| Ray Sang Petualang Posted: 07 Dec 2007 11:40 PM CST Kenalkan, namaku Ray. Umurku 22 tahun, dan kuliah di sebuah universitas yang lumayan terkenal di Surabaya. And so on, aku akan berusaha mengenalkan siapa diriku dengan cara yang semoga bisa membuat kalian lumayan "berdiri", hohohoho. Aku mengenal yang namanya wanita sejak kecil, kakakku seorang wanita, kedua adikku wanita, ibuku wanita, hehehe… dan pembantuku juga seorang wanita. Kuakui segala kenakalanku waktu aku kecil. Aku suka mengintip pembantuku waktu mandi, melihat mereka menyabuni "susu"-nya, dan terkadang melenguh saat jari-jarinya menggosok kemaluannya. Dan saat aku duduk di bangku kelas satu SMP, aku pertama kali mengerti yang namanya ejakulasi, ketika secara tak sengaja aku menggesek-gesekkan batang kemaluanku ke lantai sambil mengintip lipatan kemaluan pembantuku yang sedang tidur dari celah di bawah pintu, konyol… tapi kuakui itu. Aku mencoba merangsang diriku setiap hari dengan memakai BH kakakku, melipat batang kemaluanku ke dalam pahaku, dan menggesek-gesekkannya ke guling sambil tiduran. Oh, aku belum tahu yang namanya persetubuhan, hanya saja perbuatan itu membuatku merasa enak, apalagi ketika ejakulasi.
Aku mengenal yang namanya masturbasi dari teman-teman, dipegang, terus di tarik begini… begitu… dan memang enak sekali, jadi aku mulai menggunakan tanganku saat mengintip dan menikmati bulu-bulu kemaluan pembantuku saat mandi. Mungkin yang paling berkesan ialah ketika aku mengintip kakakku sendiri (hohoho) lewat celah jendela, setelah dia mandi dan masuk kamar. Ahh, kuintip dia melepas handuknya, mengagumi dirinya di depan cermin. Ohh… baru kali ini kulihat tubuh dewasa kakakku (yang kebetulan memang cantik, banyak penggemarnya), selain kenangan masa kecil saat kami masih oke-oke saja mandi bersama. Tanpa terasa kupegangi kemaluanku yag menegang saat ia berbaring di tempat tidur, memegangi puting-puting susunya, dan mengangkat kepalanya saat ujung batere itu bergerak-gerak di lubang kemaluannya. "Hkk… nngg…" kunikmati setiap gerakannya, sambil menggoyangkan batang kemaluanku dan menarik-nariknya. Ahhh… kutarik napas lega dan kuseka keringat dingin penuh dosa di pelipisku ketika aku ejakulasi, seiring dengan turunnya pantat kakakku yang sebelumnya mengejang-ngejang tak karuan. Semenjak saat itu, aku menjadi ketagihan untuk bermasturbasi, mungkin tiga-empat kali sehari. Dan pergaulanku dengan teman-temanku memberikan kesempatan bagiku untuk menikmati adegan porno dari video (beta), yang entah dari mana kasetnya. Sehingga imajinasiku menggila setiap melakukan masturbasi. Tanpa kusadari mungkin aku perlahan menjadi seorang maniak seks. Lagi pula itu julukan teman-teman yang mengenalku sekarang, hohoho… penjahat kelamin? Akhirnya aku berhasil mengujinya ketika aku berkenalan dengan seorang cewek cantik bernama Enni, saat itu aku kelas tiga SMP. Perkenalanku dengan gadis cantik itu mendapat berbagai halangan, baik dari teman-teman (yang sirik), keluarga kami (karena perbedaan religi), dan tentu saja para sainganku (kebetulan Enni sendiri adalah seorang cewek idola). Hohoho.. masih kuingat saat sepatunya mendadak terlempar ke kepalaku saat sedang enak-enak duduk, sakit memang, tapi toh ada manfaatnya, hehehe. Jadi, aku berkenalan dengannya. Kami mengakrabkan diri dan aku sempat merasa sangat bangga ketika akhirnya ia menerimaku menjadi kekasihnya, saat itu bertepatan dengan pembagian STTB, hehehe. Dan yang paling menggembirakan, ternyata aku satu SMU dengannya, dan satu kelas pula, alamak! Betapa beruntungnya aku. Kami berdua masih sama-sama polos dalam hal bercinta, mungkin itu yang membuat segalanya menjadi mudah. Dalam tempo tiga bulan aku berhasil mencium bibirnya, eh… enak dan lembut. Itu ciumanku yang pertama, hahaha… bergetar.. bergetar. Bayangan akan kelembutan bibirnya membuatku terangsang setiap malam, semakin liar menggosokkan kemaluanku ke guling, membayangkan tubuhnya yang tanpa pakaian menggeliat seperti di film porno saat kumasukkan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya, ahh… ahhh… ahh….. kurasakan aku hampir gila karena nafsuku. Lalu, dengan sembunyi-sembunyi kunaiki mobil papaku, dan kuajak dia berputar-putar keliling kota, hanya sebentar-sebentar, dan tentu saja aku berkompromi dulu dengan sopirku. Akhirnya aku mendapat "SIM-beli" setelah merengek-rengek setengah mampus di kaki papaku. Dan aku mulai mengatur rencana bagaimana aku bisa menikmati tubuh kekasihku, daripada hanya bibirnya, lagipula batang kemaluanku menuntut terus tiap waktu. Jadi pertama kuajak ia berputar-putar sekeliling kota, alasannya untuk merayakan SIM-ku. Dan kucoba mencium bibirnya di dalam mobil ketika kami berhenti di sebuah jalan raya, eh… dia tidak menolak. Yah, sebuah petanda yang bagus… oke. Beberapa hari kemudian, aku mulai agresif mengajaknya jalan-jalan, sampai akhirnya aku berani mengajaknya ke jalan tol di sebuah malam Minggu. Kami berhenti di peristirahatan tol Surabaya-Gempol. Kumatikan mesin, dan kucium bibirnya yang lembut. Ia sama sekali tidak meronta ketika aku meremas-remas buah dadanya yang lumayan besar di telapak tanganku, dan ketika kubuka bajunya, menelanjangi bagian atasnya, alangkah nikmat kurasakan menciumi puting susunya yang kecil yang kencang, nafasnya yang melenguh dan mengerang menambah kenikmatan yang kurasakan, "adikku" berdiri tegak siap tempur, tapi kutahan saja, karena aku takut ia akan menamparku jika aku melangkah terlalu jauh. Jadi kugesek-gesekkan saja kemaluanku ke pinggiran kursi sampai ejakulasi. Dan selama itu dia tidak menolak sama sekali, bahkan terkesan pasrah dan menikmati. Dia bahkan sempat memberi wanti-wanti, "Ray… jangan cerita-cerita okay?" Oh… tentu tidak dengan menggunakan namanya dan namaku yang asli, hohoho. Nah, hari-hari berikutnya, karena ia tidak pernah menolak, jadi aku pun mulai berani melepaskan baju atasku, menikmati kehangatan dadanya di dadaku sambil menciumi bibir dan telinganya. Mmm… enak sekali kurasakan saat itu. Kami mulai biasa melakukan embracement di rumahnya, rumahku, dalam mobil dan dimanapun tempat yang kami bisa. Sampai akhirnya kami kelas 2. Saat itu aku mulai mengenal yang namanya pil "koplo", dan karena aku anak band, jadinya pil setan itu menjadi konsumsi wajibku sebelum manggung, ah kurindukan saat-saat "sakauw". Efeknya, aku menjadi lebih liar, lagipula Enni sama sekali tidak tahu aku mengkonsumsi obat-obatan. Dia hanya bingung melihat prestasiku yang melorot 23 peringkat saat cawu 1, dan kubilang saja karena papa dan mama ribut melulu. Toh dia percaya. Suatu saat, ketika kami pulang sekolah (siang), kuajak dia mampir di Wendy's. Kami makan, dan kemudian seperti biasa berputar-putar mencari tempat. Akhirnya aku memberhentikan mobilku di sebuah jalanan yang lumayan sepi di dekat Kenjeran. Ah, aku sih bersyukur saja karena kaca mobilku gelap, hehehe…. jadi, kubuka baju dan behanya, menikmati puting-puting "susu"-nya seperti biasa, sambil sesekali meremas dan menggigit. Nafasnya mendengus-dengus. Kuajak ia pindah ke bangku belakang. Enni menurut saja. Kuteruskan hisapanku di "susu"-nya, dan ketika kumasukkan tanganku ke dalam roknya, ia hanya diam dan mengeluh. Kutarik celana dalamnya ke bawah, sambil kuciumi bibirnya yang terbuka. Enni mengerang lirih saat kusentuh kemaluannya yang basah. Aku berusaha mendudukkan diriku di sebelahnya, mengangkat roknya dan membuka pahanya, untuk yang pertama kalinya aku melihat kemaluan seorang wanita di depan mataku, bentuknya indah sekali, berbeda dengan yang di film-film porno. Kulihat wajahnya memerah dan matanya memandangku bertanya-tanya. "Aku tahu bagaimana membuatmu enak…" bisikku lirih sok tahu. Kulihat Enni hanya diam saja, jadi kutahan pahanya ke sandaran jok belakang, dan kuletakkan telapak tanganku menutupi liang kemaluannya. Enni mengerang-erang saat kugosok-gosok bibir kemaluannya dengan telapak tanganku, "Ahhh.. hahh… ahhh…" aku juga semakin bernafsu, persis seperti di film, pikirku saat itu. Hanya saja, untuk menjilat aku belum berani, jijik. Jadi kuteruskan saja menggosok-gosok kemaluannya, terkadang cepat, terkadang lambat, "Ahhh… ahh… khh… hhh…" Enni mengerang-erang, tangannya menjambret kain bajuku yang terbuka, menarik-nariknya. "Aaahh…" kurasakan tanganku sangat basah, pahanya bergerak-gerak membuka dan menutup. Aku pun menghentikan tanganku sejenak, melihat dan menikmati wajahnya yang memerah dan nafasnya yang terengah-engah. Eh… dia malah berkata, "Gantian. Aku ingin lihat punya kamu!" Oh God, hahahaha… sure, dan kubuka celanaku berikut celana dalam yang menempel di pantatku. Enni memperhatikan dengan seksama "burung"-ku yang tegang dan bergerak-gerak di depannya. "Duduk…" kataku sedikit memerintah. Kugamit jemarinya dan kuletakkan di batang kemaluanku, Enni memegangnya tapi dia diam saja, "Salah… Begini loh!" kutunjukkan cara melakukan masturbasi padanya, dan… damm it! it feels soo good. Kurasakan telapak tangannya menggenggam batang kemaluanku dan menarik-nariknya, enak. Kumasukkan lagi tanganku ke dalam roknya, membuka pahanya dan menggosok bibir kemaluannya, "Ahh… hhh… uhhh… ahhh…" kami mengerang dan mengeluh bersamaan, kucium bibirnya dan merasakan lidahnya bergerak liar. "Ahh… mmm… hhh… ahhh… enak sekali…" kugerak-gerakkan pantatku ke depan memberi respon pada gerakan tangannya dan akhirnya spermaku keluar mengenai sandaran kursi. Kami terdiam sejenak, melihat cairan kental putih yang menempel di kain sandaran kursi di depan kami. "Iyakh…" kudengar ia berkata dan kami sama-sama tertawa. Kukecup bibirnya, mengambil tissue untuk membersihkan tangannya dan kain pembungkus sandaran kursi itu tentunya. Lalu kami pulang. Hari-hari berikutnya kami semakin sering melakukan hal serupa di tempat-tempat yang sudah kusebutkan di atas, oh jalan tol merupakan tempat idola kami, hehehe. Aku semakin tenggelam dalam kenikmatanku terhadap obat-obatan, aku mulai mengenal heroin, yang sangat nikmat apabila ditorehkan dalam luka-luka sayat di tanganku, dan juga valium, yang menimbulkan bekas bintik-bintik hitam di pangkal lenganku. Ah, akhirnya Enni curiga melihat keaktifanku yang semakin liar di group bandku, dan kondisi tubuhku yang mengurus, pelajaranku yang selalu kuakhiri dengan tidur. Dan itulah yang memacunya untuk meninggalkanku dan beralih ke lelaki lain yang sudah kuliah. Hal itu dilakukannya saat aku berangkat ke New York selama tiga bulan untuk studi banding (kebetulan aku lumayan jago dalam sastra Inggris). Waktu aku mengetahuinya aku sempat mengamuk habis, hampir saja aku ke kampus si cowok untuk menawurnya bersama teman-temanku, namun kubatalkan mengingat betapa konyolnya aku untuk marah hanya gara-gara seorang wanita. Jadi kuputuskan untuk pulang perang dengan membawa oleh-oleh berharga. Kutelepon ke rumahnya, memintanya sudi menemuiku untuk yang terakhir kalinya. Enni menemuiku malam itu, dan langsung kucium bibirnya sambil membisikkan kata-kata kerinduan dan betapa aku tak sanggup kehilangan dia, dan mungkin karena kenangan berseksual-ria denganku (atau mungkin karena aku cinta pertamanya) membuatnya pasrah saat kupegangi payudaranya dan meremas-remas kemaluannya dari lapisan celana ketatnya. Ah, kebetulan saat itu kedua orangtuanya sedang berangkat menghadiri pernikahan, sedangkan kakaknya saat itu sudah kembali ke Bandung untuk menyelesaikan kuliahnya, jadi aku merasa bebas-bebas saja. Jadi kurangsang dia dengan segenap kemampuanku, kubelai buah dadanya dengan lembut, menciumi wajahnya, lehernya tengkuknya, memasukkan jariku ke dalam celananya, memainkan liang kemaluannya di jariku, membuat nafasnya memburu dan terengah-engah, "Ahhh… ahh… uh… nggg…" aku merasakan nafsuku mulai naik ke ubun-ubun ketika tangannya menyelip di lipatan celanaku dan bergerak-gerak di batang kemaluanku yang menegang hebat. Aku cukup kaget ketika tiba-tiba ia melepaskanku, menangis, aku bingung. Lalu ia bangkit berdiri, menuju ke ruang tengah rumahnya dan telunjuknya memanggilku mengikutinya. Oh God, hohohoho. Kami bergulingan di tempat tidurnya yang lebar, kuciumi seluruh wajahnya, lehernya, kupingnya, dagunya, dan kuhisap puting "susu"-nya penuh nafsu, kuangkat pakaiannya melewati kepalanya, "Ahh.. uhh… argg…" kurasakan kenikmatan batang kemaluanku menekan-nekan liang kemaluannya dari balik baju kami. Kubuang BH-nya entah kemana. Kubuka bajuku, menempelkannya di payudaranya, merasakan kenikmatan dan kehangatannya. Kuciumi bibirnya dengan lebih bernafsu. Kuraih celana ketatnya yang pendek dan kutarik, kulepas berikut celana dalamnya, kupegangi dan kuraba kemaluannya yang basah. Pahanya bergerak-gerak menggesek-gesek batang kemaluanku yang masih terbungkus, dan kubuka celanaku cepat-cepat. Kurasakan paha telanjangnya menekan batang kemaluanku. Tangannya meraih batang kemaluanku dan memainkannya dengan gerakan yang membuatku terengah-engah menahan nikmat, "ahhh… ahh… ahh…hh…" akhirnya kuangkat tubuh telanjangku ke atasnya, dan menempelkan batang kemaluanku di liang kemaluannya. "Ahhh… gila… kenikmatan ini… ahhh…" kudengar ia menyebut-nyebut namaku dengan lirih ketika pinggulku bergerak-gerak dan menggesek bibir-bibir kemaluannya ke atas dan ke bawah, ahh. Kucium bibirnya dengan lebih bernafsu, kujatuhkan seluruh tubuhku menindihnya, merasakan tekanan buah dadanya yang berkeringat di kulitku, kugoyang-goyang pinggulku ke atas dan ke bawah, "Ahhh.. ahh.." ke samping ke depan, "Aahh… ah.. ah…" merasakan setiap kenikmatan gesekanku dan pelukan pahanya di pantatku setiap aku bergerak ke samping, "Ahk.. ahk…" Akhirnya kubenamkan bibirku di bibirnya dan menekan pantatku sekuat tenaga ketika nafsuku tak terkontrol lagi dan menyemburkan spermaku melewati dan membasahi permukaan perutnya, Ahhh.. hah…" nafasku terengah-engah penuh kenikmatan, pelukannya mengencang di punggung dan pinggangku. Pantatnya menekan batang kemaluanku kuat-kuat. "Aahh… nikmatnya…" baru kali ini kurasakan nikmatnya melakukan petting. Aku bangkit berdiri, memakai pakaianku yang berserakan di lantai, dan membantunya berpakaian, lalu melangkah kembali ke ruang tamu. "Ray.. jangan teruskan memakai obat-obatan…" Aku mengangguk. Dan itulah kata terakhir yang kudengar dari bibirnya sesaat sebelum kurelakan dia pergi dari sisiku. Dengan perjuangan yang keras selama beberapa minggu, aku berhasil menghentikan kecanduanku pada obat-obatan di sebuah pusat rehabilitasi di Lawang. Memang, setelah ia sudah menjadi pacar orang lain, yang notabene direstui orangtuanya. Namun tak jarang kami melakukan pertemuan rahasia dan melakukan petting. Namanya juga cinta pertama. Sampai akhirnya ia mambantuku menembus UMPTN, dan jarak kami terpisah sangat jauh sekarang. Ahh Enni, selalu mulutku mendesah mengingat kenangan cinta pertamaku. Terakhir aku berjumpa dengannya Januari 2000, kami melakukan petting lagi di sebuah wisma di kota dimana ia kuliah. Sampai sekarang, aku belum menemuinya lagi. Mungkin kalau ketemu… hohohoho… ah, kekasihku, cintaku. Tapi pengalaman-pengalaman seru dengannya membuatku ketagihan setengah mati, dan bayangkan saja jika aku harus menunggu setahun sekali untuk petting, woah… what a waste of time.. huh? Jadi aku mulai meningkatkan kelasku menjadi perayu wanita. Hampir dua kali seminggu aku melakukan petting, bukan bersetubuh tentunya, karena aku masih cari selamat dan aku paling benci yang namanya perek atau pelacur, hanya bawa penyakit. Oh… aku kehilangan keperjakaanku saat aku melakukan hubungan dengan seorang gadis pecandu sabu-sabu yang kujumpai sedang menangis di pinggir jalan karena ditinggal teman-temannya ke diskotik. Wah… lagi-lagi aku beruntung, ketika ia mengajakku bercinta, aku mengiyakannya karena sekedar kepingin tahu dan ternyata si gadis itu masih PERAWAN! Oh God, mercy on me, saat kulihat noda darah berceceran di kasurku, hohohoho… dalam keadaan "fly" mungkin ia tak sadar mengajakku, orang yang baru ia kenal untuk bercinta hahaha… dan kuantar dia pulang ke sekitar wilayah makam Banteng, masih dalam keadaan bingung. Jahat memang, tapi masih sempat kuhadiahkan sebuah kecupan di keningnya. Sejak itu aku memutuskan untuk tidak berhubungan seksual dulu, karena rasanya toh begitu-begitu saja, benar seperti kata orang, yang enak itu pemanasannya, hahaha, lagipula aku sudah pernah mencicipi perawan, hehehe… dan enak gila, jadi aku berambisi mendapat perawan sebanyak mungkin tanpa harus bertanggungjawab. Bajingan? okeh, terserah Tamat
|
| Gairah Pertamaku Posted: 07 Dec 2007 11:45 PM CST Kesan pertama melakukan sesuatu bagi orang yang belum pernah dialamainya, sungguh sangat mengasyikkan. Begitu pula dengan kesan pada pengalaman pertamaku merasakan hangatnya tubuh wanita, yang mana terjadi pada waktu aku kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Walau sekarang aku bekerja di bidang travelling di kota Jakarta dan menjabat sebagai eksekutif di perusahaan tersebut, namun pengalaman pertama mencicipi nikmatnya cinta sungguh sulit dilupakan.
Waktu itu aku lagi suntuk, baru masuk kuliah 5 bulan. Selesai mengikuti ujian semester yang melelahkan, aku menghabiskan waktu bermain billyard di diskotik Crazy Horse Jl. Magelang Km 4 Yogyakarta. Mungkin dari para pembaca ada yang pernah kuliah atau pernah tinggal di Yogyakarta pasti tahu diskotik tersebut. Aku dengan dua teman kostku bermain sampai 10 game, dan waktu sudah menunjukkan pukul 11:30 malam. Kami sepakat untuk mengakhiri main billyard dan bersiap untuk pulang. Namun sewaktu aku akan membayar di kasir, sempat kulihat ada seorang wanita muda masuk ke tempat billyard tersebut dan langsung menghampiri salah satu meja yang ada di sana. Aku hanya berpikir mungkin salah satu score girl yang bekerja di tempat itu, lalu aku pun acuh saja dan berjalan menuju pintu keluar bersama kedua temanku.
Tidak sampai semenit, terdengar ada kegaduhan di salah satu meja billyard, serempak kami menoleh ke arah situ dan kulihat wanita muda yang baru masuk tadi sedang memaki-maki seorang laki-laki yang saat itu sedang memangku salah satu score girl. Kami bertiga jadi tercengang melihat keributan itu, apalagi sewaktu perempuan muda yang ternyata cantik itu menampar pipi pria yang sedang dimaki-maki tersebut. Kemudian si wanita langsung berlari menuju pintu keluar sambil menangis, melewati kami yang masih terperangah. Kami pun akhirnya juga keluar menuju tempat parkir motor. Aku mengendarai sendirian, sedang kedua teman kostku itu berboncengan.
Baru 500 meter dari tempat billyard tersebut, kami yang tadinya berkendara motor sambil mengobrol terkejut begitu melihat wanita muda yang menampar seorang pria di tempat billyard tadi, terpaku berdiri di pinggir jalan sambil terisak menangis. Salah satu temanku menegur si wanita, "Mbak udah malam begini mau kemana..?"Tapi si wanita itu hanya menutup wajahnya dan tangisannya terdengar semakin keras. Kami saling bertatapan. Melihat gelagat begitu, aku meberanikan diri untuk menghampirinya. "Maaf Mbak, kami bertiga nggak ada niat jahat, cuma mau menawarkan bantuan, kalau memang Mbak mau kami bisa mengantar Mbak pulang." ujarku sungguh-sungguh. Melihat tetap tidak ada komentar dari si wanita, aku pun kembali menyambung, "Bagaimana Mbak..? Saya serius, tapi kalau memang Mbak nggak mau ya sudah kami nggak bisa memaksa. Lagian apa Mbak nggak khawatir sudah larut malam begini masih di tengah jalan, kalau kelihatan orang Mbak lagi menangis, bagaimana nanti..?"
Kami bertiga saling pandang menunggu jawaban dari dia, lalu si wanita itu pun mengangguk tanpa satu patah pun kata keluar dari mulutnya. Karena yang mengendarai motor sendirian itu aku, dia pun membonceng naik ke motorku. "Pram, aku tak pulang dulu ya? Udah malam nih, berani kan kamu sendiri?" salah satu temanku bertanya kepadaku. "Ya udah nggak apa-apa kok, kalian pulang duluan saja..!" jawabku. Lalu kami berpisah, kedua temanku langsung meluncur pulang ke kost, sedang aku akan mengantar pulang si wanita muda itu. "Rumah Mbak dimana..?" aku bertanya memecah kebisuan di antara kami. "Terus saja ke arah selatan." jawabnya singkat dan terdengar sengau karena sambil menangis.
Jalan-jalan di kota yang terkenal dengan kota gudegnya itu pada waktu malam sudah sepi, aku mengendarai motorku perlahan menunggu petunjuk dari wanita di belakangku ke arah mana dia pulangnya. Kurang lebih 10 menit dia diam saja. Aku kembali bertanya, "Maaf Mbak, di daerah mana sih rumahnya..?" Si wanita hanya terdengar menghela nafas, "Taulah Mas, aku malas pulang, terserah Mas mau mengajak kemana." jawab si wanita sekenanya. Terus terang aku jadi bingung dengan jawabannya itu. Maksudku benar-benar ingin mengantar dia pulang malah jawabannya begitu. Jujur saja dahulu aku masih polos dan lugu, belum mengerti dan bodoh untuk jawaban seorang wanita seperti itu. Kalau sekarang sih justru aku yang menawari menginap di hotel atau motel.
Setelah 15 menit berputar-putar, aku bingung mau diajak kemana nih orang..? Akhirnya aku hanya bilang, "Mbak, sudah semakin malam nih, bagaimana..? Aku musti pulang, soalnya besok pagi aku harus kuliah." Setelah terdengar terbatuk kecil, dia menukas, "Mas kost kan..? Kalau nggak keberatan, aku ikut Mas ke kost aja, tapi kalau nggak mau ya aku turun disini saja deh, nggak apa-apa kok." Aku jadi semakin bingung dengan jawabannya itu. "Ah gimana ya..? Nggak apa-apa nih kamu ke kostku..?" tanyaku setengah tidak percaya. Sebagai jawabannya, si wanita yang duduk membonceng di belakang motorku itu malah melingkarkan tangannya memeluk pinggangku. Mimpi apa aku semalam sampai ketemu wanita macam begini.
Aku menjalankan motorku ke arah kost sambil tubuhku merinding, karena dua bola daging di dada si wanita itu menyentuh punggungku begitu dia merapatkan tubuhnya memeluk tubuhku. Sesampainya di kost, kulihat kamar kedua teman kostku sudah gelap, menandakan mereka sudah terlelap. Rumah kostku memang hanya dihuni bertiga, pemilik rumah tidak tinggal disitu, jadi kalau ada teman atau saudaraku yang menginap disitu, mau tidak mau ya tidur di kamarku. Begitu juga yang kualami sekarang, aku jadi bingung, masak sih aku tidur satu kamar dengan perempuan yang belum kukenal?
Setelah membersihkan badan dan mengganti baju, aku menawari dia minum, "Mau minum apa Mbak..?" Sambil tersenyum manis dia hanya menyahut, "Air putih saja lah, tapi ngomong-ngomong maaf ya aku jadi merepotkan." "Allaa .. nggak apa-apa." ujarku, namun di dalam hati aku berdebar bagaimana ya nanti aku tidur satu kamar dengan wanita yang baru 2 jam kukenal. Setelah bisa menenangkan hati, aku menyambung, "Oh iya Mbak, mau ganti baju..? Pakai saja kaosku, sebentar ya kuambilkan, oh iya kalau Mbak mau mandi, biar aku ambilkan handuk sekalian ya..?" "Aduh Mas, sudahlah jadi ngerepotin nih, sebenarnya sih kalau bisa aku juga mau pinjam celana pendek saja, boleh..?" si wanita berkata dengan wajah masih sembab. "Nggak apa-apa kok, sekalian aja ya? tapi kalau baju dalam cewek aku nggak punya." ujarku sambil tersenyum memberanikan diri menggodanya.
Si wanita tertawa geli mendengar perkataanku tadi. "Aduuh.., cantik sekali jika dia tertawa.." kataku dalam hati. Sambil tersenyum, si wanita mengulurkan tangannya dan berjabat tangan denganku, "Widya." dia memperkenalkan diri. "Namaku Pram, nama kamu bagus Mbak." jawabku sekaligus memuji namanya sunguh-sungguh. Dia hanya tersenyum menanggapinya, lalu diambilnya celana, kaos dan handuk dari tanganku dan langsung menuju kamar mandi.
Sambil menunggu Widya mandi, aku menata kamar, kuambil bantalan sofa di teras dan kuatur sedemikian rupa berjejer di lantai membentuk tempat tidur. Beberapa saat kemudian Widya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos dan celana pendekku yang terlihat kebesaran, jadi terlihat lucu di mataku, namun bagiku tetap terlihat cantik dan manis. Kemudian kami pun terlibat obrolan hangat di serambi depan kamarku, sambil menikmati minuman hangat yangkusodori.
Kuperhatikan Widya memang cantik, putih dengan rambut sebahu diikat dengan karet gelang, dadanya membusung penuh, bibirnya merah segar walau tanpa polesan lipstik maupun kosmetik lainnya. Tingginya sekitar 165 cm, dengan body yang bagiku sangat proposional. Kutaksir umurnya walau lebih tua dariku tapi tidak lebih dari 25 tahun. Dia menceritakan bagaimana tadi dia sakit hati dengan pacarnya yang sedang memangku wanita lain, bagaimana sikap pacarnya itu akhir-akhir ini. Pokoknya dia mencurahkan semua isi hatinya kepadaku, dengan rokok yang tidak berhenti mengepul dari bibir seksinya, sedang aku hanya termangu mendengarnya.
Tidak terasa 1 jam lamanya kami mengobrol dan mataku semakin terasa berat. Lalu aku memotong pembicaraanya, "Mbak, aku mau tidur dulu ya..?" kataku dan Widya masih asyik dengan sebatang rokoknya. "Oh ya, silahkan Mas, nggak apa-apa, kan aku masih mau menikmati malam ini..!" jawabnya. Kemudian aku masuk ke kamar, kutinggalkan Widya yang masih duduk di teras depan kamarku, langsung kurebahkan tubuhku di bantalan sofa yang kuatur sedemikian rupa di lantai membentuk tempat tidur.
Entah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba aku terbangun karena merasakan geli di sekitar selangkanganku. Masih setengah sadar kurasakan ada sesuatu yang membuat kelakianku berdenyut-denyut bercampur geli. Begitu kubuka mataku, bagai disambar geledek rasa terkejutku, di keremangan lampu tidur, aku melihat Widya menindih pangkal pahaku dan jari di tangannyayang mungil itu tengah mengelus-elus batang kejantananku yang sudah terbuka lepas dari celanadalamku, sedang sarung yang biasa kupakai kalau aku tidur itu sudah terbuka seluruhnya. Sedang bibir dan mulutnya tengah asyik menciumi pangkal dari kemaluanku.
"Mbak..! Kk.. kkhh.. kamu lagi.. lagi.. ngapain..?" kata-kataku tercekat di kerongkongan menyadari semua ulahnya. Sungguh kupikir aku sedang bermimpi, namun begitu kucubit pipiku sendiri terasa sakit, baru aku sadar itu memang nyata. Ya Tuhan! terus terang aku benar-benar memang belum pernah diperlakukan demikian oleh wanita, walau sudah 2 kali pacaran.
Begitu tahu aku sudah terbangun dan sadar sepenuhnya, Widya melirik ke arah bola mataku, dia tersenyum sambil tangannya tetap mengelus batang kemaluanku. "Hmm.., boleh kan aku memberi sesuatu sekedar membalas kebaikan kamu..?" Tubuhku gemetar dan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitku. Perlahan aku berusaha melepaskan diri dari tindihan tubuhnya. Masih tergagap aku menanggapinya, "Ta.. tt.. tapi, eeng.. Mbak.. ee.. kamu.., eh, Mbak nggak perlu begini.." Perlahan Widya beringsut ke atas dan berbisik pelan di telingaku, "Mbok jangan panggil aku Mbak dong..?" sambil jemari di tangannya masih tetap mengelus rudalku.
Usahaku untuk melepaskan diri sepertinya semakin sulit, karena tubuh Widya sekarang sudah menindih tubuhku."Lalu..? Aku.. ee.., musti panggil apa..? Kan umur Mbak lebih tua..?" tanyaku terbata-bata. Tangan Widya sekarang mulai mengurut kemaluanku perlahan dari atas terus ke bawah, demikian berulang-ulang. Sontak aku kelojotan menerima perlakuannya. "Terserah deh.., mau panggil apa, yang penting aku sekarang mau memberi hadiah spesial buat kamu sayang, pasti kamu akan sangat menikmati." Suaranya terdengar sangat seksi di telingaku, karena memang saat itu mulutnya sedang menciumi daerah belakang telinga kiriku. Mataku terpejam menikmati buaian gairah dan hembusan kenikmatan yang diberikan Widya melalui remasan tangan di batang kemaluanku.
"Mbak.., oohh.. akhh.. aa.. aku.. belum pernah.. eengg.. belum pernah dii.. ee.. begini.. sama.. ee.. perempuan.., Mbak.." masih tergagap aku dengan polosnya terus terang ke padanya. Sementara batang kejantananku tambah berdenyut keras diremas-remas dan diurut oleh tangan Widya yang bagiku sangat terampil. Kuperhatikan Widya tersenyum, "Aku tau sayang, kamu memang baik, sangat baik malah, dan kamu sangat polos, aku sangat.. hmm.. aku senang jika aku bisa merasakan keperjakan laki-laki yang masih lugu seperti kamu.." kata-kata terakhir Widya terdengar malu-malu. "Tapi Mbak, eengg.. apa Mbak.. ee.. nggak merasa bersalah..? Kan Mbak sudah punya pacar..?" sahutku. Kembali dia tersenyum dengan manisnya, lantas Widya menjawab, "Sudahlah Pram sayang, jangan omongin dia lagi ya..? Pokoknya aku malam ini milik kamu, titik..! Lagian kan aku tadi bilang kalau.. eeng.. terus terang saja, aku ingiinn banget mencicipi keperjakaan.. hhmm.. jangan marah ya..?"
Mendengar perkataan Widya tadi, aku jadi senang, "Kenapa mesti marah..?" kataku dalam hati. Selesai Widya berkata begitu, mulutnya mulai mendarat di bibirku, dilumatnya bibirku dengan lembut, kubalas lumatan bibirnya dengan penuh gairah, sementara jemari tangannya semakin keras mengayunkan batang kemaluanku naik turun. Perlahan dilepaskan lumatan mulutnya pada mulutku, bibirnya menelusur perlahan ke arah leherku, terus ke bawah bermain di sekitar dadaku, dijilatinya puting di dadaku. Aku kegelian.
Setelah puas bermain di dadaku, mulut Widya terasa menjalar ke bawah melewati perut langsung ke pusat kemaluan di selangkanganku. Kulirik ke bawah bertepatan dengan saat itu matanya sedang menatapku, lalu dia tersenyum, membuka mulutnya dan sedetik kemudian, "Aaahh.. God..!" jeritku dalam hati, karena mendapati bibir mungilnya yang terbuka tadi sudah mencaplok kepala di batang rudalku. Diturunkan kepalanya dan otomatis batang kemaluanku terus tenggelam di dalam mulutnya. Demikan terus mulut Widya menghisap kemaluanku. Di sela hisapan dan jilatan mulutnya, Widya memuji kemaluanku, "Pram.., hmm.. aku sudah menduga.., hhmm.. punya kamu ini paling nggak ada 16 cm, lumayan sih.. tapi eengg.., lingkarannya ini lho, wahh..! Bisa dibayangin.., tanganku aja nggak muat megangnya, apalagi.. enngg.., masuk ke memekku yah..?" malu-malu Widya mengatakan begitu dengan wajahnya yang bersemu merah.
"Mbak.., oouuhh.., Mbak.. enak Mbak, mulut kamu bikin punyaku kayak mau meledak nih..!" desahanku keluar karena tidak tahan dengan mulut dan bibirnya yang menggarap sekujur rudalku. "Jangan Pram! Jangan meledak sekarang! Ntar aja ya.., di dalam punyaku..?" Kontan Widya menyudahi aksinya, lantas dia menyambung perkataannya, "Ngomong-ngomong, kamu belum pernah kan mencicipi kemaluan cewek..? Mau nggak..?" "Glek!" aku hanya menelan ludah membayangkan tawaran yang selama ini hanya dalam mimpiku. "Eee.., kayak apa sih rasanya..? Di film BF kayaknya nikmat banget menjilat memek cewek.." Widya tertawa geli mendengar kepolosanku, "Memang kok, makanya dicobain deh, sebentar ya..?"
Widya bangkit dari tubuhku, dia berdiri di atasku dan tanpa malu-malu lagi Widya melorotkan sendiri celana pendek yang dikenakannya sekaligus celana dalamnya, namun kaosnya tidak ikut dilepas. Melihat aksi wanita cantik itu, aku hanya bengong dan berkali-kali menelan ludah menahan nafsu yang kian memburu. Lalu tanpa diduga, Widya berdiri tepat di atas wajahku yang masih tiduran di lantai, dikangkanginya kedua kaki jenjang milik Widya itu, hingga bulu-bulu lebat di sekitar selangkangannya jelas terlihat yang diantara bulu-bulu tersebut terlihat menyempil secuil daging kemerahan menutupi lubang kemaluan milik Widya yang sangat indah.Sepertinya Widya membiarkanku menikmati sesaat pemandangan indah yang baru kali ini kunikmati.
Sambil tersenyum, perlahan Widya menurunkan tubuhnya, berjongkok di atas dadaku. Sudah ratusan kali aku menelan ludahku sendiri menahan gejolak gairah yang benar-benar baru pertama kali sensasi yang diperlihatkan wanita seperti ini dalam hidupku. Dengan posisi dimana Widya duduk di atas dadaku, kemaluan Widya yang hangat dengan bulunya yang lebat dan sedikit kebasahan terasa menyentuh kulit di dadaku. Perlahan dibuka kedua paha Widya semakin melebar, memperlihatkan semakin jelas bentuk kemaluan seorang wanita, karena kemaluan Widya sekarang hanya berjarak sekitar 10 cm di depan wajahku.
Kuperhatikan dengan seksama, "Ooo, begini toh memek cewek itu..!" kataku dalam hati. Tampak jelas sekarang secuil daging kemerahan yang tadi terlihat, yang ternyata adalah bentuk dari bibir luar kemaluan wanita. Terlihat sedikit terbuka, memperlihatkan bibir bagian dalam lubang kemaluan milik Widya tersebut. Sementara di bagian pucuk atas bibir kemaluan itu bertengger dengan indahnya secuil daging berwarna merah muda menonjol keluar. Aku menduga ini pasti klitoris atau kelentit wanita.
Ada sekitar 3 menit aku terpana memperhatikan semua pemandangan dahsyat yang baru kali ini kunikmati dalam hidupku. "Aduuhh..!" aku menjerit kecil kaget ketika tangan Widya mencubit pipiku. "Iiihh.., kamu ngeliatin apa sih Pram..?" Widya bertanya pura-pura tidak tahu. Wajahku terasa panas menahan malu. "Cuma mau dilihatin aja ya..?" kembali Widya membuatku sedikit kikuk. "Eehh.. ohh.. nggak, habis punya kamu bagus sih..!" aku menjawab sekenanya, karena tidak tahu apa yang harus kukatakan. "Ah masa sih..?" sahutnya, lalu seperti memancing gairah kelakianku, jari telunjuk di tangan Widya mengusap-usap bagian klitorisnya sendiri, dipelintir sedemikian rupa hingga sepertinya benda kecil di kemaluan Widya itu tambah mencuat keluar.
"Masa sih memekku bagus heh..? Bagus apanya..? Kalau bagus kok cuma diliatin aja..? Heh..?" Widya menyambung perkataannya yang terdengar suaranya sangat seksi. Selesai berbicara, perlahan Widya menggerakkan pantatnya beringsut ke depan, menyodorkan kemaluannya seperti dipersembahkan kepada mulut dan bibirku. Sekarang jarak liang vagina Widya dengan wajahku hanya tinggal sekitar 5 cm. Dan kontan merebak aroma khas kemaluan seorang wanita menusuk hidungku. Sebuah aroma dan bau yang juga baru kali ini aku merasakannya. Begitu harum dan lembut seperti bau daun pandan. Sesaat aku memejamkan mata menikmati aroma yang tercium lembut, gurih menembus hidungku.
"Iiihh.., nih anak..! Ngapain sih..? Kayaknya kok dari tadi cuma ngeliatin aja, sekarang cuma mencium baunya aja..!" suara Widya sontak membuyarkan lamunanku. Kulihat wajahnya terlihat cemberut. Aku tersenyum melihat ulahnya. "Iya Mbak! Mosok nggak boleh sih aku menikmati dulu harumnya kemaluan Mbak..? Beneran kok Mbak, memek Mbak haruumm.. banget..!" aku mencoba merayu Widya. Langsung ditanggapi olehnya, "Iya apa..?! Tapi katanya mau mencoba ngerasain memek cewek, kok didiamkan aja, lagian.. Ooouuhh Pram..! Ouuffsshh.. aduhh nakal kamu..! Yaahh.., gitu dong.. sshhtt..!" omongan Widya terputus begitu aku mulai mengangkat kepalaku guna menjulurkan lidahku dan menjilat bibir luar kemaluannya, karena aku sendiri sebenarnya sudah tidak sabar ingin segera merasakan dan mencicipi bagaimana sih rasa kemaluan wanita.
Lubang kemaluan Widya yang sudah setengah merekah itu begitu mengundang hasratku untuk menyusupkan lidahku ke dalamnya. Perlahan kusapu bibir kemaluan Widya bagian bawah, dan.. eehh ternyata ada sedikit kebasahan disitu, sejenak kukecap kebasahan berupa lendir bening yang dikeluarkan liang surga milik Widya itu. "Hhmm.., lezat sekali..!" kataku dalam hati sambil meresapinya. "Ehh Mbak, ee.. enak juga ya Mbak..?" ujarku sambil menikmati rasa gurih lendir itu. Sambil merintih manja, Widya menyahut, "Ouuhh Pram.., itu baru lendir pelumas aja, coba dehnanti.. oohh.. sstt.. kamu akan tambah menikmati lendir yang keluar kalau aku orgasme nanti, makanya kamu harus berusaha membuatku puas, Pram..!" Sementara pahanya dibuka semakin lebar memberi ruang gerak lebih leluasa buat lidah dan mulutku bergerak.
Kembali aku menjulurkan lidahku menyusup diantara belahan bibir kemaluan Widya sambil dibantu oleh jari-jarinya menguakkan belahan itu semakin lebar. "Oouuhh.. oouuff.. sstt.., yah begitu sayangg.. terus masukkan lidah kamu lebih dalam..! Yaahh.. teruuss.. ooughh.." erangan Widya terdengar lembut dan bergairah menikmati sentuhan lidahku. Apalagi petualangan lidahku mulai menyentuh secuil daging kelentit yang sudah terasa semakin keras mencuat keluar dan membuat Widya merintih keras. "Pramm.., yahh.. betull..! Teruss.., yang lembut sayangg..! Oouff.. eesshhtt.. sstt.. edann..! Enak banget..! Aduuhh.., eesshh.. kamu ternyata.. uuff.. ternyata pintar juga.. eesshhtt.." desahnya tidak berhenti. Sebenarnya aku hanya mempraktekkan apa yang selama ini kulihat di film BF, bagaimana cara perlakuan oral sex pada liang kemaluan wanita.
Kembali terasa di lidahku lendir yang keluar dari liang kemaluan Widya semakin banyak. Oohh Tuhan! Ternyata betapa nikmatnya rasa lendir kemaluan wanita itu. Aroma harum kemaluan milik Widya semakin tajam menusuk hidungku seiring semakin banyaknya lendir itu membanjir keluar dan membuatku semakin bernafsu terus menjilati seantero kemaluan Widya, terutama klitoris yang berwarna merah muda itu memang sangat membangkitkan hasratku untuk lebih bernafsu menjilatinya. Daging kelentit itu terus kusentil dengan lidahku dengan irama yang teratur, baik ke samping maupun ke atas dan ke bawah. "Adduuhh.. Praamm.. eesshhtt.. pintar sekali kamu..! Yahh begitu.., teruuss.. duhh Gusti.. nikmat sekali..! Adduuhh.., kayaknya aku mau sampai nih..! Teruss..!" rintihan Widya terdengar semakin keras, dan malah sekarang seperti menjerit kecil, apalagi entah perintah dari siapa, aku yang tadi membuat gerakan menjilat, sekarang mulai memagut kelentit itu dan langsung kukulum layaknya mengulum permen.
Kukulum dan kuemut dengan mulutku daging kelentit milik Widya dengan gemas bercampur nafsu. Kontan tubuh Widya kelojotan, menggelinjang hebat merasakan nikmat yang amat sangat di pusat kenikmatan yang terletak pada kelentitnya. Bongkahan pantat milik Widya yang tadi mendudukidadaku, entah refleks atau apa, sekarang semakin maju dan aku yang tadi agak mengangkat kepala untuk menggarap kemaluannya dengan mulutku, sekarang bisa bersandar pada bantalan sofa di lantai, karena bongkahan pantat Widya sekarang tepat di atas kepalaku. Sekarang posisi tubuh Widya duduk bersimpuh yang mana kepalaku otomatis tenggelam di jepitan kedua pangkal pahanya.
Posisi demikian terus terang membuatku sulit bernafas, apalagi mulutku masih terus mengulum dengan buasnya daging kelentit milik Widya yang sepertinya terasa semakin tegang dan keras.Sementara dari sela-sela bulu kemaluannya, aku masih sempat melihat kedua tangan Widya meremas-remas kedua payudaranya seperti berusaha menambah rangsangan terhadap dirinya. Terlihat juga kepala Widya mendongak ke atas dan kedua bola matanya mendelik-delik serta pupil hitam di matanya sudah tidak terlihat, hanya terlihat warna putihnya saja. "Pramm.. enngg.. oouukkhh.. esstthh.. Ya ampun Tuhann..! Adduuhh.. yyaahh.. sedikit lagi.. yahh.. uuff.. kkhh.. kk.. ka.. kamu ingin merasakan.., ouuhh.. ingin mencicipi lendirku kaann..? Yaahh.. sedikit lagi.. dikiit lagi sayaangg..! Makanya.., uughh.. emut terus..! Adduuhh.., lebih keras lagi. Yaahh.., terus hisap itilku.., teruuss.. emut yang kuat sayang, yaahh begitu..!" jeritan dan rintihan kenikmatan Widya terdengar putus-putus, sementara aku terus menghisap sambil menarik-narik kuat kelentit itu masuk ke dalam mulutku.
Dan tiba-tiba suara desahan itu berhenti. Sama sekali tidak terdengar jeritan maupun rintihan Widya, yang ada hanya tubuhnya bergetar hebat, kelojotan yang membuat pantat dan pinggulnya bergoyang kesana kemari, namun pagutan dan hisapan mulutku pada kelentitnya tetap tidak kulepaskan, mau tidak mau kepalaku ikut bergerak mengikuti gerakan liar bongkahan pantatnya, padahal tanganku yang dari tadi meremas-remas bongkahan pantat milik Widya itu sudah berusaha menahan gerakan liarnya itu. Aku tetap bertekad mempertahankan posisi mulutku menghisap dan memagut daging kelentit Widya.
Semenit kemudian kelojotan tubuh Widya terhenti, yang kurasakan tubuhnya meregang hebat, kedua pahanya kejat-kejat menghimpit kuat kepalaku yang membuatku sangat sulit untuk bernafas, namun aku rela menahan nafas hanya untuk menanti apa yang terjadi pada saat-saat dimana Widya akan menjemput puncak kenikmatan sejatinya. Kembali Widya menjerit-jerit, "Aahh.., esshtt.. ituu..! Yahh.. ituu..! Aduuhh.. enakkhh.. enak banget..! Aahh.. esshhtt.. aduuhh.. ini sayangg..! Yaahh.., ini aku keluarin ya..? Oouuffsshhtt.. nikmatt sekalii.., yaahh..!"
Benar saja, beberapa detik setelah itu, terasa di lidahku semburan hangat cairan lendir itu keluar tertangkap di ujung lidahku, mengalir menerobos masuk ke dalam mulutku, terus menyerbu ke dalam kerongkonganku dan langsung kutelan. Benar seperti yang dikatakan Widya, lendir bening yang dikeluarkan lubang kemaluannya benar-benar sangat lezat, gurih dan ada sedikit rasa manis bercampur asin. Sungguh suatu sensasi yang baru pertama kali kualami dalam hidupku.
Entah mungkin ada 5 atau 6 kali mulutku menangkap semburan cairan lendir yang membanjir keluar dari lubang kemaluan Widya. Saking derasnya aliran lendir itu menyembur mulutku sampai tersedak. Dan semburan cairan itu semakin melemah sampai akhirnya berhenti sama sekali, hanya berupa tetesan-tetesan saja yang tentu tidak kulewati begitu saja. Jepitan kedua paha Widya di kepalaku terasa mengendur, hingga aku dapat mengambil nafas panjang. Kuhirup udara dalam-dalam karena ada lebih semenit aku menahan nafas sampai dadaku terasa sesak. Namun pengorbanan itu kuanggap sesuai dengan sensasi dasyat yang kudapatkan melalui hisapan dan jilatan mulut serta lidahku di setiap inchi pada lubang kemaluan Widya, hingga mimpiku bisa menjadi kenyataan untuk merasakan nimatnya, lezatnya, enaknya cairan lendir yang dikeluarkan liang vagina seorang wanita.
Detik berikutnya Widya merebahkan tubuhnya di atas tubuhku, dengan posisi pinggulnya masih menindih dadaku, punggungnya menindih batang kemaluanku tapi kepalanya di atas kakiku dan kedua kakinya menjuntai lurus melewati atas kepalaku. Sementara tubuhku bagian atas mulai dari dada hingga wajah basah oleh cairan lendir yang hangat, terasa melekat pada pori-pori di permukaan kulitku. Dada Widya terlihat naik turun beriringan dengan nafasnya yang naik turun sisa dari kenikmatan yang baru saja dicapainya.
Selang beberapa menit kemudian setelah nafasnya mulai teratur, Widya bangkit dari tubuhku, dan dapat kulihat dengan jelas raut wajahnya yang memerah, dengan rambut yang berantakan, namun justru menambah keseksiannya. Sambil tersenyum manis, dia berkata kepadaku, "Ouhh Pram.., aku benar-benar nggak menduga, kamu begitu lihai dengan permainan mulutmu, padahal kamu belum pernah selain dengan aku kan..? Apa kamu bohong ya..?" Aku menyahutnya dengan serius, "Lho kok nggak percaya Mbak..? Memang aku sudah pernah punya pacar 2 kali, tapi demi Tuhan, pacaranku sebatas ciuman thok..! Nggak lebih, swear Mbak..!" Widya tersenyum geli melihat kepolosanku, "Iya.. ya.. aku percaya..! Lagian seandainya kamu bohong pun, aku nggak keberatan kok, masa bodo..! Yang penting aku enak, habis mulut dan lidah kamu itu lho bikin aku terbang ke awang-awang, nggak tau deh kalau senjata kamu itu bisa bikin aku juga terbang melayang nggak.."
Widya menanggapi keseriusanku dengan kerlingan nakal matanya yang menggoda. Tetapi habis berkata begitu, tangannya meraih batang kemaluanku yang dari tadi berdenyut-denyut. Diusapkannya perlahan batang rudalku dengan jari-jarinya yang lembut. Aku berdebar menanti aksi Widya selanjutnya. Setelah puas mengurut dan meremas-remas kemaluanku, Widya memposisikan tubuhnya berjongkok di atas perutku. Aku masih menduga-duga apa yang akan dilakukannya. Sepertinya dia akan menyusupkan batang kemaluanku pada lubang vaginanya dengan posisi seperti itu. Dadaku semakin berdebar menanti saat-saat dimana aku akan merasakan pertama kali dalam hidupku bagaimana nikmatnya bersanggama dengan seorang wanita.
Seperti tahu akan perasaanku, Widya mencoba membuatku rileks, "Pram.., kok kamu tegang sih..? Santai saja, Mbak maklum kalau kamu tegang begitu, Mbak dulu juga seperti kamu, gelisah dan tegang, nih coba ya..? Kamu tutup mata kamu, tarik nafas dalam-dalam..!" kata-kata Widya terputus begitu ujung di kepala kemaluanku menyentuh sesuatu yang hangat, basah dan kenyal. Tapi aku tahu itu pasti bibir luar kemaluan Widya. Dengan telaten tangan Widya membimbing batang rudalku untuk mendapatkan posisi yang tepat agar jalan batang kemaluanku menembus liang kemaluannya bisa pas. Begitupun dengan pinggul Widya sedikit digoyangkan, agar posisi ujung kepala kemaluanku bisa tepat dalam jepitan bibir kemaluannya.
Aku memejamkan mata mengikuti nasehat Widya sambil merasakan geli bercampur ngilu. karena menikmati gesekan kulit kepala kemaluanku dengan bibir kemaluannya. Kuatur nafasku, dan, "Bleess..!" begitu Widya menurunkan pinggulnya, terasa batang kemaluanku perlahan menerobos masuk ke dalam lubang vaginanya. Ohh Tuhann..! terasa begitu lembut dan hangatnya bibir dan dinding kemaluan milik Widya ini mendekap sekujur batang kemaluanku. "Oouhh.. Mbaakk..!" hanya itu rintihan yang keluar dari mulutku mewakili berjuta kenikmatan yang baru kali ini kurasakan di umurku yang ke 20 tahun. "Oouuff.., gimana sayaangg.., heehh..? Enaakhh..? Aahh.. sstt.. aduuhh.. gilaa..! Punya kamu.., uuff.. adduhh.., benar kan dugaan Mbak tadi..? Oouugghh.. gila..! Punya kamu gede banget.. tau nggak sih..? Aasshhtt.. Menuh-menuhin bungkusnya, Edaann..! Uuff.. adduuhh.." rintihan Widya bersahutan dengan desahan nikmatku. "Yahh.., ya Mbakk..! Pantesan ya Mbak.., oouusshh.. pantesan kk.. kata orang making love itu.., aduuhh.. sshh.. nikmat sekali..!"
Perlahan Widya mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, sedangkan aku hanya bisa menggigit bibirku merasakan desiran nikmat yang baru kali ini kurasakan. Desiran nikmat itu bertambah seiring dengan semakin cepatnya gerakan naik turun pinggul Widya di pusat selangkanganku. Apalagi begitu gerakan pinggul Widya bukan hanya naik turun, tetapi disertai dengan berputar-putar yang membuat batang rudalku seperti dipelintir. Seluruh sekujur tubuhku bergetar, perasaanku terbang melayang menjemput nikmat yang teramat sangat. Sementara kedua tangannyameremas-remas kedua payudaranya sendiri, seolah ingin menambah rangsangan untuk dirinya sendiri.
Sekitar 5 menit kemudian, gerakan Widya seperti orang kesurupan. Dia mendesis panjang, matanya terbalik, "Praamm.., uugghh.. esshhtt.. akhh.. akkuu.. hampir.., yaahh.. yaahh.. yaahh.. Gilaa..! Enak bangett..! Oouuff.." Dan rintihan itu tiba-tiba terhenti, tubuh Widya mengejang, sesaat kemudian Widya menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, memeluk leherku kencang dan mulutnya melumat bibirku dengan buas. Akusendiri terkejut, entah apa yang dirasakannya. Yang kurasakan bibirku nyeri dilumat oleh bibirnya, dan entah dari mana tiba-tiba pangkal pahaku terasa basah tersembur cairan hangat yang mungkin dikeluarkan oleh vagina Widya.
"Edan kamu Pram..! Hehh.. ssthh.. uuff.., baru kali ini dalam satu babak Mbak kalah dua kali..! Ntar dulu ya..? Oohh.." Habis berkata begitu, Widya menciumi pipiku lembut dan mesra, sambil tangannya mengelus rambutku yang sudah acak-acakkan. Widya menatapku dengan matanya yang sayu, "Kayaknya aku kok mulai sayang kamu ya..? Wah gawat nih Mbak nggak ingin kehilangan kamu.." Widya melanjutkan perkataannya. Aku hanya menatap Widya dengan pandangan bingung, sementara rudalku masih tetap menancap dengan gagahnya di jepitan lubang kemaluan Widya yang sudah sangat becek itu.
"Mbak.., eengg.. Mbak akhh.. ak.. akuu.., ee..," belum tuntas ucapanku, Widya memotong, "Iya sayang, Mbak tau..! Kamu pingin dikeluarin kan..? Kerasa kok di memek mbak, kontol kamu berdenyut-denyut, hi.. hi.. kaciaann..!" Habis berkata demikian, Widya kembali menciumi wajahku, lalu menjalar ke arah leher, terus ke belakang telingaku. "Kasian kamu sayang..! Coba deh rasakan ini..?" Aku hanya bertanya dalam hati, apa maksud dari perkataan Widya baru saja. Namun kebingunganku hanya beberapa detik, karena terjawab oleh remasan otot-otot di kemaluan Widya yang meremas-remas sekujur batang rudalku.
"Oohh.., Mbakk.. uuffss.. Mbak..! Aduhh.. nikmatnya.." desahku tidak menentu. Kalau dibiarkan, bisa kacau nih, aku bisa keluar tanpa memberikan perlawanan yang berarti.Tanpa mengeluarkan kemaluanku pada vaginanya, tanpa di diduga oleh Widya, aku merubah posisiku, dimana sekarang aku yang di atas menindih tubuh Widya. Kulihat Widya sedikit terkejut, namun dia hanya tersenyum melihat ulahku. "Gantian ya Mbak..? Sekarang Mbak istirahat aja menikmati semuanya." Sambil berkata begitu, aku menaikkan kedua kaki Widya yang jenjang itu ke atas pundakku. "Adduuhh.., kok kamu tau sih posisi gini..? Posisi kayak gini Mbak paling suka lho..! Ayoo..! Kok diam saja..? Mbak 'emut' lagi lho kontol kamu sama memek Mbak, nih rasain..!" ancamnya. Benar saja, ancamannya betul-betul di buktikan, kembali kurasakan batang rudalku terasa diremas-remas dengan lembut oleh liang kemaluan Widya.
Memang aku kalah jauh pengalaman di bidang seks, namun dasar sifatku yang tidak mau kalah, aku mencoba mengimbangi permainan hisapan vagina Widya. Perlahan kumulai menggerakkan batang kemaluanku keluar masuk di jepitan bibir vagina Widya yang masih terus mengemut batang kemaluanku. Dari gerakan perlahan, aku mencoba menaikkan tempo, semakin cepat rudalku menggelosor maju mundur pada lubang kemaluan Widya. Semakin lama denyutan bibir kemaluan Widya terasa melemah, seiring desahan nafasnya semakin keras terdengar menebar nafsu birahi. "Iyyaa..! Terus..! Yaahh gituu..! Aduuhh Pramm..! Enak banget..! Terus tambah kenceng..!" Disela-sela rintihan Widya, aku mendengar kecipak air lendir di setiap hantaman batangkemaluanku yang merojok-rojok seisi relung-relung liang vagina Widya.
Posisi kaki Widya sekarang menjepit punggungku yang otomatis ikut naik turun seirama gerakan naik turunnya pinggulku. "Oouuhh.., Mbakk..! Aku baru merasakan enaknya ML ya Mbak..? Aduuhh.. enakk.. tenan Mbak..!" aku yang memang baru merasakan nimatnya bersetubuh dengan seorang wanita, benar-benarmerasakan nikmatnya surga duniawi ini. Detik demi detik tidak kulewatkan, kuresapi betul phenomena ini dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. "Pramm.., uuff.. sstt.. Pram.. oohh.., aduhh Gusti..! Adduuhh.. gawat..! Mbak mau.. uuffsshhtt.., Mbak mau keluarr.., yaahh.. teruss..! Dikit lagi.., yaahh.. yaahh.. eesshhtt.. esshh.. aahh..!" terlihat mata Widya membuka lebar, namun yang terlihat hanya putihnya saja, entah dimana pupil hitam di matanya itu, pelukannya tambah erat, dan jepitan kedua kakinya tambah kuat menjepit pinggulku yang semakin cepat menghantam selangkangannya.
Beberapa detik kemudian, kembali kemaluan Widya berdenyut-denyut yang menandakan dia kembali meraih orgasmenya yang ketiga kali. Sedang aku entah dikarenakan denyutan liang kemaluan Widya atau apa, sesaat lagi seperti akan memuntahkan semua isi dari batang rudalku. Benar saja, kenikmatan yang kurasakan itu seperti merambat naik ke puncak dan terpusat pada batang kemaluanku. "Ooouuhh.., Mbak.., adduuhh.. Mbaakk..! Yaahh.. oouuhh Godd..!" terasa ada aliran pada batang rudalku menuju ujung di kepala kemaluanku, dan, "Sreett.. serr.. sseerr.." entah berapa kali air maniku menyembur dari pucuk kemaluanku menyerbu masuk dan membasahi setiap relung pada dinding kemaluan di seantero lubang kemaluan Widya.
Beberapa menit kemudian, "Mbaakk.., hilang deh perjakaku diambil Mbak Widya..!" aku pura-pura merengek di depannya, sementara batang kemaluanku masih menancap pada lubang vagina Widya. "Iya deh maaf yaa..? Kamu menyesal..?" Widya menyahut sambil mengecup pipiku dengan perasaan sayang. Aku hanya menggeleng, lalu disambungnya lagi, "Pram, Mbak serius lho, kayaknya Mbak ada perasaan sayang deh sama kamu. Kepolosan dan kejujuran kamu itu yang membuat Mbak suka kamu. Tadinya Mbak hanya mau membalas perlakuan pacar Mbak itu, tapi kok rasanya malah memang Mbak sayang kamu. Lagian kejantanan kamu jauh di atas dia, Mbak sampai kepayahan menahan gempuran kamu. Kamu tau kan Mbak tadi orgasme sampai tiga kali..?"
Aku mengangguk, "Iya Mbak, aku tahu, Mbak tadi keluarin lendir tiga kali, pertama pakai mulutku, yang kedua dan ketiga pakai si 'Adek'..!" Aku mengibaratkan batang rudalku dengan sebutan 'Adek'. Mbak Widya tersenyum mendengar perkataanku tadi, "Hemm.., boleh juga tuh, nama kesayangan kontol kamu 'Adek' aja ya..? Iya nih, si 'Adek' bikin Mbak dehidrasi, kekurangan cairan tubuh..!" Terasa batang rudalku berangsur lemas, dan tidak lama kemudian tercabut dengan sendirinya dari segala kehangatan dan kebasahan pada liang surga milik Mbak Widya ini. Kulihat cairan maniku tumpah kembali keluar bercampur dengan lendir milik Mbak Widya. Sekonyong-konyong Mbak Widya menempelkan telapak tangan kanannya di mulut kemaluannya sendiri.
Aku terbengong menyaksikan ulahnya, "Mau ngapain nih orang..?" batinku. Seperti mengetahui akan kebingunganku, Widya hanya tersenyum, lalu dia berkata, "Pram, mani seorang perjaka konon rasanya sangat lezat, makanya Mbak ingin mencicipi mani kamu. Toh tadi kamu juga udah ngerasain cairan lendirku kan..? Apa salahnya kalau Mbak juga ingin merasakan dan mencicipi sperma kamu..?" Setelah dirasa cukup, Widya menarik tangannya yang tadi menutupi selangkangannya, terlihat di telapak tangannya penuh dengan cairan spermaku. Tanpa ragu-ragu cairan sperma di telapak tangannya dibawa ke depan mulutnya dan langsung direguk perlahan, sambil dikecap terlebih dahulu dengan matanya sedikit terpejam, seolah Widya sedang menikmati sebuah minuman terlezat yang pernah dirasakannya.
Diseruput sedikit demi sedikit sampai akhirnya cairan sperma itu habis. Seperti tidak puas, telapak tangannya dijilat seolah tidak rela ada sisa spermaku yang tertinggal di telapak tangannya. Aku tertegun dan meringis dengan semua ulah Widya, "Nggak jijik toh Mbak..? Apa sih rasanya, kayaknya kok sampai segitunya..?" Widya langsung menyahut ucapanku, "Lho kamu sendiri tadi apa nggak jijik menghisap habis lendir Mbak..? Hayo..? Air mani kamu bener-bener lezat, gurih nggak seperti air mani pacar Mbak, bau..! Kalau lagi berkencan dengan dia terus sperma dia keluar, Mbak sampai muntah. Gimana ya..? Sperma kamu bener-bener putih dan bersih, Mbak suka banget dengan sperma kamu, bikin Mbak ketagihan deh kayaknya." Kemudian kami membersihkan diri dan kulihat jam sudah menunjukkan pukul 05:00 dini hari. Sambil berpelukan, kami pun terlelap bersama.
Demikianlah, setelah itu kami masih sering mengulangi perbuatan itu pada beberapa kesempatan, sampai akhirnya Widya kembali ke pacarnya yang dulu dan kudengar mereka akhirnya menikah. Kalau diingat kembali, aku hanya tersenyum sendiri dengan pengalaman pertamaku bersetubuh dengan seorang wanita. Ya, dengan Widya lah pertama kali kurasakan nikmatnya tubuh wanita dan yang merenggut keperjakaanku.
Tamat
|
| Gara-gara Motor Posted: 07 Dec 2007 11:46 PM CST Sebut saja saya Andi.., sekarang saya sudah 25 tahun dan bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Saya sudah mempunyai seorang kekasih yang cantik dan baik. Sebut saja Rini, Dia adalah salah satu teman sekelasku waktu aku SMU, setelah lulus SMU, tiga tahun kami tidak bertemu hingga akhirnya aku mendapatkan momor HP-nya dari salah satu temannya yang kebetulan aku bertemu dengannya di Mall.
Pertama kali bertemu, dia langsung menunjukkan sikap yang bersahabat dan cepat akrab (padahal waktu SMU menegur pun tidak), aku termasuk tipikal yang pendiam, begitu juga dia. Wajar saja kalau SMU dulu kami cuma bertegur sapa dengan sekedar mengangkat alis. Namun saat berjumpa dengannya kembali setelah aku sempat berbicara dengannya melalui HP, membuyarkan bayanganku akan dirinya ketika masih SMU. Dia semakin cantik dan banyak bicara alias bawel.
Singkat cerita aku beranikan diri untuk mengungkapkan rasa cintaku dan ternyata diterima.., dan aku dapat mencumbunya ketika hubungan kami sudah berjalan empat minggu! Hubunganku dengan keluarganya pun lancar-lancar aja, ayah dan ibunya begitu menyenangkan namun tidak mau dibilang gaul. Pacarku punya satu orang kakak perempuan yang sudah berumur 27 tahun bernama Rita (samaran) dan Riri (samaran) adik perempuannya berusia 18 tahun. Kakaknya bekerja sebagai pramuniaga di salah satu supermarket di Jakarta, belum menikah tapi sudah punya pacar serta adiknya masih kelas tiga SMU.
Aku mencintai pacarku dan mengaguminya namun harus aku akui bahwa kakak dan adik dari pacarku ini mempunyai nilai lebih dari segi fisik dibandingkan pacarku. Dalam kamus berpacaranku tidak ada malam minggu karena kapanpun aku kangen aku bisa ke rumahnya. Hingga suatu saat dimalam sabtu ketika aku selesai ngapel dirumahnya, aku tidak bisa pulang sebab sepeda motor milikku satu-satunya tali gasnya putus saat mau dipinjam oleh ayah pacarku.
Karena sudah jam 11 malam, tidak mungkin ada bengkel motor yang masih buka sedangkan aku cuma bisa mengendarai saja tidak bisa servis, akhirnya aku menginap dan tidur di ruang tamu. Sebelum tidur aku sempat dimanja oleh kekasihku Rini, kami sempat bercumbu cukup lama, karena merasa semua sudah tertidur lelap (waktu itu jam 24.00), aku mencium seluruh wajahnya hingga kulumat habis bibirnya.
Aku adalah orang pertama yang dapat mencium dan menyentuhnya, hingga aku dapat merasakan bahwa dia tidak dapat mengontrol dirinya ketika aku cium maupun aku sentuh. Rini langsung menjambak rambutku dan mendesah agak keras ketika tanganku meremas payudaranya. Aku semakin berani membuka semua bajunya dan juga melepas bra-nya hingga aku dapat menghisap kedua puting susunya. Hingga ketika aku turunkan celana tidurnya dan dia diam saja aku semakin berani dan menjadi-jadi.
Namun rupanya dia akhirnya mencegah perbuatanku lebih jauh ketika CD nya sudah kulepas dan aku sedang menyentuh vaginanya dia langsung tersentak dan berkata bahwa ini belum saatnya. Akupun mengerti dan merapikan kembali pakaianku begitu juga dia. Namun ketika aku terjaga dari tidur aku agak kaget karena ada seseorang yang sedang tidur persis dibawah sofa tempat aku tidur. Karena lampu dimatikan aku tidak jelas mengenali siapa yang tidur tersebut. Karena masih sangat ngantuk aku tidak peduli siapakah yang tidur tersebut.
Hingga ketika aku tertidur dan kembali terjaga, tanganku tidak sengaja jatuh ke bawah dan menyentuh gundukan payudara yang pastinya bukan punya Rini pacarku. Aku pun akhirnya tahu bahwa yang tidur itu adalah Riri adik Rini. Fantasiku melayang untuk mencoba merasakan paling tidak dapat menyentuh tubuh seksi ABG. Riri memiliki tinggi badan 175 cm, dengan lekuk tubuh dan ukuran payudara yang menurutku sangat sempurna.
Namun niat itu sempat aku urungkan mengingat dia adalah adik dari pacarku yang sangat aku cintai. Namun ternyata setan yang membisikiku lebih kuat dari imanku. Aku tidak mengerti mengapa dia sampai bisa tidur di ruang tamu dan di bawah sofaku pula. Aku berfikir mungkin biasanya dia memang tidur di sini kalau sedang tidak ingin tidur di kamarnya. Karena Rini pernah cerita kalau dia sedang tidak ingin tidur di kamarnya dia bisa tidur di mana saja, dan paling sering tidur di kamar kakaknya atau adiknya, begitu juga kakak dan adiknya sering tidur di mana saja.
Kembali ke urusan "arus bawah" yang tidak bisa kompromi lagi karena ternyata si Riri tidak menggunakan bra. Riri menggunakan daster dengan tali di kedua bahunya. Aku turunkan tanganku pelan-pelan supaya tidak membangunkan dia. Dari atas baju dasternya aku remas payudaranya, aku pelintir puting susunya, lalu aku pura-pura tidur karena dia bergerak.
Ternyata dia hanya pindah posisi tidur kali ini kakinya agak naik ke atas hingga bawahan dari dasternya turun sampai ke pangkal paha. Perhatianku teralihkan kebawah, gundukan bukit kecil didepan mataku itu benar-benar membakar gairahku sementara tangan kiriku mencoba melepas salah satu tali dasternya sementara tangan kananku mengusap-usap bagian atas celana dalamnya yang sudah terlihat semua.
Tali daster sebelah kanan berhasil aku lepas, dan akhirnya akupun berhasil menggeser bagian tengah celana dalamnya hingga terpampang vagina yang agak gelap karena lampu masih mati. Tangan kiriku menyusup dari bagian atas dasternya hingga aku dapat mempermainkan puting susunya dengan bebas, setan mana yang sudah merasuki aku hingga jari tengahku aku masukkan ke dalam vagina Riri.
Riri terbangun, aku tersentak kaget. Dia juga tampak kaget, namun aku coba kuasai keadaan, aku berpura-pura bertanya kepadanya..
"Ri, kamu kok tidur di sini?, Bang Andi mau bangunin kamu suruh pindah ke kamar kamu eh malah kamu bangun duluan jadi kaget Bang Andi", aku coba meyakinkannya.
Dengan dada berdegup kencang aku coba menanti apa yang akan diucapkan olehnya.
"Di kamar Riri gerah Bang, kipas anginnya rusak, dikamar kakak gak ada kipas anginnya abis Kak Rita ama Kak Rini kan alergi dingin, ya udah Riri tidur di sini, ganggu Bang andi ya?" Riri balik tanya padaku. "Ah nggak, ya udah tidur aja lagi" jawabku. Padahal dalam hatiku aku berkata, "Kamu pasti akan 'mengganggu' siapa saja lelaki yang melihat kamu tidur seperti itu".
Aku menyuruh Riri tidur di atas sofa dan biar aku yang dibawah, dan dia pun menurut. Aku sedikit tenang dan berharap dia tidak menyadari apa yang baru aku lakukan terhadapnya dan aku berharap hari cepat pagi, agar pikiranku tidak terganggu oleh Riri.
Ketika itu jam menunjukkan pukul 02.30 pagi dan ketika aku baru akan tidur tiba-tiba aku terkejut oleh pertanyaan Riri yang sambil berbisik kepadaku, "Bang Andi tadi megang (maaf) memek Riri ya?".
"Ah.. Ng.. Ng.. Gak kok" jawabku gugup. "Yang benar Bang Andi, soalnya tadi pas bangun Riri ngerasa ada yang enak di (sekali lagi maaf) memek Riri juga sedikit sakit, pasti abis dipegang Bang Andi" Tanyanya lagi. "Kamu kok ngawur Ri, udah tidur sana" aku coba kuasai diri. "Bang Andi, Riri nggak bilang deh sama siapa-siapa tapi Riri pengen liat dan pegang (maaf) kontolnya Bang Andi, biar impas" Seloroh Riri.
Aku kaget dan tidak tahu harus bagaimana namun yang pasti kontan saja "burungku" berdiri dengan tegaknya seperti mendengar ada yang memanggilnya. Riri terus bicara dan bercerita bahwa tiga teman akrabnya disekolah semuanya sudah pernah lihat dan pegang "burung" pacarnya, sedangkan Riri tidak punya pacar. Setelah Riri sedikit memaksa setelah aku sempat menolaknya, akhirnya aku keluarkan "saudara kembarku" di hadapan adik pacarku! Kami berbicara sambil bisik-bisik karena takut ada yang terbangun, Riri dengan kagum memperhatikan dan menggenggam "Si Otong", Riri menyebutnya.
"Otongnya gede banget Bang", bisik Riri.
Aku tersanjung dengan perkataannya, Riri kembali bertanya, "segede gini emangnya bisa masuk ke memek Riri".
Aku tersenyum dengan perkataan itu dan aku menjawab diplomatis sambil menahan pusing karena si otong tersebut terus di usap-usap oleh Riri.
"Coba aja diukur dari luar, maksud Bang Andi coba ditempelin di memek Riri kira-kira masuk gak?", pintaku sambil berbisik, ternyata dia meresponnya lalu dia membuka CD-nya dan minta aku berjanji hanya menempelkannya.
Ketika aku tempelkan burungku ke vaginanya aku terus usap kepala burungku persis di klitorisnya hingga di mendesis nikmat. Aku beranikan diri untuk melepas tali dasternya dan menjilati puting susunya, pada saat itu aku tidak meminta izin lagi kepada Riri namun tampaknya dia menikmatinya hingga tanpa aku sadari burungku kutancapkan sekerasnya ke dalam Vagina Riri hingga Riri hampir berteriak namun aku coba menutup mulutnya.
Riri kesakitan, akupun sempat bingung dan takut, namun karena sudah terjadi aku harus selesaikan semuanya, sambil aku tutup mulutnya karena ia masih ingin berteriak, aku goyangkan pinggulku kedepan dan belakang berulang kali (posisiku setengah berdiri di atas sofa dan Riri tidur di atas sofa).
Setelah yakin Riri tidak merasakan sakit lagi aku lepas tanganku dari mulutnya dan aku goyangkan sekuatnya pinggangku hingga nafasku dan Riri tersengal-sengal dan.. Akhirnya tanpa dapat dikontrol spermaku tersembur di dalam vagina Riri. Ketika aku cabut "punyaku" terlihat bahwa "si otong" telah berlumuran darah, darah perawan Riri.
Sesaat aku setelah itu Riri berbisik, "Enak Bang Andi".
Namun aku langsung suruh ia berpakaian karena takut ada yang melihat. Aku dan Riri bersepakat untuk merahasiakan ini, karena kami sama-sama mencintai seseorang yang juga telah kami lukai hatinya jika sampai ia tahu apa yang telah kami lakukan. Orang itu adalah Rini kekasihku.
Perlu pembaca ketahui sesungguhnya Kini aku benar-benar jatuh cinta pada Riri, namun aku tak ingin mengecewakan Rini. Dan aku pernah mengungkapkan ini kepada Riri, namun ia bilang bahwa dia tidak menginginkan cintaku, walaupun dia telah menyerahkan kehormatanya kepadaku, dia berkata bahwa kebahagiaan kakaknya lebih berarti baginya.
Namun semakin lama aku tak bisa membohongi diri bahwa aku tidak memiliki rasa cinta kepada Rini. Setiap ada kesempatan di rumahnya entah itu dengan alasan menunggu Rini dan lain hal, aku dan Riri selalu menyempatkan diri untuk bercumbu atau bahkan bercinta sekalian. Dan itu tetap menjadi rahasia kami sampai saat ini.
Tamat
|
| Gita Tidak Takut Posted: 07 Dec 2007 11:42 PM CST Di hari pertamaku masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tidak ada yang aku kenal satupun, sehingga aku seperti orang nyasar, bingung celingak-celinguk kesana kemari. Sewaktu sedang bingung-bingungnya tiba-tiba ada cewek yang menegurku, "Eh, tau kelas MI1-3 nggak?". Eeiittss.., ternyata aku juga cari kelas itu.., lalu aku jawab, "mm.., saya juga tidak tahu, mendingan cari sama-sama yuk". "Saya Gita" dia sebut namanya duluan. "Aku Iwan", aku sebut namaku juga, di situlah aku mulai punya teman bernama Gita. Cewek manis ini mempunyai kulit kuning langsat, nyaris tanpa cacat, tinggi badan kira-kira 166 cm, dengan berat 49 Kg. Tapi yang bikin aku tidak bosan melihatnya adalah dadanya yang menantang, cukup besar untuk ukurannya, tapi tidak terlalu besar sekali. Begitu pula dengan pantatnya, aku paling suka jika dia memakai jeans ketat, dengan kaos oblong warna putih. Kadang jika ia bercanda, ngomongnya nyerempet-nyerempet porno terus, walaupun sekali-sekali saja.
Tiga bulan sudah lamanya aku dekat dengannya, jalan kemanapun selalu bersama, walaupun dia belum resmi jadi pacarku, tetapi aku dan dia selalu berdua kemanapun. Sampai akhirnya aku dan dia pergi jalan-jalan ke daerah Dieng, salah satu daerah dingin di Jawa Tengah, niatnya cuma jalan-jalan saja, tidak menginap. Entah kenapa hari ini dia mengajakku bercanda yang berbau porno terus, dari pagi hingga siang hari. Sampai akhirnya ia bertanya begini, "Wan, kalau kamu punya istri suka yang buah dadanya besar atau sedeng-sedeng saja?". Lalu aku jawab "Mm.., yang kayak apa ya?, kayaknya aku suka yang seperti punya kamu itu lho". "Lho emang kamu pernah liat punyaku?", tanya dia. Aku bilang "Gimana mau liat, orang kamunya ajah nggak pernah kasih kesempatan.., heheheh". Dia tanya lagi sambil bercanda, "Kalo aku kasih kesempatan gimana?". Aku jawab, "Yaa.., nggak aku sia-sia'in". "Emang berani?", tantang Gita. "Siapa takut..", jawabku tidak mau kalah. "Kalo gitu bukti'in!", kata Gita. "Oke.., kita cari losmen sekarang.., gimana?", tantangku gantian. "Siapa takut..", jawabnya tidak mau kalah juga.
Jujur saja aku masih berfikir bahwa ini cuma bercanda saja, sampai tiba-tiba di depan sebuah losmen, dia berkata, "Wan, disini ajah.., kayaknya losmennya bagus tuh". "Deg!!", jantungku terasa berhenti. Dengan ragu-ragu kuarahkan mobilku masuk ke halaman losmen tersebut. Aku masih diam dan setengah tidak percaya. Terus dia berkata, "Kamu angkat tas-tas kita, aku yang check in.., OK?". Seperti babu kepada majikannya, aku ikuti kata-katanya dan mengikuti langkahnya masuk ke losmen.
Masuk ke kamar losmen langsung kita tutup dan kunci pintunya, aku masih terdiam terus duduk di atas kasur sampai dia berkata, "OK, sekarang aku kasih kamu kesempatan liat dadaku, tapi jangan macem-macem yaa?". Tiba-tiba saja Gita menarik kaosnya ke atas, dan langsung melemparkan ke atas tempat tidur. Lalu dia terdiam sambil menatapku yang juga terdiam, walaupun sebenarnya aku sedang terpana. Beberapa saat dia arahkan tangan kanannya ke pundak kirinya, digesernya tali BH-nya jatuh ke lengan. lalu gantian tangan kirinya ke pundak kanan melakukan hal yang sama.
Lalu tangan kanannya diarahkan ke punggung, tetapi tangan kirinya masih memegangi BH bagian depannya. Oh God.., Nafasku terasa berhenti di tenggorokanku.., BH-nya telah terlepas, tetapi masih ditahan bagian depannya oleh tangan kirinya. Gita terus memandangiku. Gita menggigit bibir bagian bawahnya. Tiba-tiba ia berkata, "Aku nggak akan lepas ini, jika kamu nggak buka pakaianmu semuanya" Aku ragu-ragu.., tetapi nafasku sudah tidak bisa diatur lagi.., aku buka kaosku.., aku buka jeansku.., lalu aku berhenti, tinggal celana dalam yang aku kenakan.., gantian aku yang menantang, "Aku nggak akan buka ini, jika kamu nggak lepas itu sekarang" Gita diam sejenak lalu dia turunkan perlahan tangan kirinya dan akhirnya terlihat jelas buah dadanya yang kuning langsat dan benar-benar menantang. Belum sempat aku rampung menikmati pemandangan ini, tiba-tiba ia melompat ke arahku dan mendorongku telentang di kasur, dengan cepat dia mencium bibirku. Aku yang masih kaget akan serangan mendadak ini tidak menyia-nyiakannya, kami saling berciuman, saling melumat bibir, "uugghh.., oohh..", hanya kata itu yang Gita keluarkan.
Tiba-tiba saja di berdiri, dalam 5 detik celana jeansnya sudah terlepas. Kami sama-sama hanya memakai celana dalam saja, saling pandang tetapi itu hanya berlangsung 6 detik, dengan cepat ia menarik celana dalamku kebawah dan melepasnya. Gita tersenyum dan sedikit tertawa, aku tak tahu dia senang melihat punyaku atau menertawai punyaku? Akupun tidak mau kalah, kutarik perlahan-lahan celana dalamnya sedikit demi sedikit, ternyata Gita sudah tidak sabar lalu dia tarik sendiri celana dalamnya dan melemparnya ke belakang, belum sempat celana dalamnya menyentuh lantai bibirnya sudah melumat bibirku, "oohh..", kami sekarang benar-benar telanjang bulat. Gita mulai mencium leherku tapi itu tidak lama karena aku keburu membalik badanku. Sekarang gantian ia yang telentang di kasur. Pemandangan yang indah sekali tetapi kali ini aku tidak mau lama-lama memandang, langsung aku berada diatasnya, kedua tangannya sudah kupegang dan tahan di samping kiri-kanan kepalanya. Aku ciumi lehernya, bibir, leher lagi. "Hhmmhh.., uugghh.., sstt", cuma itu yang dia katakan.
Ciumanku sudah 'bosan' di leher. Aku mulai turun. Melihat gerakanku itu, tiba-tiba dia mengangkat dadanya. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku langsung ciumi buah dadanya sebelah kiri, sedang tangan kananku mengelus-elus buah dadanya yang kanan. Kali ini tangan kirinya sudah memegang kepalaku. "sstt.., hh.., sstt..", mulutnya berdesis seperti ular. Dia menarik rambutku dan kepalaku dan mengarahkan kepalaku ke buah dadanya sebelah kanan. Dengan sekuat tenaga ia tekan kepalaku ke dadanya. "Gigit.., gigit.., Wan.., sst". Lalu dengan gigiku aku mulai mengigit-gigit sedikit puting susunya, kiri-kanan, kiri-kanan selalu bergantian dan adil. Sementara dari mulut Gita terus keluar kata, "Teruuss.., teruuss.., yang keras.., aahh.., gigit Wan.., gghh.., sstt". Sementara punyaku sudah tegang keras. Kepalaku mulai turun lagi tetapi tiba-tiba ia berteriak kecil, "Wan.., Iwan.., uugghh.., sekarang ajjaah.., masuk'iin.., nggak usah pake mulut lagi.., masukin sekaraanng.., plizz..".
Aku langsung di dorongnya. Sekarang ganti posisi, aku yang telentang dan Gita berada di atasku. Selangkangannya mencari-cari posisi, walau aku tahu pasti yang dia cari adalah punyaku. Begitu posisinya tepat, Gita mendorongnya dengan kuat. "uugghh..", sedang aku sedikit berteriak, "aahh". Punyaku sudah terbenam di dalam selangkangannya. Gita terus menggerak-gerakan pinggulnya ke atas, ke bawah, kiri-kanan, naik-turun segala arah gerakan ia lakukan. Matanya terpejam, bibirnya digigit seperti menahan sesuatu, sering dari mulutnya keluar kata-kata, "oohh.., sshhtt.., uugghh.., sshhss.., sshhiitt.., aacchh.., oouuhh..", nafasnya tidak lagi teratur. Kedua tangannya meremas-remas buah dadanya sendiri, kepalanya sering menengadah ke atas, "uugghh.., oohh.., sshhsstt". Sedangkan aku hanya sanggup meremas sprei di kiri dan kananku dengan kedua tanganku. Gigi atas dan gigi bawahku sudah saling menekan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku hanya suara nafasku saja yang terdengar. Kali ini aku yang mengambil alih "kekuasannya" gantian kudorong tapi dia malah tengkurap, melihat pantatnya yang putih mulus. Aku jadi tambah bernafsu untuk segera memasukkan punyaku ke punyanya. Aku angkat pinggulnya dan Gitapun mengangkat badannya dengan kedua tangan dan kakinya. Sekarang posisinya seperti mau merangkak. Langsung tanpa tunggu waktu lagi aku mencoba memasukan "adikku" ke lubang vaginanya. "Mmaasuukkiinn.., ceeppeett..", Gita memohon kepadaku tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya punyaku sudah masuk ke vaginanya. "oohh..", dari mulutku keluar kata tersebut. Dengan semangat aku mulai mendorong ke depan, menarik, mendorong, menarik terus menerus seiring dengan gerakanku. Gerakannyapun berlawanan dengan gerakanku, setiap aku mendorong ke depan ia mendorong pantatnya ke arahku diiringi desahan dan leguhan dari mulutnya. "uugghh.., aahh.., Sshshhss.., oohh.., uugghh..". Tiba-tiba ia berteriak, "Iwaann.., sshh.., oohh", aku merasakan sesuatu keluar dari dalam lubang kemaluannya tapi, "oohh.., oohh.., aacchh.., Gitt.., aakku..". Akupun merasakan kenikmatan yang tiada bandingannya seiring dengan keluarnya cairan dari dalam punyaku. "oohh.., uugghh", banyak sekali cairanku keluar. "Terus Wan.., keluarin semuanya..", pinta Gita.
Tubuhku terasa sudah tidak kuat lagi berdiri. Aku langsung telentang di kasur, sedangkan Gita langsung memelukku dan menaruh kepalanya di dadaku. "Gita sayang sama Iwan", hanya itu yang keluar dari mulutnya, lalu matanya terpejam sambil terus memelukku. "Iwan juga sayang sama Gita", kataku. Akhirnya sejak itu aku dan Gita resmi pacaran.
Tamat
|
| Hadiah Ulang Tahun Posted: 07 Dec 2007 11:42 PM CST Pada suatu hari, Juma't sore tepatnya, ketika aku sedang mengemudi menuju rumah sepulang dari kantor, aku seperti kehilangan sesuatu. Gimana nggak? Hari ini sebenarnya ulang tahunku dan aku ingin week-end di Puncak sama pacarku, Sarah, tapi apa boleh buat, si do'i lagi pergi ke Singapura mengantarkan Omanya berobat. Kalau dia lagi di sini, aku yakin dia pasti kasih aku hadiah yang tak terlupakan.. vaginanya!
Tengah-tengahnya aku melamun, kebetulan aku lagi kejebak macet di daerah Blok M, aku di klakson sama mobil merah di belakang mobilku. Kulihat di kaca spion, Starlet merah ini berusaha banget melewatiku, yang nyetir perempuan pakai kacamata Rayban. Dasarnya macet, bagaimana caranya kasih dia jalan, terus iseng-iseng kuperhatikan lewat kaca spion, ternyata perempuan itu cakep juga. Waktu ada kesempatan akhirnya aku kasih dia lewat, eh ternyata bukannya melewatiku malah dia membarengiku, terus dia buka kaca jendelanya dan dia meneriaki aku supaya mengikuti dia. Dengan tanda tanya, aku ikuti saja itu cewek, kepingin tahu apa maunya tuh cewek. Dia menuju ke daerah Pondok Indah, setelah beberapa kali melewati perempatan, akhirnya dia memasukan mobilnya ke dalam garasi sebuah rumah besar dan memberi kode ke aku supaya parkir mobilku di garasi itu juga.
Sambil ragu-ragu, aku turun dari mobil dan dia bilang, "Ayo, masuk!" Sambil jalan ke pintu ruang tamu, kuperhatikan tuh cewek, perawakan nggak terlalu tinggi tapi dari lekuk kaosnya, aku tahu kalau dia punya payudara yang cukup besar, pantatnya nggak terlalu besar tapi bentuknya bagus, terus betisnya jenjang dan putih mulus. Akhirnya dia membuka kacamatanya, dan aku terpana melihat matanya yang berbinar-binar "menjanjikan" demikian juga bibirnya, lehernya yang indah tertutup rambutnya yang sebahu.
Setelah dia menutup pintu, tiba-tiba dia memelukku dan kasih aku ciuman yang hot, lidahnya terasa masuk ke mulutku dan memainkan lidahku. Dadaku pun terasa bertumbukan dengan dua payudara yang kenyal, mau nggak mau penisku berdiri juga akhirnya. Sambil menciumiku, tangannya membuka retsleting celanaku dan dia masukan tangannya ke celanaku, nggak berapa lama penisku sudah di remas-remas tangan yang halus itu. Aku juga nggak mau kalah agresif, aku buka kaitan BH di punggungnya dan tanganku mulai meremas-remas payudaranya. Kurang lebih 10 menit kita main-main, dia melepaskan ciumannya dan menarikku ke sebuah kamar tidur. Dengan setengah bingung, aku tanya dia, "Sebenernya kamu siapa sih?" Eh, si dia malah kasih kode supaya aku nggak banyak suara.
Di dalam kamar tidur, dia nanya aku, "Andre, kita mandi dulu yuk, aku kepanasan nih!" Terus sambil mengecup dan menciumku, dia mulai melepaskan kancing-kancing hem-ku dan aku juga nggak mau kalah, aku bukakan kaos dan BH-nya. Ternyata aku nggak salah, payudaranya benar-benar bagus, berdiri tegak dan putingnya berwarna coklat muda. Membuat aku jadi lupa daratan dan langsung saja kuremas dan kuhisap putingnya, dia menggelinjang-gelinjang keenakan. Akhirnya dia berhasil membuka hem-ku dan terus membukakan celanaku, sepatu dan kaos kakiku akhirnya juga dilepaskan. Setelah itu, kubuka rok mininya dan kupeloroti celana dalamnya. Aku lihat bibir vaginanya yang menonjol ditutupi oleh bulu kemaluan yang masih tipis. Sesudah itu dia juga meloroti celana dalamku, dan sekarang dia lihat penis 16 cm punyaku yang sudah tegang. "Ndre, aku harus ngerasain penis lu nih!" sambil ngomong gitu dia narik aku ke kamar mandi.
Di kamar mandi, waktu menyabuni badanku, dia juga nggak lupa meremas-remas penisku dan makin membuatku bernafsu. Waktu giliranku, aku sabuni itu payudaranya sambil kuremas-remas sedikit, sudah itu kucium dan peluk dia sambil kusabuni punggungnya dan yang terakhir kuelus-elus bibir vaginanya pakai sabun dan dia mulai merintih-rintih karena birahinya mulai naik. Akhirnya dia menyalakan shower dan kita membilas badan pakai air yang sejuk itu. Sesudah itu dia pingin mengeringi badannya pakai handuk, tapi aku sudah nggak sabar dan langsung saja dia kugendong ke tempat tidur dan dia nggak menolak malah mencium dan memelukku erat-erat, soalnya dia juga takut jatuh.
Kubaringkan dia di ranjang dan aku mulai menciumi bibir dan lehernya, aku juga nggak lupa meremas-remas payudaranya yang mulai tegang. Sesudah itu, aku turun buat menciumi payudara dan belahan dadanya, sementara itu jari manisku masuk ke vaginanya dan mulai memainkan clitorisnya, dia cuma bisa mendesah-desah dan menggelinjang nikmat. Setelah beberapa saat, dia bilang ke aku supaya bikin posisi 69. Sekarang dia menggenggam penisku dan mulai menjilatinya, setelah itu penisku mulai dikulum dan dihisap, gerakan lidah dan mulutnya benar-benar merangsang birahiku. Aku juga nggak mau ketinggalan, aku renggangin pahanya dan sekarang kulihat bibir vaginanya yang menantang itu. Mulanya aku cuma menjilati dan mengecup bibir bawahnya itu, tetapi lama-lama kubuka vaginanya pakai jari-jari tangan kiriku dan aku lihat bibir vaginanya yang dalam berwarna merah muda, dengan nggak sabar kukecup dan hisap bagian itu dan akibatnya dia menggelinjang dengan gerakan-gerakan yang sensual tapi nggak ada suara yang keluar karena penisku masih ada dalam mulutnya. Sambil terus kukecup dan jilatin vaginanya, aku masukan jari tengahku ke vaginanya buat merangsang clitorisnya, dan aku merasakan liang vaginanya hangat dan mulai basah. Akhirnya jariku menemui clitorisnya dan aku elus-elus, nafsu birahinya makin terangsang sampai-sampai dia menggerakkan pantatnya naik turun dan melepaskan penisku dari mulutnya dan mulai aku denger rintihan penuh birahi dari mulutnya, tapi aku masih cuek dan tetap mainin vaginanya pakai jari dan lidahku. Gerakan pinggulnya makin nggak karuan dan aku juga ngerasain liang vaginanya makin basah.
Akhirnya dia nggak tahan, dan setengah memohon dia bilang, " Ndre, entot aku.. Please!" dan kuputar badanku. Dia benar-benar sudah nggak sabar, selangkangannya sudah terbuka dan memperlihatkan vaginanya yang makin bengkak, sesudah itu kumasukan kepala penisku ke bibir vaginanya, kira-kira cuma 5 cm dari penisku yang masuk. Sementara itu tanganku mulai meremas-remas payudaranya yang makin keras dan aku juga mulai mengisap putingnya yang coklat muda, sesudah itu kugoyang maju mundur penisku dan sengaja nggak kumasukan semuanya. Rupanya dia makin penasaran dan dia bilang, "Ndre, masukin yang dalem dong.. aku pingin ngerasain penis lu di vaginaku." Dan aku jawab, "Ada syaratnya say, pertama nama lu siapa? sudah itu umur lu berapa?" Terus saja dia jawab, "Nama gue Shalny, umur gue 21, kalau lu pingin tahu yang lain lu entot gue dulu deh!" Akhirnya kumasukan penisku dalam, ufh ternyata vaginanya luar biasa, Terus saja kugoyang maju mundur. Pertama kugoyang pelan-pelan, eh si Shalny minta lebih cepat lagi, "Ndre, terus.. teken lebih keras lagi.. ughh, terus Ndre.. teruss, eghh", sudah begitu si Shalny menggerakan pantatnya naik turun seirama dengan goyanganku, akibatnya aku dan dia merasakan nikmat yang luar biasa.
Setelah beberapa lama, kulepaskan penisku dari vaginanya dan kusuruh si Shalny, "Shal, sekarang lu diatas!" Dia menuruti perintahku, terus dia jongkok di atas pinggangku dan penisku di pegang dan diarahkan ke vaginanya, setelah itu dia duduk di selangkanganku dan penisku terbenam lagi di vaginanya yang makin basah. "Ayo Shal, sekarang giliran lu ngentot gue!" sudah itu Shalny mulai menggerakan badannya turun naik, seperti orang naik kuda. Penisku keluar masuk vaginanya dengan gesekan yang luar biasa nikmatnya. Sambil menggerakan badannya turun naik, Shalny mulai meremas-remas payudaranya sendiri sambil mendesah-desah sensual, aku semakin nafsu melihat tampangnya yang cantik itu mulai kelihatan tanda-tanda orgasme. Akhirnya setelah kurang lebih 15 menit diatasku, Shalny setengah menjerit, "Ndre, gue mau keluar nih.. Oohh", dan terasa penisku di basahi cairan, sesudah itu Shalny langsung merebahkan badannya di atas badanku, sementara penisku masih menancap di vaginanya. Dengan sedikit tenaga, aku gulingkan badanku sehingga sekarang dia ada di bawahku lagi.
Aku kecup bibirnya, leher sama kupingnya sambil kuremas pelan-pelan payudaranya. Shalny masih menggeletak lemas di bawahku, setelah aku cumbu beberapa saat dia mulai merespon ciuman-ciumanku. Setelah kutahu dia mulai bernafsu lagi, aku mulai menggoyangkan penisku lagi dan ternyata makin lama Shalny juga makin panas, dia membalas ciuman-ciumanku dengan bernafsu. Sudah itu aku melepaskan pelukannya dan kuambil posisi push-up dan kugoyang pinggulku naik turun, penisku keluar masuk vaginanya dengan goyangan maksimum. Mula-mula kugoyang dengan pelan-pelan dan dia mulai mendesah nikmat, "Achh, Ndre.. cepetin goyangannya dong!" dan aku menurut saja, aku mempercepat goyanganku dan penisku timbul tenggelam di vaginanya yang makin basah. Sementara itu, Shalny tergeletak pasrah di bawahku, tangannya meremas-remas payudaranya yang semakin keras, dari mulutnya yang sensual itu, keluar desahan yang makin lama makin keras, "Emmhh.. ughh.. terus Ndre.. terus.. Uhh.. cepet lagi Ndre.. Aghh." Nggak lama kemudian, badannya mulai mengejang, itu tandanya dia mau orgasme dan makin aku percepat goyanganku. Akhirnya Shalny menjerit lagi, "Ooghh.. Ehhmm", dan badannya makin mengejang, sesudah itu kutindih dia dan aku di peluknya dengan keras tapi aku masih menggoyangkan kejantananku keluar masuk celah kewanitaannya yang benar-benar sudah basah itu. "Ndre.. Ufhh.. Ndre.. udahan dong.. Ehmm", desis Shalny, terus aku bilang, "Bentar lagi Shal!" akhirnya nggak lama aku cabut kejantananku dari liang surgawi-nya, hingga spermaku langsung muncrat keluar dan aku merasakan orgasme yang luar biasa nikmat.
Sesudah itu Shalny menjilati penisku sampai bersih dan memelukku, badannya lemas tapi aku tahu dia baru saja merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sambil kupeluk, aku ciumi dia di kening dan pipinya, aku juga elus-elus punggungnya. Matanya masih terpejam, sepertinya dia benar-benar mendapatkan apa yang diinginkannya.
Nggak lama kemudian, dia melepaskan pelukannya dan bilang, "Ndre, aku harus pergi nih!" sambil memakai bajunya. Terus aku sahut, "OK, thanks ya Shal.. lu benar-benar luar biasa!" dan dia jawab "Elo jangan terima kasih ke aku.. ke Sarah saja, itu tadi hadiah ulang tahun Sarah buat lu!" "Hah??!" aku cuma bisa bengong saja, aku mesti bales apa nih ke Sarah, cewekku itu?
Akhirnya, aku dan Shalny keluar dari rumah itu, yang ternyata dia pinjam dari temannya khusus buat men-servis aku. Sebelum masuk ke mobilnya, dia berkata, "Pantes si Sarah betah sama lu.. aku akuin lu hebat Ndre!" terus aku balas, "Kalau lu mau lagi, lu kirim e-mail saja ke aku. Dia mengangguk setuju dan melambaikan tangannya.
Tamat
|
| Hadiah Ulang Tahun Posted: 07 Dec 2007 11:46 PM CST Sekarang ini usiaku 32 tahun dan sudah berkeluarga. Kisah ini terjadi sewaktu aku baru lulus dari sebuah SMU di kota kembang, namaku Tedy (nama samaran), tinggiku 173 cm dengan berat 55 kilogram dan dengan biasaanku suka bergaul dengan orang yang lebih lebih tua usia dari aku, sehingga dengan kebiasaanku ini seleraku juga dalam urusan wanita menginginkan yang lebih tua usianya.
Seperti biasanya kalau sudah sore hari, kami suka berkumpul di rumah temanku yang sering kami jadikan pos, dirumah itu kadang suka berkumpul pria maupun wanita, seperti biasanya kalau sudah berkumpul yang kami lakukan hanyalah bersenda gurau dan bermain kartu, dan hari itu juga secara kebetulan temanku ada yang berulang tahun (aku lupa hari jadi yang keberapa), kami sedang merencanakan untuk merayakannya. Saking serius kadang di selingi gurauan kami merencanakan hal tersebut tanpa terduga dipintu ruang tamu telah berdiri seorang teman wanita yang bernama Rita dengan seseorang yang kami tidak kenal.
"Halo semua" sahut Rita sambil berjalan mendekati kami. "Kemana aja Rit" tanya Toni. "Biasa sibuk kuliah" jawab Rita. "Aduh kalo punya teman kenalin dong pada kita-kita" teriak Bole. "Kenalin dong" teriak Heri pula. "Iya nih" sahut Bole yang hari itu sedang berulang tahun. Akhirnya temanku mulai berebutan saling bersalam sedangkan aku yang merasa paling muda diantara mereka hanya bisa terdiam memperhatikan tingkah teman-temanku, pada akhir aku kebagian untuk berkenalan. "Tedi" sahutku. "Dewi" jawabnya, dalam hatiku montok juga tuh cewek.
Sesudah kami saling berkenalan, kemudian temanku Bole berbisik dengan pelan hampir tidak terdengar "boleh juga", aku tidak menghiraukan karena perhatianku masih tersita oleh sosok yang begitu aduhai. "Mumpung ada yang berulang tahun bagaimana kalau dirayainnya di pub gimana?" Kata Toni sambil melirik Bole. "Boleh-boleh saja" Jawab Bole. "Tapi gue nggak ada pasangan nih" Jawab Boleh kembali. "Sama Dewi saja" sahut Toni dengan melirik Dewi. "Gimana Dew" tanya Toni. "Sok aja" jawab Dewi dengan logat sunda yang kental. "Nah bereskan, kapan nih kita berangkat tanya toni kembali. "Terserah" jawab Bole. "Bagaimana kalo kita berangkat jam 9. 00" sahut Rita. "Kita berangkat dari rumah Boleh" sahut Rudi dari tadi asyik ngobrol dengan kekasihnya Emma.
Pada jam 9.00 kami mulai berangkat dengan memakai kendaraannya Bole, semua berpasangan kecuali aku dan lagi karena mereka menganggap anak yang paling kecil sehingga aku kebagian duduk pada posisi pojok belakang. Sesampainya di Pub di Jalan Asia Afrika di pusat kota kembang, kami mulai turun dari mobil. "Gue harus dapatin si Dewi" Bisik Bole. Akupun hanya membalas dengan tersenyum. "Nanti kalo didalam kamu rayu aja" sahutku. "So pasti" jawab Bole. "pokoknya harus gue dapatin" jawab Bole kembali.
Sesampai didalam Pub tersebut kami mulai mencari tempat duduk yang cukup buat tujuh orang, ternyata dipojok ruangan ada yang kosong, langsung kami tempati. kamipun mulai memesan minuman ringan, tanpa aku sadari Dewi memperhatikan aku terus, sekali-kali aku melirik Dewi ternyata Dewipun demikian, wah.. aku jadi GR nih. Bagaimana manapun aku minder dikarenakan usiaku dengan usia Dewi terpaut sekitar 7 tahun. Sesekali aku tersenyum melihat kelakuan Bole sedang mengeluarkan jurus mautnya untuk merayu Dewi. Tanpa terasa waktu menunjukan jam 12.00, suasana didalam semakin bingar- bingar sehingga posisi duduk kami jadi berubah-ubah, melihat gelagat bakalan tidak berhasil pikirku, Bole mulai merubah taktik kini dia sedang melakukan jurus merayunya terhadap pengunjung lain. Lama kuperhatikan Dewi ternyata dia mulai bergoyang-goyangkan badannya mengikuti irama musik disco.
"Nggak turun" teriak Dewi, teriakannya sama keras dengan suara musik. Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Melihat jawabanku Dewi mulai menggeserkan badan mendekatiku. "Kenapa" tanya dewi. "Nggak bisa" jawabku. "Bisanya apa dong" tanya Dewi kembali.
Aku hanya tersenyum, makin lama kuperhatikan Dewi yang terus menggoyangkan badannya. aku ikut memberanikan diri untuk menggoyangkan badan sehingga terjadi gesekan antara badanku dengan badan Dewi, karena gesekan tersebut jantung berdetak makin kencang, bisa terangsang nih pikirku. Ternyata goyanganku membuat Dewi makin merapat posisinya dengan menggesek payudara ke lenganku, kupandangi wajah Dewi yang duduk disampingku sambil bergoyang, tiba tiba adikku terbangun dan langsung berdiri seolah-olah ingin mengikuti irama musik, aku berusaha menenangkan adikku tapi tidak berhasil. Sesaat kemudian Dewi berhenti bergoyang dan mulai menatapku tanpaku sengaja aku menghembuskan nafas, tiba tiba saja Dewi langsung menciumi aku seakan-akan melepaskan nafsu yang terpendam, kontan saja aku kaget dan berusaha mengelak karena malu, padahal dalam hatiku kepingin, untunglah suasananya hingar- bingar dan remang-remang.
"Kita ke mobil yuk" ajak Dewi Akupun hanya bisa mengangguk. Lama aku berciuman didalam mobil sampai nafasku terangah-engah. "Kita cari tempat yang santai" ajak Dewi kembali. "Gimana teman-teman yang lain" jawabku. "Biar Dewi yang ngomong sama Rita" sahut Dewi. "Alasannya apa? Khan nanti nggak" jawabku. "Bilang saja mau cari udara segar" sahut Dewi. Akupun mengiyakannya.
Dewipun meninggalkanku untuk memberitahu Rita, lama aku menunggu tanpa terasa sudah dua batang rokok aku hisap. Barulah Dewi datang. "Gimana" tanyaku "Beres" jawab Dewi. "Mau kemana nih" tanyaku. "Kemana yah, sudah malem gini enaknya dimana yah" tanya Dewi "Gimana kalo kita ngobrol di.." kata Dewi tanpa diteruskan omongannya. "Dimana saja dech yang penting enak" jawabku. "Penginapan mau?" tanya Dewi, akupun kaget dengan jawaban Dewi langsung saja pikiran mikirin yang bukan-bukan, asyik juga pikirku.
Singkat akhirnya kami berdua telah berada didalam kamar penginapan, aku memang tergolong anak yang pendiam sehingga aku malu untuk memulainya. Dewi hanya menatapku tanpa berkedip, akhirnya dia mulai mendekatiku dan aku tidak tahu harus berbuat bagaimana, kontan saja Dewi mulai mencium bibirku dan aku hanya diam dan pada akhir aku mulai membalas. lama kami saling berciuman dan akhirnya dilepaskannya ciuman tersebut kemudian kami terdiam sejenak saling berpandangan, aku masih berasakan bagaimana jantungku berdetak tidak karuan.
Setelah aku mulai rada tenang tanpa pikir panjang lagi aku mulai memberanikan diri untuk mencium bibir Dewi habis-habisan. Sambil berciuman Dewi mulai membuka kancingnya sendiri, kemudian akupun membantunya membuka pengait tali BH. akhirnya terlihat gundukan payudaranya dengan lahap aku remas payudara dara tersebut yang tampak mulai mengeras, perlahan-lahan mulutku mulai turun kebawah, mulai aku menyedot putingnya, tanpa sadar aku memegang kemaluanku sendiri yang sedari tadi sudah mengeras.
Tanpa pikir lagi aku rebahkan tubuh Dewi yang bertelanjang dada ke kasur, kuciumi payudara Dewi sambil tangan mulai mengerayangi selangkannya mencari resliting celana panjang tanpa aba-aba lagi aku langsung membuka resliting tersebut, pas aku akan mulai menyusupkan tanganku kedalam celana dalamnya Dewi dengan cekatan meraih tangan dan membawanya ke payudaranya. "Kenapa?" tanyaku dengan perasaan aneh dan nafsu birahi yang menggebu-gebu. "Nggak apa-apa" sahut Dewi dengan tersenyum.
Dengan cepat aku membuka celana panjangku sendiri yang dari tadi menghalangi gerak kemaluanku, Dewipun melakukan yang sama dengan membelakangiku, aku berpikir mungkin dia malu. Perlahan-lahan Dewi mulai membalik dengan kedua telapak tangan memegang wajahku dan menariknya kewajahnya kami mulai berciuman kembali dengan hati-hati Dewi merebahkan dirinya tanpa melepaskan ciumannya, akupun mengikutinya. Dengan keadaan tersebut Dewi menggapai kemaluanku dan membimbing untuk memasuki lubang kenikmatan, akhirnya kudorong kemaluanku, aku kaget pas tiap kali aku tekan pantatku, aku merasakan sakit seperti tertusuk jenggot yang habis dicukur, akhirnya tanpa kupedulikan rasa tersebut aku genjot pantatku naik turun sedangkan Dewi hanya naik-turun menggoyangkan pantatnya, Dewi mendesah kenikmatan karena genjotanku, lama kami pada posisi tersebut, akhirnya Dewi minta diatas sambil menduduki kemaluanku Dewi mulai menggenjot maju mundur, aku mulai merasakan apa yang dari tadi aku rasakan tapi rasa sakit itu masih bisa terobati dengan kenikmatan yang diberikan oleh vagina Dewi. Tidak terasa kemaluanku sudah berdenyut-denyut dengan cepat.
Dengan cepat kukeluarkan kemaluanku dari lubang kemaluannya dan kusemburkan spermaku di atas perutnya, karena aku takut kalau aku keluarkan didalam vaginanya dia akan hamil. Aku baru sekali ini melakukan berhubungan sex. Sejenak aku berbaring sambil melamun apa yang telah baru kami lakukan dan terlintas dalam benakku keingintahuan apa yang menyebabkan rasa sakit tertusuk bercampur nikmat itu. Selang berapa menit kemudianpun kami membersihkan badan masing-masing, ada rasa keinginan untuk melihat apa yang tadi aku rasakan dengan secara sembunyi-sembunyi aku melirik kemaluan Dewi. Akhirnya tercapai juga keinginanku, Wah.. ternyata benar dugaanku bulu kemaluannya habis dicukur, bersih tidak ada satu bulu yang tertinggal seperti kemaluan anak kecil, hingga aku tersenyum geli melihatnya.
Setelah itu kami membersihkan badan dengan keadaan telanjang menuju tempat tidur, melihat Dewi tidur telantang dengan selimut yang menutupi perut sampai kaki, timbul hasrat birahiku kembali. Kemudian aku memeluk dia kembali dan kuangkat dagunya kukecup bibir dengan sangat lembu. setelah itu kusuruh Dewi berbaring, bibirku mulai bergerilya menuju, tanganku yang kiri meremas payudaranya sambil kupermainkan putingnya, kurasakan putingnya mengeras kembali. Bibirku mulai turun menjilati putingnya. Setelah puas bermain-main di payudara, bibirku turun lagi menuju menuju vagina, kulihat vagina yang bersih tanpa bulu itu, kujilati vaginanya, kumainkan lidahku di klitorisnya, sambil kumasukan jari tengahku ke lobang vaginanya. Selang beberapa lama kemudian kepalaku dijepit kencang oleh kedua pahanya.
Kemudian tangan Dewi mulai menggenggam kemaluanku yang sedari tadi sudah mengeras, dan tanpa ragu-ragu ia menjilati kemaluanku, lalu mengulumnya, baru pertama kali aku mendapat sensasi yang sangat nikmat, akan tetapi terasa ngilu. Selang berapa lama kemudian, aku mengarahkan kemaluanlu ke vaginanya, akhirnya kemaluanku masuk semua kedalam vaginanya. Kugenjot pantatku turun naik, makin lama makin cepat dan tidak lama kemudian akupun berasa mau keluar, kupercepat genjotanku tidak berapa kemudian Dewi mempererat pelukannya, akhirnya kami mendapat klimaks bersamaan, untuk yang kedua kalinya.
Tidak terasa di luar kamar sudah terang oleh matahari pagi, bagiku pagi itu yang paling berkesan selama aku bergaul dengan orang yang lebih dewasa. Terima kasih Dewi atas pelajarannya yang tidak terlupakan, mungkin sekarang bulunya sudah lebat kembali.
Tamat
|
| Hanya dengan Pria Lain Aku Bergairah Posted: 07 Dec 2007 11:43 PM CST Jangan pernah berpikir Tut, aku akan menceraikanmu. Kalau memang maumu hendak menyiksa perasaanku, mending kugantung saja perkawinan ini. Dengan begitu, kita seri. Kamu bisa bahagia dengan mencari di luar, begitu pun denganku. Tapi soal status, jangan lupa, kamu masih tetap istriku.. selamanya!
Kata-kata Mas Santoso tiba-tiba mengiang di telingaku. Malam, sudah tua benar. Jam di dinding kamar hotel yang kutempati dengan Bram, kekasih baruku, telah menunjukkan pukul 24.15. Tapi aku masih termangu di depan jendela, mencoba mengurai kembali perjalanan hidupku. Dari keinginan orangtuaku untuk mengawinkan aku dengan Mas Santoso yang sebenarnya tak pernah kucintai, sampai dengan sederet petualanganku dengan lelaki lain yang memberikan kenikmatan berlebih-lebih.
Entahlah, mungkin karena aku tak pernah mencintai Mas Santoso, setiap ia menuntut haknya sebagai suami, aku selalu ogah-ogahan. Kalau toh harus melayaninya, itupun kulakukan dengan terpaksa. Hasilnya, sungguh jauh dari memuaskan. Itu pula kesan yang diperoleh Mas Santoso dariku. "Kalau begini terus, bisa-bisa aku impoten. Soalnya di atas ranjang, kamu tak ubahnya sepotong batang pisang. Dingin, kayak es", gerutu Mas Santoso.
Sejak menikah dengan Mas Santoso 4 tahun lalu, rasanya bisa dihitung dengan jari aku melakukan hubungan suami-istri dengannya. Terus terang, aku lebih banyak menolak daripada melayani hasrat seksualnya. Kalau toh mau, ya itu tadi, dengan setengah hati. Artinya, aku juga tak pernah bermimpi bisa mendapatkan kenikmatan surga duniawi saat berhubungan intim dengannya.
Sebaliknya jika melakukan dengan pria lain, rasa yang kudapatkan sungguh dahsyat luar biasa. Aku mampu berperan aktif di ranjang. Mencoba memuaskan pasanganku, dan sebaliknya berharap kepuasan setimpal darinya. Tak mampu kuingat lagi, dengan beberapa pria yang bukan suamiku aku pernah tidur bersama. Salah satunya adalah Bram, seorang mahasiswa hukum usianya terpaut 5 tahun lebih muda dari usiaku sendiri yang sudah menginjak kepala 3.
Aku kenal denga Bram karena ia kost di rumah seorang tetangga. Posturnya yang tinggi dan tegap, membuat fantasiku melayang membayangkan yang bukan-bukan. Sampai akhirnya dengan seribu satu cara dan rayuan, pemuda asal Flores itu dengan senang hati kuseret ke atas ranjang.
"Kok ngelamun, apa yang Mbak pikirkan?" Suara bariton Bram membuyarkan lamunanku. Ternyata, ia sudah terbangun dari lelapnya, setelah sore tadi kami melewatkan permainan babak pertama. "Di sini kitakan mau senang-senang. Jadi kalau bisa, yang lain-lain dilupakan dulu", rajuk Bram sambil menarik tubuhku kepelukannya.
Dada Bram yang bidang, bulu-bulu dadanya yang keriting dan gelap, menimbulkan rasa geli serta getaran hebat. Benar kata Bram, kenapa aku mesti melamunkan sesuatu yang seharusnya tak menyita pemikiranku benar. Apalagi menurut keyakinanku, Mas Santoso saat ini pun pasti tenggelam dalam pelukan Sri, sekretaris di perusahaan kontraktor miliknya. Saya begitu yakin tentang hal itu, karena akhir-akhir ini Mas Santoso sudah jarang pulang. Salah seorang pegawainya yang begitu dekat denganku, suatu ketika memergoki mobil Mas Santoso diparkir di depan rumah kost Sri.
Tangan kekar Bram yang dipenuhi bulu-bulu lebat, meraih bagian belakang leherku, dan dengan begitu otomatis wajahku terdongak. Kesempatan itu tak disia-siakannya, bibirku dilumatnya dengan kecupan kuat disertai gelitikan lidahnya. Tak lama kemudian, lidahnya menjalar ke leher, dada, terus kebawah.. Aku menggelinjang beberapa kali, geli campur nikmat. Aku yang sejak tadi tak mengenakan sehelai pakaian pun, membuatnya lebih gampang mencumbuku. "Yang begini kan lebih menyenangkan Mbak, daripada mikir yang nggak-nggak", kata Bram sambil membopong tubuhku ke atas ranjang.
Tapi anehnya, pada setengah angkatan Bram menghentikan langkahnya. Ia justru duduk di tepian ranjang, sambil tetap memeluk tubuhku di atas tubuhnya. Dalam posisi berhadap-hadapan, aku duduk dipangkuannya. Bram jadi leluasa mencumbu bagian depan dadaku. Berkali-kali ia mencium dan mengulum puncak dari dadaku. Aku merasa nikmat yang luar biasa. Tapi meski tubuhku meliuk-liuk menahan geli dan kenikmatan yang begitu dahsyat, Bram tak mencoba menghentikan cumbuannya. Sebaliknya, ia semakin ganas mencium dan mengulum, terus begitu, berulang-ulang seperti tak pernah bosan. Ketika kurasakan sesuatu mengaliri sekujur tubuhku, dan karenanya aku jadi sedikit tegang, sambil tersenyum nakal, Bram sedikit mengangkat tubuhku. Dengan kelihaian luar biasa, tiba-tiba saja tubuh kami sudah menyatu. Di atas pangkuannya, aku mulai memacu. Cepat dan semakin cepat. Sementara Bram dengan tatap melenguh, berusaha mengimbangi gerakanku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Aduh, rasanya aku melayang-layang dibuatnya.
Saat kelelahan mulai menyergap tubuh kami, Bram berinisiatif dengan mengubah posisi. Kami berbaring sambil tetap berpagut mesra. Ia tetap menggelutiku, bergerak-gerak di atas tubuhku, dari samping maupun belakang. Dan ketika sesuatu yang menggelegak seakan hendak termuntahkan, Bram memelukku erat-erat sambil mendesis, "Oohh.. yes!"
Jauh sebelum dekat dengan Bram, aku mengenal mitra kerja suamiku di perusahaan jasa kontruksi, namanya Pieter. Pria Manado yang menikah dengan wanita asal Kediri itu ternyata naksir berat kepadaku. Padahal ia sangat tahu, aku ini istri kolega bisnisnya. Dari kerlingan mata yang dilakukan sembunyi-sembunyi, senyum penuh arti, sampai terpukau di pantatku saat Mas Santoso lengah.
Sampai suatu malam, ketika Pieter datang ke rumahku, kemesraan itu terjadilah. Sebab baru seperempat jam Pieter duduk di ruang depan. Mas Santoso pamit akan keluar sebentar membeli sesuatu. Tinggallah aku dengan Pieter meneruskan obrolan. Satu jam lewat, perbincangan kami mulai menemukan titik kejenuhan, tapi Mas Santoso belum kembali juga. Sampai akhirnya, tiba-tiba Pieter menyeletuk, "Nggak usah ditunggu suamimu, paling-paling ia kerumah Sri. Sebab siang tadi lewat telepon, ia sudah janjian makan malam dengan sekretaris itu."
Anehnya, meski menerima kabar tak menyenangkan itu aku masih bisa tertawa, tertawa lepas. Seperti tak ada beban. Melihat sikapku tak berubah, Pieter jadi semakin berani. Ia menyeret kursinya mendekatiku. Ketika obrolan kembali mengalir, kedua tanganku sudah berada digenggamannya. Sampai akhirnya dengan suara mendesah ia berkata, "Kamu cantik sekali Tut. Kalau Santoso sampai membiarkanmu merana begini, rugi besar dia. Percayalah, semua laki-laki akan mengatakan kamu cantik, menggairahkan. Termasuk aku, begitu mengagumimu."
Aku tahu, kata-kata yang meluncur dari mulut Pieter benar-benar tulus. Justru. Dengan pengakuannya itu, timbul simpatiku kepadanya. Maka ketika Pieter berdiri dan mulai memelukku, aku tak berusaha menolak. Bahkan dengan penuh perasaan, aku ganti mendekapnya penuh kemesraan. Tapi rupanya, sudah lama Pieter memendam sesuatu kepadaku. Buktinya, ia tak cukup memeluk dan menciumku untuk menumpahkan perasaannya. Ketika pagutan-pagutan hangat membuat kami semakin terbakar, ia berani membimbingku masuk ke kamar.
Dengan tenang, tanpa takut dipergoki Mas Santoso, Pieter melanjutkan cumbuannya sambil melolosi satu-persatu pakaianku. "Sudah lama sebenarnya gelora hati ini ingin kutumpahkan kepadamu. Tapi aku masih ragu, apakah engkau mau menerimanya", ucap Pieter dengan nafas memburu, sembari mendaratkan ciuman-ciuman mautnya di wajah, leher dan dadaku.
Dalam keadaan telentang, dan akhirnya tanpa selembar kain pun, aku hanya bisa pasrah, sambil berharap sesuatu yang menyenangkan itu tiba juga, Tapi Pieter agaknya pintar menyenangkan seorang wanita, Geraknya tetap pelan, hati-hati tapi penuh perasaan. Dan ketika gerakanku sudah seperti cacing kepanasan, ia mahfum bahwa saatnya tiba. Dengan sepenuh hati, ia menghimpitku dan mulai melakukan gerakan-gerakan teratur naik turun. Tetap pelan, tapi justru hal itu membuatku penasaran. "Ayo Piet, cepat, cepat..", Pintaku seperti kurang sabar.
Bagiku, sebuah pengalaman baru melakukan hubungan intim dengan tempo yang terkesan lambat, tapi bertenaga dan penuh perasaan. Ternyata, hasilnya jauh lebih menyenangkan. Sampai akhirnya ketika pelabuhan yang kami tuju sudah di depan mata, aku baru sadar puncak kepuasan itu telah kami raih bersama-sama. Saking bahagianya, aku sampai menangis sambil menggigit pundak Pieter. "Kamu sungguh hebat", pujiku.
Lepas dari pelukan Pieter, seorang pejabat di pemerintahan berhasil menggaet hatiku. Pak Sos, namanya. Usianya sudah hampir setengah abad, tapi penampilan yang wangi dan rapi sempat membuatku mabuk kepayang. Satu hal lagi, ketika aku jatuh dalam pelukan Pak Sos, suamiku-Mas Santoso-sedang dililit persoalan keuangan berkaitan dengan tendernya yang sepi sebagai seorang kontraktor. Akibatnya, hal itu jadi semacam faktor pendorong intimnya hubunganku dengan Pak Sos. Selain mendapatkan kepuasan biologis, Pak Sos juga memberiku dukungan finansial. Bahkan aku pernah dibelikan sebuah rumah cukup mewah di pinggiran kota, meski akhirnya dengan alasan tertentu kujual lagi.
Aku pertama kali kenal dengan Pak Sos berkaitan dengan proyek tender suamiku yang belum turun juga. Karena berbagai cara yang ditempuh untuk membujuk Pak Sos yang punya kewenangan menggolkan proyek itu, Mas Santoso akhirnya minta bantuanku. "Mungkin karena kamu seorang wanita, Pak Sos bisa lunak hatinya", begitu harapan suamiku.
Apa boleh buat, permintaan Mas Santoso mesti kupenuhi. Ketika tiba di ruang kerjanya yang besar dan ber-AC, kesan yang muncul pertama saat bertatap muka dengan Pak Sos adalah berwibawa tapi cuek. Tanpa membuang-buang waktu, aku mulai melancarkan jurus-jurus rayuan. Tapi seperti yang kuduga, Pak Sos tak gampang ditundukkan dengan cara-cara klise begitu. Aku mulai putus asa. Apalagi dengan angkuhnya Pak Sos berujar, "Bilang sama suamimu, nggak etis dia menyuruh istrinya merayuku untuk mendapatkan tender. Katakan padanya, apakah harga istrinya cuma sebuah tender?"
Telingaku jadi panas, aku nyaris menangis mendengarnya. Tapi meski begitu, kira-kira sepekan kemudian datang surat dinas dari kantor Pak Sos, yang isinya menjelaskan bahwa beliau setuju mendapatkan proyek yang diinginkannya. Mas Santoso tampak berbunga-bunga, tapi sebaliknya dengan aku. Menyadari semua itu aku jadi muak. Aku merasa telah dipermainkannya, dijadikan umpan agar dia berhasil mendapatkan proyek yang diinginkannya.
Sampai suatu siang, ketika Mas Santoso sudah berangkat ngantor, tanpa diduga Pak Sos menelepon ke rumah. Mula-mula, dia cuma basa-basi. Mulai menanyakan soal rumah tangga sampai menyinggung pekerjaan Mas Santoso, "Apa kamu nggak tersinggung dengan cara-cara suamimu mendapatkan tender proyek, sampai melibatkan istrinya untuk melobi-lobi begitu?" tanya Pak Sos.
Yang pasti dari pembicaraan pertelepon selama 30 menit itu, aku akhirnya tahu bahwa Pak Sos ternyata bukan tipe lelaki yang cuek dan kaku seperti yang kuduga sebelumnya. Sebaliknya, jika sudah mengobrol cukup lama dengannya, aku menyadari kalau ia cukup hangat dan romantis sebagai lelaki. Lebih dari itu, lewat suaranya yang serak-serak basah, ia begitu perhatian pada lawan jenisnya. Misalnya ketika aku mengutarakan keinginan untuk bekerja, Pak Sos dengan antusias menanggapi bahwa hal itu bisa gampang kudapatkan, asal aku tak pilih pekerjaan, atau berhitung soal pendapatan yang kuperoleh, "Kalau mau, ada lowongan di perusahaan milik kolega yang saya jamin pasti mau menerimamu. Kalau kamu serius, datanglah besok ke kantorku. Kita bicarakan lebih detil di sini", undangnya. Keesokan hari, lewat tengah hari seperti waktu yang kami sepakati, aku datang ke kantor Pak Sos. Aku sempat kecewa ketika sampai di depan pintu, ada tulisan: Keluar. Artinya, seperti kebiasaan di kantor-kantor pemerintah, si pejabat tak ada di tempat karena sedang keluar ruangan. Tapi saat aku termangu di depan pintu, seorang bawahan Pak Sos datang mendekati sambil berbisik, "Bu Tut, silakan masuk saja, Pak Sos ada di dalam kok. Ia sengaja membuat tulisan begitu, agar tak ada yang mengganggunya."
Pak Sos memang ada di ruangannya, tersenyum-senyum di atas kursi besarnya begitu melihat kedatanganku. Aku dipersilakan duduk, sementara ia membuka lemari es kecil untuk mengambil 2 botol softdrink. Tak lama kemudian kami tenggelam pada obrolan yang lebih serius, menyangkut keinginanku untuk bekerja. Ketika pembicaraan berganti topik, soal rumahtanggaku, soal hubanganku dengan Mas Santoso, nada bicara Pak Sos jadi terdengar lembut, teduh dan begitu hangat. Tak terasa, ketika aku begitu hanyut menceritakan nasib perkawinanku, ia sudah berdiri begitu dekat denganku. Ketika tetes-tetes air mata membasahi pipiku, Pak Sos dengan merengkuh pundakku dan kemudian memelukku penuh perasaan.
Kami tenggelam dalam keharuan yang dalam. Tapi ketika perasaan kami sudah begitu menyatu, keharuan itu mendadak saja jadi gelora yang berkobar-kobar, manakala tangan Pak Sos yang sangat terlatih mulai bergerak liar di bagian-bagian tubuhku yang paling sensitif. Ketika kancing-kancing blusku telah terbuka semua, aku seperti tak sadar kalah dalam posisi telentang di atas meja kerja Pak Sos, dan ia dengan begitu bernafsu, menghimpit dan mencumbuiku.
Kami seperti 2 manusia yang kehilangan akal. Di atas meja itu kami memperagakan permainan aneh yang yang menyenangkan, setelah Pak Sos melepas pertahanan terakhir dari kain paling tipis yang kukenakan. Nafas Pak Sos memburu seiring dengan gerakan-gerakan yang teratur. Di atas meja, hanya dengan melihat langit-langit atap ruangannya, aku terhentak-hentak dan merasakan tubuhku seperti tengah mengambang. Dan ketika puncak kenikmatan telah kami raih bersama, sadarlah aku bahwa hal itu seharusnya tak kami lakukan di kantornya. Sambil tersipu-sipu, aku membenahi kembali pakaianku yang berantakan. Tapi Pak Sos cepat menghibur, "Jangan merasa bersalah, tenang-tenang saja. Mau kuambilkan minuman lagi?"
Sejak beberapa bulan lalu, ia harus pindah kerja di kota Malang karena ada mutasi pekerjaan. Karena itu untuk melipur kesepian hati, aku berkenalan dengan Bram, pemuda tanggung yang ternyata lebih bisa memuaskan soal urusan ranjang, dibanding suami sahku, Mas Santoso. Tentang laki-laki terakhir, hingga detik ini masih terikat perkawinanku meski ia sudah jarang pulang, karena lebih suka menginap di rumah Sri, sekretarisnya. Aku sendiri, terus terang saja rasanya tak cukup siap untuk menghentikan semua kesenangan ini.
Tamat
|
| Dugem Dan Seks Posted: 07 Dec 2007 11:42 PM CST Namaku Rio, aku tinggal di kota metropolitan dan baru masuk kuliah di universitas swasta yang terkenal. Aku adalah remaja yang tak pernah kekurangan apapun, terutama materi. Karena itu aku dengan mudah terjerumus dalam gelapnya dunia malam bersama teman karibku yang selalu bersamaku.
Malam itu seperti biasa aku pergi ke diskotek bersama Rudi temanku, malam itu suasana tampak ramai sekali karena ada tarian striptease yang panas. Aku langsung ke bar untuk beli minuman sementara Rudi langsung turun untuk joged. Setelah beli minum aku cari tempat duduk untuk melihat situasi, biasa, "mencari mangsa".
Lagi asyik jelalatan lihat-lihat pantat seksi, pundakku ditepuk dari belakang, setelah kutoleh, ternyata ada dua cewek seksi berdiri di belakangku.
"Hai, boleh gabung di sini gak? capek nih dari tadi nge"beat" terus." tanya dia padaku. "Boleh aja, kosong kok." jawabku sambil melirik kearah dadanya yang montok berisi. "Aku Sherli, ini temanku Devi, nama kamu siapa?" tanya cewek itu. "Oh.. Aku Rio." jawabku sambil mengulurkan tangan pada Devi. "Gila.. Nih cewek mulus abis.. Wuih dadanya.. Pantatnya.." batinku sambil mengamati si Devi, ternyata si Devi tau kalau mataku sedang memandang ke arah dadanya. "Hai..! ngapain lihat-lihat, pegang aja." godanya sambil tersenyum padaku. "Ha ha ha ha jangan ah, ntar kalau aku nafsu gimana hayo" jawabku sambil tertawa.
Akhirnya makin lama kami semakin akrab.
"Eh turun yuk? nge-beat lagi biar makin hot." ajak Devi. "Oke deh, yuk..". Kami bertigapun gabung nikmati dentuman house musik sambil joged. "Eh kesana yuk, aku kenalin ama temanku biar kamu gak sendiri." ajakku pada Sherli sambil menggandeng tangannya menuju tempat Rudi joged. "Hoii.. Rud! nih kenalin temenku daripada sendiri aja!" Akhirnya mereka kenalan & joged bareng.
Kami berempat joged sama-sama menikmati house musik yang makin hot, aku joged dibelakang si Devi sambil memeluk dia, Devi juga joged sambil pantatnya digoyang-goyang ke depan celanaku, tampaknya dia makin panas dengar lagu house. Kontolku jadi mengeras kena goyangan pantat si Devi, tangankupun jadi gerilya meraba-raba dadanya sambil menciumi lehernya yang mulus itu.
Akupun joged sambil menggoyang pantatku maju mundur seperti orang ML. Kami makin lama makin gila jogednya, tangan Devi juga gak mau kalah meraba-raba kontolku sambil terus nge-beat. Kulihat Si Rudipun tengah asyik berciuman dengan Sherli sambil berpelukan. Tak terasa udah saatnya bubar, waktu menunjukkan pukul 4 pagi, kamipun pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobil.
"Eh.. Dev, kamu pulang kemana? aku antar ya?" tanyaku pada Devi. "Kalau aku ama Sherli sih biasanya nongkrong di cafe, nunggu pagi, abis tempat kost kami dikunci sih" jawabya. "Gimana kalau kita nyewa villa di puncak, kan asyik nih berempat?" celetuk Rudi. "Iya deh dev, ke villa aja?" ajak Sherli sambil ngelirik Rudi penuh arti.
Akhirnya kamipun berkendara ke puncak, aku yang nyetir mobil, Devi duduk di sebelahku sambil tiduran. Saat lihat kebelakang lewat kaca spion, Rudi tampak lagi asyik menjilati dada Sherli sambil tangannya meraba raba kedalam rok Sherli, Sherli tampak merem melek menikmati.
"Woi.. Gile loe! ntar aja di villa, kurang ajar loe, aku lagi nyetir gini, loe lagi enak-enakan!" hardikku pada Rudi sambil tersenyum. "Udah.. Loe nyetir aja, aku lagi pemanasan nih.." jawab rudi padaku. "Iya nih Rio, nganggu aja, nanti aja kamu ama devi di villa!" tambah serli sambil tangannya menarik kepala rudi untuk menjilati dadanya lagi.
Setelah sampai, kami berempat masuk kedalam villa, kulihat rudi ama sherli langsung menuju kamar, tampaknya mereka sudah nafsu abis.
"De, kamu ngantuk ya? gimana kalau kita mandi aja biar seger? tanyaku pada devi, "iya nih ngantuk.. Oke deh mandi aja, lagian rugi dong kalo tidur sekarang.." jawab devi penuh arti.
Kami berdua pun menuju kamar mandi, kontolku udah mengeras dari tadi melihat rudi ama sherli dalam mobil. Tanpa malu-malu devi menanggalkan semua pakaiannya, hingga terlihat bulu-bulu halus yang menutupi vaginanya, tubuhnya begitu mulus dan montok.
"Hei kok pakaiannya gak dilepas juga sih, katanya mau mandi?" kata devi mengagetkanku sambil tangannya melepaskan pakaianku. "Lho kok udah keras gitu, pengen ya?" tanya devi sambil tersenyum. "Iya nih, abis kamu seksi banget nih" jawabku sambil meluk devi dan mencium bibirnya.
Tak terasa kami udah saling berciuman sambil saling meraba, tanganku menggosok-gosok vaginanya sambil sekali-kali jariku kumasukkan kedalamnya, bibirku terus menciumi bibirnya, lidahku mulai masuk kedalam bibirnya.
Tampak devi mendesah menikmati rangsanganku, kontolku terus dikocok-kocok lembut. Akhirnya devi jongkok didepanku kemudian bibirnya mulai menjilati kontolku dari batang sampai pucuknya. Kontolku dilumat habis masuk kedalam bibirnya sampai aku hanya bisa bersandar di dinding tak kuasa menahan rangsangannya, tanganku memegang kepalanya agar bergerak maju mundur makin cepat.
"Oh.. Enak dev, terus.. Terus.." desahku menikmati. "Sini gantian dev, aku pengen menjilati vaginamu.." kemudian kutarik tubuhnya membelakangiku.
Akupun jongkok di belakangnya sehingga tampak belahan pantatnya yang montok, aku langsung menciumi pantatnya sambil meremas-remas pantat seksinya, lidahku mulai menjilati vaginanya yang basah kemerahan sambil sekali-kali lidahku kumasukkan kedalam vaginanya.
"Shh.. Ach.. Terus yo.. Terus.. Gigit klitorisku.. Ach!" desis devi, tangannya mendorong kepalaku, membenamkan kepalaku ke pantatnya.
Kugigit lembut klitorisnya sambil terus kujilati vaginanya, kulihat kakinya bergetar hebat kemudian terasa cairan hangat membasahi mukaku, terus kujilati vaginanya sampai devi mendesah-desah menikmati orgasmenya.
"Udah.. Aku udah keluar nih, gila.. Pinter benar kamu yo, gantian dong kamu kan belum orgasme, aku juga pengen ngerasain kontolmu kedalam vaginaku.." desah devi sambil menjilati wajahku yang basah kena cairannya.
Aku tersenyum sambil membungkukkan badan devi membelakangiku, kemudian kontolku mulai kugesek-gesekkan diluar vaginanya yang kemerahan itu, " cepetan dong yang.. Aku uda nggak tahan nih.." desah devi agar aku cepat memasukkan kontolku.
Setelah kontolku basah kena cairannya, langsung kusodok pelan-pelan, terasa lembut dan hangat saat pucuk kontolku mulai masuk, lalu kugoyang pelan-pelan sehingga batang kontolku masuk semua, terasa hangat dan lembut vaginanya memijat kontolku.
"Ach.. Ach.. Ach lebih cepat lagi yo.." kata devi sambil mendesah.
Aku mulai bergerak maju mundur lebih cepat sambil tanganku terus meremas buah dadanya, makin lama orgasmeku hampir mau keluar.
"Ah.. Aku mau keluar nih de..!" ujarnya.
Sambil menarik kontolku keluar, devi berbalik dan jongkok di depanku kemudian tangannya mengocok kontolku sambil sekali-kali mengulumnya.
"Ahh ahh ahh..!" desahku saat orgasme mulai mengalir didalam urat kontolku.
Devi makim mempercepat kocokannya sambil mengulum pucuk kontolku, akhirnya spermaku muncrat didalam mulut devi, pantatku kugoyang maju mundur agar orgasme terasa makin nikmat, devi terus mengulum kontolku, terlihat spermaku menetes keluar dari mulutnya.
"Wuih, kamu keluarnya banyak banget, gila.. Asyik nih ML ama kamu.." kata devi.
Kemudian dia berdiri sambil tangannya terus mengelus-elus kontolku yang mulai mengecil, aku hanya tersenyum sambil bersandar merasakan kenikmatan yang tiada tara itu.
Kemudian kami mandi berdua saling membasuh tubuh. Setelah selesai mandi kugendong devi menuju tempat tidur untuk rebahan memulihkan tenaga sebentar.
"Eh.. Yo ngintip Rudi ama sherli yuk?" ajak devi. "Oh iya mereka pasti masih ML sekarang, soalnya Rudi itu maniac banget kalo ML, yuk!" jawabku, kemudian kami berjalan mengendap-ngendap menuju kamar Rudi. Makin dekat, terdengar desahan sherli di kupingku, "Bener kan, mereka masih ML" kataku pada devi.
Kemudian aku berjalan mengendap-endap dan membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Terlihat didalam kamar tampak Rudi sedang menindih tubuh sherli sambil menggoyang pantatnya dengan cepat, mereka membelakangi aku dan devi sehingga tak tau kalau sedang diintip. Kemudian mereka berganti posisi, sherli duduk diatas Rudi, tampak dengan jelas kontol si Rudi masuk pelan-pelan kedelam vagina sherli, lalu sherli bergerak berlahan sambil mendesah, tangan rudipun terus meremas-remas dada sherli, makin lama gerakan sherli makin cepat.
"Rud, aku mau keluar nih..!" "Aku juga sher..!" tampak gerakan mereka makin cepat sambil mereka terus mendesah tanda orgasme telah dipuncaknya, lalu gerekan mereka makin memelan dan sherli tampak memeluk Rudi, vagina sherli tampak basah karena cairan orgasme mereka berdua keluar bersama-sama, ada cairan putih menetes keluar dari vaginanya.
Nggak terasa kontolku ereksi lagi dan kulihat tangan devi tengah mengelus elus vaginanya di dalam celana dalamnya sambil matanya terpejam.
"De, ML lagi yuk, aku pengen nih.." ajakku. "Yuk, aku juga pengen nih.." jawab devi sambil tersenyum.
Lalu kugendong devi kedalam kamar dan kukunci kamarnya agar nggak bisa diintip sama Rudi. Kemudian kurebahkan tubuh montok devi di atas ranjang.
"Malam ini akan kubuat kamu menjadi ratuku sayang.." kataku sambil menjilati vaginanya yang mulai basah lagi..
Tamat
|
| Dukun Cabul dan Ibu Rumah Tangga Posted: 07 Dec 2007 11:43 PM CST Vivi tidak bisa menerima sikap dan tindakan Ardi akhir-akhir ini yang ia lihat sudah melupakan dan membiarkan keluarganya. Tindakan ini dilihat Vivi saat Ardi akan pergi ke luar kota untuk meninjau perusahaannya di kota lain. Vivi menduga pasti Ardi telah melakukan suatu perselingkuhan dan menyeleweng dikarenakan Ardi tidak lagi memberikan nafkah batin untuk Vivi, sedangkan Ardi selalu pergi ke luar kota setiap minggu dengan begitu hubungan seks-nya dengan istrinya pasti tersalur, sedang saat ini Ardi telah lupa akan kewajibannya. Siapa wanita yang telah merebut Ardi dari tangannya, Vivi tidak mengetahui. Oleh sebab itu Vivi sering merenung dan berpikir apakah selama ini ia tidak melayani kebutuhan dan kesenangan suaminya, namun semua itu ia rasa tidak mungkin dan sepengetahuannya ia selalu melayani dan melaksanakan kesenangan dan kesukaan suaminya. Sedang kalau ia lihat bentuk tubuhnya yang mungkin telah berubah? namun ia sadari tidak mungkin juga, Vivi menyadari ia dan Ardi telah berumah tangga kurang lebih 6 tahun dan dikaruniai 2 orang anak yang paling besar berumur 5 tahun, mustahil bentuk tubuhnya akan menyebabkan Ardi berpaling.
Di depan cermin sering Vivi mengamati tubuhnya, ia pun rajin senam dan melangsingkan tubuhnya, namun apa gerangan Ardi berubah dan tidak mau menjamahnya? Secara fisik Vivi memang seorang ibu rumah tangga yang telah beranak dua, namun jika melihat tubuh dan kulitnya banyak membuat gadis yang iri karena bentuk tubuhnya amat serasi dan menggiurkan setiap lelaki yang menatapnya. Umur Vivi baru 32 tahun, di saat itu ia butuh pelampiasan birahi jika malam hari menjelang, namun sikap Ardi telah membuatnya menjadi tidak percaya diri. Atas saran teman karibnya yang juga ibu rumah tangga dan wanita karir, maka Vivi disarankan untuk meminta tolong pada seorang dukun sakti yang bisa mengembalikan suami dan membuat Ardi bertekuk lutut kembali. Ini telah lama di coba Lusi, dulunya suaminya juga menyeleweng. Namun atas bantuan dukun itu suaminya telah melupakan wanita simpanannya.
Dengan saran dan nasehat dari karibnya itu Vivi memberanikan diri untuk datang ke tempat dukun itu walaupun jaraknya agak jauh kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobilnya. Dengan bantuan Lusi, Vivi mengemudikan Balenonya ke tempat dukun itu. Mereka berangkat pagi harinya. Sesampai di gubuk dukun yang memang terpencil di sebuah kampung itu, Vivi memarkirkan mobilnya di samping gubuk itu. Lalu Lusi mengetuk pintu gubuk itu dan dengan adanya sahutan dari dalam mempersilakan mereka berdua masuk, di dalam telah ada dukun itu yang duduk dengan sambil menghisap rokoknya. "Ooo.. Bu Lusi? ada apa Bu? ada yang bisa saya bantu?" dukun itu berbasa basi. "Eee.. ini Mbah, teman saya ini ada masalah dengan suaminya, namun ia ingin suaminya seperti sedia kala lagi.." jawab Lusi. Lalu Lusi memperkenalkan sang dukun yang bernama Mbah Dudu itu kepada Vivi. Sambil berjabat tangan Mbah Dudu mempersilakan kedua wanita itu untuk duduk bersila di lantai gubuknya itu. Sepintas Vivi merasa agak risih dari mulai ia memasuki gubuk itu. Ada perasaan tidak enak namun karena keinginannya mengembalikan suaminya ia tidak mengambil pusing semuanya. Tanpa ia sadari dari saat ia masuk dan bersalaman dengan Vivi mata mbah dukun itu tidak henti-hentinya memandang ke arah Vivi. Lalu ia memanggil Vivi untuk maju selangkah ke arahnya, dan Vivi diperintahkan untuk memasukkan tangannya ke dalam wajan yang berisi air kembang, lalu Mbah Dudu membakar menyan dan membaca mantranya.
Tidak berapa lama kemudian ia buka matanya dan berkata bahwa mata hati suaminya telah dipengaruhi oleh wanita simpanan Ardi dan membuat Ardi melupakan keluarganya. Atas saran mbah dukun supaya Ardi kembali maka Vivi harus memakai jimat yang akan dibuatkannya, asal Vivi mau menjalani syarat-syaratnya dan itu semua terpulang kepada Vivi. Karena besarnya keinginan agar Ardi kembali, maka Vivi menyanggupi segala syarat-syaratnya. Setelah itu sang dukun berkata bahwa besoknya Vivi akan mendapatkan jimat itu dan akan dipasangkan ke tubuh Vivi dan akan dibuatkan malam ini. Mbah Dudu adalah lelaki asal Nias yang telah lama memiliki ilmu yang amat sakti. Tidak sedikit orang yang telah dibantunya. Mbah Dudu tinggal seorang diri di gubuk itu dan tidak memiliki istri. Umurnya telah beranjak tua yaitu 70 tahun namun fisik dan sosoknya tidak menggambarkan ketuaan. Selanjutnya Vivi minta diri dan menitipkan amlop untuk memenuhi syarat-syaratnya, dan berjanji besok akan datang. Lalu Lusi minta diri kepada Mbah Dudu, lalu mereka pulang ke rumah dan besok Vivi harus mengambil jimatnya.
Besok hari yang telah ditentukan, Vivi minta Lusi membantu menemaninya ke tempat dukun itu, namun karena adanya kesibukan di kantornya maka Lusi tidak dapat menemani. Dan berangkatlah Vivi mengendarai Balenonya seorang diri ke tempat dukun itu. Lebih kurang 1,5 jam perjalanan Vivi, sampailah di gubuk itu dan memarkirkan mobilnya di samping gubuk, sedangkan hari saat itu telah mendung dan berangin sepertinya hari akan hujan. Lalu Vivi mengetuk pintu gubuk dan kemudian pintu itu dibuka Dudu dari dalam dan mempersilakan masuk. Lalu Vivi masuk ke gubuk dan duduk di lantai. Lalu Mbah Dudu meminta Vivi untuk langsung ke depan dan menerima saran dan cara-cara memakai jimat itu. Vivi diharuskan untuk berbaring dan memakai kain sarung lalu menelentangkan diri, karena jimat itu akan dipasangkan pada tubuh Vivi yang biasa di sentuh suaminya. Lalu Vivi minta ijin untuk memakai sarung yang dipinjamkan sang dukun di kamar yang telah tersedia.
Dalam kamar itu, hanya ada satu dipan kayu yang telah lama dan saat itu Vivi membuka seluruh pakaianya, sedang BH dan CD-nya tetap terpasang pada tubuhnya. Sesaat kemudian sang dukun memasuki kamar itu dan minta Vivi berbaring di dipan itu. Vivi menuruti kata dukun itu, lalu Mbah Dudu memulai melakukan aktifitasnya dengan memasangkan cairan jimat itu mula-mula ke kulit muka Vivi lalu turun ke leher jenjang dan ke dada yang masih tertutup BH. Sesampai pada dada Vivi sang dukun menyadari adanya getaran birahinya mulai datang dan lalu di sekitar dada Vivi ia oleskan cairan itu, tangan sang dukun masuk ke dalam dada yang terbungkus BH. Di dalam BH itu tangan Dudu memilin dan memilintir puting susu Vivi, dengan cara itu Vivi secara naluri seksnya terbangkit dan membiarkan tindakan sang dukun yang memang kelewatan dari tugasnya itu, Vivi hanya diam. Lalu sang dukun membuka pengait BH Vivi dan melemparkan BH itu ke sudut kaki dipan itu dan terpampanglah sepasang dada montok yang putih mulus kemerahan karena gairah yang dipancing Mbah Dudu itu.
Di sekitar dada itu sang dukun mengoleskan jimatnya berulang-ulang sampai Vivi merasa tidak kuat menahan nafsunya. Lalu sang dukun tangannya turun ke perut dan ke selangkangan Vivi. Di situ tangan sang dukun memasuki selangkangan Vivi, tindakan ini membuat Vivi protes, "Jangan! saya mau diapakan Mbah?" tanyanya. "Ooo.. ini adalah pengobatannya, Lusi pun dulunya begini juga," jawab mbah dukun sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak menahan gejolak nafsu. Di lubang kemaluan Vivi, jari tangan sang dukun terus mengorek-ngorek isi kemaluan Vivi sehingga Vivi merasakan ia akan menumpahkan air surgawinya saat itu. Sambil membuka kain sarung yang melilit tubuh Vivi sang dukun lalu menurunkan CD yang menutup lubang kemaluan Vivi itu. Lalu ia letakkan CD Vivi di samping dipan yang beralaskan bludu usang itu. Sesaat kemudian Vivi telah telanjang bulat dan jari tangan sang dukun tidak henti-hentinya beraksi di sekitar daerah sensitif tubuh Vivi. Sedang jimatnya telah dioleskan pada seluruh bagian-bagian tubuh Vivi.
Lalu tibalah saat untuk memasukkan keampuhan jimatnya, maka sang dukun minta kepada Vivi untuk mau bersenggama karena jimat itu tidak akan bisa dipakai jika Vivi tidak melakukan senggama dengan dukun itu. Karena Vivi telah merasa kepalang basah dan ingin niatnya kesampaian maka ia ijinkan sang dukun melakukan persenggamaan. Lalu tangan sang dukun membuka paha Vivi yang mulus terawat itu. Lalu ia buka lubang kemaluan Vivi dengan tangannya dan memainkan klitoris Vivi dan kembali Vivi histeris ingin dituntaskan nafsu yang telah sampai di kepalanya, ditambah telah beberapa bulan tidak berhubungan seks dengan suaminya. Mbah dukun yang telah sama-sama-sama bugil dengan Vivi lalu memasukkan batang kemaluannya yang cukup besar itu dan kuat ke dalam lubang kemaluan Vivi yang telah dibasahi air kewanitaan Vivi yang tampaknya siap untuk melakukan penetrasi ke dalam lubang kemaluan yang telah basah itu. Setelah dipaksakan agak keras lalu batang kemaluan yang tegak menantang masuk seluruhnya ke dalam lubang kemaluan Vivi, dan Mbah Dudu melakukan gerakan maju mundur, sedang tangannya tidak henti-hentinya memilin dan menekan pinggul padat Vivi itu. Buah dada Vivi tidak luput dari jelajahan tangan sang dukun.
Lebih kurang 30 menit lubang kemaluan Vivi digenjot dengan paksa lalu sang dukun barulah sampai klimaks dengan menumpahkan air maninya ke dalam lubang kemaluan itu sebanyak-banyaknya. Sedangkan air yang keluar dari lubang kemaluan Vivi itu ia oleskan ke lidah Vivi untuk kasiat bahwa Vivi tidak bisa dilupakan suaminya. Dalam persenggamaan itu Vivi sempat orgasme 3 kali, itu pun saat ia terengah-engah di saat batang kemaluan sang dukun mengaduk-aduk isi kemaluanya tadi. Sejam kemudian barulah permainan itu selesai setelah sang dukun minta permainan dilakukan 2 kali. Setelah itu Vivi minta diri pulang dan membawa yang akan ia pakaikan di rumahnya saat mandi. Mbah dukun mengatakan ada jimat yang akan dipasang di dalam kamar Vivi namun belum siap, dan mbah dukun berjanji akan mengantarkannya ke rumah Vivi 2 hari lagi.
Tepat 2 hari kemudian sang dukun mendatangi rumah Vivi yang megah. Saat itu suami Vivi belum pulang dari luar kota dan di rumah saat itu hanya ada ia dan seorang pembantunya yang sedang menjaga anak-anaknya. Sang dukun berkata, "Bu Vivi, jimat ini akan saya pasangkan pada kamar Ibu nanti malam," sedangkan Vivi merasa khawatir, bagaimana jika suaminya pulang. Namun karena kesaktiannya, sang dukun berkata, "Bu Vivi nggak usah khawatir, suami Ibu pulang lusa, sedang ia sekarang menurut penglihatan saya sedang di Lampung," kata sang dukun. Lalu bagaimana ia menerangkan kepada pembantunya karena adanya kehadiran dukun tua itu? Lalu ia hanya berkata bahwa familinya dari kampung dan menumpang barang 1 hari di rumahnya. Lalu Vivi mempersilakan sang dukun untuk istirahat di sebuah kamar yang memang diperuntukkan untuk tamu. Lalu sang dukun memasuki kamar yang telah disediakan.
Malam harinya saat akan memasangkan jimat di kamar Vivi, dilakukan pada pukul 9.00 malam, sedang pembantunya telah tidur di kamar belakang, tempat kamar tidur pembantu memang jauh di belakang dan tidak mengganggu ke rumah induk tempat kamar Vivi berada. Di dalam kamar itu sang dukun melakukan ritualnya dengan membaca mantera, lalu ia membakar menyan, sedang Vivi duduk diam melihat apa yang dilakukan sang dukun dari atas tempat tidurnya. Lalu sang dukun berkata, "Sebaiknya jimat ini kita pasangkan pada saat tepat jam 12.00 malam nanti, berarti masih ada waktu 3 jam lagi, Bu Vivi.." katanya. "Sekarang sebaiknya kita ngomong-ngomong saja dulu menunggu waktu," kata sang dukun. "Baiklah Mbah," lalu Vivi mempersilakan sang dukun keluar kamar. Bagaimanapun ia merasa berat hati untuk membawa dukun itu ke dalam kamar pribadinya. Sang dukun berkata, "Tidak usah keluar.. Bu Vivi.. di sini saja." Lalu sang dukun berdiri dari duduknya dan menuju ke arah Vivi duduk dan mbah dukun itu juga duduk di samping Vivi. Lalu tangannya menggapai tangan Vivi dan berkata, "Sebaiknya kita berdua melakukan seperti saat Ibu di gubuk saya, sebab jika tidak para jin yang membantu saya akan lari dan tidak mau menolong Ibu," kata mbah dukun. Vivi hanya bergidik, bulu kuduknya merinding. Haruskah ia mengulangi kesalahan saat ia harus bersenggama dengan dukun itu di gubuknya? Namun karena adanya pengaruh dan keinginan Vivi maka ia biarkan sang dukun mengulangi perbuatan maksiat itu di kamarnya, saat itu Vivi memang merasa menjadi seorang wanita sempurna karena ia telah mendapatkan siraman batin dari dukun tua itu meskipun tidak ia dapatkan dari suaminya.
Lebih kurang 2 jam mereka berdua mengayuh samudera kenikmatan bersama sang dukun dan membuat Vivi orgasme berulang-ulang dan membuat lubang kemaluannya sampai lecet karena kebuasan batang kemaluan dukun yang sangat besar itu. Lalu tepat pada jam 12 malam barulah jimat itu terpasang pada bawah ranjang Vivi dan menjelang pagi mereka terus melakukan hubungan seksual dengan menggebu-gebu. Lalu Vivi tertidur dan tidak menyadari hari telah pagi dan sang dukun telah pergi, sedang Vivi merasa tubuhnya pegal-pegal dan tulangnya serasa mau lolos. Sejak saat itu memang jimat pemberian sang dukun ada perubahan pada diri suami Vivi dan ia sangat berterima kasih dan lalu ia mendatangi sang dukun. Sedang sang dukun cuma minta Vivi tidak melupakannya, dengan cara Vivi harus 2 kali dalam sebulan datang untuk memberikan jatah hubungan seks kepada sang dukun seperti Lusi juga melakukan hal yang sama. Memang setelah itu Vivi selalu rajin mendatangi sang dukun dan terkadang sang dukun yang datang ke rumah Vivi untuk minta jatah senggamanya. Memang sebagai dukun ilmu hitam, Mbah Dudu harus mensenggamai pasiennya, karena dengan demikian si pasien akan mampu disembuhkan dan ilmu sang dukun dapat dipelihara.
Tamat
|
| Dukun Cabul Posted: 07 Dec 2007 11:47 PM CST Sekitar setahun setelah saya bercerai, ada teman yang mengajakku pasang susuk. Katanya sudah banyak teman-temannya yang kesana. Pertama-tama saya tidak berminat, terus dia pergi sendiri. Seminggu kemudian kami ketemu lagi, langsung saja saya bertanya bagaimana susuknya. Dia cuma tersenyum sambil berkata, "kamu kesana deh, cocok buat yang sudah lama tidak begitu". Saya heran lalu saya tanya lagi apaan, tapi dia tetap saja tersenyum. Karena penasaran, akhirnya saya juga kesana. Ternyata dukunnya tidak jelek-jelek amat (seperti di film-film kurus dan tua), malah cenderung ganteng walau agak berumur. Waktu saya beri tahu maksud kedatanganku, dia bertanya-tanya banyak hal, seperti status saya, jadwal mens, dll. Sedikit heran, tapi saya jawab. Terakhir akhirnya dia bilang, kalau pemasangan susuk yang saya minta harus dilakukan lewat cara bersenggama. Mukaku langsung merah padam (maklum, waktu itu saya baru menjanda, dan hubungan badan terakhir cuman sama eks-suamiku). Tapi saya lihat, Pak dukun justru tenang-tenang saja, mukanya tidak berubah, tidak tahu apa dia punya ilmu hipnotis yang bisa mempengaruhiku atau kepercayaanku bahwa dia betul-betul profesional (sekedar ingin bersetubuh denganku), akhirnya saya setuju.
Lalu dia melakukan perhitungan berdasarkan jadwal mensku, terus dia mencari tanggal yang tepat dimana saya lagi tidak subur. Pada hari yang ditentukan, saya kembali lagi ke sana. Lalu saya dibawa ke belakang, ke sebuah ruangan khusus (seperti ruang praktek dokter), terus disuruh minum segelas minuman (spertinya itu obat perangsang, sebab tidak lama saya langsung merasa relax dan panas). Sekitar setengah jam kemudian, Pak dukun masuk lalu mengambil topeng dari lemari. Saya lalu berbaring diatas ranjang. Pelan-pelan Pak dukun membuka kancing blusku. Setelah terbuka semua blus itu disibakkannya ke pinggir (tidak dilepas). Mulutnya komat-kamit membaca mantra lalu kepalanya mulai menunduk di atas dadaku. Tak lama lidahnya mulai bergerak-gerak diatas putingku, sambil tangannya mengelus-elus pahaku. Pengaruh obat dan rangsangan itu membuatku melayang-layang. Tidak berapa lama saya sudah basah (kelewat basah malah, karena saya sempat orgasme sama jari Pak dukun). Lalu Pak dukun pindah di kakiku. Rokku dibuka, celana dalam juga. Terus dia meniup-niup liang kewanitaanku sambil komat-kamit. Putingku rasanya dingin karena BH yang saya pakai basah oleh ludah Pak dukun (kebetulan saya pakai BH yang renda-renda dan cupnya cuma sepotong). Setelah ditiup-tiup, kakiku mulai dilebarkan. Lalu Pak dukun menurunkan celananya. Penis Pak dukun panjangnya biasa-biasa saja (seperti eks-suamiku) tapi punya dia lebih gemuk (sangat gemuk) dan melebar ke samping. Di sini saya belajar bahwa panjang penis cowok tidak begitu berpengaruh terhadap kenikmatan, tapi lebarnya yang berpengaruh. Pak dukun ngocok-ngocok penisnya sambil komat-kamit membaca mantra. Terus dia mulai memasukkan penisnya ke dalam liang senggamaku. Waduh, rasanya.., tidak tahu apakah karena saya sudah lama tidak mendapat service, atau memang nikmat, tapi yang jelas waktu itu saya sampai berteriak keenakan. Pak dukun juga seingat saya cukup ahli memuaskan wanita, sebab dengan goyangan-goyangan pantatnya itu saya sampai dua kali orgasme. Dia sendiri sepertinya enjoy juga (jelas, liang kewanitaanku termasuk rapat dan diantara pasien-pasiennya saya termasuk paling muda). Saya tidak peduli lagi, pokoknya kami berdua enjoy banget.
Ketika saya memasuki orgasme yang ketiga, Pak dukun juga sudah mau orgasma. Penis gemuknya dihunjamkan sedalam-dalamnya ke dalam liang senggamaku. Wah, saya langsung meledak sambil menjepit erat-erat pantatnya. Bersamaan denganku, Pak dukun juga meledak. Yang paling saya ingat waktu itu, sambil merem-melek dan meringis keenakan, Pak dukun masih sempat mengucapkan mantera seperti, "Aahh.., ss.., blablabla.., ss.., hh.., blabla.., hh.. ooh.., mm..", Terus dia membantuku melepaskan rasa nyaman dengan menciumiku sambil mengelus-elus dadaku.
Setelah saya kembali sadar, dia juga mulai bangkit. Penisnya masih menggelantung mengkilat, dia nmengambil tissue buatku. Lalu dia menunjukkan pintu kamar mandinya. Wah, pakaianku berantakan dan kusut (habis tidak dibuka sih).
Akhirnya saya cuma pipis dan mencuci kemaluanku sedikit saja. Waktu keluar Pak dukun sudah pakai baju. Terus dia bilang susuknya sudah masuk, dibawa oleh spermanya katanya. Terus dia pesan saya jangan takut hamil, karena sudah dihitung baik-baik harinya. Setelah menerima amplop dariku (sesuai pesan teman 50.000 cukup), lalu saya disuruh pulang. Sampai sekarang saya tidak tahu apa benar saya punya susuk, ataukah itu cuma alasan dukun cabul untuk meniduri perempuan. Yang jelas waktu itu saya merasa puas juga, dan syukur sampai hari ini saya tidak kena penyakit kelamin atau sejenisnya. Saya pikir biarlah, hitung-hitung sama saja dengan menyewa bebek.
Kabar terakhir tentang Pak dukun, kata temanku dia pindah ke Ambon. Saya tidak tahu di sana dia praktek juga atau tidak lagi. Tapi baru-baru ini saya baca surat kabar KOMPAS (belum seminggu korannya), ada cerita tentang dukun yang suka gituin istri orang. Mungkin itu dia, kalau kamu tertarik bisa buka-buka koran kompas, tapi saya tidak pasti tanggalnya.
Tamat
|
| Dunia Malamku Posted: 07 Dec 2007 11:48 PM CST Cerita ini adalah sebuah kejadian nyata yang terjadi sekitar dua tahun yang lalu saat saya masih asyik berkecimpung di dunia pergaulan malam, dunia yang tak jauh dari keremangan lampu diskotik dan cafe, narkoba dan seks bebas. Dumangdati kalau menurut istilah teman-teman saya, DUnia MAlam NGgak aDA maTInya. Waktu itu ibukota kita baru saja dilanda gelombang reformasi dengan gerakan demonstrasi dan kerusuhan terjadi di mana-mana. Dan kerusuhan itu tidak hanya menghancurkan gedung-gedung saja tetapi juga menghancurkan rencana pesta ulang tahun salah seorang teman saya di sebuah diskotik besar di kawasan Ancol. Padahal rencana pesta itu sudah tersusun rapi, dari transportasi (penjemputan peserta pesta), perizinan (izin pulang pagi untuk beberapa teman kami yang kaum hawa), dan konsumsi (menu utama pesta, narkoba) semuanya sudah tersusun rapi.
Semua berawal saat saya menelepon diskotik yang bersangkutan untuk memesan tempat, karyawan yang berbicara dengan saya memberitahu bahwa diskotik mereka akan tutup selama beberapa hari dengan alasan keamanan yang belum terjamin. Kontan saya memberitahukan kepada teman-teman lainnya untuk melakukan perencanaan tindakan selanjutnya. Hari sudah mulai sore dan belum ada jawaban dari teman-teman yang lain, saya sudah mulai berpikir bahwa pesta ini akan dibatalkan sehingga saya mulai menyusun rencana lain untuk pergi nonton dengan Nelly, seorang gadis yang belakangan ini sedang dekat dengan saya. Tetapi menjelang malam ada berita bahwa pesta tetap akan diadakan, teman saya telah memesan sebuah apartemen di kawasan perumahan yang tidak jauh dari tempat rencana semula. Semua peserta diharapkan dapat berkumpul di sana secepatnya. Saya mulai bimbang karena kami sudah telanjur mau nonton. Akhirnya saya berinisiatif mengajak Nelly untuk bergabung dengan teman-teman yang lain setelah selesai nonton, dan dia setuju.
Hari sudah mulai malam saat kami sampai di tempat tujuan, dari luar pintu saja sudah terdengar alunan musik house yang cukup kencang. Dan keadaan di dalam tidak jauh berbeda, tampak beberapa teman kami pria dan wanita sedang asyik bergoyang mengikuti irama house music tersebut. Sementara beberapa teman lainnya sedang mengelilingi meja makan yang sudah penuh dengan perlengkapan pesta, dari minuman biasa, minuman keras, pil ekstasi, shabu-shabu dan perlengkapannya, beberapa keping CD dan kaset house music dan beberapa Pak kondom Durex.
"Ayo nggak usah malu-malu kalian udah telat nih yang laen udah pada terbang tuh," kata Yoke sang yang punya acara sambil memberikan beberapa butir pil ekstasi ke tanganku. Aku menerimanya dan sambil tersenyum memberikan sebutir kepada Nelly. Kami memang berasal dari dunia yang sama, dunia malam penuh narkoba, jadi hal itu sudah bukan hal yang asing bagi Nelly. "Happy Birthday Bro." "Thanks," kataku membalas Yoke sambil mengambil gelas minuman untuk meminum pil-pil tersebut. Aku kemudian menuntun Nelly untuk bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah, aku duduk di sebuah sofa dan Nelly duduk di pangkuanku. Dan tak lama kemudian kami pun sudah ikut terbang bersama kawan-kawan lainnya diiringi alunan house music. Lagu demi lagu dan jam demi jam berlalu, kami pun semakin merapatkan tubuh kami saat ruangan menjadi semakin dingin dengan udara malam menjelang pagi ditambah semburan AC. Semakin rapat sampai akhirnya aku dapat merasakan halusnya pipi Nelly menempel di pipiku. Aku pun tak dapat menahan diri untuk tidak mencium pipi halus tersebut, sesuatu yang sudah ingin kulakukan sejak lama. Nelly tampak terkejut saat bibirku menyentuh pipinya, ia pun menoleh dan memandangiku. "Shit what have I done," kataku dalam hati takut ia marah. Tetapi sebaliknya, ia malah menjulurkan tangannya ke belakang kepalaku dan mendorongnya maju untuk lebih merapatkan bibirku ke pipinya.
Menit-menit berikutnya ia malah menggeser pipinya dan menggantikannya dengan kedua bibir mungilnya. Kami pun berciuman dengan intens diiringi sedikit permainan lidah. Selang beberapa saat aku sudah mulai berani menjelajahi leher jenjang Nelly dengan lidahku, memberi sedikit kecupan-kecupan di lehernya dan menggelitik daun telinganya. Udara ruangan yang saat itu sudah penuh dengan berbagai macam polusi tetap tidak dapat mengalahkan wangi tubuh Nelly. Akupun menciuminya dengan makin bersemangat saat tangan Nelly mengusap-usap bagian belakang kepalaku. Kedua tanganku mulai merayap naik ke perutnya yang datar, halus dan indah di balik kaos ketatnya. Badan Nelly memang sungguh indah dan menarik, maklum ia adalah seorang guru senam aerobic dan body language. Proporsinya benar-benar pas dan mantap, ditunjang oleh face-nya yang juga manis, jadilah ia seorang dewi di mataku.
Tanganku sudah mulai merayap masuk ke dalam kaosnya dan menyentuh halus kulit perutnya saat tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka dan sepasang teman kami tampak berjalan keluar sambil berpelukan mesra. Nelly seperti tersadar, ia memegang tanganku dan menghentikan kegiatan kami. Apakah aku sudah terlalu jauh bergerak? Apakah ia akan marah? Menit selanjutnya ia menegakkan badannya meninggalkan badanku dan merapikan kaos ketatnya sambil menebar pandangan ke sekeliling ruangan. Tampaknya bukan hanya kami berdua yang sedang asyik masyuk, beberapa teman kami pun sudah duduk berpasang-pasangan dan asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. "Gue pusing nih," katanya tiba-tiba sambil memegang kepalanya. "Kenapa?" tanyaku. "Gak tau, obatnya kali ya gue mau istirahat bentar ah," katanya lagi sambil berdiri meninggalkanku di sofa. "Eh mau ke mana?" "Ke kamar tidur sebentar." "Oke jangan lama-lama ya tidurnya," kataku sambil membetulkan posisi dudukku di sofa. "Eh temenin dong masa gue sendirian," katanya, kali ini ia meraih tanganku, menarikku bangkit dari sofa dan menuntunku ke kamar yang baru saja ditinggalkan teman kami.
Aku mulai mengerti maksudnya saat kami sudah berada dalam kamar, menguncinya dan mulai berciuman bibir dengan lebih intens lagi, semakin lama pelukan kami pun semakin erat. Aku mulai menggerakkan tanganku ke belakang tubuhnya, merayap masuk ke dalam kaosnya dan mengusapi punggungnya. Ia pun melakukan hal yang sama. Terasa betapa kenyal buah dadanya terhimpit di depan dadaku. Akhirnya saat-saat yang paling kutunggu beberapa waktu terakhir ini. Bermesraan dan bercinta dengan Nelly. Tanganku semakin bebas bergerak merayapi punggungnya saat aku berhasil melepaskan kaos ketatnya, naik turun melewati seutas tali pengikat bra yang masih terkait kencang. Sementara di bagian depannya kedua belah buah dada Nelly yang kencang semakin nampak menggiurkan untuk dinikmati. Aku mulai menurunkan ciuman-ciumanku ke arah leher Nelly, berputar-putar sebentar di sana dan semakin turun ke lembah halus yang memisahkan kedua belah bukit indahnya. Sementara tangan Nelly terus mengusapi daerah belakang kepalaku sambil sesekali mendorong kepalaku ke depan untuk lebih merekatkan bibirku ke daerah dadanya. Tangannya yang satu lagi bergerak menyusuri punggungku dari dalam kemeja yang kugunakan.
Akhirnya Nelly menjatuhkan badannya ke ranjang dan memandangku dengan pandangan yang sangat menggoda, pandangan yang tidak dapat kulupakan sampai sekarang. Aku pun ikut menjatuhkan badanku menyusulnya ke ranjang, kedua tangannya bergerak menyusuri dadaku yang cukup bidang, dan mengeluarkan satu persatu kancing kemejaku dari lubangnya, melepas kemejaku dan membuangnya entah kemana. Aku semakin meningkatkan seranganku ke sekwilda-nya (sekitar wilayah dada), menyusuri lembah dan bukit indahnya yang masih tertutup bra dengan lidahku dan meremas-remas salah satu buah dadanya dengan tanganku. Merasa belum puas, aku pun meraih kaitan bra Nelly di belakang tubuhnya, cukup repot karena ia sedang dalam posisi terlentang di ranjang. Merasa bahwa aku kerepotan, Nelly pun membantu dengan mengangkat badannya sedikit dan menuntun jari-jariku untuk menemukan kaitan branya.
Sebentar saja kedua bukit indahnya sudah terpampang jelas di mataku, berlapiskan kulit putih halus dengan kedua puting susu mungilnya berwarna merah muda. Aku pun menemukan daerah-daerah baru untuk dieksplorasi dengan lidah dan jari-jemariku (minyak kali dieksplorasi). Aku menikmati hampir seluruh bagian dadanya dengan lidahku kecuali kedua buah puting susunya, aku membuatnya penasaran. Itu terasa saat ia bergerak-gerak sedikit setiap kali ujung lidahku hampir mengenai putingnya, mengharapkanku akan segera melumatnya dengan lidahku, tetapi tidak belum waktunya. Lidahku terus bergerak bolak-balik diantara kedua buah dadanya, naik dan turun tapi tetap berusaha menghindari menyentuh kedua putingnya.
Setelah beberapa menit, aku pun menegakkan kepalaku untuk melihat ekspresinya. Ia tetap memandangiku dengan pandangan yang tidak dapat dilukiskan. Nelly tampak sungguh menggoda dengan salah satu jari di dalam mulutnya. Kurasa ia menghisapinya untuk menambah gelombang rangsangan yang melandanya. Aku pun menurunkan kepalaku lagi, kali ini sasaran lidahku adalah langsung menyentuh putingnya yang kiri. Nelly sedikit terlonjak saat ia merasakan ujung lidahku menyapu halus putingnya dengan tiba-tiba, ia pun menekan kepalaku untuk semakin dekat dengan dadanya. Untuk sementara waktu aku memainkan lidahku di sana, berputar-putar mengelilinginya dan sedikit menjentik-jentiknya, sementara tanganku sibuk memainkan buah dadanya yang kanan. Nelly sudah semakin terangsang karena aku dapat mendengarnya mendesah semakin keras.
Untuk kejutan berikutnya, aku tiba-tiba menghisap putingnya lembut di saat ia tidak menyangka sama sekali. Kembali ia terlonjak untuk beberapa saat dan kemudian semakin dalam menekan kepalaku agar aku tidak melepaskan putingnya dari mulutku. Hal yang sama kulakukan pada puting kanannya aku sangat menikmati lonjakan-lonjakannya saat ia terkejut dengan apa yang kulakukan dengan lidah dan tanganku. Akhirnya aku dapat dengan bebas menikmati seluruh bagian dadanya, memainkan jari-jemari dan lidahku, menjilati dan menghisapi seluruh bagian dadanya bergantian kiri dan kanan, tidak lupa lembah indah di antaranya, lembah yang selama ini hanya bisa kunikmati dari luar saat Nelly berpakaian dengan belahan dada rendah.
Puas dengan kedua buah dadanya, aku mulai memindahkan daerah eksplorasiku turun menuju perutnya yang datar. Lidahku dapat merasakan gerakan halus otot-otot perutnya menerima rangsanganku. Benar-benar perut yang indah. Terakhir kali aku melihat perut seindah ini adalah saat aku bercinta dengan seorang model yang mungkin wajahnya kurang terkenal tapi cukup beberapa kali menghiasi sampul sebuah majalah remaja Ibukota. Sebelum lidahku meninggalkan daerah perutnya, aku meluncurkan sebelah tanganku ke daerah pahanya yang masih tertutup celana jeans. Aku menggerakkannya mondar-mandir menelusuri bagian depan dan dalam pahanya, berkelebat sekilas di depan bagian kewanitaannya menuju sisi satunya, dan kembali lagi. Sampai akhirnya aku berhenti dan mengusapi daerah pribadinya dari luar celananya. Nelly seperti mengerti maksudku, ia menegakkan badannya sedikit dan membantuku membuka kaitan dan retsluiting celananya. Sebentar saja celana itu sudah dapat kutarik lepas, meninggalkan sebuah celana dalam super mini berwarna biru muda bermotif garis-garis masih menempel di badan pemiliknya. Dan aku pun kembali menemukan daerah baru untuk diekplorasi.
Aku kembali menggerakkan lidahku menelusuri daerah perutnya dan bergerak turun ke arah daerah kewanitaannya. Tapi aku tidak berhenti di sana, lidahku terus turun menuju paha kanannya, menelusuri hampir seluruh bagiannya dan terus turun ke betisnya. Kemudian lidahku naik lagi untuk kembali menelusuri bagian dalam pahanya dan naik terus sampai ke daerah pangkalnya. Aku mulai dapat melihat mencium bau harum kewanitaannya dari sini, tampaknya daerah tersebut sudah mulai basah dan mulai mengeluarkan baunya yang khas. Aku berniat menggodanya kembali, lidahku berkelebat cepat dari bagian dalam paha kanannya, melewati daerah kewanitaannya dan sampai di bagian dalam paha kirinya, kembali ke paha kanannya, melewati daerah sensitifnya tanpa menyentuhnya sama sekali, hanya dengan dengusan nafasku saja. Tetapi itu sudah cukup untuk membuatnya terlonjak-lonjak terangsang setiap kali mukaku melewati daerahnya.
Lonjakan paling seru adalah saat akhirnya aku menempelkan bibirku dengan bibir kewanitaannya yang masih tertutup celana dalam sambil menjulurkan lidahku menyapu ke kiri dan kanan membasahi kain tipis yang memisahkan bibirku dengan daerah pribadinya yang paling rahasia itu. Keasyikanku terganggu saat terdengar ketukan di pintu kamar, aku pun beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu itu setelah terlebih dahulu membantu Nelly menutupi tubuh seksinya dengan selimut. Kami sama-sama tidak mau ada orang lain yang dapat menikmati keindahan tubuhnya. Rupanya salah seorang temanku bermaksud mengambil handphone-nya yang tertinggal di dalam kamar. Aku pun mengambilkan barang yang dimaksud sambil kakiku menahan pintu untuk tidak terbuka semakin lebar, memberikan kepada pemiliknya dan kembali mengunci pintu kamar. Mau menelpon kemana sih di pagi-pagi buta seperti ini sampai menggangguku, pada saat ayam jago pun masih bermalas-malasan di tempat tidurnya. Ah itu bukan urusanku, saat ini aku masih punya urusan lain yang lebih penting dan jauh lebih nikmat tentunya.
Nelly menggeser duduknya sampai ke tepi ranjang saat aku kembali berjalan mendekatinya, ia memeluk pinggangku sesaat dan kembali memberikan pandangan khasnya. Ia lalu menggerakkan kedua tangannya melepaskan kaitan celanaku dan mendorongnya ke bawah lalu mengelus-elus kejantananku yang sudah berdiri tegak siap tempur di balik celana dalam. Tidak puas hanya mengelus, ia kemudian menarik turun celana dalamku dan menghadapkan kejantananku ke mukanya. "Its my turn now, Dear," katanya sambil mulai mendaratkan ciuman-ciuman kecil seluruh bagian kejantananku. Ciuman-ciuman itu kemudian disusul dengan jilatan-jilatan nikmat yang semakin menambah rangsangan di tubuhku. Andaikan aku tidak sedang berada di bawah pengaruh obat, tentu aku sudah dari tadi mencapai titik kepuasan karena rasa nikmat dan sensasi yang dihadirkan Nelly ke tubuhku. Ouah, benar-benar nikmat.
Rangsangan itu terus bertambah dan menjalari setiap senti tubuhku saat Nelly mulai memasukkan kejantananku ke dalam mulutnya dan mulai menghisapinya. Ia menghisap, menyedot dan menjilatinya seperti sedang menikmati sebuah es krim yang tidak akan pernah habis. Aku benar-benar menikmati permainan Nelly selama beberapa menit ke depan, sampai aku sudah benar-benar tidak tahan untuk tidak membalasnya. Aku kembali merebahkannya di ranjang dan menggerakkan tanganku ke bawah untuk menarik pertahanan terakhir tubuhnya. Kini kami sudah sama-sama telanjang dan siap untuk melanjutkan pertempuran kami di ranjang. Kembali aku membenamkan kepalaku di antara kedua belah pahanya, menciumi dan menjilati bibir kiri dan kanan kemaluannya. Nelly mendesah setiap kali aku menyentuh kewanitaannya dengan lidahku. Harum kewanitaannya benar-benar tercium menambah keindahan pemandangan di depan mataku, bulu-bulu kemaluannya tampak tercukur rapi di atas klitorisnya. Dan ke sanalah aku mengarahkan seranganku selanjutnya, aku mencumbu klitorisnya dengan kombinasi belaian lidah dan jari-jemariku. Tubuh Nelly semakin menggelinjang dan bergerak-gerak seperti cacing kepanasan. Ia kembali merengkuh kepalaku dan membenamkanya semakin dalam di daerah kewanitaannya sehingga aku susah bernafas dengan bebas.
Menit demi menit berlalu dan aku masih bermain di kewanitaannya, aku memberikan semakin banyak rangsangan kepada Nelly untuk membalas sensasi yang telah ia berikan kepadaku sampai akhirnya ia melonjak, mengejang dan melengkungkan tubuhnya sesaat. Ia telah mencapai orgasme pertamanya. Aku membiarkan ia menikmati gelombang orgasme pertamanya selama beberapa saat dengan terus memainkan lidahku dengan lembut di daerah sensitifnya. Untuk beberapa menit ke depan ia terbaring lemas karena gelombang orgasme yang telah melandanya. "Wow, you are wonderfull," katanya. Kami memang sering memakai bahasa Inggris untuk berkomunikasi satu sama lain, untuk berlatih memperlancar pemakaian bahasa Inggris kami yang agak jarang dipergunakan. Aku sendiri hampir dapat berbahasa Inggris dengan lancar karena aku bekerja di sebuah perusahaan asing yang memiliki banyak tenaga dari luar negeri.
Aku merebahkan tubuhku di sampingnya sambil mengecup mesra pipinya. Ia kemudian membalas dan kami pun mulai ber-French Kiss kembali. Ia menjulurkan tangannya ke bawah dan mulai mengusapi kejantananku kembali dan kembali memberikan sensasi yang luar biasa ke dalam tubuhku. Nelly lalu menegakkan badannya, bangkit ke posisi duduk dan kembali mengantar mulutnya untuk bermain-main dengan kejantananku. Aku menikmatinya sesaat sebelum akhirnya menarik tubuhnya ke atas tubuhku. Kami pun ber-sixty nine. Kali ini aku mulai memasukkan jariku ke dalam liang kewanitaannya, menggerakkannya dengan halus di dalam liang tersebut dan perlahan tapi pasti bergerak menuju titik G-Spotnya. Nelly kembali mengejang saat jariku menyentuh G-Spotnya, ia berhenti bermain dengan kejantananku untuk beberapa saat untuk menikmati rangsangan yang sedang melanda tubuhnya dari titik G-Spot tersebut. Aku dapat mendengarnya mendesah-desah pelan setiap kali aku menggerakkan jariku di dalam liangnya. Dan desahan itu semakin keras saat aku mulai menyertakan lidahku untuk membelai-belai klitorisnya dari luar.
Rangsangan yang menjalari tubuh kami rupanya sudah semakin hebat dan kami pun bergerak lebih lanjut untuk menyelesaikan permainan ini. Theres no way of turning back now Nelly bergulir ke sampingku, memutar posisi tubuhnya sehingga kami dapat berciuman kembali dan kembali menaikkan tubuhnya ke atas tubuhku. Tangannya menjulur ke bawah menggapai kejantananku untuk dibimbing menuju liang kewanitaannya. Ia mendesah kembali saat ujung kejantananku menyentuh permukaan kewanitaannya, ia menggesek-gesekkannya sebentar di bibir kemaluannya dan mulai menurunkan pantatnya menyambut kejantananku saat ia merasa posisinya sudah tepat. Ternyata foreplay yang lama ini belum cukup untuk membuat kejantananku dapat memasuki kewanitaannya dengan lancar tanpa halangan. Dinding-dinding kewanitaannya terasa begitu kencang menjepit batangku yang berusaha mencari jalan masuk. Rupanya Nelly pun merasakan hal yang sama, ia bergerak-gerak sedikit untuk mempermudah kejantananku mencari jalan. Dan akhirnya setelah beberapa menit bekerja keras seluruh batangku dapat tertanam dengan mantap di liang kewanitaannya.
Kami mendesah nikmat bersamaan dan terdiam sesaat saat ujung kejantananku terasa menyentuh ujung rahimnya. Kurasakan betapa dinding-dinding dalam kewanitaannya begitu erat menjepit dan memijat kejantananku, rupanya inilah gunanya mempelajari senam seks. Nelly pernah menceritakan kepadaku bahwa senam yang satu ini dapat melatih wanita mengatur otot-otot kewanitaannya untuk menghadirkan sensasi yang luar biasa bagi lawan mainnya. Sensasi tersebut berganti sensasi lainnya saat Nelly mulai menggerakkan pantatnya naik turun, membuat kejantananku bergerak keluar dan masuk liang kenikmatannya. Aku pun tak mau diam saja, aku mengangkat pantatku naik dan mendorong kejantananku melesak makin dalam saat Nelly menurunkan pantatnya. Aku mencoba menggesek G-Spotnya dengan kejantananku, dan rupanya berhasil. Tidak hanya itu saja, aku juga menggerakkan kedua tanganku untuk meremas-remas kedua bukit indah dengan putingnya yang tampak di depan mataku sesekali juga aku menghisap kedua puting itu bergantian untuk menambah rangsangan bagi kami berdua.
Nelly mendesah dan bergerak semakin seru setiap kali kejantananku menghantam ujung rahimnya. Semakin lama gerakan kami berdua semakin cepat dan semakin menguras tenaga, sampai akhirnya Nelly mengejang dan melengkungkan badannya kembali. Gelombang orgasme kedua telah melandanya. Ia tampak masih berusaha meneruskan gerakan-gerakan naik turunnya untuk menikmati orgasmenya yang kedua sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya yang lemas di atas tubuhku dan terdiam untuk beberapa saat. Tubuhnya bermandikan keringat, padahal udara ruangan cukup dingin karena hari sudah mulai pagi dan AC yang menyembur kencang. Aku mengambil selimut yang berada di sampingku dan menebarkannya untuk menutupi tubuh kami berdua supaya tidak masuk angin.
"Kamu hebat, aku sudah dua kali sedangkan kamu belum juga," katanya memecah keheningan diantara kami. "Mungkin ini karena pengaruh obat," jawabku. "Ya, aku yakin narkoba lah yang telah menambah daya tahanku. Lets do our favorite style," katanya lagi. Kebetulan kami memang punya gaya favorit yang sama yaitu gaya anjing, kami pernah membicarakan hal ini meskipun kami belum pernah melakukannya bersama. Kami hanya bercerita bahwa pernah melakukannya dengan partner kami sendiri-sendiri. Dari situlah aku tahu bahwa seks bukanlah hal yang asing baginya. Kami pun mengambil posisi untuk melanjutkan permainan kami (seperti mau lomba lari saja). Nelly mengambil posisi merangkak di atas ranjang dengan kedua tangan berpegangan pada sandaran ranjang sementara aku mengambil posisi di belakangnya dan mulai mengarahkan kejantananku untuk kembali memasuki liang kewanitaannya. Kali ini aku dapat menanamkan kejantananku di tempat tujuannya tanpa banyak perjuangan, tapi tetap saja terasa betapa otot liangnya meremas dengan kuat setiap senti batangku saat bergerak masuk.
Aku kembali menggerakkannya keluar masuk saat kurasa posisiku sudah mantap. Nelly pun ikut berpartisipasi aktif menggerakkan pantatnya ke kiri, kanan dan berputar-putar dengan erotis menyambut gerakanku Setiap gerakan menghadirkan rangsangan dan sensasi yang berbeda bagi kami berdua. Kami tidak bertahan lama dalam posisi ini karena dalam beberapa menit saja aku sudah merasakan gelombang orgasme yang kutunggu-tunggu akan segera melanda. Aku semakin mempercepat gerakanku dan membuat Nelly juga semakin mempercepat gerakannya. Akhirnya gelombang orgasme terakhir kami datang bersamaan dan kami masih terus bergoyang untuk menikmatinya sambil aku merasakan kejantananku berdenyut-denyut mengeluarkan lahar panas di dalam kewanitaan Nelly membasahinya sampai ke bibir bagian luar. Kami berdua terkulai lemas sesaat setelah gelombang orgasme itu melanda.
Aku membenarkan posisi tidurku agar tidak menindihnya, mengambil selimut dan kembali menyelimuti badan kami yang basah oleh keringat. Kami pun tertidur berpelukan untuk beberapa saat. Selang beberapa saat kemudian kami pun kembali berpakaian dan keluar dari kamar untuk kembali bergabung dengan teman-teman yang lain. Beberapa teman tampak memandang sesaat saat kami melangkah keluar dari kamar dan kemudian kembali dengan kesibukannya masing-masing. Aku menuju dapur untuk mencari minuman bagi kami berdua, pengaruh obat sudah tidak kurasakan lagi di kepalaku, hanya ada memori indah tentang apa yang baru saja terjadi di antara aku dan Nelly.
Aku bersandar di dinding dapur sambil merengkuh Nelly ke dalam pelukanku. Nelly pun merapatkan tubuhnya ke dadaku sambil sesekali mereguk minuman kaleng yang kuberikan. Kami memandangi sinar matahari yang mulai tampak menghiasi kaki langit. Pemandangan yang begitu indah tapi jauh lebih indah memori yang telah kami ukir semalam. Memori indah tersebut sampai kini masih ada di kepalaku walaupun aku sudah tidak tahu dimana Nelly kini berada. Kami putus hubungan dan aku kehilangan jejaknya beberapa bulan setelah malam di apartemen itu. Kabar terakhir yang kudengar bahwa ia akan segera menikah di akhir tahun ini, itu berarti tidak ada lagi kesempatan bagi kami untuk mengukir lebih banyak kenangan indah bersama. Well, tidak untuk bersama Nelly tetapi aku sendiri masih dapat mengukir banyak kenangan indah lain bersama wanita-wanita lainnya. Hanya saja apakah kenangan itu akan seindah kenanganku bersama dia? Thats another story guys and I promise to tell you if I have the chance So Well see about that See you later, thanks.
Tamat
|
| Dosen Favoritku Posted: 07 Dec 2007 11:50 PM CST Namaku Anita, kelahiran Samarinda, kuliah di fakultas Ekonomi sebuah PTS cukup beken di kota Malang, saat ini semester 6. Kabarnya teman kuliahku bilang aku cukup manis untuk dipandang, dengan ukuran buah dada 34C, tubuhku seolah tak kuat menyangga buah dadaku. Tinggiku 165 cm dan beratku 60 kg, kulitku putih mulus dan pantatku berisi. Tiap kuliah dengan kelebihan yang kupunya aku berusaha menarik perhatian semua orang dengan pakaian ketat dan rok miniku berjalan melenggang. Semua mata tertuju kepadaku ada juga beberapa berdecak kagum atas kemolekan tubuhku dan, aku bangga menyaksikan semua itu.
Terus terang aku sudah tidak perawan sejak usia 18 tahun pada waktu aku di SMA, karena bebasnya pergaulan dan longgarnya tatanan keluargaku aku bebas pergi kemana saja yang kusuka. Keperawananku hilang saat aku melakukan kegiatan "camping" bersama teman-teman saat perpisahan sekolah di suatu tempat pariwisata. Aku tidak menyesali karena kulakukan atas dasar suka sama suka.
Kuliah sore ini adalah dosen favoritku. Faisal namanya, wajahnya ganteng atletis dan banyak sekali mahasiswi yang berusaha menarik perhatiannya pada saat dia mengajar. Bahkan aku pernah dari kakak tingkatku walau dia kelihatan alim sebenarnya piawai juga dalam menaklukkan hati wanita yang diincarnya. Pak Faisal sudah berkeluarga tetapai masih banyak juga mahasiswi yang tergila-gila melihat penampilannya termasuk aku sendiri. Aku pilih tempat duduk paling depan lurus dengan tempat duduknya biar aku dapat dengan mudah dan puas memandangnya. Tak lama kemudian Pak Faisal memasuki ruangan, setelah memberikan salam dan berbasa-basi pelajaran dilanjutkan. Aku tidak dapat konsentrasi pada kuliah yang diajarkannya, pikiranku tertuju pada wajah dan bodinya yang tepat berdiri di depanku. Sesekali kugerakkan kakiku untuk menarik perhatiannya dan dia terpancing, diliriknya rokku yang cukup sempit itu, sreet. Dan dipalingkan wajahnya pada pandangan lain, ah dia kena, pikirku. Dan secara tidak sengaja dilemparkan pandangannya pada daerah dadaku Pak Faisal agak terbelalak melihat belahan dadaku yang seolah mau melompat keluar karena ketatnya T-shirt yang kukenakan.
Merah wajahnya seketika menyadari keadaan ini dan dia pura-pura menulis di papan. Selang beberapa saat dia melanjutkan membahas materi kuliah dan kini aku yang benar-benar terkejut, kulihat celana Pak Faisal ada yang menggembung di bagian depan. Beberapa mahasiswa tersenyum malu memandangnya bahkan ada yang sempat terhenyak sampai menutup mulutnya. Kubayangkan betapa besar batang kemaluan Pak Faisal yang sekarang sembunyi di balik celananya. Aku semakin terkagum dan merinding membayangkan andaikan vaginaku yang sempit ini sempat disinggahi oleh batang kemaluannya. Ketika kuliah usai mahasiswi ramai membicarakan kejadian yang baru berlangsung yaitu menggembungnya celana Pak Faisal. "Eh, Neti kamu lihat nggak anunya Pak Faisal meradang", tanya Nina sambil berbisik berbicara dan menutup mulutnya. "Iya Nin, Aku jadi merinding lho membayangkan, ngeri juga ya, kalau kamu bagaimana Anita", Tanyanya kepadaku, mereka berdua denganku (jadi bertiga) adalah kelompok belajar yang kadang suka ngerumpi hal-hal yang jorok-jorok untuk selingan, dan kedua temanku juga orangnya fair dia mengaku sama-sama tidak perawan dan senang melakukan hubungan seks dengan orang yang di sukai. Yang jelas ketiganya ini memang sedang berburu Pak Faisal, Karena konon kabarnya Pak Faisal pernah juga terlibat beberapa kali affair dengan mahasiswinya dan semua berjalan santai-santai saja. "Pasti dong, aku kan duduk depan sendiri jadi aku paling jelas lihat burung raksasanya, benar juga ya kali. Kakak tingkat kita itu yang pernah sama dia pasti ketagihan dibuatnya,.." cerita Anita berapi-api, " Dan yang jelas aku pengin mendapatkannya", lanjutnya.
Setelah puas ngerumpi kiri, kanan, depan dan belakang mengupas habis masalah dosen favorit, aku berpisah dengan sahabatku untuk janji bertemu besok dan akan berusaha bertemu dengan Pak Faisal pada minggu depan, aku berjalan kaki karena kebetulan mobil yang biasa kupakai harus mengalami pemeriksaan medis di bengkel. Tak kurasakan ada mobil berjalan pelan mengikutiku sampai akhirnya kira-kira berjarak 300 meter di luar halaman kampus, kaca jendela mobil terbuka dan kudengarkan suara yang tidak asing menawari untuk mengantarku. Aku menoleh dan, deg, deg, deg, jantungku seakan berhenti. Pak Faisal yang baru saja kubicarakan tersenyum manis mengajakku. Tanpa berkata lagi aku langsung membuka pintu kiri dan kuletakkan pantatku pada tempat duduk kiri. Mata Pak Faisal tak luput melihat pahaku yang tersingkap dan dengan cepat kututup pintu serta membenahi letak dudukku yang terlalu sembrono itu.
Mobil berjalan lambat kuperhatikan interior di dalamnya cukup mewah dengan lapisan karpet halus dan bersih serta wangi, aku kerasan di dalam mobilnya. Sesekali mata Pak Faisal mengarah pada belahan dada yang padat berisi, apabila jalan bergelombang tak ayal lagi dadaku ikut turun naik sesuai irama jalan. Tak terasa perjalanan sudah jauh melampaui arah kos-kosanku. Sambil bercerita ringan Pak Faisal memindahkan persnelling tanpa melihatnya dan.. secara tidak sengaja dia menyenggol pahaku, cepat-cepat ditarik tangannya sambil mengucapkan maaf berkali-kali. Aku tersenyum saja padahal aku juga kepingin tangannya berlama-lama di pahaku bahkan tidak hanya di paha saja.
Tak terasa mobil dibelokkan pada restoran yang mewah dengan fasilitas karaoke. Pak Fasial memilih tempat yang asri dengan lokasi pribadi ruang hanya untuk dua orang. Setelah makanan tersedia Pak Faisal menikmati sambil bernyanyi. Merdu juga suaranya, mesra di telinga. Ruangan ber-AC tinggi membuat aku agak dingin, sengaja kurapatkan dudukku untuk tidak terlalu dingin, Pak Faisal masih terus bernyanyi. Dua lagu telah selesai dinyanyikan dan dengan lembut tangannya mulai memeluk bahuku dan.. gila, aku menikmati sekali. Tak lama kemudian dia semakin berani mempermainkan rambutku, aku tetap terpejam dan disentuh bibirku dengan tangannya akhirnya perlahan dan lembut bibirnya merapat di bibirku. Aku tidak menyia-nyiakan keadaan ini dengan cekatan pula kujulurkan lidah kecilku untuk dinikmati dan kami saling berpagukan ketat. Kuhisap mulutnya dia juga membalas tangkas sampai aku hampir kehabisan nafas, dia tidak diam dengan perlahan diraihnya payudaraku dari luar kaos dan tangannya mulai menyibak kaosku. Dingin terasa payudaraku disentuh jari yang kokoh. Putingku tak luput dari jarinya dan kurasakan pentilku mulai mengeras. Aku masih tetap memeluk dan kuciumi lehernya. Perlahan ditarikknya kaosku keatas hingga tinggal BH dan rok miniku saja, dia semakin agresif saja kelihatannya, Pak Faisal berdecak kagum melihat buah dadaku meyembul besar seakan BH-ku tak sanggup menampung semua payudaraku ini. Didekatkan kumisnya pada susuku aku kegelian dan kurasakan hangat lidahnya mengulum pentilku, aku kegelian hebat. Rambut Pak Faisal jadi sasaran untuk menahan geli, aku mengucek dan menjambak rambutnya, tetapi dia semakin menjadi. Susuku diberi cupang hingga nampak merah pekat ganas sekali dia, pikirku.
Perlahan diraihnya leher dan aku ditidurkan di atas sofa, lagu karaoke sendu menambah gairahku semakin tinggi. Pak Faisal tak bosan-bosan menciumi bagian tubuhku dan kurasakan pahaku bersentuhan dengan tangan berbulu milik Pak Faisal. Rokku disibak dan ditariknya keras sehingga pengaitku lepas, gila cing.. kini tinggal celana dalamku yang berwarna ungu serta BH dengan warna yang sama. Pak Faisal semakin bernafsu, mulutnya menjalar kemana-mana aku hanya gelisah dan mengerang, semakin aku mengerang semakin ganas dia melakukan aksinya. "eeh, Pak, Pak, Faisal, aah", Aku nggak betah saat dia memainkan vaginaku dengan tangannya dan dielus lembut bulu vaginaku yang mulai basah. Aku kegelian saat jari tengahnya dimasukkan kedalam lubang vaginaku, dia semakin bernafsu. "hhmm, Hmm", lenguhnya.
Aku semakin menjadi tak menentu, kekuatanku hilang saat Pak Faisal dengan fasih menaruh lidahnya dalam lubang kemaluanku, digigit-gigit kecil kelentitku yang memanjang dan semakin basah. Bunyi kecipak air kemaluanku menambah Pak Faisal semakin berani menjulurkan lidahnya pada bagian dalam. Aku semakin kegelian. Semakin aku menggeliat mengangkat pantat kurasakan sentuhan lidah dalam vaginaku dan tangan Pak Faisal yang satu juga masih tidak mau lepas pada payudaraku. Lengkap sudah kepuasan saat ini. Semua daerah sensitif milikku telah direngkuhnya. Tangannya sekarang sibuk melepas baju dan kini dia tinggal celana saja. Disuruhnya aku duduk dan dia berdiri, tanganku dituntun ke arah celananya dan disentuhkannya pada benda yang mengeras dibaliknya. Kuelus lembut, kutempelkan mukaku pada celana tersebut terasa berdenyut keras. Aku mulai tak sabar kubuka retsleting celana Pak Faisal, kulihat putih warna celana dalamnya dan.. Astaga kepala kemaluan Pak Faisal ternyata sudah keluar dari kolornya kucoba meraba ujung kemaluannya, keluar air sedikit agak liat. Celana dalam putih kutarik ke bawah dan aku kaget setengah mati, baru kali ini kulihat kemaluan lelaki kaku mendongak ke atas, otot-ototnya kelihatan jelas meradang dan ukurannya tak terbayangkan. Aku was-was, digoyang-goyangkan kemaluannya ke arah mukaku, terasa pipiku seperti dipukul palu. Dengan senyum kupegang kemaluan Pak Faisal dan.. Wuuiihh tanganku tak cukup melingkari bulat kemaluannya dan panjangnya kuperkirakan sekitar 22 cm, dia juga tersenyum melihat kebingunganku. Kulihat dia sambil melongo dan dia tidak menyia-nyiakan waktu dengan mendesakkan kemaluannya ke mulutku.
Mulutku yang kecil tidak muat mengulum semuanya hingga masih banyak yang tersisa di luar. Aku dengan menganga penuh kususahan agar kemaluan Pak Faisal masuk dalam rongga mulutku, tetapi masih tidak bisa. Akhirnya aku jilati secara merata, dia mulai menggelinjang dan melenguh. Mulai dari ujung kugerakkan masuk dan keluar dengan mulutku dia semakin tidak karuan juga geraknya. Dengan susah payah kukelomoh kemaluan Pak Faisal yang besarnya seperti botol, semakin cepat dan semakin cepat. Kurasakan ada cairan manis keluar sedikit di mulutku. Kuhisap semakin kuat dan kuat, Pak Faisal pun semakin keras erangannya. Pak Faisal mulai ingat tangannya bekerja lagi mengelus vaginaku yang mulai mengering basah kembali. Mulutku masih penuh kemaluan Pak Faisal dengan gerakan keluar masuk seperti penyanyi karaoke.
Aku tersentak merasakan Pak Faisal menarik kemaluannya agak keras menjauh dari mulutku dan dengan sigap ditidurkannya aku di atas karpet, kedua kakiku diangkat diletakkan di atas pundaknya kiri kanan sehingga posisiku mengangkang, dia bisa melihat dengan jelas vaginaku yang kecil namun kelihatan gemuk seperti bakpau. Kulihat dia mengelus kemaluannya dan menyenggol-nyenggolkan pada vaginaku aku kegelian. Aku bersiap dibukanya kemaluanku dengan tangan kiri dan tangan kanan menuntun penisnya yang gede menuju lubang vaginaku. Didorongnya perlahan, sreett, dia melihatku sambil tersenyum dan dicobanya sekali lagi, mulai kurasakan ujung kemaluan Pak Faisal masuk perlahan. Aku mulai geli tetapi agak sakit sedikit. Pak Faisal melihatku meringis menahan sakit dia berhenti dan bertanya, "Sakit ya..", Aku tidak menjawab hanya kupejamkan mataku ingin cepat merasakan kemaluan besarnya itu. Digoyangnya perlahan dan.. Bleess digenjotnya kuat pantatnya kedepan hingga aku menjerit, "aauu." Kutahan pantat Pak Faisal untuk tidak bergerak. Rupanya dia mengerti vaginaku agak sakit dan dia juga ikut diam sesaat. Kurasakan kemaluan Pak Faisal berdenyut dan aku tidak mau ketinggalan. Aku berusaha mengejan sehingga kemaluan Pak Faisal merasa kupijit-pijit. Selang beberapa saat vaginaku rupanya sudah dapat menerima semua kemaluan Pak Faisal dengan baik dan mulai berair sehingga ini memudahkan Pak Faisal untuk bergerak. Aku mulai basah dan terasa ada kenikmatan mengalir di sela pahaku. Perlahan Pak Faisal menggerakkan pantatnya kebelakang dan kedepan, aku mulai kegelian dan nikmat. Kubantu Pak Faisal dengan ikut menggerakkan pantatku berputar.
"Aduuhh, Anita", erang Pak Faisal menahan laju perputaran pantatku rupanya dia juga kegelian kalau aku menggerakkan pantatku. Ditahannya pantatku kuat-kuat agar tidak berputar lagi, justru dengan menahan pantatku kua-kuat itulah aku menjadi geli dan berusaha untuk melepaskannya dengan cara bergerak berputar lagi tapi dia semakin kuat memegangnya. Kulakukan lagi gerakanku berulang dan kurasakan telur kemaluan Pak Faisal menatap pantatku licin dan geli. Rupanya Pak Faisal termasuk kuat juga berkali-kali kemaluannya mengocek kemaluanku masih tetap saja tidak menunjukkan adanya kelelahan bahkan semakin meradang. Kucoba mempercepat gerakan pantatku berputar semakin tinggi dan cepat kulihat hasilnya Pak Faisal mulai kewalahan dia terpengaruh iramaku Yang semakin lancar. Kuturunkan kakiku mengkamit pinggangnya, dia semakin tidak leluasa untuk bergerak sehingga aku bisa mengaturnya. Aku merasakan sudah tiga kali vaginaku mengeluarkan cairan untuk membasahi kemaluan Pak Faisal tetapi Pak Faisal belum keluar juga.
"Kecepek, kecepek, kecepek", bunyi kemaluanku saat kemaluan Pak Faisal mengucek habis di dalamnya aku kegelian hebat, "Anita, aku mau keluar, Tahan ya.." Pintanya menyerah. Tanpa membuang waktu kutarik vaginaku dari kemaluannya, kugenggam dan dengan lincah kumasukkan bonggol kemaluan tersebut kedalam mulutku, kukocok, sambil kuhisap kuat-kuat, kuhisap lagi dan dengan cepat mulutku maju mundur untuk mencoba merangsang agar air maninya cepat keluar. Mulutku mulai payah tapi air mani yang kuharapkan tak juga keluar. Kutarik kemaluannya dari mulutku. Pak Faisal tersenyum dan sekarang telentang. Tanpa menunggu komando kupegang kemaluannya dan kutuntun kelubangku dengan mendudukinya. Aku bergerak naik turun dan dia memegang susuku dengan erat. Tidak lama kemudian ditariknya tubuhku melekat di dadanya dan aku juga terasa panas. Sreet, sreett, srreett kurasakan ada semburan hangat bersamaan dengan keluarnya pelicin di vaginaku dia memelukku erat demikian pula aku. Kakinya dijepitkan pada pinggangku kuat-kuat seolah tak bisa lepas. Dia tersenyum puas. "Nita, tak pernah aku merasakan vagina kecil seperti punyamu ini, nikmat gila memijit punyaku sampai nggak karuan rasanya, aku puas Nit.""aahh Bapak bohong, berarti sering dong ngerasain yang lain", manjaku.
Dia tidak menjawab hanya tersenyum dan kembali mengulum bibirku kuat-kuat. Akhirnya kita keluar dari karaoke dan pulang menuju ke rumah. Kini tangan Pak Faisal menempel pada pahaku dan tanganku menempel di celananya. Sesekali kusandarkan wajahku di dadanya dan jari nakal Pak Faisal mulai beraksi dengan manja. Kurasakan gumpalan daging kemaluan Pak Faisal mulai mengeras lagi, dia tersenyum melihatku dan dipinggirkan mobilnya pada tempat yang cukup sepi. Kugosok pelan pelan kemaluan Pak Faisal semakin mengeras. "Gila baru main sudah minta lagi rupanya, wah gawat ini bisa nggak pulang dong malam ini", pikirku.
Diciumnya kening dan pipiku dan dia berkata manja."Kalau sekarang Nita boleh ngeluarin punyaku ini dimulut seperti tadi", aku terbelalak rupanya dia mengerti keinginanku tadi belum kesampaian dan inilah saatnya. Tanpa ba bi Bu lagi kuarahkan ke bawah retsleting celananya dan aku kaget ternyata Pak Faisal tidak memakai celana dalam, gila dia sudah ngerti rupanya. "Lho Kemana CD-nya pak", tanyaku pura-pura bingung."Sudah tak taruh di bagasi kok", jawabnya kalem sambil mendorongkan kepalaku ke arah kemaluannya. Aku menurut, malam ini aku bebas berbuat apa saja terhadap kemaluan Pak Faisal. Kuhisap dengan berbagai cara agar aku puas dan puas, kursi ditarik kebelakang jadilah posisi Pak Faisal seperti orang setengan telentang aku semakin leluasa menghisap kemaluan itu. Tangan Pak Faisal pun tak tinggal diam diselipkan pada vaginaku yang basah lagi, dia juga berusaha memasukkan jari tengahnya penuh ke vaginaku, sesekali diremasnya kuat susuku saat dia kegelian.
Kulepas mulutku, kulihat kemaluannya itu lagi sambil kugosok naik turun seperti onani, aku kagum melihat ukurannya. Kuhisap lagi berulang sampai aku puas. Aku mulai merasakan adanya cairan manis keluar dari ujung kemaluannya. Aku terus berusaha, mulutku mulai payah, kugoyang-goyangkan telur kemaluan Pak Faisal, dia kegelian dengan mengucek vaginaku dalam-dalam. "eehh, sstt, aahh", kudengar erangannya mulai tidak karuan, aku terus melakukan hisapan, kuluman dan jilatan pada kemaluan yang membonggol itu dan hasilnya luar biasa. "Nit, aku mau keluar nih." Mendengar perkataan itu aku semakin gencar melakukan hisapan sambil tanganku bergerak naik turun untuk mempercepat rangsangannya. Dan tak lama kemudian, "Sreett.. srreett.." kurasakan dua semburan air warna putih pekat masuk mulutku terasa agak manis asin. Karena kuatnya semprotan dari kemaluan Pak Faisal kurasakan ada air mani yang langsung masuk tertelan. Aku bertahan sambil terus menghisap dan dia semakin tidak karuan tingkahnya. Kuhisap terus sampai terasa tidak ada lagi air mani yang keluar dari kemaluan Pak Faisal. Kubersihkan kemaluan Pak Faisal dengan menjilatinya sampai bersih. Aku puas merasakan semuanya dan Pak Faisal pun demikian. Masih terus kujilati dan kudorong keluar masuk kemaluan Pak Faisal dia terus mengerang tidak karuan. Aku bahagia, sebentar kemudian kurasakan kemaluannya mulai mengecil dan lemas, pada saat kecil dan lemas tersebut aku merasakan mulutku mampu melahap kemaluannya secara menyeluruh.
Diciumnya keningku yang basah keringat, tepat pukul 22.00 aku sudah sampai di Kos-ku dan berharap suatu saat Pak Faisal mengajakku kembali. Pada esoknya sahabatku hanya ternganga mendengar ceritaku yang telah berhasil berkencan dengan Pak Faisal sampai keluar air maninya dua kali, dia mengatakan aku curang karena tidak memberi tahu bagaimana cara menggaet Pak Faisal. Aku cuek saja dan sampai kini walaupun aku sudah berkeluarga aku masih sering membayangkan kemaluan Pak Faisal yang tegak menantang itu, hal ini dikarenakan suamiku orangnya pekerja keras sehingga lupa waktu dan jarang memberikan nafkah batin yang cukup, tetapi sayang sejak menikah aku tidak pernah ketemu lagi sama orang yang memiliki kemaluan dan permainan seks yang hebat.
Tamat
|
| Donnyku Sayang Donnyku Malang Posted: 07 Dec 2007 11:50 PM CST Namanya Donny, entahlah itu nama ia sebenarnya atau tidak. Laki-laki yang mengaku umurnya 27 tahun itu memiliki kulit sawo matang dan wajah yang menarik. Untuk laki-laki sebayanya, Donny adalah sosok laki-laki yang unik, ini karena dia sudah kukenal 9 bulan lamanya. Aku memanggilnya Aa karena dia jauh lebih tua umurnya dibanding aku dan karena dia adalah orang Bandung.
Oh ya, perkenalanku dengan Aa dimulai dari seringnya aku menggunakan internet untuk mencari tugas kuliah, sebagian waktuku kadang kusisakan untuk berchating ria. Hitung-hitung mencari sahabat penghilang rasa stress. Dan Aa ini adalah salah satu produk yang sangat mujarab, ibarat obat ia adalah puyer penghilang segala rasa sakit, yang tadinya pikiran suntuk setelah ngobrol dengan Aa semuanya menjadi fress kembali.
Aa bekerja pada sebuah perusahaan BUMN, dan pekerjaannya itu berhubungan dengan dunia internet, aku juga tidak tahu persisnya Aa mengerjakan apa namun yang pasti Aa adalah sosok laki-laki yang kuimpakan, walaupun pada kenyataannya Aa telah bertunangan dengan gadis asal daerahnya.Namun, karena letak perusahaannya amat jauh, mereka hanya bisa bertemu sekali-sekali saja.
Seperti biasanya jam 4 sore aku online, Aa telah menungguku. Beberapa hari ini aku memang jarang sekali OL, karena banyak tugas kuliah yang mesti kuselesaikan. Aa mengatakan kalau dia sangat merindukanku, betapa sepi hari-harinya tanpa aku di sisinya. Ceilee.. itulah rayuan gombal yang sangat kurindukan darinya. Entahlah dengan Aa, aku bisa menjadi sosok seorang wanita yang kompleks, kadang Aa menjadikanku seorang sahabat, adik, teman dan tidak jarang Aabersikap sebagai kekasih. Tapi kebanyakan sih Aa selalu menggodaku. Layaknya laki-laki yang normal, Aa juga kadang suka jahil mengarahkan pembicarAan ke hal-hal yang berbau seks, yang jujur saja bagiku itu amat menantang karena pada Aa, aku bisa mencari jawaban atas pertanyaanku. Dan rasa penasaranku tentang hubungan badan yang akhir-akhir ini kami diskusikan membawaku pada sebuah keinginan untuk merasakan keabsahan cerita Aa. Namun aku hanya bisa menyimpan keinginan itu, karena dalam dunia nyata aku tidak memiliki kekasih. Mungkin karena aku adalah gadis yang sangat tertutup dan tidak mau membuka diri dalam dunia laki-laki. Atau semua ini karena trauma kebencianku pada laki-laki akibat penyelewangan ayahku yang kini menghasilkan seorang bayi yang mungil ditengah keluargaku.
Tepat satu tahun perkenalan kami, aku mendapatkan sebuah undangan dari LSM, dan letak LSM itu dekat dengan kota tempat Aa tinggal. Sengaja aku tidak mengatakan padanya, aku ingin ini menjadi kado bagi pertemuan kami. Setelah sampai di hotel tempatku menginap, aku meneleponnya. Kukatakan padanya aku ingin bertemu, Aa hanya menanggapinya dengan sebuah suara tawa yang meledekku. Namun sebelum Aa menyelesaikan tawanya, aku memberi nomor telepon di hotel tempatku menginap. Tentu saja dia terkejut, kalau saja hari itu tidak ada rapat penting, dia sudah berada di sisiku goda Aa padaku, namun setelah rapatnya selesai dia segera akan ke tempat hotelku menginap.
Jam tujuh malam, aku menunggunya di lobby. Untung saja kawan-kawanku di LSM sudah selesai merapatkan seminar yang akan kami gelar esok lusa. Dengan bermodalkan photo yang dia berikan padaku, aku melihat satu persatu tamu yang memasuki hotel, namun sampai jam delapan malam, Aa tidak datang. Jangankan batang hidungnya, telepon saja tidak kuterima. Tentu saja aku kecewa, kukira Aa adalah orang yang suka menepati kata-kata, tapi toh apa kenyataannya, pelan-pelan kecurigaan muncul di benakku, mungkinkah semua ini cuma sekedar permainan orang iseng, atau photo yang diberikan Aa padaku bukanlah Aa yang sebenarnya. Ah.. pikiranku kacau.
Jam 8:30 malam aku meninggalkan hotel. Aku menitipkan pesan kepada resepsionis bahwa kalau ada yang mencariku, aku sedang berjalan-jalan di pantai. Hembusan angin malam membuatku agak mengigil, namun toh ini semua tidak sedingin hatiku saat ini. Kubirkan rambut panjangku tergerai di mainkan sang bayu, kutatap bintang pada cakrawala yang hitam di atas mega, malam ini begitu indah dan syahdu dan jilatan-jilatan air laut pada kakiku memberikan kesan yang segar.
"Maaf.. apakah anda yang bernama Valencia?" sebuah suara mengagetkan dan menjajari langkahku. "Hmm.. iya benar?" jawabku ragu-ragu. "Maaf anda siapa yah..?" tanyaku penuh selidik. "Masa dengan suara Aa kamu lupa Val..?" sahutnya kalem diiringi sebuah derai tawa. Ya ampun.. seketika itu kupeluk Aa. Air mataku meleleh. Di dekapnya kepalaku erat-erat. Air mataku masih mengalir, menitik membasahi kemeja Aa. Dilepaskannya pelukanku, jemarinya menghapus air mataku.
"Valen menangis?" tanyanya retoris. Aku mengangguk, ya aku menangis.. tangis bahagia. "Kenapa baru tadi sore sih kamu telepon Aa ke kantor, lagian mo ke sini nggak bilang-bilang?" protes Aa. "Biarin.. nanti gak surprise lagi," kataku.
Dan pandangan kami bertemu. Wajah Aa yang tegas, dengan mata elang serta alis yang tajam dan sebuah bibir yang merah menantang, kelihatan berseri-seri. Beberapa saat kami saling meneliti lekuk tubuh masing-masing.
"Kamu terlihat begitu cantik Val, tidak sama seperti yang di photo yang kamu kirimkan!" Aa menggodaku perlahan. Semburat rona merah akibat rasa malu yang melandaku tak bisa kutahan. Kucubit lengan Aa mesra. "Tapi kok kamu nggak nungguin Aa di loby sih, malah melarikan diri ke sini, takut yah ama Aa." Aa melingkarkan tangannya ke pinggangku. "Ihh nggak lagi.. lagian Aa kenapa malam banget sih baru datang ke sini?" rajukku kesal. "Ya lah Val, kantor Aa kan jauh dari sini, lagian Aa kan musti beres-beres dulu mau ketemu bidadari cantik kayak kamu.." Aa mulai merayu. Aku tersenyum. "Lagian kamu kok nggak bisa ngenalin suara Aa sih tadi.. Pura-pura yah." Aa menggodaku lagi. Kucubit laki-laki jangkung di depanku. "Maklum lah Aa.. disini kan samar-samar jadi nggak kelihatan jelas!" rajukku manja. "Hehe bukannya remang-remang gini malah tambah asyik!" goda Aa sekali lagi. "Emang sih, cuma Valen takut..?" "Loh kok takut Val, Aa nggak gigit kok?!" "Yah Aa nggak gigit cuma Aa ngesun aja dikit." Kami tertawa bersama-sama. Dan yang membuatku bahagia Aa bisa membuat aku bahagia malam ini dengan obrolan-obrolannya yang lucu namun tetap memiliki style yang unik.
Malam itu kami merayakan pertemuan kami di pub, aku yang belum pernah minum-minuman kelas tinggi harus menerima juga, bukan apa-apa, aku ingin jaga gengsi saja, bukannya aku tidak ingin dikatakan gadis kampungan yang cara berpikirnya kolot.
Alhasil.. aku tidak bisa pulang ke kamarku sendirian. Aa membawaku ke kamar dengan memelukkuerat. Dibaringkannya tubuhku di ranjang itu. Aa segera melepaskan sepatuku dan menyelimutiku. Walaupun setengah pusing, aku bisa merasakan kecupan bibir Aa yang basah di keningku.
"Aa disini aja yah, Valen takut?!" ucapku lirih dan kugengam tangannya. "Iya.. Aa disini kok, Valen tiduran aja yah? pintanya lembut. Kurasakan jari-jemari Aa meremas jemariku, lembut dan hangat. Pelan-pelan kubawa jari-jemari Aa ke bibirku dan menciumnya lembut. "Terima kasih yah A.. untuk malam yang terindah bagi Valen?" ucapku serak. Aa tidak menjawabnya sebagai gantinya Aa malah memberikan ciuman pada bibirku. Ciuman itu lembut sekali, basah dan begitu manis. Tentu saja aku gelapan saat pertama mendapatkan serangan mendadak itu, namun pelan-pelan kunikati ciuman Aa. Perlahan-lahan Aa menurunkan ciumannya, dari bibir Aa terus turun ke leher dan aku hanya mengerang kecil. Perasaanku jadi tidak karuan, apalagi setelah lidah Aa mendarat di putingku, kurasakan sensasi yang sangat indah dan nikmat, "Ohh Aa.. ohh.. hemm.." aku mendesah keenakan.
Kurasakan Aa berhenti menciumiku, entahlah aku tidak tahu apa yang dilakukannya karena mataku sagat berat untuk kubuka, namun sejurus kemudian Aa telah mengulangi ciumannya, kali ini Aa melepas bajuku hingga tidak ada sehelai benangpun menempel di tubuhku. Tentu saja aku gelapan apalagi lidah Aa sudah berada di dalam daerah vitalku. Dengan lidahnya dia memilin-milin klitorisku dan menyedot cairan mani yang keluar dari vaginaku hingga kering, aku hanya bisa meremas bantal di sampingku untuk mereda sensasi yang ditimbulkan pada setiap gerakan lidah Aa, apalagi lidah Aa sangatlah panjang dan lembut serta basah. Setiap gerakannya merupakan sensasi yang dahsyat. Aku hanya bisa mengerang sementara Aa sibuk memberi pelayanan bagiku.
"Aa sekarang A.. Valen udah nggak tahan lagi?!" pintaku parau pada Aa. "Boleh.." katanya disetai dengan desakan sebuah benda yang cukup keras pada liang kewanitaanku. Walapun aku sudah melebarkan kakiku lebar-lebar namun Aa tak bisa menembus liang kewanitaanku dengan barangnya. Namun dengan sebuah hentakan yang keras, disertai rasa perih yang hebat, Aa berhasil menebus dinding selaput daraku.
"Ooohh.. sakit A.." jeritku keras. Rasanya beribu-ribu silet menyayat dinding vaginaku. Aa terdiam sebentar. Dihentikannya gerakan memasukkan barangnya ke dalam liang vaginaku. Dialihkannya gerakannya pada bibirku, pelan-pelan bibirku dikulum dengan lidahnya dia beraksi menguragi rasa sakitku. Setelah ciuman kami berlangsung cukup lama, Aa kembali menggoyangkan pantatnya dan melakukan gerakan maju mundur, walaupun sakit namun kurasakan sensasi yanglain, ada perasaan geli, nikmat dan perih bercampur jadi satu pada gerakan Aa.
Beberapa menit kemudian Aa mempercepat gerakannya, dan kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan ketika Aa dengan erat memelukku. Kurasakan badan Aa bergetar di dalam pelukaku, nafasnya memburu cepat, dan sebuah sunggingan senyum puas terlihat di sudut bibir merah Aa. Ternyata keindahan yang kurasakan tidaklah dapat diukir dengan kata-kata.
Setelah kejadian itu, Aku pulang ke kotaku dan pada bulan berikutnya Aa melamarku. Namun aku tidak menginginkan keterikatan dengannya. Aa bukanlah pangeran impianku, pada dirinya aku hanya bisa menemukan nafsuku, bukan cinta yang selama ini yang kucari, walapun begitu aku berterima kasih padanya karena telah mengenalkanku pada sebuah dunia yang indah dan penuh dengan rangkaian kenikmatan.
Tamat
|
| Ditunjukkannya Bukti Keperawanannya Padaku Posted: 07 Dec 2007 11:50 PM CST ni adalah pengalamanku beberapa tahun yang lalu. Kisah ini berawal dari kepindahan kerjaku di kota Tr. Singkatnya demikian, berawal di tahun 2003 aku pindah kerja karena operasional kegiatan tempat kerjaku harus pindah dari kota Sm ke kota Tr.
Di kota Tr inilah keadaannya terasa asing dan sepi, maklum baru pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini. Sebagai sarana menghilangkan rasa sepi saya mencoba mencari teman dengan memanfaatkan HT untuk mencari teman. Dengan memanfaatkan pipa yang berada di belakang rumah, saya dirikan tiang antena.
Setelah semuanya terpasang, kucoba menghidupkan HT-ku dan langsung saya mainkan dengan cara melakukan scanning. Tak lama saya menemukan channel yang kebetulan ramai sekali. Tak kusangka meski di kota ini sudah berkembang sarana komunikasi lewat HP namun penggunaan HT ternyata juga masih ramai. Kucoba untuk bergabung. "Cek in, cek in..", barulah ada sambutan.. "Oke, yang cek in silakan".
Akhirnya mulai hari itu saya aktif ikut bergabung di channel tersebut sebagai sarana menghilangkan rasa sepi sekaligus untuk mencari teman. Pada suatu hari aku berkenalan dengan seseorang sebut saja namanya Uut, berawal dari perkenalan di udara, berlanjutlah dengan pertemuan di darat, dengan membuat janji untuk bertemu di suatu tempat.
Akhirnya kami sepakat untuk bertemu di sebuah rumah makan. Berawal dari pertemuan tersebut, hubungan kami kian hari semakin akrab, tidak kenal pagi siang bahkan malam kami intensif saling berkomunikasi. Dan pada suatu hari kami membuat janji untuk berjalan-jalan di sebuah tempat wisata yang ada di kota Tr.
Dengan mengendarai sepeda motor, kami berangkat menuju pantai yang berada di bagian timur kota ini. Jarak pantai tersebut dengan tempat tinggalku sekitar 5 km saja. Sesampai di lokasi yang kami tuju, kucari tempat yang teduh di bawah pohon pinus yang tumbuh rindang di lokasi tersebut, kustandar sepeda motor sekaligus sebagai tempat duduk.
Tak lama Uut mendekat dan kuminta duduk sekalian di jok sepeda motor yang sudah saya parkir. Kupegang tangannya dan kubimbing untuk ikut duduk, dia menurut saja. Sambil bercerita berbagai hal, kupandangi tubuhnya yang tinggi semampai di tunjang wajahnya yang cantik hingga dia terlihat tersipu malu. Kucoba memegang bahunya dan dia diam saja hingga aku semakin berani merangkul tubuhnya yang sintal padat berisi dari belakang, seakan dia sedang membonceng naik sepeda motor.
Kedua tanganku kuletakkan di kedua pahanya, dia seakan mengikuti dan menikmati hangatnya dekapan dan sentuhan lembut kedua tanganku. Kami berdua hanya diam membisu. Dengan gerakan pelan namun pasti, kedua tanganku kugeser mendekati pangkal pahanya kemudian naik ke buah dadanya. Kulihat dia sangat menikmati setiap gerakan tanganku.
"Boleh aku melihat punyamu sayang?" bisikku. Dia hanya diam saja. Aku ambil kesimpulan bahwa berarti dia tidak keberatan. Langsung saja tanganku kugerakkan dari bagian bawah kaos yang ia kenakan dan dari bawah BH-nya kuterobos dan kumasukkan kedua tanganku dan langsung kubelai dengan lembut kedua belah gunung kembarnya.
Ternyata dia hanya diam dan seakan menikmatinya. Setelah beberapa lamanya aku meremas-remas kedua gunung kembarnya di balik BH yang menutupinya, tanganku kembali aku tarik dan aku letakkan di kedua belah pahanya dengan diikuti tarikan nafas panjangnya.
Aku sendiri juga sangat menikmatinya. Hati kami berdua seakan telah menjadi satu. Tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua, namun tanganku tidak diam dengan diikuti usapan-usapan lembut tangan Uut, tanganku kemudian kuarahkan ke pinggangnya dan kuputarkan di resliting jelana jeans yang sedang ia kenakan lalu kubuka dengan pelan dan penuh perasaan kemudian tanganku kumasukkan ke dalamnya. Dia hanya terdiam sambil menengadahkan kepalanya ke angkasa sembari merebahkan tubuhnya ke dadaku.
Aku semakin berani hingga dengan penuh perasaan aku arahkan jemari tanganku ke lubang kenikmatannya yang masih terbungkus dengan CD halusnya. Aku sudah merasakan adanya kelembaban dan kehangatan dari dalamnya. Uut pun menarik nafasnya dalam-dalam seakan menikmati setiap gerakan tanganku.
Kemudian aku tarik tanganku pelan-pelan namun langsung kuselipkan ke dalam CD-nya yang halus hingga telapak tanganku langsung mendekap dengan penuh hangat sebongkah gundukan halus nan lembut sembari kudekap erat tubuhnya. Kubiarkan sekian lama aku hanyut menikmati dan merasakan menyatunya hati kami berdua.
Tak terasa matahari telah tenggelam. Seperti terbangun dari tidur kami berdua tersadar dan segera kulepaskan tubuhnya sembari kututup kembali resliting celana jeannya yang telah saya buka tadi.
"Sayang.., kelihatannya sudah petang, bagaimana kalau kita pulang?"
Ia langsung setuju. Kali ini dia saya minta untuk membonceng pulang. Di sepanjang perjalanan, saya lanjutkan belaian saya dari belakang sampai akhirnya kami sampai di pertigaan jalan, kemudian saya ganti memboncengnya karena rumahnya sudah dekat hingga tidak enak kalau sampai dilihat orang bahwa dia membonceng saya. Kuantar dia pulang, dan saya pun juga langsung pulang. Malam harinya kembali saya melanjutkan komunikasi dengan HT dengan menggunakan kode khusus, tentunya dengan frekwensi yang khusus juga.
Dari hari ke hari, hubungan saya dengan Uut semakin akrab saja, apa lagi setelah perjalanan kemarin. Aku pun membuat janji kembali dengannya untuk berjalan bersama lagi.
Aku ingat bahwa hari itu adalah hari Sabtu, sudah aku tetapkan dengannya bahwa kami akan berjalan-jalan lagi. Aku jemput dia ke rumahnya, dia telah menunggu dengan mengenakan celana jeans lagi dan kaos berwarna merah hati, tak lupa dia bawa juga dompet tangannya. Tepat jam 16.00 aku beranjak dari rumahnya.
"Akan kemana kita?" tanyaku. "Terserah saja" jawabku.
Akhirnya aku arahkan motor ke pelabuhan, kemudian berputar-putar di kota dan akhirnya kuputuskan ke lapangan golf. Di tempat ini terlihat sepi dan enak. Aku parkir motorku di bawah pohon johar dan kembali aku duduk di jok sepeda motorku dan dia berdiri di sampingku.
Kutarik bahunya dan kutempatkan tubuhnya agar berdiri tepat di depanku, kemudian kembali kedua tanganku dari atas pundaknya kuturunkan hingga berada tepat di depan buah dadanya, kemudian kuselipkan dari balik kaosnya, kumasukkan dan langsung kutangkap buah dadanya yang sebelah kiri.
Dia hanya diam saja. Setelah sekian lama, kulihat dia sudah kelelahan berdiri hingga kemudian kuminta di ikut naik duduk di jok motor yang telah kuparkir. Setelah pada posisi seperti seakan sedang memboncengku, kembali aku melakukan gerilya. Kubuka resliting celana jeansnya dan langsung kumasukkan tanganku ke balik CD-nya. Dia tampak sangat menikmatinya. Setelah beberapa lama dia bertanya padaku..
"Mas, boleh aku melihat punyamu?"
Aku pandang matanya dan menganggukkan kepala pertanda setuju. Kemudian kubuka resliting celanaku hingga terlihat penisku menonjol dengan tegak karena terus terang semenjak aku memegang miliknya punyaku juga sudah tegang berdiri menantang. Kukatakan padanya..
"Dik kamu percaya apa tidak, kalau punyaku ada tanda khusus, jadi kalau kamu mencarinya pasti akan mudah apalagi kalau sudah mengenali ciri khas punyaku". "Apa cirinya Mas?" tanyanya terbengong.
Kuminta dia turun dan berdiri di samping motor, kemudian aku keluarkan dan kutunjukkan tanda khusus yang terdapat di senjataku. Betapa terkejutnya setelah dia melihat senjataku yang langsung keluar seperti spring, memantul dengan ukuran yang jika teman-temanku bilang GESAR (gede dan besar) lalu kutunjukkan padanya tahi lalat berdiameter 0,5 cm yang terdapat di pangkal senjataku. Setelah puas melihatnya kemudian adik kecilku kumasukkan kembali. Tak terasa hari sudah petang. Kemudian kami berdua pulang. Aku antar dia dan saya pun juga langsung pulang.
Keesokan harinya, sekitar jam 08.00 tiba-tiba dia datang ke tempat kostku. Kupersilakan dia masuk. Perlu saya informasikan bahwa di rumah yang saya sewa tersebut aku tinggal sendiri, rumah tersebut terdiri dari 3 kamar yang cukup besar. Dan rumah tempatku tinggal ini jaraknya dengan tetangga agak jauh sedikit sehingga terlihat agak sunyi, hanya TV dan komputer hiburanku di rumah.
Setelah masuk, Uut langsung berkeliling melihat-lihat seluruh isi rumahku dan kemudian duduk di depan TV. Aku lihat wajahnya tampak seperti orang yang sedang gusar.
"Kamu kok kelihatan tidak tenang, Sayang?" tanyaku. (Padahal dalam hati aku sudah dapat merasakan bahwa dia sedang berjuang menahan gejolak nafsunya yang telah memuncak setelah beberapa kali mendapat rangsanganku, tetapi aku pura-pura tidak tahu saja)
Dia hanya terdiam. Aku langsung tanggap kemudian kuputuskan untuk duduk di sampingnya. Kuangkat tangannya kemudian kuremas-remas dan dia hanya diam saja. Tangannya terasa halus dan hangat. Kemudian kurebahkan diriku dan kuletakkan kepalaku tepat di pahanya, baru kemudian tampak wajah cerah terpancar di pipi dan matanya.
Kuletakkan tangannya di dadaku kemudian tanganku kumasukkan ke dalam kaos yang ia kenakan dan langsung kuselipkan dibalik BH-nya hingga dapat kutangkap buah dadanya yang padat berisi kemudian kuremas-remas sambil kuputar tubuhku sehingga berposisi miring dan mukaku tepat berada di depan pangkal pahanya. Kugigit kecil pangkal pahanya, sehingga dia menggelinjang.
"Eh sakit Mas", katanya.
Lalu aku hentikan seluruh aktifitasku, kemudian aku duduk di sampingnya. Aku tahu bahwa dia sudah mulai terangsang dengan aksiku tadi, kemudian aku ajak dia duduk di jok kursi tamu lalu kuminta dia duduk di sampingku. Terus terang adik kecilku juga sudah tegak berdiri menantang, namun tidak terlihat karena saya mengenakan celana dalam. Kutarik tangannya dan kubimbing untuk menangkap adik kecilku. Dia menurut saja.
Darahku seakan mendidih hingga ke otak rasanya, berdenyut dengan kuat, apa lagi setiap kali dia remas, aku baru merasakan hal demikian. Kulihat dia sangat menyukainya. Lalu kutarik tubuhnya dan kusingkapkan kaos dan BH-nya kemudian aku remas kedua buah dadannya. Kulihat dia juga sudah sangat terangsang karena aku kira dia juga sudah tidak dapat membendung lagi gejolak nafsunya setelah beberapa hari menerima belaian rangsanganku. Aku lihat di melepaskan celana jeansnya.
"Kamu mau apa sayang?" tanyaku. "Biar lebih enak", jawabnya.
Kemudian dibimbingnya tanganku untuk memegang miliknya yang kurasakan hangat dan lembab. Ternyata perkiraanku benar bahwa dia sudah sangat terangsang. Dengan lembut aku belai miliknya hingga dia hanya bisa mendesis keenakan dan menggelinjang ke kanan dan ke kiri. Kemudian dia lepaskan seluruh pegangannya. Dia mendesis dengan liar, kulihat tangan kanannya memegang CD warna putihnya yang sesaat kemudian telah terlepas dari tempatnya.
Kemudian dia berdiri dan naik ke jok kursi tepat di pangkuanku lalu berjongkok dan sesaat kemudian dia memintaku untuk memasukkan adik kecilku di liang kenikmatannya. Aku tidak percaya, sedemikian nekat dan beraninya dia memaksaku.
"Ayo Mas cepat", pintanya. "Dik sebentar, aku ke belakang dulu", jawabku.
Aku beranjak menuju kamar mandi untuk buang air. Ternyata dia mengikutiku dari belakang untuk ikut buang air. Tak kusangka setelah membasuh miliknya, dia langsung saja memintaku untuk memasukkannya dengan berdiri di kamar mandi. Aku sangat kasihan melihatnya karena ternyata dia sudah tidak mampu lagi menahan birahinya hingga kuputuskan untuk mengikutinya. Dan sesaat kemudian, dengan susah payah untuk memasukkan senjataku ke liangnya, akhirnya dengan basah kuyupnya tubuhku dan tubuhnya karena keringat, perjuangannya kami berhasil untuk memasukkan senjataku ke liangnya.
Nafasnya terengah-engah, kulihat dia sudah mencapai puncaknya. Setelah terdiam sesaat, kugerakkan tubuhku hingga dia meringis dan mendesis. Seperti ada yang mendorong tubuhku, kusingkap kaus dan kutanggalkan BH-nya hingga sesaat kemudian kukulum puting susunya. Dia menggelinjang dan sesaat kemudian tubuhnya bergetar hebat lalu melemas.
Melihat situasi seperti ini, kuputuskan kutarik milikku hingga dia terlihat bengong, kemudian kuarahkan tangannya untuk melakukan kocokan terhadap milikku. Dengan bersemangat dia melakukannya. Berselang beberapa lama kemudian ada getaran hebat di dalam tubuhku yang terpusat di milikku dan crot.., crot.., crot.., cairan kental berwarna putih dengan kuatnya langsung menyemprot di mukanya. Kemudian kami berdua langsung mandi bersama dan membuat sarapan bersama dengan membakar roti.
Semenjak kejadian tadi, kami berdua merasa tegang. Aku sendiri juga merasa berdosa karena dengan terlihat gamang dia menunjukkan kepadaku bahwa ada bercak darah di CD-nya dan dia katakan bahwa keperawanannya telah koyak olehku. Sejak hari itu, aku merasa berdosa. Tetapi perasaan itu akhirnya sirna dengan kehadirannya setiap saat di sisiku.
Tamat
|