang mengisi pulsa di salah satu otlet yang dijaga oleh temannya Adhi, ada seorang gadis yang menepuk pundakku dari belakang. "Dicariin di Timezone malah ada di sini," katanya tanpa ba bi bu. Mata gadis itu membelalak lucu ketika sadar bahwa aku bukanlah orang yang dia maksud. "Duh, maaf...." Ujarnya pelan, lalu dia mendelik kepada Jay --penjaga outlet-- yang tertawa melihat kejadian itu. "Makanya, jangan asal serobot az, May" Jay berkata disela tawanya, ternyata Jay dan gadis itu telah saling mengenal. "Maaf ya, saya kira..." Gadis itu tidak meneruskan ucapannya karena aku potong. "Gak papa, kok." Ujarku sambil berusaha menampilkan senyum simpatik. Harus tebar pesona, soalnya gadis di depanku ini manisnya minta ampun. "Di gebug lagi juga gak apa2, Neng'" timpal Adhi sambil mengedipkan matanya padaku. Gadis itu masih tersipu, lalu dia cepat2 berlalu dari tempat itu. "Kemana, May?" tanya Jay sebelum gadis itu menghilang. "Masuk lagi, waktu istirahat dah abis." Jawab Mayang, lalu dia menghilang di balik mobil2 yang diparkir di depan outlet. "Namanya Mayang, Dia SPG," Jay menerangkan sebelum Adhi sempat buka suara untuk menanyakan siapa gadis itu. "Halagh... tau az Lu, Jay. Gue blom nanya Lu udah jawab duluan," Adhi terkekeh. "Gue udah bisa baca dari sorot mata keranjang Lu itu," Aku pura2 sibuk menulis sms, namun dalam hatiku aku berusaha mengingat baik2 nama gadis itu. Mayang, SPG H&R Toserba Yogya. ------------------------------------------------------------------------ Dua hari berlalu sejak kejadian itu. Tidak ada kejadian istimewa lain, tiap hari Adhi mengajakku mengunjungi tempat2 yang dulu biasa dia jadikan tempat nongkrong bersama teman2 lamanya. Aku bahkan hampir lupa soal pertemuanku dengan Mayang. Hingga akhirnya pada Malam Minggu Adhi mengajak aku untuk menonton acara Mentari on the Street, acara pentas musik band lokal yang rutin diadakan setiap malam minggu oleh salah satu radio di Kuningan. Di sana aku kembali melihat Mayang. Dia sedang asyik menonton aksi panggung salah satu band lokal sambil dipeluk dari belakang oleh seorang cowok. "Wah, udah punya cowok dia," ujar Adhi yang juga melihat Mayang. "Wajar lah, cewek manis gitu..." jawabku sambil mengalihkan pandangan ke arah panggung. Lalu aku dan Adhi sibuk menertawakan aksi vokalis norak yang kehabisan nafas ketika meneriakkan reff lagu Crawling-nya Linkin Park... Selang beberapa lagu, aku kembali melirik tempat di mana tadi aku melihat Mayang. Gadis itu masih sedang bersama cowoknya, namun kali ini tidak mesra seperti tadi. Mereka seperti sedang bertengkar, lalu Si Cowok pergi begitu saja sambil menunjuk-nunjuk Mayang dengan marah. Dari jauh aku bisa melihat mata gadis itu berkaca-kaca, dia menggigit bibir menahan tangis. Secara naluri aku langsung menghampirinya. "Ada apa, May? Kok Kamu bertengkar ama dia?" tanyaku kemudian. Mayang menatapku selama beberapa detik, "Ah, Kamu yang ketemu aku di Outlet nya Jay, ya?" "Iya, namaku Yudha. Sori bukan mo ikut campur, aku hanya gak tega melihat kamu hampir nangis di tempat seramai ini." "Ah, sudahlah... Gak perlu di bahas," Mayang memalingkan wajahnya, mungkin dia merasa canggung karena aku melihatnya hampir menangis. "Surya memang begitu orangnya, moody banget". "Oh, jadi cowok kamu namanya Surya?" Mayang mengangguk. "Dha, mau bantu aku ngga?" "Tentu," jawabku. "Bisa anterin aku pulang gak? Aku gak berani pulang sendiri malem-malem gini" "Memangnya rumah KAmu di mana?" "Di Kadugede," Aku tidak tahu KAdugede itu sebelah mana, tapi siapa peduli? Toh Mayang bisa menunjukkan jalan. "Ok," jawabku kemudian. "Aku ngambil kunci motor dulu ya". LAlu aku menghampiri Adhi dan memnjam kunci motornya. "Wah, dapet rejeki, Lu". Ledek Adhi sambil melemparkan kunci motor yang aku pinta. Aku mengedipkan mata. Sepanjang perjalanan pulang, aku tahu Mayang menangis di belakangku. Tapi aku pura2 tidak tahu, aku tidak mau dia merasa canggung. Sesampainya di rumah, Mayang memintaku untuk masuk sebentar. Di rumah itu hanya ada neneknya yang telah tertidur pulas di kamar belakang. Mayang bercerita bahwa orang tuanya tinggal di Bandung. "Silakan di minum, Dha." Kata Mayang sambil menyimpan gelas minuman ke atas meja di depanku. Aku mengangguk. "Aku ganti baju dulu, ya." Lanjut Mayang kemudian, lalu dia berlalu ke kamarnya. Kamar Mayang terletak tidak jauh dari ruang tamu, saat sedang berganti pakaian, aku mendengar Mayang bertengkar lagi dengan surya di telepon. Entah apa yang mereka permasalahkan, yang jelas aku mendengar Mayang bertengkar sambil menangis. Setelah pertengkaran itu, Mayang tidak juga keluar dari kamarnya. Setelah menunggu selama 30 menit lebih, akhirnya aku memberanikan diri untuk menghampiri Mayang di kamarnya. Mayang sedang menangis di atas tempat tidur ketika aku masuk. "Mungkin sebaiknya aku pulang ya" Ujarku sambil duduk di pinggir tempat tidur. Mayang tersentak, "Aduh, Maaf, Dha. Aku gak bermaksud nyuekin Kamu" "Gak papa kok, aku maklum." "Entahlah, Dha. Aku bingung, hubunganku dengan surya akhir2 ini semakin kacau." Nada bicara Mayang menunjukkan bahwa dia sedang butuh teman bicara, akhirnya aku membatalkan niatku untuk pulang dan berusaha sebijak mungkin memberikan kata-kata penghibur untuk Mayang. Setelah beberapa lama, akhirnya Mayang menghapus air matanya lalu duduk di sampingku. "Nah, gitu dong, jangan sedih melulu" Ujarku sambil mengambil ponsel dari saku celanaku. "Aku foto ya, beri aku senyuman." Mayang tersenyum, lalu aku mengambil gambarnya beberapa kali menggunakan kamera ponsel. Saat sedang mengambil gambar, secara tidak sengaja aku melihat belahan payudaranya yang tersembul di balik kerah kaosnya. Aku yang memang sejak tadi menahan hasrat, akhirnya tak mampu lagi membendung. Perlahan aku duduk di samping Mayang, tanpa permisi terlebih dahulu aku langsung memeluk dan menciumnya. Mayang sempat kaget lalu berusaha berontak, namun aku mempererat pelukanku dan memperdalam ciumanku. "Hmmpphhhh, Dha...." Rintih Mayang di sela-sela hujanan ciumanku. "Jangan menolak, May. Aku butuh kamu." Bisikku sambil mengalihkan ciumanku ke lehernya yang jenjang. Aroma wangi tercium dari tubuhnya, membuatku semakin hilang kendali. Tanganku menelusup ke balik kaos Mayang, menjalar menuju gundukan payudara yang tidak terlalu besar namun padat. Rangsangan2 yang kuberikan akhirnya mampu meredam perlawanan Mayang. Secara perlahan dia merebahkan tubuhnya, aku mengikuti dan langsung menindih tubuhnya. "Yudha... jangan terlalu jauh ya..." Bisik Mayang di sela2 nafasnya yang memburu. Aku tidak menjawab permintaannya, dari atas tubuhnya, aku mulai melepaskan kancing baju Mayang satu persatu. Mayang berusaha berontak ketika aku melepaskan bajunya, namun aku berhasil membuka baju tersebut, bahkan sekalian merenggut bra nya hingga payudaranya terbuka dengan lebar. Puting payudaranya menyembul keras, payudara ini pasti pernah dijamah seseorang, mungkin Surya, fikirku. Tapi aku tidak peduli, payudara ini tetap menawan. Erangan halus keluar dari mulut Mayang ketika mulutku mengulum dan mempermainkan putingnya. Aku membiarkan dia mengerang selama beberapa lama, semakin liar lidahku bergerak, semakin kuat erangan Mayang. Kemudian aku melepaskan kaos yang ku kenakan, lalu kembali menindih tubuhnya. Aku mengerang lirih ketika kulitku bersentuhan dengan kulitnya yang halus. Rudalku mengeras hebat di balik celana jeansku. Mayang menolak ketika aku berusaha menyingkap rok nya, dia menamparku ketika aku berusaha memaksa. Untuk sejenak, aku harus melupakan keinginanku mempermainkan bagian bawahnya. Aku kembali menyerang payudara dan perutnya dengan usapan lidahku, ketika Mayang terbuai, sedikit demi sedikit aku mempreteli pakaian yang masih menempel di tubuhnya hingga terlepas semua, dan aku pun mempreteli semua pakaian yang masih melekat di tubuhku. Mayang berusaha mendorong tubuhku ketika dia sadar aku dan dia telah telanjang bulat. "Jangan, Dha... Aku masih milik Surya..." Bisiknya lemah. Tapi mana mau aku melepaskan kesempatan ini. "Beri aku satu kali saja, aku ingin menikmati tubuhmu..." "Jangan, Dha...." "Ayolah, May... Atau, kamu masih perawan?" Mayang menggeleng, "Surya telah mengambilnya" "Kalau begitu, apa salahnya kalau kamu memberiku kesempatan?" Aku tetap berusaha menindihnya, memperkuat posisiku diantara perlawanan Mayang yang semakin melemah. Kepala tongkatku beberapa kali menggesek bibir vaginanya, ketika tepat di depan lubang senggama Mayang, aku berusaha menekan, namun beberapa kali usahaku gagal karena Mayang merapatkan kakinya. "Aku tidak mau menghianati Surya, karena..... Ahhhhhh..." Mayang tidak melanjutkan ucapannya ketika akhirnya kepala tongkatku berhasil memasuki liang kenikmatan tersebut. Aku mengerang keras, sensasi kenikmatan menjalar cepat. Penisku belum masuk semua, liang senggama Mayang terasa sempit. Beberapa kali aku bergerak maju mundur hingga akhirnya BLESSSHHHH.... seluruh penisku masuk. Mayang mengerang, vaginanya yang belum dilumasi secara sempurna terasa seret, sisa2 perlawanannya mulai berakhir.... Aku terus bergerak, menjemput kenikmatan demi kenikmatan dari tubuh Mayang. Secara perlahan, Mayang mulai menikmati dan ikut berperan hingga akhirnya persetubuhan ini berjalan seimbang. Bunyi khas terdengar dari liang senggamanya seirama dengan gerakan2 yang kami buat. "Ahhhh... Yudha... punyamu besar sekali........" "Nikmatilah sepuasmu, Sayang.... Aku juga... ahhh...." Pijatan halus vagina Mayang yang mengurut penisku membuatku tak mampu menyelesaikan ucapanku. "Aku mau keluaarrrr....." Desis Mayang.... Beberapa lama kemudian liang senggamanya semakin penuh oleh cairan... Aku masih terus mengayun, lalu aku bangkit dan melipat kedua kakiku. Tanpa membiarkan terlepas, aku menyetubuhinya dalam posisi baru. Erangan dan rintihan masih berbaur. Sekilas mataku melihat ponsel milikku tergeletak di sebelah kiri. Ponsel itu kuambil, sambil tetap menyetubuhi Mayang, aku mengambil beberapa gambar melalui kamera ponselku. JEPRET!!! Yudha... apa yang kamu lakukan?" tanya Mayang di sela2 erangannya. Aku tidak menjawab karena puncak kenikmatan semakin mendekat. Gerakan itu kupercepat dan aku kembali menjatuhkan tubuhku menindih tubuh Mayang. Sengatan-sengatan kenikmatan semakin cepat menerjang. "Ahh... Dha... aku mau keluar lagi........" MAyang mengerang.... "Aku juga, Sayaaanggg," jawabku, pelukanku kuererat, gerakanku semakin ku percepat, intensitas enikmatan yang semakin meningkat membuatku tak tahan dan meninggalkan beberapa gigitan di leher dan dagu Mayang. "Ahhh Ahhhhh Ahhhhhh.... Mayang semakin keras mengerang....." "Ugh... keluarin di mana, Sayang?" tanyaku, gerbang puncak telah di depan mata. "Jangan dicabuuutt... Di dalam saja, semprotkan semuanya padakuuuuuuu...." Tubuhku mengejang, sensasi kenikmatan meledak di puncaknya diiringi erangan panjang aku dan Mayang..... Aku menyemprot kuat beberapa kali... "Kamu tidak takut hamil?" tanyaku setelah puncak kenikmatan berlalu perlahan. Mayang menggeleng. "Saat ini aku memang sedang hamil dua bulan, itulah penyebab pertengkaranku dengan Surya." jawabnya. Aku mencabut sisa-sisa yang masih ada dan membaringkan diri di samping Mayang. Tubuh kami berkeringat, tempat tidur acak-acakan tak karuan. Mayang memelukku. "Nikmat sekali, Dha. Andai Surya sehebat Kamu...." bisiknya. Aku tersenyum bangga. "Beri aku waktu istirahat beberpa menit, dan akan aku berikan lagi kenikmatan seperti tadi," jawbku. Kemudian aku mengecup keningnya. Malam itu empat kali aku menyetubuhinya hingga pagi. Perbuatan kami hampir dipergoki neneknya yang terbangun. Jam 6 pagi aku pulang menuju rumah Adhi. Rentetan omelan menyambut kedatanganku. "Gila Lo Dha... Nidurin cewek sampe lupain temen... Gue hampir pulang jalan kaki tadi malem, untung gue ketemu Anita yang nganterin gue pulang. Kalo tau gini, gak bakalan gue kasiin kunci motor itu." Aku tersenyum... "Jangan belagak ngambek, Lo.... Gue tau tadi malem Lo juga "maen". Ama siapa? Anita? Siapa tuh Anita?" "Tau darimana?" tanya Adhi heran. Aku sengaja tidak langsung menjawab. Kemudian sambil berlalu menuju kamar mandi, aku berkata; "Empat cupang di leher Lo itu, jelas banget keliatan... Buset, ganas amat Si Anita... Kenalin dong... Gue juga pengen nyobain...." Mendengar omonganku, Adhi langsung berlari menuju cermin...... |
| Rina,. Lia, .. Rasanya Ini Jebakan Posted: 06 Jul 2008 09:56 AM CDT " Aku buka punya kamu ya ?" dengan pertanyaan yang hanya sekedar formalitas belaka, Rina membuka celana gue. Lihai dia. tanpa kesulitan yang berarti, Rina telah membuka celana gue. Sesaat setalah itu, batangan gue jelas kelihatan pada posisi yang sangat menantang. Juga pada kesempatan yang sama, gue masih saja mempermainkan putingnya. Desahan-desahan nikmat yang Rina rasakan terekspresi pada raut wajahnya yang keliatan sangat tegang. Gue membukan kemeja gue, juga kemudian gue bukan juga singlet yang gue kenakan. Bearti gue hanya menggunakan CD yang hanya terpaut di paha gue karena Rina telah melorotkannya ke bawah. Aksi gue pun tidak mau ketinggalan, baju kaos Rina gue buka. Dengan sedikit bantuan Rina, kaos itu telah terlepas dari pemiliknya. Rina hanya menggunakan CD dengan warna krem. Sexy sekali. Bentuk CD itu mini bangat dengan hanya seutas tali dibagian sempingnya dan renda-renda yang sangat transparan di segitiga liar depan CDnya. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Akhirnya aku sampe ke halte. Gak begitu lama bus PPD jurusan Pasar Baru - T. Priok dah datang. Penumpang gak begitu banyak. Masih ada bangku kosong, kebetulan buat gue. Disamping bangku yang gue duduki dah diisi seorang perempuan. Kalo gue taksir, kira-kira usia perempuan itu sekitar 28-30 taon. Body bagus dengan betis putih mulus tanpa dibalut stoking dan bulu-bulu halusnya terliat jelas. Potongan rambut biasa, berombak. Tentu tanpa poni. Sekilas terlihat dia tersenyum saat gue menyapa dia. " Hai, permisi." sambil memposisikan duduk gue sambari membalas secuil senyuman dia. Hmmm…ada bau harum yang menyengat ke hidung gue. Ugh..baunya khas…enak. Dan sekali lagi gue kelontarkan senyuman ke dia. Hah…lumayan juga neh perempuan, bisikku kagum dalam hati. Sekilas terbentuk indah payudara, mungkin ukuran 36. Paling tidak 34, entahlah. Busananya pun lumayan sexy dengan leher agak rendah. Wow..leher dan dadanya pun sangat menantang, mulus. Dan bus pun dah berjalan pelan tersendak. Biasa Jakarta dengan segala macam ketidaksabaran para sopir bus kota. Sreeettttt…derik bunyi ban. Tanpa sengaja karena refleks gue, maksud gue mao memegan plang besi sandaran kursi depan. Tapi karena tengan perempuan itu telah dari tadi memegang plang kursi itu maka tanpa bisa dihindari tangan gue gak sengaja memegang tangannya. " Aduh, maaf. Tidak sengaja." pintaku dengan sedikit embel senyum. " Oh..gak pa-pa." jawabnya dengan membalas senyuman juga. Yap, dengan berbasa-basi gue sedikit akrab ke dia. Maksud gue jelas, mau kenalan. Iseng aja, siapa tau bisa. Hm..dia berespon. Terjadilah perkelan dan ngobrol ringan dengan dia. Namanya Rina, gawe di sebuah perusahaan asing, Oil Company, berkantor di daerah Sudirman. Rina kost di daerah Priok. Kebetulan, katanya, dia abis main di tempat temannya di Pasar Baru. Ngobrol kami sekitar 35 menit karena gue dah harus turun di Plumpang. Tapi sebelum itu, Rina dah memberikan kartu namanya sambil bilang, "Ndi…Aku tunggu tlp kamu ya. Bye." harapnya. Hah haa..ada nada gembira dalam hati gue. Bagus…siapa tau aja. " OK." jawabku singkat. HINGGA SUATU KETIKA, EMPAT HARI KEMUDIAN : Ahaaa, aku ingat sekarang. Hm..ini kan kartu nama cewek yagn kenalan di bus kota beberapa hari yang lalu. Begitu pekik girang gue dalam hati. Mo telpon ah…kali aja dia masih ingat..dan bisa kenal lebih jauh…heheh.. siapa tau aja. Gue dial nomer yang tertera di kartu itu. " Halo. Selamat pagi. Bisa bicara dengan Rina." " Ya. Semalat pagi. Saya sendiri Rina. Ada yang bisa saya bantu ?" " Hi, Rina, gue neh Andi. Masih ingat ? " " Oh, Andi apa kabar kamu. Hm, napa baru telpon sekarang.? " Aduh, iya neh sibuk. Tapi sekarang dah telpon kan." Begitulah awal percakapan di telpon itu. Hingga akhirnya sepakat untuk temu di Counter Dunkin Donat di Plaza Atrium Senen selepas jam kerja sore itu. Sesuai janji sore itu, hm.. lebih tepat kalo malam itu, gue temu dengan Rina di tempat janji. Wah, kelihatannya saat itu Rina ada masalah, dan itu dia tuturkan panjang lebar. Masalah di kantornya. Katanya dia punya teman sekantor yang sering kurang ajar ke dia, lebih tepatnya kalo dibilang itu pelecehan seksual, tuturnya. Gue menanggapinya dengan serius dan memberikan atensi yang baik dengan ceritanya itu. Singkat cerita, gue ngaterin dia ke kost-nya. Hm..malam kira-kira dah jam 20:26 wita (?). Belum begitu malam seh. Gue dipersilahkan masuk ke kamarnya karena kost-nya tidak tersedia ruang tamu. Minum kopi sebentar katanya lagi. Ahh… okelah. Gue menyambut gembira tawaran ini, tapi gak gue ekspresikan terlalu. Takut nanti ketahuan kalo gue emang sebenarnya sangat mengharapkan ini. Ahh haaaa… " Santai aja And. Kamu buat sendiri aja minuman yang kamu mau." gue melihat-lihat sekeliling kamarnya. Lumayan apik juga tatanannya. Warna tembok biru langit (biru mudah sekali). Warna yang tepat buat suasana romantis, pikirku. Rina duduk di depan gue. Kebetulan dia pake celana panjang warna krem juga, sesuai dengan kulitnya yang putih. Dia mengenakan baju kaos ketat warna hitam. Wow..dan tampak jelas bentukan gunung kembar di pelataran dadanya. Hm… perempuan ini ternyata mempunyai bentuk tubuh yang bagus. Buah dada yang begitu menantang dengan bra putih yang terlihat samar. Hm… anganku mulai menulusuri lekuk-lekuk tubuhnya. Mencoba untuk bermain dengan perasaan yang mulai tak karuan. " Andi, heh, lagi bengong ya. Hm…. lagi mikiran siapa ? " sapanya mengejutkan gue. " Ah… gak pa-pa. " " Sebentar ya, mo ganti baju dulu. Sebentar ya." Rina ternyata tidak keluar kamar. Posisi badannya hanya membelakangi gue, kemudian mulailah dia membukan bajunya. Oh..shit, benakku. Tampak dari belakang bentuk tubuhnya dengan kulit yang mulus. Itu tampak jelas gue lihat karena Rina hanya sekitar 3 meter dari tempat gue duduk. " Hm… jangan ngintip lho And." Gue hanya memjawab itu dengan tawa kecil. (Eh non,… siapa juga yang gak bakalan ngintip dalam kesempatan seperti ini….atau kamu malah menantang gue ya dengan kalimat kamu itu.. ha ha ha…tenang aja, suatu detik di beberapa putaran menit kedepan gue akan memanfaatkan ini.) Dikesempatan berikutnya, Rina perlahan membuka celana panjangnya. Sementara di dada gue debaran perasaan yang dari tadi bergejolak kian membangun suatu keinginan yang aneh. Ambil kesempatan ini Andi, mungkin begitu yang terlintas dipikiran gue. Hah…! Dan sekarang Rina hanya menggunakan bra dan shortpan warna krem juga. Kemudian melangkah ke arah tumpukan baju yang tergantung kira-kira 3 langkah dari tempat Rina membuka pakaiannya tadi. Dia meraih kaos putih panjang untuk kemudian dipakainya. Hm.. kaos putih itu menutupi tubuhnya sampai setengah dari pahanya. Shortpan yang dia kenakan dia lepaskan. Dan itu berarti kini Rina hanya menggunakan Baju kaos itu, bra dan cd. Tapi sesaat kemudian dia membuka bra yang dia pakai dari balik baju kaosnya. Ugh…sialan berani juga nih perempuan, sementara gue dengan sejuta perasaan yang kian tidak menentu memenuhi ruang sadar gue. Sialan.. sesekali makian itu terbetik di pikiran gue. Kenapa gue diam saja tanpa ada reaksi apa-apa. (Hm… sialan kamu Rina. Apa ini suatu tantangan buat gue. Atau kamu hanya sekedar menguji gue. Atau kamu memang terang-terangan menantang gue dengan ini. Atau gue yang memang yang diem seperti kucing basah kuyup dengan nyali segenggam doang. Hah!! Banyak pertanyan, banyak ketidak pastian dalam pikiran gue. Sialan, gue memaki diri. Tak berkutik…) Tanpa gue sadari rupanya sedari tadi sesuatu telah mengeras di balik celana jeans yang gue kenakan. Dan posisi ini sangat mengganggu. Dia dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Miring ke kanan. Dan ini terasa sakit. Sementara waktu dalam ketidakberdayaan gue dengan apa yang baru saja gue lihat. Kemana semua keinginan-keinginan yang ada di benakku. Yang jelas gue sangat terkekang dengan ketakberdayaan ini. Gue akan berontak dan akan menerima tantangan kamu Rina. Tunggu saja. Rina dah duduk didepan gue dengan posisi yang cukup menatang. Duduk bersila dengan sedikit memegang ujung baju kaos di antara pahanya. Tapi kesannya sekedar menutup, karena tampak jelas gue liat celana dalam warna putih gading. Warna hitam yang transparan dari bayang rambut halus yang biasa tumbuh di bagian selangkangan. Sekali lagi suatu kekalahan yang gue rasakan karena sekali lagi gue gak berkutik. Hanya bisa menelan ludah dengan gejolak birahi gue yang kian mendekat puncak. Gue gelisah, gue gak bisa lagi berpikir tenang dan bertindak wajar. Pandangan gue gak bisa lepas dari lukisan birahi yang dia buat. Sepertinya Rina tau hal ini. Karena gak sengaja gue selintas kelihat raut wajahnya dengan sedikit senyuman kemenangan di sudut bibirnya saat sesaat setelah gue melihat ke arah selangkangan Rina. SAATNYA PUN KINI TIBA : " Heh.. And, lagi liatin apaan kamu ?" pertanyaan itu sepertinya dia sengaja. Mungkin dari tadi dia sudah memperhatikan gue. Memang seh, mata gue gak bisa lepas dari pemandangan itu. Dan tanpa sadar sesuatu telah terjadi di balik celana yang gue gunakan. Whats up ?! Ugh… perasaan gue kian gak menentu saat gak sengaja tatapan gue beradu dengan mata Rina. Gue menemukan senyumannya dengan sesuatu keinginan yang gue dapat disana. Tapi masih saja gue gak ngerti apa itu. Karena yang gue ngerti dengan jelas sekarang ini adalah perasaan gue yang gak karuan. Nuansa birahi memenuhi lingkup kewajaranku bersikap. " Heh… Andi. Kenapa kamu. Diem aja. Ayo dong ngobrol." " He.. eh.. hm.. " gue hanya berdehem ngejawab tegurannya. Ehhh… Rina kamu tau gak, yang ada dalan ruangan bgerpikir gue hanya ada setumpuk pikiran ngeres.. birahi yang rasanya tidak akan lama lagi akan meledak. Dan kamu akan tau itu. Sementara waktu ini, kamu bole menantang gue dengan posisi duduk kamu. Toh nanti itu semua akan gue raih. Ini belum mulai… bathinku dengan sejuta rencana. ) " Andi, apa seh itu yang mencuat di celana kamu itu." tegur Rina sambari mengulurkan tangannya kearah objek yang dia tegur gitu. HAAAHH ! Rupanya Rina melihat gundukan bantangan gue yang memang dari tadi sudah menegang. Ketika tangannya berhasil meraih benda itu. Dia sedikit kaget dan berujar. " Ahh.. wow.. hahaha… punya kamu ya And. Ih.. kenapa seh jadi berdiri dan keras gitu? " kekagetannya terkesan dibuat-buat. Ekspresi wajahnya tidak mendukung itu. Sementara gue cuman tersenyum dengan berpura-pura kaget juga dengan sedikit membumbui perasaan malu-malu. Ahh haaaa… kesempatan neh, And.. kataku dalam hati. " Abis kamu juga yang buat jadi gini." balas gue sengit. Memang gitu kan kejadiannya. Lagian kenapa juga ganti baju di depan gue. Ya… sapa juga yang gak akan horny. Setelah mengucapkan itu gue berlutut dan mamalingkan badan gue ke kanan. "Rina, sorry. Gue mo perbaiki posisi ini dulu." selesai ngucapin itu gue mengatur posisi batangan gue ke posisi jam 12 tepat. hm.. menantang bukan. Yang jelas, adegan yang gue lakukan dalam pengawasan mata Rina yang mulai jelalatan itu. Juga ada senyuman di sudut bibirnya. Ah haaa, apa itu artinya Rina ? Beberapa saat kemudian tiba-tiba Rina bergerak, tangannya ke arah badan bagian tengah gue. hah ?? " Andi, bole aku pegang punya kamu itu, gak ?" waw.. gue terkejut " Hah.. hm. anu… eh/.. bol… bole ." terbata-bata gue, kaget aja. Belum siap untuk diserang saja mungkin. Tapi siap atau tidak, jemari tangan Rina sudah mendarat dengan manisnya di batangan gue. Pertama dia hanya menyentuh saja, tapi kemudian dia mulai meremas dengan jari tengah telunjuk dan ibu jarinya. Dan adegan ini membuat kian tidak menentu perasaan gue. Byaarrr.. ! Seperti ada ledakan di ruang birahi gue.. Belum lagi perasaan gue berrhasil gue tenangkan. Serangan berikutnya datang lagi. " Bole Rina liat gak benda ini, And ?" tanpa menunggu jawaban dari gue, Rina membuka zipper celana gue. Sepertinya dia sudah menguasai gue. Gue gak sempat ngeluarin kalimat. Gue hanya mengangguk. Apa arti anggukan gue, gue sendiri gak tau. Tapi yang jelas adalah gue juga menikmati nuansa ini. Begitu lihainya jemari Rina membuka celana gue. Hingga dalam beberapa dia gak kesulitan dalam melakukan aksinya ini. Saat ini Rina sudah menggenggam dengan lembutnya batangan gue. " Hm… And, lumayan juga punya kamu. Kalo aku tebak, panjangnya kira-kira 14 dan diameternya 4 cm." " Nggg.. gak salah-salah bangat. Panjangnya 14.5 dengan diamenter 4.5 cm." kataku dengan suara yang sedikit parau. Susah sekali gue mengatur pernapasan gue yagn gak beraturan ini. Terdengar Rina mendesis, gue rasa Rina ngelami hal yang sama dengan sulitnya ngatur pernapasan… Birahi dah bicara banyak di nuansa diantar Rina dan gue. Rina masih saja membelai benda yang telah tegang sekali itu, dan tak jarang dia sedikit meremasnya. Keadaan ini harus berimbang, gue gak mo tinggal diam berlama-lama seperti ini. Dengan gerakan cepat gue melayangkan tangan gue kearah buah dada yang memang tidah ditutup dengan bra itu. Tampak bentukan putingnya yang ngeras. Dengan tangan kiri gue coba meraih benda itu. Ekspresi Rina hanya melirik kearah gue sebentar dengan senyuman. Pertanda setuju kah senyuman itu Rina ?? Ah.. apa pun itu, gue juga ingin merasakan tubuhmu. Gue meremas dengan sekali-sekali gue mainin puting buah dada Rina dari luar kaos yang dia kenakan. Rina beraksi dengan tubuhnya yang bergelinjang saat putingnya gue jepit dan gue elus dengan ibu jari dan jari telunjuk gue. " Aku buka punya kamu ya ?" dengan pertanyaan yang hanya sekedar formalitas belaka, Rina membuka celana gue. Lihai dia. tanpa kesulitan yang berarti, Rina telah membuka celana gue. Sesaat setalah itu, batangan gue jelas kelihatan pada posisi yang sangat menantang. Juga pada kesempatan yang sama, gue masih saja mempermainkan putingnya. Desahan-desahan nikmat yang Rina rasakan terekspresi pada raut wajahnya yang keliatan sangat tegang. Gue membukan kemeja gue, juga kemudian gue bukan juga singlet yang gue kenakan. Bearti gue hanya menggunakan CD yang hanya terpaut di paha gue karena Rina telah melorotkannya ke bawah. Aksi gue pun tidak mau ketinggalan, baju kaos Rina gue buka. Dengan sedikit bantuan Rina, kaos itu telah terlepas dari pemiliknya. Rina hanya menggunakan CD dengan warna krem. Sexy sekali. Bentuk CD itu mini bangat dengan hanya seutas tali dibagian sempingnya dan renda-renda yang sangat transparan di segitiga liar depan CDnya. Ketika hendak meraihnya CD Rina dengan maksud hendak membelai memeknya, Rina bergerak seperti menghindar. Tapi bukan juga, dia hanya kebetulan mengganti posisinya. Rina mengisyaratkan gue untuk berdiri, sementara dia berlutut. Posisi batangan gue dalam genggamannya. Kemudian dia mengarahkannya ke mulutnya. Oh.. mau oral ya. bisikku dalam hati. Rina menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat kepala batangan gue. Ah.. ada sensasi yang luar biasa terasa saat jilatan-jilatan Rina mendarat dan mempermainkannya dengan lihai. Gue seperti terbang dengan kenikmatan ini. Rina mengulum batangan gue. Sementara gue hanya bisa menikmati adegan ini, hanya rambut Rina yang gue jambak. Dan mengikuti ritme gerakan kepalanya yang maju mundur. Isapan-isapan dan elusan jilatan lidah Rina semakin meningkatkan level birahi yang ada dalam nuansa adegan sex ini. Sungguh suatu napsu yang begitu haus, Rina terus mengisap dan menjilat batangan gue. Hingga sampai pada suatu keadaan yang hendak menggantung kenikmatan yang gue rasakan. Rina menghetikan kegiatannya dan beranjak berdiri. Rina meraih tangan kiri gue dan menariknya ke arah ranjang. Dalam kesempatan itu, sebelum mendekati ranjang, gue memeluk rina. Gue mengangkatnya ke dalam gendongan gue. Sepertinya posisi yang gue inginkan dia tau. Rina membuka kakinya saat gue mengangkatnya dan melingkarkannya di pinggang gue. Kini Rina dalam gendongan gue, dan detik kemudian gue dan Rina dalam tenggelam dalam ciuman yang tentu saja membara. Gue menidurkan Rina yang masih melingkarkan kakinya di pinggang gue. Tanpa merubah posisi, kami telah berbaring di ranjang. Rina di bawah. Tangan kiri gue arahkan ke selangannya. Mendarat tepat pada sebentuk dengan belahan yang sudah becek basah oleh lendir yang keluar dari memek Rina. Langsung saja jemari gue mempermainkan clitorisnya. Rina menggelinjang. Sementara ciuman terus saja berpagut diselingi dengan erangan-erangan nikmat dari mulut Rina. Jemari tangan yang lain gue tempatkan pada tumpukan buah dada Rina. Gue remas buah dadanya. Sekali-sekali putingnya gue mainin lagi. Kenikatan sepertinya telah memenuhi seluruh ruangan dalam diri Rina, gelinjangannya kian menjadi. Tapi belum saat itu tiba. Gue berinisiatif untuk merubah posisi. Gue ingin posisi 69. Batangan gue dalam genggaman Rina, kemudian mengantarnya ke dekat mulutnya. Jilatan demi jilatan dia lakukan. Sementara diwaktu yang sama, gue membenamkan kepala, lidah gue dah gue masukin ke dalam vagina becek Rina. Gigitan kecil ke clitoris Rina membuatnya meningkatkan frekuensi isapan maju mundur batangan gue. Sensasi membawa Rina dengan napsu yang mambara menjilat dan mengulum dalam posisi 69 ini. Suatu ketika ketika mulut gue benar- benar menenggelamkan lidah gue ke dalam vaginanya. Sementara clitoris gue gigit sambari gue isap vaginanya. " Wow .. sensasi skali And.. terus sayang.. terus,.. Aku mau keluar neh. " geliat Rina menjadi lebih. " Hm.. ah.. ugh,… " hanya desahan yang gue berikan sebagai jawaban. Napsu gue dak makain menjadi. " Andi.. gue keluar.. sayang.. ah.. " Erangan Rina terakhir ini mengekspresikan kenikmatan yang tiada tara. Kaki Rina melingkar menbekap kepala gue. Gue agak sulit menggerakkan kepala gue. Gue berusaha menggerakkan tapi sama saja, tetap gak bisa. Tubuh Rina seperti mengejang kaku. Ini berlangsung kira-kira 2 menit. Sebenarnya gue tersiksa dengan posisi ini, tapi apa daya. Kaki Rina terlalu kejang dan gue membekap kepala gue. ADA KEJUTAN LAIN TERNYATA : Tok..tok…tok… Ada ketukan pintu. Itu sepertinya berasal dari pintu kamar ini, kamar Rina. Rina bangkit dari ranjang dengan menggerutu. " Ih… siapa lagi seh." kejengkelan Rina gak bisa dia sembunyikan. " Siapa ? " suara Rina agak meninggi. " Aku Rin, Lia. Bukan dong." oo.. jadi tamu itu Lia. Siapa dia, ah.. mungkin penghuni kamar sebelah. " Sebentar." Rina dah berada dibelakang pintu, tapi masih belum mengenakan apa-apa. Kemudian Rina meraih kain berwarna kelam dengan motif reptil dan mengenakan sebagai penutup tubuhnya. Tapi terlihat Rina hanya mengenakan sekenanya. Pintu di buka dan Lia menerobos masuk. Gue terkejut, langsung gue raih selimut dan menutupi tubuh gue sekenanya juga. Terlanjur terkejut. " Eh.. Lia,…!!! " suara Rina meninggi dengan nada kesal. " Rina, sorry. Gue tau kok dan kamu gak perlu merasa terganggu. Gue cuman mo ngembalikan novel ini." seraya lia menyerangkan 2 buah novel bersampul warna biru dan perak. Gue semakin terkejut ketika dengan seksama melihat raut wajah Lia. " Hah… Lia ?? " kagetku. " Hei .. Andi. Wah .. ketauan kamu.. mainnya sampe kesini rupanya. " Lia pun menampakkan keterkejutan yang sama, tapi kemudian dia tersenyum. (Perlu pembaca tau, Lia adalah teman sejawat gue. Gue ma dia satu kantor. Cuman saja beda bagian. Dia dibagian keuangan. Kenal ma Lia mang cukup lama juga seh.. sejak dia bergabung dengan kantor tempat gue kerja kira-kira 1 1/2 taon lalu. tapi gue gak begitu dekat dengan dia, hanya kenal biasa.) " Oh iya Rina, Andi adalah teman sekantor aku." katanya lanjut. " Ohh.. gitu. " jawab Rina singkat sambil berjalan ke gue dan duduk di dekat gue. Lia duduk di bangku dekat ranjagn tempat gue dengan Rina bergulat. Rina menggeser posisi duduknya. Rina ikutan tengkurap disamping gue. Menyadari posisi ini, gue dengan sengaja merangkulkan tangan kanan gue ke punggung Rina. Gue belai. Hal ini gue sengaja lakukan untuk memancing reaksi Lia. Tanpa menyadari trik ini, Rina menikmati belaian tangan gue. Semakin meluas area belaian gue. Hinggan setelah gue mendekatkan tangan gue ke lengan kanan Rina kemudian gue tarik hingga badan Rina berbalik tengadah. Kain yang dia gunakan tersimbak dan tonjolan buah dada yang ranum terbuka dalam posisi mengisyaratkan suatu tantang untuk dijamah. Dari sudut mata gue perhatikan Lia mengawasi dengan detail adegan awal ini. Napasnya seperti dia atur, tetapi terlihat susah. Hanya gelisah yang justru terbias. (Lia, kamu tunggu saja saatnya juga akan tiba Rina hanya pasrah dengan keadaan ini, gak ada rasa segan yang dia ekspresikan sementara teman se-kost-nya ada dalam kamar. Segera saja kepala gue Rina tarik ke dadanya. Ok, gue tau apa yang kamu mau, Rina. Hm… puting coklat kemerahan itu seperti telah siap dengan mendaratnya lidah gue. Tangan Rina masih memegang kepala gue. Dan gue rasakan gerakan tangan Rina seperti ingin mengambil alih gerakan. Hm.. akhirnya gue turut dalam gerakan tangan Rina. Kedua tumpukan itu secara bergantian gue jilat dan gue remas. (Lia hanya duduk terpaku. TERPAKU. Ah haa, kata yang tepat. Dan itu berarti Lia dah ada dalam jebakan gue. Memang ini yang gue inginkan. Dan sebentar lagi Lia akan itu dalam adegan ini. Bukankah sutradara episode ini ada gue ? Nah, sabar saja Lia. ) Gak ada lagi rasa sungkan saat ini. Gue bangkit berdiri. Rina tersentak, terkejut. Saat berdirin ini, batangan gue bebas terpajang dalam ruang lingkup tatapan Lia. Terbelalak. Dan sekilas gue liat Lia menelan ludah. " Andi ? Apa apa ? " " Tenang saja. Mau sesuatu yang lain gak ? " ada ide yang tiba- tiba muncul dalam benak gue. Sementara Lia kami biarkan saja duduk di kursi itu. Jadi penonton atau jadi juri mungkin. Gue gak mengunggu respon dari Rina. Pergelangan kaki Rina gue pegang. kemudian gue angkat. " Heh.. kamu mau ngapain ?" Rina belum mengerti apa yang akan gue lakukan. " Ikuti saja perintah gue.OK ?" Dengan instruksi yang gue berikan ke Rina, kini Rina telah dalam posisi yang gue inginkan. Pundak Rina gue pegang sebagai tumpuan badannya. Posisi 69 tapi kali ini berdiri. (Pembaca bisa bayangkan ? OK.. gue coba terangin. Gini, Rina dalam posisi 69 ini gue angkat (gendong dalam posisi kepala di bawah). Tangan kanan gue kenahan bahu Rina sementara tangan kiri gue merangkul pinggulnya. Dalam posisi gini gue merasa keberatan dengan berat badan Rina yang sebenarnya lumayan berat. Rina merangkul pinggang gue juga sebagai tempat menahan berat badannya sendiri. Gimana pembaca bisa membayangkan posisi ini.) Begitu dah dalam posisi yang tepat, Rina telah berhasil mengulum batangan gue. Kepala Rina bergoyang maju dan mundur sambil mengisap- isap. Wow .. sensasional. ** Iklan kali..** Begitu pun gue, memek yang memang telah basah itu gue langsung terkam. Ceplokss.. clek..clek.. clek.. bunyi memek Rina karena jilatan gue. Hm.. ah..oh. Rina terus mendesis desah. (Lia… sekali lagi Lia. Hm.. gimana perasaan kamu sekarang ? Tidakkah pemandangan ini bergairah ? Lia semakin tidak bergeming dari tempat duduknya. Matanya tak berkedip sedikitpun mengawasi jalannya adegan tanpa skrip ini. Entah sadar atau tidak, tangan Lia berada pada selangkangannya. Dan tangan yang satunya memegang dada kirinya. Meremas. Gotcha, kamu sudah dalam perangkap birahi.) Sesaat kemudian, posisi 69 berdiri ini berubah. Gue capek menahan beban berat badan Rina. Rina mengisyaratkan kan berbaring. " Lia, tolong dong tuh gelas di samping kamu bawakan kesini." tanpa ba bu atau bi.. Lia mengantarkan gelas yang Rina maksud kemudian menyodorkannya. Tapi sebelum Rina menggapai gelas itu, cepat gue ulurkan tangan dan menerimanya. Tapi dengan sengaja gue menggenggam tangan Lia. Gak ada sedikitpun penolakan. Lia hanya memandang ke Rina seperti mengisyaratkan suatu permohonan, Rina.. aku mau ikut dalam adegan ini. Rina kemudian menerima gelas itu dari tangan gue. Tapi tangan Lia tetap gue pegang. " Rina, keberatan ?" " He eh.. gak pa-pa. " maksud gue dapat Rina baca. Lia gue tarik mendekat ke gue. Sementara Rina masih dalam posisi berbaring sambil membalai batangan gue yang diselingi dengan kocokan- kocokan manis. Lia sepertinya telah ngerti apa yang akan gue sampaikan.. hingga belum sempat gue berucap Lia telah meluciti pakaiannya mulai dari baju kaos biru ketat. Cresss.. baju terbuka dan tampak bra hitam yang melintang membungkus. Gak begitu gue perhatian dengan jelas, tapi bisa gue deskripsikan, kira-kira Lia menggunakan bra nomer 36, gue gak tau cup A atau B. Kemudian lucutan yang berikutnya adalah rok biru tua selutut yang begitu pass dengan pinggang dan pinggul hingga ke paha Lia. CD warna hitam sepasang dengan bra. Bentuknya pun cute, bagian depannya berjaring-jaring jarang dan hanya bagian itunya saja yang tertutup dengan lapisan yang berbentuk kain tipis. Rina tersenyum, kemudian batangan gue yang dia genggam arahkan ke vaginanya. Tanpa ada kesulitan, batangan gue ternyata telah tenggalam setengahnya setelah gue tekan badan gue sedikit ke bawah. Posisi gue berlutut sementara Rina gue angkat kedua kakinya dan bertumpuh di pundak gue. Dan Lia gue minta untuk berdiri mengangkan di atas Rina yang terbaring. Dengan posisi ini, memek Lia (yang sebelumnya CD-nya dah gue buka) tepat dihadapan gue. Sementara tangan gue meremas buah dada Lia dan lidah gue jilatin memeknya, gue sambil menggoyang pinggul gue untuk menggenjot batangan gue ke dalam memek Rina. Wow !! Rina memegang pergelangan kaki Lia untuk tumpuan bertahan dari goncangan dari genjotan gue. Rina dan Lia mendesah, rasanya ini sangat sensasi. Gue juga ikutan dengan desisan kecil, ekspresi kenikmatan yang gak bisa gue sembunyikan. Sementara saja Rina gue terus genjot, Lia gue suruh ganti posisi. Nungging di depan gue. Pantatnya dianggak tinggi tepat di depan mulut gue. Kaki Lia terbuka lebar, memeknya pun terbuka menantang diepan gue. Rina gue minta untuk meremas buah dada Lia. Rina masih dalam posisi yang tadi. Sambil menjilat atau memasukkan lidah gue ke dalam memek Lia, Rina terus gue genjot. Rina ngerasa mo orgasme, dia semakian liar. Pinggul gue dia cengkaram erat kemudian mempercepat gerakan tangannya hinggan pinggul gue ikut terguncang. Ini membuat genjotan gue makin kencang ke memek Rina. Napas gue terburu, dan jilatan-jilatan gue makin gak karuan ke memek Lia. Ternyata Lia ngerasa ini justru makin enak. Makin sensasi. Lia pun akan sampe ke puncak, dia juga mo orgasme. Itu Lia ucapkan berkali-kali…" Aku mau keluar neh Andi. Aku mau keluar." Keadaan makain gak terkendali. Makin liar. Dan peluh gue kian mengeucur ke dahi dan pelipis gue. Begitupun dengan badan gue, basah keringat. Posisi ini tetap gue pertahankan. Rina terus mengguncang- guncangkan tubuhnya dan menguncang-guncang pinggul gue dengan tangannya. Sementara dalam waktu yang sama Lia menggoyang- goyangkan juga pantatnya naik turun. Gesekan memek Lia ke mulut gue, ke lidah gue kian berasa. Hingga dalam waktu yang hampir bersamaan. Rina yang pertama berteriak tertahan menegang menahan kenikmatan puncak orgasme. Kemudian Lia menyusul dengan menghentikan goyangan pantatnya tapi berbalik menekan ke arah wajah gue. Memek Lia dengan sempurna menyumbat wajah gue. Lidah gur tertancap cukup mamtap di memek Lia. Gila !!!! Gue juga ngerasain hal yang sama. Dengan semakin menggilanya genjotan gue, dan gue gigit memek Lia. Ini membuat kedua perempuan yang gue hadapi berteriak keras. Tapi teriakan mereka teredan dengan sumbatan tangan dan bantal yang segera gue tutupin ke mulut perempuan-perempuan ini. Gilaaaaaa….!! !! Sensasinya sampe ke ubun-ubun gue…. Sperma gue semprotkan ke dalam memek Rina, sementara gue masih terus menggigit memek Lia dengan napsu yang tidak bisa gue gambarin gimana gilanya. Rina mencengkram pinggang gue dan menekan ke arahnya. Batangan gue tertancap penuh ke dalam memek Rina. Dan saat yang bersamaan itu juga, gue pemeluk paha Lia dan menariknya. Karena gue menjilat memek Lia dari belakang, maka seluruh wajah gue dah tenggelam dalam belakan selangkangan Lia. Terasa disekitar bibir gue dah blepotan dengan cairan-cairan yang keluar dari memek Lia. Crottt…crrootttt… crroott… creootttt.. croottt.. tembakan-tembakan sperma muncrat ke dalam memek Rina. Gue berteriak….. aaaaaarrrrgggggg… . hmmrrrr.ggggg… . Rasanya semua sendi gue lepas. Akhirnya gue rebah terkapar diatas tubuh Rina yang dengan segera menyambutnya dengan pelukan dan ciuman yang bertubi- tubi ke bibir gue. Lia yang tadi dalam posisi nungging juga rebah ke samping Rina. Tangan gue tepat mendarat di dadanya. Tak ayal lagi, tangan gue memelintir manis puting Lia yang sangat mengeras itu. Gue sangat puas. Tapi gue belum sepenuhnya nyerah, gue masih ingin merasakan kenikmatan lain dengan memek Lia yang belum ngerasain gimana dasyatnya batangan gue. Tapi badan ini rasanya seperti tertimpa beban berton-ton. Gue masih berusaha untuk mengumpulkan semua tenaga yagn masih ada. Untung semangat ngewek gue masih membara. " Ahh.. Andi, kamu hebat. Aku puas sekali. Puas." kalimat itu Rina ucapkan sambil terus menciumi gue. Batangan gue belum gue cabut dari dalam memek Rina. Gue hanya tersenyum mendengar kalimat Rina dengan nada suara yang lemes itu. " Hm.. Lia, gimana dengan kamu.? " tanya gue sembari memngusap pipi kiri Lia. Dia sedikit tersenyum kemudian dia bangkit dari rebahannya. Duduk bersila menghadap ke gue. Wow, jelas terlihat memek Lia yang menganga. Hm.. ada tantangan lagi neh, bisikku. Lia sekali lagi tersenyum. Selang kira-kira 5 menit kemudian setelah gue rasa semua tenaga gue dah terkumpul, gue berdiri dan ke kamar mandi yang memang ada di dalam kamar Rina. Kamar mandi itu ada di dekat kursi tempat Lia tadi duduk. Setelah gue di dalam kamar yang segera gue bersihkan batangan gue yang sudah ngecil itu dengan sabun. Baru saja gue mau berdiri lagi, Lia ternyata dah di dalam kamar mandi. Sebelum langkah gue berada di pintu kamar mandi itu, tangan gue di cengkram erat. " Andi, gue belum kamu puaskan. Gue minta giliran setelah ini." " hm.. " gue hanya mendehem.. dan tersenyum. Memang itu yang akan kamu rasakan Lia, kataku dalam hati. Setelah Lia, selesai bersih-bersih. Lia berdiri dan kemudian mendaratkan ciuman ke bibir gue. Gue dan Lia masih telanjang. Gak nunggu lebih lama lagi gue langsung meremas dada Lia. Wow, kenyal. Tapi ini, tidak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian, Lia membungkuk. Wajahnya ia arahkan ke batangan gue. Gue tau maksud dia, gue tatap berdiri. Dan Lia telah berhasil memasukkan bantangan gue yang masih lemes kecil itu kedalam mulutnya. Dalam beberapa pergeseran detik setelah itu, batangan gue bereaksi hebat. Hah.. pintar juga neh perempuan mbuat batangan gue berdiri lagi. Auwww.. masih saja Lia dengan semangatnya yang terbungkus birahi menjilati dan mengisap-isap bantang gue. Terlihat senyuman di wajah Lia, sesaat kemudian setelah dia berdiri. Kemudian dia membelakangi gue dan membungkukkan badannya kedepan. Tangannya bertumpuh pada pinggir bak air di depannya. Oh.. kamu mau doggy style ya ?, ok gue ngerti. Tanpa ada percakapan apa-apa, batangan gue arahin ke dalam memek Lia. Amblas, tanpa ada kesulitan. Memek itu dah licin lagi oleh air dan cairan vagina Lia yang membuat perjalanan batangan gue menuju sorga 'dosa' ini tanpa hambatan. Kepala Lia terangkat dan dengan erangan yang membuat kelaki-lakian gue makin menggila. Gue berada lagi pada level tertinggi napsu. Ritme pada intro permainan. Seperti layaknya lagu yang baik, bit-bit awal dengan nada manis mengalun perlahan dengan irama yang tetap. Gue pun tetap mempertahankan ritme ini. Pelan tapi itu pasti. Gesekan demi gesekan gue arahkan. Lia pun mengerti arah kemana akan gue bawa permainan ini. Dengan desis erangan napsu dia perdengarkan. Gue tambah kecepatan genjotan gue, irama erangan Lia semakin jadi. Rupanya hal ini membuat Rina terusik, karena dia dah berada di pintu kamar mandi masih dengan keadaan telanjang bulat. Gue gak memperdulikan kehadiran Rina, gue masih asyik dengan goyangan gue. Dan gitu pun dengan Lia yang hanya memasang posisi ngangkang dan badang di bungkukan ini. Rina mendekat, dia segera membasahi membersihkan memeknya. Dia kelihatan terburu-buru. Sementara keasyikan gue dengan Lia masih berlangsung. Lia berbalik menghadap ke gue, dan kemudian dia mundur ke pinggiran bak dan duduk diatasnya. Lia membukan lebar pahanya. Itu isyarat gue untuk mendekat dan kembali gue masukkan batangan gue ke dalam memek Lia. Rina yang dah selesai membersihkan memeknya, tiba-tiba naik ke atas bak. Berdiri juga dengan posisi mengangkan diatas Lia yang duduk di bawahnya. itu berarti selangkangan Rina. Rina menarik kapala gue mendekat. Tanpa suatu kalimat perintah, gue dah menjulurkan lidah gue dan memainkan clitoris Rina dan manisnya. Goyangan maju dan mundur ke selangkangan Lia masih dan akan terus gue lakukan hingga saat itu datang nanti. Tapi ternyata style ini tidak berlangsung lama. Karena gue menghetikan kegiatan ini. " Gue ada ide bagus. Neh.. ikut gue." gue keluar kamar mandi dan ke ranjang. Gue rebahkan diri tengadah dengan membuka lebar-lebar kaki gue. Batangan gue berdiri tagak dengan posisi ini. Lia gue minta ke atas tubuh gue. Lia yang diatas. Posisi kaki yang gue kangkang lebat tadi gue angkat dengan begitu semakin terasa tekanan gesekan memek Lia di batangan gue. Masih berlangsung adegan ini, Rina gue suruh mengangkang dengan tumpuan pada lututnya. Selangkangan Rina tepat diatas wajah gue. Rina menekan pinggulnya ke bawah. Memeknya menganga 5 cm dari mulut gue. Gue jilat. Wow.. … sementara Lia terus menggoyang naik turunkan pinggulnya, gue juga menjilat clitoris Rina. (Sungguh pembaca, gue gak pernah ngebayangin situasi seperti ini. Yang ada dalam benak gue saat menuju kost Rina, paling yang gue dapat nanti hanya softly sex .. tapi ini pembaca, sudah hardcore .. wow !! Gue sendiri gak percaya dengan ini semua, tapi yang jelas ini bukan mimpi. Ini real… real sex.. Gue tau, mungkin ada diantara pembaca yang akan bilang, hah.. ini cerita doang. Ini dibuat-buat. .. Tapi apa pun itu… yang jelas itu semua dah gue rasakan. Dan itu baru terjadi minggu yang lalu (saat gue dah selesai tulis cerita ini).. Tepatnya 29 September 1998, malam pukul 23:15 wib adegan sex itu kelar.) Hm… selanjutnya… pembaca bisa bayangkan gimana klimaks adegan ini. Tapi ada yang membuat gue sangat terkejut. Tebak apa yang membuat gue sangat terkejut ?????!!!! Ternyata pintu kamar Rina tidak tertutup rapat. Masih ada celah sebar 5 cm, sangat cukup sebelah mata untuk dipake ngeintip. Yang membuat gue dangat terkejut, ternyata mata itu bukan sebelah… tapi ada 2 mata lagi yang gue liat sekilas. Berarti ada setidaknya tiga orang yang mengintip dari balik pintuk itu. Dan setau gue, penghuni kost ini semuanya cewek. Ada enam kamar, tiga di sebelah dan tiga kamar lagi berjajar dengan kamar Rina. Kebetulan kamar Rina paling ujung. Hah.. sedah berapa lama mereka itu ngintip gue gak tau. Sebab konsentrasi gue hanya ke kedua perempuan yang dah gue puasin ini. Pembaca, malam itu gue nginap di kamar Rina. Gue gak bisa tidur dengan nyenyak, karena pikiran gue terjerembab pada banyak pertanyaan, yang diantaranya…. . adalah … kenapa gue ngerasa semua ini hanya jebakan… jebakan dimana gue adalah korban dari suatu skenario sex yang entah nanti jika gue ke sini lagi, ke kost Rina, akan kah mereka dengan seperti berlagak gak sengaja masuk ke kamar Rina saat gue lagi asyik beradu kenikmatan dengan Rina. '???????!!!!! ?????????' Jebakankah ini, setidaknya gue dah merasakan kenikmatan dengan mereka. Apa pu itu namanya gue tetap akan ke kost Rina sepanjang perempuan ini tetap meminta gue datang. Dan itu betul, karena setelah pagi kemudian, sesaat sebelum gue meninggalkan kamar Rina. Rina sempat meminta gue untuk datang lagi. Tapi katanya kalo mau datang gue kudu telpon dulu. Hm…. sekarang gue justru berpikir… datang lagi gak ya..?? |
| Asmara Bersama Tante Tetty Yang Seksi Posted: 01 Jul 2008 10:23 AM CDT "Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh…." Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya, kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. "Mmmmhhhh….mmmmmhhhhh" Kali ini dia merintih nikmat. Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-shirtnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya, kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu. Aku melepas pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas bajuku, kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan celana panjang abu-abuku dan celana dalam putihku sekaligus. Bu Netty pun melakukan hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T-shirtnya yang baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putihnya, sehingga sekarang dia sudah telanjang bulat. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us namaku Priambudhy Saktiaji, teman-teman memanggilku Budhy. Aku tinggal di Bogor, sebelah selatan Jakarta. Tinggiku sekitar 167 cm, bentuk wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman-teman perempuanku bilang. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku 'make love' (ML) atau bercinta dengan seorang wanita. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA (sekarang SMU). Saat itu sedang musim ujian, sehingga kami di awasi oleh guru-guru dari kelas yang lain. Kebetulan yang mendapat bagian mengawasi kelas tempatku ujian adalah seorang guru yang bernama Ibu Netty, umurnya masih cukup muda, sekitar 25 tahunan. Tinggi badannya sekitar 155 cm. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya oval dengan rambut lurus yang di potong pendek sebatas leher, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Yang membuatku sangat tertarik adalah tonjolan dua bukit payudaranya yang cukup besar, bokongnya yang sexy dan bergoyang pada saat dia berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang tajam, ke arah meja yang didudukinya. Kadang, entah sengaja atau tidak, dia balas menatapku sambil tersenyum kecil. Hal itu membuatku berdebar-debar tidak menentu. Bahkan pada kesempatan lain, sambil menatapku dan memasang senyumnya, dia dengan sengaja menyilangkan kakinya, sehingga menampakkan paha dan betisnya yang mulus. Di waktu yang lain dia bahkan sengaja menarik roknya yang sudah pendek (di atas lutut, dengan belahan disamping), sambil memandangi wajahku, sehingga aku bisa melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya. Terlihat gundukan kecil di tengah, dia memakai celana dalam berbahan katun berwarna putih. Aku agak terkejut dan sedikit melotot dengan 'show' yang sedang dilakukannya. Aku memandang sekelilingku, memastikan apa ada teman-temanku yang lain yang juga melihat pada pertunjukan kecil tersebut. Ternyata mereka semua sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian dengan serius. Aku kembali memandang ke arah Ibu Netty, dia masih memandangku sambil tersenyum nakal. Aku membalas senyumannya sambil mengacungkan jempolku, kemudian aku teruskan mengerjakan soal-soal ujian di mejaku. Tentu saja dengan sekali-kali melihat ke arah meja Ibu Netty yang masih setia menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali, sedemikian rupa, sehingga memperlihatkan dengan jelas selangkangannya yang indah. Sekitar 30 menit sebelum waktu ujian berakhir, aku bangkit dan berjalan ke depan untuk menyerahkan kertas-kertas ujianku kepada Ibu Netty. "Sudah selasai?" katanya sambil tersenyum. "Sudah, bu…." jawabku sambil membalas senyumnya. "Kamu suka dengan yang kamu lihat tadi?" dia bertanya mengagetkanku. Aku menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua pembicaraan dengan berbisik-bisik. "Apa saya boleh melihatnya lagi nanti?" kataku memberanikan diri, masih dengan berbisik. "Kita ketemu nanti di depan sekolah, setelah ujian hari ini selesai, ok?" katanya sambil tersenyum simpul. Senyum yang menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku jadi panas dingin. Siang itu di depan gerbang sekolah, sambil menenteng tasnya, bu Netty mendekati tempatku berdiri dan berkata, "Bud, kamu ikuti saya dari belakang" Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah jauh dari lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Kami berjalan beriringan. "Kamu benar-benar ingin melihat lagi?" tanyanya memecah kesunyian. "Lihat apa bu?" jawabku berpura-pura lupa, pada permintaanku sendiri sewaktu di kelas tadi pagi. "Ah, kamu, suka pura-pura…" Katanya sambil mencubit pinggangku pelan. Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku pegang telapak tangannya yang halus dan meremasnya dengan gemas. bu Netty balas meremas tanganku, sambil memandangiku lekat-lekat. Akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, agak jauh dari rumah-rumah lain. Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut. Bu Netty membuka tasnya, mengeluarkan kunci dan membuka pintu. "Bud, masuklah. Lepas sepatumu di dalam, tutup dan kunci kembali pintunya!" Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya tanpa banyak bertanya. Begitu sampai di dalam rumah, bu Netty menaruh tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Aku hanya melihat, ketika dengan santainya dia melepaskan kancing bajunya, sehingga memperlihatkan BH-nya yang juga terbuat dari bahan katun berwarna putih, buah dadanya yang putih dan agak besar seperti tidak tertampung dan mencuat keluar dari BH tersebut, membuatnya semakin sexy, kemudian dia memanggilku. "Bud, tolong dong, lepasin pengaitnya…" katanya sambil membelakangiku. Aku buka pengait tali BH-nya, dengan wajah panas dan hati berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil sebuah kaos T-shirt berwarna putih, kemudian memakainya, masih dengan posisi membelakangiku. T-shirt tersebut terlihat sangat ketat membungkus tubuhnya yang wangi. Kemudian dia kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan risleting roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang paling parah, aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku berontak di dalam celana dalam yang rangkap dengan celana panjang SMA ku. Ketika dia membelakangiku, dengan cepat aku memperbaiki posisi kemaluanku dari luar celana agar tidak terjepit. Kemudian aku buka risleting rok ketatnya. Dengan perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan celana dalam putihnya, tanganku meraba pantat bu Netty dan sedikit meremasnya, gemas. "Udah nggak sabar ya, Bud?" Kata bu Netty. "Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes saya…." "Kalo di sini jangan panggil saya 'bu' lagi, panggil 'teteh' aja ya?" "Iya bu, eh, teh Netty" Konsentrasiku buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, bu Netty dengan kaos T-shirt yang ketat, tanpa BH, sehingga puting susunya mencuat dari balik kaos putihnya, pusarnya yang sexy tidak tertutup, karena ukuran kaos T-shirt-nya yang pendek, celana dalam yang tadi pagi aku lihat dari jauh sekarang aku bisa lihat dengan jelas, gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi. "Gimana Bud, suka nggak kamu?" Katanya sambil berkcak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya. "Kok kamu jadi bengong, Bud?" Lanjutnya sambil menghampiriku. Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya. "Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh…." Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya, kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. "Mmmmhhhh….mmmmmhhhhh" Kali ini dia merintih nikmat. Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-shirtnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya, kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu. Aku melepas pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas bajuku, kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan celana panjang abu-abuku dan celana dalam putihku sekaligus. Bu Netty pun melakukan hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T-shirtnya yang baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putihnya, sehingga sekarang dia sudah telanjang bulat. Tubuhnya yang putih mulus dan sexy sangat menggiurkan. Hampir bersamaan kami selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku menegakkan tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak. Aku terpaku melihat tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering melihat tubuh telanjang, tetapi secara langsung dan berhadap-hapan baru kali itu aku mengalaminya. Payudaranya yang sudah mengeras tampak kencang, ukurannya melebihi telapak tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas seluruh bulatan itu, tapi tidak pernah berhasil, karena ukurannya yang cukup besar. Perutnya rata tidak tampak ada bagian yang berlemak sedikitpun. Pinggangnya ramping dan membulat sangat sexy. Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu yang sengaja tidak dicukur, hanya tumbuh sedikit di atas kemaluannya yang mengkilap karena basah. Tubuh telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari gambar-gambar porno, blue film atau paling nyata tubuh ABG tetanggaku yang aku intip kamarnya, sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan cepat-cepat karena takut ketahuan. Kebiasaan mengintipku tidak berlangsung lama karena pada dasarnya aku tidak suka mengintip. Sementara bu Netty memandang lekat kemaluanku yang sudah tegang dan mengeras, pangkalnya di tumbuhi bulu-bulu kasar, bahkan ada banyak bulu yang tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan panjangnya belasan centi. "Bud, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada bulunya lagi di batangnya" katanya sambil menghampiriku. Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih kemaluanku, sambil berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil mengocok-ngocoknya lembut dan berikutnya kepala kemaluanku sudah dikulumnya. Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti itu. "Oooohhhh…. enak teh…." rintihku pelan. Dia semakin bersemangat dengan kuluman dan kocokan-kocokannya pada kemaluanku, sementara aku semakin blingsatan akibat perbuatannya itu. Kadang dimasukkannya kemaluanku sampai ke dalam tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, sehingga kemaluanku keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus. Aku semakin tidak tahan dan akhirnya…, jebol juga pertahananku. Spermaku menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia sedot dan dia telan, sehingga tidak ada satu tetespun yang menetes ke lantai, memberiku sensasi yang luar biasa. Rasanya jauh lebih nikmat daripada waktu aku masturbasi. "Aaaahhhh… ooooohhhhh…. teteeeeehhhhh!" Teriakku tak tertahankan lagi. "Gimana? enak Bud?" Tanyanya setelah dia sedot tetesan terakhir dari kemaluanku. "Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri" jawabku puas. "Gantian dong teh, saya pengen ngerasain punya teteh" lanjutku sedikit memohon. "Boleh…," katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan dirinya di atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai. Aku langsung berlutut di depannya, kuciumi selangkangannya dengan bibirku, tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan kupilin-pilin pelan puting payudaranya yang sudah mengeras. Dia mulai mengeluarkan rintihan-rintihan perlahan. Sementara mulutku menghisap, memilin, menjilat vaginanya yang semakin lama semakin basah. Aku permainkan clitorisnya dengan lidahku dan ku emut-emut dengan bibirku. "Aaaaaahhhhh… ooooohhhhhh, Buuuuddddhyyyyy…, aku sudah tidak tahan, aaaaauuuuuhhhhhh!" Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit kuatir kalau ada tetangganya yang mendengar rintihan-rintihan nikmat tersebut. Tetapi karena aku juga didera nafsu, sehingga akhirnya aku tidak terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan tubuhnya mengejang, kemudian aku merasakan semburan cairan hangat di mulutku, aku hisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus, tetes demi tetes. Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya mengapit kepalaku dengan ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya lebih lekat lagi menempel di selangkangannya, membuatku sulit bernafas. Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua payudaranya kini meremas-remas dan mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku. "Bud, kamu hebat, bikin aku orgasme sampai kelojotan begini, belajar darimana?" Tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku memang banyak membaca tentang hubungan sexual, dari majalah, buku dan internet. Sementara itu kemaluanku sudah sejak tadi menegang lagi karena terangsang dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Netty. Akupun berdiri, memposisikan kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih berkedut dan tampak basah serta licin itu. "Aku masukin ya teh?" Tanyaku, tanpa menunggu jawaban darinya, aku melumat bibirnya yang merekah menanti kedatangan bibirku. "Oooohhhh…" rintihnya, "Aaaahhhh…" kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika kemaluanku menembus masuk ke dalam vaginanya, hilanglah keperjakaanku. Kenikmatan tiada tara aku rasakan, ketika batang kemaluanku masuk seluruhnya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke pangkalnya. Bu Netty merintih semakin kencang ketika bulu kemaluanku yang tumbuh di batang kemaluanku menggesek bibir vagina dan clitorisnya, matanya setengah terpejam mulutnya menganga, nafasnya mulai tersenggal-senggal. "Ahh-ahh-ahh auuuu!" Kutarik lagi kemaluanku perlahan, sampai kepalanya hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan, sementara rintihannya selalu di tambah teriakan kecil, setiap kali pangkal batang kemaluanku menghantam bibir vagina dan clitorisnya. Gerakanku semakin lama semakin cepat, bibirku bergantian antara melumat bibirnya, atau menghisap puting payudaranya kiri dan kanan. Teriakan-teriakannya semakin menggila, kepalanya dia tolehkan kekiri dan kekanan membuatku hanya bisa menghisap puting payudaranya saja, tidak bisa lagi melumat bibirnya yang sexy. Sementara itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang kini sudah sangat basah, sampai akhirnya, "Buuudddhhyyyyyy…. aku mau keluar lagiiiiii… oooohhhhhh… aaahhhhh" teriakannya semakin kacau. Aku memperhatikan dengan puas, saat dia mengejan seperti menahan sesuatu, vaginanya kembali banjir seperti saat dia orgasme di mulutku. Aku memang sengaja mengontrol diriku untuk tidak orgasme, hal ini aku pelajari dengan seksama, walaupun aku belum pernah melakukan ML sebelum itu. Bu Netty sendiri heran dengan kemampuan kontrol diriku. Setelah dia melambung dengan orgasme-orgasmenya yang susul- menyusul, aku cabut kemaluanku yang masih perkasa dan keras. Aku memberinya waktu beberapa saat untuk mengatur nafasnya. Kemudian aku memintanya menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali kami tenggelam dalam permainan yang panas. Sekali lagi aku membuatnya mendapatkan orgasme yang berkepanjangan seakan tiada habisnya, aku sendiri karena sudah cukup lelah, kupercepat gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan. Akhirnya menyemburlah spermaku, yang sejak tadi aku tahan, saking lemasnya dia dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan diriku berbaring di sebelahnya. Sejak kejadian hari itu, aku sudah tidak lagi melakukan masturbasi, kami ML setiap kali kami menginginkannya. Ketika aku tanya mengapa dia memilihku, dia menjawab, karena aku mirip dengan pacar pertamanya, yang membuatnya kehilangan mahkotanya, sewaktu masih SMA. Tapi bedanya, katanya lagi, aku lebih tahan lama saat bercinta (bukan GR lho). Saat kutanya, apa tidak takut hamil?, dengan santai dia menjawab, bahwa dia sudah rutin disuntik setiap 3 bulan |
| Posted: 01 Jul 2008 10:17 AM CDT Saya mulai membuka ikatan BH-nya dan menyemburlah payudaranya. Dengan liar bibir saya mulai menghisap payudara yang di sebelah kanan, sedangkan tangan saya meremas dengan keras payudaranya yang di sebelah kiri. Saya terus menghisap puting payudara Tante Nita kurang lebih 5 menit lamanya. Kemudian saya melepaskannya dan saya melihat putingnya sudah berwarna kemerah-merahan agak hitam. Kemudian Tante Nita mulai turun dan berjongkok di hadapan kemaluan saya. Dengan cepat dia menurunkan celana jeans saya sekaligus dengan celana dalam saya, lalu dia pun membuka mulutnya dan memasukkan kemaluan saya ke mulutnya. Hal ini membuat saya terkejut, kemudian Tante Nita mulai menghisap kemaluan saya dan memainkannya di dalam mulutnya yang membuat saya lupa diri. Tangan saya mulai menjambak rambut Tante Nita dan kaki saya mulai menjinjit karena saya merasakan kenikmatan yang hebat. Kurang lebih 10 menit kemudian, saya merasakan ada yang mendesak keluar seperti saat saya sedang melakukan masturbasi dan saya mulai mengerang, "Aduh, Nita... saya sampai nih, uh... uhhh... uuuhhh..." Dan Tante Nita mulai mempercepat permainannya dan akhirnya saya mengeluarkan cairan sperma saya di dalam mulutnya Tante Nita. Saya merasakan Tante Nita menghisap habis seluruh sperma saya dan menelannya. Dalam sisa-sisa kenikmatan, saya melihat Tante Nita bangkit dan mencium bibir saya, yang tentu saja saya balas dengan ciuman yang hangat dan liar. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Ini cerita yang kualami kurang lebih 2 tahun yang lalu. Saya adalah seorang siswa SMU swasta di sebuah kota X, nama saya adalah Endy dan saya saat ini berumur 18 tahun. Saya mempunyai suatu kebiasaan untuk melakukan onani, yah mungkin satu kali untuk satu hari. Saya mempunyai seorang teman, bisa dikatakan dia merupakan teman saya yang terbaik, karena hampir setiap hari kami selalu bersama. Saya memang sering main ke rumahnya dan tentu saja, saya sering berjumpa dengan mamanya. Dapat dikatakan mamanya saat ini kira-kira berusia 36 tahun, tetapi tubuhnya terlihat bagaikan seorang gadis yang berusia 20 tahunan. Yah montok dan padat sekali dan saya memanggil mamanya Tante Nita. Tentu saja saya sering melakukan onani dengan menghayalkan mama kawanku ini. Suatu hari, kami bersama teman-teman sekolah lainnya akan melaksanakan pesta barbeque dan tempat kami berkumpul merupakan rumah dari kawanku ini. Karena masih menunggu teman kami yang belum hadir, maka saya bermain di rumah kawanku ini dengan permainan dadu dengan yang lainnya. Mungkin karena kebetulan saya melempar dadunya terlalu kuat, maka dadu itu jatuh ke arah kamar mama temanku. Lalu dengan malas dan ogah-ogahan, saya bangkit untuk mengambil dadunya. Tetapi saat akan mengambil dadunya, saya melihat suatu pemandangan yang membuat saya sangat terangsang. Saya melihat Tante Nita hanya memakai celana dalamnya saja, langsung saja kemaluan saya terbangun dan saya segera berjalan keluar sambil berusaha menenangkan diri. Sambil bermain dadu kembali, saya menghayalkan bentuk tubuh Tante Nita yang membuatku sangat terangsang. Tetapi sesaat kemudian, Tante Nita keluar dari kamarnya. Dengan serempak, kami memanggilnya dengan panggilan Tante, tetapi saya tidak berani untuk menatapnya, yah mungkin karena saya malu dan agak sedikit takut mengingat kejadian tadi. Karena temanku sudah memanggil, maka kami menyudahi permainan dadu kami dan kami mulai bergerak ke luar rumah. Sesaat sampai di luar rumah, saya melihat Tante Nita sedang berdiri sambil memandang ke arahku, lalu dia menyuruhku untuk menemaninya ke rumahnya yang lain untuk sekedar mengambil barang bekas. Dengan gugup saya menjawab dengan jawaban "Ya", lalu Tante Nita mengambil kunci rumahnya dan kami pun berangkat. Sambil mengikutinya dari belakang, saya memperhatikan goyangan pinggulnya dan tentu saja saat ini saya sudah sangat ingin melakukan masturbasi, tetapi karena balum memiliki kesempatan, maka saya diam saja sambil menghayalkan sedang bersetubuh dengan Tante Nita. Sesampainya di rumah tersebut, saya melihat rumah tersebut sudah lama tidak dihuni, mungkin saja karena Tante Nita baru saja pindah ke rumah baru. Kemudian kami pun masuk ke dalam. Dengan hati-hati saya memperhatikan sekeliling rumah tersebut. Memang agak berdebu tetapi masih terlihat kalau rumah tersebut rapi. Sesampainya di ruang tengah rumah tersebut, Tante Nita bertanya kepadaku, "Apa yang kamu lihat waktu kamu mengambil dadu yang terjatuh itu tadi..?" Dengan terkejut saya menjawab, "Saya tidak melihat apa-apa, Tante..." Lalu Tante Nita berkata, "Kamu jangan bohong, nanti saya laporkan bahwa kamu berbuat yang tidak senonoh pada Tante.." Dengan terbata-bata, saya menjawab bahwa saya melihat Tante sedang ganti baju, tetapi saya tidak melihatnya dengan jelas. Lalu Tante Nita bertanya lagi, "Apakah kamu ingin melihatnya sekali lagi..?" Seperti mendapat durian runtuh, maka saya menjawab, "Kalo Tante Nita mengijinkan, saya mau Tante." Sesaat Tante Nita diam, lalu dia menyuruh saya untuk mendekat. Dengan hati-hati, maka saya mendekat padanya, lalu Tante Nita menarik tangan saya dan mencium bibir saya. Tentu saja saya balas dengan ciuman kembali, sedangkan kedua tangan saya diam saja karena sesungguhnya saya dalam keadaan yang sangat tegang. Berbeda dengan tangan Tante Nita, tangannya mulai memegang kejantanan saya dan satunya lagi mulai meremas pantat saya. Kemudian Tante Nita mulai membuka resluiting celana saya dan mulai mengocok kemaluan saya. Saya merasakan kenikmatan karena tangan Tante Nita sangat lembut dan sangat berpengalaman. Karena terbawa perasaan nikmatnya, mata saya mulai tertutup dan mulai menikmati permainan Tante Nita. Belum berlangsung lama permainan kami, Tante Nita menghentikan permainannya, tentu saja hal ini membuat saya keheranan. Lalu saya mulai berani menatapnya dan saya bertanya kepadanya, "Tante, bolehkah saya memegang payudara Tante..?" Sambil sedikit tersenyum, Tante Nita berkata, "Terserah kamu sayang..." Lalu tangan saya mulai meraba payudara Tante, tetapi saya merabanya dari luar saja karena masih tertutup oleh baju dah BH-nya. Karena merasa kurang puas, maka saya bertanya lagi, "Tante, bolekah saya membuka baju tante..?" Dengan sedikit kesal, Tante Nita menjawab, "Kamu boleh melakukan semua yang ingin kamu lakukan, tubuh saya sekarang ini adalah milikmu sepenuhnya." Dengan terbata-bata saya menjawab, "Terima kasih Tante..." Lalu Tante Nita berkata lagi, "Panggil saya Nita saja, tidak usah lagi sebutkan Tantenya." Lalu saya menjawab, "Ya, Tante.., eh, maksud saya Nita." Permainan terus berlanjut, saya mulai membuka kancing baju Tante Nita. Terlihatlah dua bukit kembar yang indah sekali, mungkin ukurannya sekitar 36A. Lalu saya mulai meremas dan mencium payudara Tante Nita dan Tante Nita mulai merasakan kenikmatan dan mengeluarkan suara desahan. "Uuhhh... ahhh..," Saya mulai membuka ikatan BH-nya dan menyemburlah payudaranya. Dengan liar bibir saya mulai menghisap payudara yang di sebelah kanan, sedangkan tangan saya meremas dengan keras payudaranya yang di sebelah kiri. Saya terus menghisap puting payudara Tante Nita kurang lebih 5 menit lamanya. Kemudian saya melepaskannya dan saya melihat putingnya sudah berwarna kemerah-merahan agak hitam. Kemudian Tante Nita mulai turun dan berjongkok di hadapan kemaluan saya. Dengan cepat dia menurunkan celana jeans saya sekaligus dengan celana dalam saya, lalu dia pun membuka mulutnya dan memasukkan kemaluan saya ke mulutnya. Hal ini membuat saya terkejut, kemudian Tante Nita mulai menghisap kemaluan saya dan memainkannya di dalam mulutnya yang membuat saya lupa diri. Tangan saya mulai menjambak rambut Tante Nita dan kaki saya mulai menjinjit karena saya merasakan kenikmatan yang hebat. Kurang lebih 10 menit kemudian, saya merasakan ada yang mendesak keluar seperti saat saya sedang melakukan masturbasi dan saya mulai mengerang, "Aduh, Nita... saya sampai nih, uh... uhhh... uuuhhh..." Dan Tante Nita mulai mempercepat permainannya dan akhirnya saya mengeluarkan cairan sperma saya di dalam mulutnya Tante Nita. Saya merasakan Tante Nita menghisap habis seluruh sperma saya dan menelannya. Dalam sisa-sisa kenikmatan, saya melihat Tante Nita bangkit dan mencium bibir saya, yang tentu saja saya balas dengan ciuman yang hangat dan liar. Hanya dalam hitungan beberapa detik, Tante Nita menekan kepala saya dan saya pun mengerti apa yang diinginkan Tante Nita. Saya mulai berjongkok dan Tante Nita berganti posisi dengan tubuhnya bersandar pada dinding rumah. Dengan perlahan saya menurunkan celanan Tante, lalu saya melihat CD warna biru langitnya Tante Nita dengan segunduk daging yang menonjol di antara kakinya, selain itu saya juga melihat CD-nya mulai basah oleh cairan kemaluannya. Tante Nita berkata kepada saya, "Endy, cepat donk.., Tante sudah nggak tahan nih..." Dengan tenang saya menjawab, "Iya Nita..," dan saya mulai memeloroti CD-nya. Saya melihat rambut kemaluan Tante Nita yang sungguh subur tetapi terawat dengan rapih. Sejujurnya, saya sungguh tidak menyangka keindahan alat kelamin wanita ini berbeda dengan yang pernah saya lihat di film-film blue bahkan sangat berbeda. Dengan perlahan-lahan, saya mulai menyapu kemaluan Tante Nita dengan lidah saya. Sesudah rambut kemaluannya basah oleh air liur saya, saya mulai memasukkan lidah saya di antara kemaluannya dan saya menemukan sebuah bijian kecil. Dengan lidah saya, saya mulai menjilati biji tersebut, hal ini membuat Tante Nita mengerang keenakan. "Endy.., terus.., Tante merasa nikmat sekali, ah... ah... uhhh..." desahnya. Karena merasakan Tante Nita yang mulai terangsang, maka saya mempercepat jilatan saya pada bijian tersebut kurang lebih 6 menit Tante Nita menjerit sambil memegang dan menjambak rambut saya. "Uhhh... Tante sampai nihhh... ayo terus Ndyyy... ah... ehmmm... nikmat sekali." Lalu saya melepaskan permainan lidah saya dan saya melanjutkan dengan tangan saya yang mulai mengosok dan mengocok kemaluan Tante Nita karena saya merasa jijik untuk menghisap air kemaluan wanita tetapi dengan cepat Tante menarik kepalaku dan mengarahkannya kembali ke kemaluannya. Karena ingin memuaskan Tante Nita, maka saya mulai memainkan lidah saya di kemaluan Tante Nita. Akhirnya Tante mengejang dan berteriak, "Ahh... ahhh... auuu... ehmmm... saya sampai, terus Ndyyy... uhh... ahhh... aahhh..." Saya merasakan ada cairan yang keluar dari kemaluan Tante, maka saya menghisap seluruh cairan tersebut sampai kering dan kemudian saya menelannya. Karena melihat Tante Nita sedang merasakan sisa-sisa kenikmatannya maka saya bangkit dan mencium bibirnya, sedangkan tangan saya meremas payudaranya. Lalu Tante Nita membuka matanya dan tersenyum nakal sambil berkata, "Endy, kamu kurang ajar sekali, bahkan dengan mama kawan baikmu pun kamu berani berbuat begitu." Dengan terkejut saya berkata, "Tapi Tante, saya tidak bermaksud begitu, khan tante yang..." Belum selesai saya berkata Tante Nita memotongnya dan berkata, "Saya tahu kamu tidak bermaksud begitu tapi kamu sudah melakukannya jadi ya.., nggak apa-apa deh... tante suka dengan permainan kamu. Lain kali kamu harus melakukannya dengan Tante lagi, kalo tidak.. Tante akan laporkan kamu sama yang lainnya!" Lalu saya tersenyum dan berkata, "Tante nakal sekali, saya sampai terkejut, tapi Tante jangan khawatir, lain kali saya akan melayani Tante lagi, saya janji Nita." "Kamu harus ingat janji kamu yach... sekarang kita harus berpakaian kembali, lalu kamu kembali ke teman kamu... khan kamu mau barbeque khan..?" kata Tante Nita kemudian yang sempat membuatku terkejut seperti sadar kembali kalau kami sudah meninggalkan acara pesta. Dengan cepat saya mulai membetulkan pakaian saya dan merapikan rambut saya sambil bertanya kepada Tante Nita, "Tante.., kita sudah pergi berapa lama sih..? Kalo ketahuan gimana, Tante..?" Dengan tenang Tante menjawab, "Kamu jangan khawatir, Tante akan mengaturnya supaya aman." Lalu kami pun kembali ke rumah Tante Nita yang baru meskipun dalan hatiku masih ada sedikit keraguan. Sesampainya disana, Tante berkata bahwa kami membongkar seluruh rumah untuk mencari kunci lemarinya sehingga memerlukan waktu setengah jam. Sambil bernafas lega, saya menoleh ke arah Tante Nita dan melihatnya tertawa, sungguh mengoda sekali. Beginilah awal kisahku dengan Tante Nita yang merupakan mama dari kawan baikku. Di pesta barbeque bersama temanku, saya merasa sangat tidak tenang bahkan terasa ada yang ingin dikeluarkan. Akhirnya saya pun melakukan masturbasi di kamar mandi, tentu saja sambil menghayalkan Tante Nita. Dalam hati saya tentu saja sangat ingin untuk melakukannya dengan Tante nita, tetapi yah... Hari ini sudah lewat 2 minggu sejak kejadian di malam pesta barbeque itu. Saya sendiri sudah tidak sabar dan frekuensi onani saya malah semakin meningkat, bahkan bisa tiga kali dalam satu hari. Tetapi siang harinya, ketika baru pulang dari sekolah, sesampai di rumah dan duduk di kursi sambil melepas sepatu, saya menggerutu, "Aduh, hari ini kok panas sekali..."Tetapi tiba-tiba saya mendengar pembantu saya berteriak, "Mas Endy ada telpon tuh..!" Lalu sambil malas-malasan saya bangkit dan mengambil telepon sambil menjawab, "Halo..?" "Ini Endy yach..?" tanya orang lawan bicara saya. Saya jawab, "Iya, disana siapa yach..?" "Kamu udah lupa yach ama saya..?" dengan logat memancing. Karena merasa dipermainkan, saya mulai emosi dan menjawab, "Disana siapa sich kalo nggak mo bilang lagi saya tutup teleponnya nih..!" "Kok marah sich..? Nanti tante laporkan kamu lho dan nggak tante kasih kamu kenikmatan lagi." kata lawan bicara saya lagi. Mendengar kata-katanya yang terakhir tadi, saya jadi teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu dan saya langsung menjawab lagi, "Oh, ini Tante Nita yach..? Sori Tante gua lagi nggak mood nih... Tante sich main-main aja..." Lalu Tante Nita berkata "Nggak mood yach..? Jadi sama Tante juga nggak mood donk..? Tadinya Tante mo ajak kamu ke rumah Tante nih, abisnya lagi sepi nih.., tapi nggak jadi deh.." Dengan cepat saya memotong, "Bentar dulu Tante, kalo Tante sich gua jadi mood lagi nih, emang teman saya (maksudnya anak Tante Nita yang menjadi teman baik saya) nggak ada di rumah yach..?" "Kamu tenang aja deh... pokoknya dari sekarang (saat itu jam 12:30) sampe nanti sore jam 5 kita aman deh.., jadi datang nggak..?" tanya Tante Nita. Tentu saja saya menjawab, "Jadi donk Tante.., bentar lagi saya ke sana Tante, Tante tunggu yach..!" Setelah itu, saya segera menutup teleponnya seperti tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Kemudian saya segera berlari ke kamar dan ganti baju, terus segera keluar rumah menuju rumah Tante Nita, karena dari rumahku ke rumah Tante Nita memerlukan waktu sekitar 15 menit jalan kaki. Karena ingin cepat tiba disana, maka saya naik angkot (angkutan umum perkotaan) saja. Sesampainya di rumah Tante Nita, saya segera memutar ke belakang karena lewat pintu samping rumah Tante Nita lebih aman dan sepi. Kemudian dengan perlahan saya mengetuk pintu dan terdengar Tante Nita menjawab. "Iya, bentar..." lalu Tante Nita membuka pintu dan mempersilakan saya masuk. Di depan saya, Tante Nita berpakaian kaos oblong dan celana pendek putih. Berpenampilan seperti itu tentu saja sama dengan menampakkan BH dan CD-nya yang berwarna hitam secara sengaja kepada saya. Dalam pikiran saya mungkin Tante Nita sengaja membuat saya terangsang, tetapi saya berusaha tetap tenang, yah.. stay cool deh pokoknya. Setelah itu, Tante Nita menyuruh saya mengikutinya dan saya pun berjalan. Tetapi begitu melihat pinggulnya yang bergoyang, saya tidak tahan lagi, segera saya menarik Tante Nita dan menciumnya. Tante Nita pun segera membalas ciumanku dan tangan saya segera bergerak untuk membuka bajunya. Bersamaan dengan itu, Tante Nita berkata, "Jangan di sini donk sayang..!" "Dimana Tante..?" tanya saya. "Di kamar Tante aja..." kata Tante Nita. Lalu saya pun segera menarik tangan Tante Nita dan berkata, "Jadi, tunggu apa lagi Tante..?" Setelah sampai di kamar Tante Nita, saya segera merebahkannya. Di mata saya, Tante Nita tampak sangat anggun dan mengairahkan. Dengan tidak membuang waktu lagi, saya segera menciumnya dan ciuman saya di balas Tante Nita dengan hangat. Sementara itu tangan saya segera bergerak aktif untuk meremas buah dada Tante Nita. Tiba-tiba Tante Nita mendorongku dan dengan terkejut saya bangkit, tetapi kemudian Tante Nita segera menarikku dan naik di atas tubuhku sehingga posisi saya sekarang adalah Tante Nita di atas tubuh saya. Saya segera mambuka baju Tante Nita sehingga tampaklah buah dadanya yang masih dibungkus oleh BH hitamnya. Saat itu Tante Nita menunduk sehingga sekarang buah dadanya tampak di depan mataku dengan sangat jelas. Untuk menghemat waktu dan karena memang saya juga sudah sangat terangsang, maka saya segera melumat payudara Tante Nita dan melepas BH hitamnya. "Aduh enak sekali, ahhh... uh... sttt..." desahnya yang menandakan Tante Nita sudah terangsang. Karena sudah terangsang maka Tante Nita segera melepas baju dan celana saya, sehingga saya hanya tinggal memakai CD saja. Kemudian saya berguling ke samping sehingga posisi saya sekarang di atas Tante Nita, lalu saya segera merangkak turun dan melepas celananya sehingga tampaklah pemandangan di depan wajah saya sebuah surga kenikmatan yang masih terbungkus oleh kain hitam. Tanpa menunggu aba-aba darinya, saya langsung melepaskan CD-nya Tante Nita dan tampaklah kemaluan Tante Nita yang terawat dengan rapih. Sungguh sangat indah dan berbeda dengan yang pertama kali saya lihat dulu. Dengan perlahan saya menjilati permukaan vaginanya dan Tante Nita pun segera mengerang. "Aduh, nikmat sekali... sungguh... geli tapi... ahhh... uhhh... terus Endy..." Segera saya menaikkan permainan saya sehingga tidak lama kemudian Tante Nita pun menjerit. "Aduh saya sampai Ndyyy... segera keluar... ahhh..." Lalu saya segera menghisap bijian di kemaluan Tante Nita sehingga saat cairan kemaluan Tante Nita keluar, segera saya hisap habis dan menelannya. Dalam sisa kenikmatannya, Tante Nita berkata, "Endy... biarkan Tante Nita istirahat yach..? Nanti Tante Nita baru melanjutkannya kembali." Saya segera menjawab, "Iya Tante..." Setelah beristirahat 15 menit, Tante Nita mulai bangkit dan segera melepas CD saya. Tampaklah kemaluan saya yang masih dalam posisi setengah tiang. Tante Nita segera memasukkannya ke dalam mulutnya dan menjilatinya. Di dalam mulut Tante Nita, kemaluanku segera mengeras hingga dalam posisi yang siap tempur. Tante Nita sungguh sangat berpengalaman dalam menjilati kejantanan pria yang dengan cara menghisap dan kadang-kadang mengigitnya dengan perlahan. Hal ini membuatku sangat terangsang. Karena sudah tidak tahan lagi, maka saya segera menarik tubuh Tante Nita ke atas dan dan membalikkannya. "Tante Nita, saya sudah tidak tahan lagi, sekarang saya masukkan yach Tante..?" tanya saya yang sudah merasa sangat terangsang. Tante Nita menjawab, "Terserah kamu Ndyy.., tapi hati-hati yach soalnya punya tante udah lama nih nggak digunakan.." Dengan pelan dan hati-hati saya mengarahkan kepala kemaluan saya ke dalam lubang kemaluan Tante. Kepala kemaluan saya mulai menyentuh bibir kemaluan Tante Nita, lalu saya menekannya sehingga kepala kemaluan saya sudah terbenam ke dalamnya. Tante Nita segera menjerit, "Aduh... sakit sekali... pelan-pelan Ndy..."Tetapi saya sudah tidak perduli lagi, saya segera melanjutkan aksi saya dengan menekan kemaluaan saya lebih dalam lagi dan kepala kemaluan saya juga mulai terasa perih karena ini adalah pertama kali saya melakukan hubungan intim. Saya tetap menekan batang kemaluan saya sehingga tidak lama kemudian, seluruh kemaluan saya sudah terbenam dalam kemaluan Tante Nita. Tante Nita lalu mengerang, "Aduh sakit sekali... biarkan tetap di dalam Endy, aduh... ahhh... ehmmm... uh..." Setelah terdiam hampir 5 menit, saya segera mengoyang pinggul saya dengan naik turun secara berirama dan Tante Nita pun mengimbanginya dengan goyangan pinggulnya yang membuat saya merasa sangat keenakan. Tante Nita tiba-tiba mengerang secara tidak jelas, "Aduh... sakit sekali, tapi enak sekali, terus Endy..." Saya sudah tidak memperdulikan Tante Nita dan hanya terus memacu kemaluan saya untuk mencapai kenikmatan. Tidak lama kemudian, setelah 8 menit, saya mendengar Tante Nita menjerit kembali, "Aduh... saya sampai Ndyyy... akan segera keluar nih..." Saya menjawabnya, "Sebentar lagi Nita, sebentar lagi... saya juga hampir sampai nih..." Tidak lama, Tante Nita tiba-tiba mengejang dan saya merasakan ada cairan hangat di dalam kemaluan Tante Nita dan Tante Nita mengerang lagi, "Aduh... ahhh... aku sampai Endy... nikmat sekali..." Tidak sampai disitu, selang beberapa detik, saya merasa juga ada yang mendesak keluar dari kemaluan saya dan akan segera meledak. Rupanya saya juga telah mencapai kenikmatan dunia dan saya menjerit, "Saya sampai Tante eh... ahhh... nikmat sekali" Lalu saya segera jatuh dan berbaring di samping tubuh Tante Nita sambil merasakan sisa kenikmatan yang telah kami capai berdua. Setelah beristirahat, kami melakukannya lagi 3 kali dalam tempo yang cepat. Tante Nita dan saya sama-sama mencapai puncak kenikmatan 3 kali. Setelah mandi dan pikiran kami sudah tidak terpengaruh nafsu lagi, Tante Nita berkata padaku, "Tante Nita minta maaf Endy... tadi Tante Nita telah merenggut keperjakaan kamu... sungguh Tante Nita minta maaf.." Tetapi saya segera berkata, "Tidak apa-apa Tante, saya rela kok menyerahkannya pada Tante, sungguh saya sangat menyukai permainan tadi. Tapi Tante Nita harus janji kalo Tante Nita lain kali harus memberikan kenikmatan yang sama lagi kepadaku..!" Sambil tersenyum, Tante Nita berkata, "Iya... Tante sangat senang dengan permainan tadi, Tante janji, Tante bersedia melayani kamu lagi, tapi kamu juga harus membuat Tante merasa keenakan seperti tadi.." dan saya mengiyakannya. Hubungan kami hampir berlangsung selama 2 tahun, tetapi kami melakukannya dengan caracara yang tradisional. Saya maupun Tante Nita tidak menyukai gaya-gaya yang terlalu berani seperti gaya anjing maupun yang lainnya. Hubungan kami sekarang meskipun belum diputuskan berakhir, tetapi kami hampir tidak pernah berjumpa lagi, karena saya sudah melanjutkan kuliah di luar kota yang tentu saja dengan anaknya Tante Nita. Hubungan saya dengan Tante Nita sampai sekarang tetap menjadi rahasia kecil kami. Jikalau saya liburan dan pulang ke kampung halaman saya, Tante Nita selalu meminta bagiannya dan saya pun dengan senang hati melayaninya. |
| Pengalaman Pertama Bersama Nyai Posted: 01 Jul 2008 10:12 AM CDT Dengan mata terbelalak kaget, kini aku melihat pemandangan yang luar biasa, yang belum pernah kulihat selama 24 tahun berada di kolong langit. Seorang wanita dengan kulit langsat telanjang bulat, dengan lingkaran perut pinggang ramping, buah dada masih lumayan besar, meskipun sudah rebah ke samping. Di tengan buah dada yang ber "pola" tempurung, terlihat puting besar warna hitam dikelilingi area hitam kecoklatan.. Di bawah pusar ada rambut yang mula-mula jarang tetapi semakin ke bawah semakin lebat, sepeti gambaran menara "Eiffel" dengan ujung runcingnya menuju pusar.. Di pangkal tumbuhnya rambut terdapat gundukan vagina yang pinggir kiri dan kanannya tumbuh rambut, bak gambaran hutan kecil.. Ampun mana tahan.. Mau pecah rasanya penisku menahan tekanan akumulasi cairan di pembuluh darah penisku. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Terus terang, semuanya terjadi secara tidak sengaja. Pada waktu itu aku membeli buku tentang indera ke-enam atau "bawah sadar", tadinya sekedar iseng waktu berada di suatu toko buku. Inti buku itu mengajarkan begini. Kalau kita menginginkan sesuatu maka kita harus mencoba menvisualisasikannya.. Suatu saat apa yang kita visualisasikan itu akan terjadi, akan terlaksana. Mimpi? Bukan. Sebab untuk mencapai indera ke-enam seseorang justru tidak boleh tertidur, tetapi perlu menurunkan gelombang listrik di-otaknya dari gelombang beta menjadi alfa. Caranya? Gampang sekali.. Kita cukup memejamkan mata, membayangkan menuruni tangga spiral dengan minimal 10 gigi. Saat anda membayangkan ini, gelombang listrik di otak anda akan menurun frekuensinga dari 13 cycle atau lebih perdetik, menjadi 8-13 cycle per detik. Kelihatannya mudah tetapi butuh latihan, jadinya ya sukar.. He. He.. Nah di saat itulah kita memasuki bawah sadar (unconsciousness) Apa keinginnan saya? Lha ini yang kurang ajar. Aku ingin nangkring di tubuh Nyai Elis (waktu muda panggilannya Neng Elis). Nyai Elis adalah ibu kostku. Kenapa Nyai? Pertama, kemungkinan hamil nol persen. Pada usia 48 tahun biasanya wanita sudah masuk masa menopause. Yang kedua, ditanggung bersih, sehat tak mungkin kena penyakit "kotor" seperti gonorrhoe, syphilis, HIV dsb. Yang ketiga, gratis tidak perlu bayar, karena sama-sama menikmati. Untuk wanita, bersebadan dengan orang usia lebih muda akan menambah hormon estrogen, hormon khas wanita. Kalau wanita kekurangan hormon ini akan menderita osteoporosis, yaitu tulang menjadi rapuh, mudah patah. Meskipun sudah kepala empat, tapi jangan meremehkan kecantikannya. Wajah Nyai masih terlihat ayu. Kulit kuning langsat, tubuh langsing semampai. Secara legendaris, wanita sunda sangat rajin memelihara wajah dan tubuhnya. Mandi lulur sudah seperti prosedur tetap mingguan. Membedaki wajah dengan berbagai ramuan menjadi rutinitas harian. Itu sebabnya tidak hanya wajah dan tubuhnya yang mengesankan. Bau badannya juga sedap dengan aroma lembut. Lalu kalau mau tahu seperti siapa? Seperti siapa ya..? Nah kira-kira seperti itu.. Diana Lorenza, janda beranak satu dari Heru Kusuma. Sudah tiga tahun aku tinggal di kost milik keluarga Padmadireja (suami Nyai Elis), pensiunan wedana di salah satu kabupaten di Jawa Barat. Keluarga Pak Padma-Nyai Elis ini mempunyai putera dua orang, semua sudah berkeluarga dan tinggal di Jakarta. Tinggalah Bapak–Ibu semang kostku ini dibantu seorang PRT dan seorang supir. Semua karyawan ini pulang sore. Sudah seminggu aku latihan meditasi, belum ada hasil. Tambah tiga hari lagi, meskipun hampir putus asa. Tiba-tiba.., pada hari ke sebelas.. Malam itu sudah pukul 10, pintu kamarku diketuk orang. "Mas Agus.. Mas Agus" "Ya.. Nyai" "Tolong kerokin ibu sebentar ya.." Pucuk dicinta, ulam tiba, burung dahaga, apem menganga.., hatiku berjingkrak bukan main. "Sebentar Bu, saya ganti pakaian dulu" Kamar-kamar yang dipakai kost letaknya di belakang rumah utama, dipisahkan oleh satu kebun kecil. Ada enam kamar, membentuk huruf U mengelilingi kebun. Masing-masing kamar berpenghuni satu orang. Kebetulan waktu itu masa liburan, namun karena aku harus mengejar "deadline" penyelesaian skripsi, terpaksa aku tidak dapat mudik. Hiya khan, masak sudah jadi mahasiswa PTN terkenal seantero dunia rela di-DO. Singkat cerita aku sudah duduk di tepi tempat tidur di kamar Nyai. Duduk dengan bersimpuh, ya.. seperti "pengerok" professional itu. Badan Nyai dalam posisi tengkurap di depan saya. Punggungnya yang putih, mulus tanpa penutup apapun. Hanya tali BH sudah dilepas, tetapi buah dadanya masih sedikit terlihat, tergencet di bawahnya.. Leher Nyai terlihat jenjang, putih, dengan rambut yang panjang sampai ke pinggang, disibakkan ke samping. Punggung ke bawah ada sejenis kain sarung yang diikatkan sekenanya secara longgar. Ke bawah, kain itu hanya menutupi sampai lipatan lutut. Di bawahnya betis yang halus, kencang. Wajah Nyai menghadap ke samping di mana saya duduk. Sesekali meraba lutut saya, entah apa maksudnya. Pemandangan ini mampu dan makin mengeraskan burungku yang sejak dari kamar tidurku mulai melongok, eh.. bangun menggeliat (Jawa: ngaceng). Dalam waktu 15 menit seluruh punggung Nyai sudah aku keroki. Suasana sekitar kamar hening, hanya degub jantungku yang makin mengeras. Burungku, pelan tapi pasti makin menegang juga. Aku diam, Nyai juga demikian. Mau ngomong apa aku? Bicara tentang Pak Padma..? Ah sama aja bicara tentang kompetitor. Toh malam ini aku yang akan menjadi "Mas Padma", akan menumbuk padi di lumbung Nyai. Mau ngomong anak-anak Nyai? Yang akan ditengok Pak Padma yang sore tadi berangkat? Ngapain toh sebentar lagi aku akan menganggap Nyai ini ibarat pacarku. "Pinggangnya juga ya Mas.." "Ya.. Ya.. Bu..", jawabku seperti terbangun dari lamunan berahi. Aku tarik kain yang menutupi pinggang Nyai. Ya ampun.. Rupanya Nyai sudah melepas celana dalamnya. Kini di depan mataku ada pemandangan yang.. Waduh.. Ada gambaran parit sempit di tengah tulang pinggang memanjang ke bawah.. Terus.. Ke bawah, berujung di satu celah sempit di antara dua bukit pantat yang putih padat.. Menggemaskan.. Aku bayangkan.. Apa yang ada di depan pantat itu.. Tiba-tiba Nyai membalikkan badannya.. "Depan ya Mas.." Dengan mata terbelalak kaget, kini aku melihat pemandangan yang luar biasa, yang belum pernah kulihat selama 24 tahun berada di kolong langit. Seorang wanita dengan kulit langsat telanjang bulat, dengan lingkaran perut pinggang ramping, buah dada masih lumayan besar, meskipun sudah rebah ke samping. Di tengan buah dada yang ber "pola" tempurung, terlihat puting besar warna hitam dikelilingi area hitam kecoklatan.. Di bawah pusar ada rambut yang mula-mula jarang tetapi semakin ke bawah semakin lebat, sepeti gambaran menara "Eiffel" dengan ujung runcingnya menuju pusar.. Di pangkal tumbuhnya rambut terdapat gundukan vagina yang pinggir kiri dan kanannya tumbuh rambut, bak gambaran hutan kecil.. Ampun mana tahan.. Mau pecah rasanya penisku menahan tekanan akumulasi cairan di pembuluh darah penisku. "Nyai Aku nggak tahan lihat begini..?" "Maksudnya, Mas Agus sudah capai..?" "Enggak Nyai.. Burung saya sudah.. Nggak bisa.. Nggak bisa.. Saya nggak tahan lagi..!" "Lho, kok baru bilang sekarang.. Ayo naik..", sambil berkata demikian tangan kanannya melambai, mempersilakanku menaiki perutnya.. Seperti kucing kelaparan, aku segera mengangkangi perut Nyai, aku mau mencium pipinya, lehernya, mau melumat bibirnya. Tetapi gerakanku membungkuk terganjal burungku yang keras dan sakit waktu tertekuk. Malah ketika kupaksakan dan terus tertindih perutku, pertahanan katupnya jebol. Karena tiba-tiba.., crut.. crut.. crut.. Dari burungku tersembur, memancar air mani, yang disertai rasa nikmat. Ejakulasi!! Semburan air maniku mengenai dada Nyai, leher dan perutnya. Setelah menyembur, burungku sedikit kendur, aku peluk leher Nyai, aku kulum dengan berapi-api bibirnya. Rupanya Nyai merespons dengan penuh gairah juga. Aku gigit dengan lembut bibirnya, sesekali aku sedot lidahnya. Lima menit lamanya, baru aku tersadar. "Maaf Nyai, air mani saya tadi.." "Ah, nggak apa-apa, itu tandanya Mas Agus masih "jejaka ting-ting", nanti sebentar juga bangun lagi.", sambil berkata demikian, Nyai mencium lagi bibirku. Tentu saja aku membalasnya dengan lebih bernafsu. Kecuali bibirku melumat bibir Nyai, tanganku juga meraba buah dada Nyai. Memang sudah tidak gempal, tapi masih "berisi" 80 persen. Kedua tanganku masing-masing meraba, memeras-meras, memilin-milin puting Nyai. Kadang saking gemasnya cengkeraman tanganku ke buah dadanya agak keras, menyebabkan Nyai meringis menggeliat. Begitu juga bila puting Nyai aku pilin agak kuat, nyai bereaksi.. "Enak, enak.. Tapi sakit Mas.. Jangan keras-keras.. Yang (maksudnya Sayang).." Tanpa terasa saat aku menggulati tubuh Nyai, mendekami dada, perut, menekan vagina Nyai dengan penisku, terasa burungku mulai menggeliat lagi. Makin lama makin keras. "Nyai.. Burung saya.. Nyai mau.. Lagi..?" "Nah, apa khan.. saya bilang, ayo.. lagi, tapi 'ntar.. Yang, aku bersihkan badanku dulu ya.. ya.." Nyai masuk ke kamar mandi dalam di ruang tidur. Keluar dari kamar rambutnya terlihat sedikit basah, sebagian terjurai di lengan. Ya.. Tuhan.. Cantik sekali dewi ini.. Aku pun juga masuk juga ke kamar mandi, membersihkan bagian badan yang terkena air mani. Keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat, terlihat burungku tegak, keras mendongak ke atas membentuk sudut 45 derajat dengan garis horizontal. Batangnya besar, warna kehitaman dengan tonjolan pembuluh darah membujur, sebagian melintang. Seperti tongkat ukiran. Ujungnya, gland penis, besar, kemerahan, membentuk topi baja yang mengkilat. Antara gland penis dan batang terlihat leher penis yang dangkal. Rasanya aku mau berkelahi dengan membawa senjata golok. Waktu Nyai melihat aku dan memperhatikan penisku.. "Hei.. Gede buanget.. Hebat buanget.. Pasti nikmat buanget.." Aku menyahuti tiruan iklan itu, dengan meletakkan ibu jari tangan kananku di depan bibirku.. "Sssstt.." Tentu saja Nyai senyum atas jawaban spontanku. Langsung akau naiki perut Nyai. Dengan lutut menahan badan, aku sedikit menunduk, memegang penisku. Segera kumasukkan ke liang vagina Nyai. Aku takut kalau nanti terlambat masuk ke vagina, maninya tersembur lagi keluar. Nyai maklum juga kelihatannya. Kupegang penisku, kepalanya kuhadapkan di depan vagina Nyai, lalu kudorong masuk. Bless.. Lega sekali rasanya. Kalau nanti muncrat, ada di dalam liang vagina Nyai.. Lalu aku rebahkan tubuhku ke depan dengan bertumpu pada kedua sikuku. Bertemulah dadaku dengan buah dada Nyai, bibirku dengan bibir Nyai. Kedua tanganku memegang pipi Nyai, Nyai kucium mesra, lalu kucucuk-cucukkan bibirku pada bibirnya, eh.. menirukan burung yang bercumbu. Sesekali tanganku meremas buah dadanya, memilin putingnya, terkadang mulutku turun ke bawah, menghisap puting buah dada Nyai, bergantian kanan dan kiri Akan halnya penisku waktu kumasukkan ke liang vaginanya, rasanya memasuki ruang kosong, berongga. Tetapi setelah itu rasanya ada kantong yang menyelimuti. Permukaan kantong itu bergerigi melintang, pelan-pelan kantong itu "meremas "penisku. Tak ingin cepat berejakulasi maka kutarik penisku, kantong vagina itu tidak "mengejar"nya. Kumasukkan lagi seperti tadi, terasa masuk ruang kosong, sebentar liang vagina mulai meremas, kutarik lagi. Begitu beberapa kali. Terkadang penisku agak lama kutarik keluar, sampai tinggal "topi bajanya" yang ada di antara 'labia mayora'-nya. Terus begini Nyai mencubitku.. "Masukkan lagi Yang.." Gerakkan in-out ini makin cepat, "pengejaran" penis oleh sekapan kantong vagina juga makin cepat. Di samping itu di pintu masuk, bibir luar (labia mayora) dan bibir dalam (labia minora) juga ikut "mencegat" penisku. Makin cepat aku keluar-masukkan penisku, Nyai terlihat makin menikmati, demikian juga aku sendiri. Ibarat mendaki gunung hampir tiba di puncaknya. Kecepatan penisku memompa vaginanya semakin bertambah cepat, denyut nadiku semakin bertambah, nafas juga semakin cepat. Terlihat juga wajah Nyai semakin tegang menanti puncak orgasme, nafasnya terlihat juga semakin kencang. Cairan di liang vagina Nyai juga terasa semakin banyak, ibarat oli untuk melicinkan gesekan penisku. Peluhku mulai menetes, jatuh bercampur peluh Nyai yang tercium sedap dan wangi. Makin cepat, makin tinggi.., tiba-tiba penisku terasa disekap rongga vaginanya dengan kuat.. Kuat sekali dengan denyutan yang cepat tetapi dengan amplitudo yang rendah. Orgasme! Nyai mencapai orgasme. Di saat itu lengan Nyai memeluk leherku kuat sekali, sedang tungkainya memeluk pantatku dengan kencang. "Aihh..", terdengar desah kepuasan keluar dari bibir Nyai. Beberapa menit kemudian lubang penisku terasa jebol, cairan menyemprot keluar entah berapa cc. Nikmat.., nikmat sekali.. Nikmat luar biasa. Orgasme Nyai terjadi lebih dulu dari ejakulasiku. Kalau saja Nyai masih bisa hamil, kata dokter anak yang lahir nanti adalah pria. Saya masih tetap memeluk Nyai sambil mengendurkan nafas. Pelan-pelan penisku mulai mengendur, mengkerut. Tapi rupanya Nyai merespons. Paha dan tungkainya diselonjorkan (diluruskan). Maksudnya memberi jalan agar penisku keluar. "Terima kasih Yang, terima kasih Mas Agus.. Mas hebat sekali..", bisiknya. "Kau cantik sekali Nyai, secantik bidadari..", balasku Badanku kurebahkan di samping badan Nyai, memeluk Nyai yang tidur telentang. Kami tidur dalam keadaan telanjang, hanya ditutupi selimut. Nikmatnya Nyai, nikmatnya wanita, nikmatnya dunia. |
| Posted: 22 Jun 2008 08:34 AM CDT Melati mulai membuka kemeja yang aku kenakan dan Mawar membuka celana dan CD-ku sehingga aku benar-benar telanjang. Melati dan Mawar menjilat dadaku dan pelan-pelan mulai turun ke perut sampai akhirnya Melati mulai menyedot batang kemaluanku sedangkan Mawar mulai mengulum kedua biji zakarku, terkadang Melati menggigitnya dari samping secara pelan-pelan. "Ahhh," aku mulai mendesah karena kenikmatan yang tiada tara. Aku menyuruh mereka berdua berhenti. Aku segera meraih tangan Melati dan membuatnya telentang di atas ranjang. Kubuka BH-nya dan mulai kulahap kedua putingnya, aku juga mulai membuka roknya dan celana dalamnya, tampak olehku vaginanya yang kemerahan dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Aku buat kakinya mengangkang sehingga terllihat lebih jelas, aku pun langsung menjilati liang kemaluannya dengan ganasnya. "Ahhh… ahhh…" tubuh Melati gemetar dan ia menjepit kepalaku di antara kedua pahanya dan… "Ahhh, ahhh…" keluarlah cairan dari liang kemaluannya dan ia mengalami orgasmenya yang pertama. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Namaku Deny, aku seorang siswa SMU di salah satu besar yang cukup terkenal. Aku memang tidak memiliki tampang yang cukup tampan atau badan yang atletis. Tetapi aku cukup lumayan untuk seorang cowok tidak terlalu jelek dan termasuk biasa-biasa saja dalam hal penampilan. Tetapi yang sangat menarik dari diriku adalah kekayaan yang orangtuaku miliki. Setiap hari aku selalu berpergian dengan mengendarai Honda Estillo yang sangat gaul karena modifikasi yang aku lakukan, aku juga selalu mambawa HP Nokia 8250. Belum lagi sifatku yang royal terhadap setiap cewek cantik dan sexy, semakin membuatku dikejar cewek terutama para cewek matre. Di sekolahku terdapat berbagai macam ekstra kurikuler yang menarik, tetapi yang paling menarik untuk para cewek centil di sekolahku adalah ekstra kurikuler cheerleader, karena untuk masuk dalam ekstra kurikuler tersebut diharuskan melewati seleksi yang cukup ketat. Selain itu cewek yang dapat masuk ke dalam ekstra kurikuler tersebut adalah cewek-cewek yang memiliki tubuh seksi, tampang yang cantik dan keberanian dalam memakai baju minim di depan umum, karena para anggotanya selalu mengenakan baju yang sangat seksi ketika mengadakan pentas. Biasanya mereka hanya mengenakan tank-top atau kembel yang dipadukan dengan rok yang sangat mini atau dengan celana ketat yang super pendek. Secara tidak langsung hal ini membuat para cewek yang dapat masuk memiliki kebanggaan tersendiri karena berarti mereka telah dianggap sebagai cewek yang cantik dan seksi. Para anggota dari cheerleader biasanya selalu cewek yang sangat centil dan matre. Karena itu sangatlah mudah bagiku untuk mengajak mereka jalan dan "bermain" dengan mereka atau hanya sekedar memegang-megang mereka. Memang predikat "perek" cukup melekat dalam setiap anggota cheerleader, walaupun tidak semua cewek tersebut gampangan, dan ada juga yang memang hanya cewek baik-baik dan mengikutinya karena menyukai tari modern, walaupun jumlahnya paling hanya 2 orang. Seperti biasanya pada tahun ini cukup banyak cewek kelas 1 yang mau mencoba mengikuti ekstra kurikuler ini. Dan memang pada tahun ini cewek yang mengikutinya terlihat seksi-seksi dan tampang yang cantik. Seluruh anggota baru ini memiliki payudara dan pantat yang besar. Belum lagi mereka memang selalu ke sekolah dengan mengenakan baju ketat dan tipis dan mengenakan BH yang selalu berwarna mencolok seperti hitam, hijau, biru, kuning atau warna mencolok lainya yang membuat payudara mereka terlihat dengan jelasnya oleg setiap mata. Mereka juga selalu mengenakan rok yang pendeknya sekitar satu telapak tangan di atas lutut dan sangat ketat sehingga menunjukkan pantat mereka yang besar. Melihat para perawan baru yang tersedia aku menjadi ingin mencoba kenikmatan tubuh mereka. Ada 8 anggota baru yang masuk dari kelas 1 angkatan ini. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah Melati dan Mawar (sebut saja begitu). Karena mereka memiliki payudara yang besar dan pantat yang besar pula, belum lagi wajahnya yang cukup manis. Melati adalah seorang cewek keturunan Arab dengan ukuran payudara 34B dan pantat yang padat. Cewek ini adalah cewek yang paling merangsang di antara para anggota baik yang baru maupun yang lama. Mawar adalah saorang cewek dengan payudara yang tidak terlalu besar dan itu pula dengan pantatnya bila dibanding Melati. Ukuran payudaranya hanya 32B, tetapi bodinya seksi dan yang paling menarik adalah wajahnya yang manis dan cantik. Ia adalah cewek keturuna Jawa. Aku sangat berhasrat untuk menikmati tubuh keduanya, tetapi aku belum akrab dengan mereka. Sehingga aku meminta bantuan salah satu anggota cheerleader di angkatanku yang bernama Rani yang sebelumnya sudah sering aku nikmati tubuhnya, bahkan aku secara teratur berhubungan dengannya karena memang kami berdua memilki nafsu yang sangat besar walaupun diluar itu kami juga sering melakukanya dengan pacar kami masing-masing. Tanpa pikir panjang aku mengutarakanya ke Rani dan tentu saja Rani menyanggupinya, bahkan di luar dugaan Rani menantang aku untuk melakukannya sekaligus dengan mereka bertiga. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena ini memang sensani yang belum pernah aku lakukan hanya sering aku bayangkan. Entah dengan bujuk rayu apa yang dikatakan Rani kepada Melati dan Mawar sehingga mereka berdua mau malakukan itu. Rani menyuruh aku datang ke villa Rani di puncak yang memang sudah sering kugunakan untuk menikmati tubuh Rani pada malam minggu itu juga tetapi dengan syarat aku tidak pernah membahas kesepakatan ini dengan Melati dan Mawar sebelum hari itu dan aku juga tidak boleh mengatakannya kepada siapapun. Akhirnya sampai juga hari yang sangat kunantikan. Sekitar jam 14:00 aku segera berangkat untuk menghindari kemacetan, tapi apa boleh buat aku tetap terjebak kemacetan dan aku sampai di villa itu jam 05:00 sore, padahal biasanya bila tidak macet aku hanya mambutuhkan 1-2 jam untuk sampai ke villa tersebut. Sampai di sana, aku disambut oleh Rani yang pada hari pulang terlebih dahulu dari sekolah dengan Mawar dan Melati dengan alasan mereka sakit. Mereka berangkat terlebih dahulu untuk menghindari macet dengan menggunakan mobil Rani. Di sana aku langsung masuk ke kamar yang terletak di lantai atas, di sana sudah terlihat Melati dan Mawar. Pada saat itu mereka masih mengenakan seragam sekolah mereka yang ketat dan tipis, Melati mengenakan BH berwarna biru langit, Mawar dengan warna kuning dan Rani sendiri mengenakan BH berwarna merah cerah. Penampilan mereka semakin meningkatkan gairahku yang sudah lama kupendam terhadap mereka. Tanpa basa-basi mereka langsung mendorongku ke ranjang yang masih rapi dengan sprei putih. Melati dan Mawar langsung mendekatiku, sementara Rani mengambil handycam dan meminta ijinku untuk merekam adegan yang akan berlangsung, dan mengatakan hanya sebagai kenang-kenangan untuk dirinya tanpa ada maksud menyebarkannya. Aku mengiyakannya saja karena sudah sibuk dengan Melati dan Mawar. Pada saat itu Melati menciumiku dengan ganasnya dan Mawar mulai menyupang leherku. Tanganku segera beraksi, aku menggerayangi seluruh tubuh mereka berdua, terasa olehku kulit mereka yang halus di paha mereka. Pelan-pelan aku mulai membuka kemeja Melati dan mulai meremas kedua payudaranya di balik BH birunya. Terasa olehku payudaranya yang halus dan empuk, lalu aku mulai memuntir putingnya. Setelah itu aku juga membuka kemeja Mawar dan meremas payudaranya seperti halnya pada Melati. Aku juga mulai menjilat payudara mereka secara bergantian dan menghisapnya tanpa membuka BH mereka. "Ahhh… ahhh…" mereka berdua mulai mendesah saat puting mereka kuhisap. "Isep terus Den toked gue!" kata Melati. Mawar pun memohon hal yang sama kepadaku, dan aku semakin bersemangat menghisap puting mereka. Melati mulai membuka kemeja yang aku kenakan dan Mawar membuka celana dan CD-ku sehingga aku benar-benar telanjang. Melati dan Mawar menjilat dadaku dan pelan-pelan mulai turun ke perut sampai akhirnya Melati mulai menyedot batang kemaluanku sedangkan Mawar mulai mengulum kedua biji zakarku, terkadang Melati menggigitnya dari samping secara pelan-pelan. "Ahhh," aku mulai mendesah karena kenikmatan yang tiada tara. Aku menyuruh mereka berdua berhenti. Aku segera meraih tangan Melati dan membuatnya telentang di atas ranjang. Kubuka BH-nya dan mulai kulahap kedua putingnya, aku juga mulai membuka roknya dan celana dalamnya, tampak olehku vaginanya yang kemerahan dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Aku buat kakinya mengangkang sehingga terllihat lebih jelas, aku pun langsung menjilati liang kemaluannya dengan ganasnya. "Ahhh… ahhh…" tubuh Melati gemetar dan ia menjepit kepalaku di antara kedua pahanya dan… "Ahhh, ahhh…" keluarlah cairan dari liang kemaluannya dan ia mengalami orgasmenya yang pertama. Aku kembali mencium bibirnya dengan ganas dan melahap kedua putingnya, sambil aku gesek-gesekkan batang kemaluanku di atas liang kemaluannya, "Ahhh, Ahhh…" tubuh Melati mulai kembali menegang. "Den Ayo masukin batang kemaluan loe, gue udah nggak tahan," aku mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan memasukkannya pelan-pelan, aku keluar-masukkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya, "Blessss," dan "Ackhhh… Akchhhh…" Melati berteriak keras sekali karena kesakitan. Kudiamkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluannya sebentar dan mulai aku goyangkan pelan-pelan. Lama-lama Melati mulai tampak nikmat sambil terus mendesah, "Ahhh… Ahhh…" Aku pun berganti gaya dengan Melati di atas, tanpa disuruh Melati mulai memompa naik-turun batang kemaluanku dengan semangat, aku pun menggerakkan pantatku naik-turun sehingga terdengar bunyi "Cleb.. cleb…" yang cukup keras pada saat batang kemaluanku masuk ke liang kemaluannya dengan full-nya. "Ahhh, ahh, ahhh…" Melati mendesah-desah sambil tangannya meremas-remas payudaranya sendiri. Sekitar 7 menit kemudian Melati kembali meminta posisi kembali di bawah. Aku menyetubuhinya dengan sangat bernafsu, dan sektar 6 menit kemudian, "Ahhhhh, ahhhh… gue mau keluar Den…" "Tahan sedikit! gue juga…" kataku. Kupercepat gerakanku dan akhirnya, "Akhhh… ahhh…" Melati keluar duluan, dan tidak lama kemudian aku semakin mempercepat gerakanku, aku bertanya, "Mel, mau di luar apa di dalem?" "Di dalem aja," jawabnya. Dan, "Crott… crott…" aku ejakulasi di dalam liang kemaluannya. Aku berpelukkan sesaat dengan Melati dan melap keringat di sekujur tubuhnya dengan tanganku, Melati tampak sangat kelelahan. Tapi tiba-tiba Mawar membuatku telentang di atas ranjang, dengan ganasnya ia mulai membersihkan sisa sperma yang ada di ujung batang kemaluanku, dan terus menghisapnya dengan ganasnya. Tak lama kemudian batang kemaluanku kembali bangun dan siap tempur, staminaku tiba-tiba kembali pulih dan nafsuku kembali menggebu. Aku segera meremas pantat Mawar dan menelanjangi dia, sekitar 7 menit aku habiskan untuk merangsang dia, dengan cara menghisap payudaranya dan meremas-remasnya, aku juga menjilat klitorisnya. Terlihat dari wajahnya dia sangat menikmatinya dan sesekali mendesah karena foreplay yang kulakukan. "Masukkin ****** loe dong Den! masa cuman bigini aja, gue udah nggak tahan…" Aku menyuruhnya berpegangan ke pinggir tempat tidur dengan posisi seperti mau merangkak. Aku mau melakukan doggy style. Dia melakukannya dengan cepat, dan terlihat dua bongkah pantat yang mulus. Aku melap keringat yang ada di kedua pantat tersebut dan meremas-remasnya. Aku pun mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya, dan aku masukkan sedikit, aku pegang dengan kuat kedua pahanya, dan secara tiba-tiba "Bless…" aku memasukkannya secara mendadak dan langsung seluruhnya, "Akhhh… akhhh…" Mawar berteriak dengan sangat keras karena selaput daranya robek mendadak. Ia meronta-ronta tetapi batang kemaluanku tetap di dalam liang kemaluannya, karena pahanya telah aku tahan dengan kuat. Tidak lama kemudian Mawar mulai tenang, dan aku mulai menggerakkan batang kemaluanku maju-mundur secara pelan-pelan. Tak beberapa lama kemudian tampak Mawar mulai menikmatinya, aku pun semakin mempercepat gerakanku. "Ahhh, ahhh, ahhh…" Mawar mulai mendesah nikmat, tampak olehku dari kaca besar di dinding bahwa wajahnya mulai menikmati batang kemaluanku. Aku juga melihat adegan yang sering kulihat di film-film porno dari kaca besar tersebut. Semakin lama aku semakin mempercepat gerakkan maju-mundurku, dan Mawar pun mulai merespon dengan menggerakkan pantatnya maju-mundur berlawanan arah dengan apa yang aku lakukan, sehingga batang kemaluanku keluar-masuk dengan cepat dan sangat keras, "Blesss, blesss…" aku dan Mawar sangat menikmatinya. Setelah melakukan doggy style selama kurang lebih sepuluh menit, aku mengganti gaya. Mawar tiduran menghadap ke samping sementara aku berlutut dan meletakkan paha kiri Mawar di atas pahaku sehingga Mawar dapat melihat keluar-masuknya batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya. "Ahhh, ahh, ahhh," Mawar terus mendesah selama aku setubuhi. Tidak lama kemudian, "Ahhh," Mawar mengalami orgasmenya yang pertama, "Ahhh," ia terus mendesah, terasa cairan hangat mengalir dari liang kemaluannya sehingga memperlicin gerakan batang kemaluanku. Aku terus menyetubuhinya. Mawar meminta untuk berganti gaya dengan gaya konvensional, yakni dengan ia berada di bawah. Aku menurutinya dan terus menyetubuhinya. Sekitar 4 menit kemudian, "Ahhhh, ahhhh… Den gue udah mau keluar lagi…" "Tahan sebentar! gue juga," kataku. Kupercepat gerakanku dan, "Ahh, ahhh…" aku ejakulasi di dalam liang kemaluan Mawar, dan Mawar pun mengalami orgasmenya secara bersamaan. "Ahhh, ahhh…" Mawar mendesah panjang, dan aku pun mengeluarkan batang kemaluanku. Tapi Rani yang sejak tadi diam langsung menghisap batang kemaluanku dan membuka bajunya. Setelah agak lama aku kembali "on", aku kembali bernafsu dan menelanjangi Rani dengan ganasnya. Kuhisap payudaranya dengan ganas dan kugigit lehernya sampai tampak merah-merah. Tanpa membuang waktu aku langsung memasukkan batang kemaluanku dan mulai menyetubuhinya dengan kedua pahanya di atas kedua pundakku. "Ahhh, ahhh," Rani terus mendesah dan terasa olehku liang kemaluannya sudah basah, mungkin ia dari tadi sudah terangsang. Rupanya kamera yang tadi ia pegang telah diambil alih oleh Melati untuk merekam semua kegiatan kami berdua. Setelah 6 menit menyetubuhi Rani, aku mengganti gaya, kusuruh Rani berpegangan di kusen pintu dan melingkarkan kedua kakinya di pingggangku. Aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya dan mulai menyetubuhinya kembali. "Ahhh, ahhh," Rani terus mendesah, sementara itu aku menopang punggungnya dengan kedua tanganku dan menghisap kedua paayudaranya selama menyetubuhinya. "Ahhh, ahhh," Rani terus mendesah, dan setelah menyetubuhinya selama 15 menit, "Den, gue mau keluar," dan… "Ahhh, ahhh," Rani mendesah panjang dan mengeluarkan cairan kewanitaannya dari dalam liang kemaluannya. Ia tidak sanggup meneruskan gaya tersebut, ia memilih melakukan doggy style. Setelah 5 menit melakukannya, ia kembali mengalami orgasme yang kedua, sementara aku terus menggenjotnya. Tidak lama kemudian aku juga mau keluar, "Ran, mao dimana?" tanyaku. "Di mulut gue saja!" Ia langsung menghisap batang kemaluanku sambil mengurut-ngurut batang kemaluanku dengan jarinya dan "Ahhh…" aku keluarkan semua spermaku di mulutnya dan ia menelan seluruhnya. Ia terus menghisap batang kemaluanku hingga bersih dari sisa sperma. Kami semua kelelahan dan tertidur sebentar. Saat bangun, aku kembali bernafsu karena melihat 3 tubuh seksi tergeletak. Aku mulai kembali merangsang mereka dan mereka juga mulai merangsang diriku. Tubuh mereka kembali menegang dan aku pun mulai tambah bernafsu. Mereka bertiga berposisi seperti akan malakukan doggy style. Rani berada paling depan, Mawar di belakangnya, dan Melati berada di belakang mawar, sedangkan aku berada paling belakang dan mulai menyetubuhi Melati dari belakang, sedangkan Melati menjilat liang kemaluan Mawar, dan Mawar menjilat liang kemaluan Rani, sehingga semua dapat menikmati kenikmatan duniawi. "Ahhh, ahhhh," terdengar mereka bertiga mendesah dan suara batang kemaluanku ketika memesuki liang kemaluan Melati yang basah. Sekitar 10 menit kemudian Rani mengalami orgasme disusul dengan Mawar. Tinggallah aku dan Melati meneruskan permainan kami. Tapi tak lama kemudian, "Ahhh, ahhh," Melati pun mengalami orgasme, ia merasa kesakitan pada liang kemaluannya. Tapi karena aku berum mengalami ejakulasi, Mawar berinisiatif dengan menggosokkan kedua payudaranya dengan baby oil sehingga tampak mengkilat batang kemaluanku dijepit di tengah kedua payudaranya dan aku bergerak maju-mundur dengan cepatnya. Sekitar 5 menit aku mau mengeluarkan spermaku dan, "Crott… crottt…" spermaku keluar di wajah Mawar tapi Rani segera memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dan menelan seluruh spermaku walau agak terlambat karena sudah ada yang mengenai wajah dan rambut Mawar. Malam itu kami menginap di villa itu, pada pagi harinya kami melakukannya lagi sampai 6 kali. Sungguh pengalaman ini sangat mengesankan dan terkadang sampai sekarang kami masih sering meneruskannya, walaupun berganti orang. |
| Posted: 22 Jun 2008 08:30 AM CDT Kudekati tubuh Adinda yang tergolek dilantai, kuraba-raba punggung gadis itu, kurasakan detak jantungnya yang berdebar keras, kemudian tanganku turun hingga bagian pantatnya yang sekal itu, kuusap-usap pantatnya dengan lembut, kurasakan kenyal dan empuknya pantat itu sambil sesekali kutepok-tepok. Badan Adinda kembali kurasakan bergetar, tangisnya kembali terdengar, sepertinya dia kembali memohon sesuatu, akan tetapi karena mulutnya masih tersumbat suaranyapun tidak jelas dan aku tidak memperdulikannya. Dari daerah pantat tanganku turun kebawah kedaerah lututnya dan kemudian menyelinap masuk kedalam roknya serta naik keatas kebagian pahanya. Kurasakan lembut dan mulus sekali paha Adinda ini, kuusap-usap terus menuju keatas hingga kebagian pangkal pahanya yang masih ditutupi oleh celana dalam. Karena sudah tidak tahan lagi, kemudian aku posisikan tubuh Adinda kembali bersujud, dengan kepala menempel dilantai, dengan kedua tangannya masih terikat kebelakang. Aku singkapkan rok seragam abu-abu SMUnya sampai sepinggang. "Waw indah nian….gadis ini" gunamku sambil melototi paha dan pantat sekal gadis ini. Kemudian aku lucuti celana dalamnya yang berwarna putih itu, terlihatlah dua gundukan pantat sekal gadis ini yang putih bersih. Sementara Adinda terus menagis kini aku memposisikan diriku berlutut menghadap ke pantat gadis itu, kurentangkan kedua kakinya melebar sedikit. Dengan jari tengahku, aku coba meraba-raba selangkangan gadis ini. Disaat jari tengahku menempel pada bagian tubuhnya yang paling pribadi itu, tiba-tiba tubuh gadis ini mengejang. Mungkin saat ini pertama kali kemaluannya disentuh oleh tangan seorang lelaki. Disaat kudapatkan bibir kemaluannya kemudian dengan jariku itu, aku korek-korek lobang kemaluannya. Dengan maksud agar keluar sedikit cairan kewanitaannya dari lobang kemaluannya itu. Tubuhnya seketika itu menggeliat-geliat disaat kukorek-korek lobang kemaluannya, suara desahan-desahanpun terdengar dari mulut Adinda, tidak lama kemudian kemaluannya mulai basah oleh cairan lendir yang dikeluarkan dari lobang vaginanya. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Hari telah senja awan mendung pun mulai menyelimuti kota metropolitan ini membuat suasana semakin gelap, disaat itu di sebuah SMU Negeri terkenal dikota itu nampak gadis-gadis membubarkan diri dari sebuah ruang aula olahraga. Mereka mengakhiri latihan rutin paduan suaranya. Tawa dan canda khas gadis-gadis SMU mengiringi mereka bubar, satu demi satu mereka keluar dari halaman sekolah yang telah gelap itu. Sementara itu suara gunturpun terdengar pertanda hujan akan segera turun. Ada yang dijemput oleh orangtuanya, adapula yang membawa mobil pribadi, dan ada juga yang menggunakan angkutan umum. Aku sangatlah hafal dengan aktifitas anak-anak SMU ini, karena memang sudah hampir sebulan ini aku bekerja sebagai tukang cat disekolah ini. Usiaku memang sudah tidak muda lagi, saat ini aku berusia 48 tahun. Aku adalah seorang duda, istriku sudah lama minggat meninggalkanku setelah mengetahui aku tengah melakukan hubungan intim dengan keponakannya. Reputasiku sebenarnya lebih banyak didunia hitam, dulu aku dikenal sebagai seorang germo yang aku sambi dengan berdagang ganja. Namun beberapa bulan yang lalu semua para wanita yang aku jajakan terkena razia dan kemudian bisnis ganjaku hancur setelah kurir yang biasa membawa ganja ditembak mati oleh aparat. Di sekolah ini aku tidaklah sendirian aku masuk bekerja dengan sahabatku yang bernama Charles yang seorang residivis kambuhan. Usianya tidak begitu jauh denganku yaitu 46 th, perawakannya tinggi besar rambutnya panjang dan kumal. Kami berdua sengaja hidup berpindah-pindah tempat. Kami bukanlah pekerja tetap di sekolah ini, kami hanya mendapat order untuk mengerjakan pengecatan kusain-kusain pintu-pintu kelas disekolah ini. Kami tidak dibayar mahal namun kami memiliki kebebasan untuk tinggal dilingkungan sekolah ini. Maklumlah kami adalah perantau yang hidup nomaden. Diantara gadis-gadis tadi, ada salah seorang yang paling menonjol. Aku sangatlah hafal dengannya. Karena memang dia cantik, lincah dan aktif dalam kegiatan sekolah, sehingga akupun sering melihat dia mondar-mandir di sekolahan ini. Adinda Wulandari namanya. Postur tubuhnya mungil, wajahnya cantik dan imut-imut, kulitnya putih bersih serta wangi selalu, rambutnya ikal panjang sebahu dan selalu diikat model ekor kuda. Penampilannyapun modis sekali, seragam sekolah yang dikenakannya selalu berukuran ketat, rok seragam abu-abunya berpotongan sejengkal diatas lutut sehingga pahanya yang putih mulus itu terlihat, ukuran roknyapun ketat sekali membuat pantatnya yang sekal itu terlihat menonjol, sampai-sampai garis celana dalamnyapun terlihat jelas melintang menghiasi lekuk pantatnya, tak lupa kaos kaki putih selalu menutupi betisnya yang putih mulus itu. Tidak bisa kupungkiri lagi aku tengah jatuh cinta kepadanya. Namun perasaan cintaku kepada Adinda lebih didominasi oleh nafsu sex semata. Gairahku memuncak apabila aku memandanginya atau berpapasan dengannya disaat aku tengah bekerja di sekolah ini. Ingin aku segera meyetubuhinya. Banyak sudah pelacur-pelacur kunikmati akan tetapi belum pernah aku menikmati gadis perawan muda yang cantik dan sexy seperti Adinda ini. Aku ingin mendapatkan kepuasan itu bersama dengan Adinda. Informasi demi informasi kukumpulkan dari orang-orang disekolah itu, dari penjaga sekolah, dari tukang parkir, dari karyawan sekoah. Dari merekalah aku mengetahui nama gadis itu. Dan dari orang-orang itupun aku tahu bahwa Adinda adalah seorang siswi yang duduk di kelas 2, umurnya baru 16 tahun. Beberapa saat yang lalu dia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-16 di kantin sekolah ini bersama teman-temannya sekelas. Diapun termasuk siswi yang berprestasi, aktif dalam kegiatan paduan suara dan paskibra disekolah ini. Dan yang informasi terakhir yang kudapat bahwa dia ternyata adalah salah seorang finalis foto model yang diselenggarakan oleh sebuah majalah khusus untuk remaja putri terkenal di negeri ini dan bulan depan dia akan mengikuti seleksi tahap akhir. Kini disaat sekolah telah sepi salah satu dari gadis-gadis anggota paduan suara tadi itu tengah merintih-rintih dihadapanku. Dia adalah gadis yang terakhir kalinya masih tersisa didalam sekolah ini, yang sedang asyik bercanda ria dengan temannya melalui HP-nya, semetara yang lainnya telah meninggalkan halaman sekolah. Beberapa menit yang lalu melalui sebuah pergulatan yang tidak seimbang aku telah berhasil meringkusnya dengan mudah, kedua tangannya kuikat dengan kencang kebelakang tubuhnya, dan mulutnya kusumpal dengan kain gombal. Setelah itu kuseret tubuhnya ke bangsal olahraga yang berada di bagian belakang bangunan sekolah ini. Tidak salah salah lagi gadis itu adalah Adinda Wulandari, gadis cantik sang primadona sekolah ini yang telah lama kuincar. Aku sangat hafal dengan kebiasaannya yaitu menunggu jemputan supir orang tuanya dikala selesai latihan sore dan sang supir selalu terlambat datang setengah jam dari jam bubaran latihan. Sehingga dia paling akhir meninggalkan halaman sekolah. Kini dia meringkuk dihadapanku, dengan tangisannya yang teredam oleh kain gombal yang kusumpal di mulutnya. Sepertinya dia memohon-mohon sesuatu padaku tetapi apa peduliku, air matanya nampak mengalir deras membasahi wajahnya yang cantik itu. Sesekali nampak dia meronta-ronta mencoba melepaskan ikatan tali tambang yang mengikat erat di kedua tangannya, namun sia-sia saja, aku telah mengikat erat dengan berbagai simpul. Posisinya kini bersujud dihadapanku, tangisannya kian lama kian memilukan, aku menyadari sepenuhnya bahwa dia kini tengah berada dalam rasa keputusasaan dan ketakutan yang teramat sangat didalam dirinya. Kunyalakan sebatang rokok dan kunikmati isapan demi isapan rokok sambil kutatap tajam dan kupandangi tubuh gadis cantik itu, indah nian tubuhnya, kulitnya putih bersih, pantatnya sekal berisi. Kunikmati rintihan dan tangis gadis cantik yang tengah dilanda ketakutan itu, bagai seseorang yang tengah menikmati alunan musik didalam ruangan sepi. Suara tangisnya yang teredam itu memecahkan kesunyian bangsal olahraga di sekolah yang tua ini. Sesekali dia meronta-ronta mencoba melepaskan tali ikatan yang mengikat kedua tangannya itu. Lama kelamaan kulihat badannya mulai melemah, isak tangisnya tidak lagi sekeras tadi dan sekarang dia sudah tidak lagi meronta-ronta mungkin tenaganya telah habis setelah sekian lamanya menagis meraung-raung dengan mulutnya yang telah tersumbat. Sepertinya didalam hatinya dia menyesali, kenapa Heru supirnya selalu terlambat menjemputnya, kenapa tadi tidak menumpang Desy sahabat karibnya yang tadi mengajaknya pulang bareng, kenapa tadi tidak langsung keluar dari lingkungan sekolah disaat latihan usai, kenapa malah asyik melalui HP bercanda ria dengan Fifi sahabatnya. Yah, semua terlambat untuk disesali pikirnya, dan saat ini sesuatu yang mengerikan akan terjadi pada dirinya. "Beres Yon…, pintu pagar depan sudah gue tutup dan gembok", terdengar suara dari seseorang yang tengah memasuki bangsal. Ternyata Charles dengan langkah agak gontai dia menutup pintu bangsal yang mulai gelap ini. "OK…sip, gue udah beresin nih anak, tinggal kita pake aja…", ujarku kepada Charles sambil tersenyum. Kebetulan malam ini Pak Parijan sang penjaga sekolah beserta keluarganya yang tinggal di dalam lingkungan sekolah ini yaitu sedang pulang kampung, baru besok lusa mereka kembali ke sekolah ini. Mereka langsung mempercayakan kepada kami untuk menjaga sekolah ini selama mereka pergi. Maka tinggallah kami berdua bersama dengan Adinda yang masih berada didalam sekolah ini. Pintu gerbang sekolah telah kami rantai dan kami gembok sehingga orang-orang menyangka pastilah sudah tidak ada aktifitas atau orang lagi didalam gedung ini. Pak Heru sang supir yang menjemput Adinda pastilah berpikiran bahwa Adinda telah pulang, setelah melihat keadaan sekolah itu. Kupandang lagi tubuh Adinda yang lunglai itu, badannya bergetar karena rasa takutannya yang teramat sangat didalam dirinya. Hujanpun mulai turun, ruangan didalam bangsal semakin gelap gulita angin dinginpun bertiup masuk kedalam bangsal itu, Charles menyalakan satu buah lampu TL yang persis diatas kami, sehingga cukup menerangi bagian disekitar kami saja. Kuhisap dalam-dalam rokokku dan setelah itu kumatikan. Mulailah kubuka bajuku satu per satu, hingga akhirnya aku telanjang bulat. Batang kemaluanku telah lama berereksi semenjak meringkus Adinda di teras sekolah tadi. "Gue dulu ya….", ujarku ke Charles. "Ok boss….", balas Charles sambil kemudian berjalan meninggalkan aku keluar bangsal. Kudekati tubuh Adinda yang tergolek dilantai, kuraba-raba punggung gadis itu, kurasakan detak jantungnya yang berdebar keras, kemudian tanganku turun hingga bagian pantatnya yang sekal itu, kuusap-usap pantatnya dengan lembut, kurasakan kenyal dan empuknya pantat itu sambil sesekali kutepok-tepok. Badan Adinda kembali kurasakan bergetar, tangisnya kembali terdengar, sepertinya dia kembali memohon sesuatu, akan tetapi karena mulutnya masih tersumbat suaranyapun tidak jelas dan aku tidak memperdulikannya. Dari daerah pantat tanganku turun kebawah kedaerah lututnya dan kemudian menyelinap masuk kedalam roknya serta naik keatas kebagian pahanya. Kurasakan lembut dan mulus sekali paha Adinda ini, kuusap-usap terus menuju keatas hingga kebagian pangkal pahanya yang masih ditutupi oleh celana dalam. Karena sudah tidak tahan lagi, kemudian aku posisikan tubuh Adinda kembali bersujud, dengan kepala menempel dilantai, dengan kedua tangannya masih terikat kebelakang. Aku singkapkan rok seragam abu-abu SMUnya sampai sepinggang. "Waw indah nian….gadis ini" gunamku sambil melototi paha dan pantat sekal gadis ini. Kemudian aku lucuti celana dalamnya yang berwarna putih itu, terlihatlah dua gundukan pantat sekal gadis ini yang putih bersih. Sementara Adinda terus menagis kini aku memposisikan diriku berlutut menghadap ke pantat gadis itu, kurentangkan kedua kakinya melebar sedikit. Dengan jari tengahku, aku coba meraba-raba selangkangan gadis ini. Disaat jari tengahku menempel pada bagian tubuhnya yang paling pribadi itu, tiba-tiba tubuh gadis ini mengejang. Mungkin saat ini pertama kali kemaluannya disentuh oleh tangan seorang lelaki. Disaat kudapatkan bibir kemaluannya kemudian dengan jariku itu, aku korek-korek lobang kemaluannya. Dengan maksud agar keluar sedikit cairan kewanitaannya dari lobang kemaluannya itu. Tubuhnya seketika itu menggeliat-geliat disaat kukorek-korek lobang kemaluannya, suara desahan-desahanpun terdengar dari mulut Adinda, tidak lama kemudian kemaluannya mulai basah oleh cairan lendir yang dikeluarkan dari lobang vaginanya. Setelah itu dengan segera kucabut jari tengahku dan kubimbing batang kemaluanku denga tangan kiriku kearah bibir vagina Adinda. Pertama yang aku pakai adalah gaya anjing, ini adalah gaya favoritku. Dan… "Hmmmpphhhh……", terdengar rintihan dari mulut Adinda disaat kulesakkan batang kemaluanku kebibir vaginanya. Dengan sekuat tenaga aku mulai mendorong-dorong batang kemaluanku masuk kelobang kemaluannya. Rasanya sangat seret sekali, karena sempitnya lobang kemaluan gadis perawan ini. Aku berusaha terus melesakkan batang kemaluanku kelobang kemaluannya dengan dibantu oleh kedua tanganku yang mencengkram erat pinggulnya. Kulihat badan Adinda mengejang, kepala mendongak keatas dan sesekali menggeliat-geliat. Aku tahu saat ini dia tengah merasakan sakit dan pedih yang tiada taranya. Keringat terus mengucur deras membasahi baju seragam sekolahnya, namun harum wangi parfumnya masih terus tercium, membuat segarnya aroma Adinda saat itu, rintihan-rintihan terdengar dari mulutnya yang masih tersumpal itu. "Hmmmmppphh….mmmppphh….gghhhhmmmpphhh….". Dan akhirnya setelah sekian lamanya aku terus melesakkan batang kemaluanku, kini bobol sudah lobang kemaluan Adinda. Aku telah berhasil menanamkan seluruh batang kemaluanku kedalam lobang vaginanya. Kurasakan kehangatan disekujur batang kemaluanku, dinding vagina Adinda terasa berdenyut-denyut seperti mengurut-urut batang kemaluanku. Sejenak kudiamkan batang kemaluanku tertanam didalam lobang vaginanya, kunikmati denyutan-demi denyutan dinding vagina Adinda yang mencengkram erat batang kemaluanku. Selanjutnya kurasakan seperti ada cairan mengucur mengalir membasahi batang kemaluanku dan kemudian meluber keluar menetes-netes. Ah…ternyata itu darah, berarti aku telah merenggut keperawanan dari gadis cantik ini. Sementara itu kepala Adinda kembali tertunduk dilantai, desah nafasnya terdengar keras, badannya melemas. Setelah itu, aku mulai memompakan kemaluanku didalam lobang vaginanya. Kedua tanganku yang mencengkram erat pinggulnya juga membantu memaju mundurkan tubuhnya. Badan Adinda kembali tegang, rintihan kembali terdengar "Hhmmmpphh….ggrrhhmm….mmmppphhh….", seiring dengan irama sodokan-sodokanku. Semakin lama aku semakin mempercepat gerakanku, hingga tubuh Adinda tersodok-sodok dengan cepat sesekali, badannya juga menggeliat-geliat. Raut mukanya meringis-ringis akibat rasa sakit diselangkangannya. Hujanpun mulai turun dengan deras dan aku ingin menikmati rintihan-rintihan dari gadis ini. Sementara aku terus menyodok-nyodok dari belakang, aku putuskan untuk membuka gombal yang sedari tadi membekap mulutnya. Dan, "Aakkk…akkkhh…oohh….ooh…iihh…oohh..", suara erangan Adinda kini terdengar, kunikmati suara-suara itu sebagai penghantar diriku yang tengah menyetubuhi gadis ini. Suaranya menggema diseluruh bangsal olahraga ini, namun masih tertelan oleh suara derasnya hujan diluar. Adinda semakin terlihat kepayahan, tubuhnya melemah namun aku masih terus menggenjotnya, gerakanku semakin cepat. Bosan dengan posisi itu aku cabut kemaluanku dari lobang vaginanya dan kulihat darah berceceran membasahi selangkangannya dan kemaluanku. Sejenak Adinda mendesahkan nafas lega, kubalik tubuhnya, dan kini posisi dia terlentang. Setelah itu kurentangkan kedua kakinya dan kulipat hingga kedua pahanya menyentuh dadanya. Kulihat jelas kemaluan gadis ini, indah sekali. Bulu-bulunya yang masih jarang-jarang itu tumbuh menghias disekitar bibir kemaluannya. "Ohh..jangann bang…ampun…bang...ooohh…sakittt sekali..bang", terdengar Adinda merintih pelan memohon belas kasihan kepadaku. Dengan menyeringai aku tindih tubuh Adinda itu. Kembali aku benamkan batang kemaluanku didalam lobang vaginanya. "Aakkhh…", Adinda terpekik matanya terpejam, roman mukanya kembali meringis kesakitan dikala aku menanamkan batang kemaluanku kedalam lobang kemaluannya. Setelah itu aku kembali memompakan tubuhku, menggenjot tubuh Adinda. Batang kemaluanku dengan gaharnya mengaduk aduk, menyodok-nyodok lobang kemaluannya. Tubuh Adinda kembali tersodok-sodok. Sesekali kuputar-putar pinggulku, yang membuat tubuh Adinda kembali kelojotan, dari bibir Adinda terdengar desahan-desahan halus "Ohh…enngghh…oohh…ohhh…oohh…". Setelah sekian menit lamanya aku menyetubuhinya, aku merasakan diriku akan berejakulasi. Segera kupeluk kepalanya dan kucengkram erat dengan kedua tanganku setelah itu irama gerakanku kupercepat. "Aakkhhh…" akupun menejan, tubuhku mengeras. Croot…croottt….croott… akupun berejakulasi, kusemprotkan spermaku didalam rahimnya. Banyak sekali sperma yang kukeluarkan menyemprot membasahi liang vaginanya hingga meluber keluar meleleh membasahi pahanya. Kulihat raut muka Adinda saat itu nampak panik, sinar matanya menunjukkan kekalahan dan kepedihan. Dengan tatapan sayu dia memandangiku disaat aku mengejan menyemprotkan spermaku yang terakhir. Ahh nikmat sekali gadis ini, baru kali ini aku merengut keperawanan seorang gadis kota yang cantik. Setelah itu akupun merebahkan tubuhku menindih tubuhnya yang lemah, sambil mengatur nafasku. Tubuhku berguncang-guncang akibat dari isakan-isakan tangisnya serta nafasnya yang tersengal-sengal, sementara itu kemaluanku kubiarkan tertanam didalam lobang kemaluannya. Kubelai-belai rambutnya, kukecup-kecup pipi dan bibirnya. "Terimakasih Adinda sayang….., kamu cantik sekali, terimakasih atas perawanmu", bisikku sambil kucium dan kukulum bibirnya. Terasa lembut sekali bibirnya, kumainkan lidahku didalam mulutnya, sejenak aku bercumbu mesra dengan Adinda. Dia hanya terisak-isak dengan nafas yang terus tersengal-sengal. Akhirnya kusudahi permainanku ini, aku bangkit sambil mencabut kemaluanku. "Ouugghhhh….", Adinda merintih panjang saat kutarik kemaluanku keluar dari lobang vaginanya. Kulihat diselangkangannya telah penuh dengan cairan-cairan kental dan darah penuh membasahi bulu-bulu kemaluannya. Tak kusadari Charles ternyata telah berdiri didekatku, dan rupanya dia telah telanjang bulat menunggu gilirannya, badannya yang kekar dan tinggi itu nampak semakin sangar dengan banyaknya gambar-gambar tatto yang menghiasi sekujur dada dan lengannya. Dengan rasa toleran sebagai seorang sahabat, akupun menyingkir dari tubuh Adinda yang tergolek lemas dilantai. Aku ambil jarak beberapa meter dari tubuh Adinda kemudian aku kembali merebahkan tubuhku. Dengan tiduran terlentang dilantai aku menggali kembali rasa nikmatku setelah melampiaskan nafsuku ke Adinda tadi. Sedang asyik-asyiknya aku istirahat, terdengar olehku bunyi sesuatu, "Srett…sreettt…sreett…brett.." diikuti oleh isak tangis Adinda yang terdengar kembali. Setelah kuperhatikan, oh ternyata Charles dengan sebuah pisau cutter ditangannya tengah sibuk merobek-robek baju seragam Adinda. Dengan kasarnya Charles mencabik-cabik baju seragam putih Adinda, termasuk BH putih yang dikenalkannya. Dan akhirnya kini badan Adinda telah telanjang, kedua buah payudaranya yang tidak begitu besar kini terpampang jelas. Termasuk juga rok abu-abu yang melilit dipinggangnya setelah kusingkap tadi dirobek-robeknya, haya sepasang kaos kaki putih setinggi betisnya serta sepatu kets masih dikenakannya. "Ouuhh…ammpuunn…bang…ampun…", suara Adinda terdengar lirih memohon-mohon ampun ke Charles yang sepertinya tengah kalap kemasukan setan itu. Setelah itu dengan gombal yang tadi menyumpal mulut Adinda, Charles membersihkan daerah selangkangan Adinda. Dengan sedikit kasar Charles mengusap-usap selangkangan Adinda sampai-sampai tubuh Adinda menggeliat-geliat. Akupun kembali merebahkan tubuhku, mengatur nafasku serta kunyalakan sebatang rokok sebagai penghantar istirahatku. Sementara itu hujan diluar mulai reda, namun angin dingin terus berhembus masuk kedalam bangsal tempat pembantaian Adinda ini. Tiba-tiba semenit kemudian dikala aku sedang rebahan dan asyik-asyiknya menikmati rokokku. Terdengar olehku jerit Adinda yang memilukan "Aaakkhhhhh……..". Akupun terbangun, kulihat dari asal suara itu. Ternyata Charles tengah menyodomi Adinda. Posisi Adinda kembali bersujud dengan kepala yang mendongak keatas, bola matanya terbelalak, wajahnya cantiknya terlihat miris sekali, mulutnya menganga membentuk huruf "O" dan Charles berada dibelakangnya tengah asyik menanamkan batang kemaluannya yang besar itu ke dalam lobang anus Adinda. "Aakkhh…." Charlespun mendesah lepas tatkala dia berhasil menanamkan batang kemaluannya dilobang anus Adinda. Setelah itu lubang anus Adinda dihujani sodokan-sodokan batang kemaluan Charles, Charles melakukannya dengan gerakan yang cepat dan kasar sampai-sampai tubuh Adinda terdorong-dorong dan tersodok-sodok dengan keras. Tidak ada suara rintihan lagi yang keluar dari mulut Adinda mungkin karena suara tertahan ditenggorokannya karena menahan rasa sakit yang amat sangat. |
| Asmara Bersama Tante Tetty Yang Seksi Posted: 14 Jun 2008 09:20 PM CDT Sementara bu Netty memandang lekat kemaluanku yang sudah tegang dan mengeras, pangkalnya di tumbuhi bulu-bulu kasar, bahkan ada banyak bulu yang tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan panjangnya belasan centi. "Bud, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada bulunya lagi di batangnya" katanya sambil menghampiriku. Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih kemaluanku, sambil berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil mengocok-ngocoknya lembut dan berikutnya kepala kemaluanku sudah dikulumnya. Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti itu. "Oooohhhh…. enak teh…." rintihku pelan. Dia semakin bersemangat dengan kuluman dan kocokan-kocokannya pada kemaluanku, sementara aku semakin blingsatan akibat perbuatannya itu. Kadang dimasukkannya kemaluanku sampai ke dalam tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, sehingga kemaluanku keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus. Aku semakin tidak tahan dan akhirnya…, jebol juga pertahananku. Spermaku menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia sedot dan dia telan, sehingga tidak ada satu tetespun yang menetes ke lantai, memberiku sensasi yang luar biasa. Rasanya jauh lebih nikmat daripada waktu aku masturbasi. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Hai, namaku Priambudhy Saktiaji, teman-teman memanggilku Budhy. Aku tinggal di Bogor, sebelah selatan Jakarta. Tinggiku sekitar 167 cm, bentuk wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman-teman perempuanku bilang. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku 'make love' (ML) atau bercinta dengan seorang wanita. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA (sekarang SMU). Saat itu sedang musim ujian, sehingga kami di awasi oleh guru-guru dari kelas yang lain. Kebetulan yang mendapat bagian mengawasi kelas tempatku ujian adalah seorang guru yang bernama Ibu Netty, umurnya masih cukup muda, sekitar 25 tahunan. Tinggi badannya sekitar 155 cm. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya oval dengan rambut lurus yang di potong pendek sebatas leher, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Yang membuatku sangat tertarik adalah tonjolan dua bukit payudaranya yang cukup besar, bokongnya yang sexy dan bergoyang pada saat dia berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang tajam, ke arah meja yang didudukinya. Kadang, entah sengaja atau tidak, dia balas menatapku sambil tersenyum kecil. Hal itu membuatku berdebar-debar tidak menentu. Bahkan pada kesempatan lain, sambil menatapku dan memasang senyumnya, dia dengan sengaja menyilangkan kakinya, sehingga menampakkan paha dan betisnya yang mulus. Di waktu yang lain dia bahkan sengaja menarik roknya yang sudah pendek (di atas lutut, dengan belahan disamping), sambil memandangi wajahku, sehingga aku bisa melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya. Terlihat gundukan kecil di tengah, dia memakai celana dalam berbahan katun berwarna putih. Aku agak terkejut dan sedikit melotot dengan 'show' yang sedang dilakukannya. Aku memandang sekelilingku, memastikan apa ada teman-temanku yang lain yang juga melihat pada pertunjukan kecil tersebut. Ternyata mereka semua sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian dengan serius. Aku kembali memandang ke arah Ibu Netty, dia masih memandangku sambil tersenyum nakal. Aku membalas senyumannya sambil mengacungkan jempolku, kemudian aku teruskan mengerjakan soal-soal ujian di mejaku. Tentu saja dengan sekali-kali melihat ke arah meja Ibu Netty yang masih setia menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali, sedemikian rupa, sehingga memperlihatkan dengan jelas selangkangannya yang indah. Sekitar 30 menit sebelum waktu ujian berakhir, aku bangkit dan berjalan ke depan untuk menyerahkan kertas-kertas ujianku kepada Ibu Netty. "Sudah selasai?" katanya sambil tersenyum. "Sudah, bu…." jawabku sambil membalas senyumnya. "Kamu suka dengan yang kamu lihat tadi?" dia bertanya mengagetkanku. Aku menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua pembicaraan dengan berbisik-bisik. "Apa saya boleh melihatnya lagi nanti?" kataku memberanikan diri, masih dengan berbisik. "Kita ketemu nanti di depan sekolah, setelah ujian hari ini selesai, ok?" katanya sambil tersenyum simpul. Senyum yang menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku jadi panas dingin. Siang itu di depan gerbang sekolah, sambil menenteng tasnya, bu Netty mendekati tempatku berdiri dan berkata, "Bud, kamu ikuti saya dari belakang" Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah jauh dari lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Kami berjalan beriringan. "Kamu benar-benar ingin melihat lagi?" tanyanya memecah kesunyian. "Lihat apa bu?" jawabku berpura-pura lupa, pada permintaanku sendiri sewaktu di kelas tadi pagi. "Ah, kamu, suka pura-pura…" Katanya sambil mencubit pinggangku pelan. Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku pegang telapak tangannya yang halus dan meremasnya dengan gemas. bu Netty balas meremas tanganku, sambil memandangiku lekat-lekat. Akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, agak jauh dari rumah-rumah lain. Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut. Bu Netty membuka tasnya, mengeluarkan kunci dan membuka pintu. "Bud, masuklah. Lepas sepatumu di dalam, tutup dan kunci kembali pintunya!" Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya tanpa banyak bertanya. Begitu sampai di dalam rumah, bu Netty menaruh tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Aku hanya melihat, ketika dengan santainya dia melepaskan kancing bajunya, sehingga memperlihatkan BH-nya yang juga terbuat dari bahan katun berwarna putih, buah dadanya yang putih dan agak besar seperti tidak tertampung dan mencuat keluar dari BH tersebut, membuatnya semakin sexy, kemudian dia memanggilku. "Bud, tolong dong, lepasin pengaitnya…" katanya sambil membelakangiku. Aku buka pengait tali BH-nya, dengan wajah panas dan hati berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil sebuah kaos T-shirt berwarna putih, kemudian memakainya, masih dengan posisi membelakangiku. T-shirt tersebut terlihat sangat ketat membungkus tubuhnya yang wangi. Kemudian dia kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan risleting roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang paling parah, aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku berontak di dalam celana dalam yang rangkap dengan celana panjang SMA ku. Ketika dia membelakangiku, dengan cepat aku memperbaiki posisi kemaluanku dari luar celana agar tidak terjepit. Kemudian aku buka risleting rok ketatnya. Dengan perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan celana dalam putihnya, tanganku meraba pantat bu Netty dan sedikit meremasnya, gemas. "Udah nggak sabar ya, Bud?" Kata bu Netty. "Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes saya…." "Kalo di sini jangan panggil saya 'bu' lagi, panggil 'teteh' aja ya?" "Iya bu, eh, teh Netty" Konsentrasiku buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, bu Netty dengan kaos T-shirt yang ketat, tanpa BH, sehingga puting susunya mencuat dari balik kaos putihnya, pusarnya yang sexy tidak tertutup, karena ukuran kaos T-shirt-nya yang pendek, celana dalam yang tadi pagi aku lihat dari jauh sekarang aku bisa lihat dengan jelas, gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi. "Gimana Bud, suka nggak kamu?" Katanya sambil berkcak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya. "Kok kamu jadi bengong, Bud?" Lanjutnya sambil menghampiriku. Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya. "Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh…." Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya, kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. "Mmmmhhhh….mmmmmhhhhh" Kali ini dia merintih nikmat. Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-shirtnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya, kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu. Aku melepas pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas bajuku, kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan celana panjang abu-abuku dan celana dalam putihku sekaligus. Bu Netty pun melakukan hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T-shirtnya yang baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putihnya, sehingga sekarang dia sudah telanjang bulat. Tubuhnya yang putih mulus dan sexy sangat menggiurkan. Hampir bersamaan kami selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku menegakkan tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak. Aku terpaku melihat tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering melihat tubuh telanjang, tetapi secara langsung dan berhadap-hapan baru kali itu aku mengalaminya. Payudaranya yang sudah mengeras tampak kencang, ukurannya melebihi telapak tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas seluruh bulatan itu, tapi tidak pernah berhasil, karena ukurannya yang cukup besar. Perutnya rata tidak tampak ada bagian yang berlemak sedikitpun. Pinggangnya ramping dan membulat sangat sexy. Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu yang sengaja tidak dicukur, hanya tumbuh sedikit di atas kemaluannya yang mengkilap karena basah. Tubuh telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari gambar-gambar porno, blue film atau paling nyata tubuh ABG tetanggaku yang aku intip kamarnya, sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan cepat-cepat karena takut ketahuan. Kebiasaan mengintipku tidak berlangsung lama karena pada dasarnya aku tidak suka mengintip. Sementara bu Netty memandang lekat kemaluanku yang sudah tegang dan mengeras, pangkalnya di tumbuhi bulu-bulu kasar, bahkan ada banyak bulu yang tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan panjangnya belasan centi. "Bud, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada bulunya lagi di batangnya" katanya sambil menghampiriku. Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih kemaluanku, sambil berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil mengocok-ngocoknya lembut dan berikutnya kepala kemaluanku sudah dikulumnya. Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti itu. "Oooohhhh…. enak teh…." rintihku pelan. Dia semakin bersemangat dengan kuluman dan kocokan-kocokannya pada kemaluanku, sementara aku semakin blingsatan akibat perbuatannya itu. Kadang dimasukkannya kemaluanku sampai ke dalam tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, sehingga kemaluanku keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus. Aku semakin tidak tahan dan akhirnya…, jebol juga pertahananku. Spermaku menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia sedot dan dia telan, sehingga tidak ada satu tetespun yang menetes ke lantai, memberiku sensasi yang luar biasa. Rasanya jauh lebih nikmat daripada waktu aku masturbasi. "Aaaahhhh… ooooohhhhh…. teteeeeehhhhh!" Teriakku tak tertahankan lagi. "Gimana? enak Bud?" Tanyanya setelah dia sedot tetesan terakhir dari kemaluanku. "Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri" jawabku puas. "Gantian dong teh, saya pengen ngerasain punya teteh" lanjutku sedikit memohon. "Boleh…," katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan dirinya di atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai. Aku langsung berlutut di depannya, kuciumi selangkangannya dengan bibirku, tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan kupilin-pilin pelan puting payudaranya yang sudah mengeras. Dia mulai mengeluarkan rintihan-rintihan perlahan. Sementara mulutku menghisap, memilin, menjilat vaginanya yang semakin lama semakin basah. Aku permainkan clitorisnya dengan lidahku dan ku emut-emut dengan bibirku. "Aaaaaahhhhh… ooooohhhhhh, Buuuuddddhyyyyy…, aku sudah tidak tahan, aaaaauuuuuhhhhhh!" Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit kuatir kalau ada tetangganya yang mendengar rintihan-rintihan nikmat tersebut. Tetapi karena aku juga didera nafsu, sehingga akhirnya aku tidak terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan tubuhnya mengejang, kemudian aku merasakan semburan cairan hangat di mulutku, aku hisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus, tetes demi tetes. Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya mengapit kepalaku dengan ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya lebih lekat lagi menempel di selangkangannya, membuatku sulit bernafas. Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua payudaranya kini meremas-remas dan mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku. "Bud, kamu hebat, bikin aku orgasme sampai kelojotan begini, belajar darimana?" Tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku memang banyak membaca tentang hubungan sexual, dari majalah, buku dan internet. Sementara itu kemaluanku sudah sejak tadi menegang lagi karena terangsang dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Netty. Akupun berdiri, memposisikan kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih berkedut dan tampak basah serta licin itu. "Aku masukin ya teh?" Tanyaku, tanpa menunggu jawaban darinya, aku melumat bibirnya yang merekah menanti kedatangan bibirku. "Oooohhhh…" rintihnya, "Aaaahhhh…" kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika kemaluanku menembus masuk ke dalam vaginanya, hilanglah keperjakaanku. Kenikmatan tiada tara aku rasakan, ketika batang kemaluanku masuk seluruhnya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke pangkalnya. Bu Netty merintih semakin kencang ketika bulu kemaluanku yang tumbuh di batang kemaluanku menggesek bibir vagina dan clitorisnya, matanya setengah terpejam mulutnya menganga, nafasnya mulai tersenggal-senggal. "Ahh-ahh-ahh auuuu!" Kutarik lagi kemaluanku perlahan, sampai kepalanya hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan, sementara rintihannya selalu di tambah teriakan kecil, setiap kali pangkal batang kemaluanku menghantam bibir vagina dan clitorisnya. Gerakanku semakin lama semakin cepat, bibirku bergantian antara melumat bibirnya, atau menghisap puting payudaranya kiri dan kanan. Teriakan-teriakannya semakin menggila, kepalanya dia tolehkan kekiri dan kekanan membuatku hanya bisa menghisap puting payudaranya saja, tidak bisa lagi melumat bibirnya yang sexy. Sementara itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang kini sudah sangat basah, sampai akhirnya, "Buuudddhhyyyyyy…. aku mau keluar lagiiiiii… oooohhhhhh… aaahhhhh" teriakannya semakin kacau. Aku memperhatikan dengan puas, saat dia mengejan seperti menahan sesuatu, vaginanya kembali banjir seperti saat dia orgasme di mulutku. Aku memang sengaja mengontrol diriku untuk tidak orgasme, hal ini aku pelajari dengan seksama, walaupun aku belum pernah melakukan ML sebelum itu. Bu Netty sendiri heran dengan kemampuan kontrol diriku. Setelah dia melambung dengan orgasme-orgasmenya yang susul- menyusul, aku cabut kemaluanku yang masih perkasa dan keras. Aku memberinya waktu beberapa saat untuk mengatur nafasnya. Kemudian aku memintanya menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali kami tenggelam dalam permainan yang panas. Sekali lagi aku membuatnya mendapatkan orgasme yang berkepanjangan seakan tiada habisnya, aku sendiri karena sudah cukup lelah, kupercepat gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan. Akhirnya menyemburlah spermaku, yang sejak tadi aku tahan, saking lemasnya dia dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan diriku berbaring di sebelahnya. Sejak kejadian hari itu, aku sudah tidak lagi melakukan masturbasi, kami ML setiap kali kami menginginkannya. Ketika aku tanya mengapa dia memilihku, dia menjawab, karena aku mirip dengan pacar pertamanya, yang membuatnya kehilangan mahkotanya, sewaktu masih SMA. Tapi bedanya, katanya lagi, aku lebih tahan lama saat bercinta (bukan GR lho). Saat kutanya, apa tidak takut hamil?, dengan santai dia menjawab, bahwa dia sudah rutin disuntik setiap 3 bulan |
| Posted: 14 Jun 2008 09:10 PM CDT Suatu siang sepulang aku dari sekolah aku langsung ke kamarku. Seperti biasa aku melongok ke kamar Mama. Kulihat Mama Nuna dalam keadaan telanjang bulat sedang tertidur pulas. Kuberanikan untuk mendekat Mumpum perempuan cantik ini lagi tidur, batinku. Kalau selama ini aku hanya berani melihat Mama dari balik pintu kali ini tubuh cantik tanpa busana bener-bener berada didepanku. Kupelototi semua lekuk liku tubuh Mama. Ahh, si otong bereaksi keras, menyentak-nyentak ganas. Tanpa kusadari, mungkin terdorong nafsu yang nggak bisa dibendung, kuberanikan tanganku mengusap paha Mama Nuna, pelan, pelan. Mama diam aja, aku semakin berani. Kini kedua tanganku semakin nekad menggerayang tubuh cantik Mama tiriku. Kuremas-remas buah dada ranum dan dengan naluri plus pengetahuan dari film BF aku bertindak lebih lanjut dengan mengisap putting susu Mama. Mama masih diam, aku makin berani. Terispirasi film blue yang kutonton bersama temen -temen, aku tanggalkan seluruh pakaianku dan si otong dengan marahnya menunjuk-nujuk. Aku tiduran disamping Mama sambil memeluk erat. Aku sedikit sadar dan ketakutan ketika Mama tiba -tiba bergerak dan membuka mata. Mama Nuna menatapku tajam. "Ngapain Ndy? Koq kamu telanjang juga?" tanya Mama. "Maaf ma, Andy khilaf, abis nafsu liat Mama telanjang gitu" jawabku takut-takut. "Kamu mulai nakal ya" kata Mama sambil tangannya memelukku erat. "Ya udah Mama juga pengen peluk kamu, udah lama Mama nggak dipeluk papamu. Mama tadi kegerahan makanya Mama telanjang, e nggak taunya kamu masuk" jelas Mama. Yang nggak kusangka-sangka tiba-tiba Mama mencium bibirku. Dia mengisap ujung lidahku, lama dan dalam, semakin dalam. Aku bereaksi. Naluri laki-laki muda terpacu. Aku mebalas ciuman Mama tiriku yang cantik. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Saat usia 10 tahun, Papa dan Mama bercerai karena alasan tidak cocok. Aku sebagai anak-anak sih nerima aja tanpa bisa protes. Saat aku berusia 15 tahun, Papa kawin lagi. Papa yang saat itu berusia 37 tahun kawin dengan Tante Nuna yang berusia 35 tahun. Tante Nuna orangnya cantik, setidaknya pikiranku sebagai lelaki disuia ke 15 tahun yang sudah mulai merasakan getaran terhadap wanita. Tubuhnya tinggi, putih, pantatnya berisi dan buah dadanya padat. Saat menikah dengan Papa, Tante Nuna juga seorang janda tapi nggak punya anak. Sejak kawin, Papa jadi semangat hidup berimbas ke kerjanya yang gila-gilaan. Sebagai pengusaha, Papa sering keluar kota. Tinggallah aku dan ibu tiriku dirumah. Lama-lama aku jadi deket dengan Tante Nuna yang sejak bersama Papa aku panggil Mama Nuna. Aku jadi akrab dengan Mama Nuna karena kemana-mana Mama minta tolong aku temenin. Dirumahpun kalo Papa nggak ada aku yang nemenin nonton TV atau nonton film VCD. Aku senang sekali dimanja sama Mama baruku ini. Setahun sudah Papa kawin dengan Mama Nuna tapi belom ada tanda -tanda kalo aku bakalan punya adik baru. Bahkan Papa semakin getol cari duit dan sering banget keluar kota. Aku dan Mama Nuna semakin akrab aja. Sampai-sampai kami seperti tidak ada batasan sebagai anak tiri dan ibu tiri. Kami mulai sering tidur disatu tempat tidur bersama. Mama Nuna mulai nggak risih untuk mengganti pakaian didepanku walaupun tidak bener-bener telanjang. Tapi terkadang aku suka menangkap basah Mama Nuna lagi berpolos ria mematut didepan kaca sehabis mandi. Beberapa kali kejadian aku jadi apal kalo setiap habis mandi Mama pasti masuk kamarnya dengan hanya melilitkan handuk dan sesampai dikamar handuk pasti ditanggalkan. Beberapa kali kejadian aku membuka kamar Mama yang nggak dikunci aku kepergok Mama Nuna masih dalam keadaan tanpa sehelai benang sedang bengong didepan cermin. Lama-lama aku sengajain aja setiap selesai Mama mandi beberapa menit kemudian aku pasti pura-pura nggak sengaja buka pintu dan pemandangan indah terhampar dimata mudaku. Sampai suatu ketika, mungkin karena terdorong nafsu laki-laki yang mulai menggeliat diusia 16 tahun, aku menjadi bernafsu besar ketika melihat Mama sedang tiduran dikasur tanpa pakaian. Matanya terpejam sementara tangannya menggerayang tubuhnya sendiri sambil sedikit merintih. Aku terpana didepan pintu yang sedikit terbuka dan menikmati pemandangan itu. Lama aku menikmati pemandangan itu. Kemaluanku berdiri tegak dibalik celana pendekku. Ah, inikah pertanda kalo anak laki-laki sedang birahi? Batinku. Aku terlena dengan pemandangan Mama Nuna yang semakin hot menggeliat-geliat dan melolong. Tanpa sadar tanganku memegang dan memijit-mijit si otong kecil yang sedari tadi tegang. Tiba-tiba aku seperti pengen pipis dan ahh koq pipisnya enak ya. Akupun bergegas kekamar mandi seiring Mama Nuna yang lemas tertidur. Kejadian seperti jadi pemandanganku setiap hari. Lama -lama aku jadi bertanya-tanya. Mungkinkah ini disengaja sama Mama? Dari keseringan melihat pemandangan ini rupanya terekam diotakku kalau wanita cantik itu adalah wanita yang lebih dewasa. Wanita berumur yang cantik dimataku terlihat sangat sexi dan sangat menggairahkan. Suatu siang sepulang aku dari sekolah aku langsung ke kamarku. Seperti biasa aku melongok ke kamar Mama. Kulihat Mama Nuna dalam keadaan telanjang bulat sedang tertidur pulas. Kuberanikan untuk mendekat Mumpum perempuan cantik ini lagi tidur, batinku. Kalau selama ini aku hanya berani melihat Mama dari balik pintu kali ini tubuh cantik tanpa busana bener-bener berada didepanku. Kupelototi semua lekuk liku tubuh Mama. Ahh, si otong bereaksi keras, menyentak-nyentak ganas. Tanpa kusadari, mungkin terdorong nafsu yang nggak bisa dibendung, kuberanikan tanganku mengusap paha Mama Nuna, pelan, pelan. Mama diam aja, aku semakin berani. Kini kedua tanganku semakin nekad menggerayang tubuh cantik Mama tiriku. Kuremas-remas buah dada ranum dan dengan naluri plus pengetahuan dari film BF aku bertindak lebih lanjut dengan mengisap putting susu Mama. Mama masih diam, aku makin berani. Terispirasi film blue yang kutonton bersama temen -temen, aku tanggalkan seluruh pakaianku dan si otong dengan marahnya menunjuk-nujuk. Aku tiduran disamping Mama sambil memeluk erat. Aku sedikit sadar dan ketakutan ketika Mama tiba -tiba bergerak dan membuka mata. Mama Nuna menatapku tajam. "Ngapain Ndy? Koq kamu telanjang juga?" tanya Mama. "Maaf ma, Andy khilaf, abis nafsu liat Mama telanjang gitu" jawabku takut-takut. "Kamu mulai nakal ya" kata Mama sambil tangannya memelukku erat. "Ya udah Mama juga pengen peluk kamu, udah lama Mama nggak dipeluk papamu. Mama tadi kegerahan makanya Mama telanjang, e nggak taunya kamu masuk" jelas Mama. Yang nggak kusangka-sangka tiba-tiba Mama mencium bibirku. Dia mengisap ujung lidahku, lama dan dalam, semakin dalam. Aku bereaksi. Naluri laki-laki muda terpacu. Aku mebalas ciuman Mama tiriku yang cantik. Semuanya berjalan begitu saja tanpa direncanakan. Lidah Mama kemuidan berpindah menelusuri tubuhku. "Kamu sudah dewasa ya Ndy, gak apa-apa kan kamu Mama perlakukan seperti papamu" gumam Mama disela telusuran lidahnya. "Punya kamu juga sudah besar, belom sebesar punya papamu tapi lebih keras dan tegang", cerocos Mama lagi. Aku hanya diam menahan geli dan nikmat. Mama lebih banyak aktif menuntun (atau mengajariku). Si otong kemudian dijilatin Mama . Ini membuat aku nggak tahan karena kegelian. Lalu, punyaku dikulum Mama. Oh indah sekali rasanya. Lama aku dikerjain Mama cantik ini seperti ini. Mama kemudian tidur telentang, mengangkangkan kaki dan menarik tubuhku agar tiduran diatas tubuh indahnya. Mama kemudian memegang punyaku, mengocoknya sebentar dan mengarahkan keselangkangan Mama. Aku hanya diam saja. Terasa punyaku sepertinya masuk ke vagina Mama tapi aku tetep diam aja sampai kemudian Mama menarik pantatku dan menekan. Berasa banget punyaku masuk ke dalam punya Mama. Pergesekan itu membuat merinding. Secara naluri aku kemudian melakukan gerakan maju mundur biar terjadi lagi gesekan. Mama juga mengoyangkan pinggulnya. Mama yang kulihat sangat menikmati bahkan mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya sehingga aku seperti sedang naik kuda diatas pinggul Mama. Tiba-tiba Mama berteriak kencang sambil memelukku erat-erat, "Andyy, Mama enak Ndy" teriak Mama. "Ma, Andy juga enak nih mau muncrat" dan aku ngerasain sensasi yang lebih gila dari sekedar menonton Mama kemarin-kemarin. Aku lemes banget, dan tersandar layu ditubuh mulus Mama tiriku. Aku nggak tau berapa lama, rupanya aku tertidur, Mama juga. Aku tersadar ketika Mama mengecup bibirku dan menggeser tubuhku dari atas tubuhnya. Mama kemudian keluar kamar dengan melilitkan handuk, mungkin mau mandi. Akupun menyusul Mama dalam keadaan telanjang. Kuraba punyaku, lengket sekali, aku pengen mencucinya. Aku melihat Mama lagi mandi, pintu kamar mandi terbuka lebar. Uhh, tubuh Mama tiriku itu memang indah sekali. Nggak terasa punyaku bergerak bangkit lagi. Dengan posisi punyaku menunjuk aku berjalan ke kamar mandi menghampiri Mama. "Ma, mau lagi dong kayak tadi, enak" kini aku yang meminta. Mama memnandangku dan tersenyum manis, manis sekali. Kamuipun melanjutkan kejadian seperti dikamar. Kali ini Mama berjongkok di kloset lalu punyaku yang sedari tadi mengacung aku masukkan ke vagina Mama yang memerah. Kudorong keluar masuk seperti tadi. Mama membantu dengan menarik pantatku dalam -dalam. Nggak berapa lama Mama mengajak berdiri dan dalam posisi berdiri kami saling memeluk dan punyaku menancap erat di vagina Mama. Aku menikmati ini, karena punyaku seperti dijepit. Mama menciumku erat. Baru kusadari kalau badanku ternyata sama tinggi dengan mamaku. Dlama posisi berdiri aku kemudian merasakan kenikmatan ketika cairan kental kembali muncrat dari punyaku sementara Mama mengerang dan mengejang sambil memelukku erat. Kami sama–sama lunglai. Setelah kejadian hari itu, kami selalu melakukan persetubuhan dengan Mama tiriku. Hampir setiap hari sepluang sekolah, bahkan sebelum berangkat sekolah. Lebih gila lagi kadang kami melakukan walaupun Papa ada dirumah. Sudah tentu dengan curi-curi kesempatan kalo Papa lagi tidur. Kehadiran Papa dirumah seperti siksaan buatku karena aku nggak bisa melampiaskan nafsu terhadap Mama. Aku sangat menikmati. Aku senang kalo Papa keluar kota untuk waktu lama, Mama juga seneng. Mama terus melatih aku dalam beradegan sex. Banyak pelajaran yang dikasi Mama, mulai dari cara menjilat vagina yang bener, cara mengisap buah dada, cara mengenjot yang baik. Pokoknya aku diajarkan bagaimana memperlakukan wanita dengan enak. Aku sadar kalo aku menjadi hebat karena Mama tiriku. Sekitar setahun lebih aku menjadi pemuas Mama tiriku menggantikan posisi ayah. Aku bahkan jatuh cinta dengan Mama tiriku ini. Nggak sedetikpun aku mau berpisah dengan mamaku, kecuali sekolah. Dikelaspun aku selalu memikirkan Mama dirumah, pengen cepet pulang. Aku jadi nggak pernah bergaul lagi sama temen -temen. Sebagai cowok yang ganteng, banyak temen cewek yang suka mengajak aku jalan tapi aku nggak tertarik. Aku selalu teringat Mama. Justru aku akan tertarik kalo melihat bu guru Ratna yang umurnya setua Mama tiriku atau aku tertarik melihat bu Henny tetanggaku dan temen Mama. Tapi percintaan dengan Mama hanya bertahan setahun lebih karena kejadian tragis menimpa Mama. Mama meninggal dalam kecelakaan. Ketika itu seorang diri Mama tiriku mengajak aku nemenin tapi aku nggak bisa karena aku ada les. Mama akhirnya pergi sendiri ke mal. Dijalan mobil Mama tabrakan hebat dan Mama meminggal ditempat. Aku merasa sangat berdosa nggak bisa nemenin Mama tiriku tercinta. Aku shock. Aku ditenangkan Papa. "Papa tau kamu deket sekali dengan Mama Nuna, tapi nggak usah sedih ya Ndy, Papa juga sedih tapi mau bilang apa" kata papaku. Selama ini papaku tau kalo aku sangat deket dengan Mama. Papa senang karena Papa mengira aku senang dengan Mama Nuna dan menganggapnya sebagai Mama kandung. Padahal kalau Papa tau apa yang terjadi selama ini. Aku merasa berdosa terhadap Papa yang dibohongi selama ini. Tapi semua apa yang diberikan Mama Nuna, kasih sayang, cinta dan pelajaran sex sangat membekas dipikiranku. Sampai saat ini, aku terobsesi dengan apa semua yang dimiliki Mama Nuna dulu. Aku mendambakan wanita seumur Mama, secantik Mama, sebaik Mama dan hebat di ranjang seperti Mama tiriku itu. Kusadari sekarang kalo aku sangat senang bercinta dengan wanita STW semuanya berawal dari sana. |
| Posted: 14 Jun 2008 09:04 PM CDT Saat dia mulai membuka situs porno, dia mulai terangsang. Kupikir inilah tandaku untuk memulai. Aku mulai dengan meremas-remas kedua belah payudaranya. Lalu aku membuka baju dan bhnya sampai terlihat jelas kedua belah payudaranya. Putih bersih, dengan puting berwarna merah jambu. Aku mulai mengulum-ngulum puting payudaranya sambil tangan kananku meremas payudara kirinya dan tangan kiriku menjelajah ke dalam celananya. Aku buka kancing dan resleting celananya, agar tanganku lebih leluasa menyentuh klitoris dan lubang vaginanya. Jari tengahku perlahan-lahan aku masukan kedalam vaginanya yang sudah mulai basah. Dengan gerakan lambat aku mainkan jari-jariku di antara lubang vaginanya dengan posisi jari tengahku masuk kedalamnya. Semakin lama gerakan jari-jariku semakin cepat. Kukulum puting payudaranya dengan sesekali kumainkan lidahku. Remasan tanganku semakin kencang ke payudaranya. Sampai akhirnya dia mencapai klimaks dan aku memeluknya erat. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Cerita ini bermula saat aku di bangku kuliah dulu. Aku kuliah di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Informatika di Jakarta Selatan. Singkatnya, banyaknya waktu luang yang aku punya sepulang kuliah membuat aku ingin mencari kesibukan baru. Sampailah dimana aku mempunyai kebiasaan chatting melalui MIRC. Setiap hari sepulang kuliah, aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke warnet utuk chatting atau sekedar browsing mencari-cari gambar atau filem bokep. Di chatting, aku berkenalan dengan seorang wanita bernama Wulan,mahasiswi Desain grafis di salah satu Universitas di Jakarta. Hampir setiap hari aku chat dengannya. Sekedar basa basi atau saling curhat satu sama lain. Kami berdua sering bertukar foto via E-mail,karena dulu belum tau friendster n hape belum bisa MMS, Tounge.gif sejujurnya, Wulan tidak cantik, cenderung tomboy dan dia anak Indies(tau donk). Yang membuat saya tertarik adalah dia berkulit putih bersih dan enak untuk diajak ngobrol. Pembawaannya selalu ceria, seolah dia tidak pernah merasakan sedih. Sampai suatu hari kami sepakat untuk kopi darat. aku menentukan tempatnya, yaitu di Mall Ciputra, Grogol.. Oh iya, Wulan bertempat tinggal di Rawamangun, jadi untuk ke Citraland mungkin jaraknya lumayan jauh. Tapi aku menjanjikan akan mengantar dia pulang nanti. Hari pertemuan pun tiba. Jantungku lumayan berdebar. Setelah bertemu debaran jantungku semakin kencang tapi lama kelamaan hilang setelah kami mulai mengobrol. Kami berjalan-jalan sebentar dan mampir di McDon*ld untuk makan. Setelah selesai makan, dia memintaku mengantarnya pulang. Saat itu aku belum punya kendaraan pribadi, jadi aku menemaninya naik bis. Bis yang kami naiki waktu itu adalah Patas AC dan kondisi bis sepi. Hanya di bagian depan sampai baris ketiga saja yang terisi. Sisanya di belakang hanya ada sepasang penumpang. Lalu kami bergegas naik dan dia mengajak aku duduk di kursi no.2 dari belakang, tepat disamping pintu keluar belakang. Di perjalanan kami mengobrol dan bersenda gurau. Saat bersenda gurau itu aku tidak sengaja menyenggol payudaranya, aku takut dan panik, takut dia marah. Tapi ternyata dia bilang "qo Cuma nyenggol siy, kamu pegang juga ga apa-apa qo". Serasa diberi lampu hijau, aku mulai meremas-remas payudaranya sambil menciumi bibirnya. Tanganku mulai masuk ke dalam kausnya yang terbalut oleh jaket. Aku pilin-pilin puting payudaranya sambil sesekali aku remas-remas payudaranya. Sambil mendesah dia berkata, "masukan tangan kamu ke celana aku say". Tanpa pikir panjang, aku mulai memasukan tanganku ke dalam celana dalamnya, dan ternyata sudah mulai basah. Lalu aku usap-usap klitorisnya dengan lembut, sampai bibir vaginanya menjadi lebih basah. Tanpa terasa, kami tiba di tempat tujuan. Kami bergegas turun dan lalu dia mengajakku ke warnet tempat dia biasa online. Setiba disana kondisi warnet sepi, hanya ada operatornya saja. Dia kenal baik dengan operatornya. Kondisi warnet seperti pada umumnya, disekat hanya sebatas dada orang dewasa. Di belakang ada ruangan khusus tempat OP biasa istirahat dan toilet di sebelahnya. Kami memilih PC di bagian paling belakang. Kami muai browsing, dari mulai membuka situs-situs music, sampai membuka situs-situs porno. Oh iya, posisi duduk antara aku dengan dia adalah aku duduk di belakang dan dia setengah berpangku di kedua belah pahaku. Posisi yang "sangat strategis" untuk menjelajah ke setiap jengkal tubuhnya. Saat dia mulai membuka situs porno, dia mulai terangsang. Kupikir inilah tandaku untuk memulai. Aku mulai dengan meremas-remas kedua belah payudaranya. Lalu aku membuka baju dan bhnya sampai terlihat jelas kedua belah payudaranya. Putih bersih, dengan puting berwarna merah jambu. Aku mulai mengulum-ngulum puting payudaranya sambil tangan kananku meremas payudara kirinya dan tangan kiriku menjelajah ke dalam celananya. Aku buka kancing dan resleting celananya, agar tanganku lebih leluasa menyentuh klitoris dan lubang vaginanya. Jari tengahku perlahan-lahan aku masukan kedalam vaginanya yang sudah mulai basah. Dengan gerakan lambat aku mainkan jari-jariku di antara lubang vaginanya dengan posisi jari tengahku masuk kedalamnya. Semakin lama gerakan jari-jariku semakin cepat. Kukulum puting payudaranya dengan sesekali kumainkan lidahku. Remasan tanganku semakin kencang ke payudaranya. Sampai akhirnya dia mencapai klimaks dan aku memeluknya erat. Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Dia minta izin untuk pulang dan mandi, karena rumahnya tidak terlalu jauh dari warnet. Ternyata dia terkadang saat weekend menjadi operator di warnet itu, dan hari itu adalah hari dimana dia mendapat giliran untuk menjadi Operator. Kurang lebih satu jam lamanya aku menunggu, akhirnya dia tiba. Dengan wajah yang lebih segar, memakai kaos ketat dengan rok mini berbahan jeans berwarna biru. Saat dia mendekat, kuhirup harumnya wangi parfum yang dia semprotkan ketubuhnya. Jujur, birahiku menjadi naik karenanya. Sesaat kemudian, dia memulai tugasnya dan Operator yang satunya lagi izin pulang. Warnet hanya berisi 2 user. Dalam hati aku berharap kedua user itu cepat selesai onlinenya, supaya aku bias berduaan dengan Wulan. Setengah jam berlalu, user terakhir akhirnya pulang. Tanpa basa basi, dia pun membalik tulisan open menjadi close dan kemudian mengunci pintu warnet. Dia lalu menuntunku ke belakang, ke tempat dimana operator biasa beristirahat. Dia mulai menciumi bibirku dan aku balas dengan memainkan lidahku. Tangannya mulai menjelajah ke dadaku, lalu turun ke perutku dan kemudian berhenti diantara selangkanganku. Dia mulai meraba-raba penisku yang makin lama makin tegang berdiri. Kancing celanaku dibukanya dan perlahan resleting celanaku diturunkannya. Tinggalah aku dengan hanya memakai celana dalam dengan kaus masih melekat. Kemudian dia buka celana dalamku dan menyembulah penisku yang sudah tegak berdiri. Dia mulai mengocok-ngocok penisku dengan lembut dengan sesekali menciumi kepalanya. Sesaat kemudian ia mulai memainkan lidahnya, menjilati penisku dan mengulumnya dengan perlahan. Dengan gerakan yang sangat lembut dia gerakan bibirnya maju mundur, sambil sesekali menghisap, membuat aku melayang. 5 menit sudah ia memainkan 'punyaku'. Tiba giliranku untuk mengerjainya. Aku mulai dengan membuka kaosnya sambil sesekali aku ciumi kedua payudaranya. Kubuka BHnya dengan perlahan, hingga terlihat jelas kedua belah payudaranya yang tidak terlalu besar. Aku mulai dengan meremas, kemudian mengulum putingnya, menghisap sambil memainkan jari-jariku di atas payudaranya. Setelah puas, aku mulai menurunkan celana dalamnya. Celana dalam berwarna biru dengan motif polkadot. Sehingga terlihat jelaslah vaginanya yang memiliki bulu kemaluan yang tidak terlalu banyak. Kurebahkan dia di lantai yang beralaskan karpet, dan aku ganjal pantatnya dengan bantal agar pandanganku jelas. Kumulai menjilati klitorisnya, dan mengulum labianya. Sesekali aku masukan lidahku kedalam lubang vaginanya. Kumainkan bulu kemaluannya yang halus dengan lidah tetap menjilati dan mengulum klitorisnya. Lalu aku masukan jari tengahku kedalam vaginanya. Dengan gerakan yang perlahan aku mainkan jari tengahku, dengan lidah masih bermain-main dengan klitorisnya. Mendekati klimaks, aku hentikan gerakan lidah dan jariku dan memulai posisi missionary. Aku mulai masukan penisku ke dalam vaginanya dengan perlahan, lalu mengeluarkannya dengan perlahan dan aku lakukan berulang-ulang. Dengan ritme yang lambat, kurasakan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Diapun sepertinya menikmati gerakan-gerakan yang aku lakukan. Setelah 5 menit, kemudian kami berganti posisi doggy style. Dengan perlahan aku gerakan tubuhku maju mundur sambil sesekali mempercepat ritme, kemudian memperlambat lagi, begitu seterusnya. Sampai pada akhirnya dia hampir mencapai klimaks, akupun sepertinya sudah tak bisa lagi menahan keluarnya sperma. Dia berkata, "keluarkan didalam saja, aku tadi sudah minum pil KB". Hatiku berteriak kegirangan, karena belum pernah seumur-umur bisa ngeluarin di dalam. Dengan beberapa gerakan saja kami berdua pun mencapai klimaks. Dia merasakan hangatnya spermaku yang keluar di dalam vaginanya. Sedangkan aku merasakan bagaimana vaginanya berdenyut seperti menghisap-hisap penisku, luar biasa. Beberapa saat aku diamkan penisku di dalam vaginanya. Setelah itu kamipun membersihkan diri di toilet. Dan kemudian mulai memakai kembali pakaian kami. Selesai itu, kamipun berpelukan. Lalu dia membisikan kata "terima kasih buat hari ini, aku bahagia". Dalam hati aku hanya bisa tersenyum, akupun bahagia, pikirku. Hari ini takkan pernah hilang dalam memoriku. |
| Posted: 14 Jun 2008 08:58 PM CDT Aku sudah dirasuki nafsu biarahi langsung membalas pagutan Titin dengan tatkala ganasnya. Perlahan jilatan erotis Mbak Heny turun ke leher, perut... hingga sampe dibatang kemaluan ku. "Berpengalaman sekali dia ini..." pikirku. Jilatan yang diselingi sedotan, kuluman dibatang kemaluan hingga buah pelir ku itu membuatku serasa terbang melayang-layang.... "Ohhhh... Titin... nikkk... mat... teruss... isepppp" desahku menahan nikmatnya permainan oral janda seksi ini sambil mengelus-elus rambutnya. 15 menit lamanya permainan dahsyat itu berlangsung hingga akhirnya aku merasa sesuatu yang ingin keluar dari penis ku. "Akhh... hh... aku keulu..aaarrr..." erangku diikuti semprotan sperma ku dimulut Titin yang langsung melahap semua sperma ku persis seperti anak kecil yang melahap es paddle pop sambil tersenyum ke arahku.. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Kisah ini berawal ketika saya pulang liburan akhir semester lalu dari bandung. Hampir 2 minggu saya habiskan disana dengan 'reuni' bareng temen-temen saya waktu SMA dulu yang kebetulan kuliah disana. Saya sendiri kuliah di kota budaya, Jogjakarta. Waktu itu saya tiba diterminal bis di kota Bandung pukul 2 siang, meskipun bis Bandung – Jogja yang saya tumpangi baru berangkat 2 jam kemudian. Saat sedang asyik membolak-balik Taboid Olahraga kesukaan saya, tiba-tiba seorang anak kecil berusia 4 tahunan terjatuh didepan saya, sontak tangan ku menarik si gadis kecil itu. "Makasih Dik, maklum anak kecil kerja nya lari-lari mulu" ungkap seorang wanita setengah baya seraya mengumbar senyum manisnya. Namun walau hampir kepala tiga, Mbak Titin, demikian dia memperkenalkan dirinya pada saya, masih keliatan seperti gadis muda yang lagi ranum-ranum nya.... dada gede (34B), pantat bahenol dibarengi pinggul seksi membuat ku terpaku sejenak memandanginya. "Maaf, boleh saya duduk disini" suara Mbak Titin dengan logat sundanya yang khas memecah 'keheningan' saya "Ssii... silakan Mbak," balas ku sambil menggeser pantat ku dibangku ruang tunggu bis antar kota di kota kembang itu. "Mau kemana mbak'"saya coba membuka pembicaraan. "Anu... saya the mau ke jogja. Biasa beli barang-barang buat dagang. Adik mau kemana?" "Sama, jogja juga. Mbak sendiri?" pandangan ku melirik payudara nya yang belahan nya jelas dari kaos lumayan ketat yang dipakainya. "Ya, tapi ada yeyen kok" katanya sambil menunjuk si kecil yang asik dengan mainannya. "Saya Andi Mbak" ucapku sambil mengulurkan tangan yang langsung disambutnya dengan ramah. "Kalo gitu saya manggilnya mas aja ya, lebih enak kedengarannya" ungkap si mbak dengan kembali mengumbar senyum manisnya. Mungkin karena ketepatan jurusan kami sama, saya dan Mbak Titin cepat akrab, apalagi apa karna kebetulan ato gimana, kami pun duduk sebangku di bis yang memang pake formasi seat 2-2 itu. Dari ceritanya ku ketahui kalo Mbak Titin janda muda yang ditinggal cerai suami sejak 2 thn lalu. Untuk menyambung hidup dia berjualan pakaian dan perhiasan yang semua dibeli dari jogja. Katanya harga nya murah. Rencananya di Jogja 2-3 hari.. Pukul 4.30 sore, bis meninggalkan terminal tersebut, sementara didalam bis kamu bertiga asyik bercengkarama, layaknya Bapak-Ibu-Anak, dan cepat akrab saya sengaja memangku si kecil Yeyen, sehingga Mbak Titin makin respek pada saya. Tak terasa, waktu terus berjaan, suasana bis begitu hening, ketika waktu menunjukkan pukul 11 malam. Si kecil Yeyen dan para penumpang lain pun sudah terlelap dalam tidur. Sedangkan saya dan Mbak Titin masih asyik dalam obrolan kami, yang sekali-kali berbau ha-hal 'jorok', apalagi dengan tawa genitnya Mbak Titin sesekali mencubit mesra pinggang saya. Suasana makin mendukung karna kami duduk dibangku urutan 4 dari depan dan kebetulan lagi bangku didepan,belakang dan samping kami kosong semua. "Ehmm..mbak, boleh tanya ga nih, gimana dong seandainya pengen gituan kan dah 2 taon cerainya." tanya ku sekenanya. "Iiihh, si mas pikiran nya..ya gimana lagi, palingan usaha sendiri... kalo ga,ya... ini,si Yeyen yang jadi sasaran marah saya, apalagi kalo dah sampe di ubun-ubun." jawabnya sambil tersipu malu. "Masa... Ga mungkin ga ada pria yang ga mau sama mbak, mbak seksi, kayak masih gadis" aku coba mengeluarkan jurus awal. Tiba-tiba si yeyen yang tidur pulas dipangkuan Mbak Titin, nyaris terjatuh.. sontak tangan ku menahannya dan tanpa sengaja tangan kami bertemu. Kami terdiam sambil berpandangan, sejenak kemudian tangan nya ku remas kecil dan Mbak Titin merespon sambil tersenyum. Tak lama kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu ku, tapi aku mencoba untuk tenang, karena 'diantara' kami masih ada si kecil yeyen yang lagi asik mimpi..ya memang ruang gerak kami terbatas malam itu. Cukup lama kami berpandangan, dan dibawah sorot lampu bis yang redup, ku beranikan mencium lembut bibir seksi janda cantik itu. "Ssshhh... ahhh... mas" erangnya, saat lidah ku memasuki rongga mulutnya, sementara tangan ku, walau agak sulit, karna yeyen tidur dipangkuan kami berdua, tapi aku coba meremas lembut payudara seksi nan gede itu. "Terus mas... enak..... ouhhhh" tangan nya dimasukin aja mas, gak keliatan kok'" rengeknya manja. Adegan pagut dan remas antara kami berlangsung 20 menitan dan terhenti saat yeyen terbangun... "Mama..., ngapain sama Om Andi" suara yeyen membuat kami segera menyudahi 'fore play' ini dan terpaksa semuanya serba nanggung karna setelah itu Yeyen malah ga tidur lagi. "Oya, ntar di Jogja tinggal dimana Mbak" tanya ku. "Hotel Mas... Napa? Mas mau nemenin kami...???" "Bisa, ntar sekalian saya temenin belanjanya, biar gampang, ntar cari hotelnya disekitar malioboro aja." ======= Pukul 7 pagi akhirnya kami tiba di terminal Giwangan, Jogja... dari terminal kami bertiga yang mirip Bapak-Ibu dan anak ini, nyambung bis kota dan nyampai dikawasan malioboro setengah jam kemudian.. setelah muter-muter, akhirnya kami mendapatkan hotel kamar standart dengan doble bed dikawasan wisata jogja itu. Setelah semua beres, si room boy yang mengantar kami pamit. "Yeyen, mau mandi atau langsung bobo chayank?" "Mandi aja, Ma... Oya, Om Andi nginep bareng kita ya..?" si yeyen kecil menanyaiku "Ya, biar mama ada temen ngobrolnya." jawab Mbak Titin sambil ngajak Yeyen ke kamar mandi yang ada dalam kamar. Di dalam ternyata si mbak telah melepas pakaiannya dan hanya melilitkan handuk di tubuh seksinya. Dengan posisi agak nungging, dengan telaten Mbak Yeyen menyabuni si Yeyen, dan karena pintu kamar mandi yang terbuka, nampak jelas cd item yang membalut pantat seksi itu. Seperti Mbak Titin sengaja memancing naluriku, karena walau tau aku bisa 'menikmati' pemandangan tersebut, pintu kamar mandi tidak ditutup barang sedikitpun. Tak lama kemudian, Yeyen yang telah selesai mandi , berlari masuk ke dalam kamar.. "Gimana, Yeyen udah seger belom?" godaku sambil mengedipkan mata ke arah Mbak Titin "Seger Om.... Om mau mandi??" Belum sempat ku jawab..... "Ya ntar Om Mandi mandinya bareng mama, sekarang yeyen bobo ya..." celetuk Mbak Titin sambil tersenyum genit kearah ku. Selagi Mbak Titin menidurkan anaknya, aku yang sudah masuk ke kamar mandi melepas seluruh pakaian ku dan 'mengurut-urut' penis ku yang sudah tegang dari tadi. Lagi asiknya swalayan sambil berfantasi, Mbak Titin ngeloyor masuk kamar mandi. Aku kanget bukan kepalang.. "Udah gak sabar ya…..." godanya sambil memandagi torpedo ku yang sudah 'on fire' "Haa... aaa... Mbak..." suaraku agak terbata-bata melihat Mbak Titin langsung melepas lilitan handuknya hingga terpampang payudara nya yang montok yang ternyata sudah ga dibungkus BH lagi, tapi penutup bawah nya masih utuh. Tanpa mempedulikan kebengongan ku, Mbak Titin langsung memelukku. "Jangan panggil Mbak dong. Titin aja" rengeknya manja sambil melumat bibirku dan tangan kirinya dengan lembut mengelus-elus kemaluan ku yang semakin 'on fire'. Aku sudah dirasuki nafsu biarahi langsung membalas pagutan Titin dengan tatkala ganasnya. Perlahan jilatan erotis Mbak Heny turun ke leher, perut... hingga sampe dibatang kemaluan ku. "Berpengalaman sekali dia ini..." pikirku. Jilatan yang diselingi sedotan, kuluman dibatang kemaluan hingga buah pelir ku itu membuatku serasa terbang melayang-layang.... "Ohhhh... Titin... nikkk... mat... teruss... isepppp" desahku menahan nikmatnya permainan oral janda seksi ini sambil mengelus-elus rambutnya. 15 menit lamanya permainan dahsyat itu berlangsung hingga akhirnya aku merasa sesuatu yang ingin keluar dari penis ku. "Akhh... hh... aku keulu..aaarrr..." erangku diikuti semprotan sperma ku dimulut Titin yang langsung melahap semua sperma ku persis seperti anak kecil yang melahap es paddle pop sambil tersenyum ke arahku.. Setelah suasana agak tenang, aku menarik tangan Titin untuk berdiri, dan dalam posisi sejajar sambil memeluk erat tubuh sintal janda seksi ini, mulutku langsung melumat mulut Titin sambil meremas-remas pantatnya yang padat. Titin membalasnya dengan pagutan yang tatkala ganas sambil tangan nya mengenggam penisku yang masih layu dan mengurut-urutnya. Dan dengan buasnya aku mengecup dan menyedot dari leher terus merambat hingga ke payudara nya yang padat berisi. "Oohhh.. Ndi.... ahhkkhh." erangnya tatkala mulutku mulai bermain di ujung putingnya yang tegang dan berwarna coklat kemerahan. Tanpa melepas lumatan pada mulut Titin, perlahan aku mulai mengangkat tubuh sintal tersebut dan mendudukannya diatas bak mandi serta membuka lebar-lebar pahanya yang putih mulus. Tanpa dikomando aku langsung berlutut, mendekatkan wajahku kebagian perut Titin dan menjilati yang membuat Titin menggelinjang bak cacing kepanasan. Jilatin ku terus merambat ke bibir vagina nya yang licin tanpa sehelai bulu pun. Sesaat kemudian lidahku menjilati sambil menusuk-nusuk lubang vagina Titin, yang membuatnya mengerang histeris. "Ndi... sudah.... Ndi... masukinn punyamu.... aku sudah ga tahan.... ayo sayang..." pinta nya dengan nafas memburu. Tak lama kemudian aku berdiri dan mulai menggesek-gesekkan penis ku yang sudah tegang dan mengeras dibibir vagina Titin yang seseksi si empunya. "Sudah.... say.... aku ga ta.. hann... nnn... masukin.." rengek Titin dengan wajah sayu menahan geora nafsunya. Perlahan namun pasti penisku yang berukuran 17 cm, ku masukkan menerobos vagina Titin yang masih sempit walau sudah berstatus janda itu. "Pelann... dong say.. sudah 2 tahun aku gak maen.." pinta nya seraya memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri saat penisku mulai menerobos lorong nikmat itu. Ku biarkan penis ku tertanam di vagina Titin dan membiarkan nya menikmati sensasi yang telah dua tahun tak dia rasakan. Perlahan namun pasti aku mulai mengocok vagina janda muda ini dengan penis ku yang perkasa. Untuk memberikan sensasi yang luar biasa, aku memompa vagina Titin dengan formasi 10:1, yaitu 10 gerakan menusuk setengah vagina Titin yang diukuti dengan 1 gerakan full menusuk hingga menyentuh dinding rahimnya. Gerakan ini ku selingi dengan menggerakkan pantatku dengan memuter sehingga membuat Titin merasa vagina nya diubek, sungguh nikmat yang tiada tara terlihat dari desisan-desisan yang diselingi kata-kata kotor keluar dari mulutnya.. "Ouggghh.... kontolmu enak say... entot Titin terus say... nikmat" rintihnya sambil mengimbangi gerakanku dengan memaju-mundurkan pantatnya. Tiga puluh menit berlalu, Titin sepertinya akan mencapai orgasmenya yang pertama. Tangan nya dengan kuat mencengkram punggung ku seolah meminta sodokan yang lebih dalam di vaginanya. Titin menganggkat pinggulnya tinggi-tinggi dan menggelinjang hebat, sementara aku semakin cepat menghujam kan penisku di vagina Titin... "Ooouhhh.... aaahhhh.... hhh..." erang Titin saat puncak kenikmatan itu dia dapatkan.. Sejenak Mbak Titin kubiarkan menikmati multi orgasme yang baru saja dia dapatkan. Tak lama kemudian tubuh sintal Mbak Titin ku bopong berdiri dan kusandarkan membelakangi ku ke dinding kamar mandi. Sambil menciumi tengkuk bagian belakang nya, perlahan tangan ku membelai dan mengelus paha mulus Mbak Titin hingga tangan ku menyentuh dan meremas kemaluan nya dari belakang, membuat nafsu birahinya bangkit kembali. Rangsangan ini ku lakukan hingga aku persis berjongkok dibelakang Titin. Apalagi setelah jilatan merambat naik ke vagina Mbak Titin dan mengobok-obok vagina yang semakin menyemburkan aroma khas. Tak cukup sampai disitu, wajahku ku dekatkan kebelahan pantat montok itu dan mulai mengecup dan menjilati belahan itu hingga akhirnya Mbak Titin seakan tersentak kaget kala aku menjulurkan dan menjilati lubang anus nya, sepertinya baru kali ini bokong seksi dan anusnya dijilati. "Ouhh.... aakhh... ssstt.... jorok say.... apa kamu lakukan... jilat memek titin aja.." celotehnya . Sepuluh menit berlalu, aku kemudian berdiri dan menarik pantat montok nan seksi itu kebelakang dan penisku yang semakin tegang itu ku gosok-gosokan disekitar anus Titin… "Ouh... ca... kittt... say... jangan disitu, Titin lom pernah say..." rengeknya sambil menahan saat perlahan penisku menerobos masuk anusnya. Setelah sepenuhnya penisku tertelan anus Titin, ku diamkan beberapa saat untuk beradaptasi seraya tangan ku meremas-remas kedua payudaranya yang menggantung indah dan menciumi tengkuk hingga leher belakang dan sampai ke daun telinga nya. "Nikk... matt... say.." hanya itu yang keluar dari mulut seksi Titin. Merasa cukup, aku mulai memaju mundurkan penis ku secara perlahan mengingat baru kali ini anusnya dimasuki penis laki-laki. Setelah beberapa gerakan kelihatan rasa sakit dan perih yang dirasakannya tadi sudah berganti dengan rasa nikmat tiada tara. Perlahan Mbak Titin mulai mengimbangi gerakan ku dengan goyangan saat penis ku semakin memompa anusnya, sambil tangan kananku mengobok-obok vagina nya yang nganggur. "Aahhh... ooohhh... laur biasa say... nikmat..." Desah Titin menahan nikmatnya permainan duniawi ini. 30 menit berlalu dan aku merasa puas mempermainkan anus Mbak Titin, perlahan ku tarik penisku dan mengarahkan nya secara perlahan ke vagina, dan memulai mengobok-obok vagina itu lagi. 20 menit kemudian aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari penisku, hingga aku semakin mempercepat gerakan sodokan ku yang semakin diimbangi Titin yang sepertinya juga akan mendapatkan orgamasme keduanya. Diiringa lolongan panjang kami yang hampir bersamaan, secara bersamaan pula cairan hangat dan kental dari penisku dan vagina Titin bertemu di lorong nikmat Titin.. Nikmatnya tiada tara, sensasi yang tiada duanya.. Tak lama berselang, aku menarik penisku dan mendekatkan nya ke mulut Mbak Tiitn yang langsung dijilatinya hingga sisa-sisa sperma yang masih ada dipenisku dijalatinya dengan rakus. "Tak kusangka mas sehebat ini.. baru kali ini aku merasa sepuas ini. Badan kecil tapi tenaganya luar biasa. Aku mau mas... aku mau kamu mas..." puji Mbak Titin padaku dengan pancaran wajah penuh kepuasan tiada tara... Sesaat kemudian kami saling membersihkan diri satu dengan lainnya, sambil tentunya sambil saling remas. Saat keluar mandi terihat Yeyen masih terdidur pulas, sepuas mama nya yang baru saja ku 'embat'. Setelah Yeyen bangun, kami bertiga jalan-jalan disekitar malioboro hingga malam. Pukul 9 malam kami tiba di hotel, namun kali ini sambil memandikan Yeyen, Mbak Titin tampaknya sekalian mandi.. Saat keluar kamar mandi tanpa sungkan wanita sunda ini melepas handuknya untuk selanjutnya mengenakan daster tipis yang tadi baru kami beli dari salah satu toko di kawasan malioboro. "Mas.. mandi dulu gih.." ungkapnya saat aku mendekatkan diri dan mengecup lembut bibirnya yang langsung disambutnya. "Iihh.. mama dan om Andi, ngapain..?" protes si kecil yeyen saat kami sesaat berpagutan didepan meja hias yang tersedia di kamar hotel itu. Setelah aku selesai mandi, ku lihat Titin lagi ngeloni Yeyen, dan tampaknya kedua ibu-anak ini kecapean setalah jalan-jalan disekitar malioboro. Akhirnya ku biarkan Titin tidur dan aku gak ngantuk sama sekali mencoba mengisi waktu dengan menyaksikan live liga Inggris yang waktu itu ketepatan menyajikan big match .. Jam 12 malam lebih saat tayangan bola rampung, perlahan aku mendekati Titin dan mulai membelai-belai betis indah janda muda itu dari balik daster tipisnya hingga nyampe pangkal pahanya. Ketika tanganku mulai mengusap-usap vagina, Titin terbangun. Ku ajak dia pindah ke bed satunya, sambil ku lucuti daster tipis yang didalamnya tanpa beha tersebut. Dengan hanya menggunakan CD tipis berwarna krem, tubuh bahenol itu ku bopong dan ku lentang kan di ranjang satunya, agar kami lebih leluasa dan si Yeyen kecil bisa tidur tenang. Sambil menindihnya, ku remas dan kecup puting payudara putih dan montok itu. "Aahhh.... mas..." erangnya manja. Jilatan ku terus merambah menikmati inci per inci tubuh seksi itu hingga sampe di gundukan nikmat tanpa sehelai rambut pun.. Hampir 20 menit lidah ku bermain dibagian sensitive itu, hingga akhirnya.. "Ayo dong mas... cepeten masukin... dah ga tahan nih..." Perlahan kusapukan penis ku di vagina mungil itu. kelihatan sekali Titin menahan napas sambil memejamkan mata nya dengan sayu dan menggigit bibir bawahnya. Akhirnya burung ku masuk 'sarang'. Ku pertahankan posisi itu beberapa saat, dan setelah agak tenang aku mulai menyodok perlahan vagina yang semakin basah itu. Erangan dan desahan nikmat yang keluar dari mulut seksi janda sintal ini, menandakan dia sangat menikmati permainan duniawi ini.. Tanpa malu dia mendesah, mengerang bahkan diselingi kata-kata kotor yang membangkitkan gairah.. Sementara di bed sebelahnya si kecil Yeyen masih tertidur pulas.. Titin, si Jada seksi yang lagi, ku garap seakan tidak memperdulikan keberadaan putrinya si kecil, Yeyen.. 25 menit-an kami 'bertempur' dalam posisi konvensional itu, perlahan ku angkat tubuh Mbak Titin hingga kini dia posisinya diatas. Posisi yang nikmat, karna selain menikmati memek nya aku juga bisa dengan leluasa meremas, mencium dan sesekali mengulum payudara montok yang ber-ayun dengan indah itu.. baru 15 menit,tiba-tiba tubuh Titin mengejang diikuti lenguhan panjang.. "Aaaacchh.... aauugghh... Ann.. ddii.. aakku.. kkeelluaa.. aa.. rr..." Tak lama Titin menghempaskan tubuhnya di dada ku, seraya mulut kami berpagutan mesra. 5 menit lama nya ku biarkan dia menikmati orgasme nya. Beberapa saat, karna aku belum apa-apa, aku minta Titin menungging karna aku pengen menikmati nya dengan posisi dogstyle.. Dalam posisi nungging keliatan jelas pantat indah janda kota kembang ini.. Perlahan ku kecup dan jilati belahan pantat seksi itu. Secara perlahan jilatan ku sampe ke vagina mungilnya, Titin menggelinjang dan menggelengkan-gelengkan kepalanya menahan nikmat.. disaat itu, tanpa kami sadari.. si kecil Yeyen bangun dan menghampiri kami. "Om Andi.. ngapain cium pantat mama.." selidiknya sambil terus mendekat memperhatikan memek mama nya yang ku lahap habis.. "Adek tenang aja ya.. jangan ganggu Om Andi... Mama lagi maen dokter-dokteran dengan Om Andi. Ntar mam mau di cuntik .. Yeyen diem aja ya..." Titin coba menenangkan gadis kecil itu.. "Ehmm.,.. hayo Om... cuntik Mama Yeyen cekaaa.. lang Om.. dah ga tahan neh.." rengek Titin.. sedangkan si Yeyen terlihat duduk manis dipinggiran bed satunya, siap menyaksikan adegan yang semestinya belum pantas dia saksikan.. Perlahan penis ku yang sudah on fire ku gosok-gosokkan dari lubang memek Titin hingga menyentuh anusnya, dari arah memek hingga lubang anusnya. Dan karena tak tega menyaksikan Titin semakin meracau dan merengek minta segera di 'suntik', secara perlahan ku arahkan penis ku ke liang senggama nya yang licin oleh cairan vagina nya.. "Om, kok Mama Yeyen dicuntik pake burung Om.." protes si kecil yang belum ngerti apa-apa itu. "Aauhh... ahh..... lebih dalam Mass.. sss.. Ann.. dddi.." pinta Titin dalam erangan dan desahan nikmat nya tanpa mempedulikan keberadaan Yeyen yang terlihat bingung melihat mama nya, antara kesakitan atau menahan nikmat. 30 menit berlalu, aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari ujung penis ku. Agar lebih nikmat, ku putar tubuh sintal janda kembang ini tanpa mencabut penis ku hingga kami kembali paad posisi konvesional. "Ti... tiiinn.. aku mau keluar" erang ku mencoba menahan muntahan lahar nikmat yang semakin mendesak ini… "Ntar.. Masss.. ss.. tahann... kita bareng..." Erangnya dengan mata terpejam seraya menggigit kedua bibirnya menahan genjotan ku yang semakin kencang di vaginanya.. Kedua tangan nya mencengkram punggung ku, dan dadanya diangkat membusung, seluruh badannya tegang mengencang, diikuti dengan lenguhan panjang kami berdua. "Aaaccchhh.... aaauuggghh..." Maniku dan mani nya akhirnya bertemu di lorong kenikmatan itu sementara bibir kami berpagut mesra dan tangan kanan ku meremas payudara nya yang mengecang saat kami orgasme bareng tadi. Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan itu, kami masih berciuman mesra sambil berpelukan mesra, sementara penisku masih 'tertanam' di memeknya. Sadar dari tadi Yeyen terus memperhatikan kami, Titin dengan wajahnya yang penuh kepuasan sejati, mengedipkan matanya seraya melihat ke arah Yeyen sambil tersenyum manis.. dan aku pun menghempaskan tubuh ku disampingnya, dan saat penis ku akan ku cabut.. "Nggak usah Mas.. biarin aja dulu di dalem.." rengeknya manja dan segera ku hadiahi ciuman mesra di keningnya.. Tak lama kemudian Yeyen mendekati kami yang baru saja permainan ranjang yang begitu dahsyat.. Hari berikutnya selama Ibu dan anak ini di Jogja, kami terus melakukan hubungan seks ini, dengan berbagai variasi dan teknik yang lebih mesra.. bahkan kadang kami melakukan nya di kamar mandi saat mandi.. Malahan kami tak peduli lagi dengan keberadaan Yeyen. Titin juga tak segan mengoral penis ku dihadapan Yeyen.. Liburan tahun baru lalu aku mendatangi nya di Bandung dan menginap selama se minggu lebih di rumah Janda seksi itu.. kepada tetangga sekitar dia mengenalkan aku sebagai keponakan jauhnya.. Dan yang paling penting, kami menghabiskan waktu dengan bermain seks sepuasnya, apalagi si kecil Yeyen telah dia titipkan ditempat orang tuanya di karawang, sedang selama aku disana, dia sengaja meliburkan pembantu nya.. Begitulah kisah seks ku dengan Titin, si janda seksi.. Dan pembaca, entah kenapa, sejak saat itu, untuk urusan seks aku merasa lebih menikmati permainan dengan wanita setengah baya. |
| Posted: 08 Jun 2008 05:43 AM CDT Sementara Jilatanku sudah sampai pada vaginanya, aku sibakkan bulunya dengan lidahku, aku kemut lembut klitorisnya, kadang lidahku menusuk langsung vaginanya, Jari-jariku ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting buah dadanya yang semakin mencuat, Sehingga membuat Dewi mengerang dalam nikmat, Sementara Dewi pun tidak tinggal diam, dia balas mengelus dadaku, kadang ujung dadaku di pilinnya, Tangan yang satunya lagi meremas-remas dan mengocok senjataku sehingga semakin meregang kaku dalam genggamannya, Yang aku yakin berdasarkan ceritanya pasti punyaku lebih besar dari pada punya suaminya, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku lupa bahwa aku punya tugas untuk mengantarnya meraih orgasme. Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Dewi sendiri yang tidak tahan dan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang senjataku untuk dibimbing kedalam liang surganya, Perlahan, centi demi centi, senjataku memenuhi rongga vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat disenjataku, Cengkraman vaginanya yang begitu kuat terasa mengurut senjataku, Dewi terus menggoyangkan pantatnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama Dewi berteriak histeris dan menggigit pundakku, tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas orgasmenya, Aku berhasil mengantarnya meraih orgasme, Tubuhnya diam sejenak diatas tubuhku. "Terima kasih, Pak" ia mencium keningku. "Saya masih mau lagi" ucapnya serak. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Awalnya aku hanya iseng mengobrol mengisi waktu luang di waktu jam istirahat, Namun lama-kelamaan Dewi salah satu staffku yang agak manis malah penasaran dan bertanya lebih jauh tentang orgasme. Ya sebuah misteri yang kelihatannya mudah namun susah diungkapkan. Memang banyak sekali wanita yang belum sadar akan arti pentingnya sebuah orgasme, bahkan menurut penelitian hanya 30% wanita yang dapat meraih orgasme, banyak hal-hal yang mempengaruhi wanita dalam meraih orgasme, baik dari faktor si wanitanya ataupun dari faktor prianya atau bahkan dari suasana, perasaan, dll. Termasuk Dewi salah satu staffku ini, selama menikah 2 tahun lalu, dia belum tahu apa itu orgasme, yang dia tahu hanya rasa enak saat penis suaminya memasuki kewanitaannya, Dan berakhir saat penis suaminya menyemprotkan cairan hangat kedalam kewanitaannya. Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritanya, lalu aku korek lebih jauh tentang perasaan, foreplay, gaya, waktu, dan lain-lain tentang hubungannya dengan suaminya, Dengan malu-malu Dewi pun menceritakan dengan jujur bahwa selama ini memang dia sendiri penasaran dengan apa yang namanya orgasme namun dia tak tahu harus bagaimana, yang jelas saat berhubungan dengan suaminya dia cukup foreplay, bahkan suaminya senang mengoral kewanitaannya sampai banjir, dan selama penis suaminya masuk sama sekali tidak ada rasa sakit, yang ada hanya enak saja namun tidak bertepi, rasanya menggantung tidak ada ujung, dan tahu-tahu sudah berakhir dengan keluarnya sperma suaminya ke dalam kewanitaannya. "Kira-kira berapa lama penis suami kamu bertahan dalam kewanitaan kamu?" tanyaku. "Mungkin sekitar 10 menit" jawabnya pasti. "Gaya apa yang dipakai suami kamu?" "Macam-macam, Pak, malah sampai menungging segala" Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya yang polos. "Kira-kira berapa besar penis suami kamu?" "Berapa ya?, saya tidak tahu Pak!" jawabnya bingung. Akupun jadi bingung dengan jawabannya, tapi aku ada tidak kekurangan akal. "Waktu kamu genggam punya suami kamu pakai tangan, masih ada lebihnya tidak?" Dewi diam sejenak, mungkin sedang mengingat-ingat. "Kayanya masih ada lebih, pas kepalanya, Pak!" Aku tak dapat menahan senyumku. "Maksud kamu, 'helm'nya masih nongol?" "Ya!" Dewipun tersenyum juga. Aku suruh tangannya menggenggam, aku pandangi secara seksama tangannya yang sedang mengepal, yang berada dalam genggamanku, sungguh halus sekali, Namun aku sadar bahwa aku ditempat umum. "Aku perkirakan penis suami kamu berukuran 10-14 cm, berarti masih normal, Wi!" "Bagaimana dengan kekerasannya?" tanyaku lagi. "Keras sekali, Pak, seperti batu!" Aku diam sejenak mencoba berfikir tentang penghambatnya meraih orgasme, sebab dari pembicaraan tadi sepertinya tidak ada masalah dalam kehidupan seksnya, tapi kenapa Dewi tidak bisa meraih orgasmenya? "Kok diam Pak?" "Aku lagi mikir penyebabnya." "Apa mungkin masalah lamanya, Pak? Sebab sepertinya saya sedikit lagi mau mencapai ujung rasa enak, tapi suami saya keburu keluar" terangnya. Aku diam sejenak, mencoba mencerna kata-katanya, tapi tak lama Dewi sendiri membantahnya. "Tapi, tidak mungkin kali, Pak, sebab biarpun kadang lebih lama dari sepuluh menit, tapi tetap saya merasa hampir di ujung terus, tanpa pernah terselesaikan." Aku sedikit mengerti maksudnya, "Maksud kamu, kalau 10 menit kamu maunya semenit lagi? Namun kalau 12 menit atau 15 menit pun kamu maunya tetap semenit lagi?" tanyaku. "Ya, betul, kenapa ya Pak?" Aku kini mulai mengerti posisi sebenarnya, kemungkinan besar ada titik dalam vaginanya yang belum tersentuh secara maksimal, Itu kesimpulan sementara, Namun aku belum sempat mengucapkan apa-apa, keburu jam istirahat kerja habis. "Ya udah Wi, nanti kita terusin via SMS, oke?" "Oke deh!" sahutnya riang sambil meninggalkan aku. Di meja kerjaku, aku kembali memikirkan benar-benar masalah yang Dewi hadapi, sebenarnya ada niat untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, karena setelah aku pikir-pikir Dewi punya kelebihan di Buah dada dan pantatnya yang besar juga kulitnya yang bersih dengan bulu-bulu halus, Namun Dewi akrab dengan istriku, dan aku sendiri kenal sudah lama dengannya dan suaminya, ini yang jadi masalah, Lama aku berfikir, akhirnya aku putuskan untuk mencoba menolongnya semampuku tanpa mengharapkan apapun darinya, Aku yakin aku bisa membantunya berbekal pada pengalamanku selama ini. Aku kirim SMS kepadanya, "Wi, Sepertinya masalah kamu agak kompleks, Kalau sempat, bisa tidak nanti pulang kerja kita cari tempat yg enak utk mengobrol?" 5 menit aku tunggu belum ada jawaban juga, Aku jadi tegang sendiri, jangan-jangan dia marah, karena aku dianggap kurang ajar, Tapi untunglah tak lama HPku bergetar 2x pertanda SMS masuk, Aku langsung lihat pengirimnya Dewi, aku baca isinya. "Boleh, tapi jangan di tempat sepi ya.., kata nenek itu berbahaya" Aku tersenyum membaca balasannya yang sedikit bergurau, lalu aku balas kembali, "Wi, jangan salah tangkap ajakanku ya.. aku cuma tidak enak saja kalau kita terlalu mencolok, karena kamu istri orang & aku suami orang juga" Singkat kata Pukul 5 sore kami janjian ketemu di sebuah rumah makan yang nyaman di daerah Jakarta timur, Suasana rumah makan yang agak temaram menambah rileks obrolan kami, Sambil makan kami melanjutkan obrolan kami yang tadi siang, Aku utarakan kesimpulan sementaraku bahwa ada kurang sentuhan di area vaginanya, aku sarankan agar nanti malam mencari titik tersebut dan jika sudah ketemu aku suruh Dewi meminta kepada suaminya untuk menekan lebih kuat saat hubungan intim, Dewi mengangguk mengerti. "Menurut Bapak, apakah body saya cukup bagus?" Tiba-tiba saja Dewi bertanya seperti itu. Aku kaget mendengarnya, berarti kemungkinan Dewi kurang percaya diri dengan tubuhnya, dan menurut yang aku tahu ini sangat berbahaya untuk meraih orgasme. "Wi, dalam sebuah hubungan intim, Jangan merasa body kamu jelek atau vagina kamu tidak wangi atau buah dada kamu jelek atau apa saja yang menurut kamu negatif, itu faktor yang sangat penting dalam meraih orgasme, Ingat Wi, kalau tubuh kamu tidak bagus kan tidak mungkin suami kamu mau mencumbu kamu, dan mau berhubungan dengan kamu!" "Justru kamu harus berfikir bahwa wajah dan tubuh kamu sangat bagus, buktinya suami kamu minta melulu, kan?" "Tapi, saya tidak nyaman dengan perut saya yang tidak ramping" "Wi, yang lebih gendut dari kamu banyak, ingat itu, lagian menurutku perut kamu tidak terlalu gendut, Biasa saja!" jawabku tegas. "Pokoknya malam ini, kamu coba untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri kamu, dan saat ada sentuhan nikmat yang kamu bilang tidak berujung, suruh suami kamu menekannya lebih kuat, itu saja dulu, besok aku tunggu kabarnya!" Aku jadi terkesan menyuruh, mungkin karena dikantor Dewi bawahanku, sehingga menjadi kebiasaan. Karena waktu sudah menunjukan jam 19.00 kami pun pulang ke rumah masing-masing, aku antar Dewi sampai tempat dia biasa menunggu angkot. Keesokan paginya, Aku baru saja ngopi dan HP baru aku aktifkan, Sudah ada pesan dari Dewi, bunyinya singkat, "Belum berhasil, Pak!". Aku lihat dikirim jam 23.10 malam, berarti kemungkinan Dewi mengirimnya saat baru selesai berhubungan dengan suaminya. Sampai dikantor aku baru membalas SMSnya. "Memang kenapa?" Tak lama Dewi pun membalasnya. "Tidak tahu kenapa, apa nanti sore kita bisa ketemu lagi, Pak?, saya merasa nyaman mengobrol dengan Bapak." Aku berfikir tentang arti pesannya, Apakah dia mengajakku selingkuh? Atau hanya perasaanku saja? Atau memang dia hanya ingin mengobrol saja? Sebagai lelaki jelas aku tidak mungkin menampiknya, Sorenya kami janjian di tempat yang kemaren, dan ungkapan Dewi yang jujur sangat mengagetkanku. "Pak, terus terang, keinginan saya untuk meriah orgasme jadi tambah kuat, tapi herannya malah saya inginnya dari Bapak, Entahlah saya yakin sekali saya bisa meraihnya bersama Bapak" Jantungku terasa berhenti berdetak mendengarnya, belum selesai aku menenangkan pikiranku, Dewi kembali melanjutkan pembicaraannya. "Tapi bukan berarti saya ingin berhubungan dengan Bapak lho, saya hanya ingin tahu kenapa perasaan saya begini?" Aku hanya diam, namun aku mengambil kesimpulan dalam hati bahwa kemungkinan Dewi terkesan dengan aku karena aku atasannya, bisa saja dia tanpa sadar kagum dengan cara kerjaku, atau apalah yang berhubungan dengan pekerjaan, Karena kalau secara fisik tidak mungkin, jauh lebih ganteng dan atletis suaminya dari pada aku. Namun hal ini tidak aku ungkapkan kepadanya. Suasana hening diantara kami beberapa saat, tapi tiba-tiba saja tangan Dewi meraih tanganku, "Pak." Hanya itu yang keluar dari mulutnya Tatapan mata kami beradu, Aku melihat ada gairah disana, Aku balas meremas jarinya, Sentuhan halus kulitnya terasa menimbulkan percik-percik gairah di antara kami, Akhirnya aku beranikan diri untuk mengajaknya, "Wi, Bagaimana kalau kita diskusi langsung dengan praktek untuk meraih orgasme kamu?" suaraku terasa agak bergetar, mungkin agak canggung. "Terserah Bapak deh" jawabnya manja sambil mencubit tanganku. Pucuk dicinta ulampun tiba, aku segera membayar makanan kami dan langsung menuju hotel, sepanjang jalan ke hotel, jari-jari kami saling bertaut mengantarkan kehangatan ke jiwa kami, Dan setelah sampai di kamar hotel yang asri, Kami lamgsung mulai.. Meskipun awalnya agak canggung, Namun akhirnya kami dapat menikmati semuanya, Masih dalam keadaan berpakaian, aku memeluk tubuh Dewi yang padat, bibir kami saling melumat lembut, kadang lidah kami saling kait dan saling dorong, sehingga gairah di dada kami semakin membuncah, Satu per satu pakaian kami bertebaran dilantai, seiring dengan nafsu kami yang semakin menggebu, Kini Seluruh organ tubuhku bekerja untuk memenuhi hasrat Dewi, aku rebahkan tubuh mulusnya di ranjang, sungguh pemandangan yang indah dan mendebarkan, dengan kulit tubuh yang putih bersih kontras dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya apalagi di kemaluannya yang begitu lebat menghitam. Aku langsung mengelus buah dadanya yang padat dengan lembut, sementara mulut dan lidahku menciumi dan menjilati centi demi centi tubuhnya tanpa terlewati, "Tubuh kamu bagus sekali, Wi!" Aku mencoba memberinya rasa percaya diri. Sementara Jilatanku sudah sampai pada vaginanya, aku sibakkan bulunya dengan lidahku, aku kemut lembut klitorisnya, kadang lidahku menusuk langsung vaginanya, Jari-jariku ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting buah dadanya yang semakin mencuat, Sehingga membuat Dewi mengerang dalam nikmat, Sementara Dewi pun tidak tinggal diam, dia balas mengelus dadaku, kadang ujung dadaku di pilinnya, Tangan yang satunya lagi meremas-remas dan mengocok senjataku sehingga semakin meregang kaku dalam genggamannya, Yang aku yakin berdasarkan ceritanya pasti punyaku lebih besar dari pada punya suaminya, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku lupa bahwa aku punya tugas untuk mengantarnya meraih orgasme. Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Dewi sendiri yang tidak tahan dan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang senjataku untuk dibimbing kedalam liang surganya, Perlahan, centi demi centi, senjataku memenuhi rongga vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat disenjataku, Cengkraman vaginanya yang begitu kuat terasa mengurut senjataku, Dewi terus menggoyangkan pantatnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama Dewi berteriak histeris dan menggigit pundakku, tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas orgasmenya, Aku berhasil mengantarnya meraih orgasme, Tubuhnya diam sejenak diatas tubuhku. "Terima kasih, Pak" ia mencium keningku. "Saya masih mau lagi" ucapnya serak. Sungguh diluar dugaan, mungkin karena baru kali ini dia meraih orgasme, Dewi begitu liar, hanya beberapa detik, tubuhnya mulai bergoyang diatas tubuhku, Dan anehnya lagi, Hampir disetiap gaya Dewi bisa meraih orgasmenya begitu cepat, Mungkin ada 6 kali dia sudah orgasme tapi dia belum puas juga, sementara aku sendiri bersusah payah menahan orgasmeku, Aku benar-benar ingin memuaskan dahaganya, Apalagi saat gaya doggy, sambil meremas buah pantatnya yang bulat, aku benar-benar tak kuat lagi menahan semprotan dalam spermaku, sentuhan buah pantatnya di pangkal senjataku menambah sensasi tersendiri. "Wi, aku mau keluar, di dalam atau di luar?" sambil aku mempercepat kocokanku. "Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!" erangnya. Akhirnya Seluruh tubuhku bagai tersetrum nikmat, aku melepas orgasmeku, menyemburkan cairan hangat ke dalam kemaluan Dewi yang telah basah berbarengan dengan kedutan-kedutan kecil hangat dari dalam liang vagina Dewi. Yah, kami orgasme berbarengan, Sungguh nikmat sekali. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Dewi kelihatannya belum puas juga, aku sampai bingung sendiri, biasanya istriku sekali orgasme tidak bisa lagi orgasme, Namun memang pernah aku baca ada wanita yang seperti Dewi. Akhirnya waktu jualah yang harus memisahkan kami, kembali ke kehidupan nyata, Aku dengan istriku dan Dewi dengan suaminya, Namun sejak saat itu hubungan kami semakin hangat membara, Ada satu kelebihan Dewi yang tidak bisa aku lupakan, Vaginanya sangat mencengkram meskipun sudah puluhan kali kami berhubungan, Pernah aku Tanya katanya dia sering minum jamu, Dan Dewi sendiri pun jelas sangat membutuhkan orgasme dariku, Karena terakhir cerita dia belum bisa meraih dengan suaminya, entahlah sampai kapan.. |
| Posted: 08 Jun 2008 05:26 AM CDT Saat itu juga tangan Lillian telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku sendiri. Setelah Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow..., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah mengeras, yang terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang. Aku menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Richard, tentu aku kalah jauh dan kalau aku langsung main tusuk saja, tentu Lillian tidak akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai teknik yang lain dari lain. Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku. Kududukkan Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah vaginanya yang telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya. Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak keenakan dengan suara keras, " Oooohh..., oooooohh..., ssssssshh... , ssssssssshh" . Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat bersamaan suara Nina terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah, "Oooh..., aaggghh!", diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak. Tak tahu apa yang diperbuat Richard pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Nina sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Richard sedang berjongkok diantara kedua paha Nina yang sudah terpentang dengan lebar, kepalanya terbenam diantara kedua paha Nina yang mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Richard sedang mengaduk-aduk kemaluan Nina yang mungil itu. Terlihat badan Nina menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Richard dengan kuat Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Nama saya Dikky, saya berumur 28 tahun, baru 3 (tiga) bulan bekerja di suatu perusahaan asing di Jakarta, atasan saya Mr. Richard Handerson, berasal dari Amerika, kira-kira berumur 40 tahun. Dalam waktu singkat Rich demikian teman-teman di kantor suka memanggilnya, telah sangat akrab dengan saya, karena kebetulan kami mempunyai hobi yang sama yaitu bermain golf. Perusahaan tempat kami bekerja adalah suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang advertising. Menurut cerita-cerita teman-teman istri Richard, yang berasal dari Amerika juga, sangat cantik dan badannya sangat seksi, seperti bintang film Hollywood . Aku sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan istri Richard, hanya melihat fotonya yang terletak di meja kerja Richard. Suatu hari saya memasang foto saya berdua denga Nina istri saya, yang berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya. Pada waktu Richard melihat foto itu, secara spontan dia memuji kecantikan Nina dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Richard sering melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya. Suatu hari Richard mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing. "Dik, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nina juga, sekalian makan malam". "Lho, ada acara apa boss?", kataku sok akrab. "Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu". "Okelah!", kataku. Sesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Nina. Pada mulanya Nina agak segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah kuyakinkan bahwa Richard dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Nina mau juga pergi. "Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?". "Tau, katanya sih, ada proyek apa...., yang mau didiskusikan" . "Oooo..., gitu ya", sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit pipinya dengan gemas. Kalau melihat Nina, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu senam so..., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat kencang. Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Richard yang terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik, sementara Nina memakai stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Sesampai di Apertemen no.1009, aku segera menekan bel yang berada di depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yang sangat cantik, dengan tinggi sedang dan berbadan langsing, yang dengan suara medok menegur kami. "Oh Dikky dan Nina yah?,silakan. .., masuk..., silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Richard". Ternyata Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Richard. Dengan agak tergagap, aku menyapanya. "Hallo Mam..., kenalin, ini Nina istriku". Setelah Nina berkenalan dengan Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Richard mengajakku ke teras balkon apartemennya. "Gini lho Dik..., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini..., ini..., dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu". "Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup. Berani!". Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar. Senyum Richard segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku. "Eh Dik..., gimana Lillian menurut penilaian kamu?", sambil bisik-bisik. "Ya..., amat cantik, seperti bintang film", kataku dengan polos. "Seksi nggak?". "Lha..., ya..., jelas dong". "Umpama..., ini umpama saja loooo..., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Lillian untuk kamu gimana?". Mendenger permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung, perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu. Sambil masih tersenyum-senyum, Richard melanjutkan, "Nggak ada paksaan kok, aku jamin Nina dan Lillian pasti suka, soalnya nanti..., udah deh pokoknya kalau kau setuju..., selanjutnya serahkan pada saya..., aman kok!". Membayangkan tampang dan badan Lillian aku menjadi terangsang juga. Pikirku kapan lagi aku bisa menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya bisa membayangkan saja pada saat menonton blue film. Tapi dilain pihak kalau membayangkan Nina dikerjain si bule ini, yang pasti punya senjata yang besar, rasanya kok tidak tega juga. Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Richard telah melanjutkan dengan pertanyaan lagi, "Ngomong-ngomong Nina sukanya kalo making love style-nya gimana sih?". Tanpa aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan, "Dia tidak suka style yang aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat terangsang!" . "Wow..., aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau khas wanita terpancar dari situ..., itu membuat saya sangat terangsang!" , kata Richard. "Kalau Lillian sangat suka main di atas, doggy style dan yang jelas suka blow-job" lanjutnya. Mendengar itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian bawahku membayangkan senjataku diisap mulut mungil Lillian itu. Kemudian lanjut Richard meyakinkanku, "Oke deh..., enjoy aja nanti, biar aku yang atur. Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu orangnya selalu terbuka dalam soal seks..., jadi setuju aja". "Nanti minuman Nina aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih berani..., Oke..., yaa!", saya agak terkejut juga, apakah Richard akan memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau begitu tidak rela aku. Aku setuju asal Rina mendapat kepuasan juga. Melihat mimik mukaku yang ragu-ragu itu, Richard cepat-cepat menambahkan, "Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja", kemudian dia menjelaskan selanjutnya, "Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya, Nina di sampingku". Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Richard. Setelah makan malam selesai kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Rina kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat halus, duduknya kelihatan tidak tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan keringatnya lebih banyak keluar. Melihat tanda-tanda itu, Richard mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Nina, "Nin..., mari duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!", dan tampa menunggu jawaban Nina, Richard segera berdiri, menarik kursi Nina dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yang terletak di ruang tengah. Aku ingin mengikuti mereka tapi Lillian segera memegang tanganku. "Dik, diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok". Memang dari ruang makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Richard mulai bergerilya di pundak dan punggung Nina, memijit-mijit dan mengusap-usap halus. Sementara Nina kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat sedikit menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali tangan Richard yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya. Lillian kemudian menarikku ke kursi panjang yang terletak di ruang makan. Dari kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yang terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi panjang tersebut. Terlihat tindakan Richard semakin berani, dari belakang tangannya dengan trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Nina hingga kancing terakhir. BH Nina segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya. Kelihatan mata Nina terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga, "Apakah Nina telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Richard?, atau apakah Nina pingsan atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Richard?". Nina tampaknya pasrah seakan-akan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Nina seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Richard dikulitnya dan ciuman nafsu Richardpun disambutnya dengan gairah. Melihat apa yang tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa kepalang tanggung, aku juga tidak mau rugi, segera kualihkan perhatianku pada istri Richard yang sedang duduk di sampingku. Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke dalam rok Lillian, terasa bukit kemaluannya sudah basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang mengerjai wanita mungil. Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Lillian yang mungil itu, "aahh..., aaghh..., aagghh", tubuhnya mengejang, sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri. Sementara itu di ruang sebelah, Richard telah meningkatkan aksinya terhadap Nina, terlihat Nina telah dibuat polos oleh Richard dan terbaring lunglai di sofa. Badan Nina yang ramping mulus dengan buah dadanya tidak terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya yang rata dan kedua bongkahan pantatnya yang terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yang membukit yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang terletak diantara kedua paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Richard. Kemudian Richard menarik Nina berdiri, dengan Richard tetap di belakangnya, kedua tangan Richard menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat melihat ekspresi wajah Nina, yang dengan matanya yang setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian yang melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yang mungil setengah terbuka, menunjukan Nina menikmati benar permainan dari Richard terhadap badannya itu, apalagi ketika jemari Richard berada di semak-semak kewanitaannya, sementara tangan lain Richard meremas-remas puting susunya, terlihat seluruh badan Nina yang bersandar lemas pada badan Richard, bergetar dengan hebat. Saat itu juga tangan Lillian telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku sendiri. Setelah Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow..., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah mengeras, yang terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang. Aku menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Richard, tentu aku kalah jauh dan kalau aku langsung main tusuk saja, tentu Lillian tidak akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai teknik yang lain dari lain. Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku. Kududukkan Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah vaginanya yang telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya. Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak keenakan dengan suara keras, " Oooohh..., oooooohh..., ssssssshh... , ssssssssshh" . Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat bersamaan suara Nina terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah, "Oooh..., aaggghh!", diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak. Tak tahu apa yang diperbuat Richard pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Nina sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Richard sedang berjongkok diantara kedua paha Nina yang sudah terpentang dengan lebar, kepalanya terbenam diantara kedua paha Nina yang mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Richard sedang mengaduk-aduk kemaluan Nina yang mungil itu. Terlihat badan Nina menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Richard dengan kuat. Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Lillian yang badannya terus menggerinjal- gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan, "Ahh..., yaa..., yaa..., jilatin..., Ummhh". Desahan-desahan nafsu yang semakin menegangkan otot-otot penisku. "Aahh..., Dik..., akuuu..., aakkuu..., ooooohh..., hh!", dengan sekali hentakan keras pinggul Lillian menekan ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan hebat dan diikuti dengan cairan hangat yang merembes di dinding vaginanya pun semakin deras, saat ia mencapai organsme. Tubuhnya yang telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yang juga penuh keringat, dengan tatapan yang sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh. Ketika aku menengok ke arah Richard dan istriku, rupanya mereka telah berganti posisi. Nina kini telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa, punggung Nina bersandar pada sandaran sofa, sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran tembak Richard. Richard mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nina yang telah terpentang lebar. Aku merasa sangat terkejut juga melihat senjata Richard yang terletak diantara kedua pahanya yang berbulu pirang itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm dengan lingkaran yang kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja. Terlihat Richard memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Nina yang sudah sedikit terbuka, terlihat Nina dengan mata yang terbelalak melihat ke arah senjata Richard yang dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya. Kedua tangan Nina kelihatan mencoba menahan badan Richard dan badan Nina terlihat agak melengkung, pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Richard pada bibir vaginanya, akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Nina dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Nina, sambil mencium telinga kiri Nina, terdengar Richard berkata perlahan, "Niiinnn..., maaf yaa..., saya mau masukkan sekarang..., boleh?", terlihat kepala Nini hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang mau dikatakannya, dengan pandangannya yang sayu menatap ke arah kemaluannya yang sedang didesak oleh penis raksasa Richard itu dan mulutnya terkatup rapat seakan-akan menahan kengiluan. Richard, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Nina yang telah basah itu, biarpun kedua tangan Nina tetap mencoba menahan tekanan badan Richard. Mungkin, entah karena tusukan penis Richard yang terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over size, langsung saja Nina berteriak kecil, "Aduuuuuh... , pelan-pelan. .., sakit nih", terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yang agak meringis, mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Nina yang mengangkang itu terlihat menggelinjang. Kepala penis Richard yang besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Nina, kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat kepala penis Richard, sehingga belahan kemaluan Nina terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Richard itu. Kedua bibir kemaluan Nina tertekan masuk begitu juga clitoris Nina turut tertarik ke dalam akibat besarnya kemaluan Richard. Richard menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman, "Maaf..., Nin..., saya sudah menyakitimu. .., maaf yaa..., Niin!". "aagghh..., jangan teeeerrlalu diiipaksakan. .., yaahh..., saayaa meerasa..., aakan..., terbelah..., niiiih..., sakiiiitttt. .., jangan..., diiiterusiinn" . Nina mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Richard. "Niiiinn..., saya mau masukkan lagi..., yaa..., dan tolong katakan yaa..., kalau Nina masih merasa sakit", sahut Richard dan tanpa menunggu jawaban Nina, segera saja Richard melanjutkan penyelaman penisnya ke dalam lubang vagina Nina yang tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan. Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluan Nina, terlihat muka Nina meringis, tetapi sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar. Terdengar Richard bertanya lagi, "Niiiinnn... , sakit..., yaa?", Nina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu Richard dan Richard segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk ke dalam lubang kemaluan Nina. Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya. Ketika penis Richard telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vagina Nina, terlihat Nina telah pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tidak lagi menolak badan Richard, akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa. Richard menekan lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Nina meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar, tetapi karena Nina tidak mengeluh maka Richard meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja, "Bleeees", Richard menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Nina rapat-rapat pada sofa. Pada saat yang bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Nina, "Aduuuuh", sambil kedua tangannya mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke atas menahan tekanan penis Richard di dalam kemaluannya. Richard mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Nina sejenak, agar tidak menambah sakit Nina sambil bertanya lagi, "Niinnn..., sakit..., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!", Nina dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang, "aaggggghh.. ., kit!", lalu Richard mencium wajah Nina dan melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat pantat Richard bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Nina dalam pelukannya. Tak selang lama kemudian terlihat badan Nina bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan panjang, "Aaduuuuh... , oooohh..., sssssssshh.. ., ssssshh", kedua kaki Nina bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada pantat Richard, Nina mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan. Selang sesaat badan Nina terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Richard yang masih tetap berayun-ayun itu. aah, suatu pemandangan yang sangat erotis sekali, suatu pertarungan yang diam-diam yang diikuti oleh penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak. "Dik..., ayo aku mau kamu", suara Lillian penuh gairah di telingaku. Kuletakkan kaki Lillian sama dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yang akan masuk ke vaginanya. Duh, rasanya kemaluan Lillian masih rapet saja, aku merasakan adanya jepitan dari dinding vagina Lillian pada saat rudalku hendak menerobos masuk. "Lill..., kok masih rapet yahh". Maka dengan sedikit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos liang vaginanya. "Aaggghh", mata Lillian terpejam, sementara bibirnya digigit. Tapi ekspresi yang terpancar adalah ekspresi kepuasan. Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan gerakan keluar masuk di liang vaginanya. Diiringi erangan dan desahan Lillian setiap aku menyodokkan penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa liang kemaluannya semakin licin oleh pelumas vaginanya. "Ahh..., ahh", Lillian makin keras teriakannya. "Ayo Dik..., terus". "Enakkk..., eeemm..., mm!". Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, "Uuhh...hh.. ..." "Lill..., boleh di dalam..., yaah", aku perlu bertanya pada dia, mengingat aku bisa saja sewaktu-waktu keluar. "mm...". Kaki Lillian kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku semakin mempercepat gerakan sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya. Lillian juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya. "Nih..., Lill..., terima yaa". Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan Lillian dengan erat dan penisku terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan maniku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Lillian. Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Lillian, sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga vagina Lillian, tiba-tiba badan Lillian bergetar dengan hebat dan kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya, "…aagghh..., hhm!", saat bersamaan Lillian juga mengalami orgasme dengan dahsyat. Setelah melewati suatu fase kenikmatan yang hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih berpelukan erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa yang baru kami alami. Aku kemudian mencabut senjataku yang masih berlepotan dan mendekatkannya ke muka Lillian. Dengan isyarat agar ia menjilati senjataku hingga bersih. Ia pun menurut. Lidahnya yang hangat menjilati penisku hingga bersih. "Ahh..". Dengan kepuasan yang tiada taranya aku merebahkan diri di samping Lillian. Kini kami menyaksikan bagaimana Richard sedang mempermainkan Nina, yang terlihat tubuh mungilnya telah lemas tak berdaya dikerjain Richard, yang terlihat masih tetap perkasa saja. Gerakan Richard terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan. Mulai saat ini Richard mengerjai Nina dengan sangat brutal dan kasar. Nina benar-benar dipergunakan sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Richard menyakiti Nina, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan Nina ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Nina atas apa yang dilakukan oleh Richard terhadapnya. Richard mencabut penisnya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Nina berjongkok diantara kedua kakinya, kepala Nina ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Nina sambil memegang belakang kepala Nina, dia membantu kepala Nina bergerak ke depan ke belakang, sehingga penisnya terkocok di dalam mulut Nina. Kelihatan Nina telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yang diingini oleh Richard, hal ini dilakukan Richard kurang lebih 5 menit lamanya. Richard kemudian berdiri dan mengangkat Nina, sambil berdiri Richard memeluk badan Nina erat-erat. Kelihatan tubuh Nina terkulai lemas dalam pelukan Richard yang ketat itu. Tubuh Nina digendong sambil kedua kaki Nina melingkar pada perut Richard dan langsung Richard memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Nina. Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Nina terlihat tersentak ke atas ketika penis raksasa Richard menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dari mulutnya terdengar keluhan, "aagghh!", Nina terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Richard. Kaki Nina terlihat merangkul pinggang Richard, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Richard. Richard berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Nina. Pantat Nina terlihat merekah dan tiba-tiba Richard memasukkan jarinya ke lubang pantat Nina. "Ooooohh!". Mendapat serangan yang demikian serunya dari Richard, badan Nina terlihat menggeliat-geliat dalam gendongan Richard. Suatu pemandangan yang sangat seksi. Ketika Richard merasa capai, Nina diturunkan dan Richard duduk pada sofa. Nina diangkat dan didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Nina terkangkang di samping paha Richard dan Richard memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Nina dari bawah. Dari ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Richard memaksa masuk ke dalam lubang kemaluan Nina yang kecil dan ketat itu. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Richard menyentuh paha Nina. Kedua tangan Richard memegang pinggang Nina dan membantu Nina memompa penis Richard secara teratur, setiap kali penis Richard masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Richard. Mereka melakukan posisi ini cukup lama. Kemudian Richard mendorong Nina tertelungkup pada sofa dengan pantat Nina agak menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Richard akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yang paling disukai oleh Nina. Dari belakang pantat Nina, Richard menempatkan penisnya diantara belahan pantat Nina dan mendorong penisnya masuk ke dalam lubang vagina Nina dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke dalam vagina Nina. Jari jempol tangan kiri Richard dimasukkan ke dalam lubang pantat. Nina setengah berteriak, "aagghh!", badannya meliuk-liuk mendapat serangan Richard yang dahsyat itu. Badan Nina dicoba ditarik ke depan, tapi Richard tidak mau melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan Nina dan mengikuti arah badan Nina bergerak. Nina benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan, "Ooooooohhmm. .., aaduhh!". Richard mencapai payudara Nina dan mulai meremas-remasnya. Tak lama kemudian badan Nina bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar, "Aahh..., aahh..., ssssshh..., sssssshh!". Nina mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Richard mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat Nina, penisnya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan Nina dari belakang. Sementara badan Nina bergetar-getar dalam orgasmenya, Richard sambil tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam lubang kemaluan Nina, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya yang berada di dalam lubang vagina Nina ikut berputar-putar mengebor liang vagina Nina sampai ke sudut-sudutnya. Setelah badan Nina agak tenang, Richard mencabut penisnya dan menjilat vagina Nina dari belakang. Vagina Nina dibersihkan oleh lidah Richard. Kemudian badan Nina dibalikkannya dan direbahkan di sofa. Richard memasukkan penisnya dari atas, sekarang tangan Nina ikut aktif membantu memasukkan penis Richard ke vaginanya. Kaki Nina diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Richard. Richard terus menerus memompa vagina Nina. Badan Nina yang langsing tenggelam ditutupi oleh badan Richard, yang terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Richard. Kadang-kadang terlihat tangan Nina meraba dan meremas pantat Richard, sekali-kali jarinya di masukkan ke dalam lubang pantat Richard. Gerakan pantat Richard bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat penisnya yang besar itu dengan cepat keluar masuk di dalam lubang vagina Nina, tiba-tiba, "Oooooohh... , ooooooohh!", dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang terlonjak-lonjak, Richard menekan habis pantatnya dalam-dalam, mememetin pinggul Nina ke sofa, sehingga penisnya terbenam habis ke dalam lubang kemaluan Nina, pantat Richard terkedut-kedut sementara penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Nina, sambil kedua tangannya mendekap badan Nina erat-erat. Dari mulut Nina terdengar suara keluhan, "Ssssssh..., sssssshh..., hhmm...., hhmm!", menyambut semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya. Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Richard kemudian merebahkan diri di atas badan Nina yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya dari vagina Nina. Nina melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat. Aku tidak bisa melihat ekspresi Richard karena terhalang olah tubuh Nina. Yang jelas dari sela-sela selangkangan Nina mengalir cairan mani. Kemudian Ninapun seperti kebiasaan kami membersihkan penis Richard dengan mulutnya, itu membuat Richard mengelinjang keenakan. Malam itu kami pulang menjelang subuh, dengan perasaan yang tidak terlupakan. Kami masih sempat bermain 2 ronde lagi dengan pasangan itu. |
| Posted: 08 Jun 2008 05:20 AM CDT "Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!" erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya. Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Rini yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja. Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam. "Sshh.., akh..!" Rini menggelinjang nikmat. Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Rini mendesis. Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap bagian putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Kurasa tidak perlu aku ceritakan tentang nama dan asalku, serta tempat dan alamatku sekarang. Usiaku sekarang sudah mendekati empat puluh tahun, kalau dipikir-pikir seharusnya aku sudah punya anak, karena aku sudah menikah hampir lima belas tahun lamanya. Walaupun aku tidak begitu ganteng, aku cukup beruntung karena mendapat isteri yang menurutku sangat cantik. Bahkan dapat dikatakan dia yang tercantik di lingkunganku, yang biasanya menimbulkan kecemburuan para tetanggaku. Isteriku bernama Resty. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu keinginan sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang-kadang pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melakukan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin karena belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat. Kegilaan ini dimulai saat hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin karena isteriku yang supel, sehingga cepat akrab dengan mereka. Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, woow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila adalah bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus. Mereka pun sama seperti kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini karena tugas baru suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang baru membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Agus dan Mbak Rini. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami seperti saudara saja karena hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya. Pada suatu malam, saya seperti biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Agus menawariku nonton VCD blue yang katanya baru dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak karena selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Agus ikut nonton bersama kami. "Waduh, gimana ini Gus..? Nggak enak nih..!" "Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak bisa dipegang. Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Res diajak sekalian." katanya menyebut isteriku. Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya aku pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah. "Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?" kata isteriku ketika kuajak. Akhirnya aku malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Agus. Mendingan langsung tidur saja supaya besok cepat bangun. Paginya aku tidak bertemu Agus, karena sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya aku hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika aku lewat, dia menanyaiku tentang yang tadi malam. Aku bilang Resty tidak mau kuajak sehingga aku langsung saja tidur. Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin karena sudah biasa Resty tidak banyak protes. Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Resty kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan. "Mas.., sekarang Mas..!" pinta isteriku memelas. Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang. Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, "Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?" Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Rini lah yang menaikkan tensiku pagi ini. Sorenya Agus datang ke rumahku, "Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?" tanyanya setelah kami berbasa-basi. "Maksudmu apa Gus..?" tanyaku heran. "Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi dia melihat Mas dan Mbak Resty bergulat setelah ngobrol dengannya." Loh, aku heran, dari mana Rini nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan. Agus langsung menambahkan, "Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas." katanya tanpa malu-malu. "Begini saja Mas," tanpa harus memahami perasaanku, Agus langsung melanjutkan, "Aku punya ide, gimana kalau nanti malam kita bikin acara..?" "Acara apa Gus..?" tanyaku penasaran. "Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?" "Pesta apaan..? Gila kamu." "Pokoknya tenang aja Mas, kamu cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?" Malamnya, menjelang pukul 20.00, Agus bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol tentang masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak aneh kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Agus dari rumahnya. Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa seperti menyelimuti pendengaranku. Kulihat Agus juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Resty juga semakin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak berapa lama Resty sudah telanjang bulat, entah kapan aku menelanjanginya. Sesaat aku merasa bersalah, kenapa aku melakukan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku. Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya aku sudah menikmati permainan itu. Rini juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang. Perlahan-lahan Agus membuka BH Rini, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka. "Kegilaan apa lagi ini..?" batinku. Seolah-olah Agus mengerti, karena selalu saya perhatikan menawarkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan mulut terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seolah-olah tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Agus. Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan badan yang sedikit gemetar karena memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Agus kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang biasanya aku lah yang melakukannya. Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati daerah kemaluan Rini. Kuelus bagian itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan bagian tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha Rini ini. "Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!" erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya. Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Rini yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja. Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam. "Sshh.., akh..!" Rini menggelinjang nikmat. Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Rini mendesis. Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap bagian putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat. Rini memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku seperti membentuk angka 69. Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, sementara Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kami berempat saling berkejaran, seolah-olah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami. Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Rini, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya. Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Rini. Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Rini mendesis, "Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!" Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Tanganku sekarang sudah meremas payudara Rini dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Rini pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Rini nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Rini berontak. Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Agus dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang adalah sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Rini. Luar biasa kemaluan Rini ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Rini merem melek menikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Rini sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat dia berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Rini juga semakin ketat karena membungkuk. Kukangkangkan kaki Rini dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Rini melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Rini membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Rini pun menikmati gaya ini. Buah dada Rini bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Rini sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Rini semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya. Segera aku mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Rini ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Rini telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Rini menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Rini. Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari mulut Rini semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Rini memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Rini menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Rini menjerit kesakitan sambil bergetar hebat. Mulutku terasa asin, ternyata bibir Rini berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Agus dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya. Kulihat Resty tersenyum puas. Sementara Rini tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Rini. Kulihat Rini tidak memperdulikannya. Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Rini. Rini tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara. Resty juga tersenyum, hanya nampak malu-malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi. Hingga saat ini peristiwa itu masih jelas dalam ingatanku. Agus dan Rini sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berhubungan lewat telepon. Mungkin aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Rini berkunjung ke rumah kami, kebetulan aku tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja.. |
| Pengalaman swinger dengan kakak ipar Posted: 08 Jun 2008 04:53 AM CDT ''Ohhhh ... terus .. enakkkkkk, Mas ....'' lenguh istri saya merasa sangat nikmat. Sementara itu ekor mata saya melirik aksi kakak ipar dan suaminya yang berkebalikan dengan saya dan istri. Kakak ipar tampak amat bergairah mengaraoke penis suaminya. Saya pun melanjutkan menggarap vagina dan wilayah sekitarnya milik istri saya. Lidah saya makin dalam mempermainkan lubang, mengisap-isap, dan sesekali menggigit klitoris. ''Ooh ... ahhhhh .... ahhhh ........'' istri saya mengerang keras tanpa merasa malu meski di dekatnya ada kakak kandungnya yang juga sedang bergulat dengan suaminya. Satu demi satu saya lepas pakaiannya yang menghalangi. Pertama celana dalamnya, lalu rok bawahnya. Lenguhan istri saya bersahut-sahutan dengan erangan suami kakak ipar. Beberapa saat kemudian posisi berubah. Istri saya gantian mengulum penis saya, sedangkan suami kakak ipar mulai menggarap kelamin istrinya. Erangan saya pun berlomba dengan erangan kakak ipar. Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us Mungkin saya termasuk aneh atau punya kelainan. Bayangkan, sudah punya istri cantik masih merindukan wanita lain. Kurang ajarnya, wanita itu adalah kakak ipar sendiri. Kalau dibanding-bandingkan maka jelas istri saya memiliki beberapa kelebihan. Selain lebih muda, di mata saya lebih cantik dan manis. Postur tubuhnya lebih ramping dan berisi. Sedangkan kakak ipar saya yang sudah punya dua anak itu badannya sedikit gemuk, tetapi kulitnya lebih mulus. Entah apanya yang sering membuat saya membayangkan berhubungan intim dengan dia. Perasaan itu sudah muncul ketika saya masih berpacaran dengan adiknya. Semula saya mengira setelah menikah dan punya anak perasaan itu akan hilang sendiri. Ternyata lima tahun kemudian setelah punya anak berusia empat tahun, perasaan khusus terhadap kakak ipar saya tidak menghilang. Bahkan terasa tambah mendalam. Ketika menggauli istri saya seringkali tanpa sadar membayangkan yang saya sebadani adalah kakak ipar, dan biasanya saya akan mencapai puncak kenikmatan paling tinggi. Ketika bertemu saya sering secara sembunyi-sembunyi menikmati lekuk-lekuk tubuhnya. Mulai dari pinggulnya yang bulat besar hingga buah dadanya yang proporsional dengan bentuk tubuhnya. Sesekali saya sukses mencuri lihat paha atau belahan buah dadanya yang putih mulus. Jika sudah demikian maka jantung akan berdetak sangat kencang. Nafsu saya menjadi begitu bergelora. Pernah suatu ketika saya mengintip saat dia mandi di rumah saya lewat lubang kunci pintu kamar mandi. Namun karena takut ketahuan istri dan orang lain, itu saya lakukan tanpa konsentrasi sehingga tidak puas. Keinginan untuk menikmati tubuh kakak ipar makin menguat. Namun saya masih menganggap itu hanya angan-angan karena rasanya mustahil dia mau suka rela berselingkuh dengan adik ipar sendiri. Namun entah kenapa di lubuk hati yang paling dalam saya punya keyakinan mimpi gila-gilaan itu akan kesampaian. Cuma saya belum tahu bagaimana cara mewujudkan. Kalau pun suatu waktu itu terjadi saya tidak ingin prosesnya terjadi melalui kekerasan atau paksaan. Saya ingin melakukan suka sama suka, penuh kerelaan dan kesadaran, serta saling menikmati. Mungkin setan telah menunjukkan jalannya ketika suatu hari istri saya bilang kakaknya ingin meminjam VCD porno. Kebetulan saya punya cukup banyak VCD yang saya koleksi sejak masih bujangan. Sebelum berhubungan intim saya dan istri biasa nonton VCD dulu untuk pemanasan meningkatkan gairah dan rangsangan. ''Kenapa kakakmu tiba-tiba pengin nonton VCD gituan ?'' tanya saya pada istri saya. ''Nggak tahu.'' ''Barangkali setelah sterilisasi nafsunya gede,'' komentar saya asal-asalan. Beberapa keping VCD pun saya pinjamkan. Ini salah satu jalan untuk mencapai mimpi saya. Tetapi harus sabar karena semua memerlukan proses dan waktu agak panjang. Setelah itu secara rutin kakak ipar saya meminjam VCD porno. Rata-rata seminggu sekali. ''Dia lihat sendiri atau sama suaminya ?'' tanya saya. ''Ya sama suaminya dong,'' jawab istri saya. ''Kamu cerita sama dia ya sebelum main kita nonton VCD biru ?'' ''Iya ...,'' jawab istri saya malu-malu. ''Wah rahasia kok diceritakan sama orang lain.'' ''Kan sama saudara sendiri nggak apa-apa.'' ''Eh ... kamu bilang sama dia, kapan-kapan kita nonton bareng yuk ...'' ''Maksudmu ?'' ''Ya dia dan suaminya nonton bareng sama kita.'' ''Huss ... malu ah ...'' ''Kenapa malu ? Toh kita sama-sama suami istri dan seks itu kan hal wajar dan normal ...'' Sampai di situ saya sengaja tidak memperpanjang pembicaraan. Saya hanya bisa menunggu sambil berharap mudah-mudahan saran itu benar-benar disampaikan kepada kakaknya. Sebulan setelah itu kakak ipar dan suaminya berkunjung ke rumah kami dan menginap. Istri saya mengatakan mereka memenuhi saran saya untuk nonton VCD porno bersama-sama. Diam-diam saya bersorak dalam hati. Satu langkah maju telah terjadi. Namun saya mengingatkan diri sendiri, harus tetap sabar dan berhati-hati. Kalau tidak maka rencana bisa buyar. Malam itu setelah anak-anak tidur kami nonton VCD porno bersama-sama. Saya lihat pada adegan-adegan yang hot kakak ipar tampak terpesona. Tanpa sadar dia mendekati suaminya. Beberapa VCD telah diputar. Tampak nafsu mereka sudah tak terkendali. Saling mengelus dan meremas. Istri saya juga demikian. Sejak tadi tangannya sudah menelusup di balik sarung saya memegangi senjata kebanggaan saya. ''Mbak silakan pakai kamar belakang,'' kata saya kepada kakak ipar setelah melihat mereka kelihatan tak bisa menahan diri lagi. Tanpa berkata sepatah pun kakak ipar menarik tangan suaminya masuk kamar yang saya tunjukkan. ''Sekarang kita gimana ?'' tanya saya menggoda istri saya. ''Ya main dong ...'' Kami berdua segera masuk kamar satunya lagi. Anak-anak kami kebetulan tidur di lantai dua sehingga suara-suara birahi kami tak akan mengganggu tidur mereka. Ketika saya berpacu dengan istri saya, di kamar belakang kakak ipar dan suaminya juga melakukan hal serupa. Jeritan dan erangan kenikmatan wanita yang diam-diam saya rindukan itu kedengaran sampai telinga saya. Saya pun jadi makin terangsang. Malam itu istri saya kembali saya bayangkan sebagai kakak ipar. Saya bikin dia orgasme berkali-kali dalam permainan seks yang panjang dan melelahkan tetapi sangat menyenangkan. Selanjutnya kegiatan bersama itu kami lakukan rutin, minimal seminggu sekali. Sesekali di rumah kakak ipar sebagai variasi. Dua keluarga tampak rukun, meski diam-diam saya menyimpan suatu keinginan lain. Saat anak-anak liburan sekolah saya mengusulkan wisata bersama ke daerah pegunungan. Istri saya, kakak ipar dan suaminya setuju. Tak lupa saya membawa beberapa VCD porno baru pinjaman teman serta playernya. Setelah seharian bermain kesana-kemari anak-anak kelelahan sehingga mereka cepat tertidur. Apalagi udaranya dingin. Sedangkan kami orang tua menghabiskan malam untuk mengobrol tentang banyak hal. ''Eh ... dingin-dingin begini enaknya nonton lagi yuk,'' kata saya. ''Nonton apa ?'' tanya suami kakak ipar. ''Biasa. VCD gituan. Kebetulan saya punya beberapa VCD baru.'' Mereka setuju. Kemudian kami berkumpul di kamar saya, sedangkan anak-anak ditidurkan di kamar kakak ipar yang bersebelahan. Jadilah di tengah udara dingin kami memanaskan diri dengan melihat adegan-adegan persetubuhan yang panas beserta segala variasinya. Sampai pada keping ketiga tampak kakak ipar sudah tak tahan lagi. Dia merapat ke suaminya, berciuman. Istri saya terpengaruh. Wanita itu mulai meraba-raba selangkangan saya. Senjata kebanggaan saya sudah mengeras. ''Ayo kita pindah ....'' bisik istri saya. ''Husss .. pindah kemana. Di sebelah ada anak-anak. Di sini saja.'' Akhirnya kami bergulat di sofa. Tak risih meski di tempat tidur tidak jauh dari kami kakak ipar dan suaminya juga melakukan hal serupa. Bahkan mereka tampak sangat bergairah. Pakaian kakak ipar sudah tak karuan lagi. Saya bisa melirik paha dan perutnya putih mulus. Mereka berpagutan dengan ganas sehingga sprei tempat tidur juga awut-awutan. Istri saya duduk mengangkangkan paha. Saya tahu, ia minta dioral. Mulut dan lidah saya pun mulai mempermainkan perangkat kelaminnya tanpa melepas celana dalam. ''Ohhhh ... terus .. enakkkkkk, Mas ....'' lenguh istri saya merasa sangat nikmat. Sementara itu ekor mata saya melirik aksi kakak ipar dan suaminya yang berkebalikan dengan saya dan istri. Kakak ipar tampak amat bergairah mengaraoke penis suaminya. Saya pun melanjutkan menggarap vagina dan wilayah sekitarnya milik istri saya. Lidah saya makin dalam mempermainkan lubang, mengisap-isap, dan sesekali menggigit klitoris. ''Ooh ... ahhhhh .... ahhhh ........'' istri saya mengerang keras tanpa merasa malu meski di dekatnya ada kakak kandungnya yang juga sedang bergulat dengan suaminya. Satu demi satu saya lepas pakaiannya yang menghalangi. Pertama celana dalamnya, lalu rok bawahnya. Lenguhan istri saya bersahut-sahutan dengan erangan suami kakak ipar. Beberapa saat kemudian posisi berubah. Istri saya gantian mengulum penis saya, sedangkan suami kakak ipar mulai menggarap kelamin istrinya. Erangan saya pun berlomba dengan erangan kakak ipar. Setengah jam kemudian saya mulai menusuk istri saya. Tak lama disusul suami kakak ipar yang melakukan hal serupa terhadap istrinya. Lenguhan dua perempuan kakak beradik yang dilanda kenikmatan terdengar bergantian. ''Mas, batangmu enakkk sekali ....''' bisik istri saya. ''Lubangmu juga enak,'' jawabku. Sembari menaikturunkan pinggul tanganku meremas-remas payudara istri saya yang meski tidak terlalu besar tetapi padat dan tampak merangsang. Setelah beberapa saat bertahan dalam posisi konvensional, lalu saya memutar tubuh istri saya dan menyetubuhi dari belakang. Saya melirik ke tempat tidur. Posisi kakak ipar berada di atas suaminya. Teriakan dan gerakan naik turunnya sangat merangsang saya untuk merasakan betapa enaknya menyetubuhi kakak ipar. Namun saya harus menunggu saat yang tepat. Kira-kira ketika istri saya, kakak ipar dan suaminya sudah berada di dekat puncak kenikmatannya, sehingga kesadarannya agak berkurang. Sambil menggenjot istri saya dari belakang saya terus melirik mereka berdua. Entah sudah berapa kali istri saya mencapai puncaknya, saya sudah tak begitu memperhatikan lagi. ''Ayo kita ke tempat tidur,'' bisik saya pada istri saya. ''Kan dipakai .... '' Saya segera menggendong tubuhnya, lalu menelentangkan di tempat tidur di samping kakaknya yang sedang digarap suaminya. Mula-mula keduanya agak kaget atas kehadiran kami. Tetapi kemudian kami mulai asyik dengan pasangan masing-masing. Tak perduli dan tak malu. Malah suara-suara erotis di sebelah kami makin meningkatkan gairah seksual. Di tengah-tengah nafsu yang menggelora saya menggamit suami kakak ipar saya. Dia menoleh sambil menyeringai menahan nikmat. ''Ssst ... kita tukar ....'' ''Hhhh .... '' dia terbengong tak paham. Lalu saya mengambil keputusan. Penis saya cabut dari vagina istri saya, kemudian bergeser mendekati kakak ipar saya yang masih merem-melek menikmati tusukan suaminya. ''Mas sama istri saya, saya gantian dengan Mbak ...,'' kata saya. Tanpa memedulikan kebengongannya saya langsung memeluk tibuh mulus kakak ipar yang sudah sekian lama saya rindukan. Saya ciumi lehernya, pipinya, bibirnya, dan saya kulum puting susunya yang mengeras. Mula-mula kakak ipar saya kaget dan hendak memberontak. Tapi mulutnya segera saya tutup dengan bibir saya. Kemudian penis saya masukkan pelan-pelan ke vaginanya yang telah basah kuyup. Setelah itu saya melakukan gerakan memompa naik-turun sambil sesekali memutar. Ternyata vaginanya masih sangat enak. Untuk menambah gairah kedua payudaranya saya remas dan sesekali saya gigit putingnya. ''Ohhh .... ahhhh ..... hhhhh ... shhhh ....,'' suaranya mulai tak karuan menahan gempuran hebat saya. Di samping saya, suami kakak ipar saya tampaknya juga tak mau kehilangan waktu percuma. Dia pun menyetubuhi istri saya dengan penuh semangat. Tak ada keraguan lagi. Yang ada hanya bagaimana menuntaskan nafsu yang sudah memuncak di ubun-ubun. Saya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Impian menggauli kakak ipar kesampaian sudah. Hampir satu jam kami bertempur dengan berbagai gaya. Mulai konvensional, miring, hingga menungging. Suami kakak ipar saya lebih dulu menyelesaikan permainannya. Beberapa menit kemudian saya menyusul dengan menyemprotkan begitu banyak sperma ke dalam vagina kakak ipar saya. Rasanya belum pernah saya mengeluarkan begitu banyak sperma sebagaimana malam itu. Kakak ipar pun tampak melenguh puas. Vaginanya menjempit penis saya cukup lama. Setelah peristiwa malam itu, kami menjadi terbiasa mengadakan hubungan seks bersama-sama dan bisa ditebak akhirnya kami bergantian pasangan secara sukarela. Tak ada paksaan sama sekali. |
| You are subscribed to email updates from 17tahun, Cerita Dewasa, Cerita 17tahun To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email Delivery powered by FeedBurner |
| If you prefer to unsubscribe via postal mail, write to: 17tahun, Cerita Dewasa, Cerita 17tahun, c/o FeedBurner, 20 W Kinzie, 9th Floor, Chicago IL USA 60610 | |
