Friday, November 30, 2007

Lari Pagi

Posted: 26 Aug 2007 10:57 AM CDT

Pagi jam 7 hari Minggu, di awal bulan oktober tahun lalu, aku punya janji sama cewekku Vitri mau lari pagi di sekitar bundaran UGM. aku jemput dia ke rumahnya. Ternyata dia sendirian, orang tua-nya pergi ke luar kota sehari sebelumnya.

Berhubung kesempatan seperti ini jarang banget, aku sama dia sempetin buat ciuman dulu sebelum pergi. aku cium bibirnya yang seksi dengan gencarnya, dan tidak lupa tanganku mulai bergerak ke buah dadanya yang montok, 34 B. Dia masih kelas 2 SMA waktu itu. Pelan tapi pasti tanganku mulai masuk ke bawah bajunya dan mulai mengusap-usap pentilnya yang sudah mulai keras dibalik BH-nya.

Tiba-tiba dia mundur, wah.. salah langkah nih. Selama ini aku belum pernah pegang teteknya langsung, paling-paling dari luar saja. Tapi ternyata dia mundur untuk membuka bajunya dan BHnya. Dengan jelas aku bisa melihat teteknya yang ranum. Tidak tahan aku remas-remas dua teteknya sambil aku kulum bibirnya. Tidak puas aku cuma ngeremes doang, aku mulai ciumin teteknya dan mengisap pentilnya. Dia mulai mengerang pelan, badanya mulai menggeliat kegelian. "Ah ..ahh... kus. enak.. terus.." Sambil ngisepin pentilnya yang merah itu, aku mulai membuka kancing celana jeans dia, pelan-pelan aku pelorotin celananya, dia diam saja... akhirnya dia cuma tinggal pakai celana dalam saja. "kus, kita ke kamarku saja yuk, biar enak", "Ayo" aku jawab dengan hati girang.

Sampai di kamar dia, dia bilang "buka baju kamu dong"... aku bales "kamu juga buka dong". Eh.. dia jawab "bukain dong". Setelah aku telanjang, aku buka celana dalam dia, untuk pertama kalinya aku lihat memek secara langsung. Warnanya merah muda dibagian tengahnya. Kelihatan dengan jelas memeknya sudah basah.Jembutnya lurus dan halus. Dia mulai pegang kontolku. Dia bengong melihat kontolku yang tegang dan keras. Tidak tahan, aku tidurin dia pelan-pelan ke tempat tidurnya. aku ciumin seluruh tubuhnya, waktu sampai ke memeknya, aku jilatin saja kelentitnya, dia menggelinjang kegelian...sambil mengerang.... aku mulai ambil posisi diatas dia, dan dia mulai ngangkangin kedua kakinya, sehingga memeknya terbuka lebar didepan kontolku. Sebelum aku masukkan, aku sempat bertanya, "Kamu mau melakukan ini sayang ?" ... dia jawab "He-eh".. "Cepetan masukin kus sudah enggak tahan nih"..

Pelan-pelan aku masukkan kontolku ke lubang memeknya yang merah itu. Baru kepala kontolnya saja yang masuk, rasanya sudah enak banget. Langsung saja aku tekan kontolku lebih dalam lagi sampai masuk semua. "AAahhhh ... " dia menjerit pelan. aku mulai bergerak naik turun, mula-mula pelan... lama-lama makin cepat...kira-kira ada 15 menit, aku menyodok dia. Sampai akhirnya aku merasa memeknya mulai berdenyut-denyut seperti memijit kontolku, waduh rasanya enak banget. aku mulai merasa enak sekali mau klimaks, sepertinya dia juga ... "aaah...ahh...ahhh...ohh..." dia tambah hebat erangannya, aku sempat takut kalau ada orang yang dengar.

"plop..plop.." suara kontolku keluar masuk memeknya yang basah. Akhirnya aku sudah tidak kuat lagi, aku kebut saja goyanganku, dia tambah binal... badannya menggelinjang kuat... "aaah....aahh....ahhh... terus kus... Vitri hampir...jangan berhenti...aaahh" Akhirnya aku keluar juga, spermaku keluar banyak sekali di dalam memeknya.... sementara itu badan dia mengejang hebat.....kira-kira 20 detik aku sama dia merasakan klimaks bersamaan. aku cabut kontolku dari memeknya, dan aku rebah disamping dia dengan napas ngos-ngosan, dia juga begitu. Kita berdua telanjang bulat dan keringatan hebat. aku bangun dan melihat memeknya, aku lihat ada bercak-bercak darah dimemeknya dan di seprei tempat tidurnya. Semetara itu cairan putih mulai mengalir pelan keluar dari memeknya, ternyata itu spermaku.
"Vit...kamu sakit enggak ?" , "He-eh, perih..., tapi enak kok" dia senyum sambil melihat aku.
Setelah istirahat setengah jam, kita mandi bersama terus pergi ke bundaran UGM buat lari pagi.

Sorenya sehabis kita pergi seharian, kita melakukan lagi. Tapi baru saja aku masukkan kontolku ke memeknya, tiba-tiba kita dengar suara mobil datang. Langsung kita berdua bangun dan mengintip lewat jendela, ternya orang tua-nya sudah pulang. Cepetan saja dia pakai baju, aku ambil baju-baju aku dan lari ke kamar mandi, pura-pura lagi buang air besar. Untung tidak ketahuan. Wah....sempat jantungan.

aku tidak akan pernah lupa hari itu, pertama kali buat aku sama dia melakukan hubungan sex. Untung dia tidak hamil gara-gara itu. Setelah itu kita tidak pernah melakukan lagi, soalnya tidak ada kesempatan lagi, sampai akhirnya aku putus sama dia.

Lezatnya keperawanan Ibu Kost dan anak tetangga

Posted: 26 Aug 2007 10:57 AM CDT

Waktu itu sekitar tahun 2001.. Aku sdh menginjak bangku kuliah... Aku ada mahasiswa di salah satu Universitas di Surabaya, sedangkan rumahku di daerah jakarta.. Terpaksa aku harus kost di Surabaya.... Aku akhirnya menemukan tempat yang nyaman menurutku.. Saat pertama kaliku melihat ibu kost,,, ternyata ia masih muda....putih...dengan dada yang tidak terlalu besar dan tdk terlalu kecil.... Aku berkenalan sejenak dengan ibu kost itu... "Aku Irvan bu... aku disini mau kuliah..."kataku sambil menyodorkan tangan ku ke tangannya yang cukup mulus itu.
"Oh....Saya Dewi...Semoga kamu betah di kosan ini yah"katanya... "Pasti betah saya disini bu"kataku sambil ngegombal dikit ke ibu kost itu "hahahah"di tertawa sejenak.
Setelah itu aku masuk ke kamar dan membereskan semua pakaian dan peralatan yang aku bawa dari Jakarta.. Setelah membereskan semua perlengkapan ku..kemudian aku mandi....
Saat keluar dari kamar mandi, aku melihat kamar yang tidak tertutup rapat..saat aku mengintip.. ternyata itu kamar Bu Dewi... dia sedang asyik membaca sambil tertawa... saat aku melihat ke arah kaki... dia sedang memakai rok... dan terlihat paha mulusnya yang putih itu... sejenak aku menikmati pandangan pertamaku pada paha ibu dewi.. aku langsung pergi ke kamarku karena takut dipergoki oleh orang sedang asyik melihat paha Bu Dewi......
Keesokan harinya aku pergi ke universitas ******** hari pertama prospek aku letih sekali karena dari pagi sampai sore aku disiksa oleh Seniorku......
setelah sore hari....kami semua diizinkan pulang oleh senior" yang galak dan kejam itu... sampai di kosan aku lantas mandi....setelah mandi aku langsung tidur karena begitu letihnya kemarin.... Hari kedua sama seperti hari pertama... begitu letih .... dan pada sore hari... badanku lemas sekali... dan aku terpaksa tidak ikut prospek... pagi hari aku sulit bangun dari tempat tidurku....... Bu Dewi yang tidak bekerja... menengokku sejenak dan menanyakan keadaanku "Kamu kenapa Van"katanya dengan senyum menggoda "Gak tau ni bu....Lemes banget ni badan..."kataku dengan agak sedikit di beri rintihan ^^ "Terlalu letih ya Van?" kata bu dewi.. "Iya bu....2 hari keletihan gara" di kerjai oleh Senior..."kataku "oo.... ibu buatkan teh manis yah?"Katanya menawarkan teh ke aku..... "Gak merepotkan Bu?"kataku basa-basi...
"enggak kok....!"
"Ya udah d...."
Saat itu jg dia langsung membuatkanku teh manis.... "ini van teh manisnya"
"makasih ya Bu" "sama2"
"Kamu anak pertama Van?"katanya dengan sedikit memainkan mata
"Enggak kok bu,saya anak bungsu dari 3 bersaudara"kataku sedikit bingung
"ooww...."
"Suami Ibu mana bu?"
"saya masih lajang kok Van"
"Wah masih lajang???Kok sudah punya kost2an seperti ini bu?"
"Ini peninggalan orang tuaku.... orang tuaku sekarang ada di Jepara mengurusi kakekku yang sedang sakit.... terpaksa aku harus mengurus ini kosan!"
"Ohh.....ibu gk kerja?" tanya ku sambil mengambil gelas di meja samping kasur ku...
"Endak, eh jangan panggil Ibu donk.... kita kan cuma beda 3-5 tahun.."katanya sedikit mengeluh....
"ya udah d... aku panggil dewi aja..."kataku dengan sedikit rayuan mata
"nah itu lebih enak didengar"
"hehehehehehehehe"tawaku
"Ibu berarti masih perawan donk??"tanyaku iseng...
Ia diam sejenak.... dan kamarpun hening beberapa detik.....
"Kok ibu si??!?!?!?? dewwi......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
"oh... maaf.....lupa... kebiasaan ibu....! Wi... kok pertanyaanku belum di jawab??!"
"saya masih perawan"
"Sama donk..saya juga masih perjaka"jawabku dengan penuh rayuan...
Ia keluar kamar dan aku sedikit kecewa karena tak bisa merayunya....
kudengar ia masuk ke kamarnya..... dan balik lagi ke kamarku dengan membawa kantong kresek warna hitam....dan memberikannya kepadaku...
saat ku buka kantong itu.....ternyata di dalamnya CD bokep....
Aku kaget dan menanyakannya
"Wi...kok kamu nyimpen film dewasa kek gini?!!" tanyaku heran...
"Aku suka iseng nonton ini film..."jawabnya.....
Aku langsung bangun dari tempat tidurku.... dan berkata...
"kamu mau praktekin apa yang kamu tonton gk??!?!?"
Dewi diam saja dan menghiraukan pertanyaanku....
Aku langsung memeluknya dan menciumnya...... Dia menghalauku... dan aku tak perduli..... aku teruskan cumbuan mautku....
"ah......ukh......" desahnya sedikit keras.....
"jangan disini van....di kamarku saja yu?!?!?" katanya membujukku...
"tapi... ada orang tidak disini?!?"tanyaku
"tidak ada.... semua nya lagi keluar"jawabnya meyakinkanku....
"ya sudah...kita kekamarmu!"
Setelah ku kunci kamarnya....langsung ku cium bibirnya yang menggoda itu... Dia mendesah lagi... tanpa basa basi ku buka rok dan bajunya... aku kaget... ternyata ia tidak pakai celana dalam..... yang tersisa hanyalah BHnya...
kucumbu dan kugerayangi tubuhnya.... saat sudah mencapai gumpalan gunung putih itu.... ia menggelinjang... dan ku sibak BH hitamnya itu....
kugerayangin semua badannya.... dan yang tersisa hanyalah bagian bawahnya yang belum kunikmati..... akhirnya tiba juga di persinggahan yang paling nikmat....
bau vagina yang belum kurasakan sebelumnya....
saat ku jilat... dia mendesah sedikit keras
"uh.......akh...........ahhhhhhhhh....."desaha nnya sedikit keras....
"Nikmat gk wi?!?!"
"Aduh... ra...saa.....nya.... wuen...ak te....nan...."jawabnya sedikit terbata-bata menahan jilatanku...
Kuteruskan lagi jilatanku....
dari mekinya... aku menuju mulutnya yang manis itu....
Saat aku sibuk melumat mulutnya...ia membuka semua pakaian yang melekat di tubuhku... dan tersibak lah kontolku yang cukup lebat dan lumayan besar...
"Aduh.. besar sekali kontolmu!"
"heheheheh"tawaku sambil melanjutkan cumbuanku itu...
Kuteruskan perjalananku itu.....
"Kumasukkan ya Wi?!?!?"
"ehm..... tapi pelan-pelan yah.... masih perawan sih....!" jawabnya
"Siap Tuan Putriku"jawabku dengan sedikit gombalan...
Saat kumasukkan kontolku..... sempit sekali....
dan dewi mendesah
"uh......pe...lan...pe..lan..... Van...!"
Blesssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss.... Darah perawan mengalir di semua bagian kontolku....
"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
Teriaknya.... dan ia pun lemas tak berdaya...
akupun menggenjot lagi...
"va...n....ak...u....ma...u....keeeee.....llluuu.. .arr!"katanya dengan terbata bata
"kelu....arr...in....aja....!"jawabku dengan sedikit desahan...
dia pun menggelinjang...cairan hangat keluar....
"a.h......uh............."Desahannya....
"e...n...ak.....te....nan...kon....tol....mm.u uu Va..n..!"desahannya tak kuasa menahan derasnya laju kontolku...
"aku m...a...u...keee...lu...ar Wi........A....k...u... ke....luar...kan...di...dala...m ya....h??!?!?"Pintaku....
"c...e...p...a.a.tttttt kkee...llluarr....kan!!!!"pintanya sedikit menahan rasa nyeri di memeknya,...
Keluarlah spermaku dengan deras di memeknya...
Saat sedang lemas lemasnya.... tiba-tiba ada bayangan hitam terlihat di jendela....aku sejenak menghentikan kerjaanku...kubisikan ke Dewi
"Wi...ada yang ngintip tuh!"
"Syapa????!!"
"manaku Tau...!Kuliat yah..."jawabku
ternyata yang mengintip seorang wanita.....kulihat ia sedang melihat ke arah kontolku......dan kubuka sedikit jendela...
"Ngapain kamu disini?!?!?!"tanyaku sedikit kesal
"em.....nggak kok mas...maaf!"Jawabnya ketakutan...
"Kamu mau nyoba?!?!?"Tanyaku merayu
"Aduh....enggak d mas...!" jawabnya ketakutan setengah mati...
"Enggak papa kok....!"
Kupakai pakaianku dan keluar rumah.... kutarik tangannya untuk ikut ke pertandingan utama....
Dia mengelak.....dan kupaksa dengan sedikit rayuan
"Enggak papa kok..... pasti kamu menikmatinya..."Kataku dengan rayuan yang membuatnya mengiyakan permintaanku...
Saat masuk ke kemar...kutanya siapa dia...
"Syapa namamu???"
"m......Nama saia putri mas...!"jawabnya ketakutan
"O...nama saia irvan...Kelas berapa put?!"
"Ke...las...2 SMA mas...!"
"Oh.....Sudah pernah liad orang beginian put?!?!"
"Sudah...tapi di CD...belum pernah liad yang live...!"
"mau coba?!?!?!"tanyaku...
"Aduh mas......Aku nonton dulu aja d..."
"Ya sudah kalau kamu belum mau menikmati kenikmatan luar biasa ini...!
Aku melanjutkan showku dengan Dewi yang tadi kukacangi...
Setelah beberapa menit...kulihat putri gelisah dan sedikit merangsang setelah mendengar desahan Dewi...
Putri langsung membuka bajunya.......dan tersibaklah semua bagian tubuh yang berwarna putih itu...
"Kamu mau....Putri???"Tanyaku
"Mau mas....dari tadi aku melihat kalian berdua serasa nikmat sekali..."jawabnya
"ya udah...sini kamu...."
Putri menghampiri kami berdua dengan badan bugil yang indah itu...
Toketnya besar....ukurannya sekitar 36B
Wow........tanpa basa basi ku lumat toketnya itu....dan Dewi sibuk mengulum kontolku......
Dewi merasa sudah mau keluar.....
"Van aku mau keluar ni...."
"ya udah keluarkan...."
Aku langsung tiduran di bawah memeknya.... dan keluarlah cairan yang cukup hangat dan tidak terlalu banyak...dan kusedot habis....
setelah ku telan aku langsung mengulum Toket putri sementara dewi sedang tiduran karena keletihan....
Setelah itu... tanpa basa basi kuletakkan kontolku ke liang kenikmatan Putri...
Blupp..blupp..blupp.....Putri mendesah
"a....h.....uh.h.....akh.....aa...."
Blesssssssssssssssssssssss........... darah perawan mengalir 2x di kontolku....
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaa"
Teriaknya sedikit keras....
kuteruskan genjotanku...semakin lama semakin cepat...
putri sering mendesah
"aa....ukh....a.h......uhh.........a.h......ah.... .."
"Ak...u....m......au.....k...elllll.....u...a....r ....r...ma...s!"
Aku diam saja....dan keluarlah cairan itu....
Saat yang bersamaan aku juga mau keluar....tapi tak kuberitahu ke putri....aku takut ia tak mau menerima cairan ku di memeknya...
dan langsung kekeluarkan saja di memeknya......
Setelah itu gantian Dewi yang kugerayangi...
Setelah hampir 3jam aku mengerayangi kedua wanita yang kini sudah hilang keperawanannya.... kami menyudahi pertandingan kami....takut ada yang datang dan kami sedang asyik main sodok2an....
mereka berdua berterima kasih ke saia....
putri segera bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang penuh keringat dan aku memakaikan bajunya sambil memegang mekinya dan sedikit cumbuan di toket dan bibirnya.... dan setelah itu Putri pulang dengan letihnya.....
Saat itu juga Dewi membuka sprei yang kotor dengan darah dan menaruhnya di kantong plastik dan ia mencucinya malam hari.....
Saat memakai baju..tiba-tiba suara bel berbunyi....dengan paniknya aku langsung masuk ke kamarku dan tidur....
Sementara dewi...membuka pintu dan ia langsung masuk kekamar dan tidur...
Setiap malam dan ketika kosan kosong kejadian itu terulang... kadang saia lawan 2 wanita...kadang hanya 1 wanita yang menemaniku...
Sampai akhirnya Orang tua Dewi pulang...dan kami jarang melakukan pertandingan kami bertiga karena takut ketauan Oleh orang tua Dewi....

Kejutan buat Kiki

Posted: 26 Aug 2007 10:55 AM CDT

Hari itu adalah hari Minggu sebulan setelah peristiwaku di vila bersama Pak Imam dan Muklas ,selama ini aku belum ke sana lagi akibat kesibukan kuliahku. Hari Minggu itu aku pergi ke sana untuk refreshing seperti biasa karena Seninnya tanggal merah atau libur. Kali ini aku tidak sendiri tapi bersama 2 orang teman cewekku yaitu Kiki dan Indah, kami semua adalah teman akrab di kampus, sebenarnya geng kami ini ada 4 orang, satu lagi si Ratna yang hari ini tidak bisa ikut karena ada acara dengan keluarganya.

Kami sama-sama terbuka tentang seks dan sama-sama penggemar seks, Kiki dikaruniai tubuh putih mulus tinggi semampai dengan buah dada yang bulat montok berukuran 38B yang membuat pikiran kotor para cowok melayang-layang, beruntunglah mereka karena Kiki tidak sulit diajak ?naik ranjang? karena dia sudah ketagihan seks sejak SMP. Sedangkan Indah mempunyai wajah yang imut dengan rambut panjang yang indah, bodynya pun tidak kalah dari Kiki walaupun payudaranya lebih kecil, namun dibalik wajah imutnya ternyata Indah termasuk cewek yang lihai memanfaatkan cowok, sudah berkali-kali dia ganti pacar gara-gara sifat materenya. Sedangkan aku sendiri sepertinya kalian sudah tahulah cewek seperti apa aku ini dari cerita-ceritaku dulu.

Baiklah, sekarang kita kembali ke kejadian hari itu yang rencananya mau mengadakan orgy party setelah sekian lama otak kami dijejali bahan-bahan kuliah dan urusan sehari-hari. Waktu itu Kiki protes karena aku tidak memperbolehkannya mengajak teman-teman cowok yang biasa diajak, begitu juga Indah yang ikut mendukung Kiki karena pacarnya juga tidak boleh diajak.
?Emangnya lu ngundang siapa lagi sih Ni, masa si Chevy aja ga boleh ikutan ?? kata Indah
?Iya nih, emangnya kita mau pesta lesbian apa, wah gua kan cewek normal nih? timpal Kiki
?Udahlah, lu orang tenang aja, cowok-cowoknya nanti nyusul, pokoknya yang kali ini surprise deh ! dijamin kalian puas sampe ga bisa bangun lagi deh?
Aku ingin sedikit membuat kejutan agar acara kali ini lain dari yang lain, karena itulah aku merahasiakan siapa pejantannya yang tidak lain adalah penjaga vilaku dan vila tetanggaku, Pak Imam dan Muklas.

Kemarinnya aku memang sudah mengabari Pak Imam lewat telepon bahwa aku besok akan ke sana dengan teman-temanku yang pernah kujanjikan pada mereka dulu. Pak Imam tentu antusias sekali dengan acara kali ini, kami telah mengatur skenario acaranya agar seru. Beberapa jam kemudian kami sampai di villaku, Pak Imam seperti biasa membukakan pintu garasi, bola matanya melihat jelalatan pada kami terutama Kiki yang hari itu pakaiannya seksi berupa rok mini dan sebuah tank top merah berdada rendah sehingga payudaranya seakan mau keluar. Dia kusuruh keluar dulu sampai aku memberi syarat padanya, dia menunggunya di villa tetangga yang tidak lain vila yang dijaga si Muklas. Setelah membereskan barang bawaan, kami menyantap makan siang, lalu ngobrol-ngobrol dan istirahat. Indah yang daritadi kelihatan letih terlelap lebih dulu. Kami bangun sore hari sekitar jam 4 sore.

?Eh?sambil nunggu cowok-cowoknya mendingan kita berenang dulu yuk? ajakku pada mereka
Aku melepaskan semua bajuku tanpa tersisa dan berjalan ke arah kolam dengan santainya
?Wei?gila lo Ni, masa mau berenang ga pake apa-apa gitu, kalo keliatan orang gimana ?? tegur Indah
?Iya Ni, lagian kan kalo si tua Imam itu dateng gimana tuh? sambung Kiki
?Yah kalian, katanya mo party, masa berenang bugil aja ga berani, tenang aja Pak Imam udah gua suruh jangan ke sini sampai kita pulang nanti? bujukku sambil menarik tangan Kiki
Di tepi kolam mereka masih agak ragu melepas pakaiannya, alasannya takut kepergok tetangga, setelah kutantang Kiki baru mulai berani melepas satu demi satu yang melekat di tubuhnya, aku membantu Indah yang masih agak malu mempreteli pakaiannya. Akhirnya kami bertiga nyebur ke kolam tanpa memakai apapun.

Perlahan-lahan rasa risih mereka pun mulai berkurang, kami tertawa-tawa, main siram-siraman air, dan balapan renang kesana kemari dengan bebasnya. Mungkin seperti inilah kira-kira gambaran tempat pemandian di istana haremnya para raja. Sesudah agak lama bermain di air aku naik ke atas dan mengelap tubuhku yang basah, lalu membalut tubuhku dengan kimono.
?Ni, sekalian ambilin kita minum yah? pinta Kiki
Akupun berjalan ke dalam dan meminum segelas air.
?Ok, it?s the showtime? gumamku dalam hati, inilah saat yang tepat untuk menjalankan skenario ini. Aku segera menelepon vila sebelah menyuruh Pak Imam dan Muklas segera kesini karena pesta akan segera dimulai.

?Iya neng, kita segera ke sana? sahut Muklas sambil menutup gagang telepon
Hanya dalam hitungan menit mereka sudah nampak di pekarangan depan vilaku. Aku yang sudah menunggu membukakan pintu untuk mereka.
?Wah udah ga sabaran nih, dari tadi cuma ngintipin neng sama temen-temen neng dari loteng? kata Pak Imam
?Pokoknya yang payudaranya gede itu buat saya dulu yah neng? ujar Muklas merujuk pada Kiki.
"Saya juga mau yang dadanya aduhai itu neng" lanjut Pak Imam
?Iya tenang, sabar, Pokoknya semua kebagian, ok? kataku ?yang penting sekarang surprise buat mereka dulu?
Setelah beberapa saat berbicara kasak-kusuk, akhirnya operasipun siap dilaksanakan. Pertama-tama dimulai dari Kiki. Aku berjalan ke arah kolam membawakan mereka dua gelas air, disana Indah sedang tiduran di kursi santai tanpa busana, sementara Kiki masih berendam di air.

?Ki, lu bisa ke kamar gua sebentar ga, gua mo minta tolong dikit nih? pintaku padanya ?lu lap badan dulu gih, gua tunggu di sana?
Aku masuk ke dalam terlebih dahulu dan duduk di pingir ranjang menunggunya. Di balik pintu itu Pak Imam dan Muklas yang sudah kusuruh bugil telah siap memangsa temanku itu, kemaluan mereka sudah mengeras dan berdiri tegak seperti pedang yang terhunus. Tak lama kemudian Kiki memasuki kamarku sambil mengelap rambutnya yang masih basah.
?Kenapa Ni, ada perlu apa emang ?? tanyanya.
?Ngga, cuma mau ngasih surprise dikit kok? jawabku dengan menyeringai dan memberi aba-aba pada mereka. Sebelum Kiki sempat membalikkan badan, sepasang lengan hitam sudah memeluknya dari belakang dan tangan yang satunya dengan sigap membekap mulutnya agar tidak berteriak. Kiki yang terkejut tentu saja meronta-ronta , namun pemberontakkan itu justru makin membakar nafsu kedua orang itu.

Pak Imam dengan gemas meremas payudara kirinya dan memilin-milin putingnya. Si Muklas berhasil menangkap kedua pergelangan kakinya yang menendang-nendang. Dibentangkannya kedua tungkai itu, lalu dia berjongkok dengan wajah tepat di hadapan kemaluan Kiki.
?Wah jembutnya lebat juga yah, kaya si neng? komentar Muklas sambil menyentuhkan lidahnya ke liang vagina Kiki, diperlakukan seperti itu Kiki cuma bisa merem melek dan mengeluarkan desahan tertahan karena bekapan Pak Imam begitu kokoh.
?Hei, jangan rakus dong Klas, dia kan buat Pak Imam, tuh jatahlu masih nunggu di luar sana? kataku padanya
Mengingat kembali sasarannya semula, Muklas menurunkan kembali kaki Kiki dan bergegas menuju ke kolam.
?Jangan terlalu kasar yah ke dia, bisa-bisa pingsan gara-gara lu? godaku

Setelah Muklas keluar tinggallah kami bertiga di kamarku. Pak Imam langsung menghempaskan dirinya bersama Kiki ke ranjang spring bed-ku. Tak berapa lama terdengarlah jeritan Indah dari kolam, aku melihat dari jendela kamarku apa yang terjadi antara mereka. Indah terpelanting dari kursi santai dan berusaha melepaskan diri dari Muklas. Dia berhasil berdiri dan mendapat kesempatan menghindar, tapi kalah cepat dari Muklas, tukang kebun itu berhasil mendekapnya dari belakang lalu mengangkat badannya.
?Jangan?tolong !!? jeritnya sambil meronta-ronta dalam gendongan Muklas
Muklas dengan santai membawa Indah ke tepi kolam, lalu dilemparnya ke air, setelah itu dia ikutan nyebur. Dia air Indah terus berontak saat Muklas menggerayangi tubuhnya dalam himpitannya. Sekuat apapun Indah tentu saja bukan tandingan Muklas yang sudah kesurupan itu. Perlawanan Indah mengendur setelah Muklas mendesaknya di sudut kolam, riak di kolam juga mulai berkurang. Tidak terlalu jelas detilnya Muklas menggerayangi tubuh Indah, tapi aku dapat melihat Muklas memeluk erat Indah sambil melumat bibirnya.

Kutinggalkan mereka menikmati saat-saat nikmatnya untuk kembali lagi pada situasi di kamarku. Aku lalu menghampiri Pak Imam dan Kiki untuk bergabung dalam kenikmatan ini. Sama seperti Indah, Kiki juga menjerit-jerit, namun jeritannya juga pelan-pelan berubah menjadi erangan nikmat akibat rangsangan-rangsangan yang dilakukan Pak Imam. Waktu aku menghampiri mereka Pak Imam sedang menjilati paha mulus Kiki sambil kedua tangannya masing-masing bergerilya pada payudara dan kemaluan Kiki.
?Aduh Ni?tega-teganya lu nyerahin kita ke orang-orang kaya gini?ahhh !!? kata Kiki ditengah desahannya
?Tenang Ki, ini baru namanya surprise, sekali kali coba produk kampung dong? kataku seraya melumat bibirnya

Aku berpagutan dengan Kiki beberapa menit lamanya. Jilatan Pak Imam mulai merambat naik hingga dia melumat dan meremas payudara Kiki secara bergantian, sementara tangannya masih saja mengobok-obok vaginanya. Desahan Kiki tertahan karena sedang berciuman denganku, tubuhnya menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tiada tara.
?Hhhmmhh?tetek Neng Kiki ini gede juga ya, lebih gede dari punya Neng? kata Pak Imam disela aktivitasnya.
Memang sih diantara kami bereempat, payudara Kiki termasuk yang paling montok. Menurut pengakuannya, cowok-cowok yang pernah ML dengannya paling tergila-gila mengeyot benda itu atau mengocok penis mereka diantara himpitannya. Pak Imam pun tidak terkecuali, dia dengan gemas mengemut susunya, seluruh susu kanan Kiki ditelan olehnya dan Pak Imam juga mengocok penisnya diantara himpitan payudara montok Kiki?.ach..aach..desah Kiki yang sangat menikmati kocokan penis di payudaranya.

Puas menetek pada Kiki, Pak Imam bersiap memasuki vagina Kiki dengan penisnya. Kulihat dalam posisinya diantara kedua belah paha Kiki dia memegang penisnya untuk diarahkan ke liang itu.
?Ouch?sakit , duh kasar banget sih babu lu? Kiki meringis dan mencengkram lenganku waktu penis super Pak Imam mendorong-dorongkan penisnya dengan bernafsu
?Tahan Ki, ntar juga lu keenakan kok, pokoknya enjoy aja? kataku sambil meremasi kedua payudaranya yang sudah basah dan merah akibat disedot Pak Imam.
Pak Imam menyodokkan penisnya dengan keras sehingga Kiki pun tidak bisa menahan jeritannya, Kiki kelihatan mau menangis nampak dari matanya yang sedikit berair.Pak Imam mulai menggarap Kiki dengan genjotannya. Aku merasakan tangan Kiki menyelinap ke bawah kimonoku menuju selangkangan, eennghh?aku mendesah merasakan jari-jari Kiki menggerayangi kemaluanku.

Aku lalu naik ke wajah Kiki berhadapan dengan Pak Imam yang sedang menggenjotnya. Kiki langsung menjilati kemaluanku dan Pak Imam menarik tali pinggang kimonoku sehingga tubuhku tersingkap. Dengan terus menyodoki Kiki, dia meraih payudaraku yang kiri, mula-mula dibelainya dengan lembut tapi lama-lama tangannya semakin keras mencengkramnya sampai aku meringis menahan sakit. Dia juga menyorongkan kepalanya berusaha mencaplok payudara yang satunya. Aku yang mengerti apa maunya segera mencondongkan badanku ke depan sehingga dadaku pun makin membusung indah. Ternyata dia tidak langsung mencaplok payudaraku, tetapi hanya menjulurkan lidahnya untuk menjilati putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, geli bercampur nikmat. Sapuan-sapuan lidah Kiki pada vaginaku membuat daerah itu semakin becek, bukan cuma itu saja Kiki juga mengorek-ngoreknya dengan jarinya.

Aku mendesah tak karuan marasakan jilatan dan sedotan pada klistoris dan putingku. Ciuman Pak Imam merambat naik dari dadaku hingga hinggap di bibirku, kami berCiuman dengan penuh nafsu. Tidak kuhiraukan nafasnya yang bau rokok, lidah kami beradu dengan liar sampai ludah kami bercampur baur.
?Aahh?oohh?gua dah mau?Pak !!? erang Kiki bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dan membusur ke atas.
Melihat reaksi Kiki, Pak Imam semakin memperdahsyat sodokannya dan semakin ganas meremas dadanya. Aku sendiri tidak merasa akan segera menyusul Kiki, dibawah sana seperti mau meledak rasanya. Dalam waktu yang hampir bersamaan aku dan Kiki mencapai klimaks, tubuh kami mengejang hebat dan cairan kewanitaanku tumpah ke wajah Kiki. Erangan kami memenuhi kamar ini membuat Pak Imam semakin liar.

Setelah aku ambruk ke samping, Pak Imam menindih Kiki dan mulai menciuminya, dijilatinya cairan cintaku yang blepotan di sekitar mulut Kiki, tangannya tak henti-hentinya menggerayangi payudara montok itu, seolah-oleh tak ingin lepas darinya.
?Hhmmpphh?sluurrpp?cup?cup?? demikian bunyinya saat mereka bercipokan, lidah mereka saling membelit dan bermain di rongga mulut masing-masing. Pak Imam cukup pengertian akan kondisi Kiki yang mulai kepayahan, jadi setelah puas berciuman dia membiarkannya memulihkan tenaga dulu. Dan kini disambarnya tubuhku, padahal gairahku baru naik setengahnya setelah orgasme barusan. Tubuhku yang dalam posisi tengkurap diangkatnya pada bagian pinggul sehingga menungging. Dia membuka lebar bibir vaginaku dan menyentuhkan kepala penisnya disitu. Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke vaginaku. Aku mendesah sambil meremas-remas sprei menghayati proses pencoblosan itu.

Permainan Pak Imam sungguh membuatku terhanyut, dia memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras dan kasar sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya. Aku meraih tangannya untuk meremasi payudaraku yang berayun-ayun. Tiba-tiba suara desahan Kiki terdengar lagi menjari sahut menyahut dengan desahanku. Gila, penjaga vilaku ini mengerjai kami berdua dalam waktu bersamaan, bedanya aku dikocok dengan penis sedangkan Kiki dikocok dengan jari-jarinya. Kiki membuka pahanya lebih lebar lagi agar jari-jari Pak Imam bermain lebih leluasa.
?Aduhh?aahh?gila Ki?enak banget !!? ceracauku sambil merem-melek
?Oohh?terus Pak?kocok terus? Kiki terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya.

?Yak?dikit lagi?aahh?Pak?udah mau? aku mempercepat iramaku karena merasa sudah hampir klimaks
?Neng Nia?Neng Kiki?bapak juga?mau keluar?eerrhh? geramnya dengan mempercepat gerakkannya.
Penis itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. Sebuah rintihan panjang menandai orgasmeku, tubuhku berkelejotan seperti kesetrum. Kemudian dia lepaskan penisnya dari vaginaku dan berdiri di ranjang. Disuruhnya Kiki berlutut dan mengoral penisnya yang berlumuran cairan cintaku. Kiki berlutut mengemut penis basah itu sambil tangan kanannya mengocok vaginanya sendiri yang tanggung belum tuntas. Aku bangkit perlahan dan ikut bergabung dengan Kiki menikmati penis Pak Imam. Kiki mengemut batangnya, aku mengemut buah zakarnya, kami saling berbagi menikmati ?sosis? itu.

Di tengah kulumannya mendadak Kiki merintih tertahan, tubuhnya seperti menggigil, dan kulihat ke bawah ternyata dari vaginanya mengucur cairan bening hasil masturbasinya sendiri. Disusul beberapa detik kemudian, Pak Imam mencabut penisnya dari mulutku lalu mengerang panjang. Cairan kental berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami. Kami berebutan menelan cairan itu, penis itu kupompa dalam genggamanku agar semuanya keluar, nampak pemiliknya mendesah-desah dan kelabakan
?Sabar, sabar dong neng, bisa putus ****** bapak kalo rebutan gini? katanya terbata-bata
Setelah tidak ada yang keluar lagi Kiki menjilati sisanya di wajahku, demikian pula sebaliknya. Mereka berdua akhirnya ambruk kecapaian, wajah Pak Imam jatuh tepat di dada Kiki.

Saat mereka ambruk, sebaliknya gairahku mulai timbul lagi. Maka kutinggalkan mereka untuk melihat keadaan Indah dan Muklas. Aku tiba di kolam melihat Muklas sedang menggarap tubuh mungil Indah. Di daerah dangkal Indah dalam posisi berpegangan pada tangga kolam, Muklas dari bawahnya juga dalam posisi berdiri sedang asyik menggenjot penisnya pada vagina Indah. Kedua payudara Indah bergoyang naik turun seirama goyang tubuhnya. Pasti adegan ini membuat para cowok di kampusku sirik pada Muklas yang buruk rupa tapi bisa ******* dengan gadis seimut itu.
?Belum selesai juga lu orang, udah berapa ronde nih ?? sapaku
?Edan Ni?gua sampe klimaks tiga kali?aahh !!? desah Indah tak karuan
?Neng?.temennya enak banget, udah cantik, memeknya seret lagi? komentar Muklas sambil terus menggenjot.

Indah tak kuasa menahan rintihannya setiap Muklas menusukkan penisnya, tubuhnya bergetar hebat akibat tarikan dan dorongan penis penjaga vila itu pada kemaluannya. Kepala Muklas menyelinap lewat ketiak sebelah kirinya lalu mulutnya mencaplok buah dadanya. Pinggul Indah naik turun berkali kali mengikuti gerakan Muklas. Jeritannya makin menjadi-jadi hingga akhirnya satu lenguhan panjang membuatnya terlarut dalam orgasme, beberapa saat tubuhnya menegang sebelum akhirnya terkulai lemas di tangga kolam. Setelah menaklukkan Indah, Muklas memanggilku yang mengelus-ngelus kemaluanku sendiri menonton adegan mereka.
?Sini neng, mendingan dipuasin pake ****** saya aja daripada ngocok sendiri?

Akupun turun ke air yang merendam sebatas lutut kami, disambutnya aku dengan pelukannya, tangannya mengelusi punggungku terus turun hingga meremas bongkahan pantatku. Sementara tanganku juga turun meraih kemaluannya.
?Gila nih ******, masih keras juga?udah keluar berapa kali tadi ?? tanyaku waktu menggenggam batangnya yang masih ?lapar? itu.
?Baru sekali tadi?abis saya masih nungguin neng sih? godanya saambil nyengir.
Kemudian diangkatnya badanku dengan posisi kakiku dipinggangnya, aku melingkarkan tangan pada lehernya agar tidak jatuh. Diletakkannya aku pada lantai di tepi kolam, disebelah Indah yang terkapar, dia merapatkan badannya diantara kedua kakiku yang tergantung.

Dia mulai menciumiku dari telinga, lidah itu menelusuri belakang telingaku juga bermain-main di lubangnya. Dengusan nafas dan lidahnya membuatku merasa geli dan menggeliat-geliat. Mulutnya berpindah melumat bibirku dengan ganas, lidahnya menyapu langit-langit mulutku, kurespon dengan mengulum lidahnya. Tanganku meraba-raba kebawah mencari kemaluannya karena birahiku telah demikian tingginya, tak sabar lagi untuk dientot. Ketika kuraih benda itu kutuntun memasuki kemaluanku, tangan kanan Muklas ikut menuntun senjatanya menembaki sasaran. Saat kepala penisnya menyentuh bibir kemaluanku, dia menekannya ke dalam, mulutku menggumam tertahan karena sedang berciuman dengannya. Ciuman kami baru terlepas disertai jeritan kecil ketika Muklas mengehentakkan pinggulnya hingga penisnya tertanam semua dalam vaginaku. Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala menatap langit dan mendesah sejadi-jadinya.

Kalau dibandingkan dengan Pak Imam, memang sodokan Muklas lebih mantap selain karena usianya masih 30-an, badannya juga lebih berisi daripada Pak Imam yang tinggi kurus seperti Datuk Maringgih itu. Di tengah badai kenikmatan itu sekonyong-konyong aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak di jendela kamarku. Kufokuskan pandanganku dan astaga?ternyata si Kiki, dia sedang disetubuhi dari belakang dengan posisi menghadap jendela, tubuhnya terlonjak-lonjak dan terdorong ke depan sampai payudaranya menempel pada kaca jendela, mulutnya tampak mengap-mengap atau terkadang meringis, sungguh suatu pemandangan yang erotis. Adegan itu ditambah serangan Muklas yang makin gencar membuatku makin tak terkontrol, pelukanku semakin erat sehingga dadaku tertekan di dadanya, kedua kakiku menggelepar-gelepar menepuk permukaan air. Aku merasa detik-detik orgasme sudah dekat, maka kuberitahu dia tentang hal ini. Muklas memintaku bertahan sebentar lagi karena dia juga sudah mau keluar.

Susah payah aku bertahan agar bisa klimaks bersama, setelah kurasakan ada cairan hangat menyemprot di rahimku, akupun melepas sesuatu yang daritadi ditahan-tahan. Perasaan itu mengalir dengan deras di sekujur tubuhku, otot-ototku mengejang, tak terasa kukuku menggores punggungnya. Beberapa detik kemudian badanku terkulai lemas seolah mati rasa, begitu juga Muklas yang jatuh bersandar di pinggir kolam. Aku berbaring di pinggir kolam di atas lantai marmer, kedua payudaraku nampak bergerak naik turun seiring desah nafasku. Kugerakkan mataku, di jendela Kiki dan Pak Imam sudah tak nampak lagi, di sisi lain Indah yang sudah pulih merendam dirinya di air dangkal untuk membasuh tubuhnya.

Kami beristirahat sebentar, bahkan beberapa diantara kami tertidur. Pesta dimulai lagi sekitar pukul 8 malam setelah makan. Kami mengadakan permainan gila, ceritanya kami bertiga bermain poker dengan taruhan yang kalah paling awal harus rela dikeroyok kedua penjaga villa itu dan diabadikan dalam video klip dengan HP Nokia model terbaru milik Indah, filenya akan disimpan dalam komputer Indah untuk koleksi dan tidak akan boleh dicopy atau dilihat orang lain selain geng kami, mengingat kasus bokep Itenas. Kami duduk melingkar di ranjang, Pak Imam dan Muklas kusuruh menjauh dan kularang menyentuh siapapun sebelum ada yang kalah, mereka menunggu hanya dengan memakai kolor, sambil sebentar-sebentar mengocok anunya sendiri Aku mulai membagikan kartu dan permainan dimulai. Suasana tegang menyelimuti kami bertiga, setelah akhirnya Kiki melempar kartunya yang buruk sambil menepuk jidatnya, dia kalah. Kedua orang yang sudah tak sabar menunggu itu segera maju mengeksekusi Kiki.

Kiki sempat berontak, tapi berhasil dilumpuhkan mereka dengan dipegangi erat-erat dan digerayangi bagian-bagian sensitifnya. Muklas menyusupkan tangannya ke kimono Kiki meraih payudaranya yang tak memakai apa-apa di baliknya. Pak Imam menyerang dari bawah dengan merentangkan lebar-lebar kedua paha Kiki dan langsung membenamkan kepalanya pada kemaluannya yang terawat dan berbulu lebat itu. Perlakuan ini membuat rontaan Kiki terhenti, kini dia malah mengelus-elus penis Muklas yang menegang sambil memejamkan mata menikmati vaginanya dijilati Pak Imam dan dadanya diremas Mulkas. Aku melihat lidah Pak Imam menjalar jari belahan bawah hingga puncak kemaluan Kiki, lalu disentil-sentilkan pada klistorisnya. Kiki tidak tahan lagi, dia merundukkan badan untuk memasukkan penis Muklas ke mulutnya, benda itu dikulumnya dengan rakus seperti sedang makan es krim. Event menarik itu tidak dilewatkan Indah dengan kamera-HP nya.

Kiki terengah-engah melayani penis super Muklas, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitarnya, rasa malunya hilang digantikan dengan hasrat yang besar untuk menyelesaikan gairahnya. Dia mempertunjukkan suatu live show yang panas seperti aktris bokep dan Indah sebagai juru kameranya. Pak Imam yang baru saja melepaskan kolornya menggesek-gesekkan benda itu ke payudara Kiki, sebagai pemanasan sebelum memasukinya. Kemulusan tubuh Kiki terpampang begitu Muklas menarik lepas tali pinggang pada kimononya, sesosok tubuh yang putih mulus serta terawat baik diantara dua tubuh hitam dan kasar, sungguh perpaduan yang kontras tapi menggairahkan. Pak Imam mempergencar rangsangannya dengan menCiumi batang kakinya mulai dari betis, tumit, hingga jari-jari kakinya. Kiki yang sudah kesurupan ?setan seks? itu jadi makin gila dengan perlakuan seperti itu

?Ahhh?awww?Pak enak banget?.masukin aja sekarang !!? rintihnya manja sambil meraih penis Pak Imam yang masih bergesekan dengan bibir vaginanya.
Pak Imam pun mendorong penis itu membelah kedua belahan kemaluan Kiki diiringi desahan nikmat yang memenuhi kamar ini sampai aku dibuat merinding mendengarnya. Aku mengeluarkan payudara kiriku dari balik kimono dan meremasnya dengan tanganku, tangan yang satu lagi turun menggesek-gesekkan jariku ke kemaluanku, Indah yang juga sudah horny sesekali mengelus kemaluannya sendiri. Kiki nampak sangat liar, kemaluannya digenjot dari depan, dan Muklas yang menopang tubuhnya dari belakang meremasi kedua payudaranya serta memencet-mencet putingnya. Rambutnya yang sudah terurai itu disibakkan Muklas, lalu melumat leher dan pundaknya dengan jilatan dan gigitan ringan. Hal ini menyebabkan Kiki tambah menggelinjang dan mempercepat kocokannya pada penis Muklas.

Serangan Pak Imam pada vagina Kiki semakin cepat sehingga tubuhnya menggelinjang hebat
?Aaakhhh?aahhh !!? jerit Kiki dengan melengkungkan tubuhnya ke atas
Kiki telah mencapai orgasme hampir bersamaan dengan Pak Imam yang menyemprotkan spermanya di dalam rahimnya. Adegan ini juga direkam oleh Indah, difokuskan terutama pada wajah Kiki yang sedang orgasme. Tanpa memberi istirahat, Muklas menaikkan Kiki ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Kembali vagina Kiki dikocok oleh penis Muklas. Walaupun masih lemas dia mulai menggoyangkan pantatnya mengikuti kocokan Muklas. Muklas yang merasa keenakan hanya bisa mengerang sambil meremas pantat Kiki menikmati pijatan kemaluannya. Pak Imam mengistirahatkan penisnya sambil menyusu dari kedua payudara Kiki secara bergantian. Aku semakin dalam mencucukkan jariku ke dalam vaginaku saking terangsangnya, sampai-sampai cairanku mulai meleleh membasahi selangkangan dan jari-jariku.

Bosan dengan gaya berpangkuan, Muklas berbaring telentang dan membiarkan Kiki bergoyang di atas penisnya. Kemudian dia menyuruh Indah naik ke atas wajahnya agar bisa menikmati kemaluannya. Indah yang daritadi sudah terangsang itu segera melakukan apa yang disuruh tanpa ragu-ragu. Seluruh wajah Muklas tertutup oleh daster transparan Indah, namun aku masih dapat melihat dia dengan rakusnya melahap kemaluannya sambil menyusupkan tangannya dari bawah daster menuju payudaranya. Pak Imam yang anunya sudah mulai bangkit lagi menerkamku, kami berguling-guling sambil berCiuman penuh nafsu. Dengan tetap berCiuman Pak Imam memasukkan penisnya ke vaginaku, cairan yang melumuri selangkanganku melancarkan penetrasinya. Dengan kecepatan tinggi penisnya keluar masuk dalam vaginaku hingga aku histeris setiap benda itu menghujam keras ke dalam. Aku cuma bisa pasrah di bawah tindihannya membiarkan tangannya menggerayangi payudaraku, mulutnya pun terus menjilati leherku. Aku masih memakai kimonoku, hanya saja sudah tersingkap kesana kemari.

Aku melihat Muklas masih berasyik-masyuk dengan kedua temanku, hanya kali ini Indah sudah bertukar posisi dengan Kiki. Sekarang mereka saling berhadapan, Indah bergoyang naik turun diatas penis Muklas sambil berCiuman dengan Kiki yang mekangkangi wajah Muklas. Kiki membuka kakinya lebar-lebar sehingga cairannya semakin mengalir, cairan itu diseruput dengan rakus oleh si Muklas sampai terdengar suara sluurrpp?. sshhrrpp?Ketika aku sedang menikmati orgasmeku yang hebat, dia tekan sepenuhnya penis itu ke dalam dan ini membawa efek yang luar biasa padaku dalam menghayati setiap detik klimaks tersebut, tubuhku menggelinjang dan berteriak tak tentu arah sampai akhirnya melemas kembali. Pesta gila-gilaan ini berakhir sekitar jam 11 malam. Aku sudah setengah sadar ketika Pak Imam menumpahkan maninya di wajahku, tulang-tulangku serasa berantakan. Kiki sudah terkapar lebih dulu dengan tubuh bersimbah peluh dan ceceran sperma di dadanya, dari pangkal pahanya yang terbuka nampak cairan kewanitaan bercampur sperma yang mengalir bak mata air.



Sebelum tak sadarkan diri aku masih sempat melihat Muklas menyodok memek Kiki tubuh keduanya sudah mandi keringat. Karena letih dan ngantuk aku pun segera tertidur tanpa kupedulikan jeritan histeris Kiki maupun tubuhku yang sudah lengket oleh sperma. Besok paginya aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan aku hanya mendapati Indah yang masih terlelap di sebelah kiriku. Kuguncang tubuh Indah untuk membangunkannya.
?Gimana Dah?puas semalem ?? tanyaku
?Gila gua dientotin sampe kelenger , barbar banget tuh dua orang, eh?omong-omong pada kemana yang lain si Kiki juga ga ada ??
?Ga tau juga tuh gua juga baru bangun kok, duh lengket banget mandi dulu yuk?udah lengket gini? ajakku karena merasa tidak nyaman dengan sperma kering terutama di wajahku, rasanya seperti ada sarang laba-laba menempel di sana.

Baru saja keluar dari kamar, sayup-sayup sudah terdengar suara desahan, kuikuti asal suara itu yang ternyata dari kamar mandi. Kami berdua segera menuju ke kamar mandi yang pintunya setengah terbuka itu, kami tengok ke dalam dan melihat Kiki dan kedua penjaga villa itu. Darahku berdesir melihat pemandangan erotis di depan kami, dimana Kiki sedang dikerjai oleh mereka di lantai kamar mandi. Muklas sedang enak-enaknya mengocok senjatanya diantara kedua gunung bulat itu, sedangkan Pak Imam berlutut diantara paha jenjang itu sedang menyetubuhinya, air dan sabun membuat tubuh mereka basah berkilauan. Kedatangan kami sepertinya tidak terlalu membuat mereka terkejut, mereka malah menyapa kami sambil terus ?bekerja?. Aku dengan tidak terlepas dari live show itu berjalan ke arah shower dan membuka kimonoku diikuti Indah dari belakang. Air hangat mengucur membasuh dan menyegarkan tubuh kami, kuambil sabun cair dan menggosokkannya ke sekujur tubuh Indah. Demikian juga Indah dia melakukan hal yang sama padaku, kami saling menyabuni satu sama lain.

Kami saling mengelus bagian tubuh masing-masing, suatu ketika ketika tanganku sampai ke bawah, iseng-iseng kubelai bibir kemaluannya sekaligus mempermainkan klistorisnya.
?Uuhh...Ni !!? dia menjerit kecil dan mempererat pelukannya padaku sehingga buah dada kami saling berhimpit.
Tangan Indah yang lembut juga mengelusi punggungku lalu mulai turun ke bawah meremas bongkahan pantatku. Darahku pun mengalir makin cepat ditambah lagi adegan panas Kiki dengan kedua pria itu membuatku makin naik. Indah mendekatkan wajahnya padaku dan menCium bibirku yang terbuka karena sedang mendesah, selama beberapa menit bibir kami berpagutan. Kemudian aku memutar badanku membelakangi Indah supaya bisa lebih nyaman menonton Kiki.

Aku melihat wajah horny Kiki yang cantik, dia meringis dan mengerang menikmati tusukan Pak Imam pada vaginanya, sementara Muklas hampir mencapai orgasmenya, dia semakin cepat menggesek-gesekkan penisnya diantara gunung kembar itu, tangannya pun semakin keras mencengkram daging kenyal itu sehingga pemiliknya merintih kesakitan. Akhirnya menyemprotlah spermanya membasahi dada, leher dan mulut Kiki. Mataku tidak berkedip menyaksikan semua itu sambil menikmati belaian Indah pada daerah sensitifku. Dengan tangan kanannya dia memainkan payudaraku, putingnya dipencet dan dipilin hingga makin menegang, tangan kirinya meraba-raba selangkanganku. Perbuatan Indah yang mengobok-obok vaginaku dengan jarinya itu hampir membuatku orgasme, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu.

Aku masih menikmati jari-jari Indah bermain di vaginaku ketika Muklas yang baru menyelesaikan hajatnya dengan Kiki berjalan ke arahku, penisnya agak menyusut karena baru orgasme. Jantungku berdetak lebih kencang menunggu apa yang akan terjadi. Tangannya mendarat di payudara kiriku dan meremasnya dengan lembut sambil sesekali memelintirnya. Lalu dia membungkuk dan mengarahkan kepalanya ke payudara kananku yang langsung dikenyotnya. Aku memejamkan mata menghayati suasana itu dan mengeluarkan desahan menggoda. Lalu aku merasakan kaki kananku diangkat dan sesuatu mendesak masuk ke vaginaku. Sejenak kubuka mataku untuk melihat, dan ternyata yang bertengger di vaginaku bukan lagi tangan Indah tapi penis Muklas yang sudah bangkit lagi. Kembali aku disetubuhi dalam posisi berdiri sambil digerayangi Indah dari belakang. Tubuhku seolah terbang tinggi, wajahku menengadah dengan mata merem-melek merasakan nikmat yang tak terkira.

Hampir satu jam lamanya kami melakukan orgy di kamar mandi. Akhirnya setelah mandi bersih-bersih kami bertiga mencari udara segar dengan berjalan-jalan di kompleks sekalian makan siang di sebuah restoran di daerah itu. Setelah makan kami kembali ke vila dan mengepak barang untuk kembali ke Jakarta. Indah dan Kiki keluar dari kamar terlebih dulu meninggalkanku yang masih membereskan bawaanku yang lebih banyak. Cukup lama juga aku dikamar gara-gara sibuk mencari alat charge HP-ku yang ternyata kutaruh di lemari meja rias. Waktu aku menuju ke garasi terdengar suara desahan dan ya ampun...ternyata mereka sedang bermain ?short time? sambil menungguku.

Indah yang celana panjang dan dalamnya sudah dipeloroti sedang menungging dengan bersandar pada moncong mobil, Pak Imam menyodokinya dari belakang sambil memegangi payudaranya yang tidak terbuka. Sementara di pintu mobil, Kiki berdiri bersandar dengan baju dan rok tersingkap, paha kirinya bertumpu pada bahu Muklas yang berjongkok di bawahnya. Celana dalamnya tidak dibuka, Muklas menjilati kemaluannya hanya dengan menggeser pinggiran celana dalamnya, tangannya turut bekerja meremasi payudara dan pantatnya.
?Weleh...weleh...masih sempat-sempatnya lu orang, asal jangan kelamaan aja, ntar kejebak macet kita? kataku sambil geleng-geleng kepala.
?Tengan neng ga usah buru-buru, masih pagi kok, ini cuma sebentar aja kok? tanggap Pak Imam dengan terengah-engah

Akhirnya setelah 15 menitan Pak Imam melepas penisnya dan memanggilku untuk bergabung dengan Indah menjilatinya. Aku tadinya menolak karena tak ingin make upku luntur, tapi karena didesak terus akhirnya aku berjongkok di sebelah Indah.
?Tapi kalo keluar lu yang isep ya Dah, ntar muka gua luntur? kataku padanya yang hanya dijawab dengan anggukan kepala sambil mengulum benda itu
Sesuai perjanjian tidak lama kemudian Pak Imam menggeram dan cepat-cepat kuberikan penis itu pada Indah yang segera memasukkan ke mulutnya. Pria itu mendesah panjang sambil menekan penisnya ke mulut Indah, Indah sendiri sedang menyedot sperma dari batang itu, sepertinya yang keluar tidak banyak lagi soalnya Indah tidak terlalu lama mengisapnya.
?Yuk cabut, udah ga haus lagi kan Dah ?? ujar Kiki yang sudah merapikan kembali pakaiannya.
Kami naik ke mobil dan kembali ke kota kami dengan kenangan tak terlupakan. Dalam perjalanan kami saling berbagi cerita dan kesan-kesan dari pengalaman kemarin dan membicarakan rencana untuk mengerjai si Ratna yang hari ini absen.

ABG SMU..Ennaaak Bangeeet..aaaahhhh

Posted: 30 Nov 2007 03:14 PM CST

Suatu hari Senen di bulan Oktober 2006, aku keluar dari rumah agak telat yaitu jam
06.45 pagi. Kuperhatikan anak2 sekolah yang biasanya ramai di sepanjang jalan
itu mulai agak sepi, mungkin mereka sudah mendapatkan kendaraan2 ke sekolahnya
masing2. Saat perjalananku mencapai ujung desa Bedulan ( tempat ini pasti
dikenal oleh semua orang karena sering terjadi tawuran antar desa sampai saat
ini ), kulihat ada seorang anak sekolah perempuan yang melambai-lambaikan
tangannya. Setelah kulihat dibelakangku tidak ada kendaraan lain, aku mengambil
kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha mendapatkan tumpangan dariku dan
karena dia seorang diri disekitar situ maka segera kuhentikan kendaraanku serta
kubuka kacanya sambil kutanyakan, mau kemana dik ? Kulihat anak sekolah itu agak
cemas dan segera menjawab pertanyaanku, Paaaak boleh saya ikut sampai di SMA
--------- (Maaf, nama sekolahnya terpaksa Blogger hapus), dari tadi kendaraan umum
penuh terus dan saya takut terlambat ? dengan wajah yang penuh harap. Yaaa…OK
lah….naik cepat kataku. Terima kasih paaak…katanya sambil membuka pintu mobilku.
Jarak dari sini sampai di sekolahnya kira2 10 Km dan selama perjalanan kuselingi
dengan pertanyaan2 ringan, sehingga aku tahu kalau dia itu duduk di kelas 3 SMU
di --------- dan bernama War--- (maaf, namanya disamarkan oleh Blogger). Tinggi
badannya kira2 155 cm, warna kulitnya bisa dibilang agak hitam bersih dan tidak
cantik tapi manis dan menarik untuk dilihat, entah apanya yang menarik, mungkin
karena matanya agak sayu. Penampilan nya sangat sederhana tanpa make-up, maklum
saja perempuan tinggal di desa dan katanya orang tuanya adalah seorang petani.
Tidak terlalu lama, kendaraanku sudah sampai di daerah --------- dan War---
segera memberikan aba2..Ooom……sekolah saya ada di depan itu, katanya sambil
jarinya menunjuk satu arah di kanan jalan. Kuhentikan kendaraanku di depan
sekolahnya dan sambil menyalamiku War--- mengucapkan terima kasih. Sambil turun
dari mobil, War--- masih sempat bertanya..Oooom….besok pagi saya boleh ikut
lagi..nggak Oom, lumayan Oom….bisa naik mobil bagus kesekolah dan sekalian
menghemat ongkos…boleh yaa..Oom ? Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu, tapi
kupandangi wajahnya, lalu kujawab…boleh boleh saja War--- ikut Oom, tapi jangan
bergerombol ikutnya yaaa. Enggak deh Oom, saya cuma sendiri saja kok selama ini.
Setiap pagi sewaktu aku mencapai desa itu, War--- sudah ada dipinggir jalan dan
melambaikan tangannya untuk menghentikan mobilku. Dalam setiap perjalanan dia
makin lama makin banyak bercerita soal keluarganya, kehidupannya di desa, teman2
sekolahnya dan dia juga sudah punya pacar di sekolahnya. Ketika kutanya apakah
pacarnya tidak marah kalau setiap hari naik mobil orang, War--- bilang tidak
apa2 tapi tanpa ada penjelasan apapun, sepertinya dia enggan menceritakan lebih
jauh soal pacarnya. War--- juga cerita bahwa selama ini dia tidak pernah
kemana-mana, kecuali pernah dua kali di ajak pacarnya piknik ke daerah wisata di
Kuningan.
Seminggu kemudian di hari Jum'at, waktu War--- akan naik dimobilku kulihat
wajahnya sedih dan matanya bengkak seperti habis menangis dan War--- duduk tanpa
banyak bicara. Karena penasaran, kusapa dia, War---….., habis nangis yaaaa…,
kenapa…..? coba War--- ceritakan….siapa tahu Oom bisa membantu. War--- tetap
membisu dan sedikit gelisah. Lama dia diam saja dan aku juga nggak mau
mengganggunya dengan pertanyaan2, tetapi kemudian dia berkata…Oom, saya habis
ribut dengan Bapak dan Ibu, lalu dia diam lagi. Kalau War--- percaya pada Oom,
tolong coba ceritakan masalahnya apa, siapa tahu Oom bisa membantu, kataku
tetapi War--- saja tetap membisu. Ketika mobilku sudah mendekati sekolahnya,
tiba2 War--- berkata, Oom…boleh nggak War--- minta waktu sedikit buat bicara
disini, mumpung masih belum sampai di sekolah. Mendengar permintaannya itu,
segera saja kuhentikan mobilku dipinggir jalan dan kira2 jaraknya masih 2 Km
dari sekolahnya.
Ada apa War…? Kataku. War--- tetap diam dan sepertinya ada keraguan untuk
memulai berbicara. Ayoo..lah War (sebenarnya pengarang penuliskan tiga harus
terakhir dari namanya, tapi terpaksa oleh Blogger diganti jadi 3 huruf terdepan),
jangan takut atau ragu…ada apa sebenarnya, tanyaku lagi. Begini….Oom, kata
War---, lalu dia menceritakan bahwa tadi malam dia minta uang kepada orang
tuanya untuk membayar uang sekolahnya yang sudah tiga bulan belum dibayar dan
hari ini adalah hari terakhir dia harus membayar, karena kalau tidak dia tidak
boleh mengikuti ulangan2. Orang tuanya ternyata tidak mempunyai uang sama
sekali, padahal uang sekolah yang harus dibayar itu sebesar 80 ribu rupiah.
Alasan orang tua nya karena panen padi yang diharapkan telah punah karena hujan
yang terus menerus. Dan katanya lagi orang tuanya menyuruh dia berhenti sekolah
karena tidak mampu lagi untuk membayar uang sekolah dan mau dikawinkan dengan
tetangganya.
Aku tetap diam untuk mendengarkan cerita nya sampai selesai dan karena War---
juga terus diam, lalu kutanya…..teruskan cerita mu sampai selesai War. Dia tidak
segera menjawab tapi yang kulihat airmatanya terlihat menggenang dan sambil
mengusap air matanya dia berkata…Oom, sebetulnya masih banyak yang ingin War---
ceritakan, tapi saya takut nanti Oom terlambat kekantornya dan War--- juga harus
ke sekolah, serta lanjutnya lagi… kalau Oom ada waktu dan tidak keberatan, saya
ingin pergi dengan Oom supaya saya bisa menceritakan semua masalah pribadi saya.
Setelah diam sejenak, lalu War--- berkata lagi…Oom, kalau ada dan tidak
keberatan, saya mau pinjam uang Oom 80 ribu untuk membayar uang sekolah dan saya
janji akan mengembalikan setelah saya dapat dari orang tua saya.
Mendengar cerita War--- walaupun belum seluruhnya, hatiku terasa tersayat dan
segera kurogoh dompetku dan kuambilkan uang 200 ribu dan segera kuberikan
padanya. Lho Oom, kok banyak benar…..saya takut tidak dapat mengembalikannya,
katanya sambil menarik tangannya sebelum uang dari tanganku dipegangnya.
War---….ambilah…nggak apa apa kok, sisanya boleh kamu belikan buku2 atau apa
saja….., saya yakin War--- membutuhkannya dan segera kupegang tangannya sambil
meletakkan uang itu ditangannya dan sambil kukatakan…War---…ini nggak usah kamu
beritahukan kepada siapa2, juga jangan kepada orang tuamu….dan…War--- nggak
perlu mengembalikannya.
Belum selesai aku menyelesaikan kata2ku, tiba2 saja dari tempat duduknya dia
maju dan mencium pipi kiriku sambil berkata…..terima kasih banyak Oom…,
Oom..sudah banyak menolong saya. Aku jadi sangat terkesiap dan berdebar…bukan
karena mendapat ciuman di pipiku, tapi karena tangan kiriku tersentuh buah
dadanya yang terasa sangat empuk sehingga tidak terasa kontolku menjadi tegang
dan sementara War--- masih mencium pipiku, kugunakan tangan kananku untuk
membelai rambutnya dan kucium hidungnya.
Ayoo…War…sudah lama kita disini, nanti kamu terlambat sekolahnya. War--- tidak
menjawab tapi kulihat dikedua matanya masih tergenang air matanya.
Ketika sudah sampai didepan sekolah nya sambil membuka pintu mobil, War---
berkata..Oom.., terima kasih yaaa..ooom dan kapan Oom ada waktu untuk mendengar
cerita War---. Kalau besok gimana…?, kataku. Boleh….oom, jawabnya cepat.
Lho..besok kan masih hari Sabtu dan War--- kan harus sekolah, jawabku.
Sekali-kali mbolos kan nggak apa apa Oom…hari Sabtu kan pelajarannya tidak
begitu padat dan kurang penting, kata War---. Oklah…kalau begitu…War, kita
ketemu besok pagi ditempat biasa kamu menunggu.
Dalam perjalanan ke kantor setelah War--- turun, masalah War--- terasa
mengganggu pikiranku sehingga tidak terasa aku sudah sampai dikantor.
Sebelum pulang kantor, aku izin untuk tidak masuk besok Sabtu pada Boss ku
dengan alasan akan mengurus persoalan keluarga di Kuningan. Demikian juga waktu
malamnya kukatakan pada Istriku kalau aku harus ke Jakarta untuk urusan kantor
dan kalau selesainya telat terpaksa harus nginap dan pulang pada hari Minggu.
Besok paginya dengan berbekal 1 stel pakaian yang telah disiapkan oleh Istriku,
aku berangkat dan sampai di tempat yang biasa, kulihat War--- tetap memakai baju
seragam sekolahnya. Setelah dia naik ke mobil, kembali kulihat matanya tetap
seperti habis menangis. Lalu kutanya…War…habis perang lagi yaaaa…?, soal apa
lagi….?. Oom, ceritanya nanti saja deh….katanya agak malas. Kita mau kemana
Oom…? Tanyanya.
Lho…..terserah War--- saja….Oom sih ikut saja. Oom….saya kepingin ketempat yang
agak sepi dan nggak ada orang lain…., jadi kalau kalau War--- nangis, nggak ada
yang melihatnya kecuali Oom. Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku
berpikir sejenak mau ke tempat mana yang sesuai dengan permintaan War---, dan
segera teringat kalau di pinggiran kota Cirebon yang kearah Kuningan ada sebuah
lapangan Golf dan Cottage CPN. Segera saja kukatakan padanya..War---….tempat
yang sesuai dengan keinginanmu itu kayaknya agak susah, tapi……bagaimana kalau
kita ke CPN saja..? Dimana itu Oom dan tempat apaan…?tanya War---. Aku jadi agak
susah menjelaskannya, tapi kujawab saja…tempatnya sih nggak jauh yaitu sedikit
diluar Cirebon dan…..begini saja deh..War…, kita kesana dulu dan kalau War---
kurang setuju dengan tempatnya, kita cari tempat lain lagi. Setelah sampai
ditempat dan mendaftar di receptionist dan memesan minuman ringan serta
mengambil kunci kamarnya, segera aku kembali ke mobil dan kutanyakan pada
War---…gimana War….kamu mau disini..? lihat saja tempatnya sepi ( maklum saja
masih pagi-pagi. Receptionist nya saja seperti terheran-heran, sepertinya
berfikir kok ada tamu pagi2 sekali dan nomor mobilnya bukan dari luar kota ).
Setelah mobil kuparkir didepan kamar, sebelum turun kutanya dia
kembali…War…gimana…mau disini ? atau mau cari tempat lain ? War--- tidak segera
menjawab pertanyaanku, tapi dia ikut turun dari mobil dan mengikutiku kearah
pintu kamar motel. Segera setelah sampai didalam, dia langsung duduk di tempat
tidur sambil memperhatikan seluruh ruangan. Karena kulihat dia tetap diam saja,
aku jadi merasa tidak enak dan segera kudekati dia yang masih tetap duduk di
pinggiran tempat tidur dan sambil agak berlutut, kucium keningnya beberapa saat
dan tiba2 saja War--- memelukku dan terdengar tangisan lirih sambil
terisak-isak. Sambil masih memelukku, kuangkat berdiri dari duduknya dan
kuelus-elus rambutnya, sambil kucium pipinya serta kukatakan, War---…..coba
tenangkan dirimu…..dan ceritakan semua masalah mu pada Oom….., siapa tahu Oom
bisa membantumu dalam memecahkan masalahmu itu. War--- masih saja memelukku tapi
senggukan tangisnya mulai mereda. Beberapa saat kemudian kubimbing dia kearah
tempat tidur dan perlahan kuterlentangkan War--- ditempat tidur dan kurangkulkan
tangan kiriku di bahunya dan kupandangi wajahnya, sambil
kukatakan….War---…cobalah ceritakan masalahmu itu…..dan biar Oom bisa mengetahui
permasalahanmu itu.
War--- tetap diam saja dan memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian, sambil
menyeka airmatanya dia membuka matanya dan memandang kearahku yang jaraknya
antara wajahnya dan wajahku sangat dekat sekali.
Oom….., katanya seperti akan memulai bercerita, tapi lalu dia diam lagi.
War…..,kataku sambil kucium pipinya dan kuusap usapkan jari2 tangan kananku
dirambutnya….cerita lah.
Lalu War--- mulai bercerita dan dia menceritakan secara panjang lebar soal
kehidupan keluarganya yang miskin, dia anak pertama dari 3 bersaudara, tentang
pacarnya di sekolah tapi lain kelas yang sudah 2 tahun pacaran dan sekarang
sudah meninggalkan dia karena mendapatkan pacar baru di kelasnya dan dia juga
menceritakan kalau orang tuanya sudah menjodohkan dengan tetangga nya yang sudah
punya istri dan anak, tapi kaya dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah
War--- dan dia harus segera berhenti dari sekolahnya karena akan dikawinkan pada
bulan Maret akan datang. War--- katanya kepingin sekolah dulu dan belum pingin
kawin, apalagi kawin dengan orang yang sudah punya Istri dan anak. War--- punya
keinginan mau lari dari rumahnya, tapi tidak tahu mau kemana. War--- juga
menceritakan bahwa sebetulnya dia masih cinta kepada kawan sekolahnya itu,
apalagi dia sudah terlanjur pernah tidur bersama sewaktu piknik ke Kuningan
dulu, walaupun katanya dia tidak yakin kalau punyanya pacarnya itu sudah masuk
ke memeknya apa belum, karena belum apa2 sudah keluar katanya.
Jadi….gimana..Oom…, apa yang harus saya perbuat dengan masalah ini, katanya
setelah menyelesaikan ceritanya. War---……., kataku sambil kembali kuelus-elus
rambutnya dan kucium pipinya didekat bibirnya…..War---….masalahmu kok begitu
rumit, terutama persoalan lamaran tetanggamu itu. Begini saja War…..sebaiknya
kamu minta kepada orangtua mu untuk menunda perkawinan itu sampai kamu selesai
sekolah. Bilang saja…kalau ujian SMA mu hanya tinggal beberapa bulan lagi.
Katakan lagi….sayang kalau biaya yang telah dikeluarkan selama hampir tiga tahun
di SMA harus hilang percuma tanpa mendapatkan Ijasah. War….sewaktu kamu
mengatakan ini semua, jangan pakai emosi, katakan dengan lemah lembut, mudah2an
saja orangtuamu mau mengerti dan mengundurkan perjodohanmu dengan tetanggamu
itu.
Kalau orangtuamu setuju, jadi kamu bisa konsentrasi untuk menyelesaikan
sekolahmu dan yang lainnya bisa dipikirkan kemudian. Setelah selesai memberikan
saran ini, lalu kembali kucium pipinya seraya kutanya…War…..bagaimana pendapatmu
dengan saran oom ini ?
Seraya saja War--- bangkit dari tidurnya dan memelukku erat2 sambil menciumi
pipiku dan berkata..Ooom….terima kasih…atas saran oom ini…belum terpikir oleh
saya sebelumnya hal ini….Oom sangat baik terhadap War---….entah bagaimana
caranya saya membalas kebaikan Oom, dan terasa airmatanya menetes dipipiku.
Setelah diam sesaat, kembali kurebahkan badan War--- terlentang dan kulihat dari
matanya yang tertutup itu sisa airmatanya dan segera kucium kedua matanya dan
sedikit demi sedikit cimmanku kuturunkan kehidungnya dan terus turun kepipi
kirinya, setelah itu kugeser ciumanku mendekati bibirnya. Karena War--- masih
tetap diam dan tidak menolak, keberanianku semakin bertambah dan secara perlahan
lahan kugeser ciumanku kearah bibirnya, dan tiba2 saja War--- menerkam dan
memelukku serta mencari bibirku dengan matanya yang masih tertutup. Aku
berciuman cukup lama dan sesekali lidahku kujulurkan kedalam mulutnya dan War---
mengisapnya. Sambil tetap berciuman, kurebahkan badan nya lagi dan tangan
kananku segera kuletakkan tepat diatas buah dadanya yang terasa sangat kenyal
dan sedikit kuremas. Karena tidak ada reaksi yang berlebihan serta War--- bukan
saja mencium bibirku tapi seluruh wajahku, maka satu-satu kancing baju SMU nya
berhasil kulepas dan ketika kusingkap bajunya, tersembul dua bukit yang halus
tertutup Bh putih tipis dan ukurannya tidak terlalu besar. Ketika kucoba membuka
baju sekolahnya dari tangan kanannya, War--- kelihatannya tetap diam dan malah
membantu dengan membengkokkan tangannya. Setelah berhasil melepas baju dari
tangan kanannya, segera kucari kaitan Bhnya dibelakang dan dengan mudah
kutemukan serta kulepaskan kaitannya, sementara itu kami masih tetap berciuman,
kadang dibibir dan sesekali diseluruh wajah bergantian. Bhnya pun dengan mudah
kulepas dari tangan kanannya dan ketika kusingkap Bhnya, tersembul buah dada
War--- yang ukurannya tidak terlalu besar tapi menantang dan dengan putting
susunya berwarna kecoklatan. Dan dengan tidak sabar dan sambil meremas pelan
tetek kanannya, kuturunkan wajahku menyelusuri leher dan terus kebawah dan
sesampainya di teteknya, kujilati tetek War--- yang menantang itu dan sesekali
kuhisap puting teteknya, sementara War--- meremas remas rambutku seraya
terdengar suara lirih ….aaaaahhhh….aaaaaahh…. Oooomm….sssssshhhh….aaaahhh. Aku
paling tidak tahan kalau mendengar suara lirih seperti ini, serta merta kontolku
semakin tegang dan kugunakan kesempatan ini sambil tetap menjilati dan menghisap
tetek War---, kugunakan tangan kananku untuk menelusuri bagian bawah badan
War---. Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus elus memeknya, terasa
sekali ada bagian Cd yang basah. Sambil masih tetap menjilati tetek War---,
kugunakan jari tanganku menyusup masuk dari samping Cdnya untuk mencari bibir
memek nya dan ketika dapat dan kuelus, badan War--- terasa menggelinjang dan
membukakan kakinya serta kembali terdengar aaaaahhh…..ssssshhhh……ssssshhh….
aaaaahhh. Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara War--- mengerang lirih
seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di memeknya dan sekarang kugunakan
untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya untuk segera
kulepas. Untung saja rok sekolah yang dipakai adalah rok standard yaitu ada
kaitan sekaligus resleting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka kaitan
dan resletingnya, sehingga roknya menjadi longgar dibadan War---.
Lalu perlahan lahan kuturunkan badanku serta ciumanku menelusuri perut War---
seraya tanganku berusaha menurunkan rok nya. Roknya yang sudah longgar itu
dengan mudah ku turunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan War--- mengenakan Cd
warna merah muda dan kulihat juga memeknya yang menggunung didalam Cdnya.
Badan War--- menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut dan pada saat ciumanku
mencapai Cd diatas gunungan memeknya itu, gelinjang badan War--- semakin keras
dan pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar suaranya yang lirih sambil
meremas-remas rambutku agak keras serta sesekali memanggil ..sssssssshhhh…
aaaaahh….. sssshhht….. ooom….. aaaahhhh. Sambil kujilati lipatan pahanya,
kuturunkan Cd nya perlahan-lahan dan setelah setengahnya terbuka, kuperhatikan
memek War--- masih belum banyak ditumbuhi bulu sehingga terlihat jelas belahan
memeknya dan basah. Setelah berhasil melepas Cd nya dari kedua kaki War--- yang
masih menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara kedua paha War--- sambil
merenggangkan kedua pahanya. Dengan pelan pelan kujulurkan lidahku dan kujilati
belahan memek nya yang agak terbuka akibat pahanya kubuka agak lebar. Bersamaan
dengan jilatanku itu, tiba2 War--- bangun dari tidurnya dan berkata
Jaaa…ngaaan…Ooom, sambil mencoba mengangkat kepalaku dengan kedua tangannya.
Karena takut War--- akan marah, maka dengan terpaksa aku bangkit dan kupeluk
War--- serta berusaha menidurkannya lagi sambil kucium bibirnya untuk
menenangkan dirinya. War--- tidak memberikan komentar apa apa, tapi kami kembali
berciuman dan War--- sepertinya lebih bernafsu dari sebelumnya dan lebih agresif
menciumi seluruh wajahku. Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas baju
dan Bh War--- yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas, War--- sepertinya
mendiamkan saja, malah sepertinya membantuku dengan memiringkan badannya agar
bajunya mudah kulepas. Sambil tetap berciuman, sekarang aku berusaha untuk
melepas baju dan celanaku sendiri. Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku
termasuk Cdku, lalu dengan harap harap cemas karena aku takut War--- akan
menolaknya, aku menempatkan diriku yang tadinya selalu disamping kiri atau kanan
badan War---, sekarang aku naik diatas badan War---. Perkiraanku ternyata salah,
setelah aku ada di atas badan War---, ternyata dia malah memelukkan kedua
tangannya di punggungku sambil sesekali menekan nekan. Dalam posisi begini,
terasa kontolku agak sakit karena tertindih diantara badanku dan paha War---.
Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk mencari posisi yang enak,
tapi bersamaan dengan kakiku terangkat, kurasakan War--- malah merenggangkan
kedua kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini tidak kusia2kan, segera saja
kutaruh kedua kakiku di bagian tengah kedua kakinya yang dilebarkan itu dan
sekarang terasa kontolku berada di atas memek War---. War--- masih memelukkan
kedua tangannya di punggungku dan meciumi seluruh wajahku.
Sambil masih tetap kujilat dan ciumi selluruh wajahnya, kuturunkan tanganku
kebawah dan sedikit kumiringkan badanku, perlahan lahan kuelus memek War--- yang
menggembung dan setelah beberapa saat lalu kupegang bibir memeknya dengan jariku
dan kurasakan kedua tangan War--- serasa mencekeram di punggungku dan ketika
jari tengahku kugunakan untuk mengelus bagian dalam memeknya, terasa memek
War--- sangat basah dan kurasakan badan bawah War--- bergerak perlahan lahan
sepertinya mengikuti gerakan jari tanganku yang sedang mengelus dan meraba
bagian dalam memek nya dan sesekali ku permainkan kelentitnya dengan jari2ku
sehingga War--- sering berdesis
sssssssssshh……..sssssssshhhh…..aaaaaahhhh….ssssshhh sambil kurasakan jari kedua
tangannya menusuk punggungku. Setelah sekian lama kupernainkan memeknya dengan
jariku, kemudian kulepaskan jariku dari memek War--- dan kugunakan tangan
kananku untuk memegang kontolku serta segera saja kontolku kuarahkan ke memek
War--- sambil kugosok gosokan keatas dan kebawah sepanjang bagian dalam memek
War---, serta kembali kudengar desis suara nya ssssssshhhh… sssshhhh… ooooom……
aaaaaaahh….sssssshhhh dan pantatnya diangkat naik turun pelan pelan. Karena
kulihat War--- sudah sangat terangsang nafsunya, segera saja kuhentikan gerakan
tanganku dan kutujukan kontolku kearah bawah bagian memek nya dan setelah kurasa
pas, segera kulepaskan tanganku dan kutekan pelan pelan kontolku kedalam memek
War---. Kuperhatikan wajah War--- agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit
serta menghentikan gerakan pantatnya serta bersuara pelan tepat didekat
telingaku…. Aduuuhh … oooomm….Jangaaaannn …..sakiiittt…., Asiihh….takuuut…Oom.

Mendengar suaranya yang sedikit menghiba itu, segera kuhentikan tusukan kontolku
dan kuelus elus dahinya sambil kucium telinganya serta kubisikan ..tidak….apa
apa….. sayaaaang…. Oom …. pelan pelan saja….kok, untuk menenangkan ketakutan
War---. War--- tidak segera menanggapi kata2ku dan tetap diam saja dengan tetap
masih memelukkan kedua tangannya di punggungku. Karena dia diam saja dan
memejamkan kedua matanya, segera secara perlahan lahan, kutusukan kembali
kontolku ke dalam memeknya dan terdengar lagi War--- berkata lirih didekat
telingaku….aduuuuhh…..sakiiittt…. ooom,….. Asihhh….. takuuuuut, padahal
kurasakan kalau War--- mulai lagi menggerakkan pantatnya perlahan lahan.
Mendengar kata2nya yang lirih ini, kembali kuhentikan tusukan kontolku tapi
masih tetap ditempatnya yaitu dilubang memeknya, dan kembali kuciumi bibir dan
wajahnya serta kuelus elus rambutnya sambil kubisiki….takut…apa…sayang…….War---
tidak segera menjawab pertanyaanku itu. Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan
ciumanku dibibirnya dan War--- mulai lagi melayani ciumanku itu dengan memainkan
lidahku yang kujulurkan kedalam mulut nya dan kurasakan War--- mulai memindahkan
kedua tangannya dari punggungku ke atas pantatku. Aku tetap bersabar menunggu
dan tidak terburu buru untuk menusukkan kontolku lagi. Tetap dengan masih
menghisap lidahku, kurasakan kedua tangan War--- sedikit menekan pantatku, entah
perintah supaya aku menusukkan kontolku ke memeknya atau hanya perasaanku saja.
Sementara aku diamkan saja dan dengan masih berciuman, kutunggu reaksi War---
selanjutnya. Ketika ciumanku kualihkan ke daerah dekat telinganya, kulihat
War--- berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan kembali kurasakan kedua
tangannya seperti menekan pantatku. Lalu kembali kulumat bibirnya dan perlahan
tapi pasti, kembali kutekan kontolku kedalam memeknya, tapi War--- tidak kuberi
kesempatan untuk berkata-kata karena mulutnya kusumpal dengan mulutku dan
kontolku makin kutekankan kedalam memeknya serta kulihat mata War--- menutup
rapat2 seperti menahan sakit. Karena kontolku belum juga menembus memeknya, lalu
sedikit kuangkat pantatku dan kembali kutusukkan kedalam memek War---
dan…….bleeeeeessssss….terasa kontolku sepertinya sudah menembus memek War--- dan
aaaaaahhhh……..sakiiiiit….ooom….,kudengar suara War--- sambil seperti menahan
rasa sakit dan berusaha menarik pantatku. Untuk sementara tidak kugerakkan
pantatku dan setelah kulihat War--- mulai tenang dan kembali mau menciumi
wajahku, lalu perlahan lahan kutekan kontolku yang sudah menembus memek nya
supaya masuk lebih dalam lagi. Aaaaaaahhh…..oom….pelan..pelaaaan.., kudengar
War--- berkata lirih…Iyaaaa….sayaaaang…ooom….pelah…pelan…., jawabku serta
kubelai rambutnya.

Setelah kudiamkan sebentar, lalu kugerakkan pantatku naik turun sangat pelan
agar War--- tidak merasa kesakitan, dan ternyata berhasil, wajah War---
keperhatikan tidak tegang lagi sehingga pergerakan kontolku keluar masuk memek
War--- sedikit kupercepat dan belum berapa lama terdengar suara
War---…..ooom……oooooom.. aaaaaduuuuhhh…

ooommm…aaaaaaahhh…..aaaadddduuuuuhh…aaaaaahh…ooom…, sambil kedua tangannya
mencengkeram punggungku dengan kuat dan menciumi keseluruhan wajahku dengan
sangat bernafsu dan badannya berkeringat, lalu War--- berteriak agak keras
aaaaaaaaaaaaaaaahhhh….oooomm…..aduuuuuhhhhh…..lalu War--- terkapar dan terdiam
lemas dengan nafas terengah engah. Rupanya Aku yakin kalau War--- sudah mencapai
orgasmenya padahal nafsuku baru saja akan naik. Karena kulihat War--- sepertinya
sedang kelelahan dengan kedua matanya tertutup rapat, jadi timbul rasa
kasihanku, lalu sambil kuseka keringat wajahnya kuciumi pipi dan bibirnya dengan
lembut, tapi War--- tidak bereaksi dan tanpa kuduga di gigitnya bibirku yang
sedang menciumnya seraya berkata lirih….Oooom…..nakal…yaaaaa…., War--- baru
sekali ini..merasakan hal seperti tadi…., sambil mencubit punggungku. Aku tidak
menjawab komentarnya tapi yang kuperhatikan adalah nafasnya sudah mulai teratur
dan secara perlahan lahan aku mulai menggerakkan kontolku lagi keluar masuk
memek War---. Kuperhatikan War--- mulai terangsang lagi, War--- mulai menghisap
bibirku dan mulai mencoba menggerakkan pantatnya pelan2 dan gerakannya ini
membuat kontolku seperti di pelintir pelintir keenakan. Gerakan kontolku keluar
masuk semakin kupercepat dan demikian juga War--- mulai makin berani mempercepat
gerakan putaran pantatnya, sambil sesekali kedua tangannya yang dipelukkan
dipinggangku berusaha menekan sepertinya menyuruhku untuk memasukkan kontolku
kedalam memeknya lebih dalam lagi dan kudengar War--- mulai bersuara lagi
..aaaaaaahh…..aaaaahh….ooooohhh….oommm…aaaaaaaaah….dan tidak terasa akupun mulai
berkicau …..aaaaaaacchhh….aaaaaahhh…Siiiihh…..enaaaakk….. teruuuuuus….Siiiih.
Ketika nafsuku sudah mulai memuncak dan kudengar juga nafas War--- semakin
cepat, dengan perlahan lahan kupeluk badan War--- dan segera kubalik badannya
sehingga sekarang War--- sudah berada diatasku dan kupelukkan kedua tanganku di
pantatnya, sedangkan wajah War--- ditempelkan diwajahku. Dengan sedikit makan
tenaga, kucoba menggerakkan pantatku naik turun dan setiap kali pantatku naik,
kugunakan kedua tanganku menekan pantat War--- kebawah dan bisa kurasakan kalau
kontolku masuk lebih dalam di memek War---, sehingga setiap kali kudengar suara
nya sedikit keras …aaaaahhh….oooooh. Dan mungkin karena keenakan, sekarang
gerakan War--- malah lebih berani dengan menggerakkan pantatnya naik turun
sehingga kedua tanganku tidak perlu menekannya lagi dan setiap kali pantatnya
menekan kebawah sehingga kontolku serasa masuk semuanya di memek War---,
kudengar dia bersuara keenakan ….aaaaahhh…..aaaaaaah disertai nafasnya yang
semakin cepat, demikian juga aku sambil berusaha menahan agar maniku tidak
segera keluar.

Gerakan War--- semakin cepat saja dan kurasakan wajahnya semakin ditekankan
kewajahku sehingga kudengar nafasnya yang sangat cepat itu didekat telingaku dan
aduuuuuh…..aaaaaaahhh…..aaaahhh…ooommm….War---…..mauuuuu…keluaaaaaar…aaaaaaah.
Tungguuuuu….. Waaaaarrrr…….kitaaaa….samaaa….samaaaaaa… ooom…. Jugaaaaa …
mauuuu….. Aaaaaaaaaaahhhhh..aaaaaaaaaahhhhhh….Ooooooommm…..teriak War--- sambil
mengerakkan pantatnya menggila dan akupun karena sudah tidak tahan menahan
maniku dari tadi segera kegerakkan pantatku lebih cepat dan
ccrreeetttt……ccrreeeeeett….ccccrrreeeeeett…dan aaaaaaaaahhhh…siiiiiiihh…. oooom
keluaaaaaaaar…… sambil kutekan pantat War--- kuat2.


Ketika aku main gila dengan seorang room boy

Posted: 30 Nov 2007 03:12 PM CST

Aku baru saja olah raga pagi. Seperti biasa aku olahraga pagi hanya mengenakan kancut minim yang berfungsi sebagai jockstrap [supporter] yaitu pencegah kondor [burut, hernia].

Banyak kancut dan jockstrap yang disukai cowok homosex.Disainnya bagus, minim, maximum exposure dan berlabel [misalnya merk Calvin Klein].Sayang-nya di Indonesia tidak dipasarkan. Sehingga aku terpaksa pesan dari luar negeri untuk memuaskan nafsu homosex-ku mengenakan kancut-kancut minim -nyaris telanjang bulat! Jika mengenakan kancut minim aku merasa seperti tidak pakai apa-apa : telanjang!

Dengan kancut yang minim dan disain rendah itu, mau tak mau sebagian dari jembutku yang hitam dan tumbuh luas itu tampak sebagian dan seakan menyambung dengan pertumbuhan bulu-bulu halus yang ada di perutku!

Saat itu hari masih pukul 06:30. Karena sejak subuh gerimis, aku tidak jogging di luar, tapi hanya lari di tempat sekitar 30 menit dan aku juga baru saja push up dan sit up masing-masing 500 kali serta melatih jurus-jurus karate!Kalau mau aku juga bisa latihan beban di fitness center tapi tentu saja aku tidak bisa berpakaian minim nyaris telanjang bulat seperti di kamar hotel!

Dengan gerakan intens seperti itu, tubuhku jadi bercucuran keringat.Sekali-sekali aku melirik ke cermin.Dengan tubuh yang basah dan berkilat oleh keringat itu lekukan otot-otot di tubuhku jadi tampak makin nyata. Aku bangga dengan tubuhku yang ketat dan atletis itu!

Meskipun tubuhku bercucuran keringat Aku tidak mencium bau keringat atau bau ketiak, karena aku rajin menjaga kebersihan diriku dengan memakai medicated powder anti-bau buatan luar negeri! Aku memang tidak tahan bau yang tak sedap. Oleh karean itu walaupun aku cowok homosex, tapi aku tak suka pada cowok yang bau ketek meskipun dia ganteng!

Sambil memperhatikan tubuhku sendiri bagaikan seorang "narcist" [orang yang terangsang secara seksual pada bayangan tubuhnya sendiri di dalam cermin],aku juga sekali-sekali mengangkat kedua lenganku keatas untuk melihat kedua belah ketiak-ku. Aku lebih menyukai ketiakku bersih dari bulu ketek. Oleh sebab itu aku rajin mencabuti bulu ketek dan juga merapikan pertumbuhan jembut,agar kalau aku telanjang bulat tetap enak dilihat.

Sebagai seorang perwira militer yang bertugas di suatu pasukan elite[khusus] sebetulnya aku sudah memiliki segalanya : wajah yang tampan, tubuh yang atletis ketat berotot,kontol yang besar dan disunat ketat [high and tight],otak yang cerdas, gerakan yang terampil, kualifikasi penerjun dan komando dan banyak lagi lainnya. Kekuranganku hanya satu [kalau itu boleh dianggap kekurangan atau "kelemahan"], yaitu bahwa aku terlahir sebagai homosex tulen 100% dengan score-5 yang artinya tidak terpikat sedikit pun secara sexual pada lawan jenis!

Saat kejadian itu aku baru dua tahun bertugas sebagai perwira aktif. Sebagai perwira muda remaja tentu saja libidoku sedang dalam kondisi puncak dan sedang hot-hot-nya. Tak heran jika aku memerlukan penyaluran dan pelampiasan nafsu sex-ku. Sebagai homosex, tentu saja aku harus mencari partner sejenis dan di hotel bintang-5 banyak cowok ganteng!Kalau di Jakarta aku sering berburu cowok di hotel "M".Di sana banyak satpam dan security officer yang kekar, ganteng dan berkulit terang, sehingga terkesan bersih!

Waktu itu aku menginap di sebuah hotel bintang-5 di Bali.Aku minta izin dari Komandan-ku untuk ke Bali dengan alasan mau menengok keluarga. Memang betul aku punya keluarga di Bali. Tapi untuk apa aku menengok mereka? Aku ke Bali untuk relax dan menenangkan pikiran! Aku tidak menyalahi aturan dan tidak melanggar disiplin militer,karena aku dapat izin dari Komandan dan kebetulan waktu itu ada libur panjang resmi [cuti bersama].

Meskipun sebagai perwira gajiku kecil [walaupun sudah ditambah ULP=Uang Lauk Pauk],tetapi karena aku masih mendapat uang saku dari orang tuaku yang lumayan kaya [ayah dan ibuku punya usaha], aku mampu untuk jalan-jalan ke Bali dan menginap di hotel bintang-5 [five star hotel].

Aku anak tunggal, sebetulnya orang-tuaku tidak setuju aku jadi tentara. Tetapi karena tekadku sudah bulat, beliau berdua akhirnya mau juga mengizinkan aku masuk akademi militer.

JEFFRY SANG ROOM BOY

Ketika aku sedang melakukan pendinginan di kamar hotel itu tiba-tiba bel di pintu berbunyi dan :

"Room service",

terdengar suara bell boy di depan pintu. Semalam sebelumnya aku memang pesan agar makan pagi diantar ke kamar. Ini pasti room boy atau bell boy yang mau mengantar sarapan.

Aku mengambil salah satu dari tiga botol minyak wangiku yang ada di meja dan aku menyemprotkan sebanyak-banyaknya ke tubuhku. Sehingga seakan-akan aku baru mandi minyak wangi.Mau tidak mau kamar itu jadi semerbak bau parfum begitu juga tubuhku jadi harum sekali.Tanpa mencoba menutupi tubuhku yang hanya mengenakan kancut amat minim dengan pola "maximum exposure" [memperlihatkan bagian tubuh sebanyak-banyaknya] dan aku dalam keadaan bercucuran keringat - pintu aku buka!

Melihat aku hanya berkancut, nyaris telanjang, room boy yang berwajah ganteng itu tanpa ragu masuk ke kamar. Mungkin juga dia sudah terbiasa menghadapi tamu hotel yang nyaris telanjang bulat. Terutama turis-turis bule yang kalau berada di kamar mereka sering hanya berkancut saja atau bahkan benar-benar telanjang bulat :

"Permisi, Pak." katanya,dia membawa nampan yang berisi makan pagi.

"Ditaruh di atas meja saja", kataku.

"Baik,Pak" jawabnya.

Seperti umumnya para room boy dan satpam dihotel bintang-5 itu, room boy ini juga ganteng! Tubuh-nya tinggi, ramping tetapi dia berdada bidang dan bentuk tubuhnya atletis. Tampak dia berusaha untuk bersikap tidak memperhatikan tubuhku yang nyaris telanjang bulat itu.

Aku sengaja memilih hotel bintang-5 itu untuk tempat menginap karena di situ banyak room boy dan security officer [satpam] yang ganteng dan bertubuh kekar!

Aku lirik papan namanya : "Jeffry".Namanya mirip Bang Jeffry seniorku diakademi militer yang jadi favoritku. Karena waktu itu Bang Jeffry adalah taruna senior yang paling tampan dan cerdas,juga terkenal sadis kepada taruna yunior. Aku paling suka cowok yang tampan, atletis, sadis dan juga suka menyiksa!Aku terangsang melihat kegantengan Jeffry dan juga tubuhnya yang atletis.

Aku tersenyum kepada Jeffry, dia tampak salah tingkah - tapi dia membalas dengan senyuman.Aku minta receipt[bill] untuk aku tanda tangani. Dia menyerahkan dengan sopan di atas nampan kecil tempat bill, beserta ball pointnya. Sebetulnya breakfast included dalam tarif hotel itu, tapi aku memesan makanan lain, karena itu aku harus membayar dan juga memberi tip kepada room boy!

Sambil menanda-tangani bill aku berpikir cepat. Apakah sebaiknya Jeffry aku cabuli atau tidak. Aku teringat satu peristiwa saat seorang menteri Indonesia[Joop Ave]dilaporkan mengganggu seorang room boy di New Zealand dan menjadi berita besar di media masa. Kalau Jeffry aku cabuli apakah nanti aku jadi berita besar? Aku perwira pasukan khusus yang mencabuli seorang room boy?

Tetapi setan terlanjur sudah mempengaruhi aku agar memanfaatkan "peluang emas" itu! Maka aku pun mulai bertindak.

Nampan kecil berisi bill aku letakkan di atas meja di dekat situ dan aku tarik tangan Jeffry - lalu dengan tubuhku yang penuh peluh dan nyaris telanjang bulat,tetapi harum mewangi bau parfum itu, aku peluk Jeffry dan aku pegang belakang kepalanya agar aku bisa melumat bibirnya yang merah merona, tapi ranum dan amat kelaki-lakian itu.Aku dan Jeffry hampir sama tinggi dan ukuran tubuh kami sepadan. Karena itu aku bisa leluasa menciuminya. Aku lepaskan kenyotan bibirku di atas bibirnya dan aku ciumi lehernya yang putih dan kekar. Agh! Nikmat!! Jeffry menyerah saja. Agaknya dia juga menikmati permainan romantis yang sejenis itu! Meskipun kemudian dia berkata :

"Pak Jangan....Nanti saya dipecat", tapi aku tak perduli.Mulutnya yang sedang menyebutkan kata-kata dengan lirih itu aku sumpal lagi dengan lumatan bibirku!Agh!Nikmat rasanya melumat bibir lagi-laki yang tampan,jantan dan rupawan seperti Jeffry! "Kapan lagi," pikirku!

Meskipun sempat mengatakan "jangan" tapi Jeffry tidak melawan, dia seperti pasrah saja. Karena itu aku makin menggila dan bernafsu! Aku "bawa" dia berbaring ketempat tidur single-bed itu.

Lalu aku lepaskan pakaiannya satu demi satu : rompi hitam dan baju putih seragam, lalu celana luar seragam warna hitam, sampai akhirnya dia hanya mengenakan kancut saja!Jeffry tampak amat jantan dengan dia hanya mengenakan kancut warna hitam. Kontras dengan warna kulitnya yang putih!

Pelahan aku pelorotkan kancutnya ke bawah sampai terlepas di arah kakinya melewati tungkainya yang berbulu halus : Indah!, dan terasa amat kelaki-lakian!

Setelah kancutnya dilepas maka tampaklah kontol, biji peler dan jembutya! Jeffry sudah telanjang bulat!Kontol Jeffry tampak besar,mulai menegang dengan latar belakang hamparan jembutnya yang lebat, hitam dan tumbuh luas! Jeffry cowok hebat dan lelaki sejati!Tampak amat sangat jantan!

Pasti Jeffry bukan orang Bali, karena kontolnya disunat ketat [high and tight]! Jantan dan indah seperti model gay di situs-situs cabul internet!

Jeffry punya tubuh yang bagus dengan lekukan otot yang indah, kulitya yang putih dan wajahnya yang belia serta tampan itu sangat rupawan dan merangsang dalam ketelanjanganya. Apalagi aku melihat bulu keteknya yang hitam, kontras dengan otot lengannya yang putih dan kekar itu, bagiku terasa amat merangsang!

Kontolku makin ngaceng dan terasa agak sakit karena kancutku sangat minim dan ketat. Tetapi kemudian kontolku yang menggembung itu terasa bertambah nikmat!Kancutku segera aku tanggalkan, sehingga kontolku makin terasa nikmat dan juga kencang, setelah bebas dari kungkungan kancut minim itu,kontolku bisa dengan leluasa mengacung ke atas bagaikan sebuah sangkur yang terhunus! Ta'i!

Jeffry terbaring terlentang, kedua tangannya di samping badannya,kontolnya yang mengacung itu seperti "terjatuh" di arah jembutnya.Lalu kontol Jeffry aku ambil dan aku main-mainkan! Aku elus elus bagian bawah kepala kontolnya bekas tempat frenulum yang tampak sudah dipotong waktu Jeffry disunat dulu! Kontol Jeffry aku gosok-gosok aku rangsang,lobang kencingnya yang basah oleh mazie [pre-cum]itu aku raba-raba dengan telapak tangan-ku. Jeffry menggelinjang, mungkin merasa nikmat dan perih sekaligus bercampur-baur karena lobang kencingnya tentu sensitif! Telapak tanganku jadi terasa licin dan lengket oleh mazie Jeffry!

Tanganku pun tak mau sia-sia, aku jelajahkan ke jembut,lalu kedua puting susunya aku main-main-kan, aku pelintir dan aku tekan-tekan. Nikmat sekali! Lobang pantatnya juga aku sodok-sodok dengan jari telunjukku.Tapi poros ususnya kosong tidak berisi ta'i! Lalu jemariku juga mengobok-ngobok kedua belah ketiaknya yang berambut dan terasa basah oleh keringat!

Jeffry menggeliat, dia tersenyum.Aku makin gemas dan kontol Jeffry Si Room Boy itu lalu aku kocok-kocok. Jeffry seperti menggumam: Hhhh Hhhh Hhhh, MMMPH MMMPH MMMPH! Mungkin marasa amat nikmat!

Tiba-tiba : CROOOOOOOOOT!CROOOOOOOOOT!CROOOOOOOT! CROOOOOOOOT!CROOOOOOOT!CROOOOOOOT!CROOOOOOOT!, pejuh Jeffry muncrat. Banyak sekali seakan tak akan pernah berhenti. Pejuhnya tercecer di perut dan jembutnya.....

JEFFRY AKU ENTOT

Melihat Jefry memancarkan pejuh, aku jadi merasa berhak juga mendapat kenikmatan. Karena itu aku berdiri dan dalam keadaan Jefrry masih berbaring terlentang dan nanar sehabis mengeluarkan pejuh, aku angkat kedua tungkainya dan aku lebarkan sehingga aku menampak lobang pantatnya. Lalu aku sodokkan kontolku yang sudah kencang,tegang,dan merah ungu berkilat-kilat kepalanya itu kedalam lobang pantat [bool] Jeffry !

Tanpa ampun aku sodokkan kontolku ke lobang pantat Jefrry. Jeffry seperti kaget mengejang, aku jadi makin tambah bernafsu dan aku hajarkan kontolku semakin jauh ke dalam lobang pantatnya, sehingga Jeffry tampak menyeringai kesakitan dan merintih :Aagh! Aagh! Terkaget-kaget setiap kali kontolku aku sodokkan ke lobang pantatnya yang sempit itu!Tapi aku tak peduli!Aku maju mundur-kan kontolku sambil terus merojok boolnya sampai akhirnya aku merasa sudah akan mencapai puncak syahwat!

Kontol Jeffry yang belum sepenuhnya layu itu tampak mengeras lagi dan kepala kontolnya mulai berkilat, sedangkan lobang kencingnya seakan menganga seperti mulut ikan. Mungkin juga dia terangsang lagi dan merasa nikmat karena kontol-ku merojok kelenjar prostatnya! Dengan tanganku, kontol Jeffry aku elus-elus dan aku kocok-kocok lagi. Jeffry menggeliat, kedua puting susunya tampak tegang melenting. Hal ini menunjukkan bahwa nafsu Jeffry sudah bangkit lagi! Jeffry melenguh lagi seperti kerbau : MMMMPH MMMMPH MMMMMPH!

"Siapa tahu pejuh Jeffry masih bisa muncrat lagi",demikian pikirku!Aku terus mengocok kontol Jeffry dengan intens dan Jeffry menggeliat serta menggelinjang, pasti dia merasa teramat nikmat!

Tetapi aku tidak bisa menahan desakan pejuh di ujung lobang kencingku lagi, dan akhirnya : CROOOOOOT! CROOOOOT!CROOOOT!.Pejuh aku keluarkan di belahan pantat Jeffry.......!

Sambil memuncratkan pejuhku, aku tidak henti-hentinya mengocok kontol Jeffry dan ....beberapa detik setelah pejuhku muncrat, pejuh Jeffry juga muncrat untuk kedua kalinya : CROOOOOOOOOOOOOOT! CROOOOOOOOOOOOOOOOOOOT! CROOOOOOOOOOOOOOOOOOOOT! CROOOOOOOOOOOOOOOOOOOT! CROOOOOOOOOOOOOOOOOOOOT! Pejuh Jeffry berceceran di dada, perut dan juga jembutnya. Indah sekali! JANTAN!!!

Selesai melepaskan pejuh,aku berbaring disamping Jeffry sambil telanjang bulat.Aku pegang tangan-nya dan aku remas jemarinya. Aku mau menunjukkan bahwa aku sayang Jeffry. Lalu aku bangkit dan berjalan mengambil uang US $ 100,- dari dompetku. Aku selipkan di jemari Jeffry yang juga kekar dan hangat itu.Lalu aku bisikkan ke telinganya :

"Aku sayang Jeffry"

Aku masuk kamar mandi untuk mandi junub dan membersihkan badan.Waktu aku keluar kamar mandi, Jeffry sudah berlalu! Jeffry sempat merapikan tempat tidur yang berantakan akibat jadi tempat main cabul tadi!

Rupanya Jeffry membersihkan pejuhnya yang tadi berceceran di badannya dengan tissue. Di tempat sampah yang sebelumnya kosong,aku lihat tumpukan kertas tissue yang tampak basah dan penuh dengan lelehan pejuh!

ANTICLIMAX

Aku makan pagi sendirian dengan lahap,karena aku lapar, barusan olahraga yang intens dan main sex dengan cara mencabuli Jeffry! Aku mulai sadar lagi bahwa adalah aku seorang perwira pasukan elite!

Tiba-tiba aku teringat peristiwa New Zealand! Bagaimana kalau Jefrry mengadukan perbuatanku? Mukaku mau ditaruh dimana? Karena itu aku cepat-cepat makan dan berkemas! Setelah itu aku cepat-cepat check out, membayar kamar, lalu aku kabur dari hotel bintang-5 itu, mencari hotel bintang-5 lain!


Tamat

Kolam Renang Ancol

Posted: 30 Nov 2007 03:09 PM CST

Aku tinggal disuatu kompleks perumahan kelas menengah di Jakarta Timur , tidak terlampau besar , kurang lebih dihuni oleh 150 keluarga kelas menengah keatas .
Hanya beda 1 jalan dari rumah , dipojokan terdapat rumah yang sangat asri yang ditempati oleh keluarga pak Juli seorang pengusaha tanggung yang kegedean lagunya . Biarin deh dia belagu terus yang penting bokinnya cing...kutilang ( kurus tinggi langsing ) , kulitnya kuning , rambutnya hitam abis dan matanya tuh...geunit pisan .
Dikompleks diantara Bapak - bapak muda pembicaraan mengenai bokinnya Pak Juli enggak pernah kering , giliran yang rumahnya ketiban arisan Ibu-ibu kompleks pastilah sang Bapak selalu stand by dirumah .
Enggak lain enggak bukan soalnya Mbak Candra begitu namanya , terkenal kalau pakai baju paling berani , pakai rok mini baju rendah belahannya dan paling sering ngongkong duduknya .
Yang lebih gile lagi kalau dia tahu sang Bapak ada dan ngelirik doi , secara sengaja dia pamerin CD nya yang sumpah jembutnya sebagian betebaran nongol keluar dari pinggiran CD-nya .

Bulan lalu , rumah gue yang ketiban rejeki ngadain arisan , so pasti gue pura -pura repot bantuin bokin nyiapin segalanya , tau dong gue musti tampil keren abis , jeans Versace dan baju gombrong Guess sengaja gue lepas kancing atasnya , biar sexy katanya .
Bener aja , gue liat si Mbak Candra duduk dipojokan menghadap kamar kerja gue yang pintunya gue buka setengah aja .
Sambil menghadap komputer secara nyamping gue bisa melihat kearah ruang keluarga , khususnya kearah doi duduk .

Sundel banget , doi sore itu pakai rok mini hitam kontras dengan kulitnya dan pakai baju beige yang ketat , tapi bahannya alus banget . Gue masa bodo deh denger ibu - ibu berkicau yang penting gue bisa liat terus Mbak Candra yang sesekali juga ngelirik gue , kalau bertatapan gue senyum doi juga dong .

Mulailah doi buka jepitan pahanya , asli coy celana dalemnya yang krem keliatan , tengahnya keliatan item pasti karena jembutnya yang lebat , dan duile itu jembut gimana sih koq pada berurai keluar .
Tiba - tiba doi ngedipin gue , terus gue bales ngedip sambil julurin lidah , eh dia malah senyum senyum dan sambil meremin matanya seperti orang kalau lagi keasyikan di toi .

Gue makin nekad , sekarang gue ngadep kedia sambil ngangkang dan secara atarktif gue usap-usap kontol gue dari luar celana ,
terus gue kasih kode supaya dia menuju kamar mandi , belagak kencing lah .
Doi ngangguk , terus dia samperin bokin bilang mau numpang kekamar mandi .
Gue dan doi tahu banget , dikamar mandi luar masih dipakai sama ibu Agus yang gendut dan beser melulu .
" Mas , ini ibu Candra mau numpang kekamar mandi yang disini " bini gue dengan polos ngajakin doi kekamar mandi yang ada diruang kerja gue .
" Ya nih Pak Luki , abis kamar mandinya masih lama rasanya dipakai Ibu Agus "
" Numpang ya , abis udah enggak tahan kebanyakan minum " biasalah doi basa-basi biar enak dikupingnya bokin .
" Silahkan Bu , tapi enggak papa khan saya nerusin kerja dikomputer , maklum Bu belum jadi pengusaha seperti Pak Juli "
" Ah Pak Luki bisa aja " kata doi sambil nyelonong kekamar mandi gue .

Dasar otaknya juga pinter dalam hal berselingkuh , doi buka pintu kamar mandi setengah dan bilang " Pak Luki , ledengnya rusak ya ? " bokin gue masih ada lagi disitu . " Mas coba liat dulu deh , bantuin Ibu Candra , malu-maluin aja kamar mandinya " bokin gue setengah ngomel . " Biar dibantu sama Mas Luki ya Bu , dia yang sering pakai kamar mandi itu " terus bokin balik lagi kekamar tengah , soalnya bokin musti tanggung jawab dong sama rakyat arisannya .

Dengan belagak males - malesan gue berdiri , eits kontol gue masih ngaceng lagi , ah cuek deh .
Mbak Candra ngelirik juga dan secara refleks doi ngeraba selangkangannya , anjir....terang aja itu tenda celana gue makin tinggi ,
"Hayo , celananya kenapa tu" dia berbisik waktu gue masuk kekamar mandi .
"Kamu sih bikin aku horny , jadi aku yang sengsara deh , mana pakai jean lagi " gue nekad ngomong gitu sambil ngeraba paha mulusnya . Gilanya doi bukannya marah malah bilang " Ya , kalau dibagian itu sih belum asyik "
" Abis yang mana dong kalau asyik " gue masih setengah berbisik menyelusurin pahanya kearah memeknya yang bejembut gila .
" Nah yang itu baru asyik , kamu juga kalau saya gituin juga asyik lah " gantian doi yang ngelus kontol gue dari luar sambil coba - coba buka retsleitingnya . Busyet gila juga ini perempuan , mana bau Isei Miyakenya merangsang banget .

Gue enggak tahan , " Mbak ngentot yuk " kata gue edan-edanan . " Ayo , kapan dong , mending berani lagi " tangannya sekarang udah masuk kedalam jeans gue dan mulai narikin halus kontol gue .
" Eh , siapa takut apalagi kalau ngentotnya bareng Mbak " gue sekarang udah berhasil masukin jari kedalam memeknya yang basah dan lembab . " Besok ya , kekolam renang Ancol , jam 10 "

Babi banget nih si Mbak , kenapa kekolam renang sih , emangnya gue kecebong .

Besok jam 10 kurang seperempat gue udah stand by diparkiran kolam renang Ancol , gue telepon dia dengan no yang dikasih kemarin secara rahasia .
" Mbak , aku udah sampe nih , kamu dimana " gue rada was was juga kalau doi enggak dateng .
" Ini aku baru mau masuk Ancol , tungguin ya , kontolnya udah ngaceng lagi belum " sialan ngetest gue kali , tapi koq kedengarannya rame banget sih ada yang cekikikan dibelakangnya .
Mati gue , jangan - jangan gue mau dijebak , siapa tau dia bawa bokin gue juga .
" Kamu sama siapa sih , koq rame banget , gue jadi bisa enggak ngaceng lagi nih "
" Janjinya gimana sih , katanya mau ML eh kamu bawa orang lain " setengah kesel gue ngomong ditelpon .
" Pasti deh janjinya , pokoknya asyik banget kamu nantinya " dia ngalemin gue .

Enggak sampai 10 menit , mobil Honda putihnya mendarat persis disamping mobil gue .
" Surprise , nah ketauan ya enggak ngajak - ngajak kita " suara 2 Ce temennya Candra teriak bareng .
Waduh pucet banget gue , karena ternyata yang diajak juga tetangga gue , Mbak Rina bininya pak Joko dan Mbak Ita bininya
pak Raja . Salah tingkah abis gue . " Eh , kaget ya , take it easy aja , khan udah kenal , asyik-asyik aja deh pak Luki , eh kalau diluar Mas Luki dong " Mbak Ita yang mungil dan putih ( persis banget Kris Dayantie ) itu nyerocos aja membuat suasana jadi enggak tegang . " Enggak deh kita bilangin sang istri " si Rina yang body dan facenya seperti Dian Nitami nambahin , ya gue makin
ngerasa siep banget dong . Tapi kewaspadaan tetap dipertahankan jangan lengah man .

Setelah basa basi bentar , " Udah ya , pokoknya enggak ada yang boleh tahu selain kita - kita ya Mas " Rina sekarang yang
membuat gue makin PD . " Pokoknya enjoy aja deh , kita bertiga udah kompak berat lho " Candra tanpa sungkan ngegandeng gue
menuju loket . " Khan gue yang janjian sama Mas Luki , elo pada jangan ngiri ya , entar juga kebagian " .

Kepala jalan sekarang si Rina , doi pesen kamar ganti dan bilas keluarga . Sekalian pesan ban renang 2 buah yang guede banget .
Ampun , ide apalagi sih . Seolah kita sekeluarga enteng aja mereka ngajak gue masuk bareng keruang ganti dan bilas .

Denngan tenang mereka buka rok , baju dan terus BH , sialan mereka tenang aja seolah gue enggak ada disitu .
Gila aja kalau gue enggak ngaceng liat Candra , Rina dan Ita yang umurnya sekitar 30 an pada memamerkan bodynya .
" Eh , Mas Luki mau berenang atau mau nonton kita streap tease " kata si Ita sambil buka BH putih transparantnya .
" Ya terang mau berenang dong , tapi aku maunya sih bilas dulu ah , masak langsung berenang " gue akal - akalan supaya mereka juga mau berbulat ria , tanggung amat baru liat toket dan setengah body .
Gue buka baju dan celana , begitu tinggal CD mereka teriak bareng " Asyik ya , udah ngaceng "
" He eh abis kalian sih begitu merangsang dan mempesona " kata gue sembarang siap - siap mau buka CD gue .
" Ah enggak fair nih , masak jadi aku duluan yang telanjang , barengan dong jadi aku enggak malu "
" Hu...maunya tuh , ya Candra kamu khan yang punya ide , kamu dulu dong...mana jembutnya aduh udah pada keluar tu "
kata si Ita sambil narikin jembutnya Candra yang nongol terus dari pinggiran CD .
" Aku sih Ta prinsip , sekali buka celana pantang kalau enggak di......"
" Joss !!!!! " Ita dan Rina seperti koor nerusin apa maunya si Candra .
" Ia deh , gue juga malu khan kalau keluar kamar ganti nanti swempaknya ada tenda mancung ". Cari pembenaran dong .
" Bisa bubar orang dikolam nanti , elo pada mau ya gue jadi tontonan " gue belagak memelas sambil nunjukin si Monas.

Supaya enggak kaku , gue datengin si Candra yang masih berdiri dekat gantungan baju , gue peluk doi dengan kedua tangan dibagian pantatnya , gue cium bibirnya ala French kissing , lidah saling ketemu .
" Wow , nafsu nih ya " si Ita ngeledek . Asyik banget deh pantat si Candra yang nonggeng gue remes - remes , tempelin abis mekinya dengan kontol gue , Candra langsung horny pingggangnya digoyang yang otomatis mekinya berputar diatas kontol gue .
Sekitar 3 menit adegan itu gue pertahankan , sebenarnya gue udah nafsu banget mau langsung masukin kontol gue kememeknya
Candra yang gue yakin udah basah . Sabar cing gue musti cool dong , pasang strategi soalnya masih ada 2 nonok lain menanti .

Perlahan gue melorot , dengan tetap mata memandang dia tangan gue pindah berputar meremas perlahan toketnya yang pentilnya
relatif masih belum gede . " Eh elo jangan ngiri , sementara belum dapat giliran elo pada meremas sendiri aja dulu " masih sempat juga Candra ngeledek temannya yang terpana melihat gue yang sambil meremas toketnya sambil usaha jongkok depan dia , pakai gigi gue tarik perlahan CD nya . " Enak ya Can remasannnya Mas Luki ? " Rina bertanya tanpa arah karena gue tau dia juga tanpa
sadar meremas dan memilin pentil toketnya .
" Kita suruh buka sendiri ya " Ita protes narik sedikit CDnya sambil tangannya ngobel memeknya sendiri .

" Sini dong sayang , tangan gue enggak sampe kalau elo pada jauh - jauh " Gue enggak bisa ngomong panjang lagi karena Candra narik kepala gue kearah nonoknya minta dijilat , setelah CDnya melorot sampai dengkul kakinya .
Anjir....kesampean juga gue jilatin dan rasain nonoknya Candra yang jembutnya gilaaaaaa !!!!!
Itilnya agak gembung , merah banget , gue tahu setelah berupaya keras menepis bulu jembutnya .

Sejenak ruang ganti sunyi , sambil ngejokil abis liang kenikmatannya Candra gue solider untuk pelorotin CD nya Rina dan Ita barengan , dan inilah pemandangan matanya pemirsa sekalian :

Candra , toketnya 34 bentuknya bagus banget , pentilnya agak gede kecoklatan , kulit seluruh bodynya coy kuning kencang mengkilat , bagian pantat ada sedikit selulit , jembutnya...khan udah tau elo pada en bulu keteknya idem ditto.
Yang jelas enggak rapi , serabutan menutup semua bagian memeknya mendekati puser .
Sambil ngedorong pantatnya kedepan supaya lidah gue bisa lebih dalam masuk kelobang nonoknya , dia terus mendesah ,
kaki kananya ngegesek pelan kontol gue dari luar CD , sambil usaha masuk dari samping CD .

Rina , yang gue pelorotin pakai tangan kanan , toketnya gede agak panjang seperti pepaya , kulitnya sawo matang , maklum Jawa
Solo sepertinya , bulu ketek anti cukur , serabutan disekitar susunya yang 36 . Pentilnya agak masuk kedalam .
Pahanya kencang , tinggi sekitar 170cm , jembutnya keriting rapi , diatur sekitar lobang nonoknya ( Sering berbikini kali..)
Lobang nonoknya memanjang , dibawah lipatan perut ada bekas jahitan Caesarnya .
Doi terus meremas susunya sambil liatin tangan gue yang lagi berusaha nurunin CD pinknya .
Supaya cepat , doi ikut ngebantu nurunin CDnya .

Ita , siimut , tinggi sekitar 158 lah , jembutnya paling jarang jadi bagian dalam memeknya yang merah muda gampang keliatan ,
toketnya kecil kenceng ukuran 32 , perutnya rata , paling kalem keliatannya tapi tangannya aktif terus megangin bokongnya sendiri , jangan - jangan doi paling hobby dibol dari belakang .

Ngimpi apa gue liat tetangga gue pada telanjang bulet , elo elo yang belum ada pengalaman maen sama bini orang , gue anjurin deh elo cari mereka bertiga , enggak resek , berpengalaman dan tahu penuh apa enaknya ML .
Kalau mau orgy cari yang sehati , kompak istilahnya dan enggak egoist , artinya mereka berupaya menikmati SEX sepenuhnya tanpa ada rasa sungkan , rilex dan terbuka .
Hal ini juga gue buktikan sebelumnya dengan 2 sahabat mahasiswi yang kompak , tapi ya kita harus konsider atas kebutuhan jajannya lah , jangan merki . Kurang yakin kemampuan ya modalin VIAGRA yang paling mahal Rp. 150.000 / pil 100 mg .

" Ya kamu pada mandi dulu deh dishower " kata gue pelan , sambil menjilat sisa juicenya Candra yang ada disekitar bibir gue .

Candra enggak bereaksi , dia nuntun gue ketempat duduk , pas gue duduk dia jongkok didepan gue dan brebet dia tarik CD gue ,
dia pandangin seluruh kostruksi kontol gue , enggak pakai komentar yang basi seperti cerita bokep yang lain ,
" Aduh gede amat kontolnya , atau sok ngebandingin sama kontol Co yang lain , itusih kuno , tipu....!!! Jangan mau elo dibohongin sama yang bikin cerita , itukan cuma kebanggaan semu , yang penting gocekannya bukan gedenya , emangnya mau modal berat aja...tipuuuuu......"

" Jangan kelamaan Can , langsung maenkan , tunjukan kecanggihannya , apa perlu gue nih yang terjun " Rina sewot ngeliatin Candra yang masih memandang kontol gue sambil ngurut dari arah palkon kepangkalnya , tanpa komentar sambil tangan kirinya kasih kode enggak perlu , langsung kontol gue mulai dijilatin perlahan .
Seluruh kepala kontol gue ( helmnya ) dijilat berputar , doi tau bagian yang paling enak yaitu dibagian bawah Palkon sekitar sambungannya . Cairan bening gue dijilatin sambil matanya memandang arah mata gue , seolah butuh pengakuan atau komentar
Gue cuma bisa angkat 2 jempol , bravo go ahead Can .
Selanjutnya cepet banget lidahnya bergeser enggak berhenti menari disekitar batang kontol , begitu dikemot kedalam mulutnya yang memang sexy dia keluarin cadangan ludahnya , jadi rasanya kontol gue berenang didalam air ludah , enggak ada rasa gigi Cing , belajar dari banci Taman Lawang kali .
Gue udah seperti kura - kura yang dibalik , kaki gue kelayapan , gue tumpangin diatas pundaknya sambil kalau gue udah enggak tahan kepala si Candra gue bekep abis sama paha gue .

" Rina - Ita sini dong , gue mau nih megangin tetek dan nonok kamu " Enggak sampai 2 kali order mereka langsung nyamperin gue dan Candra . Si Rina nyodorin susu pepayanya minta gue isap dan siimut Ita ngangkat kaki sebelah keatas bangku , berdiri disamping gue dan minta dirojok nonoknya dengan telunjuk gue yang masih bebas karena belum ada order .
Gue pegang nonoknya yang merah sudah rada becek , maklum turunan Cina , begitu telunjuk gue masuk dia yang gerakin pinggulnya maju mundur kaya lagi ngentot aja gayanya .
Doi merem melek ngerasain bulu - bulu yang ada ditangan gue , tangannya ngusap pentil susu gue secara beraturan .
Bibirnya ngejilatin bagian dalam kuping gue yang rada caplang , kadang ngemut juga bagian gelambir telinga ogud , terus berbisik
supaya enggak kedengaran sama yang lain " Mas Luki , pejunya jangan diabisin semua ya , kamu mau enggak ngerasain bokongnya Ita " ...Busyet bener khan doi doyan dibool , buktinya begitu gue pindahin jari kelobang pantatnya udah rada longgar ,
gila kali pak Raja , doyan bener sodomi bokinnya yang imut .
Gue cuma ngangguk dan nyodorin bibir gue buat ngerasain juga ciumannya si Ita .
Wangi banget deh si Ita , bau Kenzonya makin ngerangsang gue .

Biar adil nonoknya Rina yang jembutnya rapi gue rojok juga , masih agak kering tapi mantap itilnya tebal , karena ngerasa agak dicuekin kali , enggak sabar si Ita sekarang jongkok dibelakang Candra , tangan kanannya ngelus tetek dan pentilnya Candra dan tangan kirinya berusaha ngobok - ngobok nonoknya Candra yang makin basah , soalnya gue liat kadang - kadang si Ita jilatin jarinya yang basah berlendir , apalagi kalau bukan juicenya Candra yang asyik banget rasanya .

Candra makin asyik aja nyepong gue , badannya menggeliat - geliat karena keasyikan dikobel Ita , gue tau terkadang Ita masukin telunjuknya kedalam pantat Candra , entar gue timpa juga deh boolnya Candra , gue berandai andai .

Gue cuma bisa teriak kecil " Ngentot.....gila ngentot enak bener sama kamu pada , Candra uhhhh...uhhhh....abis ini gue entotin elo ya , gue nggak mau ngentotin kamu dari belakang , gue mau ngentot sambil terus ngeliatin nonok kamu yang jembutnya gila.."
" Rina , gue mau ngentotin kamu sambil duduk biar gue bisa terus meres tetek kamu yang sexy banget " gue ngomong terus ngaco .
" Ta , gue ngentotin kamu dari belakang ya Ta , gue pengen ngentot dilobang pantat Ta , abis elo sexy banget sih goyangnya "
Elo gue saranin deh kalau lagi ngentot musti sering - sering ngomong yang vulgar , Ce jenis apapun makin nafsu dengernya ,
dan elo gue jamin makin nafsu kalau Ce yang bukan Cabo atau Pecun teriak ngomong vulgar juga . Wuih ai jamin dah.....

" Mas Luki , nanti pejunya buat Rina juga ya , jangan disemprot semua kemulutnya Candra " Rina sambil narik perlahan rambut gue juga turut berharap dengan memandang nafsu kerah kontol gue yang udah abis dikemot Candra ." Terus gue kebagian apa dong , gue mau juga dong ngerasain pejunya Mas Luki " Ita protes ke Rina pura - pura belum minta jatah dari gue .
Enggak tahan gue tarik kontol gue yang enggak begitu gede dari mulutnya Candra , gue dudukin si Rina kebangku ,
gue kangkangin pahanya yang juga seperti si Dian Nitami , penasaran gue sih mau liat dalemnya .
Gue jilat itilnya yang udah rada ngegelambir , gile cing juicenya asyik banget rasanya , banyak banget dan meleleh ke bagian lobang pantatnya . Tanggung gue jilat sekalian lobang pantatnya yang berwarna coklat , yang didalamnya masih juga bejembut .
Candra bantuin ngisepin teteknya Rina , tangannya ikut bantu ngedorong kepala gue supaya makin masuk ngejilatin nonoknya Rina
yang rapi tercukur jembutnya . " Ah gila Candraaaaa.......Mas Luki enak banget ya jilatannya , aduh mama.....mama....aku ndak
tahan nih ,.....Candra elo apain sih pentil aku....enakkkkkk Can...." Rina meronta - ronta yang membuat toketnya bergelantungan kekiri dan kekanan , pemandangan semakin horny cing .

Eh kemana si imut Ita , doi kalem aja , pantat gue diangkat pelan sampai ketinggiannya sejajar kepala gue yang berada didaerah selangkangan Rina , doi duduk menyelinap melalui selangkangan gue sekarang jadi duduk menghadap kontol gue yang terayun bebas . Cepat dan tangkas dia hisap kontol gue dengan mulutnya yang mungil , maju mundur berupaya menelan habis seluruh batang kontol gue . Sesekali dia pindah mengulum biji peler gue yang jembutnya lumayanlah , wuih cing asyik banget.......
Saking imutnya seprti kancil dia menyelinap melalu selangkangan bergerak menuju arah belakang , dia remas - remas pantat gue..
Gue kaget , tiba tiba ada rasa aneh geli - geli asyik dilobang pantat gue yang sedikit berjembut ,....ih apaan sih ...
Anjir .....rupanya lidahnya Ita yang menari disekitar lubang pantat yang kadang - kadang dia coba julurin masuk .
Nah sekarang gue enggak heran kenapa Homo doyan dimonon , rupanya emang enak kalau bool kita dimasukan sesuatu .


"Ta.....terus Ta....entar gantian deh gue jilatin anus kamu yang merah jambu.....terus Ta...asyik..., enak gila....." gue sejenak melupakan tugas ngejilatin nonoknya Rina .
" Mas Luki....Rina hampir nih....lagi dong jilatin....tanggung dikit lagi Mas...aduh tega ya...." Rina mengharap gue bertindak .
Langsung gue sosor lagi nonoknya , gue jilat abis lelehan juicenya yang mengarah kelobang pantatnya , gue jilat terus ...menuju
bolnya dan Rina makin menggeliat - geliat seperti ayam yang dipotong tanggung .

" Mas.....entotin aku dong , sebentar aja deh pasti keluar " Rina mengangkat kepala gue sambil berharap benar .
Gua bertindak gentle dong , jangan buat dia kecewa , secara berlutut gue pegang batang kontol gue yang masih basah karena
campuran ludahnya Candra dan Ita . Ita sigap pindah tempat disisi kiri Rina , sementara si Candra tetap pada posisinya dikanan
Rina sambil terus meremas toket pepayanya Rina .

Kesemuanya kelihatan menanti apa yang akan terjadi , " Candra - Ita , gue ngentotin Rina duluan bukan berarti elo pada gue nomor duakan , gue janji deh elo semua satu persatu akan gue entotin juga "
" Okay Mas , buat kita enggak ada masalah yang penting kita bener - bener ML " Candra memberi semangat .
Gue salut abis sama si Candra , solidaritasnya tinggi , tidak egois , pantas dia jadi kepala gang .
" Ya Mas Luki , khan Mas Luki nantinya bisa ganti namanya jadi Mas Cipto ( Cicip roto ) " si Ita ikut nimpalin .

Perlahan gue arahin kontol gue yang bentuknya agak mengarah kekiri kepalanya , enggak sulit masukin nonoknya Rina ,
tapi buat menghargai doi gue pura - pura merasa susah dong .
Blebessss......gile cing , emang bener ngentot tu enak banget .
Gue tolak pinggang pakai tangan kiri , kontol gue yang 15 cm maju - mundur terus , meliuk kiri kanan , berputar mencari itil dan G spotnya Rina .........." Mas Luki ,......ya..ya...yang disitu yang marem Mas " Rina bergetar , semua bagian bodynya yang enak - enak ada yang bertanggung jawab , nonok - toket kiri dan kanan , lobang pantat ada koordinator lapangannya ( KorLap )

" Enak ya kontolnya Mas Cipto ..eh Mas Luki ....,...terus Rin ..goyang terus Rin...nikmatin abis...jangan ditahan - tahan " Candra
tetap memilin pentilnya Rina sambil matanya nafsu melihat kontol gue yang bekerja dimemeknya Rina .
" Ayo terus Mas Luki ...bikin si Rina puas ,...sini dong tangannya yang satu " Candra bernasehat sambil minta jatah dirojer nonoknya . Kalau mau jujur seharusnya gue musti muasin Candra duluan , disamping memang target utamanya khan dia tadinya ,
enggak pakai dua kali lagi gue masukin jari tengah gue kedalam nonoknya yang sudah semakin basah .


" Aghhhhhh....agh....... aku dapet Can...aku dapet Ta......, Mas....ini ya Mas rasanya enaknya ngentot " Rina makin mengelinjang .
" Mas....nanti lagi ya....Massss.......asu....asu.....peline kui lho Mas..., maremmmmmm" hu...keliatan aslinya deh si Rina , keluar Jawanya . Gue tancep lebih dalam kontol gue , tanpa gerakan lagi gue pendam habis....dan emang bener enaknya Ce Solo ,
tau enggak lo...tiba-tiba gue merasa ada sesuatu yang berputar - putar cepat dibagian kepala dan batang ..

" Aduh..aduh apaan nih Rin , aduh...gila asyik - asyik...." gue senyum sambil terus tancepin kontol gue .
" Nah , baru tau dia ...makanya jangan main - main sama Ce Solo " Rina nyubit perut gue sambil senyum lebar ngeledek .

Perlahan gue tarik keluar kontol gue yang masih ngaceng abis , keliatan makin berurat kayaknya .

" Waduh Candra , enggak salah deh kita janjian sama Mas Luki " kata Rina sambil balik meres toketnya Candra dan Ita .
" Bener ya Rin , enak banget ya ngentotnya....ih kamu keringetan banget deh " Ita melap keringat disekitar leher sampai perutnya Rina .

" Hayo ,sekarang siapa nih yang bertanggung jawab mengeluarkan peju gue " dengan pura - pura marah gue liat kearah Candra .
Soalnya seperti gue bilang , Candra adalah target utama , jadi dia musti tau dong .

Elo ngebayangi enggak sih Candra seperti siapa , tidak lain adalah paduan antara Iis Dahlia dan Cut Keke , nafsuin khan .
Nah gimana gue ngentotin Candra dan siimut Ita , ya ntar deh gue terusin ceritanya.

Sex Education Story

Posted: 30 Nov 2007 03:03 PM CST



If you would like to add your personal stories of Sex Education, then please email us with what you would like to say.

AnnetteDanielLouiseWill
JacobHeatherTeach respectMaryAnne
BeaCathyPeterTatiana
BarbaraRebekahMichaelVancouver

Annette

Posted: 30 Nov 2007 02:52 PM CST

Hi, My name's Annette I'm 21 and I live in Australia.

I had already pieced together most of the "sex talk" before I was eight. When I was six, me and my friend used to put socks down out undies and hump each other before we even knew what we were doing. my first educational experience was at a drive-in one evening with the family when I decided to go wonder off and see what was screening on the opposite side to our screen. This was a revolutionary moment for me. The movie was Lightning Jack - A comedy about two outlaws who just wanted to be wanted. There was some scene involving a mute black man, a sexually confident saloon girl and a saddle. I haven't watched the film since so my memory is most likely a bit blurry. But that pretty much gave me the information I needed to start piecing things together. I came to the conclusion that babies were made from a man's sweat when he has an intense need to hold a woman.

I've been pretty sexually aware ever since. So before knowing anything about erect penises and seamen and intercourse, I learned the key element behind it all. The want for another body/lust. My first sex-ed class was when I was 9, and it was purely puberty based, and well done. I think it's important for children to be taught sex-ed at school because not all parents are up for the job, and not all children are willing to be that open about their sexuality to their parents. We has sex-ed classes every year from what I can remember. We had a box where we could leave anonymous questions for them to be answered the the next class. I remember asking the teacher if we could get pregnant while on our period. That seemed to baffle her a bit coming from a 10 year old.

I didn't actually go through any sexual development until I was 12, and by then I'd been told all about different sanitary items, with and without wings! light vs. heavy etc etc. Out classes by the age of 12 were pretty much confirming knowledge about sexual development, and informing us about sexual intercourse in more detail. Previous years were pretty much "this goes in here, seamen comes out, travels along here meets the egg and BABY". In High school the pubescent education was over. It was from then on more like a sexually orientated biology lesson. Learning what develops at each stage of pregnancy. Shown different contraception methods, shown how to put condoms on, learned all the statistics, all about when people ovulate, hormone levels for both sexes. All in all a pretty good education.

Just recently I watched a television presentation called "Texas teenage virgins" and it scared the crap out of me! Here I am coming from a really well informed perspective and hearing how some of the kids weren't taught anything about sexual intercourse because abstinence is the best option. It's impossible to argue with that, but every body has hormones therefore everybody is susceptible to having sex so everyone should be educated on what they can arm them with to prevent things like STDs and pregnancy when abstinence fails. I'm now really keen to become a sex-Ed teacher. I believe there's a few gaps in our sexual education I could fix as well.

From my experience we're more likely to have sex when it's late at night or you're alone with someone of your sexual preference or you've been drinking or You've been watching a raunchy movie together or it's dark. Things easily avoided if you don't want to have sex. My life would have a been a bit less eventful if I didn't do a lot of those things.

But thanks to my education, I've never done anything as a teen I've regretted.

Daniel

Posted: 30 Nov 2007 02:51 PM CST

I am 22 years old and I've had 2 sex-ed classes.

The first was in Bettendorf, Iowa and I was in 6th grade. I had moved there during my 5th grade year. The class I had was a comprehensive sex-ed class. I took it during the 2nd semester of that year. There are many things to say about this especially since I have a near-photographic memory.

Looking back, this class was a disservice for me. Long story short, it was too intense and I was not ready for such detailed information. At the end of the course I believe that I was addicted to sex and sexual thought.

The biggest reason why this class had such a negative impact on me could be pinned on one thing: posters. Specifically, posters of male and female genitalia. They were displayed on the wall of the classroom and I remember very clearly that I stared at the female one every day (I'm a guy if you haven't figured it out yet). This was the equivalent of looking at pornography everyday. Since guys are very easily visually stimulated in the 6th grade it's no wonder I turned out the way I did.

In my seventh grade year I moved to Sergeant Bluff, Iowa. I had a sex-ed course in the last part of my 8th grade year. This course was an abstinence-only class. Taking sex-ed the second time around was very different. I actually learned some things! It was a quarter long and they concentrated on the different stages of life rather than an intense focus on puberty like the first class did.

In both situations my parents did not talk to me beforehand at all. When they signed the permission slip for my 6th grade year all they told me was, "You're going to be learning about how babies are made" and that was it.

Back then I was not comfortable with myself as a sexual being (it's ironic that most parents fear that of their child). In my house sex was a taboo. You just didn't talk about it. As a result I had no one to talk to when it came to my sexual or otherwise personal feelings.

To this day I despise them for not talking to me, even though I already knew about it. In high school my dad wanted me to see a therapist because of all the moving we've done (I've moved 7 times at this point) and also because of the fact that we weren't very close as a family. Many subjects were talked about but there was one that I kept coming back to and it was sexualality.

To come to the current day, I have thought a lot about this subject and have come to a conclusion. First, be open with your children about "personal" body parts when they're in grade school. Don't make sex or other related topics a taboo. Second, tell them about puberty before it happens (in other words before 5th or 6th grade). You don't have to talk about sex then but at least tell them what's going to happen (especially for girls). Third, the sex talk should take place between 5th grade and 8th grade. The easiest time would be when you tell them about puberty or sometime soon after that. From there keep the discussion open and encourage then to talk about it with yourself.

As for sex-ed classes, don't take a comprehensive course. Just don't. Abstinence is okay but comprehensive especially at 6th grade is way too much for children.

Best wished,

Daniel

Louise

Posted: 30 Nov 2007 02:51 PM CST

My name is Louise and i currently taking work placement as a social work student at a primary school. after reading all these entires i have strongly agreed with some people.

At this moment in time, this school is trying to educate their students about 'themselves'... but becuase of the policies of the Catholic Education Office, certain topics are not allowed to be spoken about in class. This is ridiculous... the grade 5/6's are embarking on the transition into high school and they are going into a new world without knowing the basics of 'sex'.

i feel sorry for these children as they will be totally shocked once they finally learn about 'sex'. I feel that the school and the Catholic system is trying to hide the children away from the truths of our society, that they are trying to protect these children from the horrors of the real world.

Sex education in schools is a must! i can only imagine what these kids are going to grow up learning and what they learn... how on earth it will affect them...

Will

Posted: 30 Nov 2007 02:50 PM CST

My name is Will. I will soon be 12 years old.

Well its funny that I should find this site. I have noticed that many places wait too long to tell people about sex. In my school they begin talking about puberty in grade 4. They repeat what was told in grade 4 in grade 5 but they also brush the basics about sex. Though I knew everything I learned in grade 5 before that due to freinds.

In grade 6 it blew me away how much they told. Though the video they showed us was high school leveled in terms of vocabulary so it was ahrd to understand. I was told everything i already knew but much more. The only thing it did not cover was exactly HOW to have sex. I do belive this is right though i have know it since i was in grade 5.

As for my parents they avoid the subject of sex completely. Even the subject of puberty. I don't feel comfortable asking them about anything sex related.

Well thats it,

Will

Jacob

Posted: 30 Nov 2007 02:50 PM CST

To whom it may concern... i just have a "few" thoughts about your website i'd like to rant and rave if you don't mind... i'll try to control my language but you can edit it all or nothing if it so pleases you. Aweomse site by the way it's very interesting (i find anyway) to read school teachers views and thoughts.

Just coming out of highschool and such i had one REALLY good teacher that taught me sex-ed even though she wasn't supposed to in the middle of english class soem kids were joking around about somehting i can't remeber and she said "ok you know what? let's all have a talk because this morning i had a grade 8 girl ask me the best way to give head to a boy". Now i know what your thinking that shocked the f**king s**t outa me and then i realized that really... that's only a few years 4 years between grade 8 and 12. Some people date people 10 12 years there senior or younger and my parents are 5 years apart so maybe i'm just used to it and 4 years is a big differance but whatever. So anyway my entire class of about 30-35 kids (actuall class size more like 50 with a teacher's aid but see my previous rant on what not to do when there's someone dressing down or punching kids in the hall) shut up. that's an amzing feat mind you. then she told us to ask her any questions concerning sex at all ever and she would answer.

Right away a few of the guy's asked some stupid questions like i heard you can make a condom out of tin foil? they high fived each other and so on but one of the girls asked does plastic wrap work? everyone laughed at that but hey in a pinch does it work or not? my teacher answered no and blah blah but then she let us ask her questions and joke about whatever and didn't bother us about termonology and what we should be calling a man's penis and what we shouldn't be calling it. Whenever one of us said something that wasn't ture or just a bit off she would step in and say nope it dosn't work like that and this is what you do... Compareing that to my actuall sex-ed classes in junior high when i attended a certain catholic school. My teacher did almost the same thing with the questions, she got us all to write them down (with no names of course) and stick them in a box then she would read them out loud, A great and awesome way i think to start. When it came time to open the box and read some though it went down hill from there... there were some questions that made her blush and some that made her so pissed off that she left in a mad rush out of the class room. Now of course everyone wants to see why the teacher got so mad so we all go up and look and the question was "why are there flavoured condoms". a simple question witha simple answer such as because some times people like to orally plaesure there partner or something would have sufficed. The girl that wrote the question down got in big shit from her parents and the school (she was the only that used a pink pen go figure eh?) so i think in reality adults need to grow up.

if you look at statistics about pornoghraphy almost 50% of the looking at pron as it is sometimes called is done by CHILDREN yes people kids are not the holy virginal creatures you take us for sometimes in fact i walked in on a cetain member of my family doing a solo act to the t.v. and he was many years short of being 18. In fact i will now link you a website with statistics, i don't know about there credibility but i do know as an 18 year old that kids OFTEN get into adult things becuase of there parents or some clumsy adult leaving things laying around that shouldn't be laying around. I once was forced by my dad to clean up (a dog or something ripped it up.. more likely an angry parent/spouse) a playboy magazine the thickness of a telephone book in a nearby playground! Needless to say i learned alot that day at the ripe age of 9 about the joy of reading. While cleaning this up my friends (roughly 12 kids my age) came to help me and a few of them as young as 6 i believe. I clearly remeber a girl my age picking up the most entact pages and stuffing them into her pockets. When asked by all the other kids what she was doing she shrugged and left (after grabbing several more). So maybe this is my own messed up Childhood but i think that this is somewhat the norm i have been over to kids houses where the kids of the house promptly showed me there dad's collection of "reading material". Some of you may blame the internet for such lewd acts for showing so many children porn so easily. If that child is so innocent how do you think he/she found those internet sites? Most sites that kids go to are gaming sites and such and as a frequenter on amany of those websites i can guarantee you that no adult popups shall force demonic wrath upon your child.

Rewinding to sex-ed again... is it any wonder kids have so many unanswered questions about what is right and what is wrong? And asking your parents about sex... hmm yea that's an awesome way to get yourself grounded from playing with a good friend who's parents are shady so says your parents who've never met them. Or an equally awesome way to get grounded off the televsion or computer for vast amounts of time. Trust me i know after i found that magazine i started asking all kinds of questions just casualy wanting to know about life right? i got yelled at and told to go to my room for something i didn't even know about. and again i know friends that have parents like mine. and no my parents are'nt evil or hardcore old fashioned... my mother is in fact gay and proud to be and my father is just an average dood living his life. What i'm trying to say is threw this big massive rant is that people need to get into the nitty gritty detail about sex with SOME kids and the other kids i believe should be gently eased into it and for those of you that say they shouldn't be taught at all?. i have learned through my friends more experianced with me as about what to do and how somehting works and such and we all know how accurate friends are on some things as much as they try to be. So i say an adult should tell them what is and what isn't about sex. Stop avoiding it in schools because it's all around us in the music kids like to listen too (good example Ludacris "what's your fantasy", Eminem Feat. nate dawg "shake that" and Techno "Ulitimate sex track") and books we read... i read a crapload of novels and such everything from Anne Rice to R.A. Salvatore (and his books are way better that tolkeins ever will be) and these boks have smatterings of sexual content also. So anyway thank you for reading my long winded rant about my life's encounters of the sexy kind hahaha. Thanks =D



Heather

Posted: 30 Nov 2007 02:49 PM CST

Hello, my name is Heather, I have had twenty non-stop years of public school. Growing up in small-town Idaho, I was not exposed to very many "worldly" events. However, the public school system did include sex-ed classes starting in fifth grade and continuing on until freshman/sophomore year of high school. Looking back I guess the information that we learned was appropriate for our age level, moving from basic physical changes to safe-sex and pregnancy prevention. Really, most of my information came from my mom in regards to physical changes, more on sexuality was disclosed as I matured.

My mother impressed a strong absentenance view while growing up, my father still thinks I'm a 24-year-old virgin. My first sexual experience was when I was sixteen, I used protection and was dating in a monogamous relationship. From that point, I realized that birth-control and female health needed to be address. I was consent getting UTI's and not knowing what/where they were from. The health professionals were very discrete about the cause and didn't come out and ask me about my sexual status because my mother was present.

As an adult and a social worker I see sex education as paramount in the public school system. Of course abstaining from sexual contact is the only sure way to be 100% clear of STI's, pregnancy, and emotional distress. But looking at the facts, this is rarely the case for young people. Viewing their experiences as "immoral and damaging" sends a very profound message: "you should not experience your sexuality until society finds you ready". Really, individuals will ultimately choose when they are ready if given the facts and resources to access measures that increase safety. I believe that birth control should be free of charge and openly available to anyone who wants it. This includes young men to access it for their partners if she is unable to. I also think condoms and access to healthcare professionals needs to be expected and nurtured. Changing the climate around these issues will also change the frequency of abortions and unwanted pregnancies. STI's would also decline and I believe a sense of control and dignity would be resorted to young people especially young women.

We have the right!

Teach respect

Posted: 30 Nov 2007 02:49 PM CST

My name is George I am a student at a private christian school I myself don't belive in sexual education at school for girls especialy. they are way too emotional some worthless punk boy who has no respect for women comes along and sweet talks a girl into having sex. then the poor girl is terrified that the boy will tell his pals and she will be classified as a (lady of the evening) if you get my point.

I think we should teach yong teen boys how to have outstanding respect for women how to talk to them open the door hold there chiars while they sit down by doing this our next gneration of men would be very worthy. I respect chastity in women hood and would nnnnnnnnever have sex with one until I put a wedding ring on her finger and swore to love her and cherish her forever

George

MaryAnne

Posted: 30 Nov 2007 02:48 PM CST

Funny that I should find this site. After reading some of what others have written I thought I would put my two cents in as today during a class was a prime example of how ignorance can really be a parent's downfall.

I work in a class which teaches high school students to think at a higher level, among other things. I've been in this program for two years now and really love my kids. My daughter is actually one of my students as well, and even her friends have asked me all sorts of questions. I answer honestly but always with an air of caution to be sure I don't offend anyone - including their parents. Today was one of those days.

The 10th grade class is much smaller than the freshman class (for AVID, where I tutor) and they are encouraged, nay required, to bring a question to class everyday pertaining to their other classes. This year there is a new tutor who I have tried to help learn the program. I took over working with this class today as she and the teacher were busy doing other things. One student finally asked this question from reseach she had done for Health class: "Aside from getting STD's and pregnant, why do adults think having sex is bad?" Long story, short, she was actually asking why do adults think kids shouldn't have sex. I could see in the other tutor's eyes she was not truly comfortable with the nature of the question but I wasn't going to let it deter me in answering. The student had said that in her research sex was supposed to be healthy, something about even making your teeth stronger and helping with depression (yeah, I laughed). I explained that while sex can be healthy and you can even burn calories, it certainly isn't a replacement for regular excercise and that it can promote endorphins which can curb depressed attitude but that's not its goal either. On the health side I also asked about prostitutes. They aren't always the healthiest group and they certainly aren't the happier group because of their profession so her original research probably wasn't all that accurate. Another student added it was about your morals, and I quickly agreed but then asked the students to take that away for the moment, along with the religious aspect and focus on the other issue - the one no one had mentioned - the emotional health and well-being of a person. All the other stuff aside, this was the most important because that's really what sex is about when it comes down to it. And at their age, they really aren't equipt to handle all that comes along with the actions.

Though this was about a 10 minute discussion, I was about to wind down the other tutor piped up in a rather cold tone stating that this had really gone on long enough and that she knew parents of two of the students and personally wouldn't want her daughter listening to any of this. I said nothing for the moment until she looked at me and said she could see on the students' faces that they were uncomfortable (they were mostly facing me and she was in the back of the class) and because of that the discussion needed to end. She felt that no one needed to talk to them except their parents because her child talks to her. And though this may be from Health class, this wasn't the place to talk about it. What I found even more interesting was the student who asked the question originally asked the other tutor why what I was saying was wrong? The tutor's answer, you should be talking to your parent.

Why would anyone in their right mind think that's the cure-all? Maybe if parents were more comfortable and children felt like they could have these types of conversations then there wouldn't be a need for health class. Because I'm in a public school I can't discuss religion but heaven knows there are a lot of religious people out there, unmarried, having sex and getting pregnant - and guess what? A lot are teenagers. And why is it okay to discuss this in Health class but no where else? It just didn't make any sense!!! I wasn't being obsene, graphic or even promoting sex in any way. The other tutor felt I should have kept the answer short and go on to the next. But I don't care how you look at it, that one student who asked the question would have known it as a brush-off had I done that.

You have to be upfront and honest without losing site of the responsibility of what you're saying. I think that's the key. If someone, like this other tutor, thinks I have crossed a line in someway, then it shows the amount of ignorance one can have. Its not just up to the parents - it takes a village to raise a child.

MaryAnne

Bea

Posted: 30 Nov 2007 02:47 PM CST

Hello I am 13 years old and I go to a all girls private school you would expect the sex-ed to be pretty good but its not!

We only learn about puberty in yr 7 and for some girls that's too late(mi best friend started at 10 and didn't know wot was happening to her!)

We don't learn about Oral or any other sexual related things that we NEED to know.

I don't want to have sex personally but wouldn't even know what it was properly if friends hadn't told me all the biology diagrams show is that something goes into something else and some people don't know what a boys parts look like.

I think that at 13/14 Year 9(UK)are mature enough to learn about everything to do with sex and a member of the other sex's body as if you and your b/f choose to have a sexual relationship of any kind then they should have the FULL facts before you get the wrong information from your friends and do dangerous things that could damage or hurt you.

Love Bea (hope other people my age agree with me)

Cathy

Posted: 30 Nov 2007 02:47 PM CST

I'm a California public school teacher. As part of my job I have the responsibility to teach a "puberty class" for 5th graders, and a much more comprehensive "6th Grade Sex Education Course." I'm a "known quantity" at my school. I'm the only teacher who has the entire intermediate student population (just over 300 kids) in my classroom, day after day, every year. I teach Science to 4th, 5th, and 6th graders, so students are in my class for three years in a row. By that third year, students have learned that I will answer their questions (about anything...) with absolute honesty. Likewise they tend to volunteer information to me that they would never tell their parents. I always start by reminding them that I am a designated reporter, and if what they are about to tell me indicates that they are in a situation that could harm them, I will be calling CPS (Child Protective Services.) They still talk to me. I have called, and will continue to call CPS on occasions that warrant reporting. I'm still an adult students can talk to about "things they have tried." When I tell them "Don't do that again... it's really dangerous and here's why..." they actually listen, because they know I care too much not to tell them the hard truths.

I've been reading the letters sent in, and I am extremely proud of the teens who've written. They understand (probably better than most adults) that going up against biological drives "uninformed" is just not smart. True, prior knowledge isn't a cure-all when it comes to sex, but it's certainly better than learning by "trial and error." Kids need the truth, and yes, they can handle the truth! While maturity levels vary, in general, 6th grade is not too young to learn about human sexuality.

Cathy

Peter

Posted: 30 Nov 2007 02:46 PM CST

Hi, my name's Peter and I'm 56 years old.

I've read a lot of stories sent to you on the subject of sex-ed. As a teenager growing up in the "swinging sixties", I suppose the subject was discussed in our schools but I have to be honest, whatever education we did get seemed to go out the window as soon as you left the classroom. Everybody was too busy deciding what to wear down the local youth club that night etc. As for where our education came from I suppose it was from messing about behind bike-sheds or if you were lucky and lived near the beach the sand dunes could no doubt tell a few stories.

Getting back on a more serious note, I do feel its very important for the youth of today to get a proper sex-ed other than doing as we did in the sixties, not only from the diseases one can get but for the mental benefits a good education can provide. I hope I've been able to help,thank you for taking time to read the memories of an "aging hippy", still smiling after all these years.

Tatiana

Posted: 30 Nov 2007 02:46 PM CST

Hi...

My name is Tatiana and im 16 years old. I haven't had much of Sex Education but the little I've had didnt help much. The first time i even heard of sex ed was my 7th grade year. Everything my teacher told the class, we all pushed aside because we were SURE that she was doing all she told us not to. How are we going to listen to a bad influence?

I recieved sex ed classes again my freshman year of high school but it wasnt exactly a class. They were basicly just telling us how its supose 2 be done. I looked around my class and instead of the other students being concerned, they were ready to go home so they can try what they just learned!

The next few days they informed us on the dangers of sex and what STDS and diseases you can recieve and how you would get them, but half of my class already tried what they've heard. Yale students were the ones teaching us (were supose 2 teach us) what's right from wrong. They didn't do anything but confuse us or push us.

Barbara

Posted: 30 Nov 2007 02:45 PM CST

My name is Barbara. I am 30 years old. I have a 9 year old daughter. We were taught sex ed in school. Plus mom did the scare talk. (Mom had me at 14, First sexual encounter,) I worry more of what my child has learned from other kids. some of it is funny. A few months ago my daughter informed me that sex was when you took your clothes off and pinned them to the wall. I have explained to her (with drawings as well) how her body is about to change. What will happen on the outside and inside and why. I wanted to assure her that we all change. I didn't have a book so (i took a human sexuality class in college) I drew the pictures of the female body, outside and inside. Named the different parts (properly) and explained how they change and why. (for bearing children, but didn't explain how that happens.)

I have started to talk to her about boys as she notices them. But the information must be kept at her maturity level. My great concern is not knowing what they will teach in 5th grade if anything. (I went to the same school as my child and the class wasn't until 6th grade and that was on puberty it was too late for some) I want and am willing to do the education.

I'd perfer abstinance, but reality is I won't be there to say no for her. I need to at least help her protect herself. But right now I know for a fact that she is not ready for more information then I have given her. I continue to keep the lines of communication open. At the same time I tell her what we discuss is between us.

She is just discovering boys are more then fishing buddy's and fellow race car fans. So she is use to discussing most things with her younger male cousins or boyfriends. I knew all the schools had to teach and what my mother had to teach. What I am trying to give my child is a person she can speak to, a person she can go to with questions. I have recruited a couple of my close friends to be someone to listen if need be (and not tell me all details) and help me make sure she is protected.

Right now I am the mommy, a person that is still admired and looked up to. But when she hits the teen years? I need to build the relationship now, keep the lines open now. I need to teach her about her body, her mind and making and taking responsiblity for her own choices. I could never feel confident leaving something this important up to someone else. It is also a closeness, to tell my daughter how our bodies change as we become women and and answer her questions. And then ask her if there is anything else she would like to know. And then see the look on her dad's face when he see's the drawings and realizes his little girl is growing up.

Rebekah

Posted: 30 Nov 2007 02:45 PM CST

Hello,

My name is Rebekah and I am a 20 year old student a Johnson Bible College in Knoxville, TN. Yes, I am a Christian and I believe that abstinence is the best way to avoid the complications of sex. I am also still a virgin and very proud of that fact. I had a sex ed class in high school and I learned so much about sex from that class that I did not know. It was a great class. I come from a small town in Indiana where we have quite a few pregnancies at the school. I have friends that have had sex and are still sexually active. I do not think less of them for it. They are wonderful people. Here, at a Bible college, I am surprised to find that many students do not agree with a sex ed class because of fear that the schools will teach immoral standards. I don't believe that. I think if you have an opportunity to give people accurate information about how to protect themselves, then you should. I was just doing research on this project and found this website and the responses of people and I felt like giving my opinion on the subject. I think sex ed classes are a great idea and should be in curriculums. If parents don't like it, then they have the option of pulling out their child. Today's society is sexually active. Sex is everywhere. We cannot just ignore that fact anymore. We have to educate teenagers about what to do to avoid some problems later in life. Let's face it, most teens are not going to be abstinent. We need to at least give them wisdom in some way. That is the whole point of education, isn't it?

Thank you and I would appreciate comments!



Michael

Posted: 30 Nov 2007 02:40 PM CST

Hello,

I am a guy, 26 years old, from California, and I am in college part time and provide services for computer programming part time. My experience with sex ed classes is the following. 1. I only had one such class in junior high school. It was a little early for me, I was like 15 years old, and it was not really good useful knowledge. But, even so, I guess they did a pretty good job with the class. It was very detailed and had lots of questions, but not much one-on-one discussion, or small group discussion. It was kind of all over you know, lots of information.

It needs to be way more serious. They need to like yell it at you like in the military, that this could save yor life.... I mean this is IMPORTANT, You could get AIDS and DIE! for goodness sake. I think it should be required to take such a class every year. It needs to be more realistic, and not have that much information but more about what we do need to know. Mostly condoms. that is the most important thing. absolutely. there are sexually transmitted diseases that people can possibly get, and these days we have technology, called "condoms" which when used properly can basically protect you almost 100 percent. Then there is pregnancy. you dont want to get pregnant if you are not ready right?? It will change your life. That is for sure, so you want to be ready and prepared when you do do that .....to have kids. So, you use a condom every time and you will be covered and you will be safe.... I am now 26 years old, and I must say I hope that the girl that I get interested in will be most educated and intelligent to know the right stuff.

There are a lot of benefits to having sex. It is generally a very healthy thing to do, actually, and part of your bodies' normal functions, like exercise. As a matter of fact it is a form of exercise. There are several ways to have sex. Self-sex, which is called masturbation, has a bad connotaion, and some people look on this very negatively. But really that is just practice of the real thing, right? Its like a test screening, or a demo, or a test run. Its basic training. Its like preparation. They say practice makes perfect... There is your standard relationship which should be positive and safe at all times. When a girl and guy get into bed to get some action they should be prepared and have the basic safety equipment. Now what would that be.. let me see... hmmm.. oh yeah, the "condom"! Not a big deal. Also I wanted to say that there are very important ways that girls should protect themselves. This is called the female condom. And frankly I am shocked that there is not much infomation out there about the female condom. You can buy them at any so-called "Drug Store" like Save-On. But don't buy any drugs there by the way, you dont need to take drugs thats disgusting. These idiots call their store a drug store, man. You can also buy it on the internet, Ask your doctor and he/she will tell you more about that. This is a way that girls can protect themselves proactively. It is a condom but for ladies.

It goes on the inside of the female private parts. Its like a suction cup kind of thing. You get the idea. Now go buy one. they cost about 15 dollars on the internet or at the so-called "drug store" . Dont tell me its too expensive, thats bullshit. Get the money and buy it. Dont make me go out there and educate the whole world. The idea with education is that everyone can have a win-win situation. We all can have a great life and achieve our dreams and have a nice reliable and respectable life, there do not have to be any sad endings. Thank you, and best of luck to you, please make the safest decision for yourself at all times, michael

College Student, Los Angeles, CA

Vancouver

Posted: 30 Nov 2007 02:38 PM CST

I am a 16 year old high school student from Vancouver, British Columbia, Canada, and I'm concerned about some of the sex ed "horror stories" I'm hearing from different parts of the world.

My main issue is the belief some people have that educating young people about sex will make them want to have it. Yes, it could make sense, in a different context. If there was no other way for students to find out about sex, then perhaps this would be true, but as we all know there are simply scores of ways to recieve information about sex. Parents and sex ed at school should be first and foremost, and are for me, but most often they aren't. People are also forgetting that sex is a biological drive, meaning that our bodies will want to have sex whether we know what it means or not. You would not refuse to give workers at a lumber plant safety training because it tells workers about different ways they could hurt themselves that they might not have thought of before, would you? That is what the lack of sex education both in schools and at home is like.

Of course, parents and teachers may be nervous about talking to students about sex, about explaining it wrong, or whatever. I'm of the belief that a course on how to deal with students and sexual education should be offered or even mandatory during training for teachers and anyone working with adolescents, at the very least. Similar courses should be offered for parents, if they already aren't. This would give confidence to teachers and parents to talk to the kids about sex, instead of fumbling around with metaphors like "the birds and the bees" (which I have never actually heard the story of myself).

A final issue that no one seems to want to tackle is continuing education. Okay, so you've finally got up the nerve and had "the talk." Now what? Of course there'll be questions: that's a given. But what about questions in the future? What if they forget some things you've said? I also think that sex education should be periodically revisited between the ages of, say, 11 and 16 or 17. Yes, it will get repetitive, but what teenager is going to admit that they weren't paying attention the first time because they were embarressed and need to hear it again? I'm lucky that my school system has done something like this, even though it was probably an accident, because I can be assured that I know what I've been told. It will also help cover the fact that different people mature at different times, both physically and emotionally.

I'm hoping that in my childrens' time, some of the dangerous stimas surrounding talking about sex will be nearly gone in most countries, if not all of them.


Thursday, November 29, 2007

Wasti Anak Pembantuku

Posted: 30 Nov 2007 12:12 AM CST

Dalam kedudukan ini tangan Wasti bisa mencapai batanganku dan mengocoknya tepat di atas liang kemaluannya sementara kedua tanganku yang bebas bisa bermain dari kedua susu sampai ke liang kemaluannya. Lagi-lagi Wasti memperlihatkan air muka khawatir karena dikira aku sudah akan menyetubuhinya tapi kembali kutenangkan dan menyuruh dia terus mengocok dengan hanya menggesek-gesek ujung kepala batang kemaluan di celah menguak liang kemaluan berikut klitorisnya. Cukup terasa enak buatku meskipun memang penasaran untuk berlanjut lebih jauh, tapi begitupun aku bisa menahan emosiku sampai kemudian kocokannya berhasil membuatku berejakulasi. Menyembur-nyembur maniku tumpah di celah liang kemaluannya yang terkuak mengangkang, tapi sengaja kutahan tidak kutusukkan di lubang itu.

"Huffhh pinterr kamu Was... besok-besok bikinin lagi kayak gini ya?" kataku memberi pujian ketika permainan usai.

Wasti mengangguk malu-malu bangga dan sejak itu setiap ada kesempatan aku ingin beriseng...




Dony, begitu nama panggilanku. Tumbuh sebagai laki-laki aku boleh dibilang sempurna baik dalam hal ketampanan maupun kejantanan dengan tubuhku yang tinggi tegap dan atletis. Dalam kehidupan aku juga serba berkecukupan karena aku adalah juga anak angkat kesayangan seorang pejabat sebuah departemen pemerintahan yang kaya raya.

Saat ini aku kuliah di kota Bandung, disitu aku menyewa sebuah rumah kecil dengan perabot lengkap dan untuk pengawasannya aku dititipkan kepada Oom Rony, sepupu ayahku yang juga pemilik rumah untuk memperhatikan segala kebutuhanku. Oom Rony adalah seorang pejabat perbankan di kota kembang ini dan dia kuanggap sebagai wali orang tuaku. Sekalipun aku sadar ketampanan dan segala kelebihanku digila-gilai banyak perempuan, namun aku masih belum mencari pacar tetap. Untuk menyalurkan hobby isengku saat sekarang ini aku lebih senang dengan cewek-cewek yang berstatus freelance atau cewek bayaran yang kunilai tidak akan membawa tuntutan apa-apa di belakang hari. Begitulah, pada tahun keempat masa kuliahku secara kebetulan aku mendapat seorang teman yang cocok dengan seleraku. Seorang gadis berstatus pembantu rumah tangga keluargaku tapi penampilannya cantik berkesan gadis kota. Jadinya konyol, di luaran aku terkenal sebagai pemuda mahalan kelas atas tapi tanpa ada yang tahu justru partner tetap untuk ber-"iseng"-ku sendiri adalah seorang gadis kampung yang status sosialnya jauh di bawahku.

Sriwasti nama asli si cantik anak bekas pembantu rumah tangga orangtuaku, tapi lebih akrab dipanggil dengan Wasti. Sewaktu mula-mula hadir di tempatku ini dia memang meringankan aku tapi juga membuat aku jadi panas dingin berada di dekatnya. Pasalnya dulu aku pernah punya skandal hampir menggagahi dia sehingga dengan kembalinya dia kali ini dalam status istri orang tapi tinggal kesepian ini tentunya menggali lagi gairah rangsanganku kepadanya. Usianya 3 tahun lebih muda dariku, dia dulu dibiayai sekolahnya oleh orangtuaku dan ketika tamat SMA dia pernah beberapa bulan bekerja membantu-bantu di rumahku sambil berusaha masuk Akademi Perawat. Sayang dia gagal dan kemudian pulang kampung lagi untuk menerima lamaran seorang pemuda di tempat asalnya itu.

Waktu masih di rumah orangtuaku itulah aku yang tertarik kecantikannya, kalau pulang dari Bandung sering iseng menggoda dia, suatu kali sempat kelewatan nyaris merenggut kegadisannya. Sebab di suatu kesempatan Wasti yang memang kutahu menaruh hati padaku sudah pasrah kugeluti dalam keadaan bugil hanya saja karena aku masih tidak tega dan juga masih takut sehingga urung aku menodai dia. Kuingat waktu itu secara iseng-iseng aku sengaja ingin menguji kesediaannya yaitu ketika ada kesempatan dia kuajak ke dalam kamarku. Beralasan meminta dia memijati aku tapi sambil begitu kugerayangi dia di bagian-bagian sensitifnya. Ternyata dia diam saja tidak berusaha untuk menolakku, sehingga aku meningkat lebih terang-terangan lagi. Susunya memang menggiurkan dengan bentuknya yang membulat kenyal tapi aku masih mengincar lebih ke bawah lagi.

"Was gimana kalau kamu buka dulu celana dalammu, Mas Dony pengen gosok-gosokin yang enak di punyamu?" bujukku dengan tangan sudah meraba-raba di selangkangannya.

Wasti tersipu-sipu dengan gugup ragu-ragu, meskipun begitu menurut saja dia untuk membuka celana dalamnya yang kumaksudkan itu.

"Ta... tapi.. nggak apa-apa ya Mass...?" kali ini terdengar nada tanya kuatirnya.

Aku yang memang cuma sekedar menguji segera menenangkan dia. "Oo tenang aja, nggak Mas masukin inimu cuma sekedar ditempel-tempelin aja kok..." jawabku sambil juga menurunkan celana dalamku memamerkan batangku yang sudah setengah tegang terangsang.

Kuambil tangannya dan meletakkan di batang kemaluanku meminta dia memainkan batang itu dengan genggaman mengocok, ini diikuti Wasti mulanya dengan wajah kikuk malu tapi toh dia mulai terbiasa juga. Nampak tidak ada tanda-tanda risih karena baru kali ini dia melihat batang telanjang seorang laki-laki. Layap-layap keenakan oleh kocokannya sambil begitu sebelah tanganku juga ikut meremasi susu bergantian dengan bermain di liang kemaluannya. Lama-lama terasa menuntut, kuminta Wasti merubah posisi bertukar tempat, dia yang berbaring setengah duduk tersandar di kepala tempat tidur, dari situ aku pun masuk duduk berlutut di tengah selangkangannya.

Dalam kedudukan ini tangan Wasti bisa mencapai batanganku dan mengocoknya tepat di atas liang kemaluannya sementara kedua tanganku yang bebas bisa bermain dari kedua susu sampai ke liang kemaluannya. Lagi-lagi Wasti memperlihatkan air muka khawatir karena dikira aku sudah akan menyetubuhinya tapi kembali kutenangkan dan menyuruh dia terus mengocok dengan hanya menggesek-gesek ujung kepala batang kemaluan di celah menguak liang kemaluan berikut klitorisnya. Cukup terasa enak buatku meskipun memang penasaran untuk berlanjut lebih jauh, tapi begitupun aku bisa menahan emosiku sampai kemudian kocokannya berhasil membuatku berejakulasi. Menyembur-nyembur maniku tumpah di celah liang kemaluannya yang terkuak mengangkang, tapi sengaja kutahan tidak kutusukkan di lubang itu.

"Huffhh pinterr kamu Was... besok-besok bikinin lagi kayak gini ya?" kataku memberi pujian ketika permainan usai.

Wasti mengangguk malu-malu bangga dan sejak itu setiap ada kesempatan aku ingin beriseng, dia yang kuajak dan kugeluti sekedar menyalurkan tuntutanku. Memang, sampai dengan saat itu aku masih bertahan untuk tidak mengambil keperawanannya karena masih terpikir status kami yang berbeda. Aku majikan dan dia pembantu, padahal dalam segalanya Wasti betul-betul seorang gadis yang mulus kecantikannya. Dibandingkan dengan wanita-wanita cantik yang kukenal belakangan, Wasti pun tidak kalah indahnya. Tapi itulah yang namanya pertimbangan status padahal akhirnya aku toh bertemu lagi dan membuat hubungan yang lebih jauh dengannya.

Di kampungnya Wasti dinikahi Ardi seorang pemuda tetangganya, dia sempat beberapa bulan hidup bersama tapi ketika Ardi yang lulusan Akademi Teknik, minta ijin selama setahun karena mendapat pekerjaan sebagai TKI di suatu negara Arab, Wasti praktis hidup sebagai janda sendirian. Begitu, untuk mengisi waktunya dia juga meminta ijin agar bisa mencari pekerjaan tambahan dan dia pun teringat kepadaku karena aku memang pernah menjanjikan hal itu kalau dia ingin mendapat tambahan pencaharian. Ardi setuju karena aku sudah bukan asing bagi mereka, maka sesaat sebelum Ardi berangkat ke Arab dia ikut mengantar Wasti meminta pekerjaan padaku.

Kedatangan Wasti untuk menawarkan tenaganya tentu saja tidak bisa kutolak tapi untuk tinggal bersama di rumah sewaanku jelas akan mengundang kecurigaan orang, dia pun kutawarkan tinggal sambil bekerja di sebuah tempat usahaku. Kebetulan aku memang mengusahakan sebuah Panti Pijat yang sebetulnya dimodali Oom Rony, sehingga kehadiran Wasti bisa membantu mewakili aku sebagai orang kepercayaanku dalam mengawasi tempat pijat itu. Wasti langsung setuju tapi waktu suaminya sudah berangkat meninggalkan dia barulah dia berkomentar bingung soal pekerjaan itu.

"Tapi.., aku bener nggak disuruh kerja mijet Mas?" katanya agak keberatan dengan tugas yang belum dimengertinya itu.

"Ya enggak dong, kamu disana Mas kasih tugas utama sebagai pengawas tempat itu. Kalau soal mau belajar mijet sih boleh-boleh aja, malah bagus supaya Mas bisa kebagian rasanya juga," kataku sambil tersenyum menggoda.

"Ngg.. gitu nanti ada yang ngajakin tidur aku, gimana Mas..?"

"Boleh, tapi minta ijin Mas dulu. Yang jelas Mas dulu yang pakai baru boleh dikasih yang lain," kataku tambah menggoda lebih jauh.

Di sini Wasti langsung mesem malu-malu, tapi begitupun senang dengan tawaranku untuk mewakili aku mengawasi usaha tempat pijatku. Dia kuberi kamar di rumah yang kukontrak untuk usaha pijat itu tapi secara rutin seminggu dua kali dia datang membantu membersihkan rumahku dan mengambil baju-baju kotorku untuk dicucikannya.

Begitulah dengan adanya Wasti yang seolah-olah membawa keberuntungan bagiku, usahaku pun semakin bertambah ramai. Apalagi dia yang semula hanya bertindak sebagai tuan rumah setelah mulai belajar teknik memijat dan mulai mempraktekkan kepada tamunya, semakin banyak saja mereka yang datang mem-booking Wasti. Antri para tamu itu hadir dengan niat ingin mencicipi asyiknya pijatan sambil tentunya berusaha merayu agar bisa menikmati lebih dari sekedar pijatan si manis Wasti ini. Tetapi mereka belum sampai ke situ karena di bulan kedua kehadiran Wasti baru kepadakulah yang paling dekat dengannya saat ini, dia memberikan keistimewaannya.

Karena sudah pernah ada hubungan sebelumnya maka mudah saja bagiku untuk membuat kelanjutan intim dengannya, cuma saja setelah beberapa lama baru terpikir olehku untuk mencicipi dia. Waktu itu aku terserang muntaber dan sempat seminggu aku terbaring di rumah sakit dengan ditunggui bergantian oleh Wasti dan Indri kakak perempuanku yang sengaja datang dari Jakarta untuk mengurusi sampai dengan kesembuhanku. Keluar dari rumah sakit dan setelah melihat aku sudah mendekati pulih kesembuhanku, Indri pun kembali lagi ke Jakarta dengan meninggalkan pesan pada Wasti untuk tetap mengurusi sampai aku betul-betul sembuh. Lewat lagi dua hari tenagaku kembali pulih seperti semula tapi seiring dengan itu mulai timbul lagi tuntutan kejantananku dan kali ini aku berencana akan menyalurkannya pada Wasti sebagai sasaranku yang paling dekat denganku saat itu. Ini karena aku selama dirawat olehnya merasa lebih akrab perasaanku dan berhutang budi sekali padanya.

"Tau nggak Was? Apa yang pertama-tama mau Mas bikin kalau udah sembuh bener dari sakit ini?" tanyaku mengajak dia ngobrol menjelang kesembuhanku.

"Apa tuh kira-kira Mas?"

"Mas kepengen begini..." kataku sambil memberi tanda ibu jari dijepit telunjuk dan jari tengahku.

Wasti langsung ketawa geli mendengarnya. "Hik, hik, hik... Mas Dony yang dipikir kok itu dulu. Emang puasa berapa hari ini udah kepengen banget sih?"

"Justru itu, kepingin sih jangan bilang lagi tapi coba tebak siapa nanti yang bakal Mas ajak tidur?"

"Hmmm siapa ya? Mas sih banyak ceweknya mana Wasti tau siapa orangnya?"

"Orangnya ya kamu Was."

"Nggg kok malah aku, kan masih banyak yang cakep lainnya Mas..." Wasti kontan tersipu-sipu malu seolah tidak percaya denganku.

"Yang Mas pilih emang kamu kok, sementara jangan dulu dikasih ke yang lainnya ya!" kataku sambil menarik dia mendekat kepadaku.

"Kasih siapa Mas, kan katanya harus ijin Mas dulu?"

"Makanya itu nanti Mas yang pakai dulu. Kasih Mas ya?" Kali ini kususupkan tanganku ke selangkangannya mengusap-usap bukit kemaluannya dan diterima Wasti dengan mengangguk sambil menggigit bibir malu-malu.

Dia sudah bersedia dan ketika tiba saatnya, aku sengaja mengajaknya keluar menginap di hotel karena aku ingin betul-betul bebas berdua dengan dia. Maklum di rumah sewaanku masih kukhawatirkan Indri ataupun keluargaku dari Jakarta akan muncul sewaktu-waktu sehingga tidak terlalu aman rasanya. Segera aku pun bersiap-siap dan membuka lemari untuk mengambil uang tapi ide nyentrikku mendadak timbul ketika terpandang sweaterku yang tergantung di situ. Kuminta dia memakai sweater itu tapi tanpa mengenakan apa-apa lagi di balik itu, ini memang diturutinya tapi sambil meringis geli ketika sudah naik ke mobil duduk di sebelahku.

"Mas ini ada-ada aja, masak aku cuma disuruh pakai kayak gini sih?"

"Kamu biar cuma pakai gini tetep keliatan manis kok Was," kataku membesarkan hatinya.

"Tapi kan lucu Mas, di atasnya anget tapi di bawahnya bisa masuk angin..."

"Maksud Mas Donny begini supaya pemanasannya bikin cepet tambah kepengennya. Sambil nyupir gampang megang-megangin kamu..." jelasku dengan menjulurkan tangan ke selangkangannya sudah langsung merabai liang kemaluan telanjangnya.

Wasti tersipu-sipu tapi toh menurut juga ketika aku meminta dia menaikkan kedua kakinya ke atas jok sehingga liang kemaluannya lebih terkangkang lebar, lebih leluasa tanganku bermain disitu. Dia dari sejak dulu memang tidak pernah membantah apapun permintaanku. Mengusap-usap bukit yang cuma sedikit ditumbuhi bulu-bulu kemaluannya serta meremas-remas pipi menggembung dari bagian kewanitaannya yang menggiurkan ini, terasa kenyal daging mudanya itu. Dipermainkan begitu tangannya otomatis terjulur ke kemaluanku membalas memegang seperti dulu ketika dia masih sering bermain-main dengan milikku, tapi cuma sebentar karena segera dicabut lagi.

"Lho kenapa nggak diterusin?"

"Nggak ah, nanti keburu muncrat duluan. Mas kan udah puasa beberapa hari pasti sekarang udah kentel susunya, kan sayang kalau keburu tumpah di luar nanti Wasti nggak kebagian."

"Lho kan dipanasin dulu botolnya nggak apa-apa. Siapa tau kelewat kentel malah nggak mau netes airnya nanti?"

"Masak nggak mau keluar Mas?"

"Oh iya lupa, kalau diperes-peres pakai lubang sempit ini memang pasti keluar sih. Tapi sambil dikocokin yang enak nanti ya?"

Rangsangan selama perjalanan sudah mulai memanaskan gairah birahi kami, ketika tiba di hotel kelanjutannya semakin membara lagi. Di hotel yang kupilih, Wasti sudah kusuruh masuk ke kamar duluan sementara aku masih menutup pintu mobil sebelum kususul dia disitu. Kubuka sekalian bajuku hingga telanjang bulat sementara dia masih berlutut di sofa yang menempel dekat jendela, pura-pura memandang ke luar mengintip lewat gordyn jendela. Segera aku merapat dari belakangnya langsung membuka sweater satu-satunya penutup tubuhnya, begitu sama telanjang bulat kupeluk dia merapatkan punggungnya ke dadaku dan mulai mengecupi lembut lehernya dengan diikuti kedua tanganku bermain masing-masing meremasi susu dan bukit kemaluannya.

"Maass... botolnya kerasa udah keras bener..." katanya mengomentari kemaluanku yang sudah mengencang menempel di atas pantatnya.

"Iya, udah ngerti dia sebentar lagi bakal ditumpahin isinya ke lobang ini," jawabku singkat.

Kupondong dia dan membaringkan di atas tempat tidur langsung kudekap dan mencumbui dengan kecupan-kecupan seputar wajahnya dan usapan-usapan tangan di sekujur tubuhnya. Kenangan lama terungkit, gemas-gemas sayang rasanya dengan tubuhnya yang mulus lagi cantik ini. Ingin kulampiaskan emosi nafsuku tapi seperti takut dia kesakitan oleh tenagaku, jadinya setengah keras setengah tertahan serbuanku. Remasan tangan kuganti saja dengan permainan mulutku, tanpa menghentikan kecupanku yang mulai kujalari menurun ke leher menuju ke buah dadanya. Wasti selain mulus bersih juga tidak berbau keringatnya sehingga enak untuk kucium-ciumi dan kujilat-jilati. Tiba di bagian susunya, kedua bukit daging yang putih membulat bagus lagi kenyal ini segera kukecap dengan mengisap berganti-ganti masing-masing pentilnya. Mengenyoti bagian puncaknya, kungangakan lebar-lebar mulutku serasa ingin memasukkan banyak-banyak daging menonjol itu agar dapat kusedot sepuas-puasnya. Di dalam mulutku lidahku berputaran menjilati pentilnya, menggigit-gigit kecil membuat dia mengerang dalam geli-geli senang.

"Ssh ahngg... geli Masss..." suaranya merengek manja membuat aku semakin gemas bergairah.

Air mukanya mulai merah terangsang karena sambil begitu aku juga menambahi dengan mempermainkan liang kemaluannya. Menggosok-gosok klitorisnya dan mulai mencucukkan satu jariku mengoreki bagian mulut lubangnya. Ada satu yang istimewa dan menyenangkan itu dia mempunyai klitoris jenis besar yang jarang kujumpai pada kebanyakan kemaluan-kemaluan perempuan. Aku sudah lama mengenal bagian ini tapi masih juga seperti penasaran membawa aku merosot ke bawah untuk memperhatikannya lebih jelas.

"Ihhh... Mas ini mau ngeliat apa sih...?" Wasti rupanya kikuk malu dengan perobahan mendadakku. Tangannya bergerak ingin menutup bagian itu tapi cepat kusingkirkan.

"Kok mau ditutup sih, kan Mas kangen pengen ngeliat itil gedemu kayak dulu Was?"

"Hngg.. punyaku jelek kok mau-maunya diliat sih Mas...?"

"Kamu keliru, justru yang begini disenengin orang laki soalnya jarang ada..."

"Aaah Mas Dony menghibur aja. Apanya disenengin, jadi ketawaan malah..."

"Lho Mas sendiri udah keliling banyak cewek belum pernah dapet yang gini. Udah denger cerita dari orang-orang baru Mas penasaran lagi sama kamu Was..."

"Nggg abiiss Mas nggak dulu-dulu ngambilnya... Sekarang udah keburu diambil Kang Ardi duluan baru Mas minta, kan Wasti nggak tega ngasihnya kalau udah bekas-bekas Mas..." timpal Wasti dengan air muka membayangkan kecewa.

Melihat ini buru-buru aku menghibur. "Tapi nggak apa, biarpun gitu Mas Dony juga tetep seneng sama kamu kok. Sini Mas bikinin buat kamu." Tanpa menunggu jawabannya aku langsung menunduk dan menyosorkan mulutku di celah itu.

"Adduh Mass, Wasti nggak mau gitu..!" Kaget dia, ingin mencegah tapi kedua tangannya sudah lebih dulu kupegangi masing-masing tanganku.

Sesaat dia membelalak seolah tidak percaya aku mau bermain begini dengannya tapi sebentar kemudian terhempas kepalanya mendongak dengan dada membusung kejang ketika tersengat geli kelentitnya kujilat dan kugigit-gigit kecil. Sebentar kubiarkan dia tenggelam dalam nafsu birahinya sampai terasa cukup baru kulepas permainan mulutku. Karena sudah lebih dulu kuhisap kemaluannya maka ketika aku meminta dia sekarang menghisap batang kemaluanku langsung diikutinya dengan senang hati.

"Nggak usah lama-lama Was, kasih ludah aja biar Mas masukin sekarang..." kataku untuk tidak berlarut-larut dulu dalam permainan pembukaan ini.

Wasti cepat mengikuti permintaanku dan sebentar kemudian dengan bantuan tangannya aku sudah menyusupkan batang kemaluanku masuk di liang kemaluannya. Begitu terendam kutahan dulu untuk menurunkan tubuhku menghimpit mendekapnya, mengawali dengan kecupan mesra di bibirnya untuk mengembalikan rangsang nafsunya yang sempat menurun oleh suasana tegang sewaktu menyambut batangku. Memang baru pertama kali buat dia tapi terasa ada kerinduan yang dalam baginya sehingga terasa hangat sambutannya.

Nikmatnya jepitan liang kemaluan mulai terasa meresap, maklum, biasanya belum sampai 4 hari saja aku pasti sudah ngeluyur untuk mencari partner isengku. Dengan sendirinya senggama penyalur kerinduanku saat ini ingin kurasakan dengan senikmat-nikmatnya tanpa perlu terburu-buru. Kebetulan lagi partnerku ini termasuk barang baru yang muda lagi menggiurkan, jadi harus kuresapi asyiknya detik demi detik agar betul-betul mendapatkan kepuasan penyaluran yang maksimum. Setelah merasa cukup meresap asyiknya rendaman batang kemaluan dalam hangat liang kemaluannya, aku pun mulai memainkan batangku memompa pelan-pelan mencari nikmatnya gesekan batang.

"Ssshh Waaas.. enak sekali memekmu... sempitt rasanyaa..." Baru dua tiga gesekan saja aku sudah gemetar memuji rasa yang kuterima. Mukaku jadi tegang serius saking asyik diresap nikmat, bertatapan sayu dengan matanya yang sama mesra namun tergambar sinar senang dan bangga di situ.

Makin kupompa makin meluap nikmatnya apalagi Wasti mulai menambahi dengan memainkan liang kemaluannya mengocok lewat putaran pinggulnya.

"Adduu Waass... pinterr kammu ngocokknyaa... tapi Mas kepengenn cepet keluarr diginiinn... ssh mmm..." Sudah terbata-bata suara gemetarku bukan asal memuji tapi memang cepat saja aku dibuat tidak tahan oleh bantuan putaran kemaluannya.

Cairan mani terkumpul disitu tinggal menunggu waktu untuk disemburkan saja. Segera Wasti kudekap lagi dengan sebelah lengan di lehernya sedang sebelah lagi menahan pantatnya, aku pun mengganti gerakan tidak lagi menggesek tapi memutar batanganku dan menekan dalam-dalam sambil mengajak dia bercium melumat hangat. Wasti menyambut ajakanku dengan balas mendekap, kedua kakinya naik membelit pinggangku erat-erat. Seperti mengerti kalau batang kemaluanku sudah dikorek dalam-dalam berarti aku ingin mengajak dia berorgasme bersama-sama. Dia pun tidak menahan-nahan lagi.

"Ayyo Wass... Mass keluarinn yaaa...?"

"Iyya, iyaa Mas.. sama-sama..."

"Hhaaghh..! dduhhss... adduhh Wass... Mass kelluarr... sshhgh.. ahhgh... hghhh.. aaah ... aaahshg duuuh... hoh... hnggg hmmm..." Baru saja ajakan berorgasmeku disahut Wasti aku pun sudah meledak mengaduh tiba di puncak kepuasanku.

Bukan main! Semprotan cairan maniku serasa dahsyat menyembur-nyembur, menumpahkan seluruh kerinduanku sepertinya panjang dan lama sekali diperas-peras oleh pijatan kemaluannya sampai dengan tetesan yang terakhir. Aku sendiri tidak memperhatikan lagi bagaimana partnerku ini ikut berorgasme karena bola mataku sudah terbalik saking nikmatnya aku berejakulasi. Luar biasa, jujur kukatakan bahwa inilah saat orgasme yang paling enak sejak aku mulai bisa bersetubuh dengan perempuan. Kerinduan birahi nafsuku yang tertunda cukup lama menurut ukuranku ini betul-betul mendapatkan penyalurannya yang memuaskan sekali. Begitu puasnya sehingga ketika tubuhku melemas Wasti masih tetap kupeluki dan kukecupi bertubi-tubi seputar wajahnya diikuti pujian tanda senangku.

"Was... kamu kok enak sekali sih... Mas Dony rasanya puas bener numpahin kepengennya sama kamu..."

"Enak nggak main sama Wasti, Mas?" masih dia bertanya manja namun dengan nada bangga di situ.

"Hmmsshh eenaak bener deh... Ini ibarat lagi laper-lapernya dikasih kue enak langsung pas bener kenyangnya."

Wasti tertawa senang. "Wasti sendiri juga puas Mas diminumin susu kentelnya Mas Dony..." katanya sambil membalas mengecupi bibirku.

Berlanjut lebih jauh tentang Wasti, ada suatu pengalaman Wasti yang ingin kuceritakan di sini sejak dia bekerja di panti pijatku, yaitu tentang keintimannya dengan Oom Rony. Oom Rony memang doyan dipijat tapi merasakan dipijat seorang perempuan muda dia tidak pernah karena maklum dia takut dicurigai orang kalau pergi ke panti-panti pijat, selain itu Tante Yosi istrinya galak dan ketat mengawasinya. Maka ketika suatu kali dia kubawa ke sebuah panti pijat secara sembunyi-sembunyi Oom Rony langsung ketagihan. Itu sebabnya waktu kuusulkan untuk bekerja sama mengusahakan sebuah panti pijat milik temanku yang hampir bangkrut, Oom Rony segera setuju menyertakan modalnya atas namaku. Dengan begitu dia bisa menyalurkan kesenangannya dipijati gadis-gadis muda karena cuma beralasan pergi denganku saja baru Oom Rony bisa aman tidak dicurigai Tante Yosi. Kami berdua diketahui Tante Yosi sering pergi memancing sebagai salah satu hobby kami. Dari mulai sekedar dipijat ternyata mulai meningkat kepingin beriseng dan gadis pemijat yang diincarnya justru Wasti. Alasannya karena Wasti sudah dikenalnya sebagai orang dalam di rumahku sehingga dia yakin Wasti tidak akan menuntut apa-apa padanya. Aku sendiri semula tidak mengira kalau perkembangan pijat-memijat itu jadi semakin jauh. Hal ini baru kuketahui ketika suatu sore Mas Didik sopir sekaligus orang kepercayaan Oom Rony datang menjemput Wasti yang kebetulan sedang membersihkan rumahku, kudapati Wasti gelisah dan kurang enak air mukanya.

"Mas, bilang aja aku sekarang udah nggak bisa, udah pulang kampung, lalu Mas nawarin temen-temen lain aja..." katanya membujuki aku di kamar sementara Mas Didik menunggu di ruang tamu.

"Lho tadi Mas ditelepon Bapak memang bilang kamu ada disini kok, emang kamu kenapa...? Lagi capek ya mijetin Bapak sekarang? Kalau capek nanti Mas yang ngomongin," kataku menawarkan. Bapak adalah menurut sebutan Wasti kepada Oom Rony.

"Nggak gitu Mas, tapi...." disini dia berat untuk meneruskan dan memandangiku dengan malu-malu takut.

Aku paham ada sesuatu yang disembunyikan dan kubujuk dia dengan lembut sampai akhirnya Wasti pun mengaku bahwa meskipun sudah sering memijat tapi baru belakangan ini Oom Rony terangsang untuk mengajak Wasti ber-"iseng". Permintaan ini berat karena Wasti merasa kikuk dan sungkan sekali kepada Oom Rony dan untuk itu dia berusaha menolak dengan yang terakhir kali dia memberi alasan sedang haid. Jelas alasan yang begini cuma mengulur waktu saja sehingga untuk yang berikut ini Wasti merasa tidak bisa menolak lagi. Itu sebabnya dia jadi gelisah serba salah terhadapku. Mendengar sampai di sini aku cuma tersenyum membuat Wasti jadi lega. Memang, baik aku maupun dia sebenarnya sama mengerti bahwa Oom Rony sebagai laki-laki wajar kalau sesekali kepengen ber-"iseng" di luaran. Cuma saja bagi Wasti dia berat karena dia takut aku tersinggung dan marah kepadanya. Begitu, agak beberapa saat kami terdiam mencari jalan keluar tapi akhirnya kuanjurkan Wasti untuk memberi saja.

"Iddihh Mas Dony kok malah nyuruh ngasih, gimana sih?!" nadanya terdengar agak kurang enak dengan usulku.

"Gini Was, kamu kan ngerti kalau Bapak susah mau 'ngiseng' begini di luaran. Kebetulan bisa ketemu kamu yang udah dianggap deket bisa nyimpan rahasia, kan nggak apa-apa kalau diikutin sekali-sekali. Dijamin deh Mas Dony nggak marah soal ini."

Mendengar dari aku sendiri yang berbicara seperti itu hanya membuat dia terdiam berpikir sebentar tapi kemudian menyetujui anjuranku. Setelah mendapat ijin khusus dariku Wasti pun bersedia untuk pergi memijat Oom Rony di hotel tempatnya menginap. Hotel itu adalah tempat rahasia Oom Rony dan tidak ada yang tahu kecuali Mas Didik yang membawa ke situ.

Kami bertemu lagi keesokkan harinya di panti pijat, rasa penasaran kubawa dia ke sebuah kamar untuk mendengarkan pengalamannya dengan Oom Rony sambil meminta dia memijati aku. Wasti yang ditanya soal semalam langsung menyembunyikan muka malunya di dadaku belum langsung menjawab.

"Lho kok masih berat nyeritainnya, kan Mas udah ngasih ijin? Gimana, kesannya asik atau nggak kan Mas kepengen tau?" tanyaku mendesak terus.

"Kesannya... aaaaa... maluu aku Maaass....!" Wasti menjerit malu makin membenamkan wajahnya ke dadaku. Kutunggu beberapa saat sampai malunya mereda barulah dia mau bercerita pengalamannya malam tadi.

Seperti yang sudah dibayangkan Wasti, baru saja memijat sebentar bagian punggung Oom Rony sudah berbalik minta dipijat bagian depan. Disitu sambil mengambil tangan Wasti untuk memijati seputar selangkangannya dia mulai memancing-mancing jawaban Wasti tentang kesediaannya untuk memenuhi ajakan ber-"iseng"-nya waktu itu. Wasti meskipun merasa sudah tidak ada yang diberati tapi masih kikuk untuk mengiyakan langsung. Dia hanya menggigit bibir malu-malu meskipun begitu tangannya bekerja juga menyusup di balik handuk yang dikenakan Oom Rony dan segera memijat daerah selangkangan yang dimaksud untuk merangsang kejantanannya. Jelas cepat saja batang itu naik menegang.

"Ihhhng... cepet bener bangunnya Bapak punya..." katanya mengomentari batang kemaluan kencang Oom Rony di genggamannya.

"Makanya itu, biar nggak tambah penasaran sebaiknya diselesaikan sama kamu Was?" jawab Oom Rony sambil merayapkan tangannya dari belakang pantat Wasti menyusup mengusapi tengah selangkangannya.

"Mmm... tapi mesti dilicinin dulu Pak..." lagi-lagi Wasti tidak menjawab langsung, hanya mengambil cream pemijit dan melumuri seputar batang itu agar menjadi licin.

Sekarang Oom Rony mengerti bahwa Wasti sudah bersedia menyambut ajakan ber-"iseng"-nya, dia beraksi lebih dulu membuka belitan handuk yang dipakainya.
"Kalau gitu ke sini aja supaya nggak habis waktunya. Ayo buka dulu bajumu terus naik sini Nduk!" kata Oom Rony terburu-buru saking senangnya.

Wasti berhenti dan mengikuti permintaan Oom Rony untuk segera membuka bajunya. Tapi meskipun sudah terbiasa bertelanjang bulat di depan lelaki, tidak urung dengan majikan besarnya ini Wasti merasa kikuk sekali. Lebih-lebih waktu ditarik berbaring bersebelahan disambut masuk dalam pelukan Oom Rony yang langsung menyerbu dengan remasan gemas dan ciuman bernafsu di seputar lehernya, Wasti jadi risih karena merasa tidak pantas dengan besarnya perbedaan status di antara kedua mereka.

Sekalipun sudah dicoba memejamkan mata dan menghayalkan dia sedang digeluti salah seorang langganan "Oom Senang"-nya tapi tetap saja terbawa sebagai majikan besar ini sulit hilang, sehingga Wasti seperti kaku tidak berani bergaya manja-manja genit. Padahal Oom Rony sudah tidak perduli soal status dan jabatannya, juga tidak perduli dengan status lawan mainnya. Yang dia tahu saat itu ialah si gadis pembantu yang cantik ini begitu menggiurkan dalam penampilan polosnya sehingga Oom Rony yang sedang mendapat kesempatan menggelutinya pun tambah lebih bersemangat lagi.

Dari mulai kedua susunya, sudah habis-habisan masing-masing daging kenyal yang bulat montok itu diremasi dan disosor rakus mulut Oom Rony. Disedot-sedot bagian puncaknya sambil dikulum pentilnya digigit-gigiti kecil membuat Wasti menggelinjang kegelian, begitu juga seputar tubuh si cantik sudah rata dijelajahi rabaan tangan Oom Rony yang sibuk penasaran. Mendarat di selangkangannya bukit daging setangkup tangan itu pun diremasi gemas, jarinya mengukiri celah hangat mengiliki kelentit dengan gemetar bernafsu. Semakin Wasti meliuk erotis semakin merangsang nafsu Oom Rony sampai akhirnya dia tidak tahan berlama-lama lagi. Dia pun berhenti dan segera mengambil ancang-ancang untuk mulai menyetubuhi Wasti. Menangkap bahwa Wasti mungkin masih kikuk dengannya, Oom Rony meminta Wasti berbalik agar dia bisa memasuki dari arah belakang. Ini diikuti Wasti tapi belom Oom Rony sudah merapat menepatkan sendiri ujung batang kemaluannya dan langsung menekan masuk.

"Tapi... lho, lhoo, lhooo..?!" Wasti sampai menjengkit dengan meringis bengong karena dia merasakan suatu kesalahan tusuk pada lubangnya.

Bukan di lubang kemaluan tapi justru lubang anusnya yang disodok batang itu. Dan konyolnya baru saja dia akan memperbaiki sudah keburu keluar komentar Oom Rony. "Ssshhmmm.. enakk Waass.. sempit sekali punyakmuu hhhshh..." baru terjepit sudah langsung dipuji rasanya.

Wasti jadi urung membetulkan karena dia kuatir Oom Rony tersadar dan malu hati, malah hilang selera nafsunya dan batal meneruskan permainan. Biar saja, mumpung suasana kamar remang-remang gelap mudah-mudahan sampai dengan selesai Oom Rony tidak menyadari kekeliruannya. Syukur, Oom Rony memang kelihatan bernafsu sekali terasa dari sodokannya yang gencar dengan tubuh gemetaran persis seperti anjing sedang dalam siklus birahinya. Maklum, dia betul-betul lapar sekali menyetubuhi partner muda seperti ini. Dan melihat ini Wasti menambahi dengan bantuan goyangan pinggulnya mengocok batang itu, maka tidak berlama-lama lagi sebentar kemudian terdengar tenggorokan Oom Rony menggeros tersendat-sendat ketika dia berejakulasi memuntahkan cairan maninya. Itulah apa yang dialami Wasti ketika melayani Oom Rony semalam.

"Tapi urusannya sekarang gimana nih, semalem yang ini dipakai juga nggak? Kalau nggak biar Mas Dony yang ngisi sekarang?" tanyaku menggoda sambil menyusupkan tanganku meremas langsung kemaluan telanjangnya. Wasti memang selalu bertelanjang bulat jika memijati aku.

"Main yang keduanya memang dipakai juga, tapi biarpun gitu asal yang mau ngasih lagi Mas Dony sendiri tetep aja Wasti penasaran Mas.." jawabnya dengan mulai bermain di kemaluanku.

"Kalau gitu pertamanya pakai yang depan dulu ya? Abis itu baru masukin yang di belakang, soalnya Mas Dony juga jadi nafsu deh denger ceritamu barusan."

Wasti hanya mengangguk tersipu-sipu menyetujui permintaanku. Memang, permainan anus ini dipelajarinya dariku, jadi meskipun awalnya dulu dia kerepotan dengan batang kemaluanku tapi sekarang sudah terbiasa dengan ukuranku. Tanpa menunggu lagi dia pun segera mengencangkan batang kemaluanku. Dengan tekniknya yang terlatih dia pun mengerjai batangku. Mula-mula dikocoki pelan dengan genggaman tangannya sampai setengah menegang, setelah itu diteruskan dengan kerja mulutnya yang mengulum dan mengisap, baru setelah tegang kaku dia pun memasang dirinya untuk siap kusetubuhi. Kalau sudah sampai disini permainan asyik pun berlangsung sebagaimana yang sering kami lakukan berdua. Yaitu seperti keinginanku, mula-mula kuresapi pijatan lubang kemaluannya di batang kemaluanku tapi ketika menjelang tiba ejakulasiku, barulah kupindahkan ke lubang anus untuk menyelesaikan permainan dengan menyembur-nyemburkan cairan maniku disitu.

Rupanya Oom Rony setelah mendapatkan Wasti bukan sekedar ketagihan lagi tapi lebih dari itu dia ingin berlanjut memelihara Wasti sebagai "gendak" peliharaannya. Kedengarannya enak buat Wasti tapi begitupun dia selalu minta pendapatku dulu. Setelah berunding denganku akhirnya kuberi jalan bahwa Wasti bersedia tapi hanya selagi suaminya masih belum pulang saja. Syarat ini disetujui Oom Rony dan begitulah Wasti langsung menghilang dari Panti Pijat tanpa ada yang tahu karena sebenarnya dia sedang bersembunyi di rumah yang disewakan Oom Rony untuknya. Akan tetapi sekalipun suaminya sudah ada, hubungan Oom Rony dengan Wasti tetap berlanjut yaitu Oom Rony secara rutin memanggil Wasti dengan alasan minta dipijati. Pasalnya Wasti semenjak dipelihara sebagai langganan kesayangan Oom Rony kehidupannya bisa terjamin dimana Wasti diberi modal untuk membuka sebuah usaha percetakan. Ini dianggap hutang budi bagi Ardi karena setelah pulang dari Arab Ardi tidak medapat pekerjaan lagi sehingga keluarga ini tergantung nafkahnya dari usaha percetakan itu.

Berlanjut pada hubungan itu mulanya Wasti dipanggil ke hotel seperti biasa tapi karena yang begini lama-lama justru mengundang kecurigaan Ardi maka Wasti mengusulkan sebaiknya Oom Rony datang ke rumahnya saja. Dengan berlaku seolah betul-betul akan dipijati tapi diam-diam berhubungan badan, cara begitu malah aman tidak akan dicurigai siapapun. Oom Rony menimbang-nimbang ternyata usul Wasti benar dan begitulah hubungan unik ini berlangsung justru seperti dilindungi oleh Ardi. Awalnya waktu siang itu sementara kedua suami istri sibuk melayani percetakan di bangunan sebelah, Wasti memberitahu Ardi bahwa hari ini adalah jadwal pertama kedatangan Oom Rony, dia pun meminta tolong suaminya meneruskan pekerjaannya sendirian karena dia sebentar lagi akan menerima langganan tetapnya itu. Ardi pun mengangguk dan mengambil alih tugas itu.

"Udah tinggal aja Was biar Mas yang ngurus. Kamu cepet aja ganti baju nanti Oom Rony keburu dateng," begitu jawab Ardi.

Wasti pun bergegas masuk ke rumah untuk mempersiapkan diri, dia bisa lega untuk menerima Oom Rony yang datang sesuai jam yang dijanjikan. Singkatnya begitu Oom Rony muncul sudah langsung diajak ke kamar tidurnya, disini mau tak mau perasaannya agak kurang tenang juga karena baru pertama inilah dia berterang-terangan melakukan kegiatan di rumahnya sendiri, tapi perasaan ini mulai terlupa ketika sebentar kemudian Oom Rony mulai sibuk merangsang mengecapi sekujur tubuhnya. Terus terang, kalau bukan karena uangnya sebenarnya bagi Wasti dari penampilannya laki-laki gemuk pendek lagi botak ini sama sekali tidak menarik ataupun menerbitkan seleranya. Tapi untungnya selain uangnya cukup royal, juga cara bermain seksnya bisa juga memuaskan Wasti sehingga Wasti cukup senang melayaninya. Cara merangsang mulutnya yang rakus diikuti menjilat-jilat rata sekujur tubuhnya mula-mula memang kurang "sreg" bagi Wasti kalau masih memulai pembukaan dari bagian atas. Agak jijik rasanya dengan ludah Oom Rony yang melengket di seputar wajahnya. Tapi kalau sudah menurun ke bawah baru terasa ada keasyikan yang membawa dia naik dalam birahinya. Cuma perlu sering diingatkan karena laki-laki ini suka kelewat gemas.

"Aahss Paakk.. jangan digigit keras-keras.. sakitt..." merintih Wasti tapi dengan muka geli senang, menahan kepala Oom Rony kalau terasa puting susunya tergigit agak sakit.

Oom Rony sadar lagi, buru-buru menekan emosinya untuk mencoba lebih halus, tapi biasanya tidak lama karena sebentar kemudian sudah terlupa lagi dia untuk kembali menggigiti gemas sekujur tubuh Wasti. Wasti sering kewalahan, biarpun sudah merengek-rengek dia dengan menggeliat-geliat meronta-ronta menolaki kepala botak Oom Rony dengan maksud ingin menghindari tapi Oom Rony malah tambah bernafsu kepada perempuan yang gayanya makin genit merangsang ini. Tambah bertubi-tubi dia menyerbu Wasti. Mau tak mau Wasti mengalah, sudah hafal dia kalau belum puas membuat mengenyoti gemas di bagian susunya, belum berpindah Oom Rony dari situ. Tapi kalau sudah bergeser ke bawah, caranya pun serupa juga. Tidak hanya di atas, yang di bawah inipun dia sama rakusnya. Malah lebih lagi. Sebab tidak perduli kemaluan Wasti entah berapa orang yang sudah memakai, dia tetap bernafsu sekali menghisap dan menjilat-jilat sambil menyosorkan mukanya tersembunyi di selangkangan Wasti.

Wasti sendiri memang senang dirangsang begini, cuma lagi-lagi kalau terasa geli menyengat membuat dia refleks menolaki kepala Oom Rony, akibatnya sama, gigitan-gigitan gemas langsung mendarat di bagian seputar bukit kemaluannya. Malah lebih bertubi-tubi karena Oom Rony lebih bernafsu dengan bukit kemaluan Wasti yang baginya begitu menggiurkan sekali karena Wasti sering mencukuri bulu-bulu kemaluannya agar lebih merangsang langganannya. Jadi kalau bisa digabungkan suara-suara yang sedang terjadi, maka di bangunan sebelah suara riuh pegawai-pegawai percetakan yang sedang sibuk bekerja sambil bercanda akan berpadu rengekan manja sang majikan perempuan dalam kamar yang sedang merasa keenakkan bercanda dengan kemaluannya dikerjai mulut Oom Rony.

"He.. hehngg.. aahsss diapain gittu... gellii iihhh.." merengek-rengek kegelian dia kalau terasa ujung lidah Oom Rony berputaran menjilati klitoris sesekali menyodok-nyodok pendek di pintu lubang kemaluannya, atau juga kalau gigitan-gigitan kecil Oom Rony di bibir dalam kemaluannya terasa seperti ditarik-tarik ke atas. Kepala botak Oom Rony yang menempel di selangkangannya dipermainkan seperti bola, kadang didekap, diusap-usap kalau merasa keenakkan atau kadang ditolaki kalau geli terlalu menyengat.

Tapi Wasti tidak hanya bisa menerima, dia juga pintar memberi "asyik" pada lawan mainnya karena inilah salah satu yang membuat dia juga jadi perempuan kesayangan langganannya itu. Sebentar kemudian bertukar permainan dengan Wasti sekarang yang ganti menghisap batang kemaluan Oom Rony. Dengan pengalamannya yang banyak Wasti tahu persis bagaimana menyenangkan lelaki lewat permainan mulutnya. Teliti dan cukup lama dia menjilati sepanjang batang, menghisap-hisap kepala bulatnya, melocoknya sekaligus dan mengenyot-ngenyot kantung zakarnya membuat batang kemaluan Oom Rony yang tadi setengah mengeras sekarang bangun mengencang. Merasa sudah cukup barulah keduanya tiba di babak senggama. Kembali Wasti mulai merasakan asyiknya bagian lubang kemaluannya dikerjai, kali ini disogok-sogok batang kemaluan Oom Rony. Ini yang dibilang meskipun tampangnya tidak "sreg" tapi Oom Rony cukup menyenangkan Wasti. Memang tidak besar tapi batang kemaluan lawannya ini cukup bisa bertahan lama kerasnya untuk Wasti terikut sampai di kepuasannya. Itu juga sebabnya meskipun di babak awal pembukaan rangsangan Oom Rony kurang disukai Wasti tapi kalau sudah sampai di bagian ini Wasti cukup senang bersetubuh dengan langganannya yang royal memberi uang itu. Terbukti mimik mukanya berseri cerah memainkan kocokan lubang kemaluannya mengimbangi tarik tusuk batang kemaluan Oom Rony menggesek ke luar masuk lubangnya.

Seirama dengan bunyi "mencicit" putaran roda mesin cetak yang seolah kurang pelumasan di bangunan sebelah, di kamar ini papan tempat tidur pun bergerit oleh gerak putaran kemaluan Wasti mengocok batang kemaluan Oom Rony. Keduanya justru kebanyakan dilumas karena semakin lancar saja beradunya kedua kemaluan terasa dengan semakin cepatnya goyangan keduanya tanda sudah akan mencapai akhir permainan.

"Hshh.. ayyo Was... Bapakk keluarr..." di ujungnya Oom Rony segera memberi tanda tiba di ejakulasinya.

"Ayyo Pakk.. sama-sama... hhoghh.. dduhh..." Wasti cepat menyahut, dia pun segera menyusuli dengan orgasmenya.

Berpadu kejang tubuh mereka ketika masing-masing mencapai puncak permainan secara bersamaan. Oom Rony merasa puas dengan pelayanan Wasti, begitu juga Wasti terikut merasa puas dalam permainan seks bersama langganan tetapnya ini.

Akan tetapi bukan hanya Oom Rony saja yang bisa bercinta dengan Wasti di rumahnya itu tapi aku sendiri pernah mengambil bagian seperti itu dengannya. Sudah dua kali aku bertandang ke rumahnya sekedar untuk ngobrol-ngobrol, tapi pada kali ketiga aku datang bertepatan Ardi sedang keluar rumah, saat itulah kesempatan baik ini ingin dimanfaatkan Wasti. Ceritanya waktu aku menumpang buang air kecil, Wasti menunjukkan kamar mandi yang berada di kamar tidurnya tapi rupanya dia menunggu dengan tidak sabaran lagi. Karena baru saja ke luar kamar mandi aku langsung ditubruk pelukan rindunya.

"Duh Mas Dony... Was kangen banget deh, Mas nggak kangen ya sama aku?" katanya membuka serangan dengan menciumi seputar wajahku.

"Sama aja Was, tapi kan nggak enak masa dateng-dateng lalu minta gitu sama kamu. Lama nggak perginya Mas Ardi?"

"Dia lagi ngurus ke kantor pajak, pasti lama pulangnya kok..."

Sebentar pembicaraan terputus sampai disini karena kami memuasi diri dulu dengan saling melepas rindu lewat ciuman bibir yang saling melumat hangat dengan posisi masih berdiri berdekapan di ruang tengah itu. Disitu rupanya kami sudah tidak sabaran menunggu karena sambil mulut tetap sibuk kuikuti dengan tanganku langsung bekerja melepas penutup badannya, ini dituruti Wasti bahkan sampai lolos hingga bertelanjang bulat di pelukanku. Begitu terpandang tubuh mulusnya darah pun langsung panas menggegelegak. Hmmm... kuakui lekuk liku tubuhnya yang indah dan tetap tidak berubah sejak dulu nampak begitu menggiurkan dan memompa darah birahiku menaikkan rangsanganku. Masih ingin kunikmati pemandangan indah ini tapi Wasti yang sudah bertelanjang bulat di depanku seperti kuatir aku batal berubah pikiran, dia segera menarik aku lagi dalam pelukan untuk melanjutkan berciuman sambil dia juga membalas membantu membukai bajuku. Kali ini jelas lebih asyik, bergelut lidah bertempelan hangat kedua dada telanjang cepat saja membawa nafsu birahi naik menuntut, sehingga tidak bermesra-mesraan lebih lama lagi kami pun bersiap masuk di babak utama.

"Ayo Mass.. buka juga ininya..." berdesis suaranya sambil tangannya ingin melorot celanaku, tampak dia seperti ingin terburu-buru.

Kuturuti permintaannya sebentar kemudian kami sudah sama2 telanjang masih melanjutkan berciuman merangsang nafsu yang tentu saja naik dengan cepat. Sekarang baru nyata kerinduan Wasti karena sambil masih sibuk bergelut lidah bertukar ludah, sebelah tangannya yang terjulur ke bawah sudah langsung beraksi meremas-remas gemas jendulan batanganku. Diserang begini ganti aku juga membalas. Kedua tanganku yang semula merangkul pinggangnya kuturunkan meremasi kedua pantatnya dan memainkan jariku menggaruki bibir luar kemaluannya, mengukiri celah hangatnya membuat Wasti mulai menggelinjang terangkat-angkat pantatnya menempelkan jendulan kemaluannya ke jendulan batanganku. Lama-lama tidak tahan, Wastipun tidak membuang-buang waktu untuk merendahkan tubuhnya dan langsung mencaplok kepala batangku, dilocoknya beberapa lama dengan mulutnya sekaligus membasahi dengan ludahnya. Setelah terasa basah licin barulah dia menegakkan lagi tubuhnya dan menunggu aku berlanjut untuk berusaha memasukkan di lubang kemaluannya.

Kuteruskan sesaat ciumanku dengan kembali mengiliki klitorisnya, sementara Wasti menyambut dengan juga melocok menarik-narik batang kemaluanku. Saling merangsang begini tentu saja membuat tuntutan birahi jadi naik tinggi. Merasa cukup, kutunda ciuman sebentar untuk membawa dia bersandar ke dinding di belakangnya, Wasti menurut hanya memandangi aku agak bingung.

"Nggak di tempat tidur aja Mas...?" tanyanya seperti kurang cocok dengan tempat yang kupilih.

"Di sini dulu, sekali-sekali kita main berdiri kan bisa juga?" begitu jawabku menentukan keputusanku.

Meskipun agak kurang "sreg" tapi dia juga sudah kepingin berat jadinya menurut saja ketika setelah kusandarkan ke dinding, kulanjutkan dulu dengan mengecupi mesra seputar wajahnya sambil tetap menghangatkan bara nafsu dengan bermain sebentar mengusapi kemaluannya, menggaruki klitorisnya.

Dia kuserbu dengan membuat tidak sempat protes lebih jauh karena segera ujung jariku merasakan licin basah liang kemaluannya. Batang kemaluan yang sudah dibubuhi ludah kudekatkan masuk terjepit di selangkangannya menempel ketat di lubang kemaluannya. Begitu kena mimik mukanya langsung tegang rahang setengah menganga karena jika dua kemaluan yang sama telanjang sudah ditempel begini, hangatnya mau tidak mau menuntut untuk melibat lebih dalam. Sinar matanya makin sayu meminta dan ini kupenuhi dengan mulai berusaha memasukkan batang kemaluanku. Kedua lutut kutekuk agak merendah, dari situ kutekan membor ke depan ujung batangku sampai terasa menyusup masuk di jepitan lubang kemaluan Wasti, ini karena dia juga menyambut dengan menjinjit dan membuka lebar-lebar pahanya.

"Ahngg Mass Doonyy.." keluar erang senangnya sambil menyebut namaku.

Seperti biasa dia selalu terlihat repot jika dimasuki batangku, tegang serius mukanya sambil sesekali melirik ke arah pintu seperti masih kuatir kalau ada yang masuk mendadak sementara dia sedang sibuk dalam usahanya ini. Begitupun pelan-pelan tenggelam juga batangku ditelan lubang kemaluannya masuk dan sebentar kemudian terendam habis seluruh panjangnya. Aku berhenti sebentar untuk dia menyesuaikan ukuranku baru setelah itu aku pun mulai menikmati jepitan asyik kemaluannya di batangku. Lepas dari sini kami berdua sudah langsung meningkat meresap nikmat senggama tanpa perduli suasana sekitar lagi. Aku mengawali dengan memainkan batangku menusuk tarik ke luar masuk, sebentar kemudian diimbangi Wasti dengan memainkan pinggul mengocokkan lubang kemaluannya. Masing-masing sama berkonsentrasi pada rasa permainan cinta dengan di atas kembali saling melumat bergelut lidah, kali ini untuk melengkapi gelut dua kemaluan yang mengasyikan dalam posisi senggama berdiri ini. Sambil begitu kedua tanganku pun meremasi sekaligus kedua susunya menambah enaknya permainan.

Wasti baru sekali kuajak main gaya begini tapi sudah langsung tenggelam dalam kelebihan rasanya. Terbukti baru disogok-sogok beberapa saat saja dia sudah tegang serius mukanya, tapi sebelum sampai ke puncaknya segera kuangkat dia berpindah posisi ke tempat yang lebih santai buat dia dan baru sekarang kubaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.

"Wiihhss... Mas Donny kangen aku kontolmu Mass... ssshh mantepp rasanya..." komentar pertama dengan nada suara bergetar terdengar senang seperti anak kecil baru diberi mainan. Saking rindu dan senangnya sampai mengalir keluar air mata bahagianya.

Tidak kusahut kata-katanya tapi dengan gemas-gemas sayang aku menindih untuk mengecup menggigit bibirnya dan dari situ kusambung dengan mulai memainkan batangku keluar masuk memompa di jepitan lubang kemaluannya. Inipun masih pelan saja tapi reaksinya sudah terasa banyak buat kami. Pinggulnya dimainkan membuat lubang kemaluannya berputaran memijati batanganku, hanya tempo singkat kami sudah meningkat dalam serius tegang dilanda nikmatnya gelut kedua kemaluan. Air muka kami sama tegang dan sinar mata sama sayu masing-masing hanyut meresapi jumpa mesra yang baru ini lagi kami lakukan setelah lewat cukup lama perpisahan keintiman kami. Menatap wajah si manis sedang hanyut begini tentu saja menambah rangsangan tersendiri yang membuatku makin meningkatkan tempo, sambil tetap meresapi asyik yang sama pada gelut dua kemaluan kami.

"Enak nggak Was rasanya punya Mas...?" bisikku menguji di tengah kesibukanku, sekedar ingin tahu komentarnya.

"Hsh iya ennak sekalli Mass... kontol Mas Donny palingg ennak dari semuanya... hhssh wihh kerras sekalli.. ennaakk.. adduuuh Maas iya ditekenn gittu dalem bbanget hhshh... Mass Donyy ennaak sekalii Maaas..."

Wasti kuhapal memang tipe spontan terbuka, dipancing sedikit saja langsung keluar suaranya mengutarakan apa yang sedang dirasakannya. Jelas menyenangkan mendapat partner bercinta seperti ini, segera kutenggelamkan juga perasaanku menyatu dalam asyik senggama sepenuh perasaan dengannya. Makin lama gelut kami makin berlomba hangat tanda bahwa masing-masing mulai menuju ke puncak permainan, sampai tiba di batas akhir kuiringi saat orgasme kami dengan menempel ketat bibirnya saling menyumbat dengan lumatan hangat.

"Hhrrh.. hghh.. nghhorrh.. ssshghh.. hoorrhgh.. hhhhng.. hngnhfffgh.. ngmmgh..." suara tenggorokan kami saling menggeros bertimpal seru mengiringi saat ternikmat dalam senggama ini.

Mengejut-ngejut batang kemaluanku menyemburkan cairan maniku yang juga terasa seperti diperas-peras oleh pijatan dinding kemaluannya. Sampai terbalik kedua bola mata kami saking enak dirasa tapi begitupun sumbatan mulutku belum kulepas menunggu sentakan-sentakan ekstasinya melemah. Baru ketika helaan nafas leganya ditarik tanda kenikmatan berlalu, aku pun melepas tempelan bibirku menyambung dengan kecupan-kecupan lembut seputar wajahnya.

"Hhahhmmhh.. Mas Ddony... assyiknyaaa... keturutan kangenku sama Mas..." kembali terdengar komentarnya dengan masih saling berpelukan mesra.

"Mas sendiri juga kangen sekali sama kamu Was," kataku jujur membalas perasaan hatinya.

"Bener?" tanyanya menguji dengan nada manja. Tapi tetap menjepitkan otot-otot lubang kemaluannya di batanganku menunggu sampai terlihat aku mulai mengendor menghela nafas legaku, di situ baru dia berhenti dan membiarkan aku melepaskan batanganku dari lubang kemaluannya. Aku lega dan puas tapi air mukanya juga tampak berseri tanda senang telah berhasil memuaskan kerinduannya denganku.

Sejak dari hari itu berlanjut lagi hubungan lamaku dengan Wasti di setiap kedatanganku ke rumahnya tapi dengan alasan yang sama seperti Oom Rony yaitu pura-pura minta dipijat oleh Wasti. Hari itu aku datang ke rumahnya bertemu dengan Ardi yang sedang sibuk mencetak di bangunan sebelah, dia mempersilakan aku menemui Wasti di rumah induk. Aku pun mengiyakan dan waktu masuk ke rumah kudapati Wasti di dapur sedang mencuci piring-piring dan gelas bekas makan siang mereka. Wasti menoleh dan tersenyum manis menyambut kehadiranku serta meminta aku menunggu dulu di ruang tamu. Timbul niat isengku menggoda, kurapati dia yang saat itu masih berdiri di depan meja cucian piring, langsung memeluk dari belakang mencumbui dia. Mengecupi lehernya sambil kedua tanganku meremasi bukit susunya. Karuan Wasti menggeliat-geliat dengan muka malu-malu geli, ingin menghindar tapi mana mau kulepas begitu saja. Akhirnya dia diam saja membiarkan aku menggerayangi tubuhnya, dia sendiri tetap meneruskan mencucinya karena dipikirnya mana mungkin aku berani mengajak dia untuk waktu yang senekat ini.

"Mas Dony ini nggodain aku aja, paling-paling Mas juga udah ngiseng sama yang lain, sekarang kayak sudah kepengen lagi...?"

"Lha memang kepengen kok, sama kamu kan belum?" jawabku sambil mengangkat rok belakangnya, langsung melorotkan celana dalamnya.

Tentu saja Wasti jadi kaget karena tidak mengira bahwa aku betul-betul serius meminta.

"Heh Mas Dony! Ngawur ah, ini kan masih di dapur... nanti aja di kamar Mas... kalau di sini nanti ada yang liat gimana?" Wasti masih coba memperingatkan aku agar mengurungkan kenekatanku tapi aku sudah tidak bisa menahan lagi. Malah sudah kulepas ritsleting celanaku membebaskan kemaluanku langsung menempelkan batanganku di selangkangannya.

"Kasih sebentar aja kan bisa Was, dari sini kan kita bisa ngeliat ke sebelah kalau ada yang datang..." kataku meminta sambil menenangkan dirinya.

Kebetulan di dekat meja cucian piring itu ada jendela kaca dimana kami bisa melihat keadaan bangunan percetakan di sebelah.

"Ahhs Maaass..!" Wasti kontan menjengkit ketika terasa batang telanjangku yang menempel di lubang kemaluannya itu sudah mulai naik mengencang.

Sempat bingung dia tapi dari semula ingin berkeras menghindar akhirnya Wasti jadi tidak tega juga, langsung melunak suaranya berbisik. "Wih, wih Masss... kok cepet banget sih keras bangunnya...?"

"Makanya itu.. Mas Dony masukin ya?"

"Iya tapi aku belum basah Mas..."

"Nanti Mas basahin sebentar..."

"Tapi jangan lama-lama ya, nanti keburu ada yang dateng malah tambah penasaran..."

Tanpa membuang-buang waktu aku berjongkok di belakang Wasti dan segera menyosor di lubang kemaluannya yang juga cepat memasang posisi agar lebih mudah, dengan membuka secukupnya kedua pahanya serta menunggingkan sedikit pantatnya. Sambil begitu Wasti sendiri terpaksa menunda dulu pekerjaannya dan menunggu dengan bertopang kedua tangan di tepi meja cucian sambil pandangannya terus melekat memperhatikan ke luar jendela kaca itu. Niatnya memang semula hanya ingin sekedar memberi buat aku, tapi ketika terasa sedotan dan jilatanku di lubang kemaluannya ditambah lagi dengan satu jariku yang kucucukan menggeseki kecil di lubang itu, yang begini cepat saja membuat gairahnya terangsang naik. Cepat-cepat dia membilas kedua tangannya yang masih penuh sabun karena sesewaktu mungkin diperlukan untuk memegangi tubuhku.

Betul juga, tepat saatnya dia selesai membilas bersamaan aku juga selesai mengerjai liang kemaluannya. Segera kubawa batanganku ke depan lubang kemaluannya dan mulai menyusupkan masuk dari arah belakang, langsung saja sebelah tangan yang masih basah itu dipakai untuk memegang pinggulku, sebagai cara untuk mengerem kalau sodokanku dirasa terlalu kuat. Tapi rupanya tidak. Biarpun sudah dilanda gairah kejantananku, tapi aku masih bisa meredam emosi tidak kasar bernafsu. Selalu hati-hati sewaktu membor batangku masuk meskipun seperti biasa Wasti selalu menunggu dengan muka tegang. Dia baru melega kalau batangku dirasanya sudah terendam habis di lubang kemaluannya.

"Keras sekali rasanya Mas...?" komentar pertamanya sambil menoleh tersenyum kepadaku di belakangnya.

Kugamit pipinya dan menempelkan bibirku mengajaknya berciuman.

"Kalau ketemu lubangmu memang jadi cepet kerasnya..." jawabku berbisik sebelum menekan dengan ciuman yang dalam.

Kami mulai saling melumat sambil diiringi gerak tubuh bagian bawah untuk meresap nikmat gelut kedua kemaluan dengan aku menarik tusuk batang kemaluan, sedang Wasti memutar-mutar pantatnya mengocoki batanganku di liang kemaluannya. Inipun niat semula masih sekedar memberi bagiku saja, tapi tidak bisa dicegah, dia pun dilanda nikmat senggama yang sama, yang membawanya terseret menuju puncak permainan bersamaku.

Dari semula gerak senggama kedua kami masih berputaran pelan, semakin lama semakin meningkat hangat, karena masing-masing sudah menumpukkan rasa enak terpusat di kedua kemaluan yang saling bergesek, sudah bersiap-siap akan melepaskannya sesaat lagi. Wasti tidak lagi bertopang di tepi meja tapi menahan tubuhnya dengan lurus kedua tangannya pada dinding depannya. Di situ tubuhnya meliuk-liuk dengan air muka tegang seperti kesakitan tertolak-tolak oleh sogokan-sogokan batanganku yang keluar masuk cepat dari arah belakangnya, tapi sebenarnya justru sedang tegang serius keenakkan sambil membalas dengan putaran-putaran liang kemaluannya yang menungging. Masing-masing sudah menjelang tiba di batas akhirnya, hanya tinggal menunggu kata sepakat saja.

"Aahs yyohh Wass... Mass sudah mau samppe..."

"Iya Mass... sama-samaa... sshhhah-hhgh.. dduhh... oohgsshh... hrrh.. hheehh.. Wass.. ayyoo.. dduuh Maass... aaddusssh.. hrhh..."

Pembukaan orgasme ini masing-masing saling mengajak dan berikutnya saling bertimpa mengerang mengaduh dan tersentak-sentak ketika secara bersamaan mencapai batas kenikmatan. Jika dihitung secara waktu maka permainan kali ini relatif cepat namun bisa juga membawa Wasti pada kepuasannya. Memang hampir saja terlambat, karena baru saja aku mencabut batang kemaluanku sudah terdengar langkah kaki seseorang akan masuk ke rumah induk. Ternyata memang Ardi yang datang. Wasti sendiri tidak sempat lagi mencuci lubang kemaluannya, buru-buru dia menaikkan celana dalamnya untuk menyumbat cairan mani bekasku yang terasa akan meleleh ke pahanya dan selepas itu dia pura-pura kembali meneruskan mencuci piring yang sempat tertunda itu.


Indahnya belajar di luar negeri

Posted: 30 Nov 2007 12:08 AM CST

"Thomass... I lovvve ittt, babbyy", dia menjerit dan aku tahu kalau dia lagi klimaks karena vaginanya sedang kujilat dan saat itulah saat pertama aku rasakan cairan wanita yang asam-asam pahit tapi nikmat. Setelah dia klimaks, dia bilang dia capai tapi aku nggak peduli karena aku belum selesai dan aku bilang dalam bahasa Mandarin ke dia kalau aku belum puas, saat itulah permainan dilanjutkan. Dia mulai melakukan gaya anjing dan aku mulai memasukkan penisku ke pantatnya yang besar dan menggiurkan dan aku tarik dorong selama beberapa lama. Beberapa lama kemudian, aku bosan dengan gaya itu, dan kusuruh dia untuk berada di bawahku dan aku mulai memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang ternyata sudah basah lagi. Itulah saat-saat kenapa aku sampai sekarang jadi senang sama perempuan Hongkong karena mereka selalu nggak pernah bisa puas sama seperti aku. Saat aku berada di atas Rachel, kujilati payudaranya yang memerah dan dia menjerit perlahan dan mendesah-desah di telingaku dan membuatku tambah bernafsu dan tanpa pikir panjang-panjang lagi, aku mulai menekannya dengan nafsu dan tentunya penisku sudah masuk ke dalam vaginanya yang sangat nikmat itu.




Saat ini, umurku 21 tahun dan aku kuliah di luar negeri, tepatnya di Sydney, aku ambil gelar sarjana di sana. Aku sudah lebih dari 5 tahun di sana sampai saatnya terjadinya cerita ini. Namaku Thomas (nama samaran) dan aku punya teman perempuan yang namanya Rachel (bukan nama asli), dia adalah perempuan yang sering belajar bersama-sama denganku setiap kali aku ada masalah sama pelajaran di kuliah. Suatu malam dia datang ke rumahku, Rachel ini bukan orang Indonesia, dia ini campuran Hongkong dan Jepang, makanya lumayan cakap dan seksi. Tapi aku nggak ada pikiran macam-macam karena aku sadar ujian tengah semester tinggal seminggu lagi. Makanya aku cuekin aja dia, walaupun saat itu sedang belajar, dia lagi pakai baju tembus pandang, sehingga aku bisa lihat dadanya yang lumayan menggiurkan. Saat aku belajar itulah, muncul teman Rachel, namanya Michelle (bukan nama asli juga), dia ini satu kota denganku, aku ini dari Bandung, dia juga satu sekolah samaku cuma aku dulu nggak pernah kenal.

Ok, aku teruskan yach. Saat dia datang itulah insiden ini terjadi, dia membawa Video CD Hongkong yang berbau seks dan mengganggu konsentrasiku belajar, karena aku belum pernah tahu yang namanya seks, makanya aku nonton saja karena nggak ada ruginya. Tetapi, setelah 15 menit menonton, tiba-tiba aku merasakan tangan si Rachel sudah mulai masuk ke celanaku, maklumlah saat itu aku pakai celana pendek ke rumah dia, aku merasakan sesuatu yang aku belum pernah kurasakan sebelumnya. Saat itulah, penisku berdiri dan aku sudah nggak bisa tahan nafsu lagi, makanya saat itu juga kuajak dia masuk ke dalam ruang kamarnya karena saat itu aku belajar di rumahnya dan langsung kukunci dan aku cueki Michelle yang sedang asyik nonton di depan. Di dalam kamar, aku ciuman sama dia lama sekali dan sambil ciuman itu, aku buka semua bajunya termasuk CD-nya dan ternyata aku kaget sekali karena saat aku pegang vaginanya, ternyata sudah basah sekali. Dengan posisiku di bawah dan dia di atas, aku mulai memasukkan penisku ke vaginanya yang merah dan "Blesss...", penisku masuk semua. ooohh.. pertama kalinya aku menikmati saat-saat indah itu, ternyata Rachel sudah pengalaman, setelah aku tanya, ternyata dia pernah melakukan hubungan dengan bekas pacarnya di Hongkong. Rachel menaikkan tubuhnya dan menciumi payudaranya yang lumayan besar (sekitar 32-an gitu) dan mulai menjambak rambutku yang pendek. Saat itu aku baru menikmati vagina seorang wanita, setelah 5 menit kemudian, aku mulai ganti posisi, aku mulai menjilati vaginanya dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap cairan yang sudah keluar, tiba tiba dia berteriak saat kuhisap vaginanya keras-keras.

"Thomass... I lovvve ittt, babbyy", dia menjerit dan aku tahu kalau dia lagi klimaks karena vaginanya sedang kujilat dan saat itulah saat pertama aku rasakan cairan wanita yang asam-asam pahit tapi nikmat. Setelah dia klimaks, dia bilang dia capai tapi aku nggak peduli karena aku belum selesai dan aku bilang dalam bahasa Mandarin ke dia kalau aku belum puas, saat itulah permainan dilanjutkan. Dia mulai melakukan gaya anjing dan aku mulai memasukkan penisku ke pantatnya yang besar dan menggiurkan dan aku tarik dorong selama beberapa lama. Beberapa lama kemudian, aku bosan dengan gaya itu, dan kusuruh dia untuk berada di bawahku dan aku mulai memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang ternyata sudah basah lagi. Itulah saat-saat kenapa aku sampai sekarang jadi senang sama perempuan Hongkong karena mereka selalu nggak pernah bisa puas sama seperti aku. Saat aku berada di atas Rachel, kujilati payudaranya yang memerah dan dia menjerit perlahan dan mendesah-desah di telingaku dan membuatku tambah bernafsu dan tanpa pikir panjang-panjang lagi, aku mulai menekannya dengan nafsu dan tentunya penisku sudah masuk ke dalam vaginanya yang sangat nikmat itu. "Ooohh nikmat sekali rasanya", dia juga menjerit "Ssshh", seperti ular yang sedang mendekati mangsanya.

10 menit kemudian, dia memelukku kuat-kuat dan aku bingung tapi aku juga mengalami perasaan yang aneh karena sepertinya ada yang mau keluar dari kemaluanku, "Thomass... aku mauuu keluaarrr" (aku terjemahkan kata-katanya ke dalam bahasa Indonesia karena saat itu dia bicara bahasa Mandarin ke aku) dan aku juga menjawabnya dengan bahasa yang sama "Rachell... kayaknya gueee jugaa maauu..." nggak sampai 2 atau 3 menit, badanku dan Rachel sama-sama bergetar hebat dan aku merasakan ada yang keluar dari penisku ke dalam vaginanya dan aku juga merasa ada yang membasahi penisku dengan amat sangat. Setelah itu, Rachel terdiam karena kelelahan dan aku mulai mencium-ciumi bibirnya yang kecil dan mukanya yang sedikit mirip dengan artis Hongkong Charlie Yeung. Aku mulai membelai-belai rambut panjangnya dan karena dia terlalu kelelahan dia tertidur pulas. Karena aku nggak mau mengganggu dia, aku keluar dari kamarnya dan kulihat di ruang TV, Michelle sedang mengusap-usap clitorisnya sambil menonton Video CD tadi dan aku hampiri dia dan dia jadi kaget, "Ngapain loe..." dia berbicara kepadaku. "Si Rachel loe apain tuch... teriakannya sampai kemari." Terus aku berkata ke dia, "Michelle.. kemari dech aku mau bilang sesuatu ke dia!" dia mengikutiku ke sudut ruangan dan dia bersandar di dekat tembok karena dia mau tahu aku mau ngapain.

"Ada apa si Thom?" tanpa banyak omong, aku mulai mendekati vaginanya yang saat itu memang dia nggak pakai CD, cuma celana pendek saja dan aku bilang ke dia, "Loe nggak pakai CD?" Terus dia bilang, "Lagi kucuci semua makanya aku nggak pakai." Ada-ada saja pikirku tapi ini merupakan suatu kesempatan. Setelah dia berbicara, aku mengelus sekitar vaginanya dengan penuh kelembutan, terang saja dia mendesah hebat "Thomm... ooohh... kamu benar-benar hebattt... asal loe tahu aja sebenarnya aku suka sama loe sejak dulu.. cuma loe lengket sama Rachel aja, makanya aku nggak berani dekat dekat... oohh." Saat inilah kumulai membuka celanaku dan dia mulai memegang penisku dan mengkocok-kocok dengan hebatnya dan membuat penisku bangun lagi dari tidurnya dan tanpa pikir panjang, di tempat itu juga, aku tabrak vaginanya dengan penisku yang sudah tegang dan kugoyang-goyang vaginanya dengan perlahan-lahan. Dia memang menjerit pertamanya karena menahan rasa sakit dan saat kulihat ke bawah, lantai penuh dengan darah perawannya dan dia langsung ngomong sama aku, "Sebagai rasa cintaku sama kamu, aku persembahkan keperawananku buat kamu... kamu bisa lihat ke lantai sebagai bukti." Aku nggak berbicara apa-apa cuma bilang "I love you" saja sebelum kucium mulutnya. Setelah beberapa lama, rupanya dia nggak merasa sakit lagi dan berubah menjadi rasa nikmat "Ahh... ooohh..." kami berteriak bersahut-sahutan karena sedang sama-sama merasakan kenikmatan ini.

5 menit kemudian aku mulai menghisap vaginanya dan clitorisnya sampai dia benar-benar mau klimaks dan setelah dia bilang dia mau klimaks, aku merubah posisi dan kusuruh dia tiduran di lantai dan setelah dia tidur di lantai, kumasukan penisku ke dalam vaginanya dan blesss... dia sekarang nggak merasa sakit rupanya. Setelah beberapa lama, aku sepertinya mau keluar dan karena aku nggak bisa tahan kenikmatan ini makanya aku langsung saja, croottt... crottt... sampai beberapa kali dan setelah aku selesai Michelle gantian memelukku dengan eratnya dan dia berteriak "Masss... gueee keeelurrr ooohh", dia bergetar hebat dan setelah itu dia mencium bibirku dan melumat habis bibirku dan setelah dia kecapaian dia juga ketiduran. Itulah ceritku pengalaman pertama di Sydney yang membawa malapetaka. Karena setelah peristiwa itu, Rachel dan Michelle hamil karenaku. Orang tuaku sedih sekali sampai nggak mau mengakui aku sebagai anaknya tapi aku juga nggak punya pilihan lain, karena aku juga didesak oleh Michelle dan Rachel untuk bertanggung jawab. Walaupun aku malu dan terpaksa putus sekolah, aku akhirnya menikah dengan Rachel dan Michelle di sebuah gereja di Sydney dan kami bertiga pindah ke kota kecil di dekat Sydney dan aku nggak bisa kasih tahu nama kota itu. Sekarang aku sudah punya 1 anak perempuan dari Rachel yang cantik dan juga anak perempuan dari Michelle yang lumayan cantik juga. Itulah cerita tragediku yang lumayan hitam. Bye... maafkan aku semuanya.


Disebuah bar disudut kota

Posted: 30 Nov 2007 12:06 AM CST

Selly, wanita itu, sudah dijanjikan akan dijemput oleh pacarnya sekitar pukul tujuh, dan pacarnya mengatakan agar ia berpakaian seksi dan sensual. Bagi Selly sendiri, itu bukan masalah. Ia menghabiskan sepanjang sore berbelanja dan berdandan. Ia kemudian mengenakan gaun malam hitam. Bagian dadanya lumayan rendah membuat belahan dadanya terlihat, tapi tidak terlalu banyak. Buah dada Selly tidak besar, tapi padat dan bulat, dan tetap mengacung walaupun ia tidak mengenakan BH sekalipun. Pantatnya juga terlihat bulat di tutupi oleh gaun malam itu. Selly terlihat tinggi karena di kakinya ia memakai sepatu dengan hak setinggi sepuluh senti. Panjang gaun malam itu hanya sampai sepuluh senti di atas lutut Selly, membuat kaki Selly yang panjang terlihat jelas, halus, putih mulus. Karena ketatnya gaun yang ia pakai, Selly harus berjalan perlahan, masuk ke dalam bar itu. Rambut Selly yang berwarna kecoklatan jatuh tergerai di punggungnya. Secara keseluruhan penampilan Selly membuat bar itu semakin terasa panas.




Bar itu terletak di sudut kota, bagian paling gelap dari Jakarta. Bar itu bisa buka mulai dari pagi hingga pagi lagi, tanpa pernah kelihatan tutup. Hampir seluruh pengunjungnya adalah laki-laki pemabuk, preman, pembuat onar. Wanita, sangat jarang, atau bisa dikatakan tidak pernah datang atau mengenali tempat itu. Mulai dari pukul 12 siang, sejumlah preman sudah mulai minum-minum, membuat pengunjung yang peminum biasa cepat-cepat pergi meninggalkan bar itu. Empat dari mereka bermain bola sodok dan yang lima lainnya sedang berbicara dengan Rony. Sekitar pukul tujuh malam seorang sosok wanita masuk. Ia sama sekali tidak cocok dengan tempat itu.

Selly, wanita itu, sudah dijanjikan akan dijemput oleh pacarnya sekitar pukul tujuh, dan pacarnya mengatakan agar ia berpakaian seksi dan sensual. Bagi Selly sendiri, itu bukan masalah. Ia menghabiskan sepanjang sore berbelanja dan berdandan. Ia kemudian mengenakan gaun malam hitam. Bagian dadanya lumayan rendah membuat belahan dadanya terlihat, tapi tidak terlalu banyak. Buah dada Selly tidak besar, tapi padat dan bulat, dan tetap mengacung walaupun ia tidak mengenakan BH sekalipun. Pantatnya juga terlihat bulat di tutupi oleh gaun malam itu. Selly terlihat tinggi karena di kakinya ia memakai sepatu dengan hak setinggi sepuluh senti. Panjang gaun malam itu hanya sampai sepuluh senti di atas lutut Selly, membuat kaki Selly yang panjang terlihat jelas, halus, putih mulus. Karena ketatnya gaun yang ia pakai, Selly harus berjalan perlahan, masuk ke dalam bar itu. Rambut Selly yang berwarna kecoklatan jatuh tergerai di punggungnya. Secara keseluruhan penampilan Selly membuat bar itu semakin terasa panas.

Pacarnya bilang bahwa ia akan menjemput Selly untuk makan malam, tapi sekarang Selly sendiri tidak yakin apakah memang tempat ini yang dimaksudkan, setelah matanya melihat keadaan di sekelilingnya. Ia sendiri harus bertanya beberapa kali untuk bisa sampai ke tempat ini. Selly yang tidak melihat teman kencannya, memutuskan untuk memesan soft drink dan menunggu sebentar. Selly menghampiri tempat duduk kosong di sebelah meja bola sodok, dan duduk di situ berharap teman kencannya akan segera datang dan membawanya pergi dari situ.

Keempat orang yang sedang bermain bola sodok memandanginya sejenak dan mengenali Selly, mereka berkata bahwa mereka adalah fans berat Selly dan mengajaknya untuk ikut dalam permainan bola sodok mereka. Dengan sopan Selly mengucapkan terima kasih dan menolak tawaran itu, dan mengatakan bahwa ia sedang menunggu temannya.

Masing-masing dari keempat orang itu menatap Selly untuk beberapa saat, dan Selly sendiri merasa merinding ketika matanya menatap mata mereka. Mereka menjilati bibir mereka setiap kali mata Selly beradu pandang dengan mereka. Setelah minum-minum beberapa gelas kemudian, suasana semakin menakutkan bagi Selly. Mereka berdiri di sebelah Selly sambil mengusapi selangkangan mereka menunggu giliran untuk menyodok bola. Mereka mulai melontarkan kata-kata jorok seakan-akan Selly tidak ada di situ.
"Hei Non, gimana kalo lo buka kaki lo, jadi kita bener-bener punya lubang beneran buat disodok!" seseorang dari mereka berkata.
"Gimana kalo kita nyanyi sama-sama di ranjang Non?" yang lain menimpali.

Selly berusaha mengacuhkan mereka, tapi mereka terus melontarkan kalimat-kalimat jorok itu. Selly memutuskan untuk menunggu teman kencannya di luar sehingga ia tidak harus melihat orang-orang itu. Tapi seseorang segera mendekatinya dan menempatkan tangannya di bahu Selly serta mendorongnya duduk kembali sementara ia sendiri duduk di sebelah Selly.
"Taruhan yuk?!, Kalo gue bisa masukin bola di sudut itu, lo kulum punya gue di mulut lo!" katanya keras, sambil kemudian menjilat dan mencium telinga Selly.

Selly hanya bisa memandangi dia dengan mulut terbuka tak percaya. Ia sama sekali tidak percaya mendengar perkataan laki-laki itu. Seumur hidupnya belum pernah ada orang yang berbicara sedemikian vulgar kepadanya. Ketika Selly tidak mengatakan apa-apa, orang itu memasukkan tangannya ke dalam gaun Selly, merabai pahanya dan berusaha membuka kaki Selly. Selly meronta dan memandang sekelilingnya dengan tatapan memelas mohon pertolongan. Orang yang lain kemudian berteriak bahwa sekarang giliran laki-laki itu untuk main. Ketika laki-laki itu bangkit, Selly merasa lega, tapi tidak lama. Laki-laki lain menggantikan orang itu dan dua orang lainnya menghadangnya di depan. Laki-laki yang bertaruh tadi menyodok bolanya. Ia kemudian melemparkan tongkatnya ke atas meja, memandang Selly sambil menyeringai, dan perlahan berjalan mendekati Selly.
"Lo utang satu kali sama gue!" katanya singkat.

Rony segera berlari mendekati pintu dan menguncinya. Dua orang menarik Selly yang meronta dan menjerit, dari atas tempat duduknya. Kedua laki-laki itu berkata kalau Selly bisa berteriak sekuat tenaga, tapi tetap akan melayani mereka apapun yang terjadi! Wajah Selly memutih pucat ketakutan, dan memohon pada mereka untuk melepaskan dirinya. Selly berkata, dirinya tidak membawa banyak uang, tapi mereka bisa mengambil kartu kredit dan semua uang yang ada di dompetnya kalau mereka melepaskan dirinya. Laki-laki yang menang taruhan tadi hanya tertawa dan menurunkan ritsluiting celananya.
"Gue nggak butuh duit lo! Lo bisa simpen duit lo! Tapi yang pasti lo nggak bakalan bisa nyimpen badan lo cuma buat lo sendiri!" katanya.

Selly akan segera diperkosa beramai-ramai. Selly hanya mempunyai dua pilihan. Melawan dan berharap bisa melarikan diri, atau berusaha rileks dan berdoa mereka tidak melukai dirinya. Ketika Selly melihat sepuluh orang mengeliling dirinya, Selly menyadari ia harus menyerahkan dirinya.

Tiba-tiba, Selly dipaksa untuk berlutut. Rony tadi memegang rambut dan kepala Selly hingga tidak dapat bergerak. Laki-laki yang bertaruh tadi maju mendekati Selly. Ketika ia mengeluarkan penisnya, ia memerintahkan Selly untuk segera mengulumnya dan jika ia berani mengigit penisnya, ia akan merontokan gigi Selly dan melanjutkan memperkosa mulut Selly. Rony tadi mendorong kepala Selly ke depan. Laki-laki di depan Selly memajukan penisnya mendekati muka Selly. Ketika penisnya sudah tegang dan keras, ia menjepit hidung Selly untuk membuat Selly membuka mulutnya.

Ketika Selly kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, ia mendorong penisnya ke dalam mulut Selly. Laki-laki itu berhenti begitu bibir Selly telah melingkar di penisnya dan membiarkan Rony di belakang Selly membantunya. Rony tadi mulai mendorong dan menarik kepala Selly. Kepala Selly bergerak maju dan mundur tanpa henti, terus menerus. Lipstik Selly yang berwarna merah menempel di batang penis yang ada di mulutnya. Dan ketika kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Selly tersedak, tapi Rony tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Selly. Selly dipegangi hingga tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya, sementara mereka berbicara satu sama lain.
"Lumayan! Anget dan empuk! Tapi gue pikir dia musti banyak berlatih soal beginian." Kata laki-laki di depan Selly.
"Mungkin dia belon pernah pake mulutnya? Gimana? Lo udah pernah pake mulut lo Selly sayang?" tanya yang lain.
"Tentu aja dia pernah! Mulutnya nggak dipake buat makan doang tau?! Liat aja tuh bibir, punya lo kayak dijepit sama tuh bibir kan?" kata Rony sambil melihat dari bahu Selly.

Laki-laki pertama tadi lalu mendorong Rony untuk menjauh. Tangannya kemudian menjambak rambut Selly dan mulai menggerakannya dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Selly. Semua orang dapat mendengar suara dahi Selly yang menumbuk perut orang itu, dan erangan Selly yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya.

Ketika laki-laki itu akan mengalami orgasem ia mendorong kepala Selly hingga hidung Selly terbenam di dalam rambut kemaluan orang itu tanpa bisa menarik nafas. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Selly. Dan dari sudut mulut Selly sperma menyemprot keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Selly. Kemudian orang itu mulai bergerak lagi tanpa henti. Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Selly ke atas gaun hitam yang dikenakan Selly. Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Selly, Selly megap-megap menarik nafas dan terbatuk-batuk memuntahkan sperma yang masih ada di tenggorokannya.

Dua orang kemudian memegangi Selly sementara yang lain mulai melepaskan pakaian mereka. Selly sendiri tak berdaya untuk melarikan diri, setelah baru saja ia mengalami shock karena sperma yang disemburkan masuk ke dalam mulutnya, tapi mereka tetap memeganginya.

Ketika semuanya telah telanjang bulat, ia diangkat dan diletakan di atas meja bola sodok dan langsung dipegangi oleh empat orang laki-laki, setiap orang memegangi tangan dan kakinya. Kaki Selly terbuka lebar dan tubuhnya telentang, lampu di atas kepala Selly membuat matanya terpejam karena silau. Rony mendekat dan naik ke atas meja.

Perlahan ia menggosokan penisnya yang besar ke kaki Selly. Yang lain hanya bisa memandang iri pada penis Rony yang panjangnya hingga 25 senti dan selalu ia yang mendapat kesempatan pertama. Rony memerintahkan orang di dekat kepala Selly untuk mengangkat kepala Selly hingga Selly bisa melihat ketika penis Rony mulai masuk ke vagina Selly. Orang yang memegangi kaki Selly berusaha membuka kaki Selly lebih lebar, tapi terhalang oleh gaun yang dikenakan Selly. Rony langsung menarik gaun tersebut robek hingga pinggang Selly.

Orang-orang berseru kagum ketika melihat apa yang dikenakan Selly di bawah gaunnya. Ia mengenakan stocking warna hitam dengan celana dalam sutra berenda yang mirip dengan bikini. Orang yang memegang tangan Selly lalu menarik gaun bagian atas, terlihatlah BH warna hitam yang menutupi separuh dari buah dada Selly. Puting susu Selly tampak mencuat dari balik BH yang tipis dan berenda itu.

"Gila! Lo pake pakaian kayak gini dan lo musti dipaksa buat ngulum punya dia! Kata Rony.
"Mungkin lo nggak suka sama kita semua ya? Lo anggep kita nggak pantes lo layanin, gitu? Jadi lo pikir cuma Roy yang berhak nidurin lo? Lo dandan kayak gini biar Roy napsu sama lo kan? Asal lo tau aja Selly, buat sementara waktu Roy atau siapapun juga nggak bisa nidurin lo! Karena mereka semua musti nunggu lo selesai ngelayanin kita semua di sini! Sekarang kita liat seberapa hotnya lo!".

Selly terpana, menyadari nama teman kencannya adalah Roy! Roy yang mengajak dirinya makan malam! Roy yang meminta agar Selly berpakaian seksi! Roy yang memintanya agar menunggu di bar ini Roy telah menjual tubuh Selly untuk para preman ini!
Setelah menarik lepas celana dalam dan BH Selly, Rony menyuruh orang-orang yang memegangi Selly melepaskannya. Selly berusaha meronta dan menendang Rony, tapi ia kalah cepat. Rony langsung memegang kedua pergelangan tangan Selly yang ramping dengan satu tangan dan menekannya di atas meja dekat kepala Selly, sementara ia menempatkan pinggulnya diantara kedua kaki Selly. Rony kemudian berusaha membuka kaki Selly dengan kedua lututnya dan mengarahkan penisnya yang sudah keras ke vagina Selly dengan bantuan tangannya yang masih bebas. Dengan satu kali dorongan, Rony dengan keras memasuki vagina Selly. Selly menjerit sekeras-kerasnya, dan makin meronta-ronta, tanpa daya menghentikan Rony memperkosa dirinya. Rony sendiri menikmati sekali segala jeritan dan rontaan Selly. Ia menyeringai setiap kali Selly menjerit kesakitan.

Ketika Rony sedang memperkosanya, laki-laki lainnya ikut menyakiti Selly dengan mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh tubuh Selly. Mereka mulai dengan memainkan buah dada Selly dan mengisapi puting susunya, tangan-tangan mereka juga menarik-narik dan menjepit puting susunya. Seseorang menutup mulut Selly dengan tangannya sehingga seluruh jeritan Selly hanya berupa erangan tak jelas. Kaki Selly diangakat tinggi-tinggi dari atas meja sementara tangan-tangan merabainya, menikmati halusnya kaki Selly. Seseorang berusaha membuka belahan pantat Selly dan sesuatu yang basah dimasukkan ke liang duburnya. Dua buah penis menampari wajah Selly, mengenai pipi dan matanya.

Beberapa menit kemudian jeritan Selly hanya tinggal erangan dan rintihan tapi Rony memperkosa Selly tanpa henti, terus bergerak makin cepat. Setelah lama kemudian, Rony menarik penisnya hingga hampir terlepas dari jepitan vagina Selly, ia mengerang dan maju mendorong ke depan sekuat tenaga. Kepala Selly terdongak dan jeritan melengking terdengar, melolong panjang keluar dari mulut Selly yang masih tertutup oleh tangan. Rony mengejang beberapa saat dan bergerak beberapa kali, dan penisnya menyemburkan sperma ke dalam vagina Selly. Sperma, bercampur dengan darah, mulai mengalir keluar dari vagina Selly. Sperma Rony menyembur tanpa henti, hingga mengalir dan tergenang di atas meja bola sodok. Laki-laki yang lain kemudian melepaskan pegangan mereka pada diri Selly dan bertengkar mengenai giliran siapa selanjutnya.

Selly hanya bisa berbaring tak bergerak ditindih oleh Rony, kaki dan tangannya masih terbuka lebar, ia menangis histeris. Satu-satunya yang telah Selly jaga, mulai dari SMA, universitas, hingga kini, adalah keperawanannya. Selly ingin menyimpan keperawanannya itu untuk malam pertama di hari pernikahannya. Ia telah diperkosa dan keperawanannya telah hilang.
"Gila! Dia masih perawan! Gue taruhan si Roy pasti nggak tau soal ini! Artis kayak lo masih ada yang perawan juga ya Selly, gue pikir lo udah kasihin ke produser lo!" kata Rony.

Ia menatap Selly yang masih terus menangis.
"Udah dong Selly, jangan nangis terus! Perawan lo udah ilang sekarang, nasi udah jadi bubur! Lo mustinya bangga ama diri lo, soalnya punya lo masih sempit banget! Pokoknya paling sempit dari semua yang udah pernah gue pake! Lagipula kita baru aja mulai!" katanya pada Selly.

Rony kemudian menarik penisnya keluar. Semua orang melihat bagaimana vagina Selly menjepit penis itu ketika penis itu perlahan keluar dari vagina Selly. Seorang laki-laki segera naik ke atas meja setelah Rony turun. Ia tidak terlalu terburu-buru. Sekarang, Selly dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka dan penis itu sedikit demi sedikit masuk ke dalamnya. Kesakitan kembali tercermin di wajah Selly, ketika ia merasa tubunnya seperti dirobek oleh penis yang masuk.
"Lo jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, masih ada yang laen! Cepet atau lambat lo pasti temuin yang lo suka!" bentak orang itu.

Perkataan orang itu membuat apa yang telah ia takutkan selama ini menjadi nyata. Selly akan diperkosa bergantian oleh seluruh orang yang ada di bar itu. Dan ia tidak punya pilihan sama sekali. Selly hanya bisa menyerahkan dirinya dan melayani mereka hingga selesai. Sekarang Selly hanya berharap ia bisa keluar dari situ hidup-hidup, dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami.

Selly kemudian berusaha berpikir bagaimana membuat semua siksaan ini semakin cepat berakhir. Ia berusaha mengingat adegan-adegan film-film erotis yang pernah dilihatnya. Ia berusaha mengingat apa yang harus dilakukan untuk mendorong seorang pria cepat mencapai orgasme.

Selly kemudian melingkarkan tangannya ke leher laki-laki yang ada di atas tubuhnya dan menariknya mendekat, lalu menciumi bibir laki-laki itu. Selly lalu melingkarkan kakinya ke tubuh laki-laki itu dan menggosokan kakinya yang terbungkus stocking ke pinggul dan pantatnya. Walaupun rasa sakit masih terus menyerang kewanitaan Selly, Selly terus saja melingkarkan dan mengunci kakinya ke pantat dan menariknya hingga penis laki-laki itu masuk lebih dalam ke dalam vagina Selly, dibarengi oleh Selly dengan mengangkat pinggulnya. Sebelah tangan Selly mengusapi rambut laki-laki itu sementara yang lainnya merabai pundak dan punggungnya. Ia menciumi dan mengulum lidah laki-laki itu sembari mengeluarkan erangan seakan-akan ia menikmati semuanya. Selly berusaha mengingat semua adegan erotis yang pernah dilihatnya, berusaha membuat laki-laki yang sedang memperkosanya segera mengalami orgasme.

Berhasil! Ia menyemburkan spermanya ke dalam vagina Selly yang sudah terisi oleh sperma Rony. Lalu dengan segera orang lain menggantikan laki-laki itu, kemudian laki-laki lain menyusul, setelah itu temannya juga mulai memperkosa Selly. Selly berusaha membuat mereka orgasme secepat mungkin, tapi akhirnya Selly tidak bisa lagi menahan semua itu. Ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan ia sudah kehabisan tenaga melayani laki-laki itu. Selly lalu menangis dan memohon pada semuanya agar melepaskan dirinya. Laki-laki yang sedang menindihnya meremas buah dada Selly keras-keras hingga Selly menjerit kesakitan.
"Jangan berisik! Lo belon ngelayanin temen-temen gue! Masih ada lima orang lagi!" bentaknya pada Selly.

Tiba-tiba orang itu menarik penisnya keluar dan merangkak ke dada Selly. Selly sudah sangat ketakutan sekarang hingga ia hanya bisa berbaring dengan mata terpejam erat, menunggu orang selanjutnya yang akan mengambil giliran memperkosanya. Ia sama sekali tidak menyadari orang yang baru saja memperkosanya mengarahkan penisnya ke muka Selly. Dan tepat sebelum orang itu orgasme Selly membuka matanya. Sperma segera menyembur ke seluruh wajah Selly. Seseorang memegangi kepala Selly, hingga seluruh sperma itu keluar menyembur dari penis itu. Ketika orang itu puas ia menarik rambut Selly dan menamparkan penisnya ke wajah Selly.
"satu-satunya yang boleh lo mohon cuma ini tau? Lo sendiri yang masuk ke sini pake pakaian kayak gini dan lo mohon kita berhenti? Lo bercanda apa? Lo musti ngelayanin kita sampe kita nggak bisa bangun lagi! Ngerti" Orang itu membentak Selly.

Lima orang terakhir kemudian mengambil giliran masing-masing dan memperlakukan Selly sama dengan orang sebelumnya. Ketika hampir orgasme, mereka menarik penisnya keluar, merangkak di atas dada Selly, dan memyemprotkan sperma mereka ke seluruh wajah dan buah dada Selly kemudian menarik rambut Selly untuk membersihkan penis mereka. Dan ketika orang yang terakhir selesai Selly berbaring hampir tak sadarkan diri.

Wajah, buah dada, dan puting susu Selly seluruhnya dilumuri sperma. Sperma itu mengalir turun dari sisi wajahnya, masuk ke telinga dan leher Selly. Selly tidak bisa membuka matanya karena semuanya tertutup oleh sperma. Selly harus bernafas melalui mulutnya karena sperma sudah masuk ke hidungnya. Rambut Selly yang kecoklatan terlihat kusut karena terkena sperma yang mengering di rambutnya. Ketika orang-orang itu beristirahat sejenak, Selly hanya berbaring di atas meja bola sodok, kakinya terbuka lebar dan sperma mengalir keluar dari vaginanya, menunggu orang selanjutnya memperkosa dirinya. Vagina Selly tampak memar, memerah, dan terasa sakit karena baru saja dimasuki sepuluh orang bergantian tanpa henti.

Dua orang menarik tubuh Selly turun dari meja bola sodok itu dan menyeretnya ke kamar mandi. Mereka kemudian membersihkan tubuh Selly dengan kertas tisu yang kasar dari sperma yang menempel. Dan ketika tubuhnya diseret keluar lagi, Selly melihat meja bola sodok tadi telah dipindahkan ke pinggir ruangan. Di tengah ruangan itu sekarang tergelar matras kusam dan delapan laki-laki telanjang bulat berdiri mengelilinginya. Selly didorong ke tengah-tengah lingkarang orang itu, hingga ia terjatuh ke atas matras, tubuhnya tersungkur tak berdaya untuk mengangkat tubuhnya. Selly merasakan tangan-tangan di seluruh tubuhnya mulai menarik, mendoorng dan mengangkat tubuhnya. Ketika Selly membuka matanya ia melihat seseorang telah berbaring telentang di bawah tubuhnya.

Orang itu adalah si Rony, dan penisnya sudah tegak berdiri. Kedua bibir vagina Selly kemudian dibuka oleh dua pasang jari-jari ketika perlahan tubuh Selly diturunkan mengarah ke penis Rony. Denga sisa-sisa sperma yang ada, penis itu dapat lebih mudah masuk ke dalam vagina Selly. Dan Selly sendiri hanya mengerang, merasakan kembali sakit walaupun tidak lagi menyengat ketika pertama kali ia diperkosa oleh Rony tadi. Seseorang kemudian menarik rambutnya, dan sebuah penis lain mendekati mulutnya. Selly dengan perlahan membuka mulutnya, berharap mereka tidak akan menyakitinya jika ia menuruti kemauan mereka. Penis itu masuk hingga ke tenggorokan Selly dan berhenti tak bergerak. Selanjutnya Selly merasakan sebuah tangan mendorong tubuhnya hingga turun. Kemudian tangan-tangan lain mulai membuka belahan pantatnya. Selly panik dan berusaha merangkak menjauhi tangan-tangan itu. Dengan merangkak Selly membuat penis di mulutnya masuk makin dalam ke tenggorokannya.
"Hei, lo suka juga akhirnya! Kalo gitu ayo mulai aja sayang!" kata orang yang memasukan penisnya ke mulut Selly sambil tersenyum.

Ia mulai menggerakan pinggulnya secepat dan sekuat tenaga. Tubuh Selly yang terdorong mundur karena gerakan orang itu, disambut dengan sebuah penis lain di liang anusnya. Sekarang rasa sakit yang perlahan mulai hilang dari tubuh Selly, kembali menyengat seluruh tubuhnya. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, sakit yang tidak pernah dirasakan Selly sebelumnya. Pikiran Selly menjerit-jerit kesakitan, sedangkan mulutnya hanya bisa mengeluarkan suara tidak jelas diredam oleh penis yang keluar masuk. Rasa sakit itu makin menjadi-jadi, ketika ketiga orang itu mulai bergerak berirama. Tubuh Selly seperti terkoyak-koyak ketika penis-penis itu bergantian keluar masuk di dalam vagina dan anusnya. Dua orang kemudian mendekat memegangi tubuh Selly hingga ia tidak terjatuh ke samping. Semua lubang di tubuh Selly, mulut, vagina dan anus dipergunakan oleh mereka untuk memuaskan nafsu mereka secara bersamaan. Kemudian dua orang terkahir tadi menarik tangan Selly, melingkarkan jari-jari Selly di penis mereka dan menyuruhnya untuk mulai mengocok penis-penis mereka, sementara dua orang lainnya berlutut di samping Selly, dan menarik buah dadanya untuk kemudian digosokan pada penis mereka.

Sekarang Selly sudah dalam keadaan berlutut, tubuhnya bergoyang maju mundur. Tujuh dari sepuluh orang itu terus-menerus menggunakan tubuh Selly untuk membuat mereka puas. Tidak seorang pun peduli dan melihat bahwa Selly sama sekali tidak bisa bergerak. Semuanya tampak sangat bernafsu memperoleh bagian tubuh Selly.

Setelah beberapa menit rasa sakit itu mulai bisa ditekan oleh Selly. Selly terus memejamkan matanya karena ia tidak ingin melihat bagaiman orang-orang itu mempergunakan tubuhnya untuk memuaskan mereka. Ia hanya berharap semua itu segera selesai, karena dirinya hampir tidak bisa lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Orang di anus Selly lebih dulu orgasme. Ketika ia selesai dan menarik penisnya keluar, orang lain maju dan dengan mempergunakan sperma orang yang pertama, ia melumasi penisnya dan memasukannya ke anus Selly. Lalu orang di mulutnya menyemburkan sperma, membuat Selly tersedak tak bisa bernafas, berusaha sekuat tenaga menelan sperma orang itu. Lalu penis itu ditarik dan digantikan oleh penis lain, yang kali ini lebih besar. Selly berusaha membuka mulutnya, tapi orang itu tidak sabar dan langsung mendorong penisnya masuk, dan mulai bergerak. Ia mendorong penisnya dalam-dalam dan tidak menariknya keluar, terus menahannya di dalam tenggorokan Selly. Selly kemudian merasakan getaran dari tubuh Rony di bawahnya dan cairan hangat mengalir ke dalam vaginanya, segera setelah itu orang lain menggantikan posisi Rony tadi.

Orang-orang tadi bergantian memperkosa Selly di seluruh lubang yang ada, ia terus menelan semua sperma yang disemburkan di dalam mulutnya. Dua orang di depan wajahnya mengocok penisnya masing-masing dan mengarahkan penisnya ke wajah Selly. Ketika Selly melihat ke bawah, orang di bawah tubuhnya sedang menatap wajahnya dan kepalanya diganjal oleh kedua tangannya. Tak lama kemudian sperma kembali masuk ke dalam vagina Selly, dua detik kemudian sperma menyembur ke anusnya.

Penis lain kembali masuk ke vagina Selly. Selly kembali memejamkan matanya, ia sekarang hanya bisa mengeluarkan suara erangan, yang semakin tinggi ketika penis lain masuk ke anusnya. Ketika ia membuka matanya lagi, Selly melihat sebuah penis diarahkan ke wajahnya. Kepala penisnya berwarna ungu bulat, dan beberapa detik kemudian sperma menyembur menghantam wajahnya mengalir masuk ke mulutnya. Orang tubuh kemudian minggir dan sebuah penis lain maju mendekat.

Sepanjang malam Selly terus melanyani sepuluh orang itu hingga semuanya mendapat bagian menggunakan mulut, vagina dan anusnya paling sedikit satu kali. Dan ketika orang-orang tersebut puas dan menjauh dari tubuh Selly, tubuh Selly tetap tak bergeming dalam posisi merangkak, Selly lalu mengangkat wajahnya berusaha melihat orang-orang yang mengelilinginya, setelah itu semuanya gelap dan tubuhnya jatuh tersungkur tak sadarkan diri.


Akibat dari sifat sombongku..

Posted: 29 Nov 2007 10:54 AM CST

Setelah itu Beny Bangkit kembali.Tiba tiba saya merasakan ada sesuatu yang hangat dan tumpul telah bersentuhan dengan vaginaku.
Dan tanpa ancang ancang telah ditekan Beny dengan lembut. Pertama tama seakan mental.
Dan kemudian diulanginya beberapa kali sambil berkata, "Ra, kuatkan dirimu yah."
Dengan kekuatan agak keras dia menghujamnya. Dan akhirnya masuk juga sekitar 1/2 dari kemaluan Beny. Lantas saya berteriak keras, " Sakitt.... AWWwwww...

Adoohh,.. sakitttttttt....."

Dengan cepat dia menciumku lembut dan mulai menggoyangnya secara perlahan selama 2 menit. Dikeluarkan dan dimasukkannya batang kemaluannya dengan gerakan dan tempo yang sangat pelan. Lama kelamaan kemaluan ku terasa sudah basah.Kemaluannya sudah terbiasa dengan rapatnya vagina ku.
Dia terus menggenjot, kali ini kecepatannya sudah mulai naik.
Saya yang sedang berbaring kemudian melihat batang kemaluannya yang mulai keluar masuk dengan bebas. Besar juga pikirku, mungkin sekitar 20 cm.

" Ahh... Ahh... Ahh.. " Desahku, seakan sedang menikmati seks, padahal saya
sedang diperkosa. Saya sendiri juga tidak tahu perasaan semacam begini.




Saya ingin menceritakan sebuah tragedi yang pernah terjadi pada diriku,ini
adalah cerita yang mutlak asli,disebabkan karena kebiadaban teman sendiri,
serta kesombongan dan sifatku.

Pada tahun 2004 lalu, saya tercatat sebagai mahasiswi dari sebuah perguruan
swasta di Medan.Perkenalkanlah, namaku Ira, 22 tahun, tinggi 160cm, berkulit
yang sangat putih, dan banyak orang baik cewe ataupun cowo mengatakan
kecantikan saya sangat khas dengan pinggul langsing , dan dada yang
proporsional dan tidak terlalu besar juga tidak kecil, saat itu saya juga
adalah mahasiswi tingkat IV.

Saya sendiri adalah wanita keturunan tionghoa yang telah bermukim di Medan
semenjak kakekku pertama kali ke Indonesia. Saya tinggal di sebuah perumahan yang elit di Medan sendiri, karena ayah ibuku adalah pengusaha yang kebanyakan menetap di Surabaya.
Semua temen kuliahku ( terutama pria ) selalu mengagumiku, mereka kebanyakan mengatakan kalau seandainya saya bisa menjadi pacar mereka , maka sudah tidak ada lagi penyesalan di dunia ini.

Namun secantik cantiknya diriku, tetapi ada yang tidak sempurna, yaitu sifatku yang sangat egois dan cenderung mempermainkan pria yang mengejarku.Saya sangat suka sekali menggoda pria dan seakan memberi lampu hijau kepada mereka yang mendekatiku.Setelah benar benar terpikat, acap kali saya ini menelantarkan mereka, maka inilah yang terakhir membuat tragedi malam jahanam itu terjadi.

Mengingat hal diatas, sebenarnya saya sudah mempermainkan lebih dari 50 pria di kampusku yang berniat memacariku, namun ketika saya meninggalkan mereka begitu saja, justru hal ini malah membuatku sangat senang, dan sangat kunikmati, sampai tragedi itu terjadi.

Malam pergantian tahun 2004 menuju 2005 ( old n new ) , saat itu saya sedang duduk di cafe bersama temanku yang bernama Leni, seorang gadis yang lumayan cantik dan sedikit lebih pendek dariku. Leni adalah kawan akrabku semenjak kuliah disini. Kami selalu bersama jika keluar jalan2 ataupun shopping dan sesekali kita juga clubbing. Ada beberapa gosip miring juga di kampus yang mengatakan kalau kami itu sebenarnya Lesbi, tetapi saya memastikan kalau saya sendiri mutlak bukan Lesbian.

Malam itu sekitar pukul 20.30 kita duduk di cafe LS di Medan, seperti biasa
cuman kita berdua saja. Setelah menikmati beberapa gelas Tequila, kita
berencana akan menuju ke Perumahan CA untuk menikmati malam tahun baru,
karena biasanya di sana sangat banyak pengunjung yang menyalakan kembang api untuk menyambut tahun baru.

Pada pukul 21.00, Leni mengatakan kalau ada temennya yang ingin
menghadiahkan kepadanya sesuatu barang yang tidak diucapkan kepadaku, lantas dia menuju ke tempat parkir. Selang 15 menit, Leni sudah balik dan duduk di kursi kembali. Karena Leni telah kembali saya ingin menuju ke toilet karena saya sendiri lumayan kebelet pipis.


Saya masuk ke toilet sekitar 5 menit, dan juga kembali.
"Len, kita cabut yok! Ntar takut macat panjang , karena menurut perkiraanku
sekitar pukul 22.00 pasti da macat banget." Kataku.

" Okay Ra, Tequila-mu masih tersisa tuh, habisin ja Ra." Timpal Leni.

Sekalian menunggu Bill, saya langsung meneguk habis tequila-ku yang masih
tersisa setengah gelas.

Seperti biasa, Leni yang membawa mobilku (Honda Stream) sudah mulai
menjalankan mobilku. Tetapi entah mengapa saya sendiri terasa pandanganku agak
kabur, saya sempat heran karena saya adalah seorang yang sangat jago minum. 10 Gelas tequila belum bisa membuatku mabuk. Tetapi hari ini lain dari yang lain, walaupun saya baru menegak 3 gelas, saya terasa sudah agak mabuk, dan terasa sangat lelah dan mengantuk.Dan tanpa sadar, saya tertidur.

Dalam tidurku, seakan saya sedang bermimpi, banyak orang yang berbicara
sambil tertawa keras. Seakan mereka sedang berbicara di dekat telingaku.
Saya sendiri juga tidak tahu kenapa, tiba2 terasa sangat dingin. Dan
kupandang sekilas tubuhku ternyata baju luarku telah terlepas dan yang
tersisa cuman pakaian dalamku serta bra. Saya sendiri masih merasa seperti
tidur dan setengah sadar. Sampai ada seorang pria yang kurang dikenal mulai
merabaku, serta mencium pipi saya dan berkata,"Ra, da bangun yah? Cemana? Apa lelap tidurnya?"

Saya lumayan terkejut, namun saya merasa seperti mimpi. Saya tidak
menolaknya, karena kupikir saya sedang bermimpi.
Tetapi lama kelamaan, baru mulai kusadari kalau saya tidak bermimpi.Karena
ciuman itu mulai merambat perlahan dari pipi ke leher ku yang jenjang. Ketika
pria itu mulai mencupangku.Saya telah lumayan sadar. Dan membelalakkan
mataku.

" Len.... Dimana kamu?"
" Lennn.... "

Pria itu menjawab, " Leni lagi masakin makanan kok, sabar aja yah Ra."

Saya sedang berada di sebuah meja kayu dengan posisi terbaring, namun seakan tanpa tenaga. Dan Karena mulai sadar akan keberadaan dan keadaanku ini, saya mulai memberontak.
" Tolonnggg.... Len.... Tooolooongg !!"

Sesaat kemudian, Leni muncul dan berkata, " ra, Welcome yah . Hari ini kamu
bakal puas deh, karena ada beberapa temen lama ingin berkenalan dengan
Adikmu(maksudnya M*M*Q-ku)."

Setelah itu saya mulai marah," Lennnn... Sialan kau.. Kenapa kau lakukan ini
kepadaku ?"

" Kamu masih ingat dengan Rony ? " kata Leni." Dia itu adalah mantan
pacarku,gara gara kamu, apa yang kita bina itu hancur, kamu malah mengatakan kepadaku kalau Rony itu bukan cowo setia.Hari ini saya mau membalas dendam
dan rasa sakit hatiku. Malam ini kita jadikan bunga no 1 kampus kita menjadi
pelacur tingkat 1 di kota Medan .. Ha Ha Ha...."

Sesaat kata2 Leni menyadarkanku. Yah, cowo bernama Rony adalah teman akrab Leni, ternyata mereka pacaran, tetapi Rony juga pernah kugoda dan
kutinggalkan.

" Nah, sekarang uda sadar kan Ra? Tetapi semua telah terlambat, kali ini saya
sengaja membawa 4 orang orang yang pernah kamu tinggalkan. Yah, tentu untuk melampiaskan nafsu mereka kepadamu karena kamu tolak dan permainkan. Ha .. Ha .. Ha .."

" Bangsat kamu Len, Keparat ,*** ( beberapa sumpah serapah kukeluarkan dari mulutku). "

Lantas pria yang tadi mencupangku, langsung mencium bibirku yang kemerahan dan sangat seksi itu dengan perlahan. Tetapi karena saya sedang marah, saya langsung menggigit bibirnya sampai berdarah.
Tetapi anehnya pria tersebut tidak marah, malah tetap mencium bibirku seakan tidak mempermasalahkan kalau bibirnya yang telah kugigit sampe berdarah.
Setelah itu,dia cuman mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya untuk
menghapus darahnya.

" Kalian perkenalkan diri dulu donk, supaya Ira ini ga penasaran siapa yang
memperkosa dan menggilirinya.. Ha Ha Ha ..." kata Leni.

" Nah, yang pertama ini dan yang menciummu ini namanya Beny.Dialah master ide pemerkosaan ini. 4 orang lainnya saya rasa kamu da kenal semua ."

Sesaat saya melihat dengan menekuk leher ku, karena posisiku masi terbaring. Dan memang benar , Rony, Adi, Edward, Michael. Saya melihat mereka dengan jelas. Tatapan mereka seakan ingin menelanku.

" Ayo, bubar dolo. Kan uda janji kalo Beny duluan kan? Met nikmati yah Ra, hari ini kamu dijamin puas luar biasa kok. Ha Ha Ha.... " Kata Leni.

Setelah itu, mereka berlima meninggalkan ruangan.

Tinggal saya dengan Beny. Dia mulai melucuti bajunya sendiri juga celananya.

Yang tinggal cuman CDnya yang berwarna hitam.Saya ingin bangkit dari meja kayu, tetapi entah kenapa saya tidak mampu.

Sendiku sangat susah digerakkan, mataku seakan akan mau tutup.
Beny yang dari tadi mengamatiku datang dengan perlahan dan mulai kembali
menciumku dengan sangat lembut. Setiap saya ingin memberontak, dia selalu
mendekapku.

Dengan satu tarikan maka BH ku telah putus, dia mulai menggerayangi buah
dadaku.
"Dadamu ini sangat indah sekali, aku telah bermain banyak wanita, tetapi
tidak ada yang sesempurna dirimu, Ra. U r perfect." Katanya sambil tersenyum.

"Tolong, jangan perkosa saya ... Plzzzz.... " Kataku dengan memelas.
"Tenang ja Ra, kamu akan merasakan enaknya.. Kamu harus tegar, dan
menikmatinya supaya kamu merasa enak , Ok ?"

Di antara cowo cowo tadi sebenarnya cuman Beny saja yang belum pernah
kukenal.
Saya mulai menangis, tetapi dengan gentle Beny menghapus air mataku dengan sapu tangannya tadi.

Kali ini dengan kecepatan luar biasa, dia sudah mengulum putingku yang
berwarna merah muda itu. Dengan lahap, dan tidak penuh nafsu dia menjilatnya dengan pelan.Dan kadang dia juga menggigitnya kecil.

Saya yang belum pernah melakukan ML, malah terasa sangat nikmat.
Beny menghisap puting kananku sambil jarinya memilin puting kiri. Saya seakan sedang berada di awang awang. Dengan kondisi yang masi tersisa obat tidur(mungkin) yang diminumku.
Dengan sangat lembut, dia mengganti puting susu ku yang dijilat dan
dihisapnya.

Tetapi saya telah tersadar, langsung berontak.Dan menamparnya beberapa kali. Namun anehnya dia tidak marah. Malah kembali dia dekap aku dan mencium bibirku dengan sangat mesra. Ciuman seperti ini tidak pernah kurasakan, bahkan pacar pertamaku semenjak SMA tidak pernah menciumku begitu lembut.
Tanpa terasa saya mulai menikmati dan mulai membalas ciumannya.
Sekitar 5 menit dia menciumku, dan tanpa tersadar kalau Celana dalamku juga
telah dilepasnya.

Ciuman dari bibirnya kemudian turun ke perut, sesekali dia menjilati perut,
pusar, sehingga membuatku gelincang geli. Terakhir turun ke pangkal pahaku.
Dengan lembut dia mencium, menjilat dan mencari sesuatu disana. Dan setelah ketemu Beny menjilati dengan perlahan dan penuh perasaan. Sesekali dia menghisapnya. Pada saat itu seakan akan saya telah kehilangan kesadaran, otakku juga tidak bekerja lagi semestinya.Saya merasa sangat enak dan nyaman.


Setelah itu Beny Bangkit kembali.Tiba tiba saya merasakan ada sesuatu yang hangat dan tumpul telah bersentuhan dengan vaginaku.
Dan tanpa ancang ancang telah ditekan Beny dengan lembut. Pertama tama seakan mental.
Dan kemudian diulanginya beberapa kali sambil berkata, "Ra, kuatkan dirimu yah."
Dengan kekuatan agak keras dia menghujamnya. Dan akhirnya masuk juga sekitar 1/2 dari kemaluan Beny. Lantas saya berteriak keras, " Sakitt.... AWWwwww...

Adoohh,.. sakitttttttt....."

Dengan cepat dia menciumku lembut dan mulai menggoyangnya secara perlahan selama 2 menit. Dikeluarkan dan dimasukkannya batang kemaluannya dengan gerakan dan tempo yang sangat pelan. Lama kelamaan kemaluan ku terasa sudah basah.Kemaluannya sudah terbiasa dengan rapatnya vagina ku.
Dia terus menggenjot, kali ini kecepatannya sudah mulai naik.
Saya yang sedang berbaring kemudian melihat batang kemaluannya yang mulai keluar masuk dengan bebas. Besar juga pikirku, mungkin sekitar 20 cm.

" Ahh... Ahh... Ahh.. " Desahku, seakan sedang menikmati seks, padahal saya
sedang diperkosa. Saya sendiri juga tidak tahu perasaan semacam begini.

"Sekarang sudah lumayan enak kan Ra? " Katanya sambil tersenyum.

Tanpa sadar saya juga mengangguk, dan mulai mengikuti iramanya, pinggulku
tanpa sengaja naik turun mengikuti irama goyangannya.

Sekitar 15 menit dia memompa kemaluanku. Walau terasa perih namun tidak
kupedulikan karena rasa enaknya mengalahkan rasa sakit di pangkal paha ku.Dan kulihat kembali ternyata sudah keluar sedikit bercak darah dari kemaluanku.

Kemudian seakan akan ada sesuatu yang keluar dari diriku,Dan saya berteriak,"

Oohh....." Ternyata saya orgasme.

Berbareng dengan itu, Leni masuk ke ruangan ini dan mengatakan " Ben, ada
telepon.. Mungkin dari pacarmu tuh."

" Wah, ternyata kamu benar masih perawan yah Ra.Maaf ya Ra, tapi tenang saja , kita lanjutin lagi ntar ok ?" Kata Beny.

Setelah berpakaian, Beny keluar bersama Leni.

Sesaat kemudian Rony masuk, bersama dengan Adi , Edward dan Michael.
Melihat diriku yang telanjang mereka langsung tidak tahan lagi. Menyergapku dengan cepat.

Saya berteriak sekuat tenaga, " Toloonggg...... Tolooonggg.... "

Dengan cepat Adi sudah menangkap kedua tanganku. Begitu pula dengan Edward dan Michael yang menangkap kedua kakiku. Kemudian merentangkannya.
Rony yang nganggur dengan cepat membuka celana dan bajunya. Rupanya dari tadi mereka sudah tidak tahan. Kemaluan Rony sedikit lebih kecil dari punya Beny.
Tetapi sudah tegak sekali seperti menara pencakar langit. Tanpa basa basi
lagi Rony langsung menekan dengan keras.Hujaman keras ini membuatku berontak dengan sangat liar. Edward yang tadi langsung menampar ku. Begitu pula Michael . Mereka tertawa dan menghinaku. Menganggapku adalah sampah yang telah di agungkan mereka.

Rony yang menghujam ku dengan kekuatan penuh membuatku bukannya terangsang tetapi terasa sangat sakit, kata kata mereka membuatku menangis dengan pedih.

Namun mereka seakan tidak memperdulikannya. Malah makin semangat. Selang 10 menit kemudian Rony menarik kemaluannya dan menembakkan spermanya ke perutku.

" Ah.. Ohhh.... kamu hebat Ra.. Ha ha ha.. tidak disangka cewe sialan ini
malah hebat kali bercinta, cara berontaknya makin membuatku bernafsu" kata
Rony.

Setelah puas , Edward menggantikan Rony menggilirku. Karena tidak tahan lagi, Edward juga sama, dia menghujamkan kemaluannya dengan sangat kasar. Saya semakin merintih, dan sedikitpun saya tidak menikmatinya seperti ketika Beny memperlakukanku.Ditekannya dengan kekuatan penuh, suara daging paha berlaga terdengar lumayan keras.
Saya cuman diam dan menutup mata, sambil menitikkan air mata. Rupanya kondisi ini tidak berlangsung lama, karena Michael dan Adi sudah memampangkan kemaluannya di mukaku dan menyuruhku menjilat dan menghisapnya. Saya kontan menolak.
"Plakk... " Suara pipiku ditampar dengan keras oleh mereka berdua.

"Sebenarnya elo keasikan, bisa rasain kontol kontol kita ini.Ayo dikulum ,
atau kutampar lagi biar mampus." Kata Adi.

Dengan sangat terpaksa kukulum kejantanan Adi pertama. Dan dengan cepat
dimasukkannya ke dalam sampai tenggorokanku.

" Hueekkk.. " Kataku yang seakan mau muntah.Tetapi dengan cepat Adi menampar pipiku.Dengan terpaksa saya mengulum kejantanannya.

" Satu kontol coba hisap 10 kali, kalau salah kutampar." Kata Adi kembali.

Dengan hitungan mulai 1 s/d 10 saya mengulum kejantanan Adi, Kemudian

berganti dengan Michael. Tetapi Edward yang menggenjotku dengan kasar, tanpa sadar saya salah menghitungnya karena kelebihan 2 kali mengulum penisnya Michael.

" Plak. " Kembali saya ditampar Adi..

"Hitung yang betul, Pelacur."

Kata kata ini membuatku sangat sakit hati, kembali saya menangis.
Saya ditampar lagi dan diancam tidak menangis. Terakhir saya menurutinya.

Edward yang selagi tadi menggenjotku, selalu kutahan agar tidak orgasme.

Kemudian Dadaku diremas dengan keras olehnya, rupanya Edward juga tidak tahan lagi, Kemudian dia memuntahkan maninya di dadaku yang sangat seksi itu.
Dengan cepat Michael menggantikan Edward. Penis Edward yang sudah
mengeluarkan mani dimasukkan ke mulutku dan disuruh hisap habis sisa cairannya.

Saat Michael mulai menggenjotku, saya sudah tidak merasakan apa apa lagi,
mungkin sudah setengah sadar. Tetapi terasa sangat keras hujaman hujaman yang dia berikan.

Kemudian saya ditampar kembali, sehingga membuatku sadar. Rupanya Adi sudah berganti dengan Michael. Karena saya pingsan, mungkin Michael juga telah selesai memperkosa ku.

Adi lebih berangasan dari mereka semua. Tidak saja dia menghujamkan penisnya yang sekitar 18 cm dengan cepat dan keras. Dia juga menampar pipi dada,dan pantatku. Karena dia bersenggama dengan posisi doggie style.Setelah 1 menit kemudian dia menarik penisnya. Pikirku mungkin dia sudah keluar. Ternyata dugaanku salah, karena langsung di arahkan ke lubang anusku.

" Awww...... Sakitttttttttttt...... Sakitttt.....!!!!! " Kataku dengan
merintih dan menangis.

Saya merasakan sakit luar biasa ketika lubang duburku yang telah dimasukkan
kepala kejantanannya itu digoyang dengan luar biasa cepat..
Sakit yang luar biasa itu kutahan dengan menggigit bra ku yang masi di meja.
Selang 10 menit kemudian dia mengeluarkan spermanya di lubang duburku.

" Ah..... Benar pelacur no 1.. Ha.. Ha .. Ha... anusnya seret banget tuh..
wadau.. Ha Ha .. Kontolku sampe lecet.. Tapi luar biasa sekali.. Ha Ha Ha..."
Setelah itu Adi beranjak meninggalkan ruangan.

Selang 30 menit kemudian, Beny yang sudah balik kemudian mulai menanggalkan pakaiannya.

Saat itu, entah mengapa saya langsung beranjak dari meja dan mengulum penisnya yang belum berdiri dengan sempurna.
Saya jilatin perlahan. 30 menit telah membuat diriku yang lelah menjadi
bersemangat kembali. Saya menjilat, mengulum seakan sangat mahir. Saya tidak pernah lagi berpikir malu melakukannya. Seakan saya diajari oleh 4 pria tadi bagaimana melayani seorang laki-laki.

" Aduuh.. " Kata Beny. Ternyata gigiku mengenai kepala kemaluannya.
Tanpa sadar saya berkata, " Maaf Ben."
Dengan cepat dia mengangkatku kembali di meja tadi. Dengan posisiku yang
duduk sambil kangkang. Beny yang berdiri langsung perlahan mulai menghujamkan penisnya. Goyangan yang di berikan Beny sungguh sangat berbeda. Tidak cepat , tidak lambat, dan juga tidak kaku.Tanpa terasa saya malah sangat menikmatinya . Dengan tangan yang memeluk bahu Beny. Saya diangkat. Sensasi ini belum pernah kudapatkan. Sambil berdiri Beny menghujam Penisnya dengan gerakan lembut.

Tanpa terasa perkosaan 4 pria sebelumnya yang belum kutumpahkan, kali ini
kutumpahkan. Saya orgasme dengan sangat puas sekali. " Oh... Ohhhh..."

" Puas tidak Ra ? "

" Ehhmmm.... " Kataku sambil menggumam.

Kali ini setelah istirahat selama semenit. Beny membalikkan posisi tubuhku.
Kali ini Doggie style. Dengan perlahan dia mengancungkan senjatanya. Dan
seperti di sengaja dia tidak langsung menghujamkannya tetapi bermain saja di bibir kemaluanku sekitar 5 menit.

Saya yang tidak sabar langsung berkata," Kenapa Ben? Masukkin donk.."

"Okay." Dengan sebuah hentakan langsung masuk 1/2 penisnya. Dia menggoyangnya dengan cukup pelan. Tetapi tidak semuanya masuk.

" Ra, Cuman setengah saja kumasukkin, enak ga ?" Katanya sambil menggesek
pelan.

"Saya lebih suka kamu memasukkan semuanya." Timpalku yang sudah terangsang banget dengan kondisi seperti ini.

Rupanya perlakuan yang tanggung ini malah membuatku sangat mengingikannya.
Dengan hentakan sekali dan keras dia memasukkan semuanya.
"Aduuu.. Ohh... " Teriakku. Memang penis Beny lebih besar dari punya mereka
.Dan dalam vagina ku terasa sangat rapat. Mungkin diameter penisnya pun lebih besar dibanding dengan punya mereka berempat.

Kembali saya digoyang dengan tempo yang sangat pas, dan sangat kusukai.
Selang beberapa menit kemudian saya pun kembali kejang, dan kepalaku mulai
panas, karena inilah ciri ciri mao orgasme.

" Ahhhh...OooHhh.... " Desahku tak karuan. Rupanya terasa sangat merangsang kalau dalam posisi doggie style ini, karena penis seakan menjangkau bagian terdalam dari vaginaku.

Kembali Beny mengistirahatkan ku sekitar 2 menit.Sebagai gantinya dia memilin putingku untuk membuat ku semakin terangsang.

2 menit kemudian Beny berganti posisi, Kali ini saya diatas dan dia berbaring
di meja kayu. Penisnya yang sedari tadi tegang, langsung kuarahkan ke vagina ku. Ku enjot perlahan. Kali ini saya yang berperan. Entah setan apa yang merasukiku, saya menggoyang dengan lumayan cepat. Dengan mata setengah terbuka saya melihat Beny yang menutup matanya malah sangat merangsangku.
Goyanganku sebentar cepat, sebentar lambat, kadang saya memutar pinggulku.
Melihat Beny yang terangsang begitu malah membuat diriku semakin liar. Saya
ingin memuaskannya. Walau keparat ini yang menyumbangkan ide untuk
memperkosaku. Namun saat ini yang kupikirkan adalah memuaskan dirinya
terlebih dahulu.

" Hebat Ra.. Kamu Hebbbaaattt Seeekaaalleee... " Kata Beny kemudian.

10 menit kemudian, dia memelukku dan menyuruhku berhenti bergoyang. Kali ini dengan kedua tangan dia mengangkat pantatku. Dalam posisi berpelukan ini, Beny menekuk lututnya dan menggoyang dengan tempo yang lumayan cepat.
Saya yang berada di posisi atas langsung menggigit tubuhnya. Hujamannya yang cepat ini sangat berbeda dengan hujaman 4 pria tengik itu. Hujaman ini malah membuatku makin terbuai olehnya.
Selang 15 menit kemudian saya sudah tidak tahan lagi. Kembali berteriak

"Uhh.... Ohh...Daaa maaaooo kelluaarrr Bennnnn... "

" Santai ra, kita keluar sama2 yah.."

Saya cuman mengangguk. 30 detik kemudian goyangan cepat Beny ternyata makin keras.
saya tak kuasa untuk tidak berteriak..

" Ahhh...... Ahhh...Ohhh...Ahhhh.." Desahku tak karuan.

Begitu pula Beny, goyangannya telah lambat kembali. Sesekali dia menghujamkan keras penisnya dan selang 2 detik kemudian dia menghujamnya kembali. Begitu pula berulang ulang selama hampir 10 kali. Rupanya dia telah keluar.

Air mani yang keluar di vaginaku langsung merembes keluar. Dan terasa sangat hangat dan banyak sekali.

15 menit kita sempat tertidur dengan posisi kemaluan masi saling berpadu.
Setelah itu Beny berpakaian lengkap kembali dan memakaikan baju serta celana ku. Tetapi Bhku yang talinya telah putus itu dibuang olehnya.

Sampai di depan ruangan tadi, saya merasa sangat dingin. Rupanya saya telah dibawa ke kota Brastagi. Pada saat itu sudah jam 5 pagi. 4 pria tengik itu dan Leni tidak kelihatan lagi.

Rupanya setelah mereka melampiaskan nafsunya mereka pulang duluan ke Medan.

Akhirnya Beny membawaku pulang dengan mobilku.

Saya tidak berani menceritakan kejadian ini, karena takut nama baikku akan rusak karenanya.
Dengan berbagai alasan saya meninggalkan skripsi yang sudah 1/2 kubuat dan
pindah ke Surabaya untuk mengurus usaha ayah ibuku disana.

Saya menceritakan pengalamanku dan semoga bermanfaat. Jika anda adalah
seorang cewe yang sombong sepertiku, maka berubahlah supaya tidak ada
korban lain setelah diriku.

Sabrina

Posted: 29 Nov 2007 10:52 AM CST

"Tenang Rin……tenang…" kata Anton.
"Ini biasa kok…..kita ini khan sudah dewasa, biasa toh liat gambar
beginian"…timpal Doni dengan tersenyum.
Tiba-tiba tayangan gambar berubah. Kali ini menampilkan gambar seorang
wanita bule yang sedang nungging sedangkan dibelakangnya ada pria bule
yang siap penetrasi dengan cara anal seks. Rina sungguh jijik
menyaksikan bagaimana penis pria bule itu mulai memasuki dubur wanita
bule yang sedang nungging itu. Sekonyong-konyong Black berkata dengan
suara cedal khas bule
"Rina kau mau seperti itu khan? Kamu punya ini untuk itu"
Wajah Rina tiba-tiba memucat. Di tangan Black ada buah zuchini yang
kira-kira panjangnya 20cm dan diameternya sekitar 5 cm. Zuchini itu
dilapisi karet yang rupanya sebuah kondom yang sengaja dipasang pada
buah itu. Seketika Rina bangkit dari duduknya dan berusaha menghindar
Black yang menuju ke arahnya.




Sabrina adalah gadis berusia 23 tahun lulusan diploma akuntansi
lembaga pendidikan swasta terkenal di Jakarta. Saat ini dia bekerja di
perusahaan eksporasi minyak milik asing yang kantornya ada di daerah
kuningan. Rina, demikian Sabrina biasa dipanggil, bekerja sebagai cost
control employee pada perusahaan tersebut. Tidak banyak yang bekerja
di kantor yang hanya menangani bidang administrasi tersebut. Kira-kira
ada sekitar 20 orang di mana 6 orang adalah tenaga asing dari Amerika
dan Eropa. Mereka adalah Philip sebagai manager, Hubert seorang
assistant manager, Hugo, Simon, dan Black ketiganya adalah teknisi,
serta Ferdinand kepala divisi cost control yang merupakan atasan Rina
langsung. Divisi cost control adalah bagian yang sering bekerja lembur
bahkan tidak jarang hari Sabtu dan Minggu pun mereka harus bekerja
untuk menyelesaikan target pekerjaan. Untunglah dikarenakan tempat
tinggalnya di wilayah Jakarta Timur maka Rina membutuhkan waktu tidak
lama untuk dapat mencapai kantornya di bilangan kuningan.
Hari ini, Sabtu, Rina kebagian masuk kerja untuk penyelesaian target
pekerjaan. Jum'at kemarin Ferdinand telah memintanya untuk masuk kerja
hari ini. Pukul 8:00 Rina sudah berangkat dari rumah menuju kantor dan
tiba pukul 8:30. Atasannya Ferdinand ternyata juga sudah tiba disana.
Tidak seperti biasanya hari ini semua bule asing yang bekerja di
perusahaan itu ada di sana. Ada juga Doni dan Anton dua rekan kerjanya
yang terkenal playboy dan mata keranjang. Doni dan Anton punya
kesenangan yang sama yaitu olahraga fitness sehingga postur badannya
kelihatan macho seimbang dengan tinggi badan mereka yang kira-kira 172
cm. Meskipun mereka orang pribumi bila Rina ada di samping Doni maupun
Anton maka tinggi kepala Rina tidaklah sampai pada tinggi pundak
mereka. Tinggi badan Rina hanyalah 154 cm, cukup pendek dibandingkan
rata-rata tinggi gadis Jakarta sekarang. Walau demikian ukuran buah
dadanya yang 34B itu cukup proporsional dengan ukuran tubuhnya.
Apalagi lengannya yang kelihatan sekal serta pahanya yang membulat
tidak dapat menyembunyikan kesintalan bentuk tubuhnya. Doni dan Anton
sering mencuri pandang melihat kesekalan lengan Rina bilamana gadis
itu terkadang melepaskan blazernya dan hanya mengenakan baju dalam
tanpa lengan pada saat bekerja di depan komputernya. Hari inipun Rina
mengenakan baju dalam tanpa lengan berwarna putih dengan bagian
depannya berenda yang dipadu dengan blazer dan rok sedikit di atas
lutut yang keduanya berwarna hitam. Cocok sekali untuk dipadukan
dengan kulit tubuhnya yang memang mulus itu.
Tiba-tiba….
"Heiii….. kenapa bengong….."
Terdengar suara cedal Ferdinand. Rina terkesiap. Rupa-rupanya dia
memikirkan sesuatu agak lama di depan pintu masuk ruangannya
sampai-sampai tidak melihat Ferdinand yang datang mendekatinya. Bibir
tipis Rinapun tersenyum malu.
"Am….sorry Ferdinand, I have thinked of something stupid…never mind…"
jawab Rina yang langsung bergegas masuk menuju meja kerjanya dan
segera menyalakan tombol komputernya.
"What will you do Rina….." Ferdinand berkata
"Of course I will finish my work" dengan cepat Rina menimpali.
"Ngapain lha wong kita mau jalan-jalan kok…." Tiba-tiba Anton menyeletuk.
"Rina we will finish our work in Puncak today…" Tiba-tiba Hubert ikut
nimbrung.
"I really do not understand???" Rina bertanya dengan wajah bingung.
"Yes…we make finishing of our project in Bogor. Every things are
already organized" Ferdinand menjawab kebingungan Rina.
"Iya data semua sudah ada di laptop ini" demikian kata Doni
memperjelas pernyataan Ferdinand.
"Lets go for pleasure every body…" Philip yang sedari tadi
mendengarkan pembicaraan memberikan perintah untuk segera siap berangkat.
Rina sebenarnya sedikit risih dengan acara penyelesaian pekerjaan yang
akan dilakukan di puncak Bogor karena hanya dia satu-satunya cewek
yang ada pada rombongan. Tetapi dia tidak punya cukup keberanian untuk
menolak ajakan Philip sebagai bos besar di perusahaan itu.
Pukul 9:00 rombongan berangkat ke puncak dengan menggunakan dua
kendaraan Avanza. Mereka menuju sebuah villa yang berada di
tengah-tengah kebun teh. Villa itu adalah langganan Philip bilamana
dia menginginkan ketenangan untuk berkencan dengan wanita-wanita muda
yang sering dibawanya. Memang semua bule yang ada di perusahaan di
mana Rina bekerja adalah penganut seks bebas. Terlebih lagi Simon,
Black dan Hugo yang semuanya adalah orang lapangan. Wanita adalah
kebutuhan yang vital bagi mereka dikarenakan kegiatan eksplorasi
minyak banyak dilakukan di wilayah perairan laut, jauh dari wanita,
dan semua pekerjanya adalah pria. Itulah sebabnya mereka sering
menggebu-gebu saat melakukan senggama dengan seorang wanita bahkan
cenderung brutal dalam melampiaskan nafsunya. Pernah pula mereka
bertiga mengerjai seorang mahasiswi PSK secara bersama-sama hingga
menyebabkan mahasiswi itu pingsan dengan luka memar dan lecet di semua
bagian-bagian tubuhnya yang vital. Beruntunglah urusan tersebut tidak
menjadi panjang setelah ketiganya bersedia memberikan kompensasi
sejumlah uang kepada induk semang mahasiswi tersebut atas penderitaan
fisik yang dialami oleh anak asuhnya.
Pukul 10:30 mereka sampai di perkebunan teh. Luasnya sekitar 250 ha
dan terdapat sebuah villa di bantaran hamparan perkebunan yang
letaknya paling tinggi. Dari villa tersebut dapat melihat semua
wilayah perkebunan yang ada di lereng bawah. Kemiringan sebesar 10%
tersebut akan menyebabkan tenaga cepat terkuras apabila menuju villa
ditempuh dengan cara berjalan kaki. Oleh sebab itu kendaraan hanyalah
satu-satunya sarana yang paling nyaman untuk mencapai villa yang ada
di atas. Rombongan turun dari kendaraan. Doni yang sepanjang
perjalanan masuk perkebunan teh membawa sebuah handycam menyalakan
alat tersebut dan mengambil gambar wilayah perkebunan dari atas,
setelah itu dia merekam gambar villa yang akan mereka masuki. Besar
sekali ukuran villa itu. Ada sekitar enam kamar yang masing-masing
berluasan 8m x 8m, cukup untuk bermain singgle-net basket ball.
Setelah tiba di dalam Anton menyiapkan peralatan seperti LCD proyektor
serta standing screen-nya. Pukul 11:00 mereka memulai finishing
pekerjaan proyek. Rina bertugas dalam data entry dan pengetikan. Semua
berlangsung hingga pukul 18:00. Rina mulai merasa bahwa hawa segar
angin masuk yang melewati jendela villa yang terbuka tidak cukup untuk
menyejukkan tubuhnya yang mulai penat. Namun dia tidak berani membuka
blazernya mengingat hanya dialah satu-satunya wanita dalam rombongan
itu. Tepat pukul 20:00 semua kompilasi data telah selesai dilakukan.
Berarti target pekerjaan selesailah sudah. Kini semua merasa lega.
Philip sudah menghabiskan 10 teh botol selama pekerjaan itu. Kini
waktu adalah untuk rileks dan Rina sudah mengharapkan untuk pulang ke
rumah kontrakannya. Akan tetapi tanda-tanda untuk pulang masih belum
nampak.
"Sir in my opinion we should get back to Jakarta now" Rina berkata
kepada Philip yang masih senderan di kursi tamu.
"Later on, we will have special event for you Rina" Philip menjawab.
"Whats that?" Rina bertanya.
"Hei Doni lets turn on your special movie" Philip berkata.
"Ok boss….wait a minute"….Doni menjawab.
"Now gentlemen… lets have a pleisure…" Anton berkata kepada semuanya
dan melangkah duduk di depan standing screen. Semua mengikuti Anton
dan duduk mendekat ke arah layar. Film mulai diputar dan pertama kali
terlihat gambar gedung kantor mereka yang ada di kuningan. Selanjutnya
muncul gambar-gambar orang yang bekerja di sana termasuk Rina. Lama
kelamaan film hanya tertuju kepada Rina. Ada gambar-gambar di mana dia
sedang berbicara dengan teman sekantor, ada gambar saat dia datang
kesiangan ke kantor, ada gambar saat dia kerja lembur, dll. Rina mulai
merasa ada yang aneh dengan rekaman gambar-gambar tersebut.
Kerisauannya semakin nyata ketika ada gambar yang menampilkan saat dia
berada di ruang toilet wanita untuk berganti baju blazer. Meski dia
mengenakan baju dalam tanpa lengan dalam ruangan itu tetapi gambar
tersebut membuat semu pipi Rina yang mulai merasa malu dan risih
dengan rekaman gambar yang diambil dengan cara sembunyi-sembunyi itu.
Baju dalam putih berenda yang ada pada layar itu adalah yang dia
gunakan saat ini. Tiba-tiba Rina terhenyak ketika ada gambar di mana
dia sedang meeting kemudian dari bawah meja diambil gambar dimana pada
saat itu dia yang mengenakan rok sedikit di atas lutut duduk dengan
kaki agak terbuka. Nampak celana dalamnya berwarna merah kontras
dengan paha dan betisnya yang putih mulus.
"Doni Anton apa apaan sih ini….." Seketika Rina protes dengan tayangan
itu.
"Tenang Rin……tenang…" kata Anton.
"Ini biasa kok…..kita ini khan sudah dewasa, biasa toh liat gambar
beginian"…timpal Doni dengan tersenyum.
Tiba-tiba tayangan gambar berubah. Kali ini menampilkan gambar seorang
wanita bule yang sedang nungging sedangkan dibelakangnya ada pria bule
yang siap penetrasi dengan cara anal seks. Rina sungguh jijik
menyaksikan bagaimana penis pria bule itu mulai memasuki dubur wanita
bule yang sedang nungging itu. Sekonyong-konyong Black berkata dengan
suara cedal khas bule
"Rina kau mau seperti itu khan? Kamu punya ini untuk itu"
Wajah Rina tiba-tiba memucat. Di tangan Black ada buah zuchini yang
kira-kira panjangnya 20cm dan diameternya sekitar 5 cm. Zuchini itu
dilapisi karet yang rupanya sebuah kondom yang sengaja dipasang pada
buah itu. Seketika Rina bangkit dari duduknya dan berusaha menghindar
Black yang menuju ke arahnya.
"Tiidaaaakkkk……..jangaaannnnn….saya mau pulang" teriak Rina.
"Ok. Kita akan antar kau pulang setelah semuanya selesai….." Doni berkata
"Iya, tepatnya setelah semua puas he he he……." Anton mempertegas
perkataan Doni.
Rina mulai sadar bahwa dia telah masuk perangkap. Hatinya mulai ciut
karena hanya dirinyalah satu-satunya wanita yang ada di villa itu.
Nyalinya bertambah ciut lagi melihat zhucini yang dibawa oleh Black.
Rina membayangkan betapa sakitnya bila benda itu memasuki dirinya.
Tetapi bayangan itu sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Ferdinand,
Anton, Doni dan Hugo segera mengepung Rina.
"Nooo…please…..don't rape me….please…."Rina mulai berkata dengan nada
bergetar setengah menangis.
Tetapi semua laki-laki yang ada di situ hanya tersenyum dengan
seringai akan dahaga sebuah kenikmatan seks.
Hugo yang berbadan tinggi besar sekitar 183 cm memeluk Rina dari
belakang, persis seperti memeluk seorang adik karena tubuh pendek Rina
yang hanya 154 cm. Rina meronta-ronta dalam dekapan Hugo.
"Nooooo jangaaaannnnnnnn….saya tidak mau………." Jerit Rina.
Kini Rina benar-benar menangis. Tetapi hal ini tidak mempengaruhi
keinginan para lelaki itu untuk menikmati kemulusan tubuhnya. Anton,
Doni dan Ferdinand bersama-sama mendekat dan empat orang kemudian
menyeret Rina ke arah sofa panjang yang tidak ada sandarannya.
"Tiidaaaakkkkk…..jangaaannnn perkosa saya….ttiidaaakkkkk…" Rina
menjerit keras dan meronta-ronta dengan kuat.
Empat orang itu kemudian menelungkupkan Rina di atas sofa dengan
bagian pinggang ke bawah ada di sisi sofa. Posisi Rina jadi seperti
setengah menungging. Rina meronta-ronta dan berusaha bangkit.
Kaki-kakinya berusaha menjejak kuat ke lantai agar posisinya tidak
menungging. Rina sadar bahwa Black dengan buah zhucininya akan
melakukan hal yang sama sepeti yang baru saja dia lihat di film yang
baru diputar tadi. Akan tetapi rontaan itu menjadi tidak ada artinya
setelah dua buah tangannya ditelikung ke belakang punggungnya oleh
Hugo sedangkan kedua kakinya dipegang erat oleh Anton dan Doni.
Keduanya dapat merasakan betapa halus dan mulus kulit kaki Rina.
Hubert yang sedari tadi rupanya merekam kejadian itu dengan sebuah
handycam yang dibawa oleh Doni mendekat ke arah sofa. Ferdinand pun
mulai beraksi menyingkap rok Rina ke atas.
"Jaannnngggaaaaannnnn…………………….ttiiidaakkkkkkk..ttt oolllloonggggg"
"Don't rape me please……….tttoolooonggggg…."Rina menjerit keras.
Di perkebunan teh yang luas itu tidak akan ada orang yang mendengar
teriakan Rina. Rina merasa putus asa. Air matanya meleleh membasahi
pipinya. Sungguh dengan kondisi seperti ini betapa cantiknya Rina.
Apalagi dengan posisi setengah menungging dengan rok tersingkap yang
memperlihatkan betapa mulusnya kulit paha yang membulat itu dan juga
kakinya. Delapan pria yang ada di ruangan itu menelan ludah
menyaksikan keindahan tubuh Rina. Bulatan pantatnya yang sekal itu
nampak jelas di balik celana dalam warna hitam yang saat ini dia kenakan.
"Boss now lets your turn….." Ferdinand berkata pada Philip.
Tanpa menjawab Philip mendekati Rina dan kedua tangannya mulai
menjamah celana dalam Rina
"Jaangaaannnnn…Mr…. Nooooo..sir………"
Rina mulai panik ketika merasa ada tangan menyentuh celana dalamnya.
"Ttiidddaaakkkkkk……aaaaaaaaaaa….ssseettttaaaaannnn nnnn……"
"Baajinggggaaaaannnnnn………" Rina memaki sambil menangis.
Dan memang perlahan-lahan celana dalam itu dipelorotkan sampai
setengah paha Rina sehingga kini terpampanglah vagina Rina yang
ditumbuhi bulu-bulu halus serta nampak pula lubang anusnya yang
berwarna coklat kemerahan. Kerut-kerut di anusnya yang menyerupai
matahari itu semakin membuat nafsu binatang kedelapan pria yang haus
seks itu melejit naik.
"Black now do what you want……"
Philip memberi kesempatan kepada Black sebagai orang pertama yang
mengerjai tubuh Rina.
"Nnooooooo……….jaangaannnnn….pak….saya takut……" Rina menghiba.
Tapi dia tetaplah seorang wanita yang kini sedang tidak berdaya.
Black tetap berjalan mendekati Rina. Ferdinand kemudian memegang kedua
bongkahan pantat Rina dan membuka belahannya menjadi semakin lebar.
Rina mulai panik dan rontaannya lebih keras dari sebelumnya. Dia
sungguh tidak ingin tubuhnya dimasuki buah zhucini melalui duburnya.
Baginya selama ini belum pernah merasakan hubungan seks kecuali hanya
berciuman dengan mantan-mantan pacarnya. Pacar-pacar sebelumnya pun
belum pernah ada yang melihat bagian-bagian rahasia miliknya bahkan
belum ada mantan pacarnya pun yang berani memegang aset rahasia
tubuhnya itu. Itupun sudah empat bulan yang lalu setelah hubungannya
dengan pacar terakhir Rheno putus gara-gara orang tuanya tidak cocok
dengan pilihannya. Kini orang lain yang tidak dicintainya terlebih
dahulu melihat bagian tubuhnya yang paling rahasia dan jumlahnya tidak
satu melainkan delapan orang.
"Jaangannn Mr. Black…..saya takut……" Rina berkata dengan terisak.
Tetapi tetap saja Ferdinand membuka belahan pantatnya tanpa
mempedulikan tangisannya. Black mengambil posisi jongkok di belakang
Rina dan sekonyong-konyong
"wwwwuuuuaaaaaaa….aaagggghhhhhrrrr…aaaaaaaaadduuuu uhhhhhhhh'''
Tiba-tiba saja Rina melolong keras. Kerasnyapun mengerikan. Lolongan
itu hampir mirip suara orang mengejan di toilet. Tangannya yang
ditelikung oleh Hugo mengepal keras. Tubuhnya mengejan. Kepalanya
mulai merasa berputar. Keringat tubuhnya semakin keluar membuat
bongkahan pantatnya semakin berkilau dan menggairahkan. Itu menandakan
bahwa dia sedang merasakan kesakitan yang luar biasa pada tubuhnya.
Rupanya Black telah menyodokkan buah zhucini itu ke dalam dubur Rina
hingga masuk seperempat bagiannya. Rina terus tetap melolong merasakan
ngilu yang luar biasa ketika benda berdiamater 5cm itu memasuki
duburnya. Tampak sekali bagaimana lubang duburnya mengempot ke arah
dalam karena dorongan zhucini itu. Dengan perlahan-lahan Black terus
melesakkan zuchini masuk ke dalam dubur Rina. Rinapun semakin menjerit
dan melolong
"Aaaaaaggghhhhhhhrrrrrrrr…….ssssssttooooopppppp……… …."
"heeghhhhh…….aaaaaaaggghhhh…….sssssaaaaakitttttttt tttttt…………….."
"Jaaanngaaannnn….aaaaaaaaaaaa………bbbaaanggggssaaaaa atttttttt"
"Bbbaajjiiinnnngggggaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnn……………… ……….."
Namun semuanya tidak peduli. Teriakan kesakitan Rina adalah melodi
erotis bagi kedelapan pria yang memperkosa Rina. Akhirnya 13 cm
zhucini telah memasuki tubuh Rina melalui anus. Kini Black mulai
memaju-mundurkan zhucini itu. Mula-mulai dengan tempo pelan dan
perlahan-lahan mempercepat gerakannya.
"Aaadduhhhhhh…..sssaakiiiittttt….."
`Ppaannttttaattt ..ssaayaa…..aadduhhhhh….sssaakiittttt…"
Rina hanya bisa menangis dan merintih. Gerakan maju mundur zhucini
dalam duburnya mulai membuat lecet dinding-dinding lubang
pengeluarannya. Darah mulai nampak pada batang zhucini berlapis kondom
itu ketika gerakan menarik keluar dilakukan oleh Black. Semakin lama
semakin banyak cairan kemerahan yang mengumpul di sekitar lubang anus
Rina bercampur dengan busa-busa putih yang sebagian berubah menjadi
merah jambu. Beberapa menetes ke lantai keramik putih membentuk
bulatan berwarna merah.
"Aadduuuhhhh sstooppppp……jaaaangaannnn…sstoooppppp"
"Adduuhhhh…ssaaayaaa… mmauuu kkkluaarrrr….."
"Sssayaammauu…kkluaarrrr..ttoooollonngg…sstooppppp .."
"Pleasseeee..sstooppppp…."
"Kkkkeelluaarinn….iiittuuu..ddaarriiii..pppaantaat tkkuuu…."
"Sssstttooooopppppppp!!!!!!!!!................ ..."
Rina merasa ada sesuatu yang ingin keluar dari duburnya. Mungkin hasil
metabolisme makan siang yang sudah dicerna oleh lambungnya. Mungkin
juga karena zhucini yang memasuki duburnya. Yang jelas dia semakin
merasakan ingin buang air besar.
"Beerhenntiiii…….ttoolooongg…."
"Sssaayyaaa…ttiiiddaaakkk kkkkuaattt…"
"Mmaauuuu kkkkkeeeelluaarrrrrrr……aaggghhhhrrrrr"
Lima belas menit pemerkosaan dengan cara sodomi menggunakan zhucini
itu berlangsung. Selama itu pula Rina merasakan penderitaan yang luar
biasa, terlebih-lebih ketika gerakan menarik keluar dilakukan oleh
Black yang menyebabkan Rina merasa dirinya seperti ingin buang air
besar. Perutnya terasa mual dan ingin muntah. Bahkan ketika dia
berteriak keras bahwa dia benar-benar merasa ingin buang air besar
Black malah menahan zhucini itu di dubur Rina dalam-dalam. Belasan
menit kemudian baru Black menarik zhucini itu keluar dari dubur Rina.
Gadis itu merasa lega setelah duburnya terbebas dari zhucini yang
telah belasan menit melesak-lesak dalam liang pengeluarannya. Lelehan
darah mengalir keluar melalui anusnya yang sekarang kelihatan seperti
lubang menganga. Ferdinand tetap membuka bongkahan pantat Rina
sehingga lubang anus yang menganga itu tidak menutup. Hubert yang
membawa handycam mengcloseup bagian dubur menganga itu. Nampak daging
bagian dalam yang memar kemerahan akibat bergesekan dengan zhucini.
Kini Rina merasa tubuhnya lemas sekali. Airmatanya terus meleleh.
Beberapa saat kemudian dia merasakan seseorang melucuti rok yang ia
kenakan demikan juga celana dalamnya. Setelah itu dari belakang
blazernya ditarik lepas. Rina merasakan ada tangan yang meraih kerah
baju dalamnya. Dan "Ssshrreeekkkkkkkkkk" kain bajunya robek
memperlihatkan punggung mulusnya. Rina tersentak tetapi tidak mampu
bangkit. Kepalanya ada yang menahan di Sofa. Kemudian dirasakan ada
tangan yang melucuti BH-nya sehingga dalam hitungan menit Rina sudah
telanjang bulat. Kemudian seseorang mengelap pantat Rina menggunakan
tissue mengeringkan noda-noda yang ada di dubur, vagina, dan pahanya.
Setelah itu tubuhnya diberdirikan dan Hugo menggendongnya ke arah meja
kerja yang terbuat dari kayu jati. Rina ditelentangkan di sana sejajar
dengan arah panjang meja dan lagi dua tangannya dipegangi oleh Anton
dan Doni. Ferdinand dan Simon membantu membuat posisi kaki Rina
terbuka mengangkang. Hugo berhasrat untuk mengoral vagina Rina sebelum
menyetubuhinya.
"Lets take the picture man….." Hugo berteriak kepada Hubert.
Hubert segera menfokuskan lensanya ke arah vagina Rina yang dipegang
bagian labium mayora-nya dengan menggunakan dua jari Hugo.
"Ttiidddaakkk…jjaaangggaannnnn…" Rina merintih lemah.
Rasa malu yang amat sangat menjalari batinnya. Kelamin kewanitaannya
yang selama ini tertutup celana dalam telah terpampang terbuka lebar
di depan mata para lelaki yang sudah sangat berhasrat pada tubuhnya.
Kini bagian labium minora-nyapun terlihat jelas setelah dua jari Hugo
melebarkan bagian mayoranya. Selaput dara Rina yang masih utuh juga
nampak sekitar 1 cm dari mulut vaginanya.
"You are….a virgin ha……" Hubert berkata sambil merekam gambar.
"Its must be so tight……" Hugo berkata dengan terkekeh.
Setelah dua menit mengabadikan vagina Rina kini Hugo bersiap mengoral
mahkota gadis cantik itu. Bulu bulu vaginanya yang tercukur rapi itu
semakin membuat hasrat birahi pemerkosanya terus memuncak.
"Agggghhhhhhhhrrrrr……..tttiiddakkkkkkkkkk….jjjaaan gaaaannnn…"
Rina menjerit ketika merasakan lidah Hugo mulai bermain di vaginanya.
"Aakkhhhhh….aadduhhhhh………"
Rina menjerit ketika jari telunjuk Hugo yang baginya cukup besar itu
masuk dan berputar-putar di depan selaput daranya. Rasa sedikit perih
menjalari vagina bagian dalamnya manakala jari Hugo bersentuhan dengan
selaput daranya. Setelah puas mengoral vagina Rina selama 10 menit
Hugo mulai membuka resleting celananya. Kemudian tangannya masuk ke
dalam celananya dan menarik keluar batang penisnya yang telah
menegang. Ukurannya yang besar sungguh tidak sesuai dengan tubuh Rina
yang kecil. Ukuran batang penisnya setara dengan ukuran pergelangan
tangan Rina atau mungkin bahkan lebih. Hugo kini menempelkan kepala
penisnya ke bibir vagina Rina. Rina mulai meronta kuat ketika
merasakan kepala penis itu bersentuhan dengan bibir mahkotanya. Rina
tidak ingin kehilangan sesuatu yang kelak akan dia berikan pada pria
yang menjadi suaminya. Kini Rina mulai panik lagi. Meski dia tidak
melihat penis Hugo tetapi dia dapat merasakan dari sentuhan kepala
penis yang menempel di vaginanya betapa besar ukuran penis bule itu.
Hugo menggosok-gosokkan kepala penisnya agar basah oleh cairan vagina
Rina ketika dia melakukan oral pada tubuh gadis itu.
"Jjaanggaannn…..Hugo…..please….don't rape me"
Hugo hanya diam saja dan senyumnnya menyeringai
"Hhhhuuaaaaggghhhhhhkkkk…..aaaaaa..ddduhhhhhhhhhhh hhhhhh"
"aakkhhhhhh…tttiiiddaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk k"
Rina kembali melolong persis ketika dia disodomi dengan menggunakan
zhucini. Hugo menusukkan batang penis miliknya hingga setengahnya
masuk ke dalam liang senggama Rina. Seketika cairan merah keluar dari
vagina Rina yang menandakan selaput daranya telah terkoyak.
"Aadduhhhhhh……ssssaaakkittttttt….pppeeerrihhhhhhhh hhhhhhhh"
Rina meratap, meringis, menangis dan sesekali menggigit bibir bawahnya
menahan rasa ngilu dan perih akibat robeknya selaput dara yang selama
ini ia dambakan untuk diberikan kepada suami pilihannya. Kepalanya
menggeleng ke kanan dan ke kiri sebagai ungkapan rasa sakit yang
mendera bagian tubuhnya yang paling rahasia itu. Hugo terus menusukkan
penisnya sampai seluruhnya amblas dalam cengkeraman vagina Rina.
Diameter penisnya yang sama besar dengan zhucini yang dipakai
menyodomi Rina itu menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa pada
selangkangan Rina. Bagi Rina seolah-oleh pentungan baseball melesak
masuk dalam liang kewanitaannya. Kini kehormatannya telah rusak.
Dirusak oleh jahanam yang saat ini sedang menyetubuhinya dan yang
sebentar lagi jahanam-jahanam lain akan turut serta menikmati
kesintalan tubuhnya. Hugo bergerak maju mundur. Mundur dengan irama
pelan dan maju dengan irama cepat. Perbuatan ini menyebabkan Rina
merasakan seolah-olah vaginanya robek tersayat-sayat. Setiap tusukan
keras selalu disertai dengan erangan kesakitan Rina. Tetapi bagi para
pemerkosa jahanam itu jeritan Rina adalah suara erotis yang membakar
hawa nafsu kelaki-lakiannya. Ferdinand dan Simon yang memegang kaki
Rina mengusap-ngusap paha mulusnya. Sungguh lembut sekali kulit
pahanya. Sedangkan Doni dan Anton tetap memegang erat tangan Rina dan
satu tangan mereka yang bebas bergerilya meremas dan memilin puting
payudara Rina yang berukuran 34B itu. Mereka merasakan betapa
kenyalnya buah dada Rina sebuah kekenyalan yang diidam-idamkan oleh
semua kaum pria. Remasan-remasan kasar pada buah dada Rina menyebabkan
bilur-bilur merah mulai nampak pada payudaranya.
Hugo mulai merasakan denyut-denyut pada batang penisnya. Nampak bahwa
dia mulai menanjak menuju klimaks. Gerakan maju mundurnya-pun semakin
cepat. Frekuensi erangan kesakitan Rina semakin meningkat pula.
Ketakutan juga mulai melanda Rina manakala batang penis Hugo seperti
siap akan melontarkan lahar nistanya. Rina merasa hidupnya akan masuk
dalam lembaran hitam manakala benih nista yang akan menyemprot dari
penis Hugo masuk mengotori tubuhnya. Hamil adalah hal yang paling
ditakutinya. Hugo semakin cepat dan cepat……Nafasnyapun terdengar
terengah-engah menunjukkan rasa nikmat yang tiada taranya. Rina
semakin panik…
"Jjaangaaan ddi..ddaalaammmmm…ttooollooonggg..kkeeelluarrkannn "
"jjangaann..kkellluaarr…..ddddidaallaaammmm……agggg ghhhrrrrr''
Rina menjerit pasrah tanpa daya ketika tanpa dapat dibendung lagi
lahar panas milik Hugo menyemprot di dalam rahimnya. Ketakutan akan
hamil diluar nikah segera mengisi benaknya. Tapi kini dia benar-benar
tidak berdaya. Tangisnya yang semakin keras adalah petunjuk kegalauan
hatinya. Hugo mendiamkan penisnya di dalam vagina Rina sampai
denyut-denyut kenikmatan mulai mereda. Hugo memperkosa Rina selama 15
menit. Ketika penis besarnya itu dicabut dari liang senggama Rina
nampaklah warna merah darah masih melumuri batang penisnya. Rupanya
Rina mengalami pendarahan pada kemaluannya. Ukuran penis Hugo yang
besar itu telah merobek selaput daranya dengan cara yang brutal
sehingga luka robekan itu terus mengalirkan darah.
Kini giliran Simon ambil bagian. Seperti halnya Hugo dia hanya
mengeluarkan penisnya dari balik celana jeans yang ia kenakan. Ukuran
penisnya sama dengan milik Hugo. Masih belum hilang rasa sakit yang
mendera vaginanya kini Rinapun harus mengalami rasa sakit yang berikutnya
"Aaagghhhhhh…jjjaahhaaaannaaammmmmmmmmmm"….
Selanjutnya hanya terdengar lenguhan-lenguhan Rina. Hanya 5 menit
Simon bertahan sebelum lahar nistanya menyemprot ke dalam rahim Rina.
Bisa jadi nafsunya yang terus memuncak saat menyaksikan bagaimana Rina
diperkosa menyebabkan dia cepat mencapai orgasme. Kini giliran
Ferdinand akan memperkosa tubuh Rina. Dengan cepat dia melepas celana
panjangnya dan siap memasukkan penisnya yang sudah menegang itu ke
dalam liang kenikmatan Rina. Black yang sedari tadi menonton ganti
memegang kaki Rina yang semula dipegang oleh Ferdinand. Dengan kasar
Ferdinand menyodok dengan keras sehingga tubuh Rina
terguncang-guncang. Jeritan kesakitan Rina kembali memenuhi ruangan
itu. Luka lecet di vagina akibat bergesekan dengan penis para
pemerkosanya semakin parah. Rasa perih yang amat sangat melanda rongga
kenikmatan Rina. Tetapi apa daya hanya erangan dan lenguhan kesakitan
yang sanggup dilakukan olehnya. Sekitar 10 menit Ferdinand mengerjai
tubuh Rina sampai akhirnya cairan kentalnya menyemprot dalam tubuh
Rina. Sudah tiga orang memasukkan benih nista mereka ke dalam tubuh
Rina dan itupun masih belum semuanya. Philip yang mulai berhasrat
untuk menyetubuhi Rina meminta teman-temannya mengubah posisi Rina
menjadi telungkup sejajar lebar meja. Dengan posisi itu bagian
pinggang hingga kaki Rina berada di bawah sedangkan tubuh atasnya
ditopang oleh meja. Lebar meja tidak cukup untuk menyangga seluruh
tubuh bagian atas Rina sehingga perbatasan leher dan pundaknya
melewati batas lebar meja. Tangannya dipentangkan ke kanan dan ke kiri
sejajar panjang meja dengan tetap dipegangi oleh Anton dan Doni. Kini
Philip siap penetrasi dari belakang. Seperti yang dilakukan oleh Hugo
dia hanya mengeluarkan penisnya dari balik celananya.
"Uuggghhhhhh……………………………aakkkhhhhhhhhhh……."
Kepala Rina terdongak ke atas dan terdengar jeritannya yang tertahan
ketika penis Philip masuk ke dalam liang senggamanya. Philip melakukan
"fast in" dan "slow out" sehingga tubuh Rina terguncang-guncang ke
depan. Hubert yang sedari tadi hanya merekam adegan pemerkosaan itu
kini sudah tidak sanggup lagi menguasai birahinya. Dia menyerahkan
handycamnya kepada Hugo dan bergerak menuju Rina yang sedang diperkosa
Philip. Hubert menjambak rambut Rina hingga menengadah dan
mengeluarkan batang penisnya untuk diarahkan ke bibir tipis Rina. Rina
berusaha mengelak batang penis besar itu tetapi sodokan Philip yang
keras itu tidak sanggup untuk membuatnya tidak berteriak. Kesempatan
itu digunakan Hubert untuk melesakkan batang penisnya ke dalam mulut
Rina. Rina berteriak
"hhhmmmmm…hheeeemmmmmm…hhhmmmmmmm"
Hanya suara itulah yang kini terdengar dari mulutnya. Tidak seluruh
batang penis Hubert dapat masuk ke dalam mulut Rina. Sekitar 3/4
bagian batang penisnya yang sanggup dilesakkan ke dalam mulut Rina.
Rina terlihat megap-megap kesulitan bernafas. Air matanya terus
terlihat mengalir keluar merasakan penderitaan fisik yang kini sedang
dialaminya. Dari arah belakang Philip telah mulai menuju klimaks.
Sodokan-sodokannya semakin keras menyebabkan batang penis Hubert yang
dilesakkan dalam mulutnya terasa menyentuh kerongkongannya. Akhirnya
Rina merasakan ada cairan hangat menyemprot dalam liang kewanitaannya
yang menandakan Philip sudah sampai ke puncak kenikmatan.
Perlahan-lahan dirasakannya ukuran penis Philip mengecil dan dicabut
dari vaginanya yang terlihat bengkak dan memar itu. Lelehan sperma
bercampur darah turun melewati paha mulusnya sebelum akhirnya menetes
di lantai. Black kini telah siap menggantikan Philip untuk memperkosa
tubuh Rina. Batang kemaluannya yang keluar dari sela-sela resleting
celananya terlihat sungguh besar dan nampak berotot. Black
menggosok-gosokkan kepala penisnya ke kemaluan Rina agar terbasahi
oleh lendir yang masih ada pada liang sorga laki-laki itu. Rina
terlihat pasrah dengan pemerkosa kesekian yang akan menikmati
tubuhnya. Matanya terlihat sayu dan kadang kala terpejam membuang rasa
jijik akibat pemaksaan melakukan oral seks oleh Hubert. Sudah 15 menit
Rina mengoral batang penis Hubert tetapi masih belum ada tanda-tanda
bule itu akan mencapai puncak birahi. Tiba-tiba saja mata Rina
terbelalak, tangannya mengepal kuat dan mulutnya mengerang panjang
dalam sumbatan penis Hubert
"Hheheeemmmmggghhhhhhhhhrrrrrrrr….gghhrmmmmmhhhhh… .."
Black yang ada di belakangnya secara tiba-tiba menancapkan batang
penisnya ke dalam duburnya. Black rupanya seorang pecinta seks anal
sehingga kenikmatan tubuh perempuan yang diincarnya adalah bagian
anus. Rasa ngilu, nyeri dan perih mendadak menyerang bagian dubur
Rina. Rasa sakit akibat sodomi zuchini itu kini kembali mendera liang
pengeluarannya. Black kali ini sungguh sangat brutal. Ia memasukkan
seluruh batang penisnya ke dalam dubur Rina tanpa rasa belas kasihan
terhadap tubuh seorang wanita yang kini hanya bisa mengejan menahan
rasa sakit di anusnya. Kini rasa ingin buang air besarpun mulai
menyerang tubuh Rina. Sodokan-sodokan Black yang keras dan kasar
semakin menyebabkan rasa ingin buang air besar itupun semakin kuat.
Keinginan buang air besar itupun dapat dirasakan Black manakala liang
pengeluaran Rina berkontraksi untuk mendorong penisnya keluar dari
liang dubur. Tiba-tiba saja Rina mengejan dengan kuat. Tangannya
mengepal erat. Nampaknya Rina sudah tidak tahan lagi terhadap rasa
ingin buang air besar. Tetapi Black tetap berusaha menahan batang
penisnya untuk tidak keluar dari rongga dubur Rina. Suara Rina
terdengar mengejan panjang dalam sumbatan penis Hubert
"Heegggggghhhhhrrrrrrrrrrrrrr….hhmmmmmm………………… .."
Beberapa saat kemudian nampaklah cairan warna merah keluar dari liang
dubur Rina yang tersumbat penis Black. Rupanya hanya cairan pendarahan
dalam liang duburnya yang terluka itu mengalir keluar bersama
buih-buih putih. Black tetap menahan seluruh batang penisnya dalam
dubur Rina dan mulai memompa lagi sesaat setelah kontraksi liang dubur
Rina mengendor. Hubert melihat mata Rina yang memerah dengan air mata
yang semakin banyak mengalir. Dia tahu bahwa Rina mengalami rasa sakit
yang amat sangat akibat rasa buang air besar yang tertahan oleh
sumbatan penis Black di duburnya.
Sudah dua puluh menit lebih Hubert memaju mundurkan batang
kejantanannya ke dalam mulut Rina. Kini dia merasa bahwa puncak
kenikmatan akan segera dicapainya. Gerakannya semakin cepat membuat
Rina mulai tersedak-sedak. Di belakang nampak Black juga mulai
menanjak ke puncak kenikmatan. Keduanya menyodok dengan keras sampai
akhirnya Hubert menahan kepala Rina erat-erat dan memaksa batang
penisnya masuk seluruhnya sampai kerongkongan Rina dan membiarkannya
di sana selama beberapa saat. Rina nampak semakin megap-megap dengan
mata memerah dan air mata yang semakin banyak meleleh membasahi
pipinya yang mulus. Akhirnya terlontarlah cairan nista Hubert masuk ke
dalam kerongkangan Rina. Rasa asin dan pahit sperma Hubert dapat
dirasakan oleh Rina. Di belakang Black sedang memacu menuju puncak
sampai akhirnya terdengar lenguhan panjang menandakan kenikmatan tiada
tara yang sedang ia rasakan. Kini keduanya telah melepaskan batang
penisnya dari tubuh Rina. Tubuh Rina lunglai lemas tak berdaya di atas
meja. Cairan sisa sperma yang belum tertelan menetes ke luar dari
bibir tipisnya. Sekarang ini hanya tinggal Doni dan Anton yang belum
mengambil jatah menikmati tubuh Rina. Keduanya membopong tubuh Rina
dari atas meja dan menunggingkannya di atas karpet yang ada dalam
ruangan itu. Posisi Rina yang bersujud itu di tahan oleh Doni dengan
cara menekan pundak Rina. Selanjutnya terdengar erangan kesakitan Rina
"Agggghhhrrrrrrrrrrrrrr………ssaaakitttttt………."
Anton ternyata juga melakukan sodomi atas tubuh Rina. Dia melakukannya
dengan cepat. Tidak sampai 5 menit Anton telah ejakulasi dalam dubur
Rina. Tampak sekali wajah kenikmatan tersirat padanya. Kini Donipun
segera ambil bagian.
"Aku juga pengen coba pantatnya…..kaya apa sih rasanya…" Doni berkata
sambil bergerak ke arah belakang Rina. Rina yang menyadari bahwa
dirinya akan disodomi lagi berusaha beringsut.
"Jaangggannnn…ttoolonggg Don…jangaannn lagi….."
"Dubur Rina perih Don…..ttollong..saya gak mau disodomi lagi….." Rina
terlihat sangat menghiba.
"Sekali aja Rina….Aku pengen merasakan jepitan pantatmu yang sekal
itu…" Doni tersenyum menyeringai
"Ttttiiiddaaakkkk……jjjaaangggaannnn..ssaayaa..ttit daak mauu….." jerit
Rina.
Tiba-tiba saja Anton menarik tubuh Rina hingga telungkup di karpet.
Bulatan pahanya yang mulus itu sungguh terlihat menggairahkan bagi
Doni. Rina sudah tidak sanggup lagi meronta.
"..Jjaannggannnn..Doni….jjangaann lakukan itu…..kasihani aku Doni.."
Rina meratap.
Doni diam tak menjawab. Hanya dari gerakannya yang menindih paha Rina
telah menunjukkan bahwa hasrat sodomi atas tubuh Rina semakin kuat.
Dan memang kepanikan semakin melanda Rina manakala belahan pantatnya
itu dibuka oleh jari-jari tangan kiri Doni. Selanjutnya tangan kanan
Doni mengarahkan penisnya ke liang kenikmatan alternatif wanita itu.
Dan kemudian terdengar suara pilu menyayat Rina
"Agghhhhhhhrrrrrr…ddddduuuhhhhhhhhhhhhh………"
Doni menyodomi Rina dengan keras. Tubuh Rina yang terguncang-guncang
ke depan akibat sodokan Doni semakin terlihat menggairahkan. Tujuh
menit kemudian Doni mencapai klimaks dan cairan spermanya menyemprot
keras dalam dubur Rina. Doni segera mencabut penisnya dari dubur Rina.
Kini Rina benar-benar telah lunglai. Tubuhnya terasa remuk.
Persendiannya terasa terlolosi. Rina hanya sanggup menangis dan
terisak. Dari sela-sela belahan pantatnya nampak cairan putih kental
mengalir keluar. Tubuhnya kini telah ternoda oleh benih-benih nista
beberapa jahanam yang baru saja mengerjai tubuhnya. Kehormatannya-pun
telah direnggut paksa oleh para durjana itu. Tidak ada lagi harga diri
yang ia banggakan. Tidak ada lagi mahkota yang kelak dia persembahkan
pada malam pertama. Semuanya telah hilang. Yang pasti adalah noda-noda
nista yang kini telah mengalir dalam tubuhnya. Rina berharap bahwa
benih nista itu tidak tumbuh menjadi janin yang tidak jelas siapa
bapaknya. Mungkin saja itu benih adalah milik Hugo, Simon, Ferdinand,
atau Philip atau bahkan campuran semuanya yang kelak akan membentuk
janin. Satu yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana mendapatkan
sesuatu yang dapat mencegah kehamilan. Bagaimana dia dapat
menyembunyikan aib ini agar harga diri keluarganya tetap terjaga.
Ataukah bunuh diri jalan yang terbaik……atau……………………semua tiba-tiba
menjadi gelap………



Gadis Belia

Posted: 29 Nov 2007 03:42 AM CST

Pada tahun 1994 saya tercatat sebagai siswa baru pada SMUN 2 pada waktu itu sebagai siswa baru, yah.. acara sekolahan biasa saja masuk pagi pulang sekitar jam 14:00 sampai pada akhirnya saya dikenalkan oleh teman seorang gadis yang ternyata gadis itu sekolah juga di dekat sekolah saya yaitu di SMPN 3.


Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu masih agak malu-malu, saya lihat juga gadis itu tingginya hanya sekitar 158 cm dan mempunyai dada yang memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya sekitar 34B (kalau tidak salah umurnya 14 tahun), mempunyai wajah yang manis banget dan kulit walaupun tidak terlalu putih tapi sangat mulus, (sekedar info tinggi saya 165 cm dan umur waktu itu 16 tahun), saya berkata siapa namamu?, dia jawab L---- (edited), setelah berkenalan akhirnya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing, besoknya setelah saling telepon dan berkenalan akhirnya kami berdua janjian keluar besok harinya jalan pertama sekaligus cinta pertama saya membuat saya deg-degan tetapi namanya lelaki yah..., jalan terus dong.

Akhirnya malam harinya sekitar jam 19.00 saya telah berdiri didepan rumahnya sambil mengetuk pagarnya tidak lama setelah itu L----muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis sekali dia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir mencapai lutut berwarna hitam.
Saya tanya, "Mana ortu kamu...", dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal bersama papanya dan pembantu, sedangkan kalau kakaknya dan mamanya di kota lain.
"Oohh jawab saya," saya tanya lagi "Terus Papa kamu mana?" dia jawab kalau Papa lagi keluar ada rapat lain di hotel (papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan wagub) jadi saat itu juga kami langsung jalan naik motorku dan tanpa disuruhpun dia langsung memeluk dari belakang, penis saya selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada dia begitu kenyal terasa di belakangku seakan-akan memijit-mijit belakangku (motor waktu itu sangat mendukung, yaitu RGR).

Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan kami langsung pulang ke rumahnya setelah tiba saya lihat rumahnya masih sepi mobil papanya belum datang.
Tiba-tiba dia bilang "Masuk yuk!., Papa saya kayaknya belum datang". Akhirnya setelah menaruh motor saya langsung mengikutinya dari belakang saya langsung melihat pantatnya yang lenggak-lenggok berjalan di depanku, saya lihat jam ternyata sudah pukul 21.30, setiba di dalam rumahnya saya lihat tidak ada orang saya bilang "Pembantu kamu mana?", dia bilang kalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke belakang.
"oohh...", jawab saya.
Saya tanya lagi, "jadi kalau sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke belakang?", dia jawab iya.
"Terus Papa kamu yang bukain siapa..."
"saya..." jawabnya.
"Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih...", tanya saya. Dia bilang paling cepat juga jam 24.00. (Langsung saja pikiranku ngeres banget)
Saya tanya lagi "Kamu memang mau jadi pacar saya...".
Dia bilang "Iya...".
Lalu saya bilang, "kalau gitu sini dong dekat-dekat saya...", belum sampai pantatnya duduk di kursi sebelahku, langsung saya tarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia kaget sekali tapi belum sampai ngomong apa-apa tanganku langsung memegang payudaranya yang benar-benar besar itu sambil saya remas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet) diapun mengeluh "Ohh.., oohh sakit". katanya.

Saya langsung mengulum telinganya sambil berbisik, "Tahan sedikit yah...", dia cuma mengangguk. Payudaranya saya remas dengan kedua tanganku sambil bibir saya jilati lehernya, kemudian pindah ke bibirnya langsung saya lumat-lumat bibirnya yang agak seksi itu, kamipun berpagutan saling membenamkan lidah kami masing-masing. Penis saya langsung saya rasakan menegang dengan kerasnya. Saya mengambil tangan kirinya dan menuntun memegang penisku dibalik celana saya, dia cuma menurut saja, lalu saya suruh untuk meremasnya. Begitu dia remas, saya langsung mengeluh panjang, "Uuhh..., nikmat sayang", kata saya.
"Teruss...", dengan agak keras kedua tanganku langsung mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan muka saya di antara payudaranya, tapi masih terhalang BH-nya saya jilati payudaranya sambil saya gigit-gigit kecil di sekitar payudaranya, "aahh..., aahh". Diapun mendesis panjang tanpa melepas BH-nya saya langsung mengangkat BH-nya sehingga BH-nya berada di atas payudaranya, sungguh pemandangan yang amat menakjubkan, dia mempunyai payudara yang besar dan puting yang berwarna kemerahan dan menjulang keluar kira-kira 1/2 cm dan keras, (selama saya main cewek baruku tahu sekarang bahwa tidak semua perempuan nanti menyusui baru keluar putingnya). Saya jilat kedua payudaranya sambil saya gigit dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit marah. "Aahh..., sakkiitt...", tapi saya tidak ambil pusing tetap saya gigit dengan keras. Akhirnya diapun langsung berdiri sambil sedikit melotot kepadaku.

Sekarang payudara dia berada tepat di depan wajah saya. Sambil saya memandangi wajahnya yang sedikit marah, kedua tanganku langsung meremas kedua payudaranya dengan lembut. Diapun kembali mendesis, "Ahh..., aahh...", kemudian saya tarik payudaranya dekat ke wajah saya sambil saya gigit pelan-pelan. Diapun memeluk kepala saya tapi tangannya saya tepiskan. Sekelebat mata saya menangkap bahwa pintu ruang tamunya belum tertutup saya pun menyuruh dia untuk penutup pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia pergi menutup pintu dengan mengendap-endap karena bajunya tetap terangkat sambil memperlihatkan kedua bukit kembarnya yang bikin hati siapa saja akan lemas melihat payudara yang seperti itu.

Setelah mengunci pintu dia pun kembali berjalan menuju saya. Saya pun langsung menyambutnya dengan memegang kembali kedua payudaranya dengan kedua tangan saya tapi tetap dalam keadaan berdiri saya jilati kembali payudaranya. Setelah puas mulut saya pun turun ke perutnya dan tangan saya pelan-pelan saya turunkan menuju liang senggamanya sambil terus menjilati perutnya sesekali mengisap puting payudaranya. Tangan sayapun menggosok-gosok selangkangannya langsung saya angkat pelan-pelan rok yang dia kenakan terlihatlah pahanya yang mulus sekali dan CD-nya yang berwarna putih saya remas-remas liang kewanitaannya dengan terburu buru, dia pun makin keras mendesis, "aahh..., aakkhh... ohh..., nikmat sekali...", dengan pelan-pelan saya turunkan cdnya sambil saya tunggu reaksinya tetapi ternyata dia cuma diam saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan).
Terlihatnya liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu tapi sangat sedikit. Sayapun menjilatinya dengan penuh nafsu, diapun makin berteriak, "Aakkhh..., akkhh..., lagi..., lagii..".

Setelah puas sayapun menyuruhnya duduk di lantai sambil saya membuka kancing celanaku dan saya turunkan sampai lutut terlihatlah CD-ku, saya tuntun tangannya untuk mengelus penis saya yang sudah sangat tegang sehingga sepertinya mau loncat dari CD-ku. Diapun mengelusnya terus mulai memegang penis saya. Saya turunkan CD-ku maka penis saya langsung berkelebat keluar hampir mengenai mukanya. Diapun kaget sambil melotot melihat penis saya yang mempunyai ukuran lumayan besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15 cm) saya menyuruhnya untuk melepas kaos yang dia kenakan dan roknya juga seperti dipangut dia menurut saja apa yang saya suruh lakukan. Dengan terburu-buru saya pun melepas semua baju saya dan celana saya kemudian karena dia duduk dilantai sedangkan saya dikursi, saya tuntun penis saya ke wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Saya suruh untuk membuka mulutnya tapi kayaknya dia ragu-ragu.

Setengah memaksa, saya tarik kepalanya akhirnya penisku masuk juga kedalam mulutnya dengan perlahan dia mulai menjilati penis saya, langsung saya teriak pelan, "Aakkhh..., aakkhh...", sambil ikut membantu dia memaju-mundurkan penis saya di dalam mulutnya. "aakk..., akk..., nikmat sayyaangg...". Setelah agak lama akhirnya saya suruh berdiri dan melepaskan CD-nya tapi muncul keraguan di wajahnya sedikit gombal akhirnya CD dan BH-nya dia lepaskan juga maka telanjang bulatlah dia depanku sambil berdiri. Sayapun tak mau ketinggalan saya langsung berdiri dan langsung melepas CD-ya. Saya langsung menubruknya sambil menjilati wajahnya dan tangan saya meremas-remas kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang, diapun mendesis, "Aahh..., aahh..., aahh..., aahh", sewaktu tangan kananku saya turunkan ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di sana.

Setelah agak lama baru saya sadar bahwa jari saya telah basah. Saya pun menyuruhnya untuk membelakangiku dan saya siapkan penis saya. Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya dari belakang. Saya sodok pelan-pelan tapi tidak maumasuk-masuk saya sodok lagi terus hingga dia pun terdorong ke tembok tangannyapun berpangku pada tembok sambil mendengar dia mendesis, "Aahh..., ssaayaa..,. ssaayaangg..., kaammuu...", sayapun terus menyodok dari belakang. Mungkin karena kering penis saya nggak mau masuk-masuk juga saya angkat penis saya lalu saya ludahi tangan saya banyak-banyak dan saya oleskan pada kepala penissaya dan batangnya dia cuma memperhatikan dengan mata sayu setelah itu. Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya kembali. Pelan-pelan saya cari dulu lubangnya begitu saya sentuh lubang kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali, "Ahh..., aahh...", saya tuntun penis saya menuju lubang senggamanya itu tapi saya rasakan baru masuk kepalanya saja diapun langsung menegang tapi saya sudah tidak peduli lagi. Dengan satu hentakan yang keras saya sodok kuat-kuat lalu saya rasa penis saya seperti menyobek sesuatu maka langsung saja dia berontak sambil berteriak setengah menangis, "Ssaakkiitt...". Saya rasakan penis saya sepertinya dijepit oleh dia keras sekali hingga kejantanan saya terasa seperti lecet di dalam kewanitaannya. Saya lalu bertahan dalam posisi saya dan mulai kembali menyiuminya sambil berkata "Tahann.. sayang... cuman sebentar kok..."

Saya memegang kembali payudaranya dari belakang sambil saya remas-remas secara perlahan dan mulut saya menjilati belakangnya lalu lehernya telinganya dan semua yang bisa dijangkau oleh mulut saya agak lama. Kemudian dia mulai mendesis kembali menikmati ciuman saya dibadan dan remasan tangan saya di payudaranya, "Ahh..., aahh..., ahh..., kamu sayang sama lakukan?" dia berkata sambil melihat kepada saya dengan wajah yang penuh pengharapan. Saya cuma menganggukkan kepala padahal saya lagi sedang menikmati penis saya di dalam liang kewanitaannya yang sangat nikmat sekali seakan-akan saya lagi berada di suatu tempat yang dinamakan surga. "Enak sayang?", kataku. Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, "Aahh..., aahh..." lalu saya mulai bekerja, saya tarik pelan-pelan penis saya lalu saya majukan lagi tarik lagi majukan lagi dia pun makin keras mendesis, "Aahh..., ahh..., ahhkkhh..." akhirnya ketika saya rasakan bahwa dia sudah tidak kesakitan lagi saya pun mengeluar-masukkan penis saya dengan cepat dia pun semakin melenguh menikmati semua yang saya perbuat pada dirinya sambil terus-meremas payudaranya yang besar itu. Dia teriak "Sayaa mauu keeluuarr...".
Sayapun berkata "aahhkkssaayyaanggkkuu...", saya langsung saja sodok dengan lebih keras lagi sampai-sampai saya rasakan menyentuh dasar dari liang senggamanya tapi saya benar-benar kesetanan tidak peduli lagi dengan suara-suara, "Ahh..., aahh..., ahh..., akkhh..., akkhh..., truss" langsung dia bilang "Sayyaa kkeelluuaarr..., akkhh..., akhh...", tiba-tiba dia mau jatuh tapi saya tahan dengan tangan saya. Saya pegangi pinggulnya dengan kedua tangan saya sambil saya kocok penis saya lebih cepat lagi, "Akkhh..., akkhh..., ssaayyaa mauu..., kkeelluuaarr..., akkhh...", pegangan saya di pinggulnya saya lepaskan dan langsung saja dia terjatuh terkulai lemas.

Dari penis saya menyemprotlah air mani sebanyak-banyaknya, "Ccroott..., croott.., ccrroott..., akkhh..., akkhh...", saya melihat air mani saya membasahi sebagian tubuhnya dan rambutnya, "Akhh..., thanks sayangkuu...", sambil berjongkok saya cium pipinya sambil saya suruh jilat lagi penisku. Diapun menjilatinya sampai bersih. Setelah itu saya bilang pakai pakaian kamu dengan malas dia berdiri mengambil bajunya dan memakainya kembali.

Setelah kami berdua selesai saya mengecup bibirnya sambil berkata, "Saya pulang dulu yah sampai besok sayang...!". Dia cuma mengangguk tidak berkata-kata lagi mungkin lemas mungkin nyesal tidak tahu ahh. Saya lihat jam saya sudah menunjukkan jam 23.35, saya pulang dengan sejuta kenikmatan.

Diperkosa keponakan sendiri

Posted: 29 Nov 2007 03:37 AM CST

Tante Betsy, wanita setengah baya yang masih lumayan seksi. Sudah dari waktu yang lama ia menjadi sasaran untuk "digoyang" oleh keponakannya sendiri, Budi. Budi yang berasal dari Bandung, sudah hampir lima tahun tinggal dirumah tante Betsy, karena ia kuliah di Jakarta. Dan sudah lima tahun itu juga tante Betsy menjadi fantasi seks-nya dikala ia bermasturbasi. Seringkali ia mengambil pakaian dalam tante Betsy dari bak pakaian kotor yang terletak di dalam kamar mandi. Bh dan korset tante Betsy merupakan primadona Budi dalam bermasturbasi.

Setiap kali bermasturbasi ia selalu menumpahkan airmaninya dicelana dalam maupun bh tante Betsy. Bahkan tidak jarang ia mengambil celana korset tante Betsy yang sudah dicuci bersih, dan dengan sengaja memuntahkan spermanya di bagian selangkangan celana dalam tersebut, ataupun berkali-kali berejakulasi di cup bh tante Betsy hingga berhari-hari, kemudian 'benda-benda tersebut' dikembalikannya ketempat semula. Dan berharap tante Betsy segera memakai 'perabotannya' tersebut.
Tidak jarang juga Budi mencoba mengintip tante Betsy pada waktu tidak ada orang dirumah tersebut. Melalui lubang kunci pintu kamra tante Betsy, Budi sering kali melihat tubuh montok tante Betsy tanpa busana, ataupun hanya dibalut pakaian dalamnya saja.

Dan biasanya aksi pengintipan tersebut diakhiri dengan beronani memakai pakaian dalam tante Betsy dikamarnya.
Budi sering kali mengumpulkan airmaninya ketika selesai beronani didalam cangkir kecil, dan disimpannya didalam kulkas kecil yang ada dikamarnya. Ketika cangkir tersebut sudah hampir penuh, ketika tidak ada orang yang melihat, ia mencampurkan 'airmani basi' tersebut kedalam soup atau pun minuman yang biasa disediakan untuk tante Betsy. Bahkan pernah juga ia mencampurkan spermanya sebanyak dua sendok makan kedalam hamburger yang disediakan untuk tante Betsy. Dan secara diam-diam Budi menyaksikan tante Betsy menikmati santapannya plus airmani miliknya didalam makanan tersebut. Dan biasanya libido Budi langsung tinggi, dan cepat-cepat ia beronani dikamarnya.

Makin lama Budi makin tidak tahan setiap kali melihat tubuh tante Betsy yang masih sintal itu, maka timbullah niat jahatnya untuk memperkosa tante Betsy. Berhari-hari ia merencanakan hal tersebut, dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya.
Obat bius pun sudah dipesannya dari seorang teman yang entah dapat dari mana.
Maka pada malam hari itu ia mengajak teman-temannya untuk mengerjai tante Betsy disalah satu rumah temannya yang sedang kosong.

Teman-teman Budi yang memang rata-rata maniac seks pun ikut bergairah mendengar rencana tersebut. Maka terkumpullah teman-teman Budi sebanyak dua puluh lima orang. Dua puluh orang menunggu dirumah kosong, lima orang lagi bertugas menculik tante Betsy, termasuk Budi. Maka pada hari itu mereka seharian mengikuti kemanapun tante Betsy pergi, hingga pada malam hari kesempatan itu datang juga.

Ketika tante Betsy sedang menunggu lift diparkiran basement salah satu restaurant, Empat orang teman Budi pun ikut mengantri lift dengan tante Betsy. Ketika tante Betsy lengah, salah seorang langsung mengeluarkan saputangan yang sudah ditetesi kloroform cukup banyak, dan dengan cepat dibekapkan kehidung dan mulut tante Betsy, yang seketika itu juga langsung pingsan, dan keempat teman Budi langsung membopong tante Betsy masuk kedalam minibus yang sudah menunggu didepan lift tersebut.

Hampir satu jam mereka baru sampai kerumah kosong tersebut, dan langsung memasukkan mobil kedalm garasi. Tante Betsy pun langsung digotong-gotong beramai-ramai kedalam ruang tamu. Dalam keadaan masih tidak sadar, tante Betsy didudukkan dikursi sofa. Dan tanpa komano lagi mereka bergantian meraba-raba serta meremas-remas tubuh tante Betsy. Pakaian tante Betsy yang berupa baju terusan hingga sebatas mata kaki pun dilucuti dengan tidak sabar, hingga akhirnya tinggal bra dan celana dalam saja yang menempel ditubuhnya.

Gunung kembar tante Betsy merupakan menu utama untuk 'diobok-obok' oleh Budi dan teman-temannya. Beberapa tangan dengan brutalnya bergantian berada dibalik bh tante Betsy yang berupa long torso tersebut. Cup bh yang berukuran 36B itu pun akhirnya dibetot kebawah hingga gunung kembar yang masih sintal itu tersembul keluar. Beberapa orang langsung bergantian mengisap-isap kedua putting susu tante Betsy, sambil sesekali meremas-remas 'kontainer susu' tante Betsy tersebut. Salah seorang teman Budi menggunting bagian selangkangan celana dalam tante Betsy, dan dengan sangat bernapsu tante Betsy dipindahkan ke matras dan langsung saja diantri beramai-ramai.

Budi mendapat giliran pertama menyetubuhi tante Betsy, sedangkan yang lain sambil menunggu giliran memain-mainkan batang penisnya diwajah tante Betsy yang masih terlihat cantik itu. Mulut tante Betsy dibuka paksa dan dua batang penis sekaligus masuk dan berusaha bergerak keluar masuk sebisa-bisanya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasanya bagi pelakunya. Satu batang penis panjang dan besar milik Heri melintang dari atas dahi hingga diatas hidung tante Betsy, dan Heri pun dengan semangat 45 menggosok-gosokkan batang penisnya maju mundur dengan cepat.

Vagina tante Betsy yang masih lumayan 'kenceng' itu pun nonstop digunakan untuk memuaskan napsu Budi dan teman-temannya. Setengah botol baby oil sudah habis digunakan sebagai pelicin batang penis Budi dan teman-temannya. Batang Penis Budi dengan lancarnya keluar masuk vagina tante Betsy, membuat teman-teman yang lain menjadi tak sabar menunggu giliran. Tante Betsy yang tak sadarkan diri itu sudah hampir dua jam dikerjain para sex maniac tersebut dengan berbagai aktivitas sex yang aneh-aneh. Berbagai pose bugil tante Betsy diabadikan oleh Bambang dengan digital camera serta handycam, mulai dari oral sex hingga persetubuhan massal.

Hingga akhirnya adegan climak berejakulasi pun siap diabadikan. Budi mangambil kacamata baca dari tas tante Betsy, kemudian memakaikan kaca mata tesebut diwajah tante Betsy yang cantik itu. Dan keduapuluh enam orang tersebut mulai bergantian berejakulasi diwajah tante Betsy. Dimulai dengan giliran pertama oleh Budi 'sang pencinta tante Betsy'. Budi dengan cepat mengeluar-masukkan batang penisnya dimulut tante Betsy yang seksi itu hingga akhirnya saat berejakulasi ia mengocokkan penisnya tesebut tepat diatas wajah tante Betsy dan airmanipun muncrat berantakan diseluruh wajah tante Betsy berupa garis-garis lurus putih kental hingga mengenai kacamata tante Betsy.

Heri, Hendra, Feri dan Faisal berlutut diatas wajah tante Betsy dari empat penjuru dan tisak sampai semenit airmani mulai bermuncratan secara bergantian membasahi wajah dan leher tante Betsy dengan begitu derasnya. Lima orang teman Budi yaitu Tumpal, Ade, Erik, Udin dan Ucok memilih berjakulasi dimulut tante Betsy, dan merekapun tidak sampai lima menit lima menit sudah memindahkan isi kantung buah sakar mereka kemulut tante Betsy, hingga luber hampir keluar dari mulut seksi tersebut.

Udin pun menggerak-gerakkan mulut dan wajah tante Betsy hingga sedikit demi sedikit 'air peju' tersebut tertelan oleh tante Betsy. Sedangkan yang lainnya melakukan hal yang pada tante Betsy. Beberapa orang bergantian menjepitkan batang penisnya diantara kedua gunung kembar tante Betsy yang montok itu. Beberapa tetes baby oil diteteskan didada tante Betsy sebagai pelicin, yang membuat para lelaki tersebut mundur maja tak karuan, sementara penis mereka dengan lancarnya ikut bergerak mundur maju pula disela-sela gunung kembar tante Betsy yang sedang diremas-remas, dan akhirnya hanya beberapa menit saja batang kejantanan mereka berjantian muncrat diantara gunung kembar tante Betsy hingga bertetesan membasahi bh yang masih membalut tubuh tante Betsy itu.

Sementara itu yang lainnya bergantian berejakulasi diwajah dan mulut tante Betsy yang dibuka paksa dengan sebuah alat pengganjal sehingga tidak dapat dikatupkan. Air mani bermuncratan diwajah tante Betsy dan sebagian lagi masuk kedalam mulutnya. Bahakan beberapa orang teman Budi, termasuk Budi berejakulasi hingga tiga kali diwajah tante yang cantik itu karena saking napsunya.
Selesai pemerkosaan tersebut, tante Betsy yang masih belum sadarkan diri itu dibersihkan oleh beberapa orang. Muka tante Betsy yang blepotan sperma hanya diseka dengan celana dalam Budi yang kemudian disumpalkan kedalam mulut tante Betsy. Rambut tante Betsy yang berantakan disisir rapi kembali, dan kacamatanya yang kotor karena airmanipun dibersihkan dan dipakaikan kembali, hingga akhirnya tante Betsy bersih seperti sedia kala.

Tante Betsypun akhirnya siuman sementara jam sudah menunjukkan pukul satu malam, dan betapa kagetnya ia ketika melihat dirinya hanya memakai bra dan celana dalam korsetnya yang sudah putus dibagian selangkangan dan lebih kaget lagi melihat Herman dengan ganasnya menyetubuhi tante Betsy sedari tadi. Batang penisnya keluar masuk dengan lancar sementara yang lainnya dengan wajah ditutup sarung kepala menonton sambil mengocok penis masing-masing.

Budi dan teman-temannya terpaksa memakai sarung penutup kepala karena takut dirinya diketahui oleh tante Betsy. Sekali lagi mereka mengerjai tante Betsy sebelum subuh tiba. Batang penis satu persatu bergantian mengocok vagina tante Betsy, sementara itu seperti biasa yang lainnya merem melek memaksa tante Betsy mengisap serta mengulum penis mereka. Bahkan mereka bergantian memaksa tante Betsy mengulum-mgulum sepasang buah sakar mereka sambil menekan-nekan wajah tante Betsy diselangkangan mereka itu hingga akhirnya keduapuluh enam orang itu kembali berejakulasi bersama-sama.

Satu persatu dari mereka kembali memuncratkan spermanya diwajah dan mulut tante Betsy. Salah seorang mengambil segelas airmani dingin dari kulkas dan memaksa siseksi tante Betsy untuk menelan air mani tersebut sambil mengunyah-nguyah airmani tersebut terlebih dahulu sampai habis.

Airmani yang bertetesan diwajah tante Betsy disendoki dan dicekoki kemulut tante Betsy hingga bersih. Selesai 'mandi peju' tante Betsy kembali dirapihkan dan dipakaikan bajunya kembali, namun celana korset dan bh nya dicopot dari tubuhnya untuk kenang-kenangan buat mereka. Sebagai gantinya mereka memaksa tante Betsy memakai celana dalam G-String berwarna merah yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sedangkan gunung kembar tante Betsy dibiarkan bergelayutan tanpa bh, hingga putting susu tante Betsy mencuat kedepan. Tante Betsy diturunkan ditengah jalan dekat rumahnya, kemudian mereka pergi begitu saja.

Istri Pengusaha Kaya

Posted: 28 Nov 2007 06:16 PM CST

Perkenalkan nama saya Dedi (25 tahun), saya berdomisili di Bandung. Setelah SMA, dengan sedikit memaksa aku ingin kuliah di Bandung. Sedikit banyak jiwa pemberontakanku mulai nampak. Aku bersikeras dengan keinginanku, meskipun pada awalnya kedua orangtua berusaha keras menolak.

Di Bandung, awal-awal aku duduk di bangku kuliah, aku merasakan sebagai sosok lelaki yang kerdil. Dalam hati, aku seakan tidak dapat menerima pergaulan dengan mereka yang tidak bergaya hidup pas-pasan. Aku merasakan dapat menempatkan diri di tengah mereka. Entah mengapa, aku cenderung memilih-milih pergaulan.

Tipikal yang menjadi temanku adalah mereka yang bergaya hidup wah. Aku cenderung menjauh dari pergaulan yang gaya hidup pas-pasan. Hal ini dikarenakan perasaan superiority complex yang ada di benakku. Dari pakaian yang dikenakan atau gaya bicara, aku dapat menilai, apakah mereka anak orang kaya sepertiku atau tidak.

Ketika itu usiaku sudah 20 tahun. Belakangan, aku merasakan cocok dengan salah seorang teman yang bernama Tony. Kunilai dia anak orang kaya di kota lain terlihat dengan gemerlap kehidupannya yang suka sekali berfoya-foya. Kulihat lama-kelamaan dia pun seakan menunjukkan sikap yang cocok berteman denganku. Kami pun berteman baik. Namun di balik kebanggaanku bergaul dengannya, disitulah aku langkahkan kaki ke jalan yang salah untuk melangkah. Aku terlibat dalam pergaulan yang salah dan tidak wajar. Lambat laun, aku terbawa arus nakal Tony dan beberapa temannya.

Kehidupanku yang gelamor dan banyak uang, seakan memuluskan jalan untuk berbuat seenaknya. Dari mulai minum-minum di beberapa cafe ataupun bar, menghisap 'gele' ataupun 'ganja' sampai 'putaw'. Tidak hanya itu, pergaulanku yang akrab itu belakangan membawaku pada keinginan 'main' dengan ABG yang kami booking dari pinggir jalan utama kota kembang ini.

Dari semua pengalaman yang tadinya didasari rasa coba-coba dan ingin tahu itu, lama-kelamaan membuatku keranjingan. Kenakalanku tidak itu saja, melalui Tony pula aku diperkenalkan dengan seorang tante-tante yang umurnya kutaksir 35 tahun. Sebut saja namanya Tante Mia. Wanita itu, namanya membekas sampai sekarang, karena dialah wanita yang kuanggap mampu mengubah jalan hidupku. Dia wanita yang pertama kali kupeluk, kucium, dan juga wanita yang pertama kalinya yang tidur bersamaku.

Sebenarnya, Tante Mia adalah isteri seorang pengusaha kaya. Karena sering kali kesepian akibat urusan bisnis suaminya, mengharuskan Tante Mia banyak ditinggal sendirian di rumah. Suaminya kerap kali melancong ke luar kota bahkan ke luar negeri dalam waktu lama.

Awal perkenalan kami terjadi di sebuah cafe di sebuah hotel ternama di kawasan pusat kota di Bandung. Petang itu, aku datang bersama Tony yang lebih dulu akrab dengan Tante Mia. Sebenarnya aku tidak mengira kalau temanku itu sengaja menyodorkanku untuk memuaskan nafsu birahi Tante Mia. Semua itu baru terungkap saat temanku mohon diri dengan alasan ada kepentingan mendadak. Jadilah kami hanya menikmati lembutnya alunan musik live berduaan saja. Awalnya, hanya sekedar ngobrol sana-sini, namun satu ketika Tante Mia mengisyaratkan satu tingkah nakal. Tak pelak sebagai lelaki normal, semua itu mengundang birahiku. Rasanya klop sudah, saat dia menawarkanku untuk menginap di hotel dimana dia telah booking kamar.

Aku yang awalnya merasa ragu, akhirnya tidak berkutik, aku pun bagaikan kerbau dicocok hidungnya. Kuiyakan saja semua permintaan Tante Mia, termasuk keinginannya mengajaku menginap di hotel. Dalam hati aku berpikir, rasanya sangat disayangkan jika semuanya ini disia-siakan. Meskipun tubuhnya tidak terlalu tinggi untuk seukuran wanita indonesia, wajahnya yang bersih dan terawat, menyiratkan bias kecantikannya. Gaya bicaranya yang mirip dengan yang dikatakan ABG kekinian, menambah kecentilan Tante Mia.

Kuungkapkan keraguan jika nantinya Tony datang dan mencari kami dimana dia meninggalkan kami berdua di cafe tersebut, namun semua kekhawatiran itu hanya ditanggapi dengan senyum tenang dan menawan yang merekah di kedua bibir Tante Mia. Dia pun meyakinkanku bahwa Tony tidak akan kembali ke cafe lagi. Dapat ditebak apa yang akan terjadi, jika lelaki normal yang telah dewasa berduaan di dalam kamar bersama wanita cantik dan matang, yang ada tentu kobaran nafsu yang menggelora. Dan benar saja, hubungan badan pun terjadi di antara kami.

Dibelainya rambutku, didekapnya tubuhku yang tak berbalut selembar kain pun. Dadaku dielus dan diciumi dengan penuh nafsu. Saling pagut dan raba pun tidak terelakkan lagi. Kemudian apa yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh suami-istri itu bersama Tante Mia dengan nafsu yang bergelora itu pun terjadi. Tidak hanya sekali, aku melakukannya saat malam itu. Tenaga Tante Mia yang sangat liar memacu gelora birahi. Aku merasa begitu tersanjung, sekaligus banyak belajar dari Tante Mia. Sungguh aku merasakan ada pengalaman baru dan sangat mengesankan yang selama ini belum pernah kualami.

Kurasakan juga bagaimana gelora birahinya yang menggebu. Aku merasa tertantang untuk mengimbanginya. Dan ternyata aku berhasil memuasinya. Ini dikatakannya sendiri oleh Tante Mia. Setelah puas dengan permainan binal Tante Mia di atas ranjang, kembali kegundahan menyeriangi di benakku. Kepada Tante Mia kuwanti-wanti untuk tidak menceritakannya kepada Tony ataupun siapa saja. Namun dia hanya tersenyum tipis menghadapi kegundahanku.

"Kenapa mesti risau..? Tony adalah kekasih gelapku juga. Dalam waktu-waktu tertentu, dengan senang hati dia melayaniku.." kata Tante Mia.
Setelah itu, jadilah aku mulai ikut berpetualang sebagai pemuas nafsu seks, kukejar perasaan nikmat dan gairahku dengan Tante Erlyn, Tante Sofia, Tante Sally, dan beberapa tante lainnya.

Aku pun seakan dimanjakan oleh mereka dengan limpahan uang yang datangnya bagaikan air yang mengalir. Namun aku memiliki langganan yang mengaku sangat terkesan dengan pelayananku. Dia seorang dokter di Jakarta. Perkenalanku terjadi saat di suatu sore tiba-tiba HP-ku berdering. Dengan dalih untuk dipijat tubuhnya, suara wanita itu menginginkan agar aku datang ke sebuah hotel di kawasan jantung kota Bandung. Aku pun meluncur ke hotel yang dimaksud.

Sore itu menjadi awal bagi permainan yang panas dengan sang dokter yang sedang mengikuti seminar di Bandung ini. Dokter yang berwajah cantik itu sangat ganas memperlakukanku, nafsu birahinya yang besar membuatku kewalahan. Tidak hanya di tempat tidur saja dia menginginkan permainan panas denganku. Itu semua dilakukan di sofa ruang tamu kamar hotel, di kamar mandi, ataupun di kaca rias kamar suite yang disewanya itu. Setelah puas, baru ia memberiku banyak uang, Dan rasanya itulah rekor bayaranku yang kuterima sebagai gigolo pemuas nafsu. Dia pun barjanji akan kembali lagi untuk memintaku untuk melayaninya.

Benar saja, beberapa bulan kemudian sang dokter itu kembali lagi ke Bandung, kali ini dia tidak sendiri, melainkan membawa 2 orang temannya yang mengaku Tante Lusi, dan Tante Nina. Setelah aku diminta melayani mereka bertiga, aku pun melakukannya dengan baik hingga mereka puas. Tidak hanya sekaligus kami bertiga bermain, melainkan aku melayaninya satu persatu. Keesokan paginya mereka pun kembali ke Jakarta.

Tetapi alangkah terkejutnya aku, minggu kemudian sang dokter kembali lagi bersama temannya kembali, kali ini hanya seorang, dia bernama Tante Siska. Seperti sebelumnya, dia meminta kupuasi nafsu seksnya, sebelum akhirnya memintaku untuk melakukan hal yang sama terhadap temannya itu.

Kali ini dalam benakku ada berbagai pertanyaan, "Ada apa di balik keanehan ini..?"
Dalam suatu kesempatan, terbukalah tabir rahasia itu. Menurut Tante Siska teman sang dokter itu, dia adalah salah satu anggota arisan yang bandarnya adalah Ibu dokter itu. Mereka beranggapan bahwa aku lah pria yang dipilih, dan yang paling hebat, dan kuat dalam memuasi mereka. Jadi aku dijadikan komoditi arisan seks oleh mereka yang terdiri dari istri pengusaha dan pejabat. Gila, betapa terkejutnya aku mendapat jawaban itu. Namun aku berusaha mengendalikan kegundahanku, aku tidak perduli dengan perasaanku, toh aku mendapat imbalan jasa yang sangat besar dari mereka. Dan aku pun dapat memanfaat uang tersebut untuk kuliahku.

Tamat


Gadis Pemijat 5

Posted: 28 Nov 2007 12:07 PM CST

GARA-GARA GADIS PEMIJAT
(Bagian Akhir)

Untung saja kolam renangnya tidak dalam sehingga bisa enak kami bercinta. "Ughhh..." desahnya agak terkejut, ia pun membalas ciumanku. Aku tidak melucuti pakaian renangnya, aku cuma menyibakkan sedikit cawat bawahnya sehingga liang kemaluannya kelihatan. Uhhh, kelihatan menggairahkan sekali kemaluannya di dalam air yang jernih itu. Dengan ganas aku menciumi bibirnya yang basah serta meremas lembut dadanya yang terbalut baju renang yang tipis itu. Ema kelihatan sangat cantik dan segar dengan badan dan rambut yang basah terurai.

"Ahhh... sayang... nanti kelihatan orang," katanya khawatir.

"Tenang Sayang... tak ada yang melihat kita begini..." kataku.

"Baiklah... Ndra kubuat kamu 'KO' di kolam," tantangnya.

Ia langsung memelorotkan celana renangku, batang kemaluanku yang sudah tegang pun menyembul dan kelihatan asyik di dalam air. Ema mengocok kemaluanku di dalam air. "Mmm..." geli dan sejuk rasanya. Tanpa menunggu lama lagi aku ingin memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya.

"Ema... kumasukin yah?"

Ema pun tanpa ragu menganggukkan kepala tanda setuju.


"Baik Sayang..."

Kudekap erat tubuhnya agar dekat, ternyata Ema sudah membimbing batang kemaluanku masuk ke lubang kemaluannya.

"Argghh..." ia menyeringai ketika kepala kemaluanku menyentuh bibir kemaluannya.

Aku pun segera mengangkat Ema ke pinggir kolam dan kubaringkan dia, kutekuk lututnya sehingga lubang kemaluannya kelihatan menganga.

"Siap Sayang..."

Aku mulai memasukkan sedikit.

"Uhhhh..." padahal baru kepalanya saja yang masuk.
"Aahhh.. Sayang, punyamu terlalu besarr..."

Aku pun segera menekan lagi dan akhirnya "Blesss..." seluruhnya bisa masuk.

"Uhhh... ahhh... mmmhhh," erangnya menahan gesekanku.
"Sshhh... ssss, enak kan Sayyy..." kataku terengah.
"Huuff... uhhh... ayoo terus Ssayy... ennnakk..."

Terdengar bunyi yang tak asing lagi, "Crep.. crepp... sslepp..." asyik kedengarannya, aku semakin giat memompanya. Kemudian aku ingin ganti posisi, aku suruh Ema menungging.

"Ayolah Sayang... puaskan aku..."

Ia pun menungging dengan seksinya, terlihat lubang kemaluannya merekah, menarik untuk ditusuk. "Sleppp..." batang kemaluanku kumasukkan.

"Ahhh.. ssss... ahhh..." desahnya penuh kenikmatan.

Nafasnya semakin memburu.

"Huff... ehhh... mmm..." aku terengah.

Kupercepat gerakanku, "Slep... slep.. slep.. slep..."

"Ahhh... Ssayangg... bentar lagi aku nyampe nihh..." kataku terburu.
"Aakuu... jugaa..."

Himpitan liang kemaluan Ema yang kencang dan basah membuat maniku tak kuasa lagi untuk keluar, dan akhirnya Ema pun mencapai puncaknya.

"Ooohhh... akuu lagi Sayanggg..."

Cairan kemaluannya pun membanjir, hal ini semakin membuatku juga tidak tahan.

"Aaahhh... aku juga Sayangg!" erangku penuh kenikmatan.
"Cepat cabut... keluarin di luarr...!" sergahnya.

Dengan cepat segera kucabut kemaluanku, Ema pun tanggap ia pun memegangnya dan mengocoknya dengan cepat.

"Aauuhhh! nikmattt!"
"Crut..." spermaku pun keluar.
"Eerghhh... ahh..." tapi sedikit, maklum terforsir.
"Aahh... kok sedikit Sayanggg..." katanya meledek.
"Eemmhh... ah... habis nih cairanku..."

Aku pun lemah tak berdaya dan ia pun berbaring di pangkuanku. Aku mengelus rambutnya yang basah, kukecup keningnya, "Cup! I love you Sayang..."

Sejak itulah kami sering melakukannya, baik di mobil maupun pada di sebuah gubuk di hutan kala kami berburu bersama. Dalam hatiku aku berkata, gadis pemijatlah yang membuatku jadi begini, membuatku menjadi begini, membuatku menjadi "bercinta". Yah...!

------------SELESAI-----------------------

Cerita Minggu Depan


"Aahh..ahhhh...yang keras pencetnya !" desahku makin gila bersamaan dengan birahiku yang makin tinggi.

Hentakan badanku makin keras sampai kepala penis itu terkadang menyodok-nyodok rahimku. Keringat pun bercucuran pada tubuh dan wajah kami apalagi kamar ini tidak ber-AC, cuma dipasang exhaust van di atas pintu. Walaupun aku berusaha agar tidak terlalu gaduh mengingat hari masih terang dan banyak orang lalu lalang, namun sesekali aku tak kuasa menahan jeritan
kecil kalau hentakannya kencang atau mengenai G-spot ku. Memang tidak nyaman melakukannya pada saat dan tempat seperti ini, tapi kalau sudah kebelet ya apa boleh buat, lagipula ada sensasi tersendiri juga bermain dalam keadaan tidak safe seperti ini.

Wednesday, November 28, 2007

Ibu Kosku, Kekasihku

Posted: 28 Nov 2007 06:56 PM CST

Saya ingin menceritakan pengalaman saya waktu masih kuliah semester lima di Bandung sekitar 4 tahun yang lalu. Nama saya sebut saja Iwan dan berasal dari Jakarta dan waktu itu saya kos di dekat daerah Dago. Tempat kosnya lumayan bagus dan ibu kos saya waktu itu berumur sekitar 28 tahun. Suaminya sudah meninggal karena kecelakaan lalu lintas dan dia belum sempat dikaruniai anak. Untuk membiayai kehidupan sehari-harinya dia bekerja di salah satu bank swasta di Bandung.

Sebelumnya saya kos di daerah Cihampelas dan karena ribut dengan salah satu anak kos, saya coba cari tempat kos lain. Rumah kos baru ini saya ketahui dari salah seorang teman yang masih saudara sepupu ibu kos saya. Waktu pertama kali saya datang ke tempat kos, ibu kos saya (sebut saja namanya Rita) agak ragu-ragu karena dia sebenarnya berencana untuk menerima wanita. Maklum karena dia hanya tinggal sendiri ditemani seorang pembantu. Untung akhirnya Mbak Rita mau menerima saya karena tahu saya adalah teman dekat saudara sepupunya.

Sebagai gambaran, Mbak Rita tingginya 163 cm dengan wajah yang cantik. Kulitnya putih dan badannya juga sangat seksi dengan ukuran dada yang lebih besar dari umumnya wanita Indonesia. Belum lama saya tinggal di sana saya mulai tahu kalau Mbak Rita dibalik penampilan luarnya yang cukup alim, ternyata mempunyai libido seks yang cukup tinggi. Waktu itu saya sedang di rumah sendiri dan saya suruh pembantu untuk membelikan makanan di luar. Saya iseng dan masuk ke kamarnya serta membuka lemari pakaiannya. Di lacinya, di bawah tumpukan pakaian dalamnya ternyata terdapat dua buah vibrator yang mungkin sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Mbak Rita juga mempunyai beberapa pakaian dalam dan baju tidur yang sangat seksi. Hal ini sebenarnya sudah saya ketahui dengan memperhatikan pakaian-pakaian dalamnya bila dijemur di halaman belakang rumah.

Di rumahpun Mbak Rita cukup bebas, dia hampir tidak pernah menggunakan bra bila di rumah walaupun dia tahu saya ada di rumah. Di balik baju kaos ketat atau baju tidur yang dikenakannya seringkali putingnya terlihat menonjol dan saya sendiri yang kadang-kadang risih untuk melihatnya. Kalau keluar kamar mandipun Mbak Rita biasanya hanya mengenakan handuk yang tidak terlalu besar dan dililitkan di badannya sehingga kemontokan buah dadanya dan kemulusan pahanya terlihat jelas.

Suatu pagi waktu saya sedang sarapan Mbak Rita masuk ke ruang makan sehabis melakukan senam aerobik di halaman belakang. Dia mengenakan baju senam berwarna merah muda dengan bahan yang cukup tipis tanpa lapisan dalam lagi. Karena bajunya basah oleh keringat, waktu dia masuk saya cukup kaget, karena buah dada dan putingnya terlihat jelas sekali di balik baju senamnya. Saya yakin dia sadar akan hal itu dan sengaja mengenakan baju senam itu untuk menggoda saya. Waktu saya menoleh ke dadanya, Mbak Rita langsung bertanya, "Hayo, lihat apa kamu?" Saya sendiri hanya tersenyum dan berkata, "Ngga lihat apa-apa kok, lagian Mbak pakai baju kok transparan betul sih?" Mbak Rita balik bertanya, "Memangnya kamu nggak suka lihat yang begini?". "Ya suka dong Mbak, namanya juga laki-laki". Waktu itu saya malu sekali dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. Tetapi sepanjang sarapan harus diakui kalau saya berkali-kali mencoba untuk mencuri pandang ke arah dadanya.

Malam harinya ketika saya sedang nonton TV di ruang depan Mbak Rita menghampiri saya dengan menggunakan baju tidurnya yang berwarna putih. Dia ikut nonton TV, dan selang beberapa lama dia berkata kepada saya. "Wan, aku pegal-pegal semua nih badannya, mungkin karena aerobik tadi pagi. Bantu pijitin Mbak yah?" Dengan spontan saya berkata, "Boleh Mbak. Di mana?" "Ke kamar Mbak aja deh", katanya.

Sebenarnya saya sudah menunggu kesempatan ini sejak lama, tetapi memang karena saya orangnya pemalu, saya tidak pernah berani untuk mencoba-coba mengutarakan hal ini ke Mbak Rita. Saya mengikuti Mbak Rita ke kamarnya dan dia menyuruh saya duduk di tempat tidurnya. Mbak Rita kemudian mengambil baby oil dari laci sebelah tempat tidurnya dan memberikannya ke saya. Saya bilang kalau bajunya nanti kotor bila pakai baby oil. Tujuan saya sebenarnya adalah supaya Mbak Rita mau melepaskan baju tidurnya. Mbak Rita langsung mengangkat baju tidurnya di hadapan saya dan yang mengejutkan, dia hanya mengenakan celana dalam G-string berwarna putih yang tidak cukup untuk menutupi bulu kemaluannya yang lebat. Di kiri kanan celananya masih tampak bulu kemaluannya, Tubuhnya indah sekali, payudaranya besar dengan bentuk yang indah dan puting yang berwarna coklat kemerahan.

"Bagaimana Wan, menurut kamu badanku bagus?" Sayapun mengangguk sambil menelan ludah. Baru pertama kali ini saya melihat tubuh wanita dalam keadaan yang hampir telanjang bulat. Biasanya saya hanya melihat di film atau majalah saja (waktu itu belum ada internet seperti sekarang). Mbak Rita kemudian merebahkan badannya dan saya mulai memijitnya dari belakang setelah terlebih dulu mengoleskan baby oil. Luar biasa, kulitnya mulus sekali dan sekujur tubuhnya ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menambah keseksiannya. Pada waktu saya memijit kaki dan pahanya, Mbak Rita membuka kakinya lebih lebar, dan saya dapat melihat kemaluannya yang tercetak jelas pada celana dalamnya yang kecil itu. Belum lagi bulu kemaluannya yang keluar dan menambah indah pemandangan itu. Saya terus memijiti paha bagian dalamnya dan saya sengaja untuk tidak sampai ke selangkangannya agar dia terangsang secara perlahan-lahan. Mbak Rita mengeluarkan lenguhan-lenguhan lembut dan saya tahu dia menikmati pijitan saya. Kakinya juga dibuka lebih lebar dan mengharapkan tangan saya menyentuh kemaluannya. Tetap saja saya sengaja untuk tidak menyentuh kemaluannya. Dari kemaluannya sudah mulai keluar sedikit cairan yang membasahi celana dalamnya. Saya tahu kalau dia sudah terangsang.

Saya minta Mbak Rita membalikkan badannya. Dia langsung menurut dan saya usapkan baby oil di dada dan perutnya. Payudaranya cukup kenyal dan waktu saya memainkan jari-jari saya di putingnya dia menutup matanya dan terlihat benar-benar menikmati apa yang saya lakukan. Kemudian Mbak Rita bangun dan meminta saya membuka pakaian saya. Dia berkata kalau dia sudah benar-benar terangsang dan sejak kematian suaminya dia tidak pernah tidur dengan seorang priapun. Aku minta Mbak Rita yang melucuti pakaianku. Dengan cepat Mbak Rita membuka baju kaos yang aku kenakan dan kemudian celana pendek dan celana dalamku. "Kamu juga sudah terangsang yah Wan?". "Iya dong Mbak, dari tadi juga sudah berdiri begini", kataku sambil tertawa. Mbak Rita kemudian memegang kemaluanku dan mulai melakukan oral seks kepadaku. Terus terang itu adalah pertama kali seorang perempuan melakukan hal itu kepada saya. Waktu SMA saya pernah punya pacar tapi kami tidak pernah melakukan hal-hal sejauh itu. Paling-paling juga kami hanya berpegangan tangan dan berciuman. Mbak Rita ternyata ahli sekali dan saya merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Selang beberapa lama kemudian, Mbak Rita melepaskan celana dalamnya dan menyuruhku tiduran di ranjang dan dia naik di atasku. Kakinya dibuka lebar di atas kepalaku sambil lidahnya menjilati kemaluanku. Pinggulnya diturunkan dan kemaluannya hanya beberapa senti di atas mukaku. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Langsung saja aku menjilati kemaluan dan clitorisnya dari bawah. Ternyata rasanya tidak jijik seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Cairannya sedikit asin dan tidak berbau. Aku tahu kalau dari kesehariannya yang resik, Mbak Rita pasti juga rajin menjaga kebersihan kemaluannya.

Aku terus menjilati kemaluannya dan mulai memberanikan diri menjilati bagian dalamnya dengan membuka kemaluannya dengan jariku lebih lebar. Mbak Rita sangat menikmati dan dia juga menjilati kemaluanku dengan lebih ganas lagi. Kemudian dia bangun dan memintaku memasukkan kemaluanku ke dalam punyanya. "Ayo dong Wan, aku sudah tidak tahan lagi nih". Aku bilang kalau aku belum pernah melakukan hal ini dan Mbak Rita berkata, "Kamu tiduran saja, nanti Mbak akan mengajari kamu." Kemudian Mbak Rita duduk di atasku dan dengan perlahan memasukkan kemaluanku. Rasanya nikmat sekali dan Mbak Rita mulai menggoyangkan pinggulnya. Aku memejamkan mataku dan berpikir kalau beginilah rasanya berhubungan dengan wanita. Kalau sebelumnya hanya imajinasi semata, sekarang aku merasakan bagaimana nikmatnya berhubungan dengan wanita secantik Mbak Rita.

Malam itu kami berhubungan badan dua kali. Setelah kami selesai yang pertama, Mbak Rita mengajak saya mandi dan kemudian mengganti sprei dengan yang baru karena kotor oleh keringat dan baby oil yang digunakan tadi. Kemudian kita lanjut lagi dan mencoba melakukan gaya-gaya lainnya.

Setelah kejadian malam itu, Mbak Rita sering mengajak saya tidur di kamarnya dan hubungan seks di antara kami menjadi hal yang rutin kami lakukan. Mbak Rita juga suka mengajak saya melakukannya di seluruh bagian rumah, dari ruang tamu sampai halaman belakang. Biasanya bila melakukan di luar kamar, kami melakukannya malam hari setelah pembantu tidur. Pernah sekali pembantu rumah memergoki kami di ruang tengah waktu dia mau mengambil minuman di dapur. Cepat-cepat dia memalingkan muka dan balik ke kamarnya. Setelah itu dia tidak pernah lagi keluar malam-malam dan itu lebih membuat kami lebih bebas melakukannya di rumah. Sewaktu pembantu mudik pada saat lebaran kami menghabiskan waktu di rumah tanpa mengenakan pakaian selembarpun. Mbak Rita yang mengusulkan hal itu dan begitu sampai di rumah Mbak Rita langsung melucuti semua pakaian yang dikenakannya.

Saya juga mulai sering pergi dengan Mbak Rita dan waktu itu hubungan kami sudah layaknya seperti orang pacaran. Diapun sudah tidak mau lagi disapa dengan Mbak dan dia minta saya memanggilnya dengan nama depannya sendiri. Dia juga tidak mau lagi menerima uang kos dari saya dan uang kiriman orang tua dapat saya gunakan untuk bepergian dengan dia. Satu hal yang saya ingin ceritakan, dia jarang sekali mengenakan celana dalam bila pergi keluar rumah, kecuali kalau ke kantor. Pernah juga beberapa kali saya minta dia ke kantor dengan tidak mengenakan celana dalam di balik roknya dan dia menuruti. Kalau saja karyawan laki-laki di bank tempat dia bekerja tahu kalau di balik roknya yang lumayan pendek itu tidak ada apa-apa lagi... Kalau bra, biasanya dia kenakan karena bila tidak akan terlihat jelas dan dia risih bila banyak mata lelaki yang memandang ke arah dadanya.

Hubungan kami masih berlangsung sampai sekarang walaupun orang tuaku tidak menyetujui karena usianya yang jauh lebih tua dan statusnya yang janda. Saya sekarang bekerja di Jakarta dan bila akhir pekan saya selalu menghabiskan waktu saya di Bandung. Rencananya akhir tahun ini kami akan menikah walaupun orang tua saya tidak menyetujui.

Sekretaris Tersayang

Posted: 28 Nov 2007 06:54 PM CST

awal bulan selalu menyajikan pagi yang indah. masa laporan bertumpuk-tumpuk telah lewat, mana kantong juga masih tebal. dunia telah melayaniku dengan sangat memuaskan dan merubahku dari seorang lelaki kampung yang lugu menjadi raja kecil di sebuah corporate ternama.


kantorku ada di sudirman plaza, lantai belasan. dengan ruang di pojokan dan view penuh ke arah jalanan. pagi hari mataku dibasuh oleh lalu lalang paha yang mulus dan dada penuh wanita wanita karir yang terpampang di lensa teropong kecilku. dasar wanita, selalu ingin dikagumi. dan aku tak malu untuk mengakui bila selalu aku mengagumi mereka. dan tentu menikmati pula. dengan teropongku. dan dengan yang lain pula.

perusahaan finance tempat aku hidup bukanlah yang terbesar diantara ribuan perudahaan yang sama yang ada di jakarta. namun jelas bukan yang terkecil, karena perusahaan ini telah setuju membayarku dengan gaji yang .. hmm lumayan. meski untuk itu aku harus menyerahkan segalanya. seluruh waktuku, meninggalkan hobbyku, sahabatku, semuanya. dan menukarnya dengan jutaan digit angka angka yang mengaduk aduk otakku, bahkan mengganggu mimpiku dengan mimpi menakutkan, mimpi jorok bahkan sangat menjijikkan.

karena itu aku selalu merasa untuk harus memiliki sesuatu kegiatan yang bisa meredakan tekanan ini. dan karena jelas waktuku telah dibeli lunas perusahaan sialan ini ya aku memindahkan kegiatan ini ke kantorku saja.

awalnya browsing situs porno memuaskan aku. lalu tidak lagi. menghadirkan situs cerita panas cukup menghibur. lalu tidak terlalu lagi. maka mau tidak mau aku menyajikan laga seru tepat di meja kerjaku. dan siapa lagi bintang utamanya kalau bukan aku. dan tentu saja salah seorang anak buah kesayanganku, yanti. seorang sarjana ekonomi, fresh graduate, dari kota yang sama, yang sama tejebaknya di kota penuh nafsu ini.

awalnya asal usul yang sama membuat kami merasa lebih istimewa dibanding dengan teman yang lain. aku membuat peluang untuk menjadi lebih dekat. lalu beban pekerjaan yang sama. membuat kami semakin dekat. tetapi jelas buatku untuk berpacaran bukanlah suatu pilihan. aku tak ingin terikat.

dulu aku merasa rambutnya yang panjang dan selalu harum itu begitu menarik. aku katakan itu padanya dan kami menjadi semakin dekat. lalu aku juga merasa matanya adalah mata terindah yang pernah aku temui. aku juga katakan itu dan kami juga semakin dekat. terakhir aku mulai merasa kalau dadanya yang sedang sedang saja itulah yang paling indah di dunia, juga pantat yang menonjol di bawah pinggang yang ramping itu. apalagi kalau ke bawah lagi, pahanya putih mulus lus lus sampai kaki terbalut sepatu hak tinggi itu adalah daya tarik yang tak dapat kutahan lagi. tetapi ini tidak aku katakan.

aku tersenyum sendiri. menghirup kopi. lalu meraih sebuah laporan di mejaku.
beberapa saat mataku terpaku pada angka angka yang ada di sebuah neraca balance. otakku berputar sebagai mesin hitung termahal didunia. lalu aku menarik kesimpulan dan tersenyum. tak ada masalah. aku selalu tersenyum bila tak ada masalah.

tapi kadang angka angka yang banyak dapat memancing libidoku. seperti kali ini. apalagi saat aku lihat paraf dipojok yang menyatakan kalau penyusun laporan ini yanti. otakku menyusun sebuah bayangan deretan angka-angka dengan latar belakang yanti, tanpa busana dan meiuk liuk menarikan sesuatu yang erotis.

kuraih telfon. tat tit tut tat tit tut.
'halo ...'
'yanti ..'
suara diseberang menyahut lembut.
'aku udah baca portfolio klien kita diutara..'
suara merdu kembali bergumam akrab, berisi penjelasan dan sedikit gurau. dia memang tidak pernah canggung menghadapiku. pengakuannya aku telah dianggapnya sebagai saudara tuanya sendiri. dan pengakuanku aku menganggapnya sebagai korban yang potensial. tentu saja cukup pengakuan dalam hati.
'udah kamu kesini aja terangin langsung. aku gak nyambung.'
ceklek. telfon kututup. peluang kubuka.

tidak lama menungu si sintal itu datang. blazer tanpa dalaman membuat aku terkesiap. juga milikku. da di du dia menerangkan ini itu sambil duduk didepanku. mataku bekerja keras, sebentar ke angka angka, sebentar ke wajahnya biar dia tankap keseriusanku, sebentar ke belahan dadanya. shit, andai aku bisa berubah jadi nyamuk dan terjepit di tengahnya. da di du, ia terus menerangkan.

aku menghela nafas, menunjukkan ketidaknyamanan atas keterangannya dan posisi duduk kami.
'udah, coba kamu ke samping sini, terangkan lagi, gak enak ngeliat huruf terbalik.'

dia beranjak, lalu pidah ke sampingku. bagiku gerakannya seperti potongan film bioskop dalam gerak lambat memutari meja besar milikku dan berdiri disampingku. lalu merunduk. tubuh kami begitu dekat. lalu ... da di di du, kembali dia menyerocos menerangkan laporan tanpa masalah itu. sambil memainkan kata oh ini, oh itu, tangan kananku hinggap di pinggulnya. entah dia sadar ata tidak, yang jelas yanti diam saja.

cerocosannya tentang angka angka itu seperti background music yang indah bagiku dan cerita utamanya adalah gerakan tanganku yang mulai meremas, dan meraba wilayah pinggul indah itu.

yanti tiba tiba diam.
'pak ...', protesnya. sambil mendelik.
'sst...', kataku sambil tersenyum dan sambil meremas. kali ini agak ke bawah.
'pak, saya tidak suka ...'
hmmmp, kuraih pundaknya yang rendah karena merunduk, kutarik dan kujejali mulutnya dengan lidahku yang mendidih. dia menolak. wajar. namanya juga pembukaan.
saat rongga mulutku dipenuhi oleh daun telinganya dia berbisik.
'jangan pak ..'
aku tak peduli. pegangan tangan kiriku di rambutnya kupererat mencegah leher jenjangnya menjauh dari bibirku yang lapar. tangan kananku membasuh punggungnya, pantatnya juga pahanya. lalu kubisikkan.
'aku sayang kamu yan', tentu saja itu gombal,'sangat sayang'.
bagiku sayang itu artinya nggak keberatan kalau mengeluarkan sekian ruiah untuk makan, nonton plus plus, asal aku dapat yang lain. hi hi hi. dasar.

entah bagaimana detailnya, tapi aku rasa perubahan itu berlangsung hanya beberapa menit. dan kini kami telah saling berpagutan. bibir kami mengeluarkan jurus jurus andalan dan pamungkas seolah saling berusaha untuk mengalahkan. dan tanganku ... aku tak intat telah kemana saja. yang pasti pantat itu kini kuremas tanpa terhalang lagi oleh rok span warna kelabu miliknya.

rok itu telah tersingkap dan kini tanganku menyusup dalam celana dalamnya yang sialan ketatnya. yanti mendesah, lehernya basah oleh liurku yang menyapu panas. matanya terpejam penuh penghayatan. aku nggak tahu kenapa wanita yang terpejam dengan mulut menganga selalu membuat diriku kejang kepanasan.

kubalikkan tubuhnya. kini dia merunduk bertumpu pada meka kerjaku. tanganku menyusup pada blazernya. keduanya. meremas payudaranya yang telah mengeras kenyal. dia mendesah.
kutekan keras keras milikku ke belahan pinggulnya. dan kurapatkan dadaku ke punggungnya. terasa dia bergerak gerak, pinggulnya menekan nekan milikku dan kami saling bergesekan.

kulepas satu demi satu kancing blazernya dengan tangan kiri. sengaja, semakin sulit semakin indah. dia melenguh. tangan kananku menyingkap rok depannya dan menempatkan jariku berputar putar lembut di kemaluannya.

kubiarkan beberapa saat seperti itu. kami saling berpagutan dalam posisi sulit. dia membelakangi aku. tangan kiriku bebas memiliki dadanya yang terbuka. blazernya telah turun setengah dan menyajikan punggungnya untuk kusapu bersih dengan lidahku yang panas membara. tangan kananku menelusup dalam di rongga itu. ada bunyi kecipak kecil disana.

nafasnya memburu deras. tangan kirinya bertumpu di meja dan tangan kanannya menjambak rambutku. tubuhnya masih meliuk liuk penuh sensasi. kami berpagutan lagi. lama. pinggulnya berputar putar. ooh, indah sekali rasanya.

kemudian kulepaskan semua tanganku dan kubuka celanaku dengan tergesa. dia masih diposisi semula. melihat keluarnya kemaluanku dari sarangnya dengan sorot mata sayu. kupelorotkan celana dalamnya dan memperlihatkan hamburger merah dalam posisi vertikal itu telah siap disikat.

kutuntun si hitam kebibir bawahnya. dia mendesah. mengatakan sesuatu. aku tak mendengar karena full konsentrasi dengan tugas ini. dengan menahan nafas, kumasukkan perlahan milikku ke milikknya. dia mengerang tertahan. tubuhnya merebah ke depan mempermudah prosesi ini.

aku mengerang. dia mengerang. dan kami saling mengeliat menahan kenikmatan ini. wajahnya tersandar pada meja kerja. matanya terpejam dan bibirnya merekah merintih dengan nafas yang ditahan tahan. aku memacu pinggul dan pinggangku dengan keras. kecepatan penuh.

suara kecipak semakin keras. biar saja. toh pintu tertutup rapat. suara kami jelas tak bakalan terdengar tertimpa suara musik standar gedung yang mengalun di setiap ruangan.

kuremas keras buah dadanya. kujilat punggungnya, kugigit pundaknya kkuhisap telinganya. aku menikmati setiap hentakan pinggulku yang menancapkan milikku pada titik terdalam dengan kecepatan maksimal.

dia melenguh. kadang kepalanya bergeleng kesana kemari. matanya terpejam erat, bibirnya terbuka menyemburkan nafasnya yang tersengal sengal keras. tangannya melekat di permukaan meja. jari kanannya meremas tepi meja menonjolkan urat-urat kecil di permukaan lengannya. pinggulnya menyentak nyentak mengikuti gerakan pinggangku.

terasa panas di seluruh dadaku. gelombang kenikmatan bertalu talu turun dari atas tubuh ke titik di bawah kemaluanku. rabaanku ke punggungnya, remasanku di payudara kenyal itu, genggamanku di pinggulnya dan gesekan telapak tanganku di pahanya menimbulkan sensasi yang memperkuat gelombang kenikmatan itu.

di berteriak kecil. berkali kali. tubuhnya meliuk bagai busur. mukanya menengadah keatas dengan mulut terbuka penuh. lututnya melonjak lonjak kecil mengarahkan miliknya menyongsong seranganku. dirasakannya perutnya seperti diaduk aduk. dan dunia terasa seolah gelap berbintang bintang.

kami bergumul semakin liar. lonjakan lonjakan kami semakin tak terkontrol. gelombang itu tak dapat kutahan lagi. terasa panas seolah ada diubun ubun. lalu kurengkuh tubuhnya dengan sangat erat. kami saling melekat dengan sangat erat. dan yanti berteriak keras. dia orgasme. gelora deras meluncur deras dari seluruh ujung syaraf dan berkumpul di kemaluannya. tak kuat lagi ia menahan perasaan itu. kulumat bibirnya yang terasa sangat dingin. lalu keluarlah panas yang tak dapat kutahan itu dari tubuhku. deras. berkali kali. diiring tubuhku yang mengejan ngejan kaku.

kami berpelukan lama. melepas ketgangan ini. dan berangsur angsur mengembalikan kesadaran kami. ruangan yang tadinya terlihat kabur sedikit demi sedikit menjadi jelas.
meja, kursi, deretan cendera mata ...

tubuhku jatuh ke kursi kerja masih dengan nafas yang terengah engah. tubuh yanti meorot ke lantai karpet. lalu bersandar di dinding kaca pembatas. terlihat tubuh seksinya dengan dada terbuka menampakkan payudara indah itu disana, blazer yang turun hinga lengan membebaskan seluruh pundaknya, dan rok yang tersingkap di pinggang serta celana dalam yang turun di pergelangan kaki. dia duduk berselonjor bersandar di dinding, terlihat begitu seksi memperlihatkan gundukan hitam di pangkal paha dalam backgroun tubuh jalan raya sudirman yang ramai.

nafasnya masih memburu. matanya menatap milikku beberapa saat. lalu berpindah menatapku. aku tersenyum.

'you're great', kataku.
'gila', cetusnya sambil tersenyum simpul dan melengos ke arah lain, malu malu. dia terlihat sangat cantik dari sebelumnya.

mataku menyapu dinding ruangan sambil berusaha mengatur nafas. tertumbuk aku pada jam dinding. damm, jam 11 lebih. kami bermain 2 jam an. di tempat gini. jam kerja. gila.

sebenarnya aku ingin sekali nambah. tapi realistis dong men. mau cari mati. lalu kupilih tersenyum sambil merapikan diri.
'kita makan apa siang ini, yan?'

'gila', katanya masih dengan jurus yang sama sambil meraih kotak tissue.

Kenangan di KA Argo Muria

Posted: 28 Nov 2007 06:13 PM CST

Ini adalah pengalamanku yang benar-benar gila, karena aku sendiri tak menyangka kalau kejadian ini bisa terjadi pada diriku.

Jumat pagi, 16 Mei 2003, aku kembali ke Jakarta setelah bertugas di Semarang sejak hari Senin. Karena Sabtu pagi aku ada undangan pernikahan temanku, maka kupaksakan diri untuk naik kereta pagi. Ya, aku naik Argo Muria pagi, dan benar-benar berangkat pukul 05.00 pagi. Sengaja aku memilih kereta api, karena aku ingin menikmati suasana pagi di sepanjang perjalanan.

Akibat semalam kurang tidur (aku dijamu oleh rekan di Semarang), hampir saja aku ketinggalan kereta. Tidur jam 01.00, terbangun karena kaget jam 04.15. Terpaksa aku hanya mandi koboy. Yang penting bisa gosok gigi dan pakai parfum. Terburu-buru aku meninggalkan hotel di daerah candi, dan kupaksa sopir taksi memacu kendaraan. Terbukti, aku bisa sampai di stasiun Tawang hanya lima menit sebelum kereta berangkat.

Sampai di atas kereta, aku merebahkan diri, tidur-tiduran dan ternyata benar ketiduran. Aku baru terbangun gara-gara seseorang mencolek lenganku, dan aku merasa nafas hangat menerpa pipiku.
"Minum teh atau kopi, Pak?", seorang wanita bertanya lembut padaku.
Oh, ternyata sang pramugari menawarkan minuman pagi. Segera kuminta teh panas, sekaligus aku memesan kopi susu satu gelas besar. Tak berapa lama, pesananku tiba, dan aku tersenyum padanya sebagai tanda terima kasih bahwa dia telah mengantarkan pesananku dengan cepat. Ia pun tersenyum ramah namun penuh arti kepadaku. Sempat kulirik name tag-nya, ternyata namanya Risma.

Sambil menikmati kopi susu panas, aku mengobrol sebentar dengan penumpang sebangku, sekedar membunuh waktu. Karena benar-benar kurang tidur, maka aku pun tertidur kembali. Nyenyak sekali rasanya tidurku, sebab aku terbangun pukul 08.30, dan tepat pada saat itu, Risma dan rekannya ternyata sedang membagikan sarapan pagi.

Ah.., manis benar anak ini. Kulitnya kuning langsat, tampaknya dia rajin lulur, semampai, dadanya kutaksir berukutan 36B. Dan pantatnya, terbuai aku melihatnya. Apalagi saat itu dia mengenakan rok mini ketat seragam setinggi 15 cm di atas lutut, membuatku bebas menikmati pahanya yang selicin lilin. Hatiku berdebar, darah kelelakianku terasa mengalir, adrenalinku terpacu.

Kemusdian sampailah dia ke deretan tempat dudukku. Karena stok yang tersedia berada di bawah (dia dan temannya mendorong trolley seperti trolley yang ada di pesawat), maka dia harus berjongkok untuk mengambil nampan yang berisi sarapan pagi. Sengaja kupandangi pahanya yang benar-benar licin terawat sambil berharap aku bisa melihat lebih jauh (aku duduk di pinggir dekat aisle/gang). Tapi ternyata aku hanya bisa melihat sepasang paha yang terkatup rapat. Ah, sialnya.., dan ternyata aku sial dua kali karena dia mengetahui arah pandang mataku. Deg! Aku terkejut dan malu hingga kubuang pandanganku ke arah jendela. Namun demikian aku tak dapat menahan keinginanku untuk melirik ke arahnya lagi. Dan dia melakukannya untuk yang kedua kalinya, berjongkok mengambil nampan, dan.., thank God, kali ini aku bisa mengintip celana dalamnya yang warnanya ungu, serasi benar dengan warna seragamnya. Tiga kali aku melihat pemandangan indah itu yang makin lama ternyata makin lebar dia buka. Kembali, darah kelelakianku bergejolak memberontak, menuntut pelepasan, apalagi ditambah ekstra bonus saat ia menyerahkan nampan kepadaku dengan agak membungkuk hingga tampak dua pasang bukit kembar yang benar-benar.., ah.., aku hanya mampu menelan ludah.

Segera kunikmati sarapan pagiku, dan selesai sarapan aku menuju bordes untuk merokok. Cukup lama aku berada di bordes, dua batang Dji Sam Soe aku habiskan. Aku benar-benar pusing akibat pemandangan indah tadi. Sambil merokok aku berkhayal, seandainya aku bisa membelai paha mulus itu, meremas payudaranya yang montok itu, ah.., nikmatnya. Tapi apa boleh buat, aku hanya sebatas berkhayal, karena aku tidak punya keberanian untuk memulai.

Makin lama ternyata hasrat ini tak mampu kubendung. Segera kunyalakan Dji Sam Soe yang ketiga. Pada saat yang sama, Risma melintas lagi, entah hendak kemana. Entah setan apa yang mampir di benakku, tahu-tahu aku sudah mencekal tangannya.
"Mbak, sorry, tadi waktu ngasih sarapan maksudnya apa, kok pake buka-buka paha?", tanyaku kasar.
"Lho, bukannya Bapak yang memang berniat ngintip saya?", sergahnya.
"Saya tadi melihat Bapak kayaknya berusaha ngintip celana dalam saya, ya sekalian aja saya buka. Memangnya kenapa?".
"Kamu nggak takut kalo aku birahi, Ris?", kataku.
"Soal birahi atau enggak, itu urusan Bapak. Saya 'kan cuma memperjelas aja, biar Bapak nggak penasaran. Kalo Bapak pengen lebih dari itu, maaf, memangnya saya ini cewek apaan?", Risma mulai kesal denganku.

Tak tahan kuseret dia ke toilet hingga Risma menjerit-jerit minta tolong, tapi suaranya tertelan gemuruhnya roda-roda Argo Muria yang sedang melaju dengan kecepatan penuh. Di dalam toilet, kusingkap rok mininya, dan rupanya ia mengenakan G-String. Pantas saja, aku tidak melihat garis celana dalam di balik rok mininya. Tanpa ampun, kutarik G-Stringnya hingga robek, dan segera kujilat vaginanya dengan rakus. Cukup sulit melakukannya karena selain toilet yang sempit, goncangan kereta, diapun memberontak sambil berusaha mengatupkan pahanya atau menendangku. Tapi aku tidak menyerah. Kepalang basah, sudah berduaan di toilet, kalau nggak tuntas, aku sendiri yang rugi.

Aku mulai merasakan ada cairan mengalir dari lubang surgawinya. Setelah kurasa cukup basah, kuhentikan aktivitasku. Kupandangi matanya yang mulai sayu, tanda bahwa ia mulai terangsang juga.
"Kamu keberatan kalau aku bertindak lebih dari ini?".
"Maksud Bapak..?", Risma tak memahami pertanyaanku.
"Kontolku udah keras banget, Ris. Dia pengen dituntaskan", sahutku.
"Tolong Pak, jangan.., saya belum pernah begituan.., tolonglah Pak..", Risma memohon kepadaku.
Rupanya ia masih perawan sehingga ia sangat ketakutan kalau aku menyetubuhinya.

Aku tak peduli lagi, dan segera kubalikkan badannya sehingga memunggungiku. Kupaksa agar dia membungkuk, dan dengan posisi doggy style, kuterobos memeknya yang sudah sangat basah itu dengan kontolku yang sudah menegang kemerahan.
"Aaww.., Paakk.., ssaakiitt..", Risma menjerit kesakitan akibat keperawanannya kutembus.
Aku sendiri merasakan ada sesuatu yang sobek di dalam lubang surganya. Aku tak peduli, dan segera dengan gerakan memutar, kukocok penisku. Risma rupanya sudah mulai bisa menikmati permainanku. Terbukti, ia tak lagi melawan atau menolakku tetapi aku bahkan merasa pinggulnya bergoyang mengimbangi permainan penisku. Tak lupa, kulucuti juga blazer dan kaos dalamnya. Begitupun dengan BH-nya, segera kurenggut paksa karena aku sudah tak sabar ingin meremas payudaranya. Nampak Risma sudah telanjang bulat, dan aku makin bernafsu melihat tubuhnya yang kuning langsat mulus.

Sambil kuentot, kuremas payudaranya dan kupilin putingnya seperti aku memilin kapas. Risma bergetar dan menggelinjang menahan nikmat. Secara tiba-tiba kucabut penisku dari memeknya, dan kubalikkan Risma sehingga kami kini berhadap-hadapan. Kuserbu bibirnya yang mungil, perlahan aku turun ke lehernya yang jenjang, dan kuhisap habis putingnya yang berwarna coklat muda. Risma kaget dan menggeram karena ternyata pusat rangsangannya ada di putingnya. Kumainkan bergantian payudara montok itu, kuhisap dan kukulum yang kiri, kuremas yang kanan begitu pula sebaliknya.

Puas dengan kedua bukit kembarnya, lidahku turun menyusuri perutnya yang rata, dan mataku terpaku melihat semak belukar yang begitu lebatnya. Tampak sekali belukar itu basah kuyup oleh lendir memeknya yang bukannya merembes tetapi mengalir seperti anak sungai. Ya, Risma ternyata tipe perempuan becek, dimana perempuan seperti inilah yang sangat kusukai. Tak sabar, kukuakkan memeknya hingga tampak percikan darah perawannya di labia mayoranya dan aku sangat terkejut melihat ada tonjolan sebesar kacang merah mencuat menantang. Merah sekali. ternyata itil Risma benar-benar besar. Baru kali ini aku melihat itil perempuan sebesar ini, dan mencuat keluar, tegang seperti penisku yang tegak mengacung.

Tanpa membuang waktu segera kujilat dan kukulum itil Risma. Seiring dengan kulumanku, Risma menggelinjang hebat, dan nafasnya semakin memburu. Perlahan tapi pasti lendir memeknya mulai mengalir deras membasahi mulutku. Sambil menahan nikmat, Risma menjambak rambutku dan aku merasakan cairan hangat menyemprot wajahku, rasanya agak-agak asin tapi nikmat sekali. Ternyata karena tidak kuat menahan nikmat Risma sampai terkencing-kencing, walaupun dapat kurasakan kalau dia masih belum mencapai puncaknya. Tak kusia-siakan, kuteguk semua cairan yang keluar dari memeknya habis-habisan. Rupanya akibat perlakuanku di itilnya, Risma makin tak dapat menguasai gejolak birahinya. Iapun memohon agar aku meneruskan kocokan penisku di memeknya, karena ia merasakan lagi kalau seperti mau pipis. Segera aku berdiri, dan sebelah kaki Risma kuangkat dan kusangga dengan tanganku. Dengan posisi ini penisku bisa menstimulasi itilnya lebih maksimal. Risma memeluk tubuhku, dan memejamkan mata seolah menikmati permainan surga ini.

"Ris, kamu ngerasa diperkosa nggak?", tanyaku.
"Emmhh.., sshh.., eeng.., ggaakk.., ooouuffhhh..", rintihnya.
"Kok..?", aku bertanya lagi sambil mempercepat kocokan penisku di vaginanya.
Kurasakan tubuh Risma mulai limbung dan aku yakin dia akan segera mencapai puncaknya. Maka tanganku pun segera meraba itilnya yang ternyata terasa sekali makin mencuat dan keras.
"Ssshhh.., mmhhh.., een.., nnaakkk.., sss.., sssee.., kkkaa.., llliii.."
"Ooohh.., tadinya kupikir.., nggak.., se.., enak ini.."
Kata-katanya mulai terputus, nafasnya makin memburu dan akhirnya segera kucabut penisku dan aku kembali ke posisi doggy style lagi.
"Paakk.., akk.., kkuuu.., ppee.., nggeeen.., pi.., piisss.., aahh.."
Akhirnya Risma menghentak-hentakkan paha dan pinggulnya dengan sangat liar. Mulutnya meracau pertanda ia mendapat kenikmatan yang luar biasa. Ya, Risma telah mencapai puncaknya. Aku pun mulai tak tahan, melihat geliat pinggul dan pantatnya yang putih bak lilin itu hingga akhirnya..
"Riiss.., Rriissmmaa.., aku kelluaarr..", aku mengerang dan kocokanku makin kupercepat.
Risma tersentak akibat semprotan spermaku yang langsung menembus rahimnya, namun tidak bisa berbuat banyak, karena aku memeluk dia erat-erat hingga akhirnya kami berdua jatuh karena lemas. Sejenak kami berpelukan dan berciuman lembut, rasanya aku tak ingin melepaskan penisku dari vaginanya. Ya, walaupun sudah muncrat, penisku masih tegang di dalam vaginanya.

"Pak.., kalo aku hamil gimana?", Risma bertanya cemas.
"Jangan khawatir, ini alamat dan nomor teleponku", aku menenangkannya seraya memberikan kartu nama dan nomor teleponku.
"Aku akan bertanggung jawab atas benih yang telah aku tanam. Tapi berjanjilah padaku, kamu tidak akan melakukannya dengan orang lain"
"Ah.., paling teleponnya palsu..", Risma mencibir.
"OK, kalo nggak percaya kamu boleh coba sekarang ke HP-ku. Dan nanti malam sekitar jam 19.00 ke telepon rumahku. Malam ini kamu nggak kembali ke Semarang kan?"
Kamipun berdiri dan saling membersihkan tubuh. Tapi karena G-String Risma robek, akhirnya dengan terpaksa ia keluar dengan tanpa mengenakan celana dalam. Dan aku sangat beruntung mendapat kenang-kenangan celana dalam itu.

Dan tepat pada pukul 19.00, Risma meneleponku. Kami berdua bercanda dan Risma mengeluh kalau vaginanya masih terasa perih bercampur pegal. Maklum, diperawani di toilet kereta api. Kami berjanji untuk saling bertemu jika Risma berada di Jakarta atau sebaliknya. Dan Risma berjanji akan menginap di rumahku minggu depan, karena dia bertugas di Argo Muria pada shift malam dan memintaku untuk menjemputnya di stasiun Gambir.

Tamat

Posted: 28 Nov 2007 06:10 PM CST

Pertama kali aku mengenal dirinya, aku kagum dengan budi pekerti dan kesopanan bicaranya. Saat itu aku masih ingat, dia sudah duduk di bangku akhir SLTP dan usianya menginjak 15 tahun, namanya Eva, ya... Eva, cantik sekali namanya secantik orangnya. Waktu itu aku sudah bertunangan dengan kakak sepupunya yang sekarang telah menjadi istri tercintaku dan dikaruniai seorang putra yang lucu.

Tiga tahun kemudian adik sepupu istriku Eva datang ke rumahku dan memintaku untuk membantu mencarikan PTS di kotaku. Aku dan istriku jadi repot dibuatnya karena harus mengantarkan dia untuk daftar, test dan cari kost. Selama membantu dia, aku mendapatkan pengalaman yang sangat menarik dan membuatku bertanya-tanya dalam hati. Selama aku membantunya mencarikan PTS di kotaku, dia sering mencuri pandang ke arahku dengan pandangan yang nakal, kemudian terseyum sambil memandang kejauhan. Hampir tanpa ekspresi, aku pun terdiam sampai dia berlalu. Aku terkejut bukan karena cara pandangannya kepadaku, tapi dia sendiri itu yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku kemudian berandai-andai, jika waktu berpihak kepadaku, jika keberuntungan mendukung, jika kesempatan mau sedikit saja berbaik hati. Mungkin juga aku yang terlalu berharap dibuatnya, sebenarnya batinku tidak setuju untuk menyebutnya begitu.

Sesungguhnya kita sering diganggu oleh ketidakpastian yang menghantui kotak pikiran, namun setelah kenyataan dihadapan mataku, maka baru sadar. Aku takut tidak dapat mengendalikan diriku lagi. Pada suatu hari dia datang ke rumahku, karena ada hari libur besoknya, dia mau menginap di rumahku. Hatiku jadi gelisah, aku ingin melakukan sesuatu, mengalirkan magma yang meledak-ledak dalam diriku. Tapi batin dan nuraniku melarangnya, tidak sepantasnya itu terjadi padaku dan sepupuku. "Kak, tolong aku dong!" Pandangannya menusuk, menembus dadaku hingga jantungku, serasa ingin meloncat. "Jika Kakak tak keberatan, Eva minta diajarin naik motor bebek", matanya mengerling ke arahku serasa terseyum manis. Belum pernah aku menerima tawaran seperti ini dari wanita. Kau telah menyentuh sisi paling rawan dalam hatiku. Aku mengangguk sambil tetap mencengkram wajahnya dengan tatapanku, sayang untuk dilepaskan. Wajahnya lembut, tenang dan dewasa, kalau saja tubuhnya setinggi minimal 175 cm, pastilah sudah menjadi bintang film sejak lama. Rambutnya sebahu, kulitnya kuning langsat, Pokoknya mantap! "Mengapa memilih Kakak? Mengapa tidak kepada pacarmu atau temanmu yang lain?" tanyaku. "Saya telah memilih Kakak", katanya manja. Aku mulai menggodanya, "Memilih Kakak?" Dia mengagguk lugu, tetapi semakin mempesona. "Kalau begitu, jangan protes apa-apa, kamu Kakak terima menjadi murid, sederhana bukan?" kataku.

"Kakak akan menyesal jika melewatkan kesempatan ini, sebab Kakak ingin tercatat dalam hati sanubari Eva yang paling dalam sebagai orang paling berjasa menumbuhkan dan menyemaikan bakat naik motor kepada Eva." Tawanya meledak, matanya menyepit, bibirnya memerah. Pipinya juga, duhh...! "Kapan Kak belajarnya?" tanya dia. "Sekarang", jawabku. Kemudian kami pamit kepada istriku, dan aku mengeluarkan motor bebek, kuhidupkan mesinnya. Aku duduk di depan dan dia di belakangku, aku mencari daerah yang sepi lalu lintasnya. Setelah sampai di daerah yang lalu lintasnya kurasa sepi, aku menghentikan dan turun dari motor. Kemudian aku memberikan beberapa petunjuk yang diperlukan dan mempersilakan dia untuk duduk di depan dan aku di belakangnya. Beberapa menit kemudian motor mulai jalan pelan dan bergoyang-goyang hingga mau jatuh. Terpaksa aku membantu memegang stang motor, aku tidak sempat memperhatikan lekuk tubuhnya. Badannya sangat indah jauh lebih indah dari yang aku bayangkan. Lehernya yang putih, pundaknya, buah dadanya... akh..!

Setelah aku membantu memegang stang, motor dapat berjalan dengan stabil, aku mulai dapat membagi konsentrasi. Aku merasakan kehangatan tangannya, telapak tanganku menumpuk pada telapak tangannya. Kuusap tangannya, dia nggak bereaksi, mungkin karena lagi konsentrasi dengan jalan. Kemudian aku merapatkan dudukku ke depan sehingga kemaluanku merapat pada punggung bagian bawah. Hidungku kudekatkan ke belakang telinganya, tercium bau wangi pada rambutnya. Aku mulai terangsang, kemaluanku mulai tegak di balik celana dalam yang kupakai.

Karena dia sudah mulai dapat menguasai motor, sementara aku masih dapat mengontrol diriku dengan baik, kutawarkan untuk latihan sendiri dan aku menunggu di warung saja. Tapi dia nggak mau, dia ingin aku tetap duduk di belakangnya. Aku jadi khawatir sendiri, kalau begini terus akan berbahaya, imanku kuat tapi barangku nggak mau diajak kompromi. Akhirnya timbul dalam pikiranku untuk sekedar berbuat iseng saja. Kemudian aku pura-pura menjelaskan soal lalu lintas, aku merapatkan badanku sampai kemaluanku menempel di bawah punggungnya. Eva pasti juga dapat merasakan kemaluanku yang tegak. Tapi dia cuma diam saja, kubisikan di telinganya, "Eva, kamu cantik sekali!" kataku dengan suara bergetar, tetapi dia tetap tidak bereaksi, kemudian aku meletakkan kedua tanganku di kedua pahanya. Rupanya dia tetap tidak bereaksi, aku jadi semakin berani mengusap-usap pahanya yang terbuka, karena dia memakai celana pendek.
"Akh... Kakak nakal!" katanya manja, "Entar dimarahi Kak Lina lho, kalau ketahuan!"
"Kalau Eva nggak cerita, ya... nggak ada yang tahu! Emang Eva mau cerita sama Kak Lina?" tanyaku.
"Ya... nggak sih", katanya.
"Kalau gitu kamu baik dech", kataku.
Karena mendapat lampu hijau aku semakin berani, kukatakan bahwa payudaranya sangat bagus bentuknya, lebih bagus dari punya kakaknya, Lina. Dia tampak senang.
"Kakak ingin sekali menyentuhnya, boleh nggak?" kataku meluncur dengan begitu saja.
"Akh... Kakak nakal", katanya manja.
Aku semakin nekat saja, sebab dari jawabannya aku yakin dia nggak keberatan. Kemudian tanganku pelan-pelan mulai menyentuhnya dan kemudian memegang penuh dengan telapak tanganku. Wah, rasanya keras sekali, kucoba meremasnya dan dia sedikit terkejut. Aku tidak dapat memegang lama-lama sebab harus membagi konsentrasi dengan jalan. Yang jelas kemaluanku semakin berdenyut-denyut.

Aku tersentak waktu dia mengerem motor dengan mendadak untuk menghindari lubang. Tubuhku menekan tubuhnya hingga membuat kesadaranku pulih, akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya pulang. Aku sempat melihat kekecewaan di matanya. Tapi mau bagaimana lagi itu jalan terbaik, agar aku tidak sampai terjebak pada posisi yang sulit nantinya.

Besok paginya, waktu aku mau berangkat bekerja, istriku memintaku untuk mengantarkan Eva dulu ke tempat kostnya. Tentu saja aku bersedia, malah jantungku menjadi berdebar-debar. Nggak lama kemudian Eva mendekati kami. "Kak, antarin Eva dulu dong? Eva ada kuliah pagi nich! Teman Eva nggak jadi menjemput", katanya. "Ayo!" ajakku sambil masuk ke dalam mobil. "Eva mau mandi dulu ya Kak!" katanya. "Nggak usah", kataku, "Nanti keburu macet di jalan, mandinya nanti aja di kost."

Di dalam hatiku aku sudah berjanji bahwa aku harus dapat mengendalikan diri. Sehingga selama dalam perjalanan aku banyak diam. Akhirnya dia mulai membuka pembicaraan, "Kak, kok diam aja sih? Marah ya? Anterin Eva pulang!" kata Eva. "Kakak cuma lagi kurang nikmat badan saja", jawabku sekenanya. Setelah sampai di depan rumah kostnya, dia minta aku untuk ikut masuk, mengambil mainan yang telah dibelikannya untuk anakku. Mulanya aku menolaknya, tapi karena dia mau buru-buru berangkat kuliah dan juga belum mandi, sedangkan kamarnya di lantai 3. Aku jadi kasihan kalau dia harus naik turun tangga hanya untuk mengambilkan mainan saja. Akhirnya aku mengikutinya dari belakang, aku sempat heran dan tanya kepada dia, "Kok sepi sekali?" Ternyata kata Eva semua sudah pada berangkat kuliah. Kemudian aku disuruh menunggu di kamarnya, sementara dia mandi. Setelah selesai mandi dia masuk ke kamar, wajahnya kelihatan segar. "Lho kok nggak ganti pakaian?" tanyaku. "Iya, tadi temanku kasih tahu kalau dosennya nggak masuk, jadi Eva nggak perlu buru-buru lagi." katanya. Sementara aku duduk di tempat tidurnya, dia mengambilkan mainan yang akan diberikan pada anakku. "Ini Kak", katanya sambil duduk di sampingku. "Wah bagus sekali. Terima kasih ya!" kataku.

Sewaktu aku mau berpamitan keluar, pandangan mataku beradu dengannya, hati ini kembali berdebar-debar, pandangan matanya benar-benar meluluh-lantakan hatiku dan menghancurkan imanku. Aku tidak jadi berdiri, kupegang tangannya. Kuusap dengan penuh perasaan, dia diam saja, kemudian kupegang pundaknya, kubelai rambutnya, "Eva kamu cantik sekali", kataku dengan suara bergetar, tapi Eva diam saja dengan muka semakin menunduk. Kemudian aku meletakkan tanganku di pundaknya. Dan karena dia diam saja, aku jadi semakin berani, kucium di bagian belakang telinganya dengan lembut, rupanya dia mulai terangsang. Dengan pelan-pelan badan Eva aku bimbing, kuangkat agar berada dalam pangkuanku.

Sementara kemaluanku semakin menegang, usapan tanganku semakin turun ke arah payudaranya. Aku merasa nafas Eva sudah memburu seperti nafasku juga. Aku semakin nekat, tanganku kumasukan ke dalam kaosnya dari bawah. Pelan-pelan merayap naik ke atas mendekati panyudaranya, dan ketika tanganku sudah sampai ke pinggiran payudaranya yang masih tertutup dengan BH-nya, kuusap bagian bawahnya dengan penuh perasaan, dia menggelinjang dan menoleh ke arahku dengan mulut sedikit terbuka. Aku jadi tidak tahan lagi, kutundukan muka kemudian mendekatkan bibirku ke bibirnya. Ketika bibir kita bersentuhan, aku merasakan sangat hangat, kenyal dan basah. Aku pun melumat bibirnya dengan perasaan sayang dan Eva membalas ciumanku, pelan-pelan lidahku mulai menjulur menjelajahi ke dalam mulutnya dan mengkait-kaitkan lidahnya, membuat nafas Eva semakin memburu. Tanganku pun tidak tinggal diam, kusingkapkan BH-nya ke atas, sehingga aku dapat dengan leluasa memegang payudaranya. Aku belum melihat tapi aku sudah dapat membayangkan bentuknya, ukurannya tidak terlalu besar dan terlalu kecil, sehingga kalau dipegang rasanya pas dengan telapak tanganku. Payudaranya bulat dengan punting yang tegak bergetar seperti menantangku. Kuusap dan kuremas, Eva mulai merintih.

Kemudian Eva kurebahkan di kasur, kulepas kaosnya dan BH-nya sehingga tampak pemandangan yang sangat menakjubkan. Dua buah gundukan yang berdiri tegak menantang, kupandangi badannya yang setengah telanjang. Kemudian mulutku pelan-pelan kudekatkan ke buah dadanya, dan ketika mulutku menyentuh buah dadanya, Eva merintih lebih keras. Nafsuku semakin naik, kuciumi susunya dengan tidak sabar. Putingnya kukulum dengan lidahku, kuputar-putar di sekitar putingnya dan susunya yang sebelah kuremas dengan tanganku. "Aduuhh... ahh... ah", Eva semakin mengerang-erang dan dengan gemas putingnya kugigit-gigit sedikit. Badannya menggelinjang membuatku semakin bernafsu untuk terus mencumbunya. Sekarang tanganku mulai beroperasi di daerah bawah, kubuka celana pendeknya hingga sekarang hanya mengenakan celana dalam saja, rupanya celana dalamnya sudah basah. Akhirnya kulepas sekalian, sehingga tampak vaginanya yang masih kencang dan ditumbuhi rambut yang tidak banyak, membuat kemaluanku semakin tegang. Kubersihkan vaginanya dengan bekas celana dalamnya. Kemudian kupandangi dan kuusap-usap dengan penuh perasaan, Eva tampak sangat menikmati sekali, dan saat jariku menyentuh klitorisnya, Eva menggelinjang dengan keras. Sementara klitorisnya masih kuusap-usap dengan jariku, Eva semakin menggeliat-liat. Pada saat itu aku ingin sekali mencium vaginanya, karena sudah terangsang sekali. Saat aku mau menunduk untuk mencium, kuangkat tanganku tapi pada saat itu dia langsung merapatkan kedua pahanya dan badannya tegang sekali dan tersentak-sentak selama beberapa saat. "aahhkk... ooohh... Kak, aahh!"

Akhirnya Eva diam beberapa saat, kudiamkan saja, sebab dia baru saja merasakan orgasme. Tubuhnya terkulai lemas, aku jadi kasihan sehingga senjataku juga ikut-ikutan turun. Dengan penuh rasa kasih sayang aku menghampirinya, duduk di pembaringan sejajar dengan buah dadanya dan menghadap ke arah wajahnya. Tubuhnya kututupi dengan selimut. Kubelai rambutnya dan kucium keningnya, rupanya dia terharu dengan perilakuku. Baru saja aku mau berdiri, tanganku diraihnya, kemudian aku duduk lagi, tahu-tahu tangannya sudah ada di atas pahaku.

"Kak, baru kali ini Eva merasakan sensasi yang sangat luar biasa nikmatnya, sebab yang namanya disentuh oleh laki-laki Eva belum pernah, apalagi pacaran. Jadi Kakak adalah orang yang pertama yang menyentuh Eva, tapi Eva senang kok Kak. Tadi Eva merasakan nikmatnya sampai tiga kali Kak, Eva sangat puas kak!" Dalam hatiku bertanya mengapa bisa sampai 3 kali, padahal aku kira cuma sekali. Pantas dia langsung KO. Mungkin karena dia tidak pernah dijamah laki-laki, jadi tubuhnya sangat sensitif sekali. "Kok diam saja, Kak? Apa Kakak juga udah puas?" tanyanya. "Eva nggak usah pikirin Kakak, yang penting kamu sudah dapat merasakan nikmatnya orang bercumbu yang seharusnya belum boleh kamu rasakan. Sekarang Kakak mau berangkat bekerja dulu, oke!" kataku. "Kak gimana caranya biar Kakak juga bisa merasakan nikmat", katanya dengan lugu. Tangannya yang masih ada di atas pahaku tahu-tahu sudah melepas sabukku dan membuka celanaku. "Biar Eva juga mau pegang punya Kakak seperti tadi Kakak pegang punya Eva, tadi waktu Kakak pegang memek Eva dan mengusap-usap, Eva mendapat kenikmatan luar biasa, berarti kalau punya Kakak Eva pegang dan diusap-usap pasti Kakak juga merasa nikmat", katanya sok tahu.

Sekarang celana dalamku sudah kelihatan dan Eva mulai memegang dan meremasnya dari luar. Kemaluanku jadi tegak dan menyembul keluar dari celana dalamku. Dia terkejut dan takjub, "Wuah besar sekali." Kalau sudah begini aku jadi lupa lagi dengan diriku, aku menurunkan celana dalamku agar dia dapat leluasa memainkannya. Kemaluanku yang sudah sangat tegak digenggamnya dengan telapak tangannya dan diremasnya. "Akh.. Eva, enaakk", dia tambah bersemangat. Jari-jarinya mengusap-usap kepala kemaluanku. "Eva, teruskan sayang..." kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa kemaluanku sudah keras sekali. Eva meremas dan mengurut kemaluanku semakin cepat. "Eva!" seruku, "Kakak akan terasa lebih nikmat kalau Eva mau menciumnya!" Kemudian kupindahkan kepalanya di pahaku dan susunya menempel dipunggungku, aku ajari dia, mulanya kusuruh cium batang kemaluanku kemudian kusuruh jilati dengan lidahnya. Aku merasakan sesuatu yang lain yang tidak kualami jika dengan istriku, mungkin karena Eva masih gadis, lugu dan tubuhnya belum pernah dijamah sedikitpun oleh laki-laki. Rupanya Eva juga menikmati dan mulai terangsang. Karena posisi kami kurang bebas, aku membimbing Eva bangun dari pembaring dan duduk di lantai sementara aku tetap duduk di pembaring, sehingga mukanya tepat di depan selangkanganku. Kini dengan leluasa dia dapat melihat kemaluanku yang semakin keras. Kemaluanku terus dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak.

Mulutnya perlahan mulai didekatkan ke arah kemaluanku dan bibirnya mengecup kepala kemaluanku, tangannya memegang pangkal kemaluanku. Mulutnya mulai ditempelkan pada kepala kemaluanku dan lidahnya kusuruh menjilati ujungnya. Dan aku mulai menyuruhnya untuk dikulum di dalam mulutnya, mulutnya mulai dibuka agak lebar dan kemaluanku bagian ujungnya mulai dikulum, aku semakin keenakan, "Eva.. eunnak! terus sayang, masukan terus lebih dalam lagi, nah... begitu sayang." Rambutnya kuusap-usap dan kepalanya pelan-pelan kutarik kemudian kudorong lagi ke arah kemaluanku. Rupanya dia tahu maksudku, kemudian dia maju mundurkan kemaluanku di dalam mulutnya. Aku merasa sudah nggak tahan, apalagi sewaktu Eva melakukannya semakin cepat. Ketika aku merasa spermaku mau keluar, pelan-pelan kutahan gerakan kepalanya, maksudku mau menarik kemaluanku keluar dari mulutnya. Tetapi dia malah melawan gerakanku, dengan memegang pangkal kemaluanku lebih kuat dan mempercepat gerakannya. Akhirnya aku tidak dapat menahan lebih lama lagi, "aahh, aahh, aahh...!" Spermaku keluar di dalam mulutnya dengan rasa nikmat luar biasa dan badanku sampai tersentak-sentak. Kemudian kemaluanku kutarik dari mulutnya. Aku melihat di mulutnya belepotan dengan spermaku, kuangkat dia dan kududukan di pahaku, tanganku yang sebelah kiri menopang kepalanya, sedangkan tanganku yang kanan membersihkan mulutnya. "Kamu pintar sekali, Kakak mendapatkan kenikmatan yang luar biasa", kataku berbisik. "Eva.. juga Kak, sekarang Eva merasakan tulang-tulang Eva seperti lepas!" Kemudian kuangkat tubuhnya yang masih telanjang, kurebahkan di pembaring. Aku sendiri merapikan pakaian dan langsung pamit pulang.

Tamat

Cewek Berjilbab

Posted: 28 Nov 2007 06:08 PM CST

Aku suka gadis berjilbab. Kalian pasti heran. Bagiku tidak. Gadis berjilbab justru penuh misteri. Dan misteri itu menantangku untuk mengungkapnya.

Dan aku mendapatkannya suatu hari di rumah seorang teman tanpa sengaja. Saat itu aku menumpang ke kamar mandi. Di kamar mandi itulah kudengar suara pintu tertutup di ruang sebelah. Dan tiba-tiba mataku menatap lubang angin di dinding penyekat dengan ruang sebelah.
Penasaran, aku memanjat bak mandi. Astaga, ternyata ruang sebelah juga kamar mandi. Aku rupanya sedang beruntung. Kisi-kisi lubang angin itu cukup kecil untuk membuat kepala dan wajahku tak tampak, tapi cukup besar untuk melihat seluruh bagian kamar mandi.
Siang itu, yang pertama terlihat olehku membuat jantungku berdetak keras: sebuah kepala yang tertutup jilbab putih. Gadis berjilbab itu membelakangiku, menggantung handuk dan satu stel seragam SMU di paku di dinding. Jantungku berdetak makin keras, gadis itu berbalik dan jelaslah kini wajahnya.

Dia Uswatun Khasanah, adik temanku. Baru kelas 2 SMU. Ia memang selalu menarik perhatianku. Wajahnya lembut, sangat mirip Maudy Koesnaedi. Dan yang terpenting, ia selalu berjilbab. Aku sering mencuri pandang padanya. Aku bakal sangat puas kalau berhasil melihat angin bertiup ke arahnya dan membuat jilbab yang terulur sampai ke pinggulnya, merapat ke tubuhnya dan memperlihatkan tonjolan di dadanya, atau lekukan pangkal pahanya. Aku juga gembira jika berhasil melihat sedikit saja betisnya yang kuning langsat.
Tapi kali ini, hanya dalam jarak satu meter, Uswatun siap memperlihatkan semuanya padaku. Dan aku tak perlu menunggu lama. Uswatun kini menyampirkan jilbab panjangnya ke belakang pundaknya. Tonjolan dadanya membuat penisku menegang.
Debar jantungku seperti musik rock melihat Uswatun melepas kancing di bagian muka jubah (baju kurung panjang) merah atinya. Kancing itu hanya sampai sedikit di bawah dadanya. Lalu kulihat Uswatun mengangkat jubahnya ke atas kepalanya.

Mataku seperti bakal meloncat keluar ketika akhirnya melihat tubuh indah gadis remaja itu hanya tertutup celana dalam putih, BH krem dan jilbab putih. Lalu, kain di pinggulnya itu pun lepas. Gila, sensasi yang kurasakan sungguh luar biasa. Memek gadis alim ini sungguh indah, berlapis jembut tipis yang rapat ke kulit putih mulusnya.
Aku hampir teriak kegirangan ketika akhirnya ia melepas BH-nya. Teteknya sungguh indah, khas tetek ABG. Besarnya hanya sekitar sekepalan tangannya, tapi putingnya yang mungil dan kehitaman tampak tegak.

Bayangkan, seorang gadis berjilbab tapi betul-betul downless!
Bagian selanjutnya tak begitu menarik bagiku, sebab ia kini melepas jilbabnya. Tapi tetap lumayan menarik melihat atraksi mandinya sambil membayangkan saat ia masih berjilbab. Sambil bersenandung, gadis manis ini menyabuni sekujur tubuhnya dan menggosok agak lama selangkangannya.
Lalu bagian yang kusuka kembali dimulai usai ia menghanduki tubuhnya. Aneh, kali ini ia melakukannya dengan lebih dulu memakai jilbabnya, lalu celana dalam, BH, rok dalam dan kaus dalam, lalu blus seragam dan rok panjang abu-abunya.

Cepat aku keluar dan berpapasan dengannya di lorong rumahnya. Ia tersenyum padaku, manis sekali. Kubalas senyumnya. Ufff...andai saja ia tahu aku telah melihat memek dan teteknya...
Sejak itu, aku jadi sering ke rumah temanku. Apalagi, di situ juga ada kakaknya Uswatun yang juga berjilbab serta seorang saudara sepupu mereka yang juga --lagi-lagi-- berjilbab. Lain kali kuceritakan pengalamanku di kamar mandi temanku serta pengalamanku (asli !) meraba tetek dan memek Uswatun tanpa dia sadar...

Tamat


Neng dan Ntien!

Posted: 28 Nov 2007 06:06 PM CST

Aku adalah seorang profesional di bidang seni boleh dikata sebagai konsultan bidang seni dekorasi. Aku mempunyai rumah yang ku jadikan kantor sederhana tapi cukup baik untuk kerja sendiri. Di kantor ini aku mempunyai seorang penjaga yang merangkap sebagai tukang pada saat saya mempunyai proyek dekorasi, tukang ku ini memiliki keluarga yang aku tampung juga dikantor, yah itung-itung untuk ikut membersihkan kantor, memasak, atau apa saja. Tukangku ini bernama Parmin, istrinya Neneng asli Tasikmalaya, anaknya N'tien masih sekolah SMEA kelas 1 (ini pun aku juga yang suruh sekolah)

Setiap harinya aku kerja hanya ditemani Neneng di kantor karena Parmin selalu kusuruh mengawasi beberapa Proyek Renovasi, terus terang tubuh Neneng sangat indah meskipun anaknya sudah besar, kulitnya putih, dadanya tidak besar namun padat, wajahnya pun tidak terlalu cantik atau ayu, tapi sangat merangsang apalagi bibirnya yang selalu basah.

Suatu hari seperti biasa pagi hari Neneng buatkan kopi susu kesukaanku, sekilas aku iseng bertanya kepadanya
" Neng, kamu potong rambut ya ?"
" ahh enggak pak , cuman digelung aja",
Aku berdiri menghampirinya sambil kuberanikan mengelus rambutnya,
"Kamu lebih bagus dilepas...",
Sambil tanganku mengelus rambut terus turun ke leher belakangnya, dia menggelinjang.
"..ahh pak..geli",

Aku mulai nekat kupegang pundaknya dari belakang, lalu kubalikkan badannya menghadap aku, dan langsung aku cium bibirnya , tiada pemberontakan, tidak ada penolakan, yang ada hanya desahannya ...
" Pak saya malu..., bapak nggak boleh pak, kan bapak sudah ada ibu, saya juga udah ada kang Parmin".
Tapi aku sudah nggak tahan, aku kecup lagi sambil meraih dadanya, kuangkat bajunya, kutarik bhnya, kemudian kutarik roknya kebawah (dia pakai rok yang pakai karet) sambil lidahku terus menjilat tubuhnya, putingnya yang merah sudah mengeras, aku sudah nggak sabar, aku tarik celana dalamnya, kurebahkan ia di lantai, lalu ku jilat permukaan vaginanya, sama sekali tidak berbau, dan rambutnyapun sangat lembut dan tipis.

Aku langsung jilat, dia mulai membuka lebar selangkangannya dan terus merintih..
"ahh..augh...pak , he eh...ach, au..."
Lalu aku berdiri dan melucuti pakaianku dengan tidak sabar, pada saat penis ku keluar dari celana dia terpekik
" Aach..besar ...pak..",
pelan-pelan kuhampiri wajahnya, ku kulum lembut bibirnya yang basah, kuarahkan kemaluanku ke mulutnya, sambil mendesah dia raih penisku, lalu dijilatnya ujung penisku,...
"uhhh "
Rasanya nikmat sekali, dia genggam dengan lembut pangkal kemaluanku, karena mulutnya juga tidak muat semua untuk penisku masuk.

Aku mulai bergerilya kembali di vaginanya, bibir kemaluannya ku hisap dan sedot, lidahku menjulur kedalam, tiba-tiba lidahku dikejutkan oleh semburan lembut didalam vaginanya asin, gurih, dan hangat, tapi aku suka sekali.... "
"Aach..ach...aaaachh, Neng...dapet.....pak, ..uhhh ...ahhh"
Lenguhnya panjang sekali seraya kepalaku dijepit kedua pahanya yang mulus...
"Neng , sekarang aku mau kamu nrima ini ya" sambil kuarahkan penisku keliang vaginanya yang basah berlendir,
"he..eh..pak",
aku hujamkan perlahan penisku...
"ugh..."
Hangat ,sempit, licin, dan memijat yang aku rasakan dipenisku.

Aku mulai memompa keatas kebawah, keringatku menetes diatas dadanya yang membusung, kepalanya geleng-geleng kekiri kekanan, bibir bawahnya ia gigit, tangannya menggapai pundakku, ia terus mendesis,
"Aaaah...aaah...teeeerus...ahhh",
Aku nafsu sekali melihat ekspresi wajahnya yang berkeringat, langsung puting dadanya kukulum, kujilat, dan kuhisap.. Sampai ketika dia menjepit pinggangku dengan kedua pahanya bersilang, dan mengangkat pantatnya seraya berteriak
"Aaach..aaaaaach...paaaaaaak.......aaacchhhhh"
Aku merasakan siraman hangat penisku disiram lendir klimaksnya yang kedua, lalu aku pun semakin keras mendorong dan mengangkat penisku, lalu
"Uuuuuh..ouuugh..uuuuh....hehhhhh"
Spermaku kusembur kedalam vaginanya, keringatku mengucur, lemas, kupeluk ia, kucium ia, lalu aku bisikkan,
"Kamu nikmat sekali....",
" Pak..Neng juga ngrasa puas banget ama Bapak...., punya Bapak kerasa banget didalem....maaf pak... Neng suka sekali"
Lalu aku bangkit dari lantai berpakaian kembali, Neneng pun demikian, merapikan diri seolah tidak terjadi apa-apa.

Keesokan harinya anaknya libur sekolah, aku tidak tahu, kalau N'tien libur saat itu, aku cari ibunya dikamar belakang , pada saat kubuka pintu kamarnya ternyata N'tien sedang merogoh kemaluan dicelana dalamnya sambil memegang robekan gambar porno orang bersetubuh, tanpa menggunakan rok, yah ....gawat.. Untuk menutupi rasa maluku aku bertanya
"Kamu kok nggak sekolah?, lagi ngapain kamu kok punya sendiri dipegang-pegang?, ibumu mana?"
Dengan muka merah tangan menarik bantal menutupi pahanya dia menjawab tergagap
" Eeee. Ibu ke pasar Pak ,..terus mau kekantor Pos,...eeN'tien eee lagi garuk aja..."
Aku hampiri dia
"N'tien nggak usah malu, N'tien kan sudah gede..N'tien juga perlu tau punya laki-laki yang asli dari pada liat gambar yang gak jelas gitu..."

Dia mulai nggak gugup "sini saya terangin"' sambil tanganku menarik lengannya mendekatiku, aku genggam pergelangan tangannya "nih, pegang" sambil kubuka celanaku penisku kukeluarkan, "gini caranya", kubiarkan tangannya meremas penisku , aku serasa melambung...
"ohh", lalu aku rebahkan dia di ranjang ku pelorotkan celana dalamnya, kubuka kaos dan bhnya, lalu aku juga telanjang didepannya
"Nti'en diem aja dulu ya, kamu rasain aja, yang penting kamu merem..."
Lalu aku menggapai putingnya yang ranum kecil ,buah dadanya naik turun, terus kukulum dan kujilat, lalu aku naik ke wajahnya yang manis, kukecup bibirnya, kukulum lidahnya, dia pasrah saja, tangannya mulai meremas sprei, tanganku juga terus meraba dadanya dan vaginanya yang sudah banjir....lalu kukuak kakinya agar mengangkang lebar, mulai kujilati liang vaginanya yang banjir aku hisap sedot, aku nafsu sekali....dia terus bergetar tiada henti....
"Aach....aaaach...ach" desisnya ,
Terus berulang, hingga dia berkata lirih
" Pak N'tien cape ,ngarasain enak terus...ach...ahhhh..."

Matanya mulai terpejam , aku tahu dia sudah berulang mendapatkan klimaks, tapi aku belum apa-apa, karena sudah kepalang basah aku angkat kedua kakinya lalu aku hujamkan secara perlahan penisku, tiba-tiba matanya mendelik menahan sakit, namun aku sudah tanggung, kuteruskan secara perlahan...
"Uuuh...ahhhh.....ampun pak...sakit pak........perih...aaaaaah, "
aku tidak perduli " 'Ntien bentar kok,...ntar juga enak kayak tadi..."
Sambil terus kudorong, lama-lama dia tidak berdesis namun hanya menggigit bibir, ternyata lendirnya mulai muncul kembali, aku pompa lagi hingga aku berhasil memerawaninya . Setelah 20 menit aku mulai merasakan gesekanku tersambut didalam vaginanya aku rasakan betapa niknmatnya vagina seoarang perawan....

Aku tahu dia sudah 2 kali klimaks pada saat aku menyetubuhinya, aku merasakan klimaksku semakin mendekat...., dan
"arghhhh.....aaaah....uuuhhhh..."
Yah aku semprotkan spermaku dalam vaginanya, aku tidak sempat menariknya...tapi apa mau dikata kenikmatan tidak bisa ditahan.

Mulai saat itu tiap pagi aku setubuhi Neneng ibunya dan N'tien setiap ada kesempatan, seperti kuajak beli buku (padahal ke motel) ......dan aku tetap dianggap Bapak angkat oleh Bapaknya yang semakin sering kusuruh mengerjakan proyek luar kota agar aku bebas menikmati isteri dan anaknya.

Tamat



Eva Celia Latjuba

Posted: 28 Nov 2007 06:03 PM CST

Ceritanya, gara2 dua kali gk naek kelas, Eva nih ma emaknya si Sophi di kasih les private biar gk dongo lagi. Salah satunya adalah pelajaran komputer yang kebetulan jadi pengajarnya gw
Mulanya sih gk ada masalah apa2, gw juga gk kepikiran macam2 ma dia klo gi ngajarin. Walo kadang2 suka rada2 horny juga liat dia klo gi les cuma pake celana pendek doank. Pa lagi selama les kerjaannya duduk mulu ngadap komputer, jadi pahanya makin terbuka aja ke atas.
Ampe pada suatu ari gw diadapin pada suatu kenyataan yang mengejutkan. Sore itu pas gi ngajarin dia Excell, tiba2 Eva berhenti mengetik.

"napa?" tanya ku, "bosan!" jawabnya manja, bibirnya mancung ke depan.
"lho, jadinya mo gimana?" tanyaku bingung
"buka yang laen.."pintanya, "Ha, buka paan??" aq balik tanya
Eva menatapku bentar lalu sambil berbisik dia bilang, "buka bokep"
"ah gk boleh!" ujar ku spontan, komputernya mang bisa konek ke internet.
"napa?" cecarnya, "Eva masih kecil" ujarku, "gw dah smp!" serunya. Aq garuk2 kepala, aq sendiri pertama kali liat bokep pas SD
"mangnya mo ngapain liat bokep?" tanyaku, "mau tau aja"

Aq terdiam memikirkan permintaannya, rasanya gk mungkin dia gk tau. Sangat gampang mencari hal2 seperti itu dari google. Hal ini malah memancing libido ku, jangan2 dia skedar memancingku saja. Apalagi saat itu Eva hanya menggunakan kaos you can see ma celana pendek sepaha.
Aq menelan ludah sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri bilang, "ngapain liat bokep, klo bisa praktek langsung?" mata Eva yang bulat hitam memandangku seolah tak percaya.
"Eva dah pernah ciuman?" dia menggeleng dengan kuat, "mau ciuman dengan abang?" mulanya ku pikir dia akan menolak ato setidaknya pura2 menolak tapi malah dengan antusias Eva menjawab iya.

Aq segera mendekatkan wajahku ke wajahnya dan mulai memagut bibirnya, tanpa ku duga Eva membalas pagutanku dengan panas bahkan kedua tangannya melingkari leherku. Tak ku sia2kan aq pun dengan penuh nafsu mengulum bibirnya, lidah kami saling bertemu. Hisapan demi hisapan saling berganti kami lancarkan, bibir kami udah basah oleh air liur masing2.
Beberapa menit kemudian kami berhenti berciuman, tangannya masih melingkar di leherku.
"katanya belum pernah ciuman?" ujarku, Eva tertawa lucu, matanya mengerjab seolah2 senang karena telah berhasil menipuku. Dengan gemas aq kembali mencium bibirnya dan Eva membalasnya tak kalah hangat. Tak puas rasanya berciuman tanpa meraba, berlahan2 tanganku merayap. Mulanya memeluk pinggangnya, kemudian mengelus2 punggungnya. Makin lama makin ke depan dan tanpa bisa ku tahan lagi, langsung ku remas payudaranya. Ya elah, pas banget di tangan. Gk kurang gk lebih, gedean bhnya kali ni..

Ku remas2 payudara anak 14 taon ini, seperti ngeremas kue sarabi aja gk terasa apa2.
"tangannya nakal" sungut Eva, pura2 marah. Bibirnya lagi2 mancung ke depan, aq cengengesan sambil ngelirik ke tonjolan dadanya. "klo mo liat, buka aja"undangnya, "yakin?" pastiku, dia mengangguk.

Tanpa nunggu dua kali aq langsung mengangkat kaos yukensi Eva ke atas, Eva mengangkat kedua tangannya ke atas hingga aq leluasa melolosi kaosnya. Bener dugaanku, gedean bhnya. Payudaranya tenggelam didalamnya, walo begitu aq tetap antusias membuka bh Eva. Wow
Mulanya ku raba2 dan kuremas payudara Eva sambil sesekali mencubit2 pentilnya yang udah menegang lalu aq mulai menyedot2 pentilnya. Sedotanku di pentilnya membuat Eva menggelinjang keenakan, jari2 tangannya meremas rambut kepalaku disertai desisannya mmbuat aq makin bersemangat menyedot2 pentilnya. Berganti2 antara yang kanan dan kiri sambil jari2ku tak lupa terus meremas2 payudaranya.
Ditengah keasikanku menyedot pentilnya ku rasakan jari2 Eva meremas selangkanganku, bener2 berani nih anak, pikirku.

"klo mo liat, buka aja" aq balik mengundangnya, tanpa ku duga dengan sigap Eva menurunkan resleting celanaku tapi kontolku masih belum bisa keluar karena tertahan celana kolor. Aq berinisiatif berdiri dari dari kursi, membuka ikat pinggangku dan memelorotkan celanaku, begitu celanaku melorot Eva langsung gantian memelorotkan celana dalamku hingga batang kontolku yang emang dah dari tadi menegang segera lepas menjulang.
Dengan penuh takjub Eva memandang kontolku yang tepat di depan wajahnya, tubuhku sedikit bergetar saat merasakan tanganya yang halus menggenggam batang kontolku dan dengan lembut mengelus-ngelusnya. Aq diam saja menikmati kocokan lembut Eva, hampir tiga menit dia melakukan itu.

"udah pernah liat kontol, 'Va?" tanyaku, Eva hanya tersenyum aja mendengar pertanyaanku. Sejenak aq menahan nafas saat meliaht Eva mendekatkan wajahnya ke kontolku, mulutnya membuka makin lama makin lebar, aq gk tau bagaimana mengungkapkannya tapi aq merasakan sensasi yang tiada tara saat kepala kontolku masuk kedalam mulut Eva!
Kali ini tubuhku benar2 merinding merasakan kuluman dan hisapan Eva di kontolku, gk ku duga sama sekali dia bisa blowjob! Kontolku jadi basah dan mengkilat karena liur Eva yang menempel, kepala kontolku pun jadi makin memerah. Eva seolah2 benar2 menikmati menghisap kontolku walau kadang2 giginya suka nyangkut di kepala jamur kontolku tapi itu tidak mengurangi kenikmatan yang kurasakan.

"enak banget hisapanmu, 'Va" rayuku, dengan genit Eva melirik kearahku sambil makin giat menyepongku. Aq benar2 gila dibuatnya, tanpa sadar aq mendesah2 dan menceracau merasakan kenikmatan dibatang kontolku, sambil terus menghisap kontolku Eva sesekali tertawa mendengar ceracauanku, kadang2 dia berhenti menghisap kontolku dan gantinya mengocok2 kontolku dengan keras. Kalau sudah begitu aq lalu meraih kepala Eva dan mengarahkannya lagi agar kembali menghisap kontolku.
Kurasa aq hampir sampai, ceracauanku pun makin keras. "Va..aaaa…vaaa… aq mo kluar…mo kluar…"ceracauku, Eva menarik kepalanya hingga kontolku keluar dari dalam mulutnya dan mulai mengocok2 kontolku dengan tangannya. Akhirnya spermaku muncrat keluar disertai rasa nikmat yang tiada tara, Eva membiarkan wajahnya terkena semprotan spermaku. Matanya gk berkedip melihat mulut kontolku berkali2 mengeluarkan cairan putih kental yang mendarat diwajah dan payudaranya.

Aq terduduk lemas beberapa saat setelah sperma terakhirku keluar, dadaku berdebar2 dengan kencang. "udah puas?" tanya Eva tanpa memperdulikan spermaku yang menempel di wajahnya. "Iya, enak banget 'Va" bisikku. "gantian donk, abg juga isap pepek Eva" ujarnya, aq segera mengangguk. Udah gk sabar rasanya melihat bentuk pepek bocah usia 14 tahun ini.
Gantian Eva yang bangkit dari kursinya dan memelorotkan celana pendeknya, celana dalamnya berwarna pink. Mataku tak lepas melihat Eva yang mulai memelorotkan celana dalamnya, tanpa sadar aq berdecak kagum. Pepeknya benar2 indah, walau sudah ditumbuhi bulu2 tapi tidak terlalu banyak hingga aq masih bisa melihat bentuk pepeknya yang menonjol dengan garis memanjang yang membelah tengah2nya. Aq benar2 beruntung!.

Aq segera meraih pinggang Eva, dengan gemas ku remas bongkahan daging pantatnya. Dari dekat aq bisa melihat belahan pepek Eva sudah mengeluarkan cairan bening, bau khas pepek perempuan segera menusuk hidungku, bukannya jijik aq malah jadi terangsang. Ku rasakan kontolku menggeliat kembali, bangun dari pingsannya.
Tubuh Eva sedikit menggeliat saat aq mulai menjilati belahan pepeknya, dia makin mengangkangkan kakinya agar kepalaku bisa makin dalam masuk ke tengah2 selangkanganya, "ennggghhh… abgn…."desisnya saat lidahku mengusap2 belahan pepeknya. Pepeknya makin basah oleh liur dan cairan vaginanya.

"bang, di tempat tidur aja" ajaknya, aq langsung bangkit mengikuti Eva menuju tempat tidurnya. Melihat tubuh telanjang Eva dari belakang benar2 membuat nafsuku kembali berkobar, ku susupkan jari tanganku dibelahan pantat Eva meraba2nya sampai ke belahan pepeknya. Eva terdiam merasakan rabaanku kepalanya tengadah hingga aq bisa melihat wajahnya yang dilengketi spermaku. Aq berinisiatif mengelap wajahnya dengan celana dalamku, sejenak kami berpelukan sambil berdiri, aq terpaksa menunduk agak kebawah menjangkau bibirnya.

Eva kemudian berbaring telentang di ranjangnya dan mengangkangkan lebar kakinya mempertunjukkan pepeknya ke padaku, entah berapa kali aq menelan ludah. Aq ikut naik ke atas ranjang dan berlutut, kembali lidahku menjalar di pepek Eva. Dengan asik aq menjilat2 dan menghisap2 pepeknya, jari2ku membuka belahan pepeknya hingga aq bisa melihat kedalam pepeknya, dibagian atas pepeknya terlihat itilnya yang berwarna pink. Eva menjerit kecil saat itilnya ku sedot dan kuhisap dengan rakus, tubuhnya menggeliat2 merasakan sensasi sedotanku.
Beberapa saat kemudian, tubuh Eva mengejang , jari2 tangannya menjambak dengan keras rambut kepalaku, "abang…aaabang….keluar…..aaanngggghhh…. kluaarrr…." ceracaunya. Aq makin giat menyedot2 itilnya sambil berganti2 lidahku menjilat2 seperti kucing yang sedang minum dan disertai jerit tertahan Eva cairan vaginanya membanjir keluar seperti bendungan jebol. Tubuhnya berkelenjotan merasakan orgasme pertamanya. Akhirnya Eva berhenti bergerak, matanya sayu memandangku mengisyaratkan rasa lelah. Dadanya yang dihiasi sepasang daging menggumpal terlihat nyata turun naik seiring deru nafas Eva.

Aq merangkak ke atas tubuh Eva, menciumi wajahnya yag berkeringat. Nafas kami saling beradu, "Eva, bang masukin ya kontol abg ke pepeknya" pintaku sambil tanganku mengelus bukit kecil Eva. Mata lelah Eva hanya menatapku, aq gk tau artinya tapi masa bodoh yang penting aq mau merasakan pepek bocah ini.

Aq segera mengambil posisi di ats tubuh Eva, kakinya makin ku kangkangkan dan aq mulai mendekatkan kontolku ke pepek Eva yang basah. Mulanya aq mengusap2kan kepala kontolku di celah pepek Eva hingga kepala kontolku ikut basah terkena cairan pepeknya kemudian aq mulai menekan kontolku masuk ke dalam vaginanya. Tubuh Eva mulai mengejang seiring masuknya ujung kontolku ke dalam vaginanya, aq gk mau terburu jadi ku hentikan sejenak doronganku, "terus bang.." bisik Eva, sudah dapat lampu ijo begitu aq kembali meneruskan doronganku.

Rasanya bener2 luar biasa saat kepala kontolku menyusup masuk ke celah sempit pepek Eva yang berlendir, Eva sendiri mengeluarkan suara rengekan yang makin memacu birahiku seiring masuknya batang kontolku ke dalam pepeknya. Dahiku berkerut sejenak merasakan batang kontolku maju dengan mulus di dalam pepek bocah ini, seperti ada sesuatu yang kurang.
"kamu gk perawan ya 'Va?" tanyaku penasaran, Eva menggeleng kuat2 sambil menggoyang2kan pinggulnya keatas. Anjirt! Makiku dalam hati, kirain gw merawani anak orang, rupanya udah barang bekas. Dengan gemas dan rasa sedikit kecewa ku tekan dengan kuat batang kontolku yang sudah setengahnya masuk ke dalam vagina Eva hingga amblas seluruhnya. Tusukanku membuat Eva memekik. Kudiamkan sejenak tubuhku merasakan gerakan otot vagina Eva menjepit2 batang kontol yang berada di dalamnya, Eva sendiri hanya diam pasrah menunggu gerakanku selanjutnya.

Disertai desah dan pekik kecil Eva aq dengan perasaan nikmat menggenjot pinggulku, menghunjam2kan batang kontolku didalam vaginanya. Namanya juga pepek anak SMP, walo udah gk perawan dan basah karena lendir tetap aja rasanya sempit menjepit kontolku. Eva sendiri memekik2 kecil menahankan rasa nikmat sekaligus sakit di dalam vaginanya yang semestinya belum masanya dimasuki kontol.
Cukup lama juga aq menggenjot Eva, tubuh kami telah basah oleh keringat. Aq sama sekali tidak berniat ganti2 posisi seperti di film2 bokep itu, lagipula kelihatan Eva gk cukup kuat untuk mencoba bermacam gaya. Kurasakan kepala kontolku mulai gatal sebagai tanda aq akan orgasme, kupercepat genjotanku membuat tubuh Eva makin keras tergoncang2 pekikannya pun makin kuat. Ku rasakan vaginanya makin basah oleh lendiri yang membuat kontolku makin leluasa bergerak, "kluar…kluarr…aaannggghhhh…anngghh…."pekik Eva, kepalanya menggeleng2 kiri dan kanan merasakan orgasme keduanya sementara aq terus bergerak cepat mencari oragasmeku sendiri. Hingga begitu kurasakan spermaku akan muncrat segera ku cabut kontolku, sejenak ku kocok2kan sampai kemudian spermaku untuk kedua kalinya muncrat keluar dan mendarat di perut Eva. Kali ini tidak sebanyak yang pertama tapi rasa nikmat yang ditimbulkan tetap sama seperti yang pertama.
Sejak kejadian itu, kami sering mengulangnya kembali.

Eva sendiri kelihatannya sangat ketagihan mengentot, seringkali kami tidak jdi belajar komputernya karena dia meminta untuk mengentot saja. baru pertama kali ini aq melihat payudara anak smp. Bentuknya seperti tonjolan dengan sepasang pentil yang berwarna coklat kemerah2an, asli masih belum menggantung seperti payudara orang dewasa.

Tamat


Dilihat Kotak, Dipegang Bulat

Posted: 28 Nov 2007 05:51 PM CST

Benda apa yang kalo dilihat kotak, tapi kalo dipegang bulat?

Jawaban:
Lambang OSIS di baju anak SMU cewek

:P

Anu Seperti Kacang

Posted: 28 Nov 2007 05:49 PM CST

Yesi adalah seorang gadis kecil berumur 8 thn. Suatu saat dia berdialog dengan ibunya menceritakan tentang Tono, teman sekolahnya Yesi :

Yesi : "Bu, Yesi mau cerita nih. Tapi ibu jangan marahin yesi ya?"

Ibu : "Ada apa Yesi? Tentu ibu nggak akan marah sama Yesi dong"

Yesi : "Ehm,bu... ternyata burung Tono itu seperti kacang."

Ibu : "Ooo, maksud Yesi burung Tono kecil?... ya Tono kan masih kecil, jadi ya wajar kalau burungnya kecil juga"

Yesi : "Bukan itu. Maksud Yesi, burung Tono asin !!!"

Ibu : ??????

Dokter Cabul

Posted: 28 Nov 2007 05:48 PM CST

Seorang wanita cantik dan pintar sedang mengunjungi dokter pribadinya. Di ruang praktek itu, hanya ada mereka berdua. Dan seperti biasa, ketika melihat seorang wanita cantik dihadapannya,  dokter itu segera melupakan kode etik kedokteran.
Sang dokter menyuruh pasiennya yang cantik ini untuk menanggalkan seluruh pakaian. Lalu tangannya mulai meraba-raba tubuh si pasien.

Dokter : "Anda tahu, apa yang sedang saya lakukan?"

Wanita : "Ya, Anda sedang memeriksa abnormal dermatologikal."

Dokter : "Ya, itu benar."

Dokter melanjutkan dengan memegang payudara wanita itu.

Dokter : "Anda tahu, apa yang sedang saya lakukan?"

Wanita : "Ya, Anda sedang berusaha mendeteksi kanker payudara."

Dokter : "Wow, itu benar juga."

Karena nafsu setan sudah menguasai si dokter ini, lantas dia buka semua pakaian dinasnya. Dan dengan penuh nafsu, dokter itu menghampiri pasiennya untuk berhubungan seks.

Dokter : "Nah, Anda tahu apa yang akan saya lakukan ?"

Wanita (dengan kalem) : "Oh, Anda ingin mendapatkan herpes."


Tips Masturbate

Posted: 27 Nov 2007 11:42 PM CST

Hi.. Saya Laras, usia 25 tahun, pakar sexologi and berterima kasih dengan sus Marrisa.. karena saya bisa bekerja dipondokan ini dengan kepercayaan penuh untuk membimbing teman-teman jejaka yang menurut survei saya selama ini 99,99 persen pernah ber-onani ria, bahkan menjadi aktifitas yang begitu sangat menyenangkan dengan satu tujuan yang akan dicapai yaitu.. orgasme, puncaknya dari puncak kenikmatan.
Orgasme? sangat menggetarkan dan menyenangkan. Teman-teman jejaka pasti tau deh.. saat-saat orgasme akan datang.. seluruh tubuh akan berkeringat dengan napas yang sangat tidak beraturan dan…. ahhhhhhhhhhh…… seluruh pembuluh darah terasa mengembang, darah serasa terhenti, tulang dan sendi-sendi seluruh badan terasa lepas semuanya…. oooppppsss….. semuanya menjadi satu kenikmatan yang luarrr biasa saat sperma teman-teman menyemprot keluar dengan deras dari batang super panjang, keras, dan kokoh dan penuh dengan kehangatan.
Enak bukan? survei membuktikan bahwa 100% menyatakan orgasme sangat nikmat. Tapi 100% pula para teman-teman jejaka tidak mengetahui bahwa teman-teman telah membuang begitu banyaknya energi kejantanan liwat mani yang teman-teman semprotkan keluar tad

hmm… boros bukan?, semakin banyak "air kenikmatan" yang teman-teman semprotkan keluar, akan semakin mengurangi daya tahan tubuh dan konon kabarnya bisa mengurangi usia hidup teman-teman.

Menakutkan….??? TIDAK PERLU !!!, mbak Laras akan tetap mengijinkan teman-teman jejaka untuk tetap melakukan onani bahkan sesering mungkin dan sebanyak-banyaknya untuk mencapai puncaknya dari puncak kenikmatan.

Bingung? nah mbak Laras akan memberikan satu rahasia dari inti kekuatan dari permainan sex yang aman. Tips-nya adalah "ORGASME SEJUTA KALI TANPA PERLU MEMBUANG SPERMA",

Mustahil? TIDAK!!!, ikuti dengan baik cara-cara ber-Onani ria. Aduh mak kog nih teman-teman udah pada buka celana sih? hihihihihi…

1. Pilih tempat yang memiliki suasana yang rileks dan santai, kamar tidur teman-teman sendiri adalah sarana yang terbaik… tutup pintu .. tutup jendela .. and buka seluruh busana.

2. Tiduran dengan santai diranjang, oleskan batang kejantanan teman-teman dengan baby oil, and selanjutnya gunakan tangan untuk memberikan gerakan-gerakan yang dapat memberikan rangsangan optimal sehingga senjata kebanggaan teman-teman jejaka bisa berdiri dengan kokoh, keras dan nakal.. tentunya..

3. Belajarlah untuk menggunakan tarikan napas yang paling jitu untuk memberikan kenikamatan lebih pada saat ber-onani ria.. lakukan terus sampai teman-teman merasa akan memasuki tahap orgasme, pada akhir puncak pencapaian orgasme.. teman-teman akan merasa seperti ada sedotan kuat dari penis untuk memompa keluar air sperma yang tersimpan dalam tubuh, pada tahapan ini teman-teman harus secara cepat menahan dengan cara menekan secara kuat satu titik kunci yang akan menyebabkan terhentinya proses pemompaan sperma karena jalan untuk pemompaan di tahan.. apa yang terjadi pada tahapan ini? Batang penis teman-teman akan sangat keras.. karena memang sudah pada puncak orgasme.. kepala baja penis teman-teman akan bergetar-getar merasakan kenikmatan orgasme tanpa mengeluarkan air sperma kenikmatan. Sehingga teman-teman bisa bebas melakukan kembali orgasme berulang-ulang sampai sepuasnya…… Perhatikan baik-baik titik yang mbak Laras maksudkan dibawah ini:


tips masturbate, masturbasi, masturbation, masturebate



nah .. tahan agak kuat pada titik tersebut dengan dua jari pada saat sperma akan keluar… and… teman-teman sekarang sudah boleh mempraktekannya ..

kalo udah mahir .. hmmm.. boleh datang ke mbak Laras buat memuaskan mbak…. ditunggu loh…