Friday, December 28, 2007

Memori Rumah Kontrakan

Posted: 28 Dec 2007 11:28 AM CST

Hai para netter, cerita ini berdasar kisah nyata seorang teman kami. Saya punya teman sebut saja dia Edy asal kota P, Sumatera Selatan. Kami kuliah di kota J. Pengalaman ini terjadi saat kami mengawali kuliah dan bersama dalam satu kontrakan. Suka duka kami lalui bersama sampai dalam hal pacaran pun kami saling membantu dalam berbagai hal. Hingga suatu waktu Edi mendapatkan seorang pujaan hati sebut saja Dewi, sering Dewi diantar jemput kalau kuliah karena mereka satu kampus dan kebetulan kontrakan Edi berdekatan dengan kost tempat tinggal Dewi. Mereka berdua bagaikan Romeo dan Juliet. Dimana ada Edi di situ ada Dewi. Hubungan mereka pun semakin akrab dan intim.

Suatu ketika, malam Minggu tepatnya Dewi minta diantar ke tempat temannya yang sedang merayakan ulang tahun. Acara sangat meriah sekali, hingga jam 24:00 acara masih berlangsung. Tetapi Dewi mengajak pulang, karena waktu yang sudah kelewat malam. Sebenarnya Edi pun menolak karena begitu meriahnya pesta ulang tahun tersebut. Dan akhirnya Edi pun menyanggupi untuk segera mengantar pulang Dewi, malam semakin larut dan udara dingin pun menyelimuti dan menghembus sepoi-sepoi dalam deru sepeda motor Edi, mereka sempat berhenti sejenak di pompa bensin untuk mengisi bensin. Sesampai di kost tempat Dewi ternyata pintu gerbang sudah dikunci, padahal Dewi sudah pesan kepada pembantu agar pintu jangan dikunci, soalnya Dewi pulangnya ke kost terlambat. Dan akhirnya Edi pun kasih solusi.
"Dewi.. gimana kalau tidur saja di kontrakanku," kata Edi.
Dewi terdiam sejenak.
"Gimana ya.. aku kan enggak enak sama temen kamu Ed," jawab Dewi.
"Itu bisa diatur, nanti yang penting kamu mau tidak, dari pada tidur di jalan," kata Edi sambil senyum.
"Ayolah keburu dilihat orang kan nggak enak di jalanan seperti ini Nan," kata Edi.

Dewi pun menyetujinya, mereka pun bergegas menuju kontrakan Edi. Sesampainya di rumah kontrakan tampak sunyi dan hanya hembusan angin malam karena teman-teman Edi pada malam mingguan dan tidak ada yang pulang di rumah kontrakan.
"Ayo masuk, kok diam saja," kata Edi menyapa Dewi.
Dewi pun terhentak sedikit terkejut.
"Teman-temanmu dimana Ed?" tanya Dewi.
"Mereka kalau malam Minggu jarang tidur di rumah," jawab Edi.
"Ooo gitu," sergah Dewi.

Akhirnya Dewi dipersilakan istirahat di kamar Edi.
"Nan, selamat bobok ya.." kata Edi.
Dewi pun tampak kelelahan dan tertidur pulas. Setengah jam kemudian Edi kembali ke kamarnya untuk melihat Dewi dan sengaja kunci pintu kamar tidak diberikan kepada Dewi, tapi betapa kagetnya Edy melihat Dewi tidur hanya menggunakan BH dan celana dalam, karena saat itu posisi tubuh Dewi miring hingga selimut yang menutupi tubuhnya bagian punggung tersingkap.

Entah setan mana yang menyusup di benak Edy. Edy pun langsung mendekat ke arah Dewi, dengan tenangnya Edy langsung mencium bibir Dewi. Dewi pun terbangun.
"Apa-apaan kamu Ed?" sergah Dewi sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
Tanpa pikir panjang Edy langsung menarik selimut dan Edi pun langsung menindih Dewi yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. Dewi meronta-ronta dan Edy pun tidak menggubris, ia berusaha melepas BH dan CD-nya. Tenaga Edi lebih kuat hingga akhirnya BH dan CD Dewi terlepas dengan paksa oleh Edi. Nampak jelas buah dada Dewi dan bulu lembut kemaluannya. Dewi kelelahan tanpa daya dan hanya menangis memohon kepada Edy. Edi tetap melakukan aksinya dengan meraba dan mencium semua tubuh Dewi tanpa sedikitpun terlewatkan. Dewi terus memohon, Edi pun tak menggubrisnya.

Dan setelah puas menciumi vagina Dewi, Edi melakukan aksi lebih brutal. Ia mengangkat kedua kaki Dewi di atas perut dan dengan cepat Edy mencoba memasukkan penisnya ke dalam vagina Dewi.
Dewi menjerit tertahan dan hanya isak tangis yang terdengar, "Kumohon Ed, hentikan!" seru Dewi dalam isak tangisnya.
Dan "Bleess, bleess," penis Edi masuk dalam vagina Dewi walaupun di awal masuknya cukup sulit.
Edy pun mulai menggoyang pinggulnya hingga penisnya terkocok di dalam vagina Dewi. Darah segar pun keluar dari liang jinak Dewi, ia pun terus memohon.
"Akh.. akh.. hentikan Ed..!" desah Dewi.
Tampak sekali wajah Dewi menunjukkan kelelahan, dan sekarang hanya terdengar erangan kenikmatan di antara kedua insan ini.
"Ah.. ah.. ah.." Edi pun terus mengocok penisnya dalam vagina Dewi dan beberapa saat kemudian terasa Edi akan mengeluarkan sperma, ia pun langsung mencabut dan mengocoknya dari luar dan.. "Croot.. Croot.. Serr.." sperma Edi muncrat tepat di bibir Dewi dan sekitar wajah.
Mereka kelelahan dan akhirnya tertidur.

Hari menjelang pagi saat itu jam menunjukkan pukul 07:30 pagi, Dewi terbangun bersamaan dengan itu Edi juga terbangun. Edi melihat Dewi yang sedang mengenakan BH dan CD.
"Antar aku pulang sekarang Ed.." kata Dewi.
"Iya.. aku cuci muku dulu," jawab Edi.
Edi pun mengantar Dewi pulang ke kostnya.

Selang beberapa bulan hubungan mereka mulai retak, ada selentingan kabar kalau Edi mendekati cewek lain sebut saja Sinta, dan akhirnya Edi dan Dewi resmi bubaran. Tapi reaksi Edi tidak sampai di situ, justru setelah putus dengan Dewi ia gencar mendekati Sinta. Dengan berbagai cara dan upaya akhirnya Edi berhasil mendapatkan Sinta dan mereka resmi jadian. Sama seperti yang dilakukannya dulu, ia sering antar jemput kuliah Sinta dan kalaupun jemput Sinta biasanya tidak langsung pulang melainkan jalan-jalan kemana saja sambil cari makan tentunya. Sering pula Sinta diajak ke tempat kontrakan Edi lebih sering dibandingkan Dewi pacar yang dulu.

Pagi itu kuliah jam ke-2 mereka satu ruangan tapi dosen tidak hadir jadi kosong, mereka berdua bergegas ke tempat Edi, sampai di kontrakan rumah sepi soalnya teman-teman ada yang ke kampus dan ada juga yang masih tidur. Mereka berdua langsung masuk kamar Edi, Sinta tiduran di ranjang sambil mendengarkan musik. Edi masuk membawakan kopi susu dan tanpa basa basi Edi membelai rambut Sinta dan Sinta pun bersandar dalam dekapan Edi. Edi langsung mencium bibir Sinta dan tangannya mulai masuk dalam baju street Sinta dan meremas-remas payudara.
"Ed.. jangan dong.." desah Sinta.
"Enggak apa-apa, kan cuma dikit," kata Edi, tapi Edi terus menyerang, ia melepas seluruh pakaian Sinta dan Sinta pun hanya diam tanpa perlawanan, dan jelas sudah seluruh tubuh Sinta yang kuning langsat dan payudara lumayan besar.
Mereka mulai bergelut mencium dan meremas satu sama lain.

"Sin, kulum dong kontolku!" kata Edi.
Dibimbingnya kepala Sinta menuju kemaluan Edi dan, "Em.. kemaluanmu besar juga Ed," kata Sinta.
Edi hanya diam menikmati hisapan mulut Sinta. Edi pun langsung saja menjilati dan menghisap vagina Sinta hingga mereka melakukan posisi 69.
"Ugh.. Ugh.." desah Sinta.
Kemudian Edi duduk dengan kaki dijulurkan, ia minta Sinta duduk di atasnya layaknya seorang anak kecil. Tepat penis Edi masuk dalam vagina Sinta.
"Pelan-pelan Ed.." kata Sinta mendesah.
Sinta mulai menaik-turunkan pinggulnya dan "Bleess, bleess.." kemaluan Edi masuk seluruhnya dalam vagina Sinta.
"Ah.. ah.. ah.." desah Sinta sambil menggoyangkan pinggulnya.

Edi pun merespon gerakan tersebut. Dan mereka melakukan gerakan yang seirama, "Ah.. ah.. ah.." desah Sinta semakin keras.
"Aku nggak kuat Ed.." Edi hanya diam menikmati gerakan-gerakan yang dimainkan Sinta.
Dan akhirnya, "Ugh.. ugh.. ugh.. ahh.." desah Sinta yang tubuhnya mengelenjang sambil memeluk tubuh Edi.
Ternyata Sinta mencapai puncak kenikmatan. Dan Edi membalikkan tubuh Sinta tepat di bawah badannya, Edi mulai mengocok penisnya yang belum lepas dari vagina Sinta, dan "Ahk.." desah Edi dan beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya dan meletakkan di bibir Sinta dan "Croot.. Croot.. Serr.." sperma Edi muncrat tepat di seluruh wajah Sinta. Mereka pun akhirnya berpelukan setelah mencapai kepuasan.

Semenjak kejadian itu mereka sering melakukannya di kontrakan Edi. Entah siang atau malam karena Sinta sering menginap dan tidur satu ranjang bersama Edi. Hubungan mereka semakin intim dan hanya bertahan selama 8 bulan. Hal itu disebabkan Dewi mantan pacar yang dulu mengajak membina hubungan kembali. Edi akhirnya pisah dengan Sinta dan kembali lagi dengan Dewi.

Suatu sore Dewi datang ke kontrakan Edi, Dewi langsung masuk menunggu di kamar Edi karena diminta teman-teman Edi.
"Edi baru mandi" kata salah seorang temannya.
"Ooo," jawab Sinta, dan beberapa saat kemudian Edi masuk dan hanya mengenakan handuk dilingkarkan di pinggulnya.
"Sama siapa Wii.." kata Edi.
"Sendiri," jawab Dewi sambil mendekat ke arah Edi.
Edi tanggap dengan situasi itu, ia langsung mencium bibir Dewi dan melepas baju street warna biru muda yang dipakai Dewi. Edi langsung mencopot BH dan menghisap puting susu Dewi.
"Ah.. ah.." desah Dewi.
Tangan Dewi langsung meremas penis Edi yang saat itu handuknya telah jatuh ke lantai. Edi mulai melapas celana panjang Dewi serta CD-nya. Mereka bergumul di atas ranjang.
"Ah.. ah.." desah Dewi yang semakin merasakan kenikmatan.
Edi mengangkat kaki kiri Dewi kemudian dengan sergapnya Edi mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Dewi sambil kaki kiri Dewi tetap terangkat.
"Bleess, bleess.." kemaluan Edi masuk seluruhnya dalam vagina, Edi suka dengan posisi seperti itu karena vagina terasa sempit.

Edi mulai menggerakkan kemaluannya keluar-masuk.
"Ah.. ah.. ah.." erangan kenikmatan keluar dari bibir Dewi, Edi pun merasakan kenikmatan pula.
"Ugh.. ugh.." desah Edi pelan. Beberapa saat kemudian Edi melepas penisnya, Dewi mulai menghisap dan menjilati penis Edi sambil dikocok dengan jari-jemari lembut Dewi.
"Kulum dong Wi.." desah Edi. Dewi turuti saja apa kemauan Edi.
Kemudian Edi kembali memasukkan penisnya dalam vagina Dewi, "Bless.." langsung masuk dan Dewi sempat menjerit tertahan karena menahan sakit.
Kemudian Edi mulai menggerakkan penisnya, "Bleess.. bleess.." kemaluan Edi keluar-masuk.
"Ah.. ah.. ugh.." tubuh Dewi mulai bergetar dan mengelejang.
"Aku keluar Ed.." desah Dewi tapi Edi masih mengocok penisnya dalam vagina Dewi dan Dewi hanya menahan.
Kedua tangannya mencengkeram kuat bibir tempat tidur sambil menahan gerakan yang Edi lakukan. Edi mulai bergetar, "Ugh.." desahnya.
"Di luar apa di dalam Wi.." kata Edi pelan.
Dewi hanya diam dan "Croot.. croot.. serr.." sperma Edi keluar di dalam vagina Dewi.
Edi pun rebah sambil memeluk tubuh Dewi yang hangat dan lunglai.

Mereka tersenyum puas.
"Kamu pinter dech sekarang Wi.." kata Edi.
"Pinter apa'an," jawabnya.
"Pinter mainnya, belum lagi bulu vagina kamu tambah lebat."
Dewi hanya tersenyum saja sambil tangannya membelai batang kemaluan Edi. Hari sudah menjelang pukul tujuh malam dan akhirnya mereka berpakaian dan keluar untuk makan malam.

TAMAT

Tuesday, December 25, 2007

Membandingkan Kenikmatan

Posted: 25 Dec 2007 06:22 AM CST

10 Tahun aku jalani Hubungan dengan Tuti , wanita yang mewarnai kehidupanku. Perkenalan kami dimulai dari hubungan kerja dikantor sampai terjadi hubungan intim. Waktu itu dia atasanku. Usia Tuti lebih tua 4 tahun dariku tapi bodynya yang aduhai, pantat menonjol dada 34B membuat orang tergiur untuk mendekapnya selain kulitnya putih. Beruntungnya aku yang kulit coklat, tinggi 168 dan berat badan 50 kini usiaku genap 37 tahun yang tergolong badan saya biasa-biasa saja tapi bisa memiliki Tuti .

Tuti adalah orang kepercayaan Pemilik usaha hiburan dikota bandung juga sebagai cewek simpanannya tentunya hubungannya sudah jauh. Pertemuan Tuti dengan Bosnya boleh dibilang jarang paling cuma sebulan sekali. Dari keseringannya kami bersama dan kebutuhan sex Tuti dirasa kurang maka hubungan aku dan Tuti pun terjadi layaknya suami istri. Kapanpun bila sedang horni kita cari hotel atau motel yang penting hasrat untuk bercinta dapat terwujud.

Cintapun mulai bergejolak kami sulit untuk dipisahkan sampai hubungan kita terdengar sama Bosnya Tuti yang sampai marah besar karena merasa telah dikhianati Tuti . Saat ditanya "mau pilih saya atau dia" Kata bosnya. Tuti lebih memilih aku. Padahal hubungan kami juga tidak direstui baik orang tua Tuti maupun orang tuaku karena perbedaan agama. Tapi Aku tak senekad Tuti yang berniat Kawin lari, aku masih ingin punya status perkawinan yang direstui. Untuk itu akupun mencari wanita selain Tuti yang akan menjadi Istri saya. Tentunya keputusanku ditentang Tuti . Hatinya hancur, kecewa, marah bercampur cinta. Tetapi setelah aku merayunya dan menerangkan kehidupan pernikahan kalau tidak direstui itu beresiko maka dengan berat hati Tuti melepas aku menikah dengan orang lain.

Keperjakaan saya memang Tuti yang mengambil dan aku tidak mendapatkan keperawanan Tuti karena aku mendapatkan Tuti sudah menjadi simpanan bos. Baru pada Perrnikahan saya dengan Ami yang mempunyai badan putih langsing usianya terpaut jauh lebih 15 muda dengan saya pada saat perkawinan itu Ami masih berumur 21 tahun sedang saya 37 tahun, ketika itu aku dapat merasakan bagaimana membelah perawannya seorang wanita.

Permainan bercinta aku waktu sama Tuti biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa tetapi beberapa posisi telah dipermainkan walau tidak pernah lebih dari satu jam dan 3 ronde dalam sehari dalam interval waktu istirahat yang cukup panjang juga. Kini malam penganten diranjang penganten apalagi kalau tidak untuk melakukan kewajiban sebagai suami terhadap istrinya, aku mempunyai perasaan kalau aku tidak dapat memuaskan wanita yang jauh lebih muda dariku.

Dalam kamar dan ranjang pengantin aku mulai menciumi tubuhnya melumat bibirnya yang tebal dengan penuh nafsu, Sambil Tanganku mulai membelai perlahan rambutnya. Kemudian Ciuman turun ke lehernya dan kembali beradu bibir Kemudian tanganku merayap di pahanya. Ciuman kami bertubi-tubi.Bibir saling berpagutan. Lalu kusingkap bagian atas bajunya dan dengan leluasa tangan kiriku mengelus Buah dadanya. Ami sepertinya mulai terhanyut.Aku mulai menciumi bagian susunya. Ami sangat menikmati. Aku pun mendesah dan berbisik " Ami…. kamu cantik sekali..". Kemudian kurebahkan tubuhnya.. Terlihat buah dada Ami yang membusung.berukuran 34B. bulat dan padat berisi. Perlahan aku mulai mengulum kedua bukit tersebut secara bergantian. Putingnya yang merah kujilati serta aku hisap lembut. Ami memejamkan matanya dan mulai mendesah. Tangannya berpegangan pada sprei. Sementara tubuhnya terus bergeliat.
"aghhh..sshhshs..ugghh..". Desahannya membuatku makin lahap mengulum Buah dadanya. Tangan kiriku bergerilya menuju selangkangannya. Kumasukan jariku di antara CDnya dan kugesek-gesekan dipermukaan vaginanya.
"agh..Ka….. Ami sudah terangsang dengan permainanku. Kulumanku di Buah dadanya. kuhentikan Sejenak dan kembali mengulum bibirnya sementara tangan kiriku tetap menggesek-gesek vaginanya. Ciumanpun menjadi lebih memburu. Akupun lepas CDnya.

Karena sudah tak tahan aku langsung membuka seluruh pakaianku. Dengan penis yang sudah menegang sedari tadi. Ami hanya melihatku. yang sudah sangat bernafsu, maka aku langsung mengarahkan Penisku yang berukuran 14 cm itu ke lubang vaginanya. Aku lebarkan selangkangannya. sambil mengelus pahanya.
ujung Penisku mulai menusuk. Vagina Ami meringis. Aku elus buah dadanya biar Ami bisa merasakan rangsangan seksual pada bagian tubuhnya yang lain. Penisku pun mulai menusuk makin dalam. "ah...sakit ka...." ringisnya. Ku cium bibirnya agar mengurangi rasa sakit sedikit. Aku mulai melanjutkan kembali tusukan penisku ke vaginanya. Perlahan-lahan Penisku masuk seluruhnya ke dalam vaginanya. Kurasakan otot vaginanya berdenyut. Sambil kucium bibirnya, kugoyangkan pantatku perlahan-lahan karena vaginanya masih dirasa sakit oleh Ami. Goyanganku naik turun makin lama makin cepat. Ami terlihat mulai menikmatinya. Aku segera mempercepat goyangan. Terasa nikmaaat sekkaalii. Tapi sekitar 10 menit vaginanya mulai banyak mengeluarkan cairan, kenikmatan dalam vagina berkurang mencengkram penisku
Karena becek terdengar suara dari bagian bawah. Sementar Ami terlihat terengah-engah. Matanya memejam dan bibirnya mendesah "aghh.. enaaakkkk kaa.... shhhhhh.....ahhhh.......!!!"
"kaa akuuu mauuu..." Aku yakin Ami mau orgasme. Ku percepat goyangan pantatku.
Dia mulai menggelinjaaang."aghhhh Kaaa...."
Goyangan pantatku makin dipercepat biar akupun dapat orgasme dan akhirnya akupun ahhhhhhh....ahhhh...Srooot...sroooot..srooot.....

Dua minggu aku telah aku bercinta setiap malam pagi ataupun siang, tetapi kenikmatan dalam berhubungan seks lambat laun terasa hambar. Mungkin aku melakukannya setiap hari dan sebenarnya Nafsu seks Ami tergolong besar, tetapi vaginanya terlalu becek dan cengkramannya kurang, juga dia hanya memikirkan kenikmatan sendiri.

Sering bila aku belum keluar Ami sudah keluar 3 kali, dia diam tidak ada perlawan untuk lebih menggairahkanku, bahkan banyak keluhan saat aku ingin mencapai kenikmatan puncak, "sakit kena kumis ka…." Atau "ka… genjotnya keatas yang bawah sakit…." Mungkin karena Ami sudah tidak bernafsu dan lambat laun Vaginanya mengering, sehingga akupun tidak berkonsentrasi penuh lagi akhirnya penisku layu sendiri tanpa ejekulasi. Kejadian itu selalu terulang dan pernah permainan kami sampai 2 jam dan aku belum keluar juga. Walau demikian aku terus mencari selah-selah yang dapat menjadi kenikmatan dalam berhubungan karena bagaimanapun Ami adalah istriku dan merupakan tanggunggjawab seorang suami dalam menjalani kehidupan seks terhadap istri.

Perasaan bersalah pada Tuti masih membayangiku walau Tuti sudah mengikhlaskannya Tetapi Tuti juga masih menyindir penghianatanku, "Kok bisa ya pacaran tidur ama aku kawinnya ama orang lain…." Dalam obrolan-obrolanku dengan Tuti untuk menghiburnya agar aku dapat sedikit mengobati rasa kecewanya padaku tanpa sengaja hingga kamipun janjian untuk bertemu, dan dengan waktuku yang sempit mencuri-curi keberadaanku dari istriku, kita ketemuan di pertengahan didaerah purwakarta.

Di dalam kamar sebuah hotel siang hari, kami ngobrol mengenang masa lalu dan saling mengungkapkan rasa rindu. Karena lama tak bertemu aku sengaja menatapnya lama-lama hingga Tuti jadi salah tingkah. "kenapa.. jelek ya?" serunya.
Aku hanya tersenyum dan merangkul pundaknya.
"Chayang masih sexy " timpalku. Tuti hanya membalasnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. aku langsung melumat bibirnya yang lembut. Hmm.. lidahku pun menjelajahi rongga mulutnya. "mmhh.. ssllpp.. mm.. sshh" Tuti menikmati permainan yang akan dimulai

Tanganku mulai menggerayangi seluruh badan Tuti . Perlahan-lahan kuusap lengan dan bahunya. Tuti makin terangsang mendorongku ke ranjang tanpa melepaskan ciumannya. Aku mengikuti saja. Dalam sekejap tubuh montoknya telah menindih tubuhku. Penisku mulai naik. Aku coba merentangkan kedua kakiku Perlahan tanganku mengusapi punggung dan lengannya. "sshh.. Ti…" desahku.

Kedua tangannya membelai kepalaku dengan lembut, dan akhirnya bergerak melepaskan kemejaku. Kini aku telah bertelanjang dada. "Sini sayang.. sshh.. oohh" Tuti memeluk tubuhku erat-erat sehingga dadaku dapat merasakan kenyalnya payudara Tuti. Aku tidak diam, lidahku menjelajahi leher dan tengkuk Tuti. Aku teruskan dengan menjilati bagian belakang telinganya,. "sshh.. Ka.. .. hh" tubuh Tuti menggelinjang menikmati perlakuanku. Aku tak peduli, lidahku terus menjalar ke bahu, dan akhirnya aku mencoba menurunkan baju yang dikenakan Tuti.

Aku mulai meremas kedua payudaranya yang montok. Tuti merebahkan tubuhnya dan menikmati remasanku. Sementara itu kedua tangan Tuti kembali merengkuh kepalaku untuk mengajak berciuman. aahh.. lagi-lagi aku merasakan kehangatan bibirnya. mmhh.. nikmat sekali. Birahiku semakin naik.. Aku jilati putingnya. "Sshh.. ohh.. Ka.. .. sshh" Tuti mendesah. Lidahku terus menjelajahi putting dan payudaranya "Sshh.. Ka.. " tiba-tiba Tuti bangkit dan memeluk tubuhku erat sekali. Hmm.. payudaranya yang hangat pun menempel di dadaku. Nikmat sekali. Tuti mendesah panjang
Tuti tersenyum. Kedua tangannya yang lembut membelaiku.
" Ka.. " desahnya. Wajahnya terlihat habis menuntaskan sesuatu"Udah keluar ya ?" godaku. Tuti tersenyum geli sambil mengangguk.

Tuti langsung mendorong tubuhku hingga jatuh lagi. Tuti tersenyum melihat batang penisku yang mulai tegang. Digelitiknya daerah sensitifku. Hmm.. geli enak. Tuti mengocok bagian pangkal penisku, dan dengan lidahnya dijelajahi batang penisku.. Akhirnya batang penisku masuk ke dalam mulutnya yang hangat. Ahh.. nikmat sekali. Kulihat kepala Tuti naik-turun. Sebelah tangannya mulai meggerayangi daerah perutku. Uuuhh.. nikmatnya. Birahiku semakin memuncak. Tak tahan kedua tanganku pun meremas rambut Tuti.

Birahiku yang semakin naik menuntunku untuk mengangkat tubuh Tuti naik ke atas tubuhku. Wanita itu tersenyum senang melihat birahiku yang menyala-nyala. Tuti duduk di atas pahaku, kedua tangannya merangkul leherku. Aku memeluk pinggang. "Sekarang Ka.. ?" desahnya. Aku biarkan Tuti merengek meminta. Dengan gemas Tuti memeluk tubuhku. Aku pun memutar tubuh hingga Tuti kembali terlentang. Aku dekatkan wajahku ke arah vaginanya. Hmm.. aroma kewanitaannya langsung tercium. Dengan lembut kujilati sekeliling vagina dan selangkangan Tuti sebelum akhirnya aku bergumul dengan bibir vaginanya yang masih rapat. "sshh.. Ka.. o.. aahh" Tuti menggelinjang menahan nikmat.

Lidahku menjelajahi vagina Tuti yang belum aku lakukan pada istriku . Jemariku pun ikut membantu melonggarkan liang vaginanya agar aku bisa menjilati klitoris Tuti . Tubuh Tuti terus menggelinjang. Nafasnya tidak teratur. Desahan menahan nafsu terus terdengar."Ka.. .. sshh" desahan Tuti. Bersamaan dengan itu dari vagina keluar cairan kewanitaannya. Hmm.. aku langsung menghirup cairan itu sambil menyedot dinding vagina Tuti . Tubuh Tuti sampai terlonjak. "sshh.. cukup ka.. Aku tersenyum Aku mulai mengarahkan batang penisku ke vagina Tuti . Pelan-pelan kumasukkan.. ssllpp.. aahh.. penisku pun amblas dalam vagina Tuti . Wanita itu merintih sejenak. Kemudian aku menggoyang-goyangkan pantatku untuk berbagi kenikmatan dengan Tuti ."Oohh.. oohh.. sshh.. aahh". Vagina Tuti terasa sekali mengulum penisku.

Kemudian aku mulai merasa vagina Tuti berdenyut kencang. Kemudian aku merasakan ada cairan yang menyirami penisku dari dalam vagina Tuti . aahh.. Tuti pun orgasme lagi
Kemudian kami berganti posisi. Tuti nungging sofa sambil berpegang pada sandaran, dan aku berdiri kutembus liang vagina Tuti dengan penisku. Tanganku memegangi pinggul Tuti yang ikut bergoyangan. Kuusap pantat Tuti yang halus dan mulus. Kamipun merubah posisi lagi, sambil duduk dan Tuti duduk di atas tubuhku.. Tuti memang lihai memimpin permainan. Aku memeluk tubuh montok Tuti. Uuuff.. lidahku segera menjilati, menikmati kenyalnya putting susu. Tuti berkali-kali menjerit di tengah desahan nikmat.


Setelah beberapa menit aku mulai merasa akan ejekulasi. "aahh.. ahh.. Ti….. udah pengen keluar nih" desahku. "sshh.. Ka.. .. aku juga barengan yaa…" lalu Tuti mencium bibirku. Kupeluk pinggang Tuti yang sedang bergoyang. "sshh.. gairahku semakin memuncak, dan juga dinding vagina Tuti mulai berdenyut. "Ka.. o.. bareng ya.. " desah Tuti . Aku mengangguk dan terus menggenjot Tutipun semakin mempercepat goyangannya. aahh.. ahh.... Croott.. crott.. crroott.. croott.. ccrroott.. ccroott. "aahh.. sshh.. Ka.. " Tuti kembali mengeluarkan. Dengan tubuh agak lemas kami berpelukan.
Penis masih tertancap dalam vagina Tuti ."sshh.. makasih sayang, aku udah berbulan-bulan nggak ngerasa kaya gini" desah Tuti lalu mengecupku."makasih juga cengkraman sayang, vaginamu tak sehebat istriku, aku puas. hehehe" jawabku.

Setelah istirahat satu jam kamipun berkemas untuk pulang ke kota masing-masing. Karena aku harus pulang kembali pada istriku. Lewat telepon kami membahas kenikmatan yang telah diarungi berdua. Sejak pertemuan terakhir itu hingga kini Tuti dan Aku susah untuk melakukan pertemuan kembali karena aktivitas Tuti khususnya aku sulit mendapatkan waktu luang karena kita berbeda kota.

Walaupun Tuti aku dapatkan tidak perawan lagi dibandingkan istriku tetapi sosok Tuti yang berpengalaman bisa memuaskanku, mungkin dia selalu merawat dan belajar dengan baik hingga tau apa yang diinginkan lelaki. Permainanku dengan istriku masih gaya konvensional dia belum bisa diajak untuk bermain mencari-cari kenikmatan bercinta. Seandainya Tuti satu kota dengan aku mungkin kami akan melakukannya setiap istirahat jam kantor. Namun itu tidak mungkin dan aku hanya bisa merindukan seks seperti sosok permainan Tuti.

Tamat

Kost-Kostan Kota Kembang

Posted: 25 Dec 2007 06:20 AM CST

Namaku Yuke, mahasiswa fakultas ekonomi PTN terkenal di bandung. Aku diwarisi oleh orang tuaku kost-kostan yang berjumlah 12 kamar untuk membiayai kuliah dan biaya hidup untuk sehari-hari, semacam modal untuk belajar hidup mandiri.

Kostan ku cukup lengkap fasilitasnya, mempunyai ruang tamu sendiri, dapur sendiri dan kamar mandi sendiri, hingga tak heran klo harganya pun rada diatas rata-rata 1,5 jt perbulan, yang mengisi kamar kostan ku kebanyakan anak-anak pejabat dan pengusaha dan dikhususkan untuk wanita, karena yang ngisi cewe semua, kostan ku terkenal dikalangan mahasiswa-mahasiswa cowo yang kuliah dibandung selain letaknya strategis yang adanya di jalan Dago dan cewe-cewenya cantik-cantik.

Di suatu sore datang seorang wanita yang bertubuh tinggi, kulit coklat khas orang Indonesia, buah dada terlihat tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, berparas manis mirip artis Happy Salma. Wanita tersebut memperkenalkan diri dengan nama DIANA, dia hendak menyewa salah satu kamarku yang kebetulan memang ada yang kosong.

Kuajak Diana melihat salah satu kamar yang memang kebetulan baru kosong, Diana melihat keadaan kamar dengan seksama dimulai dari ruang tamu yang memang sudah disediakan sebuah sofa, dilanjutkan kedapur dan terakhir kita berhenti dibagian kamar tidur yang cukup luas dilengkapi sebuah kamar mandi.

Ekspresi Diana cukup puas dengan keadaan yang bersih dan nyaman. Aku memulai negoisasi harga kamar.
"Bagaimana sesuai dengan harapan ?" tanyaku.
"Wow gede banget ya ini kamar, berapa sebulan mas?" tanya Diana.
Aku langsung menjawab pertanyaan yang aku tunggu dari tadi,
"1,5jt per bulan." jawabku.
Diana kaget mendengar harga yang aku tawarkan.
"Hah..., mahal banget, emang ga bisa kurang? Aku dach cocok nich ama kamarnya gimana bisa kurang ya?" diana sedikit memohon, karena kelihatanya dia sangat ingin tingggal disana.

aku sangat tegas dalam memberikan harga, karena klo ga kaya gitu aku ga bisa makan.
"Aduh maaf ga bisa kurang!"
"Aku mau ngomong ama yg punya, mungkin aja bisa nawar?"
Aku senyum mendengar perkataaan Diana. Dia ga tau ni rumah gue yang punya, disangkanya aku hanya pembantu yang ngurus kostan ini.
"Aku yang punya." jawabku dengan dingin
"Maaf kirain anak yang punya, abis imut sich."
Diana sedikit malu...
Aku menawarkan penawaran yang ga pernah terlintas mungkin sama pemilik kost-kostan dimanapun.
"Gimana klo gini aja di, aku kasih kamu gratis untuk tinggal disini selama satu bulan asal... kamu mau tidur sama aku (ML)!"
FUCK...
Aku spontan mengeluarkan penawaran tersebut, karena sejak pertama Diana dateng aku sudah tergoda dengan badannya yang langsing, gerak geriknya yang sensual gaya bicaranya yang manja, yang paling utama sich aku lagi pengen ML, hehe...

Diana terlihat kaget mendengar ajakanku. Dia menatapku penuh dengan tanda tanya serius atau tidak ajakanku tersebut, tapi akhirnya dia menjawab
"Okeh, why not...." diana menjawab dengan ringannya.
Giliran aku yang kaget, mendengar jawaban dari Diana, dadaku sesak karena khayalanku yang sejak tadi penasaran akan bentuk tubuh Diana yang langsing tanpa busana sama sekali, bentuk payu dara yang menggelayut, kehalusan kulitnya yang berwarna coklat eksotis, kaki yang panjang dan jejang sebentar lagi terwujud. Jantungku berdegup keras, dan adik kecilku senat-senut minta dibelai Diana...

Setelah Diana menjawab dengan entengnya, aku menghampirinya, tanpa basa-basi langsung aku cium bibirnya yang tipis terbalut lipglos menambah kesexsian dalam berbicara. Diana menyambut ciumanku tanpa ada kekakuan layaknya pasangan, kami berciuman saling merangsang, sesekali aku mendengar desahan halus Diana saat aku meremas payudaranya yang kencang.
"Eehhh.....", erang Diana kalo aku meremas lembut susunya.

Aku lucuti satu persatu baju yang menempel di tubuh Diana, demikian sebaliknya sampai kita berdua hanya memakai celana dalam saja. Sesuai dugaanku, payudara diana mengelayut indah ditubuhnya, tidak besar dan tidak kecil bentuknya sehingga apabila dilihat secara telanjang pas dan membuat adik kecilku (JAKAR) cenat cenut pengen dilepas.

Aku mulai menjilati payudara Diana sesekali aku sedot dengan perlahan, hasilnya eranga Diana yang membuat semangat untuk terus memainkan lidah ini diatas payudaranya yang kencang. Setelah aku bosan menjilati susu Diana, aku mulai menciumi perut Diana terus dan terus hingga berhenti di selangkangan yang masih tertutup celana dalam seksi.
Hheeemm... baunya khas, aku pelorotkan celana Diana yang sudah agak lembab entah kenapa aku terdiam melihat memeknya Diana yang tidak tertutupi bulu satupun, dia memotong habis bulu memeknya hingga membuat indah bentuknya.

Diana tersenyum keenakan melihat aku yang kebingungan melihat memeknya yang botak.
"Jilatin dong...", pinta Diana dengan mesra, aku menuruti permintaaanya. Aku jilati dari bawah keatas selangkangan yang berwarna merah jambu itu terus dan terus, disela sela itu aku melihat ekspresi Diana yang sedang aku jilati memeknya, dia merem melek sambil menggigit bibir bawahnya dan kedua tangannya meremas sprei kasur seperti orang yang sedang menahan sesuatu.

Erangannya semakin memburu seiring jilatan ku yang makin cepat...
"Eeeh... eeehh... eehhhh... eeehhh...", Diana mengerang keenakan, disatu titik dia melepaskan nafasnya dalam dalam, tak lama kemudian keluar cairan putih dari lubang vaginanya yang berbau khas membuat aku semakin nafsu. Diana menarikku keatas kasur dan mulai menjilati kepala kontolku yang rasanya seperti kesemutan,iiiih... enak.....

Sesekali dia menyedot semua batang kontolku kedalam mulunya, wow....Diana melakukannya berulang dan berulang membuatku merasakan enaknya engga ketulungan. Permainan oral sex Diana seperti pemain bokep yang sering aku tonton sangat profesional.

Setelah Diana puas memainkan kontolku yang ukuranya standart orang Indonesia, aku bangun dan mulai mempersiapkan tinggal landas dari kontolku yang dari tadi ingin merasakan kehangatan memek Diana yang tidak tertutupi satu bulupun. Aku mengelus elus kakinya yang panjang sambil mengegesekan kontolku dimulut vagina diana. Tak lama kemudian tangan halus Diana menggiring kontolku keliang vaginanya.

Kepala kontolku terasa hangat menyentuh bibir memek Diana, mulanya terasa keset dan susah dimasukan, akibat keuletan kita berdua sedikit sedikit aku gerakan pinggangku sambil diarahkan oleh Diana sehingga kepala kontolku sudah masuk seluruhnya.
"Eeeehh...", Diana mengerang enak merasakan kepala kontolku mulai keluar masuk di liang memeknya, aku mengerakan pinggangku kebelakang dan kedepan berulang ulang disatu titik ketidak sabaranku muncul ingin memasukan semua batang kontolku keliang memek Diana yang masih sempit dan keset.

Aku berhitung dalam hati.. 1.. 2... 3...
Kumasukan semua batang kontolku tanpa sepengetahuan Diana. Diana mengerang keras keenakan...
"eeeehhh...., shhhh.... aahhhh....", terasa cairan menyelimuti kepala kontolku hingga kebatangnya, hangat dan sedikit loncer tapi tetep masih sempit tak lama kemudian aku mulai merasakan gesekan memek dan kontolku mulai membuat ku merinding dan tak lama kemudian aku mencapai klimak...
"Ahhhhuuuuh...", permainan yang cantik kami mencapai klimak tidak berjauhan.
"Uuhuh.." kita saling menatap dan saling berpelukan hingga tertidur pulas.

Itulah pengalamanku dalam rumah kostku tercinta. Kulakukan kebeberapa penguni kosan yang tidak bisa bayar atau nunggak.

Hheheeh.... mungkin pengalamanku ini bisa dilakukan oleh bapak-bapak atau temen temen yang juga berbisnis menyewakan rumah... Yakin manjur...!!!

Tamat

Merengkuh Kenikmatan Ausie Girls

Posted: 25 Dec 2007 06:19 AM CST

Matahari sudah mulai redup menandakan senja akan datang, dalam keadaan lelah tetap kulangkahkan kakiku ke super market "Bilo" supermarket terlengkap di Newcastle. Aku saat ini sedang mengikuti trainnig, dan rutin tiap selesai trainning aku mampir "Bilo" disamping membeli untuk keperluan makan malam, juga untuk refreshing.

Sambil menunggu Bis kota, aku duduk di selter seraya menyanyi untuk melepaskan lelah. Tak jauh dariku ada dua cewek Ausie sedang bersenda gurau. Iseng-iseng aku nimbrung.
"Goodday" aku Kulu kataku memperkenalkan diri
"Goodday" jawab mereka menyambut hangat. Kebiasaan orang Ausie ramah dan hangat menyambut tamu asing,apalagi tahu kalau aku pelajar.
"Joddie walker dan Pauline maulszic" nama masing-masing cewek tersebut, mereka pulang sekolah dan sedang menunggu bus kota, saat ini mereka masih kelas dua SMA
.
Kami ngobrol apa saja, sampai tentang pelajaran sekolah. Joddie dengan centil menanyakan tentang PR nya yang tidak bisa dikerjakan. Setelah aku baca, wah gambang nih pikirku, maka segera aku terangkan tuh pada kedua cewek, mereka ngerti. Bus kota datang, kami pun berpisah menuju kerumah masing-masing.

Beberapa hari kemudian aku ketemu dengan Joddie walker lagi diselter
"Bilo", kali ini sendirian.
"Hai, kul", dia menyebut namaku begitu dengan lidah pelat.
"Hai" balas ku juga.
Joddie sengaja menungguku untuk menawari ku jadi guru privatnya, ternyata setelah kejadian beberapa hari yang lalu Joddie cerita pada bapaknya tentang diriku. Aku setuju danbersama Joddie untuk menemui bapaknya.

Rumah Joddie tidak terlalu jauh, dalam waktu kurang lebih 15 menit sudah sampai. Rumah Joddie besar dan indah, aku dan Joddie segera masuk kedalam, aku disambut dengan hangat dan berkenalan dengan kedua orang tua Joddie. Kami segera akrab dan ngobrol sepertinya udah kenal lama. Ayah dan mami Joddie sibuk karena punya outlet persewaan DVD sehingga tidak dapat menemani Joddie belajar. Aku ditawari jadi guru privat Joddie sekalian menemani Joddie belajar tiga kali seminggu dengan imbalan 1000 $, wah lumayan nih untuk tambahan uang jajan.

Sejak kudampingi belajar, prestasi Joddie meningkat tajam, Joddie menjadi lebih bersemangat dalam belajar, yang berarti tidak sia-sia aku jadi guru privatnya. Aku memang ketat mengatur waktu mengajarnya. Walau masih berumur 15 tahun, Joddie sudah kelihatan cantik bertubuh seksi, yang kadang membuat tubuhku greng juga.

"Kul, mau minum apa" tanya Joddie saat les privat sudah selesai.
"Teh hangat aja" jawabku sambil duduk dan mengambil salah satu DVD langsung aku putar tanpa melihat judulnya.Aku kaget, Joddie juga kaget melihat adegan dilayar TV, rupanya DVD- BF. Aku segera berdiri dan mau mematikan, tapi dicegah Joddie."biar aja Kul, anggap aja ini pelajaran tambahan" kata Joddie sambil ketawa. Kami nikmati adegan sampai akhir dengan deg degan dan panas dingin. Suasana senyap, entah apa yang ada dipikiran masing-masing, yang jelas kepalaku mau pecah dipenuhi hasrat membara.

"Pelajaran tadi sangat hebat ya" kataku memecahkan keheningan. Joddie diam hanya tampak memerah mukanya menahan malu.
"Kalau dipraktekkan tambah hebat lagi" godaku, membuat muka Joddie tambah merah. "Boleh, kamu mau Kul" jawab Joddie malu-malu yang duduk disebelahku.

Mendengar jawaban itu, aku langsung memeluk tubuh Joddie yang terasa bergetar, kemudian kulumat bibirnya yang ranum menantang penuh gairah. Joddie membalas lumatanku penuh gairah pula, rupanya Jodie juga menahan hasrat membaranya. Lumatan demi lumatan terus berlangsung dengan seru, tanganku kini merayap dengan gesit kebalik baju Joddie, menarik BHnya keatas dan langsung mengusap-usap dengan lembut puting payudaranya. Joddie menggelinjang-gelinjang.

Satu persatu kancing baju Joddie kulucuti, baju terlepas nongollah payudara begitu indah dengan berpuncak puting kemerahan menantang, nafsuku semakin membara melihatnya, maka segera kuterkam payudara itu kulumat-lumat dan kusedot-sedot bergantian kanan dan kiri. Kini Joddi semakin menggelinjang dan mendesah-desah.

Tanganku kini turun lagi menyelinap kebalik CD Joddie, kuusap-usap gundukan berbulu yang ada disela-sela paha Joddie dengan lembut, rupanya gundukan berbulu itu sudah basah. Tangan Joddie kini menikuti gerakanku, dimasukkannya tangannya kebalik CDku, diraihnya kontolku yang sudah tegang kemudian diremas-remasnya dengan gemas, yang membuat kenikmatan luar biasa dan semakin meningkatkan nafsu birahiku. Adegan demikian ini terus berlangsung dengan serunya, suasana senyap hanya terdengar deru nafas kami berdua penuh kenikmatan.

Ketika CD Joddie akan kulucuti," Ah...., Kul jangan" pinta Joddie disela-sela deru nafasnya. Aku turuti permintaannya, tapi tanganku yang ada didalam CD Joddie semakin buas merabai memek Joddie, sesekali memutar-mutar itilnya dengan lembut, membuat Joddie berdesah-desah "ah...ah..."

Tiba-tiba terdengar mobil berhenti, kami terkejut, langsung menghentikan aktivitas, Joddie lari kekamar mandi, sedang aku segera membereska celanaku yang sudah hampir lepas dari tubuhku.

"Selamat malam" sapaku dengan kikuk saat ayah muncul dari pintu depan.
"selamat malam, sudah selesai belajarnya?" balas ayah Joddie.
Aku mengangguk, ayah Joddie duduk didepanku, seterusnya kamipun berbincang-bincang penuh keakraban, tak lama kemudian aku pamitan pulang. Sejak kejadian tersebut, kegiatan gosok mengosok memek dan kontol menjadi pelajaran tambahan setelah memberi pelajaran privat.

Tanpa terasa masa trainning selesai, aku harus segera kembali ke Indonesia. Sore hari aku ke Rumah Joddie untuk berpamitan. Suasana lenggang, hanya joddie yang dirumah, seperti biasa ayah dan ibu Joddie ke rentalnya dan pulangmalam hari.
"Goodday, maaf tanpa tilpon aku kesini" sapaku saat Joddie muncul membuka pintu.
" Goodday, enggak apa, aku lagi santai kok" balas Joddie. Kulihat Joddi sore ini memang sedang santai, memakai celana pendek dan kaos singlet bertuliskan Billabong. Dengan berpakaian sederhana begini Joddie justru lebih lebih cantik dan alami.

Kamipun ngobrol akrab sekali, dan aku berpamitan karena besok mau kembali ke Indonesia.
"Kok cepat kembali ke Indonesia, siapa yang menemani aku belajar kul" tanya Joddie dengan penuh kesedihan. Segera kupeluk tubuh Joddie, kuhibur agar tak sedih. Joddie memelukku erat-erat. Ku pagut bibirnya penuh kemesaraan, sambil mengusap airmatanya.Joddie membalas pagutanku erat-erat, lumatan kami semakin memanas, lidah kami saling putar memutar, saling sedot menyedot, ah...begitu nikmat.

Tak terasa tubuh kami bugil, pakaian bertebaran kemana-mana. Mulutku yang semula memilin-milin puting payudara Joddie kini turun perlahan-lahan ke perut, kemudian turun lagi menelusuri paha sambil menjilat dan menggigit kecil membuat tubuh Joddi menggelinjang-gelinjang. Bibirku terus merayap, kini berhenti di memek Joddie yang sudah basah, kusibakkan jembutnya dengan lidahku, kujilat-jilat itil yang menyembul dibalik kedua bibir memek Joddie. jilatanku pelan-pelan, memutar-mutar membuat Joddie mendesah-desah " ah... aha... uh... Kul" desah Joddie sambil mengerak-gerakkan pinggulnya mengikuti gerakan lidahku.

Jodie memutar badannya, diraihnya kontolku, lalu dikulumnya dengan buas, dijilat-jilat penuh nafsu, membuatku menggelinjang-gelinjang merasakan kenikmatan. Awalnya Joddie enggan dan muntah waktu ngemut kontolku, karena ada les tambahan membuat Joddie kini lihai memainkan kontolku juga memainkan nafsuku.

Lidahku kini semakin liar memainkan itil Joddie, dan dengan gerakan buas kusedot-sedot dan kujelajahi seluruh memek Joddie, Joddie menggelinjang mendesah-desah sambil terus menjilati kontolku, ah.....eenaaaak sekali.

Setelah puas, kami kembali ke posisi semula, kembali kuterjang bibir Joddie penuh kebuasan yang disambut pula oleh Joddie dengan buas. Nafsuku betul-betul sudah sampai puncak, kontolku sudah menegang tak sabar mau nembak memek Joddie yang basah tapi membara. Ketika kontolku sudah sampai mulut memek Joddie " ah..Kul, jangan" pinta Juddie.
" Kenapa apa" tanyaku penasaran dan penuh nafsu.
"aku takut karena belum pernah melakukan begini" jawab Joddie.
Kuturti permintaannya. Maka kontolku tak jadi kumasukkan hanya kujepitkan disela-sela bibir memek Joddie, terus kugeser-geserkan penuh nafsu. Rupanya geseran kontolku menimbulkan kenikmatan tersendiri bagi Joddie yang membuatnya penasaran. Kini kontolku dipegangnya dan dimasukkan pelan-pelan ke dalam memeknya, kubiarkan saja.

Kontolku yang cukup besar susah masuk ke rongga memeknya, sehingga Joddie hanya memasukkan kontolku sebagian saja, lalu diputar-putarnya mengelilingi mulut memeknya, membuat tubuhnya kadang bergidik kadang menggelinjang. Aku geli melihat kelakuan Joddie, kubiarkan saja Joddie memainkan kontolku sesukanya, sedangkan aku memain-mainkan puting payudaranya dengan lidahku.

Entah berapa lama permainan lucu ini berlangsung, kini kurasakan semua kontolku sudah masuk seluruhnya kedalam rongga memek, Joddie nampak lega. Kini kutarik kontolku pelan-pelan kemudian kumasukkan lagi pelan-pelan berulang kali, terasa memang memek Joddie masih sempit. Kini Joddie tampaknya sudah tidak merasakan sakit dan takut lagi, bahkan sudah dapat menikmati sodokkan kontolku. Dengan gerakan memutar kutarik pelan-pelan kontolku, kemudian kumasukkan lagi kontolku, kemudian kubuat gerakan seakan-akan mematuk-matuk memek Joddie, " sakit enggak" tanyaku lirih sambil kontolku terus mematuk-matuk memek Joddie. " ehh eng... gak.. ehh.. uh... uh.." jawab Joddie disela desahnya.

Bosan dengan gerakan ini, Joddi kuangkankat keatas tubuhku. Dibukanya pahanya, tampak memek Joddie merah membara dan sedikit berdarah. Mula-mula Joddie canggung pada posisi ini, kadang mau jatuh kekanan atau kekiri. Maka kubantu Joddie agar bisa tetap tegak, sedang kedua tangan Joddie mencengkeram kontolku yang kemudian dimasukkan ke memeknya pelan-pelan dengan penuh keraguan. Ujung kontolku diputar-putarnya mengitari itilnya, tampak Joddie menggelinjang.

Kemudian kontolku dimasukkan lebih dalam, walau terasa susah akhirnya masuk juga seluruh kontolku dalam memek Joddie. Pelan-pelan Joddie menggerakkan pinggulnya naik turun, menyebabkan kontolku keluar masuk memek Joddie. Kini Joddie yang mengedalikan gerakan kontolku dalam memeknya, karena dia dapat bergerak leluasa.

Gerakan pinggul Joddie semakin cepat, rasa sakit tampaknya sudah hilang, kini dengan penuh gairah digoyangnya pinggulnya dan sesekali di tutupnya kedua belah pahanya yang menyebabkan cengkeraman memek ke kontolku terasa dahsyat, menimbulkan kenikmatan luar biasa, sampai-sampai kini aku yang mendesah kenikmatan " uh.. ah.. enak sekali memekmu" desahku. Kulihat Joddie tersenyum penuh kemenangan, Joddie semakin semangat menggooyangkan pinggulnya kedepan-kebelakang, kesamping kanan-kesamping kiri kemudian keatas-kebawah demikian terus dan terus......... menyebabkan kontolku terasa dipijat-pijat kenikmatan, kini Joddie pun ikut berdesah-desah kenikmatan ber-iringan dengan desahku." ah... uh... ah... uh... nikmat sekali"

Tiba-tiba tubuh Joddie mengejang "ah...uh...Kul aku enggak tahan lagi" desah Joddie panjang, " aku juga..." jawabku. Tubuh kami berdua sama-sama mengejang...., memek Joddie mencengkeram kontolku erat-erat... dan ah.. ah.. ah... niiiikmaaaat... ah.. niiiiikmaaaaat, croooot..croot spermaku terpancar ke rongga memek Joddie. Kubiarkan kontolku tetap dicengkeram oleh memek Joddie tidak mau melepaskan......, kamipun tertidur dengan berpelukan berselimutkan kenikmatan..........

Tamat

Di Rumah Tanteku

Posted: 25 Dec 2007 06:18 AM CST

Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun. Akan tetapi tante Ida yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan tante Ida datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan tante Ida di Bandung.

Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari tante Ida mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka. Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, tante Ida curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit.

Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya. Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, tante Ida marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik tante Ida sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan tante Ida katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, tante Ida menyuruh saya menjaga rumah.

"Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar," pikirku.

TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan. Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba...

"Anton.. apa yang kamu lakukan!!" teriak sebuah suara yang aku kenal.

"Ooooohh... Tante...?!" aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan penisku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga tante Ida hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi.

"Eeeehhhh... ppppffffff...!!! badan tante Ida seketika
mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia
sangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai
memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas....

"Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu...!!! Cepat lepas... nanti kulaporkan kau ke om mu..." teriak tante Ida dengan suara garang mencoba mengancamku.

Aku tak lagi peduli, salah tante Ida sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai tante Ida menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku.

Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara tante Ida terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meramas-ramas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh tante Ida yang 155 cm dan mungil itu.

Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari tante Ida, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari tante Ida, penisku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke penisku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok penisku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya.

Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju tante Ida, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara tante Ida yang padat berisi...

"Tooonnnn... aaammmpuunn... Toonnnnn... iiii.. iiingaaattttt.. Tooonnn..!!!"

Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD.

"Iiiiiiiiii…..ooohhhhhhh…..aaaagggghh
hhhhh……..ssssshhhhhhh……..Toooonnnnn……! !!!!" akibat perlakuanku itu,
kayaknya tante Ida mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang
mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin
memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh tante Ida bergetar dengan
kuat dan……..

"Aaaahhhhhh..Toooonnnn…jaaa..jaaa
angaaannn….Tooonnnn……iiii…ngaaaatttt..Tooo nnn…
oooohhhhhhh…………aaaaaggggghhh…aaaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh…!!!!!"
akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat,
serta kedua tangannya mendekap punggung ku….Seerrr.. cairan kewanitaan
tante Ida membasahi CD nya sekalian jemariku.

Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan tante Ida melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah.

Kami terdiam sejenak, sementara tubuh tante Ida bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik tante Ida masih menggenggam penisku yang masih tegak mengacung.

Akhirnya secara perlahan-lahan kepala tante Ida menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya…

"Oooohhhh….Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini…….?????"

"Eeeehhmmm…maafkan Anton tante….Anton lupa diri….abis tante tadi masuk
tiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks….salah tante sendiri
sihhh…….lagi pula…tante amat cantik sihhh…..!!!!!!" sahutku mencari-cari
alasan sekenanya.

Sekarang kayaknya tante Ida sudah pasrah dan sambil tanganya masih
menggenggam penisku katanya lagi..

"Tooonnnn…..punya kamu gede amat yaaaa…????. Punya Om mu nggak sampai
segede ini..!!"

"Aaahhhhh, tante…apa betull…?????!" memang penis ku panjangnya 20
cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi
sangat bernafsu begini.

Jemari lentik tante Ida yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai
memainkan penisku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan
tante Ida tak mau lepas dari situ.

"Taaannnnn…., kok diiiii…..dii…diamin aja, dikocok dong, Taannn…. biar
enaaakkk….!!!!"

"Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja….aaaaggghhh….!!!", perlahan-lahan kedua
tanganku menekan bahu tante Ida, sehingga tubuh tante Ida berjongkok dan
sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua
tangannya segera menggenggam penisku dan kemudian tante Ida mulai
menjilati kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku
menerima rangsang dari mulut tante Ida. Dijilatnya seluruh batang
kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang
terlewat dari sapuan lidahnya.

Dikocoknya penisku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk.
Mungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut tante Ida. Kurasakan
dinding tenggorokan tante Ida menyentuh kepala penisku. Sungguh sensasi
sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga tante Ida
mengulum penisku. Kurasakan batang penisku mulai membesar dan makin
mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.
Merasa aku akan keluar, tante Ida semakin cepat mengocok batang kemaluanku.

"Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo
keluar,…….aaauuugghhhh…..taaannnn..!!!!!!!"

Akhirnya..Croott..croott..croottt.. Hampir sepuluh kali cairan itu
menyembur dari ujung penisku. Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya
semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar
tetapi penisku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi.
Melihat itu, tante Ida mencium-cium kepala penisku dan menjilat-jilatnya
hingga bersih.

Kemudian kutarik berdiri tubuh tante Ida dan kudorong ke tempat tidur,
sehingga tante Ida terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti
rok sekalian CD nya, sehingga sekarang tante Ida terlentang diatas
tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam
keadaan telanjang bulat. Tante Ida hanya menatap ku dengan pandangan
yang sayu dan terlihat pasrah.

Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan
aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar
kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos.

Kupegang batang penisku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kemaluannya,
sambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina
tante Ida, penisku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan tante Ida dan
ku tempatkan pada batang penisku, segera digengamnya penisku dan
diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala
penisku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan tante Ida.

Terasa lobang kemaluan tante Ida sangat sempit mencengkeram batang
kemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku,
kutekan lagi dan tubuh tante Ida menggeliat…

"Oooooohhhhhh... Toooonnnn... bee.. beeeesaaarrrr
aaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan... pee laaan... Tooooonnnnn... ooooohhhhh..!!!!!" tante Ida merintih perlahan.

Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam... terus... terus.... ooohhhhhh... eeeenna aaak... benaaarrrr... terasa jepitan kuat dinding kemaluan tante Ida yang menjepit rapat batang kemaluanku.

Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini…..

"Taaaaannnnn……ooohhhhhh…..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk…taannnnn….!!!!"

Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, tante Ida memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku.

Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga penisku
terbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam….. dalam….. terus……
terus….. daannnn….. ….kemudian……ujung kepala penisku terasa mentok,
karena beberapa kali tubuh tante Ida mengejang ketika aku mencoba
menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya
memompa keluar masuk.

Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun
yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan
sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha tante Ida
terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam
dasar lobang kemaluannya. Aku dapat melihat payudara tante Ida
bergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk penisku
dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat.

Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan tante Ida dengan kuat menyedot
penisku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan tante Ida menjepit penisku. Kulihat wajah tante Ida nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi.

"Aaaaaaddduuuuuhhhhh….Toooonnn.. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg..
hhaa..hhaa…Toooonn …taaannnn…teeeee…maaa…. Maaauuuu…keee…
keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn…!!!!!!!."

Dan….. Seeeeerrrr…..kurasakan cairan hangat membasahi penisku.

Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu tante Ida menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan tante Ida telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran penisku yang besar.

Tak kuhiraukan lagi suara tante Ida yang menjerit-jerit kesakitan, yang
ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan
ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot
penisku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang
berusaha untuk keluar dari batang penisku. Kucoba untuk menahannya
selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan
tante Ida akhirnya meruntuhkan pertahananku.
"Aaaaaauuddddduuhhhh... taaannnnnn... teeeee... oooooohhhhh…..!!!!" keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan
…croott.. croott….croooootttt….semburan..maniku menyemprot dengan kuat,
mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan tante Ida, kemudian
badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi tante Ida, sementara
kuubiarkan penisku tetap didalam kemaluan tante Ida untuk merasakan
sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan kemaluan tante Ida tetap saja
berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.

"Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!!" kataku dengan manja.

"Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak tantemu sendiri kamu perkosa juga…..!!!!"

"Iiihhhhh…tante…..tapi tante senang juga….kaannnn …..????"

"Iya.. siiihhh….!!!!!" kata tante Ida malu-malu.

Sejak saat itu sikap tante Ida terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik tante Ida. Aku dan tante Ida sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap tante Ida, apalagi tante Ida melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati.

Ibu Mertuaku

Posted: 24 Dec 2007 07:43 PM CST

Saya bernama Bambang, usia pada tahun 2000 ini 37 tahun, pekerjaan wiraswasta. Menikah dengan Linda pada tahun 1993, saat ia berusia 29 tahun. Kami telah dikarunia dua orang anak yang lucu-lucu. Pada kesempatan ini, saya akan menceritakan pengalaman saya dengan ibu mertua saya. Saya memiliki minat seksual khusus terhadap wanita yang lebih tua. Bahkan minat khusus tersebut telah ada sejak saya remaja. Saat remaja, saya ingat bahwa ketika saya bermasturbasi, saya lebih suka membayangkan tante-tante tetangga rumah, teman-teman ibu saya, ibu guru, maupun wanita-wanita lain yang masih terbilang ada hubungan keluarga.

Boleh dikata, saya sangat jarang menjadikan cewek-cewek sebaya saya sebagai obyek fantasi ketika bermasturbasi. Minat tersebut rupanya terus bertahan sampai saat ini, walaupun saya sudah berkeluarga. Salah satu wanita yang saya minati dan sering menjadi obyek fantasi seksual saya sampai saat ini adalah ibu mertua saya sendiri yang bernama Nani. Saat ini beliau berusia 57 tahun. Ibu mertua saya ini sudah menjanda sejak tahun 1984, karena bapak mertua saya meninggal karena kecelakaan waktu itu. Rasa tertarik terhadap ibu mertua saya ini sudah timbul pada saat saya pertama kali diperkenalkan oleh pacar (isteri) saya padanya di tahun 1990. Sejak saat itu, saya sering menjadikan beliau menjadi obyek fantasi saat saya bermasturbasi. Begitu besarnya rasa tertarik saya pada beliau, sehingga pernah terlintas pikiran untuk kawin dengan beliau entah bagaimana caranya. Tetapi pikiran tersebut tidak saya kembangkan lebih lanjut karena saat itu beliau sudah menopause, sedangkan saya masih memiliki keinginan untuk memiliki anak. Lagipula, pasti akan banyak masalah dan hambatan untuk mewujudkan pikiran tersebut.

Karena itulah akhirnya, saya tetap melanjutkan hubungan saya dengan Linda, sehingga akhirnya kami menikah pada tahun 1993. Saat baru menikah, kami tinggal bersama ibu mertua saya ini. Karena 3 orang kakak isteri saya yang telah menikah telah memiliki rumah sendiri-sendiri, sedangkan 2 orang adik isteri saya sedang kuliah di Bandung dan Yogyakarta. Kami tinggal di rumah ibu mertua saya tersebut, selain untuk menemani beliau, juga karena kondisi keuangan kami saat itu belum memadai untuk memiliki rumah sendiri. Selama kurang lebih satu tahun tiga bulan tinggal bersama mertua inilah, ada sejumlah pengalaman baru, yang makin menunjang saya untuk menjadikan beliau menjadi obyek fantasi favorit saya. Pengalaman baru yang maksud misalnya adalah saya sering mendapat kesempatan melihat paha mertua saya, entah ketika nonton TV, atau sedang bersih-bersih rumah, dan sebagainya.

Cukup sering juga saya memergoki beliau keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk di tubuhnya. Bahkan pernah sekali waktu saya beruntung dapat melihat payudara ibu mertua saya tersebut dalam keadaan telanjang ketika ia membuka lilitan handuknya hendak berganti baju. Sayangnya beliau masih memakai celana dalam. Pernah juga saya melihat puting payudaranya menyembul keluar daster secara tidak sengaja ketika beliau nonton TV sambil tidur-tiduran di sofa. Pengalaman-pengalaman baru seperti itulah yang semakin memperkuat minat seksualku pada beliau. Terkecuali, pada saat-saat kesadaran moral dan religius saya sedang baik, saya sering memiliki keinginan untuk dapat menyetubuhi ibu mertua saya tersebut. Namun, saya tidak tahu caranya. Yang dapat saya lakukan saat itu hanyalah berfantasi saja.

Bahkan cukup sering, ketika saya bersetubuh dengan isteri saya, yang ada dalam kepala saya adalah bersetubuh dengan ibu mertua saya tersebut. Selain berfantasi, paling jauh saya hanya memiliki kesempatan untuk cium pipi dan memeluk ibu mertua saya tersebut pada tiga kesempatan. Yaitu pada saat hari ulang tahun beliau, ulang tahun saya dan ulang tahun perkawinan saya dengan Linda. Pada kesempatan di hari ulang tahun saya, ketika menerima cium dan peluk dari ibu mertua, untuk pertama kalinya saya merasakan himpitan payudara beliau di dada saya. Pengalaman ini sangat berkesan pada diri saya. Saya ingat bahwa pada malam itu, saya sangat bernafsu dan menggebu-gebu memesrai isteri saya. Saat itu, saya sanggup sampai empat kali mengalami ejakulasi ketika kami bersetubuh. Padahal, biasanya paling banyak saya hanya tahan dua kali saja. Yang pasti, ketika memesrai isteri saya, yang terbayang saat itu adalah ibunya. Pengalaman lebih jauh yang saya alami dengan ibu mertua saya tersebut terjadi ketika saya dan isteri saya menemani beliau ke Semarang untuk menghadiri pernikahan salah satu keluarga dekat dari almarhum bapak mertua saya. Ketika itu kami menginap di rumah keluarga calon pengantin. Karena terbatasnya tempat, kami hanya mendapat satu kamar dengan satu tempat tidur ukuran besar. Terpaksa, malam itu kami tidur bertiga di tempat tidur itu. Posisinya adalah, saya di sisi kiri, isteri saya di tengah dan ibu mertua saya di sisi kanan. Lampu kamar dimatikan ketika kami berangkat tidur. Ketika terbangun pagi harinya, saya kemudian sadar bahwa isteri saya sudah tidak ada di tempatnya. Sambil berbaring saya berusaha mencari isteri saya di kamar, tetapi saya tidak dapat menemukannya. Secara samar-samar saya hanya melihat tubuh ibu mertua tidur memunggungi saya.

Saya langsung menduga bahwa isteri saya pasti ke kamar mandi sebagaimana kebiasaannya. Isteri saya terbiasa secara teratur bangun jam 04.30 dan kemudian ke kamar mandi untuk buang air besar dan mandi. Saat itu timbul pikiran kotor dan nakal dalam otak saya. Apalagi pada pagi hari biasanya si "Adik Kecilku" berdiri tegak dan kencang. Pikiran saya saat itu tidak jauh dari situ. Dengan bergaya masih dalam keadaan tidur, saya bergeser mendekat ke arah tubuh mertua saya. Setelah cukup dekat (bahkan hampir rapat tapi belum bersentuhan), dengan gaya tidak sengaja saya menggeser tangan kiri saya ke atas pinggul mertua saya. Tidak ada reaksi apa-apa dari mertua saya. Dengan lembut dan perlahan kemudian saya mulai menggerakkan telapak tangan saya di pinggul mertua saya. Juga tidak ada reaksi atau perubahan apa-apa. Saya kemudian memberanikan diri untuk mengelus-elus pantat mertua saya. Empuk dan halus rasanya. Saya juga dapat merasakan tekstur dari bagian pinggir celana dalamnya. Yang terpikir dalam otak saya saat itu, akhirnya ada juga yang jadi kenyataan khayalanku. Sementara itu, si "Adik kecilku" semakin tegak dan keras saja, dan kemudian secara refleks tangan kanan saya mulai meraba-raba si "Adik Kecilku". Ingin rasanya saya mengarahkan tangan kiri saya ke arah kemaluan ibu mertua saya. Namun, saat itu saya takut ibu mertua jadi terbangun. Karena itu, dengan susah payah saya berusaha menahan keinginan tersebut. Kemudian, masih dalam gaya pura-pura masih tidur saya merapat dan memeluk ibu mertua dari belakang. Posisi ibu mertua saya kemudian agak berubah dari memunggungi saya menjadi lebih telentang, walaupun wajahnya masih ke arah yang berlawanan dengan posisi di mana saya berada. Ibu mertua saya saat itu terlihat masih dalam keadaan tidur yang cukup nyenyak.

Boleh jadi karena perjalanan dengan kereta api sore-malam itu cukup melelahkannya. Kemudian saya menggeser tangan kiri saya ke arah payudara kiri ibu mertua saya. Merasa tidak ada reaksi apa-apa kemudian saya memberanikan diri untuk menggerak-gerakkan tangan kiri saya. Dengan berhati-hati sekali saya mengusap-usap payudara beliau. Saya kemudian sadar bahwa beliau tidak memakai BH ketika saya merasakan bahwa puting payudara beliau semakin menonjol dan sangat terasa di telapak tangan saya. Lebih jauh lagi, kemudian secara lembut saya sesekali meremas payudara beliau secara perlahan sekali. Nafsu saya semakin meninggi, dan rasanya debaran jantung saya saat itu sangat cepat dan agak keras. Saya terkejut dan takut sekali ketika tiba-tiba tubuh beliau bergerak dan menjadi lebih menghadap tubuhku.

Mati aku, pikirku saat itu. Tapi kemudian saya sadar bahwa beliau masih tetap tidur, karena nafasnya masih teratur. Hanya ketika membalikkan badannya saja tampaknya beliau agak menghela nafas. Dengan posisi yang berhadapan, saya dapat melihat dengan cukup jelas, walaupun agak samar-samar juga karena gelap, mulut ibu mertua saya agak sedikit terbuka. Melihat pemandangan yang demikian, apalagi memang bibirnya itu sering saya khayalkan untuk saya kecup, kemudian dengan tekanan ringan saya menempelkan bibir saya ke bibir beliau. Tapi kemudian saya tidak tahan lagi, dan secara refleks kemudian bibir saya mulai mengulum bibir beliau, seraya tubuh saya bergerak menindih tubuhnya dan menekan kemaluan saya ke pahanya. Kejadian yang terjadi dalam waktu yang singkat tersebut akhirnya menyebabkan ibu mertua saya terbangun. Dimulai dengan suatu lenguhan pendek, "Nngggghh...", kemudian beliau terjaga dan kemudian mengatakan, "Heh! apa-apaan ini?". Saya kaget setengah mati waktu itu, dan kemudian menggeser tubuh saya ke samping tubuh ibu mertua saya. Ibu mertua saya kemudian mengangkat punggungnya dan duduk di tempat tidur. Setelah beberapa saat kemudian dia berkata. "Apa yang kamu lakukan pada Ibu Bang? Koq kamu sudah mulai berani kurang ajar?". Setelah terdiam beberapa saat, kemudian sayapun bangkit duduk dan mengatakan. "Maaf Bu, saya kira tadi ibu itu Linda". "Lho, Lindanya mana?", tanya ibu mertuaku. "Tidak tahu Bu", jawabku. Kemudian ibu mertua saya turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu kamar. Saya hanya dapat duduk diam sambil menutup kedua muka saya dengan tangan saya. Ibu mertua saya kemudian berkata. "Jangan sampai terjadi lagi ya Bang kejadian seperti tadi. Ibu tidak suka. Itu tidak baik dan dosa". "Maaf Bu, saya sungguh-sungguh minta maaf, karena saya tadi tidak sadar. Habis, biasanya kalau pagi kami biasanya melakukan hubungan suami-isteri sih Bu", jawabku dengan refleks sambil bangun dari tempat tidur untuk sungkem kepada ibu mertua saya itu. "Mau ngapain kamu?", sergah ibu mertuaku. "Mau sungkem Bu", jawabku. "Tidak perlu, yang penting jangan sampai terjadi lagi", kata ibu mertuaku sambil membalikkan tubuh dan berjalan menuju pintu. Akhirnya aku duduk terpekur sendiri di tempat tidur. Sambil membaringkan kembali tubuhku, terbayang lagi kejadian-kejadian yang baru terjadi itu. Seingat saya, ada tiga hal yang paling berkesan untuk saya saat itu. Pertama, makin menonjolnya puting payudara ibu mertuaku ketika tanganku mengusap-usapnya. Kedua, persentuhan lidah kami ketika aku mengulum bibirnya yang menyebabkan beliau terbangun. Ketiga, lirikan sepintas ibu mertuaku ke arah selangkanganku ketika beliau berbalik hendak keluar kamar.

Yang pasti, semua yang baru saja terjadi saat itu merupakan perwujudan dari sebagian khayalanku terhadap ibu mertuaku. Selain itu, dorongan nafsu yang belum tersalurkan saat itu rasanya agak menyiksa diriku. Tidak berapa lama kemudian isteriku masuk ke kamar. Terlihat rambutnya agak basah, tampaknya ia baru keramas. "Ibu mana?", tanya isteriku. "Keluar" jawabku secara singkat seraya bangkit dari tempat tidur menuju ke arah pintu. Kemudian aku mengunci pintu dan berjalan ke arah isteriku yang sedang berdiri di depan meja rias. "Mau ngapain sih Mas pakai dikunci segala", tanya isteriku. "Biasa, kayak kamu nggak tahu saja. Aku sedikit horny nih", jawabku sambil memeluk dia dari belakang. "Jangan ah Mas..., nggak enak, ini kan di rumah orang", katanya. Tapi aku terus aja meraba-raba dan menciumi tengkuk dan lehernya dari belakang. "Aku nggak tahan nih..., lagian kan masih pada tidur", kataku. Akhirnya isteriku mulai menyambut serangan-seranganku. Dia tahu persis bahwa aku bisa marah dan uring-uringan seharian kalau lagi ingin banget tapi dia tidak mau. "Tapi yang cepetan saja ya Mas...", katanya. Mendengar jawabannya, saya menjadi semakin aktif. Saya menekan tubuhnya sehingga ia membungkuk dan meletakkan tangannya di atas kursi meja rias yang ada di kamar itu. Kemudian saya singkapkan dasternya ke pinggang dan saya tarik celana dalamnya sampai lepas. Batang kemaluan saya yang memang sudah mulai basah sejak kejadian dengan ibu mertua saya tadi kugesek-gesekkan ke selangkangannya. Setelah cukup licin, akhirnya dalam posisi dia berdiri membungkuk dan saya di belakangnya, kumasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya, seperti biasanya. Dengan nafsu yang sudah tertahan-tahan sejak tadi, saya tidak dapat bertahan lama, dan kemudian akhirnya ejakulasi sambil membayangkan bahwa yang saya setubuhi itu adalah ibu mertua saya. Ah seandainya saja benar-benar beliau.... Sepulang dari Semarang, untuk beberapa waktu interaksi antara saya dengan ibu mertua saya agak sedikit kaku. Kadang-kadang saya merasa kikuk kalau harus berinteraksi dengan beliau. Kekakuan itu akhir berkurang dengan berjalannya waktu.

Apalagi kemudian kami dapat mulai mencicil rumah kami sendiri, dan akhirnya pindah dari rumah mertua saya itu ketika salah satu adik isteri saya lulus dan kembali tinggal di Jakarta. Sejak kejadian di Semarang itu saya semakin sering memfantasikan ibu mertua saya maupun memimpikannya ketika tidur. Cukup sering saya merasa khawatir kalau-kalau saya mengigau dan isteri saya mengetahui bahwa saya mendambakan ibunya. Setelah tinggal di rumah sendiri, saya dapat dikatakan hampir tidak pernah lagi mendapat "pemandangan-pemandangan indah" dari tubuh mertua saya itu. Dan cukup sering saya kangen padanya. Setelah berjalan beberapa waktu akhirnya saya mulai mengenal internet dan berlangganan pada salah satu internet provider yang cukup baik. Dari pengalaman menjelajah internet inilah saya mendapatkan beberapa ide sehubungan dengan ketertarikan saya terhadap ibu mertua saya. Salah satu ide yang ingin saya wujudkan saat itu adalah membuat rekaman video dari ibu mertua saya. Untuk itu, terpaksa saya menabung untuk membeli kamera video. Setelah kamera video terbeli, saya menjadi rajin mengabadikan acara-acara keluarga dengan kamera tersebut. Tentunya juga dengan harapan bahwa ada "pemandangan-pemandangan indah" dari tubuh ibu mertua saya yang dapat saya rekam. Tapi harapan tidak dapat terwujud. Malah pemandangan indah yang sempat terekam adalah paha-paha dari kakak ipar saya yang bernama Susi dan adik ipar saya yang bernama Lena. Dengan hasil itu, saya harus puas bermasturbasi hanya dengan memandangi rekaman ibu mertua saya dalam pakaian lengkap. Tapi saya tetap saja dapat terangsang hanya dengan pemandangan yang demikian. Khususnya pada rekaman yang memperlihatkan ibu mertua saya memakai kebaya. Lekuk-lekuk tubuhnya masih dapat terlihat, walaupun ibu mertua itu dapat dikatakan agak kurus. Pinggul besar yang terbungkus kain itulah yang menggemaskan untuk dicubit. Saya mencoba untuk menjajaki kemungkinan untuk merekam di kamar mandi di rumah mertua saya itu, tapi saya tidak dapat menemukan lokasi-posisi yang aman.

Sempat terpikir oleh saya untuk memiliki kamera kecil (Spy Camera) yang sudah mulai banyak ditawarkan di internet saat itu. Namun karena harganya mahal, apalagi dapat dikatakan hanya didistribusikan di Amerika, pikiran itu tidak dikembangkan lebih lanjut. Kesempatan untuk membuat rekaman yang lebih menarik akhirnya datang juga. Dalam rangka pernikahan adik ipar saya, kami (saya dan isteri saya) menginap di rumah mertua saya, karena isteri saya saat itu sedang hamil tua dan agak melelahkan kalau harus pulang pergi Depok-Rawamangun. Ketika menginap itulah timbul ide untuk meletakkan kamera di dalam tasnya sedemikian rupa sehingga lensanya masih tetap dapat merekam gambar di hadapannya. Dalam rencana saya, tas kamera itu akan saya letakkan di kamar ibu mertua saya, yang kebetulan juga dapat dikatakan sudah menjadi kamar umum di rumah itu, siapa saja anak-anaknya yang datang pasti masuk dulu ke kamar tersebut, dan bisanya juga menaruh barang-barang di kamar itu. Setelah mencoba-coba, maka untuk kamuflase saya mempergunakan kain bekas kaos yang berbentuk jaring (jala-jala) yang kebetulan berwarna hitam. Berdasarkan coba-coba itu, saya mendapatkan kesimpulan bahwa kain tersebut tidak akan terekam kalau posisi lensa pada tele (jarak jauh) bukan wide (jarak dekat). Semakin dekat akan semakin jelas terlihat kain tersebut, bahkan dapat dikatakan mendominasi gambar yang terekam.

Semakin tele, maka akan semakin kabur gambar kain tersebut. Hasil pertama dan hasil kedua yang saya dapat sangat mengecewakan saya, karena rekaman yang dapatkan hanyalah gambar jala-jala dari kaos hitam tersebut dan beberapa bayangan yang bergerak-gerak. Setelah pengalaman yang pertama, tadinya saya mengira bahwa yang menjadi penyebab karena saya menyetel lensa pada posisi wide. Namun, karena pada hasil yang kedua, rekaman yang saya dapatkan juga sama, saya menjadi sedikit penasaran. Setelah dipelajari, akhirnya saya mengetahui penyebabnya. Yakni, karena saya mempergunakan sarana autofocus dari kamera tersebut. Akhirnya setelah saya menyetelnya ke posisi manual, hasil yang saya dapatkan cukup memuaskan saya. Pada usaha yang ketiga, akhirnya saya mendapat rekaman yang menggambarkan ibu mertua saya sedang berganti baju. Sayangnya, saya tidak mendapat rekaman yang menunjukkan kemaluannya. Hanya payudaranya saja yang telanjang. Namun setidaknya, hasil ini cukup untuk bahan atau alat bantu kalau saya mengkhayalkannya. Apalagi kalau dibandingkan dengan gambar jala-jala hitam. Rekaman yang saya dapatkan ketika hari H dari perkawinan adik ipar saya sungguh mengejutkan dan sangat menyenangkan saya. Karena setelah saya periksa, banyak sekali terdapat pemandangan sangat indah yang hanya berbaju dalam yang didapatkan. Payudara-payudara indah dan montok walaupun sebagian besar masih memakai BH maupun paha-paha mulus bukan hanya milik ibu mertua saja, tapi juga milik kakak-kakak ipar, beberapa sepupu isteri saya dan juga beberapa orang tantenya, yang mempergunakan kamar tersebut sebagai kamar ganti dan dandan. Yang paling mengejutkan, dalam rekaman tersebut terdapat pemandangan tubuh bulat polos tanpa sehelai benangpun milik Mbak Uci, isteri dari kakak ipar saya.

Walaupun tubuhnya mungil, tapi proporsional dan menawan. Apalagi rambut di selangkangannya terlihat hitam dan lebat sekali. Setelah memiliki rekaman tersebut, obyek fantasi seksual saya pun bertambah. Bukan hanya semata-mata ibu mertua saya, tetapi juga merembet ke yang lain. Tapi, ibu mertua tetap merupakan obyek yang paling favorit. Sebagaimana umumnya laki-laki lain, saat-saat menanti kelahiran anak pertama merupakan saat-saat yang penuh kekhawatiran. Demikian juga pada diri saya. Selain khawatir terhadap keselamatan calon anak, saya saat itu juga khawatir dengan keselamatan isteri saya. Kekhawatiran yang saya ingat adalah bagaimana nasib bayi saya kalau ibunya tidak selamat (meninggal). Di tengah kekhawatiran seperti itupun sempat terpikir oleh saya seandainya isteri saya meninggal, maka saya berniat untuk menjadi ibu mertua saya menjadi isteri saya. Kalau ingat-ingat hal itu, perasaan saya sukar tidak keruan. Tetapi akhirnya, isteri saya dapat melahirkan dengan selamat. Berhubung anak pertama, maka isteri saya pun meminta ibu mertua saya untuk menemaninya dan mengajarinya terlebih dahulu bagaimana merawat bayi. Artinya, isteri saya meminta ibu mertua saya untuk sementara waktu menginap di rumah kami setidaknya selama seminggu pertama sejak kepulangan dari rumah sakit. Selama ibu mertua menginap di rumah kami tersebutlah saya dapat menambah koleksi rekaman video saya. Dan yang terutama adalah rekaman beliau telanjang bulat di kamar mandi. Kamera video itu sendiri sudah saya pasang di kamar mandi satu hari sebelum isteri saya pulang dari rumah sakit. Kamera saya letakkan di balik kaca satu arah (one way mirror). Setelah saya memiliki kamera video (handy cam), saya memang membuat rak khusus di kamar mandi yang tebalnya kira-kira 12 cm. Di mana salah satu bagiannya adalah kaca selain bagian-bagian untuk menyimpan handuk, dan perlengkapan mandi lainnya. Di balik kaca tersebut terdapat ruang kosong untuk menaruh kamera video. Isteri saya tidak mengetahui bahwa kaca yang saya pergunakan adalah kaca one way mirror.

Untuk mengurangi resiko ketahuan, bagian belakang kaca tersebut (dalamnya) saya cat hitam agar selalu lebih gelap dari bagian depan dari kaca. Di depan kaca tersebut (bagian atasnya) saya pasang lampu neon 15 watt untuk lebih mendukung persembunyian kamera video saya sekaligus juga sebagai sumber listrik jika saya menaruh kamera di balik kaca tersebut. Untuk itu saya memasang satu stop kontak di balik kaca tersebut. Karena ketebalannya, di rak itu kamera video hanya dapat diletakkan secara menyamping (lensa tidak langsung berhadapan dengan kaca), sehingga untuk dapat merekam situasi di kamar mandi, maka masih diperlukan satu alat tambahan yang namanya Video Mirror Scope, yang fungsinya adalah merekam gambar ke samping lensa kamera (bukan ke depan kamera). Alat saya dapatkan melalui teman yang pulang dari Amerika ke Indonesia. Kalau tidak salah belinya di ADORAMA di West 18 th Street New York. Harganya sekitar 40 US$. Keberadaan dan fungsi alat itu sendiri saya ketahui dari Majalah Video Maker. Ide untuk membuat rak dan membeli alat tambahan tersebut terutama disebabkan karena saya juga ingin memiliki rekaman video isteri saya ketika dia telanjang bulat. Jangankan telanjang bulat, masih memakai pakaian dalam saja ia marah-marah ketika saya mencoba memvideonya. Selain itu, ketidakmungkinan mewujudkan ide memasang kamera video di kamar mandi di rumah mertua saya, akhirnya saya wujudkan di rumah sendiri. Sejujurnya, pada awalnya tidak pernah terbayang bagi saya kalau pada akhirnya saya memiliki kesempatan untuk merekam ibu mertua saya. Apalagi sampai berhari-hari. Hasil rekaman tersebutlah yang saya pergunakan sebagai bahan masturbasi di hari-hari selanjutnya. Khususnya, ketika saya dan isteri saya tidak dapat melakukan hubungan suami-isteri karena dia baru melahirkan. Tanpa saya sadari sepenuhnya, rekaman-rekaman tersebut justru membuat saya semakin tergila-gila pada ibu mertua saya. Bahkan ketika melihat rekaman yang menunjukkan belahan pantat beliau, yaitu ketika ia membungkuk mengambil sabun yang terjatuh, woww..., mantap!

Disuruh menciumi pantatnya pun rasanya saya mau melakukannya dengan senang hati. Pokoknya, menjadi semakin tergila-gila... Kira-kira satu minggu beliau menginap di rumah kami dan kemudian kembali ke rumahnya di Rawamangun. Setelah itu, tidak terlalu banyak perubahan atau kemajuan yang saya dapatkan. Paling-paling, koleksi video bertambah ketika lahir anak saya yang kedua. Itupun cuma satu hari beliau menginap di rumah kami. Tapi meskipun demikian aku merasa cukup puas dengan kehadiran ibu mertuaku di sampingku.

Monday, December 24, 2007

Senggolan Maut

Posted: 24 Dec 2007 05:40 PM CST

Aku adalah seorang karyawati sebuah perusahaan swasta di kota kembang, kalau untuk penghasilan mungkin boleh dibilang lebih dari cukup untuk seorang yang masih sendiri seperti aku, lagipula usiaku masih terbilang muda, sekitar 24 tahun. Kata orang sih aku masih senang jalan-jalan, lagian aku juga cepat akrab dengan orang-orang yang baru kenal denganku. Yach itu juga mungkin satu kelebihanku. Mungkin itu sedikit gambaranku saat ini.

Seperti biasa, sepulang kerja aku masih menyempatkan diri pergi ke pusat pertokoan yang ada di kota ini, sekalian lewat pikirku, lagipula aku ingin sedikit melepas penatku yang seharian tadi di belakang meja terus. Tengah asyik memperhatikan baju-baju yang kulihat tiba-tiba ada seorang pemuda yang tanpa sengaja menubrukku dari samping dan kulihat pemuda itu juga sama terkejutnya denganku. Kupikir dia juga tanpa sengaja menubrukku tapi yang jadi masalah tasku ikut terjatuh dan isinya beberapa tercecer keluar. Dengan sigap aku cepat memunguti kembali barang-barangku yang tercecer, tapi pemuda tadi juga tak kalah sigapnya turut membantuku mengumpulkan barang-barangku yang jatuh sambil berkata, "Maaf.. maaf.. Mbak.. saya nggak sengaja.." begitu katanya dengan wajah yang merasa berdosa, aku hanya tersenyum saja melihat dia seperti itu. Aku berpikir dalam hati, dia tampan dan berbadan bagus. Aku jadi nggak terlalu ambil pusing dengan hal tadi.

Kemudian setelah semuanya beres, kembali dia megucapkan permohonan maaf. Kemudian dia berkata lagi, "Mbak, maaf sekali yach.. saya nggak sengaja, gini aja dech Mbak.. untuk menebus salah saya tadi, kalau Mbak nggak keberatan saya ingin mengajak Mbak makan di sana, boleh yach..?" begitu katanya dengan wajah memelas.
"Nggak usah repot-repot.." kataku, "Lagipula kan itu nggak sengaja kamu lakukan.."
Kemudian dia berkata lagi, "Please.. Mbak kalau nggak saya akan sangat ngerasa bersalah sekali, apalagi kertas-kertas Mbak tadi jadi sedikit kotor.." begitu katanya memohon. Terus kupikir yah tidak ada salahnya, apalagi aku pun sudah punya niat untuk makan dulu sebelum pulang nanti, maklumlah kalau sudah pulang aku paling males kalau harus keluar rumah untuk membeli makanan, soalnya rumahku jarang ada yang jualan makanan.

Kemudian aku dan pemuda tersebut masuk ke sebuah restoran yang cukup asyik juga buat santai sambil menikmati makanannya. Setelah memesan makanan kemudian kami ngobrol sambil menunggu makanan datang. "Siapa nama Mbak..?" dia membuka pembicaraan.
"Diah.." jawabku singkat, "Dan kamu sendiri.." aku balik bertanya.
"Ryan.." jawabnya.

Akhirnya kami akrab berbincang kesana kemari sambil menikmati makanannya. "Mbak.. aku antar pulang yach.. lagian di luar hujan.." kata Ryan menawarkan. Aku hanya tersenyum saja sambil mengangguk, lagipula kebetulan beberapa hari ini aku tidak membawa mobil karena harus diperbaiki. Kemudian kami pun pulang, setelah berkeliling-keliling kota sebentar. Sementara hujan di luar sangat deras. "Ryan..! masukkan saja mobilnya ke garasi, nggak ada mobil kok, lagi di bengkel," kataku. Setalah mobil diparkir di garasi kemudian kami pun masuk ke dalam rumah. Wah bajuku basah sehabis membukakan pintu pagar tadi.

"Minum apa Yan.." kataku.
"Ah nggak usah repot-repot," katanya sambil asyik memperhatikan koran dan juga majalah yang ada di meja tengah rumah.
"Kamu di sini sendirian Diah.." tanyanya.
"Iya.. emangnya kenapa..?" aku balik bertanya.
"Ah nggak apa-apa, Apa kamu nggak takut..?" katanya lagi.
"Nggak tuch.. lagian aku udah biasa sendiri kok," kataku lagi.

Ryan sibuk melihat-lihat majalah dan juga beberapa VCD yang sudah kukoleksi sejak setahun yang lalu. "Wah kamu seneng film-film semi juga yach.. wah ini juga malah ada Film Blue-nya.. kalau mau aku juga ada di rumah.." kata Ryan dari dalam, sementara aku dari dapur mendengarkan sambil membuat minum untuknya. "Ini Yan minumnya.. Eh aku mau mandi dulu yach.. rasanya udah mulai nggak enak nich badanku, kalau kamu mau nonton ya nonton aja, bisa kan?" kataku sambil menunjukkan beberapa film lagi di dalam lemari. Sementara itu Ryan asyik memilih film, aku mandi. Rasanya asyik juga nich kalau berendam di bathtub pikirku. Badanku rasanya segar kembali. Baru beberapa saat aku berendam tiba-tiba Ryan memanggilku dari luar. "Diah.. Diah..! ada telpon tuch.." dan kudengar bunyi telponnya pun terus berdering. Aku pun dengan segera mengambil handuk dan dengan tergesa keluar sambil sedikit berlari, aku tidak sempat lagi mengelap air yang masih membasahi sekujur tubuhku. Aku berjalan ke dekat sofa dekat Ryan yang tengah duduk di bawah dan asyik menonton dan telepon pun segera kuangkat sambil duduk sedikit di sofa di samping atas Ryan.

"Hai Rin.. ada apa," jawabku.
"Ah nggak, hanya kangen saja kok.." terdengar jawaban dari ujung sana.
Setelah beberapa saat ngobrol dengan Rini, mataku sambil tertuju melihat film yang tengah diputar Ryan dan kebetulan film yang beberapa hari lalu kubeli dan belum sempat kuputar. Aku sempat terangsang melihat adegan yang tengah berlangsung di dalam film itu. Bagaimana tidak, kulihat seorang pria tengah menciumi selangkangan seorang wanita cantik dan kulihat wanita itu tengah menikmati rangsangan yang diberikat si pria dengan sedikit mengerang dan matanya memejam menahan kegelian yang tengah dirasakannya. Aku pun seakan tengah merasakan kegelian yang dirasakannya dan bulu bulu halus di sekitar kemaluanku pun seakan terasa meremang menyaksikan adegan tersebut. Untuk sesaat aku terhayut, dan tanpa kusadar Ryan sesekali memperhatikan tingkahku yang seakan ikut terangsang. Tampaknya Ryan jeli melihat apa yang tengah kurasakan.

Kemudian dia pun sedikit mendekat dan mulai meraba kakiku yang masih basah oleh air. Kemudian tangannya mulai naik meraba mulutku dan bibirnya pun mulai mempel di pahaku yang terlihat putih. Dengan leluasa aku membiarkan tangan Ryan meraba dan bibirnya menjilati pahaku sementara handuk yang kupakai tadi sudah tidak karuan lagi menutupi tubuhku, aku mulai menggeliat menahan geli yang teramat manakala bibir dan lidah Ryan mulai menjalar ke arah pangkal pahaku.

"Ryan.. Ryan.. geli.. aku meremas-remas handuk yang kupegang dan juga rambut kepala Ryan yang kupegang, sementara mataku terpejam dan kepalaku kurebahkan kesandaran sofa menikmati jilatan dan juga rabaan di sekujur tubuhku, geli yang luar biasa. Aku beberapa kali terpekik kecil menahan geli yang teramat sangat dan aku pun sangat terangsang. Kulihat Ryan semakin mamahami titik-titik rangsangku dan terlihat semakin ganas menyerangku.

Perlahan tangan Ryan mulai menggerayangi tubuhku bagian atas, buah dadaku yang terlihat membusung di balik handuk yang masih sedikit menutupinya. Ryan kembali menghujamkan ciuman dan juga jilatannya ke arah leherku yang sedikit jejang dan basah oleh air yang belum sempat kuseka oleh handuk. Aku tak kuasa lagi menahan geli yang teramat. "Akh.. akh.." nafasku sedikit tak teratur menahan semua itu. Ryan semakin berani dan mulai menurunkan ciumannya ke arah kedua gunung kembar yang mulai tersembul ketika handuk yang menutupinya sedikit tersingkap. Sementara kedua putingku terasa menahan gejolak seakan ingin cepat dikulum oleh mulut Ryan yang jilatannya terasa membuat tubuhku melayang.

Tanpa banyak basa basi lagi Ryan langsung menjilati dan mengulum buah dadaku satu persatu seolah ingin semua dihabiskannya. Aku semakin menggeliat dan memekik kecil, "Akkh.. akhhh.. Ryan.. teruskan.. teruskan.. akh.. ahkk.." Ryan semakin ganas dan jilatannya terus turun ke arah kemaluanku yang tersembunyi diantara bulu-bulu halus dan lumayan banyak itu aku menggeliat semakin jadi menahan jilatan Ryan yang semakin gila. "Ahk.. ahk.." aku berusaha membuka celana Ryan dan juga bajunya yang terlihat sedikit berkeringat. Ryan mengerti maksudku, kemudian dia membuka celananya. Dari celana dalamnya yang putih itu kulihat senjata Ryan mulai menegang. "Besar juga.." pikirku dalam hati sambil kupandangi Ryan dengan senyuman yang menggoda.
Kemudian kukeluarkan senjatanya dan mulai kujilati perlahan dan sesekali kukulum dalam dalam senjata Ryan yang semakin membesar itu. Kulihat Ryan mengerang menikmati jilatanku. Aku semakin terangsang melihat senjata Ryan yang semakin menegang itu, kemudian aku mulai mengarahkan senjatanya ke arah bibir vaginaku yang sedari tadi sudah terbuka siap menyambut senjata Ryan yang akan masuk. "Cepat masukkan Ryan," kataku, "Aku sudah tak kuat lagi ingin merasakannya."Ryan dengan cekatan mulai menggenjotkan senjatanya. Aku terpekik sesaat dan meregang meremas pantat Ryan yang mulai bergerak menggenjot vaginaku. "Akh.. ahk.. terus.. terus Ryan.. jangan berhenti.."

Ryan mengganti posisinya, kali ini aku mengarah ke arah sandaran sofa sementara Ryan dari belakang memasukkan senjatanya ke vaginaku. Aku berusaha menikmati genjotan Ryan yang terasa membuatku terengah menahan emosiku yang semakin memuncak. "Auhkkk.. ahkk.. ahk.." tanpa terasa keringatku pun terus mengalir membasahi tubuhku. Kulihat Ryan mulai mengganti posisinya lagi, kali ini dia duduk di sofa sementara aku duduk di pangkuannya. Sekarang saatnya aku yang menggenjotnya perlahan, sementara Ryan berusaha mengulum buah dadaku yang semakin mekar dan membusung. Rambutku kubiarkan terurai ke belakang sementara mataku terpajam menikmati hentakan-hentakan yang membuatku semakin merasa terangsang. Aku mengejang beberapa kali, kurasakan ada yang keluar dari dalam vaginaku, sementara Ryan semakin gila menggoyang dari bawah.

Aku segera memeluk Ryan dan Ryan pun dengan erat memelukku.
"Diah.. Diah.. aku akan keluar.."
"Keluarkan saja di dalam Ryan.." kataku beberapa saat dari situ Ryan semakin erat memelukku, mengejang dan kurasakan sesuatu yang hangat seakan mengalir ke dalam vaginaku. "Cret.. crrreeett.. crrettt.. akh.. akh.. akh.." Aku terduduk lemas, begitu pula Ryan. Untuk beberapa saat aku istirahat, kemudian aku bergegas mandi. Ryan kulihat masih kelelahan sambil tiduran di sofa.

Semenjak itu kami selalu melakukannya di rumah atau juga di hotel. Tapi sekarang kami sudah tidak pernah bertemu lagi, kami memutuskan untuk berpisah baik-baik sementara Ryan pulang ke daerah asalnya.


Guru Praktek

Posted: 24 Dec 2007 05:33 PM CST

Waktu itu aku masih kelas dua, di salah satu SMA Negeri di Bandung. Aku termasuk salah satu siswa dengan segudang kegiatan. Dari mulai aktif di OSIS, musik, olah raga, sampai aktif dalam hal berganti-ganti pacar.

Tapi satu hal yang belum pernah kulakukan saat itu hubungan kelamin Sering kali aku berkhayal sedang berhubungan badan dengan salah satu wanita yang pernah menjadi pacarku. Tapi aku tidak punya keberanian untuk meminta, mengajak ataupun melakukan itu. Mungkin karena cerita sahabatku yang terpaksa menikah karena telah menghamili pacarnya dan sekarang hidupnya hancur lebur. Itu mungkin yang bikin kutakut, setengah mati. Tapi aku menyukai rasa takut itu, bukankah rasa takut itu yang bisa menjauhkan aku dari perbuatan dosa.

Suatu saat, datang gerombolan guru praktek dari IKIP Bandung yang akan menggantikan guru kami untuk beberapa minggu. Salah satu dari guru praktek itu bernama Lisa. Dia begitu cantik, ah bukan... bukan cantik... tapi dia sempurna. Peduli setan dengan matematika yang diajarkannya, aku hanya ingin menikmati wajahnya, memeluk tubuhnya yang tinggi semampai, mengecup bibirnya, dan... aku pun berkhayal sangat jauh, tapi semua itu tidak mungkin. Dengan pacarku yang seumur denganku saja, aku tidak berani, apalagi dengan Lisa.

Singkat cerita, aku melaju dengan motorku. Hari sudah sore aku harus cepat sampai di rumah. Dalam perjalanan kulihat Ibu Lisa. Aku memberanikan diri menghampirinya. Setelah sedikit berbasa-basi dia bercerita bahwa dirinya baru saja pindah kost dan tempat kost yang sekarang letaknya tepat di tengah-tengah antara sekolahku dengan rumahnya. Sehingga setiap sore aku mengantarkannya ke tempat kost-nya. Kejadian itu berlangsung setiap hari selama satu minggu lebih. Kami berdua mulai akrab, bahkan nantinya terlalu akrab.

Seperti biasanya, aku mengantarkan Ibu Lisa pulang ke kost-nya. Anehnya saat itu, dia tidak ingin langsung pulang tapi mengajakku jalan-jalan di pertokoan di daerah Alun-Alun Bandung. Setelah puas kami pun pulang menuju ke kost Ibu Lisa. Dan ketika kupamit Ibu Lisa memegang tanganku dan...
"Jangan dulu pulang, dong!" Ibu Lisa menahanku, tapi memang inilah yang selama ini kuharapkan.
"Udah malam Bu, takut entar dimarahi..." Perkataanku terhenti melihat dia menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya yang kecil.
"Jangan panggil aku Ibu Lisa, coba tebak berapa umurku?" ternyata umurnya terpaut lima tahun dengan umurku yang saat itu 17 tahun.
"Panggil aku Lisa." Aku hanya menganggukkan kepalaku.
"Sini yuk, aku punya baju baru yang akan aku pamerkan kepadamu."
Ditariknya tanganku menuju kamarnya, jantungku mulai berdetak kencang.

Sesampainya di kamar, dia menyuruhku duduk di depan televisi yang memperlihatkan pahlawan kesayanganku, McGyver. Lisa kemudian menghampiri lemari pakaian di samping televisi.
"Aku punya tiga buah baju baru, coba kamu nilai mana yang paling bagus."
Kujawab dengan singkat, "OK!" lalu kembali aku menonton McGyver kesayanganku. Walaupun mataku tertuju ke pesawat televisi, tapi aku dapat melihat dengan jelas betapa dia dengan santainya membuka baju seragam kuliahnya, jantungku berdebar keras. Lisa hanya menyisakan BH berwarna hitam dan celana dalam hitam. Dia melakukan gerakan seolah sedang mencari pakaian di tumpukan bajunya yang tersusun rapih di dalam lemari.

"Aku tidak bisa menemukan baju baruku, kemana ya?" Aku hanya terdiam pura-pura menonton TV, tapi pikiranku tertuju kepada belahan pantat yang hanya tertutup kain tipis. Sesekali dia membalikkan tubuhnya sehingga aku bisa melihat dua buah benda yang menggunung di balik BH-nya. Akhirnya dia mengenakan gaun tidur berwarna pink yang sangat tipis, Lalu dia menghampiriku, dan kami berdua duduk berhadapan.

"Kamu kenapa, kok pucat", aku terdiam.
"Kamu takut ya?" Aku tetap terdiam.
"Aku tau kamu suka aku." Aku terdiam.
"Hey, ngomong dong." Aku tetap terdiam.
Dalam kediamanku selama itu aku menyimpan sesuatu di dadaku yang berdetak sangat kencang dan keras serasa ingin meledak ketika dia menempelkan bibir mungilnya ke bibirku. Dia melumat bibirku, sedikit buas tapi mesra. Aku mulai memberanikan diri untuk membalasnya. Kugerakkan bibirku dan kulumat kembali bibirnya. Tak lama kemudian, telapak tangan lisa yang hangat meraih pergelangan tanganku. Dibawanya tanganku ke arah buah dadanya. Jantungku saat itu sangat tidak karuan. Kuremas buah dadanya yang tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil, tapi aku dapat merasakan betapa kencangnya kedua gunung surga itu. Lidah kami pun mulai bermain.

Tiba-tiba dia mendorongku, terus mendorongku sehingga aku telentang di atas karpet kamarnya. Aku hanya menurut dan tak bergerak. Lisa membuka baju tidurnya yang tipis. Kali ini dia tidak berhenti ketika hanya BH dan CD-nya saja yang melekat di tubuhnya, tapi BH-nya kemudian terjatuh ke karpet. Belum sempat aku bergerak, Lisa menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, buah dadanya yang sangat keras menindih dadaku.

"Kamu suka, ya?" aku mengangguk. Aku tak kuasa menahan diri, ketika aku mengangkat kepalaku untuk melumat bibirnya kembali, dia menahan kepalaku, aku heran. "Ke.. ke... kenapa Lis?" kataku terbata-bata. Dia hanya tersenyum, lalu dengan santainya dia memanjat turun tubuhku. Aku hanya terdiam, aku tidak berani bergerak. Aku bagaikan seorang prajurit yang hanya bergerak berdasarkan komando dari Lisa. Dia mulai membelai pahaku dan sedikit mempermainkan selangkanganku. Sesekali dia menciumi celana seragam abu-abuku tepat pada bagian batang kejantananku. Aku memejamkan mata, aku pasrah, "Aku... aku... ah...!"

Aku membiarkannya, ketika Lisa mulai membuka celana seragamku, mulai dari ikat pinggangku dan berlanjut dengan menyingkapkan CD-ku. Dia meraih batang kemaluanku dengan mesranya.
"Ah... crot... crot... crot...!" Aku tak kuasa menahan diriku ketika bibirnya yang mungil menyentuh kepala kemaluanku. Aku malu, malu setengah mati.
"Tenang, itu biasa kok."
Senyumnya membuat rasa maluku hilang, senyum dari wajah sang bidadari itu membuat keberanianku muncul, "Ya aku berani, aku nekat!"

Aku menarik kepalanya dan membalikkan tubuhku, sehingga aku berada tepat di atasnya. Dia sedikit kaget, tapi hal itu membuat aku suka dan makin berani. Aku beranjak ke bawah, kubuka CD-nya. Saat itu yang ada dipikiranku hanya satu, aku harus mencontoh film-film biru yang pernah kutonton.

"Kamu mulai nakal, ya."
"Ibu guru tidak suka."
Aku tak memperdulikan candanya. Kuturunkan CD-nya perlahan, kulihat sekilas rumput kecil yang menutupi celah surganya. Seketika kucumbu dan kumainkan lidahku di celah surga itu. Tangan kananku terus menarik CD-nya sampai ke ujung kakinya dan kulempar entah jatuh di mana. Aku menghentikan sejenak permainan lidahku, kuangkat pinggul yang indah itu dan kugendong dia menuju ke tempat tidur yang terletak tepat di belakang kami berdua. Kuletakkan tubuh semampai dengan tinggi 173cm itu tepat di pinggir tempat tidur. Aku kemudian berjongkok, dan kembali memainkan lidahku di sekitar celah surganya, bahkan aku berhasil menemukan batu kecil di antara celah itu yang setiap kutempelkan lidahku dia selalu mengerang, mendesah, bahkan berteriak kecil.

Tangan kiriku ikut bermain bersama lidahku, dan tangan kananku membersihkan sisa air mani yang baru saja keluar. Wow... batang kejantananku sudah keras lagi. Ketika aku sedang asyik bermain di celah surganya, dia menarik kepalaku. "Buka celana kamu, semuanya...!" Aku menurut dan kembali menindih tubuhnya. Setelah kepala kami berdekatan dia mencium bibirku sekali dan kemudian dia tersenyum, hanya saat itu matanya sudah sayu, tidak lagi bulat penuh dengan cahaya yang sangat menyilaukan.

Dia mengangkat kepalanya disertai tangan kananya meraih batangku dan mengarahkannya ke lubang kemaluannya. Tapi ketika batangku menyentuh bibir lubang kemaluannya, "Crot... cret... creeett...!" Kembali aku meraih puncakku, dia pun tersenyum. Hanya saat itu aku tidak lagi malu, yang ada dipikiranku hanyalah aku ingin bisa memuaskannya sebelum orgasmeku yang ketiga. Aku heran setelah orgasme yang pertama ini batang kejantananku tidak lagi lemas, kubiarkan Lisa mengocok-ngocok batanganku, dengan hanya melihat garis wajah milik sang bidadari di depanku dan juga membelai rambutnya yang hitam legam, aku kembali bernafsu.

"Pelan-pelan aja tidak usah takut." Dia berbisik dan tersenyum padaku. Tak karuan perasaanku saat itu, apalagi ketika kepala kemaluanku dioles-oleskannya ke bibir kemaluannya. Tangannya yang kecil mungil itu akhirnya menarik batang kemaluanku dan membimbingnya untuk memasuki lubang kewanitaannya.
"Bles... sss... sek!" Batangku sudah seratus persen tertanam di lubang surganya. Rasa percaya diriku semakin meningkat ketika aku menyadari bahwa aku tidak lagi mengalami orgasme. Aku mulai menarik pinggulku sehingga kemaluanku tertarik keluar dan membenamkannya lagi, terus menerus berulang. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk begitu seterusnya.

"Oh Dig...!" Dia mulai memanggil nama akrabku, aku dipanggil Jedig oleh sahabat-sahabatku. Selama ini Lisa hanya memanggil nama asliku seperti yang tertera di dalam absen kelasku. "Dig, terus... kamu mulai pintar..." Aku tak peduli, aku terus bergerak naik turun. Aku merasakan batang kemaluanku yang basah oleh cairan dari lubang surga milik Lisa. Naik dan turun hanya itu yang kulakukan. Sesekali aku mencium bibirnya, sesekali tanganku mempermainkan bibir dan buah dadanya.

"Ah... ah... ah, ah... oh!" Nafasnya memburu.
"Ah Dig... ah... ah... ooowww!" Dia berteriak kecil, matanya sedikit melotot dan kemudian dia kembali tersenyum. Aku terdiam sejenak, aku heran kenapa dia melakukan itu. Yang kuingat, saat itu batang kemaluanku serasa disiram oleh cairan hangat ketika masih ada di dalam lubang kemaluannya. "Ntar dulu ya Jedig Sayang." Dia mengangkat tubuhnya sehingga kemaluanku terlepas, aku menahan tubuhnya. Aku tak ingin kemaluanku terlepas aku masih ingin terus bermain. "Eit... sabar dong, kita belum selesai kok." Kulihat dirinya memutar tubuhnya kemudian nungging di depan mataku. Aku sangat mengerti apa yang harus kulakukan, ya... seperti di film-film itu.

Aku mendekatinya dengan batang kemaluanku yang sudah siap menghunus lubang kemaluannya. Aku mencoba memasukannya, tapi aku mengalami kesulitan. Satu, dua, ya dua kali aku gagal memasukan batangku. Akhirnya dia menggunakan tangan mungilnya untuk membimbing batangku. "Blesss..." Batangku masuk dengan perlahan. Berbeda dengan tadi, sekarang aku tidak lagi naik turun tetapi maju mundur. Kami berdua mendesah. Nafas kami saling memburu. Terus dan terus lagi. "Ah... oh... uh... terus Dig..., ah... oooww!" Kembali dia berteriak kecil, saat ini aku mengerti, setiap kali dia berteriak pasti kemudian dia merubah posisinya. Benar saja posisi kami kembali seperti posisi awal. Dia telentang di bawah dan aku menindihnya di atas. Aku tidak lagi memerlukan tangan mungilnya untuk membimbingku. Aku sudah bisa memasukan batang kemaluanku sendiri tepat menuju lubang surga yang sesekali beraroma harum bunga itu.

Kembali aku melakukan naik dan turun. Kali ini aku menjadi siswa yang benar-benar aktif, tidak hanya di sekolah tapi di ranjang. Kuangkat kaki kanannya, kujilati betisnya yang tanpa cacat itu sambil terus menggerakan pinggulku.

Beberapa saat kemudian, aku merasakan darahku mengalir dengan keras, ada sesuatu di dalam tubuhku yang siap untuk meledak. Gerakanku semakin kencang, cepat, dan tidak teratur.
"Terus Dig, lebih cepat lagi... terus lebih cepat lagi Dig, terus."
Gerakanku semakin cepat. Kami berdua sudah seperti kuda liar yang saling kejar-mengejar sehingga terdengar suara nafas yang keras dan saling sambut menyambut.
"Terus Dig, terus... ah... uh... oh...!"
"Oban sayang... ah... dig... dig... dig... aaoowww!"

Saat ini teriakannya sangat keras dan kulihat matanya sedikit melotot dan giginya terkatup dengan sangat keras. Kemudian dia terjatuh.
"Dig cepetan ya sayang...!"
"Aku capek."
Aku tak bisa berhenti menggerakan tubuhku, sepertinya ada suatu kekuatan yang mendorong dan menarik pinggulku.
"Ah... oh... Ufff... aaah...!"
"Crot... cret... cret...!"
Muncratlah air kenikmatan itu dari tubuhku. Aku terjatuh di sampingnya, aku puas! Dia tersenyum padaku dan memelukku, dia menaruh kepalanya di dadaku. Setelah mengecup bibirku kami berdua pun tertidur pulas.

Beberapa bulan setelah percintaanku dengan Ibu Lisa... Perpisahaan pun dimulai, setelah aku memainkan beberapa lagu di panggung perpisahaan untuk menandakan berakhirnya masa kerja praktek mahasiswa-mahasiswa IKIP di sekolahku. Kulihat mereka menaiki bus bertuliskan IKIP di pinggirnya. Aku mencari Lisa, bidadari yang merenggut keperjakaanku.
"Lisa... hey...!" Lisa menengok dan matanya melotot.
"Ups... Ibu Lisa!" Aku lupa, dia kan guruku.
"Sampai ketemu lagi ya, jangan lupa belajar!" sambil menaiki tangga bus dia menyerahkan surat padaku. Aku langsung membaca dan tak mengerti apa maksud dari tulisan itu.

Akhirnya bus itu pergi dan saat itulah saat terakhir aku melihatnya. Aku tak akan pernah lupa walaupun hanya sekali aku melakukannya dengan Lisa. Tapi itu sangat berbekas. Aku selalu merindukannya. Bahkan aku selalu berkhayal aku ada di dekat dia setiap aku dekat dengan perempuan. Sekarang ketika aku sudah duduk di bangku kuliah aku baru mengerti apa arti dari surat Lisa.


Saturday, December 22, 2007

Dosen & Pembantu

Posted: 22 Dec 2007 09:44 AM CST

Cerita ini terjadi saat saya kuliah dulu. Saya saat itu sangat pemalu dan tidak banyak teman wanita. Ceritanya begini, pada waktu ujian tengah semester, saya dipanggil ke rumah dosen wanita yang masih agak muda, sekitar 26 tahun. Ia juga lulusan dari perguruan tinggi tersebut. Dipanggil ke rumahnya karena saya diminta untuk mengurus keperluan dia, karena dia akan ke luar kota. Malam harinya saya pun ke rumahnya sekitar jam 7 malam. Saat itu rumahnya hanya ada pembantu (yang juga masih muda dan cantik). Suaminya ketika itu belum pulang dari rapat di puncak.

Saat saya membuka pintu rumahnya, saya agak terbelalak karena dia memakai gaun tidur yang tipis, sehingga terlihat payudara yang menyumbul keluar. Saat saya perhatikan, dia ternyata tidak memakai BH. Terlihat saat itu buah dadanya yang masih tegar berdiri, tidak turun. Putingnya juga terlihat besar dan kemerahan, sepertinya memiliki ukuran sekitar 36B.

Sewaktu saya sedang memperhatikan Dosen saya itu, saya kepergok oleh pembantunya yang ternyata dari tadi memperhatikan saya. Sesaat saya jadi gugup, tetapi kemudian pembantu itu malah mengedipkan matanya pada saya, dan selanjutnya ia memberikan minuman pada saya. Saat ia memberi minum, belahan dadanya jadi terlihat (karena pakaiannya agak pendek), dan sama seperti dosen saya ukurannya juga besar.

Kemudian dosen saya yang sudah duduk di depan saya berkata, (mungkin karena saya melihat belahan dada pembantu itu) "Kamu pingin ya "nyusu" sama buah dada yang sintal..?"
Saya pun tergagap dan menjawab, "Ah... enggak kok Bu..!"
Lalu dia bilang, "Nggak papa kok kalo kamu pingin.., Ibu juga bersedia nyusuin kamu."
Mungkin karena ia saya anggap bercanda, saya bilang saja, "Oh.., boleh juga tuh Bu..!"

Tanpa diduga, ia pun mengajak saya masuk ke ruang kerjanya.
Saat kami masuk, ia berkata, "Andre, tolong liatin ada apaan sih nih di punggung Ibu..!"
Kemudian saya menurut saja, saya lihat punggungnya. Karena tidak ada apa-apa, saya bilang, "Nggak ada apa-apa kok Bu..!"
Tetapi tanpa disangka, ia malah membuka semua gaun tidurnya, dengan tetap membelakangiku. Saya lihat punggungnya yang begitu mulus dan putih. Kemudian ia menarik tangan saya ke payudaranya, oh sungguh kenyal dan besar. Kemudian saya merayap ke putingnya, dan benar perkiraan saya, putingnya besar dam masih keras.

Kemudian ia membalikkan tubuhnya, ia tersenyum sambil membuka celana dalamnya. Terlihat di sekitar kemaluannya banyak ditumbuhi bulu yang lebat.
Kemudian saya berkata, "Kenapa Ibu membuka baju..?"
Ia malah berkata, "Sudah.., tenang saja! Pokoknya puaskan aku malam ini, kalau perlu hingga pagi."
Karena saya ingin juga merasakan tubuhnya, saya pun tanpa basa-basi terus menciuminya dan juga buah dadanya. Saya hisap hingga ia merasa kegelian. Kemudian ia membuka pakaian saya, ia pun terbelalak saat ia melihat batang kejantanan saya.
"Oh, sangat besar dan panjang..! (karena ukuran penis saya memang besar, sekitar 17 cm dan berdiameter 3 cm)"

Dosen saya pun sudah mulai terlihat atraktif, ia mengulum penis saya hingga biji kemaluan saya.
"Ah.. ahh Bu... enak sekali, terus Bu, aku belum pernah dihisap seperti ini..!" desah saya.
Karena dipuji, ia pun terus semangat memaju-mundurkan mulutnya. Saya juga meremas-remas terus buah dadanya, nikmat sekali kata dosen saya. Kemudian ia mengajak saya untuk merubah posisi dan membentuk posisi 69.

Saya terus menjilati vaginanya dan terus memasukkan jari saya.
"Ah.. Andre, aku sudah nggak kuat nih..! Cepat masukkan penismu..!" katanya.
"Baik Bu..!" jawab saya sambil mencoba memasukkan batang kemaluan saya ke liang senggamanya.
"Ah.., ternyata sempit juga ya Bu..! Jarang dimasukin ya Bu..?" tanya saya.
"Iya Andre, suami Ibu jarang bercinta dengan Ibu, karena itu Ibu belum punya anak, ia pun juga sebentar permainannya." jawabnya.
Kemudian ia terus menggelinjang-gelinjang saat dimasukkannya penis saya sambil berkata, "Ohh... ohhh... besar sekali penismu, tidak masuk ke vaginaku, ya Ndre..?"
"Ah nggak kok Bu.." jawab saya sambil terus berusaha memasukkan batang keperkasaan saya.
Kemudian, untuk melonggarkan lubang vaginanya, saya pun memutar-mutar batang kemaluan saya dan juga mengocok-ngocoknya dengan harapan melonggarkan liangnya. Dan betul, lubang senggamanya mulai membuka dan batang kejantanan saya sudah masuk setengahnya.

"Ohhh... ohhh... Terus Ndre, masukkan terus, jangan ragu..!" katanya memohon.
Setelah memutar dan mengocok batang kejantanan saya, akhirnya masuk juga rudal saya semua ke dalam liang kewanitaannya.
"Oohh pssfff... aha hhah.. ah..." desahnya yang diikuti dengan teriakannya, "Oh my good..! Ohhh..!"
Saya pun mulai mengocok batang kemaluan saya keluar masuk. Tidak sampai semenit kemudian, dosen saya sudah mengeluarkan cairan vaginanya.
"Oh Andre, Ibu keluar..." terasa hangat dan kental sekali cairan itu.
Cairan itu juga memudahkan saya untuk terus memaju-mundurkan batang keperkasaan saya. Karena cairan yang dikeluarkan terlalu banyak, terdengar bunyi, "Crep.. crep.. sleppp.. slepp.." sangat keras. Karena saya melakukannya sambil menghadap ke arah pintu, sehingga terdengar sampai ke luar ruang kerjanya.

Saat itu saya sempat melihat pembantunya mengintip permainan kami. Ternyata pembantu itu sedang meremas-remas payudaranya sendiri (mungkin karena bernafsu melihat permainan kami). Oh, betapa bahagianya saya sambil terus mengocok batang keperkasaan saya maju mundur di liang vagina dosen saya. Saya juga melihat tontonan gratis ulah pembantunya yang masturbasi sendiri, dan saya baru kali ini melihat wanita masturbasi.

Setelah 15 menit bermain dengan posisi saya berada di atasnya, kemudian saya menyuruh dosen saya pindah ke atas saya sekarang. Ia pun terlihat agresif dengan posisi seperti itu.
"Aha.. ha.. ha..." ia berkata seperti sedang bermain rodeo di atas tubuh saya.
15 menit kemudian ia ternyata orgasme yang kedua kalinya.
"Oh, cepat sekali dia orgasme, padahal aku belum sekalipun orgasme." batin saya.

Kemudian setelah orgasmenya yang kedua, kami berganti posisi kembali. Ia di atas meja, sedangkan saya berdiri di depannya. Saya terus bermain lagi sampai merasakan batas dinding rahimnya.
"Oh.. oh.. Andre, pelan-pelan Ndre..!" katanya.
Kelihatannya ia memang belum pernah dimasukan batang kemaluan suaminya hingga sedalam ini. 15 menit kemudian ia ternyata mengalami orgasme yang ketiga kalinya.
"Ah Andre, aku keluar, ah... ah... ahhh... nikmat..!" desahnya sambil memuncratkan kembali cairan kemaluannya yang banyak itu.

Setelah itu ia mengajak saya ke bath-tub di kamar mandinya. Ia berharap agar di bath-tub itu saya dapat orgasme, karena ia kelihatannya tidak sanggup lagi membalas permainan yang saya berikan. Di bath-tub yang diisi setengah itu, kami mulai menggunakan sabun mandi untuk mengusap-usap badan kami. Karena dosen saya sangat senang diusap buah dadanya, ia terlihat terus-terusan bergelinjang. Ia membalasnya dengan meremas-remas buah kemaluan saya menggunakan sabun (bisa pembaca rasakan nikmatnya bila buah zakar diremas-remas dengan sabun).

Setelah 15 menit kami bermain di bath-tub, kami akhirnya berdua mencapai klimaks yang keempat bagi dosen saya dan yang pertama bagi saya.
"Oh Andre, aku mau keluar lagi..!" katanya.
Setelah terasa penuh di ujung kepala penis saya, kemudian saya keluarkan batang kejantanan saya dan kemudian mengeluarkan cairan lahar panas itu di atas buah dadanya sambil mengusap-usap lembut.

"Oh Andre, engkau sungguh kuat dan partner bercinta yang dahsyat, engkau tidak cepat orgasme, sehingga aku dapat orgasme berkali-kali. ini pertama kalinya bagiku Andre. Suamiku biasanya hanya dapat membuatku orgasme sekali saja, kadang-kadang tidak sama sekali." ujar dosen saya.
Kemudian karena kekelalahan, ia terkulai lemas di bath-tub tersebut, dan saya keluar ruang kerjanya masih dalam keadaan bugil mencoba mengambil pakaian saya yang berserakan di sana.

Di luar ruang kerjanya, saya lihat pembantu dosen saya tergeletak di lantai depan pintu ruangan itu sambil memasukkan jari-jarinya ke dalam vaginanya. Karena melihat tubuh pembantu itu yang juga montok dan putih bersih, saya mulai membayangkan bila saya dapat bersetubuh dengannya. Yang menarik dari tubuhnya adalah karena buah dadanya yang besar, sekitar 36D. Akhirnya saya pikir, biarlah saya main lagi di ronde kedua bersama pembantunya. Pembantu itu pun juga tampaknya bergairah setelah melihat permainan saya dengan majikannya.

Saya langsung menindih tubuhnya yang montok itu dengan sangat bernafsu. Saya mencoba melakukan perangsangan terlebih dulu ke bagian sensitifnya. Saya mencium dan menjilat seluruh permukaan buah dadanya dan turun hingga ke bibir kemaluannya yang ditumbuhi hutan lebat itu. Tidak berapa lama kemudian, kami pun sudah mulai saling memasukkan alat kelamin kami. Kami bermain sekitar 30 menit, dan tampaknya pembantu ini lebih kuat dari majikannya. Terbukti saat kami sudah 30 menit bermain, kami baru mengeluarkan cairan kemaluan kami masing-masing. Oh, ternyata saya sudah bermain seks dengan dua wanita bernafsu ini selama satu setengah jam. Saya pun akhirnya pulang dengan rasa lelah yang luar biasa, karena ini adalah pertama kalinya saya merasakan bercinta dengan wanita.

Saat ini saya pun sedang mencoba bermain seks lewat chatting dengan orang bule di internet. Tetapi saya ingin merasakan bermain seks dengan wanita Indonesia asli. Dapatkah pembaca membantu saya, silakan kirim email ke saya.

Sekeretaris Cantik Diperkosa

Posted: 22 Dec 2007 09:41 AM CST

Fabiola, yang biasa dipanggil Febby, seorang wanita cantik berusia 25 tahun. Febby bekerja disalah satu perusahaan pariwisata yang cukup terkenal sebagai sekretaris. Tubuh Febby cukup sintal dan berisi, didukung dengan sepasang gunung kembar berukuran 36B serta wajah yang cantik, membuat setiap pria pasti meliriknya, setiap kali ia berjalan.

Seperti biasa setiap hari Febby pergi ke kantornya di bilangan Roxi Mas, yang tanpa disadarinya ia dibuntuti sekelompok pemuda iseng yang hendak menculiknya.

Sudah beberapa hari para pemuda itu mempelajari kebiasaan Febby pergi dan pulang kantor. Dan hari itu mereka sudah menyusun rencana yang matang untuk menculik Febby. Tiba-tiba dijalan yang sepi taksi yang ditumpangi Febby dicegat secara tiba-tiba, dan sambil mengancam sopir taksinya, mereka langsung menyeret Febby masuk kedalam mobil mereka, dan tancap gas keras-keras, hingga akhirnya mobil mereka larikan kearah pinggir kota, dimana teman-teman mereka yang lain sudah menunggu disebuah rumah yang sudah dipersiapkan untuk 'mengerjai' Febby.

Didalam mobil Febby diapit oleh dua orang pemuda berkulit hitam, sedangkan yang dua lagi duduk dikursi depan. Febby sudah gemetaran karena takut, dan benar-benar tidak berdaya ketika dua orang yang mengapitnya memegang-megang tubuhnya yang sintal dan putih itu. Dua pasang tangan hitam bergentayangan disekujur tubuhnya, yang kebetulan pada hati itu Febby mengenakan rok lebar sebatas lutut, dengan atasan blouse putih krem yang agak tipis, hingga bra Wacoal hitam yang dikenakannya lumayan terlihat jelas dari balik blouse tersebut.

Dengan leluasa disepanjang jalan tangan-tangan jahil tertersebut bergentayangan dibalik rok Febby sambil meremas-remas paha putih mulus tersebut, hingga akhirnya mereka tiba dirumah tersebut, dan mobil langsung dimasukkan kedalam garasi dan rolling doorpun langsung ditutup rapat-rapat. Febby yang sudah terikat tangan dan kakinya, serta mulut tersumpal dan mata ditutup saputangan digendong masuk kedalam ruang tamu, dan didudukkan disofa yang cukup lebar.

Ikatan tangan, kaki, mulut dan mata Febby dibuka, dan alangkah terkejutnya ia sekitar tiga puluh pemuda yang hanya memakai cawat memandanginya dengan penuh nafsu seks. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Febby pun mulai dikerjai oleh mereka. Febby yang sudah tidak berdaya itu hanya bisa duduk bersandar di sofa dengan lemas ketika salah seorang lelaki mulai membuka kancing blouse-nya satu persatu hingga blouse putih tersebut dicopot dari tubuh sintalnya itu.

Beberapa orang lagi berusaha membuka rok merah Febby hingga Febby pun akhirnya hanya memakai bra hitam serta celana dalam nylon berwarna hijau muda, dan membuat dirinya terlihat makin menggairahkan, dan spontan saja para pemuda berandal tersebut langsung terlihat ereksi dengan kerasnya. Celana dalam Febby pun langsung buru-buru dilepas dan menjadi rebutan untuk mereka.

Febby dipaksa duduk dengan mengangkang lebar-lebar, hingga vagina-nya yang ditumbuhi rambut-rambut halus itu terlihat dengan jelas, dan mereka pun bergantian menjilati serta menghisap-hisap bibir vagina Febby dengan nafsunya. Kepala mereka terlihat tenggelam diantara kedua pangkal paha Febby, sementara yang lainnya bergantian meremas-remas kedua gunung kembar Febby yang montok itu. Kop BH Febby diturunkan ke bawah hingga kedua gunung kembarnya muncul bergelayutan dengan indahnya, dan menjadi bulan-bulanan pemuas nafsu untuk mereka.

Tidak puas dengan hanya meremas-remas saja, beberapa orang mulai mencoba untuk mengisap-ngisap puting susu gunung kembar Febby yang ranum itu, hingga akhirnya Febby pun dipaksa oral seks untuk mereka. Bergantian mereka memaksa Febby untuk mengulum-ngulum batang penis mereka keluar masuk mulutnya. Kepala Febby dipegangi dari arah belakang hingga tidak bisa bergerak, sementara itu yang lain bergantian mengeluar-masukkan batang penis mereka dimulut Febby yang seksi itu hingga mentok kepangkal paha mereka.

Batang penis yang rata-rata panjangnya 17 senti itu terlihat masuk semua kedalam mulut Febby, hingga mencapai kerongkongannya. Tak ketinggalan Febby pun dipaksa untuk 'mencicipi' buah zakar mereka secara bergantian. Sepasang buah sakar tampak terlihat dikulum Febby hingga masuk semua kedalam mulutnya yang mungil itu. Wajah Febby yang cantik itu bergantian ditekan-tekan diselangkangan para pemuda berandal tersebut hingga buah sakar mereka masuk semua kedalam mulutnya.

Setelah puas dengan acara 'pemanasan' tersebut Febby pun dipaksa tiduran diatas kanvas diruang tamu tersebut dan dengan paha yang mengangkang lebar, batang penispun mulai keluar masuk vagina Febby yang masih 'rapat' itu, mereka dengan tidak sabarnya bergantian menjajal vagina Febby dengan batang penis mereka yang rata-rata panjang dan besar itu. Bagi yang belum kebagian jatah terpaksa memainkan-mainkan penisnya diwajah dan mulut Febby.

Beberapa orang dengan nafsunya memukul-mukulkan batang penisnya di wajah Febby sambil mendesah-desah dengan nafsu. Bosan dengan gaya tiduran, Febby dipaksa duduk di sofa lagi dengan paha mengangkang lebar dan kembali 'di embat' bergantian, sementara bibir Febby tetap sibuk dipaksa mengulum batang penis yang tampak mengkilat karena air liur Febby yang menempel di batang penis tersebut.

Sementara para pemuda yang mendapat giliran mengocok vagina Febby tampak sangat bersemangat sekali hingga bunyi batang penis yang keluar masuk vagina Febby terdengar sangat jelas. Hampir dua jam sudah Febby "dikerjain" dengan intensif oleh puluhan pemuda tersebut, hingga akhirnya satu persatu mulai berejakulasi. Tiga puluh pemuda mengantri Febby untuk berejakulasi diwajah Febby yang cantik itu.

Dimulai oleh empat orang berdiri mengelilingi Febby dengan batang penis menempel disekitar wajah Febby yang cantik. Sementara seorang lagi mengocok vagina Febby dengan nafsunya, hingga akhirnya ia tak tahan lagi dan mencabut batang penisnya dari vagina Febby, dan.... croott.... crootttt... croooottttt!!! air mani muncrat mengenai sekujur wajah Febby, melihat hal tersebut yang lain pun tak mau ketinggalan dan bergantian mengocok-ngocok batang penisnya cepat-cepat diwajah dan mulut Febby, hingga berakhir dengan semprotan air mani diwajahnya. Bahkan tak sedikit mengeluarkan airmani nya didalam mulut Febby, lalu memaksa Febby untuk menelannya.

Sekitar dua puluh menit, wajah Febby dihujani 'air mani' yang kental itu, hingga Febby terlihat basah kuyub oleh sperma mulai dari rambut hingga gunung kembarnya terlihat mengkilat oleh basahnya sperma puluhan pemuda berandal tersebut.


Part II

Jam menunjukkan pukul jam satu siang, dan Febby pun baru selesai 'dikerjain' oleh mereka, dan terlihat lemas tak berdaya dengan muka yang masih belepotan sperma. Tiga orang pemuda membawa Febby kedalam kamar mandi yang terlihat sangat mewah, dan memandikan Febby dengan air hangat serta sabun cair yang sangat wangi. Febby disuruh tiduran sambil direndam air hangat, sementara ketiga pemuda tersebut bergantian menyabuni tubuh Febby yang putih sintal itu dengan bernafsu, sambil sesekali meremas-remas selangkangan dan gunung kembar Febby yang terasa licin oleh sabun tersebut. Hingga akhirnya ketiga pemuda tersebut sudah tidak tahan lagi dan Febby pun diperkosa lagi didalam kamar mandi itu.

Mereka mengeluarkan Febby dari bak rendam, dan dibawah pancuran air hangat Febby dipaksa nungging, dan dua pemuda bergantian menyetubuhi Febby dari arah belakang, sedangkan yang satunya mengeluarmasukkan batang penisnya di mulut Febby, sambil memegangi rambut Febby hingga kepala Febby tidak dapat bergerak. Setengah jam sudah Febby 'diobok-obok' didalam kamar mandi, dan diakhiri dengan meyemprotkan air mani masing-masing didalam mulut Febby, dan tiga porsi air mani itu dalam sekejap sudah pindah kedalam mulut Febby, dan sisa-sisa sperma masih terlihat berceceran disekitar wajah Febby yang putih itu.


Part III

Selesai dimandikan, Febby kembali didandani hingga terlihat sangat cantik. Bra hitamnya yang berukuran 36B itu kembali dipasangkan. Celana dalam nylon Febby sudah raib jadi rebutan, hingga vagina Febby dibiarkan terlihat, sementara beberapa pemuda berandal itu sibuk menjepretkan kamera digitalnya kearah Febby. Febby dipaksa berpose dengan berbagai gaya yang sensual, mulai dari adegan membuka bra nya sendiri hingga duduk mengangkang sambil memasukkan batangan ketimun kedalam vaginanya.

Puas mengambil berbagai pose Febby, seorang pemuda mengambil dua gelas minuman dari dalam kulkas dan sepotong hamburger untuk Febby. Dan betapa terkejutnya Febby ketika tahu bahwa dua gelas minuman tersebut adalah sperma yang sudah disimpan berhari-hari di dalam kulkas. Seorang pemuda lagi mengambil suntikan besar tanpa jarum. Febby dipaksa membuka mulut lebar-lebar, sementara salah seorang menyedot sperma dalam gelas tersebut dengan suntikan besar itu, kemudian menyuntikkannya kedalam mulut Febby, hingga tertelan langsung kedalam tenggorokkannya. Mereka dengan brutalnya bergantian menyuntikkan 'air mani basi' itu ke mulut Febby hingga habis satu gelas penuh. Masih sisa satu gelas lagi, dan hamburger untuk Febby pun diolesi penuh dengan sperma tersebut, dan Febby pun dipaksa makan hingga habis. Sisa sperma sebanyak setengah gelas terpaksa disedot Febby dengan sedotan hingga tandas tak bersisa.

Selesai 'memberi makan' Febby, mereka kembali mengantri Febby. Namun kali ini Febby tidak disetubuhi, mereka hanya memaksa Febby mengulum-ngulum batang penis mereka dimulut Febby, serta mengocok-ngocoknya dengan kedua tangan Febby yang lentik itu. Tiga puluh batang penis kembali bergantian dikulum-kulum Febby, sementara yang lainnya memaksa Febby menggenggam batang penisnya dengan kedua tangannya, yang lainnya lagi sibuk memain-mainkan alat kelaminnya diwajah dan rambut Febby. Hingga akhirnya Febby kembali dihujani puluhan porsi sperma segar di wajah dan mulutnya. Pertama kali sperma muncrat dari lubang penis tepat didepan wajah Febby hinggga tepat mengenai dahi hingga bibir Febby, yang lainnya pun ikut menyusul hingga puluhan semprotan sperma berhamburan diseluruh wajah Febby yang cantik itu. Sementara itu dua orang pemuda dari kiri dan kanan Febby menyendoki air mani yang bertetesan di wajah Febby, lalu menyuapinya hingga mereka puas.

Wednesday, December 19, 2007

Nina

Posted: 19 Dec 2007 08:32 AM CST

Aku pernah berbagi kisah dengan teman-teman pembaca semua, dan aku akan melakukan hal yang sama sekarang untuk yang kedua kalinya. Statusku yang bebas (mahasiswa perantau) membuatku tidak terbatas dalam berbagai aktifitas, walau seringkali diantaranya bermuatan negatif.

Pengalaman ini terjadi pada tahun 1999 di bulan November, dimana kota Surabaya sedang diguyur hujan. Merupakan pemandangan langka kalau Surabaya dicurahi hujan, karena lebih sering kota ini berada dalam kondisi kering. Kesempatan itu kumanfaatkan untuk berkeliling mengitari Surabaya karena suhunya agak bersahabat.

Aku berkeliling dengan menggunakan angkutan umum, ke tempat-tempat favorit dan belum pernah kujalani sebelumnya. Kali ini aku bersantai di Galaxy Mall, yang banyak dikunjungi WNI keturunan. Mataku liar melirik-lirik wanita putih mulus dan trendy. Entah kenapa sejak dulu aku terobsesi dengan wanita Chinese yang menurut pandanganku adalah tipikal sempurna dalam banyak hal. Di lantai paling atas, mataku tertuju kepada seorang gadis cantik dan seksi, sedang makan sendirian, tak ada teman. Dengan teknik yang biasa kulakukan, kudekati dia. Kami berkenalan sejenak dan dia menawariku ikut makan. Aku bilang aku sudah kenyang. Dia bernama Nina **** (edited). Kami seumuran atau paling tidak dia lebih tua dua tahun dariku. Setelah ngobrol agak lama, dengan mengeluarkan jurus empuk tentunya, dia mengajakku pulang bersama, karena aku mengaku akan menunggu angkutan sampai hujan reda.

Akhirnya, aku pun setuju, dan segera berangkat bersamanya. Di dalam mobil, aku tak bisa tenang karena ketika menyetir, aku bisa melihat dadanya yang montok dan paha mulusnya bergerak gesit menguasai kemudi. Tapi dia tidak menyadari itu, karena aku tahu dia tidak akan suka. Hal itu kusadari dari pembicaraan sebelumnya. Dia kelihatannya wanita baik-baik. Tapi konsentrasiku sangat terganggu apalagi jalanan di kota Surabaya yang tidak rata membuat dada indah yang bersembunyi di balik bajunya bergoyang-goyang. Ditambah lagi harum tubuhnya yang sangat merangsang. Akhirnya timbul pikiran jahat di otakku.
"Aku pindah ke belakang ya.." kataku.
"Kenapa?"
"Aku ngantuk, mau tiduran, nanti turunkan aku di jalan Kertajaya", kataku berpura-pura.
Saat itu sejuta rencana jahat sudah merasuki otakku.
"Ok, tapi kamu jangan terlalu pulas ya.. nanti ngebanguninnya susah", katanya polos.

Di kala otakku sudah kesetanan, tiba-tiba...
"Jangan berisik atau pisau ini akan merobek lehermu", ancamku seraya menempelkan pisau lipat yang biasa kubawa. Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak di Medan dulu.
"Don... apa-apaan nihh..?" teriaknya gugup, karena terkejut.
"Aku peringatkan, diam, jangan macam-macam!" bentakku sambil menekan permukaan pisau lebih kuat.
Aku sudah kehilangan keseimbangan karena nafsu.
"Jalankan mobilnya dengan wajar, bawa ke daerah Petemon... cepat..!"
"Ehh.. iiya.. iyahh..." jawabnya dengan sangat ketakutan.
Tas yang tadi diletakkan di jok belakang segera kubuka. Seluruh uang dan kartu kreditnya langsung berpindah ke kantongku.
"Bawa ke Pinang Inn... cepat!" bentakku lagi.
Kali ini aku sudah pindah ke jok depan, dan pisau kutempelkan di pinggangnya. Sepanjang perjalanan wajahnya pucat dan sesekali memandangiku, seolah minta dikasihani.
"Jangan mencoba membuat gerakan macam-macam... atau kamu kulempar ke jalan... mengerti?" ancamku lagi sambil berganti posisi.

Aku mengambil alih kemudi. Entahlah, saat itu aku merasa bukan diriku lagi. Mungkin iblis sedang menari-nari di otakku. Dia hanya membisu, dengan tubuh gemetar menahan rasa takut. Tiba-tiba HP-nya berbunyi, kurebut HP itu dan kuhempaskan di jalan sampai pecah.
"Ingat... jangan bertindak aneh-aneh... kalau masih ingin hidup..." pesanku sesampainya di parkiran Pinang Inn.
Mobil langsung masuk garasi, dan aku menghubungi Front Officer. Kubayar, lalu kembali ke garasi.
"Keluar...!"

Dengan wajar kugandeng dia masuk kamar. Kukunci dan kusuruh dia telentang di kasur yang empuk. Kunyalakan TV channel yang memutar film-film biru. Pinang Inn memang disediakan untuk bermesum ria. Dia kelihatan semakin ketakutan, ketika melihatku langsung membuka baju dan celana. Dengan hanya menggunakan CD, kurebahkan tubuhku di sampingnya dengan posisi menyamping. Pisau itu kugesek-gesek di sekitar dadanya.
"Agar proses ini tidak menyakitkan, kamu jangan bertingkah.. atau besok mayatmu sudah ditemukan di laut sana... paham?"
"Don.. ke.. ke... napaa.. jadi be.. gii.. ni? Apa.. salahku?" dengan ketakutan dia berusaha membuatku luluh.
"Salahmu adalah... kamu memamerkan tubuhmu di hadapan singa lapar..."

Segera, seluruh bajunya kusobek dengan pisauku yang tajam. Mulai dari bagian luar sampai dalamnya. Kini dia telanjang bulat di antara serpihan pakaian mahal yang kusayat-sayat. Dia menagis, mata sipitnya bertambah sipit karena berusaha menahan air mata yang mulai mengalir deras ditingkahi isaknya yang sesenggukan. Sejenak aku tertegun menyaksikan keindahan yang terpampang di hadapanku. Dada putih mulus yang montok, tubuh langsing, dan... ups... liang kemaluannya yang merah muda bersembunyi malu-malu di antara paha yang dirapatkannya. Kubuka pahanya.
"Jangann Don... kumohon jangan..." pintanya memelas. Aku sudah tidak peduli.
"Hei... Nin... bisa diam nggak? Mau mati? Hah...?" ancamku sambil menampar pipinya. Wajahnya sampai terlempar karena aku menamparnya cukup keras.
"Silakan menjerit... ini ruangan kedap suara... ayo... menjeritlah...", ejekku kesenangan.

Segera kulebarkan pahanya, kuelus permukaan kemaluannya dengan lembut dan berirama. Sesekali dia menatapku. Ada juga desah aneh di bibirnya yang tipis. Aku terus mengelus kemaluan itu, sambil dua jariku yang menganggur mempermainkan puting susunya bergantian. Dia hanya bisa mendesah dan menangis. Kudekatkan wajahku ke sela paha mulusnya. Dengan perasaan, kukuak liang kemaluannya, indah sekali. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat kemaluan wanita seindah itu. Bentuknya agak membukit mungil, ditumbuhi bulu yang halus dan lemas. Bibir kemaluannya kupegang, kemudian lidahku kujulurkan memasuki lubang yang nikmat itu. Kujilati dengan perlahan, mengitari seluruh permukaannya.

"Shhh... Don... Donhh.. jangaaann... sshh..." Nina sampai terduduk.
Ada sesuatu yang lucu. Dalam situasi itu sempat-sempatnya dia menggoyang pinggulnya mendesak mulutku, dan menjambak rambutku sesekali. Dalam hati aku tertawa, "Dasar wanita... munafik."
"Ayo... Nin... ayo..." kataku pelan mengharap cairan itu segera keluar membasahi kemaluan indahnya. Saat itu kesadaranku perlahan hadir. Perlakuanku kubuat selembut mungkin, namun tetap tegas agar Nina tidak bertindak ceroboh.

Kali ini lidahku mengait-ngait klitorisnya beraturan namun dengan arah lidah acak. Dia makin bergetar. Goyangan pinggulnya terasa sekali.
"Lho... diperkosa kok malah enjoy... ayo.. nangis lagi... mana...?" olokku.
"Don... jangannhh.. janganh..." balasnya malu-malu, berusaha menggeser kepalaku dari selangkangannya. Tapi setelah kepalaku digerakkan ke samping, malah ditariknya lagi hingga mulutku langsung terjatuh di bibir kemaluannya. Aku pun paham, dia ingin menunjukkan ketidaksudiannya, namun di lain pihak, dia sangat menginginkan sensasi itu.
"Nih.. aku kasih bonus.. silakan menikmati..." kataku sambil melanjutkan jilatanku.
Sementara tanganku yang kiri membelai payudaranya bergiliran secara adil. Kiri dan kanan. Sementara tangan kananku kuletakkan di bawah pantatnya. Pantat seksi itu kuremas sesekali.
"Oghhh... sshhh..."
Nina menggelinjang menahan nafsu yang mulai merasuki dirinya. Sesaat dia lupa kalau sekarang dia dalam keadaan terjajah. "Sshhh... terrusshh..."

Perlahan lahan, cairan yang kunanti keluar juga. Secara mantap, lendir bening itu mengalir membasahi liang kemaluannya yang semerbak.
"Donnhhh... Donhhh..." Dia berteriak di sela orgasmenya yang kuhadiahkan secara cuma-cuma.
"Aduh.. Nin.. yang benar aja dong..." ringisku karena saat orgasme tadi, kukunya yang lentik melukai pundakku.
"Maaf... maaf Donhh..."

Aku berhenti sesaat untuk memberinya waktu istirahat. Aku berdiri di samping ranjang. Dia terkulai lemas. Pahanya dibiarkan terbuka. Kemaluan genit itu sudah mengundang batang kemaluanku untuk beraksi. Namun aku berusaha menahan, agar pemerkosaan ini tidak terlalu menyakitkan. Kami berpandangan sejenak. Dia sudah tidak melakukan perlawanan apa-apa, pasrah.

"Don... aku tahu kamu sebenarnya baik, jangan sakiti aku yah... aku mau menemani kamu di sini, asal kamu tidak melukai aku..." pintanya sambil mengubah posisi telentangnya menjadi duduk melipat lututnya ke bawah pantat. Liang kemaluannya agak tersembunyi sekarang.
"Kamu masih perawan nggak?" tanyaku ketus.
"Iyah.. masih..."
"Nah.. sayang sekali, kalau mulai besok kamu sudah menyandang gelar tidak perawan lagi..."
"Ah..." dia tercekat.
"Don... semua uang tadi boleh kamu ambil.. tapi mohon jangan yang kamu sebut barusan... empat hari lagi aku menikah Don... kumohon Don..."
"Ah... daripada cowok lain yang merasakan nikmatnya darah segar kamu, mending aku curi sekarang..." kataku cepat sambil mendekatinya lagi.
"Don... jangan... kumohon..."
"Diam!"
"Ingat... pisau ini sewaktu-waktu bisa mengeluarkan isi perutmu..." ancamku.
Nina terkejut sekali, karena menyangka aku sudah berbaik hati. Padahal aku juga tidak sungguh-sungguh marah padanya. Mungkin karena aku yang sudah terbiasa berteriak-teriak membuatnya ketakutan.

"Sekarang giliranmu", kukeluarkan batang kemaluanku yang sudah agak terkulai.
"Kupikir aku nggak perlu menjelaskan lagi cara membangunkan preman yang satu ini..." kataku sambil mengarahkan kepalanya berhadapan dengan batang kemalauanku yang lumayan besar. Sejenak dipandanginya diriku. Tanpa berkata apa-apa dia memegang batang kemaluanku dan mengocoknya perlahan. Dikocoknya terus sampai perlahan, si batang andalanku naik.
"Cuma itu?" tanyaku lagi.
Dibuka mulutnya dengan ragu-ragu, kebetulan sekali adegan di TV channel juga sedang memperagakan hal yang sama. Aku sebenarnya ingin tertawa. Tapi kutahan, karena gengsi kalau dia tahu. Dikulumnya batang kemaluanku. Aku berdiri di atas ranjang. Dia berjongkok dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur.

"Ahhh..." aku mengerang merasa nikmat sekali.
Kulihat matanya sesekali melirik TV. Biar saja, pikirku dalam hati. Toh ini demi keuntunganku. Dijilatinya kepala kemaluanku. Tapi dia tidak berani menatap wajahku.
"Auhhgghh..."
"Jangan dilepas..." seruku tertahan.
Aku jongkok dengan mengarahkan kepala ke sela pahanya. Aku telentang di bawah. Posisi kami sekarang 69. Sewaktu berputar tadi dia menggigit kemaluanku agar tidak lepas dari mulutnya. Lucu memang. Dengan bibir kemaluan tepat di atas wajah, kujilati dengan mantap. Kali ini gerakan lidahku liar mengitari permukaan kemaluannya. Sesekali kusedot bukit kecil itu sambil memasukkan hidungku yang kebetulan mancung ke lubang senggamanya.

"Oghhh... Ahhh..." Kami berseru bersahutan. Kubalikkan tubuhnya. Sekarang dia ada di bawah, namun tetap 69. Kali ini aku lebih leluasa menjilati kemaluannya.
"Augghhh... Donhh... enakkhh... terusshh..." pintanya.
Lalu kembali menyantap batang kemaluanku dengan garang. Sesekali aku merasakan gigitan kecil di sekitar kepala kemaluan. Pintar juga dia, pikirku dalam hati.

Lidahku kujulurkan masuk ke lubang sempit itu dan menari di dalamnya. Pantatku kugoyang naik-turun agar sensasi batang kemaluan yang berada di kulumannya bertambah asyik. Sambil menjilat liang kemaluan itu, jari-jariku mempermainkan bibir kemaluannya.
"Ougghh... Don... enakkhh.. Donnhh.. ahhhh... Donnhh..." serunya dibarengi aliran hangat yang langsung membanjiri lembah merah muda itu.
"Sekarang waktunya Nin."

Aku mengambil posisi duduk di antara belahan kedua kakinya. Dia masih telentang. Kugesek lagi kepala kemaluanku yang sudah mengeras sempurna beradu dengan klitorisnya yang menegang. Dia setengah duduk dengan menahan tubuhnya pakai siku tangan, dan ikut menyaksikan beradunya batang kemaluanku dengan klitorisnya yang sudah menjadi genit. Batang kemaluanku itu kuarahkan ke liang kemaluannya.

"Jangann... kumohon Donh... jangan.." serunya tertatih sambil mencengkeram batang kemaluanku.
"Aku bersedia memuaskan nafsumu, dengan cara apa saja, asal jangan mengorbankan pusakaku."
"Oh ya? Kalau dari anus mau nggak?" tantangku.
Tapi sebenarnya aku tidak lagi perduli karena kemaluanku sudah minta dihantamkan melesak lubang kemaluannya.
"Yah.. terserah kamu Don.."

"Nggak.. mau... aku cuma mau yang ini, ini lebih enak.." teriakku sambil menunjuk liang kemaluannya.
"Nih.. pegang.. masukin...." Dengan ragu dipegangnya batang kemaluanku.
"Don... apa tidak ada cara lain?"
"Cara lain? Ada-ada saja kamu... Hei... kamu jangan bertingkah lagi ya... jangan sampai kesabaranku hilang. Kamu beri satu milyar pun sekarang aku nggak bakalan mau melepaskan punya kamu itu sekarang. Aku sudah nggak tahan... paham... paham? paham..?" bentakku dengan nada suara lebih meninggi. Pisau yang tadi kusembunyikan di bawah kasur kuacungkan dan kutekan kuat di dadanya.
"Donn... sakitt.. jangann..." rintihnya ketika pisau tadi melukai dada putihnya. Aku terkesiap. Namun tak peduli.
"Ayo.. dimasukin..." kali ini pisau kutekan lagi.
Darah segar mengalir perlahan dari luka yang kuperbesar, walau tidak begitu parah.

Dengan berat disertai ketakutan, dipegangnya kemaluanku. Diarahkannya ke liang kemaluannya.
"Sulit... sakitt.. Don.. ampunn.. Don..."
"Pegang ini", kataku tidak sadar karena memberikan pisau itu ke tangannya. Dia juga tidak menyadari kalau sedang memegang pisau. Lucu sekali. Aku hanya bisa tersenyum kalau mengingat masa itu. Aku menunduk dan menjilati kemaluannya. Dia melihatku menjilati barangnya. Sesekali kami bertatapan. Entah apa artinya. Yang pasti aku merasa sudah memiliki mata sipit yang menggemaskan itu. Digerakkannya pinggul besarnya seirama jilatanku. Kuremas juga susunya yang segar merekah.
"Augghhh... Ahhh..." jilatanku kupercepat. Cairannya mengalir lagi walau tidak sebanyak yang tadi. Aku kembali duduk menghadap selangkangannya. Tiba-tiba aku sadar kalau sebilah pisau ada di tangannya. Segera kuambil dan kulempar ke lantai. Dia juga baru sadar setelah aku mengambil pisau itu. Namun sepertinya dia memang sudah takluk.

"Nin.. ludahin ke bawah.. yang banyak..." kataku sambil menunjuk kemaluannya. Kami sama-sama meludah. Kuoleskan liur yang menetes itu ke batang kemaluanku, juga ke kemaluannya. Sesekali dia juga ikut mengusap batang kemaluanku dengan air ludah yang dikeluarkannya lagi di telapak tangannya. Aku memandanginya dengan sayang. Dia juga seolah mengerti arti tatapanku itu. Aku segera mengecup bibirnya. Dia membalas. Kami berpagutan sesaat. Kurasakan batang kemaluanku bersentuhan dengan perutnya.
"Ayo dicoba lagi.."
Kali ini dipegangnya kepala kemaluanku. "Ah... Shhh"
Dan.., "Oogghhh... aaahhh... Shh..."

Kepala kemaluanku masuk perlahan. Sempit sekali lubang itu. Kusodok lagi perlahan. Dia hanya bisa menggigit bibir dan mencengkeram tanganku. Sesekali nafasnya kelihatan sesak. Namun ada juga desah liar terdengar lirih.
"Donnhh... aku benci.. kaaamu..."
Kusodok terus, sampai akhirnya semua batang kemaluanku terbenam di liang kewanitaannya. Aku tahu itu sakit. Namun mau bilang apa, nafsuku sudah di ujung tanduk.
"Brengsek... Donhh.. baajingann.. kamu.. shhh... oghh",
Aku tak peduli lagi umpatannya. Yang kurasakan hanya nikmat persenggamaan yang benar-benar beda. "Shhh.. shhh... Donhh... Donhh..."

Kupeluk dia erat-erat. Goyanganku makin liar. Aku hanya bisa mendengar dia mengumpat. Sesekali kupandangi wajahnya di sela nafasku yang ngos-ngosan. Beragam ekspresi ada di sana. Ada kesakitan, ada dendam, tapi ada juga makna sayang, dan gairah yang hangat. Kulihat titik-titik darah mulai mendesak lubang sempit yang tercipta antara batang kemaluan dan liang kewanitaannya. Seketika tagisnya meledak. "Donhh... bajingann.. kamuu... jahatt.. kamu Don.. ahhh.. uhh..." dia memukul dadaku keras sekali.

Tangisnya makin menjadi. Aku iba juga. Kutarik kemaluanku dari liang kemaluannya. Darah segar mengalir memenuhi lubang yang memerah padam dan lecet. Kemaluanku kukocok sekuat tenaga ketika spermaku muncrat. "Ahhh... ahh..." Air maniku memancar keras membasahi dada dan sebagian wajahnya. Dia menangis sesenggukan.
"Nikmatnya mem*k perawan kamu Nin..." kataku tersenyum senang.
Aku langsung menjilati darah segar yang sudah membasahi pahanya. Segera kugendong dia menuju kamar mandi. Di bibir bak, kududukkan dia. Kuambil kertas toilet dan membasuhnya dengan air. Kuusap darah yang ada di sekitar kemaluannya dengan lembut. Darah di dadanya yang sudah mengering juga kulap dengan hati-hati.

"Kamu puas sekarang... bukan begitu Don?" ejeknya di sela tangisnya.
Aku terdiam. Aku merasa menyesal. Tapi mau bilang apa. Nasi sudah menjadi bubur. Kubersihkan semua darah itu sampai tidak berbekas. Kujilati lagi kemaluannya dengan lembut. Aku tahu, yang ini pasti tidak bisa ditolaknya. Benar, dia mulai bergetar. Dipegangnya tanganku dan diremasnya jariku. Tissue yang kupegang dibuangnya, malah jemariku dituntunnya ke sepasang dada montok miliknya. "Ahhh... shhh... sekalian ajaa.. Don.. hamili.. aku.. biar kamu.. lebih... puass..." katanya sambil mengangis lagi.

Aku sungguh tak mengerti. Terus terang di sana aku seperti orang bodoh. Tapi dengan santai kujilati terus kemaluannya. Diraihnya batang kemaluanku dan dikocok-kocoknya perlahan. Kemaluanku sudah terkulai. Lama dia mencengkeram kemaluanku sampai akhirnya bangkit. Nafsuku kembali membara. Kugendong lagi dia, dan jatuh bersama di ranjang empuk. Kami berpelukan dan berciuman lama sekali. Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan menjilati rongga mulutnya. Entah berapa kali kami saling bertukaran air liur. Bagiku, air ludahnya nikmat sekali melebihi minuman ringan apapun. Ketika aku berada di bawah, aku juga menelan semua liurnya tatkala dia meludahi mulutku. Terserahlah, apakah dia marah atau bagaimana. Sepanjang dia merasa bebas, aku melayaninya. Hitung-hitung balas budi. Hehehe...

Aku bergerak ke bawah, menjilati tiap inci sel kulitnya. Lehernya bahkan kuberi tanda cupangan banyak sekali, walau aku tahu empat hari lagi dia akan menikah. Peduli setan.
"Ahh.. Don... hhhsshh.. yanghh.. itu.. nikhhmatt", serunya tertahan ketika putingnya kusedot dan kujilati dengan bernafsu. Tanganku merayap ke bawah dan membelai lubang kemaluannya yang masih basah. Aku terus merangkak turun, menjilati perutnya dan mengelus pahanya dengan nakal. Sesampainya di sela paha kubuka lagi kedua kakinya, terkuaklah liang kemaluan yang kumakan tadi. Kali ini bentuknya sudah berbeda. Lubangnya agak menganga seperti luka lecet, namun tidak berdarah. Segera kujilati lagi untuk kesekian kalinya. "Donn.. enakhh.. nikmathh..."

Jari telunjukku kumasukkan lembut ke lubang itu sambil menjilati kemaluannya sesekali. "Aduhhh... duh... enaknyaa... Don.. jangan... berhenti", serunya sambil menggelinjang hebat. Pinggul itu bergerak liar mendesak mulutku. Kutindih dia dan kuarahkan batang kemaluanku. "Uhhh... ssshh", serunya sesak ketika batang kemaluanku kuhantamkan ke liang kenikmatan itu. Goyangan demi goyangan membuat erangannya semakin ganas. Tentu saja aku semakin beringas. Siapa tahan.

"Donhhh... bajiingann!" untuk kesekian kalinya dia mengumpatku.
Entah apa maksudnya. Kali ini dia sangat menikmati permainan (setidaknya secara fisik, entahlah kalau perasaannya). Kepalanya terlempar ke sana ke mari dan nafasnya mendesah hebat.
"Nin... punyaahh.. kamuu... assiikkh.. ahh", seruku ketika denyutan liang kemaluannya terasa sekali menekan batang kemaluanku. Kubalik dia, sehingga sekarang posisinya di atas.
"Don.. aku.. akan.. bunuh... kamuu.. suatu.. saat.."
"Silakan.. saajahh..."
Kami berdua berbicara tak karuan.
"Oughhh... aihhh.. sshh", teriaknya menggelinjang sambil mencabuti bulu-bulu dadaku. Aku merasa kesakitan. Tapi biarlah. Dia sepertinya sangat menyukai.
"Donh... kamu... kamu..." dia tidak melanjutkan kata-katanya.

Tiba-tiba.., "Donhhh... Donhhh... bajingan... ah..." serunya keras sekali, sambil menggoyang pantatnya dengan cepat dan menari-nari seperti kilat. Bunyi becek di bawah sana menandakan dia kembali orgasme. Tapi goyangannya tidak surut. Kucabut batang kemaluanku dan menyuruhnya membelakangiku sambil berpegangan pada sisi ranjang. Kuarahkan batang kemaluanku dari belakang dan, "Oughhh... oughhh... oughhh... oughhh..." tiap sodokanku ditanggapinya dengan seruan liar. Kugenjot terus sambil meremasi kedua susunya yang ikut bergoyang. Lama kami pada posisi itu, tiba-tiba aku didorongnya dan dia berdiri di hadapanku. Aku ditamparnya keras dan memelukku erat. Ditariknya aku ke ranjang dan memegang kemaluanku. Ditindihnya aku, dia sendiri yang menghunjamkan kemaluanku ke liang kewanitaannya.

"Rasakan nihhh... bajingan... shhhh", teriaknya sambil menari-nari di atasku. Aku tahu dia akan orgasme lagi.
"Aduh..Nin.." pekikku tertahan ketika sekarang dia malah menggigit punggungku.
"Don... Don..." dia berseru kencang dan memeluk erat kepalaku di dadanya. Kupeluk juga dia dan mengangkatnya. Kami berdiri di lantai. Dengan posisi ini aku bisa menyodoknya dengan sangat keras. Kurapatkan ke dinding, dan kupompa sekuat tenaga.
"Nin... ahshhh..."
"Donhhh..."

Aku mengeluarkan sperma di dalam kemaluannya. Dia memelukku erat sekali. Kami berdua ngos-ngosan. Kuangkat dia ke ranjang. Kami terkulai lemas. Kutarik kemaluanku yang melemah dengan pelan. Kutarik sprei itu karena sudah berisi noda darah dan bercak cairan yang beragam. Kami tergeletak berdampingan, tanpa pakaian.
"Don... kamu berhutang padaku, suatu saat aku pasti menagihnya."
"Hutang apa?" tanyaku.
Dia tidak menjawab. Dengan perlahan dia memejamkan mata dan tertidur. Kupandangi wajahnya yang cantik. Tampak lelah. Hmm... beruntung sekali calon suaminya. Kuelus rambutnya yang lurus indah dengan lembut. Kuciumi keningnya dan kupeluk dia. Aku membenamkan wajahku di dadanya dan terlelap bersama.

Besoknya kami bangun bersamaan, masih berpelukan. Aku sadar, dia tidak punya pakaian lagi. Segera aku keluar dan pergi ke toko terdekat. Kubeli T-shirt dan celana pendek. Ketika kembali ke kamar, dia membisu dan tak mau menjawab pertanyaanku. Didiamkan begitu aku tak ambil pusing. Kupakaikan T-shirt dan celana pendek ke tubuhnya. Dia masih tetap membisu.

"Ayo pulang..." ajakku. Dia melangkah lunglai. Kugandeng dia ke mobil, kududukkan di jok depan. Setelah isi kamar sudah kurapikan, aku langsung menyetir mobil. Sepanjang jalan dia hanya diam membisu.
"Nin... aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, satu hal yang aku minta darimu... jangan membenciku untuk apa yang kuperbuat. Bencilah kepadaku karena aku bukanlah calon suamimu", kataku agak kesal dengan sedikit berdiplomasi. Dia memandangku dengan gundah. Namun tetap membisu. Sampai di daerah rumahnya pun dia tetap diam.
"Oke.. Nin... aku tak tahu apa yang kamu inginkan. Jika ada yang ingin kamu utarakan, lakukanlah sekarang sebelum aku pergi."
Dia hanya diam membisu. Dipandanginya aku agak lama. Karena tidak ada jawaban, kudekati dia dan kucium tangannya. Dia tidak bereaksi.
"Bye.. Nin.." Aku segera beranjak pergi.

Empat hari kemudian aku memang secara diam-diam mendatangi daerah rumahnya. Benar, dari informasi yang kudapat dia memang sedang melangsungkan resepsi pernikahan di sebuah Resto mewah di pusat kota. Tapi aku tidak pergi melihatnya. Siapa tahu itu hanya akan jadi luka baru baginya. Pertemuanku terakhir dengannya terjadi di salah satu kafe di Surabaya. Saat group-ku manggung, aku melihatnya duduk di depan bersama seseorang (mungkin suaminya).
"Lagu ini kupersembahkan buat seorang wanita paling indah yang pernah mewarnai perjalanan hidupku", aku pun segera menyanyikan tembang Mi Corazon dengan penghayatan yang dalam. Dia menikmatinya dengan tatapan syahdu ke arahku. Tentu saja tak seorang pun pernah tahu, bahwa sesuatu pernah terjadi di antara kami.

Sekarang setahun sudah lewat. Dia pernah juga meneleponku dan bilang kalau dia sedang hamil tujuh bulan. Ketika kutanya dimana dia saat itu, telepon segera ditutupnya. Well, ternyata aku pun sedang mengalami pemerkosaan darinya. Semoga ini bisa jadi pelajaran berharga buat sobat semua

Sunday, December 16, 2007

Kekasihku yang ku sayangi

Posted: 16 Dec 2007 06:41 PM CST

Saya seorang murid SMU Negeri kelas 2. Umurku 17 tahun dan mempunyai seorang kekasih yang berumur 19 tahun. Pacar saya sudah bekerja di X properti dan mengambil kuliah sore di Y.


Suatu saat saya dan pacar saya (bernama Wanda) menonton film Titanic di Mall Taman Anggrek. Film pun dimulai, dan saya pada waktu itu sedang sedikit marah sama dia. Dia bertanya "Kenapa sih kamu dari tadi diam saja?" Saya pun diam saja dan pura-pura tidak mengacuhkan.

Mungkin lama-lama dia kesal, dan semakin mendekati saya dan langsung mencium bibir saya. Saya pun kaget dan berpikir tidak biasanya pacar saya agresif begini. Saya pun bingung dan akhirnya lunak, lalu berbicara seperti biasa dengannya. Seiring dengan adegan film yang romantis, ciuman kita pun semakin menjadi-jadi. Lama kelamaan saya semakin mendekati dia. Dia menaruh kedua kakinya di atas paha saya. Selama di bioskop tidak banyak yang dapat kita lakukan. Saya hanya berusaha memainkan tangan saya ke daerah kemaluannya yang dibawah. Berkali-kali saya gosokkan tangan saya agar dia terangsang, karena dia memakai jeans. Tiba-tiba dia langsung menjauhi saya dan duduk seperti biasa, jelas saya bingung. Saya bertanya, "Kenapa kamu?" Dia bilang, "Lihat dong keatas!" (kita duduk di barisan paling belakang), kontan saya kaget. Ternyata kita telah disaksikan beberapa penjaga bioskop yang kebetulan ada di atas kita. Saya dan pacar saya malu sekali. Terpaksa adegan yang sebentar lagi seru itu kita tunda.

Akhirnya film habis dan saya harus mengantarkan dia pulang. Beberapa kali saya sengaja memperlambat mobil dan menunda waktu perpisahan saya, dengan harapan adegan seperti tadi akan terulang. Ternyata dia bersikap biasa saja dan hanya mengobrol. Karena ingin membuat suasana yang lebih tegang, saya beranikan menaruh tangan saya di pahanya, dia diam saja. Tetapi mesin memaksa saya untuk memindahkan gigi. Dia hanya mengobrol biasa seakan-akan tidak ada nafsu apa-apa. Akhirnya kita sudah sampai di depan rumahnya. Seperti biasa saya masuk dulu ke rumahnya. Dia bilang ke saya, "Kamu masuk saja ke kamar saya dulu, saya mau buat minum dulu buat kamu." Saya pun masuk ke kamarnya dan langsung tidur di kasurnya. Saya mengantuk dan sudah kehilangan gairah. Saya pikir sudah tidak mungkin terulang lagi. Ternyata saya salah.

Dia akhirnya masuk dan membawa minum buat saya dan saya lihat dia juga membawa VCD. Dia bilang, "Kamu mau nonton nggak?" Saya iseng menjawab, "Akh film biasa nggak mau, maunya BF." Dia hanya tersenyum dan berkata, "Coba saja setel." Saya pun menyetel dan ternyata itu film yang berbau porno. Saya bilang "Kamu kok berani? Nanti kalau ada yang masuk gimana?" Katanya kakaknya tidak akan pulang sampai besok dan kedua orang tuanya lagi di Swiss.

Kita pun menyaksikan adegan itu. Mungkin karena dia sudah pernah menontonnya, jadi dia kurang memperhatikan filmnya, dan bersender di dada saya. Saya malu karena dada saya berdegup, dan saya mulai menciumi rambutnya. Dia membalas dengan mengecupkan bibirnya ke kaos saya. Saya tarik dia supaya saya dapat mencium bibirnya. Akhirnya kami berpelukan dan dia berada di atas saya. Saya membuka kaos saya, agar badan yang selama ini saya bentuk dapat dipamerkan. Dia mengelus-elus dada saya, perlahan saya masukan tangan saya ke bagian belakang badannya. Lalu saya buka branya yang bernomor 34B+ itu. Saya turunkan dia dan taruh di sisi badan saya. Sambil menciumi lehernya yang sudah mulai banyak tanda biru-biru itu saya buka cardigans-nya. Dan terlihat dadanya yang menyembul itu. Dia lalu mematikan lampu, hingga hanya cahaya TV yang ada. Dia bilang malu karena baru pertama kali.

Saya lalu menjilati putingnya, dan mencupang di bagian bawah payudaranya. Dia terlihat senang dan matanya merem-melek. Sekitar 7 menit saya menghisap dan memainkan putingnya. Saya jilat dengan ujung lidah saya, ke kiri-kanan-atas-bawah dan saya gigit perlahan. Napasnya mulai mendesah dan merintih. Membuat kemaluan saya segera bangun, lalu saya bimbing tangannya agar memegang kemaluan saya. Dia pun memegang tapi tidak dimainkan. Dia bilang "Kok tidak sebesar yang di film?" Saya diam, memang panjangnya hanya 12 cm.

Lalu saya bilang, "Wan celananya saya lepas ya?" Dia hanya menunduk sambil merem. Saya buka dan terlihat cairan lembab menodai CD-nya sedikit. Bulu-bulunya lumayan lebat dan saya belah agar terlihat lembahnya. Saya ciumi, ternyata baunya sempat membuat jijik juga. Saya biasakan dan saya mainkan dengan jari saya. Saya usap clit-nya dan terasa badannya menegang. Lalu saya jilati, asin dan apek rasanya, karena dia masih perawan. Lama saya jilati sekitar 15 menit dan semakin lama lembahnya menjadi becek. Saya bilang, Wan gantian dong kemaluan saya kan kepingin dicium juga. Dia tidak mau, tapi saya taruh penis saya dekat bibirnya. Saya yakinkan dia kemaluan saya tidak kotor. Akhirnya dia merubah posisi dan saya telentang. Dia menghisap kemaluan saya yang semakin menegang. Setelah 5 menit dia bilang "Sudah akh... gantian dong." Saya bilang "Saya masukan saja yach..?" Dia bilang terserah asal jangan hamil. Perlahan saya masukan dan berusaha menerobos lembahnya. Dia mengerang kesakitan dan menahan perut saya. Lembahnya terasa sempit dan saya paksakan, dia sempat menjerit. Saya berhenti sebentar dan meneruskan lagi. Suatu saat dia menegang dan matanya berkaca-kaca. Saya rasakan ada yang lain. Ternyata dia berdarah dan 3/4 kemaluan saya sudah masuk ke liangnya. Dia bilang sakit, dan saya meneruskannya. Menaik-turunkan pantat saya. Lama-lama rintihannya sudah berubah nada menjadi rintihan yang menggairahkan. Saya semakin terangsang dan terus saja menaik-turunkan pantat saya. Kemaluan saya sudah sepenuhnya amblas dan naik lalu amblas lagi. Dia terus saja merintih dan merem-melek sambil menciumi bibir saya. "Ach... ach.. ach... huuhhs.. ach.. hh hhehh.. hh... heshh." Terus-terusan saja begitu sekitar 20 menit. Akhirnya saya merasakan sesuatu, seperti hampir mencapai klimaks, dan lembahnya pun sudah deras sekali keluar cairan yang membuat bunyi, "Clek.. blek.. blekk.. ble... plek.. plek... plek... cek.. chekk..." Saya tahan dan saya keluarkan kemaluan saya supaya tidak segera keluar spermanya. Lalu kembali saya mainkan clit-nya dan menjilati, beceknya sudah tidak karuan, tetapi itu semua menjadi lebih nikmat. Kembali saya masukan kemaluan saya dan terus lembahnya saya kocok dengan kemaluan saya. Dia sudah tidak tahan dan terus mendesah lirih, sambil sekali-kali menjerit. Saya berhenti, tetapi dia bilang, "Terusin saja, Wanda benar-benar sudah mau klimaks nih!"

"Ach... hhuhahh... ehmm... hmmhh achh... ouchh." Setelah sekitar 10 menit saya juga sudah merasakan sperma saya hampir keluar. Dan segera saya cabut dari lembahnya. Lalu saya bilang, "Wan isapin dong." Dia lalu mengambil kaos saya dan melap kemaluan saya, katanya dia geli malihat kemaluan saya becek begitu. Setelah melap hingga kering, dimasukannya ke mulutnya. Saya tekan dalam-dalam dan merasakan bibirnya yang hangat dan merah itu. Dia menghisap sambil telentang dengan nafsu, terasa sekali bibirnya yang seksi itu menguncup dan menghisap, tak lama saya memegang dagunya, lalu saya tahan pipinya. Sehingga semua sperma saya keluar di dalam mulutnya, dia kaget dan dengan reflek memuntahkannya sehingga semua pipinya belepotan. Saya bilang, Wanda kamu kan tadi sudah puas, bikin saya puas dengan menelannya (karena saya paling puas jika kekasih saya sendiri yang menelan sperma saya). Dia pun menggangguk dan kembali menghisap kemaluan saya. Dia menjilati semua sisa-sisa sperma saya dan menelannya.

Saya tersenyum puas, dan saya tanya, "Gimana rasanya Wan?" Dia bilang, "Amis rada asin tapi nikmat juga kok, licin-licin rasanya." Lalu saya memasukan sperma saya yang ada di pipinya ke dalam mulutnya. Dia mendecak-decak dan menelannya. Saya lalu merasakan semua ketegangan hilang dan berubah menjadi lemas. Saya pun tidur disampingnya, tak lama dia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saya pun terlelap dan pulang besok harinya.

Menikmati tubuh Ratna

Posted: 16 Dec 2007 06:39 PM CST

Tubuh Ratna cukupan, tingginya sekitar 160 cm, badannya langsing, kakinya mempunyai bulu-bulu yang cukup merangsang lelaki, kulitnya putih. Wajahnya manis dengan bibir yang merekah siap menghisap penis.
Rambutnya pendek diatas bahu hingga kelihatan lehernya yang siap digigiti.
Buah dada tidak besar, yah kira-kira setangkupan telapak tanganku. Itu pun kukira-kira saja, karena di waktu kerja tubuhnya di balut blaser.

Badanya kurus langsing kencang karena berenang dan aerobik setiap hari.
Pantatnya kelihatan menonjol dan padat. Sangat menggemaskan apalagi jika digencet dengan penis.
Selangkangan depan kelihatan ketat rapi, menanti remasan.

Beberapa minggu kemudian nggak ada kejadian istimewa, sampai suatu hari Ratna sakit diare dan
nggak bisa masuk kantor. Pembantunya menyusul ke puskesmas, dititipi pesan agar kalau saya
sudah tidak terlalu sibuk bisa menengok dirinya, mungkin bisa memberi advis mengenai pengobatannya.
Setelah pasien sepi dan tak ada pekerjaan kantor yang berarti, aku menjenguknya ke rumahnya,
dan diminta masuk kamar tidurnya. Waktu itu suaminya nggak ada di rumah, karena sehari-hari
suaminya bekerja di suatu pabrik di kecamatan sebelah. Aku melihat dia berbaring di ranjang,
walau pun sedang sakit, tetapi kulihat wajah dan tubuhnya justru makin merangsang dibalut baju
tidur yang cukup seksi. Kawatir aku nggak bisa menahan diri di kamarnya, aku segera minta padanya,
kalau masih bisa jalan (aku lihat sakitnya biasa saja), untuk pergi ke rumahku setelah jam kantor minta
diantar pembantu. Toh, jaraknya cukup dekat. Sementara itu dia kuberi obat seperlunya.
Sepulang kantor, Ratna datang ke rumah diantar pembantu, kemudian pembantunya disuruhnya
pulang duluan, sehingga aku dan dia tinggal sendirian di rumahku. Pembantuku (suami-istri) kalau
siang seusai bekerja pulang ke rumahnya dan petangnya kembali lagi, sebab mereka adalah penduduk
desa setempat.
Ratna kusuruh masuk ke kamar periksa, kemudian kuminta berbaring di tempat tidur periksa.
Aku memasang stetoskop, dan kuminta dia untuk membuka sebagian kancing atasnya
(Ratna memakai pakaian rok dan kemeja blues yang dikeluarkan). Aku mula-mula serius memeriksa
dadanya dengan stetoskop, tetapi begitu melihat sembulan buahdadanya yang nggak besar di balik BHnya,
aku tiba-tiba berdebar dan bergetar. Aku nggak pernah bergetar bila memeriksa pasien wanita lain,
tetapi menghadapi Ratna koq lain.
Dengan spontan tanpa meminta ijin dari empunya, buahdadanya kuraba halus dari luar dan kuelus-elus.
Ratna tak membuat gerakan penolakan, matanya justru terpejam sekan menikmati. Seluruh kancing
bluesnya langsung kucopoti, sehingga BH Ratna itu terlihat bebas menantang.
Bibirnya kukulum dengan cepat, sambil tanganku masih mengelus-elus buahdadanya dari luar
BH nya yang belum kulepas. Seperti yang sudah kuduga, kuluman bibirku disambutnya dengan
ciumannya yang lembut tapi hebat. Lidahku kujulurkan dalam-dalam ke langit-langit mulutnya, sebalik-
nya lidahnya segera membalas dengan memilin lidahku. Aku
melihat Ratna terengah-engah menahan emosinya, sambil mengerang: "Ssssh, pak Hendri, pak, ah ... argghhh ...
ssshhh".
Tanpa menunggu lama, sambil Ratna masih tetap terbaring dan mulutnya masih kubungkam dengan
bibirku, cup BH nya kuangkat ke atas tanpa kucopot kancingnya terlebih dulu. Buah dadanya langsung
tersembul keluar dengan indahnya. Benar dugaanku buah dadanya tak besar, tetapi bagus dan kencang
dengan puting buah dada kemerahan yang tak terlalu menonjol. Itulah buah dada Ratna yang sudah kubayangkan
beberapa lama dan ingin kukulum. Itulah sepasang buah dada Ratna yang masih kenyal belum sempat
mengeluarkan ASI karena belum sempat hamil.
Tangan kananku segera meraba-raba pentilnya bergantian kanan dan kiri dengan gerakan memutar
yang halus. Ratna makin menggigil dan tambah mengerang: "Paaak, Ratna malu paak ... ssshhh aargghhh
... ssshh ...". Aku terus menjilati bibir dan wajahnya sambil berdiri, dan tanganku memijat-mijat buah dadanya
yang ranum. Tangan Ratna merangkul leherku, matanya berkejap-kejap, sambil mulutnya terus mende-
sah di tengah-tengah kuluman lidahku.

Setelah puas menjilati wajah dan bibirnya, mulutku beralih ke leher dan belakang telinganya. Dia
makin menggelinjang sambil setengah menegakkan kepalanya. Aku masih terus berdiri, stetoskopku
sudah kulempar jauh-jauh. Segera kemudian, mulutku sudah berada di puting buah dada kirinya. Aku jilat
sepuasnya. Dada Ratna menggeliat dan sekali-kali membusung, sehingga buah dadanya makin terlihat indah
dan menggairahkan. Desisan Ratna makin menghebat, "Aaarggghhh, paaaak, aku nggak tahan paaak ...
". Tanganku pelan-pelan menelusuri pahanya yang mulus walau pun berkulit
agak sedikit gelap. Tapi warna kulit seperti ini justru sangat merangsang diriku. Kontol di balik celanaku
sudah menegang sejak tadi ketika aku mulai pertama kali melihat BH nya. Aku mulai menelusuri
pahanya pelan-pelan ke atas menuju selangkangannya di balik rok yang masih dipakainya, sambil
aku masih terus menggelomohi kedua puting buah dadanya.
Kulirik wajah manis perawatku ini. Ah, betapa makin merangsangnya tampakan wajahnya, yang sambil
sedikit merem-melek matanya menahan nafsu birahi, mulutnya mendesis mengerang terus menerus walau
pun tidak dengan suara yang keras, "Aaarghh, paakk, aku ... aku nggak tahan lagi paak."
Tetapi, begitu tanganku sampai di pinggir celana dalamnya, tiba-tiba dia tersadar dan langsung bilang, "Ah, pak,
jangan sekarang pak ..". Aku agak kaget, "Mengapa Sih? Aku sudah nggak tahan Sih, kepingin menelanjangi
kamu. "Ratna menjawab: "Kapan-kapan pak untuk yang itu.".
Aku tak berani nekat meneruskan, tapi wajah, bibir, dan buah dadanya masih terus kujilati bergantian.
Aku berciuman seperti itu sambil pakaianku masih lengkap dan masih tetap berdiri, sedang Ratna sudah
setengah bugil sambil tetap tergolek di ruang periksa, kurang lebih setengah jam. Akhirnya, karena aku
kawatir kalau istriku datang dari kantor, maka perbuatan kami yang sudah kerasukan nafsu birahi yang
menggelegak itu kuhentikan, dan Ratna kusuruh berpakaian kembali dan kuminta segera pulang.
Aku sempat berciuman sekali lagi. Mesra, seperti sepasang kekasih yang baru dilanda asmara.
Beberapa hari kemudian, setelah kantor tutup, Ratna yang sudah sembuh dari diarenya, kuminta datang ke rumah.
Dia datang masih memakai seragam dinas. Demikian pula aku.
Kusuruh dia duduk di sampingku di sofa ruang tamu. Ruang tamuku tetap kubiarkan terbuka pintunya, toh aku tetap
bisa mengontrol situasi luar rumah dari kaca besar berkorden dari dalam. Orang luar tak bisa melihat ke dalam,
sebab pencahayaan dari luar jauh lebih terang.

Melihat situasi luar yang cukup aman, dan saat itu di rumah dinasku hanya ada aku dan Ratna, maka kuberanikan
mencoba melanjutkan apa yang sudah kumulai beberapa hari sebelumnya.

Ratna yang berada di samping kananku langsung kupeluk mesra, kuelus rambutnya dan kucium bibirnya dengan
rasa sayang. Namun tanpa kuduga, dengan ganas (Ratna sepintas kuperkirakan adalah wanita yang *********, dan
di kemudian hari dia memang mengakuinya kalau dia nggak pernah puas ketika berhubungan seksual dengan
suaminya, walau pun menurut ukurannya suaminya mempunyai kemampuan seksual yang sangat hebat), dia
menyambut ciumanku dengan jilatan-jilatan lidahnya yang memilin-milin lidahku. Tangannya dengan berani meraba
selangkanganku yang tertutup celana dinas dan meraba kontolku yang sudah menegang ketika mulai berciuman tadi.
Kontolku dikocoknya dari luar dengan trampil dan membuatku keenakan (jujur saja, istriku tidak bisa seperti itu).

Secara cepat dan trengginas, karena nafsu yang sudah berkobar-kobar, aku pun langsung membuka kancing
seragam atasnya, dan dengan lahap kukeluarkan seluruh buah dadanya yang ranum dari cup BH tanpa membuka
kancing yang terletak di belakangnya. Buah dadanya langsung kuremas dengan lembut, pentilnya yang imut kupilin-pilin
sampai menegang, dan aku terus menciumi bibir dan kadang menciumi wajah dan belakang telinganya. Ratna
meregang, dan kali ini dia memanggilku tidak lagi pak atau dok, tetapi sudah berubah menjadi `papa´, "Ehmmpph,
sshh ... paaaaaah, aku sayang kamu paaah, Ratna sayang papaaah ... aaarghh ....".

Aku pun berganti menjawab sekenanya dan seberaninya, "Aku juga sayang Ratna, bener aku sayang kamu, hari ini
aku ingin memasukkan kontolku ke tubuhmu, sayang, boleh?"

Ratna langsung menjawab, "Boleh yaaaang, boleh ... arrghhh ... sshhshh ... cepatan ya yaaaang ... aaaargrhhh ....".

Mendengar jawaban itu, tanpa ragu, aku segera memasukkan jari kedua tanganku ke selangkangannya yang masih
tertutup seragam dinas, dan dengan bernafsu kucari celana dalamnya, dan begitu ketemu, tanpa ba-bi-bu lagi
langsung kupelorot dan kusimpan di saku celanaku. Demikian pula Ratna, dengan terengah-engah, langsung dia
membuka resleting celanaku dengan sebelumnya melepaskan ikat pinggangku yang kemudian dia lempar jauh-jauh,
dan tangannya dengan cepat menyergap kontolku yang berukuran panjang 14 cm dengan diameter yang cukup besar.
Aku ikut memelorotkan celanaku walau pun nggak sampai kulepas sama sekali. Tangannya dengan cekatan mengelus
kontolku, mengocoknya, sembari tubuhnya menggelinjang karena jariku sudah mengelus tempik vaginanya yang basah.
Sebagian jariku pelan-pelan kumasukkan ke dalam lubang tempiknya, dan kugeser-geser melingkari lubang sempit itu.
Jempolku mencari kelentitnya, begitu ketemu kuelus dengan permukaan dalam jempol.


"Ah, paaah, aku nggak tahan paaah ... aggghhh, ..... paaaah .....eeennaaak paaah ...", dia mengerang setengah
berteriak, tetapi mulutnya segera kubungkam dengan mulutku, kukulum agar suaranya tidak terdengar oleh orang-
orang yang mungkin ada di luar, kemudian kujilati bibir dan seluruh permukaan wajahnya sampai basah terkena
ludahku.

Sambil setengah bergumul, mataku selalu waspada melihat keadaan luar rumah melalui kaca berkorden untuk
berjaga-jaga kalau-kalau ada orang yang mau masuk ke rumah. Karena situasi yang tidak terlalu aman itu, aku tidak
berani melakukan adegan birahi kami ini dengan berbugil total..

Tanpa menunggu lama lagi, karena darah birahi yang sudah sampai ke ubun-ubun, tubuh Ratna kutarik ke depan
tubuhku, sambil dia tetap duduk menghadap ke depan membelakangiku, dan aku bersandar setengah duduk di sofa,
dengan perlahan tapi pasti, rok bawahannya kusingkap dan kuangkat, pantatnya kupegang, selangkangannya yang
sudah tak bercelana dalam kurenggangkan lebar-lebar, pahaku kurapatkan dengan kontol yang mengacung ke atas,
kemudian tangan kiriku memegang kontol dan kubimbing masukkan ke vagina tempik (memek)-nya. Ratna ikut mem-
bantu memegang kontolku dengan tangan kanannya, dan perlahan-lahan pantatnya diturunkan ke bawah. Vaginanya
terasa sempit juga (mungkin karena belum pernah melahirkan bayi), tetapi berkat bantuan lendir vaginanya yang sudah
banyak, tanpa kesulitan yang cukup berarti kontolku akhirnya berhasil masuk juga ke sebagian vagina depannya. Ratna
sambil menghadap ke depan terus mengerang, pantatnya mulai bergoyang-goyang, dinaik turunkan, agar kontolku
bisa lebih masuk ke dalam.

"Aduuuh paaaaah, enaaak paaaah .... Ssshhh ... arggh , aaduuuh paaah ...", erangnya. Aku juga mulai mendesis
merasakan enaknya tempik perawatku yang sangat manis dan hot ini, sambil benakku berseliweran membayangkan
keberanianku menyetubuhi istri orang. Ah, persetan, salahnya punya istri manis disia-siakan, sehingga masih mencari
kontol atasannya. Betul-betul vagina yang nikmat, nggak salah aku ditempatkan di puskesmas ini, aku bisa menikmati
sepuasnya vagina Ratna yang sedap. Kepunyaan istriku sendiri tidak senikmat ini.

"Ratna, kamu memang enaak, ..." begitu desisku.

Sambil aku juga ikut menggerakkan pantatku naik turun seirama dengan naik turunnya pantat Ratna, aku mengocok
kelentit Ratna yang ada di depan dengan tangan kananku. Tangan kiriku terus meraba habis buah dadanya yang terasa kenyal
di depan. Ratna makin menggelinjang seperti cacing kepanasan, karena kocokan jariku pada kelentitnya yang makin
menonjol. Pantatnya makin dia goyangkan selain naik turun juga ke kanan kiri. Rasanya bukan main enak, tak terkirakan.
Beginilah rupanya rasa tempik Ratnaku, Ratnaku yang bisa menggantikan tugas istriku di siang hari, Ratnaku yang mem-
punyai gerakan tubuh yang hebat dan nikmat.

"Siiiih, kamu sayang papa beneran nggak, aku eeennnaaaak Siiih ....!"

"Aaaaduuuh paaaah, Ratna sayang paapaaaah, eennaaak juga aku paaaah, koq bisa enaaak gini ya paaaah?
Aaaargghhhh ..... ssshh ... arrrgggghhhhhhhhhhhhhhhh .... Paaaaah ..."

Aku makin cepatkan kocokanku naik turun, demikian pula Ratna, dia makin menggeliatkan tubuhnya ke sana kemari.
Sayang, aku nggak bisa melihat tubuh indahnya sambil berbugil, karena situasinya yang tak memungkinkan.
Tiba-tiba Ratna, setengah berteriak bergetar-getar tubuhnya, "Aaarghhh ... paaah, aku nggak tahaaan paaaah,
aku mau orgasme paaaaah, paaaaah ...". Aku sendiri hampir nggak tahan juga merasakan denyutan tempiknya yang
asyik. Sekali lagi, betul-betul tempik yang enak dan nikmat
"Nggak apa-apa Siiih, kalau mau orgasme, nggak usah ditahan Siiih, papa juga mau keluar, aarghhh ...".
Gerakan kontolku makin kupercepat walau pun tidak terlalu bebas, karena posisiku yang di bawah, sambil tanganku
mengocok buah dada dan bibir Ratna kucari dan kumasukkan jempolku ke mulutnya dan segera diempotnya seperti bayi
sambil terus mendesah. Tak lama kemudian, Ratna mengejang, "Arrrggghhhhh paaaaaaaaah .... Arrrghhhhhh ......",
badannya bergetar, rupanya Ratna telah orgasme hebat. Kontolku terasa dijepit berdenyut-denyut. Karena proses
orgasme tubuhnya menggeliat seksi ke belakang sehingga tampak makin menggairahkan.
Pemandangan itu, walau cukup kulihat dari belakang, membuat aku juga sudah merasa nggak tahan lagi, geli
hebat mulai terasa di ujung kontol yang masih berada di tempik Ratna. Goyanganku kupercepat lagi, Ratna kupeluk
erat-erat, dan ... "Aaaarhggggghhh ... aku juga keluar Siiiih ... eenaaaak Siiih .....".
Pantat Ratna kutarik keras-keras ke bawah agar seluruh kontolku terbenam di tempiknya, dan kusemprotkan keras-
keras air maniku ke dalam vaginanya, sambil berharap agar ada spermatozoa yang bisa menyerbu ovumnya sehingga
menghasilkan pembuahan, karena mendadak hari ini aku merasa mencintai Ratna, tidak sekedar mencari kepuasan
seksual saja.
"Ooooh paaaah, aku cinta kamu paaaah ...., Ratna sayang kamu paaah. Aku kepingin anak dari kamu paaah ...
" kata Ratna sambil terus memutar-mutarkan dan menekan pantatnya menjadikan kontolku seperti diperas-peras
isinya, dan beberapa kali menyemprotkan mani sampai ludas. "Aku juga sayang kamu, Ratna ... kapan-kapan aku
ingin mengajakmu main seks sambil betulan telanjang bulat, mau ya Siih ...?"
Ratna langsung menjawab dengan manja: "Tentu Ratna mau sekali paah, minggu depan ya paah, kita cari
tempat enak untuk bikin anak yang nikmat ya paah?"
Sambil tubuh Ratna masih terduduk di atasku yang juga separuh duduk, lehernya agak kuputar kesamping,
dan bibirnya kucium sayang, mesra sekali, sementara kontolku masih tetap berada di dalam jepitan tempik-
vaginanya yang masih juga terus berdenyut nikmat ....


Thursday, December 13, 2007

Mantan Guru

Posted: 13 Dec 2007 07:54 PM CST

Bu Juliana memang guru kesayangan ku. Sewaktu aku SMA (kira-kira 8 th yang lalu), beliau mengajar fisika kelas 3. Memang waktu itu aku terkenal deket dengan bu Juliana, karena rumahnya sejalan dengan rumah ku sehingga kadang kalau pergi atau pulang sekolah aku selalu memberikan tumpangan kepadanya, sampai-sampai teman-teman menjulukiku "tukang ojek pribadinya bu Juliana".

Waktu itu bu Juliana masih pengantin baru, umurnya kira-kira 26an lah...baru lulus IKIP, yang ku tau suaminya waktu itu juga mengajar di sebuah Bimbel terkenal di kotaku. Hubunganku dengan bu Juliana yaa...biasa aja...seperti guru dan murid. Kalau aku boleh jujur, bu juliana itu memang tipeku, kulitnya putih mulus, rambut ikal, badan semok (montok...padat...berisi), tidak terlalu tinggi, dan mukanya mirip-mirip Rizky pritasari lah (tau dong..casting sabun mandi itu...). Memang sih bu Juliana sering memberiku nilai tambahan waktu ulangan ataupun waktu mengisi LKS, aku juga gak tau kenapa bu juliana selalu memberi nilai tambahan, sehingga nilai fisikaku 9 di rapor. "ahh..mungkin karena tiap hari selalu di boncengin kali...jadi ongkosnya diganti nilai", begitu pikirku setiap mendapat nilai dari bu Juliana.

Selepas bangku SMA, aku melanjutkan sekolahku di sebuah perguruan tinggi negeri. Selama hampir 5 th aku tidak mendapat kabar dari bu Juliana. Hingga 2 tahun kemudian aku bekerja di luar kota tetap saja aku belum pernah berjumpa sekalipun dengannya. Sampai suatu hari teman SMAku mengabari bahwa lusa akan ada reuni di aula sekolah. Mendengar kabar itu langsung aku memesan tiket pesawat untuk kembali ke kota asalku. Kangen banget memang...apalagi semenjak keluargaku pindah ke luar kota ketika aku kuliah, nyaris selama itu aku belum pernah mengunjungi kota kelahiranku ini. Sesampainya dibandara, aku langsung menuju hotel yang terdekat dengan sekolahku (biar nanti bisa jalan kaki kalo ke sekolah).

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Seneng banget memang bisa ketemu dengan teman-teman lama (walaupun baru pisah 7 tahunan). Ketika sedang asyik ngobrol tiba-tiba ada yang menepuk punggungku.
"hayoo...lupa yaa sama ibu..?!??", tegurnya
wah aku sempat tertegun sesaat, karena bu Juliana hampir tidak berubah (kecuali toketnya yang makin gede dan perut yang sedikit berlemak).
"eehh..ibu..gak dong..saya masih inget kok sama ibu Juliana, ibu apa kabar??", jawabku dengan basa-basi
Akhirnya kami pun ngobrol panjang lebar di sudut aula sekolah, pkoknya gak peduli temen-temen memanggilku...aku cuek aja. Kami pun berbicara mulai dari masa lau, berbagi pengalaman, sampai ke masalah pribadi. Dari situ aku tahu ternyata ibu Juliana sudah lama bercerai karena selama perkimpoian mereka tak kunjung dikaruniai anak. Setelah ku korek lebih jauh ternyata ibu Juliana di vonis mandul oleh dokter, sehingga suaminya berpaling ke wanita yang lain.

Cukup lama juga mendengarkan curhatan ibu Juliana, hingga tak terasa sore sudah menjelang.
"Wah bu, sudah sore nih, orang-orang juga udah pada bubar...ibu gak pulang??", tanya ku
"iya ben, oiya..kamu masih tinggal di komplek XXXX ya..?" tanyanya
"nggak bu, kan udah pindah waktu saya lulus SMA ke jakarta, sekarang saya nginep di hotel XXXXXX", jawabku
"wah deket dong, kalo gitu kita pulangnya jalan aja bareng, ibu ngontrak gak jauh dari situ kok", ajak bu Juliana. Mendengar itu aku sih ok aja, kayanya bu Juliana masih gak puas curhat jadi kami sambil jalan pulang sambil curhat.
sesampainya di depan hotel kami pun berpisah, namun sebelum berpisah bu Juliana menanyakan no kamarku..alasanny sih mau dibawain makan malam..dia habis masak banyak katanya. Aku sih ok-ok aja.

Ketika aku mandi (kira-kira jam 8 malem) terdengar suara ketukan pintu. " ah..pasti bu Juliana nih", pikirku. Benar saja, ketika ku buka pintu kulihat bu Juliana didepan pintu kamar sambil membawa rantang. Cantik sekali ibu Juliana pada malam itu. Dengan menggunakan celana jeans LEA dan kaos ketat hitam, membuatnya terlihat seperti anak muda.
"oh..masuk bu...maaf baru abis mandi nih..belum sisiran"
"ah gak apa2...ibu siapin makan malamnya yaa...ibu bikin ayam kremes..",katanya
"wah ngerepotin bu,...taruh di atas meja makan aja bu" (kebetulan aku di kamar suite, jadi ada meja makannya)
sambil menikmati makan malam, kami pun ngobrol macem-macem..sampai yang nyerempet-nyerempet masalah selangkangan. huehehehehe.
Sehabis makan aku pun bergegas ke kamar mandi untuk sikat gigi. Tanpa sepengetahuanku, ternyata bu Juliana melihat-lihat isi tas laptopku.
"ben....ini apaan??" teriaknya
ketika ku lihat...waduh..ternyata koleksi DVD bokepku, "aa..anu..itu punya temen saya bu....", jawabku dengan muka merah padam.
"kita nonton yan ini yuk..", sambil memilih salah satu DVD koleksiku.
"hah??!?!...ibu mau nonton...setel aja dilaptop saya bu..", jawabku dengan polos, padahal deg-degan. Lalu ku setel DVD tersebut (hardcore lagi...) dan kami pun nonton baren di meja makan. Melihat adegan-adegan cadas tersebut kayanya bu Juliana mulai terangsang, sebentar-sebentar dia memegang toketnya..sampai tiba-tiba dia memegang paha ku.
"eehh..bu..kaget saya..", kata ku sambil cengengesan bercampur perasaan horny. Semakin lama bu Juliana duduk semakin mendekat, dan tidak disangka-sangka pipiku dicium dan anuku di remes. Melihat keadaan sudah seperti ini, langsung saja aku sambut cumbuannya dengan bibirku lalu tangan kanaku meremas toketnya yang gede dan mulai memadat. Hampir 5 menit kita saling bercumbu di meja makan, lalu bu Juliana perlahan membuka resleting celanaku sambil meraih anuku yang sudah mulai mengeras.
"ouuww...udah mulai basah ni ben, mau dikeluarin di sini (sambil menunjuk mulut) atau di sini (sambil menunjuk M*m*knya)" rayunya dengan penuh nafsu.
"kalo bisa di tempat yang semestinya dong bu..", jawabku sambil meraba m*m*knya dari luar celana.
"he..eh.....yuk..", ajaknya sambil menarikku ke atas tempat tidur.
Helai demi helai pakaian bu Julaian mulai dilepasnya, sambil bergoyangt erotis diiringi lagu "i'm slave for you"-Britney spears yang kuputar di laptopku.
Dengan penuh nafsu liar bu Juliana pun terus bergoyang, tubuhnyapun berliuk-liuk walaupun perutnya agak berlemak sedikit. Ia pun naik diatas pangkuanku sambil menyodorkan toketnya yang seperti kates (gede ngegantung..pentilnya mungil). Langsung ku jilati toketnya dan kuhisap pentilnya yang agak menghitam itu. Bu Juliana pun menggelinjang keenakan dan mendorong kepalaku ke dadanya (sampe gelegepan gak bisa nafas). Lalu dengan liarnya ia menarik celana ku dan melahap anuku. Mulai dari kepala anuku sampai kedua bijiku disapunya dengan penuh nafsu. Ketika anuku mulai dihisap perlahan terasa senut senut enak.
"bu gantian bu..", pintaku sambil merubah posisi, kali ini bu Juliana merubah posisi menjadi 69. Sambil terus melahap anuku, aku juga menjilati m*m*knya. wow lebat banget...sudah mulai basah..dan bibir vaginanya juga bergelambir. Ku hisap bibir vaginanya lalu terus ku jilati klitorisnya.
"agh..sstt..aw...enak..ben..terus...yang dalem...ahhgh..", desahnya
dengan menggunakan kedua jariku langsung aja ku kobel lubangnya yang sudah basah dan mulai menganga. Semakin ku kobok...semakin lama semakin becek, cairan putih dari lubangnya mulai menetes membasahi dadaku .
"oh...ben...masikin..cepet....." desahnya sambil mengganti posisi WOT, lalu ku pandu si "jagur" memasuki lubang bu Juliana yang sudah basah banget. Untung punyaku lumayan gede jadi walau becek tapi gesekan masih terasa. Bu Juliana mulai bergoyang naik turun sambil memegang pangkal batanganku. Semakin lama goyanganya semakin cepat.
"bu..nungging bu..." pinta ku sambil menyuruhnya untuk doggy style.
Akhirnya kami pun berposisi doggy sambil ku goyang dari belakang.
"aahh...terus...terus...agh..ennaakk...". teriaknya, wah gawat nih ribut juga bu Juliana kalo lagi beginian. Karena sudah terasa ada yang mau keluar akhirnya aku rubah posisi menjagi MOT. Bu Juliana mengenkang sambil merem melek semetara aku terus konsentrasi menghadapi lubangnya yang becek.
Tak berapa lama aku merasa ingin keluar, alu ku bisikan ke telinga bu Juliana "ah...bu..pengen keluar...." bisik ku, "udah keluarin di dalem aja....gak bakal hamil kok", jawabnya. Oiya kan ibu juliana mandul. Dengan segala usaha akhirnya "CROOT...CROOTT..CROT..CROT" keluar juga deh tai macannya didalam lubang vaginanya, namun bu Juliana masih belum dapet, walau udah lemes masih ku goyang terus sambil ku bantu pakai tangan di sekitar klitorisnya. Tak lama kemudian ku rasakan cairan hangat menyemprot si Jagur sambil kulihat muka bu Juliana yang mulai tenang keenakan. lalu ku cabut si jagur yang mulai loyo. Sambil senyum bu Juliana mencumbu bibirku. dan kita pun tertidur bersama sambil berpelukan mesra.

Ruapanya pertempuran belum selesai, ketika pagi harinya aku bangun terkejut, kok ada yang anget anget nih di anuku, setelah ku buka mata ternyata bu Juliana sedang asik menjilati anuku. Spontan saja si Jagur bangun dan mengeras, semakin semangatlah bu Juliana melahap anuku. Dengan gerakan kepala naik turun, Blow jobnya nyaris gak kena gigi. enak banget..sampai akhirnya aku tembakan lagi tai macan untuk kedua kalinya. Dengan sigap, bu Juliana langsung menelan tai macan yang ku keluarkan bahakan sisa-sisa yang menetes dijilatinya. Wow sensasinya..enak banget.

Siang hari, akhirnya kami harus berpisah karena aku harus segera kembali ke jakarta. Namun sebelum berpisah bu Juliana sempat memberikan no HPnya. Sesampainya di JKT, aku coba hubungi HPnya ternyata salah nomer, mungkin karena aku cepet2 nulisnya jadi ada yang keselip nomernya. yaa sudah...kayanya lain waktu aku harus datang lagi ke sana dan kususl ke sekolahan ku lagi.

Kak RISA

Posted: 13 Dec 2007 07:52 PM CST

Panggil saja aku "Vel" umurku sekarang 27 tahun, sekarang aku bekerja pada sebuah perusahaan di salah satu kota di negara bagian New Hampshire. Aku cukup salut dengan website ini. Dan singkatnya aku tertarik untuk mencoba menceritakan apa yang aku alami dan kujalani sampai saat ini. Saat ini aku tinggal bersama kakak perempuanku, panggil saja "Kak Risa" Umurnya sekarang 31 tahun, 4 tahun lebih tua dariku. Kehidupan kami saat ini begitu tenang, tertutup namun bahagia.


Aku akan memulai dari awal bagaimana semuanya terjadi, percaya atau tidak bahwa apa yang kualami ini tidak mengalami hambatan atau rintangan sama sekali, hal yang membuatku sendiri heran bila memikirkannya. Awalnya 15 tahun yang lalu saat aku masih berumur 12 tahun. Kami besar dari keluarga berada, keseluruhan saudaraku ada 5 orang. Nomor satu dan dua laki-laki sedangkan yang ketiga perempuan. Kak Risa nomor empat dan aku paling akhir. Sebenarnya aku lahir di Indonesia. Hanya memang Papaku adalah pria berkebangsaan Amerika. Sedangkan Mamaku asli orang Indonesia.

Waktu aku berumur 12 tahun, kami masih tinggal di Indonesia. Tapi Papaku tidak disini karena ia memang tidak bekerja di Indonesia. Setahuku dulu Mamaku juga sibuk bekerja, ia tidak terlalu khawatir karena kedua kakakku yang lain sudah cukup dewasa dan dianggap bisa menjaga kami. Aku maklum karena kedua orang tuaku memang berencana mengurus kepindahan kami semua ke Amerika.

Sebenarnya kami semua saling menyayangi satu sama lain. Jarang sekali kulihat ada pertengkaran di antara kakak-kakakku. Tapi sejak kecil aku memang sudah dekat sekali dengan Kak Risa. Memang dia yang selalu menemaniku saat aku bermain. Ya selain itu jarak umur antara aku dan kakakku yang nomor tiga sangat jauh sekitar 8 tahun. Kak Risa memang sangat sayang padaku, hampir tiap kali aku selalu dapat bermanja-manja dengannya. Ya, hal itulah yang membuatku sangat interest sekali dengan Kak Risa. Bahkan kuingat seumurku waktu itu aku sudah mulai ada ketertarikan dengan kakakku.

Pada awalnya aku hanya berandai-andai saja. Sebab saat itu aku yakin sekali bahwa tidak mungkin aku menjalin hubungan yang "lebih" dengan kakakku. Paling Kak Risa cuma menganggap aku adiknya saja. Meskipun sebagai adik aku selalu mendapat perlakuan istimewa darinya. Dari kecil aku dan Kak Risa memang tidak pernah berpisah, kamar kamipun jadi satu. Sebenarnya saat aku berusia 9 tahun, aku sudah minta kamar sendiri, tapi Kak Risa tidak setuju, alasannya sederhana, ia tidak mau pisah kamar denganku, masa itu sebenarnya adalah masa di mana aku agak enggan berbagi, inginnya memodifikasi kamar sendiri tanpa ada yang mencampuri, tapi tidak jadi masalah, lagipula aku dulu penakut, dan aku sudah terbiasa tidur dalam pelukan kakakku.

Mungkin waktu kecil dulu aku tergolong bandel. Kalau Mama lagi tidak ada, orang rumah pasti kubuat repot dengan ulahku. Kak Risa juga sering kujahili. Biasanya kalau tidur malam Kak Risa hanya menggunakan celana dalam aja. Aku tidak mengerti kenapa. Padahal kamar menggunakan AC. Seringnya aku iseng memainkan dan menghisap puting susunya. Kak Risa mengetahui hal itu tapi dia tidak pernah marah atau menegurku, paling cuma bilang, "Kalo mau kaya gini kenapa nggak minta sama Mama aja sih?". Lucunya hal itu malah jadi kebiasaanku. Dan karena tidak ada yang tahu, kejadian seperti itu berlangsung terus sampai usiaku beranjak 12 tahun.

Tapi makin besar aku mulai merasa tidak enak sendiri, meski kebiasaanku itu tidak jadi masalah buat Kak Risa.
Kak Risa itu orangnya tomboy Sekali. Saat dia berumur 16 tahun dia ikut beberapa bela diri. Aku tadinya tidak tertarik, tapi Kak Risa juga minta aku ikut beladiri. Bisa dibayangkan seperti apa jadinya, gaya jalannya jadi aneh, tidak feminin. Kalau tidak tertutup dengan wajahnya yang cantik dan bodynya yang bagus, cowok pasti malas dekat dengan Kak Risa. Apalagi ditambah sifat Kak Risa yang tertutup, dan cenderung idealis. Selain itu kelihatannya Kak Risa juga tidak terlalu tertarik membina hubungan dengan lawan jenis. Terutama setelah ikut beladiri. Tapi biar begitu aku tahu kalau banyak cowok cakep yang suka sama dia. Dan Kak Risa hanya datar saja menanggapinya. Soalnya aku sering terima telepon untuk Kak Risa. Dan sering sekali dia tidak mau terima teleponnya. Bisa dibilang Kak Risa sangat "Untouchable".

Saat umurku hampir 13 tahun, awal mulai masuk SMP, aku suka dengan seorang gadis teman sekelasku. Aku sangat suka padanya, tapi tidak berhasil mendekatinya, intinya kalah bersaing. Saat itu perasaanku benar-benar tidak enak. Aku berusaha menghibur diri dengan sering pergi ke rumah sahabat-sahabatku. Di sanalah aku mulai mengenal buku-buku dan film khusus dewasa. Di usiaku yang sekecil itu aku sudah memiliki majalah luar negeri khusus dewasa, juga filmnya. Tidak sulit, karena nyaris seluruh sahabatku bukan orang Indonesia. Dan mereka sangat bebas mendapatkan barang seperti itu pada masa-masa tersebut.

Kak Risa tahu bahwa aku memiliki barang-barang itu, memang itu susahnya kalau satu kamar, jujur saja Kak Risa tidak suka aku memilikinya hingga aku sempat dimarahi juga olehnya, dan ia memintaku untuk membuang barang-barang itu. Apa boleh buat, bagiku lebih baik benda-benda itu yang aku singkirkan daripada aku kehilangan kasih sayang Kak Risa.

Meski Kak Risa sudah punya banyak kesibukan dengan studi dan kegiatan sekolahnya, perhatiannya padaku tidak berubah, malah cenderung semakin berlebihan, Kak Risa semakin sering memaksaku untuk menemaninya saat ia sedang melakukan kegiatannya atau pergi kemanapun. Ia juga makin sering mencium dan memelukku dengan mesra, bahkan di depan umum. Mulanya aku merasa tidak nyaman dengan perlakuannya itu, tapi lama kelamaan aku merasa nyaman juga. Perasaanku pada Kak Risa muncul kembali. Kalau dulu ciumannya kutanggapi biasa saja, sekarang aku lebih senang membalasnya dengan mesra. Aku pun mulai suka memberikan perhatian lebih pada kakakku itu, mungkin karena merasa perhatiannya mendapat respon lebih dariku. Kak Risa jadi makin sayang padaku. Setengahnya kami jadi mirip orang yang sedang berpacaran, meskipun secara fisik tetap kelihatan kalau aku adiknya.

Aku ingat malam itu saat aku pertama kali melakukannya dengan kakakku, seperti biasa aku bercanda dengan Kak Risa di dalam kamar, saat itu semua orang rumah sudah tidur, kesempatan itu biasanya sering kugunakan untuk mencurahkan isi hati pada kakakku, semua permasalahan yang kudapat hari itu selalu kutumpahkan padanya, dan Kak Risa selalu merespon itu semua dengan sabar dan penuh pengertian, dan memang kuakui beberapa waktu terakhir Kak Risa cenderung over. Kata-kata dan sikapnya sangat mesra padaku apalagi kalau kami hanya berdua saja seperti itu, perlakuannya itu sering membuat jantungku berdebar, aku sadar sepenuhnya bahwa dia itu kakakku, tapi aku tidak mengerti kenapa hatiku bisa bergejolak tidak karuan.

Kalau tidak salah waktu itu Kak Risa mengenakan kaos dan celana dalam warna putih, rambutnya dibiarkan terurai. Beda dengan kesehariannya, kakakku saat itu terlihat sangat feminin dan cantik sekali. Aku ingat sesekali Kak Risa meraih kepalaku dan menciumiku. Aku tidak berpikir macam-macam, hanya memang aku sangat menikmati perlakuan Kak Risa padaku. Sampai suatu kali Kak Risa mencium bibirku, kubalas dengan ciuman mesra. Yang sebenarnya serabutan. Aku mencoba berlama-lama meski tidak yakin berhasil, tapi karena aku menikmatinya, berhasil juga. Kulumat bibir kakakku itu dengan lembut. Kak Risa kelihatannya juga suka dengan ciumanku. Sebab dia sama sekali tidak berusaha menyudahi ciuman itu, bahkan kedua tangannya semakin memelukku erat, aku bisa merasakan belaiannya di kepalaku. Tapi sayangnya ciuman itu terhenti. Kak Risa menghela nafas sambil memandangku aneh.

"Kakak kucium lagi ya", mendengar itu Kak Risa masih diam.
Mungkin dia masih heran dengan kelakuanku, memang tidak biasanya aku membalas ciumannya sampai selama itu. Tapi tatapannya kemudian berubah mesra lalu dia tersenyum dan justru ganti menciumku lagi. Kali ini ciumanku mulai agresif. Bibir kami seolah tidak berhenti untuk saling melumat, diiringi desahan-desahan erotis dari Kak Risa, detak jantungku menjadi semakin cepat. kucoba mendorong Kak Risa agar merapat ke dinding. Kemudian kuciumi jenjang leher kakakku. Tanganku yang dari tadi pasif sekarang mulai mencoba melakukan eksplorasi kesana kemari.

Sementara bibirku masih berkonsentrasi pada leher Kak Risa, tanganku telah menyusup ke dalam kaos putihnya, dan tanpa kesulitan aku langsung dapat menemukan buah dada Kak Risa yang tidak tertutup oleh bra sama sekali, menurutku untuk ukuran gadis yang hampir 17 tahun, buah dada Kak Risa tergolong cukup besar, tentu saja aku sudah sering melihatnya, karena sampai saat itu kami masih sering mandi bersama. Aku mencoba meremasnya dengan lembut. Kak Risa tampak menggeliat dan sesekali mendesah.

Perlahan kunaikan kaos itu supaya tidak menghalangi buah dada Kak Risa. Dan begitu buah dadanya terlihat, tanpa basa-basi langsung kuhisap putingnya yang berwarna merah muda itu dan kuremas dengan bibirku. Aku benar-benar menikmatinya seperti bayi yang sedang menyusu. Sesaat kutanggalkan kaosku, juga celana pendekku. Kemudian kupeluk tubuh Kak Risa dan makin kuat kuhisap puting susunya, sesekali kumainkan putingnya dengan lidahku, kemudian kuhisap lagi. Karena terlalu enjoy, aku tidak tahu bahwa ternyata Kak Risa telah menanggalkan kaos putihnya. Sehingga saat dia memelukku erat, tubuhku benar-benar bersentuhan dengan tubuh kakakku, dan bisa kurasakan tubuh kakakku yang harum dan sangat halus itu. Lama sekali aku menikmati buah dada kakakku itu secara bergantian, Kak Risa pun seolah tidak mau melepaskanku ia justru menekan kepalaku kuat-kuat pada buah dadanya.

Tubuh kami sudah basah semua oleh keringat. Sampai detik itu aku masih ragu untuk melakukan seks dengan kakakku. Memang awalnya semua ini kupelajari dari semua majalah dan film yang kulihat, tapi lama kelamaan naluriku mulai berinisiatif. Karena masih ragu aku coba untuk menciumi bibir kakakku lagi. Sama seperti sebelumnya, Kak Risa membalas ciuman itu dengan sangat mesra. Dengan memberanikan diri aku membisikan sesuatu ke telinga Kak Risa.
"Kak, boleh aku lepas celana dalammu?".
Kak Risa agak terkejut.
"Kamu mau apa dek..?".
Aduh aku jawab gimana ya.
"Aku mau jilatin vagina kakak".
Karena ragu kata-kata itu keluar dengan asal dan pelan sekali. Aku takut. Kupikir pasti kakak akan marah dan ia tidak bakalan mau.
"Ih, nakal".
Jawab Kak Risa spontan, Kak Risa kemudian memandangiku sambil tersenyum, wajahnya agak memerah. Masih dengan posisi bersandar Kak Risa melepas celana dalamnya perlahan-lahan. Slow motion itu membuat jantungku semakin berdetak tidak menentu.

Sebenarnya aku setengah heran kenapa Kak Risa sama sekali tidak marah ketika aku memintanya melakukan hal itu, tapi sudahlah. Kemudian Kak Risa melebarkan pahanya. Awalnya aku malu untuk melihat. Untuk menutupi hal itu, kuciumi lagi bibir Kak Risa. Kemudian perlahan-lahan kuturunkan kepalaku sampai tepat di depan vagina Kak Risa. Vagina Kak Risa nyaris tidak ditumbuhi rambut. Jadi aku mampu memandang dengan leluasa gundukan vagina Kak Risa, sebenarnya pemandangan ini juga tidak asing lagi bagiku, tapi sedekat ini baru pertama kalinya. Kulihat ada cairan yang mengalir keluar dari bagian bawah vagina kakakku disertai bau yang aneh. Perlahan kubuka belahan daging yang menutupi lubang vagina Kak Risa. Dan langsung kusapu dengan lidahku dari bawah ke atas berkali-kali. Saat itu tubuh Kak Risa langsung mengejang. Dengan bibir dan lidahku kupermainkan klitorisnya. Secara spontanitas kedua tangannya memegangi kepalaku. Aku semakin asyik menjilati vagina kakakku itu, bahkan sesekali kuhisap bagian bawahnya. Kudengar Kak Risa berulang-ulang mendesah sambil menyebut namaku. Permainan itu luar biasa sekali, meski cairan yang keluar rasanya tidak karuan, tapi aku benar-benar menikmatinya.

Saat lidahku menyusup ke dalam lubang vagina Kak Risa, sebisanya kujilati bagian dalam lubang itu. Kak Risa makin terengah-engah. Nafasnya memburu tidak karuan. Lidahku juga makin liar mengobrak-abrik bagian sensitif kakakku itu, sehingga semua tempat di dalamnya tersapu oleh lidahku. Setelah beberapa menit Kak Risa agak mengejangkan tubuhnya. Aku merasakan lidahku dialiri sesuatu yang hangat. Bersamaan dengan erangan keras dari Kak Risa serta pahanya yang menjepit kepalaku dengan sangat kuat. Kujilati cairan itu sampai bersih, meskipun rasanya masih sama. Kemudian aku naik ke atas dan kuciumi lagi Kak Risa.
"Adek, kamu nakal banget sih?", ekspresi wajah Kak Risa sangat berbeda.
"Kak, aku sayang sama kakak", Kak Risa memandangiku dengan sayu, tangannya mengusap pipiku.
"Kakak juga sayang kamu".
Dengan berani aku mencoba mengajak Kak Risa untuk melakukan hubungan seks denganku.
"Kak, boleh aku melakukannya sama Kakak".

Kak Risa terdiam mematung, kepalanya tertunduk untuk beberapa saat. Suasana benar-benar hening, sampai nafas kamipun terdengar sangat jelas.
Setelah itu dia kembali memandangku sambil bertanya, "Kamu yakin mau melakukannya Dek?".
Suara Kak Risa sangat pelan sekali. Aku tak menjawab, aku hanya melihat tatapan mata Kak Risa yang sangat berbeda, aku tak bisa menggambarkannya, tapi aku tahu Kak Risa rela melakukannya denganku. Langsung kulepas celana dalamku. Kemudian aku agak bergeser ke bawah, kulebarkan kedua kakinya. Senjataku tampak tegak berdiri, tapi tidak sebesar orang dewasa, masih ukuran standart anak 12 tahun. Kak Risa terus menatap wajahku saat aku mengarahkan senjataku tepat di depan vaginanya.

"Kak..?", sekali lagi kuminta persetujuannya.
Ia mengangguk pelan. Perlahan kudorong masuk senjataku. Tapi tidak berhasil, dasar masih amatir hijau. Sampai yang ketiga kalinya. Kak Risa kemudian meraih dan menahan pinggangku sambil mengarahkan vaginanya tepat di ujung senjataku, kemudian kucoba mendorong lagi, meski sulit dan agak sakit tapi berhasil juga kumasukkan seluruh senjataku ke dalam vagina Kak Risa, perlahan kugerakkan pinggangku. Kedua tangan Kak Risa tampak meremasi selimut tidur kami. Desahannya mulai terdengar lagi, kuperhatikan Kak Risa tampak sulit menyesuaikan diri. Pelan tapi pasti, kupercepat tempo gerakanku. Sebenarnya saat itu senjataku terasa perih sekali. Aku merasa nggak enak banget. Tapi erangan Kak Risa yang semakin menjadi membuatku tidak berpikir lagi.

Makin kuhentakan pinggangku, dengan gerakan yang teratur, Kak Risa terus menerus menghentakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, sesekali ia meregang sambil mengerang keras. Aku sempat takut juga kalau sampai ada orang rumah yang terbangun, tapi untungnya kamar kami di atas dan paling ujung, agak jauh dari kamar Mama dan kakak-kakakku yang lain. Tiba-tiba kurasakan pinggang Kak Risa juga ikut bergerak, seperti memutar, sesekali Kak Risa ikut menghentakkan pinggangnya. Aku baru benar-benar merasakan enaknya melakukan hal itu. Dengan iseng kuremas juga buah dada Kak Risa, dan Kak Risa merespon dengan menggenggam tanganku kuat. Gerakan pinggang Kak Risa makin cepat. Kak Risa seperti sudah biasa melakukan hal ini. Dengan pemikiran itu maka semakin agresif aku menghentakkan pinggangku. Tentu saja hal ini membuat Kak Risa mengerang semakin keras. Dari tubuhku dan Kak Risa keringat semakin mengucur deras, padahal AC di ruangan cukup dingin.

Beberapa menit kemudian pergerakanku mulai melambat, aku seperti agak pusing, aku hanya mampu menghentakkan pinggangku sesekali, kadang aku hanya diam menikmati remasan dinding-dinding vagina Kak Risa. Kurasa badanku mulai lelah. Tiba-tiba Kak Risa meraih tubuhku dan mendekapku erat sekali, pinggangnya menghentak beberapa kali, rasanya luar biasa. Senjataku seperti ditarik makin masuk ke dalam, dan dilumuri cairan yang hangat, diiringi erangan cukup keras dari Kak Risa. Saat Kak Risa melepas dekapannya, aku merasa tubuhku amat lelah sekali, karena tidak kuat aku berguling di sisi Kak Risa. Pada saat itu aku juga merasa dari senjataku ada yang mau keluar. Rasanya enak sekali, baru kali itu aku merasakan yang seperti ini hingga akhirnya cairan itu keluar membasahi tempat tidur. Entah aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu. Paginya ketika aku sadar, Kak Risa sudah memeluk sambil menciumiku. Kami masih dalam keadaan tanpa pakaian sehelaipun.

"Kakak nggak ngira kalau Adek yang dulu sering kakak gendong bisa berbuat ini sama kakak", bisik Kak Risa di telingaku.
Aku sendiri setengah tidak percaya sudah melakukannya dengan kakakku
"Kak.., aku sayang banget sama Kakak, aku cinta sama Kakak".
Kupeluk Kak Risa dengan kuat. Kak Risa tersenyum dan menciumku lagi.
"Kakak ngerti kok Dek.., kakak juga sayang dan cinta banget sama kamu, kakak hanya tidak menyangka kamu dewasa secepat ini. Dan jujur aja kakak seneng banget bisa melakukan ini sama kamu, Adekku sayang".
"Tapi ayo cepet bangun, sprei ini harus segera dicuci", lanjut Kak Risa lagi.
"Lho, memangnya kenapa?", tanyaku singkat.
"Kakak nggak mau kalau bekas darah di sprei itu sampai ketahuan Mama", jawab Kak Risa.

Aku setengah terkejut, "Darah?, darah apa Kak?", tanyaku.
Kak Risa tidak menjawab, ia langsung memintaku berdiri dan cepat-cepat melepaskan seprei tempat tidur kami.
Awalnya aku memang tidak tahu, tapi belakangan aku baru mengerti, bahwa ternyata malam itu aku telah mengambil keperawanan kakakku sendiri, di usiaku yang belum lagi genap 13 tahun. Bodohnya aku, seharusnya aku sudah tahu mengenai hal itu. Aku jadi merasa bersalah, berulang kali aku minta maaf padanya, meskipun Kak Risa mengakui bahwa ia sangat rela melepas keperawanannya padaku. Hanya ia tidak mengira aku akan mengambilnya sepagi ini. Aku jadi makin sayang padanya. Sejak kejadian itu aku nggak pernah mencoba untuk mencari pacar. Karena Kak Risa sudah menjadi segalanya bagiku.

Setelah kejadian itu pula Kak Risa juga menutup diri pada pergaulannya. Secara otomatis bagi Kak Risa statusku adalah adik sekaligus kekasihnya, kehidupan kami jadi semakin tertutup. Entah sejak saat itu sudah berapa kali kami melakukannya, dan keluarga kami benar-benar tidak tahu akan hal itu. Lepas SMU, aku sudah tidak di Indonesia. Aku melanjutkan studi ke Amerika. Tapi tetap aku tak bisa berpisah dengan Kak Risa. Aku meminta Kak Risa ikut denganku, walau sebenarnya Papa dan Mama tidak setuju. Tapi mereka tak bisa apa-apa karena Kak Risa juga memaksa untuk menemaniku.

Sampai saat seluruh keluargaku pindah ke Amerika pun, mereka tidak pernah tahu bahwa kami telah menjalani kehidupan yang exklusif seperti suami istri. Sekarang Kak Risa sudah bekerja pada sebuah bank di kota yang sama denganku. Kami tinggal di rumah yang jauh dari keramaian, dan kami sudah sepakat untuk menjalani kehidupan yang "tertutup" ini. Lagipula sampai saat ini keluarga kami tidak menaruh curiga sama sekali, mungkin pola pikir mereka sudah sama seperti orang setempat, tidak mau ikut campur urusan pribadi orang

Saturday, December 8, 2007

Ray Sang Petualang

Posted: 07 Dec 2007 11:40 PM CST

Kenalkan, namaku Ray. Umurku 22 tahun, dan kuliah di sebuah universitas yang lumayan terkenal di Surabaya. And so on, aku akan berusaha mengenalkan siapa diriku dengan cara yang semoga bisa membuat kalian lumayan "berdiri", hohohoho.

Aku mengenal yang namanya wanita sejak kecil, kakakku seorang wanita, kedua adikku wanita, ibuku wanita, hehehe… dan pembantuku juga seorang wanita. Kuakui segala kenakalanku waktu aku kecil. Aku suka mengintip pembantuku waktu mandi, melihat mereka menyabuni "susu"-nya, dan terkadang melenguh saat jari-jarinya menggosok kemaluannya. Dan saat aku duduk di bangku kelas satu SMP, aku pertama kali mengerti yang namanya ejakulasi, ketika secara tak sengaja aku menggesek-gesekkan batang kemaluanku ke lantai sambil mengintip lipatan kemaluan pembantuku yang sedang tidur dari celah di bawah pintu, konyol… tapi kuakui itu. Aku mencoba merangsang diriku setiap hari dengan memakai BH kakakku, melipat batang kemaluanku ke dalam pahaku, dan menggesek-gesekkannya ke guling sambil tiduran. Oh, aku belum tahu yang namanya persetubuhan, hanya saja perbuatan itu membuatku merasa enak, apalagi ketika ejakulasi.

Aku mengenal yang namanya masturbasi dari teman-teman, dipegang, terus di tarik begini… begitu… dan memang enak sekali, jadi aku mulai menggunakan tanganku saat mengintip dan menikmati bulu-bulu kemaluan pembantuku saat mandi. Mungkin yang paling berkesan ialah ketika aku mengintip kakakku sendiri (hohoho) lewat celah jendela, setelah dia mandi dan masuk kamar. Ahh, kuintip dia melepas handuknya, mengagumi dirinya di depan cermin. Ohh… baru kali ini kulihat tubuh dewasa kakakku (yang kebetulan memang cantik, banyak penggemarnya), selain kenangan masa kecil saat kami masih oke-oke saja mandi bersama. Tanpa terasa kupegangi kemaluanku yag menegang saat ia berbaring di tempat tidur, memegangi puting-puting susunya, dan mengangkat kepalanya saat ujung batere itu bergerak-gerak di lubang kemaluannya. "Hkk… nngg…" kunikmati setiap gerakannya, sambil menggoyangkan batang kemaluanku dan menarik-nariknya. Ahhh… kutarik napas lega dan kuseka keringat dingin penuh dosa di pelipisku ketika aku ejakulasi, seiring dengan turunnya pantat kakakku yang sebelumnya mengejang-ngejang tak karuan.

Semenjak saat itu, aku menjadi ketagihan untuk bermasturbasi, mungkin tiga-empat kali sehari. Dan pergaulanku dengan teman-temanku memberikan kesempatan bagiku untuk menikmati adegan porno dari video (beta), yang entah dari mana kasetnya. Sehingga imajinasiku menggila setiap melakukan masturbasi. Tanpa kusadari mungkin aku perlahan menjadi seorang maniak seks. Lagi pula itu julukan teman-teman yang mengenalku sekarang, hohoho… penjahat kelamin?

Akhirnya aku berhasil mengujinya ketika aku berkenalan dengan seorang cewek cantik bernama Enni, saat itu aku kelas tiga SMP. Perkenalanku dengan gadis cantik itu mendapat berbagai halangan, baik dari teman-teman (yang sirik), keluarga kami (karena perbedaan religi), dan tentu saja para sainganku (kebetulan Enni sendiri adalah seorang cewek idola). Hohoho.. masih kuingat saat sepatunya mendadak terlempar ke kepalaku saat sedang enak-enak duduk, sakit memang, tapi toh ada manfaatnya, hehehe. Jadi, aku berkenalan dengannya. Kami mengakrabkan diri dan aku sempat merasa sangat bangga ketika akhirnya ia menerimaku menjadi kekasihnya, saat itu bertepatan dengan pembagian STTB, hehehe. Dan yang paling menggembirakan, ternyata aku satu SMU dengannya, dan satu kelas pula, alamak! Betapa beruntungnya aku.

Kami berdua masih sama-sama polos dalam hal bercinta, mungkin itu yang membuat segalanya menjadi mudah. Dalam tempo tiga bulan aku berhasil mencium bibirnya, eh… enak dan lembut. Itu ciumanku yang pertama, hahaha… bergetar.. bergetar. Bayangan akan kelembutan bibirnya membuatku terangsang setiap malam, semakin liar menggosokkan kemaluanku ke guling, membayangkan tubuhnya yang tanpa pakaian menggeliat seperti di film porno saat kumasukkan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya, ahh… ahhh… ahh….. kurasakan aku hampir gila karena nafsuku. Lalu, dengan sembunyi-sembunyi kunaiki mobil papaku, dan kuajak dia berputar-putar keliling kota, hanya sebentar-sebentar, dan tentu saja aku berkompromi dulu dengan sopirku. Akhirnya aku mendapat "SIM-beli" setelah merengek-rengek setengah mampus di kaki papaku. Dan aku mulai mengatur rencana bagaimana aku bisa menikmati tubuh kekasihku, daripada hanya bibirnya, lagipula batang kemaluanku menuntut terus tiap waktu.

Jadi pertama kuajak ia berputar-putar sekeliling kota, alasannya untuk merayakan SIM-ku. Dan kucoba mencium bibirnya di dalam mobil ketika kami berhenti di sebuah jalan raya, eh… dia tidak menolak. Yah, sebuah petanda yang bagus… oke. Beberapa hari kemudian, aku mulai agresif mengajaknya jalan-jalan, sampai akhirnya aku berani mengajaknya ke jalan tol di sebuah malam Minggu. Kami berhenti di peristirahatan tol Surabaya-Gempol. Kumatikan mesin, dan kucium bibirnya yang lembut. Ia sama sekali tidak meronta ketika aku meremas-remas buah dadanya yang lumayan besar di telapak tanganku, dan ketika kubuka bajunya, menelanjangi bagian atasnya, alangkah nikmat kurasakan menciumi puting susunya yang kecil yang kencang, nafasnya yang melenguh dan mengerang menambah kenikmatan yang kurasakan, "adikku" berdiri tegak siap tempur, tapi kutahan saja, karena aku takut ia akan menamparku jika aku melangkah terlalu jauh. Jadi kugesek-gesekkan saja kemaluanku ke pinggiran kursi sampai ejakulasi. Dan selama itu dia tidak menolak sama sekali, bahkan terkesan pasrah dan menikmati. Dia bahkan sempat memberi wanti-wanti, "Ray… jangan cerita-cerita okay?" Oh… tentu tidak dengan menggunakan namanya dan namaku yang asli, hohoho.

Nah, hari-hari berikutnya, karena ia tidak pernah menolak, jadi aku pun mulai berani melepaskan baju atasku, menikmati kehangatan dadanya di dadaku sambil menciumi bibir dan telinganya. Mmm… enak sekali kurasakan saat itu. Kami mulai biasa melakukan embracement di rumahnya, rumahku, dalam mobil dan dimanapun tempat yang kami bisa. Sampai akhirnya kami kelas 2. Saat itu aku mulai mengenal yang namanya pil "koplo", dan karena aku anak band, jadinya pil setan itu menjadi konsumsi wajibku sebelum manggung, ah kurindukan saat-saat "sakauw". Efeknya, aku menjadi lebih liar, lagipula Enni sama sekali tidak tahu aku mengkonsumsi obat-obatan. Dia hanya bingung melihat prestasiku yang melorot 23 peringkat saat cawu 1, dan kubilang saja karena papa dan mama ribut melulu. Toh dia percaya.

Suatu saat, ketika kami pulang sekolah (siang), kuajak dia mampir di Wendy's. Kami makan, dan kemudian seperti biasa berputar-putar mencari tempat. Akhirnya aku memberhentikan mobilku di sebuah jalanan yang lumayan sepi di dekat Kenjeran. Ah, aku sih bersyukur saja karena kaca mobilku gelap, hehehe…. jadi, kubuka baju dan behanya, menikmati puting-puting "susu"-nya seperti biasa, sambil sesekali meremas dan menggigit. Nafasnya mendengus-dengus. Kuajak ia pindah ke bangku belakang. Enni menurut saja. Kuteruskan hisapanku di "susu"-nya, dan ketika kumasukkan tanganku ke dalam roknya, ia hanya diam dan mengeluh. Kutarik celana dalamnya ke bawah, sambil kuciumi bibirnya yang terbuka. Enni mengerang lirih saat kusentuh kemaluannya yang basah. Aku berusaha mendudukkan diriku di sebelahnya, mengangkat roknya dan membuka pahanya, untuk yang pertama kalinya aku melihat kemaluan seorang wanita di depan mataku, bentuknya indah sekali, berbeda dengan yang di film-film porno. Kulihat wajahnya memerah dan matanya memandangku bertanya-tanya. "Aku tahu bagaimana membuatmu enak…" bisikku lirih sok tahu. Kulihat Enni hanya diam saja, jadi kutahan pahanya ke sandaran jok belakang, dan kuletakkan telapak tanganku menutupi liang kemaluannya. Enni mengerang-erang saat kugosok-gosok bibir kemaluannya dengan telapak tanganku, "Ahhh.. hahh… ahhh…" aku juga semakin bernafsu, persis seperti di film, pikirku saat itu. Hanya saja, untuk menjilat aku belum berani, jijik.

Jadi kuteruskan saja menggosok-gosok kemaluannya, terkadang cepat, terkadang lambat, "Ahhh… ahh… khh… hhh…" Enni mengerang-erang, tangannya menjambret kain bajuku yang terbuka, menarik-nariknya. "Aaahh…" kurasakan tanganku sangat basah, pahanya bergerak-gerak membuka dan menutup. Aku pun menghentikan tanganku sejenak, melihat dan menikmati wajahnya yang memerah dan nafasnya yang terengah-engah. Eh… dia malah berkata, "Gantian. Aku ingin lihat punya kamu!" Oh God, hahahaha… sure, dan kubuka celanaku berikut celana dalam yang menempel di pantatku. Enni memperhatikan dengan seksama "burung"-ku yang tegang dan bergerak-gerak di depannya. "Duduk…" kataku sedikit memerintah. Kugamit jemarinya dan kuletakkan di batang kemaluanku, Enni memegangnya tapi dia diam saja, "Salah… Begini loh!" kutunjukkan cara melakukan masturbasi padanya, dan… damm it! it feels soo good. Kurasakan telapak tangannya menggenggam batang kemaluanku dan menarik-nariknya, enak. Kumasukkan lagi tanganku ke dalam roknya, membuka pahanya dan menggosok bibir kemaluannya, "Ahh… hhh… uhhh… ahhh…" kami mengerang dan mengeluh bersamaan, kucium bibirnya dan merasakan lidahnya bergerak liar. "Ahh… mmm… hhh… ahhh… enak sekali…" kugerak-gerakkan pantatku ke depan memberi respon pada gerakan tangannya dan akhirnya spermaku keluar mengenai sandaran kursi. Kami terdiam sejenak, melihat cairan kental putih yang menempel di kain sandaran kursi di depan kami. "Iyakh…" kudengar ia berkata dan kami sama-sama tertawa. Kukecup bibirnya, mengambil tissue untuk membersihkan tangannya dan kain pembungkus sandaran kursi itu tentunya. Lalu kami pulang.

Hari-hari berikutnya kami semakin sering melakukan hal serupa di tempat-tempat yang sudah kusebutkan di atas, oh jalan tol merupakan tempat idola kami, hehehe. Aku semakin tenggelam dalam kenikmatanku terhadap obat-obatan, aku mulai mengenal heroin, yang sangat nikmat apabila ditorehkan dalam luka-luka sayat di tanganku, dan juga valium, yang menimbulkan bekas bintik-bintik hitam di pangkal lenganku. Ah, akhirnya Enni curiga melihat keaktifanku yang semakin liar di group bandku, dan kondisi tubuhku yang mengurus, pelajaranku yang selalu kuakhiri dengan tidur. Dan itulah yang memacunya untuk meninggalkanku dan beralih ke lelaki lain yang sudah kuliah. Hal itu dilakukannya saat aku berangkat ke New York selama tiga bulan untuk studi banding (kebetulan aku lumayan jago dalam sastra Inggris).

Waktu aku mengetahuinya aku sempat mengamuk habis, hampir saja aku ke kampus si cowok untuk menawurnya bersama teman-temanku, namun kubatalkan mengingat betapa konyolnya aku untuk marah hanya gara-gara seorang wanita. Jadi kuputuskan untuk pulang perang dengan membawa oleh-oleh berharga. Kutelepon ke rumahnya, memintanya sudi menemuiku untuk yang terakhir kalinya. Enni menemuiku malam itu, dan langsung kucium bibirnya sambil membisikkan kata-kata kerinduan dan betapa aku tak sanggup kehilangan dia, dan mungkin karena kenangan berseksual-ria denganku (atau mungkin karena aku cinta pertamanya) membuatnya pasrah saat kupegangi payudaranya dan meremas-remas kemaluannya dari lapisan celana ketatnya. Ah, kebetulan saat itu kedua orangtuanya sedang berangkat menghadiri pernikahan, sedangkan kakaknya saat itu sudah kembali ke Bandung untuk menyelesaikan kuliahnya, jadi aku merasa bebas-bebas saja. Jadi kurangsang dia dengan segenap kemampuanku, kubelai buah dadanya dengan lembut, menciumi wajahnya, lehernya tengkuknya, memasukkan jariku ke dalam celananya, memainkan liang kemaluannya di jariku, membuat nafasnya memburu dan terengah-engah, "Ahhh… ahh… uh… nggg…" aku merasakan nafsuku mulai naik ke ubun-ubun ketika tangannya menyelip di lipatan celanaku dan bergerak-gerak di batang kemaluanku yang menegang hebat.

Aku cukup kaget ketika tiba-tiba ia melepaskanku, menangis, aku bingung. Lalu ia bangkit berdiri, menuju ke ruang tengah rumahnya dan telunjuknya memanggilku mengikutinya. Oh God, hohohoho. Kami bergulingan di tempat tidurnya yang lebar, kuciumi seluruh wajahnya, lehernya, kupingnya, dagunya, dan kuhisap puting "susu"-nya penuh nafsu, kuangkat pakaiannya melewati kepalanya, "Ahh.. uhh… argg…" kurasakan kenikmatan batang kemaluanku menekan-nekan liang kemaluannya dari balik baju kami. Kubuang BH-nya entah kemana. Kubuka bajuku, menempelkannya di payudaranya, merasakan kenikmatan dan kehangatannya. Kuciumi bibirnya dengan lebih bernafsu. Kuraih celana ketatnya yang pendek dan kutarik, kulepas berikut celana dalamnya, kupegangi dan kuraba kemaluannya yang basah. Pahanya bergerak-gerak menggesek-gesek batang kemaluanku yang masih terbungkus, dan kubuka celanaku cepat-cepat. Kurasakan paha telanjangnya menekan batang kemaluanku. Tangannya meraih batang kemaluanku dan memainkannya dengan gerakan yang membuatku terengah-engah menahan nikmat, "ahhh… ahh… ahh…hh…" akhirnya kuangkat tubuh telanjangku ke atasnya, dan menempelkan batang kemaluanku di liang kemaluannya. "Ahhh… gila… kenikmatan ini… ahhh…" kudengar ia menyebut-nyebut namaku dengan lirih ketika pinggulku bergerak-gerak dan menggesek bibir-bibir kemaluannya ke atas dan ke bawah, ahh.

Kucium bibirnya dengan lebih bernafsu, kujatuhkan seluruh tubuhku menindihnya, merasakan tekanan buah dadanya yang berkeringat di kulitku, kugoyang-goyang pinggulku ke atas dan ke bawah, "Ahhh.. ahh.." ke samping ke depan, "Aahh… ah.. ah…" merasakan setiap kenikmatan gesekanku dan pelukan pahanya di pantatku setiap aku bergerak ke samping, "Ahk.. ahk…" Akhirnya kubenamkan bibirku di bibirnya dan menekan pantatku sekuat tenaga ketika nafsuku tak terkontrol lagi dan menyemburkan spermaku melewati dan membasahi permukaan perutnya, Ahhh.. hah…" nafasku terengah-engah penuh kenikmatan, pelukannya mengencang di punggung dan pinggangku. Pantatnya menekan batang kemaluanku kuat-kuat. "Aahh… nikmatnya…" baru kali ini kurasakan nikmatnya melakukan petting.

Aku bangkit berdiri, memakai pakaianku yang berserakan di lantai, dan membantunya berpakaian, lalu melangkah kembali ke ruang tamu. "Ray.. jangan teruskan memakai obat-obatan…" Aku mengangguk. Dan itulah kata terakhir yang kudengar dari bibirnya sesaat sebelum kurelakan dia pergi dari sisiku. Dengan perjuangan yang keras selama beberapa minggu, aku berhasil menghentikan kecanduanku pada obat-obatan di sebuah pusat rehabilitasi di Lawang. Memang, setelah ia sudah menjadi pacar orang lain, yang notabene direstui orangtuanya. Namun tak jarang kami melakukan pertemuan rahasia dan melakukan petting. Namanya juga cinta pertama.

Sampai akhirnya ia mambantuku menembus UMPTN, dan jarak kami terpisah sangat jauh sekarang. Ahh Enni, selalu mulutku mendesah mengingat kenangan cinta pertamaku. Terakhir aku berjumpa dengannya Januari 2000, kami melakukan petting lagi di sebuah wisma di kota dimana ia kuliah. Sampai sekarang, aku belum menemuinya lagi. Mungkin kalau ketemu… hohohoho… ah, kekasihku, cintaku. Tapi pengalaman-pengalaman seru dengannya membuatku ketagihan setengah mati, dan bayangkan saja jika aku harus menunggu setahun sekali untuk petting, woah… what a waste of time.. huh? Jadi aku mulai meningkatkan kelasku menjadi perayu wanita.

Hampir dua kali seminggu aku melakukan petting, bukan bersetubuh tentunya, karena aku masih cari selamat dan aku paling benci yang namanya perek atau pelacur, hanya bawa penyakit. Oh… aku kehilangan keperjakaanku saat aku melakukan hubungan dengan seorang gadis pecandu sabu-sabu yang kujumpai sedang menangis di pinggir jalan karena ditinggal teman-temannya ke diskotik. Wah… lagi-lagi aku beruntung, ketika ia mengajakku bercinta, aku mengiyakannya karena sekedar kepingin tahu dan ternyata si gadis itu masih PERAWAN! Oh God, mercy on me, saat kulihat noda darah berceceran di kasurku, hohohoho… dalam keadaan "fly" mungkin ia tak sadar mengajakku, orang yang baru ia kenal untuk bercinta hahaha… dan kuantar dia pulang ke sekitar wilayah makam Banteng, masih dalam keadaan bingung. Jahat memang, tapi masih sempat kuhadiahkan sebuah kecupan di keningnya. Sejak itu aku memutuskan untuk tidak berhubungan seksual dulu, karena rasanya toh begitu-begitu saja, benar seperti kata orang, yang enak itu pemanasannya, hahaha, lagipula aku sudah pernah mencicipi perawan, hehehe… dan enak gila, jadi aku berambisi mendapat perawan sebanyak mungkin tanpa harus bertanggungjawab. Bajingan? okeh, terserah

Tamat


Gairah Pertamaku

Posted: 07 Dec 2007 11:45 PM CST

Kesan pertama melakukan sesuatu bagi orang yang belum pernah dialamainya, sungguh sangat mengasyikkan. Begitu pula dengan kesan pada pengalaman pertamaku merasakan hangatnya tubuh wanita, yang mana terjadi pada waktu aku kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Walau sekarang aku bekerja di bidang travelling di kota Jakarta dan menjabat sebagai eksekutif di perusahaan tersebut, namun pengalaman pertama mencicipi nikmatnya cinta sungguh sulit dilupakan.

Waktu itu aku lagi suntuk, baru masuk kuliah 5 bulan. Selesai mengikuti ujian semester yang melelahkan, aku menghabiskan waktu bermain billyard di diskotik Crazy Horse Jl. Magelang Km 4 Yogyakarta. Mungkin dari para pembaca ada yang pernah kuliah atau pernah tinggal di Yogyakarta pasti tahu diskotik tersebut. Aku dengan dua teman kostku bermain sampai 10 game, dan waktu sudah menunjukkan pukul 11:30 malam. Kami sepakat untuk mengakhiri main billyard dan bersiap untuk pulang. Namun sewaktu aku akan membayar di kasir, sempat kulihat ada seorang wanita muda masuk ke tempat billyard tersebut dan langsung menghampiri salah satu meja yang ada di sana. Aku hanya berpikir mungkin salah satu score girl yang bekerja di tempat itu, lalu aku pun acuh saja dan berjalan menuju pintu keluar bersama kedua temanku.

Tidak sampai semenit, terdengar ada kegaduhan di salah satu meja billyard, serempak kami menoleh ke arah situ dan kulihat wanita muda yang baru masuk tadi sedang memaki-maki seorang laki-laki yang saat itu sedang memangku salah satu score girl. Kami bertiga jadi tercengang melihat keributan itu, apalagi sewaktu perempuan muda yang ternyata cantik itu menampar pipi pria yang sedang dimaki-maki tersebut. Kemudian si wanita langsung berlari menuju pintu keluar sambil menangis, melewati kami yang masih terperangah. Kami pun akhirnya juga keluar menuju tempat parkir motor. Aku mengendarai sendirian, sedang kedua teman kostku itu berboncengan.

Baru 500 meter dari tempat billyard tersebut, kami yang tadinya berkendara motor sambil mengobrol terkejut begitu melihat wanita muda yang menampar seorang pria di tempat billyard tadi, terpaku berdiri di pinggir jalan sambil terisak menangis.
Salah satu temanku menegur si wanita, "Mbak udah malam begini mau kemana..?"Tapi si wanita itu hanya menutup wajahnya dan tangisannya terdengar semakin keras. Kami saling bertatapan. Melihat gelagat begitu, aku meberanikan diri untuk menghampirinya.
"Maaf Mbak, kami bertiga nggak ada niat jahat, cuma mau menawarkan bantuan, kalau memang Mbak mau kami bisa mengantar Mbak pulang." ujarku sungguh-sungguh.
Melihat tetap tidak ada komentar dari si wanita, aku pun kembali menyambung, "Bagaimana Mbak..? Saya serius, tapi kalau memang Mbak nggak mau ya sudah kami nggak bisa memaksa. Lagian apa Mbak nggak khawatir sudah larut malam begini masih di tengah jalan, kalau kelihatan orang Mbak lagi menangis, bagaimana nanti..?"

Kami bertiga saling pandang menunggu jawaban dari dia, lalu si wanita itu pun mengangguk tanpa satu patah pun kata keluar dari mulutnya. Karena yang mengendarai motor sendirian itu aku, dia pun membonceng naik ke motorku.
"Pram, aku tak pulang dulu ya? Udah malam nih, berani kan kamu sendiri?" salah satu temanku bertanya kepadaku.
"Ya udah nggak apa-apa kok, kalian pulang duluan saja..!" jawabku.
Lalu kami berpisah, kedua temanku langsung meluncur pulang ke kost, sedang aku akan mengantar pulang si wanita muda itu.
"Rumah Mbak dimana..?" aku bertanya memecah kebisuan di antara kami.
"Terus saja ke arah selatan." jawabnya singkat dan terdengar sengau karena sambil menangis.

Jalan-jalan di kota yang terkenal dengan kota gudegnya itu pada waktu malam sudah sepi, aku mengendarai motorku perlahan menunggu petunjuk dari wanita di belakangku ke arah mana dia pulangnya. Kurang lebih 10 menit dia diam saja.
Aku kembali bertanya, "Maaf Mbak, di daerah mana sih rumahnya..?"
Si wanita hanya terdengar menghela nafas, "Taulah Mas, aku malas pulang, terserah Mas mau mengajak kemana." jawab si wanita sekenanya.
Terus terang aku jadi bingung dengan jawabannya itu. Maksudku benar-benar ingin mengantar dia pulang malah jawabannya begitu. Jujur saja dahulu aku masih polos dan lugu, belum mengerti dan bodoh untuk jawaban seorang wanita seperti itu. Kalau sekarang sih justru aku yang menawari menginap di hotel atau motel.

Setelah 15 menit berputar-putar, aku bingung mau diajak kemana nih orang..?
Akhirnya aku hanya bilang, "Mbak, sudah semakin malam nih, bagaimana..? Aku musti pulang, soalnya besok pagi aku harus kuliah."
Setelah terdengar terbatuk kecil, dia menukas, "Mas kost kan..? Kalau nggak keberatan, aku ikut Mas ke kost aja, tapi kalau nggak mau ya aku turun disini saja deh, nggak apa-apa kok."
Aku jadi semakin bingung dengan jawabannya itu.
"Ah gimana ya..? Nggak apa-apa nih kamu ke kostku..?" tanyaku setengah tidak percaya.
Sebagai jawabannya, si wanita yang duduk membonceng di belakang motorku itu malah melingkarkan tangannya memeluk pinggangku. Mimpi apa aku semalam sampai ketemu wanita macam begini.

Aku menjalankan motorku ke arah kost sambil tubuhku merinding, karena dua bola daging di dada si wanita itu menyentuh punggungku begitu dia merapatkan tubuhnya memeluk tubuhku. Sesampainya di kost, kulihat kamar kedua teman kostku sudah gelap, menandakan mereka sudah terlelap. Rumah kostku memang hanya dihuni bertiga, pemilik rumah tidak tinggal disitu, jadi kalau ada teman atau saudaraku yang menginap disitu, mau tidak mau ya tidur di kamarku. Begitu juga yang kualami sekarang, aku jadi bingung, masak sih aku tidur satu kamar dengan perempuan yang belum kukenal?

Setelah membersihkan badan dan mengganti baju, aku menawari dia minum, "Mau minum apa Mbak..?"
Sambil tersenyum manis dia hanya menyahut, "Air putih saja lah, tapi ngomong-ngomong maaf ya aku jadi merepotkan."
"Allaa .. nggak apa-apa." ujarku, namun di dalam hati aku berdebar bagaimana ya nanti aku tidur satu kamar dengan wanita yang baru 2 jam kukenal.
Setelah bisa menenangkan hati, aku menyambung, "Oh iya Mbak, mau ganti baju..? Pakai saja kaosku, sebentar ya kuambilkan, oh iya kalau Mbak mau mandi, biar aku ambilkan handuk sekalian ya..?"
"Aduh Mas, sudahlah jadi ngerepotin nih, sebenarnya sih kalau bisa aku juga mau pinjam celana pendek saja, boleh..?" si wanita berkata dengan wajah masih sembab.
"Nggak apa-apa kok, sekalian aja ya? tapi kalau baju dalam cewek aku nggak punya." ujarku sambil tersenyum memberanikan diri menggodanya.

Si wanita tertawa geli mendengar perkataanku tadi.
"Aduuh.., cantik sekali jika dia tertawa.." kataku dalam hati.
Sambil tersenyum, si wanita mengulurkan tangannya dan berjabat tangan denganku, "Widya." dia memperkenalkan diri.
"Namaku Pram, nama kamu bagus Mbak." jawabku sekaligus memuji namanya sunguh-sungguh.
Dia hanya tersenyum menanggapinya, lalu diambilnya celana, kaos dan handuk dari tanganku dan langsung menuju kamar mandi.

Sambil menunggu Widya mandi, aku menata kamar, kuambil bantalan sofa di teras dan kuatur sedemikian rupa berjejer di lantai membentuk tempat tidur. Beberapa saat kemudian Widya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos dan celana pendekku yang terlihat kebesaran, jadi terlihat lucu di mataku, namun bagiku tetap terlihat cantik dan manis. Kemudian kami pun terlibat obrolan hangat di serambi depan kamarku, sambil menikmati minuman hangat yangkusodori.

Kuperhatikan Widya memang cantik, putih dengan rambut sebahu diikat dengan karet gelang, dadanya membusung penuh, bibirnya merah segar walau tanpa polesan lipstik maupun kosmetik lainnya. Tingginya sekitar 165 cm, dengan body yang bagiku sangat proposional. Kutaksir umurnya walau lebih tua dariku tapi tidak lebih dari 25 tahun. Dia menceritakan bagaimana tadi dia sakit hati dengan pacarnya yang sedang memangku wanita lain, bagaimana sikap pacarnya itu akhir-akhir ini. Pokoknya dia mencurahkan semua isi hatinya kepadaku, dengan rokok yang tidak berhenti mengepul dari bibir seksinya, sedang aku hanya termangu mendengarnya.

Tidak terasa 1 jam lamanya kami mengobrol dan mataku semakin terasa berat.
Lalu aku memotong pembicaraanya, "Mbak, aku mau tidur dulu ya..?" kataku dan Widya masih asyik dengan sebatang rokoknya.
"Oh ya, silahkan Mas, nggak apa-apa, kan aku masih mau menikmati malam ini..!" jawabnya.
Kemudian aku masuk ke kamar, kutinggalkan Widya yang masih duduk di teras depan kamarku, langsung kurebahkan tubuhku di bantalan sofa yang kuatur sedemikian rupa di lantai membentuk tempat tidur.

Entah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba aku terbangun karena merasakan geli di sekitar selangkanganku. Masih setengah sadar kurasakan ada sesuatu yang membuat kelakianku berdenyut-denyut bercampur geli. Begitu kubuka mataku, bagai disambar geledek rasa terkejutku, di keremangan lampu tidur, aku melihat Widya menindih pangkal pahaku dan jari di tangannyayang mungil itu tengah mengelus-elus batang kejantananku yang sudah terbuka lepas dari celanadalamku, sedang sarung yang biasa kupakai kalau aku tidur itu sudah terbuka seluruhnya. Sedang bibir dan mulutnya tengah asyik menciumi pangkal dari kemaluanku.

"Mbak..! Kk.. kkhh.. kamu lagi.. lagi.. ngapain..?" kata-kataku tercekat di kerongkongan menyadari semua ulahnya.
Sungguh kupikir aku sedang bermimpi, namun begitu kucubit pipiku sendiri terasa sakit, baru aku sadar itu memang nyata. Ya Tuhan! terus terang aku benar-benar memang belum pernah diperlakukan demikian oleh wanita, walau sudah 2 kali pacaran.

Begitu tahu aku sudah terbangun dan sadar sepenuhnya, Widya melirik ke arah bola mataku, dia tersenyum sambil tangannya tetap mengelus batang kemaluanku.
"Hmm.., boleh kan aku memberi sesuatu sekedar membalas kebaikan kamu..?"
Tubuhku gemetar dan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitku. Perlahan aku berusaha melepaskan diri dari tindihan tubuhnya.
Masih tergagap aku menanggapinya, "Ta.. tt.. tapi, eeng.. Mbak.. ee.. kamu.., eh, Mbak nggak perlu begini.."
Perlahan Widya beringsut ke atas dan berbisik pelan di telingaku, "Mbok jangan panggil aku Mbak dong..?" sambil jemari di tangannya masih tetap mengelus rudalku.

Usahaku untuk melepaskan diri sepertinya semakin sulit, karena tubuh Widya sekarang sudah menindih tubuhku."Lalu..? Aku.. ee.., musti panggil apa..? Kan umur Mbak lebih tua..?" tanyaku terbata-bata.
Tangan Widya sekarang mulai mengurut kemaluanku perlahan dari atas terus ke bawah, demikian berulang-ulang. Sontak aku kelojotan menerima perlakuannya.
"Terserah deh.., mau panggil apa, yang penting aku sekarang mau memberi hadiah spesial buat kamu sayang, pasti kamu akan sangat menikmati."
Suaranya terdengar sangat seksi di telingaku, karena memang saat itu mulutnya sedang menciumi daerah belakang telinga kiriku. Mataku terpejam menikmati buaian gairah dan hembusan kenikmatan yang diberikan Widya melalui remasan tangan di batang kemaluanku.

"Mbak.., oohh.. akhh.. aa.. aku.. belum pernah.. eengg.. belum pernah dii.. ee.. begini.. sama.. ee.. perempuan.., Mbak.." masih tergagap aku dengan polosnya terus terang ke padanya.
Sementara batang kejantananku tambah berdenyut keras diremas-remas dan diurut oleh tangan Widya yang bagiku sangat terampil.
Kuperhatikan Widya tersenyum, "Aku tau sayang, kamu memang baik, sangat baik malah, dan kamu sangat polos, aku sangat.. hmm.. aku senang jika aku bisa merasakan keperjakan laki-laki yang masih lugu seperti kamu.." kata-kata terakhir Widya terdengar malu-malu.
"Tapi Mbak, eengg.. apa Mbak.. ee.. nggak merasa bersalah..? Kan Mbak sudah punya pacar..?" sahutku.
Kembali dia tersenyum dengan manisnya, lantas Widya menjawab, "Sudahlah Pram sayang, jangan omongin dia lagi ya..? Pokoknya aku malam ini milik kamu, titik..! Lagian kan aku tadi bilang kalau.. eeng.. terus terang saja, aku ingiinn banget mencicipi keperjakaan.. hhmm.. jangan marah ya..?"

Mendengar perkataan Widya tadi, aku jadi senang, "Kenapa mesti marah..?" kataku dalam hati.
Selesai Widya berkata begitu, mulutnya mulai mendarat di bibirku, dilumatnya bibirku dengan lembut, kubalas lumatan bibirnya dengan penuh gairah, sementara jemari tangannya semakin keras mengayunkan batang kemaluanku naik turun. Perlahan dilepaskan lumatan mulutnya pada mulutku, bibirnya menelusur perlahan ke arah leherku, terus ke bawah bermain di sekitar dadaku, dijilatinya puting di dadaku. Aku kegelian.

Setelah puas bermain di dadaku, mulut Widya terasa menjalar ke bawah melewati perut langsung ke pusat kemaluan di selangkanganku. Kulirik ke bawah bertepatan dengan saat itu matanya sedang menatapku, lalu dia tersenyum, membuka mulutnya dan sedetik kemudian, "Aaahh.. God..!" jeritku dalam hati, karena mendapati bibir mungilnya yang terbuka tadi sudah mencaplok kepala di batang rudalku. Diturunkan kepalanya dan otomatis batang kemaluanku terus tenggelam di dalam mulutnya. Demikan terus mulut Widya menghisap kemaluanku.
Di sela hisapan dan jilatan mulutnya, Widya memuji kemaluanku, "Pram.., hmm.. aku sudah menduga.., hhmm.. punya kamu ini paling nggak ada 16 cm, lumayan sih.. tapi eengg.., lingkarannya ini lho, wahh..! Bisa dibayangin.., tanganku aja nggak muat megangnya, apalagi.. enngg.., masuk ke memekku yah..?" malu-malu Widya mengatakan begitu dengan wajahnya yang bersemu merah.

"Mbak.., oouuhh.., Mbak.. enak Mbak, mulut kamu bikin punyaku kayak mau meledak nih..!" desahanku keluar karena tidak tahan dengan mulut dan bibirnya yang menggarap sekujur rudalku.
"Jangan Pram! Jangan meledak sekarang! Ntar aja ya.., di dalam punyaku..?"
Kontan Widya menyudahi aksinya, lantas dia menyambung perkataannya, "Ngomong-ngomong, kamu belum pernah kan mencicipi kemaluan cewek..? Mau nggak..?"
"Glek!" aku hanya menelan ludah membayangkan tawaran yang selama ini hanya dalam mimpiku.
"Eee.., kayak apa sih rasanya..? Di film BF kayaknya nikmat banget menjilat memek cewek.."
Widya tertawa geli mendengar kepolosanku, "Memang kok, makanya dicobain deh, sebentar ya..?"

Widya bangkit dari tubuhku, dia berdiri di atasku dan tanpa malu-malu lagi Widya melorotkan sendiri celana pendek yang dikenakannya sekaligus celana dalamnya, namun kaosnya tidak ikut dilepas. Melihat aksi wanita cantik itu, aku hanya bengong dan berkali-kali menelan ludah menahan nafsu yang kian memburu. Lalu tanpa diduga, Widya berdiri tepat di atas wajahku yang masih tiduran di lantai, dikangkanginya kedua kaki jenjang milik Widya itu, hingga bulu-bulu lebat di sekitar selangkangannya jelas terlihat yang diantara bulu-bulu tersebut terlihat menyempil secuil daging kemerahan menutupi lubang kemaluan milik Widya yang sangat indah.Sepertinya Widya membiarkanku menikmati sesaat pemandangan indah yang baru kali ini kunikmati.

Sambil tersenyum, perlahan Widya menurunkan tubuhnya, berjongkok di atas dadaku. Sudah ratusan kali aku menelan ludahku sendiri menahan gejolak gairah yang benar-benar baru pertama kali sensasi yang diperlihatkan wanita seperti ini dalam hidupku. Dengan posisi dimana Widya duduk di atas dadaku, kemaluan Widya yang hangat dengan bulunya yang lebat dan sedikit kebasahan terasa menyentuh kulit di dadaku. Perlahan dibuka kedua paha Widya semakin melebar, memperlihatkan semakin jelas bentuk kemaluan seorang wanita, karena kemaluan Widya sekarang hanya berjarak sekitar 10 cm di depan wajahku.

Kuperhatikan dengan seksama, "Ooo, begini toh memek cewek itu..!" kataku dalam hati.
Tampak jelas sekarang secuil daging kemerahan yang tadi terlihat, yang ternyata adalah bentuk dari bibir luar kemaluan wanita. Terlihat sedikit terbuka, memperlihatkan bibir bagian dalam lubang kemaluan milik Widya tersebut. Sementara di bagian pucuk atas bibir kemaluan itu bertengger dengan indahnya secuil daging berwarna merah muda menonjol keluar. Aku menduga ini pasti klitoris atau kelentit wanita.

Ada sekitar 3 menit aku terpana memperhatikan semua pemandangan dahsyat yang baru kali ini kunikmati dalam hidupku.
"Aduuhh..!" aku menjerit kecil kaget ketika tangan Widya mencubit pipiku.
"Iiihh.., kamu ngeliatin apa sih Pram..?" Widya bertanya pura-pura tidak tahu.
Wajahku terasa panas menahan malu.
"Cuma mau dilihatin aja ya..?" kembali Widya membuatku sedikit kikuk.
"Eehh.. ohh.. nggak, habis punya kamu bagus sih..!" aku menjawab sekenanya, karena tidak tahu apa yang harus kukatakan.
"Ah masa sih..?" sahutnya, lalu seperti memancing gairah kelakianku, jari telunjuk di tangan Widya mengusap-usap bagian klitorisnya sendiri, dipelintir sedemikian rupa hingga sepertinya benda kecil di kemaluan Widya itu tambah mencuat keluar.

"Masa sih memekku bagus heh..? Bagus apanya..? Kalau bagus kok cuma diliatin aja..? Heh..?" Widya menyambung perkataannya yang terdengar suaranya sangat seksi.
Selesai berbicara, perlahan Widya menggerakkan pantatnya beringsut ke depan, menyodorkan kemaluannya seperti dipersembahkan kepada mulut dan bibirku. Sekarang jarak liang vagina Widya dengan wajahku hanya tinggal sekitar 5 cm. Dan kontan merebak aroma khas kemaluan seorang wanita menusuk hidungku. Sebuah aroma dan bau yang juga baru kali ini aku merasakannya. Begitu harum dan lembut seperti bau daun pandan. Sesaat aku memejamkan mata menikmati aroma yang tercium lembut, gurih menembus hidungku.

"Iiihh.., nih anak..! Ngapain sih..? Kayaknya kok dari tadi cuma ngeliatin aja, sekarang cuma mencium baunya aja..!" suara Widya sontak membuyarkan lamunanku.
Kulihat wajahnya terlihat cemberut. Aku tersenyum melihat ulahnya.
"Iya Mbak! Mosok nggak boleh sih aku menikmati dulu harumnya kemaluan Mbak..? Beneran kok Mbak, memek Mbak haruumm.. banget..!" aku mencoba merayu Widya.
Langsung ditanggapi olehnya, "Iya apa..?! Tapi katanya mau mencoba ngerasain memek cewek, kok didiamkan aja, lagian.. Ooouuhh Pram..! Ouuffsshh.. aduhh nakal kamu..! Yaahh.., gitu dong.. sshhtt..!" omongan Widya terputus begitu aku mulai mengangkat kepalaku guna menjulurkan lidahku dan menjilat bibir luar kemaluannya, karena aku sendiri sebenarnya sudah tidak sabar ingin segera merasakan dan mencicipi bagaimana sih rasa kemaluan wanita.

Lubang kemaluan Widya yang sudah setengah merekah itu begitu mengundang hasratku untuk menyusupkan lidahku ke dalamnya. Perlahan kusapu bibir kemaluan Widya bagian bawah, dan.. eehh ternyata ada sedikit kebasahan disitu, sejenak kukecap kebasahan berupa lendir bening yang dikeluarkan liang surga milik Widya itu.
"Hhmm.., lezat sekali..!" kataku dalam hati sambil meresapinya.
"Ehh Mbak, ee.. enak juga ya Mbak..?" ujarku sambil menikmati rasa gurih lendir itu.
Sambil merintih manja, Widya menyahut, "Ouuhh Pram.., itu baru lendir pelumas aja, coba dehnanti.. oohh.. sstt.. kamu akan tambah menikmati lendir yang keluar kalau aku orgasme nanti, makanya kamu harus berusaha membuatku puas, Pram..!"
Sementara pahanya dibuka semakin lebar memberi ruang gerak lebih leluasa buat lidah dan mulutku bergerak.

Kembali aku menjulurkan lidahku menyusup diantara belahan bibir kemaluan Widya sambil dibantu oleh jari-jarinya menguakkan belahan itu semakin lebar.
"Oouuhh.. oouuff.. sstt.., yah begitu sayangg.. terus masukkan lidah kamu lebih dalam..! Yaahh.. teruuss.. ooughh.." erangan Widya terdengar lembut dan bergairah menikmati sentuhan lidahku.
Apalagi petualangan lidahku mulai menyentuh secuil daging kelentit yang sudah terasa semakin keras mencuat keluar dan membuat Widya merintih keras.
"Pramm.., yahh.. betull..! Teruss.., yang lembut sayangg..! Oouff.. eesshhtt.. sstt.. edann..! Enak banget..! Aduuhh.., eesshh.. kamu ternyata.. uuff.. ternyata pintar juga.. eesshhtt.." desahnya tidak berhenti.
Sebenarnya aku hanya mempraktekkan apa yang selama ini kulihat di film BF, bagaimana cara perlakuan oral sex pada liang kemaluan wanita.

Kembali terasa di lidahku lendir yang keluar dari liang kemaluan Widya semakin banyak. Oohh Tuhan! Ternyata betapa nikmatnya rasa lendir kemaluan wanita itu. Aroma harum kemaluan milik Widya semakin tajam menusuk hidungku seiring semakin banyaknya lendir itu membanjir keluar dan membuatku semakin bernafsu terus menjilati seantero kemaluan Widya, terutama klitoris yang berwarna merah muda itu memang sangat membangkitkan hasratku untuk lebih bernafsu menjilatinya. Daging kelentit itu terus kusentil dengan lidahku dengan irama yang teratur, baik ke samping maupun ke atas dan ke bawah.
"Adduuhh.. Praamm.. eesshhtt.. pintar sekali kamu..! Yahh begitu.., teruuss.. duhh Gusti.. nikmat sekali..! Adduuhh.., kayaknya aku mau sampai nih..! Teruss..!" rintihan Widya terdengar semakin keras, dan malah sekarang seperti menjerit kecil, apalagi entah perintah dari siapa, aku yang tadi membuat gerakan menjilat, sekarang mulai memagut kelentit itu dan langsung kukulum layaknya mengulum permen.

Kukulum dan kuemut dengan mulutku daging kelentit milik Widya dengan gemas bercampur nafsu. Kontan tubuh Widya kelojotan, menggelinjang hebat merasakan nikmat yang amat sangat di pusat kenikmatan yang terletak pada kelentitnya. Bongkahan pantat milik Widya yang tadi mendudukidadaku, entah refleks atau apa, sekarang semakin maju dan aku yang tadi agak mengangkat kepala untuk menggarap kemaluannya dengan mulutku, sekarang bisa bersandar pada bantalan sofa di lantai, karena bongkahan pantat Widya sekarang tepat di atas kepalaku. Sekarang posisi tubuh Widya duduk bersimpuh yang mana kepalaku otomatis tenggelam di jepitan kedua pangkal pahanya.

Posisi demikian terus terang membuatku sulit bernafas, apalagi mulutku masih terus mengulum dengan buasnya daging kelentit milik Widya yang sepertinya terasa semakin tegang dan keras.Sementara dari sela-sela bulu kemaluannya, aku masih sempat melihat kedua tangan Widya meremas-remas kedua payudaranya seperti berusaha menambah rangsangan terhadap dirinya. Terlihat juga kepala Widya mendongak ke atas dan kedua bola matanya mendelik-delik serta pupil hitam di matanya sudah tidak terlihat, hanya terlihat warna putihnya saja.
"Pramm.. enngg.. oouukkhh.. esstthh.. Ya ampun Tuhann..! Adduuhh.. yyaahh.. sedikit lagi.. yahh.. uuff.. kkhh.. kk.. ka.. kamu ingin merasakan.., ouuhh.. ingin mencicipi lendirku kaann..? Yaahh.. sedikit lagi.. dikiit lagi sayaangg..! Makanya.., uughh.. emut terus..! Adduuhh.., lebih keras lagi. Yaahh.., terus hisap itilku.., teruuss.. emut yang kuat sayang, yaahh begitu..!" jeritan dan rintihan kenikmatan Widya terdengar putus-putus, sementara aku terus menghisap sambil menarik-narik kuat kelentit itu masuk ke dalam mulutku.

Dan tiba-tiba suara desahan itu berhenti. Sama sekali tidak terdengar jeritan maupun rintihan Widya, yang ada hanya tubuhnya bergetar hebat, kelojotan yang membuat pantat dan pinggulnya bergoyang kesana kemari, namun pagutan dan hisapan mulutku pada kelentitnya tetap tidak kulepaskan, mau tidak mau kepalaku ikut bergerak mengikuti gerakan liar bongkahan pantatnya, padahal tanganku yang dari tadi meremas-remas bongkahan pantat milik Widya itu sudah berusaha menahan gerakan liarnya itu. Aku tetap bertekad mempertahankan posisi mulutku menghisap dan memagut daging kelentit Widya.

Semenit kemudian kelojotan tubuh Widya terhenti, yang kurasakan tubuhnya meregang hebat, kedua pahanya kejat-kejat menghimpit kuat kepalaku yang membuatku sangat sulit untuk bernafas, namun aku rela menahan nafas hanya untuk menanti apa yang terjadi pada saat-saat dimana Widya akan menjemput puncak kenikmatan sejatinya.
Kembali Widya menjerit-jerit, "Aahh.., esshtt.. ituu..! Yahh.. ituu..! Aduuhh.. enakkhh.. enak banget..! Aahh.. esshhtt.. aduuhh.. ini sayangg..! Yaahh.., ini aku keluarin ya..? Oouuffsshhtt.. nikmatt sekalii.., yaahh..!"

Benar saja, beberapa detik setelah itu, terasa di lidahku semburan hangat cairan lendir itu keluar tertangkap di ujung lidahku, mengalir menerobos masuk ke dalam mulutku, terus menyerbu ke dalam kerongkonganku dan langsung kutelan. Benar seperti yang dikatakan Widya, lendir bening yang dikeluarkan lubang kemaluannya benar-benar sangat lezat, gurih dan ada sedikit rasa manis bercampur asin. Sungguh suatu sensasi yang baru pertama kali kualami dalam hidupku.

Entah mungkin ada 5 atau 6 kali mulutku menangkap semburan cairan lendir yang membanjir keluar dari lubang kemaluan Widya. Saking derasnya aliran lendir itu menyembur mulutku sampai tersedak. Dan semburan cairan itu semakin melemah sampai akhirnya berhenti sama sekali, hanya berupa tetesan-tetesan saja yang tentu tidak kulewati begitu saja. Jepitan kedua paha Widya di kepalaku terasa mengendur, hingga aku dapat mengambil nafas panjang. Kuhirup udara dalam-dalam karena ada lebih semenit aku menahan nafas sampai dadaku terasa sesak. Namun pengorbanan itu kuanggap sesuai dengan sensasi dasyat yang kudapatkan melalui hisapan dan jilatan mulut serta lidahku di setiap inchi pada lubang kemaluan Widya, hingga mimpiku bisa menjadi kenyataan untuk merasakan nimatnya, lezatnya, enaknya cairan lendir yang dikeluarkan liang vagina seorang wanita.

Detik berikutnya Widya merebahkan tubuhnya di atas tubuhku, dengan posisi pinggulnya masih menindih dadaku, punggungnya menindih batang kemaluanku tapi kepalanya di atas kakiku dan kedua kakinya menjuntai lurus melewati atas kepalaku. Sementara tubuhku bagian atas mulai dari dada hingga wajah basah oleh cairan lendir yang hangat, terasa melekat pada pori-pori di permukaan kulitku. Dada Widya terlihat naik turun beriringan dengan nafasnya yang naik turun sisa dari kenikmatan yang baru saja dicapainya.

Selang beberapa menit kemudian setelah nafasnya mulai teratur, Widya bangkit dari tubuhku, dan dapat kulihat dengan jelas raut wajahnya yang memerah, dengan rambut yang berantakan, namun justru menambah keseksiannya.
Sambil tersenyum manis, dia berkata kepadaku, "Ouhh Pram.., aku benar-benar nggak menduga, kamu begitu lihai dengan permainan mulutmu, padahal kamu belum pernah selain dengan aku kan..? Apa kamu bohong ya..?"
Aku menyahutnya dengan serius, "Lho kok nggak percaya Mbak..? Memang aku sudah pernah punya pacar 2 kali, tapi demi Tuhan, pacaranku sebatas ciuman thok..! Nggak lebih, swear Mbak..!"
Widya tersenyum geli melihat kepolosanku, "Iya.. ya.. aku percaya..! Lagian seandainya kamu bohong pun, aku nggak keberatan kok, masa bodo..! Yang penting aku enak, habis mulut dan lidah kamu itu lho bikin aku terbang ke awang-awang, nggak tau deh kalau senjata kamu itu bisa bikin aku juga terbang melayang nggak.."

Widya menanggapi keseriusanku dengan kerlingan nakal matanya yang menggoda. Tetapi habis berkata begitu, tangannya meraih batang kemaluanku yang dari tadi berdenyut-denyut. Diusapkannya perlahan batang rudalku dengan jari-jarinya yang lembut. Aku berdebar menanti aksi Widya selanjutnya. Setelah puas mengurut dan meremas-remas kemaluanku, Widya memposisikan tubuhnya berjongkok di atas perutku. Aku masih menduga-duga apa yang akan dilakukannya. Sepertinya dia akan menyusupkan batang kemaluanku pada lubang vaginanya dengan posisi seperti itu. Dadaku semakin berdebar menanti saat-saat dimana aku akan merasakan pertama kali dalam hidupku bagaimana nikmatnya bersanggama dengan seorang wanita.

Seperti tahu akan perasaanku, Widya mencoba membuatku rileks, "Pram.., kok kamu tegang sih..? Santai saja, Mbak maklum kalau kamu tegang begitu, Mbak dulu juga seperti kamu, gelisah dan tegang, nih coba ya..? Kamu tutup mata kamu, tarik nafas dalam-dalam..!" kata-kata Widya terputus begitu ujung di kepala kemaluanku menyentuh sesuatu yang hangat, basah dan kenyal.
Tapi aku tahu itu pasti bibir luar kemaluan Widya. Dengan telaten tangan Widya membimbing batang rudalku untuk mendapatkan posisi yang tepat agar jalan batang kemaluanku menembus liang kemaluannya bisa pas. Begitupun dengan pinggul Widya sedikit digoyangkan, agar posisi ujung kepala kemaluanku bisa tepat dalam jepitan bibir kemaluannya.

Aku memejamkan mata mengikuti nasehat Widya sambil merasakan geli bercampur ngilu. karena menikmati gesekan kulit kepala kemaluanku dengan bibir kemaluannya. Kuatur nafasku, dan, "Bleess..!" begitu Widya menurunkan pinggulnya, terasa batang kemaluanku perlahan menerobos masuk ke dalam lubang vaginanya.
Ohh Tuhann..! terasa begitu lembut dan hangatnya bibir dan dinding kemaluan milik Widya ini mendekap sekujur batang kemaluanku.
"Oouhh.. Mbaakk..!" hanya itu rintihan yang keluar dari mulutku mewakili berjuta kenikmatan yang baru kali ini kurasakan di umurku yang ke 20 tahun.
"Oouuff.., gimana sayaangg.., heehh..? Enaakhh..? Aahh.. sstt.. aduuhh.. gilaa..! Punya kamu.., uuff.. adduhh.., benar kan dugaan Mbak tadi..? Oouugghh.. gila..! Punya kamu gede banget.. tau nggak sih..? Aasshhtt.. Menuh-menuhin bungkusnya, Edaann..! Uuff.. adduuhh.." rintihan Widya bersahutan dengan desahan nikmatku.
"Yahh.., ya Mbakk..! Pantesan ya Mbak.., oouusshh.. pantesan kk.. kata orang making love itu.., aduuhh.. sshh.. nikmat sekali..!"

Perlahan Widya mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, sedangkan aku hanya bisa menggigit bibirku merasakan desiran nikmat yang baru kali ini kurasakan. Desiran nikmat itu bertambah seiring dengan semakin cepatnya gerakan naik turun pinggul Widya di pusat selangkanganku. Apalagi begitu gerakan pinggul Widya bukan hanya naik turun, tetapi disertai dengan berputar-putar yang membuat batang rudalku seperti dipelintir. Seluruh sekujur tubuhku bergetar, perasaanku terbang melayang menjemput nikmat yang teramat sangat. Sementara kedua tangannyameremas-remas kedua payudaranya sendiri, seolah ingin menambah rangsangan untuk dirinya sendiri.

Sekitar 5 menit kemudian, gerakan Widya seperti orang kesurupan.
Dia mendesis panjang, matanya terbalik, "Praamm.., uugghh.. esshhtt.. akhh.. akkuu.. hampir.., yaahh.. yaahh.. yaahh.. Gilaa..! Enak bangett..! Oouuff.."
Dan rintihan itu tiba-tiba terhenti, tubuh Widya mengejang, sesaat kemudian Widya menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, memeluk leherku kencang dan mulutnya melumat bibirku dengan buas. Akusendiri terkejut, entah apa yang dirasakannya. Yang kurasakan bibirku nyeri dilumat oleh bibirnya, dan entah dari mana tiba-tiba pangkal pahaku terasa basah tersembur cairan hangat yang mungkin dikeluarkan oleh vagina Widya.

"Edan kamu Pram..! Hehh.. ssthh.. uuff.., baru kali ini dalam satu babak Mbak kalah dua kali..! Ntar dulu ya..? Oohh.."
Habis berkata begitu, Widya menciumi pipiku lembut dan mesra, sambil tangannya mengelus rambutku yang sudah acak-acakkan.
Widya menatapku dengan matanya yang sayu, "Kayaknya aku kok mulai sayang kamu ya..? Wah gawat nih Mbak nggak ingin kehilangan kamu.." Widya melanjutkan perkataannya.
Aku hanya menatap Widya dengan pandangan bingung, sementara rudalku masih tetap menancap dengan gagahnya di jepitan lubang kemaluan Widya yang sudah sangat becek itu.

"Mbak.., eengg.. Mbak akhh.. ak.. akuu.., ee..," belum tuntas ucapanku, Widya memotong, "Iya sayang, Mbak tau..! Kamu pingin dikeluarin kan..? Kerasa kok di memek mbak, kontol kamu berdenyut-denyut, hi.. hi.. kaciaann..!"
Habis berkata demikian, Widya kembali menciumi wajahku, lalu menjalar ke arah leher, terus ke belakang telingaku.
"Kasian kamu sayang..! Coba deh rasakan ini..?"
Aku hanya bertanya dalam hati, apa maksud dari perkataan Widya baru saja. Namun kebingunganku hanya beberapa detik, karena terjawab oleh remasan otot-otot di kemaluan Widya yang meremas-remas sekujur batang rudalku.

"Oohh.., Mbakk.. uuffss.. Mbak..! Aduhh.. nikmatnya.." desahku tidak menentu.
Kalau dibiarkan, bisa kacau nih, aku bisa keluar tanpa memberikan perlawanan yang berarti.Tanpa mengeluarkan kemaluanku pada vaginanya, tanpa di diduga oleh Widya, aku merubah posisiku, dimana sekarang aku yang di atas menindih tubuh Widya. Kulihat Widya sedikit terkejut, namun dia hanya tersenyum melihat ulahku.
"Gantian ya Mbak..? Sekarang Mbak istirahat aja menikmati semuanya."
Sambil berkata begitu, aku menaikkan kedua kaki Widya yang jenjang itu ke atas pundakku.
"Adduuhh.., kok kamu tau sih posisi gini..? Posisi kayak gini Mbak paling suka lho..! Ayoo..! Kok diam saja..? Mbak 'emut' lagi lho kontol kamu sama memek Mbak, nih rasain..!" ancamnya.
Benar saja, ancamannya betul-betul di buktikan, kembali kurasakan batang rudalku terasa diremas-remas dengan lembut oleh liang kemaluan Widya.

Memang aku kalah jauh pengalaman di bidang seks, namun dasar sifatku yang tidak mau kalah, aku mencoba mengimbangi permainan hisapan vagina Widya. Perlahan kumulai menggerakkan batang kemaluanku keluar masuk di jepitan bibir vagina Widya yang masih terus mengemut batang kemaluanku. Dari gerakan perlahan, aku mencoba menaikkan tempo, semakin cepat rudalku menggelosor maju mundur pada lubang kemaluan Widya. Semakin lama denyutan bibir kemaluan Widya terasa melemah, seiring desahan nafasnya semakin keras terdengar menebar nafsu birahi.
"Iyyaa..! Terus..! Yaahh gituu..! Aduuhh Pramm..! Enak banget..! Terus tambah kenceng..!"
Disela-sela rintihan Widya, aku mendengar kecipak air lendir di setiap hantaman batangkemaluanku yang merojok-rojok seisi relung-relung liang vagina Widya.

Posisi kaki Widya sekarang menjepit punggungku yang otomatis ikut naik turun seirama gerakan naik turunnya pinggulku.
"Oouuhh.., Mbakk..! Aku baru merasakan enaknya ML ya Mbak..? Aduuhh.. enakk.. tenan Mbak..!" aku yang memang baru merasakan nimatnya bersetubuh dengan seorang wanita, benar-benarmerasakan nikmatnya surga duniawi ini.
Detik demi detik tidak kulewatkan, kuresapi betul phenomena ini dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
"Pramm.., uuff.. sstt.. Pram.. oohh.., aduhh Gusti..! Adduuhh.. gawat..! Mbak mau.. uuffsshhtt.., Mbak mau keluarr.., yaahh.. teruss..! Dikit lagi.., yaahh.. yaahh.. eesshhtt.. esshh.. aahh..!" terlihat mata Widya membuka lebar, namun yang terlihat hanya putihnya saja, entah dimana pupil hitam di matanya itu, pelukannya tambah erat, dan jepitan kedua kakinya tambah kuat menjepit pinggulku yang semakin cepat menghantam selangkangannya.

Beberapa detik kemudian, kembali kemaluan Widya berdenyut-denyut yang menandakan dia kembali meraih orgasmenya yang ketiga kali. Sedang aku entah dikarenakan denyutan liang kemaluan Widya atau apa, sesaat lagi seperti akan memuntahkan semua isi dari batang rudalku. Benar saja, kenikmatan yang kurasakan itu seperti merambat naik ke puncak dan terpusat pada batang kemaluanku.
"Ooouuhh.., Mbak.., adduuhh.. Mbaakk..! Yaahh.. oouuhh Godd..!" terasa ada aliran pada batang rudalku menuju ujung di kepala kemaluanku, dan, "Sreett.. serr.. sseerr.." entah berapa kali air maniku menyembur dari pucuk kemaluanku menyerbu masuk dan membasahi setiap relung pada dinding kemaluan di seantero lubang kemaluan Widya.

Beberapa menit kemudian, "Mbaakk.., hilang deh perjakaku diambil Mbak Widya..!" aku pura-pura merengek di depannya, sementara batang kemaluanku masih menancap pada lubang vagina Widya.
"Iya deh maaf yaa..? Kamu menyesal..?" Widya menyahut sambil mengecup pipiku dengan perasaan sayang.
Aku hanya menggeleng, lalu disambungnya lagi, "Pram, Mbak serius lho, kayaknya Mbak ada perasaan sayang deh sama kamu. Kepolosan dan kejujuran kamu itu yang membuat Mbak suka kamu. Tadinya Mbak hanya mau membalas perlakuan pacar Mbak itu, tapi kok rasanya malah memang Mbak sayang kamu. Lagian kejantanan kamu jauh di atas dia, Mbak sampai kepayahan menahan gempuran kamu. Kamu tau kan Mbak tadi orgasme sampai tiga kali..?"

Aku mengangguk, "Iya Mbak, aku tahu, Mbak tadi keluarin lendir tiga kali, pertama pakai mulutku, yang kedua dan ketiga pakai si 'Adek'..!"
Aku mengibaratkan batang rudalku dengan sebutan 'Adek'. Mbak Widya tersenyum mendengar perkataanku tadi, "Hemm.., boleh juga tuh, nama kesayangan kontol kamu 'Adek' aja ya..? Iya nih, si 'Adek' bikin Mbak dehidrasi, kekurangan cairan tubuh..!"
Terasa batang rudalku berangsur lemas, dan tidak lama kemudian tercabut dengan sendirinya dari segala kehangatan dan kebasahan pada liang surga milik Mbak Widya ini. Kulihat cairan maniku tumpah kembali keluar bercampur dengan lendir milik Mbak Widya. Sekonyong-konyong Mbak Widya menempelkan telapak tangan kanannya di mulut kemaluannya sendiri.

Aku terbengong menyaksikan ulahnya, "Mau ngapain nih orang..?" batinku.
Seperti mengetahui akan kebingunganku, Widya hanya tersenyum, lalu dia berkata, "Pram, mani seorang perjaka konon rasanya sangat lezat, makanya Mbak ingin mencicipi mani kamu. Toh tadi kamu juga udah ngerasain cairan lendirku kan..? Apa salahnya kalau Mbak juga ingin merasakan dan mencicipi sperma kamu..?"
Setelah dirasa cukup, Widya menarik tangannya yang tadi menutupi selangkangannya, terlihat di telapak tangannya penuh dengan cairan spermaku. Tanpa ragu-ragu cairan sperma di telapak tangannya dibawa ke depan mulutnya dan langsung direguk perlahan, sambil dikecap terlebih dahulu dengan matanya sedikit terpejam, seolah Widya sedang menikmati sebuah minuman terlezat yang pernah dirasakannya.

Diseruput sedikit demi sedikit sampai akhirnya cairan sperma itu habis. Seperti tidak puas, telapak tangannya dijilat seolah tidak rela ada sisa spermaku yang tertinggal di telapak tangannya.
Aku tertegun dan meringis dengan semua ulah Widya, "Nggak jijik toh Mbak..? Apa sih rasanya, kayaknya kok sampai segitunya..?"
Widya langsung menyahut ucapanku, "Lho kamu sendiri tadi apa nggak jijik menghisap habis lendir Mbak..? Hayo..? Air mani kamu bener-bener lezat, gurih nggak seperti air mani pacar Mbak, bau..! Kalau lagi berkencan dengan dia terus sperma dia keluar, Mbak sampai muntah. Gimana ya..? Sperma kamu bener-bener putih dan bersih, Mbak suka banget dengan sperma kamu, bikin Mbak ketagihan deh kayaknya."
Kemudian kami membersihkan diri dan kulihat jam sudah menunjukkan pukul 05:00 dini hari. Sambil berpelukan, kami pun terlelap bersama.

Demikianlah, setelah itu kami masih sering mengulangi perbuatan itu pada beberapa kesempatan, sampai akhirnya Widya kembali ke pacarnya yang dulu dan kudengar mereka akhirnya menikah. Kalau diingat kembali, aku hanya tersenyum sendiri dengan pengalaman pertamaku bersetubuh dengan seorang wanita. Ya, dengan Widya lah pertama kali kurasakan nikmatnya tubuh wanita dan yang merenggut keperjakaanku.

Tamat


Gara-gara Motor

Posted: 07 Dec 2007 11:46 PM CST

Sebut saja saya Andi.., sekarang saya sudah 25 tahun dan bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Saya sudah mempunyai seorang kekasih yang cantik dan baik. Sebut saja Rini, Dia adalah salah satu teman sekelasku waktu aku SMU, setelah lulus SMU, tiga tahun kami tidak bertemu hingga akhirnya aku mendapatkan momor HP-nya dari salah satu temannya yang kebetulan aku bertemu dengannya di Mall.

Pertama kali bertemu, dia langsung menunjukkan sikap yang bersahabat dan cepat akrab (padahal waktu SMU menegur pun tidak), aku termasuk tipikal yang pendiam, begitu juga dia. Wajar saja kalau SMU dulu kami cuma bertegur sapa dengan sekedar mengangkat alis. Namun saat berjumpa dengannya kembali setelah aku sempat berbicara dengannya melalui HP, membuyarkan bayanganku akan dirinya ketika masih SMU. Dia semakin cantik dan banyak bicara alias bawel.

Singkat cerita aku beranikan diri untuk mengungkapkan rasa cintaku dan ternyata diterima.., dan aku dapat mencumbunya ketika hubungan kami sudah berjalan empat minggu! Hubunganku dengan keluarganya pun lancar-lancar aja, ayah dan ibunya begitu menyenangkan namun tidak mau dibilang gaul. Pacarku punya satu orang kakak perempuan yang sudah berumur 27 tahun bernama Rita (samaran) dan Riri (samaran) adik perempuannya berusia 18 tahun. Kakaknya bekerja sebagai pramuniaga di salah satu supermarket di Jakarta, belum menikah tapi sudah punya pacar serta adiknya masih kelas tiga SMU.

Aku mencintai pacarku dan mengaguminya namun harus aku akui bahwa kakak dan adik dari pacarku ini mempunyai nilai lebih dari segi fisik dibandingkan pacarku. Dalam kamus berpacaranku tidak ada malam minggu karena kapanpun aku kangen aku bisa ke rumahnya. Hingga suatu saat dimalam sabtu ketika aku selesai ngapel dirumahnya, aku tidak bisa pulang sebab sepeda motor milikku satu-satunya tali gasnya putus saat mau dipinjam oleh ayah pacarku.

Karena sudah jam 11 malam, tidak mungkin ada bengkel motor yang masih buka sedangkan aku cuma bisa mengendarai saja tidak bisa servis, akhirnya aku menginap dan tidur di ruang tamu. Sebelum tidur aku sempat dimanja oleh kekasihku Rini, kami sempat bercumbu cukup lama, karena merasa semua sudah tertidur lelap (waktu itu jam 24.00), aku mencium seluruh wajahnya hingga kulumat habis bibirnya.

Aku adalah orang pertama yang dapat mencium dan menyentuhnya, hingga aku dapat merasakan bahwa dia tidak dapat mengontrol dirinya ketika aku cium maupun aku sentuh. Rini langsung menjambak rambutku dan mendesah agak keras ketika tanganku meremas payudaranya. Aku semakin berani membuka semua bajunya dan juga melepas bra-nya hingga aku dapat menghisap kedua puting susunya. Hingga ketika aku turunkan celana tidurnya dan dia diam saja aku semakin berani dan menjadi-jadi.

Namun rupanya dia akhirnya mencegah perbuatanku lebih jauh ketika CD nya sudah kulepas dan aku sedang menyentuh vaginanya dia langsung tersentak dan berkata bahwa ini belum saatnya. Akupun mengerti dan merapikan kembali pakaianku begitu juga dia. Namun ketika aku terjaga dari tidur aku agak kaget karena ada seseorang yang sedang tidur persis dibawah sofa tempat aku tidur. Karena lampu dimatikan aku tidak jelas mengenali siapa yang tidur tersebut. Karena masih sangat ngantuk aku tidak peduli siapakah yang tidur tersebut.

Hingga ketika aku tertidur dan kembali terjaga, tanganku tidak sengaja jatuh ke bawah dan menyentuh gundukan payudara yang pastinya bukan punya Rini pacarku. Aku pun akhirnya tahu bahwa yang tidur itu adalah Riri adik Rini. Fantasiku melayang untuk mencoba merasakan paling tidak dapat menyentuh tubuh seksi ABG. Riri memiliki tinggi badan 175 cm, dengan lekuk tubuh dan ukuran payudara yang menurutku sangat sempurna.

Namun niat itu sempat aku urungkan mengingat dia adalah adik dari pacarku yang sangat aku cintai. Namun ternyata setan yang membisikiku lebih kuat dari imanku. Aku tidak mengerti mengapa dia sampai bisa tidur di ruang tamu dan di bawah sofaku pula. Aku berfikir mungkin biasanya dia memang tidur di sini kalau sedang tidak ingin tidur di kamarnya. Karena Rini pernah cerita kalau dia sedang tidak ingin tidur di kamarnya dia bisa tidur di mana saja, dan paling sering tidur di kamar kakaknya atau adiknya, begitu juga kakak dan adiknya sering tidur di mana saja.

Kembali ke urusan "arus bawah" yang tidak bisa kompromi lagi karena ternyata si Riri tidak menggunakan bra. Riri menggunakan daster dengan tali di kedua bahunya. Aku turunkan tanganku pelan-pelan supaya tidak membangunkan dia. Dari atas baju dasternya aku remas payudaranya, aku pelintir puting susunya, lalu aku pura-pura tidur karena dia bergerak.

Ternyata dia hanya pindah posisi tidur kali ini kakinya agak naik ke atas hingga bawahan dari dasternya turun sampai ke pangkal paha. Perhatianku teralihkan kebawah, gundukan bukit kecil didepan mataku itu benar-benar membakar gairahku sementara tangan kiriku mencoba melepas salah satu tali dasternya sementara tangan kananku mengusap-usap bagian atas celana dalamnya yang sudah terlihat semua.

Tali daster sebelah kanan berhasil aku lepas, dan akhirnya akupun berhasil menggeser bagian tengah celana dalamnya hingga terpampang vagina yang agak gelap karena lampu masih mati. Tangan kiriku menyusup dari bagian atas dasternya hingga aku dapat mempermainkan puting susunya dengan bebas, setan mana yang sudah merasuki aku hingga jari tengahku aku masukkan ke dalam vagina Riri.

Riri terbangun, aku tersentak kaget. Dia juga tampak kaget, namun aku coba kuasai keadaan, aku berpura-pura bertanya kepadanya..

"Ri, kamu kok tidur di sini?, Bang Andi mau bangunin kamu suruh pindah ke kamar kamu eh malah kamu bangun duluan jadi kaget Bang Andi", aku coba meyakinkannya.

Dengan dada berdegup kencang aku coba menanti apa yang akan diucapkan olehnya.

"Di kamar Riri gerah Bang, kipas anginnya rusak, dikamar kakak gak ada kipas anginnya abis Kak Rita ama Kak Rini kan alergi dingin, ya udah Riri tidur di sini, ganggu Bang andi ya?" Riri balik tanya padaku.
"Ah nggak, ya udah tidur aja lagi" jawabku.
Padahal dalam hatiku aku berkata, "Kamu pasti akan 'mengganggu' siapa saja lelaki yang melihat kamu tidur seperti itu".

Aku menyuruh Riri tidur di atas sofa dan biar aku yang dibawah, dan dia pun menurut. Aku sedikit tenang dan berharap dia tidak menyadari apa yang baru aku lakukan terhadapnya dan aku berharap hari cepat pagi, agar pikiranku tidak terganggu oleh Riri.

Ketika itu jam menunjukkan pukul 02.30 pagi dan ketika aku baru akan tidur tiba-tiba aku terkejut oleh pertanyaan Riri yang sambil berbisik kepadaku, "Bang Andi tadi megang (maaf) memek Riri ya?".

"Ah.. Ng.. Ng.. Gak kok" jawabku gugup.
"Yang benar Bang Andi, soalnya tadi pas bangun Riri ngerasa ada yang enak di (sekali lagi maaf) memek Riri juga sedikit sakit, pasti abis dipegang Bang Andi" Tanyanya lagi.
"Kamu kok ngawur Ri, udah tidur sana" aku coba kuasai diri.
"Bang Andi, Riri nggak bilang deh sama siapa-siapa tapi Riri pengen liat dan pegang (maaf) kontolnya Bang Andi, biar impas" Seloroh Riri.

Aku kaget dan tidak tahu harus bagaimana namun yang pasti kontan saja "burungku" berdiri dengan tegaknya seperti mendengar ada yang memanggilnya. Riri terus bicara dan bercerita bahwa tiga teman akrabnya disekolah semuanya sudah pernah lihat dan pegang "burung" pacarnya, sedangkan Riri tidak punya pacar. Setelah Riri sedikit memaksa setelah aku sempat menolaknya, akhirnya aku keluarkan "saudara kembarku" di hadapan adik pacarku! Kami berbicara sambil bisik-bisik karena takut ada yang terbangun, Riri dengan kagum memperhatikan dan menggenggam "Si Otong", Riri menyebutnya.

"Otongnya gede banget Bang", bisik Riri.

Aku tersanjung dengan perkataannya, Riri kembali bertanya, "segede gini emangnya bisa masuk ke memek Riri".

Aku tersenyum dengan perkataan itu dan aku menjawab diplomatis sambil menahan pusing karena si otong tersebut terus di usap-usap oleh Riri.

"Coba aja diukur dari luar, maksud Bang Andi coba ditempelin di memek Riri kira-kira masuk gak?", pintaku sambil berbisik, ternyata dia meresponnya lalu dia membuka CD-nya dan minta aku berjanji hanya menempelkannya.

Ketika aku tempelkan burungku ke vaginanya aku terus usap kepala burungku persis di klitorisnya hingga di mendesis nikmat. Aku beranikan diri untuk melepas tali dasternya dan menjilati puting susunya, pada saat itu aku tidak meminta izin lagi kepada Riri namun tampaknya dia menikmatinya hingga tanpa aku sadari burungku kutancapkan sekerasnya ke dalam Vagina Riri hingga Riri hampir berteriak namun aku coba menutup mulutnya.

Riri kesakitan, akupun sempat bingung dan takut, namun karena sudah terjadi aku harus selesaikan semuanya, sambil aku tutup mulutnya karena ia masih ingin berteriak, aku goyangkan pinggulku kedepan dan belakang berulang kali (posisiku setengah berdiri di atas sofa dan Riri tidur di atas sofa).

Setelah yakin Riri tidak merasakan sakit lagi aku lepas tanganku dari mulutnya dan aku goyangkan sekuatnya pinggangku hingga nafasku dan Riri tersengal-sengal dan.. Akhirnya tanpa dapat dikontrol spermaku tersembur di dalam vagina Riri. Ketika aku cabut "punyaku" terlihat bahwa "si otong" telah berlumuran darah, darah perawan Riri.

Sesaat aku setelah itu Riri berbisik, "Enak Bang Andi".

Namun aku langsung suruh ia berpakaian karena takut ada yang melihat. Aku dan Riri bersepakat untuk merahasiakan ini, karena kami sama-sama mencintai seseorang yang juga telah kami lukai hatinya jika sampai ia tahu apa yang telah kami lakukan. Orang itu adalah Rini kekasihku.

Perlu pembaca ketahui sesungguhnya Kini aku benar-benar jatuh cinta pada Riri, namun aku tak ingin mengecewakan Rini. Dan aku pernah mengungkapkan ini kepada Riri, namun ia bilang bahwa dia tidak menginginkan cintaku, walaupun dia telah menyerahkan kehormatanya kepadaku, dia berkata bahwa kebahagiaan kakaknya lebih berarti baginya.

Namun semakin lama aku tak bisa membohongi diri bahwa aku tidak memiliki rasa cinta kepada Rini. Setiap ada kesempatan di rumahnya entah itu dengan alasan menunggu Rini dan lain hal, aku dan Riri selalu menyempatkan diri untuk bercumbu atau bahkan bercinta sekalian. Dan itu tetap menjadi rahasia kami sampai saat ini.

Tamat


Gita Tidak Takut

Posted: 07 Dec 2007 11:42 PM CST

Di hari pertamaku masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tidak ada yang aku kenal satupun, sehingga aku seperti orang nyasar, bingung celingak-celinguk kesana kemari.
Sewaktu sedang bingung-bingungnya tiba-tiba ada cewek yang menegurku, "Eh, tau kelas MI1-3 nggak?".
Eeiittss.., ternyata aku juga cari kelas itu.., lalu aku jawab, "mm.., saya juga tidak tahu, mendingan cari sama-sama yuk".
"Saya Gita" dia sebut namanya duluan.
"Aku Iwan", aku sebut namaku juga, di situlah aku mulai punya teman bernama Gita. Cewek manis ini mempunyai kulit kuning langsat, nyaris tanpa cacat, tinggi badan kira-kira 166 cm, dengan berat 49 Kg. Tapi yang bikin aku tidak bosan melihatnya adalah dadanya yang menantang, cukup besar untuk ukurannya, tapi tidak terlalu besar sekali. Begitu pula dengan pantatnya, aku paling suka jika dia memakai jeans ketat, dengan kaos oblong warna putih. Kadang jika ia bercanda, ngomongnya nyerempet-nyerempet porno terus, walaupun sekali-sekali saja.

Tiga bulan sudah lamanya aku dekat dengannya, jalan kemanapun selalu bersama, walaupun dia belum resmi jadi pacarku, tetapi aku dan dia selalu berdua kemanapun. Sampai akhirnya aku dan dia pergi jalan-jalan ke daerah Dieng, salah satu daerah dingin di Jawa Tengah, niatnya cuma jalan-jalan saja, tidak menginap. Entah kenapa hari ini dia mengajakku bercanda yang berbau porno terus, dari pagi hingga siang hari.
Sampai akhirnya ia bertanya begini, "Wan, kalau kamu punya istri suka yang buah dadanya besar atau sedeng-sedeng saja?".
Lalu aku jawab "Mm.., yang kayak apa ya?, kayaknya aku suka yang seperti punya kamu itu lho".
"Lho emang kamu pernah liat punyaku?", tanya dia.
Aku bilang "Gimana mau liat, orang kamunya ajah nggak pernah kasih kesempatan.., heheheh".
Dia tanya lagi sambil bercanda, "Kalo aku kasih kesempatan gimana?".
Aku jawab, "Yaa.., nggak aku sia-sia'in".
"Emang berani?", tantang Gita.
"Siapa takut..", jawabku tidak mau kalah.
"Kalo gitu bukti'in!", kata Gita.
"Oke.., kita cari losmen sekarang.., gimana?", tantangku gantian.
"Siapa takut..", jawabnya tidak mau kalah juga.

Jujur saja aku masih berfikir bahwa ini cuma bercanda saja, sampai tiba-tiba di depan sebuah losmen, dia berkata, "Wan, disini ajah.., kayaknya losmennya bagus tuh".
"Deg!!", jantungku terasa berhenti. Dengan ragu-ragu kuarahkan mobilku masuk ke halaman losmen tersebut. Aku masih diam dan setengah tidak percaya.
Terus dia berkata, "Kamu angkat tas-tas kita, aku yang check in.., OK?".
Seperti babu kepada majikannya, aku ikuti kata-katanya dan mengikuti langkahnya masuk ke losmen.

Masuk ke kamar losmen langsung kita tutup dan kunci pintunya, aku masih terdiam terus duduk di atas kasur sampai dia berkata, "OK, sekarang aku kasih kamu kesempatan liat dadaku, tapi jangan macem-macem yaa?".
Tiba-tiba saja Gita menarik kaosnya ke atas, dan langsung melemparkan ke atas tempat tidur. Lalu dia terdiam sambil menatapku yang juga terdiam, walaupun sebenarnya aku sedang terpana. Beberapa saat dia arahkan tangan kanannya ke pundak kirinya, digesernya tali BH-nya jatuh ke lengan. lalu gantian tangan kirinya ke pundak kanan melakukan hal yang sama.

Lalu tangan kanannya diarahkan ke punggung, tetapi tangan kirinya masih memegangi BH bagian depannya. Oh God.., Nafasku terasa berhenti di tenggorokanku.., BH-nya telah terlepas, tetapi masih ditahan bagian depannya oleh tangan kirinya. Gita terus memandangiku. Gita menggigit bibir bagian bawahnya.
Tiba-tiba ia berkata, "Aku nggak akan lepas ini, jika kamu nggak buka pakaianmu semuanya"
Aku ragu-ragu.., tetapi nafasku sudah tidak bisa diatur lagi.., aku buka kaosku.., aku buka jeansku.., lalu aku berhenti, tinggal celana dalam yang aku kenakan.., gantian aku yang menantang, "Aku nggak akan buka ini, jika kamu nggak lepas itu sekarang"
Gita diam sejenak lalu dia turunkan perlahan tangan kirinya dan akhirnya terlihat jelas buah dadanya yang kuning langsat dan benar-benar menantang. Belum sempat aku rampung menikmati pemandangan ini, tiba-tiba ia melompat ke arahku dan mendorongku telentang di kasur, dengan cepat dia mencium bibirku. Aku yang masih kaget akan serangan mendadak ini tidak menyia-nyiakannya, kami saling berciuman, saling melumat bibir, "uugghh.., oohh..", hanya kata itu yang Gita keluarkan.

Tiba-tiba saja di berdiri, dalam 5 detik celana jeansnya sudah terlepas. Kami sama-sama hanya memakai celana dalam saja, saling pandang tetapi itu hanya berlangsung 6 detik, dengan cepat ia menarik celana dalamku kebawah dan melepasnya. Gita tersenyum dan sedikit tertawa, aku tak tahu dia senang melihat punyaku atau menertawai punyaku?
Akupun tidak mau kalah, kutarik perlahan-lahan celana dalamnya sedikit demi sedikit, ternyata Gita sudah tidak sabar lalu dia tarik sendiri celana dalamnya dan melemparnya ke belakang, belum sempat celana dalamnya menyentuh lantai bibirnya sudah melumat bibirku, "oohh..", kami sekarang benar-benar telanjang bulat. Gita mulai mencium leherku tapi itu tidak lama karena aku keburu membalik badanku. Sekarang gantian ia yang telentang di kasur. Pemandangan yang indah sekali tetapi kali ini aku tidak mau lama-lama memandang, langsung aku berada diatasnya, kedua tangannya sudah kupegang dan tahan di samping kiri-kanan kepalanya. Aku ciumi lehernya, bibir, leher lagi. "Hhmmhh.., uugghh.., sstt", cuma itu yang dia katakan.

Ciumanku sudah 'bosan' di leher. Aku mulai turun. Melihat gerakanku itu, tiba-tiba dia mengangkat dadanya. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku langsung ciumi buah dadanya sebelah kiri, sedang tangan kananku mengelus-elus buah dadanya yang kanan. Kali ini tangan kirinya sudah memegang kepalaku. "sstt.., hh.., sstt..", mulutnya berdesis seperti ular.
Dia menarik rambutku dan kepalaku dan mengarahkan kepalaku ke buah dadanya sebelah kanan. Dengan sekuat tenaga ia tekan kepalaku ke dadanya. "Gigit.., gigit.., Wan.., sst". Lalu dengan gigiku aku mulai mengigit-gigit sedikit puting susunya, kiri-kanan, kiri-kanan selalu bergantian dan adil. Sementara dari mulut Gita terus keluar kata, "Teruuss.., teruuss.., yang keras.., aahh.., gigit Wan.., gghh.., sstt".
Sementara punyaku sudah tegang keras. Kepalaku mulai turun lagi tetapi tiba-tiba ia berteriak kecil, "Wan.., Iwan.., uugghh.., sekarang ajjaah.., masuk'iin.., nggak usah pake mulut lagi.., masukin sekaraanng.., plizz..".

Aku langsung di dorongnya. Sekarang ganti posisi, aku yang telentang dan Gita berada di atasku. Selangkangannya mencari-cari posisi, walau aku tahu pasti yang dia cari adalah punyaku. Begitu posisinya tepat, Gita mendorongnya dengan kuat. "uugghh..", sedang aku sedikit berteriak, "aahh". Punyaku sudah terbenam di dalam selangkangannya.
Gita terus menggerak-gerakan pinggulnya ke atas, ke bawah, kiri-kanan, naik-turun segala arah gerakan ia lakukan. Matanya terpejam, bibirnya digigit seperti menahan sesuatu, sering dari mulutnya keluar kata-kata, "oohh.., sshhtt.., uugghh.., sshhss.., sshhiitt.., aacchh.., oouuhh..", nafasnya tidak lagi teratur.
Kedua tangannya meremas-remas buah dadanya sendiri, kepalanya sering menengadah ke atas, "uugghh.., oohh.., sshhsstt". Sedangkan aku hanya sanggup meremas sprei di kiri dan kananku dengan kedua tanganku. Gigi atas dan gigi bawahku sudah saling menekan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku hanya suara nafasku saja yang terdengar.
Kali ini aku yang mengambil alih "kekuasannya" gantian kudorong tapi dia malah tengkurap, melihat pantatnya yang putih mulus. Aku jadi tambah bernafsu untuk segera memasukkan punyaku ke punyanya.
Aku angkat pinggulnya dan Gitapun mengangkat badannya dengan kedua tangan dan kakinya. Sekarang posisinya seperti mau merangkak. Langsung tanpa tunggu waktu lagi aku mencoba memasukan "adikku" ke lubang vaginanya.
"Mmaasuukkiinn.., ceeppeett..", Gita memohon kepadaku tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya punyaku sudah masuk ke vaginanya. "oohh..", dari mulutku keluar kata tersebut. Dengan semangat aku mulai mendorong ke depan, menarik, mendorong, menarik terus menerus seiring dengan gerakanku. Gerakannyapun berlawanan dengan gerakanku, setiap aku mendorong ke depan ia mendorong pantatnya ke arahku diiringi desahan dan leguhan dari mulutnya. "uugghh.., aahh.., Sshshhss.., oohh.., uugghh..".
Tiba-tiba ia berteriak, "Iwaann.., sshh.., oohh", aku merasakan sesuatu keluar dari dalam lubang kemaluannya tapi, "oohh.., oohh.., aacchh.., Gitt.., aakku..". Akupun merasakan kenikmatan yang tiada bandingannya seiring dengan keluarnya cairan dari dalam punyaku.
"oohh.., uugghh", banyak sekali cairanku keluar.
"Terus Wan.., keluarin semuanya..", pinta Gita.

Tubuhku terasa sudah tidak kuat lagi berdiri. Aku langsung telentang di kasur, sedangkan Gita langsung memelukku dan menaruh kepalanya di dadaku.
"Gita sayang sama Iwan", hanya itu yang keluar dari mulutnya, lalu matanya terpejam sambil terus memelukku.
"Iwan juga sayang sama Gita", kataku.
Akhirnya sejak itu aku dan Gita resmi pacaran.

Tamat


Hadiah Ulang Tahun

Posted: 07 Dec 2007 11:42 PM CST

Pada suatu hari, Juma't sore tepatnya, ketika aku sedang mengemudi menuju rumah sepulang dari kantor, aku seperti kehilangan sesuatu. Gimana nggak? Hari ini sebenarnya ulang tahunku dan aku ingin week-end di Puncak sama pacarku, Sarah, tapi apa boleh buat, si do'i lagi pergi ke Singapura mengantarkan Omanya berobat. Kalau dia lagi di sini, aku yakin dia pasti kasih aku hadiah yang tak terlupakan.. vaginanya!

Tengah-tengahnya aku melamun, kebetulan aku lagi kejebak macet di daerah Blok M, aku di klakson sama mobil merah di belakang mobilku. Kulihat di kaca spion, Starlet merah ini berusaha banget melewatiku, yang nyetir perempuan pakai kacamata Rayban. Dasarnya macet, bagaimana caranya kasih dia jalan, terus iseng-iseng kuperhatikan lewat kaca spion, ternyata perempuan itu cakep juga. Waktu ada kesempatan akhirnya aku kasih dia lewat, eh ternyata bukannya melewatiku malah dia membarengiku, terus dia buka kaca jendelanya dan dia meneriaki aku supaya mengikuti dia. Dengan tanda tanya, aku ikuti saja itu cewek, kepingin tahu apa maunya tuh cewek. Dia menuju ke daerah Pondok Indah, setelah beberapa kali melewati perempatan, akhirnya dia memasukan mobilnya ke dalam garasi sebuah rumah besar dan memberi kode ke aku supaya parkir mobilku di garasi itu juga.

Sambil ragu-ragu, aku turun dari mobil dan dia bilang, "Ayo, masuk!" Sambil jalan ke pintu ruang tamu, kuperhatikan tuh cewek, perawakan nggak terlalu tinggi tapi dari lekuk kaosnya, aku tahu kalau dia punya payudara yang cukup besar, pantatnya nggak terlalu besar tapi bentuknya bagus, terus betisnya jenjang dan putih mulus. Akhirnya dia membuka kacamatanya, dan aku terpana melihat matanya yang berbinar-binar "menjanjikan" demikian juga bibirnya, lehernya yang indah tertutup rambutnya yang sebahu.

Setelah dia menutup pintu, tiba-tiba dia memelukku dan kasih aku ciuman yang hot, lidahnya terasa masuk ke mulutku dan memainkan lidahku. Dadaku pun terasa bertumbukan dengan dua payudara yang kenyal, mau nggak mau penisku berdiri juga akhirnya. Sambil menciumiku, tangannya membuka retsleting celanaku dan dia masukan tangannya ke celanaku, nggak berapa lama penisku sudah di remas-remas tangan yang halus itu. Aku juga nggak mau kalah agresif, aku buka kaitan BH di punggungnya dan tanganku mulai meremas-remas payudaranya. Kurang lebih 10 menit kita main-main, dia melepaskan ciumannya dan menarikku ke sebuah kamar tidur. Dengan setengah bingung, aku tanya dia, "Sebenernya kamu siapa sih?" Eh, si dia malah kasih kode supaya aku nggak banyak suara.

Di dalam kamar tidur, dia nanya aku, "Andre, kita mandi dulu yuk, aku kepanasan nih!" Terus sambil mengecup dan menciumku, dia mulai melepaskan kancing-kancing hem-ku dan aku juga nggak mau kalah, aku bukakan kaos dan BH-nya. Ternyata aku nggak salah, payudaranya benar-benar bagus, berdiri tegak dan putingnya berwarna coklat muda. Membuat aku jadi lupa daratan dan langsung saja kuremas dan kuhisap putingnya, dia menggelinjang-gelinjang keenakan. Akhirnya dia berhasil membuka hem-ku dan terus membukakan celanaku, sepatu dan kaos kakiku akhirnya juga dilepaskan. Setelah itu, kubuka rok mininya dan kupeloroti celana dalamnya. Aku lihat bibir vaginanya yang menonjol ditutupi oleh bulu kemaluan yang masih tipis. Sesudah itu dia juga meloroti celana dalamku, dan sekarang dia lihat penis 16 cm punyaku yang sudah tegang. "Ndre, aku harus ngerasain penis lu nih!" sambil ngomong gitu dia narik aku ke kamar mandi.

Di kamar mandi, waktu menyabuni badanku, dia juga nggak lupa meremas-remas penisku dan makin membuatku bernafsu. Waktu giliranku, aku sabuni itu payudaranya sambil kuremas-remas sedikit, sudah itu kucium dan peluk dia sambil kusabuni punggungnya dan yang terakhir kuelus-elus bibir vaginanya pakai sabun dan dia mulai merintih-rintih karena birahinya mulai naik. Akhirnya dia menyalakan shower dan kita membilas badan pakai air yang sejuk itu. Sesudah itu dia pingin mengeringi badannya pakai handuk, tapi aku sudah nggak sabar dan langsung saja dia kugendong ke tempat tidur dan dia nggak menolak malah mencium dan memelukku erat-erat, soalnya dia juga takut jatuh.

Kubaringkan dia di ranjang dan aku mulai menciumi bibir dan lehernya, aku juga nggak lupa meremas-remas payudaranya yang mulai tegang. Sesudah itu, aku turun buat menciumi payudara dan belahan dadanya, sementara itu jari manisku masuk ke vaginanya dan mulai memainkan clitorisnya, dia cuma bisa mendesah-desah dan menggelinjang nikmat. Setelah beberapa saat, dia bilang ke aku supaya bikin posisi 69. Sekarang dia menggenggam penisku dan mulai menjilatinya, setelah itu penisku mulai dikulum dan dihisap, gerakan lidah dan mulutnya benar-benar merangsang birahiku. Aku juga nggak mau ketinggalan, aku renggangin pahanya dan sekarang kulihat bibir vaginanya yang menantang itu. Mulanya aku cuma menjilati dan mengecup bibir bawahnya itu, tetapi lama-lama kubuka vaginanya pakai jari-jari tangan kiriku dan aku lihat bibir vaginanya yang dalam berwarna merah muda, dengan nggak sabar kukecup dan hisap bagian itu dan akibatnya dia menggelinjang dengan gerakan-gerakan yang sensual tapi nggak ada suara yang keluar karena penisku masih ada dalam mulutnya. Sambil terus kukecup dan jilatin vaginanya, aku masukan jari tengahku ke vaginanya buat merangsang clitorisnya, dan aku merasakan liang vaginanya hangat dan mulai basah. Akhirnya jariku menemui clitorisnya dan aku elus-elus, nafsu birahinya makin terangsang sampai-sampai dia menggerakkan pantatnya naik turun dan melepaskan penisku dari mulutnya dan mulai aku denger rintihan penuh birahi dari mulutnya, tapi aku masih cuek dan tetap mainin vaginanya pakai jari dan lidahku. Gerakan pinggulnya makin nggak karuan dan aku juga ngerasain liang vaginanya makin basah.

Akhirnya dia nggak tahan, dan setengah memohon dia bilang, " Ndre, entot aku.. Please!" dan kuputar badanku. Dia benar-benar sudah nggak sabar, selangkangannya sudah terbuka dan memperlihatkan vaginanya yang makin bengkak, sesudah itu kumasukan kepala penisku ke bibir vaginanya, kira-kira cuma 5 cm dari penisku yang masuk. Sementara itu tanganku mulai meremas-remas payudaranya yang makin keras dan aku juga mulai mengisap putingnya yang coklat muda, sesudah itu kugoyang maju mundur penisku dan sengaja nggak kumasukan semuanya. Rupanya dia makin penasaran dan dia bilang, "Ndre, masukin yang dalem dong.. aku pingin ngerasain penis lu di vaginaku." Dan aku jawab, "Ada syaratnya say, pertama nama lu siapa? sudah itu umur lu berapa?" Terus saja dia jawab, "Nama gue Shalny, umur gue 21, kalau lu pingin tahu yang lain lu entot gue dulu deh!" Akhirnya kumasukan penisku dalam, ufh ternyata vaginanya luar biasa, Terus saja kugoyang maju mundur. Pertama kugoyang pelan-pelan, eh si Shalny minta lebih cepat lagi, "Ndre, terus.. teken lebih keras lagi.. ughh, terus Ndre.. teruss, eghh", sudah begitu si Shalny menggerakan pantatnya naik turun seirama dengan goyanganku, akibatnya aku dan dia merasakan nikmat yang luar biasa.

Setelah beberapa lama, kulepaskan penisku dari vaginanya dan kusuruh si Shalny, "Shal, sekarang lu diatas!" Dia menuruti perintahku, terus dia jongkok di atas pinggangku dan penisku di pegang dan diarahkan ke vaginanya, setelah itu dia duduk di selangkanganku dan penisku terbenam lagi di vaginanya yang makin basah. "Ayo Shal, sekarang giliran lu ngentot gue!" sudah itu Shalny mulai menggerakan badannya turun naik, seperti orang naik kuda. Penisku keluar masuk vaginanya dengan gesekan yang luar biasa nikmatnya. Sambil menggerakan badannya turun naik, Shalny mulai meremas-remas payudaranya sendiri sambil mendesah-desah sensual, aku semakin nafsu melihat tampangnya yang cantik itu mulai kelihatan tanda-tanda orgasme. Akhirnya setelah kurang lebih 15 menit diatasku, Shalny setengah menjerit, "Ndre, gue mau keluar nih.. Oohh", dan terasa penisku di basahi cairan, sesudah itu Shalny langsung merebahkan badannya di atas badanku, sementara penisku masih menancap di vaginanya. Dengan sedikit tenaga, aku gulingkan badanku sehingga sekarang dia ada di bawahku lagi.

Aku kecup bibirnya, leher sama kupingnya sambil kuremas pelan-pelan payudaranya. Shalny masih menggeletak lemas di bawahku, setelah aku cumbu beberapa saat dia mulai merespon ciuman-ciumanku. Setelah kutahu dia mulai bernafsu lagi, aku mulai menggoyangkan penisku lagi dan ternyata makin lama Shalny juga makin panas, dia membalas ciuman-ciumanku dengan bernafsu. Sudah itu aku melepaskan pelukannya dan kuambil posisi push-up dan kugoyang pinggulku naik turun, penisku keluar masuk vaginanya dengan goyangan maksimum. Mula-mula kugoyang dengan pelan-pelan dan dia mulai mendesah nikmat, "Achh, Ndre.. cepetin goyangannya dong!" dan aku menurut saja, aku mempercepat goyanganku dan penisku timbul tenggelam di vaginanya yang makin basah. Sementara itu, Shalny tergeletak pasrah di bawahku, tangannya meremas-remas payudaranya yang semakin keras, dari mulutnya yang sensual itu, keluar desahan yang makin lama makin keras, "Emmhh.. ughh.. terus Ndre.. terus.. Uhh.. cepet lagi Ndre.. Aghh." Nggak lama kemudian, badannya mulai mengejang, itu tandanya dia mau orgasme dan makin aku percepat goyanganku. Akhirnya Shalny menjerit lagi, "Ooghh.. Ehhmm", dan badannya makin mengejang, sesudah itu kutindih dia dan aku di peluknya dengan keras tapi aku masih menggoyangkan kejantananku keluar masuk celah kewanitaannya yang benar-benar sudah basah itu. "Ndre.. Ufhh.. Ndre.. udahan dong.. Ehmm", desis Shalny, terus aku bilang, "Bentar lagi Shal!" akhirnya nggak lama aku cabut kejantananku dari liang surgawi-nya, hingga spermaku langsung muncrat keluar dan aku merasakan orgasme yang luar biasa nikmat.

Sesudah itu Shalny menjilati penisku sampai bersih dan memelukku, badannya lemas tapi aku tahu dia baru saja merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sambil kupeluk, aku ciumi dia di kening dan pipinya, aku juga elus-elus punggungnya. Matanya masih terpejam, sepertinya dia benar-benar mendapatkan apa yang diinginkannya.

Nggak lama kemudian, dia melepaskan pelukannya dan bilang, "Ndre, aku harus pergi nih!" sambil memakai bajunya. Terus aku sahut, "OK, thanks ya Shal.. lu benar-benar luar biasa!" dan dia jawab "Elo jangan terima kasih ke aku.. ke Sarah saja, itu tadi hadiah ulang tahun Sarah buat lu!"
"Hah??!" aku cuma bisa bengong saja, aku mesti bales apa nih ke Sarah, cewekku itu?

Akhirnya, aku dan Shalny keluar dari rumah itu, yang ternyata dia pinjam dari temannya khusus buat men-servis aku. Sebelum masuk ke mobilnya, dia berkata, "Pantes si Sarah betah sama lu.. aku akuin lu hebat Ndre!" terus aku balas, "Kalau lu mau lagi, lu kirim e-mail saja ke aku. Dia mengangguk setuju dan melambaikan tangannya.

Tamat


Hadiah Ulang Tahun

Posted: 07 Dec 2007 11:46 PM CST

Sekarang ini usiaku 32 tahun dan sudah berkeluarga. Kisah ini terjadi sewaktu aku baru lulus dari sebuah SMU di kota kembang, namaku Tedy (nama samaran), tinggiku 173 cm dengan berat 55 kilogram dan dengan biasaanku suka bergaul dengan orang yang lebih lebih tua usia dari aku, sehingga dengan kebiasaanku ini seleraku juga dalam urusan wanita menginginkan yang lebih tua usianya.

Seperti biasanya kalau sudah sore hari, kami suka berkumpul di rumah temanku yang sering kami jadikan pos, dirumah itu kadang suka berkumpul pria maupun wanita, seperti biasanya kalau sudah berkumpul yang kami lakukan hanyalah bersenda gurau dan bermain kartu, dan hari itu juga secara kebetulan temanku ada yang berulang tahun (aku lupa hari jadi yang keberapa), kami sedang merencanakan untuk merayakannya. Saking serius kadang di selingi gurauan kami merencanakan hal tersebut tanpa terduga dipintu ruang tamu telah berdiri seorang teman wanita yang bernama Rita dengan seseorang yang kami tidak kenal.

"Halo semua" sahut Rita sambil berjalan mendekati kami.
"Kemana aja Rit" tanya Toni.
"Biasa sibuk kuliah" jawab Rita.
"Aduh kalo punya teman kenalin dong pada kita-kita" teriak Bole.
"Kenalin dong" teriak Heri pula.
"Iya nih" sahut Bole yang hari itu sedang berulang tahun.
Akhirnya temanku mulai berebutan saling bersalam sedangkan aku yang merasa paling muda diantara mereka hanya bisa terdiam memperhatikan tingkah teman-temanku, pada akhir aku kebagian untuk berkenalan.
"Tedi" sahutku.
"Dewi" jawabnya, dalam hatiku montok juga tuh cewek.

Sesudah kami saling berkenalan, kemudian temanku Bole berbisik dengan pelan hampir tidak terdengar "boleh juga", aku tidak menghiraukan karena perhatianku masih tersita oleh sosok yang begitu aduhai.
"Mumpung ada yang berulang tahun bagaimana kalau dirayainnya di pub gimana?" Kata Toni sambil melirik Bole.
"Boleh-boleh saja" Jawab Bole.
"Tapi gue nggak ada pasangan nih" Jawab Boleh kembali.
"Sama Dewi saja" sahut Toni dengan melirik Dewi.
"Gimana Dew" tanya Toni.
"Sok aja" jawab Dewi dengan logat sunda yang kental.
"Nah bereskan, kapan nih kita berangkat tanya toni kembali.
"Terserah" jawab Bole.
"Bagaimana kalo kita berangkat jam 9. 00" sahut Rita.
"Kita berangkat dari rumah Boleh" sahut Rudi dari tadi asyik ngobrol dengan kekasihnya Emma.

Pada jam 9.00 kami mulai berangkat dengan memakai kendaraannya Bole, semua berpasangan kecuali aku dan lagi karena mereka menganggap anak yang paling kecil sehingga aku kebagian duduk pada posisi pojok belakang. Sesampainya di Pub di Jalan Asia Afrika di pusat kota kembang, kami mulai turun dari mobil.
"Gue harus dapatin si Dewi" Bisik Bole.
Akupun hanya membalas dengan tersenyum.
"Nanti kalo didalam kamu rayu aja" sahutku.
"So pasti" jawab Bole.
"pokoknya harus gue dapatin" jawab Bole kembali.

Sesampai didalam Pub tersebut kami mulai mencari tempat duduk yang cukup buat tujuh orang, ternyata dipojok ruangan ada yang kosong, langsung kami tempati. kamipun mulai memesan minuman ringan, tanpa aku sadari Dewi memperhatikan aku terus, sekali-kali aku melirik Dewi ternyata Dewipun demikian, wah.. aku jadi GR nih. Bagaimana manapun aku minder dikarenakan usiaku dengan usia Dewi terpaut sekitar 7 tahun. Sesekali aku tersenyum melihat kelakuan Bole sedang mengeluarkan jurus mautnya untuk merayu Dewi. Tanpa terasa waktu menunjukan jam 12.00, suasana didalam semakin bingar- bingar sehingga posisi duduk kami jadi berubah-ubah, melihat gelagat bakalan tidak berhasil pikirku, Bole mulai merubah taktik kini dia sedang melakukan jurus merayunya terhadap pengunjung lain. Lama kuperhatikan Dewi ternyata dia mulai bergoyang-goyangkan badannya mengikuti irama musik disco.

"Nggak turun" teriak Dewi, teriakannya sama keras dengan suara musik.
Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Melihat jawabanku Dewi mulai menggeserkan badan mendekatiku.
"Kenapa" tanya dewi.
"Nggak bisa" jawabku.
"Bisanya apa dong" tanya Dewi kembali.

Aku hanya tersenyum, makin lama kuperhatikan Dewi yang terus menggoyangkan badannya. aku ikut memberanikan diri untuk menggoyangkan badan sehingga terjadi gesekan antara badanku dengan badan Dewi, karena gesekan tersebut jantung berdetak makin kencang, bisa terangsang nih pikirku. Ternyata goyanganku membuat Dewi makin merapat posisinya dengan menggesek payudara ke lenganku, kupandangi wajah Dewi yang duduk disampingku sambil bergoyang, tiba tiba adikku terbangun dan langsung berdiri seolah-olah ingin mengikuti irama musik, aku berusaha menenangkan adikku tapi tidak berhasil. Sesaat kemudian Dewi berhenti bergoyang dan mulai menatapku tanpaku sengaja aku menghembuskan nafas, tiba tiba saja Dewi langsung menciumi aku seakan-akan melepaskan nafsu yang terpendam, kontan saja aku kaget dan berusaha mengelak karena malu, padahal dalam hatiku kepingin, untunglah suasananya hingar- bingar dan remang-remang.

"Kita ke mobil yuk" ajak Dewi
Akupun hanya bisa mengangguk. Lama aku berciuman didalam mobil sampai nafasku terangah-engah.
"Kita cari tempat yang santai" ajak Dewi kembali.
"Gimana teman-teman yang lain" jawabku.
"Biar Dewi yang ngomong sama Rita" sahut Dewi.
"Alasannya apa? Khan nanti nggak" jawabku.
"Bilang saja mau cari udara segar" sahut Dewi.
Akupun mengiyakannya.

Dewipun meninggalkanku untuk memberitahu Rita, lama aku menunggu tanpa terasa sudah dua batang rokok aku hisap. Barulah Dewi datang.
"Gimana" tanyaku
"Beres" jawab Dewi.
"Mau kemana nih" tanyaku.
"Kemana yah, sudah malem gini enaknya dimana yah" tanya Dewi
"Gimana kalo kita ngobrol di.." kata Dewi tanpa diteruskan omongannya.
"Dimana saja dech yang penting enak" jawabku.
"Penginapan mau?" tanya Dewi, akupun kaget dengan jawaban Dewi langsung saja pikiran mikirin yang bukan-bukan, asyik juga pikirku.

Singkat akhirnya kami berdua telah berada didalam kamar penginapan, aku memang tergolong anak yang pendiam sehingga aku malu untuk memulainya. Dewi hanya menatapku tanpa berkedip, akhirnya dia mulai mendekatiku dan aku tidak tahu harus berbuat bagaimana, kontan saja Dewi mulai mencium bibirku dan aku hanya diam dan pada akhir aku mulai membalas. lama kami saling berciuman dan akhirnya dilepaskannya ciuman tersebut kemudian kami terdiam sejenak saling berpandangan, aku masih berasakan bagaimana jantungku berdetak tidak karuan.

Setelah aku mulai rada tenang tanpa pikir panjang lagi aku mulai memberanikan diri untuk mencium bibir Dewi habis-habisan. Sambil berciuman Dewi mulai membuka kancingnya sendiri, kemudian akupun membantunya membuka pengait tali BH. akhirnya terlihat gundukan payudaranya dengan lahap aku remas payudara dara tersebut yang tampak mulai mengeras, perlahan-lahan mulutku mulai turun kebawah, mulai aku menyedot putingnya, tanpa sadar aku memegang kemaluanku sendiri yang sedari tadi sudah mengeras.

Tanpa pikir lagi aku rebahkan tubuh Dewi yang bertelanjang dada ke kasur, kuciumi payudara Dewi sambil tangan mulai mengerayangi selangkannya mencari resliting celana panjang tanpa aba-aba lagi aku langsung membuka resliting tersebut, pas aku akan mulai menyusupkan tanganku kedalam celana dalamnya Dewi dengan cekatan meraih tangan dan membawanya ke payudaranya.
"Kenapa?" tanyaku dengan perasaan aneh dan nafsu birahi yang menggebu-gebu.
"Nggak apa-apa" sahut Dewi dengan tersenyum.

Dengan cepat aku membuka celana panjangku sendiri yang dari tadi menghalangi gerak kemaluanku, Dewipun melakukan yang sama dengan membelakangiku, aku berpikir mungkin dia malu. Perlahan-lahan Dewi mulai membalik dengan kedua telapak tangan memegang wajahku dan menariknya kewajahnya kami mulai berciuman kembali dengan hati-hati Dewi merebahkan dirinya tanpa melepaskan ciumannya, akupun mengikutinya. Dengan keadaan tersebut Dewi menggapai kemaluanku dan membimbing untuk memasuki lubang kenikmatan, akhirnya kudorong kemaluanku, aku kaget pas tiap kali aku tekan pantatku, aku merasakan sakit seperti tertusuk jenggot yang habis dicukur, akhirnya tanpa kupedulikan rasa tersebut aku genjot pantatku naik turun sedangkan Dewi hanya naik-turun menggoyangkan pantatnya, Dewi mendesah kenikmatan karena genjotanku, lama kami pada posisi tersebut, akhirnya Dewi minta diatas sambil menduduki kemaluanku Dewi mulai menggenjot maju mundur, aku mulai merasakan apa yang dari tadi aku rasakan tapi rasa sakit itu masih bisa terobati dengan kenikmatan yang diberikan oleh vagina Dewi. Tidak terasa kemaluanku sudah berdenyut-denyut dengan cepat.

Dengan cepat kukeluarkan kemaluanku dari lubang kemaluannya dan kusemburkan spermaku di atas perutnya, karena aku takut kalau aku keluarkan didalam vaginanya dia akan hamil. Aku baru sekali ini melakukan berhubungan sex. Sejenak aku berbaring sambil melamun apa yang telah baru kami lakukan dan terlintas dalam benakku keingintahuan apa yang menyebabkan rasa sakit tertusuk bercampur nikmat itu. Selang berapa menit kemudianpun kami membersihkan badan masing-masing, ada rasa keinginan untuk melihat apa yang tadi aku rasakan dengan secara sembunyi-sembunyi aku melirik kemaluan Dewi. Akhirnya tercapai juga keinginanku, Wah.. ternyata benar dugaanku bulu kemaluannya habis dicukur, bersih tidak ada satu bulu yang tertinggal seperti kemaluan anak kecil, hingga aku tersenyum geli melihatnya.

Setelah itu kami membersihkan badan dengan keadaan telanjang menuju tempat tidur, melihat Dewi tidur telantang dengan selimut yang menutupi perut sampai kaki, timbul hasrat birahiku kembali. Kemudian aku memeluk dia kembali dan kuangkat dagunya kukecup bibir dengan sangat lembu. setelah itu kusuruh Dewi berbaring, bibirku mulai bergerilya menuju, tanganku yang kiri meremas payudaranya sambil kupermainkan putingnya, kurasakan putingnya mengeras kembali. Bibirku mulai turun menjilati putingnya. Setelah puas bermain-main di payudara, bibirku turun lagi menuju menuju vagina, kulihat vagina yang bersih tanpa bulu itu, kujilati vaginanya, kumainkan lidahku di klitorisnya, sambil kumasukan jari tengahku ke lobang vaginanya. Selang beberapa lama kemudian kepalaku dijepit kencang oleh kedua pahanya.

Kemudian tangan Dewi mulai menggenggam kemaluanku yang sedari tadi sudah mengeras, dan tanpa ragu-ragu ia menjilati kemaluanku, lalu mengulumnya, baru pertama kali aku mendapat sensasi yang sangat nikmat, akan tetapi terasa ngilu. Selang berapa lama kemudian, aku mengarahkan kemaluanlu ke vaginanya, akhirnya kemaluanku masuk semua kedalam vaginanya. Kugenjot pantatku turun naik, makin lama makin cepat dan tidak lama kemudian akupun berasa mau keluar, kupercepat genjotanku tidak berapa kemudian Dewi mempererat pelukannya, akhirnya kami mendapat klimaks bersamaan, untuk yang kedua kalinya.

Tidak terasa di luar kamar sudah terang oleh matahari pagi, bagiku pagi itu yang paling berkesan selama aku bergaul dengan orang yang lebih dewasa. Terima kasih Dewi atas pelajarannya yang tidak terlupakan, mungkin sekarang bulunya sudah lebat kembali.

Tamat


Hanya dengan Pria Lain Aku Bergairah

Posted: 07 Dec 2007 11:43 PM CST

Jangan pernah berpikir Tut, aku akan menceraikanmu. Kalau memang maumu hendak menyiksa perasaanku, mending kugantung saja perkawinan ini. Dengan begitu, kita seri. Kamu bisa bahagia dengan mencari di luar, begitu pun denganku. Tapi soal status, jangan lupa, kamu masih tetap istriku.. selamanya!

Kata-kata Mas Santoso tiba-tiba mengiang di telingaku. Malam, sudah tua benar. Jam di dinding kamar hotel yang kutempati dengan Bram, kekasih baruku, telah menunjukkan pukul 24.15. Tapi aku masih termangu di depan jendela, mencoba mengurai kembali perjalanan hidupku. Dari keinginan orangtuaku untuk mengawinkan aku dengan Mas Santoso yang sebenarnya tak pernah kucintai, sampai dengan sederet petualanganku dengan lelaki lain yang memberikan kenikmatan berlebih-lebih.

Entahlah, mungkin karena aku tak pernah mencintai Mas Santoso, setiap ia menuntut haknya sebagai suami, aku selalu ogah-ogahan. Kalau toh harus melayaninya, itupun kulakukan dengan terpaksa. Hasilnya, sungguh jauh dari memuaskan. Itu pula kesan yang diperoleh Mas Santoso dariku. "Kalau begini terus, bisa-bisa aku impoten. Soalnya di atas ranjang, kamu tak ubahnya sepotong batang pisang. Dingin, kayak es", gerutu Mas Santoso.

Sejak menikah dengan Mas Santoso 4 tahun lalu, rasanya bisa dihitung dengan jari aku melakukan hubungan suami-istri dengannya. Terus terang, aku lebih banyak menolak daripada melayani hasrat seksualnya. Kalau toh mau, ya itu tadi, dengan setengah hati. Artinya, aku juga tak pernah bermimpi bisa mendapatkan kenikmatan surga duniawi saat berhubungan intim dengannya.

Sebaliknya jika melakukan dengan pria lain, rasa yang kudapatkan sungguh dahsyat luar biasa. Aku mampu berperan aktif di ranjang. Mencoba memuaskan pasanganku, dan sebaliknya berharap kepuasan setimpal darinya. Tak mampu kuingat lagi, dengan beberapa pria yang bukan suamiku aku pernah tidur bersama. Salah satunya adalah Bram, seorang mahasiswa hukum usianya terpaut 5 tahun lebih muda dari usiaku sendiri yang sudah menginjak kepala 3.

Aku kenal denga Bram karena ia kost di rumah seorang tetangga. Posturnya yang tinggi dan tegap, membuat fantasiku melayang membayangkan yang bukan-bukan. Sampai akhirnya dengan seribu satu cara dan rayuan, pemuda asal Flores itu dengan senang hati kuseret ke atas ranjang.

"Kok ngelamun, apa yang Mbak pikirkan?" Suara bariton Bram membuyarkan lamunanku. Ternyata, ia sudah terbangun dari lelapnya, setelah sore tadi kami melewatkan permainan babak pertama. "Di sini kitakan mau senang-senang. Jadi kalau bisa, yang lain-lain dilupakan dulu", rajuk Bram sambil menarik tubuhku kepelukannya.

Dada Bram yang bidang, bulu-bulu dadanya yang keriting dan gelap, menimbulkan rasa geli serta getaran hebat. Benar kata Bram, kenapa aku mesti melamunkan sesuatu yang seharusnya tak menyita pemikiranku benar. Apalagi menurut keyakinanku, Mas Santoso saat ini pun pasti tenggelam dalam pelukan Sri, sekretaris di perusahaan kontraktor miliknya. Saya begitu yakin tentang hal itu, karena akhir-akhir ini Mas Santoso sudah jarang pulang. Salah seorang pegawainya yang begitu dekat denganku, suatu ketika memergoki mobil Mas Santoso diparkir di depan rumah kost Sri.

Tangan kekar Bram yang dipenuhi bulu-bulu lebat, meraih bagian belakang leherku, dan dengan begitu otomatis wajahku terdongak. Kesempatan itu tak disia-siakannya, bibirku dilumatnya dengan kecupan kuat disertai gelitikan lidahnya. Tak lama kemudian, lidahnya menjalar ke leher, dada, terus kebawah.. Aku menggelinjang beberapa kali, geli campur nikmat. Aku yang sejak tadi tak mengenakan sehelai pakaian pun, membuatnya lebih gampang mencumbuku. "Yang begini kan lebih menyenangkan Mbak, daripada mikir yang nggak-nggak", kata Bram sambil membopong tubuhku ke atas ranjang.

Tapi anehnya, pada setengah angkatan Bram menghentikan langkahnya. Ia justru duduk di tepian ranjang, sambil tetap memeluk tubuhku di atas tubuhnya. Dalam posisi berhadap-hadapan, aku duduk dipangkuannya. Bram jadi leluasa mencumbu bagian depan dadaku. Berkali-kali ia mencium dan mengulum puncak dari dadaku. Aku merasa nikmat yang luar biasa. Tapi meski tubuhku meliuk-liuk menahan geli dan kenikmatan yang begitu dahsyat, Bram tak mencoba menghentikan cumbuannya. Sebaliknya, ia semakin ganas mencium dan mengulum, terus begitu, berulang-ulang seperti tak pernah bosan. Ketika kurasakan sesuatu mengaliri sekujur tubuhku, dan karenanya aku jadi sedikit tegang, sambil tersenyum nakal, Bram sedikit mengangkat tubuhku. Dengan kelihaian luar biasa, tiba-tiba saja tubuh kami sudah menyatu. Di atas pangkuannya, aku mulai memacu. Cepat dan semakin cepat. Sementara Bram dengan tatap melenguh, berusaha mengimbangi gerakanku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Aduh, rasanya aku melayang-layang dibuatnya.

Saat kelelahan mulai menyergap tubuh kami, Bram berinisiatif dengan mengubah posisi. Kami berbaring sambil tetap berpagut mesra. Ia tetap menggelutiku, bergerak-gerak di atas tubuhku, dari samping maupun belakang. Dan ketika sesuatu yang menggelegak seakan hendak termuntahkan, Bram memelukku erat-erat sambil mendesis, "Oohh.. yes!"

Jauh sebelum dekat dengan Bram, aku mengenal mitra kerja suamiku di perusahaan jasa kontruksi, namanya Pieter. Pria Manado yang menikah dengan wanita asal Kediri itu ternyata naksir berat kepadaku. Padahal ia sangat tahu, aku ini istri kolega bisnisnya. Dari kerlingan mata yang dilakukan sembunyi-sembunyi, senyum penuh arti, sampai terpukau di pantatku saat Mas Santoso lengah.

Sampai suatu malam, ketika Pieter datang ke rumahku, kemesraan itu terjadilah. Sebab baru seperempat jam Pieter duduk di ruang depan. Mas Santoso pamit akan keluar sebentar membeli sesuatu. Tinggallah aku dengan Pieter meneruskan obrolan. Satu jam lewat, perbincangan kami mulai menemukan titik kejenuhan, tapi Mas Santoso belum kembali juga. Sampai akhirnya, tiba-tiba Pieter menyeletuk, "Nggak usah ditunggu suamimu, paling-paling ia kerumah Sri. Sebab siang tadi lewat telepon, ia sudah janjian makan malam dengan sekretaris itu."

Anehnya, meski menerima kabar tak menyenangkan itu aku masih bisa tertawa, tertawa lepas. Seperti tak ada beban. Melihat sikapku tak berubah, Pieter jadi semakin berani. Ia menyeret kursinya mendekatiku. Ketika obrolan kembali mengalir, kedua tanganku sudah berada digenggamannya. Sampai akhirnya dengan suara mendesah ia berkata, "Kamu cantik sekali Tut. Kalau Santoso sampai membiarkanmu merana begini, rugi besar dia. Percayalah, semua laki-laki akan mengatakan kamu cantik, menggairahkan. Termasuk aku, begitu mengagumimu."

Aku tahu, kata-kata yang meluncur dari mulut Pieter benar-benar tulus. Justru. Dengan pengakuannya itu, timbul simpatiku kepadanya. Maka ketika Pieter berdiri dan mulai memelukku, aku tak berusaha menolak. Bahkan dengan penuh perasaan, aku ganti mendekapnya penuh kemesraan. Tapi rupanya, sudah lama Pieter memendam sesuatu kepadaku. Buktinya, ia tak cukup memeluk dan menciumku untuk menumpahkan perasaannya. Ketika pagutan-pagutan hangat membuat kami semakin terbakar, ia berani membimbingku masuk ke kamar.

Dengan tenang, tanpa takut dipergoki Mas Santoso, Pieter melanjutkan cumbuannya sambil melolosi satu-persatu pakaianku. "Sudah lama sebenarnya gelora hati ini ingin kutumpahkan kepadamu. Tapi aku masih ragu, apakah engkau mau menerimanya", ucap Pieter dengan nafas memburu, sembari mendaratkan ciuman-ciuman mautnya di wajah, leher dan dadaku.

Dalam keadaan telentang, dan akhirnya tanpa selembar kain pun, aku hanya bisa pasrah, sambil berharap sesuatu yang menyenangkan itu tiba juga, Tapi Pieter agaknya pintar menyenangkan seorang wanita, Geraknya tetap pelan, hati-hati tapi penuh perasaan. Dan ketika gerakanku sudah seperti cacing kepanasan, ia mahfum bahwa saatnya tiba. Dengan sepenuh hati, ia menghimpitku dan mulai melakukan gerakan-gerakan teratur naik turun. Tetap pelan, tapi justru hal itu membuatku penasaran. "Ayo Piet, cepat, cepat..", Pintaku seperti kurang sabar.

Bagiku, sebuah pengalaman baru melakukan hubungan intim dengan tempo yang terkesan lambat, tapi bertenaga dan penuh perasaan. Ternyata, hasilnya jauh lebih menyenangkan. Sampai akhirnya ketika pelabuhan yang kami tuju sudah di depan mata, aku baru sadar puncak kepuasan itu telah kami raih bersama-sama. Saking bahagianya, aku sampai menangis sambil menggigit pundak Pieter. "Kamu sungguh hebat", pujiku.

Lepas dari pelukan Pieter, seorang pejabat di pemerintahan berhasil menggaet hatiku. Pak Sos, namanya. Usianya sudah hampir setengah abad, tapi penampilan yang wangi dan rapi sempat membuatku mabuk kepayang. Satu hal lagi, ketika aku jatuh dalam pelukan Pak Sos, suamiku-Mas Santoso-sedang dililit persoalan keuangan berkaitan dengan tendernya yang sepi sebagai seorang kontraktor. Akibatnya, hal itu jadi semacam faktor pendorong intimnya hubunganku dengan Pak Sos. Selain mendapatkan kepuasan biologis, Pak Sos juga memberiku dukungan finansial. Bahkan aku pernah dibelikan sebuah rumah cukup mewah di pinggiran kota, meski akhirnya dengan alasan tertentu kujual lagi.

Aku pertama kali kenal dengan Pak Sos berkaitan dengan proyek tender suamiku yang belum turun juga. Karena berbagai cara yang ditempuh untuk membujuk Pak Sos yang punya kewenangan menggolkan proyek itu, Mas Santoso akhirnya minta bantuanku. "Mungkin karena kamu seorang wanita, Pak Sos bisa lunak hatinya", begitu harapan suamiku.

Apa boleh buat, permintaan Mas Santoso mesti kupenuhi. Ketika tiba di ruang kerjanya yang besar dan ber-AC, kesan yang muncul pertama saat bertatap muka dengan Pak Sos adalah berwibawa tapi cuek. Tanpa membuang-buang waktu, aku mulai melancarkan jurus-jurus rayuan. Tapi seperti yang kuduga, Pak Sos tak gampang ditundukkan dengan cara-cara klise begitu. Aku mulai putus asa. Apalagi dengan angkuhnya Pak Sos berujar, "Bilang sama suamimu, nggak etis dia menyuruh istrinya merayuku untuk mendapatkan tender. Katakan padanya, apakah harga istrinya cuma sebuah tender?"

Telingaku jadi panas, aku nyaris menangis mendengarnya. Tapi meski begitu, kira-kira sepekan kemudian datang surat dinas dari kantor Pak Sos, yang isinya menjelaskan bahwa beliau setuju mendapatkan proyek yang diinginkannya. Mas Santoso tampak berbunga-bunga, tapi sebaliknya dengan aku. Menyadari semua itu aku jadi muak. Aku merasa telah dipermainkannya, dijadikan umpan agar dia berhasil mendapatkan proyek yang diinginkannya.

Sampai suatu siang, ketika Mas Santoso sudah berangkat ngantor, tanpa diduga Pak Sos menelepon ke rumah. Mula-mula, dia cuma basa-basi. Mulai menanyakan soal rumah tangga sampai menyinggung pekerjaan Mas Santoso, "Apa kamu nggak tersinggung dengan cara-cara suamimu mendapatkan tender proyek, sampai melibatkan istrinya untuk melobi-lobi begitu?" tanya Pak Sos.

Yang pasti dari pembicaraan pertelepon selama 30 menit itu, aku akhirnya tahu bahwa Pak Sos ternyata bukan tipe lelaki yang cuek dan kaku seperti yang kuduga sebelumnya. Sebaliknya, jika sudah mengobrol cukup lama dengannya, aku menyadari kalau ia cukup hangat dan romantis sebagai lelaki. Lebih dari itu, lewat suaranya yang serak-serak basah, ia begitu perhatian pada lawan jenisnya. Misalnya ketika aku mengutarakan keinginan untuk bekerja, Pak Sos dengan antusias menanggapi bahwa hal itu bisa gampang kudapatkan, asal aku tak pilih pekerjaan, atau berhitung soal pendapatan yang kuperoleh, "Kalau mau, ada lowongan di perusahaan milik kolega yang saya jamin pasti mau menerimamu. Kalau kamu serius, datanglah besok ke kantorku. Kita bicarakan lebih detil di sini", undangnya. Keesokan hari, lewat tengah hari seperti waktu yang kami sepakati, aku datang ke kantor Pak Sos. Aku sempat kecewa ketika sampai di depan pintu, ada tulisan: Keluar. Artinya, seperti kebiasaan di kantor-kantor pemerintah, si pejabat tak ada di tempat karena sedang keluar ruangan. Tapi saat aku termangu di depan pintu, seorang bawahan Pak Sos datang mendekati sambil berbisik, "Bu Tut, silakan masuk saja, Pak Sos ada di dalam kok. Ia sengaja membuat tulisan begitu, agar tak ada yang mengganggunya."

Pak Sos memang ada di ruangannya, tersenyum-senyum di atas kursi besarnya begitu melihat kedatanganku. Aku dipersilakan duduk, sementara ia membuka lemari es kecil untuk mengambil 2 botol softdrink. Tak lama kemudian kami tenggelam pada obrolan yang lebih serius, menyangkut keinginanku untuk bekerja. Ketika pembicaraan berganti topik, soal rumahtanggaku, soal hubanganku dengan Mas Santoso, nada bicara Pak Sos jadi terdengar lembut, teduh dan begitu hangat. Tak terasa, ketika aku begitu hanyut menceritakan nasib perkawinanku, ia sudah berdiri begitu dekat denganku. Ketika tetes-tetes air mata membasahi pipiku, Pak Sos dengan merengkuh pundakku dan kemudian memelukku penuh perasaan.

Kami tenggelam dalam keharuan yang dalam. Tapi ketika perasaan kami sudah begitu menyatu, keharuan itu mendadak saja jadi gelora yang berkobar-kobar, manakala tangan Pak Sos yang sangat terlatih mulai bergerak liar di bagian-bagian tubuhku yang paling sensitif. Ketika kancing-kancing blusku telah terbuka semua, aku seperti tak sadar kalah dalam posisi telentang di atas meja kerja Pak Sos, dan ia dengan begitu bernafsu, menghimpit dan mencumbuiku.

Kami seperti 2 manusia yang kehilangan akal. Di atas meja itu kami memperagakan permainan aneh yang yang menyenangkan, setelah Pak Sos melepas pertahanan terakhir dari kain paling tipis yang kukenakan. Nafas Pak Sos memburu seiring dengan gerakan-gerakan yang teratur. Di atas meja, hanya dengan melihat langit-langit atap ruangannya, aku terhentak-hentak dan merasakan tubuhku seperti tengah mengambang. Dan ketika puncak kenikmatan telah kami raih bersama, sadarlah aku bahwa hal itu seharusnya tak kami lakukan di kantornya. Sambil tersipu-sipu, aku membenahi kembali pakaianku yang berantakan. Tapi Pak Sos cepat menghibur, "Jangan merasa bersalah, tenang-tenang saja. Mau kuambilkan minuman lagi?"

Sejak beberapa bulan lalu, ia harus pindah kerja di kota Malang karena ada mutasi pekerjaan. Karena itu untuk melipur kesepian hati, aku berkenalan dengan Bram, pemuda tanggung yang ternyata lebih bisa memuaskan soal urusan ranjang, dibanding suami sahku, Mas Santoso. Tentang laki-laki terakhir, hingga detik ini masih terikat perkawinanku meski ia sudah jarang pulang, karena lebih suka menginap di rumah Sri, sekretarisnya. Aku sendiri, terus terang saja rasanya tak cukup siap untuk menghentikan semua kesenangan ini.

Tamat


Dugem Dan Seks

Posted: 07 Dec 2007 11:42 PM CST

Namaku Rio, aku tinggal di kota metropolitan dan baru masuk kuliah di universitas swasta yang terkenal. Aku adalah remaja yang tak pernah kekurangan apapun, terutama materi. Karena itu aku dengan mudah terjerumus dalam gelapnya dunia malam bersama teman karibku yang selalu bersamaku.

Malam itu seperti biasa aku pergi ke diskotek bersama Rudi temanku, malam itu suasana tampak ramai sekali karena ada tarian striptease yang panas. Aku langsung ke bar untuk beli minuman sementara Rudi langsung turun untuk joged. Setelah beli minum aku cari tempat duduk untuk melihat situasi, biasa, "mencari mangsa".

Lagi asyik jelalatan lihat-lihat pantat seksi, pundakku ditepuk dari belakang, setelah kutoleh, ternyata ada dua cewek seksi berdiri di belakangku.

"Hai, boleh gabung di sini gak? capek nih dari tadi nge"beat" terus." tanya dia padaku.
"Boleh aja, kosong kok." jawabku sambil melirik kearah dadanya yang montok berisi.
"Aku Sherli, ini temanku Devi, nama kamu siapa?" tanya cewek itu.
"Oh.. Aku Rio." jawabku sambil mengulurkan tangan pada Devi.
"Gila.. Nih cewek mulus abis.. Wuih dadanya.. Pantatnya.." batinku sambil mengamati si Devi, ternyata si Devi tau kalau mataku sedang memandang ke arah dadanya.
"Hai..! ngapain lihat-lihat, pegang aja." godanya sambil tersenyum padaku.
"Ha ha ha ha jangan ah, ntar kalau aku nafsu gimana hayo" jawabku sambil tertawa.

Akhirnya makin lama kami semakin akrab.

"Eh turun yuk? nge-beat lagi biar makin hot." ajak Devi.
"Oke deh, yuk..". Kami bertigapun gabung nikmati dentuman house musik sambil joged.
"Eh kesana yuk, aku kenalin ama temanku biar kamu gak sendiri." ajakku pada Sherli sambil menggandeng tangannya menuju tempat Rudi joged.
"Hoii.. Rud! nih kenalin temenku daripada sendiri aja!" Akhirnya mereka kenalan & joged bareng.

Kami berempat joged sama-sama menikmati house musik yang makin hot, aku joged dibelakang si Devi sambil memeluk dia, Devi juga joged sambil pantatnya digoyang-goyang ke depan celanaku, tampaknya dia makin panas dengar lagu house. Kontolku jadi mengeras kena goyangan pantat si Devi, tangankupun jadi gerilya meraba-raba dadanya sambil menciumi lehernya yang mulus itu.

Akupun joged sambil menggoyang pantatku maju mundur seperti orang ML. Kami makin lama makin gila jogednya, tangan Devi juga gak mau kalah meraba-raba kontolku sambil terus nge-beat. Kulihat Si Rudipun tengah asyik berciuman dengan Sherli sambil berpelukan. Tak terasa udah saatnya bubar, waktu menunjukkan pukul 4 pagi, kamipun pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobil.

"Eh.. Dev, kamu pulang kemana? aku antar ya?" tanyaku pada Devi.
"Kalau aku ama Sherli sih biasanya nongkrong di cafe, nunggu pagi, abis tempat kost kami dikunci sih" jawabya.
"Gimana kalau kita nyewa villa di puncak, kan asyik nih berempat?" celetuk Rudi.
"Iya deh dev, ke villa aja?" ajak Sherli sambil ngelirik Rudi penuh arti.

Akhirnya kamipun berkendara ke puncak, aku yang nyetir mobil, Devi duduk di sebelahku sambil tiduran. Saat lihat kebelakang lewat kaca spion, Rudi tampak lagi asyik menjilati dada Sherli sambil tangannya meraba raba kedalam rok Sherli, Sherli tampak merem melek menikmati.

"Woi.. Gile loe! ntar aja di villa, kurang ajar loe, aku lagi nyetir gini, loe lagi enak-enakan!" hardikku pada Rudi sambil tersenyum.
"Udah.. Loe nyetir aja, aku lagi pemanasan nih.." jawab rudi padaku.
"Iya nih Rio, nganggu aja, nanti aja kamu ama devi di villa!" tambah serli sambil tangannya menarik kepala rudi untuk menjilati dadanya lagi.

Setelah sampai, kami berempat masuk kedalam villa, kulihat rudi ama sherli langsung menuju kamar, tampaknya mereka sudah nafsu abis.

"De, kamu ngantuk ya? gimana kalau kita mandi aja biar seger? tanyaku pada devi, "iya nih ngantuk.. Oke deh mandi aja, lagian rugi dong kalo tidur sekarang.." jawab devi penuh arti.

Kami berdua pun menuju kamar mandi, kontolku udah mengeras dari tadi melihat rudi ama sherli dalam mobil. Tanpa malu-malu devi menanggalkan semua pakaiannya, hingga terlihat bulu-bulu halus yang menutupi vaginanya, tubuhnya begitu mulus dan montok.

"Hei kok pakaiannya gak dilepas juga sih, katanya mau mandi?" kata devi mengagetkanku sambil tangannya melepaskan pakaianku.
"Lho kok udah keras gitu, pengen ya?" tanya devi sambil tersenyum.
"Iya nih, abis kamu seksi banget nih" jawabku sambil meluk devi dan mencium bibirnya.

Tak terasa kami udah saling berciuman sambil saling meraba, tanganku menggosok-gosok vaginanya sambil sekali-kali jariku kumasukkan kedalamnya, bibirku terus menciumi bibirnya, lidahku mulai masuk kedalam bibirnya.

Tampak devi mendesah menikmati rangsanganku, kontolku terus dikocok-kocok lembut. Akhirnya devi jongkok didepanku kemudian bibirnya mulai menjilati kontolku dari batang sampai pucuknya. Kontolku dilumat habis masuk kedalam bibirnya sampai aku hanya bisa bersandar di dinding tak kuasa menahan rangsangannya, tanganku memegang kepalanya agar bergerak maju mundur makin cepat.

"Oh.. Enak dev, terus.. Terus.." desahku menikmati.
"Sini gantian dev, aku pengen menjilati vaginamu.." kemudian kutarik tubuhnya membelakangiku.

Akupun jongkok di belakangnya sehingga tampak belahan pantatnya yang montok, aku langsung menciumi pantatnya sambil meremas-remas pantat seksinya, lidahku mulai menjilati vaginanya yang basah kemerahan sambil sekali-kali lidahku kumasukkan kedalam vaginanya.

"Shh.. Ach.. Terus yo.. Terus.. Gigit klitorisku.. Ach!" desis devi, tangannya mendorong kepalaku, membenamkan kepalaku ke pantatnya.

Kugigit lembut klitorisnya sambil terus kujilati vaginanya, kulihat kakinya bergetar hebat kemudian terasa cairan hangat membasahi mukaku, terus kujilati vaginanya sampai devi mendesah-desah menikmati orgasmenya.

"Udah.. Aku udah keluar nih, gila.. Pinter benar kamu yo, gantian dong kamu kan belum orgasme, aku juga pengen ngerasain kontolmu kedalam vaginaku.." desah devi sambil menjilati wajahku yang basah kena cairannya.

Aku tersenyum sambil membungkukkan badan devi membelakangiku, kemudian kontolku mulai kugesek-gesekkan diluar vaginanya yang kemerahan itu, " cepetan dong yang.. Aku uda nggak tahan nih.." desah devi agar aku cepat memasukkan kontolku.

Setelah kontolku basah kena cairannya, langsung kusodok pelan-pelan, terasa lembut dan hangat saat pucuk kontolku mulai masuk, lalu kugoyang pelan-pelan sehingga batang kontolku masuk semua, terasa hangat dan lembut vaginanya memijat kontolku.

"Ach.. Ach.. Ach lebih cepat lagi yo.." kata devi sambil mendesah.

Aku mulai bergerak maju mundur lebih cepat sambil tanganku terus meremas buah dadanya, makin lama orgasmeku hampir mau keluar.

"Ah.. Aku mau keluar nih de..!" ujarnya.

Sambil menarik kontolku keluar, devi berbalik dan jongkok di depanku kemudian tangannya mengocok kontolku sambil sekali-kali mengulumnya.

"Ahh ahh ahh..!" desahku saat orgasme mulai mengalir didalam urat kontolku.

Devi makim mempercepat kocokannya sambil mengulum pucuk kontolku, akhirnya spermaku muncrat didalam mulut devi, pantatku kugoyang maju mundur agar orgasme terasa makin nikmat, devi terus mengulum kontolku, terlihat spermaku menetes keluar dari mulutnya.

"Wuih, kamu keluarnya banyak banget, gila.. Asyik nih ML ama kamu.." kata devi.

Kemudian dia berdiri sambil tangannya terus mengelus-elus kontolku yang mulai mengecil, aku hanya tersenyum sambil bersandar merasakan kenikmatan yang tiada tara itu.

Kemudian kami mandi berdua saling membasuh tubuh. Setelah selesai mandi kugendong devi menuju tempat tidur untuk rebahan memulihkan tenaga sebentar.

"Eh.. Yo ngintip Rudi ama sherli yuk?" ajak devi.
"Oh iya mereka pasti masih ML sekarang, soalnya Rudi itu maniac banget kalo ML, yuk!" jawabku, kemudian kami berjalan mengendap-ngendap menuju kamar Rudi.
Makin dekat, terdengar desahan sherli di kupingku, "Bener kan, mereka masih ML" kataku pada devi.

Kemudian aku berjalan mengendap-endap dan membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Terlihat didalam kamar tampak Rudi sedang menindih tubuh sherli sambil menggoyang pantatnya dengan cepat, mereka membelakangi aku dan devi sehingga tak tau kalau sedang diintip. Kemudian mereka berganti posisi, sherli duduk diatas Rudi, tampak dengan jelas kontol si Rudi masuk pelan-pelan kedelam vagina sherli, lalu sherli bergerak berlahan sambil mendesah, tangan rudipun terus meremas-remas dada sherli, makin lama gerakan sherli makin cepat.

"Rud, aku mau keluar nih..!"
"Aku juga sher..!" tampak gerakan mereka makin cepat sambil mereka terus mendesah tanda orgasme telah dipuncaknya, lalu gerekan mereka makin memelan dan sherli tampak memeluk Rudi, vagina sherli tampak basah karena cairan orgasme mereka berdua keluar bersama-sama, ada cairan putih menetes keluar dari vaginanya.

Nggak terasa kontolku ereksi lagi dan kulihat tangan devi tengah mengelus elus vaginanya di dalam celana dalamnya sambil matanya terpejam.

"De, ML lagi yuk, aku pengen nih.." ajakku.
"Yuk, aku juga pengen nih.." jawab devi sambil tersenyum.

Lalu kugendong devi kedalam kamar dan kukunci kamarnya agar nggak bisa diintip sama Rudi. Kemudian kurebahkan tubuh montok devi di atas ranjang.

"Malam ini akan kubuat kamu menjadi ratuku sayang.." kataku sambil menjilati vaginanya yang mulai basah lagi..

Tamat


Dukun Cabul dan Ibu Rumah Tangga

Posted: 07 Dec 2007 11:43 PM CST

Vivi tidak bisa menerima sikap dan tindakan Ardi akhir-akhir ini yang ia lihat sudah melupakan dan membiarkan keluarganya. Tindakan ini dilihat Vivi saat Ardi akan pergi ke luar kota untuk meninjau perusahaannya di kota lain. Vivi menduga pasti Ardi telah melakukan suatu perselingkuhan dan menyeleweng dikarenakan Ardi tidak lagi memberikan nafkah batin untuk Vivi, sedangkan Ardi selalu pergi ke luar kota setiap minggu dengan begitu hubungan seks-nya dengan istrinya pasti tersalur, sedang saat ini Ardi telah lupa akan kewajibannya. Siapa wanita yang telah merebut Ardi dari tangannya, Vivi tidak mengetahui. Oleh sebab itu Vivi sering merenung dan berpikir apakah selama ini ia tidak melayani kebutuhan dan kesenangan suaminya, namun semua itu ia rasa tidak mungkin dan sepengetahuannya ia selalu melayani dan melaksanakan kesenangan dan kesukaan suaminya. Sedang kalau ia lihat bentuk tubuhnya yang mungkin telah berubah? namun ia sadari tidak mungkin juga, Vivi menyadari ia dan Ardi telah berumah tangga kurang lebih 6 tahun dan dikaruniai 2 orang anak yang paling besar berumur 5 tahun, mustahil bentuk tubuhnya akan menyebabkan Ardi berpaling.

Di depan cermin sering Vivi mengamati tubuhnya, ia pun rajin senam dan melangsingkan tubuhnya, namun apa gerangan Ardi berubah dan tidak mau menjamahnya? Secara fisik Vivi memang seorang ibu rumah tangga yang telah beranak dua, namun jika melihat tubuh dan kulitnya banyak membuat gadis yang iri karena bentuk tubuhnya amat serasi dan menggiurkan setiap lelaki yang menatapnya. Umur Vivi baru 32 tahun, di saat itu ia butuh pelampiasan birahi jika malam hari menjelang, namun sikap Ardi telah membuatnya menjadi tidak percaya diri. Atas saran teman karibnya yang juga ibu rumah tangga dan wanita karir, maka Vivi disarankan untuk meminta tolong pada seorang dukun sakti yang bisa mengembalikan suami dan membuat Ardi bertekuk lutut kembali. Ini telah lama di coba Lusi, dulunya suaminya juga menyeleweng. Namun atas bantuan dukun itu suaminya telah melupakan wanita simpanannya.

Dengan saran dan nasehat dari karibnya itu Vivi memberanikan diri untuk datang ke tempat dukun itu walaupun jaraknya agak jauh kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobilnya. Dengan bantuan Lusi, Vivi mengemudikan Balenonya ke tempat dukun itu. Mereka berangkat pagi harinya. Sesampai di gubuk dukun yang memang terpencil di sebuah kampung itu, Vivi memarkirkan mobilnya di samping gubuk itu. Lalu Lusi mengetuk pintu gubuk itu dan dengan adanya sahutan dari dalam mempersilakan mereka berdua masuk, di dalam telah ada dukun itu yang duduk dengan sambil menghisap rokoknya.
"Ooo.. Bu Lusi? ada apa Bu? ada yang bisa saya bantu?" dukun itu berbasa basi.
"Eee.. ini Mbah, teman saya ini ada masalah dengan suaminya, namun ia ingin suaminya seperti sedia kala lagi.." jawab Lusi.
Lalu Lusi memperkenalkan sang dukun yang bernama Mbah Dudu itu kepada Vivi. Sambil berjabat tangan Mbah Dudu mempersilakan kedua wanita itu untuk duduk bersila di lantai gubuknya itu. Sepintas Vivi merasa agak risih dari mulai ia memasuki gubuk itu. Ada perasaan tidak enak namun karena keinginannya mengembalikan suaminya ia tidak mengambil pusing semuanya. Tanpa ia sadari dari saat ia masuk dan bersalaman dengan Vivi mata mbah dukun itu tidak henti-hentinya memandang ke arah Vivi. Lalu ia memanggil Vivi untuk maju selangkah ke arahnya, dan Vivi diperintahkan untuk memasukkan tangannya ke dalam wajan yang berisi air kembang, lalu Mbah Dudu membakar menyan dan membaca mantranya.

Tidak berapa lama kemudian ia buka matanya dan berkata bahwa mata hati suaminya telah dipengaruhi oleh wanita simpanan Ardi dan membuat Ardi melupakan keluarganya. Atas saran mbah dukun supaya Ardi kembali maka Vivi harus memakai jimat yang akan dibuatkannya, asal Vivi mau menjalani syarat-syaratnya dan itu semua terpulang kepada Vivi. Karena besarnya keinginan agar Ardi kembali, maka Vivi menyanggupi segala syarat-syaratnya. Setelah itu sang dukun berkata bahwa besoknya Vivi akan mendapatkan jimat itu dan akan dipasangkan ke tubuh Vivi dan akan dibuatkan malam ini. Mbah Dudu adalah lelaki asal Nias yang telah lama memiliki ilmu yang amat sakti. Tidak sedikit orang yang telah dibantunya. Mbah Dudu tinggal seorang diri di gubuk itu dan tidak memiliki istri. Umurnya telah beranjak tua yaitu 70 tahun namun fisik dan sosoknya tidak menggambarkan ketuaan. Selanjutnya Vivi minta diri dan menitipkan amlop untuk memenuhi syarat-syaratnya, dan berjanji besok akan datang. Lalu Lusi minta diri kepada Mbah Dudu, lalu mereka pulang ke rumah dan besok Vivi harus mengambil jimatnya.

Besok hari yang telah ditentukan, Vivi minta Lusi membantu menemaninya ke tempat dukun itu, namun karena adanya kesibukan di kantornya maka Lusi tidak dapat menemani. Dan berangkatlah Vivi mengendarai Balenonya seorang diri ke tempat dukun itu. Lebih kurang 1,5 jam perjalanan Vivi, sampailah di gubuk itu dan memarkirkan mobilnya di samping gubuk, sedangkan hari saat itu telah mendung dan berangin sepertinya hari akan hujan. Lalu Vivi mengetuk pintu gubuk dan kemudian pintu itu dibuka Dudu dari dalam dan mempersilakan masuk. Lalu Vivi masuk ke gubuk dan duduk di lantai. Lalu Mbah Dudu meminta Vivi untuk langsung ke depan dan menerima saran dan cara-cara memakai jimat itu. Vivi diharuskan untuk berbaring dan memakai kain sarung lalu menelentangkan diri, karena jimat itu akan dipasangkan pada tubuh Vivi yang biasa di sentuh suaminya. Lalu Vivi minta ijin untuk memakai sarung yang dipinjamkan sang dukun di kamar yang telah tersedia.

Dalam kamar itu, hanya ada satu dipan kayu yang telah lama dan saat itu Vivi membuka seluruh pakaianya, sedang BH dan CD-nya tetap terpasang pada tubuhnya. Sesaat kemudian sang dukun memasuki kamar itu dan minta Vivi berbaring di dipan itu. Vivi menuruti kata dukun itu, lalu Mbah Dudu memulai melakukan aktifitasnya dengan memasangkan cairan jimat itu mula-mula ke kulit muka Vivi lalu turun ke leher jenjang dan ke dada yang masih tertutup BH. Sesampai pada dada Vivi sang dukun menyadari adanya getaran birahinya mulai datang dan lalu di sekitar dada Vivi ia oleskan cairan itu, tangan sang dukun masuk ke dalam dada yang terbungkus BH. Di dalam BH itu tangan Dudu memilin dan memilintir puting susu Vivi, dengan cara itu Vivi secara naluri seksnya terbangkit dan membiarkan tindakan sang dukun yang memang kelewatan dari tugasnya itu, Vivi hanya diam. Lalu sang dukun membuka pengait BH Vivi dan melemparkan BH itu ke sudut kaki dipan itu dan terpampanglah sepasang dada montok yang putih mulus kemerahan karena gairah yang dipancing Mbah Dudu itu.

Di sekitar dada itu sang dukun mengoleskan jimatnya berulang-ulang sampai Vivi merasa tidak kuat menahan nafsunya. Lalu sang dukun tangannya turun ke perut dan ke selangkangan Vivi. Di situ tangan sang dukun memasuki selangkangan Vivi, tindakan ini membuat Vivi protes,
"Jangan! saya mau diapakan Mbah?" tanyanya.
"Ooo.. ini adalah pengobatannya, Lusi pun dulunya begini juga," jawab mbah dukun sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak menahan gejolak nafsu. Di lubang kemaluan Vivi, jari tangan sang dukun terus mengorek-ngorek isi kemaluan Vivi sehingga Vivi merasakan ia akan menumpahkan air surgawinya saat itu. Sambil membuka kain sarung yang melilit tubuh Vivi sang dukun lalu menurunkan CD yang menutup lubang kemaluan Vivi itu. Lalu ia letakkan CD Vivi di samping dipan yang beralaskan bludu usang itu. Sesaat kemudian Vivi telah telanjang bulat dan jari tangan sang dukun tidak henti-hentinya beraksi di sekitar daerah sensitif tubuh Vivi. Sedang jimatnya telah dioleskan pada seluruh bagian-bagian tubuh Vivi.

Lalu tibalah saat untuk memasukkan keampuhan jimatnya, maka sang dukun minta kepada Vivi untuk mau bersenggama karena jimat itu tidak akan bisa dipakai jika Vivi tidak melakukan senggama dengan dukun itu. Karena Vivi telah merasa kepalang basah dan ingin niatnya kesampaian maka ia ijinkan sang dukun melakukan persenggamaan. Lalu tangan sang dukun membuka paha Vivi yang mulus terawat itu. Lalu ia buka lubang kemaluan Vivi dengan tangannya dan memainkan klitoris Vivi dan kembali Vivi histeris ingin dituntaskan nafsu yang telah sampai di kepalanya, ditambah telah beberapa bulan tidak berhubungan seks dengan suaminya. Mbah dukun yang telah sama-sama-sama bugil dengan Vivi lalu memasukkan batang kemaluannya yang cukup besar itu dan kuat ke dalam lubang kemaluan Vivi yang telah dibasahi air kewanitaan Vivi yang tampaknya siap untuk melakukan penetrasi ke dalam lubang kemaluan yang telah basah itu. Setelah dipaksakan agak keras lalu batang kemaluan yang tegak menantang masuk seluruhnya ke dalam lubang kemaluan Vivi, dan Mbah Dudu melakukan gerakan maju mundur, sedang tangannya tidak henti-hentinya memilin dan menekan pinggul padat Vivi itu. Buah dada Vivi tidak luput dari jelajahan tangan sang dukun.

Lebih kurang 30 menit lubang kemaluan Vivi digenjot dengan paksa lalu sang dukun barulah sampai klimaks dengan menumpahkan air maninya ke dalam lubang kemaluan itu sebanyak-banyaknya. Sedangkan air yang keluar dari lubang kemaluan Vivi itu ia oleskan ke lidah Vivi untuk kasiat bahwa Vivi tidak bisa dilupakan suaminya. Dalam persenggamaan itu Vivi sempat orgasme 3 kali, itu pun saat ia terengah-engah di saat batang kemaluan sang dukun mengaduk-aduk isi kemaluanya tadi. Sejam kemudian barulah permainan itu selesai setelah sang dukun minta permainan dilakukan 2 kali. Setelah itu Vivi minta diri pulang dan membawa yang akan ia pakaikan di rumahnya saat mandi. Mbah dukun mengatakan ada jimat yang akan dipasang di dalam kamar Vivi namun belum siap, dan mbah dukun berjanji akan mengantarkannya ke rumah Vivi 2 hari lagi.

Tepat 2 hari kemudian sang dukun mendatangi rumah Vivi yang megah. Saat itu suami Vivi belum pulang dari luar kota dan di rumah saat itu hanya ada ia dan seorang pembantunya yang sedang menjaga anak-anaknya. Sang dukun berkata, "Bu Vivi, jimat ini akan saya pasangkan pada kamar Ibu nanti malam," sedangkan Vivi merasa khawatir, bagaimana jika suaminya pulang. Namun karena kesaktiannya, sang dukun berkata, "Bu Vivi nggak usah khawatir, suami Ibu pulang lusa, sedang ia sekarang menurut penglihatan saya sedang di Lampung," kata sang dukun. Lalu bagaimana ia menerangkan kepada pembantunya karena adanya kehadiran dukun tua itu? Lalu ia hanya berkata bahwa familinya dari kampung dan menumpang barang 1 hari di rumahnya. Lalu Vivi mempersilakan sang dukun untuk istirahat di sebuah kamar yang memang diperuntukkan untuk tamu. Lalu sang dukun memasuki kamar yang telah disediakan.

Malam harinya saat akan memasangkan jimat di kamar Vivi, dilakukan pada pukul 9.00 malam, sedang pembantunya telah tidur di kamar belakang, tempat kamar tidur pembantu memang jauh di belakang dan tidak mengganggu ke rumah induk tempat kamar Vivi berada. Di dalam kamar itu sang dukun melakukan ritualnya dengan membaca mantera, lalu ia membakar menyan, sedang Vivi duduk diam melihat apa yang dilakukan sang dukun dari atas tempat tidurnya. Lalu sang dukun berkata, "Sebaiknya jimat ini kita pasangkan pada saat tepat jam 12.00 malam nanti, berarti masih ada waktu 3 jam lagi, Bu Vivi.." katanya. "Sekarang sebaiknya kita ngomong-ngomong saja dulu menunggu waktu," kata sang dukun. "Baiklah Mbah," lalu Vivi mempersilakan sang dukun keluar kamar. Bagaimanapun ia merasa berat hati untuk membawa dukun itu ke dalam kamar pribadinya. Sang dukun berkata, "Tidak usah keluar.. Bu Vivi.. di sini saja." Lalu sang dukun berdiri dari duduknya dan menuju ke arah Vivi duduk dan mbah dukun itu juga duduk di samping Vivi. Lalu tangannya menggapai tangan Vivi dan berkata, "Sebaiknya kita berdua melakukan seperti saat Ibu di gubuk saya, sebab jika tidak para jin yang membantu saya akan lari dan tidak mau menolong Ibu," kata mbah dukun. Vivi hanya bergidik, bulu kuduknya merinding. Haruskah ia mengulangi kesalahan saat ia harus bersenggama dengan dukun itu di gubuknya? Namun karena adanya pengaruh dan keinginan Vivi maka ia biarkan sang dukun mengulangi perbuatan maksiat itu di kamarnya, saat itu Vivi memang merasa menjadi seorang wanita sempurna karena ia telah mendapatkan siraman batin dari dukun tua itu meskipun tidak ia dapatkan dari suaminya.

Lebih kurang 2 jam mereka berdua mengayuh samudera kenikmatan bersama sang dukun dan membuat Vivi orgasme berulang-ulang dan membuat lubang kemaluannya sampai lecet karena kebuasan batang kemaluan dukun yang sangat besar itu. Lalu tepat pada jam 12 malam barulah jimat itu terpasang pada bawah ranjang Vivi dan menjelang pagi mereka terus melakukan hubungan seksual dengan menggebu-gebu. Lalu Vivi tertidur dan tidak menyadari hari telah pagi dan sang dukun telah pergi, sedang Vivi merasa tubuhnya pegal-pegal dan tulangnya serasa mau lolos. Sejak saat itu memang jimat pemberian sang dukun ada perubahan pada diri suami Vivi dan ia sangat berterima kasih dan lalu ia mendatangi sang dukun. Sedang sang dukun cuma minta Vivi tidak melupakannya, dengan cara Vivi harus 2 kali dalam sebulan datang untuk memberikan jatah hubungan seks kepada sang dukun seperti Lusi juga melakukan hal yang sama. Memang setelah itu Vivi selalu rajin mendatangi sang dukun dan terkadang sang dukun yang datang ke rumah Vivi untuk minta jatah senggamanya. Memang sebagai dukun ilmu hitam, Mbah Dudu harus mensenggamai pasiennya, karena dengan demikian si pasien akan mampu disembuhkan dan ilmu sang dukun dapat dipelihara.

Tamat


Dukun Cabul

Posted: 07 Dec 2007 11:47 PM CST

Sekitar setahun setelah saya bercerai, ada teman yang mengajakku pasang susuk. Katanya sudah banyak teman-temannya yang kesana. Pertama-tama saya tidak berminat, terus dia pergi sendiri. Seminggu kemudian kami ketemu lagi, langsung saja saya bertanya bagaimana susuknya. Dia cuma tersenyum sambil berkata, "kamu kesana deh, cocok buat yang sudah lama tidak begitu". Saya heran lalu saya tanya lagi apaan, tapi dia tetap saja tersenyum. Karena penasaran, akhirnya saya juga kesana. Ternyata dukunnya tidak jelek-jelek amat (seperti di film-film kurus dan tua), malah cenderung ganteng walau agak berumur. Waktu saya beri tahu maksud kedatanganku, dia bertanya-tanya banyak hal, seperti status saya, jadwal mens, dll. Sedikit heran, tapi saya jawab. Terakhir akhirnya dia bilang, kalau pemasangan susuk yang saya minta harus dilakukan lewat cara bersenggama. Mukaku langsung merah padam (maklum, waktu itu saya baru menjanda, dan hubungan badan terakhir cuman sama eks-suamiku). Tapi saya lihat, Pak dukun justru tenang-tenang saja, mukanya tidak berubah, tidak tahu apa dia punya ilmu hipnotis yang bisa mempengaruhiku atau kepercayaanku bahwa dia betul-betul profesional (sekedar ingin bersetubuh denganku), akhirnya saya setuju.

Lalu dia melakukan perhitungan berdasarkan jadwal mensku, terus dia mencari tanggal yang tepat dimana saya lagi tidak subur. Pada hari yang ditentukan, saya kembali lagi ke sana. Lalu saya dibawa ke belakang, ke sebuah ruangan khusus (seperti ruang praktek dokter), terus disuruh minum segelas minuman (spertinya itu obat perangsang, sebab tidak lama saya langsung merasa relax dan panas). Sekitar setengah jam kemudian, Pak dukun masuk lalu mengambil topeng dari lemari. Saya lalu berbaring diatas ranjang. Pelan-pelan Pak dukun membuka kancing blusku. Setelah terbuka semua blus itu disibakkannya ke pinggir (tidak dilepas). Mulutnya komat-kamit membaca mantra lalu kepalanya mulai menunduk di atas dadaku. Tak lama lidahnya mulai bergerak-gerak diatas putingku, sambil tangannya mengelus-elus pahaku. Pengaruh obat dan rangsangan itu membuatku melayang-layang. Tidak berapa lama saya sudah basah (kelewat basah malah, karena saya sempat orgasme sama jari Pak dukun). Lalu Pak dukun pindah di kakiku. Rokku dibuka, celana dalam juga. Terus dia meniup-niup liang kewanitaanku sambil komat-kamit. Putingku rasanya dingin karena BH yang saya pakai basah oleh ludah Pak dukun (kebetulan saya pakai BH yang renda-renda dan cupnya cuma sepotong). Setelah ditiup-tiup, kakiku mulai dilebarkan. Lalu Pak dukun menurunkan celananya. Penis Pak dukun panjangnya biasa-biasa saja (seperti eks-suamiku) tapi punya dia lebih gemuk (sangat gemuk) dan melebar ke samping. Di sini saya belajar bahwa panjang penis cowok tidak begitu berpengaruh terhadap kenikmatan, tapi lebarnya yang berpengaruh. Pak dukun ngocok-ngocok penisnya sambil komat-kamit membaca mantra. Terus dia mulai memasukkan penisnya ke dalam liang senggamaku. Waduh, rasanya.., tidak tahu apakah karena saya sudah lama tidak mendapat service, atau memang nikmat, tapi yang jelas waktu itu saya sampai berteriak keenakan. Pak dukun juga seingat saya cukup ahli memuaskan wanita, sebab dengan goyangan-goyangan pantatnya itu saya sampai dua kali orgasme. Dia sendiri sepertinya enjoy juga (jelas, liang kewanitaanku termasuk rapat dan diantara pasien-pasiennya saya termasuk paling muda). Saya tidak peduli lagi, pokoknya kami berdua enjoy banget.

Ketika saya memasuki orgasme yang ketiga, Pak dukun juga sudah mau orgasma. Penis gemuknya dihunjamkan sedalam-dalamnya ke dalam liang senggamaku. Wah, saya langsung meledak sambil menjepit erat-erat pantatnya. Bersamaan denganku, Pak dukun juga meledak. Yang paling saya ingat waktu itu, sambil merem-melek dan meringis keenakan, Pak dukun masih sempat mengucapkan mantera seperti, "Aahh.., ss.., blablabla.., ss.., hh.., blabla.., hh.. ooh.., mm..", Terus dia membantuku melepaskan rasa nyaman dengan menciumiku sambil mengelus-elus dadaku.

Setelah saya kembali sadar, dia juga mulai bangkit. Penisnya masih menggelantung mengkilat, dia nmengambil tissue buatku. Lalu dia menunjukkan pintu kamar mandinya. Wah, pakaianku berantakan dan kusut (habis tidak dibuka sih).

Akhirnya saya cuma pipis dan mencuci kemaluanku sedikit saja. Waktu keluar Pak dukun sudah pakai baju. Terus dia bilang susuknya sudah masuk, dibawa oleh spermanya katanya. Terus dia pesan saya jangan takut hamil, karena sudah dihitung baik-baik harinya. Setelah menerima amplop dariku (sesuai pesan teman 50.000 cukup), lalu saya disuruh pulang. Sampai sekarang saya tidak tahu apa benar saya punya susuk, ataukah itu cuma alasan dukun cabul untuk meniduri perempuan. Yang jelas waktu itu saya merasa puas juga, dan syukur sampai hari ini saya tidak kena penyakit kelamin atau sejenisnya. Saya pikir biarlah, hitung-hitung sama saja dengan menyewa bebek.

Kabar terakhir tentang Pak dukun, kata temanku dia pindah ke Ambon. Saya tidak tahu di sana dia praktek juga atau tidak lagi. Tapi baru-baru ini saya baca surat kabar KOMPAS (belum seminggu korannya), ada cerita tentang dukun yang suka gituin istri orang. Mungkin itu dia, kalau kamu tertarik bisa buka-buka koran kompas, tapi saya tidak pasti tanggalnya.

Tamat


Dunia Malamku

Posted: 07 Dec 2007 11:48 PM CST

Cerita ini adalah sebuah kejadian nyata yang terjadi sekitar dua tahun yang lalu saat saya masih asyik berkecimpung di dunia pergaulan malam, dunia yang tak jauh dari keremangan lampu diskotik dan cafe, narkoba dan seks bebas. Dumangdati kalau menurut istilah teman-teman saya, DUnia MAlam NGgak aDA maTInya. Waktu itu ibukota kita baru saja dilanda gelombang reformasi dengan gerakan demonstrasi dan kerusuhan terjadi di mana-mana. Dan kerusuhan itu tidak hanya menghancurkan gedung-gedung saja tetapi juga menghancurkan rencana pesta ulang tahun salah seorang teman saya di sebuah diskotik besar di kawasan Ancol. Padahal rencana pesta itu sudah tersusun rapi, dari transportasi (penjemputan peserta pesta), perizinan (izin pulang pagi untuk beberapa teman kami yang kaum hawa), dan konsumsi (menu utama pesta, narkoba) semuanya sudah tersusun rapi.

Semua berawal saat saya menelepon diskotik yang bersangkutan untuk memesan tempat, karyawan yang berbicara dengan saya memberitahu bahwa diskotik mereka akan tutup selama beberapa hari dengan alasan keamanan yang belum terjamin. Kontan saya memberitahukan kepada teman-teman lainnya untuk melakukan perencanaan tindakan selanjutnya. Hari sudah mulai sore dan belum ada jawaban dari teman-teman yang lain, saya sudah mulai berpikir bahwa pesta ini akan dibatalkan sehingga saya mulai menyusun rencana lain untuk pergi nonton dengan Nelly, seorang gadis yang belakangan ini sedang dekat dengan saya. Tetapi menjelang malam ada berita bahwa pesta tetap akan diadakan, teman saya telah memesan sebuah apartemen di kawasan perumahan yang tidak jauh dari tempat rencana semula. Semua peserta diharapkan dapat berkumpul di sana secepatnya. Saya mulai bimbang karena kami sudah telanjur mau nonton. Akhirnya saya berinisiatif mengajak Nelly untuk bergabung dengan teman-teman yang lain setelah selesai nonton, dan dia setuju.

Hari sudah mulai malam saat kami sampai di tempat tujuan, dari luar pintu saja sudah terdengar alunan musik house yang cukup kencang. Dan keadaan di dalam tidak jauh berbeda, tampak beberapa teman kami pria dan wanita sedang asyik bergoyang mengikuti irama house music tersebut. Sementara beberapa teman lainnya sedang mengelilingi meja makan yang sudah penuh dengan perlengkapan pesta, dari minuman biasa, minuman keras, pil ekstasi, shabu-shabu dan perlengkapannya, beberapa keping CD dan kaset house music dan beberapa Pak kondom Durex.

"Ayo nggak usah malu-malu kalian udah telat nih yang laen udah pada terbang tuh," kata Yoke sang yang punya acara sambil memberikan beberapa butir pil ekstasi ke tanganku. Aku menerimanya dan sambil tersenyum memberikan sebutir kepada Nelly. Kami memang berasal dari dunia yang sama, dunia malam penuh narkoba, jadi hal itu sudah bukan hal yang asing bagi Nelly.
"Happy Birthday Bro."
"Thanks," kataku membalas Yoke sambil mengambil gelas minuman untuk meminum pil-pil tersebut.
Aku kemudian menuntun Nelly untuk bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah, aku duduk di sebuah sofa dan Nelly duduk di pangkuanku. Dan tak lama kemudian kami pun sudah ikut terbang bersama kawan-kawan lainnya diiringi alunan house music. Lagu demi lagu dan jam demi jam berlalu, kami pun semakin merapatkan tubuh kami saat ruangan menjadi semakin dingin dengan udara malam menjelang pagi ditambah semburan AC. Semakin rapat sampai akhirnya aku dapat merasakan halusnya pipi Nelly menempel di pipiku. Aku pun tak dapat menahan diri untuk tidak mencium pipi halus tersebut, sesuatu yang sudah ingin kulakukan sejak lama. Nelly tampak terkejut saat bibirku menyentuh pipinya, ia pun menoleh dan memandangiku. "Shit what have I done," kataku dalam hati takut ia marah. Tetapi sebaliknya, ia malah menjulurkan tangannya ke belakang kepalaku dan mendorongnya maju untuk lebih merapatkan bibirku ke pipinya.

Menit-menit berikutnya ia malah menggeser pipinya dan menggantikannya dengan kedua bibir mungilnya. Kami pun berciuman dengan intens diiringi sedikit permainan lidah. Selang beberapa saat aku sudah mulai berani menjelajahi leher jenjang Nelly dengan lidahku, memberi sedikit kecupan-kecupan di lehernya dan menggelitik daun telinganya. Udara ruangan yang saat itu sudah penuh dengan berbagai macam polusi tetap tidak dapat mengalahkan wangi tubuh Nelly. Akupun menciuminya dengan makin bersemangat saat tangan Nelly mengusap-usap bagian belakang kepalaku. Kedua tanganku mulai merayap naik ke perutnya yang datar, halus dan indah di balik kaos ketatnya. Badan Nelly memang sungguh indah dan menarik, maklum ia adalah seorang guru senam aerobic dan body language. Proporsinya benar-benar pas dan mantap, ditunjang oleh face-nya yang juga manis, jadilah ia seorang dewi di mataku.

Tanganku sudah mulai merayap masuk ke dalam kaosnya dan menyentuh halus kulit perutnya saat tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka dan sepasang teman kami tampak berjalan keluar sambil berpelukan mesra. Nelly seperti tersadar, ia memegang tanganku dan menghentikan kegiatan kami. Apakah aku sudah terlalu jauh bergerak? Apakah ia akan marah? Menit selanjutnya ia menegakkan badannya meninggalkan badanku dan merapikan kaos ketatnya sambil menebar pandangan ke sekeliling ruangan. Tampaknya bukan hanya kami berdua yang sedang asyik masyuk, beberapa teman kami pun sudah duduk berpasang-pasangan dan asyik dengan kegiatan mereka masing-masing.
"Gue pusing nih," katanya tiba-tiba sambil memegang kepalanya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Gak tau, obatnya kali ya gue mau istirahat bentar ah," katanya lagi sambil berdiri meninggalkanku di sofa.
"Eh mau ke mana?"
"Ke kamar tidur sebentar."
"Oke jangan lama-lama ya tidurnya," kataku sambil membetulkan posisi dudukku di sofa.
"Eh temenin dong masa gue sendirian," katanya, kali ini ia meraih tanganku, menarikku bangkit dari sofa dan menuntunku ke kamar yang baru saja ditinggalkan teman kami.

Aku mulai mengerti maksudnya saat kami sudah berada dalam kamar, menguncinya dan mulai berciuman bibir dengan lebih intens lagi, semakin lama pelukan kami pun semakin erat. Aku mulai menggerakkan tanganku ke belakang tubuhnya, merayap masuk ke dalam kaosnya dan mengusapi punggungnya. Ia pun melakukan hal yang sama. Terasa betapa kenyal buah dadanya terhimpit di depan dadaku. Akhirnya saat-saat yang paling kutunggu beberapa waktu terakhir ini. Bermesraan dan bercinta dengan Nelly. Tanganku semakin bebas bergerak merayapi punggungnya saat aku berhasil melepaskan kaos ketatnya, naik turun melewati seutas tali pengikat bra yang masih terkait kencang. Sementara di bagian depannya kedua belah buah dada Nelly yang kencang semakin nampak menggiurkan untuk dinikmati. Aku mulai menurunkan ciuman-ciumanku ke arah leher Nelly, berputar-putar sebentar di sana dan semakin turun ke lembah halus yang memisahkan kedua belah bukit indahnya. Sementara tangan Nelly terus mengusapi daerah belakang kepalaku sambil sesekali mendorong kepalaku ke depan untuk lebih merekatkan bibirku ke daerah dadanya. Tangannya yang satu lagi bergerak menyusuri punggungku dari dalam kemeja yang kugunakan.

Akhirnya Nelly menjatuhkan badannya ke ranjang dan memandangku dengan pandangan yang sangat menggoda, pandangan yang tidak dapat kulupakan sampai sekarang. Aku pun ikut menjatuhkan badanku menyusulnya ke ranjang, kedua tangannya bergerak menyusuri dadaku yang cukup bidang, dan mengeluarkan satu persatu kancing kemejaku dari lubangnya, melepas kemejaku dan membuangnya entah kemana. Aku semakin meningkatkan seranganku ke sekwilda-nya (sekitar wilayah dada), menyusuri lembah dan bukit indahnya yang masih tertutup bra dengan lidahku dan meremas-remas salah satu buah dadanya dengan tanganku. Merasa belum puas, aku pun meraih kaitan bra Nelly di belakang tubuhnya, cukup repot karena ia sedang dalam posisi terlentang di ranjang. Merasa bahwa aku kerepotan, Nelly pun membantu dengan mengangkat badannya sedikit dan menuntun jari-jariku untuk menemukan kaitan branya.

Sebentar saja kedua bukit indahnya sudah terpampang jelas di mataku, berlapiskan kulit putih halus dengan kedua puting susu mungilnya berwarna merah muda. Aku pun menemukan daerah-daerah baru untuk dieksplorasi dengan lidah dan jari-jemariku (minyak kali dieksplorasi). Aku menikmati hampir seluruh bagian dadanya dengan lidahku kecuali kedua buah puting susunya, aku membuatnya penasaran. Itu terasa saat ia bergerak-gerak sedikit setiap kali ujung lidahku hampir mengenai putingnya, mengharapkanku akan segera melumatnya dengan lidahku, tetapi tidak belum waktunya. Lidahku terus bergerak bolak-balik diantara kedua buah dadanya, naik dan turun tapi tetap berusaha menghindari menyentuh kedua putingnya.

Setelah beberapa menit, aku pun menegakkan kepalaku untuk melihat ekspresinya. Ia tetap memandangiku dengan pandangan yang tidak dapat dilukiskan. Nelly tampak sungguh menggoda dengan salah satu jari di dalam mulutnya. Kurasa ia menghisapinya untuk menambah gelombang rangsangan yang melandanya. Aku pun menurunkan kepalaku lagi, kali ini sasaran lidahku adalah langsung menyentuh putingnya yang kiri. Nelly sedikit terlonjak saat ia merasakan ujung lidahku menyapu halus putingnya dengan tiba-tiba, ia pun menekan kepalaku untuk semakin dekat dengan dadanya. Untuk sementara waktu aku memainkan lidahku di sana, berputar-putar mengelilinginya dan sedikit menjentik-jentiknya, sementara tanganku sibuk memainkan buah dadanya yang kanan. Nelly sudah semakin terangsang karena aku dapat mendengarnya mendesah semakin keras.

Untuk kejutan berikutnya, aku tiba-tiba menghisap putingnya lembut di saat ia tidak menyangka sama sekali. Kembali ia terlonjak untuk beberapa saat dan kemudian semakin dalam menekan kepalaku agar aku tidak melepaskan putingnya dari mulutku. Hal yang sama kulakukan pada puting kanannya aku sangat menikmati lonjakan-lonjakannya saat ia terkejut dengan apa yang kulakukan dengan lidah dan tanganku. Akhirnya aku dapat dengan bebas menikmati seluruh bagian dadanya, memainkan jari-jemari dan lidahku, menjilati dan menghisapi seluruh bagian dadanya bergantian kiri dan kanan, tidak lupa lembah indah di antaranya, lembah yang selama ini hanya bisa kunikmati dari luar saat Nelly berpakaian dengan belahan dada rendah.

Puas dengan kedua buah dadanya, aku mulai memindahkan daerah eksplorasiku turun menuju perutnya yang datar. Lidahku dapat merasakan gerakan halus otot-otot perutnya menerima rangsanganku. Benar-benar perut yang indah. Terakhir kali aku melihat perut seindah ini adalah saat aku bercinta dengan seorang model yang mungkin wajahnya kurang terkenal tapi cukup beberapa kali menghiasi sampul sebuah majalah remaja Ibukota. Sebelum lidahku meninggalkan daerah perutnya, aku meluncurkan sebelah tanganku ke daerah pahanya yang masih tertutup celana jeans. Aku menggerakkannya mondar-mandir menelusuri bagian depan dan dalam pahanya, berkelebat sekilas di depan bagian kewanitaannya menuju sisi satunya, dan kembali lagi. Sampai akhirnya aku berhenti dan mengusapi daerah pribadinya dari luar celananya. Nelly seperti mengerti maksudku, ia menegakkan badannya sedikit dan membantuku membuka kaitan dan retsluiting celananya. Sebentar saja celana itu sudah dapat kutarik lepas, meninggalkan sebuah celana dalam super mini berwarna biru muda bermotif garis-garis masih menempel di badan pemiliknya. Dan aku pun kembali menemukan daerah baru untuk diekplorasi.

Aku kembali menggerakkan lidahku menelusuri daerah perutnya dan bergerak turun ke arah daerah kewanitaannya. Tapi aku tidak berhenti di sana, lidahku terus turun menuju paha kanannya, menelusuri hampir seluruh bagiannya dan terus turun ke betisnya. Kemudian lidahku naik lagi untuk kembali menelusuri bagian dalam pahanya dan naik terus sampai ke daerah pangkalnya. Aku mulai dapat melihat mencium bau harum kewanitaannya dari sini, tampaknya daerah tersebut sudah mulai basah dan mulai mengeluarkan baunya yang khas. Aku berniat menggodanya kembali, lidahku berkelebat cepat dari bagian dalam paha kanannya, melewati daerah kewanitaannya dan sampai di bagian dalam paha kirinya, kembali ke paha kanannya, melewati daerah sensitifnya tanpa menyentuhnya sama sekali, hanya dengan dengusan nafasku saja. Tetapi itu sudah cukup untuk membuatnya terlonjak-lonjak terangsang setiap kali mukaku melewati daerahnya.

Lonjakan paling seru adalah saat akhirnya aku menempelkan bibirku dengan bibir kewanitaannya yang masih tertutup celana dalam sambil menjulurkan lidahku menyapu ke kiri dan kanan membasahi kain tipis yang memisahkan bibirku dengan daerah pribadinya yang paling rahasia itu. Keasyikanku terganggu saat terdengar ketukan di pintu kamar, aku pun beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu itu setelah terlebih dahulu membantu Nelly menutupi tubuh seksinya dengan selimut. Kami sama-sama tidak mau ada orang lain yang dapat menikmati keindahan tubuhnya. Rupanya salah seorang temanku bermaksud mengambil handphone-nya yang tertinggal di dalam kamar. Aku pun mengambilkan barang yang dimaksud sambil kakiku menahan pintu untuk tidak terbuka semakin lebar, memberikan kepada pemiliknya dan kembali mengunci pintu kamar. Mau menelpon kemana sih di pagi-pagi buta seperti ini sampai menggangguku, pada saat ayam jago pun masih bermalas-malasan di tempat tidurnya. Ah itu bukan urusanku, saat ini aku masih punya urusan lain yang lebih penting dan jauh lebih nikmat tentunya.

Nelly menggeser duduknya sampai ke tepi ranjang saat aku kembali berjalan mendekatinya, ia memeluk pinggangku sesaat dan kembali memberikan pandangan khasnya. Ia lalu menggerakkan kedua tangannya melepaskan kaitan celanaku dan mendorongnya ke bawah lalu mengelus-elus kejantananku yang sudah berdiri tegak siap tempur di balik celana dalam. Tidak puas hanya mengelus, ia kemudian menarik turun celana dalamku dan menghadapkan kejantananku ke mukanya. "Its my turn now, Dear," katanya sambil mulai mendaratkan ciuman-ciuman kecil seluruh bagian kejantananku. Ciuman-ciuman itu kemudian disusul dengan jilatan-jilatan nikmat yang semakin menambah rangsangan di tubuhku. Andaikan aku tidak sedang berada di bawah pengaruh obat, tentu aku sudah dari tadi mencapai titik kepuasan karena rasa nikmat dan sensasi yang dihadirkan Nelly ke tubuhku. Ouah, benar-benar nikmat.

Rangsangan itu terus bertambah dan menjalari setiap senti tubuhku saat Nelly mulai memasukkan kejantananku ke dalam mulutnya dan mulai menghisapinya. Ia menghisap, menyedot dan menjilatinya seperti sedang menikmati sebuah es krim yang tidak akan pernah habis. Aku benar-benar menikmati permainan Nelly selama beberapa menit ke depan, sampai aku sudah benar-benar tidak tahan untuk tidak membalasnya. Aku kembali merebahkannya di ranjang dan menggerakkan tanganku ke bawah untuk menarik pertahanan terakhir tubuhnya. Kini kami sudah sama-sama telanjang dan siap untuk melanjutkan pertempuran kami di ranjang. Kembali aku membenamkan kepalaku di antara kedua belah pahanya, menciumi dan menjilati bibir kiri dan kanan kemaluannya. Nelly mendesah setiap kali aku menyentuh kewanitaannya dengan lidahku. Harum kewanitaannya benar-benar tercium menambah keindahan pemandangan di depan mataku, bulu-bulu kemaluannya tampak tercukur rapi di atas klitorisnya. Dan ke sanalah aku mengarahkan seranganku selanjutnya, aku mencumbu klitorisnya dengan kombinasi belaian lidah dan jari-jemariku. Tubuh Nelly semakin menggelinjang dan bergerak-gerak seperti cacing kepanasan. Ia kembali merengkuh kepalaku dan membenamkanya semakin dalam di daerah kewanitaannya sehingga aku susah bernafas dengan bebas.

Menit demi menit berlalu dan aku masih bermain di kewanitaannya, aku memberikan semakin banyak rangsangan kepada Nelly untuk membalas sensasi yang telah ia berikan kepadaku sampai akhirnya ia melonjak, mengejang dan melengkungkan tubuhnya sesaat. Ia telah mencapai orgasme pertamanya. Aku membiarkan ia menikmati gelombang orgasme pertamanya selama beberapa saat dengan terus memainkan lidahku dengan lembut di daerah sensitifnya. Untuk beberapa menit ke depan ia terbaring lemas karena gelombang orgasme yang telah melandanya. "Wow, you are wonderfull," katanya. Kami memang sering memakai bahasa Inggris untuk berkomunikasi satu sama lain, untuk berlatih memperlancar pemakaian bahasa Inggris kami yang agak jarang dipergunakan. Aku sendiri hampir dapat berbahasa Inggris dengan lancar karena aku bekerja di sebuah perusahaan asing yang memiliki banyak tenaga dari luar negeri.

Aku merebahkan tubuhku di sampingnya sambil mengecup mesra pipinya. Ia kemudian membalas dan kami pun mulai ber-French Kiss kembali. Ia menjulurkan tangannya ke bawah dan mulai mengusapi kejantananku kembali dan kembali memberikan sensasi yang luar biasa ke dalam tubuhku. Nelly lalu menegakkan badannya, bangkit ke posisi duduk dan kembali mengantar mulutnya untuk bermain-main dengan kejantananku. Aku menikmatinya sesaat sebelum akhirnya menarik tubuhnya ke atas tubuhku. Kami pun ber-sixty nine. Kali ini aku mulai memasukkan jariku ke dalam liang kewanitaannya, menggerakkannya dengan halus di dalam liang tersebut dan perlahan tapi pasti bergerak menuju titik G-Spotnya. Nelly kembali mengejang saat jariku menyentuh G-Spotnya, ia berhenti bermain dengan kejantananku untuk beberapa saat untuk menikmati rangsangan yang sedang melanda tubuhnya dari titik G-Spot tersebut. Aku dapat mendengarnya mendesah-desah pelan setiap kali aku menggerakkan jariku di dalam liangnya. Dan desahan itu semakin keras saat aku mulai menyertakan lidahku untuk membelai-belai klitorisnya dari luar.

Rangsangan yang menjalari tubuh kami rupanya sudah semakin hebat dan kami pun bergerak lebih lanjut untuk menyelesaikan permainan ini. Theres no way of turning back now Nelly bergulir ke sampingku, memutar posisi tubuhnya sehingga kami dapat berciuman kembali dan kembali menaikkan tubuhnya ke atas tubuhku. Tangannya menjulur ke bawah menggapai kejantananku untuk dibimbing menuju liang kewanitaannya. Ia mendesah kembali saat ujung kejantananku menyentuh permukaan kewanitaannya, ia menggesek-gesekkannya sebentar di bibir kemaluannya dan mulai menurunkan pantatnya menyambut kejantananku saat ia merasa posisinya sudah tepat. Ternyata foreplay yang lama ini belum cukup untuk membuat kejantananku dapat memasuki kewanitaannya dengan lancar tanpa halangan. Dinding-dinding kewanitaannya terasa begitu kencang menjepit batangku yang berusaha mencari jalan masuk. Rupanya Nelly pun merasakan hal yang sama, ia bergerak-gerak sedikit untuk mempermudah kejantananku mencari jalan. Dan akhirnya setelah beberapa menit bekerja keras seluruh batangku dapat tertanam dengan mantap di liang kewanitaannya.

Kami mendesah nikmat bersamaan dan terdiam sesaat saat ujung kejantananku terasa menyentuh ujung rahimnya. Kurasakan betapa dinding-dinding dalam kewanitaannya begitu erat menjepit dan memijat kejantananku, rupanya inilah gunanya mempelajari senam seks. Nelly pernah menceritakan kepadaku bahwa senam yang satu ini dapat melatih wanita mengatur otot-otot kewanitaannya untuk menghadirkan sensasi yang luar biasa bagi lawan mainnya. Sensasi tersebut berganti sensasi lainnya saat Nelly mulai menggerakkan pantatnya naik turun, membuat kejantananku bergerak keluar dan masuk liang kenikmatannya. Aku pun tak mau diam saja, aku mengangkat pantatku naik dan mendorong kejantananku melesak makin dalam saat Nelly menurunkan pantatnya. Aku mencoba menggesek G-Spotnya dengan kejantananku, dan rupanya berhasil. Tidak hanya itu saja, aku juga menggerakkan kedua tanganku untuk meremas-remas kedua bukit indah dengan putingnya yang tampak di depan mataku sesekali juga aku menghisap kedua puting itu bergantian untuk menambah rangsangan bagi kami berdua.

Nelly mendesah dan bergerak semakin seru setiap kali kejantananku menghantam ujung rahimnya. Semakin lama gerakan kami berdua semakin cepat dan semakin menguras tenaga, sampai akhirnya Nelly mengejang dan melengkungkan badannya kembali. Gelombang orgasme kedua telah melandanya. Ia tampak masih berusaha meneruskan gerakan-gerakan naik turunnya untuk menikmati orgasmenya yang kedua sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya yang lemas di atas tubuhku dan terdiam untuk beberapa saat. Tubuhnya bermandikan keringat, padahal udara ruangan cukup dingin karena hari sudah mulai pagi dan AC yang menyembur kencang. Aku mengambil selimut yang berada di sampingku dan menebarkannya untuk menutupi tubuh kami berdua supaya tidak masuk angin.

"Kamu hebat, aku sudah dua kali sedangkan kamu belum juga," katanya memecah keheningan diantara kami.
"Mungkin ini karena pengaruh obat," jawabku.
"Ya, aku yakin narkoba lah yang telah menambah daya tahanku. Lets do our favorite style," katanya lagi.
Kebetulan kami memang punya gaya favorit yang sama yaitu gaya anjing, kami pernah membicarakan hal ini meskipun kami belum pernah melakukannya bersama. Kami hanya bercerita bahwa pernah melakukannya dengan partner kami sendiri-sendiri. Dari situlah aku tahu bahwa seks bukanlah hal yang asing baginya. Kami pun mengambil posisi untuk melanjutkan permainan kami (seperti mau lomba lari saja). Nelly mengambil posisi merangkak di atas ranjang dengan kedua tangan berpegangan pada sandaran ranjang sementara aku mengambil posisi di belakangnya dan mulai mengarahkan kejantananku untuk kembali memasuki liang kewanitaannya. Kali ini aku dapat menanamkan kejantananku di tempat tujuannya tanpa banyak perjuangan, tapi tetap saja terasa betapa otot liangnya meremas dengan kuat setiap senti batangku saat bergerak masuk.

Aku kembali menggerakkannya keluar masuk saat kurasa posisiku sudah mantap. Nelly pun ikut berpartisipasi aktif menggerakkan pantatnya ke kiri, kanan dan berputar-putar dengan erotis menyambut gerakanku Setiap gerakan menghadirkan rangsangan dan sensasi yang berbeda bagi kami berdua. Kami tidak bertahan lama dalam posisi ini karena dalam beberapa menit saja aku sudah merasakan gelombang orgasme yang kutunggu-tunggu akan segera melanda. Aku semakin mempercepat gerakanku dan membuat Nelly juga semakin mempercepat gerakannya. Akhirnya gelombang orgasme terakhir kami datang bersamaan dan kami masih terus bergoyang untuk menikmatinya sambil aku merasakan kejantananku berdenyut-denyut mengeluarkan lahar panas di dalam kewanitaan Nelly membasahinya sampai ke bibir bagian luar. Kami berdua terkulai lemas sesaat setelah gelombang orgasme itu melanda.

Aku membenarkan posisi tidurku agar tidak menindihnya, mengambil selimut dan kembali menyelimuti badan kami yang basah oleh keringat. Kami pun tertidur berpelukan untuk beberapa saat. Selang beberapa saat kemudian kami pun kembali berpakaian dan keluar dari kamar untuk kembali bergabung dengan teman-teman yang lain. Beberapa teman tampak memandang sesaat saat kami melangkah keluar dari kamar dan kemudian kembali dengan kesibukannya masing-masing. Aku menuju dapur untuk mencari minuman bagi kami berdua, pengaruh obat sudah tidak kurasakan lagi di kepalaku, hanya ada memori indah tentang apa yang baru saja terjadi di antara aku dan Nelly.

Aku bersandar di dinding dapur sambil merengkuh Nelly ke dalam pelukanku. Nelly pun merapatkan tubuhnya ke dadaku sambil sesekali mereguk minuman kaleng yang kuberikan. Kami memandangi sinar matahari yang mulai tampak menghiasi kaki langit. Pemandangan yang begitu indah tapi jauh lebih indah memori yang telah kami ukir semalam. Memori indah tersebut sampai kini masih ada di kepalaku walaupun aku sudah tidak tahu dimana Nelly kini berada. Kami putus hubungan dan aku kehilangan jejaknya beberapa bulan setelah malam di apartemen itu. Kabar terakhir yang kudengar bahwa ia akan segera menikah di akhir tahun ini, itu berarti tidak ada lagi kesempatan bagi kami untuk mengukir lebih banyak kenangan indah bersama. Well, tidak untuk bersama Nelly tetapi aku sendiri masih dapat mengukir banyak kenangan indah lain bersama wanita-wanita lainnya. Hanya saja apakah kenangan itu akan seindah kenanganku bersama dia? Thats another story guys and I promise to tell you if I have the chance So Well see about that See you later, thanks.

Tamat


Dosen Favoritku

Posted: 07 Dec 2007 11:50 PM CST

Namaku Anita, kelahiran Samarinda, kuliah di fakultas Ekonomi sebuah PTS cukup beken di kota Malang, saat ini semester 6. Kabarnya teman kuliahku bilang aku cukup manis untuk dipandang, dengan ukuran buah dada 34C, tubuhku seolah tak kuat menyangga buah dadaku. Tinggiku 165 cm dan beratku 60 kg, kulitku putih mulus dan pantatku berisi. Tiap kuliah dengan kelebihan yang kupunya aku berusaha menarik perhatian semua orang dengan pakaian ketat dan rok miniku berjalan melenggang. Semua mata tertuju kepadaku ada juga beberapa berdecak kagum atas kemolekan tubuhku dan, aku bangga menyaksikan semua itu.

Terus terang aku sudah tidak perawan sejak usia 18 tahun pada waktu aku di SMA, karena bebasnya pergaulan dan longgarnya tatanan keluargaku aku bebas pergi kemana saja yang kusuka. Keperawananku hilang saat aku melakukan kegiatan "camping" bersama teman-teman saat perpisahan sekolah di suatu tempat pariwisata. Aku tidak menyesali karena kulakukan atas dasar suka sama suka.

Kuliah sore ini adalah dosen favoritku. Faisal namanya, wajahnya ganteng atletis dan banyak sekali mahasiswi yang berusaha menarik perhatiannya pada saat dia mengajar. Bahkan aku pernah dari kakak tingkatku walau dia kelihatan alim sebenarnya piawai juga dalam menaklukkan hati wanita yang diincarnya. Pak Faisal sudah berkeluarga tetapai masih banyak juga mahasiswi yang tergila-gila melihat penampilannya termasuk aku sendiri. Aku pilih tempat duduk paling depan lurus dengan tempat duduknya biar aku dapat dengan mudah dan puas memandangnya. Tak lama kemudian Pak Faisal memasuki ruangan, setelah memberikan salam dan berbasa-basi pelajaran dilanjutkan. Aku tidak dapat konsentrasi pada kuliah yang diajarkannya, pikiranku tertuju pada wajah dan bodinya yang tepat berdiri di depanku. Sesekali kugerakkan kakiku untuk menarik perhatiannya dan dia terpancing, diliriknya rokku yang cukup sempit itu, sreet. Dan dipalingkan wajahnya pada pandangan lain, ah dia kena, pikirku. Dan secara tidak sengaja dilemparkan pandangannya pada daerah dadaku Pak Faisal agak terbelalak melihat belahan dadaku yang seolah mau melompat keluar karena ketatnya T-shirt yang kukenakan.

Merah wajahnya seketika menyadari keadaan ini dan dia pura-pura menulis di papan. Selang beberapa saat dia melanjutkan membahas materi kuliah dan kini aku yang benar-benar terkejut, kulihat celana Pak Faisal ada yang menggembung di bagian depan. Beberapa mahasiswa tersenyum malu memandangnya bahkan ada yang sempat terhenyak sampai menutup mulutnya. Kubayangkan betapa besar batang kemaluan Pak Faisal yang sekarang sembunyi di balik celananya. Aku semakin terkagum dan merinding membayangkan andaikan vaginaku yang sempit ini sempat disinggahi oleh batang kemaluannya. Ketika kuliah usai mahasiswi ramai membicarakan kejadian yang baru berlangsung yaitu menggembungnya celana Pak Faisal.
"Eh, Neti kamu lihat nggak anunya Pak Faisal meradang", tanya Nina sambil berbisik berbicara dan menutup mulutnya.
"Iya Nin, Aku jadi merinding lho membayangkan, ngeri juga ya, kalau kamu bagaimana Anita", Tanyanya kepadaku, mereka berdua denganku (jadi bertiga) adalah kelompok belajar yang kadang suka ngerumpi hal-hal yang jorok-jorok untuk selingan, dan kedua temanku juga orangnya fair dia mengaku sama-sama tidak perawan dan senang melakukan hubungan seks dengan orang yang di sukai. Yang jelas ketiganya ini memang sedang berburu Pak Faisal, Karena konon kabarnya Pak Faisal pernah juga terlibat beberapa kali affair dengan mahasiswinya dan semua berjalan santai-santai saja.
"Pasti dong, aku kan duduk depan sendiri jadi aku paling jelas lihat burung raksasanya, benar juga ya kali. Kakak tingkat kita itu yang pernah sama dia pasti ketagihan dibuatnya,.." cerita Anita berapi-api, " Dan yang jelas aku pengin mendapatkannya", lanjutnya.

Setelah puas ngerumpi kiri, kanan, depan dan belakang mengupas habis masalah dosen favorit, aku berpisah dengan sahabatku untuk janji bertemu besok dan akan berusaha bertemu dengan Pak Faisal pada minggu depan, aku berjalan kaki karena kebetulan mobil yang biasa kupakai harus mengalami pemeriksaan medis di bengkel. Tak kurasakan ada mobil berjalan pelan mengikutiku sampai akhirnya kira-kira berjarak 300 meter di luar halaman kampus, kaca jendela mobil terbuka dan kudengarkan suara yang tidak asing menawari untuk mengantarku. Aku menoleh dan, deg, deg, deg, jantungku seakan berhenti. Pak Faisal yang baru saja kubicarakan tersenyum manis mengajakku. Tanpa berkata lagi aku langsung membuka pintu kiri dan kuletakkan pantatku pada tempat duduk kiri. Mata Pak Faisal tak luput melihat pahaku yang tersingkap dan dengan cepat kututup pintu serta membenahi letak dudukku yang terlalu sembrono itu.

Mobil berjalan lambat kuperhatikan interior di dalamnya cukup mewah dengan lapisan karpet halus dan bersih serta wangi, aku kerasan di dalam mobilnya. Sesekali mata Pak Faisal mengarah pada belahan dada yang padat berisi, apabila jalan bergelombang tak ayal lagi dadaku ikut turun naik sesuai irama jalan. Tak terasa perjalanan sudah jauh melampaui arah kos-kosanku. Sambil bercerita ringan Pak Faisal memindahkan persnelling tanpa melihatnya dan.. secara tidak sengaja dia menyenggol pahaku, cepat-cepat ditarik tangannya sambil mengucapkan maaf berkali-kali. Aku tersenyum saja padahal aku juga kepingin tangannya berlama-lama di pahaku bahkan tidak hanya di paha saja.

Tak terasa mobil dibelokkan pada restoran yang mewah dengan fasilitas karaoke. Pak Fasial memilih tempat yang asri dengan lokasi pribadi ruang hanya untuk dua orang. Setelah makanan tersedia Pak Faisal menikmati sambil bernyanyi. Merdu juga suaranya, mesra di telinga. Ruangan ber-AC tinggi membuat aku agak dingin, sengaja kurapatkan dudukku untuk tidak terlalu dingin, Pak Faisal masih terus bernyanyi. Dua lagu telah selesai dinyanyikan dan dengan lembut tangannya mulai memeluk bahuku dan.. gila, aku menikmati sekali. Tak lama kemudian dia semakin berani mempermainkan rambutku, aku tetap terpejam dan disentuh bibirku dengan tangannya akhirnya perlahan dan lembut bibirnya merapat di bibirku. Aku tidak menyia-nyiakan keadaan ini dengan cekatan pula kujulurkan lidah kecilku untuk dinikmati dan kami saling berpagukan ketat. Kuhisap mulutnya dia juga membalas tangkas sampai aku hampir kehabisan nafas, dia tidak diam dengan perlahan diraihnya payudaraku dari luar kaos dan tangannya mulai menyibak kaosku. Dingin terasa payudaraku disentuh jari yang kokoh. Putingku tak luput dari jarinya dan kurasakan pentilku mulai mengeras. Aku masih tetap memeluk dan kuciumi lehernya. Perlahan ditarikknya kaosku keatas hingga tinggal BH dan rok miniku saja, dia semakin agresif saja kelihatannya, Pak Faisal berdecak kagum melihat buah dadaku meyembul besar seakan BH-ku tak sanggup menampung semua payudaraku ini. Didekatkan kumisnya pada susuku aku kegelian dan kurasakan hangat lidahnya mengulum pentilku, aku kegelian hebat. Rambut Pak Faisal jadi sasaran untuk menahan geli, aku mengucek dan menjambak rambutnya, tetapi dia semakin menjadi. Susuku diberi cupang hingga nampak merah pekat ganas sekali dia, pikirku.

Perlahan diraihnya leher dan aku ditidurkan di atas sofa, lagu karaoke sendu menambah gairahku semakin tinggi. Pak Faisal tak bosan-bosan menciumi bagian tubuhku dan kurasakan pahaku bersentuhan dengan tangan berbulu milik Pak Faisal. Rokku disibak dan ditariknya keras sehingga pengaitku lepas, gila cing.. kini tinggal celana dalamku yang berwarna ungu serta BH dengan warna yang sama. Pak Faisal semakin bernafsu, mulutnya menjalar kemana-mana aku hanya gelisah dan mengerang, semakin aku mengerang semakin ganas dia melakukan aksinya.
"eeh, Pak, Pak, Faisal, aah", Aku nggak betah saat dia memainkan vaginaku dengan tangannya dan dielus lembut bulu vaginaku yang mulai basah. Aku kegelian saat jari tengahnya dimasukkan kedalam lubang vaginaku, dia semakin bernafsu.
"hhmm, Hmm", lenguhnya.

Aku semakin menjadi tak menentu, kekuatanku hilang saat Pak Faisal dengan fasih menaruh lidahnya dalam lubang kemaluanku, digigit-gigit kecil kelentitku yang memanjang dan semakin basah. Bunyi kecipak air kemaluanku menambah Pak Faisal semakin berani menjulurkan lidahnya pada bagian dalam. Aku semakin kegelian. Semakin aku menggeliat mengangkat pantat kurasakan sentuhan lidah dalam vaginaku dan tangan Pak Faisal yang satu juga masih tidak mau lepas pada payudaraku. Lengkap sudah kepuasan saat ini. Semua daerah sensitif milikku telah direngkuhnya. Tangannya sekarang sibuk melepas baju dan kini dia tinggal celana saja. Disuruhnya aku duduk dan dia berdiri, tanganku dituntun ke arah celananya dan disentuhkannya pada benda yang mengeras dibaliknya. Kuelus lembut, kutempelkan mukaku pada celana tersebut terasa berdenyut keras. Aku mulai tak sabar kubuka retsleting celana Pak Faisal, kulihat putih warna celana dalamnya dan.. Astaga kepala kemaluan Pak Faisal ternyata sudah keluar dari kolornya kucoba meraba ujung kemaluannya, keluar air sedikit agak liat. Celana dalam putih kutarik ke bawah dan aku kaget setengah mati, baru kali ini kulihat kemaluan lelaki kaku mendongak ke atas, otot-ototnya kelihatan jelas meradang dan ukurannya tak terbayangkan. Aku was-was, digoyang-goyangkan kemaluannya ke arah mukaku, terasa pipiku seperti dipukul palu. Dengan senyum kupegang kemaluan Pak Faisal dan.. Wuuiihh tanganku tak cukup melingkari bulat kemaluannya dan panjangnya kuperkirakan sekitar 22 cm, dia juga tersenyum melihat kebingunganku. Kulihat dia sambil melongo dan dia tidak menyia-nyiakan waktu dengan mendesakkan kemaluannya ke mulutku.

Mulutku yang kecil tidak muat mengulum semuanya hingga masih banyak yang tersisa di luar. Aku dengan menganga penuh kususahan agar kemaluan Pak Faisal masuk dalam rongga mulutku, tetapi masih tidak bisa. Akhirnya aku jilati secara merata, dia mulai menggelinjang dan melenguh. Mulai dari ujung kugerakkan masuk dan keluar dengan mulutku dia semakin tidak karuan juga geraknya. Dengan susah payah kukelomoh kemaluan Pak Faisal yang besarnya seperti botol, semakin cepat dan semakin cepat. Kurasakan ada cairan manis keluar sedikit di mulutku. Kuhisap semakin kuat dan kuat, Pak Faisal pun semakin keras erangannya. Pak Faisal mulai ingat tangannya bekerja lagi mengelus vaginaku yang mulai mengering basah kembali. Mulutku masih penuh kemaluan Pak Faisal dengan gerakan keluar masuk seperti penyanyi karaoke.

Aku tersentak merasakan Pak Faisal menarik kemaluannya agak keras menjauh dari mulutku dan dengan sigap ditidurkannya aku di atas karpet, kedua kakiku diangkat diletakkan di atas pundaknya kiri kanan sehingga posisiku mengangkang, dia bisa melihat dengan jelas vaginaku yang kecil namun kelihatan gemuk seperti bakpau. Kulihat dia mengelus kemaluannya dan menyenggol-nyenggolkan pada vaginaku aku kegelian. Aku bersiap dibukanya kemaluanku dengan tangan kiri dan tangan kanan menuntun penisnya yang gede menuju lubang vaginaku. Didorongnya perlahan, sreett, dia melihatku sambil tersenyum dan dicobanya sekali lagi, mulai kurasakan ujung kemaluan Pak Faisal masuk perlahan. Aku mulai geli tetapi agak sakit sedikit. Pak Faisal melihatku meringis menahan sakit dia berhenti dan bertanya, "Sakit ya..", Aku tidak menjawab hanya kupejamkan mataku ingin cepat merasakan kemaluan besarnya itu. Digoyangnya perlahan dan.. Bleess digenjotnya kuat pantatnya kedepan hingga aku menjerit, "aauu." Kutahan pantat Pak Faisal untuk tidak bergerak. Rupanya dia mengerti vaginaku agak sakit dan dia juga ikut diam sesaat. Kurasakan kemaluan Pak Faisal berdenyut dan aku tidak mau ketinggalan. Aku berusaha mengejan sehingga kemaluan Pak Faisal merasa kupijit-pijit. Selang beberapa saat vaginaku rupanya sudah dapat menerima semua kemaluan Pak Faisal dengan baik dan mulai berair sehingga ini memudahkan Pak Faisal untuk bergerak. Aku mulai basah dan terasa ada kenikmatan mengalir di sela pahaku. Perlahan Pak Faisal menggerakkan pantatnya kebelakang dan kedepan, aku mulai kegelian dan nikmat. Kubantu Pak Faisal dengan ikut menggerakkan pantatku berputar.

"Aduuhh, Anita", erang Pak Faisal menahan laju perputaran pantatku rupanya dia juga kegelian kalau aku menggerakkan pantatku. Ditahannya pantatku kuat-kuat agar tidak berputar lagi, justru dengan menahan pantatku kua-kuat itulah aku menjadi geli dan berusaha untuk melepaskannya dengan cara bergerak berputar lagi tapi dia semakin kuat memegangnya. Kulakukan lagi gerakanku berulang dan kurasakan telur kemaluan Pak Faisal menatap pantatku licin dan geli. Rupanya Pak Faisal termasuk kuat juga berkali-kali kemaluannya mengocek kemaluanku masih tetap saja tidak menunjukkan adanya kelelahan bahkan semakin meradang. Kucoba mempercepat gerakan pantatku berputar semakin tinggi dan cepat kulihat hasilnya Pak Faisal mulai kewalahan dia terpengaruh iramaku Yang semakin lancar. Kuturunkan kakiku mengkamit pinggangnya, dia semakin tidak leluasa untuk bergerak sehingga aku bisa mengaturnya. Aku merasakan sudah tiga kali vaginaku mengeluarkan cairan untuk membasahi kemaluan Pak Faisal tetapi Pak Faisal belum keluar juga.

"Kecepek, kecepek, kecepek", bunyi kemaluanku saat kemaluan Pak Faisal mengucek habis di dalamnya aku kegelian hebat, "Anita, aku mau keluar, Tahan ya.." Pintanya menyerah. Tanpa membuang waktu kutarik vaginaku dari kemaluannya, kugenggam dan dengan lincah kumasukkan bonggol kemaluan tersebut kedalam mulutku, kukocok, sambil kuhisap kuat-kuat, kuhisap lagi dan dengan cepat mulutku maju mundur untuk mencoba merangsang agar air maninya cepat keluar. Mulutku mulai payah tapi air mani yang kuharapkan tak juga keluar. Kutarik kemaluannya dari mulutku. Pak Faisal tersenyum dan sekarang telentang. Tanpa menunggu komando kupegang kemaluannya dan kutuntun kelubangku dengan mendudukinya. Aku bergerak naik turun dan dia memegang susuku dengan erat. Tidak lama kemudian ditariknya tubuhku melekat di dadanya dan aku juga terasa panas. Sreet, sreett, srreett kurasakan ada semburan hangat bersamaan dengan keluarnya pelicin di vaginaku dia memelukku erat demikian pula aku. Kakinya dijepitkan pada pinggangku kuat-kuat seolah tak bisa lepas. Dia tersenyum puas.
"Nita, tak pernah aku merasakan vagina kecil seperti punyamu ini, nikmat gila memijit punyaku sampai nggak karuan rasanya, aku puas Nit.""aahh Bapak bohong, berarti sering dong ngerasain yang lain", manjaku.

Dia tidak menjawab hanya tersenyum dan kembali mengulum bibirku kuat-kuat. Akhirnya kita keluar dari karaoke dan pulang menuju ke rumah. Kini tangan Pak Faisal menempel pada pahaku dan tanganku menempel di celananya. Sesekali kusandarkan wajahku di dadanya dan jari nakal Pak Faisal mulai beraksi dengan manja. Kurasakan gumpalan daging kemaluan Pak Faisal mulai mengeras lagi, dia tersenyum melihatku dan dipinggirkan mobilnya pada tempat yang cukup sepi. Kugosok pelan pelan kemaluan Pak Faisal semakin mengeras. "Gila baru main sudah minta lagi rupanya, wah gawat ini bisa nggak pulang dong malam ini", pikirku.

Diciumnya kening dan pipiku dan dia berkata manja."Kalau sekarang Nita boleh ngeluarin punyaku ini dimulut seperti tadi", aku terbelalak rupanya dia mengerti keinginanku tadi belum kesampaian dan inilah saatnya. Tanpa ba bi Bu lagi kuarahkan ke bawah retsleting celananya dan aku kaget ternyata Pak Faisal tidak memakai celana dalam, gila dia sudah ngerti rupanya.
"Lho Kemana CD-nya pak", tanyaku pura-pura bingung."Sudah tak taruh di bagasi kok", jawabnya kalem sambil mendorongkan kepalaku ke arah kemaluannya. Aku menurut, malam ini aku bebas berbuat apa saja terhadap kemaluan Pak Faisal. Kuhisap dengan berbagai cara agar aku puas dan puas, kursi ditarik kebelakang jadilah posisi Pak Faisal seperti orang setengan telentang aku semakin leluasa menghisap kemaluan itu. Tangan Pak Faisal pun tak tinggal diam diselipkan pada vaginaku yang basah lagi, dia juga berusaha memasukkan jari tengahnya penuh ke vaginaku, sesekali diremasnya kuat susuku saat dia kegelian.

Kulepas mulutku, kulihat kemaluannya itu lagi sambil kugosok naik turun seperti onani, aku kagum melihat ukurannya. Kuhisap lagi berulang sampai aku puas. Aku mulai merasakan adanya cairan manis keluar dari ujung kemaluannya. Aku terus berusaha, mulutku mulai payah, kugoyang-goyangkan telur kemaluan Pak Faisal, dia kegelian dengan mengucek vaginaku dalam-dalam.
"eehh, sstt, aahh", kudengar erangannya mulai tidak karuan, aku terus melakukan hisapan, kuluman dan jilatan pada kemaluan yang membonggol itu dan hasilnya luar biasa.
"Nit, aku mau keluar nih." Mendengar perkataan itu aku semakin gencar melakukan hisapan sambil tanganku bergerak naik turun untuk mempercepat rangsangannya. Dan tak lama kemudian, "Sreett.. srreett.." kurasakan dua semburan air warna putih pekat masuk mulutku terasa agak manis asin. Karena kuatnya semprotan dari kemaluan Pak Faisal kurasakan ada air mani yang langsung masuk tertelan. Aku bertahan sambil terus menghisap dan dia semakin tidak karuan tingkahnya. Kuhisap terus sampai terasa tidak ada lagi air mani yang keluar dari kemaluan Pak Faisal. Kubersihkan kemaluan Pak Faisal dengan menjilatinya sampai bersih. Aku puas merasakan semuanya dan Pak Faisal pun demikian. Masih terus kujilati dan kudorong keluar masuk kemaluan Pak Faisal dia terus mengerang tidak karuan. Aku bahagia, sebentar kemudian kurasakan kemaluannya mulai mengecil dan lemas, pada saat kecil dan lemas tersebut aku merasakan mulutku mampu melahap kemaluannya secara menyeluruh.

Diciumnya keningku yang basah keringat, tepat pukul 22.00 aku sudah sampai di Kos-ku dan berharap suatu saat Pak Faisal mengajakku kembali. Pada esoknya sahabatku hanya ternganga mendengar ceritaku yang telah berhasil berkencan dengan Pak Faisal sampai keluar air maninya dua kali, dia mengatakan aku curang karena tidak memberi tahu bagaimana cara menggaet Pak Faisal. Aku cuek saja dan sampai kini walaupun aku sudah berkeluarga aku masih sering membayangkan kemaluan Pak Faisal yang tegak menantang itu, hal ini dikarenakan suamiku orangnya pekerja keras sehingga lupa waktu dan jarang memberikan nafkah batin yang cukup, tetapi sayang sejak menikah aku tidak pernah ketemu lagi sama orang yang memiliki kemaluan dan permainan seks yang hebat.

Tamat


Donnyku Sayang Donnyku Malang

Posted: 07 Dec 2007 11:50 PM CST

Namanya Donny, entahlah itu nama ia sebenarnya atau tidak. Laki-laki yang mengaku umurnya 27 tahun itu memiliki kulit sawo matang dan wajah yang menarik. Untuk laki-laki sebayanya, Donny adalah sosok laki-laki yang unik, ini karena dia sudah kukenal 9 bulan lamanya. Aku memanggilnya Aa karena dia jauh lebih tua umurnya dibanding aku dan karena dia adalah orang Bandung.

Oh ya, perkenalanku dengan Aa dimulai dari seringnya aku menggunakan internet untuk mencari tugas kuliah, sebagian waktuku kadang kusisakan untuk berchating ria. Hitung-hitung mencari sahabat penghilang rasa stress. Dan Aa ini adalah salah satu produk yang sangat mujarab, ibarat obat ia adalah puyer penghilang segala rasa sakit, yang tadinya pikiran suntuk setelah ngobrol dengan Aa semuanya menjadi fress kembali.

Aa bekerja pada sebuah perusahaan BUMN, dan pekerjaannya itu berhubungan dengan dunia internet, aku juga tidak tahu persisnya Aa mengerjakan apa namun yang pasti Aa adalah sosok laki-laki yang kuimpakan, walaupun pada kenyataannya Aa telah bertunangan dengan gadis asal daerahnya.Namun, karena letak perusahaannya amat jauh, mereka hanya bisa bertemu sekali-sekali saja.

Seperti biasanya jam 4 sore aku online, Aa telah menungguku. Beberapa hari ini aku memang jarang sekali OL, karena banyak tugas kuliah yang mesti kuselesaikan. Aa mengatakan kalau dia sangat merindukanku, betapa sepi hari-harinya tanpa aku di sisinya. Ceilee.. itulah rayuan gombal yang sangat kurindukan darinya. Entahlah dengan Aa, aku bisa menjadi sosok seorang wanita yang kompleks, kadang Aa menjadikanku seorang sahabat, adik, teman dan tidak jarang Aabersikap sebagai kekasih. Tapi kebanyakan sih Aa selalu menggodaku. Layaknya laki-laki yang normal, Aa juga kadang suka jahil mengarahkan pembicarAan ke hal-hal yang berbau seks, yang jujur saja bagiku itu amat menantang karena pada Aa, aku bisa mencari jawaban atas pertanyaanku. Dan rasa penasaranku tentang hubungan badan yang akhir-akhir ini kami diskusikan membawaku pada sebuah keinginan untuk merasakan keabsahan cerita Aa. Namun aku hanya bisa menyimpan keinginan itu, karena dalam dunia nyata aku tidak memiliki kekasih. Mungkin karena aku adalah gadis yang sangat tertutup dan tidak mau membuka diri dalam dunia laki-laki. Atau semua ini karena trauma kebencianku pada laki-laki akibat penyelewangan ayahku yang kini menghasilkan seorang bayi yang mungil ditengah keluargaku.

Tepat satu tahun perkenalan kami, aku mendapatkan sebuah undangan dari LSM, dan letak LSM itu dekat dengan kota tempat Aa tinggal. Sengaja aku tidak mengatakan padanya, aku ingin ini menjadi kado bagi pertemuan kami. Setelah sampai di hotel tempatku menginap, aku meneleponnya. Kukatakan padanya aku ingin bertemu, Aa hanya menanggapinya dengan sebuah suara tawa yang meledekku. Namun sebelum Aa menyelesaikan tawanya, aku memberi nomor telepon di hotel tempatku menginap. Tentu saja dia terkejut, kalau saja hari itu tidak ada rapat penting, dia sudah berada di sisiku goda Aa padaku, namun setelah rapatnya selesai dia segera akan ke tempat hotelku menginap.

Jam tujuh malam, aku menunggunya di lobby. Untung saja kawan-kawanku di LSM sudah selesai merapatkan seminar yang akan kami gelar esok lusa. Dengan bermodalkan photo yang dia berikan padaku, aku melihat satu persatu tamu yang memasuki hotel, namun sampai jam delapan malam, Aa tidak datang. Jangankan batang hidungnya, telepon saja tidak kuterima. Tentu saja aku kecewa, kukira Aa adalah orang yang suka menepati kata-kata, tapi toh apa kenyataannya, pelan-pelan kecurigaan muncul di benakku, mungkinkah semua ini cuma sekedar permainan orang iseng, atau photo yang diberikan Aa padaku bukanlah Aa yang sebenarnya. Ah.. pikiranku kacau.

Jam 8:30 malam aku meninggalkan hotel. Aku menitipkan pesan kepada resepsionis bahwa kalau ada yang mencariku, aku sedang berjalan-jalan di pantai. Hembusan angin malam membuatku agak mengigil, namun toh ini semua tidak sedingin hatiku saat ini. Kubirkan rambut panjangku tergerai di mainkan sang bayu, kutatap bintang pada cakrawala yang hitam di atas mega, malam ini begitu indah dan syahdu dan jilatan-jilatan air laut pada kakiku memberikan kesan yang segar.

"Maaf.. apakah anda yang bernama Valencia?" sebuah suara mengagetkan dan menjajari langkahku.
"Hmm.. iya benar?" jawabku ragu-ragu.
"Maaf anda siapa yah..?" tanyaku penuh selidik.
"Masa dengan suara Aa kamu lupa Val..?" sahutnya kalem diiringi sebuah derai tawa.
Ya ampun.. seketika itu kupeluk Aa. Air mataku meleleh. Di dekapnya kepalaku erat-erat. Air mataku masih mengalir, menitik membasahi kemeja Aa. Dilepaskannya pelukanku, jemarinya menghapus air mataku.

"Valen menangis?" tanyanya retoris.
Aku mengangguk, ya aku menangis.. tangis bahagia.
"Kenapa baru tadi sore sih kamu telepon Aa ke kantor, lagian mo ke sini nggak bilang-bilang?" protes Aa.
"Biarin.. nanti gak surprise lagi," kataku.

Dan pandangan kami bertemu. Wajah Aa yang tegas, dengan mata elang serta alis yang tajam dan sebuah bibir yang merah menantang, kelihatan berseri-seri. Beberapa saat kami saling meneliti lekuk tubuh masing-masing.

"Kamu terlihat begitu cantik Val, tidak sama seperti yang di photo yang kamu kirimkan!" Aa menggodaku perlahan. Semburat rona merah akibat rasa malu yang melandaku tak bisa kutahan. Kucubit lengan Aa mesra.
"Tapi kok kamu nggak nungguin Aa di loby sih, malah melarikan diri ke sini, takut yah ama Aa." Aa melingkarkan tangannya ke pinggangku.
"Ihh nggak lagi.. lagian Aa kenapa malam banget sih baru datang ke sini?" rajukku kesal.
"Ya lah Val, kantor Aa kan jauh dari sini, lagian Aa kan musti beres-beres dulu mau ketemu bidadari cantik kayak kamu.." Aa mulai merayu. Aku tersenyum.
"Lagian kamu kok nggak bisa ngenalin suara Aa sih tadi.. Pura-pura yah." Aa menggodaku lagi.
Kucubit laki-laki jangkung di depanku.
"Maklum lah Aa.. disini kan samar-samar jadi nggak kelihatan jelas!" rajukku manja.
"Hehe bukannya remang-remang gini malah tambah asyik!" goda Aa sekali lagi.
"Emang sih, cuma Valen takut..?"
"Loh kok takut Val, Aa nggak gigit kok?!"
"Yah Aa nggak gigit cuma Aa ngesun aja dikit."
Kami tertawa bersama-sama. Dan yang membuatku bahagia Aa bisa membuat aku bahagia malam ini dengan obrolan-obrolannya yang lucu namun tetap memiliki style yang unik.

Malam itu kami merayakan pertemuan kami di pub, aku yang belum pernah minum-minuman kelas tinggi harus menerima juga, bukan apa-apa, aku ingin jaga gengsi saja, bukannya aku tidak ingin dikatakan gadis kampungan yang cara berpikirnya kolot.

Alhasil.. aku tidak bisa pulang ke kamarku sendirian. Aa membawaku ke kamar dengan memelukkuerat. Dibaringkannya tubuhku di ranjang itu. Aa segera melepaskan sepatuku dan menyelimutiku. Walaupun setengah pusing, aku bisa merasakan kecupan bibir Aa yang basah di keningku.

"Aa disini aja yah, Valen takut?!" ucapku lirih dan kugengam tangannya.
"Iya.. Aa disini kok, Valen tiduran aja yah? pintanya lembut.
Kurasakan jari-jemari Aa meremas jemariku, lembut dan hangat. Pelan-pelan kubawa jari-jemari Aa ke bibirku dan menciumnya lembut.
"Terima kasih yah A.. untuk malam yang terindah bagi Valen?" ucapku serak.
Aa tidak menjawabnya sebagai gantinya Aa malah memberikan ciuman pada bibirku. Ciuman itu lembut sekali, basah dan begitu manis. Tentu saja aku gelapan saat pertama mendapatkan serangan mendadak itu, namun pelan-pelan kunikati ciuman Aa. Perlahan-lahan Aa menurunkan ciumannya, dari bibir Aa terus turun ke leher dan aku hanya mengerang kecil. Perasaanku jadi tidak karuan, apalagi setelah lidah Aa mendarat di putingku, kurasakan sensasi yang sangat indah dan nikmat, "Ohh Aa.. ohh.. hemm.." aku mendesah keenakan.

Kurasakan Aa berhenti menciumiku, entahlah aku tidak tahu apa yang dilakukannya karena mataku sagat berat untuk kubuka, namun sejurus kemudian Aa telah mengulangi ciumannya, kali ini Aa melepas bajuku hingga tidak ada sehelai benangpun menempel di tubuhku. Tentu saja aku gelapan apalagi lidah Aa sudah berada di dalam daerah vitalku. Dengan lidahnya dia memilin-milin klitorisku dan menyedot cairan mani yang keluar dari vaginaku hingga kering, aku hanya bisa meremas bantal di sampingku untuk mereda sensasi yang ditimbulkan pada setiap gerakan lidah Aa, apalagi lidah Aa sangatlah panjang dan lembut serta basah. Setiap gerakannya merupakan sensasi yang dahsyat. Aku hanya bisa mengerang sementara Aa sibuk memberi pelayanan bagiku.

"Aa sekarang A.. Valen udah nggak tahan lagi?!" pintaku parau pada Aa.
"Boleh.." katanya disetai dengan desakan sebuah benda yang cukup keras pada liang kewanitaanku. Walapun aku sudah melebarkan kakiku lebar-lebar namun Aa tak bisa menembus liang kewanitaanku dengan barangnya. Namun dengan sebuah hentakan yang keras, disertai rasa perih yang hebat, Aa berhasil menebus dinding selaput daraku.

"Ooohh.. sakit A.." jeritku keras. Rasanya beribu-ribu silet menyayat dinding vaginaku. Aa terdiam sebentar. Dihentikannya gerakan memasukkan barangnya ke dalam liang vaginaku. Dialihkannya gerakannya pada bibirku, pelan-pelan bibirku dikulum dengan lidahnya dia beraksi menguragi rasa sakitku. Setelah ciuman kami berlangsung cukup lama, Aa kembali menggoyangkan pantatnya dan melakukan gerakan maju mundur, walaupun sakit namun kurasakan sensasi yanglain, ada perasaan geli, nikmat dan perih bercampur jadi satu pada gerakan Aa.

Beberapa menit kemudian Aa mempercepat gerakannya, dan kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan ketika Aa dengan erat memelukku. Kurasakan badan Aa bergetar di dalam pelukaku, nafasnya memburu cepat, dan sebuah sunggingan senyum puas terlihat di sudut bibir merah Aa. Ternyata keindahan yang kurasakan tidaklah dapat diukir dengan kata-kata.

Setelah kejadian itu, Aku pulang ke kotaku dan pada bulan berikutnya Aa melamarku. Namun aku tidak menginginkan keterikatan dengannya. Aa bukanlah pangeran impianku, pada dirinya aku hanya bisa menemukan nafsuku, bukan cinta yang selama ini yang kucari, walapun begitu aku berterima kasih padanya karena telah mengenalkanku pada sebuah dunia yang indah dan penuh dengan rangkaian kenikmatan.

Tamat


Ditunjukkannya Bukti Keperawanannya Padaku

Posted: 07 Dec 2007 11:50 PM CST

ni adalah pengalamanku beberapa tahun yang lalu. Kisah ini berawal dari kepindahan kerjaku di kota Tr. Singkatnya demikian, berawal di tahun 2003 aku pindah kerja karena operasional kegiatan tempat kerjaku harus pindah dari kota Sm ke kota Tr.

Di kota Tr inilah keadaannya terasa asing dan sepi, maklum baru pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini. Sebagai sarana menghilangkan rasa sepi saya mencoba mencari teman dengan memanfaatkan HT untuk mencari teman. Dengan memanfaatkan pipa yang berada di belakang rumah, saya dirikan tiang antena.

Setelah semuanya terpasang, kucoba menghidupkan HT-ku dan langsung saya mainkan dengan cara melakukan scanning. Tak lama saya menemukan channel yang kebetulan ramai sekali. Tak kusangka meski di kota ini sudah berkembang sarana komunikasi lewat HP namun penggunaan HT ternyata juga masih ramai. Kucoba untuk bergabung.
"Cek in, cek in..", barulah ada sambutan..
"Oke, yang cek in silakan".

Akhirnya mulai hari itu saya aktif ikut bergabung di channel tersebut sebagai sarana menghilangkan rasa sepi sekaligus untuk mencari teman. Pada suatu hari aku berkenalan dengan seseorang sebut saja namanya Uut, berawal dari perkenalan di udara, berlanjutlah dengan pertemuan di darat, dengan membuat janji untuk bertemu di suatu tempat.

Akhirnya kami sepakat untuk bertemu di sebuah rumah makan. Berawal dari pertemuan tersebut, hubungan kami kian hari semakin akrab, tidak kenal pagi siang bahkan malam kami intensif saling berkomunikasi. Dan pada suatu hari kami membuat janji untuk berjalan-jalan di sebuah tempat wisata yang ada di kota Tr.

Dengan mengendarai sepeda motor, kami berangkat menuju pantai yang berada di bagian timur kota ini. Jarak pantai tersebut dengan tempat tinggalku sekitar 5 km saja. Sesampai di lokasi yang kami tuju, kucari tempat yang teduh di bawah pohon pinus yang tumbuh rindang di lokasi tersebut, kustandar sepeda motor sekaligus sebagai tempat duduk.

Tak lama Uut mendekat dan kuminta duduk sekalian di jok sepeda motor yang sudah saya parkir. Kupegang tangannya dan kubimbing untuk ikut duduk, dia menurut saja. Sambil bercerita berbagai hal, kupandangi tubuhnya yang tinggi semampai di tunjang wajahnya yang cantik hingga dia terlihat tersipu malu. Kucoba memegang bahunya dan dia diam saja hingga aku semakin berani merangkul tubuhnya yang sintal padat berisi dari belakang, seakan dia sedang membonceng naik sepeda motor.

Kedua tanganku kuletakkan di kedua pahanya, dia seakan mengikuti dan menikmati hangatnya dekapan dan sentuhan lembut kedua tanganku. Kami berdua hanya diam membisu. Dengan gerakan pelan namun pasti, kedua tanganku kugeser mendekati pangkal pahanya kemudian naik ke buah dadanya. Kulihat dia sangat menikmati setiap gerakan tanganku.

"Boleh aku melihat punyamu sayang?" bisikku. Dia hanya diam saja. Aku ambil kesimpulan bahwa berarti dia tidak keberatan. Langsung saja tanganku kugerakkan dari bagian bawah kaos yang ia kenakan dan dari bawah BH-nya kuterobos dan kumasukkan kedua tanganku dan langsung kubelai dengan lembut kedua belah gunung kembarnya.

Ternyata dia hanya diam dan seakan menikmatinya. Setelah beberapa lamanya aku meremas-remas kedua gunung kembarnya di balik BH yang menutupinya, tanganku kembali aku tarik dan aku letakkan di kedua belah pahanya dengan diikuti tarikan nafas panjangnya.

Aku sendiri juga sangat menikmatinya. Hati kami berdua seakan telah menjadi satu. Tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua, namun tanganku tidak diam dengan diikuti usapan-usapan lembut tangan Uut, tanganku kemudian kuarahkan ke pinggangnya dan kuputarkan di resliting jelana jeans yang sedang ia kenakan lalu kubuka dengan pelan dan penuh perasaan kemudian tanganku kumasukkan ke dalamnya. Dia hanya terdiam sambil menengadahkan kepalanya ke angkasa sembari merebahkan tubuhnya ke dadaku.

Aku semakin berani hingga dengan penuh perasaan aku arahkan jemari tanganku ke lubang kenikmatannya yang masih terbungkus dengan CD halusnya. Aku sudah merasakan adanya kelembaban dan kehangatan dari dalamnya. Uut pun menarik nafasnya dalam-dalam seakan menikmati setiap gerakan tanganku.

Kemudian aku tarik tanganku pelan-pelan namun langsung kuselipkan ke dalam CD-nya yang halus hingga telapak tanganku langsung mendekap dengan penuh hangat sebongkah gundukan halus nan lembut sembari kudekap erat tubuhnya. Kubiarkan sekian lama aku hanyut menikmati dan merasakan menyatunya hati kami berdua.

Tak terasa matahari telah tenggelam. Seperti terbangun dari tidur kami berdua tersadar dan segera kulepaskan tubuhnya sembari kututup kembali resliting celana jeannya yang telah saya buka tadi.

"Sayang.., kelihatannya sudah petang, bagaimana kalau kita pulang?"

Ia langsung setuju. Kali ini dia saya minta untuk membonceng pulang. Di sepanjang perjalanan, saya lanjutkan belaian saya dari belakang sampai akhirnya kami sampai di pertigaan jalan, kemudian saya ganti memboncengnya karena rumahnya sudah dekat hingga tidak enak kalau sampai dilihat orang bahwa dia membonceng saya. Kuantar dia pulang, dan saya pun juga langsung pulang. Malam harinya kembali saya melanjutkan komunikasi dengan HT dengan menggunakan kode khusus, tentunya dengan frekwensi yang khusus juga.

Dari hari ke hari, hubungan saya dengan Uut semakin akrab saja, apa lagi setelah perjalanan kemarin. Aku pun membuat janji kembali dengannya untuk berjalan bersama lagi.

Aku ingat bahwa hari itu adalah hari Sabtu, sudah aku tetapkan dengannya bahwa kami akan berjalan-jalan lagi. Aku jemput dia ke rumahnya, dia telah menunggu dengan mengenakan celana jeans lagi dan kaos berwarna merah hati, tak lupa dia bawa juga dompet tangannya. Tepat jam 16.00 aku beranjak dari rumahnya.

"Akan kemana kita?" tanyaku.
"Terserah saja" jawabku.

Akhirnya aku arahkan motor ke pelabuhan, kemudian berputar-putar di kota dan akhirnya kuputuskan ke lapangan golf. Di tempat ini terlihat sepi dan enak. Aku parkir motorku di bawah pohon johar dan kembali aku duduk di jok sepeda motorku dan dia berdiri di sampingku.

Kutarik bahunya dan kutempatkan tubuhnya agar berdiri tepat di depanku, kemudian kembali kedua tanganku dari atas pundaknya kuturunkan hingga berada tepat di depan buah dadanya, kemudian kuselipkan dari balik kaosnya, kumasukkan dan langsung kutangkap buah dadanya yang sebelah kiri.

Dia hanya diam saja. Setelah sekian lama, kulihat dia sudah kelelahan berdiri hingga kemudian kuminta di ikut naik duduk di jok motor yang telah kuparkir. Setelah pada posisi seperti seakan sedang memboncengku, kembali aku melakukan gerilya. Kubuka resliting celana jeansnya dan langsung kumasukkan tanganku ke balik CD-nya. Dia tampak sangat menikmatinya. Setelah beberapa lama dia bertanya padaku..

"Mas, boleh aku melihat punyamu?"

Aku pandang matanya dan menganggukkan kepala pertanda setuju. Kemudian kubuka resliting celanaku hingga terlihat penisku menonjol dengan tegak karena terus terang semenjak aku memegang miliknya punyaku juga sudah tegang berdiri menantang. Kukatakan padanya..

"Dik kamu percaya apa tidak, kalau punyaku ada tanda khusus, jadi kalau kamu mencarinya pasti akan mudah apalagi kalau sudah mengenali ciri khas punyaku".
"Apa cirinya Mas?" tanyanya terbengong.

Kuminta dia turun dan berdiri di samping motor, kemudian aku keluarkan dan kutunjukkan tanda khusus yang terdapat di senjataku. Betapa terkejutnya setelah dia melihat senjataku yang langsung keluar seperti spring, memantul dengan ukuran yang jika teman-temanku bilang GESAR (gede dan besar) lalu kutunjukkan padanya tahi lalat berdiameter 0,5 cm yang terdapat di pangkal senjataku. Setelah puas melihatnya kemudian adik kecilku kumasukkan kembali. Tak terasa hari sudah petang. Kemudian kami berdua pulang. Aku antar dia dan saya pun juga langsung pulang.

Keesokan harinya, sekitar jam 08.00 tiba-tiba dia datang ke tempat kostku. Kupersilakan dia masuk. Perlu saya informasikan bahwa di rumah yang saya sewa tersebut aku tinggal sendiri, rumah tersebut terdiri dari 3 kamar yang cukup besar. Dan rumah tempatku tinggal ini jaraknya dengan tetangga agak jauh sedikit sehingga terlihat agak sunyi, hanya TV dan komputer hiburanku di rumah.

Setelah masuk, Uut langsung berkeliling melihat-lihat seluruh isi rumahku dan kemudian duduk di depan TV. Aku lihat wajahnya tampak seperti orang yang sedang gusar.

"Kamu kok kelihatan tidak tenang, Sayang?" tanyaku. (Padahal dalam hati aku sudah dapat merasakan bahwa dia sedang berjuang menahan gejolak nafsunya yang telah memuncak setelah beberapa kali mendapat rangsanganku, tetapi aku pura-pura tidak tahu saja)

Dia hanya terdiam. Aku langsung tanggap kemudian kuputuskan untuk duduk di sampingnya. Kuangkat tangannya kemudian kuremas-remas dan dia hanya diam saja. Tangannya terasa halus dan hangat. Kemudian kurebahkan diriku dan kuletakkan kepalaku tepat di pahanya, baru kemudian tampak wajah cerah terpancar di pipi dan matanya.

Kuletakkan tangannya di dadaku kemudian tanganku kumasukkan ke dalam kaos yang ia kenakan dan langsung kuselipkan dibalik BH-nya hingga dapat kutangkap buah dadanya yang padat berisi kemudian kuremas-remas sambil kuputar tubuhku sehingga berposisi miring dan mukaku tepat berada di depan pangkal pahanya. Kugigit kecil pangkal pahanya, sehingga dia menggelinjang.

"Eh sakit Mas", katanya.

Lalu aku hentikan seluruh aktifitasku, kemudian aku duduk di sampingnya. Aku tahu bahwa dia sudah mulai terangsang dengan aksiku tadi, kemudian aku ajak dia duduk di jok kursi tamu lalu kuminta dia duduk di sampingku. Terus terang adik kecilku juga sudah tegak berdiri menantang, namun tidak terlihat karena saya mengenakan celana dalam. Kutarik tangannya dan kubimbing untuk menangkap adik kecilku. Dia menurut saja.

Darahku seakan mendidih hingga ke otak rasanya, berdenyut dengan kuat, apa lagi setiap kali dia remas, aku baru merasakan hal demikian. Kulihat dia sangat menyukainya. Lalu kutarik tubuhnya dan kusingkapkan kaos dan BH-nya kemudian aku remas kedua buah dadannya. Kulihat dia juga sudah sangat terangsang karena aku kira dia juga sudah tidak dapat membendung lagi gejolak nafsunya setelah beberapa hari menerima belaian rangsanganku. Aku lihat di melepaskan celana jeansnya.

"Kamu mau apa sayang?" tanyaku.
"Biar lebih enak", jawabnya.

Kemudian dibimbingnya tanganku untuk memegang miliknya yang kurasakan hangat dan lembab. Ternyata perkiraanku benar bahwa dia sudah sangat terangsang. Dengan lembut aku belai miliknya hingga dia hanya bisa mendesis keenakan dan menggelinjang ke kanan dan ke kiri. Kemudian dia lepaskan seluruh pegangannya. Dia mendesis dengan liar, kulihat tangan kanannya memegang CD warna putihnya yang sesaat kemudian telah terlepas dari tempatnya.

Kemudian dia berdiri dan naik ke jok kursi tepat di pangkuanku lalu berjongkok dan sesaat kemudian dia memintaku untuk memasukkan adik kecilku di liang kenikmatannya. Aku tidak percaya, sedemikian nekat dan beraninya dia memaksaku.

"Ayo Mas cepat", pintanya.
"Dik sebentar, aku ke belakang dulu", jawabku.

Aku beranjak menuju kamar mandi untuk buang air. Ternyata dia mengikutiku dari belakang untuk ikut buang air. Tak kusangka setelah membasuh miliknya, dia langsung saja memintaku untuk memasukkannya dengan berdiri di kamar mandi. Aku sangat kasihan melihatnya karena ternyata dia sudah tidak mampu lagi menahan birahinya hingga kuputuskan untuk mengikutinya. Dan sesaat kemudian, dengan susah payah untuk memasukkan senjataku ke liangnya, akhirnya dengan basah kuyupnya tubuhku dan tubuhnya karena keringat, perjuangannya kami berhasil untuk memasukkan senjataku ke liangnya.

Nafasnya terengah-engah, kulihat dia sudah mencapai puncaknya. Setelah terdiam sesaat, kugerakkan tubuhku hingga dia meringis dan mendesis. Seperti ada yang mendorong tubuhku, kusingkap kaus dan kutanggalkan BH-nya hingga sesaat kemudian kukulum puting susunya. Dia menggelinjang dan sesaat kemudian tubuhnya bergetar hebat lalu melemas.

Melihat situasi seperti ini, kuputuskan kutarik milikku hingga dia terlihat bengong, kemudian kuarahkan tangannya untuk melakukan kocokan terhadap milikku. Dengan bersemangat dia melakukannya. Berselang beberapa lama kemudian ada getaran hebat di dalam tubuhku yang terpusat di milikku dan crot.., crot.., crot.., cairan kental berwarna putih dengan kuatnya langsung menyemprot di mukanya. Kemudian kami berdua langsung mandi bersama dan membuat sarapan bersama dengan membakar roti.

Semenjak kejadian tadi, kami berdua merasa tegang. Aku sendiri juga merasa berdosa karena dengan terlihat gamang dia menunjukkan kepadaku bahwa ada bercak darah di CD-nya dan dia katakan bahwa keperawanannya telah koyak olehku. Sejak hari itu, aku merasa berdosa. Tetapi perasaan itu akhirnya sirna dengan kehadirannya setiap saat di sisiku.

Tamat


Friday, December 7, 2007

Kisah Asmara di Apotik 24 Jam

Sudah lebih dari 4 jam Tedi bersama 2 rekannya menunggu didepan pintu kamar UGD (Unit Gawat Darurat) sebuah rumah sakit di kota metropolitan. Rudi teman mereka bersama pacarnya mengalami kecelakaan mobil yang lumayan parah tadi pagi sehingga harus dirawat secara intensif di ruang UGD. Tedi dan 2 rekannya merasa berkewajiban untuk membantu teman karibnya karena pihak keluarga Rudi belum ada satupun yang muncul di rumah sakit. Rudi merupakan anak tunggal dan kedua orang tuanya berada di sebuah negara Eropa Timur sebagai staf kedutaan besar. Sedangkan keluarga-keluarga dekat Rudi masih belum tiba karena tinggal di luar pulau Jawa seperti Pontianak, Tarakan dan Manado. Beruntunglah Rudi memiliki karib seperti Tedi dan 2 rekannya yang lain untuk mengurus keperluannya sewaktu dirawat di UGD.

Seorang perawat keluar dari ruang UGD dan menuju ke arah Tedi sambil membawa sebuah kertas di tangannya. “Mas, ini resep dokter yang harus segera dibelikan obatnya agar teman Mas besok pagi dapat langsung disuntik dengan obat itu.”, ungkap perawat tersebut kepada 3 pemuda yang sudah kelihatan lelah.
“Kira-kira di apotik rumah sakit ini obat itu ada nggak, Mbak?”, tanya seorang rekan Tedi.
“Kalau ada saya nggak akan minta tolong pada kalian”, jawab perawat singkat.
“Yuk, dicari!”, ajak Tedi pada 2 temannya.
“Sebentar Mas”, cegah perawat itu.
“Kalian yang mempunyai golongan darah sama dengan Rudi sebaiknya tinggal disini, jaga-jaga kalau teman kalian membutuhkan darah lagi dan persedian kami habis”, meneruskan keterangannya.
Akhirnya 3 pemuda itu berembuk dan memutuskan agar Tedi saja yang mencari obat dan 2 temannya tetap tinggal.

Tedi mengeluh dalam hati sambil mengendarai mobil, “Cari apotik yang buka jam 1 pagi ini pasti susah, aku nggak seberapa hapal jalan Jakarta lagi”.
Setelah berkendaraan selama 10 menit akhirnya dia menemukan sebuah apotik yang masih buka tapi setelah dimasukinya pegawai apotik tersebut menyatakan kalau obat yang dicari Tedi tak ada. Kejadian tersebut berulang sampai 4 kali dengan alasan yang mirip, “obat itu habis”, “besok siang baru siap”, dan sebagainya. Demi teman yang saat ini tergolek di ranjang UGD, Tedi tak berputus asa meskipun tubuhnya sudah lelah dan ngantuk.

Tanpa berharap banyak Tedi memarkir mobilnya didepan apotik kecil di ujung jalan yang sempit. “Paling-paling nggak ada lagi”, pikir Tedy sambil menyerahkan resep obat yang dicarinya kepada pegawai apotik itu, seorang wanita berumur 30-an.
“Silakan tunggu dulu, saya carikan”, ucap wanita itu dengan sopan.
Dia mencek dengan komputernya, lalu masuk ke ruangan berdiding kaca transparan yang terlihat penuh laci obat, keluar lagi dan terus masuk ke ruangan tertutup. Wanita itu keluar bersama seorang pria berumur 50-an dengan wajah masih ngantuk.
Sambil mengenakan kaca matanya pria itu berkata pada Tedi, “Dik, obat ini agak langka, menyiapkannya butuh waktu 1 jam dan yang bisa menyiapkan cuma cabang kami yang berada di Depok. Sebaiknya adik langsung aja mendatangi kesana atau kalau adik mau nunggu biar pegawai kami yang ngantar kesini, gimana?”.
Langsung dijawab Tedi, “Saya tunggu aja disini, Pak! Capek Pak saya putar-putar carinya! Berapa, Pak?”.
Dijawab oleh wanita disebelah pria itu, “Totalnya Rp 536.500,-”.
Dalam hati Tedi menggerutu, “Busyet, habis nih sisa gajianku!”.

Jam di dinding apotik menunjukkan setengah dua, hawa sejuk pagi masuk melalui jendela apotik membuat Tedi yang baru saja duduk beberapa menit di ruang tunggu menjadi ngantuk. Matanya yang agak sayu mulai menatap wanita yang sibuk di kounter apotik itu, sementara itu pegawai pria yang tadi sudah tak terlihat lagi. Dalam hati Tedi mulai berdialog dengan dirinya sendiri untuk menghilangkan kebosanan, “Kalau diperhatikan cewek itu cakep juga ya, rambutnya hitam panjang, kulitnya sawo matang, wajahnya mirip siapa? oh iya kayak penyanyi yang namanya Memes, tingkah lakunya anggun dan sopan, persis deh, bodinya juga kelihatan oke, bego sekali aku baru menyadarinya sekarang”. Tatapan mata Tedi yang semula sayu menjadi berbinar-binar seolah memandang hidangan lezat sewaktu lapar. Rasa ngantuknya lenyap dalam keheningan ruangan apotik yang hanya ada dia dan pegawai wanita itu. Dengan mulai berkurangnya aktifitas pegawai wanita itu, ia mulai merasa kalau sedang diperhatikan. Sedikit curi pandang ke arah Tedi, perasaannya terbukti benar. Pemuda langsing tinggi, 25-an tahun tapi lumayan tampan yang duduk didepannya memandang ke arahnya tanpa berkedip. Tedi akhirnya merasa kalau tatapannya dirasakan oleh wanita itu.

Perhatian Tedi beralih ke barang-barang yang ada di outlet apotik itu. Bangkit dari tempat duduknya sambil membungkukkan badan ia melihat satu persatu barang dalam etalase kaca. Dengan penasaran pegawai wanita itu bertanya pada Tedi, “Mencari apa, Mas?”
“Hanya lihat-lihat kok Mbak!”, jawab Tedi, tapi pandangannya tertuju pada sederet kotak kondom dengan berbagai merk dan hal ini tak luput dari perhatian wanita itu.
Perhatian Tedi pada deretan kotan kondom itu begitu nampak karena dia benar-benar lagi membandingkan kelebihan setiap merk kondom dengan lainnya melalui tulisan-tulisan yang ada pada kotaknya. Tanpa malu-malu Tedi bertanya pada pegawai wanita itu, “Mbak, yang merk “A” ini harganya berapa?” yang dijawab pula oleh wanita itu. “Kalau yang “B”?” “Kalau yang “C”?” Semua pertanyaan itupun dijawab oleh pegawai wanita itu. Dengan wajah bingung Tedi menegakkan kembali badannya sambil mendekat ke arah pegawai itu. “Mbak, yang bagus yang mana?” tanyanya lirih dengan wajah lugu. Pegawai wanita itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya serta tersenyum malu. Dengan wajah kecewa tak memperoleh jawaban, Tedi membalikkan badan lalu keluar dari apotik itu dan mengambil kotak rokoknya dari sakunya.

Bersandar pada kusen pintu apotik, Tedi menikmati setiap sedotan asap rokoknya. Tanpa disadarinya pegawai wanita tadi sudah ada disampingnya dan mengagetkannya dengan permintaannya, “Mas, boleh minta rokoknya?” Bagai orang dihipnotis Tedi menghulurkan kotak rokok dan koreknya kepada wanita. Tedi merasa kaget campur bingung dan heran menatap wanita disampingnya sedang menikmati sedotan pertama pada sebatang rokok.

“Nggak usah bengong Mas, emangnya kenapa?”, tanya wanita itu.
“Ah, Nggak, nggak heran kok, sehari habis berapa Pak biasanya, Mbak?”, tanya Tedi sedikit menggoda.
“Saya merokok kadang-kadang aja kok, Mas!”, jawab wanita itu.
Setelah itu mereka mengobrol akrab bak 2 orang yang telah lama berkenalan.
“Mas, tadi tanya soal kondom, apa sudah menikah?”, tanya wanita itu.
“Belum, makanya saya bertanya, Mbak sudah?”, jawab Tedi dan berbalik bertanya.
“Sudah 5 tahun”, jawab wanita sambil menunjukkan kekecewaan di wajahnya.
“Wah, sudah pengalaman dong, jadi menurut Mbak, sewaktu suami Mbak pakai kondom yang enak rasanya yang merk apa?”, tanya Tedi seakan hal itu menjadi teka-tekinya.
“Apa kamu sudah punya pacar?”, tanya balik wanita itu.
Dengan menggelengkan kepala, Tedi menunduk malu seolah sadar bahwa dia menunjukkan keluguannya, lalu dia berusaha menutupinya dengan berkata, “Tapi gini-gini pengalamanku nggak kalah sama Mbak! cuman saya nggak pernah pakai kondom”
“Oh, ya? saya percaya kok”, sindir wanita itu.
“Kalau nggak percaya boleh dicoba!”, tantang Tedi.

Dengan wajah yang memerah dan tersenyum, wanita itu membuka pintu apotik lalu masuk kembali setelah membuang puntung rokoknya, meninggalkan Tedi seorang diri. Dengan menggeleng-gelengkan kepala Tedi merasa sangat tolol setelah menyadari kalau dia baru saja mengeluarkan kata-kata yang paling bodoh sepanjang pengalamannya berkenalan dengan cewek. Bahkan saat ini dia belum mengetahui nama dan alamat wanita yang baru saja bercakap-cakap dengannya selama 30 menit. Sebuah hasil yang dapat menjatuhkan pamor yang dikenal teman-temannya sebagai seorang yang ahli memperoleh data tentang cewek dalam berkenalan.

Tak lama kemudian Tedi juga kembali masuk kedalam apotik dan mendapati pegawai pria apotik itu telah duduk dimeja counter. Merasa ingin buang air kecil, Tedi menanyakan letak toilet kepada pria itu. Sesuai petunjuk pria tadi, tedi memasuki lorong panjang dalam apotik itu dan akhirnya menemukan kamar mandi setengah terbuka yang kelihatan sangat bersih. Dengan terburu-buru Tedi masuk dan langsung membuka resleting celana jeansnya dan segera mengeluarkan penisnya dari dalam CDnya lalu, “Ah.. Lega rasanya!”

Rupanya Tedi melupakan menutup pintu kamar mandi. Dan karena lagi menikmati buang air kecil dia tak merasakan kalau di belakangnya sudah berdiri pegawai wanita tadi sambil mengamati bentuk dan ukuran penis Tedi yang lagi menyemburkan cairan urine bak ujung selang. Setelah membersihkan penisnya dengan tissu yang ada disampingnya, ia terkejut setengah mati merasakan pundaknya dipegang tangan halus dan punggungnya merasakan geseran dengan 2 benda tumpul yang lunak. Menoleh ke belakang ia melihat wajah pegawai wanita tadi.
Dengan napas lega Tedi berkata, “Kukira hantu, sampai hampir pingsan rasanya!”.
“Aku mau buktikan ucapan Mas diluar tadi!”, ucap wanita itu sambil tangan kanannya bergerilya memegang pangkal penis Tedi.

Tanpa dikomando burung Tedi langsung mendongkak keatas memberi penghormatan atas rangsangan genggaman halus tangan wanita itu. Diikuti helaan napas yang dalam wanita itu menggeser-geserkan daerah vitalnya yang masih berada dibalik rok dan CDnya ke pantat Tedi. Dengan serta merta Tedi memutar bagian tubuhnya hingga berhadapan dengan wanita itu. Lepaslah genggaman wanita itu pada penis Tedi, tapi pantatnya jadi gantinya, diremas dan ditariknya kearah tubuh wanita itu. Dua bibir saling bertautan, cumbuan dibalas cumbuan, keduanya saling bercumbu dengan gairah yang luar biasa. Dua tangan Tedi menemukan pantat wanita itu dan meremasnya sambil menarik ketubuhnya. Penis Tedi terhimpit dan bergesek dengan bagian depan rok wanita itu tepat pada daerah sekitar alat vitalnya, sementara buah dadanya terhimpit dada Tedi. Di bagian bawah gesek menggesek 2 alat vital yang berlainan jenis menimbulkan efek yang semakin menjadi-jadi meskipun masih terhalang oleh rok dan CD wanita itu. Di bagian tengah dimana gesekan payudara yang semakin mengeras pada dada Tedi juga terhalang oleh BH, pakaian wanita itu dan kaos Tedi. Bagian ataslah yang baru bebas dari segala penghalang, lidah Tedi masuk dalam mulutnya dan mengusap lidah wanita itu dengan liarnya dan dibalas dengan sedotan dari mulut wanita itu, hal ini terjadi silih berganti sementara kedua bibir saling melekat satu sama lainnya.

Selang beberapa waktu terjadi genjatan senjata. Kedua pihak saling melepas halangan yang ada. Pakaian terusan wanita itu sekarang sudah terlepas semua kancing depannya hingga bagian depan tubuhnya terbuka bebas. Celana jeans dan CD Tedi juga sudah sampai kebawah, juga kaosnya yang benar-benar lepas tersampir di gagang pintu kamar mandi sempit yang tertutup. Wanita itu kemudian melingkarkan tangannya kebelakan untuk melepas kancing BHnya, Tedi memanfaat momen itu dengan berjongkok dan mencumbu perut wanita itu sambil melorotkan CD wanita itu hingga lepas. Bersamaan dengan lepasnya BH wanita itu, cumbuan bibir Tedi juga bertemu bibir vaginanya. Desahan dan erangannya merasuki otak Tedi, sedotan mulutnya pada vagina wanita itu diikuti dengan permainan lidah di klitoris.

Kedua tangan bebas wanita itu segera menangkap dan menarik bagian belakang kepala Tedi ke arahnya hingga muka Tedi terhimpit diselakangannya. Sedotan mulut Tedi bertambah kuat bak pompa air yang lagi menyedot sumur. Sesekali wanita itu agak menjongkok dan dengan tarikan kuat pada kepala Tedi hingga juluran lidah Tedi dapat masuk kedalam lubang vaginanya yang paling dalam. Rangsangan hebat yang diberikan Tedi menghasilkan gelombang kejut pada wanita itu, denyut-denyut dinding vaginanya mengantarkan keluarnya cairan kental. Bergelinjang dalam keadaan berdiri membuatnya terhuyung lemas namun beruntung dinding kamar mandi itu telah dekat dengan punggungya hingga tersandarlah punggungnya di dinding. Dekapan Tedi setelah bangkit dari jongkoknya juga membantu wanita itu untuk tetap berdiri sambil bersandar pada dinding kamar mandi.

Dalam dekapan Tedi, mata wanita itu terpejam merasakan kepuasan sesaat, payudaranya menempel pada dada Tedi yang berbulu tipis, dan napasnya yang tadinya terengah-engah mulai teratur kembali. Penis Tedi menempel ketat pada daerah kemaluan wanita itu hingga merasakan kehangatan yang basah. Tedi mulai mencumbu mulut wanita itu dan sedikit demi sedikit diber jalan hingga pergumulan kedua mulut tak dapat dihindarkan kembali. Diikuti gerakan pinggul dan pantat, mengakibatkan geseran penis Tedi pada bibir vagina wanita mulai terasa nikmatnya bagi kedua belah pihak. Lalu wanita itu membuat rangkulan tangan serta usapan di punggung dan belakang kepala Tedi. Terprovokasi oleh rangsangan yang diberikan wanita itu, Tedi mulai sedikit berjongkok hingga ujung penisnya menempel bagian depan lubang vagina lalu dengan gerakan meluruskan kembali kakinya, naik dan masuklah seluruh batang kemaluannya kedalam liang kenikmatan wanita itu yang telah licin dengan tiba-tiba. Kaget oleh sentakan Tedi, keduanya melepaskan ciuman mulut, “Akh..!”, jerit wanita itu dengan mulut terbuka dan diikuti dengan desahan, “Ah.. ah.. ah..” ketika Tedi memompa batang kemaluannya kebawah dan keatas. Dua insan berlainan jenis telah memulai hubungan sebadan sambil berdiri dalam kamar mandi apotik yang sempit.

Mulut Tedi mulai menghisap bagian kiri leher wanita itu lalu sesekali pada telinga kirinya. Dengan berputarnya waktu dan berbagai rangsangan yang saling diterima keduanya, wanita itu semakin merasa lemas pada bagian kakinya karena memaksakan diri untuk merengguk kepuasan meskipun telah berorgasme 2 kali. Akhirnya dengan tetap menyandarkan punggungya pada dinding kamar mandi ia meminta tangan Tedi untuk menahan pantatnya lalu mengaitkan kedua kakinya pada bagian belakang kaki Tedi. Sambil membopong wanita itu Tedi tetap melakukan pemompaan batang kemaluannya pada vagina wanita itu. Kekuatan Tedi ada batasnya, akhirnya dilepaskannya kaki kanan wanita itu agar dapat menopang tubuh wanita itu sendiri. Dengan tangan kanan tetap memegang paha kiri wanita itu, Tedi mempercepat gerakan pompanya.
“Aduh Mas aku mau keluar lagi, ssh..”, ucap wanita itu sambil menggigit bibir atasnya.
Tedipun segera melepas beban yang sedari tadi ditahannya, penisnya berdenyut hebat dalam liang kenikmatan, menyemprotkan cairan sperma bagai semburan ular berbisa. Merasakan semburan cairan hangat dalam liangnya, wanita itu pun tak kuasa menahan orgasmenya. Keduanya saling berangkulan sampai penis Tedi keluar dari liang kenikmatan dalam keadaan kosong dan lemas. Diakhiri dengan saling ciuman bibir, keduanya membersihkan diri, mengenakan kembali pakaian yang lepas, dan keluar dari kamar mandi.

Tedi melihat waktu pada jam dinding apotik menunjukkan pukul 3 pagi dan setelah menerima obat pesanannya yang baru tiba itu dari pegawai pria apotik itu, dia langsung keluar menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga sampai rumah sakit tempat kawannya dirawat. Kemudian dia memberikan obat serta kopi resepnya itu pada perawat jaga lalu duduk termenung di ruang tunggu sambil berusaha mengingat kejadian sensasional di apotik tadi. Lalu dari kejauhan lorong rumah sakit didepannya dia melihat Joni dan Rio, kedua kawannya, keluar dari sebuah ruangan dengan wajah suka cita, diikuti 2 perawat, yang seorang berumur 40-an dan satunya 20-an. Kedua perawat yang berjalan dibelakang Joni dan Rio terlihat sedang membetulkan seragamnya dan berusaha menutup kancing bagian atasnya. Pemandangan ini tak luput dari penglihatan Tedi.

Kira-kira apa yang telah dilakukan Joni dan Rio? Donor darah merah atau putih? Kenapa mereka kelihatan senang sekali? Itulah semua pertanyaan dalam benak Tedi.

Thursday, December 6, 2007

Handphone 5110

Posted: 06 Dec 2007 04:29 AM CST

Namaku Toni dan umurku sekitar 26 tahun. Selain pekerjaan tetapku sebagai seorang staff di sebuah perusahaan swasta, aku juga mempunyai usaha sampingan jual beli handphone.

Aku tinggal di daerah Jakarta Selatan, bersama dengan kakakku, Mbak Tina dan suaminya, Mas Amir. Maklum, masih bujangan dan sementara Mbak Tina itu belum punya anak, jadi untuk 'meramaikan suasana' aku tinggal bersama mereka.

Pada suatu ketika, Mbak Tina itu menanyakan kepadaku, apakah aku mempunyai handphone jenis Nokia 5110. Karena temannya, sebut saja Ayu, sedang mencari handphone jenis itu. Kebetulan sekali aku ada stock handphone tipe itu. Ayu, teman Mbak Tina itu, umurnya sekitar 27 tahun dan sering juga main ke rumah kami, sudah cukup akrablah dengan kami. Wajahnya lumayan manis, kulitnya putih bersih dengan rambut sebahu, yang kadang suka membuatku agak deg-degan juga saat melihatnya. Setelah harga sesuai dan barang siap, 3 hari kemudian, kebetulan hari Minggu, Ayu berniat untuk mengambil handphone tersebut. Sebetulnya Mbak Tina tidak ada rencana untuk pergi pada hari Minggu itu karena Ayu akan datang, hanya saja sekitar jam 10-an, Mas Amir ditelepon temannya yang mengatakan bahwa ada seorang dari teman mereka yang meninggal. Maka mereka pun segera berangkat, sebelum berangkat Mbak Tina berkata kepada saya, "Ton, nanti kalo si Ayu datang, suruh makan yach, udah dimasakin tuh, trus kalo mau pulang, nggak usah tungguin Mbak dan Mas Amir dech."
"Iya Mbak, pokoknya beres dech.." jawabku.
Memang Ayu ini sudah seperti keluarga.

Sekitar jam 12-an, Ayu datang. "Kok sendirian aja Mbak, mana 'gandengannya', nggak diajak nich.." godaku, meski aku tahu kalau Ayu belum punya pacar. Aku memang memanggil dia dengan Mbak karena dia teman Mbak Tina. Dia hanya tersenyum.

"Mana Mbak Tina dan Mas Amir, Ton?" Tanya dia.
"Lagi melayat temannya Mas Amir, Mbak.." jawabku.
Maka setelah ngobrol ke sana ke mari serta menunjukkan handphone yang akan dia beli itu, kemudian Ayu berkata, "Ton, ajarin Mbak yach pakenya, abis Mbak kan baru sekarang punya ini, musti belajar dulu."
"Beres Mbak, tenang aja.." jawabku.
Maka sambil duduk di sebelahnya, aku mulai mengajarinya cara menggunakan handphone itu. Hmm.. wangi tubuhnya yang putih bersih itu mulai tercium. Kulitnya yang mulus ditumbuhi bulu-bulu halus ditangannya. "Wah.. tipe cewek gini nich yang gue suka", kataku dalam hati. Semakin lama aku semakin berani untuk mendekatkan posisi dudukku, semakin merapat ke sisi Ayu. Sambil sesekali aku curi-curi mencium rambutnya. Oohh.. tiba-tiba aja aku ingin membelai rambutnya.

Setelah beberapa penjelasan yang kuberikan, dia mulai mencoba handphone itu, meski beberapa kali ada salah pencet tombol. Karena salah itu, aku meralat dengan menekankan tombol yang benar, yang mau tidak mau, aku harus memegang jari-jari manis Ayu. Entah tiba-tiba saja, aku menggenggam tangan Ayu. "Tangan kamu halus sekali Yu, lembut.." kataku. Wajah Ayu yang putih berubah jadi kemerahan dan tertunduk saat aku menatap matanya, "Ah kamu Ton, biasa aja.." Aku semakin memberanikan diriku, aku menaruh handphone itu di meja dan mulai meremas tangan Ayu. "Kamu manis sekali Ayu.." Ayu hanya diam saja sambil tetap menunduk. Aku memegang pundaknya dan memutar badannya hingga berhadapan denganku. Kusentuh dagunya dan kuangkat wajahnya, hingga aku bisa melihat dengan jelas betapa manisnya wajah Ayu, meski agak merah karena malu mungkin. Aku tersenyum dan dia pun balas tersenyum.

Aku semakin nekat, perlahan-lahan aku mendekatkan wajahku ke arahnya dan kulihat dia mulai memejamkan matanya. "Nah, ini dia nich.." pikirku. Perlahan aku mulai menyentuh bibirnya yang mungil itu. Tak kusangka, ternyata dia membalas kecupanku. Semakin aku bernafsu untuk melumatkan bibirnya, ternyata semakin 'buas' juga dia membalasnya. Hmm.. aku jadi tidak tahan.

Perlahan aku mulai melingkarkan tanganku ke pinggangnya, dia membalasnya. Aku semakin mendekapnya, dan kurasakan gumpalan payudaranya yang mungil, hangat di dadaku. Sambil terus berciuman, aku mulai merebahkan Ayu di karpet tempat kami duduk. Sementara itu, batang kemaluanku mulai berdiri. Sambil masih mengenakan baju, aku menggesek-gesekkan batang kemaluanku itu ke belahan selangkangannya. Kebetulan dia mengenakan kulot dari bahan yang agak tipis, sehingga gundukan kemaluannya bisa kurasakan meski masih memakai celana. Kulihat dia masih memejamkan mata sambil sesekali kudengar nafasnya yang memburu. Dia pun membalas goyangan pinggulku dengan menggoyangkan pantatnya.

"Hmm.. mungkin dia sudah pernah nich", pikirku. Kami semakin panas, perlahan aku mulai melepaskan kancing kemeja putih yang dia kenakan, satu persatu sambil kudengar nafasnya yang makin cepat. Setelah semua kancing kulepaskan, mulai kusingkap ke kiri dan ke kanan kemejanya itu. Ohh.. payudaranya tidak terlalu besar memang, tapi kulitnya itu yang membuat jantungku berdegup keras, seperti lilin, halus sekali. Aku mulai mencium bagian telinga, lalu semakin turun ke leher. Ayu menggelinjang, kuteruskan ke bagian dadanya sambil perlahan kulepaskan bra-nya. Kulihat puting payudaranya yang berwarna merah muda itu sudah membesar dan payudaranya agak keras. Kucium perlahan-lahan sekitar putingnya, Ayu semakin menggelinjang.

"Aahh.. terus Ton, teruuss.. aahh.." desahnya. Sambil terus mencium dan menjilat payudaranya, perlahan kulepaskan kancing celananya. Rupanya Ayu paham akan maksudku itu, dia mengangkat pantatnya sedikit sehingga dengan leluasa aku melepaskan celananya. Rupanya diapun tidak mau ketinggalan, dia melepaskan satu persatu kancing kemejaku, sebelum habis semua kancing kemejaku terbuka, aku segera melepaskannya. Setelah itu, Ayu melepaskan kancing celanaku. Kini kami hanya mengenakan celana dalam saja. Aku kemudian menggesek-gesekkan batang kemaluanku yang masih ditutupi celana dalam itu ke selangkangannya. "Ahh.. semakin terasa sekarang.." pikirku.

"Kamu cantik sekali Ayu, kamu manis.." rayuku. Kembali kucium sekitar payudaranya sambil perlahan-lahan kuturunkan ciumanku ke bawah. Terus ke pusar, kulihat dia kegelian, sambil meremas rambutku. "Teruskan Ton, aku ingin.." katanya. Terus kuciumi sampai akhirnya tiba di selangkangannya. Samar-samar bisa kulihat bulu-bulunya yang lebat di balik celana dalamnya yang menggunung itu. Kuciumi, hmm.. wangi sekali. Secara naluriah, Ayu merenggangkan kakinya sehingga aku semakin leluasa menciuminya.

Semakin lama kulihat semakin basah celananya itu, maka dengan cepat aku melepaskan celana dalamnya itu. Benar, rupanya sudah basah, aku perlahan mulai menjilati liang kewanitaannya yang basah. Ayu semakin menggelinjang, kusedot, kujilat klitorisnya. "Suu..daahh.. Toonn.. mmaa..ssuu..kkiinn.." desahnya tak sabar. Maka dengan segera aku melepaskan celana dalamku dan memasukkan batang kemaluanku ke liang kewanitaan Ayu. Mungkin karena sudah basah, dengan mudah kejantananku menerobos masuk. Aku sempat berpikir sejenak, kok langsung yach, Ooo.. berarti Ayu memang sudah pernah berhubungan sebelumnya.

Dengan perlahan aku mulai menghujamkan batang kemaluanku, semakin dalam semakin hebat gelinjang Ayu. Setelah kurasakan semua sudah masuk, perlahan aku mulai bergerak keluar masuk, pelan.. pelan.. Ayu pun tak kalah, dia menggoyangkan pantatnya. "Aahh.. teerruuss.. Tonn.. aahh.." desahnya. Aku pun semakin cepat bergerak, sambil kuhisap putingnya. Rupanya Ayu akan orgasme, gerakannya semakin liar. Tak lama kemudian, dengan gerakan mengangkat bagian punggungnya, dia dengan 'agak kasar' melumat bibirku dan kurasakan batang kemaluanku terasa berdenyut-denyut dan terjepit. Dan, "Aaahh.." dengan jeritan tertahan, Ayu seolah menggelepar dan tak lama kemudian tubuhnya terkulai lemas. Dia sudah orgasme rupanya, sambil menatapku, dia berkata, "Kamu hebat Ton, kamu terusin aja, sampe kamu juga dapetin yach sayang.."

Kembali aku menggerakkan batang kemaluanku keluar masuk. Ayu mengulum bibirku, rupanya dia sudah mulai panas lagi, goyangan pantatnya semakin cepat dan semakin cepat. Kurasakan bahwa spermaku sudah hampir tiba di ujungnya, aku semakin mempercepat gerakanku, diimbangi oleh gerakan Ayu. "Aahh.. Ayuu.. aku mau keluar nicchh.." desahku. "Samaa.. Ton, aku jugaa.. aahh.." jerit Ayu tertahan berbarengan dengan muncratnya spermaku keluar. Pada saat spermaku akan keluar itu, kuhujamkan batang kemaluanku sedalam-dalamnya ke dalam liang kewanitaan Ayu, "Aaahh.." Kami keluar bersamaan, sesaat mataku terasa berkunang-kunang dan selanjutnya aku merasa melayang.

Ah, rupanya cukup banyak sperma yang telah kukeluarkan di dalam liang kewanitaan Ayu, karena aku merasa beberapa kali menyemprotkannya dan setelah itu masih terasa terus mengalir keluar. Terasa hangat ujung kemaluanku itu. Ayu pun tampaknya sangat puas.

"Ton.. Kamu hebat sekali, aku bisa sampe 2 kali keluar.. kamu hebat sekali sayang.."
"Terima kasih sayang", kataku sambil mengecup kening Ayu.
"Biarkan di dalam saja sayang, aku masih ingin merasakan hangatnya.." bisik Ayu di telingaku. Rupanya Ayu punya maksud lain dengan membiarkan batang kemaluanku itu tetap di dalam liang kewanitaannya.

Setelah kami dapat mengatur nafas kembali, kurasakan pantat Ayu kembali digerak-gerakkan. Gerakannya memutar dan naik turun. Batang kemaluanku yang sudah terkulai lemas, dengan gerakan seperti itu, kembali mulai tegang. "Kamu diam aja Ton, sekarang giliran aku yang akan membuat kamu melayang", bisik Ayu.

Pada saat batang kemaluanku sudah kembali tegang, Ayu memintaku untuk segera mengeluarkan batang kemaluanku itu dari dalam liang kewanitaannya. Begitu batang kemaluanku keluar, aku langsung didorong ke belakang hingga aku telentang dan tanpa kusangka, Ayu mulai memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Aaahh.. rasanya geli bercampur nikmat, apalagi pada saat lidahnya bermain-main di sekitar ujung batang kemaluanku. Dia hisap ujung batang kemaluanku, lalu dengan perlahan dia mulai memasukkan ujung batang kemaluanku ke dalam mulutnya, terus hingga setengah batang kemaluanku memenuhi mulutnya.

Astaga, geli bercampur nikmat kurasakan hingga di ubun-ubunku. Dia terus mengulum dan mengisap batang kemaluanku, hingga akhirnya, "Aaahh.. Ayuu.. akuu.. maauu.. keeluuaarr.. aahh.." aku sudah tak tahan lagi, dengan batang kemaluanku yang masih di dalam mulutnya, kumuncratkan spermaku. Kupikir Ayu akan segera mengeluarkan batang kemaluanku dari mulutnya begitu spermaku muncrat, tapi ternyata tidak. Dia malah seperti mengisap-isap batang kemaluanku hingga aku merasa melayang-layang.

"Aaahh.. Ayu.. kamu hebat sekali, aku nggak kuat" kataku sambil tersenyum pada Ayu. Batang kemaluanku benar-benar merasa tersedot seluruh isinya, aku lemas sekali. Dan ketika tidak ada sperma yang keluar lagi, Ayu mengeluarkan batang kemaluanku dari mulutnya. Ohh, rupanya dia menelan semua spermaku itu karena batang kemaluanku bersih dan dari mulutnya pun tak ada sisa sperma yang tertinggal.

Setelah itu kami tidur-tiduran di karpet tempat kenikmatan terjadi, sambil aku memeluk Ayu dari belakang. Aku dapat melihat kepuasan mamancar dari wajah Ayu yang memang ayu itu. Sungguh Ayu, aku pun puas sekali. Dan semenjak saat itu, dengan alasan belajar memakai handphone, aku dan Ayu sering bertemu dan mengulangi segala kenikmatan yang telah kami lakukan, baik di tempat Ayu maupun di rumahku sewaktu Mbak Tina dan Mas Amir tidak ada.

Tamat


Haniku Sayang

Posted: 06 Dec 2007 04:22 AM CST

Aku 36 th, married dan telah memperoleh 3 orang anak, bekerja di bidang medis, dan tinggal di Selatan Jakarta. Wajahku biasa aja, hitam manis kata istriku, tinggi badan 165 cm, rambut lurus-halus cenderung tipis. Kehidupan sex-ku normal, bahkan dapat dikatakan aku mempunyai nafsu sex yang tinggi.

Meskipun dengan istriku aku telah mendapatkan kepuasan, namun sebagai laki-laki normal, aku juga mempunyai fantasi untuk melakukan hubungan intim dengan wanita lain. Aku akan sangat terangsang pada type wanita kutilang-dara (kurus tinggi langsing, dengan dada rata). Itulah gambaran diriku, menjelang Valentine's day ini aku jadi teringat peristiwa 5 th silam, dan kucoba untuk menuangkan dalam bentuk tulisan.

Antara 1997-98 aku mendapat tugas belajar di Surabaya. Kota Surabaya sangat tidak asing bagiku karena disanalah aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku putuskan untuk kost karena gak mau ngerepotin sanak-saudara, lagian cuman 6 bulan. Baru 2 hari dan belum selesai beresin baju – buku2 yang kubawa, nafsu dan gairahku meningkat butuh penyaluran, sampai akhirnya onani. 'Gue gak bisa kaya gini terus..' pikirku dalam hati.
Besoknya aku cari beberapa no telf teman2 deketku se-angkatan. Singkatnya aku dapatkan no seorang teman, sebut saja Hani, usia kami sebaya, married with 2 kids. Kami dulu pernah deket, sering jalan bareng juga 1 kelompok saat praktikum.

Hanni keturunan chinese, cukup tinggi untuk ukuran wanita, kulit putih, dada rata. Awalnya hanya saling telfon, diskusi, makan-makan dan jalan bareng, sampai suatu saat (pertengahan februari) dia telfon (kayanya abis nangis) ingin bertemu.

"Mas, bisa nggak datang ke rumahku, aku pengen cerita".
'Ok, say, ntar ktemu di tempat biasa ya, jawabku.
Dengan Lancer th 83'an aku meluncur menemuinya, kemudian bareng ke rumahnya. Dalam perjalanan kami ngobrol macem-macem mulai ilmiah, politik sampai hal-hal yang jorok,
"Mas, kapan pulang ke Jakarta?" dia tanya (jadwalku pulang tiap bulan).
"Minggu depan, emang knapa?" aku balik tanya.
"Gak papa sih cuman, iseng aja".
'Kalo cuman iseng, jangan cuman nanya..ngerjain aku deh', timpalku.
'Hehehehe dasar ngerest, otakmu' tak terasa kami telah sampai ke rumahnya hani membuka pintu pagar rumah. (terasnya kotor..penuh debu, kaya beberapa hari gak disapu.
'Kamu tinggal disini??' tanyaku heran.
"kebangetan deh..aku gak tinggal disini, ini rumah ortu yang kmaren abis dikontrakin, seminggu sekali aku tengok dan bersihin", jawabnya sambil masuk ke dalam.

Aku masukkan mobilku dan segera masuk rumah..
Meskipun tersanya kotor penuh debu, tapi rumahnya gak pengap.. Cukup nyaman, perabotannya terpelihara. Hani mempersilahkanku duduk smentara dia sapu teras depan.
'Enak2in diri ya..aku bersih2 bentar'katanya.
'Gimana mau enak.. udah gak disuguhi minum,.. Ditinggal lagi,' sahutku
"Udah ah, aku mandi dulu ya?". Langsung aja otakku ngeres membayangkan tubuhnya yang indah di balik baju yang dikenakan
'Whats the problem?' tanyaku basa-basi, sambil pindah duduk kesebelahnya. 'Biasa.. masalah keluarga', katanya.
'Is it about sex?' Gue becandain
'Loe tetep aja kaya dulu, sableng, and gak jauh dari sono'.. tapi ada benernya sih .. meskipun gak langsung', jawabnya.

Kemudian Hani cerita panjang lebar, intinya rasa gak puas sikap suami yang otoriter dan selalu menyalahkannya bila ada perselisihan dengan mertua.
"aku bner2 capek, Sony (suaminya) selalu berpihak ama ibunya, padahal aku berusaha netral kalo mertua ngomel2". Sambil terisak dia akhiri ceritanya.
Saat aku pegang tangannya, dan dia diam, malah bilang "boleh aku nyandar di dadamu?". Aku mengangguk dan segera meraihnya serta membelai rambut sebahu itu dengan lembut. Kucium keningnya perlahan, Hani tengadah dan berbisik lirih "Mas, aku butuh support, kasih sayang dan belaian mesra".

Saat itu aku merasa hanyut dengan situasi yang diciptakannya, sehingga tanpa rasa canggung kucium matanya, hidungnya, hanni menngeliat sehingga bibir kami bertemu. Hanni bangkit dan berkata lirih sambil memelukku, "hold me tight, im yours now".
Aku cium kembali bibirnya dengan lembut, hani merespon dan memagutku. Kami berpelukan bagai sepasang kekasih yang baru berjumpa setelah sekian lama berpisah dengan segunung kerinduan.

Dengan posisi hani duduk di pangkuan, tanganku bergerak meraba rambut dan lehernya, Hani melenguh, tangannya mencari dan mencoba meraih penis yang udah tegang dibalik celanaku. Tangan kananku kemudian bergerak dari perutnya kearah pinggul, hani bergeser turun dari pangkuanku sambil menaikkan pahanya, otomatis dasternya terangkat. U know what?, ternyata hani gak pake CD.

"mas aku pengen,.. do it now bisiknya. Segera aku jilat mecky merah muda yang indah dengan sedikit rambut namun panjang2 itu, aku basahin dan sibakkan bulu2 halusnya dengan lidahku sambil sesekali menyentuh clitnya.
'Ahh, .. mas.. Aku..pengen, fuck me now'.. Tangannya berusaha membuka celanaku dan menggenggam penisku.
'Aku risih di sini' aku berasa gak enak karena masih di ruang tamu.
"kamar yuk', katanya berdiri dan mengunci ruang tamu tempat kami melakukan pemanasan.
'Siapa takut.. , dia tersenyum dan berjalan sambil membuka dasternya, aku ikuti dari belakang, begitu indah tubuhnya..mulus bak pualam.

Ruang tidur utamanya berukuran 5x6 m luas dan cukup mewah. Yang istimewa adalah adanya cermin besar (mungkin 3X2,5 m) di depan bed. Didepan cermin aku peluk Hani yang dengan cekatan membuka kemeja, celana serta CD-ku, begitu indah dan menggairahkan. Erotis banget gerakan2 kami dilihat dari cermin itu.

Penisku segera mencuat kencang seakan-akan kegirangan menemui kebebasannya. Aku puaskan seluruh dahaga-ku, kami saling meraba dan berciuman. Setelah beberapa saat saling meraba, Hani menghempaskan tubuh indahnya ke tempat tidur yang telah menanti. Kuteruskan kegiatanku yang terhenti tadi, hoping that she'll understand what I want. Look's like she catch what im thinking, Hani berbalik memposisikan diri pada posisi 69.. dia kulum penisku, yang segera berkembang, ke ukuran tempurnya dengan diameter 2,5-3 dan panjang 15-16an -cm.

Ahh.. skarang aku mendesah menikmati kuluman dan hisapan lembut Hani.. 'Kamu jago banget ngisep, Han' kataku memujinya, sambil tetap menghisap meckynya, yang telah dibasahi lendir gairah.
Ohh,.. mas.. ayo.. katanya bangkit dan jongkok diatas miniature monasku..
Diraih dan diarahkan penisku ke liang senggamanya, kemudia dia bergoyang naik turun sambil menggigit bibirnya. I catch her tiny breast and squeze it slowly, then after 3 mnts, Hani wants me on her body.. tampaknya hani telah mencapai orgasmenya saat dia menunggangiku..

Aku balik badannya dengan posisi penis masih tertanam. Hani membantu membuka lebar2 gerbang surgawinya.dengan mengangkat ke 2 pahanya ke atas.
Aku maju mundurkan penisku, dengan ritme 5 kocokan ringan X 1deep penetrated, 'Mas.. , mmhh, ..Deeper.. Harder.., dia meracau..
'Ini udah maksimal kataku',..
Hany ketawa .. sehingga otot2 vaginanya ikut berdenyut seirama tawa.. ,
aku tarik tubuh hanni ke ujung bed, dan kutekan dalam-dalam penisku. Hanni berteriak histeris menikmati gaya permainanku, ke2 tangannya menarik pinggulku seakan-akan menahan penisku tetap pada posisinya.
Han.. Aku mo sampai.. belum sempat dia menyahut aku keluarkan spermaku ke rahimnya.. Sepertinya hanni juga telah mencapai orgasme nya yang ke 2 saat itu. Kami bercanda dan bercengkrama di tempat tidur sehabis pertempuran yang menguras tenaga tadi.
'tadi kamu kebangetan deh, gue gak bisa nahan ketawa waktu loe bilang udah maksimal'.., 'loe yang kebangetan', timpalku udah tau penisku segitu malah bilang lebih dalem.., gara-gara kamu ketawa aku gak kuat nahan,..abis meckymu juga ikutan ketawa timpalku..
'Hehehehe siapa suruh loe n